Anda di halaman 1dari 1

Buat Aku Miskin, Ya Tuhan!

Dengungan lonceng Gereja berbunyi. Kau tahu seperti apa rasanya. Bisa terlalu keras untuk membuatmu merinding atau sebaliknya, engkau terlalu kebal untuk merasakannya. Aku ini siapa? Apa yang kupunya? Aku punya segalanya. Keluarga, harta benda, uang. Aku punya segalanya kan? Iya kan?! Iya atau tidak tanyaku padamu?! *** Ya, mungkin seperti orang kurang waras jika aku bertanya seperti itu. Tetapi memang walau orang yang kutanya itu menjawab iya sekalipun, rasanya kupikir itu bukan jawabnya. Karena kau tahu, dalam hati ini seperti ada jurang dalam yang membuat aku tidak dapat memiliki satu hal : kenyamanan bersama Tuhanku. Pernah aku mendatangkan seorang pastor untuk mengadakan misa di rumahku (aku tidak terbiasa misa di Gereja). Tapi bukannya merasa nyaman, aku menjadi gelisah. Rasanya ketika berdoa dan memejamkan mata, ada beban di pundakku yang membuatku tidak pantas untuk berdoa. Tengah malam aku terbangun. Aku berjalan keluar rumah dan duduk di teras. Kupandangi langit malam itu. Gelap. Aku bertanya : Siapakah aku ini Tuhan? . Seolah Tuhan menjelaskannya padaku. Aku tahu jika aku hanya seorang rentenir yang sedang tersesat dan ingin berjalan pulang ke rumah Bapa. Aku hanya seekor lintah yang dengan leluasa dapat menghisap darah dari para klienku! Sungguh menjijikannya diriku! Aku menangis. Dan suatu mukjizat terjadi! Beban itu sirna perlahan setiap aku melakukan yang sejak dulu ingin kulakukan. Di luar sana ada yang lebih membutuhkan uangku. Aku ingin menjadi miskin demi Tuhanku!

Biarlah aku menjadi miskin tetapi Tuhan tetap dan selalu ada di sampingku. Biarlah aku menjadi miskin dan menebus semua kesalahanku dan memberi apa yang kupunya. Walaupun mereka bilang itu semua adalah sampah namun Tuhan pasti tahu apa yang ada dalam lubuk hatiku.
Aku adalah orang miskin paling bahagia di Hari Paska ini dan seterusnya. Terima Kasih ya Yesus karena Engkau telah memiskinkan harta duniaku tetapi membuat aku kaya di sampingMu. Maria Mandisa Helmi-OMK