Anda di halaman 1dari 21

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dibanding makhluk yang lain, manusia adalah pemimpin atau yang mengatur alam ini, manusia adalah makhluk yang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dan lain sebagainya. Para pemikir, baik Islam ataupun barat mempunyai banyak ragam dalam mengartikan dan memahami manusia itu sendiri. Murtadla Muthahari misalnya, memahami manusia tidak semata-mata digambarkan sebagai hewan tingkat tinggi yang berkuku pipih, berjalan dengan dua kaki, dan pandai berbicara. Lebih dari itu, manusia lebih luhur dan lebih gaib dari apa yang dapat didefinisikan oleh kata-kata tersebut. Ia membagi sifat manusia dalam dua segi. Pertama segi positif dan kedua segi negatif. Segi positif adalah : a. Manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi b. Manusia mempunyai kapasitas intelegensi yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. c. Manusia mempunyai kecenderungan untuk dekat dengan Allah. Artinya, ia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari mereka. d. Manusia, dalam fitrahnya, mempunyai sekumpulan unsur surgawi yang luhur yang berbeda dengan unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan, dan benda tak bernyawa. e. Penciptaan manusia telah diperhitungkan dengan benar-benar secara teliti, bukan suatu kebetulan f. Manusia bersifat bebas dan merdeka g. Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan mempunyai martabat. h. Manusia memiliki kesadaran moral i. Jiwa manusia tidak akan damai kecuali dengan mengingat Allah j. Segala bentuk karunia duniawi diciptakan untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan dan tunduk patuh merupakan tanggung jawab utama mereka.

Sedangkan segi negatifnya, menurut Murtadha Muthahari, manusia memiliki sikap keji dan bodoh yang luar biasa. Dalam konsep teologi yang menjadi sentral pembahasan mengenai manusia adalah kekuatan, kelemahan, kebebasan dan tanggungjawab manusia. Perbuatan manusia adalah ciptaan mereka sendiri. Dengan demikian, manusia bebas menentukan perbuatannya dan bertanggungjawab penuh atas perbuatan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana kebutuhan manusia terhadap agama? 2. Apakah tujuan hidup manusia? 3. Apakah pengertian religi Millah dan Al-Din? 4. Apakah pengertian agama islam secara Etimologi & terminology? 5. Bagaimana karakteristik atau watak ajaran Islam? 6. Bagaimana ruang lingkup atau scope ajaran Islam (Aqidah Syariah dan Akhlaq)?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui kebutuhan manusia terhadap agama 2. Mengetahui tujuan hidup manusia 3. Mengetahui pengertian religi Millah dan Al-Din 4. Mengetahui pengertian agama islam secara Etimologi & terminologi 5. Mengetahui karakteristik atau watak ajaran Islam 6. Mengetahui ruang lingkup atau scope ajaran Islam (Aqidah Syariah dan Akhlaq)

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Kebutuhan manusia terhadap agama Ada tiga alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut. 1. Latar Belakang Fitrah Manusia Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut untuk pertama kali ditegaskan dalam ajaran islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan firah manusia. Sebelumnya komah manusia belum mengenal kennyataan ini. Baru dimasa akhir akhir ini, muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkankanny, fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatar belakangi perlunnya manusia terhadap agama. 2. Kelemahan Dan Kekurangan Manusia Factor lainnya yang melatar belakangi manusia memerlukan agama adalah karna disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan . 3. Tantangan Manusia Factor lain yang menyebabkan manusi memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupanya senantiasa menghadapi berbagai tantangan baik yang datang dari dalam maupun luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan dari setan, sedankan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya upaya yamg dilakukan manusia yang secara sengaja brupaya ingin memalingkan manusia dari tuhan.

2.2 Tujuan Hidup Manusia Makna tentang tujuan hidup sampai kapan pun masih tetap penting untuk direnungkan. Bagaimanapun seorang Muslim mesti sadar bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara tidak kekal bahkan terlalu amat singkat. Rumusan tujuan hidup yang didasari pada nilai ajaran agama menempati posisi sentral, yakni orang yang hormat dan tunduk kepada nilai-nilai agama yang diyakininya, melalui pemahaman yang benar dan matang terhadap ajaran agama. Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah.

Allah

berfirman:

Dan

diantara

manusia

ada

orang

yang

mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (Al Baqarah [2]: ayat 207) Ridha artinya senang. Jadi segala pertimbangan tentang tujuan

hidup seorang Muslim, berujung kepada apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Jika kita berusaha memperoleh ridha-Nya, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita, kita akan menerimanya dengan ridha (senang) pula. Kita bisa mengetahui sesuatu itu diridhai atau tidak oleh Allah. Tolok ukur pertama adalah syariat atau aturan yang ditetapkan dalam agama kita, sesuatu yang diharamkan atau dilarang oleh Allah pasti tidak diridhai dan bila kita melakukannya atau melanggarnya kita akan mendapat dosa; dan sesuatu yang halal atau diperintahkan agama pasti diridhai yang apabila kita mengerjakannya kita akan mendapat pahala. Selanjutnya nilai-nilai akhlak akan menjadi tolok ukur tentang kesempurnaan, misalnya memberi kepada orang yang meminta-minta dijalanan karena kebutuhan adalah sesuatu yang diridhai-Nya; tidak memberi tidak berdosa tetapi kurang disukai oleh Allah SWT. Nabi bersabda : Bahwa ridha Allah ada bersama ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada bersama murka kedua orang tua. Semangat untuk mencari ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedangkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang beragam, karena setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan. Sebaik apapun manusia, selama dia kafir maka amalan-amalan mereka tidak diterima dan tidak dinilai oleh Allah, siasia belaka akibat kekafiran mereka, bagai debu yang berterbangan. Allah berfirman : Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan

kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (An-Nur[24]: ayat 39) Metode untuk mengetahui ridla Allah SWT juga diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan cara bertanya kepada hati sendiri. Orang bisa berdusta, berbohong dan mengelabui orang lain, tetapi ia tidak dapat melakukannya kepada hati sendiri. Hanya saja hati orang berbeda-beda. Hati yang gelap, hati yang kosong, dan hati yang mati, sulit dan bahkan tidak bisa ditanya. Hati juga kadangkadang tidak konsisten. Nurani berasal arti kata nur, cahaya. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu sambung dengan ridha Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme, dan kemaksiatan. Menurut ajaran Islam, tugas pokok hidup manusia, sepanjang hidupnya hanya satu tugas, yaitu beribadah kepada Allah, Sang Pencipta. Allah berfirman dalam kitab suci al Quran yang berbunyi (Al_Dzariat [51]: ayat 56): Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku. Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahluk Allah sepanjang hidupnya. Ibadah mengandung arti untuk menyadari dirinya kecil tak berarti, meyakini kekuasaan Allah Yang Maha Besar, Sang Pencipta, dan disiplin dalam kepatuhan kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang menjalankan ibadah mestilah bersikap rendah hati, tidak

sombong, menghilangkan egoisme dan Istiqamah untuk terus berupaya agar selalu dalam ridla dan bimbingan-Nya. Itulah etos ibadah. Ibadah ada yang bersifat murni, yakni ibadah yang hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi vertikal, patuh tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa, seperti shalat dan puasa. Ibadah juga terbagi menjadi dua klasifikasi; ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib adalah yang bersifat baku yang ketentuannya langsung dari wahyu atau dari Nabi Muhammad SAW ,yaitu perintah shalat 5 waktu, puasa, zakat (zakat fitrah, zakat mal) bagi yang telah memenuhi syaratnya, dan ibadah haji bagi yang mampu. Manusia memiliki dua peran utama di dunia ini: Pertama sebagai hamba Allah, dan peran kedua sebagai khalifah (Wakil) Allah di muka bumi. Sebagai hamba Allah manusia adalah kecil dan tidak

memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Kedua, sebagai khalifah di Bumi, manusia diberi fungsi, peran yang sangat besar, karena Allah Yang Maha Besar maka manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki tanggungjawab dan otoritas yang sangat besar. Sebagai khalifah manusia diberi tugas untuk mengelola alam semesta ini untuk kesejahteraan manusia Oleh karenanya manusia dituntut beramal shalih, menghindari dosa, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat mungkar, jujur dan menghiasi diri dengan sikap yang dianjurkan oleh agama Islam. Didalam Islam sudah jelas digambarkan bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang jauh lebih penting yaitu kehidupan akhirat yang amat panjang tanpa batas, kehidupan yang hakiki, yang abadi, selamanya. Agar hidup kita penuh makna dan bermanfaat bagi orang banyak, maka kita harus punya mimpi yang kuat agar tercapai apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan tersebut, yaitu bahagia di dunia dan di akhirat, seperti doa yang sering kita panjatkan kehadirat Allah SWT: Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (Al-Baqarah [2]: ayat 201) Dalam scope terkecil dalam keluarga yang Islami, kita juga harus punya cita-cita / keinginan yang kuat agar kita dan keluarga kita bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Inilah yang benar-benar kita inginkan, kita rindukan, kita impikan dengan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim [66]: ayat 6) 2.3 Pengertian Religi Millah dan Al-Din

Agama dalam bahasa sansakerta terdiri dari dua kata yaitu a yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau sehingga agama berarti seperangkat ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan dengan manusia dan makhluk lainnya agar tidak ada kekacauan tetapi malah tercipta keserasian, keteraturan, kedamaian, dan ketertiban. Agama berdasar inti maknanya dapat disamakan dengan religion (inggris), religie (Belanda) berasal dari bahasa Latin religio dari akar kata religare yang artinya mengikat. (Kahmad, 2003 : 13) Dalam bahasa Arab agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din dapat mengandung arti al-mulk ( kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), aladat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan, (kekuasaan dan pemerintahan), al-tadzalul wa al-khudhu (tunduk dan patuh), al-thaat (taat), alislam wa al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan). Sedangkan pengertian al-din yang berarti agama adalah nama yang bersifat umum dan tidak ditujukan kepada salah satu agama. (kahmad, 2003 : 13). Millah adalah salah satu istilah dalam bahasa Arab untuk menunjukkan agama. Istilah lainnya adalah din. Kedua istilah tersebut digunakan dalam konteks yang berlainan. Millah digunakan ketika dihubungkan dengan nama Nabi yang kepadanya agama itu diwahyukan dan Din digunakan ketika dihubungkan dengan salah satu agama, atau sifat agama, atau dihubungkan dengan Allah yang mewahyukan agama itu. Dalam perbincangan sehari-hari seing digunakan istilahistilah millah Ibrahim, millah Ishaq dan sebagainya, atau din Islam, din haqq, din Allah dan sebagainya. Millah yang terbesar adalah millah Ibrahim, millah yang lurus dan tidak cenderung kepada kebathilan, millah Ibrahim saat ini hanyalah agama Islam, dan nama ibrahim faith sering didengung-dengungkan sudah tidak digunakan lagi karena diutusnya Nabi Muhammad. Dan juga agama Ibrahim adalah satu dan yang satu itu adalah agama Tauhid dan ini telah disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'matKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu(QS. Al Maidah :3). Dan mereka berkata: Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani,

niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik. (Al-Baqarah: 135) Dia telah memilih kamu (untuk mengemban urusan agama-Nya) dan Dia tidak akan menjadikan kesulitan dalam urusan agama ini pada kalian; (maka, ikutilah) agama bapak kalian, Ibrahim. Dia telah menamai kalian sebelumnya dengan nama Muslim. (QS al-Hajj: 78). Dalam kamus sosiologi ada tiga pengertian agama, yaitu : 1). Kepercayaan pada hal-hal spiritual, 2). Perangkat kepercayaan dan praktik spiritual yang diangggap sebagai tujuan tersendiri, dan 3). Ideologi mengenai halhal yang bersifat supranatural. Menurut Hendropuspito agama adalah suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganutnya yang berproses pada kekuatan-

kekuatan non-empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas. (Kahmad, 2003 : 129) Lebih lanjut Ia mengemukakan bahwa fungsi agama adalah edukatif, penyelamatan, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif. (Kahmad, 2003 : 130) Agama sebagai fungsi transformatif artinya bahwa agama bisa mengubah kehidupan keperibadian seseorang menjadi kehidupan baru yang lebih baik. (Ishomudin, 2002 : 57) Agama Islam adalah agama yang dijelaskan dalam Al-Quran sebagai agama pembawa rahmat bagi semesta alam. Itu artinya keberadaan Islam juga membawa rahmat bagi masyarakat manapun di dunia. Menurut fungsi agama secara sosiologis maka Islam pun adalah agama transformatif karena ia menawarkan konsep perubahan baik individual maupun sosial menjadi lebih baik. Makanya ada hadits yang mengatakan bahwa agama adalah nasihat, nasihat bagi pemeluknya agar tidak membiarkan dirinya terjerumus ke dalam kehinaan dan kenistaan tapi justru sebaliknya menasihati agar bangkit mengisi kehidupanya agar terus lebih baik. Nasihat-nasihat yang ada dalam Islam dapat dijelaskan secara rinci sebagai beikut : 1).Nasihat agar menjadi individu yang shaleh, 2). Nasihat agar membangun komunitas yang islami, 3). Nasihat untuk membangun dan memelihara sistem pemerintahan yang baik (good governance).

Dilihat dari sudut kategori pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, yaitu sebagai berikut: 1. Segi kejiwaan yaitu suatu kondisi subjektif atau kondisi jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Kondisi inilah yang biasanya disebut kondisi agama, yaitu kondisi patuh dan taat kepada yang disembah. 2. Segi Objektif yatu segi luar yang disebut juga kejadian objektif, dimensi empiris dari agama. Adapun kata religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution Mengatakan, bahwa asal kata religi

adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengerian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara cara mengabdi pada tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus di baca. Menurut pendapat lain, kata itu berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Ajaran ajran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula dari ikatan roh manusia dengan tuhan, dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan tuhan. Dari beberapa definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung istilah istilah diatas ialah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatui manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan ghoib yang tidak dapat oleh panca indra.

2.4 Pengertian agama islam secara Etimologi & Terminologi 2.4.1 Arti Etimologi Secara etimologi (asal-usul kata, lughawi) kata Islam berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT, Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati (Q.S. 2:112).

10

Dari

kata aslama itulah

terbentuk

kata Islam.

Pemeluknya

disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya. (Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, AlMaarif Bandung, 1989, hlm. 56-57) Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati (Hammudah

Abdalati, Islam in Focus, American Trust Publications Indianapolis-Indiana, 1975, hlm. 7). Menurutnya, kata Islam berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim - , , ) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam berarti penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya (Submission to the Will of God and obedience to His Law). Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi. Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata Islam setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain. 1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya. 2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat. 3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau amar maruf nahyi munkar). 4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.

2.4.2 Arti Terminologis Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku

11

bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari (Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pusataka Bandung, 1978, hlm.46.) mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu

menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam adalah: Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya. Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak. Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah SAW.

2.5 Karakteristik atau watak Ajaran Islam Istilah karakteristik ajaran islam terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran islam. Kata karakteristik dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sesuatu yang mempunyai karakter atau sifat yang khas. Islam dapat diartikan agama yang diajarkan nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci al quran dan diturunkan di dunia ini melalui wahyu allah SWT. Berarti karakteristik ajaran islam dapat diartikan sebagai ciri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang didalamnya temasuk ekonomi, social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan, dan disiplin ilmu yang baik dan benar. Islam adalah agama yang sempurna dan universal, ia berlaku sepanjang waktu, kapanpun dan di manapun. Islam berlaku untuk semua orang dan untuk

12

seluruh dunia. Maka dari itu, tentunya ajaran Islam memiliki dasar sebagai pondasi yang dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh komunitasnya di seluruh dunia ini. Dan setiap agama mempunyai tujuan, sumber, ruang lingkup dan karakteristik ajaran yang membedakan dari agama-agama lain. Agama yang didakwahkan secara sungguh-sungguh diharapkan dapat menyelematkan dunia yang terpecah-pecah dalam berbagai bagian-bagian. Sebagai umat islam kita patut menjunjung tinggi nilai nilai agama dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Islam diajarkan dan dipelajari sejak kecil agar bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan hidup di dunia maupun di akherat. Dengan berpegang teguh pada ajaran ini semua manusia pasti akan hidup damai dan sejahtera, karena islam mengajarkan norma norma hidup dan perilaku kehidupan yang baik dan jauh dari penderitaan dan kemaksiatan yang akan membawa kita pada penyiksaan di hari akhir nanti. Dengan adanya pemahaman islam, manusia akan lebih bisa mendekatkan diri pada sang pencipta dan akan terhindar dari segala siksaan dan dosa. Islam di ajarkan untuk dapat membawa manusia ke jalan yang benar dan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Agar mereka dapat hidup dengan damai dan sentausa. Islam meliputi banyak aspek yang akan dituju yang akan dilaksanakan oleh umat manusia yang menjalankannya, dan arti dari agama ini sangat bearrti dan berguna bagi manusia karena tidak hanya pada arti melainkan islam mempunyai tujuan, sumber, ruang lingkup dan karakteristik tersendiri yang telah di bahas pada sub bab sebelumnya. Semua aspek tersebut memiliki makna yang sangat luas jika dipahami dengan sungguh sungguh dan benar. Karena islam bertujuan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar maka islam menurunkan Al-quran dan Al-hadist, dengan berpedoman pada Al-quran dan Alhadist manusia pasti akan menemukan jalan untuk mengatasi masalah hidupnya dan menuntun ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 2.6 Ruang lingkup atau scope ajaran Islam (Aqidah Syariah dan Akhlaq) Dalam konteks pemahaman masyarakat zaman kini, agama islam

13

hanya dipandang sebagai ritual peribadatan sahaja. Agama sebenarnya berasal dari istilah hindu, bukan istilah Islam. Dalam Al-quran Allah telah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat ke 3 Pada hari ini, Aku sempurnakan untuk kamu Deen-mu. Islam itu Deen. Oleh sebab itu orang yang menganuti deen disebut sebagai muslim Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat Dengan ugama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anakanaknya) katanya: "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih ugama (Islam) ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu Dalam keadaan Islam". (Al-Baqarah ayat 132). Agama yang kita pegang memanglah islam, tetapi islam itu bukan agama sahaja. Ianya boleh dianalogikan seperti; durian itu buah, akan tetapi buah bukan durian sahaja. Pengertian buah lebih lebih luas daripada durian. Selain daripada agama, ada unsure lain yang menjadi isinya. Jadi tidak dinafikan bahawa deen Islam mengandungi agama sahaja tetapi deen Islam tidak mungkin diterjemahkan dengan agama Islam. Apa salahnya jika Islam itu disebut agama? Kalau Islam itu agama, berarti Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhan. Apakah Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah sahaja? Tidak ada yang berkuasa untuk menjawab pertanyaan ini selain daripada Allah sendiri dan UtusanNya.

Jawapan Allah kita temukan dalam al-Quran dan jawapan Nabi dalam SunnahHadisnya. Wallahualam Ruang lingkup agama Islam secara kasarnya terbahagi kepada 3 skop utama yaitu Aqidah, Syariah dan Akhlaq.

14

1. Aqidah Kata aqidah berasal dari bahasa Arab, aqada-ya'qidu-'aq berarti

(menghimpun atau mempertemukan dua buah ujung atau sudut/ mengikat). Secara istilah aqidah berarti keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang dan menjadi landasan segala bentuk aktiviti, sikap, pandangan dan pegangan hidupnya. Istilah ini boleh lah disamakan dengan iman yang berarti kepercayaan atau keyakinan. Sekiranya digabungkan antara makna lughawi dan istilah dari kata aqidah di atas dapat digambarkan bahwa aqidah adalah suatu bentuk keterikatan atau keterkaitan antara seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga kondisi ini selalu mempengaruhi hamba dalam seluruh perilaku, aktiviti dan pekerjaan yang ia lakukan. Dengan kata lain keterikatan tersebut mengawal serta ketuhanan Masalah-masalah aqidah selalu dikaitkan dengan keyakinan terhadap Allah, Rasul dan hal-hal yang ghaib yang lebih dikenal dengan istilah rukun iman. Di samping itu juga menyangkut dengan masalah eskatologi, yaitu masalah akhirat dan kehidupan setelah berbangkit kelak. Keterkaitan dengan keyakinan dan keimanan, maka muncul arkanul iman, yakni, iman kepada akan mempengaruhi dan nilai-nilai

mengarahkan semua tindak-tanduknya kepada

15

Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, hari akhirat, qadha dan qadar. Di dunia Islam, permasalahan aqidah telah terbawa pada berbagai pemahaman, sehingga menimbulkan kelompok-kelompok di mana masingmasing kelompok memiliki metode dan keyakinan masing-masing dalam

pemahamannya. Di antara kelompok-kelompok tersebut adalah Muktazilah, Asyariyah, Mathuridiyah, Khawarij dan Murjiah. Menurut Harun Nasution, timbulnya berbagai kelompok dalam

masalah aqidah atau teologi berawal ketika terjadinya peristiwa arbitrase (tahkim) ketika menyelesaikan sengketa antara kelompok Muawiyah dan Ali ibn Abi Thalib. Kaum Khawarij memandang bahwa hal tersebut bertentangan dengan QS al-Maidah ayat 44 [5: 44] yang berbunyi; ..Yang tidak menghukum Dengan apa Yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir. Namu begitu, tidak perlulah ianya diterangkan secara terperinci berkenaan dengan permasalahan itu disini. Kesejahteraan aqidah kepada Allah adalah hasil daripada mengenal hakikat Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah Allah. Kesan kesejahteraan ini menyelamatkan manusia daripada kepercayaan khurafat, tahyul dan

ketergantungan kepada makhluk dan asbab. Sebaliknya menjadikan manusia rasa hina diri, lemah dan tidak bedaya menghadapi Qudrat dan Iradahnya. Perasaan halus ini melahirkan rasa pengharapan dan pergantungan hanya kepada Allah disetiap ketika. Tanda pengharapan ini lahir melalui amal-amal perhambaan dan ketaatan. Amal-amal yang dibenci Allah akan dijauhi dan amal-amal ketaatan dan perhambaan yang lebih disukai Allah menjadi amal-amalnya. Mereka berfikir tentang kehebatan penciptaan makluk dilangit dan dibumi sehingga mereka menyedari kesemua ciptaan Allah ini mempunyai fungsi dan tujuan lantas mereka memuji Allah. Mereka mengutamakan saudara seagama, saudaranya, bertolong menolong dan saling menunaikan hajat-hajat jaminan kepada

menjadi

kesejahteraan sahabat-sahabat mereka, menasihati saudaranya dan menerima teguran dengan dada yang terbuka. Mereka berkasih sayang seumpama satu jasad.

16

Kesejahteraan aqidah adalah hasil proses talim dan tarbiyyah yang berterusan malah surah Makkiah yang diturunkan Allah berasur-ansur selama 13 tahun di Mekah membuktikan keutamaan tarbiyyah, tazkiyyah dan membina aqidah yang sejahtera.

2. Syariah Syariah adalah sistem hukum yang didasari Al-Quran, As-Sunnah, atau Ijtihad. Seorang pemeluk Agama Islam berkewajiban menjalankan ketentuan ini sebagai konsekwensi dari ke-Islamannya. Menjalankan syariah berarti

melaksanakan ibadah. Dalam hal ini tidak hanya yang bersifat ritual, seperti yang termaksud dalam Rukun Islam, seperti: bersyahadat, sholat, zakat, puasa, dan berhaji bagi yang mampu. Akan tetapi juga meliputi seluruh aktifitas (perkataan maupun perbuatan) yang dilandasi keiman terhadap Allah SWT. Syariah (Sumber Hukum Islam) antara lain : A. Al-Quran Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah sumber hukum Islam yang pertama kerana merupakan firman Allah yang disampaikan pada Nabi

Muhammad SAW. Kerana tidak semuanya dinyatakan secara zahiriah, terdapat pelbagai tafsiran tentang isi-isi Al-Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan. B. Hadis Hadis adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad yang kemudian dijadikan sumber hukum. Fungsi hadis antara lain: Mempertegas hukum dalam Al-Qur'an Memperjelas hukum dalam Al-Qur'an Menetapkan hukum yang belum ada di Al-Qur'an C. Ijma Ijma' ( )maknanya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum dalam agama Islam berasaskan al-Quran dan Hadis dalam suatu perkara yang terjadi. D. Qiyas

17

Qiyas ( ) ialah proses taakulan berasaskan analogi daripada nass atau perintah yang diketahui untuk perkara-perkara baru. Qiyas menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya berasaskan perkara terdahulu yang memiliki kesamaan dari segi sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek lain sehingga dihukumi sama. E. Ijtihad Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan AlQur'an dan Hadis. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telah wafat sehingga tidak boleh langsung menanyakan pada beliau tentang suatu hukum namun hal-hal ibadah tidak boleh diijtihadkan. Beberapa macam ijtihad adalah: Ijma', kesepakatan para ulama Qiyas, diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya Maslahah Mursalah, untuk kemaslahatan umat 'Urf, kebiasaan

3. Akhlaq Pengertian Akhlak Menurut Sarjana lslam a. Imam Al-Ghazali menyebut akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Daripada jiwa itu, timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan fikiran. b. Prof. Dr. Ahmad kehendak Amin yang mendefinasikan akhlak dibiasakan. Maksudnya, sebagai sesuatu yang

mencirikan akhlak itu ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu apabila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.

Ahmad Amin menjelaskan erti kehendak itu ialah ketentuan daripada beberapa keinginan manusia. Manakala kebiasaan pula ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukanya. Daripada kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan ke arah menimbulkan apa yang disebut

18

sebagai akhlak. c. Ibnu Maskawayh mengatakan akhlak ialah suatu keadaan bagi diri atau jiwa yang mendorong (diri atau jiwa itu) untuk melakukan perbuatan dengan senang tanpa didahului oleh daya pemikiran kerana sudah menjadi kebiasaan. Akhlak berasal dari kata akhlaq yang merupakan jama dari khulqu dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang maruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah Akhlak berasal dari kata akhlaq yang merupakan jama dari khulqu dari bahasa Arab yang artinya budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang maruf dan menjauhi yang munkar. Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hat i, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan

(berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang

19

berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti: "Telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleb tangan manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakan mereka sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat)". Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang

seharusnya

kita utamakan,

namun tidak

berarti mengabaikan perkara

penyempurnaannya. Tauhid

merupakan realisasi akhlak seorang hamba

terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.

20

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan dari rumusan masalah, yaitu : 1. Ada tiga alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut. a. Latar Belakang Fitrah Manusia b. Kelemahan Dan Kekurangan Manusia c. Tantangan Manusia 2. Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah dan beribadah kepada Allah. Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahluk Allah sepanjang hidupnya. 3. Millah adalah salah satu istilah dalam bahasa Arab untuk menunjukkan agama. Istilah lainnya adalah din, namun digunakan dalam konteks yang berlainan. Millah digunakan ketika dihubungkan dengan nama Nabi yang kepadanya agama itu diwahyukan sedangkan, Din digunakan ketika dihubungkan dengan salah satu agama, atau sifat agama, atau dihubungkan dengan Allah yang mewahyukan agama itu. 4. Secara etimologi (asal usul kata) kata Islam berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian,

penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam berarti penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya Secara terminologi, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia

21

5. Karakteristik ajaran islam merupakan ciri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang

didalamnya temasuk ekonomi, social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan, dan disiplin ilmu yang baik dan benar 6. Ruang lingkup atau scope ajaran Islam, terdiri dari 3 pokok utama, yaitu: Aqidah Syariah dan Akhlaq.

3.2 Saran Dalam penyusunan makalah ini, penulis merasakan masih banyak kekurangan, baik dari isi maupun tata cara penulisan. Untuk itu, saran dan masukan yang membangun dan mengoreksi makalah ini sangat penulis harapkan.