Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis1,2. Dan Mycobacterium tuberculosis ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh lengkapnya terjadi hipersensitivitas seluler. Tempat penyakit yang biasa pada paru, tetapi organ lain dapat terkena. Tanpa terapi efektif, biasa terjadi perjalanan menahun yang membuat pasien kurus dan akhirnya diikuti oleh kematian pada banyak kasus. Dalam tahun 1984, sebanyak 22.255 kasus telah dilaporkan di Amerika serikat, dengan angka kasus baru 9,4 per 100.000 per tahun. Dalam tahun 1982 ada sekitar 1.807 kematian diakibatkan oleh tuberculosis di Amerika serikat, sedangkan di eropa pada tahun 1985, sebanyak 400 kasus baru dalam 100.000 per tahun. Hal ini dapat dipastikan bahwa sepertiga penduduk dunia dipastikan terinfeksi kuman tuberculosis, bahwa terdapat 30 juta kasus tuberculosis aktif dan 10 juta kasus baru timbul dan bahwa 3 juta orang meninggal karena tuberculosis setiap tahun2. Di Indonesia TBC merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan

China dalam jumlah penderita TBC di dunia. Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini setiap menit muncul satu penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit muncul satu penderita baru TBC paru yang menular. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Dalam hal ini WHO pun sangat prihatin dengan adanya pandemic ini, dan TB dicanangkan sebagai a Global Emergency1,3. HIV/AIDS merupakan faktor resiko utama yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman tuberculosis baik yang baru terinfeksi maupun pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Karena infeksi ini dapat melemahkan sistem kekebalan, dan menyebabkan jumlah CD4 menurun, walaupun biasanya setelah sembuh, CD4-nya naik lagi. Tetapi bila sistem kekebalan seorang Odha harus melawan infeksi lain, serangannya terhadap HIV berkurang, dan viral load juga akan naik2,3. Di Indonesia didapatkan dengan estimasi 160 per 100 ribu penduduk TB A positif, sebanyak dua persen penderita TB paru di Indonesia terinfeksi HIV. Bagi penderita HIV dengan penyakit penyertanya TB Positif, dapat diberikan pertolongan atau perawatan tergantung kondisi tubuh si pasien1,3.