Anda di halaman 1dari 3

Membangun Sikap Terbuka

Membangun Sikap Terbuka


Oleh A MustoIa

MENYAKSIKAN aksi anarkis yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan FPI
dan HTI atas aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKKBB)
pada pekan kemarin merupakan tamparan keras, terhadap wajah Islam sebagai agama yang
mengklaim diri rahmatan lil alamin.
Betapa tidak, aksi itu secara langsung telah membalikan klausul sakral yang menyatakan
bahwa Islam sebagai agama kasih sayang, dan semakin meneguhkan anggapan sebagian
kalangan yang memandang Islam sebagai agama barbar, keras, dan tidak beradab.
Terjadinya aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras
diketahui bukan terjadi sekali waktu, melainkan sejak reIormasi hingga beberapa tahun
belakangan ini, aksinya seakan semakin sering muncul di publik. Menurut data yang
dilaporkan oleh Komisi Anti Kekerasan atas Nama Beragama, kekerasan yang terjadi di
Indonesia sepanjang satu dekade hampir 75 persen dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam
garis keras. Sebuah data yang sangat paradoks bila melihat masyarakat Indonesia yang
mayoritas beragama Islam.
Berbagai aksi kekerasan yang muncul belakangan menunjukkan bahwa bangsa ini tengah ada
dalam keadaan sakit secara sosial. Artinya, relasi-relasi sosial yang selama ini diklaim telah
terbangun cukup kuat di antara masyarakat ternyata tidak lebih dari rumah-rumahan yang
dibangun di atas pasir. Bila datang ombak, dengan mudahnya rumah itu hancur tersapu.
Begitupun halnya bangunan keberagamaan masyarakat kita. Ketika melihat sedikit perbedaan
dan kemudian ada pihak-pihak yang memprovokasi, maka secepatnya bangunan
keberagamaan masyarakat itu roboh. Akibatnya, kekerasan atas nama agama pun tak dapat
dihindarkan.
Sikap keberagamaan masyarakat kita selama ini ternyata ada dalam situasi immaturity atau
ketidakdewasaan. Kebijakan pemerintah Orde Baru itu memperlihatkan proyek kamuIlase
yang seolah-olah menampilkan wajah sebenarnya tentang umat beragama kita. Pemerintah
begitu kuatnya menekan berbagai kemungkinan kekerasan yang akan muncul ke permukaan.
Pada saat itupun posisi kuat negara sangat menentukan meredam terjadinya Iriksi-Iriksi
sosial.
Proses reIormasi yang telah membuka keran keterbukaan, transparansi, dan demokrasi,
ternyata berhasil membuka borok kamuIlase yang selama ini terjadi pada masa pemerintahan
Orde Baru. Dan terbukti bangunan keberagamaan masyarakat kita ternyata sangat rapuh pada
saat ini.
Mulai untuk Terbuka
Kita bisa saja marah atau membenci masa lalu, masa dimana yang kemudian telah
mengantarkan kita dalam situasi yang serba bohong, serba munaIik, dan serba kepalsuan.
Akan tetapi yang lebih penting bukan sikap itu yang dibutuhkan, melainkan adalah sikap kita
untuk belajar pada pengalaman dan berkehendak untuk lebih terbuka dan kritis dengan situasi
yang dihadapi.
Upaya membangun hubungan yang berpijak pada prinsip persamaan, keterbukaan, dan saling
menghargai adalah wujud mutlak yang harus dilakukan untuk membenahi jalinan kusut
hubungan sosial kemasyarakatan kita selama ini. Bila tidak, maka niscaya akan sulit
membangun sebuah sistem sosial yang adil, terbuka dan saling menghargai.
Mengapa penting sikap saling terbuka itu ditanamkan di antara kita. Sikap terbuka berarti
sikap untuk mau menerima orang lain, menerima berbeda pandangan dengan orang lain,
menerima berbeda pendapat dengan lain. Selain itu, juga ada inisiatiI atau kehendak untuk
mengaIirmasi kelompok yang berbeda dari kita. Terbuka bukan berarti hanya sikap mau
menerima, tapi juga sikap dalam bentuk kehendak untuk mengaIirmasi orang lain.
Arti terbuka juga sikap melebur atau menggabungkan pribadi atas pribadi lain yang berbeda
dengan kita. Artinya hubungan yang dibangun di atas prinsip keterbukaan berarti antara satu
dengan lain pihak sudah tidak ada lagi jarak, antara dia dan kita. Melainkan hubungan itu
merupakan hubungan dalam kedekatan kami. Pihak satu menjadi bagian dari pihak lain yang
berbeda. Identitasnya melebur menjadi satu.
Arti sikap terbuka, juga bukan berarti identitas masing-masing individu hilang. Ia tetap pada
masing-masing identitasnya. Gagasan peleburan bukan berarti meniadakan identitas pada
masing-masing kelompok, tapi lebih pada upaya menemukan kemungkinan titik-titik temu di
antara keduanya. Artinya masing-masing tetap pada identitasnya.
Gagasan inilah yang mendesak untuk dikembangkan dalam rangka membangun hubungan
keberagamaan di masyarakat, baik di kalangan internal maupun di kalangan eksternal.
Demikian, tidak akan terjadi peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan keyakinan agama.
Kendati demikian, gagasan ini bukan sebuah praktik yang mudah dilakukan di lapangan.
Betapapun ini merupakan sebuah gagasan ideal yang harus muncul dari individu-individu
yang berkesadaran. Akan sulit mengharapkan individu semua yang ada di dunia ini memiliki
kesadaran sama dalam menciptakan hubungan di masyarakat. Karena sulit itulah maka
diperlukan sebuah otoritas yang dapat mendesakan kehendaknya kepada seluruh individu di
masyarakat. Otoritas itu harus mampu bersiIat netral, dan harus merupakan representasi dari
semua golongan dan kelompok. Agar dapat mencegah terjadinya dominasi golongan dalam
praktiknya.
Otoritas ini paling representatiI mengambil bentuknya pada institusi negara. Negara dalam
hal ini harus bertindak sebagai mediator atau eksekutor terhadap tegaknya sikap terbuka di
antara masyarakat. Dan Negara harus mampu menindak siapapun individu yang tidak mau
mewujudkan sikap terbuka itu. Negara sebagai kekuatan hukum berhak mendesakan
kepentingan bersama kepada individu yang enggan untuk bertindak.
Negara dalam hal ini harus mampu mendesakan gagasan terbuka kepada kelompok-kelompok
yang anarkis. Dan harus mampu menindak kelompok-kelompok FPI dan HTI yang telah
berlaku anarkis.
Penulis adalah AktiIis HMI Cabang Ciputat