Anda di halaman 1dari 7

IRONI DI BALIK KOMPETISI KARYA TULIS MAHASISWA

Ditujukan Untuk : Paper Contest Budaya Indonesia Budaya Menulis Oleh: Bima Fajar Nugraha 0707101717

UNIT KEGIATAN MAHASISWA PENALARAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

IRONI DI BALIK KOMPETISI KARYA TULIS MAHASISWA Pendahuluan Sesuai dengan tema dalam acara ini yaitu Budaya Indonesia Budaya Menulis, tulisan ini akan lebih mengkritisi tentang adanya kompetisi karya tulis di Indonesia. Seperti yang telah diketahui di Indonesia telah banyak memiliki sejarah budaya menulis, bahkan hal ini pula yang menandakan Indonesia sebagai negara yang demokratis. Sehingga setiap individu lebih bebas (dalam artian memiliki batasan-batasan yang wajar, seperti tidak menyudutkan salah satu pihak) dalam mengekspresikan tulisannya. Dengan posisi demikian, maka kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Indonesia juga akan semakin banyak, bahkan menjamur hingga ke tingkat daerah. Kompetisi yang diadakan pun tidak hanya berasal dari institusi maupun lembaga pemerintah, namun banyak juga dari lembaga-lembaga non-pemerintah maupun perusahaan. Justru lembaga non-pemerintah dan perusahaan-perusahaan tersebut lebih giat mengadakan kompetisi karya tulis. Dan sudah seharusnya mahasiswa yang konon memiliki peran sebagai Agent of Change, lebih berperan aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Namun permasalahan yang muncul dari semakin banyaknya kompetisi tersebut adalah keorisinalitasan dari sebuah karya tulis yang dikompetisikan. Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya hadiah yang menggiurkan dari penyelenggara, akan membuat seseorang hanya akan memikirkan hadiah saja. Tetapi tidak lagi memikirkan kaidah penulisan ilmiah yang menuntut keaslian dari tulisan tersebut. Walaupun hadiah maupun reward akan merangsang keinginan menulis bagi individu, yang akan membuat menulis menjadi sebuah kebiasaan bahkan budaya. Tidak hanya sampai pada keaslian dari sebuah karya tulis saja. Masih banyak yang menjadi kekurangan atau kesalahan dalam adanya kompetisi karya tulis. Salah satunya adalah kualitas dari karya tulis yang dikompetisikan, sehingga semakin banyak karya tulis yang hanya asal membuat ataupun asal jadi demi mendapatkan hadiah. Yang terjadi adalah dimana kompetisi hanya akan mementingkan ataupun menggenjot karya tulis dari segi kuantitas saja, tidak lagi memikirkan segi kualitasnya. Walaupun ada beberapa kompetisi yang benar-benar mengutamakan kualitas penulisan. Jadi dari sinilah awal kesalahan budaya menulis di Indonesia. Memang semakin banyak karya tulis yang dihasilkan, namun kualitas yang dihasikan tidak sebanding dengan jumlah tersebut. Sehingga budaya menulis yang telah ditularkan sejak zaman sebelum kemerdekaan, (bahkan zaman kerajaan di Indonesia) akan menjadi sia-sia. Perjuangan Ki Hajar Dewantoro, Raden Ajeng Kartini, yang telah memulai era budaya menulis di Indonesia tidak akan ada artinya. Jika sebuah karya tulis hanya bertujuan untuk mendapatkan hadiah, bukan apa yang dihasilkan oleh karya tulis tersebut untuk bangsa ini. Kualitas yang dimaksud adalah karya tulis yang benar-benar memiliki daya saing dan dapat dikenang sepanjang masa. Pembahasan Budaya menulis di Indonesia sesungguhnya sudah ada sejak zaman kerajaan masih ada di Indonesia. Hanya saja alat-alat penunjang yang ada tidak selengkap dan praktis seperti saat ini. Namun pada zaman tersebut karya tulis yang mereka buat

sangatlah berharga, tidak hanya asal membuat sehingga dapat selalu dikenang dari masa ke masa. Hal tersebut dapat kita lihat sendiri, di Indonesia banyak prasasti bersejarah yang membuat kita mengetahui keadaan zaman kerajaan yang ditulis dalam prasasti tersebut. Pada Zaman tersebut tidak hanya prasasti saja yang menjadi media penulisan. Beberapa kitab telah dihasilkan pada zaman tersebut, misal Mpu Prapanca yang menulis kitab Negara Kertagama. Sehingga lebih membuktikan bahwa budaya menulis di Indonesia telah lahir sejak lama. Sejarah perkembangan budaya menulis di Indonesia kembali berlanjut hingga zaman sebelum kemerdekaan. Pada masa ini muncul beberapa nama yang menjadi pahlawan di Indonesia, yang karyanya selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia. Kita ambil contoh Ki Hajar Dewantara dan Raden Ajeng Kartini. Beliau berdua merupakan contoh penulis yang karya-karyanya dapat dikenang dari masa ke masa. Tidak hanya tulisannya tetapi sejarah kehidupannya pun akan selalu dikenang. Masih banyak pahlawan lain yang seperti mereka, karena hasil dari tulisan-tulisan berkualitas mereka yang memperjuangkan bangsa ini dan tindakan nyata dari karya tulis mereka. Ki Hajar Dewantara, terkenal dengan ajarannya tentang pendidikan yaitu, ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Ajaran tersebut yang hingga saat ini menjadi slogan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Selain itu Ki Hajar Dewantara sendiri merupakan kolumnis atau jurnalis pada masanya. Tulisan-tulisan beliau cukup membantu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Raden Ajeng Kartini merupakan pahlawan wanita yang juga dikenang oleh masyarakat Indonesia. Karya fenomenal yang beliau buat adalah buku hariannya yang diterbitkan, yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tulisan beliau inilah yang memantik semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia dan juga dalam emansipasi wanita saat ini. Di masa kemerdekaan juga semakin bertambah banyak karya-karya yang ditulis oleh tokoh-tokoh pada saat itu. Antara lain Ir.Soekarno, Tan Malaka, M Nasir. Mereka merupakan penulis-penulis handal yang karyanya (Madilog, Dibawah Bendera Revolusi) hingga saat ini masih banyak dibaca oleh masyarakat. Di era Orde Baru hingga saat ini pun semakin banyak penulis-penulis terkenal. Bahkan usia mereka dapat dibilang masih muda. Banyak karya-karya tulis yang diterbitkan oleh masyarakat Indonesia, baik akademisi, mahasiswa, aktivis, menteri, pesiden, bahkan kuli bangunan dapat membuat karya tulis. Kita lihat saja dikoran-koran, majalah-majalah, semakin banyak masyarakat yang rajin menulis. Hal ini juga disebabkan dengan adanya perubahan sistem pemerintahan di Indonesia yang menjadi demokratis. Sistem pemerintahan yang demokratis inilah yang menyebabkan masyarakat mendapatkan banyak wadah dan peluang untuk menuangkan pikirannya berupa tulisan. Banyak jurnalis muda dan penulis muda yang sekarang menjadi terkenal akibat dari karyanya. Kita ambil contoh saja Raditya Dika yang awalnya hanya menulis kegiatan sehari-harinya di blog, sekarang menjadi jutawan akibat tulisannya tersebut. Dengan begitu banyaknya tokoh yang menjadi inspirator, maka tidaklah heran jika saat ini semakin banyak karya tulis yang dibuat.

Kebiasaan menulis sebenarnya telah terlahir sejak lama. Hingga saat ini membudaya di masyarakat. Hanya saja budaya menulis di Indonesia belum sepenuhnya berjalan pada jalur yang benar. Jika para pendahulu menulis untuk tujuan bersama yang lebih bermanfaat, sekarang tujuan seseorang menulis karena ingin dikenal, mendapatkan penghargaan, gengsi, maupun kepentingan pribadi. Walaupun tidak seluruhnya masyarakat sekarang memiliki tujuan seperti tersebut, masih ada masyarakat yang memiliki pemikiran idealis yang tidak hanya memikirkan hadiah. Membuat sebuah karya tulis memang dapat dijadikan sebuah mata pencaharian, hanya saja hal tersebut tidak dapat menjadi pekerjaan tetap. Karena zaman akan terus berganti dan selera masyarakat akan berubah. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya kompetisi yang diadakan. Mungkin tujuan utama mengadakan kompetisi sudah benar, dengan bertujuan menumbuhkan iklim menulis di masyarakat. Namun terjadi kesalahan pada persepsi masyarakat. Mereka lebih mengedepankan reward atau hadiah yang mereka dapatkan, tanpa memikirkan kelanjutan dari karya mereka. Padahal karya mereka sangat berharga daripada hadiah yang mereka dapatkan dalam kompetisi. Kita ambil contoh saja, semakin banyak masyarakat yang ingin menulis di koran. Mereka berlomba-lomba mengirimkan opini mereka ke setiap koran, hanya untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa. Padahal jika kita lihat dengan omset penjualan koran tersebut, maka hadiah tulisan mereka tidak sebanding. Disini bukan melarang atau mengharamkan seseorang menulis di koran, namun hanya saja sedikit merubah paradigma yang ada. Karena saat ini mind set yang ada malah jauh menyimpang. Karya tulis yang dikirim tidak bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi, tetapi hanya untuk sebuah gengsi maupun reward. Kemudian yang menjadi kendala adalah keaslian atau keorisinalitasan dari sebuah karya tulis. Dengan teknologi saat ini yang semakin maju dan berkembang, semakin memudahkan masyarakat mendapatkan informasi. Dengan kemudahan tersebutlah terjadi penyalahgunaan, banyak karya tulis yang mencontoh bahkan membuat duplikat dari tulisan-tulisan sebelumnya untuk diterbitkan maupun dilombakan. Bahasa mahasiswa sekarang adalah copas singkatan dari copy and paste. Seperti yang terjadi pada seorang calon dosen ITB yang secara nyata menjiplak hasil karya orang lain, untuk disertasi program doktoralnya. Dengan demikian jelas terjadi penipuan dalam dunia tulis menulis, yang justru akan menghambat budaya menulis di Indonesia. Karena beberapa kompetisi yang diselenggarakan tidak seluruhnya melakukan screening ataupun seleksi yang ketat dalam penerimaan kaya tulis, sehingga banyak karya tulis yang tidak jauh berbeda bahkan sama persis, padahal tujuan menulis adalah meberikan pengetahuan dan informasi. Sebaiknya karya yang dibuat merupakan perbaikan atau melengkapi dari karya yang ada. Sehingga karya sebelumnya menjadi lebih baik dan dapat berkembang. Bukan meniru atau menduplikasi dari karya sebelumnya. Kualitas dari karya tulis juga menjadi pengaruh penghambat perkembangan budaya menulis di Indonesia. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya kompetisi yang diselenggarakan maka akan mendorong semakin banyak jumlah karya yang lahir. Namun dari sekian banyak karya yang lahir, hanya beberapa yang memiliki kualitas bagus. Yang lainnya hanya kualitas standar, bahkan ada yang dibawah standar. Karya tulis yang tidak memiliki kualitas baik tersebut, dilahirkan karena

hanya untuk mengejar gengsi pribadi maupun hadiah saja. Tidak lagi memikirkan kelanjutan dari karya mereka. Keberlanjutan dari karya tulis yang dibuat juga menjadi kelemahan, sehingga kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan hanya mencari karya yang terbaik dari yang terbaik tanpa ada tindakan nyata untuk merealisasikan dari karya tulis tersebut. Misal kompetisi pembuatan gagasan untuk pemerintah, hasil dari juara lomba tersebut hanya akan sampai di situ saja, tanpa ada implementasi dari karya tulis tersebut. Sehingga kertas maupun makalah karya tulis yang telah dikirimkan akan hanya menjadi sampah yang dibuang begitu saja. Seakan karya tersebut tidak ada harganya lagi, karena telah dibayar dengan hadiah yang telah diberikan. Namun tidak seluruh kompetisi, tidak dapat merealisasikan keberlanjutan karya tersebut. Ada beberapa karya tulis yang dipakai pemerintah dengan melakukan sedikit modifikasi di dalamnya. Hal-hal yang telah dijelaskan di atas juga terjadi di lingkup perguruan tinggi,dimana masih ada perguruan tinggi yang men-Tuhankan sebuah kompetisi bertaraf nasional maupun internasional. Perguruan-perguruan tinggi tersebut menggenjot kuantitas dari karya mahasiswanya untuk menaikkan gengsi perguruan tinggi mereka. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana nasib mahasiswa yang berjuang untuk nama perguruan tinggi mereka. Mahasiswa hanya diperlakukan sebagai sapi perah, yang tidak diberikan fasilitas untuk menumbuhkan iklim menulis mereka, sehingga terkadang mahasiswa akan kesulitan dalam membuat karya tulis. Namun, masih banyak juga perguruan tinggi yang mengerti akan kebutuhan mahasiswanya. Kemudian dengan hanya mengutamakan sebuah kompetisi saja, maka kompetisi lainnya akan disingkirkan. Kita ambil contoh saja event Paper Contest ini yang notabene juga disebarkan ke tingkat nasional, masih kalah gengsi dengan event yang diselenggarakan DIKTI yaitu PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) maupun event yang diselenggarakan oleh LIPI. Padahal kompetisi yang diselenggarakan juga bertujuan baik untuk menumbuhkembangkan iklim menulis di kalangan mahasiswa. Jika dilihat dari kompetisi yang diadakan oleh DIKTI untuk PIMNAS berupa Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat, Kewirausahaan, Penelitian, Teknologi, Gagasan Tertulis, dan Artikel Ilmiah, masih terdapat kelemahankelemahan yang dapat dimasuki kecurangan. Karena dengan sistem yang diterapkan oleh DIKTI dengan memberikan pendanaan kepada karya yang lolos seleksi, masih terdapat karya yang dikerjakan secara asal-asalan alias tidak sungguh-sungguh. Padahal maskud dan tujuan DIKTI sudah benar, untuk mengimplementasikan dari hasil karya tersebut. Hanya saja sikap dari peserta yang kurang baik dan di dukung dengan perguruan tingginya yang tidak menfasilitasi, maka kecurangan-kecurangan tersebut dapat terjadi. Kemudian demi gengsi nama perguruan tinggi, maka beberapa perguruan tinggi ada yang mengkesampingkan kompetisi lainnya selain PIMNAS. Dengan alasan apakah kompetisi lainnya bermanfaat atau tidak. Ada juga yang berpandangan selama ada perguruan tinggi yang bergerak dibidang teknologi jangan harapan bisa menang melawan mereka (misal: selama masih ada institut teknik jangan pernah berharap universitas non teknik bisa menang kompetisi robot). Hal-

hal seperti inilah yang membuat mahasiswa menjadi patah semangat. Padahal dengan memberikan mahasiswanya kesempatan, tidak ada yang tidak mungkin. Dari fenomena-fenomena yang telah dijelaskan, seharusnya kompetisi yang diadakan memiliki sistem seleksi yang ketat. Mungkin perlu dilakukan punishment bagi yang melakukan plagiat. Bagi perguruan tinggi sebaiknya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswanya untuk berkarya dan berprestasi dengan cara yang baik. Memberikan fasilitas-fasilitas penunjang untuk menumbuhkan iklim menulis bagi mahasiswanya. Kemudian tidak hanya menyelenggarakan kompetisi saja, tetapi pelatihan pembuatan karya tulis yang semakin banyak dan langsung tertuju pada jenis karya tulisnya, seperti Pelatihan pembuatan Program Kreatifitas Mahasiswa, pelatihan pembuatan esai, paper, makalah, maupun opini. Sehingga dapat menghindari adanya penduplikatan, dan juga akan membuat kualitas dari karya yang dihasilkan menjadi lebih baik. Kesimpulan Fenomena yang terjadi dalam perkembangan budaya menulis di Indonesia saat ini sungguh mengejutkan. Saat ini semakin banyak karya yang dihasilkan dan kompetisi yang diselenggarakan dengan tujuan semakin menggenjot perkembangan karya tulis di Indonesia. Namun dengan banyaknya kompetisi yang diselenggarakan, banyak karya yang dihasilkan kualitasnya jauh dari kata baik. Hal ini karena banyak masyarakat yang hanya terpancing terhadap hadiah yang akan didapatkan. Kemudian penyelenggaraan pelatihan pembuatan karya tulis yang kurang banyak. Sehingga kompetisi dan pelatihan tidak seimbang, dan membuat kualitas karya tulis tidak memuaskan. Jadi yang seharusnya dilakukan adalah perbaikan sistem kompetisi dan memperbanyak pelatihan. Agar masyarakat lebih mengetahui makna dan kaedah dari sebuah karya tulis itu sendiri. Sehingga tidak terjadi lagi plagiat maupun duplikasi. Pensosialisasian hasil karya tulis ke masyarakat juga dapat menjadi sebuah saran agar karya tersebut dapat dimanfaatkan atau diterapkan secara langsung oleh masyarakat. Dengan begitu budaya menulis di Indonesia akan terus berkembang sesuai dengan jalur yang benar. Referensi Anonim, 2010. Dosen ITB Plagiat
http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/04/16/brk,20100416240971,id.html

Diakses tanggal 18 Juli 2010. Anonim, 2010. Budaya Menulis Riwayatmu Kini.
http://agussiswoyo.com/2010/03/02/budaya-menulis-riwayatmu-kini Diakses

tanggal 17 Juli 2010. Anonim, 2010. Menggugah Budaya Tulis di Dunia LSM.
http://soloraya.net/2010/05/mengugah-budaya-tulis-di-dunia-lsm

Diakses tanggal 17 Juli 2010. Anonim, 2004. Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan
http://www.bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentangpendidikan.html Diakses tanggal 17 Juli 2010. www.dikti.go.id

www.lipi.go.id