Anda di halaman 1dari 18

ANTARA News, Senin 25 Januari 2010

Banjir Bandang Tewaskan Dua Warga Lampung Barat


Liwa, Lampung Barat (ANTARA News) - Banjir bandang yang terjadi Sabtu (23/1)
menewaskan dua warga desa Hujung, Kecamatan Belalau, Lampung Barat, tiga orang hilang, serta merusak puluhan hektare sawah dan fasilitas lainnya. "Korban tewas yang ditemukan dua orang, sedangkan tiga lainnya masih dalam pencarian tim," kata Kapolsek Belalau, Iptu Abdurahman, mendampingi Kapolres Lampung Barat AKBP Sugeng Suprijanto, di Liwa, Lampung Barat, Minggu. Dia mengatakan, banjir yang terjadi Sabtu (23/1), akibat curah hujan yang tinggi pukul 11.00 sampai 15.00 WIB, mengakibatkan sungai di daerah itu meluap, menyapu rumah warga. "Dari kesaksian warga sekitar, banjir tersebut datang secara tiba-tiba, bahkan ganasnya banjir bandang tersebut menyeret enam orang warga yang sedang beristirahat di salah satu pondokan," kata dia. Lebih lanjut Abdulrahman menambahkan, banjir yang terjadi memang tergolong parah, selain merusak fasilitas umum seperti jembatan dan beberapa rumah warga, juga merendam puluhan hektare sawah. "Banjir cukup parah, ini disebabkan luapan sungai yang tidak mampu menampung debit air yang datang, sehingga dorongan arus air ditambah dengan material seperti batu dan kayu, kian merusak fasilitas yang ada," katanya. Enam orang dari dua keluarga di Pekon (Desa) Hujung, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat menjadi korban derasnya banjir bandang. Keenam orang yang diseret banjir itu adalah dua pasang suami istri yaitu pasangan Daroji (35) dan Yusminar (28) serta pasangan Matrasik (45) dan Asmani (35) beserta anaknya Alvanesa (7) dan satu korban selamat yaitu Khotman Johari (55). Dua di antaranya telah ditemukan tewas yaitu sepasang suami-istri Daroji dan Yusmaniar. Mereka ditemukan warga berjarak dua kilo meter dari lokasi kejadian. Satu orang ditemukan selamat dan tiga lainnya masih hilang. Daroji ditemukan warga, Minggu, sekitar pukul 09.00 WIB sedangkan istrinya ditemukan sekitar setengah jam setelah suaminya ditemukan, sementara Asmani dan Alvanesa hingga pukul 13.00 WIB belum ditemukan. Saksi lain yakni PJ Peratin (Kades) Pekon Hujung, Asmara Nita, menjelaskan kronologis kejadian yang merenggut lima orang yang juga masih familinya tersebut. "Pada saat kejadian keenam korban sedang berada di dalam pondok untuk beristirahat setelah melakukan penyemaian padi di sawah," kata dia. Sejak pukul 11.00 WIB, lanjut dia, hujan terus mengguyur namun tidak terlalu lebat, hingga pukul 15.00 WIB hujan lebat dan mereka beristirahat di pondok. Berselang setengah jam, tiba-tiba air sungai yang tak jauh dari pondokan meluap dan menghanyutkan tempat mereka berteduh beserta semua isinya.

ANTARA News, Senin 25 Januari 2010

Banjir Bandang Tewaskan Dua Warga Lampung Barat


"Bersyukur satu di antara enam korban bisa selamat dari amukan banjir bandang tersebut, dan yang kami sedihkan tiga korban belum ditemukan sampai saat ini, dan kami berharap korban segera diketemukan," katanya. Hingga saat ini aparat dan tim terus melakukan pencarian korban. Dari pantauan, pencarian korban hilang mengalami kendala karena selain banyaknya pepohonan yang berserakan, arus sungai juga masih tergolong deras. Sedangkan di rumah duka, pelayat terus berdatangan baik dari warga desa setempat maupun dari desa lainnya.

Kompas.com Jumat - 22 Januari 2004 KUMPULAN BERITA

Banjir di Lampung Tengah Makin Tinggi


Bandar Lampung, Kompas - Banjir yang menggenangi Desa Subang Jaya, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (21/1), makin tinggi. Banjir di kawasan itu menenggelamkan ratusan hektar sawah, jagung, dan kelapa sawit. "Sebelumnya air masih sampai di patok jalan, tetapi sekarang air makin tinggi sekitar 30 sentimeter. Para petani merugi dan tidak dapat panen. Banjir datang saat padi mulai berbulir dan merunduk. Mestinya akhir bulan ini panen," tutur Junaidi, warga Subang Jaya. Sedikitnya 150 keluarga petani di desa itu merelakan tanaman mereka. Menurut petani, kalau terendam tiga hari mereka masih berharap banjir menyisakan tanaman mereka. "Tapi hampir seminggu air belum surut, tampaknya tak ada harapan lagi," tutur petani lain. Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Wilayah II Radin Inten II Lampung Bambang Nova Setyanto, banjir di Lampung Tengah belum akan surut dalam beberapa hari ini. "Banjir di Lampung Tengah bukan karena hujan di kawasan itu, tetapi merupakan kiriman dari Way Kanan dan Lampung Utara," tuturnya. Ia menjelaskan, tiga hari terakhir curah hujan di Lampung berkurang, akibat tekanan rendah di Pasifik Barat. "Namun dalam minggu-minggu ini tekanan rendah akan kembali terjadi di selatan khatulistiwa. Kondisi itu akan menyebabkan curah hujan di Lampung kembali meninggi," ujar Bambang. Dijelaskan, akumulasi curah hujan tahun ini justru terjadi pada Januari dan Februari. Padahal dalam siklus biasanya, curah hujan mulai meninggi akhir Desember lalu. Bambang mengatakan, badai tropis di selatan khatulistiwa juga akan menyebabkan munculnya gelombang besar di perairan Selat Sunda. "Oleh karena itu para operator kapal di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni dan Merak, kami imbau mewaspadai munculnya gelombang besar itu," ujarnya. Masih mengungsi Di Sumsel, banjir yang menggenangi empat kabupaten selama delapan hari terakhir, hingga kemarin menyebabkan 6.000 keluarga mengungsi dan 16.000 rumah tergenang. Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, merupakan kawasan yang menderita kerusakan paling parah karena permukaan banjir terus naik hingga tiga meter dan menggenangi 20 dari 31 desa. Gubernur Sumsel Syahrial Oesman mengemukakan, banjir di provinsi itu menunjukkan gejala pergeseran dari hulu ke hilir. Jika lima hari lalu banjir menggenangi sekitar Kecamatan Baturaja di kawasan hulu Sungai Ogan dan sekitar Kecamatan Martapura di hulu Sungai Komering, kini

Kompas.com Jumat - 22 Januari 2004

Banjir di Lampung Tengah Makin Tinggi


banjir menggenangi Kecamatan Muara Puang dan bergeser ke Kecamatan Tanjung Lubuk, pertemuan antara Sungai Ogan, Sungai Randu, dan Sungai Komering. Pergeseran itu, kata Syahrial, dipengaruhi oleh penggundulan hutan di hulu sungai dan pola pasang surut laut. Ketika laut pasang dan terjadi hujan deras, akan terjadi banjir, sebaliknya jika laut surut air akan mengalir ke hilir. Masalahnya, waktu tempuh air antara kawasan banjir dan laut 10 jam sehingga sebelum semua air surut laut sudah pasang lagi. Kondisi itu menyebabkan banjir bergeser ke arah hilir. Pasang laut tertinggi diperkirakan terjadi pada 26 Januari 2005, dan dikhawatirkan saat itu banjir akan kembali menggenangi Palembang. Menurut Camat Tanjung Lubuk Irwan Bulhasan, banjir juga merobohkan enam rumah di dekat daerah aliran sungai, menggenangi 785 rumah, dan memaksa 855 keluarga mengungsi. Banjir juga merusakkan 80 persen jalan di 20 desa itu, serta sempat melumpuhkan transportasi ke kota Kecamatan Cempaka. Para pengungsi ditampung di tenda-tenda darurat, sambil menunggu air surut. Namun banyak di antara pengungsi itu menderita diare, penyakit kulit, dan flu karena sanitasi yang buruk dan terlalu lama terendam air. (jos/eca)

Kompas.com Kamis, 24 Juni 2010 CUACA BURUK

Banjir Rendam 1.602 Hektar Sawah di Lampung Selatan


Bandar Lampung, Kompas - Banjir yang terjadi selama empat hari terakhir sejak Sabtu (19/6) memukul kehidupan petani Kabupaten Lampung Selatan. Pasalnya, tanaman padi milik mereka pada 1.602 hektar sawah terendam banjir sehingga terancam puso. Kondisi ini karena terjadi anomali cuaca di mana curah hujan yang tinggi terus berlangsung dan diperkirakan akan terjadi hingga pertengahan Juli. Banjir antara lain merendam sawah di dua kecamatan di Lampung Selatan, yaitu Way Sulan dan Candipuro. Di Candipuro, banjir terjadi merata di seluruh wilayah, yaitu di 11 desa. Sebanyak 905 hektar sawah berisi padi berusia 7-21 hari di wilayah ini. Akibat banjir yang berlangsung sejak Sabtu pekan lalu, tanaman-tanaman (padi) ini kemungkinan besar puso karena umurnya muda. Semakin muda tanaman dan kian lama genangan, semakin besar potensi pusonya, tutur Rozali, Kepala Seksi Budidaya Serealia Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Lampung, Rabu di Bandar Lampung. Menurut dia, jumlah sawah yang terancam puso pada musim kemarau ini bisa saja lebih besar karena baru Lampung Selatan yang telah melaporkan. Ia merasa heran pada Juni ini dapat terjadi banjir. Padahal, semestinya kemarau. Baru kali ini terjadi seperti ini, ungkapnya. Jika kondisi ini terus berlanjut, katanya, target pencapaian produksi beras di Lampung bisa terganggu. Sebab, Lampung Selatan selama ini merupakan lumbung beras terbesar di Provinsi Lampung. Target produksi beras 2010 adalah 2,5 juta ton. Awal tahun 2010, yaitu Februari-Maret, terjadi banjir pula. Sebanyak 7.965 hektar tanaman padi di lima kabupaten di Lampung terkena puso. Lampung Selatan lagi-lagi daerah terparah terkena banjir, yaitu 4.419 hektar. Rozali mengatakan, agar beban petani tidak kian besar, pihaknya tengah mengupayakan permohonan pengiriman cadangan benih nasional (CBN) kepada pemerintah pusat. Bantuan CBN memang dimungkinkan bilamana terjadi bencana alam. Mengenai jumlah pastinya, masih dihitung, ungkapnya. Kemarau mundur Dalam keterangan resminya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sri Woro Harijono mengungkapkan, saat ini tengah terjadi gejala penyimpangan iklim. BMKG merevisi prakiraan musim kemarau 2010. Artinya, musim kemarau diperkirakan mundur. Curah hujan intensitas sedang-tinggi masih akan terjadi di Sumatera, Jawa, sebagian Bali dan Maluku hingga pertengahan Juli 2010. Musim kemaraunya berlangsung lebih pendek dan lebih basah daripada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini serupa dengan tahun 1998. Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung I Made Suwetja, anomali iklim semacam ini sudah diprediksi sebelumnya. Kini tengah berupaya menekan konsumsi beras dan menggantinya dengan bahan pokok lainnya. Kami menargetkan konsumsi (beras) ditekan setengah persennya dari angka konsumsi sekarang ini rata-rata 99,48 kilogram per kapita per tahun, ungkapnya. (JON)

Nasinal Pos Kita.com Selasa 26 Jan 2010

Di Lampung, banjir tewaskan suami-istri


500 Rumah di Garut diterjang angin
BANDUNG (Pos Kota) - Sebanyak 500 rumah penduduk di delapan desa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, digempur angin puyuh. Tercatat delapan warga mengalami luka akibat tertimpa puing-puing bangunan mereka.Hingga Senin, ratusan korban Kini masih ditampung di balai desa karena tempat tinggalnya mengalami kerusakan.Camat Kecamatan Kadungora; Dadang Purnama menjelaskan, peristiwa naas yang menimpa wilayah kerja-nya berlangsung sejak Sabtu malam saat hujan deras melanda daerah itu. Angin menyapu ratusan rumah warga satu jam sebelum hujan besar turun melanda wilayah Kabupaten Garut. "Dalam musibah tak ada korban jiwa. Delapan warga mengalami luka, lima di antaranya luka berat dan kini dirawat di rumah sakit," kata dia.Angin yang menyerang Kecamatan Kadongora, tambah camat, sangat besar dan memiliki kekuatan dahsyat. BANJIR DI LAMPUNG Sementara di Lampung, dua keluarga ditelan banjir, yakni 2 pasutri ditemukan tewas mengenaskan, satu keluarga masih Julang, saat banjir bandang melanda Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat pada Minggu (24/1) malam.Setidaknya, ada lima warga Pemangku I Pekon, Hujung dilaporkan hilang terseret arus air. Sampai kemarin Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian. Banjir terjadi mulai pukul 1900, akibat hujan sejak pagi menyebabkan Sungai Halian Manak meluap.Vang tewas suami istri Darozi,35, dan Yusmania,25. Tiga yang hilang, merupakan satu keluarga, yaitu Mat Rasyid,40, Asmani,3S, dan anaknya ElfL,7. (dono/koes-ma/ds/aw)

Tribun Lampung Kamis, 18 Februari 2010

Bandar Jaya

Banjir Lamteng

Seberangi Banjir, Pemilik Motor Bayar Rp 100.000


Laporan Wartawan Tribun Lampung, Leo David ANAK TUHA, TRIBUN - Musibah banjir di Lampung Tengah, dimanfaatkan sejumlah warga untuk mengais rezeki dengan menjual jasa menyeberangkan sepeda motor yang hendak melintas jalan yang tergenang air, Rabu (17/2). Mereka menggunakan gerobak sapi yang ditarik oleh mereka sendiri. Lalu bagaimana dengan tarifnya? Wow.. ternyata lumayan mahal. Untuk sekali menyeberang, pemilik motor harus merogoh kocek Rp 100 ribu. Memang untuk mendorong gerobak tersebut dibutuhkan lebih dari lima orang. Meskipun relatif mahal, namun ada juga pengendara yang memanfaatkan jasa mereka. Syaifullah misalnya, ia tidak ingin terlambat masuk kerja sehingga ia menggunakan jasa itu. Sepeda motor jenis Yamaha Vixion miliknya akhirnya dapat menyeberang dan ia pun melanjutkan perjalanan. (*) Editor: Rdi

Republika.com Rabu, 09 Juni 2010,

Selam 2010, Banjir Gagalkan Panen 27.442 Hektare Padi


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Pertanian mengungkapkan banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia selama Januari-Mei 2010 telah mengakibatkan puso atau gagal panen tanaman padi pada lahan seluas 27.442 hektar (ha). Pelaksana harian Direktur Perlindungan Tanaman Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sri Sintarti di Jakarta, Rabu menyatakan lahan yang puso tersebut dari areal sawah yang terkena banjir seluas 98.356 ha. "Banjir terluas terjadi di Provinsi Lampung, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Timur," katanya. Selama Januari-Mei 2010, luas areal sawah yang terkena banjir di Lampung mencapai 20.391 ha dengan puso 8.454 ha, di Jawa Barat mencapai 15.460 ha dan puso 4.391 ha, Kalimantan Selatan terlanda banjir 15.431 ha dan puso 3.591 ha sedangkan Jawa Timur terkena banjir 11.185 ha serta puso 2.296 ha. Namun demikian, menurut data Ditjen Tanaman Pangan, persawahan yang terkena banjir maupun puso tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2009 maupun rata-rata lima tahun terakhir. Secara nasional, selama Januari-Mei 2009 luas persawahan yang terkena banjir mencapai 173.961 ha dengan tingkat puso 56.049 ha, sedangkan rata-rata lima tahun terakhir banjir melanda 202.077 ha sawah yang mengakibatkan 63.792 ha tanaman padi puso. Menanggapi masih turunnya hujan hingga saat ini, Pelaksana Tugas Dirjen Tanaman Pangan, Gatot Irianto, menyatakan, kondisi tersebut disatu sisi sangat rawan menimbulkan serangan hama wereng, namun di sisi lain menguntungkan petani karena bisa meningkatkan penanaman. "Dengan posisi hujan begini masih bagus. Biasanya April sudah kekeringan, tapi sekerang Juni masih hujan, tak ada kekeringan," katanya Menurut dia, jika pengendalian hama wereng coklat dikelola baik, maka kondisi saat ini yang masih ada hujan justru akan menguntungkan sekali.

Solo Pos.com

Rabu 20 Februari 2010

Banjir Bandar Lampung, Warga Mulai Terserang Penyakit


Lampung Banjir Bandang yang melanda Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung menyebabkan sejumlah derita. Salah satunya serangan penyakit. Warga pun terus mendatangi pos kesehatan yang dibangun pemerintah setempat. Rata-rata warga terserang demam, batuk dan gata-gatal, kata Vinda Riyani, salah seorang Tim Medis dari Pusat Kesehatan Masyarakat Padang Cermin, Pesawaran, Sabtu (20/02). Puluhan warga di dusun Penaga, Desa Padang Cermin mulai mendatangi rumah yang dijadikan posko kesehatan, sejak Jumat malam (19/2). Tim medis juga harus berjalan empat kilometer menyusuri jalan setapak yang becek dan tertimbun lumpur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada korban banjir. Di dusun itu, sebanyak sembilan rumah hanyut terseret banjir dan puluhan lainnya rusak berat. Puluhan kepala keluarga telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Sebagian mereka terlhat mengais-ngais sisa harta mereka yang terendam lumpur dan pasir. Menurut Vinda, penyakit yang menyerang warga karena mereka banyak berada di luar ruangan, sering terendam air dan mengkonsumsi air kotor. Banjir bandang telah membuat sumur dan saluran air bersih di daerah itu rusak parah. Warga kesulitan mendapatkan air bersih dan banyak diantara mereka yang menggunakan air bekas banjir untuk mandi, masak dan mencuci pakaian, katanya. Sementara itu Pemerintah Kabupaten Pesawaran mengerahkan dua alat berat untuk menyingkirkan lumpur, batu, pasir dan batang pohon yang menuntupi permukiman warga. Dua alat berat itu juga memperbaki badan jalan yang longsor dan aliran air yang tersumbat. Kami meluruskan aliran air agar tidak melewati permukiman warga, kata Haris Fadilah, Penjabat Bupati Pesawaran. Dua aliran sungai, yaitu sungai Dantaran dan Way Ratai mengalami penyempitan sehingga sungai bisa meluap jika hujan lebat kembali turun. Dua hari lalu, banjir bandang yang menimpa Kecamatan Padang Cermin karena kedua sungai tersebut tidak mampu menampung air dari puncak gunung Pesawaran. Banjir bandang yang terjadi, Kamis (18/02) lalu, menyebabkan satu orang tewas dan puluhan orang terluka. Banjir juga menyebabkan 19 rumah hilang, puluhan rumah rusak berat dan ratusan rumah lainnya rusak ringan. tempointeraktif/rif

Departemen Kesehata Republik Indonesia

Pusat Penanggulangan Krisis


LampungSenin, 22 Februari 2010

Banjir Bandang di Kabupaten Pesawaran Prov. LampungSenin, 22 Februari 2010


Pada tanggal 18 Februari 2010 pukul 02.00 WIB telah terjadi banjir bandang di Dusun Padang Cermin dan Dusun Gebang di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Jumlah penduduk yang terancam sebanyak 1.200 orang. Akibat kejadian ini sebanyak 635 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 9 unit rusak total, 53 unit rusak berat, 554 unit rusak ringan dan 19 hilang. Terdapat korban meninggal dunia 1 orang, korban luka berat 1 orang, dan korban luka ringan sebanyak 8 orang. Jumlah korban yang berobat di Pos Kesehatan sebanyak 517 orang. Jajaran kesehatan setempat telah mengevakuasi korban, memberikan pelayanan kesehatan di Pos Kesehatan, Puskesmas dan Rumah Sakit, dan melakukan pemantauan di lokasi bencana. Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat dan pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan.

ANTARA Rabu, 20 Januari 2010

Nusantara
Laporan Administrator

PU NTB SIAGAKAN PERALATAN PENANGANAN BENCANA


Mataram, 20/1 (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum (PU) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiagakan peralatan penanganan bencana banjir dan tanah longsor di lokasi strategis agar memudahkan penanggulangannya terutama yang menghambat kelancaran transportasi darat. "Sejumlah alat berat seperti buldoser, escavator, forklift, tower crane dan mesin giling jalan telah disiagakan di berbagai lokasi strategis agar memudahkan penanganan dampak banjir dan tanah longsor," kata Kepala Dinas PU NTB H Jalal di Mataram, Rabu. Ia mengatakan, seluruh daerah di wilayah NTB telah diguyur hujan pada musim penghujan tahun 2010, sehingga berbagai pihak perlu menempuh langkah-langkah antisipasi termasuk Dinas PU. Pihaknya telah mengidentifikasi daerah rawan bencana tanah longsor baik di Pulau Lombok maupun di Pulau Sumbawa. Dia menyebut daerah rawan bencana tanah longsor di Pulau Lombok yang dapat menghambat kelancaran transportasi darat yakni Sembalun dan Belanting (Lombok Timur), Pusuk (Lombok Utara) dan Sekotong (Lombok Barat). Jalan di hutan Pusuk merupakan daerah yang paling rawan tanah longsor karena merupakan kawasan perbukitan, padahal daerah itu menghubungkan Kota Mataram dengan sejumlah kecamatan di Lombok Barat dengan kecamatan yang ada di Lombok bagian utara. Padahal jalan di hutan Pusuk itu dilalui tak kurang dari 250 kendaraan besar dan kecil setiap hari. "Di tiga lokasi itu telah disiagakan sejumlah alat berat agar memudahkan penanganan ruas jalan yang tertimbun material longsoran," ujarnya. Selain itu, penyiagaan alat berat juga dilakukan untuk menanggulangi material longsor (tanah dan batu) yang mungkin saja menimpa ruas jalan di kawasan wisata Senggigi hingga Pemenang, Lombok Barat. Demikian pula penyiagaan alat berat untuk menanggulangi ruas jalan yang terkena bencana tanah longsor di Serumbeng, Lembar, ruas jalan menuju Pelabuhan Laut Lembar, yang telah dilakukan semenjak Pulau Lombok diguyur hujan deras, awal Januari lalu. "Senggigi dan Lembar merupakan kawasan yang harus terbebas dari hambatan tanah longsor karena arus lalu lintasnya cukup padat, jangan sampai arus transportasi di kawasan itu tertanggung material longsoran sehingga alat berat juga diprioritaskan di kawasan itu," ujarnya. Sementara daerah rawan bencana tanah longsor di Pulau Sumbawa, kata Jalal, lebih banyak dari Pulau Lombok dan menyebar di lima kabupaten/kota.

ANTARA Rabu, 20 Januari 2010

PU NTB SIAGAKAN PERALATAN PENANGANAN BENCANA

Dia mencontohkan daerah rawan bencana tanah longsor di Labun dan Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, yang juga membutuhkan alat berat karena hampir setiap tahun mencuat bencana tanah longsor di daerah itu. "Banyak daerah rawan longsor di Pulau Sumbawa dan langkah-langkah antisipasi telah ditempuh seperti penyiagaan alat berat agar ruas jalan yang tertimbun tanah longsor teratasi sesegera mungkin," ujarnya. Jalal mengakui, kawasan rawan banjir di wilayah NTB semakin meluas karena berbagai faktor penyebab seperti prilaku masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tidak mengacu kepada prinsip konservasi Sumber Daya Alam (SDA). Ia menyebut kawasan rawan banjir antara lain Lombok bagian selatan (Kabupaten Lombok Timur), Praya Barat (Lombok Tengah), Pogading (Lombok Timur), Taliwang (Sumbawa Barat), Dompu (Dompu) dan Raba Sape (Kota Bima).(*)

Admin .[PPBJ Lombok] Selasa, 16 Pebruari 2010

Seputar Bumi Gora

BMKG: Hujan Sampai Akhir Februari


Admin .[PPBJ Lombok] - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi bahwa curah hujan masih akan terjadi secara umum di seluruh wilayah Indonesia sampai dengan akhir Februari 2010. Sejak akhir bulan Desember sampai saat ini, diketahui banjir dan tanah longsor telah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, NTB/NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dalam kurun waktu tersebut tercatat 50 kejadian banjir besar dengan jumlah korban mencapai 42 orang meninggal dunia dan menghancurkan beberapa sarana dan prasarana. Pemerintah dan Pemda terus menyiapkan langkah-langkah penanganan, kata Freddy Tulung, Kepala Badan Informasi Publik Kominfo di Jakarta, 16 Februari 2010. Langkah-langkah meliputi pencegahan, kesiapsiagaan maupun tanggap darurat pada waktu terjadi bencana berupa tempat pengungsian, stok pangan, obat-obatan, peralatan darurat, personil dan sebagainya, ucap Freddy. Pada tingkat nasional, Freddy menyebutkan, juga telah dibentuk satuan reaksi cepat penanggulangan bencana di bawah koordinasi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Satuan ini bisa setiap saat digerakkan untuk penanganan darurat bencana yang bersifat ekstrim dan tidak dapat ditangani oleh daerah. Selain itu, pemerintah menghimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor untuk tetap melakukan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam menghadapi bencana banjir dan longsor. Masyarakat juga diminta tidak panik dan tetap memperhatikan peringatan dini. Untuk menghadapi banjir ke depan, Kementerian Sosial telah menyiapkan bantuan pangan. Kementerian perhubungan menyiapkan sarana transportasi, kementerian ESDM menyiapkan pasokan bahan bakar. Adapun TNI, Polri, Basarnas, dan PMI menyiapkan personil dan peralatan pertolongan darurat. Sementara itu, pemerintah bersama Pemda melalui Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pemeliharaan saluran, kebersihan sampah, dan lain-lain. SUMBER : VIVAnews.Com

Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat Senin, 28 Juni 2010

Penanganan pasca bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Suoh


Pasca bencana tanah longsor dan banjir yang terjadi di Kecamatan Suoh pada Rabu (5/11) sekitar pukul 17.00 Wib silam menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah Kabupaten Lampung Barat, karena sebanyak 46 Kepala Keluarga (KK) warga yang tersebar di Pekon Tuguratu dan Sumber Agung terpaksa kehilangan tempat tinggal dan areal pertanian berupa sawah, kebun kopi, lada dan kakao yang diterjang longsoran tanah bercampur lumpur batu dan kayu besar saat terjadi bencana banjir tersebut. Dari 46 KK yang menjadi korban terparah 33 merupakan warga Tuguratu dan sisanya warga Sumberagung. Sementara pihak kecamatan telah selesai menginventarisir tanah pekon di kedua pekon tersebut yang dapat dipergunakan untuk pemukiman penduduk. Dan lahan yang bias dimanfaatkan untuk pemukiman di 2 pekon tersebut sudah tidak ada lagi Berkaitan dengan penanganan pasca banjir warga Suoh Pemkab Lampung Barat terus mengupayakan pembenahan secara menyeluruh terhadap kerusakan yang terjadi berupa infrastruktur dan fasilitas umum yang rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor tersebut. Bupati Lampung Barat telah memerintahkan para Satuan Kerja (Satker) terkait untuk terus melakukan pendataan secara valid jumlah kerugian yang ditimbulkan bencana itu. Hal tersebut terungkap dalam rapat evaluasi diruang Setdakab yang dipimpin langsung oleh Bupati Lampung Barat. Disamping itu tanggap darurat yang dilakukan sejak pertama terjadinya musibah banjir dan tanah longsor telah membuka akses jalan keluar masuk Kecamatan Suoh. Sampai saat ini penanganan infrastruktur telah mencapai 75%, meskipun demikian alat-alat berat yang dipergunakan dalam menangani banjir dan longsor tersebut masih terus bekerja dengan melakukan pengerukan di sejumlah sungai yang mengalami pendangkalan. Hingga saat ini kondisi kesehatan warga masyarakat Suoh terjamin terlebih lagi dengan telah didirikannya 3 unit Posko Pengobatan dan penanganan secara gratis kepada warga korban bencana di daerah tersebut. Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lampung Barat mengatakan sampai saat ini Poskon Bencana Banjir dan Tanah Longsor Suoh telah menerima berbagai bantuan baik dari perorangan, organisasi maupun kelompok masyarakat. Dan bantuan tersebut telah disalurkan kepada warga yang berhak menerimannya. Bantuan tersebut disalurkan kepada warga yang berada di 2 pekon terparah dalam bencana tersebut yaitu Pekon Tugu Ratu, Pekon Sumber Agung. Bantuan tersebut berupa kain panjang 200 potong, kaos kerah 200 potong, daster 200 potong, pakaian SD 200 potong, selimut 200 potong, karpet matras 50 buah, kecap 8 kardus, sarden 26 kardus, sambel saos 8 kardus, minyak goring 30 kardus. Kemudian supermi 80 kardus, tempat nasi 2 lusin, teko 2 lusin, wajan 50 buah, panci 4 lusin, piring dan gelas 58 lusin, kidware dan panili ware sebanyak 20 buah, pakaian layak pakai sebanyak 10 karung, roti MP-ASI sebanyak 9 kardus dan bubur MP-ASI sebanyak 15 kardus. (Zan/BJ/BF/Humas).

IndonesiaBicara.com 05 Oktober 2009

Kebijakan Pemprov Lampung Dalam Penanganan Banjir dan Tanah Longsor di Tanggamus
IndonesiaBicara.com-Bandar Lampung (05/10). Penanganan masalah banjir dan tanah longsor di Kabupaten Tanggamus dinyatakan oleh Hanafie Sirajudin (Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Pemprov Lampung) bahwa Pemprov Lampung siap membantu Pemkab Tanggamus dalam upaya penanganan akibat dari bencana tersebut. Pemprov Lampung masih menunggu kepastian tentang situasi terkini di Tanggamus, pasca bencana banjir yang terjadi pada Minggu (4/10) lalu. Sementara ini, penanggulangan bencana masih dilakukan oleh Pemkab Tanggamus sendiri. Akibat bencana tersebut ratusan rumah terendam air dan tanah longsor juga mengakibatkan putusnya jalan Lintas Barat Sumatera. Hujan deras yang turun sejak Sabtu (3/10) kemarin, membuat air yang mengalir dari pegunungan di Kecamatan Semaka menyapu perumahan penduduk. Kawasan hutan yang tidak lagi dipenuhi pepohonan diduga menjadi penyebab banjir. Pihak Pemprov Lampung masih berkoordinasi dengan Pemkab Tanggamus, sementara ini situasi di Tanggamus masih bisa diatasi oleh Pemkab Tanggamus. Pemprov Lampung membantu dengan mengirimkan bantuan berupa barang dan tenaga dari PMI (Palang Merah Indonesia) sebanyak 4 orang. Dinas Sosial (Dinsos) Lampung juga telah mengirimkan bantuan berupa bahan pangan seperti ikan kaleng sebanyak 75 dus, dan mie instan sebanyak 75 dus. Selain bahan pangan, Dinsos juga mengirimkan kain daster dan kain sarung masing-masing 75 lembar. Untuk memulihkan kembali keadaan di Kecamatan Kota Agung Barat dan Kecamatan Way Semangka, satu kompi dari Polres Tanggamus dan tim alat berat dari Dinas Perhubungan Lampung telah diterjunkan. Bantuan barang dan tenaga ini masih sementara, karena Pemkab Tanggamus sendiri mengatakan masih bisa menanggulangi. Tapi jika sewaktu-waktu diperlukan, TNI/Polri, RSUAM, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung telah standby untuk diturunkan. Sementara Budiharjo (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung) menjelaskan bahwa hingga saat ini, korban bencana banjir di Way Semangka tiga orang meninggal dunia, dan dua orang masih dinyatakan hilang. Seorang warga dilaporkan tewas dan belum diketahui identitasnya. Selain itu dua orang lainnya masih dalam pencarian yaitu Suci Wulandari (5 thn) dan Riska (4 thn).Infrastruktur yang rusak di dua kecamatan adalah 2 unit rumah rusak berat, 214 unit rusak ringan. Jalan yang menghubungkan Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat juga masih tertutup lumpur. Banjir yang melanda kedua wilayah kecamatan tersebut sudah rutin terjadi sejak dua tahun yang lalu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Prov. Lampung Ir Mardiono mengatakan bahwa langkah pertama yang akan dilakukan Pemprov Lampung adalah membuka isolasi jalan penghubung antara Tanggamus-Lampung Barat. Dinas PU Binamarga akan mengirimkan alat-alat berat dari dua arah tersebut. Operasional pembukaan wilayah akan dibantu oleh satuan TNI dan unsur masyarakat. (deny)

Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Pusat Penaggulangan Krisis


Rabu, 12 Maret 2008

BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG


Bencana banjir dengan ketinggian 100 cm terjadi di Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung pada tanggal 10 Maret 2008 sekitar pukul 18.15 WIB. Banjir ini menyebabkan tidak kurang dari 150 unit rumah tergenang, 19 unit rumah rusak berat, sarana transportasi rusak dan listrik mati. Pada hari yang sama sekitar pukul 19.30 WIB telah terjadi tanah longsor di Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Tanah longsor tersebut mengakibatkan 1 orang meninggal dunia serta mengakibatkan 1 unit rumah rusak berat dan fondasi jalan roboh menimpa rumah. Tidak dilaporkan adanya korban yang dirawat maupun terjadinya pengungsian. Jajaran Kesehatan setempat telah mengevakuasi korban serta memberikan pelayanan kesehatan. Saat ini permasalahan Kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat dan pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

Kompas - 12 Maret 2008

Banjir Mulai Landa Lampung


Bandar Lampung, Kompas - Banjir dan tanah longsor melanda Bandar Lampung. Tinggi genangan air bervariasi, mulai setinggi lutut sampai pinggang orang dewasa. Penyebab bencana adalah gundulnya bukit akibat penebangan pohon. Ketika hujan deras, tanah di perbukitan tidak mampu menyerap air hujan. Longsor di Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, mengambil korban Nurmiyati (42) yang tengah hamil delapan bulan. Menurut adik korban, Rusti (36), ibu empat anak itu meninggal saat membersihkan longsoran tanah yang menutupi parit agar tidak menimpa rumahnya. Namun, ia justru tertimpa longsor susulan. Tanah longsor baru sekali terjadi dalam 12 tahun terakhir. Sementara itu, banjir di Kecamatan Tanjungkarang Timur terjadi akibat Sungai Campang meluap, Senin (10/3) malam. Mulai dari Gang Melati sampai kompleks perumahan Nusantara Permai tergenang air setinggi lutut hingga sepinggang orang dewasa. Di Way Dadi, Kecamatan Sukabumi, permukiman warga tergenang air setinggi lutut. Adapun di Desa Rawa Kerawang, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Telukbetung Selatan, hujan deras menyebabkan 140 rumah warga terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Hingga Selasa pukul 09.00, air belum surut dan warga masih mengungsi. Di Bandar Lampung, hujan deras disertai angin kencang merobohkan sejumlah pohon besar di tengah kota sehingga memutus jaringan listrik di enam titik. Akibatnya, listrik padam sejak Senin malam hingga Selasa sore. Di Jawa Barat, luapan Sungai Citarum menggenangi permukiman penduduk di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa, setinggi 30-70 sentimeter. Warga yang rumahnya terendam meminta Pemerintah Kabupaten Bandung merelokasi mereka ke daerah lebih aman. Kabupaten Bandung bagian timur tidak luput dari limpasan air Sungai Cimande yang meluap akibat hujan deras sepanjang Senin malam sampai Selasa pagi. Wilayah yang tergenang antara lain Desa Linggar dan Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek. Tinggi genangan 40 cm-50 cm. Banjir juga merendam sawah seluas 80 hektar. Akibat hujan, Senin, puluhan rumah di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, sempat terendam. Luapan Bengawan Solo menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin sekitar pukul 23.00. Banjir merendam 3.653 rumah di 21 desa di Kecamatan Cepu, Kradenan, dan Kedungtuban setinggi 30 cm-150 cm. Genangan masih terjadi hingga Selasa. Padi siap panen terendam Sementara itu, luapan Kali Lamong di Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, dan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, merendam ratusan hektar padi siap panen. Akibatnya, produksi pertanian diperkirakan turun hingga 30 persen. Wilayah itu adalah sentra produksi beras di Gresik. Camat Benjeng Suryo Wibowo, Selasa, mengatakan, 654 hektar tanaman padi di 14 desa terendam air. Banjir juga menyebabkan 19 kilometer jalan poros desa dan 3 kilometer jalan Kabupaten Benjeng-Balongpanggang tergenang. Kerugian ditaksir Rp 1,5 miliar. Selasa pukul 15.00, banjir bergeser ke Kecamatan Cerme menggenangi rumah dan sawah warga. Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Madiun dan Bengawan Solo di Kabupaten Ngawi mulai surut, Selasa. Jalan desa yang juga adalah jalur alternatif dari Ngawi ke Madiun di Kecamatan Kwadungan sudah tidak terendam air. Banjir di Kecamatan Ngawi Kota juga mulai surut. (HLN/ELD/CHE/HEN/ACI/APA)