Anda di halaman 1dari 6

Paper Komunikasi Internasional

Komunikasi Internasional Dilihat Dari perspektif Diplomatik



Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Mata Kuliah Komunikasi Internasional









Disusun oleh:

Alza Rendian (0802045020)
Ratih Tirana (0802045027)
Heryanto (0802045070)
Voletta Armida (0802045073)
Fitri Wahyu Wijayanti (0802045071)
Lubna Ayu Azizah (0702045066)
Selly Pernama Sari (0802045066)
Cucum Herlinawati (0802045006)
Ratih Tirana (0802045027)
LathieIah Widuri R. (0802045014)
Huang Shien Oei (0802045023)
Muchamad Nawir (0802045052)
Anita Anggeriani (0802045076)
Meilinda Febtia N. (0802045029
Adhitya Mahaputra(0802045054)

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2011

Komunikasi Internasional Dilihat Dari perspektif Diplomatik



Dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, salah satu hal yang menjadi bagian
Iundamental dan sangat vital adalah komunikasi. Setiap manusia pada hakikatnya merupakan
makhluk individu dan sekaligus juga sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri
atau bersiIat ':oon piliticon`. Oleh karena itu, manusia berkomunikasi satu dengan lainnya
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Komunikasi adalah transmisi inIormasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan
sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol kata-kata, gambar, Iigur graIik, dan
sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
komunikasi menjadi sebuah alat untuk melakukan interaksi antar negara, jadi hubungan yang
terjadi tidak dapat terlaksanan tanpa adanya komunikasi. Dalam kaitannya dengan hubungan
internasional, komunikasi yang digunakan adalah komunikasi internasional. Komunikasi
internasional(International Communication) adalah komunikasi yang dilakukan oleh
komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan
dengan kepentingan negaranya kepada komunikan yang mewakili negara lain.
Sedangkan menurut Sumarno AP menyimpulkan bahwa komunikasi internasional
adalah komunikasi antar bangsa-bangsa yang berada dalam lingkup negara nasional dengan
menggunakan pesan-pesan komunikasi yang menyangkut kepentingan diantara bangsa-
bangsa yang berada dalam proses komunikasi tersebut. Dalam komunikasi internasional
terdapat unsur-unsur kepentingan antar negara secara timbal balik, sehingga terdapat
kecenderungan untuk saling menumbuhkan pengertian dan saling meyakinkan serta tidak
mustahil untuk saling mempengaruhi.

Sebagai sebuah bidang kajian, Komunikasi Internasional memIokuskan perhatian
pada keseluruhan proses melalui mana data dan inIormasi mengalir melalui batas-batas
negara. Subjek yang ditelaah bukanlah sekedar arus itu sendiri, melainkan juga struktur arus
yang terbentuk, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, sarana yang digunakan, eIek yang
ditimbulkan, serta motivasi yang mendasarinya.


Dilihat dari pelakunya, komunikasi internasional dapat dipandang sebagai terbagi antara:
1. 11icial Transaction, yakni kegiatan komunikasi yang dijalankan pemerintah.

2. &no11icial Transaction atau disebut juga interaksi transnasional, yakni kegiatan


komunikasi yang melibatkan pihak non-pemerintah.
Kriteria Komunikasi Internasional
Ada tiga kriteria yang membedakan komunikasi internasional dengan bentuk komuniksai
lainnya:
1. enis isu, pesannya bersiIat global.
2. Komunikator dan komunikannya berbeda kebangsaan.
3. Saluran media yang digunakan bersiIat internasional.

Fungsi Komunikasi Internasional
1. Mendinamisasikan hubungan internasioanl yang terjalin antara dua negara atau lebih
serta hubungan di berbagai bidang antara kelompok-kelompok masyarakat yang
berbeda negara/kebangsaan.
2. Membantu/menunjang upaya-upaya pencapaian tujuan hubungan internasioanl
dengan meningkatkan kerjasama internasional serta menghindari terjadinya konIlik
atau kesalahpahaman baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antar
penduduk .
3. Merupakan teknik untuk mendukung pelaksanaan politik luar negeri bagi masing-
masing negara untuk memperjuangkan pencapaian kepentingan di negara lain.

Komunikasi internasional dapat dipelajari dari tiga perspektiI:
Perspektif Diplomatik
Dalam perspektiI ini komunikasi internasional lazimnya dilakukan secara
interpersonal atau kelompok kecil. alur diplomatik atau komunikasi langsung antara pejabat
tinggi negara lebih banyak dipergunakan untuk memperluas pengaruh dan mengatasi ketidak
sepakatan, salah pengertian ataupun pertentangan dalam masalah tujuan dan kepentingan
setiap negara, memperteguh keyakinan dan menghindarkan konIlik.
Disini, terasa betapa pentingnya teknik komunikasi diplomatik serta perlunya tradisi
komunikasi diplomatik diantara negara berdaulat dalam meletakkan jalur utama komunikasi
internasional untuk tujuan-tujuan perdamaian dunia yang lebih mantap. Dengan demikian,
komunikasi internasional diplomatik ditempuh untuk mengembangkan dan memelihara
hubungan bilateral atau multilateral atau untuk memperkuat posisi tawar menawar ataupun
untuk meningkatkan reputasi.

F. Rachmadi mengangkat konsep pemikiran bahwa hubungan politik pada hakikatnya


adalah hubungan diplomatik yang dijadikan wahana untuk memperjuangkan kepentingan
masing-masing negara nasional.
Hubungan internasional dan diplomasi mempunyai hubungan yang sangat erat.
Diplomasi dewasa ini merupakan salah satu instrument yang paling penting oleh negara-
negara dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lainnya. Hubungan baik kedua
negara biasanya ditandai dengan pembukaan hubungan diplomatic, di mana kedua negara
saling mengutus perwakilannya (duta besar) untuk ditempatkan di negara lain.
Tentang hubungan diplomatik sendiri Robert F. Delancy mendeIinisikan sebagai :
!:-lic diplomacy hfas -00n d01in0d as th0 ways in which -oth gov0rnm0nts and privat0
individ:als and gro:p in1l:0nc0 dir0ctly or indir0ctly thos0 p:-lic attit:d0s and opinions
which -0ar dir0ctly on oth0r gov0rnm0nts, 1or0ign policy d0cisions`.
Oleh sebab itu, hubungan diplomatik merupakan maniIestasi kegiatan komunikasi
internasional. Disini terjadi arus komunikasi timbal balik antara negara-negara nasional yang
pada dasarnya merupakan produk transaksi dalam sistem internasional, baik dalam bentuk
antar negara nasional, bilateral, multinasional atau internasional. Pada pelaksanaannya
pengelola sumber komunikasi diatribusikan oleh presiden kepada menteri Luar Negeri
dengan seluruh perangkatnya. Untuk eIektiInya jalinan komunikasi maka pada setiap negara
mempunyai perwakilan diplomatik untuk kepentingan nasional masing-masing negara.
Menurut Syahmin AK untuk melakukan pembukaan atau pertukaran perwakilan
diplomatik maupun konsuler dengan negara-negara nasional harus memenuhi persyaratan,
yaitu :
1. Harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak (m:t:al cons0nt), sebagaimana
konvensi Wina tahun 1961 yang menyatakan pembentukan hubungan diplomatik
anatara masing-masing negara dengan persetujuan bersama.
2. Mentaati prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku.

Menurut Konvensi Wina perwakilan diplomatik mempunyai tugas dan Iungsi yaitu :
1. Mewakili negara pengirim di negara penerima r0pr0ns0ting th0 s0nding stat0 in
th0 r0c0iving stat0)
2. Melindungi kepentingan-kepentingan negara pengirim serta warga negaranya di
dalam wilayah dimana ia diakreditasi dalam batas-batas ketentuan hukum
internasional (prot0ction)

3. Mengadakan perundingan untuk atas nama rakyat dan negaranya (n0gotiation)


4. Memberi laporan kepada negara pengirim mengenai keadaan-keadaan dan
perkembangan negara penerima sesuai ketentuan hukum yang berlaku

Akhirnya kebutuhan untuk dibukanya perwakilan atau hubungan diplomatik sebagai
jaringan komunikasi antar negara nasional sangat dibutuhkan karena terkait dengan berbagai
kepentingan nasional. Bahkan sekarang ini arah jalinan komunikasi ini dapat memicu pada
berbagai kepentingan termasuk masalah ekonomi dan kebudayaan daripada masalah-masalah
ideologi.
Boutros-Boutros Ghali mengemukakan bahwa kecenderungan konIlik antar negara
dikarenakan kurang mengembangkan bidang ekonomi, sosial dan pembangunan politik.
Karena itu, untuk mencapai perdamaian dan keamanan harus memIokuskan kepada keadilan
sosial, demokrasi dan mengngkat hak-hak asasi manusia. Dalam konsepnya, Boutros tidak
lagi mengandalkan kemampuan dewan keamanan dalam memecahkan konIlik-konIlik negara
nasional, bahkan disarankan pergantian pendekatan ideologis dengan oleh pendekatan sosio
kultural dan humaniora yang menitik beratkan kepada nilai-nilai kepentingan negara-negara
nasional.
Dalam kaitannya dengan penataan hubungan internasional, hubungan diplomatic antara
negara-negara di dunia juga membahas mengenai tata cara penyelesaian sengkete secara
diplomatic yaitu dengan cara :
1. Negosiasi, adalah perundingan yang dilakukan secara langsung antara para pihak
dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog tanpa melibatkan
pihak ketiga. Negosiasi merupakan cara penyelesaian sengketa yang paling dasar
dan paling tuas digunakan oleh umat manusia. Pasal 33 ayat (1) Piagam PBB
menempatkan negosiasi sebagai cara pertama dari penyelesaian sengketa.
2. Enquiry atau penyelidikan, untuk menyelesaikan sebuah sengketa
internasional, akan bergantung pada Iakta-Iakta para pihak yang tidak
disepakati.untuk menyelesaikan sengketa tersebut, pihak-pihak yang terlibat
membentuk sebuah badan yang betugas untuk menyelidiki Iakta-Iakta yang terjadi
di lapangan.
3. Mediasi, melibatkan pihak ketiga yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa.
Pihak ketiga dapat berupa individu atau kelompok, negara atau kelompok negara
atau organisasi internasional. Dalam mediasi, pihak ketiga bukan hanya

mengusahakan agar pihak yang bersengketa bertemu tetapi juga mengusahakan


dasar-dasar perundingan dan ikut aktiI dalam perundingan.
4. Konsiliasi, penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi mengunakan pihak ketiga.
Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga atau bersiIat
ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh
para pihak.perbedaan konsiliasi dengan mediasi adalah konsiliasi memiliki hukum
acara yang lebih Iormal dibandingkan dengan mediasi.
5. Good OIIices atau jasa-jasa baik, adalah cara penyelesaian sengketa melalui pihak
ketiga.pihak ketiga berupaya agar para pihak yang bersengketa menyelesaikan
sengketanya dengan negosiasi. asa baik terbaik dua, yaitu jasa baik teknis dan jasa
baik politis. asa baik teknis adalah jasa baik oleh negara atau organisasi
internasional dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta
dalam konIerensi atau menyelenggarakan konIerensi. Sedangkan jasa baik politis
adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang
berupaya menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu perang yang
diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi.