Anda di halaman 1dari 220

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. ........................i HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................ii HALAMAN MOTTO.......................iii HALAMAN PERSEMBAHAN...........................................................................iv KATA PENGANTAR............................................................................................v DAFTAR ISI..........................................................................................................

xi BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...............1 B. Rumusan Masalah.............8 C. Tujuan Penelitian..............9 D. Tinjauan Pustaka..............9 E. Metode Penelitian............20 BAB II. PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN SECARA MASSAL A. Perbuatan Pidana.................24 1. Perbuatan Pidana.......................24 2. 3. Perumusan Perbuatan Pidana Undang-undang...........35 B. Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal....................40 1. Massal.........40 2. Bentuk-bentuk Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal..............................................................................................44 3. Faktor Penyebab Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal..................................................................................................48 4. Dampak Terhadap Korban Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal.....................................................................57 Pengertian Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Unsurunsur Perbuatan Pidana........................30 Bentuk-bentuk Pengertian

5. Penegakkan Hukum Dalam Perbuatan Pidana yang Dilakukan Secara Massal..................................................................................................70 BAB III. HUBUNGAN ANTAR PELAKU DALAM PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH DUA ORANG ATAU LEBIH A. Subyek hukum Pidana ..........................100 1. Orang Sebagai Subyek Hukum ....................104 a. b. Pengertian Orang..................104 Pengaturan Orang Sebagai Subyek Hukum Pidana dan Pertanggung Jawabannya dalam hukum Pidana...................106 2. Korporasi sebagai subyek Hukum ..................118 Pengertian Korporasi........................118 Pembagian Badan Hukum (Korporasi)............................122 Pengaturan Korporasi Sebagai Subyek Hukum Pidana dan Pertanggung Jawabannya dalam Hukum Pidana...........................................126 B. Pengaturan Hubungan antar Pelaku dalam Perbuatan Pidana yang dilakukan Dua Orang atau Lebih dalam Delik Penyertaan..........................148 1. 2. 3. Pengertian Delik Penyertaan................148 Bentuk-bentuk Delik Penyertaan..............153 Sistem Pertanggung Jawaban pelaku dalam Delik Penyertaan............174 a. b. c.

BAB VI. PENETAPAN HUBUNGAN ANTAR PELAKU PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN SECARA MASSAL MENURUT DOKTRIN HUKUM PIDANA DAN YURISPRUDENSI A. Hubungan antar Pelaku Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal ditinjau dari Hukum Pidana................................................181 1. Hubungan Antar Pelaku Perbuatan Pidana yang dilakukan secara Massal............................184 2. Konsep Pertanggung Jawaban Antar Pelaku Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal...........................................201 B. Hubungan Antar Pelaku Perbuatan Pidana yang dilakukan secara Massal ditinjau dari Sudut Pandang Yurisprudensi.............217

1. Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 28/1999/Pid.B/PN.Ska...........................................................218 2. Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta No. 49/Pid.B/2004/PN.Yk.........233 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan.................239 B. Saran................242

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam hukum pidana yang menjadi pokok pembahasan ada 3 aspek yaitu masalah perbuatan, pertanggung jawaban dan pidana itu sendiri dalam hal ini sanksi yang diberikan terhadap konsekuensi bagi yang melanggar. Berkaitan dengan ketiga permasalahan tersebut dalam dataran pembahasan baik secara teori maupun dalam operasionalnya tidak dapat disatukan atau dicampuradukan satu dengan yang lainnya, karena merupakan unsur yang berbeda-beda yang disatukan dalam satu bagian yaitu hukum pidana. Seseorang dikatakan telah melanggar hukum pidana apabila perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dan bertentangan dengan norma masyarakat dan hal ini telah termaktub dalam perundang-undang yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana1, sebagaimana tertuang dalam pasal 1 ayat 1 yang berbunyi: Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang, yang terdahulu dari pada perbuatan itu2. Pasal tersebut di atas biasa dikenal dengan asas legalitas yang mana hampir semua Negara yang menyatakan negaranya sebagai Negara hukum menganut asas tersebut, dengan tujuan perlindungan dari penguasa yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Tidak cukup hanya perbuatan saja yang terbukti seseorang dikenakan pidana tapi harus ada kesalahan, sebagaimana sebuah adagium menyatakan actus non facit reum, nisi mens sit rea, artinya perbuatan tidak membuat orang bersalah kecuali jika terdapat sikap batin yang salah3. Artinya untuk menyatakan bahwa seseorang telah melanggar hukum pidana dan dikenakan sanksi harus memenuhi dua hal pokok sebagai syarat yaitu: 1. orang tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa ia benar-benar telah melakukan suatu tindak pidana, dan

1 2

Selanjutnya akan disingkat KUHP R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Ctk. Ulang, Politeia, Bogor, 1996, hlm. 27 3 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hlm. 54

2.

pada saat orang tersebut melakukan tindak pidana harus dibuktikan bahwa ia benar-benar merupakan orang yang dapat dipertanggung jawabkan secara pidana4. Realita hukum pidana yang terjadi di masyarakat tidak semudah yang

dipaparkan di atas karena banyak permasalahan yang komplek bermunculan terutama diantaranya permasalahan perbuatan pidana yang semakin berkembang dan bervariatif seiring dengan perkembangan masyarakat menuju era modern, sebagaimana yang diungkapkan Satjipto bahwa moderenisasi sebagai suatu proses untuk mencapai moderenitas akan senantiasa membawa ketidakstabilan dalam masyarakat, oleh karena itu merupakan perubahan dari nilai-nilai dan sikap-sikap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa moderenisasi turut bertanggung jawab dalam melahirkan banyak bentuk dan jenis kriminalitas5. Hal tersebut berdampak pada keberadaan hukum pidana kita yang berbentuk kodifikasi sehingga terkesan stagnan dan kaku. Seiring dengan lajunya arus globalisasi dan perkembangan zaman, maka dalam masyarakat banyak tindakan atau perbuatan baru yang merugikan dan meresahkan masyarakat yang belum ada pengaturannya seperti cyber crime dan tindakan asusila lainnya, sebagaimana tujuan dari hukum pidana yaitu untuk menanggulangi kejahatan dan juga pengugeran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri demi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan6. Berbicara masalah perbuatan pidana yang dilakukan oleh subyek hukum pidana baik oleh perorangan maupun dan korporasi, sudah mendapat klasifikasi dan ketentuan yang jelas dalam setiap peraturan yang mengatur perbuatan pidana yang dilakukan dan bagaimana bentuk pertanggung jawabanya. Seperti halnya dengan sebuah korporasi yang melakukan perbuatan pidana ada berbagai macam peraturan di luar KUHP seperti dalam Undang-undang Pasar Modal, Perbankan, pajak, dan lain-lain. Yang menjadi permasalahan adalah apabila ada perbuatan
4

Abdul Kholiq, Hukum Pidana (Buku Panduan Kuliah), Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002, hlm. 23 5 Nanda Agung Dewantara, Kemampuan Hukum Pidana dalam Menanggulangi Kejahatankejahatan Baru yang Berkembangan Dalam masyarakat, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1988, hlm. 46-47 6 Ibid, hlm. 10

pidana yang dilakukan secara kolektif/massal/kelompok yang bisa saja dalam hal ini dilakuakan oleh korporasi, baik yang berbadan hukum ataupun bukan badan hukum, yang jumlah personnya bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan, sehingga menjadi sebuah pertanyaan bagaimana hukum pidana mengatur hal ini. Seperti contoh kasus di Nusa Tenggara Barat (NTB) terjadinya amuk massa yang merusak kantor Kejati NTB hal ini dipicu karena kasus dugaan korupsi dengan tersangka 9 orang mantan anggota DPRD NTB yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Mataram, adapun massa menuntut agar kesembilan orang tersebut dibebaskan karena menurut mereka pihak Kejati pilih kasih karena ada orang lain lagi yang seharusnya dituntut tapi tidak dilakukan oleh Kejati sehingga segerombolan massa marah dan mengamuk sehingga melakukan perbuatan pidana pengrusakan barang milik orang lain7 sebagaimana tertuang dalam pasal 406 ayat 1 KUHP yang berbunyi Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain dihukum penjara dan denda8. Selain kasus tersebut masih banyak kasus-kasus lain yang banyak bermunculan tentang kejahatan yang dilakukan secara massal ini yaitu kasus para pengikut Ahmadiyah yang diserang oleh pihak FPI (Front Pembela Islam), kasus para demonstran yang mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak jarang diakhiri dengan aksi kriminal, kasus SARA (Suku, Agama dan Ras) dibeberapa daerah seperti Kalimantan dan Ambon, dan lain-lain. Berdasarkan kasus di atas telah jelas terjadi pelanggaran pidana dan idealnya semua pihak yang terlibat amuk massa harus diproses secara hukum, tapi realita yang terjadi hanya sebagian saja yang diproses, menurut pihak penyidik yang ditangkap adalah orang-orang yang dianggap otak/dalang dari semua perbuatan pidana yang dilakukan, bisa dikatakan representatif dari semua pelaku, padahal dalam hukum pidana baik pelaku dan pembantu sampai pada peran terkecil yaitu pendukung dari perbuatan pidana dikenakan sanksi apabila memang terbukti mempunyai hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung
7 8

Korupsi dan Amuk Massa dan Dagelan Hukum, dalam http://antikorupsi.org/mod R. Soesilo, op.cit., hlm. 287

dengan perbuatan yang dilakukan sehingga perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hukum pidana kita mengenal yang namanya delik penyertaan yang mengklasifikasikan pelaku kejahatan dalam beberapa golongan yaitu: pelaku (pleger), menyuruh melakukan (doenpleger), turut serta (medepleger), dan pengajur (uitloker). Tapi untuk delik penyertaan biasanya kejahatan yang dilakukan dalam hal wajar yang bisa dianalisis dan diklasifikasikan mana yang merupakan pelaku, actor intelektual dan actor materialis, dalam hal ini jelas jumlah subyeknya dan ketentuannya dalam hukum pidana. Tapi hal tersebut bukan merupakan jawaban yang tepat untuk bisa menjawab permasalahan tentang perbuatan pidana yang dilakukan secara massal karena dalam hal ini banyak pihak yang terkait dan terlibat, sehingga perlu pengklasifikasian yang jelas sebatas dan sejauh mana keterlibatan serta hubungan antar setiap pelaku dalam melakukan perbuatan tersebut. Dalam hal perbuatan pidana yang dilakukan secara massal oleh sebuah korporasi berupa penyerangan dan perusakan seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam yang merupakan sebuah perkumpulan orang dalam bentuk organisasi massa, sehingga butuh kejelian dan ketelitian untuk menentukan pihakpihak yang terlibat dan dipertanggung jawabkan kepada siapa, apakah pada perorangannya atau kepada organisasinya, dengan harapan agar tercipta sebuah keadilan yang sesuai dengan proporsinya. Permasalahan tentang perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tidak hanya selesai pada pelakunya saja tapi juga pada korban yang dirugikan baik secara langsung maupun tidak langsung, yang mana jarang sekali dari para korban yang melaporkan kepihak yang berwajib walaupun secara hukum para korban tersebut benar. Apabila dilaporkan dari pihak yang berwajib sendiri kesulitan untuk menentukan yang mana yang harus ditangkap yang pada akhirnya hanya representasi dari para pelaku. Dalam hukum pidana tidak mengenal hal tersebut, dan tentunya hal ini mencederai nilai keadilan yang ada dimasyarakat. Perbuatan pidana atau kejahatan massal biasanya identik dengan perbuatan main hakim sendiri (eigenrechting) yang berdasarkan realitas dimasyarakat ada

perbedaan gerakan background yang melatarbelakanginya yang diusung sebagai legitimasi kekuatan agar tindakan yang dilakukan mempunyai efek penjera membuat takut para calon korbannya, biasanya ada yang mengatasnamakan komunitas, suatu perkumpulan, ras, suku, agama dan lain-lain. Terkait dengan perbuatan yang dilakukan oleh suatu komunitas maupun kelompok bagi aparat tidak sulit untuk menindaknya, tapi apabila berkaitan dengan ras, suku, dan agama apalgi yang berbentuk sebuah korporasi (dalam hal ini sebuah organisasi) sangat sulit untuk ditindak karena merupakan masalah yang sangat sensitif apalagi mengingat kondisi masyarakat kita yang heterogen. Hal yang cukup pelik adalah yang terkait dengan agama, seperti peristiwa yang pernah terjadi di ambon dan poso. Jadi dalam hal kejahatan massa tidak mudah bagi polisi untuk menangkap dan menyidik pelaku, apalagi polisi cenderung berhati-hati agar tidak terpeleset dalam tindak pelanggaran (Kejahatan) menurut Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Seperti kasus akhir-akhir ini yang marak beredar dimedia massa dan elektronik berupa tindak perampasan dan pengrusakan hak milik bahkan pemukulan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) pada waktu bulan Ramadhan yang mengadakan operasi penertiban disejumlah tempat hiburan di Jakarta dan dari pihak kepolisian metro Jaya hanya memberikan peringatan dan himbauan agar aksi FPI dihentikan karena meresahkam warga9, belum lagi tindakan penyerangan dan pengrusakan yang juga dilakukan oleh FPI dan LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) terhadap kampus Ahmadiyah di Mubarok, Bogor, hal tersebut dipicu oleh kegiatan pertemuan tahunan yang biasa dilakukan oleh Ahmadiyaah dan hal tersebut dianggap meresahkan warga sekitar karena Ahmadiyah di anggap sebuah aliran sesat, dalam hal ini dari pihak Ahmadiyah menyatakan penyesalannya terhadap sikap aparat keamanan yang tidak siap mengantisipasi munculnya massa yang anarkis tersebut10. Dengan sering terjadinya peristiwa amuk massa yang anarkis, dan hal tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang hal ini lebih kepada sistem penegakan hukum yang seperti apa yang diterapkan untuk bisa mengatasi
9 10

Tentang Kasus Ahmadiyah, terdapat dalam, http://majelis, mujahidin.or.id Ibid

hal tersebut, karena mengingat kita sebagai negara hukum, yang segala sesuatunya mempunyai ketentuan dan aturan yang jelas untuk mencegah terjadinya abuse of power. Dalam hal merumuskan kejahatan secara massa memang relatif sulit karena memang belum ada konstruksi aturan yang jelas untuk mengakomodir hal tersebut,dan hal ini tidak dapat dibiarkan berlalu tanpa tidak lanjut untuk menanganinya karena ada banyak pihak yang dirugikan, tapi yang menjadi permasalahan kepada siapa saja perbuatan tersebut akan dipertanggung jawabkan, apakah kepada semua pihak yang terlibat dengan jumlah yang ratusan bahkan ribuan dengan keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi aparat penegak hukum atau hanya refresentatif dari semua pelaku massal, padahal notabene ada para pelaku yang telah memenuhi kreteria baik perbuatan dan kesalahan telah memenuhui unsur untuk dipidana tapi tidak ditindak oleh aparat. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah hubungan antar pelaku dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal menurut doktrin hukum pidana? 2. Bagaimanakah pandangan yurisprudensi dalam menetapkan hubungan antar pelaku dalam tindak pidana yang dilakukan secara massal dan pengaturan pidananya? C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mencari jawaban atas permasalahan tentang: 1. 2. Untuk mengetahui bagaimanakah hubungan antar pelaku dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal menurut doktrin hukum pidana. Untuk mengetahui bagaimanakah pandangan yurisprudensi dalam menetapkan hubungan antar pelaku dalam tindak pidana yang dilakukan secara massal dan pengaturan pidananya. D. Tinjauan Pustaka

Hukum tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang dibentuk dengan tujuan menciptakan ketertiban. Suatu peraturan hukum adalah untuk keperluan penghidupan di dalam masyarakat demi kebaikan dan ketentraman bersama, hukum mengutamakan masyarakatnya bukan kepentingan perseorangan atau golongan, hukum juga menjaga hak-hak dan menentukan kewajibankewajiban anggota masyarakatnya agar tercipta suatu masyarakat yang teratur dan damai, adil dan makmur11. Hukum mengatur segala aspek kehidupan dimasyarakat baik yang berhubungan dengan masalah public dan privat, salah satu persoalan yang muncul ke permukaan dalam kehidupan masyarakat adalah tentang kejahatan. Hukum pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara termasuk Indonesia, yang mengadakan dasar-dasar dan aturanaturan untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut; menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana telah diancamkan; dan menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut12. Perbuatan yang diancam dengan hukum pidana adalah perbuatan yang secara mutlak harus memenuhi syarat formal, yaitu mencocoki dengan rumusan undang-undang (tatbestandsmaszigkeit) yang telah ditetapkan dalam kitab undang-undangan hukum pidana dan peraturan-peraturan lain yang berdimensi pidana, dan unsur material yaitu bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan masyarakat atau dengan pendek sifat melawan hukum (rechtswidrigkeit)13.

11 12

S. Wiratmo, Pengantar Ilmu Hukum, perc. Lukman Opset, Yogyakarta, 1979, hlm. 20 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Bina Aksara, 1987, hlm. 1 13 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban dalam Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Bina Aksara, Yogyakarta, 1983, hlm. 24-25

Tinjauan perbuatan pidana dari segi material sangat diperlukan oleh karena baru dengan adanya ini aturan-aturan hukum mempunyai isi atau mendapat arti, dan bukan pengertian dalam pengertian dalam lisan atau tulisan belaka14 Berdasarkan pernyataan di atas maka tidak satu perbuatanpun dikatakan tercela dan dapat dipidana apabila perbuatan yang tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan hukum pidana hal ini dikenal dengan asas legalitas. Suatu perbuatan dikatakan sebagai perbuatan pidana apabila terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut15: 1. 2. 3. unsur melawan hukum; unsur kesalahan; unsur gangguan/bahaya/merugikan.

Dalam hukum islam perbuatan pidana atau kejahatan (jarimah/jinayat) didefenisikan sebagai larangan-larangan hukum yang diberikan oleh Allah, yang pelanggarannya membawa hukuman yang ditentukanNya, dengan demikian suatu kejahatan adalah perbuatan yang dilarang oleh syariat16. Perbedaannya dengan hukum pidana barat yang jelas adalah masalah sumber hukumnya, yang hukum islam berasal dari Allah SWT sebagai pencipta umat manusia dan hukum pidana barat berasal dari buatan manusia itu sendiri. Kejahatan dalam hukum pidana islam dibagi menjadi tiga (3) Yaitu17: 1. Kejahatan hudud adalah kejahatan yang paling serius dan berat dalam hukum pidana islam, yang berkaitana dengan apa yang disebut dengan hak Allah dan hukumannya ditentukan oleh Allah, yang tergolong kejahatan ini adalah riddah (murtad), al-baghi (Pemberontak), zina, Qadzaf (tuduhan Palsu Zina), sariqah (pencurian), Hirabah (perampokan), dan Shurb alkhamar (Meminum Khamar). 2. Kejahatan Qishash sasarannya adalah integritas tubuh manusia, sengaja atau tidak sengaja yang dikenal dalam hukum modern sebagai kejahatan manusia atau crime against persons, yang tergolong kejahatan ini adalah:
14 15

Ibid,. hlm. 20-21 Ibid., hlm. 63 16 Topo Santoso, Membumikan Hukum Islam, Ctk. Pertama, Gema Insani Perss, Jakarta, 2003, hlm. 20 17 Ibid., hlm. 22-23

pembunuhan

dengan

sengaja,

pembunuhan

menyerupai

sengaja,

pembunuhan karena kealpaan, penganiayaan, menimbulkan luka atau sakit karena kelalaian. 3. Kejahatan tazir yaitu landasan dan penentuan hukumnya didasarkan pada ijma (konsensus) berkaitan dengan hak Negara muslim untuk melakukan kriminalisasi dan menghukum semua perbuatan yang tidak pantas, yang menyebabkan kerugian/kerusakan fisik, sosoial, politik, financial, dan moral bagi individu atau masyarakat secara keseluruhan. Dalam hukum pidana tidak hanya berbicara masalah perbuatan saja yang apabila sudah memenuhi unsur tersebut bisa dijatuhkan sanksi sebagai konsekuensi yang telah ditetapkan dalam peraturan hukum pidana, ada satu permasalahan yang menjadi kajian pokok dan mendasar dalam hukum pidana yaitu masalah pertanggung jawaban pidana. Menurut ajaran Kantrorowicz antara perbuatan pidana dan pertanggung jawaban dalam hukum pidana ada hubungan yang erat seperti halnya dengan perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan, perbuatan pidana baru mempunyai arti kalau disampingnya adalah pertanggung jawaban begitu juga sebaliknya tidak mungkin ada pertanggungjawaban jika tidak ada perbuatan pidana 18. Pertanggungjawaban atas perbuatan pidana dapat dibebankan kepada subyek hukum sebagai pelaku, dalam hal ini yaitu: 1. Manusia (Natuurlijke person) adalah tiap orang dan warga Negara ataupun orang asing dengan tidak memandang agama dan kebudayaannya, mempunyai hak-hak dan kewajiban dalam melakukan perbuatan hukum, yang bermulai saat dia dilahirkan sampai meninggal. Tapi ada pengecualian dalam hukum tidak semua orang cakap hukum, diantara mereka yang oleh hukum tidak cakap melakukan perbuatan hukum tertuang dalam pasal 44 KUHP19. 2. Korporasi, merupakan subyek hukum baru dalam hukum pidana dan KUPH kita tidak mengenal, karena menurut pasal 59 KUHP subyek
18 19

Moeljatno. Perbuatan.., op.cit., hlm. 25 S. Wiratmo, Pengantar Ilmu Hukum, Perc. Lukman Offset, Yogyakarta, 1979, hlm. 41.

hukum pidana umumnya adalah manusia20. Kemudian penempatan korporasi sebagai subyek hukum pidana tidak lepas dari modernisasi social, sebagaimana menurut Satjipto Raharjo, modernisasi social dampaknya pertama harus diakui, bahwa semakin modern masyarakat itu semakin komplek sistem social, ekonomi dan politik yang terdapat disitu maka kebutuhan akan sistem pengendalian kehidupan yang formal akan menjadi semakin besar pula21. Itulah sebabnya kenapa korporasi dijadikan subyek hukum karena untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan sebuah keadilan. Pengertian korporasi dalam hukum pidana lebih luas sifatnya dibandingkan dalam hukum perdata, sebab korporasi dalam hukum pidana bisa berbentuk badan hukum dan non badan hukum dan hal ini diatur di luar KUHP seperti dalam UU Tindak Pidana Ekonomi, sedangkan korporasi dalam hukum perdata adalah sebatas badan hukum22. Hukum pidana Indonesia menganut asas kesalahan yang merupakan dasar untuk menerapkan pertanggung jawaban pidana kepada pelaku yang melanggar ketentuan hukum pidana. artinya untuk dapat memidana pelaku delik, selain membuktikan unsur-unsur perbuatan yang menimbulkan celaan, dalam diri pelaku harus ada unsur kesalahan23. Kesalahan merupakan keadaan jiwa dari si pembuat dan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya, keadaan jiwa dari seseorang yang melakukan perbuatan merupakan apa yang lazim disebut sebagai kemampuan bertanggung jawab, sedang hubungan batin antar si pembuat dengan perbuatanya itu merupakan kesengajaan, kealpaan serta pemaaf24. Sehingga untuk menentukan adanya kesalahan sebagai dasar dari pertanggungjawaban pidana harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut25: 1. Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat
20

Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung, 1991, hlm. 22 21 Ibid., hlm. 28 22 Ibid., hlm. 20-21 23 Abdul Kholiq, .., artikel pada Jurnal hukum, edisi no. 26 vol. 11 , 1999. hlm 15 24 Muladi dan Dwidja Priyatno, op.cit., hlm. 60 25 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, op.cit, hlm. 62

Menurut para ahli sarjana bahwa untuk adanya kemampuan bertanggung jawab harus ada26: a. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan buruk: yang sesuai hukum dan yang melawan hukum b. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan tadi 2. Hubungan antara batin pelaku dengan perbuatannya yang berupa kesengajaan (Dolus), atau kealpaan (Culpa) ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. 3. Tidak adanya alasan penghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf 27. Pasal 44 KUHP28 berbunyi Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya, disebabkan jiwanya cacat dalam tubuhnya atau tergangu karena penyakit tidak dipidana. Menurut pasal tersebut maka hal tidak mampu bertanggung jawab adalah karena hal-hal tertentu, yaitu jiwa yang cacat dalam pertumbuhannya atau terganggu karena penyakit, dan sebagai akibatnya ia tidak mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dengan terpenuhi semua unsur di atas, maka seseorang dapat dijatuhi suatu sanksi pidana yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Lain halnya perbuatan pidana dilakukan oleh korporasi atau badan hukum yang tanpa spesifikasi yang jelas atau identitas yang jelas,maka masalah kesulitan siapa pembuatnya akan selalu timbul, dan hal ini akan membawa konsekuensi tentang masalah pertanggungjawaban pidana korporasi, walaupun telah terpenuhinya semua unsur untuk dapat dipidana29. Mengenai hal tersebut ada tiga (3) cara yang ditempuh dalam hal menetapkan kedudukan sebagai pembuat dan sifat pertanggungjawaban pidana korporasi yaitu30:

26 27 28 29 30

Moeljatno, op.cit., hlm. 165 Muladi dan Dwidja Priyatno, loc.cit. Muladi dan Dwidja Priyatno, op.cit., hlm. 67 Ibid

1. 2. 3.

Pengurus korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggung jawab korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggung jawab korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab Permasalahan perbutan pidana yakni kejahatan mempunyai konsekuensi

terhadap semua pihak baik bagi masyarakat, korban, pelaku dan Negara. Yang dalam hal ini berdampak pada kerugian baik materiel maupun immateriel yang diderita akibat apabila ada norma-norma maupun peraturan-peraturan tertulis yang telah disepakati dilanggar oleh siapa pun. Secara teoritis Negara telah mengambil alih konflik yang terjadi antara pelanggar hukum pidana dengan orang yang terlanggar haknya, orang yang kepentingannya dilindungi oleh hukum pidana, menjadi konflik antara pelanggar dengan Negara atau kepentingan publik31. Jadi segala perbuatan pihak-pihak yang meresahkan dan merugikan pihak lain sebagai akibat munculnya kejahatan yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap kepentingan publik akan ditangani oleh negara melalui aparat penegak hukumnya yaitu, polisi, jaksa, hakim dan para petugas lembaga pemasyarakatan sebagai gerbang akhir dari proses sistem pidana. Seiring dengan perkembangan zaman, maka Masalah kejahatan merupakan masalah abadi dalam kehidupan umat manusia karena ia berkembang sejalan dengan perkembanganan tingkat peradaban umat manusia, sehingga banyak permasalah pidana yang muncul yang belum diakomodir oleh hukum pidana, hal ini terkait dengan makin maraknya akhir ini tindakan criminal yang dilakukan dan mereka bergerak secara berkelompok atau lebih dikenal dengan massa, yang hal ini sangat meresahkan warga masyarakat. Gerakan kelompok massa selalu ditandai dengan tiga (3) ciri yang menjadikanya satu kesatuan yang kuat untuk bertindak, diantaranya yaitu32: 1. Anonimitas, adalah memindahkan identitas dan tanggung jawab individu kedalam identitas dan tanggung jawab kelompok, akibatnya individu dalam
31

Mudzakkir,Viktimologi Makalah disampaikan pada Penataran Nasional Hukum Pidana dan Kriminologi XI Tahun 2005, Fakultas Hukum Universitas Surabaya, Forum Pemantau Pemberantas Korupsi , ASPEHUPIKI, Surabaya, 14-16 Maret 2005, hlm. 15 32 Korupsi, Amuk Massa, dan Dagelan Hukum, terdapat dalam http://antikorupsi.org/mod

kelompok massa menjadi sangat berani, tidak rasional, agresif, destruktif, pendeknya tidak bertanggung jawab, karena dia tidak merasa bertindak sebagai individu dan tidak akan dimintai tanggung jawab sebagai individu. 2. Impersonalitas adalah dimana hubungan antarindividu di dalam massa dengan individu di luar massa (misalnya aparat polisi) menjadi sangat impersonal, bisa jadi mereka bertetangga, berkawan atau mempunyai hubungan darah, tetapi ketika saling berhadapan menjadi impersonal antagonis. 3. Sugestif dan menular, yaitu dimana ucapan atau tindakan yang dilakukan oleh salah satu individu (apalagi dianggap sebagai pemimpin), bisa sangat sugestif dan mempunyai daya penularan yang sangat kuat bagi individuindividu lain. Dengan ketiga ciri kelompok massa tersebut di atas bisa menggiring terciptanya tindak kekerasan, agresivitas, dan perusakan atau amuk massa Dengan melihat permasalahan di atas, dimana dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dilakukan lebih dari satu orang atau lebih, dalam hukum pidana Indonesia mengenal istilah tersebut dengan delik penyertaan yang merupakan bentuk khusus dari hukum pidana, adapun bentuk dari delik penyertaan ini ada empat (4) dan hal ini termaktub pada pasal 55 KUHP, yaitu33: 1. Pleger (Yang melakukan perbuatan pidana) Ialah orang yang secara materiel dan persoonlijk nyata-nyata melakukan perbuatan yang secar sempurna memenuhi semua unsur dari rumusan delik dalam hal ini hanya sendirian dalam melakukan perbuatan pidana. 2. Doen pleger (Yang menyuruh melakakan perbuatan pidana) Ialah orang yang mempergunakan seorang perantara yang tidak dapat dipidana guna mencapai tujuannya, hal tersebut dikarena orang yang disuruh memiliki sifat tidak mampu bertanggung jawab dan adanya alasan pemaaf. Adapun pihak yang menyuruh sebagai Actor Intelectualis dan pihak yang disuruh sebagai Actor Materialis, dan dalam hal ini peran si pembujuk bersifat limitatif 3.
33

hubungan itu berlarut

Uit Lokker (Yang mengajurkan melakukan perbuatan pidana)

D. Schaffmeister, N. Keijzer dan PH. Sutorius, Hukum pidana, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1995, hlm. 248-256

Ialah orang yang membujuk untuk mendapat jalan masuk pada orang lain bagi rencana-rencana sendiri, supaya orang lain melakukan perbautan pidana. dalam hal ini si pembujuk menggunakan sarana-sarana penbujukan (yaitu, pemberian-pemberian, janji-janji, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan, ancaman, tipu daya, kesempatan-kesempatan, sarana-sarana atau keteranganketerangan). Kedudukan pihak dalam hal ini dimana si penganjur sebagai Actor Intelectualis dan yang dianjurkan sebagai Actor Meterialis, dan dalam hal ini peran si pembujuk tidak bersifat limitatif 4. Mede Pleger (yng turut serta melakukan perbuatan pidana) Ialah seorang pembuat ikut serta mengambil prakarsa dengan berunding dengan orang lain dan sesuai dengan perundingan itu mereka itu sama-sama melaksanakan delik. Dalam delik penyertaan berbicara perihal pembuat dan pembantu, untuk pasal 55 KUPH berbicara tentang pembuat, sedang pembantu delik tertuang dalam pasal 56 KUHP yaitu tentang MedePlechtiger (pembantu pembuat), yaitu dimana si pembantu dengan sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan dan atau dengan sengaja memberikan kesempatan, sarana-sarana, atau keterangan-keterangan untuk melakuakan kejahatan34. Sehubungan dengan permasalahan hubungan antar pelaku dalam delik ini dan bagaimana pertanggung jawaban pidananya dibutuhkan kecermatan oleh para penegak hukum. Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa untuk adanya pertanggungjawaban pidana harus jelas terlebih dahulu siapa yang dapat dipertanggungjawabkan, dan ini harus dipastikan terlebih dahulu siapa yang dinyatakan sebagai pembuat untuk suatu tindak pidana tertentu, masalah ini menyangkut subyek tindak pidana yang pada umumnya sudah dirumuskan oleh pembuat undang-undang untuk tindak pidana yang bersangkutan namun kenyataannya memastikan siapa sipembuat adalah tidak mudah dan sulit. dan

34

Ibid., hlm. 248-249

tidak jarang parang penegak hukum keliru dan salah dalam menetapkan pelaku perbuatan pidana35. E. Metode Penelitian 1. Obyek Penelitian Obyek penelitian adalah berupa hal-hal yang akan diteliti sebagaimana tertuang dalam rumusan masalah yakni: bagaimana hubungan antar pelaku dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal menurut doktrin hukum pidana, dan bagaimana pandangan yurisprudensi dalam menetapkan hubungan antar pelaku dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dan pengaturan pidananya. 2. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah pihak-pihak yang bisa memberikan pendapat, informasi atau keterangan terhadap masalah yang diteliti serta memiliki kompetensi karena kepakarannya dalam jabatan maupun pengalamannya, dalam hal ini adalah para penegak hukum, antara lain: Hakim, Jaksa Polisi, Advokat, serta para Akedemisi. 3. Sumber Bahan Hukum a. Bahan Hukum Primer, berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku diteliti. Adapun bahan ini adalah: 1) 2)
35

dan

mengikat terhadap permasalahan yang akan hukum primer yang utama sebagai kajian dalam penulisan Kitan Undang-undang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Barda Nawawi Arief, Masalah Pemidanaan sehubungan Perkembangan Delik-delik Khusus dalam Masyarakat Modern, Kertas Kerja pada Seminar Perkembangan Delik-delik Khusus dalam Masyarakat yang mengalami Modernisasi BPHN-FH UNAIR Surabaya, Tanggal 25-27 Februari 1980 (Bandung : Bina Cipta, 1982), hlm. 105-107

Sementara bahan hukum primer pendukung lainnya sebagai kajian dalam penulisan ini adalah Yurisprudensi. b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu berupa bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti rancangan perundangundangan, literatur, jurnal, pendapat ahli hukum, media masa, hasi penelitian terdahulu, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini. c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder seperti berupa kamus dan ensiklopedi maupun sumber hukum lainnya yang sejenis dan berhubungan dalam penelitian ini. 4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum a. Penelitian Kepustakaan, yakni dilakukan dengan cara mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan, literatur, doktrin-doktrin, media massa, dan sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi dengan permasalahan penelitian. b. yakni wawancara yang dilakukan dengan cara wawancara bebas terpimpin dengan subyek penelitian, yaitu mengadakan tanya jawab secara langsung dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan sebagai pedoman, selanjutnya responden secara bebas memberikan jawaban sesuai dengan apa yang ia rasakan, alami, dan diketahuinya. c. studi dokumentasi, yakni dengan mengkaji berbagai dokumen resmi institusional yang berupa putusan pengadilan, risalah sidang, dan lainlain yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. 5. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang digunakan adalah berupa pendekatan yuridis normatif, yaitu menganalisis permasalahan dari sudut pandang atau menurut ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku sekarang.

6.

Analisis Hukum Analisis hukum dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif, yaitu bahan

hukum yang diperoleh disajikan secara deskriptif dan dianalisis secara kualitatif (content analisis) dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. b. c. Bahan hukum penelitian diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian; Hasil klasifikasi bahan hukum tersebut selanjutnya disistematisasikan; Bahan hukum yang telah disistematisasikan kemudian dianalisis untuk dijadikan dasar dalam mengambil kesimpulan.

BAB II PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN SECARA MASSAL

A. PERBUATAN PIDANA 1. Pengertian Perbuatan Pidana Perilaku kita sehari-hari dipengaruhi oleh banyak norma yang tidak tercantum dalam undang-undang, yang kadang-kadang tidak diakui oleh hukum dan bahkan tidak diungkapkan, hanya sebagian norma-norma yang mengatur perilaku manusia adalah norma hukum, yaitu: yang oleh pembentuk undangundang dimasukkan dalam ketentuan undang-undang dan diterapkan oleh hakim dalam persengketaan36. Dalam hal pembentuk undang-undang berketetapan untuk membuat suatu norma perilaku menjadi norma hukum untuk seluruhnya atau sebagian, maka yang sering terkandung dalam maksudnya adalah antara lain untuk memberi perlindungan kepada kepentingan umum yang berhubungan dengan norma itu, dan tentu saja perlindungan itu tidak mungkin mutlak, tetapi dapat diharapkan bahwa penentuan dapat dipidana itu akan membantu ditepatinya norma tersebut37. Terkait dengan perilaku manusia yang berdimensi publik yang ditetapkan oleh undang-undang dan ditentukan dalam aturan pidana. Aturan pidana itu adalah aturan hukum, sebagaimana diketahui aturan hukum berisikan penilaian, bahwa kelakuan-kelakuan yang berhubungan dengan aturan hukum itu adalah baik atau jelek bagi masyarakat, dan sepatutnyalah jikalau kelakuan demikian boleh dilakukan ataupun tidak boleh dilakukan dalam masyarakat38. Dalam ilmu hukum pidana, dijumpai beberapa istilah yang berhubungan dengan penyebutan terhadap perbuatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam masyarakat atau bisa dikatakan suatu perbuatan yang tercela, dimana pelakunya dapat diancam dengan pidana tertentu sebagaimana yang tercantum
36

D. Schaffmeister, N. Keijzer dan PH. Sutorius, Hukum pidana, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1995, hlm. 248-256 37 Ibid., hlm. 23 38 Roeslan Saleh, Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Pidana, Ctk. Keempat, Aksara Baru, Jakarta, 1983, hlm. 7

dalam peraturan hukum pidana baik di dalam KUHP atau di luar KUHP. Istilahistilah yang dimaksud antara lain: peristiwa pidana, perbuatan pidana dan tindak pidana, yang ketiga istilah tersebut sering dipergunakan oleh pembuat undangundang. Dalam merumuskan undang-undang, sedang dalam KUHP (WvS) yang merupakan kopian dari KUHP Belanda dikenal istilah Strafbaar Feit, yang pada umumnya para pengarang Belanda menggunakan istilah tersebut. Maksud diadakannya istilah peristiwa pidana, perbuatan pidana, tindak pidana, dan sebagainya itu adalah untuk mengalihkan bahasa dari istilah asing Strafbaar Fiet. Namun dalam hal ini belum jelas apakah disamping mengalihkan bahasa dari istilah Starafbaar Fiet itu dimaksudkan mengalihkan makna dari pengertiannya juga, dikarenakan sebagian besar karangan ahli hukum pidana belum jelas dan terperinci menerangkan pengerian istilah ataukah sekedar mengalihkan bahasanya39. Untuk lebih memperjelas pengertian dan pemahaman mengenai istilah-istilah yang dipakai akan diuraikan berikut ini, sekaligus pemaparan para ahli pidana yang mendukung istilah-istilah yang dipakai: a) Istilah peristiwa pidana40 Istilah peristiwa pidana pernah digunakan dan dicantumkan dalam pasal 14 ayat 1 UUDS (Undang-undang Dasar Sementara) 1950. Pengertian dari peristiwa pidana menurut Prof. Moelyatno kurang tepat jika untuk pengertian yang abstrak, karena peristiwa pidana menunjuk pada pengertian yang konkrit, yang hanya menunjuk kepada suatu kejadian tertentu saja, misalnya: matinya orang, terhadap peristiwa tersebut tidak mungkin dilarang, tapi yang dilarang oleh hukum pidana adalah matinya orang karena perbuatan orang lain, tapi apabila matinya orang tersebut karena keadaan alam, sakit, maka peristiwa tersebut tidak penting sama sekali bagi hukum pidana. Menurut Utrecht41, menganjurkan memakai istilah peristiwa pidana, karena Peristiwa itu meliputi suatu perbuatan (handelen atau doen-positif) atau suatu melalaikan (Verzuim atau nalaten, niet-doen-negatif) maupun
39

Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ctk. kelima, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985, hlm. 125 40 Samidjo, Hukum Pidana (Ringkasan & Tanya Jawab), Armico, Bandung, 1985. hlm. 80 41 E. Utrecht, Hukum Pidana I, Universitas Jakarta, Jakarta, 1958, hlm. 250

akibatnya (keadaan yang ditimbulkan oleh karena perbuatan atau melalaikan itu). Jadi peristiwa pidana adalah peristiwa hukum (rechtfeit), yaitu suatu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum). b) Istilah Perbuatan Pidana42 Istilah perbuatan pidana merupakan istilah yang mengadung suatu pengertian dasar dalam ilmu hukum pidana, sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Pengertian pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga perbuatan pidana haruslah diberi arti yang bersifaf ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan pidana menurut Prof. Moeljatno adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, dan dalam hal tersebut diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan, (yaitu keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. Sehingga antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, karena kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya. Jadi perkataan perbuatan yaitu suatu pengertian abstrak yang menunjuk kepada dua keadaan konkrit, yaitu: pertama, adanya kejadian tertentu dan kedua, adanya orang yang berbuat yang menimbulkan kejadian. c) Istilah Tindak Pidana43 Istilah tindak pidana digunakan dan tercantum dalam pasal 129 Undangundang No. 7 tahun 1953 tentang pemilihan anggota Konstitusi dan anggota DPR, Undang-undang Pemberantasan Korupsi, dan lain-lain. Berdasarkan penjelasan dan pengertian tentang istilah-istialh yang dipakai, maka dalam hal ini penulis lebih cenderung menggunakan istilah perbuatan pidana, dikarenakan berdasarkan defenisi
42 43

di atas, maka dapat dilihat bahwa

Bambang Poernomo, op. cit., hlm. 124 Samidjo, op.cit., hlm. 80

istilah perbuatan pidana menunjuk pada suatu kejadian yang pelakunya adalah manusia yang merupakan salah satu subyek hukum pidana disamping korporasi (akan dibahas pada bab selanjutnya), sedangkan istilah peristiwa pidana menunjuk pada suatu kejadian yang mana pelakunya bisa manusia, alam, hewan dan lainlain yang menurut penulis hal ini terlalu luas dan tidak masuk dalam kajian hukum pidana. Hubungan antara perbuatan pidana dan Strafbaar Feit dalam lingkup kesamaan pengertian, dan dipakai dalam khasanah keilmuan hukum pidana, mempunyai perbedaan makna. yang walaupun perbuatan pidana merupakan pengalihan bahasa dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Strafbaar Feit dipergunakan dinegeri Belanda yang beraliran/paham monistis yang antar lain dikemukan oleh Simon yang merumuskan Simons yang merumuskan Strafbaar Feit sebagai suatu perbuatan yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentangan dengan hukum, dilakukan oleh orang yang bersalah dan orang itu dianggap bertanggung jawab atas perbuatannya. Berdasarkan dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan unsur-unsur dari Strafbaar Feit meliputi baik unsur-unsur perbuatan yang lazim disebut dengan unsur obyektif, maupun unsur-unsur pembuat yang lazim disebut unsur subyektif dicampur menjadi satu, sehingga Strafbaar Feit sama dengan syarat-syarat penjatuhan pidana, sehingga seolah-olah dianggap kalau terjadi Strafbaar Feit maka pelakunya pasti dapat dipidana44. Perbuatan pidana yang pokok pengertian harus mengenai Perbuatan, yang dalam hal ini tidak mungkin mengenai orang yang melakukan perbuatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Prof. Moeljatno di atas yang memisahkan antara perbuatan dan pembuatnya. Pokok pengertian pada perbuatan dan apakah inkonkrito yang melakukan perbuatan tadi sungguh-sungguh dijatuhi pidana atau tidak, itu sudah di luar arti perbuatan pidana.45 Tapi pada perkembangnya telah tumbuh pemikiran baru tentang Strafbaar Feit, yang menurut pandangan Pompe, Jonkers dan Vos, telah tumbuh pemikiran tentang pemisahan antara de strafbaarheit van heit feit dan de strafbaarheit
44 45

Muladi dan Dwidja Priyatno, op.cit., hlm. 50 Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 126

van de dader, dengan perkataan lain bahwa adanya pemisahan antara perbuatan yang dilarang dengan ancaman pidana dan orang yang melanggar larangan yang dapat dipidana yang dalam hal ini satu pihak tentang perbuatan pidana dan dipihak lain tentang kesalahan46. Dengan adanya pemisahan antara perbuatan dan pembuatan merupakan termasuk aliran/pahal dualistis. Perbuatan pidana yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana dinamakan delik yang dalam sistem KUHP terbagi dalam dua (2) jenis yaitu47: a) Kejahatan (misdrijven), yang disusun dalam Buku II KUHP, kejahatan adalah Criminal-onrecht yang merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kepentingan hukum atau dengan kata lain perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma menurut kebudayaan atau keadilan yang ditentukan oleh Tuhan dan membahayakan kepentingan hukum. Contoh dari kejahatan dalam KUHP yaitu pada pasal 362 tentang pencurian, pasal 378 tentang penggelapan, dan lain-lain. Tapi ada satu catatan bahwa pengertian kejahatan menurut hukum pidana berbeda dengan kejahatan menurut ilmu kriminologi. b) Pelanggaran (overtredingen), disusun dalam Buku III KUHP, pelanggaran adalah politie-onrecht adalah perbuatan yang tidak mentaati larangan atau keharusan yang ditentukan oleh penguasa Negara atau dengan kata lain perbuatan yang pada umumnya menitikberatkan dilarang oleh peraturan penguasa Negara. Contoh dari bentuk pelanggaran dalam KUHP adalah: pasal 504 tentang pengemisan, pasal 489 tentang kenakalan, dan lain-lain.

2.

Unsur-unsur Perbuatan pidana Berdasarkan defenisi di atas tentang perbuatan pidana maka dalam hal ini

dapat disimpulkan unsur-unsur yang terkandung dalam perbuatan pidana. tapi


46 47

Ibid. Ibid., hlm. 96

dalam hal ini ada berbagai macam perbedaan dari para ahli hukum pidana sendiri terkait dengan unsur yang harus tercantum dalam perbuatan pidana. Ada sebagian pendapat yang membagi unsur perbuatan pidana secara mendasar dan pendapat lain yang membagi secara terperinci. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan pendapat para ahli tersebut48: a) Pendapat yang membagi unsur-unsur perbuatan pidana secara mendasar yang terdiri dari: 1) Bagian yang obyektif menunjuk perbuatan pidana terdiri dari perbuatan dan akibat, yang merupakan kejadian yang bertentangan dengan hukum positif sebagai anasir yang melawan hukum (onrechtmatig) yang dapat diancam dengan pidana 2) bagian subyektif yang merupakan anasir kesalahan daripada perbuatan pidana Menurut Apeldoorn bahwa elemen delik itu terdiri elemen obyektif yang berupa adanya suatu kelakuan yang bertentangan dengan hukum (onrechtmatig/wederrechtelijk) dan elemen subyektif yang berupa adanya seorang pembuat (toerekeningsvatbaarheid) terhadap kelakuan yang bertentangan dengan hukum itu, yang mengikuti rumusan unsur-unsur perbuatan pidana ini disamping Apeldoorn adalah Van Bemmelen b) Pendapat yang memberikan rumusan terperinci terhadap unsur-unsur perbuatan pidana, diantaranya menurut Vos di dalam suatu Strafbaar Feit (perbuatan pidana) dimungkinkan adanya beberapa elemen atau unsur delik, yaitu: 1) elemen perbuatan atau kelakuan orang, dalam hal berbuat atau tidak berbuat (een doen of een nalaten) 2) elemen akibat dari perbuatan, yang terjadi dalam delik selesai. Elemen akibat ini dapat dianggap telah ternyata pada suatu perbuatan, dan kadang-kadang elemen akibat tidak dipentingkan dalam delik formel, akan tetapi kadang-kadang
48

Moelyatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Nina Aksara, 1987, hlm. 23

elemen akibat dinyatakan dengan tegas yang terpisah dari perbuatannya seperti dalam delik materiel 3) elemen kesalahan, yang diwujudkan dengan kata-kata sengaja (opzet) atau alpa (culpa); 4) elemen melawan hukum (wederrechtelijkheid); 5) dan sederatan elemen lain menurut rumusan undang-undang, dan dibedakan menjadi segi obyektif misalnya di dalam pasal 160 diperlukan elemen dimuka hukum (in het openbaar) dan segi subyektif misalnya pasal 340 diperlukan elemen direncanakan terlebih dahulu (voorbedachteraad) Disamping itu menurut Hazewinkel Suringa memberikan rumusan mengenai Strafbaar Feit (perbuatan pidana) yaitu: 1) elemen kelakuan orang (een doen of een nalaten) 2) elemen akibat yang ditetapkan dalam rumusan undang-undang karena pembagian delik formel dan matteriel 3) elemen psikis, seperti elemen dengan oogmerk, opzet, dan nalatifheid (dengan maksud, dengan sengaja, dan dengan alpa) 4) elemen obyektif yang menyertai keadaan delik seperti elemen dimuka umum (in het openbaar) 5) syarat tambahan untuk dapat dipidannya perbuatan (bijkomende voorwaarde van strafbaarheid) seperti dalam pasal 164 dan 165 disyaratkan apabila kejahatan terjadi 6) elemen melawan hukum (wederrechtelijkheid) sebagai elemen yang memegang peranan penting, seperti dalam pasal 167 dan 406. Dengan melihat berbagai ragam pendapat yang membagi unsur-unsur perbuatan pidana, yang pada intinya adalah sama dan telah mencakup semua yang telah ditetapkan berdasarkan pengertian dari perbuatan pidana. Maka dalam hal in kesemua unsur tersebut dapat diterapkan. Adapun baiknya kita juga melihat rumusan yang diberikan oleh Prof. Moeljatno yang membagi unsur-unsur perbuatan terdiri dari49:
49

Ibid., hlm. 60

1. Kelakuan dan akibat 2. Adanya hal-hal atau keadaan tertentu yang menyertai terjadinya kelakuan dan akibat yang dilarang oleh hukum; 3. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana, misalnya pada rumusan pasal 340 KUHP, tentang pembunuhan berencana, yang dalam hal ini apabila seorang tersangka terbukti secara sengaja merencanakan suatu perbuatan yang direncanakan, maka disitulah letak pemberatnya 4. Unsur melawan hukum yang obyektif, yaitu menunjukkan keadaan lahir dari pelaku; 5. Unsur melawan hukum subyektif, yaitu menunjukkan sikap batin dari pelaku. Esensi dari unsur-unsur perbuatan pidana adalah yang pokoknya berwujud suatu kelakuan (+ akibat) yang bersifat melawan hukum baik formal maupun material. Unsur melawan hukum dalam hal ini bagi pembentuk undang-undang ada yang menyebutkan melawan hukum ini dalam rumusannya dan ada juga yang tidak disebutkan melawan hukum dalam rumusannya, namun semua berpendapat bahwa melawan hukum adalah selalu menjadi unsur dari delik. Tapi tidak semua berpendapat bahwa melawan hukum merupakan unsur suatu delik, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hezewinkel Suringa yang menyatakan unsur melawan hukum merupakan unsur delik apabila undang-undang menyebutkan dengan tegas sebagai unsur delik, tapi bila undang-undang tidak menyebutkan dengan tegas sebagai unsur delik maka melawan hukum hanya sebagai tanda dari suatu delik, menurutnya konstruksi tersebut menguntungkan jaksa karena jaks tidak perlu membuktikan adanya unsur melawan hukum. karena membuktikan unsur melawan hukum merupakan sesuatu yang negatif, yaitu pembuktian yang sukar tentang tidak adanya alasan pembenar, dengan demikian jaksa hanya cukup membuktikan unsur-unsur dari isi delik50.

50

Bambang Poernono, op.cit., hlm. 59

Pendapat yang menyatakan melawan hukum merupakan unsur dari suatu delik atau diam-diam menganggap sebagai unsur delik berarti mempunyai alam pikiran yang luas, yaitu51: 1. Lebih mudah menerima pandangan sifat melawan hukum materiel. 2. Sifat melawan hukum merupakan elemen tetap dari tiaptiap delik meskipun tidak disebutkan dalam rumusan. 3. Dapat mengakui pengecualian sebagai penghapusan sifat melawan hukum di luar undang-undang atau hukum positif tidak tertulis. 4. Untuk mengadakan pembuktian melawan hukum oleh penuntut umum, hanyalah apabila dalam rumusan suatu delik dirumuskan dengan tegas. 5. Apabila elemen melawan hukum tidak dirumuskan dalam suatu delik, maka tidak perlu dibuktikan, kecuali menurut pandangan hakim ada keragu-raguan unsur tersebut sehingga di dalam sidang atas inisiatif pimpinan dicari pembuktiannya elemen melawan hukum tersebut. Dalam hal hakim ragu-ragu maka dalam hal unsur melawan hukum tidak ternyata dalam pembuktian persidangan berarti elemen tidak terpenuhi dan tidak terbukti delik yang dituduhkan, maka tepat jika putusan hakim akan dibebaskan dari segala tuduhan. 3. Bentuk-bentuk Perumusan Perbuatan Pidana Dalam Undang-undang Suatu perbuatan pidana sebelum dinyatakan dalam suatu aturan pidana dalam hal perundang-undangan maka perbuatan tersebut sebelum dinyatakan sebagai perbuatan pidana, ini memenuhi ketentuan yang dirumuskan dalam pasal 1 ayat 1 KUHP Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan suatu aturan pidana dalam perundang-undangan, sebelum perbuatan dilakukan. Jadi walaupun perbuatan secara unsur yang seperti disebutkan di atas telah terpenuhi tapi tidak
51

Moeljatno, op.cit, hlm. 80

dituangkan dalam undang-undang maka tidak mempunyai kekuatan yang mengikat semua pihak. Adapun tujuan dengan dirumuskan dan dituangkan dalam undang-undang adalah sebagai langkah preventif baik secara umum (kepada Masyarakat) dan preventif Khusus (kepada pelaku perbuatan pidana) serat bertujuan refresif kepada pelaku yang telah melakukan perbuatan yang dicelakakan kepadanya. Dalam undang-undang terdapat beberapa bentuk perumusan delik, yang disebabkan adanya berbagai kesulitan perumusan yang menyangkut segi teknisyuridis, yuridis-sosiologis, dan politis. Adapun bentuk perumusannya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu52: 1. Kategori pertama a) Perumusan formal, yang menekankan pada perbuatan, terlepas dari akibat yang mungkin timbul dan perbuatan itu sendiri sudah bertentangan dengan larangan atau perintah dan sudah dapat dipidana, contoh: pasal 362 KUHP tentang pencurian yang berbunyi Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Istilah mengambil berarti suatu perbuatan yang tidak lebih, yang mana perbuatan mengambil itu menimbulkan kehilangan milik secara tidak sukarela, yaitu akibat yang tidak dikehendaki yang dimaksud pembentuk undang-undang. b) Perumusan materiel, yaitu yang dilarang dan dapat dipidana adalah menimbulkan akibat tertentu, meskipun perbuatan disini juga penting, sudah terkandung di dalamnya, contoh : pasal 359 KUHP tentang menyebabkan matinya orang lain. c) Perumusan materiel-formil, yaitu antar perbuatan dan akibat dicantumkan dalam rumusan pasal, contoh: pasal 378 KUHP tentang penipuan.
52

D. Schaffmeister, N. Keijzer dan PH. Sutorius, op.cit., hlm. 31-32

2. Kategori kedua a) Delik Komisi, adalah apabila pembentuk undang-undang menghendaki ditepatinya suatu norma yang melarang suatu perbuatan tertentu, maka terciptalah ketentuan pidana yang mengancam perbuatan itu atau dalam kata lain pelanggaran terhadap norma yang melarang menimbulkan delik komisi, contoh: pasal 362 KUHP tentang pencurian b) Delik Omisi, adalah kebalikan dari delik komisi dimana pembentuk undang-undang menghendaki ditepatinya suatu norma yang mengharuskan suatu perbuatan, atau dalam kata lain adalah melanggar norma yang memerintahkan delik omisi c) Delik omisi semu, adalah menyebabkan menimbulkan akibat karena lalai, meskipun rumusan delik yang akan diterapkan tertuju pada berbuat dan berlaku untuk semua orang. Tapi dalam hal ini delik omisi semu harus mempunyai batasanbatasan karena bisa meluas pada delik berbuat dan tidak berbuat, contoh: pasal 338 KUHP terhadap kasus seorang ibu sengaja tidak memberikan makan kepada bayinya dan akhirnya meninggal. Dalam metode perumusan ada beberapa pendapat tentang metode perumusan delik, diantaranya: menurut pendapat Jonkers yang mengenal empat metode rumusan delik di dalam undang-undang, yang terdiri atas53: 1. yang paling lazim menyebutkan rumusan dengan cara menerangkan isi delik dan keterangan itu dapat dijabarkan menjadi unsur-unsur perbuatan yang dapat dipidana, seperti misalnya pasal 279, 281, 286, 242, dan sebagainya dari KUHP. 2. dengan cara menerangkan unsur-unsur dan memberikan pensifatan (kualifikasi), seperti pasal 263, 362, 372, 378 dari KUHP

53

Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 94

3.

cara yang jarang dipakai adalah hanya memberikan pensifatan kualifikasi saja seperti misalnya penganiayaan pasal 351, dan pembunuhan pasal 338 dari KUHP

4.

kadang kala undang-undang merumuskan ancaman pidananya saja untuk peraturan-peraturan yang masih akan dibuat kemudian seperti misalnya pasal 521 dan pasal 122 ayat (1) dari KUHP.

Adapun Vos yang mempunyai kesamaan pendapat dalam memberikan metode perumusan delik dengan Jonkers, mengenal tiga macam perumusan delik, diantaranya54: 1. Rumusan yang merupakan bagian-bagian dari delik, misalnya pasal 362, 372 dan lain-lain dari KUHP, akan tetapi tentang pencurian, penggelapan dan sebagainya itu mengandung pula rumusan kualifikasi 2. Rumusan yang menyebutkan kualifikasi delik, sebagai contoh: pasal 351 tentang penganiayaan dan pasal 297 tentang perdagangan wanita dan anak laki-laki yang belum cukup umur, dari KUHP 3. Rumusan yang hanya memuat ancaman pidana, misalnya 122, 564, 566 dari KUHP. Dengan dicantumkan berbagai macam rumusan delik seperti disebutkan di atas, maka sekiranya tidak ada perbedaan karena kesemuan rumusan tersebut dipergunakan dalam rumusan undang-undang khususnya KUHP. Perumusan delik dalam aturan hukum tersebut bersifat umum, yang ditetapkan bukanlah untuk seseorang tertentu, melainkan untuk semua orang dan selanjutnya aturan hukum itu tidak berhenti berlaku apabila ia telah diterapkan karena suatu kejadian tertentu melainkan dapat diterapkan lagi setiap kali ada kejadian-kejadian yang berhubungan dengan aturan hukum tersebut. B. Perbuatan Pidana yang Dilakukan Secara Massal 1. Pengertian perbuatan pidana yang dilakukan secara massal

54

Ibid.

Untuk mendefinisikan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, menurut penulis dibutuhkan ketelitian dan kejelasan yang tegas, karena mengingat kata massal dalam khasanah keilmuan hukum pidana tidak dikenal dan hanya merupakan Bahasa yang timbul dan hidup di masyarakat sebagai realitas sosial. Menurut hemat penulis perbuatan pidana yang dilakukan secara massal terdiri dari dua pengertian yang dirangkaikan menjadi satu yaitu pengertian perbuatan pidana dan pengertian massal. Pada bab sebelumnya telah dikemukakan tentang pengertian dari perbuatan pidana (yang mana istilah perbuatan pidana yang digunakan penulis dalam tulisan ini, dan bukan tindak pidana atau peristiwa pidana) yaitu perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum, dimana larangan disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut dan perlu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan / kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian ini55. Kata massal menurut kamus ilmiah populer adalah dengan cara melibatkan banyak orang; bersama-sama; secara besar-besaran (orang banyak)56. Jadi berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa massal adalah sekumpulan orang banyak yang terdiri dari satu orang lebih yang tanpa batas berapa banyak jumlahnya. Jadi berdasarkan kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perbuatan pidana yang dilakukan secara massal adalah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum yang berlaku disertai ancaman sanksi bagi pelanggarnya yang mana perbuatan tersebut dilakukan oleh sekumpulan orang banyak/lebih dari satu orang dimana jumlahnya tanpa batas. Dengan melihat definisi tersebut, menurut analisa penulis perbuatan pidana yang dilakukan secara massal juga dapat dikatakan perbuatan pidana yang dilakukan secara kolektif, karena dalam melakukan perbuatan pidana para pelaku dalam hal ini dengan jumlah yang banyak/lebih dari satu orang dimana secara langsung maupun tidak langsung baik direcanakan ataupun tidak direncanakan telah terjalin
55 56

Moeljatno, op.cit, hlm. 54 Ahmad Mulana dkk, Kamus Ilmiah Populer, Ctk. Pertama, Absolut, Yogyakarta, 2003.

kerjasama baik hal tersebut dilakukan secara bersama-sama maupun sendirisendiri dalam satu rangkaian peristiwa kejadian yang menimbulkan perbuatan pidana, atau lebih spesifik menimbulkan/ mengakibatkan terjadinya kerusakan baik fisik maupun non fisik. Adapun karena perbuatan pidana yang dilakukan secra massal disyaratkan harus adanya kerjasama baik direncakan ataupun tidak direncanakan tetap jasa dalam melakukan kerjasama tersebut disadari terjadinya dan dikehendakinya perbuatan tersebut, oleh karena itu perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dapat dikatakan sebagai delik dolus karena dilakukan dengan sengaja. Karena tidak mungkin adanya kerjasama apabila tidak disengaja. Menurut para ahli perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang mengakibatkan kerusakan fisik maupun non fisik dikatakan sebagai kekerasan yang bertentangan dengan hukum, kekerasan dalam hal ini baik berupa ancaman saja maupun sudah merupakan suatu tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik/mengakibatkan kematian pada seseorang57 (definisi yang sangat luas sekali, karena menyangkut pula mengancam di samping suatu tindakan nyata)58. Dengan melihat definisi tentang kekerasan tersebut maka dalam pidana yang dilakukan secara massal masuk dalam kategori kekerasan kolektif (Collective Violeng). Biasanya tindakan massa tersebut disertai/ditandai dengan ciri-ciri yaitu : 1. Anonimitas adalah memindah identitas dan tanggung jawab individual ke dalam identitas dan tanggung jawab kelompok. 2. Impersonalitas adalah hubungan antara individu di luar massa maupun di dalam massa menjadi sangat impersonal 3. Sugestibilitas adalah sifat sugestif dan menularnya. Dengan mendasarkan ciri-ciri kerumunan massa di atas kemudian dikomparasikan dengan realitas yang ada tidak semua ciri-ciri tersebut mutlak terdapat pada semua
57

Definisi yang sangat luas sekali, karena menyangkut pula mengancam disamping suatu tindakan nyata. Lihat keterangan kekerasan dalam pasal 89 KUHP 58 Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekte Kriminologi, Ctk. Pertama, Eresco, Bandung, 1992, hlm. 55

gerakan/kerumunan massa lebih dari satu orang dan ciri-ciri tersebut bersifat kumulatif, artinya untuk ciri anonimitas dan sugestibilitas bisa jadi terdapat pada sebuah kelompok massa tapi tidak untuk impersonalitas atau sebaliknya. Adapun yang menjadi catatan bagi penulis dalam hal ini adalah antara perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tidak ada perbedaan yang signifikan dengan perbuatan pidana yang biasa kita kenal (dilakukan) orang seorang, hanya saja yang membedakan adalah subyek dari perbuatan tersebut yang jumlahnya lebih banyak/lebih dari satu orang. Adapun yang selama ini menjadi permasalahan adalah terkait dengan tindakan hukum dan pemberian sanksi yang adil serta efektif terhadap kelompok dan pelaku-pelaku atau sekumpulan orang yang mengalami kesulitan dalam pengaplikasiannya di lapangan59. Pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal untuk menentukan batas maksimal dari jumlah massa sulit, sebagaimana pengertian dari kata massa adalah dua orang untuk minimal dan tidak terbatas untuk maksimal. Jadi massa dalam hal ini ada 2 kategori dari jumlah massa yaitu, massa yang jelas berapa jumlah massanya dan massa yang tidak jelas berapa banyak jumlah massanya Untuk massa yang jelas berapa jumlah massanya adalah dimana massa yang terlibat perbuatan pidana dapat dihitung berapa jumlahnya serta diketahui seberapa besar keterlibatan dalam melakukan perbuatan pidana, sebab hal tersebut sudah diatur dalam hukum pidana yaitu pada delik penyertaan (diuraikan lebih lanjut pada bab III). Sedangkan untuk massa yang tidak jelas berapa banyak jumlah massanya adalah dimana massa banyak serta sulit dihitung dengan nominal, sehingga menyulitkan dalam menentukan apakah semua massa yang banyak terlibat semua atau tidak, atau hanya sebagiannya saja. Jadi dalam tulisan ini fokus pembahasan adalah pada massa yang tidak jelas berapa besar jumlah massa serta nominal dari massa yang terlibat dalam melakukan perbuatan pidana.
59

Jangan mempertanyakan yang satu/dua orang saja tapi bagaimana dengan yang betul- betul banyak bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Jadi dalam hal ini penulis berusaha memberikan presepsi bahwa 2, 3, 4, 5 dan seterusnya juga massal bukan yang hanya ratusan bahkan ribuan orang saja

Jadi berdasarkan uraian di atas tentang perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hal ini bukan hanya sebatas pada kerusuhan massal, amuk massa pengeroyokan dan lain-lain yang dilakukan di depan umum tetapi juga mencakup semua rumusan perbuatan pidana/kejahatan tertuang di dalam KUHP diantaranya pembunuhan, pencurian, perkosaan, penipuan dll. 2. Bentuk-bentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal Dengan mengacu pada definisi perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan dengan perbuatan pidana pada umumnya, hanya saja yang membedakan adalah dari segi subyek pelakunya yang lebih dari satu orang. Oleh karena itu perbuatan pidana yang dilakukan secara massal pembahasan dititik beratkan pada kata massal . Jadi berdasarkan kata massa yang menunjuk pada pelaku pada perbuatan pidana dimaksudkan adalah dua orang lebih dan tidak terbatas maksimalnya. Maka berdasarkan hal tersebut perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dibagi menjadi 2 (dua) yaitu: 1. Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir. Massa yang terorganisir adalah dimana dalam melakukan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, massa yang berbuat terbentuk secara terorganisir. Umumnya pada bentuk massa ini dikendalikan oleh operator-operator lapangan yang mengerahkan bagaimana dan sejauhmana massa harus bertindak. Tindakan yang dilakukan ditujukan untuk mencari keuntungan (material) secara kelompok dan dilakukan secara ilegal (melanggar hukum) 60. Pada bentuk yang pertama ini massa berbuat dalam melakukan perbuatan pidana dilakukan dengan kerjasama secara fisik dan non fisik (artinya kerjasama dalam menentukan rencana yang akan dijalankan pada saat beraksi), sertadisadari dan dikehendaki terjadinya. Massa pada bentuk ini bergerak secara sistematis dan terkordinasi satu sama lainnya dan berada dibawah satu komando, yang umumnya memiliki pemimpin atau ketua sebagai motor penggeraknya. Pemimpin atau ketua
60

Jatmiko, ..., hlm. 22

mempunyai tanggungjawab yang besar dan penuh terhadap semua anggotanya selama masih dibawah kewenangannya. Pada bentuk massa yang terorganisir dalam pembentukkannya dapat terbentuk melalui 2 cara yaitu: a. Massa yang terbentuk secara terorganisir melalui organisasi, adalah mempunyai ciri-ciri yaitu: memiliki identitas/nama perkumpulan, memiliki struktur organisasi, memiliki peraturan yang mengikat anggotanya, memiliki keuangan sendiri, berkesinambungan dan sosial oriented. b. Massa yang terbentuk secara terorganisir tidak melalui organisasi, adalah massa yang terorganisir hanya untuk jangka pendek atau sementara sifatnya, dan spontan dibentuk untuk melakukan perbuatan pidana, dan apabila sudah selesai apa yang dikerjakan maka langsung bubar. Pada bentuk yang pertama ini dalam melakukan perbuatan pidana menurut Tb Ronny Nitibaskara memiliki 3 (tiga) jenis perbuatan pidana atau bahasa yang sering digunakan adalah kekerasan massa (dapat dipersamakan dengan kekerasan kolektif), adapun jenis tersebut, yaitu: a. Kekerasan massal primitif, adalah yang pada umumnya bersifat nonpolitis, ruang lingkup terbatas pada suatu komunitas lokal, misalnya pengeroyokan, tawuran sekolah. b. Kekerasan massal reaksioner, adalah umumnya merupakan reaksi terhadap penguasa. Pelaku dan pendukungnya tidak semata-mata berasal dari suatu komunitas lokal, melainkan siapa saja yang merasa berkepentingan dengan tujuan kolektif yang menentang suatu kebijakan/sistem yang dianggap tidak adil dan jujur. Contoh : ribuan sopir angkot mogok (didukung oleh mahasiswa karena disulut oleh adanya kenaikan retribusi dua kali dari Rp. 400 menjadi Rp. 800 yang terjadi di Bandar Lampung tahun 1996).

c. Sedangkan kekerasan kolektif modern, merupakan alat untuk mencapai tujuan ekonomis dan politis dari satu organisasi yang tersusun dan terorganisir dengan baik.61 2. Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir Massa yang terbentuk tidak secara terorganisir adalah massa yang melakukan sebuah reaksi terbentuk secara spontanitas tanpa adanya sebuah perencanaan terlebih dahulu. Pada jenis massa ini jauh lebih gampang berubah menjadi amuk massa (acting mob) (korupsi). Adapun tindakan tentang dilakukan merupakan bentuk dari upaya untuk menarik perhatian dari publik maupun aparat penegak hukum atas kondisi sosial yang kurang memuaskan dengan cara yang ilegal62. Pada bentuk kedua ini walaupun massa dalam melakukan perbuatan pidana dengan bersama-sama yang artinya adanya kerjasama, tapi dalam kerjasama yang dilakukan terjadi dengan tanpa rencana sebelumnya dan kerjasamanyapun hanya sebatas pada kerjasama fisik saja tidak non fisik. Jadi massa yang terbentuk tidak secara terorganisir dalam melakukan perbuatan pidana tergerak untuk bereaksi dikarenakan adanya kesamaan isu dan permasalahan yang dihadapi, dan dalam melakukan aksinyapun tidak memiliki pemimpin atau ketua sebagai sebagai yang mengkordinir bergeraknya massa, dalam hal ini yang menjadi pemimpin adalah diri pribadi masing-masing dari anggota massa yang ada. 3. Faktor penyebab perbuatan pidana yang dilakukan secara massal.

Dalam kasus-kasus perbuatan pidana yang dilakukan secara massal baik dengan massa yang terbentuk secara terorganisir dan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir, memiliki motif dan maksud yang lebih kompleks. Motif dan maksud memiliki makna yang berbeda, motif hanya menjelaskan tentang latar belakang perbuatan yang dilakukan seseorang. Jadi sifatnya menjawab pertanyaan mengapa pelaku berbuat, sedangkan maksud bermakna menjelaskan tentang apa
61

UNAIR: Meningkatnya archive.com@itb.ac.i1/ 62 Ibid.,

Derajat

Kekerasan

Kolektif,

dalam

http//www.

Mail-

yang hendak dicapai oleh pelaku dengan perbuatannya, jadi lebih menerangkan pada tujuan tertentu dari suatu perbuatan 63. Menurut Romli Atmasasmita dengan melihat fenomena kejahatan, kekerasan khususnya dalam hal ini perbuatan pidana yang dilakukan secara massal cukup banyak terkandung perbedaan dalam motif dan maksudnya. Selain itu, perbuatan pidana massal ini juga melahirkan bentuk-bentuk tindakan/perbuatan yang bervariatif dan kompleks sehingga sangat sulit untuk menentukan kuasa kejahatan64. Jadi karena sulit dan kompleksnya penyebab/faktor yang melatarbelakangi suatu perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, sehingga tidak ada yang mutlak atau dapat disamakan antara kasus yang satu dengan kasus yang lain tentang halhal apa yang melatarbelakanginya. Dalam menentukan suatu kausa kejahatan hukum pidana dalam hal ini tidak dapat menyelesaikannya sendiri maka dibutuhkan ilmu-ilmu bantu yang relevan dalam hal ini dari segi sosiologi, kriminologi dan psikologi. Dengan mendasarkan pada ilmu-ilmu tersebut maka faktor penyebab terjadinya perbuatan pidana massal adalah : a. Segi sosiologi Menurut Setiadi (1999) berbagai peneliti sosial seprti Levinson (1994), Segal, Dasery, Berry, Poortinga (1990), dan Triardis (1994), pada umumnya menemukan bahwa kekerasan kolektif disebabkan oleh karena terjadinya ketidakpuasan atau konflik antara kelompok-kelompok dalam suatu bangsa/Negara, dan biasanya berkaitan dengan sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik yang ada65. Pada intinya, ada kelompok yang mengalami relative deprivation, yaitu perasaan tidak puas yang didasari keyakinan bahwa kelompoknya mendapat lebih sedikit dari yang sepantasnya diperoleh. Dalam hal ini bukan kelompok yang paling tertekan yang akan terlibat dalam kekerasan kolektif, tetapi mereka yang yakin bahwa mereka seharusnya dan dapat memperoleh yang lebih baik hal itu kadang63

M. Sholehuddin, Kekerasan dalam Konsep Kriminologi, disampaikan dalam Talk Show Mengurai Kekerasan di Indonesia, Forum Komunikasi Gerakan 98, Elmi Hotel, Surabaya, 15 April 2006, hlm. 1 64 Ibid., hlm. 6 65 UNAIR: Meningkatnya Derajat Kekerasan Kolektif, dalam http//www. Mai-archiv.com/unair.

kadang disertai dengan tidak adanya kepercayaan terhadap sistem hukum yang berlaku.66 b. Kriminologi Dari imu kriminologi perbuatan pidana massal ini, dalam ilmu krimonologi dikenal dengan kekerasan kolektif dapat dijelaskan dengan menggunakan Social Control Theory (Teori Kontrol Sosial). Pengertian Teori Kontrol/Control Theory menunjuk kepada setiap perpektif yang membahas ihwal pengendalian tingkah laku manusia. Sementara itu pengertian Teori Kontrol Sosial atau Social Control Theory menunjuk kepada pembahasan dan kejahatan dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologis antara lain keluarga, pendidikan, kelompok dominan.67 Pada dasarnya teori ini tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan tetapi berorientasi kepada pertanyaan mengapa tidak semua orang melanggar hukum/mengapa orang taat kepada hukum.68 Teori ini muncul disebabkan oleh 3 (tiga) ragam perkembangan dalam kriminologi yaitu 1. Adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik yang kembali menyelidiki tingkah laku kriminal, kriminologi konservatif (sebagaimana teori ini berpijak) kurang menyukai kriminologi baru atau new criminology dan hendak kembali kepada subyek semula, yaitu penjahat (criminal). 2. Munculnya studi tentang Criminal Justice dimana sebagai suatu ilmu baru telah mempengaruhi kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi pada sistem. 3. Teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik penelitian baru, khususnya bagi tingkah laku anak/remaja, yakni selfreport survey.

66 67

Ibid. Romli Atmasasmita, op.cit., hlm. 31 68 Lilik Mulyadi, Kapita Selekta Hukum Pidana Kriminologi & Victimologi, Djambatan Jakarta, 2004, hlm. 112

Perkembangan awal teori kontrol sosial dipelopori oleh Durkheim pada tahun 1895. Teori ini dapat dikaji dari 2 perspektif yaitu : 1. Perspektif makro, atau Macrosociological Studies menjelajah sistemsistem format untuk mengontrol kelompok-kelompok, sistem formal tersebut antara lain : a. Sistem hukum, UU, dan penegak hukum b. Kelompok-kelompok kekuatan di masyarakat. c. Arahan-arahan sosial dan ekonomi dari pemerintah/kelompok swasta adapun jenis kontrol ini bisa menjadi positif atau negatif. Positif apabila dapat merintangi orang dari melakukan tingkah laku yang melanggar hukum, dan negatif apabila mendorong penindasan membatasi atau melahirkan korupsi dari mereka yang memiliki kekuasaan. 2. Perspektif mikro atau microsociological studies memfokuskan perhatian pada sistem kontrol secara informal. Adapun tokoh penting dalam pespektif ini adalah Travis Hirschi dengan bukunya yang berjudul Causes of Delingvency, Jackson Toby yang memperkenalkan tentang Individual Commitment sebagai kekuatan yang sangat menentukan dalam kontrol sosial tingkah laku. Salah satu teori kontrol sosial yang paling handal dan sangat populer dikemukakan oleh Travis Hirschi pada tahun 1969. Hirschi, dengan keahlian merevisi teori-teori sebelumnya tentang kontrol sosial, telah memberikan suatu gambaran jelas mengenai konsep social bond. Hirschi sependapat dengan Durkheim dan yakin bahwa tingkah laku seseorang mencerminkan pelbagai ragam pandangan tentang kesusilaan/morality, dan seseorang bebas untuk melakukan kejahatan/penyimpangan tingkah lakunya. Selain menggunakan teknik netralisasi untuk menjelaskan tingkah laku tersebut diakibatkan oleh tidak adanya keterikatan atau kurangnya keterikatan (moral) pelaku terhadap masyarakat.69 Teori kontrol sosial berangkat dari asumsi atau anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya, menjadi

69

Ibid., hlm. 10

baik atau jahat. Baik jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakatnya. Ia menjadi baik baik kalau masyarakat membuatnya begitu70. Menurut Travis Hirschi terdapat 4 elemen ikatan sosial (social bord) dalam setiap masyarakat, yaitu 71: a. Attachment adalah kemampuan manusia untuk melibatkan dirinya terhadap orang lain, dan apabila attachment ini sudah terbentuk, maka orang tersebut akan peka terhadap pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain. Attachment diartikan secara bebas dengan keterikatan, ikatan pertama yaitu keterikatan dengan orang tua, keterikatan dengan sekolah (guru) dan dengan teman sebaya. b. Commitment adalah keterikatan seseorang pada subsistem konvensional seperti sekolah, pekerjaan, organisasi dan sebagainya. Karena dengan komitmen akan mendapatkan manfaat bagi orang tersebut dikarenakan kegiatan yang diikutinya. Manfaat tersebut dapat berupa harta benda, reputasi, masa depan dan sebagainya. c. Invoiverment merupakan aktivitas seseorang dalam subsistem. Jika seseorang berperan aktif dalam organisasi maka kecil kecenderunagan untuk melakukan penyimpangan. Logika pengertian ini adalah apabila orang aktif disegala kegiatan maka ia akan menghabiskan waktu dan tenaganya dalam kegiatan tersebut. d. Belief merupakan aspek moral yang terdapat dalam ikatan sosial, dan tentunya berbeda dengan ketiga aspek di atas. Belief merupakan kepercayaan seseorang pada nilai-nilai moral yang ada. Kepercayaan seseorang terhadap norma-norma yang ada menimbulkan kepatuhan terhadap seseorang terhadap norma-norma yang ada menimbulkan kepatuhan terhadap norma tersebut. c. Segi Psikologi Menurut Soetandyo Wigh Josoebroto luapan emosi massa yang terjadi saat ini disebabkan oleh rasa frustasi. Sikap ini muncul karena gagal terpenuhinya ekspektasi, yang terlanjur dipasang tinggi dalam banyak lapangan kehidupan dan
70 71

Ibid., hlm. 116 Ibid., hlm. 117-118

menurutnya karena frustasi orang gampang kehilangan akal, perilaku orang menjadi lebih ekspresif dan brutal serta jauh dari tindakan rasional. Dalam realita yang terjadi di lapangan menurut Soetandyo massa yang mengamuk sulit dikuasai, hal tersebut karena luapan emosi massa itu bekerja dalam suatu proses psikologis yang sirkular dengan efek spiral. Dikatakan sirkular karena ditengah-tengah emosi manusia menular dan menjalar secara berkeliling, berulang-alik dari suatu individu ke individu yang lain. Sedangkan berefek spiral, karena lampiasan emosi para individu yang tengah membiarkan dirinya larut dalam massa, akan menjalar dan menular secara berkeliling dan berulang-ulang dengan efek yang kian lama kian intens. Jadi dengan melihat faktor-faktor yang mendorong terjadi perbuatan pidana massal tersebut baik dari segi ilmu sosiologi, kriminologi dan psikologi tidak merupakan hal yang mutlak dan mengikat untuk diterapkan pada peristiwaperistiwa atau motifnya adalah kekuasaan dan maksud pelakunya adalah keinginan untuk menggantikan kekuasaan dan hal tersebut tentu berbeda dengan konflik horisontal, motifnya tidak jauh dari persoalan kecemburuan sosial. Sedangkan maksudnya bisa bermacam-macam ada yang menginginkan pihak lawan tidak lagi mengganggu kepentingan/keyakinan atau ideologi kelompok yang lain untuk menguasai ladang pekerjaan tertentu. Dalam tulisan ini akan dipaparkan juga faktor-faktor lain dari perspektif lain yang menjadi latar belakang terjadinya perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yaitu menurut Dr. Solehudin dosen dari UBARA Surabaya mengamati kasus perbuatan pidana yang dilakukan secara massal pada pasca reformasi beberapa tahun terakhir ini, paling sedikit terdapat 5 faktor penentu yang saling terkait. Setiap faktor, bila tidak melibatkan faktor yang lainnya, kemungkinan besar tidak akan melahirkan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, adapun faktorfaktor tersebut antara lain 72: 1. Pendorong struktural

72

M. Sholehuddin, Kekerasan dalam Konsep Kriminologi, disampaikan dalam Talk Show Mengurai Kekerasan di Indonesia, Forum Komunikasi Gerakan 98, Elmi Hotel, Surabaya, 15 April 2006, hlm. 1

Pendorong struktural (structural conduciveness) yaitu kondisi struktural masyrakat yang mempunyai potensi bagi timbulnya kekerasan. Kataklisme dalam bentuk kekerasan, bukan semata-mata akibat lemahnya kesadaran hukum. Beberapa kondisi struktural tersebut yang kini merebak di kalangan masyarakat kita adalah: terjadinya krisis nilai, norma, struktur, sumber daya dan krisis budaya malu. Dalam situasi kekinian Indonesia, tidak hanya hukum yang mengalami krisis wibawa, tapi juga seluruh sistem sedang mengalami disorientasi. Kekerasan kolektif dapat dijelaskan dengan melihat pada kultur dan struktur yang ada dalam masyarakat. Sumber-sumber cultur terletak pada berseminya sub budaya kekerasan antara lain yang mendukung kekerasan 2. Ketegangan struktural Ketegangan struktural (struktural strain) merupakan kondisi ketegangan yang diakibatkan oleh kenyataan struktur masyarakat, seperti ketidakpastian, penindasan, konflik dan kesenjangan yang potensial bagi timbulnya kekerasan kolektif, salah satu yang sering terjadi di Indonesia adalah konflik politik. 3 Penyebaran kepercayaan umum Pertumbuhan dan penyebarluasan kepercayaan umum merupakan proses ketika ketegangan struktural sudah dirasakan sebagai realitas, yang kemudian disebarluaskan menjadi kepercayaan umum. Benang merah dari peristiwa kekerasan kolektif, sedikit banyak terkait dengan proses penularan kekerasan dengan wabah seperti penyakit menular, hal tersebut sebagai berkat media massa yang selain efektif untuk menyebarkan informasi yang mencerdaskan masyarakat, tetapi juga untuk proses pembelajaran kekerasan. 4. Faktor pencetus Merupakan faktor situasional yang menegaskan pendorong struktural, ketegangan struktural dan kepercayaan umum tentang sumber ketegangan yang memicu timbulnya perilaku kolektif. Faktor ini diawali oleh penyebaran kepercayaan umum, yaitu sesuatu yang menunjuk ketegangan. 5. Kesempatan Adalah suatu keadaan yang memudahkan bagi terjadinya kekerasan kolektif, keadaan tersebut meliputi pertemuan fisik (massa berhadap-hadapan pada suatu

area terbuka), mobilisasi peran dan kurangnya pengendalian formal maupun non formal. 4 Dampak terhadap korban perbuatan pidana yang dilakukan secara massal Pada prinsipnya sesuai dengan tujuan hukum pidana sebagai hukum publik tujuan pokok diadakannya hukum pidana ialah untuk melindungi kepentingan masyarakat sebagi suatu kolektivitet dari perbuatan-perbuatan yang mengancamnya atau bahkan merugikannya baik itu datang dari perseorangan maupun sekelompok orang (suatu organisasi). Berbagi kepentingan bersifat kemasyarakatan tersebut antara lain ialah ketentraman, ketenangan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat73 Jadi yang dilindungi hukum pidana secara spesifik di antaranya jiwa, lebih harta, kehormatan dan lain-lain, yang mana dengan dilanggarnya hukum pidana berarti telah merusak tatanan kehidupan dalam masyarakat sehingga secara logika siapa yang merusak tatanan tersebut maka berkewajiban untuk memperbaiki seperti sedia kala. Dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal baik dengan massa yang terbentuk secara terorganisir dan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir pasti memberikan dampak yang negatif baik yang langsung atau tidak langsung pada korbannya ataupun akibat yang ditimbulkan baik dalam lingkup yang kecil atau luas. Berbicara tentang korban akibat kejahatan merupakan salah satu kajian tentang korban-korban dalam hal ini bukan hanya korban kejahatan saja tetapi juga korban akibat abuse of power, dan lain-lain. Pada awalnya kajiannya terhadap korban diartikan secara luas, baik korban akibat perbuatan manusia maupun yang bukan perbuatan manusia (misalnya bencana alam) sebagi bagian dari tanggung jawab sosial dan dilakukan dalam rangka untuk melakukan penyembuhan (freatment) dan kajian terhadap korban bersifat kemanusiaan (humanistic) oleh
73

Abdul Kholiq, Hukum Pidana (Buku Pedoman Kuliah), Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002. hlm. 15

karena itu maka pendekatan dilakukan bersifat lintas disiplin ilmu yang mengkaji tentang manusia74 . Tapi dalam tulisan ini yang menjadi kajian adalah korban akibat kejahatan dari suatu perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dan akan ditinjau secara umum oleh penulis. Korban adalah mereka yang menderita jasmani dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri 1 orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita, mereka-mereka disini dapat berarti individu atau kelompok baik swasta maupun pemerintah75 Menurut Muladi korban kejahatan diartikan sebagai seseorang yang telah menderita kerugian sebagi akibat suatu kejahatan dan atau yang rasa keadilannya secara langsung telah tergantung sebagai akibat pengalamannya sebagai target (sasaran) kejahatan76. Karena korban kejahatan merupakan orang yang dirugikan dalam hal ini bukan saja secara fisik dan juga mengalami penderitaan sosial psikologik yang tidak ringan. Tidak jarang justru kondisi sosial psikologik ini akan lebih memperberat penderitaan seorang victim meskipun kondidi fisiknya sudah dipulihkan secara medis, tapi secara psikologi hal tersebut bisa menjadi traumatik yang berkepanjangan bagi korban, sebagai contoh korban pemerkosaan.77 Pada kasus perbuatan pidana yang dilakukan secara massal di depan umum, akibat yang ditimbulkan luas bukan saja hanya pada korban langsung tapi juga fasilitas umum yang rusak serta berdampak juga pada masyarakat umum dan hal ni semua membutuhkan perhatian bukan hanya saja dari para pelaku tapi juga negara dan masyarakat itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan secara sosiologis menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat semua warga negara harus berpartisipasi penuh, sebab masyarakat dipandang sebagai sistem kepercayaan yang melembaga (System of
74

Mudzakkir,Viktimologi Makalah disampaikan pada Penataran Nasional Hukum Pidana dan Kriminologi XI Tahun 2005, Fakultas Hukum Universitas Surabaya, Forum Pemantau Pemberantas Korupsi, ASPEHUPIKI, Surabaya, 14-16 Maret 2005, hlm. 2-3 75 Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, Buana Ilmu Populer, Jakarta, 2004, hlm. 64 76 Muladi, Perlindungan Korban Melalui Proses Pemidanaan, disampaikan pada Seminar Victimologi, Universitas Air Langga, Surabaya.dalam kumpulan, 28-29 Oktober, hlm.3 77 Makalah, Victim dan Pusat Pelayanannya. hlm. 6

Institutionalized Trust). Tanpa kepercayaan ini maka kehidupan sosial tidak akan berjalan dangan baik sebab tidak ada patokan yang pasti dalam bertingkah laku dan kepercayaan ini terdapat melalui norma-norma yang diekspresikan di dalam struktur organisasional seperti polisi, jaksa, pengadilan dan sebagainya 78 Argumentasi lain kenapa korban kejahatan dalam hal ini perlu dilindungi karena berdasarkan argumen kontrak sosial (Social Contrack Argument) dan argumen solidaritas sosial (Social Solidarity Argumen). Yang pertama menyatakan bahwa negara boleh dikatakan memonopoli seluruh reaksi sosial terhadap kejahatan dan melarang tindakan-tinakan yang bersifat pribadi, oleh karena itu kejahatan terjadi dan membawa korban, maka negara juga harus bertanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan para korban tersebut. Sedangkan argumen kedua menyatakan bahwa negara harus menjaga warga negaranya dalam memenuhi kebutuhannya, atau apabila warga negaranya mengalami kesulitan, melalui kerjasama dalam masyarakat berdasar/menggunakan sarana-sarana yang disediakan oleh negara. Hal ini bisa dilakukan baik melalui peningkatan pelayanan maupun melalui pengaturan hak.79 Jadi hal tersebut yang salah satunya mendasari kenapa permasalahan korban kejahatan perlu diatur dalam hukum positif khususnya di Indonesia. Dalam hukum pidana positif yang berlaku saat ini, perlindungan korban lebih banyak merupakan perlindungan abstrak atau perlindungan tidak langsung artinya dengan adanya perumusan tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan selama ini, pada hakikatnya telah ada perlindungan in abstracto secara tidak langsung terhadap berbagai kepentingan hukum dan hak-hak korban.80 Dikatakan in abstracto dikarenakan perbuatan pidana dalam hukum pidana positif tidak dilihat sebagi perbuatan menyerang/melanggar kepentingan hukum seseorang (korban) secara pribadi dan konkrit, tetapi hanya dilihat sebagai pelanggar-pelanggar norma/tertib hukum in abstracto. Akibatnya perlindungan korbanpun tidak langsung dan in concreto tetapi hanya in abstracto, atau
78 79

Muladi, Perlindungan Korban Melalaui Proses Pemidanaan....., hlm. 2 Ibid. 80 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan & Pengembangan Hukum Pidana, Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 83

hanya dengan kata lain sistem sanksi dan pertanggung jawaban pidananya tidak tertuju pada perlindungan korban secara langsung dan konkrit tetapi hanya perlindungan korban tidak langsung dan abstrak. Jadi pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku bukanlah pertanggungjawaban terhadap kerugian atau penderitaan korban secara langsung dan konkret tetapi lebih tertuju pada pertanggung jawaban yang bersifat pribadi/individual. Dalam hal tertentu, hukum pidana positif (material/formal) memberi perhatian juga kepada korban secara langsung, antara lain terlihat dalam ketentuanketentuan : 1. KUHP, yaitu pada pasal 14 c KUHP dalam hal hakim menjatuhkan pidana bersyarat. Dalam hakim dapat menetapkan syarat khusus bagi terpidana unutk mengganti kerugian (semua/sebagian) yang ditimbulkan dari tindak pidana. Jadi ganti rugi disini seolah-olah berfungsi sebagai pengganti pidana pokok. Penetapan ganti rugi ini jarang diterapkan dalam praktek karena mengandung kelemahan antara lain: a. Penetapan ini tidak bisa diberikan oleh hakim sebagai sanksi yang berdiri sendiri disamping pidana pokok. Penetapan ini hanya dapat digunakan apabila hakim bermaksud manjatuhkan pidana bersyarat, jadi hanya sebagai syarat khusus untuk tidak dilaksanakannya atau dijalaninya pidana pokok yang dijatuhkan kepada terpidana. b. Penetapan khusus berupa ganti rugi inipun hanya dapat diberikan apabila hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama satu tahun/pidana kurungan. c. Syarat khusus berupa ganti rugi inipun menurut KUHP hanya bersifat fakultatif, tidak bersifat imperatif.81 2. KUHAP, Bab XIII (Pasal 98 Pasal 101) KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) memberi kemungkinan penggabungan perkara gugatan ganti kerugian dalam perkara pidana. Dalam putusan, hakim berwenang menetapkan hukuman-hukuman penggantian biaya yang telah
81

Ibid., hlm. 85-86

dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan (korban). Ketentuan inipun memberikan perhatian terhadap korban dalam perkara perdata dan perlu dicatat bahwa penggantian biaya disini tetap bersifat keperdataan, bukan sebagai sanksi pidana.82 Oleh karena itu dipergunakan istilah penggabungan (voeging) dan gugatan tersebut menjadi perkara asefoir. Korban harus berinisiatif mengajukan sendiri atau memberi kuasa khusus menuntut ganti kerugian melalui prosedur penggabungan sampai sebelum jaksa mengajukan tekisitor. Dalam prakteknya hal ini hanya dibatasi pada pembayaran terhadap biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh kejahatan dan dilaksanakan setelah perkara pidananya mempunyai kekuatan hukum tetap, dan apabila terdakwa mampu membayar maka tidak dapat dialihkan kepada pihak lain83. Dengan melihat ganti kerugian yang hanya sebatas ongkos yang telah dikeluarkan oleh korban, sesungguhnya tidak layak dibandingkan dengan penderitaan korban. Kerugian materiil lainnya yang bukan biaya yang dikeluarkan untuk kerugian, dan kerugian immateriil yang justru paling lebih berat dialami oleh korban tidak dapat dimintakan ganti kerugian melalui prosedur pidana84. Selama ini konstitusi kita dalam hal perlindungan korban kajahatan hanya sebatas ganti rugi saja. Tetapi hal tersebut juga dalam prakteknya belum maksimal dan memuaskan bagi pihak korban ditambah lagi eksistensi keberadaan korban dalam sistem peradilan pidana kita dikatakan sebagai orang yang terlupakan karena hukum pidana secara terencana dan sistematik meninggalkan korban kajahatan. Negara mengambil alih semua reaksi terhadap kejahatan dalam rangka untuk proses yang adil bagi pelanggar85. Selama ini yang dianggap sebagai pencari keadilan adalah pelaku kejahatan, padahal korban yang merupakan pihak dirugikan baik materiil maupun immateriil. Kebijakan terhadap korban kajahatan adalah kebijakan penyeimbang (balance ) dalam rangka untuk memberikan pengayoman dan keadilan kepada semua orang,
82 83

Ibid Mudzakkir, Pengaturan Hak Korban kejahatan...., hlm. 30 84 Ibid., hlm. 14 85 Ibid., hlm. 4

bukan mengutamakan (priority) keadilan bagi pelanggar saja dan mengabaikan keadilan bagi korban, atau sebaliknya mengutamakan korban kejahatan dan mengabaikan pelanggar, tetapi memberikan perlindungan hukum dan keadilan kepada keduanya (pority)86 Dengan melihat eksistensi korban kejahatan dalam sistem peradilan, padahal secara logika korban inilah yang membutuhkan perlindungan dan perhatian dari para pihak terhadap kondisi yang dialami disamping pelanggar. Hal tersebut berakibat karena kejahatan adalah melanggar kepentingan publik dan reaksi terhadap kejahatan adalah menjadi monopoli. Negara sebagai representasi publik/masyarakat dan pandangan tersebut mendominasi dalam praktek penegakan hukum sehingga mengakibatkan terlanggarnya hak akibat kejahatan terabaikan ditambah lagi hubungan antara korban kejahatan dengan polisi dan jaksa sebagai hubungan tidak langsung (indirect) yang tidak menimbulkan akibat hukum. Dalam hal ini korban hanya ditempatkan sebagai sanksi di pengadilan87. Apabila hubungan tersebut dihubungkan dengan realita yang terjadi pada pelaku perbuatan pidana massal yang pelakunya lebih dari satu orang bahkan bisa mencapai puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, dan hal ini menyebabkan kesulitan pada penegakan hukumnya. Peran serta korban juga kecil dalam pelibatannya untuk menentukan pelaku sehingga yang seharusnya bagi korban adalah pelaku A ditangkap tapi tidak ditangkap tapi sebaliknya pelaku B yang ditangkap. Hal tersebut bisa mengakibatkan rasa yang tidak aman dan nyaman bagi korban karena baginya pelaku masih berkeliaran dan hal ini bisa saja mengancam korban di depan hukum dalam mencari keadilan88. Disisi lain ada berbagai alasan yang dikemukakan dan yang terutama berkisar pada kenyataan tidak adanya laporan korban tentang peristiwa yang dialaminya, antara lain sebab-sebab yang dikemukakan adalah89 (Steven Box, 1981).

86 87

Ibid., hlm. 32 Ibid., hlm. 2 88 Sebagai saksi korban yang tidak leluasa memberi keterangan dikarenakan ancaman dari pelaku lain yang tidak ditindak dan juga memungkinkan ketakutan bagi korban untuk melapor terhadap kasus yang dialami. 89 Wardjono Reksodiputro, Struktur Perekonomian Dewasa ini dan Permasalahan Korban. Disampaikan pada Seminar Victimoloy, Universitas Airlangga, Surabaya, 23 Oktober 1988

1. korban mengetahui bahwa dia menjadi korban, tetapi tidak bersedia melapor karena : 1) menganggap polisi tidak efisien atau tidak akan mempedulikan laporannya; 2) menganggap bahwa peristiwa itu merupakan urusan pribadi, karena : a. akan menyelesaikannya lansung di luar pengadilan dengan si pelaku (extra-judicial); b. merasa malu dan tidak bersedia menjadi saksi di polisi maupun pengadilan (misalnya dalam kejahatan kesusilaan atau mengalami penipuan karena kebodohannya) 2. korban tidak mengetahui bahwa dia telah menjadi korban suatu peristiwa kejahatan (misalnya dalam penipuan yang dilakukan secara halus dan dalam kasus penggelapan uang atau barang yang dilakukan secara rapih) 3. korban yang sifatnya abstrak (abstract victim) dan karena itu sukar ditentukan secara khusus dan jelas (misalnya masyarakat pembeli barang); 4. korban mengalami peristiwa kejahatan karena sendiri telibat dalam kejahatan (victims of their own criminal activity); 5. secara resmi tidak terjadi korban, karena kewenangan diskresi polisi untuk menentukan peristiwa apa dan mana yang merupakan kejahatan (hal ini menyangkut kebijakan dalam penegakan hukum). Hal tersebut di atas mengakibatkan menurut para ahli merasakan bahwa statistik kriminal resmi tidak dapat mencerminkan gejala kriminal yang terdapat dalam masyarakat dan keadaan ini biasanya disebut sebagai angka gelap kejahatan (dark number of crime).90 Dengan minimnya eksistensi korban kejahatan dalam sistem peradilan kita, tetapi secara ideal korban kejahatan dalam hal ini mempunyai peranan serta hak dan kewajiban dimana diantaranya91 :
90 91

Ibid., hlm. 2 Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan (Kumpulan Karangan), Buana Ilmu Populer, Jakarta, 2004, hlm. 74-76

1. Hak : a. si korban berhak mendapatkan kompensasi atas penderitaannya, sesuai dengan kemampuan memberi kompensasi si pembuat korban dan taraf kebaikan (partisipasi) peranan si korban dalam terjadinya kejahatan, delinkuensi dan penyimpangan tersebut. b. berhak menolak kompensasi untuk kepentingan pembuat korban (tidak mau diberi kompensasi karena tidak memerlukannya). c. berhak mendapat kompensasi. Untuk ahli warisnya bila korban meninggal dunia karena tindakan tersebut berhak mendapat pembinaan dan rehabilitasi. d. berhak mendapat kembali hak miliknya. e. berhak menolak menjadi saksi bila ini akan membahayakan dirinya. f. berhak mendapatkan perlindungan dari ancaman pihak pembuat korban bila melapor dan menjadi saksi. g. berhak mendapatkan bantuan penasehat hukum. h. berhak mempergunakan upaya hukum (reactmiddelent) 2. Kewajiban : a. tidak sendiri membuat korban dengan mengadakan pembahasan (main hakim sendiri) b. berpartisipasi dengan masyarakat mencegah pembuatan korban lebih banyak lagi. c. mencegah kehancuran si pembuat korban baik oleh diri sendiri maupun orang lain. d. ikut serta membina korban. e. bersedia dibina atau membina diri sendiri untuk tidak menjadi korban lagi. f. tidak menuntut kompensasi yang tidak sesuai dengan kemampuan pembuat korban.

g. memberi kesempatan pada pembuat korban untuk memberi kompensasi pada pihak korban sesuai dengan kemampuannya (mencicil/bertahap/imbalan jasa). h. menjadi saksi bila tidak membahayakan diri sendiri dan ada jaminan. Jadi dengan adanya hak dan kewajiban tersebut diharapkan akan tercipta keadilan yang seimbang (balance) antara pelanggar dan korban, walaupun sebenarnya sampai saat atau detik ini korban kejahatan masih menjadi orang yang terlupakan, agar apa yang dicita-cita bersama hendaknya dapat tercapai maka dalam disertasinya Dr Mudzakkir menyatakan ada atau hal cara memberdayakan posisi atau hukum korban kejahatan dalam sistem peradilan yaitu92: 1. menetapkan hak-hak dasar korban kejahatan dalam hukum pidana digali dari sistem hukum nasional dan mempertimbangkan hak-hak korban kejahatan yang diakui oleh masyarakat internasional, hak tersebut antara lain diperlakukan dengan penuh perhatian, tanggapan, dan penghargaan, hak menyampaikan informasi dan pendapat, memperoleh informasi, restitusi dan kompensasi, memperoleh bantuan dan perlindungan, serta keadilan. 2. melalui praktek penegakan hukum sehari-hari tanpa campur tangan legislatif dengan cara memberi perspektif baru yaitu perspektif korban kejahatan. 3. kebijakan pembaharuan hukum pidana materiil dan formil yang berorientasi pada korban kejahatan dengan memberi landasan filosofis dan asas-asas sebagai pengkal tolak pengaturan korban kejahatan dalam hukum pidana. 4. kebijakan terhadap korban kejahatan pada tahap proses : 1) tahap pra-adjudikasi, yaitu dengan menggunakan perspektif korban yang dijadikan dasar kewenangan hukum bagi polisi dan jaksa untuk menindak pelanggar.

92

Mudzakkir, Pengatuaran Hak Korban Kejahatan.., op.cit., hlm

2) Tahap adjudikasi, yaitu korban kejahatan diberdayakan dalam sistem peradilan pidana dan memiliki hak bicara (right to speak) di pengadilan untuk menyampaikan pengaruh kejahatan dan aspirasinya tentang pidana yang tidak dijatuhkan kepada terdakwa 3) Tahap paska-adjudikasi, yaitu pelaksanaan keputusan pengadilan berupa pengabulan tuntutan ganti kerugian menjadi tanggung jawab pribadi penggugat (korban) berdasarkan konsep-konsep penggabungan perkara-perkara dan juga pada pelaksanaan program pemasyarakatan dijadikan sarana untuk melanjutkan rekonsiliasi antara pelanggar dengan korban dan masyarakat di tempat mana kejahatan dilakukan. 2. Penegakan hukum terhadap perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massa pada prakteknya sangat sulit dalam melakukan penegakkan hukumnya, yang mana tulisan ini membahas terhadap jumlah massa yang tidaka jelas berapa banyaknya yang terlibat, dan hal ini menjadi permasalahan khususnya bagi aparat penegak hukum adalah bagaimana berlaku adil terhadap setiap pelaku perbuatan pidana massal. Artinya penegakan hukum seperti apa ?, tindakan hukum seperti apa ? dan bagaimana memberi sanksi yang adil dan efektif terhadap kerumunan massa yang melakukan perbuatan pidana massal khusus massa yang jumlahnya tidak dapat terdeteksi atau tidak jelas. Sehingga aparat penegak hukum sulit mengkonstruksikan peranan serta kedudukan massa tersebut dalam setiap perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Bagi penulis pada kasus-kasus perbuatan pidana yang dilakukan secara massal pada penegakan hukumnya ataukah harus dengan menggunakan hukum pidanakah? atau tidak, ataukah karena kasus pidana jadi wajib ditegakkan dengan hukum pidana juga. Padahal realita yang terjadi menunjukkan bahwa hukum pidana sendiri tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang menjadi ruang

lingkupnya atau kewenangannya untuk menyelesaikan permasalahan yang khususnya perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Membicarakan penegakan hukum selalu akan melibatkan manusia di dalamnya dan dengan demikian akan melibatkan tingkah laku manusia juga. Hukum tidak bisa tegak dengan sendirinya, artinya ia tidak mampu untuk mewujudkan sendiri janji-janji serta kehendak-kehendak yang tercantum dalam (peraturan-peraturan) hukum itu. Janji dan kehendak seperti itu, misalnya adalah untuk memberikan hak kepada seseorang untuk memberikan perlindungan kepada seseorang untuk mengenakan pidana kepada seseorang yang memenuhi persyaratan tertentu dan sebagainya93. Jadi penegakan hukum dapat dilakukan oleh manusia, dimana karena penegakan hukum ini dilakukan dan ditujukan pada tingkah laku manusia maka perlu diketahui bagaimanakah tingkah laku manusia tersebut. Tingkah laku manusia itu terikat pada berbagai hal, patokan yang terdapat di luar seseorang itu. Ikatan tersebut sedemikian juga sehingga ia tidak dapat mengabaikannya dengan kata lain dalam tingkah lakunya di masyarakat seseorang itu akan berorientasi kepada berbagai hal dan patokan tersebut di atas. Jadi sulit diterima bahwa tingkah laku orang dalam masyarakat itu adalah bebas, melainkan sebaliknya yaitu didisiplinkan oleh pembatasan-pembatasan tersebut di atas. Jadi manusia berbuat bisa dikatakan karena adanya ikatan dan respon dari lingkungannya94. Dalam hukum pidana manusia berbuat melakukan perbuatan pidana dikarenakan dirinya sendiri dan konsep ini yang dianut oleh aliran teori pemidanaan absolut atau teori pembalasan, atau seseorang melakukan perbuatan pidana dikarenakan dari dirinya yang dipengaruhi oleh di luar dirinya juga dan konsep ini dianut oleh aliran teori pemidanaan relatif atau teori tujuan. Jadi dalam perbuatan pidana massal, maka dapat dilihat bahwa perbuatan pidana yang dilakukan disebabkan berbagai macam fakta yang mempengaruhi diantara ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, dan lain-lain. Maka tidak dapat kita pungkiri bahwa massa melakukan perbuatan pidana dikarenakan adanya pengaruh
93

Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum (Suatu Tinjauan Sosiologis), Sinar Baru, Bandung, hlm. 11 94 Ibid., hlm. 12

yang ada di luar dirinya yaitu karena lingkungan. Sehingga dalam penanganannya tidak dilihat hanya sebatas apa yang dilanggar dan kenapa ia melanggar tetapi juga bagaimana upaya pencegahannya baik secara umum atau secara khusus. Menurut Dr. Saparinah Sadli perbuatan pidana atau kejahatan merupakan salah satu bentuk dari perilaku menyimpang yang selalu ada dan melekat di masyarakat tidak ada masyarakat yang sepi dari kejahatan dan meruntutnya perilaku menyimpang merupakan suatu ancaman yang nyata/ancaman terhadap norma-norma sosial yang mendasari kehidupan/keteraturan sosial, dapat menimbulkan ketegangan individual maupun ketegangan-ketegangan sosial dan merupakan ancaman riil potensial bagi berlangsungnya ketertiban sosial, dengan demikian kejahatan disamping merupakan masalah kemanusiaan, ia juga merupakan masalah sosial.95 Upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum (sanksi) pidana merupakan cara yang paling tua, setua peradaban manusia itu sendiri, sampai saat ini pun hukum pidana masih digunakan dan diandalkan sebagai salah satu sarana politik kriminal.96 Sebagaimana realita yang terjadi bahwa perbuatan pidana yang dilakukan secara massal juga menggunakan hukum pidana dalam upaya penanggulangannya karena memang masalah yang menjadi kewenangannya. Namun selama hukum pidana digunakan selama ini juga hukum pidana tidak/kurang dapat menanggulanginya sendiri karena memang hukum pidana mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menanggulangi kejahatan. Hal tersebut diantaranya juga diungkapkan oleh 97: 1) Wolf Middendorf menyatakan bahwa sangatlah sulit untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas dan general deterrence itu tidak diketahui. Kita tidak dapat mengetahui hubungan yang sesungguhnya antara sebab dan akibat. Orang mungkin melakukan kejahatan/mungkin mengulanginya lagi tanpa hubungan dengan ada tidaknya Undang-Undang/Pidana yang dijatuhkan. Saranasarana kontrol sosial lainnya, seperti kekuasaan orang tua,
95 96

Barda Nawawi Arief, Teori-teori...,op.cit., hlm.148 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan..., op.cit., hlm. 67 97 Ibid., hlm. 69-71

kebiasaan-kebiasaan atau agama mungkin dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang sama kuatnya dengan ketakutan orang pada pidana. Kadang dalam prakteknya sulit menetapkan jumlah (lamanya) pidana yang sangat cocok dengan kejahatan dan kepribadian si pelanggar karena tidak ada hubungan logis antara kejahatan dan jumlah lamanya pidana. Sehingga menurut middendorf bahwa kita masih sangat sedikit mengetahui tentang apa yang membuat seseorang terpidana kembali melakukan/tidak melakukan aktivitas kejahatan. 2) Danal R. Taft dan Ralph W. England pernah juga menyatakan bahwa efektivitas hukum pidana tidak dapat diukur secara akurat. Hukum merupakan salah satu sarana kontrol sosial, kebiasaan, keyakinan agama, dukungan dan pencelaan kelompok, penekanan dari kelompok-kelompok inkres dan pengaruh dari pendapat umum merupakan sarana-sarana yang lebih efisien dalam mengatur tingkah laku manusia dari pada sanksi hukum. 3) Karl O. Christiansen menyatakan bahwa : pengaruh pidana terhadap masyarakat luas sulit diukur, pengaruh tersebut (maksudnya pengaruh dalam arti general prevention) terdiri dari sejumlah bentuk aksi dan reaksi yang berbeda misalnya pencegahan (deterrence), pencegahan umum (general prevention), memperkuat kembali nilai-nilai moral (reinforcement of moral values), memperkuat kesadaran kolektif (Strengthening the colective solidarity), menegaskan kembali/memperkuat rasa aman dari masyarakat (reaffirmation of the public feeling of security), mengurangi/meredakan ketakutan (alleviation of fears), melepaskan ketegangan agresif (release of aggressive tensions) dan sebagainya. Dengan melihat komentar-komentar para ahli tersebut dan dikontekskan dengan upaya penanggulangan penal selama ini apakah sudah mencapai tujuan dan citacita hukum pidana itu sendiri. Apakah selama ini efektif atau tidak, memang tidak bisa kita ukur tapi dapat dirasakan bersama bagaimana perbuatan pidana yang

dilakukan secara massal khusus pada jumlah massa yang tidak jelas berapa jumlahnya, akhir-akhir ini semakin marak dan dikatakan oleh pakar sosiologi Satjipto Raharjo sudah menjadi wabah sosial, dimana-mana terjadi dari kota-kota hingga pelosok tanah air. Sehingga hal tersebut diperlukan penanggulangan yang integral tidak hanya melalui hukum pidana saja (penal) tetapi juga dengan penanggulangan yang lain, karena dengan adanya hukum pidana saja orang-orang bukan takut untuk melakukan perbuatan pidana tapi malah semakin marak terjadi dimana-mana seolah-olah perbuatan tersebut legal untuk dilakukan. Jadi karena keterbatasan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan maka dibutuhkan pendekatan lain, hal tersebut wajar karena kejahatan bukan saja masalah kemanusiaan tetapi juga sebagai permasalahan sosial dan banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kejahatan. Menurut Sudarto karena terjadinya kejahatan disebabkan penyebab yang sangat kompleks dan berada di luar jangkauan hukum pidana, maka wajar hukum pidana mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menanggulanginya dan menurutnya penggunaan hukum pidana merupakan penanggulangan satu gejala (kurieren am symptom) dan bukan penyelesaian dengan menghilangkan sebab-sebabnya. Jadi keterbatasan hukum pidana selama ini juga disebabkan oleh sifat/hakikat dan fungsi dari hukum pidana itu sendiri, karena sanksi hukum pidana bukanlah obat (remedium) untuk mengatasi sebab-sebab (sumber) penyakit, melainkan sekedar untuk mengatasi gejala/ akibat dari penyakit. Dengan kata lain sanksi hukum pidana bukanlah merupakan pengobatan kausatif melainkan hanya sekedar pengobatan simptomatik dan dengan pengobatan simptomatik berupa sanksi pidana ini masih mengandung banyak kelemahan sehingga masih selalu dipersoalkan keefektifannya98. Jadi karena diperlukan upaya penanggulangan kejahatan secara integral baik dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi sosial maka menurut G.P. Hoefnadels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan99 : a. Penerapan hukum pidana (criminal law application) b. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment) dan
98 99

Ibid., hlm. 72 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, op.cit., hlm. 42

c. Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat media massa (influencing, Views of society on crime and punishment/mass media). Jadi dengan demikian maka upaya penanggulangan kejahatan dapat dibagi menjadi 2 yaitu : lewat jalur penal (hukum pidana) dan lewat jalur non penal (bukan/di luar hukum pidana) dimana point b dan c masuk/dikelompokkan pada upaya non penal100. Upaya penanggulangan dengan penal lebih menitik beratkan pidana sifat refressive (penindasan/pemberantasan/penumpasan) sesudah kejahatan terjadi.101 Dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah penentuan, Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana dan Sanksi apa saja sebaiknya digunakan/dikenakan kepada si pelanggar. Masalah sentral ini tidak dapat dilepaskan dari konsepsi integral antara kebijakan kriminal dengan kebijakan sosial/kebijakan pembangunan nasional. Dengan pemikiran kebijakan hukum pidana harus pula dilakukan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan yang integral tidak hanya dalam hukum pidana tetapi juga pada pembangunan hukum pada umumnya.102 Usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan Undang-Undang (hukum) pidana pada hakekatnya merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat. Sehingga wajar apabila kebijakan/politik hukum pidana yang merupakan bagian integral dari kebijakan/politik sosial (social policy).103 Secara konkrit kebijakan dengan menggunakan hukum pidana berkorelasi erat dengan aspek kriminalisasi yang pada asasnya kriminalitas merupakan proses penetapan suatu perbuatan sebagai yang dilarang dan diancam pidana bagi yang melanggar.104 Menurut Sudarto dalam menghadapi masalah kriminalisasi harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut 105:

100 101

Ibid. Ibid., hlm. 12 102 Ibid., hlm. 29 103 Lilik Mulyadi, Kapita Selekta Hukum Pidana Kriminologi dan Victimologi, Djambatan, Jakarta, 2004, hlm. 30 104 Ibid., hlm. 37 105 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan..., op.cit., hlm. 30-31

1. Tujuan hukum pidana harus memperlihatkan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang merata materiil spirituil berdasarkan Pancasila, maka penggunaan hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan penggagasan terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri, demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat. 2. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah ditanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian (materiil dan/spirituil) atas warga masyarakat. 3. Harus memperhatikan dan memperhitungkan prinsip-prinsip biaya dan hasil (Cost and benefit principle). 4. Memperhatikan kapasitas dan kemampuan daya kerja dari badanbadan penegak hukum jangan sampai kelampauan beban tugas. Dalam menggunakan sarana penal seharusnya lebih hati-hati, cermat, hemat, selektif dan limitatif, dengan kata lain sarana penal tidak harus dipanggil/digunakan dalam setiap produk legislatif. Dalam menggunakan penal, Nigel Walker pernah mengingatkan adanya prinsip-prinsip pembatas (the limiting principles) yang sepatutnya mendapat perhatian antara lain106 : 1. Jangan hukum pidana digunakan semata-mata untuk tujuan pembalasan 2. Jangan menggunakan hukum pidana untuk memidana perbuatan yang tidak merugikan/membahayakan. 3. Jangan menggunakan hukum pidana untuk mencapai satu tujuan yang dapat dicapai lebih efektif dengan sarana-sarana lain yang lebih ringan. 4. Jangan menggunakan hukum pidana apabila kerugian/bahaya yang timbul dari pidana lebih besar daripada kerugian/bahaya dari perbuatan pidana itu sendiri.
106

Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan..., op.cit., hlm. 78

5. Larangan-larangan hukum pidana jangan mengundang sifat lebih berbahaya daripada perbuatan-perbuatan yang akan dicegah. 6. Hukum pidana jangan memuat larangan-larangan yang tidak mendapat dukungan kuat dari publik. Masalah sentral yang kedua dari penanggulangan dengan penal adalah masalah penjatuhan sanksi/pemidanaan. Konsep pemidanaan yang berorientasi pada orang (konsep pemidanaan individual/personal) lebih mengutamakan filsafat pembinaan/perawatan si pelaku kejahatan (the treatment of effenders) yang melahirkan pendekatan humanistik, ide individualisasi. Pidana dan tujuan pemidanaan yang berorientasi pada perbaikan si pembuat (yaitu tujuan regabilitasi, rekomendasi, reeduksi, resosialisasi, readaptasi, sosial, reintegrasi sosial, dan sebagainya)107. Penanggulangan kejahatan dengan jalur non penal lebih menitikberatkan pada sifat-sifat preventive (pencegahan/penangkalan/ pengendalian) sebelum kejahatan terjadi namun walaupun demikian sebenarnya penanggulangan dengan penal juga merupakan tindakan represif pada hakikatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas. Sasaran utama dari penanggulangan non penal adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif tersebut antara lain berpusat pada masalahmasalah/kondisi-kondisi sosial secara langsung/tidak langsung dapat menimbulkan/menumbuh suburkan kejahatan. Dengan demikian dilihat dari sudut politik kriminal secara makro dan global, maka upaya non-penal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan upaya politik kriminal108. Sebab-sebab dan kondisi yang menimbulkan kejahatan, ditegaskan pula dalam berbagai kongres PBB mengenai The Prevention Of Crime And The Treatment Of Offenders, salah satu hasil kongres tersebut menyebutkan109: a. Bahwa masalah kejahatan merintangi kemajuan untuk pencapaian kualitas lingkungan hidup yang layak/pantas bagi semua orang.

107 108

Ibid., hlm. 76 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan..., op.cit., hlm. 42-54 109 Ibid., hlm. 43

b. Bahwa strategis pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan. c. Penyebab utama dari kejahatan dibanyak negara ialah ketimpangan sosial, diskriminasi ras dan diskriminasi nasional, standard hidup yang rendah pengangguran dan kebutahurufan (kebodohan) diantara golongan besar penduduk. Salah satu aspek kebijakan sosial yang tidak kalah patut mendapat perhatian ialah penggarapan masalah kesehatan jiwa masyarakat (social hygiene), baik secara individu sebagai anggota masyarakat maupun kesehatan/kesejahteraan keluarga (termasuk masalah kesejahteraan anak dan remaja).110 Jadi beberapa masalah kesehatan dan kondisi sosial yang dapat merupakan faktor kondusif penyebab timbulnya kejahatan, jelas merupakan masalah yang tidak dapat diatasi semata-mata dengan penal dan disiniah keterbatasan jalur penal, dan oleh karena itu harus ditunjang oleh jalur non penal. Jadi dalam mewujudkan suatu kebijakan kriminal yang integral dibutuh upaya penanggulangan kejahatan baik dari jalur penal maupun non penal. Dalam hal perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang selama ini juga mengalami kendala dalam penegakan hukumnya terutama pada massa yang tidak terorganisir yang kadang-kadang melakukan perbuatan pidana yang lebih agresif dibandingkan massa yang terorganisir dilakukan dengan pendekatan kebijakan yang terarah preventif, berupa melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang hukum.memghilangkan kebijakan-kebijakan yang berbau controversial yang bisa memicu reaksi massa yang berlebihan dan tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas pendidikan yang layak dan optimalisasi peran para pemuka agama, sehingga tercipta masyarakat yang tidak hanya sehat jasmani tetapi juga sehat rohani. Namun sekali lagi fenomena perbuatan pidana yang dilakukan secara massal harus membutuhkan analisis dan pendapat dari pihak tertentu yang benar-benar ahli dalam memahami masalah tersebut, serta memahami apa yang sebenarnya terjadi. sehingga paham bentuk apa yang seharusnya dan tidak seharusnya
110

Ibid., hlm. 47

dilakukan, demikian yang diungkapkan oleh Satjipto Rahardjo, dan juga kasus perbuatan pidana massa ini sifatnya kauistik, sehingga tidak dapat generalisasikan model-model penanggulangannya baik yang dilakukan secara penal maupun non penal.

3. Perbuatan Pidana yang dilakukan Secara Massal ditinjau dari Hukum Islam. Istilah perbuatan pidana dalam hukum Islam disebut dengan jarimah yaitu larangan-larangan syaraa yang diancamkan oleh Allah dengan hukuman had/tazir. Larangan tersebut ada kalanya mengerjakan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Dengan demikian syaraa pada pengertian tersebut di atas, yang dimaksud ialah sah yang dianggap jarimah dan dilarang oleh syara, juga berbuat dan tidak berbuat dianggap jarimah, kecuali apabila diancamkan hukuman terhadapnya111. Para fuqaha sering memakai kata-kata jinayah untuk jarimah yang mana dibataskan pada perbuatan yang dilarang saja, pengertian jinayah dikalangan fuqaha adalah perbuatan yang dilarang oleh syara baik perbuatan itu mengenai (merugikan) jiwa/harta benda, ataupun yang lainnya. Kata jarimah kebanyakan digunakan untuk perbuatan yang mengenai jiwa orang atau anggota badan, seperti membunuh, melukai, memukul dan lain-lain. Dengan mendasarkan pengertian jarimah di atas bagi kalangan fuqaha tidak bermasalah karena kata-kata jinayah dalam istilah fuqaha sama dengan kata-kata jarimah112. Jadi dalam tulisan ini istilah perbuatan pidana dalam hukum pidana Islam disebut dengan jarimah. Dalam hukum pidana Islam perbuatan dikatakan sebagai jarimah harus memenuhi 2 unsur yaitu113 : 1. Unsur umum, dimana satu macamnya berlaku pada semua jarimah, adapun unsur-unsur tersebut adalah :

111 112

Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana, Ctk. Kedua, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, hlm. 9 Ibid 113 Ibid., hlm. 14-15

a. Nas yang melarang perbuatan dan mengancamkan hukuman terhadapnya dan unsur ini biasa disebut unsur formil (Rukun Syari) b. Adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan-perbuatan nyata ataupun sikap tidak berbuat dan unsur ini biasa disebut unsur materiel (Rukun Maddi). c. Pembuat adalah mukallaf, yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap jarimah yang diperbuatnya dan unsur ini biasa disebut unsur formil (Rukun Adabi). 2. Unsur khusus, ditemukan pada tiap-tiap jarimah dan berbeda-beda, bilangan dan macamnya menurut perbedaan jarimah. Alasan yang mendorong sesuatu perbuatan sebagai jarimah dalam hukum pidana Islam bertujuan (menurut para ahli hukum Islam diklasifikasikan tujuan-tujuan yang luas dari syariat) 114: 1. Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup merupakan tujuan pertama dan utama dari syariat, dan bagi manusia hal ini penting dan tidak bisa dipisahkan. Apabila kebutuhankebutuhan ini tidak terjamin, akan terjadi kekacauan dan ketidaktertiban dimana-mana kelima kebutuhan hidup primer ini (dharuriyat) dalam kepustakaan hukum Islam disebut dengan istilah al-maqasd al-khamah, yaitu : agama, jiwa, akal pikiran, keturunan, dan hak milik. 2. Menjamin keperluan hidup (keperluan sekunder) atau disebut hajiyat. Hal ini mencakup berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggung jawab mereka. Ketiadaan fasilitas tersebut mungkin tidak menyebabkan kekacauan dan ketidaktertiban
114

Topo Santoso, Membumikan Hukum Islam (Penegakkan Syariat Islam), Ctk. Pertama, Gema Insani Press, 2003, hlm. 19

akan tetapi menambah kesulitan bagi masyarakat, dan hal ini bertujuan untuk menyingkirkan kesulitan masyarakat tersebut. 3. Membuat berbagai perbaikan, yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan mengatur urusan hidup lebih baik (keperluan tersier) atau fahsinat ini mencakup hal-hal yang apabila tidak dimiliki akan membuat hidup tidak menyenangkan bagi para intelektual. Dalam hal ini mencakup arti kebijakan (virtues), cara-cara yang baik (good manner), dan setiap hal yang melengkapi peningkatan cara hidup. Selanjutnya, pembagian jarimah dapat dilihat dari berbagai segi, tetapi dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan pembagian jarimah dari sisi berat ringannya hukuman, yang terbagi menjadi 3 : 1. Kejahatan hudud adalah kejahatan yang paling serius dan berat dalam hukum pidana islam, yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan hak Allah dan hukumannya ditentukan oleh Allah, yang tergolong kejahatan ini adalah riddah (murtad), al-baghi (pemberontak), zina, Qadzaf (tuduhan palsu zina), sariqah (pencurian), Hirabah (perampokan), dan Shurb alkhamar (meminum khamar). 2. Kejahatan Qishash sasarannya adalah integritas tubuh manusia, sengaja atau tidak sengaja yang dikenal dalam hukum modern sebagai kejahatan manusia atau crime against persons, yang tergolong kejahatan ini adalah: pembunuhan dengan sengaja, pembunuhan menyerupai sengaja, pembunuhan karena kealpaan, penganiayaan, menimbulkan luka atau sakit karena kelalaian. 3. Kejahatan tazir yaitu landasan dan penentuan hukumnya didasarkan pada ijma (konsensus) berkaitan dengan hak Negara muslim untuk melakukan kriminalisasi dan menghukum semua perbuatan yang tidak pantas, yang

menyebabkan kerugian/kerusakan fisik, sosial, politik, financial, dan moral bagi individu atau masyarakat secara keseluruhan. Dengan melihat uraian tentang berbagai bentuk perbuatan yang dipandang sebagai jarimah dan unsur-unsurnya maka dengan mengacu pada penjelasan tersebut terkait dengan perumusan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal menurut hukum Islam. Dalam menguraikan pengertian tersebut maka akan dijelaskan hal-hal yang mencakup yaitu tentang subyek dari perbuatan tersebut, bentuk perbuatannya dan yang terakhir adalah sistem pertanggungjawaban pelaku menurut hukum pidana Islam terhadap perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hukum pidana Islam dapat dijelaskan dengan menggunakan teori penyertaan, yang sama halnya dengan penjelasan dalam hukum positif. Suatu jarimah ada kalanya dibuat oleh seorang diri atau adakalanya oleh beberapa orang, dan apabila diperbuat oleh beberapa orang, maka bentuk-bentuk kerjasama diantara mereka tidak lebih dari empat 115: 1. Pembuat melakukan jarimah bersama-sama orang lain (memberikan bagiannya dalam melaksanakan jarimah), artinya secara kebetulan melakukan bersama-sama. 2. Pembuat mengadakan persepakatan dengan orang lain untuk melaksanakan jarimah. 3. Pembuat menghasut (menyuruh) orang lain untuk memperkuat jarimah. 4. Memberikan bantuan/kesempatan untuk dilakukannya jarimah, dengan berbagai cara, tanpa turut berbuat. Dalam hukum pidana Islam, para fuqaha membedakan pernyertaan ini dalam dua bagian, yaitu : Turut berbuat langsung (isytirak-mubasyir) orang yang melakukannya disebut syarik mubasyir dan turut berbuat tidak langsung (isytirak ghariul mubasyir/isytirak bit-tasabbubi), orang yang melakukannya disebut syarik mutasabbib.116
115 116

Ibid., hlm. 153 Topo Sasanto, Menggas Hukum Pidana Islam..., hlm. 154

Untuk lebih jelasnya tentang pengertian jarimah turut berbuat langsung dan turut berbuat tidak langsung akan dipaparkan berikut ini : 1. Turut berbuat langsung Pada dasarnya turut berbuat langsung baru terdapat apabila orang-orang yang memperbuat jarimah-jarimah dengan nyata lebih dari seorang atau yang biasa disebut dikalangan sarjana-sarjana hukum positif dengan nama berbilangnya pembuat asli (made-daders).117 Menurut para fuqaha turut berbuat langsung dalam melakukan jarimah ada 2 bentuk yang diambil dari bentuk-bentuk pernyertaan yaitu : a. Orang yang berbuat sendirian/bersama-sama orang lain atau dalam hukum positif disebut dengan turut serta (madedaders). Jika masing-masing dari 3 orang mengarahkan tembakan kepada korban dan mati karena tembakan itu, maka masingmasing dari 3 orang tersebut dianggap melakukan pembunuhan. Para fuqaha mengadakan pemisahan apakah kerjasama dalam mewujudkan tindak pidana terjadi secara kebetulan (tawafuq), atau memang sudah direncanakan bersama-sama sebelumnya (tamalu). Pada yang pertama yaitu tawafuq para peserta berbuat karena dorongan pribadinya dan pikirannya yang timbul dalam seketika itu,118 dan hal ini dapat dipersamakan dengan tindak pidana yang dilakukan secara massal, dimana massal yang berbuat terbentuk tidak secara terorganisir untuk melakukan perbuatan pidana. Seperti yang sering terjadi pada kerusuhan dalam demonstrasi atau perkelahian secara keroyokan yang pelakunya lebih dari satu (massal) yang sering terjadi akhir-akhir ini seperti halnya kasus di Papua yaitu penyerangan mahasiswa terhadap aparat kepolisian berupa pengeroyokan yang mengakibatkan kematian, dan hal tersebut dilakukan atas nama dari pribadinya sendiri, tanggung jawab tawafuq ini menurut kebanyakan fuqaha terbatas pada perbuatannya saja, tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukan peserta lain.119
117 118

Ibid, hlm. 157 Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam..., op.cit. hlm. 155 119 Topo Sasanto, Mengagas Hukum Pidana Islam..., hlm. 154

Untuk bentuk yang kedua yaitu tamalu para peserta telah bersepakat untuk berbuat sesuatu tindak pidana dan menginginkan bersama terwujudnya hasil tindak pidana itu, serta saling membantu dalam pelaksanaannya, adapun bentuk pertanggungjawaban pidana untuk tamalu dimana para peserta harus bertanggungjawab atas perbuatannya secara keseluruhan.120 Bentuk tamalu dapat dipersamakan dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir. b. Juga dipandang sebagai turut berbuat langsung adalah peserta yang menjadi sebab (tidak langsung), apabila pembuat langsung hanya menjadi kaki tangannya semata-mata121. atau apabila si pembuat langsung hanya menjadi alat atau instrumen saja dari orang yang menyuruh, misal A (30 tahun) hendak mencuri barang E (20 tahun) tetapi menyuruh B (6 tahun) untuk mengambil barang tersebut, maka orang yang menyuruh itu dipandang sebagai pembuat langsung.122. Dalam hukum positif bentuk ini dinamakan doen pleger atau menyuruh lakukan yang pelaku/orang yang disuruh tidak dapat diminta pertanggungjawabannya karena adanya alasan penghapusan pidana yang ada pada di orang yang disuruh (aktor materialis). Pada bentuk ini apabila dikontekskan dengan rumusan dari defenisi perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tidak memperoleh keseragaman, karena walaupun pada bentuk ini terdapat lebih dari satu orang pelaku tetapi yang hanya dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya hanya satu orang yaitu yang menyuruh lakukan. Sedangkan apabila disesuaikan dengan rumusan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal disana dinyatakan bahwa secara langsung maupun tidak langsung, baik direncanakan maupun tidak direncakan telah terjalin kerjasama, baik hal tersebut dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, pernyataan
120 121

Ibid., hlm. 154-155 Ibid., hlm. 155 122 Topo Sasanto, Mengagas Hukum Pidana Islam..., hlm. 155

tersebut dimaksudkan adalah bahwa kesemua rangkaian perbuatan pidana yang dilakukan secara massal adalah bersifat kolektif, jadi tidak mungkin adanya kerjasama apabila adanya paksaan. Berkaitan dengan dua bentuk perbedaan yang telah dipaparkan di atas, pada dasarnya menurut syariat Islam banyak sedikitnya peserta tindak pidana tidak mempengaruhi besarnya hukuman, meskipun masing-masing peserta bisa terpengaruh oleh keadaan dirinya sendiri-sendiri (dan ini tidak dapat dinikmati oleh peserta lain), misalnya dalam suatu tindak pidana, bisa terjadi salah satu peserta melakukan perbuatannya karena membela diri, karena gila, karena salah sangka, sementara hal itu tidak ada pada peserta lain, maka hukuman yang akan dijatuhkan pun tidak sama.123 2. Turut berbuat tidak langsung Yang dimaksud dengan turut berbuat tidak langsung ialah setiap yang mengadakan perjanjian dengan orang lain untuk melakukan sesuatu perbuatan yang dapat dihukum atau menyuruh (menghasut) orang lain/memberikan bantuan dalam perbuatan tersebut dengan disertai kesengajaan dalam persepakatan dan menyuruh serta memberi bantuan 124 Berdasarkan keterangan tersebut maka unsur-unsur dari turut berbuat tidak langsung, yaitu125 : a. Perbuatan yang dapat dihukum jarimah, yaitu dimana kawan berbuat tidak langsung memberikan bagian dalam pelaksanaannya, tidak diperlukan harus selesai dan juga tidak diperlukan bahwa pembuat asli (pembuat langsung harus dihukum pula contoh pada jarimah percobaan dimana kawan berbuat tidak langsung dapat pula dihukum). b. Niatan dari orang yang turut berbuat, agar sikapnya atau perbuatan yang dimaksudkan dapat terjadi. Dengan persepakatan atau hasutan atau bantuan, dimaksudkan oleh

123 124

Hanafi, op.cit., hlm. 142 Ibid., hlm. 163 125 Ibid

kawan berbuat tidak langsung untuk terjadinya sesuatu jarimah tertentu. Kalau tidak ada jarimah tertentu yang dimaksudkan, maka dianggap turut berbuat pada setiap jarimah yang terjadi, apabila dimungkinkan oleh niatnya, dan apabila jarimah yang terjadi bukan yang dimaksudkannya, maka tidak ada turut berbuat meskipun karena persepakatan dan lain-lain itu sendiri ia bisa dijatuhi hukuman. c. Cara mewujudkan perbuatan tersebut yaitu mengadakan persepakatan, atau menyuruh, atau membantu126. 1) Persepakatan Persepakatan bisa terjadi karena adanya saling memahami dan karena kesamaan kehendak untuk memperkuat jarimah, kalau tidak ada persepakatan sebelumnya, maka tidak ada turut berbuat. Jika tidak ada turut berbuat kalau sudah ada persepakatan sebelumnya, tetapi bukan atas jarimah yang terjadi dan dikerjakan bersama. 2) Menyuruh (menghasut, tahrid) Menghasut ialah membujuk orang lain untuk berbuat jarimah, dan membujuk menjadi pendorong diperbuatnya jarimah. Apabila pembuat memang sudah punya niat sebelumnya akan membuat jarimah, maka bujukan tersebut tidak dikatakan sebagai pendorongnya, dalam hal bertujuan tersebut bisa menjadi pendorong/tidak untuk dilakukannya jarimah, yang pasti bujukan tersebut adalah suatu maksiat yang bisa dijatuhi hukuman. 3) Memberi bantuan Orang yang memberi bantuan kepada orang lain dalam memperbuat jarimah dianggap sebagai kawan berbuat tidak langsung meskipun ada persepakatan sebelumnya, seperti berjaga-jaga untuk memudahkan pencurian. Perbedaan pembuat asli dan pemberi bantuan adalah pembuat asli (mubasyir) adalah orang yang memperbuat/mencoba memperbuat yang dilarang, maka pemberi bantuan tidak berbuat/mencoba berbuat melainkan hanya menolong pembuat asli dengan perbantuan-perbantuan yang tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan yang dilarang ataupun sebagai pelaksana terhadap perbuatan
126

Ibid., hlm. 163-166

tersebut. Apabila dikontekskan dengan hukum positif maka turut berbuat tidak langsung dikategorikan pada bentuk penyertaan penganjuran (uitlokker) dan pembantuan (medeplictihed). Pada kesemua bentuk ini para pelaku dapat dimintalkan pertanggungjawabannya sesuai dengan kapasitas perbuatan yang dilakukan, dan hal ini bersesuaian dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Apabila turut berbuat tidak langsung dikaitkan dengan pengklasifikasian kejahatan, maka dalam hal jarimah hudud dan qisas hanya dapat diberlakukan bagi turut berbuat langsung karena pada umumnya hukuman yang telah ditentukan jumlahnya itu sangat erat, dan tidak berbuat langsungnya peserta merupakan syubhat yang bisa menghindarkan hadd, dan juga karena pembuat langsung lebih berbahaya daripada pembuat tidak langsung, tetapi bagi turut berbuat dalam jarimah qisas dan hudud dik da jarimah tazir tidak ada pembedaan hukuman antara pembuat langsung dan pembuat tidak langsung sebab keduanya diancam dengan pidana yang sama yaitu tazir127. Lain halnya apabila pada jarimah tazir tidak ada pembedaan hukuman antara pembuat langsung dan pembuat tidak langsung sebab keduanya diancam dengan pidana yang sama yaitu tazir128. Dalam hal sistem pertanggungjawaban diantara turut berbuat langsung dan turut berbuat tidak langsung menurut Abu Hanifah hukumannya sama, yaitu masingmasing peserta hanya bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Tapi dalam hal ini syariat Islam dalam persoalan turut berbuat langsung sama dengan pendiriannya mengenai soal jarimah percobaan, yakni menghukum berdasarkan niatan si pembuat, dan pendirian tersebut sama dengan pendirian aliran subyektif yang banyak dipakai pada hukum positif modern diantaranya hukum pidana RPA129 . Berdasarkan penjelasan tentang penyertaan menurut hukum pidana Islam, maka perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hal ini dipergunakan rumusan tersebut yang telah jelas menyebutkan tentang kuantitas dan kualitas
127 128

Topo Sasanto, Mengagas Hukum Pidana Islam..., hlm. 156-157 Topo Sasanto, Mengagas Hukum Pidana Islam..., hlm. 156-157 129 Hanafi, op.cit., hlm .158-159

pelaku tindak pidana dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dan sistem pertanggungjawabannya yang hampir sama penjelasannya dengan penyertaan dalam hukum positif Indonesia. Jadi dengan melihat pembahasan tentang perbuatan pidana yang dilakukan lebih dari satu orang pelaku atau dalam hukum positif dikenal dengan delik penyertaan, dalam hukum Islam hal ini dibagi menjadi dua bentuk yaitu turut berbuat langsung dan turut berbuat tidak langsung, yang pada intinya kedua bentuk penyertaan tersebut dapat dikategorikan pelaku perbuatan pidana yang dalam hal ini punya andil dalam melakukan suatu kejahatan. Dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang menjadi permasalahan bukan pada perbuatannya tapi pada pelaku atau subyek hukumnya yang lebih dari satu orang, dan hal ini dalam hukum Islam tidak menjadi suatu permasalahan karena telah diatur secara gamblang bagaimana kedudukan masingmasing pelaku antara satu dengan yang lainnya. Dalam hukum Islam yang dilihat bukan pada banyaknya orang yang melakukan perbuatan pidana, tetapi pada dasarnya menurut syariat Islam banyak sedikitnya peserta perbuatan pidana tidak mempengaruhi besarnya hukuman, tapi pada seberapa besar kontribusi yang diberikan pada saat melakukan perbuatan pidana. Satu hal yang perlu dipahami bahwa pada turut berbuat tidak langsung boleh dikatakan tidak bermasalah, karena hal ini disebabkan oleh aturan syariat Islam, hukuman yang telah ditentukan hanya dijatuhkan atas orang yang turut berbuat dengan langsung, bukan atas orang yang turut berbuat tidak langsung. Akan tetapi hal tersebut dikecualikan pada jarimah pembunuhan dan penganiayaan, dimana turut berbuat langsung dan turut berbuat tidak langsung dijatuhi hukuman, karena kedua jarimah tersebut bisa dikerjakan baik langsung maupun tidak langsung sesuai dengan sifat jarimah tersebut.130 Jadi dalam hal perbuatan pidana yang dilakukan secara massal untuk konteks hukum Islam tidak tergantung pada bagaimana bentuk atau ciri-ciri dari perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tersebut, tapi terfokus pada perbuatan apa

130

Hanafi, op.cit., hlm. 156

yang telah dilakukan seseorang maka sebesar itulah pertanggungjawaban yang harus diembannya. Berbicara masalah pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana Islam akan dipaparkan secara umum dalam tulisan ini sebagai perbandingan dengan hukum pidana Indonesia. Adapun hal-hal yang dipaparkan tidak lepas dari hal pokok yang menjadi unsur dapat dipertanggungjawabkannya perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.131 1. Adanya perbuatan yang dilarang Perbuatan yang dilarang (criminal conduct) mencakup semua unsur-unsur fisik dari kejahatan, tanpa unsur-unsur ini tidak terjadi kejahatan dan pertanggungjawaban pidana tidak ada karena pertanggungjawaban pidana mensyaratkan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang Undang-Undang dan perbuatan tersebut bisa dihasilkan dari suatu perbuatan aktif dan perbuatan (delik komisi) dan perbuatan pasif (delik omisi). Dalam hukum pidana Islam perbuatan yang dilarang dimana yang termasuk dalam jarimah hudud, jarimah qisas dan jarimah tazir (bisa ditetapkan perbuatan mana yang dilarang dan tidak oleh syara dan oleh penguasa atau negara). 2. Dikerjakan dengan kemauan sendiri Hal ini berkaitan dengan pertanggungjawaban secara personal dimana dinyatakan bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukannya dan tidak dibebankan atau digantikan kepada orang lain. 3. Pembuatnya mengetahui terhadap akibat perbuatan tersebut. Hal ini berkaitan dengan kemampuan bertanggung jawab dari subyek tindak pidana yaitu mampu secara fisik dan non fisik atau telah baliqh dan tidak gila serta dapat membedakan yang baik dan buruk dari perbuatan yang dilakukan. Dalam pertanggungjawaban berkaitan erat dengan kesalahan dimana kesalahan merupakan dasar dari pertanggungjawaban pidana dalam hukum positif. Kesalahan dibedakan menjadi 2 yaitu kesengajaan dan kealpaan. Pada dasarnya
131

Ibid., hlm. 156

pertanggungjawaban pidana dalam syariat Islam hanya dikenakan terhadap perbuatan sengaja dan yang diharamkan oleh syara serta tidak dikenakan terhadap kekeliruan/alpa. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 yang berbunyi : Dan tidak ada dosa atasmu apa yang kamu kerjakan karena keliru, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Akan tetapi syariat mengecualikan hal tersebut dimana dibolehkan dijatuhkan hukuman meskipun ada unsur kekeliruan, namun hal tersebut hanya berlaku pada tindak pidana hilangnya nyawa orang dan penganiayaan. Seseorang akan hapus pertanggungjawaban atas perbuatan pidana yang dilakukan apabila dalam diri terdapat alasan penghapusan pidana, dan hal ini pun terdapat dalam hukum Islam dimana alasan penghapusan pidana ini dibagi menjadi132 : 1. Alasan pembenar, yaitu dimana sifat melawan hukum dari suatu perbuatan akan hilang. Adapun alasan tersebut adalah : 1) Bela diri (legal depense) Menurut Islam seseorang berhak mempertahankan jiwa, harta, kehormatan dirinya dan orang lain. Jadi jika seseorang diserang orang lain untuk dibunuh, dan tidak ada jalan lain untuk membela diri kecuali membunuh pula maka ia tidak dipidana. Untuk hal itu ada syarat: adanya keseimbangan, dan tidak ada jalan lain. 2) Penggunaan hak Contohnya, seorang, ayah dalam mendidik anak sesuai ajaran Islam dapat memukul anaknya tanpa melampaui batas atau melukai jika cara persuasif dan baik-baik tidak diindahkan. 3) Menjalankan wewenang/kewajiban Jika seorang bertindak sesuai dengan wewenangnya maka ia dapat dibenarkan. Misalnya seorang polisi dapat menangkap orang atau menahannya. Juga seorang dokter yang mengoperasi pasiennya. 4) Dalam olah raga

132

Ibid., hlm. 172-173

Jika dalam suatu olah raga ada orang sakit atau luka-luka, dan hal itu timbul bukan karena melebihi batas-batas yang telah ditentukan, maka pembuatnya tidak dipidana. Lain halnya, jika ada unsur sengaja atau kelalaian. 2. Alasan pemaaf, yaitu dimana suatu tindakan tetap melawan hukumnya, namun si pembuat dimaafkan, adapun alasan-alasan tersebut adalah : 1) Kanak-kanak Seorang anak tidak akan dikenakan hukuman hadd karena kejahatan yang dilakukannya. Karena tidak ada tanggung jawab hukum atas seorang anak yang berusia berapa pun sampai dia mencapai usia puber. Namun hakim berhak menegur kesalahannya. Menurut suatu pendapat hukuman tazir dapat dijatuhkan dan dibuyarkan oleh kaumnya jika perbuatan itu dilakukan ketika berusia 7 tahunmasa puber, 2) Orang gila Seorang gila tak pernah dapat bertanggung jawab karena gila itu menghilangkan akalnya dan karena itu kemampuannya untuk membedakan yang baik dan buruk juga hilang. 3) Mabuk Jika seseorang mabuk hingga kesadarannya hilang, dan mabuk itu tidak dia sengaja, misalnya karena dipaksa, ditipu, kesalahan, atau karena konsumsi suatu obat tertentu, maka perbuatan pidana yang dia lakukan dapat dimaafkan. 4) Daya paksa Seandainya suatu kejahatan dilakukan dalam keadaan dipaksa tak akan ada tuntutan hukuman jika terbukti benar.

BAB III HUBUNGAN ANTAR PELAKU DALAM PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN DUA ORANG ATAU LEBIH

A. Subyek Hukum Pidana Subyek hukum adalah sesuatu yang mempunyai hak dan kewajiban menurut hukum (pendukung hak dan kewajiban, jadi memiliki wewenang hukum rechtsbevoegd)133. Adapun subyek hukum yang dikenal ada dua macam, yaitu: 1. Orang (person) 2. Korporasi Dalam hal subyek hukum orang dalam semua bentuk hukum baik bersifat hukum public maupun privat mengenal orang sebagai subyek hukumnya. Dalam hal ini hukum perdata dan hukum pidana. Tetapi khusus untuk subyek hukum korporasi dalam hukum pidana belum dikenal dan kodifikasi hukum kita yaitu KUHP.

133

Wiratmo, Pengantar Ilmu Hukum, Lukman Offet, Yogyakarta, 1979, hlm. 41

Menurut Bemmelen, menjelaskan bahwa wet boek van strafrecht de Nederland (selanjutnya WvSr Ned.) menjadi wet boek van starf vordering (WvSv), berlandaskan azas bahwa hanya hanya manusia yang dapat dituntut sebagai pembuat (dader) suatu delik. Adapun hal tersebut dapat dibuktikan134 : 1. Penjelasan Memorie van Toelichting (M.V.T) atas pasal 51 (= pasal 59 KUHP) 2. Cara perumusan delik yang mulai dengan Hijelie(untuk Indonesia Barang siapa) dan dimana perumusan pembuatnya mengharuskan adanya beberapa faktor pribadi pada diri pembuat; 3. Sistem pidana yang dianut khususnya pidana kehilangan kemerdekaan hanya dapat dijatuhkan pada manusia; 4. Tidak adanya prosedur khusus di dalam acara pidana untuk korporasi. Hal-hal tersebut di atas tentunya berlaku pula bagi KUHP Indonesia yang memang dasarnya diambil dari WvS Ned. pun sama dengan bunyi penjelasan pasal 59 KUHP yaitu: Dalam hal-hal dimana karena pelanggaran ditentukan pidana terhadap pengurus anggota-anggota bandan pengurus atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tindak pidana Seiring dengan perkembangan zaman sudah menjadi suatu kenyataan dewasa ini bahwa badan hukum/korporasi semakin memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam hukum ekonomi, dalam kaitan ini kadang kala korporasi terlibat dalam bentuk tindak pidana, sehingga timbul
134

Nanda Agung Dewantara, Kemampuan Hukum Pidana Dalam Menanggulangi Kejahatankejahatan Baru yang Berkembang Dalam Masyarkat, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1988, hlm. 93

persoalan tentang hal melakukan tindak pidana dan masalah pertanggungjawaban korporasi135. Dengan demikian secara factual ternyata korporasi sebagai subyek hukum pidana, dengan melihat kepada perkembangan masyarakat sudah dikenal, walaupun perkembangannya sebagai subyek hukum pidana belum begitu lama dikenal, sebagai contoh di Amerika korporasi diterima sebagai subyek hukum pidana sejak tahun 1909136. Berdasarkan realitas di atas terjadi pergeseran dalam doktrin hukum pidana, yaitu doktrin yang mewarnai WvS Belanda, dimana korporasi dikenal di negeri Belanda sejak tahun 1950, yaitu dalam pasal 15 Wet op de Economische Delicten (22 Juni 1950) dan dimasukkan dalam hukum pidana umum (commune strafrecht) sejak tanggal 1 September 1976.137 Sejak tanggal 1 September 1976 sifat dapat dipidananya korporasi sebagaimana diatur dalam bagian umum KUHP dianggap berlaku untuk keseluruhan sistem hukum pidana, pada saat yang sama semua peraturan lain yang secara langsung menetapkan korporasi sebagai pihak yang dapat dipidana juga dihapuskan, termasuk peraturan-peraturan yang menetapkan pengurus sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi.138 Kemudian di dalam KUHP Belanda diadakan perubahan dari Pasal 51 Sr yang kemudian memuat isi yang jauh berbeda dan berbunyi139:
135

Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung, 1991, hlm. 6 136 Ibid., hlm. 7 137 Ibid. 138 Jan Remmelink, Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Gramedia, Jakarta, 2003, hlm. 102 139 Muladi dan Dwidja Priyatno, op.cit., hlm. 20

1.

Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun oleh korporasi.

2.

Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi, penuntutan pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan (maatregelen) yang disediakan dalam perundang-undangan sepanjang berkenaan dengan korporasi dapat dijatuhkan. Dalam hal ini pengenaan sanksi dapat dilakukan terhadap a. b. Korporasi sendiri, atau Mereka yang secara factual memberikan perintah untuk melakukan

tindak pidana yang dimaksud, termasuk mereka yang secara factual memimpin pelaksaan tindak pidana dimaksud, atau c. Korporasi atau mereka yang disebut dalam butir b bersama-sama secara tanggung renteng. 3. Berkenaan dengan penerapan butir-butir sebelumnya, yang disamakan dengan korporasi: persekutuan bukan badan hukum, maatschap (persekutuan perdata), rederij (perusahaan perkapalan) dan doelvermogen (harta kekayaan yang dipisahkan demi pencapaian tujuan tertentu, social fund atau yayasan. Sedangkan subyek hukum korporasi dalam hukum pidana di Indonesia sudah mulai dikenal sejak tahun 1951, yaitu terdapat dalam Undang-undang Penimbunan Barang-barang dan mulai dikenal secara luas dalam Undang-undang Tindak Pidana Ekonomi (Pasal 15 ayat (1), Undang-undang Nomor 7 Drt Tahun 1855, juga kita temukan dalam Pasal 49 Undang-undang No. 9 Tahun 1976, Undang-undang Tindak Pidana Narkotika. Sehingga dengan demikian korporasi sebagai subyek hukum pidana di Indonesia hanya kita temukan dalam perundang-

undangan khusus di luar KUHP, yang merupakan pelengkap KUHP, sebab untuk Hukum Pidana Umum atau KUHP itu sendiri masih menganut subyek hukum pidana secara umum yaitu manusia (Pasal 59 KUHP)140. Penempatan korporasi sebagai subyek hukum pidana sampai sekarang masih menjadi permasalahan sehingga timbul sikap setuju/pro dan tidak setuju/kontra terhadap subyek hukum pidana korporasi. Terlepas dari pro dan kontra terhadap dapat dipertanggungjawabkannya korporasi dengan menempatkannya sebagai subyek hukum pidana menurut, dan kemungkinankemungkinan adanya pemidanaan terhadap persekutuan-persekutuan, didasarkan tidak saja atas pertimbangan-pertimbangan utilities melainkan pula atas dasardasar teoritis dibenarkan141. Dengan demikian maka sejak tahun 1951 hukum pidana di Indonesia menyangkut dua subyek hukum yaitu orang (person) dan korporasi, adapun penjelasan tentang pengertian dan bentuk-bentuk pertanggungjawaban dalam hukum pidana akan diuraikan satu persatu dalam bab ini.

1.

Orang Sebagai Subyek Hukum a. Pengertian Orang Dalam hukum perkataan orang (person) berarti pembawa hak dan kewajiban (rechtsrager) atau subyek di dalam hukum142, orang dianggap sebagai pendukung hak dan kewajiban (wewenang untuk bertindak hukum) atau subyek hukum mulai saat ia dilahirkan sampai ia meninggal dunia,

140 141

Ibid., hlm. 32 Ibid. 142 Wiratmo, op.cit., hlm. 41

malahan jika diperlukan kepentingannya maka berlakunya sebagai subyek hukum dapat dihitung mulai ia masih dalam kandungan asal saja ia dilahirkan hidup.143 Pada awalnya hukum hidup dan tumbuh dalam masyarakat dan diperlukan guna mengatur kehidupan masyarakat. Manusia sebagai makhluk individu (perorangan) mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, manusia lahir, hidup berkembang dan meninggal di dalam masyarakat.144 Hal ini sesuai dengan kodrat alam, manusia dimana-mana dan pada zaman apapun juga selalu hidup bersama, hidup berkelompok-kelompok, sekurang-kurangnya kehidupan bersama itu sendiri terdiri dari dua orang, suami istri ataupun ibu dan anaknya.145 Tiap-tiap manusia mempunyai keperluan sendiri-sendiri, seringkali keperluan itu searah serta berpadanan satu sama lain, sehingga dengan kerjasama tujuan manusia untuk memenuhi keperluan itu akan lebih mudah dan lekas tercapai. Tetapi acap kali pula kepentingan-kepentingan itu berlainan bahkan ada juga yang bertentangan, sehingga dapat menimbulkan pertikaian yang menggangu keserasian hidup bersama, dalam hal ini orang atau yang kuat menindas orang atau golongan yang lemah untuk menekankan kehendaknya.146

143 144

Ibid., hlm. 42 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Ctk. Kedelapan, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, hlm. 29 145 Ibid. 146 Ibid., hlm. 34

Diantara hukum yang mengatur kehidupan masyarakat adalah hukum pidana yang tujuan pokoknya diadakannya hukum pidana ialah untuk melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat sebagai suatu kelektivitiet dari perbuatan-perbuatan yang mengancamnya atau bahkan merugikannya baik datang dari perseorangan maupun sekelompok orang (suatu organisasi), berbagai kepentingan bersifat kemasyarakat tersebut antara lain ialah ketentraman, ketenangan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat.147 Oleh karena itu dalam hal ini orang merupakan subyek hukum khususnya dalam lapangan hukum pidana yang paling konkrit sifatnya, dan KUHP dibentuk dan ditujukan untuk mengatur kepentingan orang sebagai mana termaktub dalam pasal 59 KUHP, tapi karena terjadinya arus modernisasi, yang dulunya hanya manusia/orang sebagai subyek hukum pidana berkembang dari orang bertambah satu lagi yaitu dengan korporasi.

b. Pengaturan Orang sebagai Subyek Hukum Pidana dan Pertanggungjawabanya dalam Hukum Pidana 1). Pengaturan Orang sebagai Subyek Hukum Pidana Subyek orang dalam hukum pidana telah diatur dalam Pasal 59 KUHP, yang mana dulunya hukum pidana hanya mengenal satu subyek hukum. Sehubungan dengan kemampuan bertanggungjawab dimana setiap orang akan dimintakan pertanggungjawabannya di depan hukum atas apa yang telah dilakukan.
147

Abdul Kholiq, Hukum Pidana (Buku Panduan Kuliah), Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002, hlm. 15

Dalam hal ini tidak semua orang dapat menjadi subyek hukum pidana, karena yang hanya dapat menjadi subyek hukum adalah dengan syarat orang tersebut harus cakap dalam melakukan perbuatan hukum dengan pengertian lain mampu membedakan mana yang baik dan yang tidak baik. Ada beberapa golongan orang yang oleh hukum positif telah dinyatakan tidak cakap atau kurang cakap untuk bertindak sendiri dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum (mereka disebut handelingsonbekwaam) tetapi mereka harus diwakili dan dibantu orang lain. Mereka yang oleh hukum dinyatakan tidak cakap untuk melakukan sendiri perbuatan hukum ialah148: a. orang yang masih di bawah umur atau belum dewasa menurut undangundang, b. orang yang tidak sehat pikirannya (gila), pemabok dan pemboros, yakni mereka yang di bawah curatale (pengampuan). Jadi di luar daripada kedua hal tersebut di atas, maka setiap orang dapat/cakap melakukan perbuatan hukum serta dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Tapi dalam hal pertanggungjawaban terhadap perbuatan pidana untuk orang di bawah umur dan di bawah pengampuan tetap dapat dimintakan pertanggungjawabannya di depan hukum atas perbuatan yang dilakukan. Dalam KUHP ada hal-hal yang menyebabkan seseorang tidak dapat dipidana. Dalam teori hukum pidana biasanya alasan-alasan yang menghapuskan pidana dibeda-bedakan menjadi, diantaranya149:
148 149

C.S.T. Kansil, op.cit., hlm. 118 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Bina Aksara, 1987, hlm. 137

1. Alasan pembenar, yaitu alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan, sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwa lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar. 2. Alasan pemaaf, yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum jadi merupakan perbuatan pidana, tetapi dia tidak dipidana karena tidak mempunyai kesalahan. 3. Alasan penghapusan penuntutan, disini soalnya bukan ada alasan pembenar maupun alasan pemaaf, jadi tidak ada pikiran mengenai sifat perbuatan, tetapi pemerintah menganggap bahwa atas dasar utilitas/kemanfaatan kepada masyarakat, sebaliknya tidak diadakan penuntutan. Menurut M.V.T alasan-alasan penghapus pidana dibagi menjadi: 1. KUHP, 2. Alasan-alasan yang di luar batin terdakwa, yaitu Pasal 48, 49, 50, Alasan-alasan yang terdapat dalam batin terdakwa, yaitu Pasal 44

51 KUHP150. 2) Pertanggungjawaban Dalam hukum Pidana Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa ada beberapa ketentuan tertentu yang mengakibatkan seseorang dalam hal tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan pidana yang dilakukan dengan adanya ketentuan penghapusan pidana sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 44, 48, 49 ayat (1), 49 ayat (2), 50, 51 ayat (1) dan 51 ayat (2).
150

Ibid., hlm. 138

Pada waktu membicarakan pengertian perbuatan pidana telah dinyatakan bahwa perbuatan pidana hanya mengatur tentang perbuatan yang melawan hukum dan termaktub dalan peraturan perundang-undangan pidana, dan tidak dicampuradukan dengan pertanggungjawaban pidana. Perbuatan pidana hanya menunjuk pada dilarangnya perbuatan baik yang aktif maupun yang pasif diancam dengan pidana. Dalam hal apakah orang yang melakukan perbuatan pidana kemudian juga dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan dan undang-undang, tergantung dari soal apakah dalam melakukan perbuatan pidana ini dia mempunyai kesalahan atau tidak. Dikarenakan asas dalam pertanggung jawaban dalam hukum pidana ialah: Tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (Geen straf Zonder Schuld: Actus non facit reum nisi mens sir rea), azas ini tidak disebut dalam hukum tapi dalam hukum tidak tertulis berlaku.151 Dalam Khasanah keilmuan hukum pidana Indonesia dikenal dua bentuk kesalahan yaitu kesengajaan (dolus) dan kealpaan/lalai (culpa), di luar dari dua bentuk kesalahan ini yang merupakan hubungan batin dari pelaku dan perbuatannya, KUHP kita (dan kira-kira juga lain-lain Negara) tidak mengenal macam kesalahan lain. Adapun sikap batin yang berkaitan dengan perbuatan yang menimbulkan celaan akan dijelaskan satu persatu di bawah ini. 1. Kesengajaan (dolus) M.v.T dari WvSr memberikan penjelasan bahwa sengaja merupakan perbuatan yang dikehendaki dan diketahui, tidak lagi
151

Moeljatno, op.cit., hlm. 153

dirumuskan boos opzet/dolus molus, penjelasan arti sengaja tersebut untuk WvSr dengan sendirinya akan sama persoalannya dengan KUHP, seseorang yang berbuat sengaja itu harus dikehendaki apa yang diperbuat dan harus diketahui juga atas apa yang diperbuat, tidak termasuk perbuatan sengaja ialah suatu gerakkan yang ditimbulkan oleh reflek, gerakan tangkisan dan gerakan-gerakan lain yang tidak dikehendaki oleh kesadaran152. Terhadap masalah kesengajaan terdapat dua (2) teori yaitu153: a. Teori kehendak (Willstheorie). Teori ini diajarkan oleh Von Hippel (Jerman) dengan karangannya tentang Die Grenze von Vorzatz und Fahrlassigkeit 1903, menerangkan bahwa sengaja dalah kehendak untuk membuat suatu perbuatan dan kehendak untuk menimbulkan akibat dari perbuatan itu, dengan kata lain apabila dari seseorang melakukan perbuatan yang tertentu, tentu saja melakukannya itu hendak menimbulkan akibat tertentu pula, karena ia melakukan perbuatan itu justru dapat dikatakan bahwa ia menghendaki akibatnya, ataupun hal ihwal yang menyertai. Menurut teori kehendak ini adalah baik terhadap perbuatannya maupun terhadap akibat atau hal ikhwal yang menyertai, dapat dikehendaki oleh pembuat, sehingga kesengajaan si pembuat dapat ditujukan kepada perbuatan, akibat dan hal ikhwal yang menyertai b. Teori Pengetahuan (voorstellingstheorie).
152 153

Banbang Poernomo. op.cit., hlm. 155-156 Ibid.

Teori ini dapat juga dikatakan teori membayangkan/persangkaan. Teori ini diajarkan oleh Frank (Jerman) dengan karangannya tentang Vorstellung und Wille in der Modernen Doluslehre 1890 dan Ueber den Aufbau des schulsbegriffs 1907. Menerangkan bahwa tidaklah mungkin sesuatu akibat atau hal ikhwal yang menyerta itu dapat dikehendaki: dengan kata lain perebutannya memang dikehendaki akan tetapi akibat atau hal ikhwal yang menyertai itu tidak dapat dikatakan oleh pembuatnya tentu dapat dikehendakinya pula, karena manusia hanya dapat membayangkan atau menyangka terhadap akibat atau hal ikhwal yang menyertai. Menurut toeri pengetahuan/membayangkan/persangkaan bahwa akibat atau hal ikhwal yang menyertai itu tidak dapat dikehendaki oleh pembuat, sehingga kesengajaan si pembuat hanya dapat ditujukan kepada perbuatan saja. Jenis-jenis sengaja secara tradisional telah ditulis dipelbagai buku hukum pidana, secara tradisional dikenal tiga (3) jenis sengaja, yaitu154: Sengaja sebagai maksud Sengaja sebagai maksud adalah bentuk sengaja yang paling sedehana, maka pengertian sengaja menurut pendapat Vos, adalah yang menyatakan sengaja sebagai maksud apabila pembuat menghendaki akibat perbuatanya, ia tidak pernah melakukan perbuatannya apabila pembuat mengetahui bahwa akibat perbuatannya tidak akan terjadi.

154

Andi Hamzah, op.cit., hlm. 116-118

Sengaja dengan kesadaran tentang kepastian Sengaja dengan kesadaran kepastian adalah pembuat yakin bahwa akibat yang dimaksudkannya tidak akan dicapai tanpa terjadinya akibat yang tidak dimaksud, atau menurut teori kehendak, apabila pembuat juga menghendaki akibat atau hal-hal yang turut serta mempengaruhi terjadinya akibat yang lebuh dahulu telah dapat digambarkan sebagai suatu akibat yang tidak dapat dielakkan terjadinya, maka orang itu melakukan sengaja dengan kepastian terjadi. Sedangkan menurut teori membayangkan, apabila bayangan tentang akibat/hal-hal yang turut serta mempengaruhi terjadinya akibat yang tidak langsung dikehendaki tetapi juga tidak dapat dielakkan, maka orang itu melakukan sengaja dengan kepastian. Sebagai contoh: Thomah berlayar ke Sou Thamton dan meminta asuransi yang sangat tinggi, disana ia memasang dinamit supaya kapal tersebut tenggelam dilaut lepas, motifnya ialah menerima uang asuransi. Kesengajaan adalah menenggelamkan kapal, jika orang yang berlayar dengan kapal itu mati tenggelam maka itu adalah sengaja dengan kepastian. a. Sengaja dengan kesadaran kemungkinan sekali terjadi/sengaja

bersyarat/dolus evantualis Menurut Hazewinkel-Suringa sengaja dengan kesadaran kemungkinan sekali terjadi, ialah terjadi jika pembuat tetap melakukan yang dikehendakinya walaupun ada kemungkinan akibat lain yang sama

sekali tidak diinginkannya terjadi, jika walaupun akibat (yang sama sekali tidak diinginkan) itu diinginkan dari pada menghentikan perbuatannya, maka terjadi pula kesengajaan. Sengaja dengan kesadaran kemungkinan dikenal juga sebagai in kauf nehman (op den koop toe nemen) atau diterjemahkan dengan teori apa boleh buat sebab kalau resiko yang diketahui kemungkinan akan adanya itu sungguh-sungguh timbul (disamping hal yang maksud), apa boleh buat, dia juga berani juga pikul resiko-resiko155. Jadi menurut teori ini untuk adanya kesengajaan diperlukan dua (2) syarat156: 1. Terdakwa mengetahui kemungkinan adanya akibat/keadaan

yang merupakan delik, dibuktikan dari kecerdasan pikirannya yang dapat disimpulkan antara lain dari pengalaman, pendidikan/lapisan masyarakat dimana terdakwa hidup 2. Sikapnya terhadap kemungkinan itu andaikata timbul, ialah

apa bole buat, dapat disetujui atau berani pikul resikonya, dapat dibuktikan dari ucapan-ucapan terdakwa di sekitar perbuatan, tidak mengadakan usaha untuk mencegah akibat yang tidak diingini. 2. Kelalaian/kealpaan (culpa) Undang-undang tidak memberikan defenisi apakah kelalaian itu, hanya memori penjelasan (M.v.T) mengatakan bahwa kelalaian (culpa) terletak antar sengaja dan kebetulan, bagaimanapun juga culpa dipandang
155 156

Moeljatno, op.cit., hlm. 175 Moeljatno, op.cit., hlm. 175-176

lebih ringan dibanding dengan sengaja, oleh karena itu menurut Hazewinkel-Suringa mengatakan bahwa delik culpa, culpa itu merupakan delik semu (quasideliet) sehingga diadakan pengurangan pidana157. Di samping itu sejarah perundang-undang yang (Memorie van Toelichting), yang memandang culpa sebagai pengecualian dolus sebagai tindakan yang lebih umum, mengajukan argument untuk menerima unsur kesalahan sebagai bagian dari rumusan delik dengan alasan bahwa tanpa adanya kesengajaan, kepentingan menjamin keamanan orang maupun barang dapat terancam oleh ketidak hati-hatian orang lain, akibat ketidak hati-hatian tersebut orang lain bisa saja menderita kerugian besar yang tidak dapat diperbaikai, sehingga (ancaman) pidana dianggap layak dikenakan padanya158. Pada intinya culpa mencakup (cermat) berpikir, kurang pengetahuan atau kurang terarah, dan ihwal culpa disini jelas merujuk kepada kemampuan psikis seseorang dan karena itu dapat dikatakan bahwa culpa berari tidak atau kurang menduga secara nyata (terlebih dahulu kemungkinan munculnya) akibat fatal dari tindakan orang tersebut padahal itu mudah dilakukan dan karena itu seharusnya dilakukan159. Culpa tidak hanya muncul sebagai elemen kesalahan dalam delikdelik omisi, tapi juga dalam delik-delik (komisi) biasa lainnya, kadang kala dalam ketentuan Pasal 359 dan 360 KUHP, soal perbuatan tidak disinggung, sehingga mengimplikasikan bahwa beragam tindakan
157 158

Andi Hamzah, op.cit., hlm. 125 Jan remmelink, op.cit., hlm. 175 159 Ibid., hlm. 177

tercakup di dalamnya, Kesamaannya dengan delik omisi sekalipun hanya dalam hubungan kondisi fisik dengan tindakan, adalah bahwa keduanya menyangkut tindakan membiarkan (tidak berbuat). Juga dalam hal culpa untuk delik (komisi) biasa, kemampuan psikis seseorang tidak digunakan, padahal kemampuan tersebut seharunya digunakan160. Dalam perspektif teori culpa dibagi menjadi dua (2), yaitu161: a. Culpa yang disadari, ialah pembuat sama

sekali tidak menghendaki akibat/keadaan yang berhubungan dengan itu, ia melakukan perbuatan dengan kesadaran dapat menghindarinya. Sebagai contoh: A melarikan mobil dengan kecepatan 50 KM perjam, ia melihat banyak orang menyeberang jalan disana-sini, tetapi kecepatan tidak dikurangi karena ia yakin akan kemampuan menyetir dan rem mobilnya yang baik, dan merasa dapat menghindari tabrakan kepada penyeberang jalan. Tapi tiba-tiba ada pejalan kaki yang menyeberang kemudian ia refleks membanting stir ke belakang dan penyeberang ragu-ragu akhirnya terjadilah tabrakan. Culpa disadari memiliki kesamaan dengan sengaja kemungkinan (sengaja bersyarat) pembuat dapat melihat kedepan kemungkinan akibat perbuatannya. Tapi perbedaannya adalah apabila akibat telah terjadi culpa disadari menyesali perbuatannya, sedangkan sengaja kemungkinan tidak menyesali perbuatannya dan pasrah sehingga dikatakan teori apa boleh buat.
160 161

Ibid. Moeljatno, op.cit., hlm. 210-204

b.

Culpa yang tidak disadari, ialah pelaku tidak

memiliki dugaan/pikiran bahwa perbuatannya dapat menimbulkan akibat tertentu yang dilarang hukum. Sedangkan delik culpa ini dalam rumusan undang-undang ada dua (2) macam, yaitu delik kelalaian yang menimbulkan akibat (culpose gevolgsmisdrijven) dan yang tidak menimbulkan akibat, tapi yang diancam dengan pidana ialah perbuatan ketidak hati-hatian itu sendiri, perbedaan antara keduanya sangat mudah dipahami yaitu kelalian yang menimbulkan akibat dengan terjadinya akibat itu maka diciptalah delik kelalaian, sedangkan bagi yang tidak perlu menimbulkan akibat dengan kelalaian/kurang kehati-hatian itu sendiri sudah diancam dengan pidana162. Syarat-syarat elemen yang harus ada dalam delik kealpaan yaitu menurut van Hamel, yaitu163: a. Tidak mengadakan praduga-praduga sebagaimana diharuskan oleh hukum, adapun hal ini menunjuk kepada: 1. Terdakwa berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena perbuatannya, padahal pandangan itu kemudian tidak benar. Kekeliruan terletak pada salah piker/pandang yang seharusnya disingkirkan. 2. Terdakwa sama sekali tidak punya pikiran bahwa akibat yang dilarang mungkin timbul karena perbuatannya. Kekeliruan

162 163

Ibid. Van Hamel dalam Bambang Poenomo, op.cit., hlm. 174

terletak pada tidak mempunyai pikiran sama sekali bahwa akibat mungkin akan timbul hal mana sikap berbahaya. b. Tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana diharuskan oleh hukum, mengenai hal ini menunjuk pada tidak mengadakan penelitian kebijaksanaan, kemahiran/usaha pencegah yang ternyata dalam keadaan yang tertentu/dalam caranya melakukan perbuatan. Tidak mengadakan penghati-hati ini, menjadi pusat penghatiannya adalah penilaian tentang apa yang dilakukan oleh pembuatan, bahwa apa yang diperbuat itu cocok dengan penginsyafan batin terdakwa terhadap aturan-aturan hukum. Kesengajaan dan kealpaan itu sama, sama dalam arti: di dalam lapangan hukum pidana kealpaan itu mempunyai pengertian yang khusus sebagaimana yang dinyatakan oleh Langemayer yang menyatakan: kealpaan adalah suatu struktur yang gecompliceerd, dia mengandung dalam suatu pihak kekeliruan dalam perbuatan lahir dan menunjuk pada adanya keadaan batin yang tertentu dan dilain pihak keadaan batinnya yang tertentu dan dilain pihak keadaan batinnya itu sendiri, dimengerti demikian maka culpa mencakup semua makna kesalahan dalam arti luas yang berupa kesengajaan164. Beda kesengajaan dengan kealpaan ialah bahwa dalm kesengajaan ada sifat yang positif yaitu adanya kehendak dan persetujuan disadari dari pada bagian-bagian delik yang meliputi oleh kesengajaan, oleh karena itu dapat dimengerti bahwa dipakai istilah yang sama untuk kesalahan dalam
164

Moeljatno, op.cit., hlm. 200

arti yang luas dan kesalahan dalam arti yang sempit meskipun ini tidak praktis165.

2. Korporasi Sebagai Subyek Hukum a. Pengertian Korporasi Berbicara masalah korporasi, maka kita tidak bisa melepaskan pengertian tersebut dari bidang hukum perdata, karena Badan hukum (korporasi) itu merupakan konsep dari stelsel hukum perdata dan korporasi merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan badan hukum (rechtspersoon) dan badan hukum itu sendiri merupakan kriminologi yang erat kaitannya dengan bidang hukum perdata166. Korporasi merupakan istilah yang biasa digunakan oleh para ahli hukum pidana dan kriminologi untuk menyebut badan hukum (rechtspersoon), legal body atau legal person. Secara etimologis tentang kata korporasi (corporatie, Belanda) corporation (Inggris), korporation (Jerman) berasal dari kata Corporation dalam bahasa latin seperti halnya dengan kata-kata lain yang berakhiran dengan tio, maka corporation sebagai kata benda (substantium), berasal dari kata kata kerja corporate, yang banyak dipakai orang pada jaman abad pertengahan/sesudah itu. Corporate sendiri berasal dari kata corpus (Indonesia = badan) yang berarti memberikan badan atau membadankan dengan demikian maka corporation itu berarti hasil dari pekerjaan membadankan, dengan lain
165 166

Ibid., hlm. 201 Muladi dan Dwija Priyatno, op.cit., hlm. 12

perkataan badan yang dijadikan orang badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam167. Dalam penjelasan sebelumnya tentang subyek hukum telah dinyatakan bahwa korporasi merupakan subyek hukum yang baru diatur dalam hukum pidana Indonesia, itupun tidak dicantumkan dalam KUHP tetapi rumusan tersebut terdapat di luar (Undang-Undang) KUHP. Korporasi dalam hal ini sebelumnya merupakan konsep subyek hukum yang terdapat dalam hukum pidana kemudian konsep ini tumbuh subur hingga pada akhirnya bidangbidang hukum lain di luar stelsel hukum perdata sulit untuk tidak memperhatikan eksistensi badan hukum tersebut yang dalam hal ini termasuk hukum pidana168. Korporasi dikarena berasal dari atau merupakan konsep hukum perdata maka sebelumnya pengertian korporasi masih berkisar pada lingkup perekonomian, adapun pengertian lain dari korporasi adalah 169: 1. Menurut Utrech/Moh. Soleh Djintong tentang

korporasi ialah surat gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai suatu subyek hukum tersendiri, suatu personifikasi, korporasi adalah badan hukum yang beranggota tetapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri terpisah dari hak dan kewajiban anggota masing-masing.

167 168

Ibid H. Setiyono, Kejahatan Korporasi, Ctk. Pertama, Averros Press & Fakultas Hukum Unversitas Merdeka Malang & Pustaka Pelajar, Malang &Yogyakarta, 2002, hlm. 9 169 Muladi dan Dwidja priyatno, op.cit., hlm. 12

2.

Korporasi dalam pengertian Ensiklopedia Ekonomi,

keuangan dan perdagangan yang dihimpun oleh A. Abdurachman menyatakan : Corporatio (korporasi : perseroan) adalah satu kesatuan menurut hukum/suatu badan sosial yang diciptakan menurut Undang-Undang suatu negara untuk menjalankan suatu usaha/aktivitas/kegiatan lainnya yang sah, pada umumnya suatu corporation dapat merupakan suatu organisasi pemerintah, setengah pemerintah atau partikelir. 3. Korporasi sebagai badan hukum keperdataan dapat

dirinci dalam beberapa golongan, dilihat dari cara mendirikan dan peraturan perundang-undangan sendiri yaitu : a. Korporasi egoistis yaitu korporasi yang menyelenggarakan kepentingan para anggotanya, terutama kepentingan harta kekayaan, misalnya Perseroan Terbatas (PT), Serikat Kerja. b. Korporasi yang altruistis, yaitu korporasi yang tidak menyelenggarakan kepentingan para anggotanya, seperti perhimpunan yang mempertahankan nasib orang-orang tuna netra, tuna rungu, Taman siswa, Muhammadiyah dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut di atas ternyata dalam Hukum Perdata (dagang) bahwa korporasi adalah badan hukum, menurut Utrecht, badan hukum (rechtspersoon) yaitu badan yang menurut hukum berkuasa (berwenang) menjadi pendukung hak, selanjutnya dijelaskan bahwa badan hukum setiap pendukung hak yang tidak berjiwa, atau lebih tepat bukan manusia, walaupun tidak berwujud manusia atau badan yang dibuat dari besi, kayu dan sebagainya yang menjadi penting bagi pergaulan hukum adalah

badan hukum itu mempunyai kekayaan (vermogen) yang sama sekali terpisah dari kekayaan anggotanya, yaitu dalam hal badan hukum itu berupa korporasi170. Sedangkan dalam lingkup hukum pidana pengertian korporasi lebih luas dibandingkan dalam hukum perdata. Di Indonesia perkembangan korporasi sebagai subyek tindak pidana terjadi diluar KUHP, dalam perundangundangan khusus. Adapun subyek tindak pidana korporasi dapat ditemukan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika pasal 1 ayat 13, Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotik, memberikan pengertian korporasi adalah kumpulan yang terorganisasi dari orang dan atau kekayaan, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 pasal 1 angka 1 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang Nomor 15 Tahun pasal 1 angka 2 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Yang pada intinya menyatakan: Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisir baik merupakan badan hukum maupun badan hukum171 Perkembangan perundang-undangan khusus di luar KUHP pidana, khususnya tentang subyek hukum pidana yaitu korporasi perumusannya lebih luas bila dibandingkan dengan pengertian korporasi menurut hukum perdata, menurut pidana pengertian korporasi bisa berbentuk badan hukum atau tidak.

170 171

Ibid., hlm. 15-16 Dwidja Priyatno, Kebijakkan Legislasi Tentang Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Indonesia, Ctk. Pertama, Cv. Utomo, Bandung, 2004, hlm. 21

Jadi berdasarkan uraian di atas sesuai dengan pengertian dari korporasi maka dapat disipulkan bahwa baik korporasi tersebut berbadan hukum/tidak maka tetap menjadi subyek dalam perundang-undangan ini dan satu hal yang menjadi catatan bahwa korporasi dalam hal ini dalam lingkup yang bersifat profit oriental selain/kecuali yang berbentuk yayasan. Adapun ciri-ciri dari suatu korporasi adalah; memiliki kekayaan yang terpisah dengan pengurus, memiliki haka dan kewajiban yang terpisah dengan pengurus dan dijalankan secara terpisah, berkesinambungan dan profit oriented.

b. Pembagian Badan Hukum Menurut Chidir Ali, aneka badan hukum di Indonesia dapat digolongkan menurut macam-macamnya, jenis dan sifatnya adapun lebih jelasnya secara sistematis, aneka badan itu dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pembagian Badan Hukum menurut Macam-macamnya

Menurut landasan/dasar hukum di Indonesia dikenal 2 macam Badan Hukum, yaitu 172: a. Badan hukum orisinil (murni, asli), yaitu negara,

contohnya negara Republik Indonesia yang berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945. b. Badan hukum yang tidak orisinil (tidak murni, tidak asli)

yaitu badan-badan hukum yang berwujud sebagai perkumpulan berdasarkan ketentuan Pasal 1653 KUHPerdata. Menurut pasal tersebut ada empat jenis, badan hukum, yaitu :
172

Setiyono. op.cit., hlm. 5-9

1)

Badan hukum yang diadakan (didirikan) oleh

kekuasaan umum, misalnya propinsi, kota praja bank-bank yang didirikan oleh negara. 2) Badan hukum yang diakui oleh kekuasaan

umum, misalnya perseroan (venootschap), gereja-gereja (sebelum diatur sendiri tahun 1927), waterschapen seperti Subak di Bali, 3) karena diizinkan. 4) Badan hukum yang didirikan untuk suatu Badan hukum yang diperkenankan (dibolehkan)

maksud/tujuan tertentu. Badan hukum jenis ketiga dan keempat tersebut dinamakan pula badan hukum dengan konstruksi keperdataan. 2. Pembagian Badan Hukum menurut jenis-jenisnya Menurut penggolongan hukum, yaitu golongan hukum publik dan hukum privat, aneka badan hukum publik dan badan hukum privat, secara sistematik penjelasannya : a. Badan hukum publik

Suatu badan hukum di Indonesia yang merupakan badan hukum publik adalah negara, bertindak dalam lapangan hukum perdata masih merupakan persoalan yang harus ditentukan apakah berdasarkan hukum adat/hukum perdata barat (BW/KUHPerdata). Badan hukum publik meliputi 2 badan hukum publik yaitu :

1)

Badan hukum publik yang mempunyai

teritorial, yaitu dimana pada umumnya harus memperhatikan atau menyelenggarakan kepentingan mereka yang tinggal di daerah/wilayahnya, misalnya dari Sabang sampai Merauke. Selain itu ada juga badan hukum yang hanya menyelenggarakan kepentingan beberapa orang saja, seperti Subak di Bali. 2) Badan hukum publik yang tidak mempunyai

teritorial adalah suatu badan hukum yang dibentuk oleh yang berwajib untuk tujuan tertentu saja, misalnya Bank Indonesia adalah badan hukum yang dibentuk yang berkewajiban hanya untuk tujuan tertentu saja. Demikian pula perusahaan jawatan (Perjan) berdasarkan Indonesche Bedriven Wet (IBW) stb, 1927419 dengan perubahannya dan diatur lebih lanjut dalam PP No. 7/1969, perusahaan umum (perum) yang dibentuk berdasarkan PP No. 19/1960. b. Badan Hukum Privat

Yang penting dalam badan hukum keperdataan ialah badan-badan hukum yang terjadi atau didirikan atas pernyataan kehendak dari hukum yang terjadi. Disamping itu, Badan hukum publik pun dapat juga mendirikan suatu badan hukum privat (keperdataan), misalnya negara Republik Indonesia mendirikan yayasan-yayasan, PT-PT negara dan sebagainya, bahkan daerah-daerah otonomi dapat mendirikan seperti bank-bank daerah.

Ada beberapa macam badan hukum privat antara lain bisa adalah : 1) Perkumpulan (Vereniging) diatur dalam pasal

1653 KUHPerdata, juga stb. 1870-64 dan stb. 1939-570. 2) KUHDagang 3) 4) 5) Rederij diatur dalam pasal 323 KUHDagang Kerkgenootschappen diatur dalam stb 1927-156 Koperasi diatur dalam Undang-Undang No. Perseroan Terbatas (PT) diatur dalam pasal 36

12/1967 dan telah dirubah dengan Undang-Undang No. 25/1992. 6) Yayasan dan sebagainya

Adapun untuk kriteria untuk menentukan suatu badan hukum sebagai badan hukum publik maka dalam stelsel hukum Indonesia dapat dipergunakan kriteria yaitu : 1) Dilihat dari cara pendiriannya/terjadinya, artinya badan hukum itu diadakan dengan konstruksi hukum publik, yaitu didirikan oleh penguasa (negara) dengan Undang-Undang atau peraturan-peraturan lainnya. 2) Lingkungan kerjanya, yaitu apakah dalam melaksanakan tugasnya badan hukum itu pada umumnya dengan publik melakukan perbuatanperbuatan hukum perdata, artinya bertindak dengan kedudukan yang sama dengan publik.

3)

Mengenai wewenangnya, yaitu apakah badan hukum yang didirikan oleh penguasa (negara) itu diberi wewenang untuk membuat keputusan, ketetapan atau perbuatan yang mengikat umum.

3.

Pembagian Badan Hukum Menurut Sifatnya Menurut sifatnya badan hukum dibagi menjadi 2 macam yaitu

korporasi (corporate) dan yayasan (stiching). Korporasi dan yayasan adalah badan hukum; badan hukum bagi hukum. Hukum adalah suatu hubungan, suatu hubungan dimana para pihak-pihak terdapat titik-titik peralihan di dalam subyek dan obyek. Hubungan antara subyek hukum dengan subyek hukum yang lain mengenai benda, dan bukan hubungan antara benda dengan benda. Oleh karena itu korporasi dan yayasan adalah subyek-subyek hukum, subyek dalam hubungan hukum yang dapat menjadi pembawa hak-hak dan kewajiban-kewajiban hukum.

c. Pengaturan Korporasi sebagai Subyek Hukum Pidana dan Pertanggungjawaban dalam Hukum Pidana 1) Pengaturan Korporasi sebagai Subyek Hukum Pidana Korporasi sebagai pelaku tindak pidana, dalam hukum positif sudah diakui bahwa korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, dan dapat dijatuhkan pidana. Tetapi pengaturan tentang korporasi tidak ditemukan dalam KUHP tetapi dapat dijumpai di luar KUHP.

Korporasi merupakan subyek tindak pidana. Penempatan korporasi sebagai subyek hukum pidana sampai sekarang masih jadi masalah, sehingga timbul sikap pro dan kontra. Pihak yang tidak setuju mengemukakan alasanalasan sebagai berikut 173: a. Menyangkut masalah kejahatan, sebenarnya kesengajaan dan

kesalahan hanya terdapat pada persona alamiah. b. Bahwa yang merupakan tingkah laku materiil, yang merupakan

syarat dapat dipidananya beberapa macam tindak pidana, hanya dapat dilaksanakan persona alamiah (mencuri barang, menganiaya orang, perkosaan, dan sebagainya) c. Bahwa pidana dan tindakan yang berupa merampas kebebasan

orang tidak dapat dikenakan pada orang yang tidak bersalah. d. Bahwa tuntutan dan pemidanaan terhadap korporasi dengan

sendirinya mungkin menimpa pada orang yang tidak bersalah. e. Bahwa di dalam praktik tidak mudah untuk menentukan norma-

norma atas dasar apa yang dapat diputuskan, apakah pengurus saja atau korporasi itu sendiri atau kedua-duanya harus dituntut dan dipidana. Sedangkan yang setuju menempatkan korporasi sebagai subyek hukum pidana menyatakan. a. Ternyata dipidananya pengurus saja tidak cukup untuk

mengadakan represi terhadap delik-delik yang dilakukan oleh atau dengan suatu korporasi karenanya diperlukan pula untuk dimungkinkannya memidana korporasi, korporasi dan pengurus/pengurus saja.
173

Ibid., hlm. 13-14

b.

Mengingat dalam kehidupan sosial ekonomi korporasi semakin

memainkan peranan yang penting pula. c. Hukum pidana harus mempunyai fungsi di dalam masyarakat

yaitu melindungi masyarakat dan menegakkan norma-norma dan ketentuan- ketentuan yang ada dalam masyarakat. Dan hukum pidana hanya ditentukan pada segi perorangan yang hanya berlaku pada manusia maka tujuan itu tidak efektif, oleh karena itu tak ada alasan untuk selalu menekan dan menentang dapat dipidananya korporasi. d. Dipidananya korporasi merupakan salah satu upaya untuk

menghindarkan tindakan pemindahan terhadap para pegawai korporasi itu sendiri. Terlepas dari pro dan kontra terhadap keberadaan korporasi sebagai subyek tindak pidana, Oemar Seno Adji berpendapat kemungkinan adanya pemindahan terhadap persekutuan-persekutuan didasarkan tidak saja atas pertimbangan-pertimbangan Utilitas melainkan pula atas dasar teoritis dapat dibenarkan174. Asal mula korporasi sampai sekarang masih menjadi persoalan, akan tetapi pada masyarakat yang primitif dengan karakteristik yang hidup dalam suatu kelompok (group) sebenarnya sudah dikenal perbedaan individu sebagai anggota suatu kelompok masyarakat. Adapun keberadaan korporasi sebagai subyek hukum dalam hukum pidana dari zaman ke zaman mengalami

174

Ibid

perubahan dan perkembangan secara bertahap, yang secara umum secara garis besarnya dapat dibedakan dalam 3 tahap175 : a. Tahap Pertama Tahap ini ditandai dengan usaha-usaha agar sifat delik yang dilakukan korporasi dibatasi pada perorangan (natuurlijk persoon) sehingga apabila tindak pidana terjadi dalam lingkungan korporasi maka tindak pidana tersebut dianggap dilakukan oleh pengurus korporasi tersebut dalam tahap ini membebankan tugas mengurus zorgplicht kepada pengurus. Dalam tahap ini menggambarkan bahwa KUHP dipengaruhi oleh asas-asas societis delinguere non potest-potest yaitu badan-badan hukum tidak dapat dipidana. b. Tahap Kedua Tahap ini ditandai dengan pengakuan yang timbul sesudah perang dunia pertama dalam perumusan Undang-Undang bahwa suatu tindak pidana, dapat dilakukan oleh perserikatan/badan usaha (korporasi). Tanggung jawab untuk itu juga menjadi beban dari pengurus badah hukum tersebut. Dalam tahap ini korporasi dapat menjadi pembuat delik akan tetapi yang dipertanggung jawabkan adalah para anggota pengurus, asal saja dengan tegas dinyatakan demikian dalam peraturan itu. Dalam tahap ini pertanggung jawaban langsung dari korporasi masih belum muncul adapun contoh dari peraturan per-undang-undangan dari tahap ini adalah Undang175

Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 34

Undang No. 1 Tahun 1951, LN, 1951-2, Undang-Undang tentang pernyataan berlakunya Undang-Undang kerja tahun 1948 No. 12 dari RI. Untuk seluruh Indonesia dan Undang-Undang No. 2/1951, LN, 1951-3, Undang-Undang tentang pernyataan berlakunya Undang-Undang kecelakaan tahun 1947 No. 33 dari RI untuk seluruh Indonesia. c. Tahap Ketiga Tahap ini merupakan permulaan adanya tanggung jawab langsung dari korporasi yang dimulai pada waktu dan sesudah perang dunia kedua. Dalam tahap ini dibuka kemungkinan untuk menuntut korporasi dan meminta pertanggung jawabannya menurut hukum pidana alasan dari diberlakukannya hal tersebut karena misalnya dalam delik-delik ekonomi dan fiskal keuntungan yang diperoleh korporasi/kerugian yang diderita masyarakat dapat demikian besarnya sehingga tidak akan mungkin seimbang bilamana pidana hanya dijatuhkan kepada pengurus korporasi saja. Dan juga alasan bahwa dengan hanya memidana para pengurus tidak/belum ada jaminan bahwa korporasi tidak akan mengulangi delik tersebut. Dengan demikian korporasi dengan jenis dan beratnya yang sesuai dengan sifat korporasi itu, diharapkan dapat dipaksa korporasi untuk mentaati peraturan bersangkutan. Peraturan perundang-undangan yang menempatkan korporasi sebagai subyek hukum dan secara langsung dapat dipertanggungjawabkan secara pidana adalah Undang-Undang No. 7 Drt 1955 tentang pengusutan, penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi.

Dalam tahap ini tentang pertanggung jawaban korporasi secara langsung dalam hukum pidana umum tidak atau belum dikenal tetapi terdapat dan berlaku terhadap peraturan perundang-undangan di luar KUHP. Berdasarkan ketiga tahapan tersebut maka dalam perkembangannya berpengaruh secara langsung terhadap sistem pertanggung jawaban korporasi dalam hal melakukan tindak pidana. 2) Pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana Dalam hukum pidana, pada umumnya yang dapat dipertanggungjawabkan adalah sipembuat, walaupun tidak selalu demikian, oleh karena itu ada dua hal yang perlu dibedakan yakni hal melakukan tindak pidana (pembuat) dan pertanggungjawaban176. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya dalam hukum pidana tidak hanya manusia, tetapi juga korporasi khusus mengenai pertanggungjawaban korporasi dalam perkembangan hukum pidana di Indonesia ada 3 sistem korporasi dalam kedudukannya dan pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana, yakni sebagai berikut177: a. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurus

yang bertanggungjawab Sistem pertanggungjawaban ini ditandai dengan usaha-usaha agar sifat tindak pidana yang dilakukan korporasi dibatasi pada perorangan (Natuurlijk persoon). Sehingga apabila suatu tindak pidana terjadi dalam
176 177

Hamzah Hatrik, op. Cit., hlm 3 Ibid., hlm. 5-6

lingkungan korporasi, maka tindak pidana itu dianggap dilakukan pengurus korporasi itu. Sistem ini membedakan tugas mengurus dari pengurus. Pada sistem ini adalah bahwa pengurus yang tidak memenuhi kewajiban-kewajiban yang sebenarnya merupakan kewajiban korporasi dapat dinyatakan bertanggungjawab178. Jadi korporasi itu sendiri tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap suatu pelanggaran, melainkan selalu penguruslah yang melakukan delik itu dan karenanya penguruslah yang diancam pidana dan dipidana. Ketentuan yang mengatur hal tersebut di atas dianut oleh KUHP, seperti : misalnya pasal 169 KUHP, Pasal 398 dan 399 KUHP berbunyi179 . Pasal 169 KUHP berbunyi : a. Turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan, atau turut serta dalam perkumpulan lainnya yang dilarang oleh aturan-aturan umum, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun. b. Turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan pelanggaran, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. c. Terhadap pendiri atau pengurus, pidana dapat ditambah sepertiga. Tindak pidana dalam Pasal 160 KUHP merupakan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum (Bab V Buku II ) KUHP, yaitu turut serta dalam perkumpulan yang terlarang. Apabila dilakukan oleh pengurus/pendiri perkumpulan atau korporasi tersebut, maka terdapat pemberatan pemidanaan yaitu terhadap pendiri atau pengurus suatu korporasi apabila melakukan suatu tindak pidana yaitu turut serta dalam perkumpulan yang terlarang pidananya lebih berat bila dibandingkan
178 179

Nanda Agung Dewantara, op. cit., hlm. 97 Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 68

dengan bukan pendiri atau pengurus. Sehingga yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipidana adalah orang atau pengurusnya dan bukan korporasi itu sendiri.180 Pada sistem yang pertama ini merumuskan bahwa yang dapat melakukan tindak pidana adalah manusia dan hal ini tertuang dalam pasal 59 KUHP yang berbunyi : Dalam hal-hal anggota badan pengurus/komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak dipidana. Dan dalam pasal di atas juga memuat alasan penghapusan pidana (Strafuitsluitingsground), tapi kesulitan yang dapat timbul dengan pasal 51 ini adalah sehubungan dengan ketentuan-ketentuan hukum pidana yang menimbulkan kewajiban bagi seorang pemilik atau seorang pengusaha. Dalam hal pemilik atau pengusahanya adalah suatu korporasi, sedangkan tidak ada pengaturan bahwa pengurusnya bertanggung jawab maka bagaimana memutuskan tentang pembuat dan pertanggungjawabannya181. Konsekuensi tidak diaturnya korporasi sebagai subyek tindak pidana dalam Buku I KUHP (sebagai ketentuan umum hukum pidana) adalah pengaturannya dalam Undang-Undang di luar KUHP menjadi sangat beraneka ragam182. b. Korporasi sebagai pembuat maka pengurus yang bertanggungjawab183 Sistem pertanggungjawaban korporasi yang kedua ditandai dengan pengakuan yang timbul dalam perumusan undang-undang bahwa suatu
180 181

Ibid. hlm. 68-69 Nanda Agung Dewantara, op.cit., hlm. 97 182 Setiyono,. op.cit., hlm. 17 183 Setiyono, op.cit., hlm. 16

tindak pidana dapat dilakukan oleh perserikatan atau badan usaha (korporasi) akan tetapi tanggung jawab untuk itu menjadi beban dari pengurus badan hukum (korporasi) tersebut. Secara perlahan-lahan tanggung jawab pidana beralih dari anggota/pengurus kepada mereka yang memerintahkan atau dengan larangan melakukan apabila melalaikan memimpin secara sesungguhnya. Dalam sistem yang kedua ini korporasi menjadi pembuat tindak pidana, akan tetapi yang bertanggungjawab adalah para anggota pengurus, asal saja dinyatakan dengan tegas dalam peraturan itu. Tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan seseorang tertentu sebagai pengurus dari badan hukum tersebut. Sifat dari perbuatan yang menjadikan tindak pidana itu adalah opersoonlijk orang yang memimpin korporasi bertanggung jawab pidana, terlepas dari apakah kita tahu ataukah tidak tentang dilakukannya perbuatan itu184. Pada sistem yang kedua ini belum terjadi pertanggungjawaban pidana secara langsung dari korporasi masih belum muncul. Adapun pada sistem kedua ini, (tidak ada dalam KUHP) memang hanya berlaku untuk pelanggaraan dalam hal delik kejahatan maka penyimpangan dari asasasas umum harus dilakukan melalui undang-undang 185. c. Korporasi sebagai Pembuat dan yang bertanggungjawab186.

184 185

Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 70 Nanda Agung Dewantara, op.cit., hlm. 98 186 Setiyono, op.cit., hlm 18

Sistem pertanggungjawaban yang ketiga ini merupakan permulaan adanya tanggung jawab yang langsung dari korporasi, dan dibuka kemungkinan menuntut korporasi dan meminta pertanggungjawabannya menurut hukum pidana. Adapun dasar pembenar atau alasan-alasan bahwa korporasi sebagai pembuat dan sekaligus yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut : a. Dalam berbagai tindak pidana ekonomi dan fiskal, keuntungan yang diperoleh korporasi/kerugian yang diderita masyarakat dapat sedemikian besarnya sehingga tidak akan mungkin seimbang bilamana pidana hanya dijatuhkan pada pengurus saja. b. Dengan hanya memidana pengurus saja, tidak atau belum ada jaminan bahwa korporasi tidak akan mengulangi tindak pidana lagi. Dalam sistem ketiga ini terdapat banyak permasalahan tentang perumusan bagaimanakah pertanggung jawaban pidana korporasi? Kapankah suatu korporasi dapat dikatakan melakukan suatu tindak pidana? Siapakah yang dapat dipertanggung-jawabkan khususnya dalam arti siapakah yang mewakili siapakah pidana harus dijatuhkan?187. Menjawab semua permasalahan tersebut dapat dilakukan penganalisisan terhadap perundang-undangan yang mengatur atau menerima konsep ketiga ini, dan dalam perumusan tentang pertanyaanpertanyaan sebelumnya peraturan perundang-undangan tersebut tidak jelas mengatur. Sehingga penegasan hukum yang menyangkut korporasi sebagai pelakunya dalam praktek sulit sekali ditemukan. Sehingga dalam
187

Muladi dan Dwidja Prayitno, op. Cit., hlm. 72-79

beberapa putusan pengadilan yang seharusnya korporasi dapat dituntut. Akan tetapi yang dituntut dan dipidana adalah pengurus dari korporasi tersebut. Hal ini membawa konsekuensi sulitnya ditemukan yurisprudensi tentang korporasi sebagai subyek tindak pidana 188. Pada konsep ketiga ini tidak semua delik yang dapat dipidana dapat dikenakan pertanggungjawaban kepada korporasi karena menurut Sudarto secara teori korporasi bisa melakukan delik apa saja, akan tetapi ada pembatasannya. Delik-delik yang tidak dapat dilakukan oleh korporasi adalah delik-delik189 : a. Yang satu-satunya ancaman pidananya hanya bisa

dikenakan kepada orang biasa, misalnya pembunuhan. b. Yang hanya bisa dilakukan orang dewasa misalnya

bigami, perkosaan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa korporasi tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk seluruh macam delik, akan tetapi harus ada pembatasan yaitu delik-delik yang bersifat personal yang menurut kodratnya bisa dilakukan oleh manusia seperti perkosaan, bigami, pembunuhan, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada korporasi. Dalam hukum pidana, syarat atau prinsip utama untuk adanya pertanggungjawaban pidana, adalah harus ada kesalahan dan pembuat harus mampu bertanggung jawab 190, Seperti juga telah diuraikan sebelumnya tentang ajaran kesalahan yang meliputi kealpaan dan kesengajaan sebagai
188 189

Ibid. Ibid., hlm. 81 190 Hamzah Hatrik, op.cit., hlm. 7

sikap batin yang berhubungan dengan perbuatan juga termasuk di dalam masalah penghapusan pidana. Untuk ajaran kesalahan dalam pertanggung jawaban korporasi dalam hal ini menjadi permasalahan karena baik kealpaan dan kesengajaan serta kemampuan bertanggung jawab hanya berlaku pada manusia pribadi. Oleh sebab itu maka dalam hal akan diuraikan tentang apakah kesalahan terdapat pada korporasi sebagai konsekuensi diterimanya asas kesalahan dalam korporasi karena pertanggung jawaban tidak dapat dilepaskan dari ajaran kesalahan dan yang menjadi pertanyaan apakah korporasi (badan hukum) dapat mempunyai kesalahan/kesengajaan. Khusus masalah korporasi atau pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi akan dibahas tiga unsur kesalahan (syarat subyektif), yaitu 191: 1. Masalah kemampuan bertanggung jawab korporasi Sehubungan dengan kemampuan bertanggung jawab korporasi sebagai subyek hukum pidana dan juga mengingat bahwa korporasi tidak mempunyai sifat kejiwaan (kerohanian) seperti halnya manusia alamiah (natuurlijk persoon) maka digunakan konsep kepelakuan fungsional (Functionaeel daderschap). Menurut Wolter kepelakuan fungsional adalah karya interpretasi kehakiman, Hakim menginterpretasikan tindak pidana itu sedemikian rupa sehingga pemidanaan memenuhi persyaratan dari masyarakat. Ciri khas dari kepelakuan fungsional yatu perbuatan fisik dari yang satu (yang

191

Setiyono. op.cit., hlm. 132

sebenarnya melakukan atau membuatnya) menghasilkan perbuatan fungsional kepada yang lain. Untuk menyakinkan adanya interpretasi fungsional dari hakim harus memenuhi 3 tahap, yaitu : a. Kepentingan yang manakah yang ingin dilindungi oleh pembentuk Undang-Undang. b. Pribadi yang manakah dalam kasus pidana ini yang dapat menjalankan atau melakukan tindak pidana, siapa yang berada dalam posisi yang sangat menentukan untuk jadinya/tidaknya dilakukan atau dijalankan tindak pidana itu. c. Diajukan pertanyaan pembuktian, apakah ada cukup

pembuktian secara sahih (wettig bewijs), ternyata tidak memberikan hasil yang memuaskan. Dalam ajaran fungsional kemampuan bertanggung jawab orangorang yang berbuat untuk dan atas nama korporasi dialihkan menjadi kemampuan bertanggung jawab korporasi sebagai subjek tindak pidana. 2.
192

Masalah kesengajaan dan kealpaan korporasi . Unsur kedua dari pertanggungjawaban atau kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya adalah hubungan batin antara pembuat dengan perbuatannya. Pada pembahasan sebelumnya telah dikemukakan uraian tentang kesengajaan dan kelalaian yang rumusan dari hal tersebut

192

Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 95-104

diberlakukan kepada manusia sebagai subyek hakim yang satu-satunya diakui dalam KUHP. Untuk menentukan apakah dan bagaimanakah badan hukum/korporasi yang tidak memiliki jiwa kemanusiaan (menselijke psyche), dan unsur-unsur psychis (de psychische bestanddelen), dapat memenuhi unsur-unsur kesengajaan atau kealpaan. Mengenai hal tersebut ada beberapa pendapat yang akan dikemukakan dalam tulisan ini. Menurut D. Schaffmeister, sangat sulit untuk menentukan kapan suatu korporasi terdapat apa saja yang disebut kesengajaan, menurutnya kesengajaan pada korporasi pertama berada apabila kesengajaan itu pada kenyataannya terletak dalam politik perusahaan/berada dalam keadaan yang nyata dari perusahaan tertentu, dan untuk menyelesaikannya diselesaikan dengan konstruksi pertanggungjawaban (toerekeningsconstructie), kesengajaan dari perorangan (natuurlijk persoon) yang bertindak atas nama perserikatan/badan usaha (corporate) dimana dapat menimbulkan kesengajaan dari badan hukum tersebut. Sedangkan dalam hal kelalaian/kealpaan menurut D. Schaffmeister bahwa terdapat hal yang sama dengan kesengajaan, dengan catatan melalui cara memenuhi tugas pemeliharaan kelalaian lebih banyak dapat dipertanggungjawabkan pada korporasi. Menurut C. Remelink, bahwa pengetahuan bersama dari sebagian besar anggota direksi dapat dianggap sebagai kesengajaan badan hukum itu, jika mungkin sebagai kesengajaan bersyarat dan bahwa kesalahan

ringan dari setiap orang yang bertindak untuk korporasi itu, jika dikumpulkan akan dapat merupakan kesalahan besar dari korporasi itu sendiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Suprapto yang menyatakan jika hukum memperkenankan badan-badan melakukan perbuatan sebagai orang-orang, dengan melalui alat-alatnya, maka dapatlah dimengerti, bahwa pada badan-badan bisa didapatkan kesalahan bila kesengajaan/kelalaian terdapat pada orang-orang yang menjadi alatalatnya, kesalahan itu tidak bersifat individual, karena hal itu mengenai badan sebagai suatu kolektivitet, dapatlah kiranya kesalahan itu disebut kesalahan kolektif, yang dibebankan kepada pengurusnya. Sebagai bahan pemecahan persoalan pertanggungjawaban korporasi serta untuk menentukan kesengajaan dan kealpaan korporasi, Muladi mengajukan pedoman sebagai berikut193 : a. Apakah tindakan para pengurus korporasi dalam

kerangka tujuan statutair korporasi dan/atau sesuai dengan kebijakan perusahaan. Bahkan sebenarnya cukup untuk melihat apakah tindakan korporasi sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan korporasi. Kepelakuan korporasi tidak mudah diterima, jika tindakan korporasi dalam pergaulan masyarakat tidak dianggap sebagai perilaku korporasi. b. Apakah kesengajaan bertindak pengurus korporasi

pada kenyataannya tercakup dalam politik perusahaan atau berada


193

Hamzah Hartik, op.cit., hlm. 92

dalam kegiatan yang nyata dari suatu perusahaan. Jadi harus dideteksi melalui suasana kejiwaan yang berlaku pada korporasi. Dengan konstruksi pertanggungjawaban, kesengajaan perorangan yang bertindak atas nama korporasi dapat menjadi kesengajaan korporasi. Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka kesengajaan dan kealpaan dilihat dari pengurusnya kemudian diatribusikan pada korporasi tempat ia bekerja. Alasan penghapusan pidana pada korporasi. Sebagai konsekuensi diterimanya asas kesalahan pada korporasi, maka seperti halnya manusia alamiah, korporasi juga harus dapat menunjuk dasar adanya alasan yang menghapuskan kesalahan/alasan pemaaf. Hanya saja alasan penghapusan pidana yaitu pada Pasal 44 KUHP tentang ketidakmampuan bertanggung jawab karena cacat dalam tubuhnya dan/atau jiwanya terganggu karena penyakit dan pada pasal 49 KUHP tentang pembelaan yang melampaui batas nampaknya sulit untuk mencari dasar sebagai alasan penghapusan pidana, sebab kedua alasan tersebut ini mensyaratkan adanya suatu keadaan kejiwaan tertentu, yang mutlak hanya dapat terjadi pada diri manusia. Oleh karena itu alasan penghapusan kesalahan korporasi harus dicari pada korporasi itu sendiri194. Hal tersebut dilakukan karena mungkin sekali terjadi pada diri seseorang terdapat alasan penghapusan pidana tetapi tidak demikian

194

Setiyono, op.cit., hlm. 145-146

halnya pada korporasi, sekalipun perbuatan orang tersebut telah dianggap sebagai perbuatan korporasi 195. Sebagai contoh : Seorang sopir truk terpaksa bersedia untuk mengangkut narkotik karena jiwa keluarganya terancam. Sementara itu perusahaan pengangkutan tempat sopir itu bekerja, atas dasar pertimbangan untuk memperoleh keuntungan telah membiarkan atau mengijinkan mengangkut narkotik tersebut padahal perusahaan tersebut sesungguhnya mampu untuk mencegah perbuatan pengangkutan narkotik tanpa perlu mengorbankan kepentingan 196pihak sopir sebagai karyawan perusahaan. Dari contoh di atas, pada diri sopir terdapat situasi daya paksa (overmacht), sedangkan korporasi tetap dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Berbeda halnya apabila perusahaan membiarkan pengangkutan narkotik atas dasar pertimbangan untuk melindungi kepentingan sopir sebagai karyawan dan perusahaan tidak mampu mencegah pengangkutan narkotik itu, maka keadaan daya paksa pada diri sopir sebagai karyawan, sesungguhnya telah diambil alih oleh korporasi.197 Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menentukan ada atau tidaknya alasan penghapus pidana pada korporasi tidak selalu dapat dicari secara terpisah antara perorangan dan korporasi, dalam beberapa hal mungkin terjadi suatu korporasi ternyata telah mengambil alih keadaan dalam diri perorangan198. Menurut Torringa dari alasan-alasan penghapusan pidana, sebenarnya hanya Avas yang dapat diterima sebagai akibat dari
195 196

Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 106 Ibid., hlm.166-167 197 Setiyono. op. cit., hlm. 146 198 Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm. 107

kesesatan yang dapat dimaafkan, alasan penghapusan kesalahan sangat bersifat pribadi kalau dipergunakan untuk tindakan badan hukum, kecuali menyangkut suatu badan hukum dengan hanya seorang direktur, beberapa pemegang saham yang juga merangkap sebagai pelaksana199.. Di Belanda, Hoge Raad melalui putusan-putusannya dalam menunjuk alasan penghapusan pidana, selalu menyandarkan pada Avas (afwezigheid van alle schuld), misalnya V dan D arrest (HR 24 Januari 1984, NJ 1984/197). Dengan bertindaknya sendiri pegawai, badan hukumnya tetap bertanggung jawab penuh untuk melaksanakan secara tetap peraturan tentang harga kecuali dalam hal tidak terdapatnya kesalahan sama sekali200. Berdasarkan uraian dan pemahaman tentang alasan penghapusan pidana, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a. Alasan-alasan penghapusan kesalahan tetap berlaku terhadap korporasi, dengan mendasarkan pada ketiadaan semua kesalahan (afwezigheid van alle schuld). b. Alasan penghapusan kesalahan yang lain seperti daya paksa tidak selalu bisa diambilkan dari alasan penghapusan pidana natuurlijk persoon yang bertindak untuk dan atas nama korporasi akan tetapi harus dicari sesuai dengan sifat kemandirian (persoonlijk) korporasi yang bersangkutan.Dalam suatu kasus (keadaan) tertentu korporasi dapat mengambil alih alasan penghapusan kesalahan natuurlijk persoon yang
199 200

1bid. Setiyono, op cit., hlm. 147

bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi, tetapi dalam kasus keadaan yang lain korporasi tidak bisa mengambil alih alasan penghapusan kesalahan dari natuurlijk persoon yang bertindak untuk dan atas nama korporasi. c. Alasan penghapusan pidana berupa ketidakmampuan bertanggung jawab yang diatur dalam Pasal 44 KUHP dari pembelaan terpaksa (darurat) melampaui batas yang diatur dalam Pasal 49 ayat (2) tidak bisa diambil alih sebagai alasan penghapusan pidana korporasi, karena kedua jenis alasan ini mengharuskan atau mensyaratkan keadaan jiwa tertentu, yang mutlak hanya terjadi pada diri manusia. Masalah pertanggungjawaban korporasi sebagai subyek dalam hukum pidana sampai detik ini masih merupakan hal yang belum diatur dalam KUHP kita, tetapi karena mengingat pentingnya merumuskan korporasi sebagai subyek dalam hukum pidana secara umum karena mengingat banyaknya perbedaan-perbedaan dalam merumuskannya sehingga sering terjadi perbedaan-perbedaan penafsiran dan juga karena selama ini dampak yang diperbuat oleh korporasi juga sangat merugikan masyarakat, maka dari itu konsep korporasi dan pertanggungjawabannya dirumuskan dalam RUU KUHP Baru 2004 yang tercantum dalam Pasal 44 dan Pasal 45, 46. Dalam RUU KUHP Baru tersebut terdapat pasal yang membicarakan tentang konsep pertanggungjawaban pidana korporasi yang selama ini kita kenal tetapi tidak dianut dan dipakai dalam KUHP kita, yaitu tentang ajaran konsep Strict Liability dan Vicarious Liability.

Strict Liability adalah pertanggungjawaban tanpa kesalahan, ini berarti bahwa si pembuat sudah dapat dipidana jika ia telah melakukan perbuatan sebagaimana yang dirumuskan dalam Undang-Undang tanpa melihat bagaimana sikap batinnya. Menurut L.B. Curzon, doktrin strict liability didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut201 : 1. Adalah sangat esensial untuk menjamin dipatuhinya peraturan penting tertentu. 2. Pembuktian adanya unsur mens rea akan menjadi lebih sulit dalam pelanggaran yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. 3. Tingginya tingkat bahaya sosial yang ditimbulkan oleh perbuatan yang bersangkutan. Strict liability kebanyakan terdapat pada delik-delik yang diatur dalam Undang-Undang (Statutory offences, regulatory offences, mala prohibita) yang pada umumnya merupakan delik-delik terhadap kesejahteraan umum, misalnya penjualan makanan dan minuman atau obat-obatan yang membahayakan, penggunaan gambar dagang yang menyesatkan dan pelanggaran lalu lintas202. Sedangkan Vicarious Liability adalah suatu pertanggung jawaban pidana dibebankan kepada seseorang atas perbuatan orang lain, misalnya, dalam hubungan kerja antara pekerja atau buruh dengan majikan. Dengan demikian dalam pengertian Vicarious Liability ini, walaupun seseorang

201 202

Hamzah Hatrik., op.cit., hlm. 13 Muladi dan Dwidja Prayitno. op.cit., hlm. 89-99

tidak melakukan sendiri suatu tindak pidana dan tidak mempunyai kesalahan dalam arti yang biasa, ia masih tetap dapat dipertanggungjawabkan.203. Undang-Undang dapat menentukan Vicarious Liability, jika terjadi hal-hal sebagai berikut204 : 1. Seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang lain, apabila seseorang itu telah mendelegasikan kewenangannya menurut Undang-Undang kepada orang lain. Dalam hal ini diperlukan suatu syarat/prinsip tanggung jawab yang bersifat dilimpahkan (the delegation principle). 2. Seorang majikan dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang secara fisik atau jasmaniah dilakukan oleh buruhnya atau pekerjanya, jika menurut hukum perbuatan buruhnya itu dipandang sebagai perbuatan majikan. Prinsip tersebut diterapkan pada kasus-kasus dimana Undang-Undang menggunakan kata kerja selling (menjual) atau using (menggunakan) sebagai unsur utama perbuatan terlarang (octus reus), misalnya dalam UndangUndang mengenai perdagangan, Undang-Undang mengenai makanan dan obat-obatan dan Undang-Undang mengenai pupuk dan bahan makan. Arti penting penerimaan konsep Strict Liability dan Vicarous Liability secara legislatif dalam KUHP sebagai sarana penanggulangan tindak pidana korporasi, disamping didasarkan pada alasan perlindungan sosial karena tingginya tingkat kerugian dan bahaya yang ditimbulkan disebabkan oleh tindak pidana korporasi juga didasarkan pada kenyataan bahwa untuk
203 204

Ibid Hamzah Hatrik .op.cit., hlm. 116-117

membuktikan unsur kesalahan dalam hukum pidana adalah hal yang sangat sulit dan rumit.Terhadap penerimaan konsep tersebut di atas terdapat perbedaan terhadap penting dan tidaknya digunakan kedua konsep pertanggungjawaban di atas. Menurut Muladi konsep pemidanaan (terhadap korporasi) berdasarkan konsep strict liability, bukan atas dasar kesalahan subyektif, tetapi atas dasar kepentingan masyarakat yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan kepentingan sosial, sehingga dapat tercipta harmonisasi nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia yang lebih mengutamakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara kehidupan masyarakat dan individu205. Sedangkan menurut Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa doktrindoktrin pertanggungjawaban seperti yang dikemukakan khususnya Strict Liability dan Vicarious Liability perlu dipertimbangkan sejauh mana dapat diambil oper. Hal ini dikemukakan sebab beberapa tindak pidana saat ini berhubungan erat sekali dengan akibat perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi, ekonomi dan perdagangan yang banyak melibatkan badan hukum. Berbicara masalah sanksi atau pemidanaan terhadap korporasi sebagai subyek tindak pidana, maka pidana yang dapat dijatuhkan kepada korporasi harus sesuai dengan sifat korporasi yang bersangkutan, mengingat KUHP menganut sistem dua jalur (double track system) dalam pemidanaan, dalam arti di samping pidana dapat pula dikenakan berbagai tindakan kepada pelaku,

205

Muladi dan Dwidja Prayitno, op cit., hlm. 121

maka sistem ini dapat pula diterapkan dalam pertanggungjawaban pidana korporasi sebagai pelaku tindak pidana206. Dampak yang ingin dicapai dalam pemberian sanksi pada korporasi tidak hanya mempunyai financial impacts tetapi juga mempunyai non financial impacts, karena itu dapat dikemukakan bahwa pidana mati, pidana penjara dan pidana kurungan tidak dapat dijatuhkan pada korporasi sanksi yang dapat dikenakan adalah pidana denda, pidana tambahan, tindakan tata tertib, tindakan administrasi dan sanksi keperdataan berupa ganti rugi.

B. Pengaturan Hubungan Antar Pelaku dalam Perbuatan Pidana yang dilakukan Dua Orang atau Lebih Dalam Delik Penyertaan (deelneming). 1. Pengertian Delik Penyertaan (deelneming) Pengertian tentang penyertaan atau deelneming tidak ditentukan secara tegas dalam KUHP tersebut, bentuk bentuk penyertaan Pasal 55 ayat (1) menentukan bahwa dipidana sebagai pembuat atau deder dari suatu perbuatan pidana adalah: Ke-1: Mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan turut serta melakukan (Zin die het feit plegen, doen plegen en medeplegen). Ke-2: Mereka yang dnegan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana tau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan pidana (Zij die het feit uitlokken). Bentuk Pembatuan Pasal 56 KUHP Menentukan bahwa dipidana sebagai pembantu atau medeplichtige suatu kejahatan adalah:

206

Setiyono, op.cit., hlm. 60

Ke-1: Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan sedang dilakukan. Ke-2: Mereka yang dengan sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. Menurut ketentuan Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan penyertaan ialah apabila orang yang tersangkut untuk terjadinya satu perbuatan pidana atau kejahatan itu tidak satu orang saja, melainkan lebih dari satu orang, meskipun ciri deelneming pada suatu strafbaar feit itu ada apabila dalam satu delik tersangkut beberapa orang atau lebih dari seorang, tetapi tidak setiap orang yang bersangkutan terjadinya perbuatan pidana itu dapat dinamakan sebagai peserta yang dapat dipidana207. Oleh karena itu yang masuk dalam kategori ini dia harus memenuhi syarat-syarat seperti tersebut disitu, yakni sebagai orang yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan pidana atau membantu melakukan perbuatan pidana, di luar lima (5) jenis peserta ini menurut sistem KUHP kita tidak ada peserta lain yang dapat dipidana.208. Suatu perbuatan pidana dapat dilakukan oleh beberapa orang, dengan bagian dari tiap-tiap orang dalam melakukan perbuatan itu sifatnya berlainan, penyertaan dapat terjadi sebelum perbuatan dilakukan/tidak dilakukan dengan jalan memberikan upaya kepada orang lain sedemikian rupa untuk melakukan perbuatan pidana (menyuruh lakukan, menganjurkan), atau dengan jalan memberikan upaya kepada orang lain untuk dapat melaksanakan perbuatan
207

Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, Dasar Aturan Hukum Pidana Kodifikasi, Ctk. Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 141 208 Moeljatno, Hukum Pidana Delik-delikPenyertaan,1983, hlm. 64

pidana yang dimaksud, demikian pula dapat terjadi penyertaan bersamaan dilakukannya perbuatan dengan melakukan bersama-sama lebih dari satu orang (turut serta) atau memberikan bantuan pada waktu kejahatan dilakukan209. Pada dasarnya seseorang hanya dapat dipidana karena bersalah melakukan perbuatan pidana apabila ia memenuhi semua unsur yaitu: suata perbuatan manusia, yang memenuhi rumusan delik, yang bersifat melawan hukum dan dilakukan karena kesalahan (sifat tercela), dengan demikian apabila hal tersebut dipenuhi maka seseorang dapat dipidana, tetapi dalam beberapa pasal dari Bagian Umum KUHP, pembuat undang-undang membuka kemungkinan untuk memperluas dapat dipidananya perbuatan dalam beberapa hal, ini kiranya dapat dinamakan gambar cermin dari pembatasan dapat dipidananya perbuatan tersebut, perluasan dapat dipidananya perbuatan itu berarti bahwa sekalipun tidak semua unsur delik terpenuhi, kadang-kadang juga ada perbuatan pidana210. Pelajaran umum turut serta ini justru dibuat untuk menghukum mereka yang bukan yang melakukan, bukan pembuat atau dibuat untuk menghukum oaring-orang yang perbuatannya memuat anasir-anasir peristiwa pidana yang bersangkutan, tetapi pelajaran umum turut serta justru dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang memungkinkan pembuat melakukan peristiwa pidana, biarpun perbuatan mereka itu sendiri tidak memuat semua anasir-anasir peristiwa pidana tersebut211.
209 210

Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 142 D. Schaffmeister, N. Keijzer dan PH. Sutorius, op.cit, hlm. 213 211 Eutrecht, Hukum Pidana II, Ctk. Ketiga, Pustaka tinta Mas, Surabaya, 1976, hlm. 9

Biarpun mereka bukan pembuat yaitu perbuatan mereka tidak memuat semua anasi-anasir peristiwa pidana, masih juga (turut) bertanggungjawab atau dapat dituntut pertanggungjawaban mereka atas dilakukannya peristiwa pidana itu, karena tanpa turut sertanya mereka sudah tentu peristiwa pidana tersebut tidak pernah terjadi212. Dalam ilmu maupun yurisprudensi hukum pidana pernah dipersoalkan apakah peserta-peserta yang disebut dalam pasal 55 KUHP adalah pembuat (dader) atau dihukum sebagai (gestraft (als)).pembuat213. Terhadap hal tersebut ada dua pendapat yamg berbeda yang menyatakan sebagai berikut214: a. Pendapat pertama menyatakan, menurut redaksi pasal 55 ayat (1) KUHP maka yang melakukan memang pembuat peristiwa pidana, dihukum sebagai pembuat, dan beberapa pasal-pasal seperti pasal-pasal 58 dan 367 KUHP, yang mengenai pembuat serta peserta yang disebut dalam pasal-pasal 55 dan 56 KUHP memuat kata-kata pembuat atau pembantu (dader of medeplichtige), yaitu pembuat adalah yang melakukan serta semua peserta yang dimaksud pasal 55 KUHP sedangkan pembantu adalah peserta yang dimaksud dengan pasal 56 KUHP. b. Pendapat kedua mengakui bahwa peserta itu bukan pembuat, karena perbuatannya tidak memuat semua anasir-anasir peristiwa pidana, tetapi dia dapat dianggap menjadi pembuat pula.

212 213

Ibid. E. Utrech, op. cit., hlm. 10 214 Ibid.,

Adapun pembagian peserta menurut van Hamel, Simon dan Zevenbergen, menurut sifatnya dibagi menjadi dua (2) yaitu215: a. Bentuk penyertaan yang berdiri sendiri, dengan pertanggungjawaban pada tiap-tiap peserta dihargai sendiri-sendiri yang tergolong kedalam bentuk ini adalah: yang melakukan (pleger) dan turut melakukan (medepleger), karena dapat dihukum tidaknya mereka itu tergantung pada apa yang mereka sendiri lakukan. b. Bentuk penyertaan yang tidak berdiri sendiri, disebut juga accessoire deelneming, dengan pertanggungjawaban peserta yang satu tergantung atau digantungkan pada peserta yang lain, artinya apabila para peserta yang satu dalam melaksanakan suatu perbuatan pidana dapat dipidana, maka peserta yang lainpun juga dapat dipidana, yang masuk dalam bentuk kedua ini adalah: membujuk (uitlokker) dan yang membantu dan yang membantu (medeplichtigen) karena dapat dihukum tidaknya mereka itu bergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Oleh karena itu berdasarkan pembagian-pembagian turut serta menurut pendapat-pendapat para ahli di atas dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa KUHP tidak mengenal hal tersebut di atas dan dalam hal ini KUHP membagi antara pembuat dan pembantu216. Hal ini dapat dilihat pada penggolongan pembuat/pelaku dalam penyertaan yang dibedakan menjadi tiga golongan sesuai dengan tiga sitem

215 216

Ibid,. hlm. 13 ibid., hlm. 15

penyertaan yang diikuti oleh beberapa negara termasuk Indonesia, diantaranya adalah: a. Tiap-tiap pelaku sebagi peserta dipandang sama nilai perbuatannya, sehingga masing-masing dipertanggungjawabkan sama (Romawi, Prancis dan Inggris) b. Tiap-tiap pelaku dan peserata dipandang tidak sama nilai perbuatannya, menurut sikap batin dan perbuatannya, sehingga masing-masing dipertanggungjawabkan berbeda (Italia, Jerman, dan Swiss). c. Gabungan antara pandangan yang pertama dan kedua, sehingga terdapat bentuk penyertaan yang disamakan dan yang tidak disamakan (Indonesia, Rusia, Jepang dan Thailand).

2. Bentuk-bentuk Penyertaan Dalam KUHP kita telah menyebutkan bentuk-bentuk perbuatan penyertaan menurut Pasal 55 atau Pasal 47 WvS N adalah orang yang plegen, orang yang doen plegen, orang yang medeplegen dan orang yang uitlokking, kelima bentuk penyertaan ini dalam hal pemidanaannya dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu pembuat/daders/princippals/autores dan pembantu/ medeplichtige/accessories/ pembantu, untuk pembantuan telah ditetapkan pada pasal 56 a KUHP, adapun tentang bentuk-bentuk penyertaan tersebut akan dijelaskan satu persatu dalam tulisan ini. a. Pelaku (Plegen)

Berkenaan dengan rumusan hukum pidana tertentu yang tidak tegas siapa (subyek) dinyatakan melakuan perbuatan pidana dan istilah pleger yang kadang kala dapat diartikan dader, dalam hukum pidana Jerman menyatakan semua bentuk orang yang melakukan perbuatan pidana adalah tater (dader) sebagai perbuatan yang memenuhi syarat rumusan delik, sebaliknya Langemayer menyatakan semua orang yang mewujudkan perbuatan pidana Pasal 55 KUHP dinamakan pleger217. Untuk lebih memperjelas apakah perbedaan antara dader dan pleger agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dikarena ada diantara para ahli hukum pidana yang menggunakan istilah dader dan menggunakan istilah pleger dalam penyebutan subyek pada pasal 55 KUHP. Maka dalam hal ini apabila memperhatikan doktrin dan rumusan undang-undang pasal 55 dan pasal 56 KUHP seyogyanya dibedakan antara dader (pembuat) dan pleger (pleger), pengertian dader adalah218: 1. Pembuat dari suatu perbuatan pidana atau orang yang melaksanakan semua unsur rumusan delik, dan 2. pembuat yang mempunyai kaulifikasi sebagai terdakwa yang dibedakan denga kualifikasi pembantu. Adapun pengertian pleger orang yang menjadi pelaku dalam penyertaan yang mendapat pidana yang sama dengan/disamakan dengan pembuat. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dalam hal ini penulis menggunakan istilah pleger.
217 218

Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 142-143 Ibid., hlm. 162

Sekalipun seorang pelaku (pleger) bukan seseorang yang turut serta (deenemer), kiranya dapat dimengerti mengapa ia perlu disebut, pelaku disamping pihak-pihak lainnya yang turut serta atau terlibat dalam tindak pidana yang ia lakukan akan dipidana bersama-sama dengannnya sebagai pelaku (pembuat), sedangkan cara penyertaan dilakukan dan tanggungjawab terhadapnya juga turut ditentukan oleh ketrkaitannya denga tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku (utama), karena itu pelaku (pleger) adalah orang yang memenuhi semua unsur delik (juga dalam bentuk percobaan atau persiapannya), termasuk bila dilakukan lewat orang-orang lain tau bawahan mereka (terpikirkan disini dalam kaitannya dengan delik-delik fungsional)219. Biasanya dengan agak mudah dapat dikatakan siapa yang menurut undang-undang, menjadi yang melakukan, pembuat lengkap dan siapa yang tidak menjadi melakukan, tetapi penetuan ini agak sukar dalam delikdelik yang terjadi karena yang melakukan menimbulkan atau meneruskan satu keadaan yang terlarang (oleh undang-undang) dan tidak diterangkan dengan jelas siapa yang menghentikan berlangsungnya220. Pada delik-delik formal atau formale delicten, atau yang sering juga disebut sebagai delik-delik yang dirumuskan secara formal atau formeel omschreven delicten, yakni delik-delik yang dapat dianggap telah selesai dilakukan oleh pelakunya, yaitu segera setelah pelakunya melakukan suatu tindakan yang dilarang oleh undang-undang ataupun
219 220

Jan Remmelink, op.cit., hlm. 308 Utrechr, op.cit., hlm. 16

segera setelah pelaku tersebut tidak melakukan sesuatu yang diwajibkan oleh undang-undang, untuk memastiakan siapa yang dipandang sebagai seorang pleger itu memang tidak sulit, orang tinggal menemukan siapa yang sebenarnya telah melakukan pelanggaran terhadap larangan atau keharusan yang telah disebutkan di dalam undang-undang221. Lain halnya dalam delik-delik material atau pada materiele delicten ataupun yang sering disebut sebagai materieel omschreven delicten,oleh karena untuk dapat memastikan siapa yang harus dipandang sebagai seoarang pleger itu, sebelumnya orang harus telah dapat memastikan apakah suatu tindakan itu dapat dipandang sebagai suatu penyebab dari suatu akibat yang timbul ataupun tidak222. Tapi satu hal yang perlu diingat yang dapat menjadi plegen adalah/hanyalah manusia. b. Turut serta (MedePleger) Bentuk ke-3 dalam pasal 55 KUHP ini ditinjau lebih dahulu daripada Doen plegen (menyuruh lakukan), karena dalam medepleger orang itu masih ikut serta melakuakn perbuatan yang bersangkutan, sedangkan orang-orang yang doenpleger sama sekali tidak, karena itu dipandang dari segi sistematika hukum pidana doen pleger ditinjau sesudah doen pleger223. Dalam rancangan semula penyertaan bentuk turut serta tidak dirumuskan dengan istilah medeplegen melainkan dengan istilah opzettelijke medewerken tot het plegen yang menitikberatkan perbuatan
221 222

Lamintang, Hukum Pidana Indonesia, Sinar Bandung, 1983, hlm. 590 Ibid. 223 Moeljatno, Delik Penyertaan, op.,opcit., hlm110

kerjasama melakukan kejahatan, oleh karena itu sama dengan inti perbuatan medeplichtige.224 Mengenai sejarah istilah mede plegen diterangkan dengan jelas antara lain dalam Noyon Langemeyer 225, diterangkan disitu bahwa dalam teks yang pertama-tama ddipakai perkataan, opzettelijk tot het plegen daarvan medewerken (dengan sengaja ikut bekerja untuk melakuakn perbuatan pidana). Terhadap kata-kata ini diajukan keberatan oleh commissie Rapporteur 2de Kamer, yaitu: 1. Terhadap perkataan opzettelijk, oleh karena ikut bekerjanya untuk melakukan perbuatan pidana juga mungkin terhadap overtredigen (pelanggaran) hal mana diakui oleh menteri sehingga perkataan opzettelijk dihapus, 2. Terhadap istilah medewerken tot het plegen, disini tidak ternyata perbedaanya dengan pembantu yang memberi bantuan terhadap melakukan perbuatan. Keberatan semacam ini juga diajukan oleh Prof. De vries dari sudut ilmu bahasa, menurut beliau lebih baik dipakai perkataan meedoen (ikut, turut serta) atau deelnemen daripada medewerken, kemudian menteri dapat pikiran untuk memakai istilah mede plegen, hal mana disetujui oleh Prof. De vries, sedangkan dalam M.v.T keterangannya ialah bahwa bila pesertapeserta itu rechtstreeksdeelnemen aan de uitvoering van het feit

224 225

Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 164 Lamintang, op.cit., hlm 300

(langsung ikut serta dalam pelaksanaan perbuatan pidana) M.v.T. tidak memberikan penjelasan lebih lanjut226. Dalam hal ini KUHP kita tidak mengatur dengan menjelaskan bagaimanakah sebenarnya mede pleger, maka mengenai hal ini ada beberapa pendapat/doktrin hukum tentang mede pleger ini. Menurut van Hamel dan Trapmen, berpendapat bahwa turut melakukan itu terjadi apabila perbuatan masing-masing peserta memuat semua anasir-anasir perbuatan pidana yang bersangkutan, tapi dalam hal ini mendapat tentangan dari para ahli lain diantaranya Hazewinkel-Suringa mengemukakan bahwa, andaikata pendapat di atas ini benar, maka apa gunanya untuk memasukkan turut melakukanitu dalam pasal 55 ayat 1 sub le KUHP, memasukkan pelajaran umum tentang turut serta, karena masing-masing yang turut melakukan itu sebagai pembuat lengkap, bertanggungjawab penuh227. Sedangkan menurut pendapat Moeljatno bahwa turut serta yaitu setidak-tidaknya mereka itu semua melakukan unsur perbuatan pidana, dan ini tidak berarti bahwa masing-masing harus melakukan bahkan tentang apa yang dilakukan peserta/tak mungkin dilakukan itu tergantung pada masing-masing keadaan228. Bentuk penyertaan turut serta selalu terdapat seorang lebih pelaku dan seorang atau lebih yang turut melakukan perbuatan pidana yang dilakukan oleh pelakunya, dimana apabila seseorang itu melakukan suatu
226 227

Moeljatno, op.cit., hlm 111 Utrecht, op.cit., hlm 32-33 228 Moeljatno, op.cit., hlm 113

perbuatan pidana maka biasanya ia disebut sebagai seorang dader atau pelaku, dan apabila orang secara bersama-sama melakukan suatu perbuatan pidana maka setiap peserta di dalam perbuatan pidana itu dipandang sebagai seorang mededader dari peserta atau peserta-peserta yang lain. Kiranya sangat sulit bagi hakim untuk memastikan, yaitu orang yang mana sebenarnya merupakan pelakunya dan orang yang mana lagi seharusnya dipandang sebagai mededaders atau sebahgai pelaku-pelaku penyertaan229. Dalam menyelidiki apakah kita menghadapi medepleger atau kita jangan memandang perbuatan-perbuatan masing-masing peserta secara satu persatu berdiri sendiri tetapi dalam hubungan peserta-peserta lainnya, seperti halnya dalam pandangan mereka yang berpegangan pada perbuatan pelaksanaan tapi pada perbuatan masing-masing peserta harus dipandang dan dinilai dalam hubungan dan sebagai kesatuan dengan perbuatan-perbuatan peserta lainnya230. Adapun agar dapat menentukan bahwa pelaku dalam perbuatan pidana bisa dikatakan sebagai medepleger, maka harus ada unsur-unsur turut melakukan, yaitu231: 1. Antara peserta ada kerjasama yang diinsyafi Menurut HR, untuk mengatakan adanya suatu medeplegen (keturutsrtaan), disyaratkan harus adanya kerjasama yang disadari, dengan kata lain kesengajaan untuk melakukan kerja sama yang harus
229 230

Lamintang. Op.cit., hlm. 615-616 Moeljatno, op.cit., hlm.114 231 Jan Remmelink, op.cit., hlm. 314-315

dibuktikan keberadaannya, hal ini mengimplikasikan bahwa harus dibuktikan adanya dua bentuk kesengajaan dalam delik-delik kesengajaan yang dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah pelaku (keturutsertaan); pertama, kesengajaan (untuk memunculkan) akibat delik dan Kedua, kesengajaan untuk melakukan kerjasama. Tidak perlu ada rencana atau kesepakatan yang dibuat terlebih dahulu, sebaliknya yang perlu dibuktikan hanyalah adanya saling pengertian di antara sesama pelaku dan pada saat perbuatan diwujudkan masingmasing pelaku bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dan dalam hal ini kesengajaan sesama pelaku tidak harus sama. Tentang hal ini ada dua alasan232: a. Kalau ada perbedaan dalam niat tak mungkin ada medepleger (Noyon) yang diikuti oleh Langemeyer, hanya dengan catatan bahwa kalau ada kesengajaan yang satu lebih besar dari yang lain hingga boleh dikatakan bahwa ia juga mempunyai kesengajaan seperti yang lain tadi, maka disitu mungkin ada medepleger. Sebagai contoh: kalau 2 orang bersama-sama memukuli seseorang yang kemudian meninggal karenanya, niat atau kesengajaan yang satu memukuli hanya untuk menganiaya sedangkan yang lain memang untuk membunuhnya. Jadi berdasarkan contoh tersebut mungkin ada medepleger penganiayaan yang berakibat mati.

232

Moeljatno, op.cit. hlm. 121-122

b. Sekalipun niatnya berbeda-beda di situ mungkin ada medepleger tapi mungkin kualifikasinya bagi masing-masing medepleger berbeda-beda. Menurut Hazewinkel-Suringa bahwa kerjasama yang diinsyafi disamping itu juga bahwa kerjasama itu merupakan kerjasama yang erat dan sempurna dan dalam hal ini tidak perlu dijanjikan dan direncanakan para peserta terlebih dahulu, yaitu pada waktu sebelum mereka memulai perbuatan-perbuatan mereka, cukuplah saling mengerti, yaitu pada saat perbuatan-perbuatan yang bersangkutan dilakukan ada kerjasama yang sempurna dan erat yang ditujukan pada satu tujuan yang sama233. Dengan adanya kerjasama yang erat antara para peserta di waktu dilakukan perbuatan itulah, maka dalam batas-batas yang ditentukan dalam wet, tiap-tiap peserta juga bertanggungjawab atas perbuatan peserta lainnya, dan menurut Moeljatno selain kerjasama yang erat mungkin ternyata daripada perbuatan masing-masing peserta dan mungklin juga dari keadaan setelah kejahatan dilakukan umpama pembagian hasil kejahatan dan sebagainya234. Kerjasama yang terjadi antar peserta tidak hanya sebatas pada pemufakatan saja dalam hal pikiran tapi juga kerjasama secar fisik. 2. Pelaksanaan tindak pidana secara bersama-sama

233 234

E. Utrecht, op.cit., hlm. 37-38 Moeljatno, op.cit., hlm 144

Mengenai hal ini dalam praktek justru menimbulkan banyak kesulitan yang dapat diperbandingkan dengan yang terjadi dalam delik percobaan (poging) karena disini tindakan pelaksana juga memainkan peran sentral, dikarenakan dalam tahap pelaksanaanya identik dengan pembantuan (medeplichtige), sebagi ilustrasi: adalah ada dua orang secara bersama-sama hendak menganiaya orang ketiga, orang pertam memegang korban dan yang kedua memukul, dalam hal ini apakah orang yang memegang juga dapat dikatakan turut melaksanakan penganiayaan atau ia hanya membuka kesempatan bagi temannya untuk melaksanakan tindak penganiayaan, pembantuan (medeplichtigheid). Sebagai ilustrasi: A dan B merencanakan suatu pembunuhan terhadap C dan untuk itu mengundang C masuk kesuatu ruang tertutup, A memukul C dengan palu, selanjutnya A dan B bersama-sama merampok korban, dan secara bersama-sama pula menguburkan jenazah C, setelah itu mereka pergi berfoya-foya bersama-sama. Menurut HIR kerjasama dalam kasus ini muncul secara sempurna (penuh), sehingga siap yang secara nyata memukul palu yang menyebabkan kematian C dapat dianggap tidak penting. Pada prinsipnya kesengajaan untuk bekerjasama melakukan perbuatan pidana harus direncanakan terlebih dahulu, namun dalam hal ini kemungkinan bahwa A dan B menuntaskan perbuatan pidana, secara intensif memberikan bantuannya, sehingga kita dapat berbicara

tentang adanya keturutsertaan, jika kerjasama secara diam-diam terwujud, kita harus menyimpulkan adanya keturutsertaaan Jika terbukti adanya keturutsertaan, pihak-pihak yang terkait akan saling berrtanggungjawab atas tindakan masing-masing serta atas akibat yang ditimbulkan, sepanjang hal tersebut kedalam lingkup kesengajaan bersama (gezamenlijk opzet) atau sepenuhnya teronjektivasi (dilepaskan dari hubungan kesalahan, meskipun demikian jika salah seorang medepleger melampaui batas kesengajaan ini, perbuatannya harus dipertanggungjawabkannya sendiri, dalam arti kata lain bahwa apabila salah satu medepleger di luar dari kesengajaan semula/rencana semula. Telah disebutkan di atas bahwa tipa orang yang dikualifikasikan sebagi turut melakukan tidak niscaya harus memenuhi unsur suatu delik (pokok), ada semacam pembagian kerja dengan tenggung jawab yang dibebankan kepada kelompok secara bersamasama, dan seorang medeplehgen tidak diisyaratkan untuk secar tuntas memenuhi semua unsur delik, tindak pelaksanaan delik tidak seluruhnya harus diwujudkan oleh turut pelaku (medepleger)235. Dalam hal apabila tidak adanya kualifikasi pada seseorang yang turut serta, maka HR maka bentuk pelaku penyertan ini dapat difungsikan bilamana salah satu dari pelaku yang bekerjasama tidak memiliki kualitas

235

Jan Remmelink, op.cit., hlm. 317

konstitutif yang disyaratkan, oleh karena itu maka medeplegen dapat difungsikan sebagai berikut236: 1. Untuk menciptakan dan melekatkan pertanggungjawaban pada orangorang yang turut terlibat dalam tindak pidana namun yang tidak mungkin dikualifikasikan sebagai pelaku (pleger) mengingat kenyataan bahwa yang disebut terakhir tidak memenuhi faktor-faktor delik yang bersifat konstitutif, 2. Untuk memperluas pertanggungjawaban orang yang turut terlibat perbuatan pidana, yang disamping bertanggungjawab sebagai pelaku (pleger), juga harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan dalam kerja sama yang sadar dengan pihak lain. Berkenaan dengan delik-delik culpa, dalam hal ini HIR lebih berhati-hati, khususnya dengan memperhatikan prinsip versari in re illicita (melibatkan diri kedalam perkara atau urusan terlarang), hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya, dalam perkara culpa, kemunculan akibat kriminal tidak dikehendaki oleh (para) pelaku237.

c. Menyuruh (Doen Plegen) Doen plegen atau menyuruh lakukan merupakan salah satu bentuk penyertaan (deelneming), di dalam doen plegen jelas terdapat seseorang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana, dan seseorang lainnya yang disuruh melakukan perbuatan pidana tersebut238.
236 237

ibid., hlm. 318 ibid 238 Lamintang, op.cit., hlm. 609

Di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana, orang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan pidana itu biasanya disebut sebagai seoarng middellijke dader atau mittelbare tater, yang artinya seseorang pelaku yang tidak langsung, karena ia memang secara tidak langsung melakukan sendiri perbuatan pidananya, melainkan dengan perantara orang lain239. Menurut M.v.T membuat defenisi tentang doen pleger dengan memperlihatkan beberapa dua unsur yaitu; pertama, adalah seseorang, sesuatu manusia, yang dipakai sebagai alat, adanya manusia yang oleh pembuat delik dipakai sebagai alat ini, itulah salah satu unsur pokok dan khusus dari menyuruh melakukan itu. Kedua, dapat dikemukan orang yang dipakai sebagai alat itu berbuat, seseorang yang dipakai sebagai alat yang tidak berbuat, dalam hal ini orang yag dipakai sebagai alat itu adalah sambungan dari lengan dari yang melakukan, dengan kata lain dalam hal ini orang tidak dapat berbicara tentang menyuruh lakukan240. Orang yang dipakai/orang yang disuruh lakukan adalah een werktuig in s plegers hand dan ada dua sebab orang yang disuruh lakukan itu tidak bertanggungjawab menurut hukum pidana atas perbuatan yang dilakukannya, adapun dua sebab itu adalah241: 1. Orang itu sama sekali tidak melakukan satu peristiwa pidana atau perbuatan yang dilakukannya tidak dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana
239 240

ibid. E. Utrecht, op.cit., hlm. 19 241 ibid., hlm. 20

2. Orang itu memang melakukan satu perbuatan pidana tetapi ia tidak dapat dihukum kerana ada satu atau beberapa alasan-alasan yang menghilangkan pidana, kemungkinan antara lain karena pasal 44, pasal 48, pasal 51 ayat (2) KUHP, unsur kaulitas orang yang disuruh sebagaimana disyaratkan delik pasal 413, 419, 437 KUHP dan lainlainnya. Pendapat bahwa orang yang disuruh melakukan perbuatan pidana tidak dapat dihukum adalah satu pendapat yang sejak tahun 1898 diterima umum, baik oleh hukum pidana maupun yurisprudensi hukum pidana. Orang yang disuruh melakukan itu tidaka bertanggungjawab menurut hukum pidana karena dalam perbautan yang dilakukan tidak ada salah satu atau beberapa unsur-unsur psychis subyektif yang terlebih dahulu telah ditentukan dalam ketentuan (undang-undang) pidana yang bersangkutan sebagai anasir-anasir peristiwa pidana yang bersangkutan seperti tidak ada sengaja, atau tidak ada melawan hukum.242 Disamping tidak adanya salah satu atau beberapa unsur-unsur psychis subyektif yang terlebih dahulu telah ditentukan dalam ketentuan hukum pidana yang bersangkutan itu, masih dapat terjadi bahwa tidak adanya salah satu atau beberapa anasir-anasir subyektif lain perbuatan pidana yang bersangkutan mengakibatkan orang yang suruh melakukan tidak bertanggungjawab menurut hukum pidana.243

242 243

ibid., hlm. 22 ibid.

Ciri pokok yang perbuatan menyuruh lakukan terletak pada alat yang dipakai berupa orang yang disuruh tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan pidan ayang dilakukan, sedangkan unsur lainnya ada alat yang dipakai berupa orang lain yang berbuat dan tidak ditentukan daya upaya/cara-cara menyuruh orang lain, pertanggungjawaban yang menyuruh dibatasi yaitu244: a. Hanya sampai pada perbuatan yang dilakukan oleh orang yang suruh, walaupun maksud orang menyuruh lebih jauh dari perbuatan yang terjadi, dan b. Bertanggungjawab tidak lebih dari yang memang disuruhkan pada orang lain, walaupun orang lain itu melakukan perbuatan lebih jauh. Adapun pihak yang sebagai penyuruh dalam dalam upayanya menyuruh orang yang disuruh dalam hal ini bebas melakukan apa saja agar orang yang disuruh mau menjalankan perintahnya dalam artian tanpa batas. Dalam bentuk penyertaan ini kedudukan pihak yang menyuruh disebut sebagai actor intelektual dan yang disuruh disebut sebagai actor materialis.

d. Menganjurkan (Uitlokker) Dalam doktrin hukum pidana tumbuh tiga pendapat mengenai istilah uitlokker sacara bahasa yaitu : 1. Uitlokker sebagai menganjurkan, dikemukakan diantaranya oleh Moeljatno
244

Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 164

2. Uitlokker sebagai membujuk, dikemukakan diantaranya oleh Utrecht 3. Uitlokker sebagai menggerakkan, dikemukan oleh diantaranya oleh Lamintang Dari ketiga hal tersebut di atas tidak memberikan pengertian yang berbeda dalam merumuskan bentuk penyertaan dari uitlokker itu sendiri, adapun dalam hal ini penulis menggunakan istilah menganjurkan. Sebagaimana dalam bentuk menyuruh lakukan, pun dalam hal uitlokker terdapat dua orang atau lebih yang masing-masing berkedudukan sebagai orang yang menganjurkan (auctor intellectualis) dan orang yang dianjurkan (auctor materialis), bentuk menganjurkan berarti actor intellectualis (si pelaku intelektual), menganjurkan orang lain (actor materialis) untuk melakukan perbuatan pidana245. Mengajurkan berbeda dengan menyuruh melakukan, maupun dengan turut melakukan, karena lebih mudag dapat kita tentukan unsurunsur menganjurkan, hal demikian itu disebabkan undang-undang pidana memberi gambaran yang biarpun tidak lengkap masih juga memberi pegangan tentang menganjurkan itu, sebagaimana yang termaktub dalam pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP246. Perbuatan penganjuran adalah perbuatan orang yang mengerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana dengan menggunakkan upaya tertentu yang disebutkan dalam pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP, berbagai daya upaya yang dilakukan oleh penganjur ditentukan berupa247:
245 246

Moeljatno, op.cit., hlm. 124 E.Utrecht, op.cit., hlm 43 247 Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 165-166

1. Memberikan atau menjanjikan sesuatu, maksudnya berupa barang, uang dan segala keuntungan yang diterima oleh orang yang melakukan. 2. Menyalahgunkan kekuasaan atau martabat, maksudnya pada saat melakukan perbuatan sungguh-sungguh ada kekuasaan martabat yang berdasarkan hukum publik maupun hukum privat. 3. Memakai kekerasan, maksudnya ialah tidak boleh sedemikian besarnya yang berakibat orang yang dianjurkan lalu tidak dapat berbuat lain seperti daya-paksa (ingat bentuk menyuruhlakukan). 4. Memakai ancaman atau penyesatan, maksudnya dapat menimbulkan perasaan pada orang lain dalam keadaan bahaya atau berbuat yang tidak semestinya. 5. Memberikan kesempatan, sarana atau keterangan, maksudnya menyediakan kemudahan untuk melakukan perbuatan pidana, alat-alat yang dapat dipergunakan dan petunjuk-petunjuk untuk menggerakkan. Antara daya upaya yang dipergunakan oleh actor intelektual dengan perbuatan pidana yang dilakukan oleh actor materialis harus ada hubungan kausal.Adapun agar bentuk penyertaan ini dapat dikatakan sebagai penganjuran harus memenuhi lima syarat, yaitu248: Seorang penganjur harus memenuhi: 1. Ada kesengajaan untuk mengerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana, dan

248

ibid.

2. Cara menggerakkan dengan upaya-upaya tertentu yang limitatif menurut undang-undang. Orang yang dianjurkan harus memenuhi: 1. Pembuat materiele harus melakukan perbuatan pidana yang dianjurkan atau percobaan yang dianjurkan. Dalam hal ini harus pastilah bahwa pembuat (yang dibujuk) melakukan delik yang bersangkutan karena benar-benar terdorong oleh salah satu cara-cara menganjurkan yang disebut dalam pasal 55 KUHP, dalam hal orang meragukan, dalam hal salah satu cara-cara menganjurkan itu tidak digunakan terhadap diri pembuat, masih juga ia melakukan delik yang bersangkutan, maka tidak mungkinlah ada pembujuk249. Apabila cara membujuk yang dipergunakan itu tidak berpengaruh, yaitu yang dianjur tidak dapat diajak melakukan delik yang bersangkutan, maka terjadilah percobaan membujuk (poging tot uitlokking) yang tidak dapat dihukum menurut pasal 55 KUHP, ada juga kemungkinan cara menganjurkan yang dipergunakan itu berpengaruh, yaitu pada yang dianjurkan ditimbulkan atau diperkuat kehendak untuk melakukan delik yang bersangkutan, tapi pada akhirnya yang dianjur itu tidak melaksanakan apa yang dikehendakinya atau ditengah usahanya ia atas kehendaknya sendiri berhenti (mengundurkan diri), dalam hal ini terjadi penganjuran tanpa hasil yang juga tidak dapat dihukum menurut pasal 55 KUHP250.
249 250

E.Utrecht, op.cit., hlm 59 ibid., hlm 60

2. Pembuat materiele harus dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana karena tidak adanya alasan yang menghapuskan pidana seperti pada doen pleger. Dalam hal ini bahwa yang dianjurkan itu harus mempunyai semua kualitet-kualitet seorang pembuat/pembuat penuh, ia harus bersalah seperti yang ditentukan pidana yang bersangkutan, apabila tidak demikian maka ia tidak dapat dihukum, dengan kata lain dapat disamakan dengan menyuruhlakukan251. 3. Pembuat materiele yang melakukan perbuatan harus ada hubungan kausal dengan upaya-upaya tertentu yang dipergunakan oleh pembuat intelektual. Mengenai hal ini menurut para pengikut indetereminisme (diantaranya Hazewinkel-Suringa) maka seoarang pembujuk tidak dapat menimbulkan (pada yang dianjurkan) kehendak untuk melakukan delik yang bersangkutan, pembujuk itu hanya dapat menimbulkan suasana atau faktor-faktor yang mengakibatkan yang dianjurkan menentukan kehendaknya, yang dibujuk sendirilah yang menentukan kehendaknya untuk melakukan delik yang bersangkutan, karena ia mau menerima apa yang disampaikan kepadanya oleh penganjur, jadi yang penganjur tersangkutlah dalan dilakukannya delik yang bersangkutan sebagai pemerkuat dan tidak sebagai kausa252. Dalam hal ini menurut Hazewinkel-Suringa antara penganjur sebagai kausa dan penganjur sebagai pemerkuat tidak ada beda yang berarti, pokoknya apakah cara membujuk yang dipergunakan oleh penganjur
251 252

ibid., hlm. 63 ibid., hlm. 59-60

telah begitu berpengaruh sehingga pada yang dianjur ditimbulkan atau diperkuat kehendak untuk melakukan delik yang bersangkutan253. e. Pembantuan (Medeplichtigheid) Ada pembantuan apabila ada dua orang atau lebih sebagai: pertama, pembuat/de hoofd dader, dan kedua, pembantu/de medeplichtige. Dengan sengaja membantu orang lain melakukan suatu kejahatan, dibedakan atas dua macam yaitu254: 1. Pembantuan pada wakltu dilakukan kejahatan tanpa dengan daya upaya tertentu. Dengan demikian maka setiap tindakan yang dilakukan orang dengan maksud membantu orang lain melakukan kejahatan itu, dapat membuat orang tersebut dituntut dan dihukum karena dengan sengaja telah membantu orang lain, pada waktu orang tersebut melakukan kejahatan. Menurut Prof. Simons bantuan tersebut dapat berupa bantuan yang bersifat material, yang bersifat moral ataupun yang bersifat intelektual. 2. Pembantu yang mendahului melakukan kejahatan dengan daya upaya memberi kesempatan, sarana atau keterangan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat material, misalnya menyerahkan senjata atau alat-alat pada pelakunya, dan dapat pula bersifat intelektual, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan pencurian terhadap barang-barang yang berada dalam pengawasannya.

253 254

ibid. Lamintang, op.cit., hlm. 647

Dalam rumusan pasal 56 KUHP dapat diketahui, pemberian bantuan seperti yang dikemukan di atas haruslah diberikan dengan sengaja. Pembantuan dalam bentuk dengan sengaja membantu pada waktu kejahatan dilakukan, hampir mirip dengan bentuk serta melakukan255. Perbedaan antara perbuatan turut serta harus berupa bantuan perbuatan pelaksanaan untuk mewujudkan delik, sedangkan perbuatan pembantuan bersifat poerbuatan memberi bantuan bukan pelaksanaan perbuatan yang dilarang undang-undang, ciri perbedaan ini didasarkan tinjauan ajaran penyertaan yang obyektif256. Disamping itu ada pandangan lain yang membedakan antara perbuatan pembantuan dengan perbuatan turut serta berdasarkan ajaran penyertaan yang subyektif yaitu, pembantuan mempunyai kesengajaan yang ditujukan pada pemberian bantuan kepada orang yang melakukan delik, tujuannya pembantuan digantungkan kepada si pembuat utama, kepentingannya tidak langsung terhadap kehendak melakukan delik dan bantuan terhadap pelanggaran tidak dipidana,sedangkan turut serta melakukan menurut kesengajaan yang ditujukan kearah pelaksanaan delik, tujuannya berdiri sendiri, dan kepentingannya berdiri sendiri yang langsung untuk melakukan delik sekalipun bersifat pelanggaran tetap dapat dipidana257. Bantuan seorang pembantu pelaku (medepichtigheid) tidak mutlak harus memberi pengaruh seperti yang dibayangkan semula, pada
255 256

Moeljatno, op.cit., hlm. 128 Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 167 257 ibid.

prinsipnya bantuan tersebut harus merupakan sumbangan (yang signifikan) terhadap terwujudnya tindak pidana pokok, dan bagi pelaku bantuan ini secara rasional berdasarkan ukuran pengalaman sehari-hari, harus memiliki satu makna khusus meskipun hanya sekedar sebagai penyemangat atau hanya sebagai sebuah tanda bahwa keadaan aman (untuk melakukan tindak pidana)258. Sebaliknya bantuan tersebut juga dapat tidak sedemikian penting bagi pelaku, tidaklah perlu dibuktikan tanpa bantuan, pelaku tidak mungkin dapat menuntaskan tindak pidana tersebut, HR 7 Januari 1918, W 10225, karena itu kausalitas adekuat sebagai suatu kemungkinan juga dianggap memadai259.

3. Sistem Pertanggung Jawaban pelaku dalam Delik Penyertaan Sebagaimana telah diuraikan bahwa dalam delik penyertaan itu terlibat beberapa orang. Oleh karenanya sudah pantas apabila terhadap orang-orang tersebut termaktub dipertanggungjawabkan baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri sesuai dengan tingkat klasifikasi masingmasing keterlibatannya dalam kejahatan yang telah dilakukannya260 . Dibagian muka telah disebutkan dan dijelaskan tentang bentuk-bentuk pernyataan dalam hal perbuatannya dan dalam hal ini akan dibahas bentuk pertanggungjawaban dari masing-masing delik penyertaan tersebut : a. Pelaku (Plegen)
258 259

Jan Remmelink, op.cit., hlm. 324 ibid. 260 Aruan Sakidjo dan Bambang Poernomo, op.cit., hlm. 149

Dalam hal pertanggungjawaban bagi plegen merupakan pertanggungjawaban yang mutlak dalam artian sebagaimana yang dirumuskan bahwa orang yang perbuatannya telah memenuhi unsur delik yang terdapat dalam pasal hukum pidana yang dilanggar. Oleh karena itu pada prinsipnya ia merupakan orang yang baik secara sendiri ataupun berkait dengan orang lain, telah dapat dijatuhi sanksi pidana261. Hal tersebut sesuai dengan syarat dapat dipidana perbuatan yaitu262: 1. Suatu perbuatan 2. Yang memenuhi rumusan delik 3. Yang bersifat melawan hukum 4. Dilakukan karena kesalahan Dan apabila hal tersebut di atas dapat terpenuhi maka dapat dikenakan pidana yang merupakan konsekuensi atas perbuatan yang telah dilakukan.

b. Turut serta (Medeplegenr Adalah bentuk pernyataan dimana antara para peserta delik telah terjadi kerjasama yang erat baik secara fisik maupun non fisik, sebagaimana yang diuraikan pada pembahasan mengenai turut serta. Dalam hal ini baik delik yang dilakukan secara individual telah memenuhi rumusan atau dalam hal perbuatannya digabungkan dan akhirnya menjadi delik yang sempurna dan salah satu peserta telah

261 262

M. Abdul Kholiq, op. cit., hlm 223 D. Schaffmeister, N. Keijzer dan PH. Sutorius, op.cit, hlm 213

memenuhi seluruh delik 263 dalam hal niat berbeda-beda , maka kesemua peserta tetap dapat dipidana tetapi kualifikasinya bagi medeplegen berbeda-beda. Dalam hal terbukti adanya keikutsertaan pihak-pihak yang terkait akan saling bertanggungjawab atas tindakan masing-masing serta atas akibat yang ditimbulkannya. Sepanjang hal itu termasuk kedalam lingkup pertanggungjawaban bersama atau sepenuhnya terobyektivasi (dilepaskan dari hubungan kesalahan)264 . Apabila terjadi seorang medeplegen melampaui batas kesengajaan/kesepakatan yang telah disepakati, maka perbuatannya harus dipertanggungjawabkan sendiri sebagai contoh A & B secara bersamasama hendak menganiaya C, namun selagi penganiayaan dilakukan B kemudian menusuk C hingga mati maka dalam hal ini A dianggap tidak mengambil bagian dalam tindakan pembunuhan C 265. Sebagai catatan bahwa apabila terjadi kerjasama secara penuh maka dalam pengenaan pertanggungjawaban pidananya tidak ada perbedaan sanksi dan apabila ada ketidakseimbangan dalam melakukan perbuatan pidana dimana yang satu lebih besar perannya sedang yang lain tidak terlalu besar/kecil perannya maka seperti disebut di atas akan dikualifikasikan sesuai dengan perbuatan. Point penting lain berkaitan dengan batas/perbedaannya dengan pembantuan, dalam hal ini terutama berbicara masalah perbuatan dalam
263 264

ibid., hlm 115 Jan Remmelink, op.cit., hlm 317 265 ibid.

hal ini terutama berbicara masalah perbuatan pelaksana/dilihat berdasarkan sifat perbuatan lahirnya. c. Menyuruh (Doen Pleger) Bentuk delik pernyataan doen plegen dalam M.V.T hal ini diungkapkan bahwa pelaku bukan saja ia yang melakukan tindak pidana, melainkan juga ia melakukannya tidak in persona tetapi melalui orang lain yang seolah sekadar alat bagi kehendaknya yakni bila orang tersebut karena ketidaktahuannya pada dirinya kekhilafan /kesesatan yang sengaja ditimbulkan baginya atau sebab (ancaman) kekerasan yang mengalami kehendak bebasnya, ternyata bertindak tanpa kesengajaan, kesalahan (kelalaian/keteledoran) atau tanpa dimintai pertanggungjawabannya266. Pihak yang disuruh melakukan perbuatan pidana tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan maka menunjukkan adanya alasan / dasardasar yang meniadakan pidana 267 dan pertanggungjawaban pidana atas perbuatan yang dilakukan oleh pihak yang disuruh (aktor materialis) dibebankan kepada pihak yang menyuruh (aktor intelektual) karena aktor intelektual yang menghendaki dan menginginkan terjadi perbuatan pidana dengan melalui pihak lain. Pertanggungjawaban dari aktor, intelektual hanya sebatas pada yang disuruhkan saja tidak lebih, dan apabila tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka hal tersebut di luar dari tanggungjawab aktor intelektual.
266 267

ibid. ibid.

d. Menganjurkan (Uitlokker) Dalam bentuk penyertaan ini sama seperti Doen Pleger melibatkan minimal 2 orang yang satu sebagai aktor intelektual (pengajar) dan aktor materialis (orang yang melakukan tindak pidana atas anjuran aktor intelektual). Dimana aktor intelektual dan aktor materialis kedua-duanya dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan sesuai dengan perannya masing-masing dan apabila terbukti kesalahannya mereka dapat dikenai ancaman pidana268. Dalam teori ilmu hukum pidana bentuk pertanggungjawaban pidana aktor intelektual dan aktor materialis mempunyai batasan-batasan yang diatur sebagai berikut 269: 1. Pada prinsipnya, penganjur Uitlokker hanya bertanggungjawab sebatas pada perbuatan yang benar-benar dianjurkan. 2. Penganjur/Uitlokker dapat pula dipertanggungjawabkan sampai melebihi batasan dari perbuatan yang dianjurkan jika hal itu memang timbul secara berkait sebagai akibat langsung dari perbuatan actor materialis pada saat melaksanakan anjuran uitlokker. e. Pembantuan (Medeplichtigheid) Bentuk penyertaan medeplichtigheid dalam hal pertanggungjawaban pidananya telah ditentukan batas-batasnya dalam KUHP pasal 57 ayat 4 :
268 269

Abdul Kholoq, op.cit., hlm 232 ibid.

Dalam menentukan pidana bagi pembantu, yang diperhitungkan hanya perbuatan sengaja dipermudah/diperlancar olehnya, beserta akibat-akibatnya. Tujuan Undang-Undang melakukan pembatasan pada penyertaan pembantuan ini adalah agar tanggungjawab pembuat tidak melampuai batas-batas dari apa yang disengaja mereka sendiri dan apabila tidak dilakukan pembatasan, maka akibat-akibat sifat aksesor (accessoire) dari bentuk turut serta ini adalah terlalu luas270, dan hal ini pun berlaku bagi bentuk penyertaan uit lokker. Dalam pembentukan terdapat 2 pihak yaitu pembantu dan pembuat, dan diantara keduanya harus terdapat kualifikasi yang cocok antara pembantu dan pembuat agar bisa dikatakan telah terjadi pembantuan melakukan perbuatan pidana. Pernyataan tersebut cocok dengan pendapat yang menyatakan peserta-peserta yang disebut dalam pasal 55 adalah pembuat yang berdiri sendiri, dan dalam pasal 56 pembantu adalah peserta yang tidak berdiri sendiri dimana pembantu akan dipidana apabila pembuat terbukti melakukan perbuatan pidana271. Untuk pembantuan dalam delik pelanggaran tidak dipidana. Dalam pasal 56 KUHP dinyatakan bahwa dalam melakukan perbuatan pembantuannya dilakukan dengan kesengajaan dan kesengajaan pelaku pembantu itu sendiri hanya relevan untuk menentukan berat ringan pidana yang dijatuhkan kepadanya 272. Berhubung dengan masalah sanksi
270 271

E.Utrecht , op.cit., hlm. 81 ibid, hlm. 82 272 Jan Remmelink, op.cit., hlm. 326

bagi pelaku pembantuan diancamkan sebagaimana tertuang dalam pasal 57 ayat 1, berbunyi : Dalam hal pembantuan, maksimum pidana pokok terhadap kejahatan dikurangi sepertiga hal tersebut sesuai karena pelaku tidak mungkin dimintai tanggungjawab lebih besar ketimbang pelaku (utama).

BAB IV PENETAPAN HUBUNGAN ANTARA PELAKU PERBUATAN PIDANA YANG DILAKUKAN SECARA MASSAL

A. Hubungan antar Pelaku Perbuatan Pidana yang Dilakukan Secara Massal Menurut Doktrin Hukum Pidana Pada Bab II sebelumnya telah dijelaskan bahwa defenisi dari perbuatan pidana yang dilakukan secara massal adalah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum yang berlaku disertai ancaman sanksi bagi pelanggarnya dan perbuaatan tersebut dilakukan oleh sekumpulan orang banyak atau lebih dari satu orang dimana jumlahnya tanpa batas.

Jadi dalam hal ini terdapat lebih dari satu pelaku perbuatan pidana yang baik direncanakan atau tidak direncanakan sebelumnya untuk melakukan kerjasama satu dengan yang lainnya sehingga menciptakan suatu perbuatan pidana. Dengan melihat pelaku perbuatan pidana yang lebih dari satu orang tersebut dan bahkan bisa mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang pelakunya, dalam hal ini tentunya setiap pelaku dalam melakukan perbuatan pidana mempunyai porsi dan peranan yang berbeda-beda satu sama lain bahkan sampai dari segi pertanggung jawaban pidananya pun berbeda-beda kadarnya. Karena dalam hukum pidana dilihat seberapa besar perbuatan yang dilakukan maka sebesar itu juga akan di mintai pertanggungjawabannya disamping pertimbangan-pertimbangan lain yang dapat mengurangi pertanggung jawabannya terhadap perbuatan yang dilakukan. Dengan melihat adanya suatu kerjasama antar pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, baik kerjasama tersebut direncanakan atau tidak direncanakan/spontanitas diantara sesama pelaku, tetapi tetap saja mempunyai suatu ikatan atau hubungan satu sama lainnya sehingga menciptakan suatu perbuatan pidana, disamping itu juga mengingat bahwa kejahatan tersebut merupakan kejahatan kolektif. Jadi dalam hal banyaknya pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tersebut, khususnya pada jumlah para pelaku yang tidak jelas berapa banyaknya. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian terkait dengan hubungan antar masing-masing pelaku agar dalam hal pertanggungjawaban pidana atau lebih

luasnya dalam penegakkan hukumnya jelas dan tidak asal, sehingga merugikan pihak-pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung . Berbicara dalam hal masalah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku perbuatan pidana yang dalam hal ini berupa sanksi yang merupakan konsekuensi, karena unsur-unsur/ciri-ciri pidana itu sendiri adalah273 : 1. Pidana pada hakekatnya merupakan satu pengenaan penderitaan atau nestapa/akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. 2. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang) 3. Pidana yang dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. Perlu diingatkan bahwa seseorang yang melanggar hukum pidana tidak dapat dengan langsung diberikan sanksi atas perbuatannya tapi, harus mempunyai kesalahan sebab asas dalam dalam pertanggungjawaban pidana adalah tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (Geen Straf Zomder Schuld : Actus non facit reum nisi mens sir rea)274. Adapun untuk dapat dikatakan seseorang memiliki kesalahan dan patut dipidana adalah harus memenuhi275: 1. Melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum) adalah melakukan perbuatan yang bertentangan hukum yaitu bukan saja terhadap undangundang tapi juga perbuatan yang dipandang dari pergaulan masyarakat tidak patut.

273

Barda Nawawi Arief, Teori-teori&Kebijakan Pidana , Edisi Revisi, Alumni, Bandung, 1998, hlm. 4 274 Moeljatno. Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, 1987. hlm.153 275 ibid. hlm. 158-164

2.

Mampu bertanggungjawab adalah mampu untuk membeda-bedakan antara perbuatan baik dan yang buruk yang sesuai hukum dan yang melawan hukum serta mampu menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya satu perbuatan, hal ini telah ditegaskan dalam pasal 44 KUHP.

3.

Mempunyai kesalahan berupa kesengajaan / kealpaan berkaitan dengan sikap batin seseorang pada saat melakukan satu perbuatan pidana.

4.

Tidak adanya alasan pemaaf. Suatu keadaan yang menghapuskan pertanggungjawaban seseorang atas perbuatan pidana yang dilakukan Jadi seorang hakim dalam hal memutuskan seseorang patut dipidana atau

tidak, harus melihat ke empat (4) hal diatas. Berkaitan dengan kesalahan terhadap para pelaku perbuatan pidana massal yang tentunya bervariatif, apalagi dengan jumlah pelaku yang puluhan sampai ratusan orang276. Menurut Satjipto bahwa mencegah dan menghalau massa yang mengamuk memang dapat dilakukan polisi, tetapi memproses secara hukum adalah soal lain. Artinya polisi memang dapat menangkap pencuri, pelanggar lalu lintas, pembunuh bahkan menangani pelaku kejahatan dalam jumlah tertentu yang jelas, tetapi bukan yang namanya massa yang tidak jelas berapa jumlahnya277 Dengan berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis mengkaji keberadaan pelaku perbuatan yang dilakukan secara massal serta bagaimana konsep pertanggungjawabannya ditinjau dari hukum pidana meskipun secara doktrin
276

Dalam kondisi dimana pelaku perbuatan pidana berjumlah 2, 3 dan seterunya dimana jumlah dari oaring-orang tersebut dalam jumlah yang jelas, dalam hal ini akan mudah menerapkan hukumnya, seperti pada perbuatan pidana biasa yang pakaunya satu orang. 277 Amuk Massa diIndonesia Sudah Menjadi Wabah Sosial,dalam http://www.kompas.com/kompascetak/0210/20/utama/pres1.htm

hukum pidana hal ini belum ada pengaturan yang tegas dan jelas terhadap hal tersebut.

1. Hubungan antar Pelaku Perbuatan Pidana yang Di lakukan Secara Massal Dalam hukum pidana terdapat suatu perbuatan pidana dimana dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan bagian dari tiap-tiap orang dalam melakukan perbuatan dan sifatnya berlainan dan bervariatif. Hal tersebut dapat dilihat dari peran serta mereka dalam melakukan perbuatan tersebut dimana posisinya bisa sebagai pelaku atau pembantu dalam perbuatan pidana yang dilakukan. Dengan melihat hal tersebut membuat kemungkinan untuk memperluas dapat dipidananya perbuatan dalam beberapa hal khususnya terhadap pelaku yang lebih dari satu orang dan hal tersebut dikenal dengan delik penyertaan (deelnemihg). Penyertaan ialah apabila orang yang tersangkut untuk terjadinya suatu perbuatan pidana atau kejahatan itu tidak hanya satu orang saja, melainkan lebih dari satu orang. Definisi tersebut merupakan kesimpulan dari penjelasan pasal 55 dan pasal 56 KUHP tentang bentuk-bentuk dari penyertaan karena KUHP sendiri tidak secara tegas dalam memberikan pengertian tentang penyertaan. Jadi untuk menentukan kedudukan para pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massa dapat menggunakan teori atau doktrin delik penyertaan, karena seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa

perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tidak ada perbedaan dengan perbuatan pidana seperti biasanya yang tertuang dalam peraturan perundangundangan hukum pidana. Yang membedakan subyek pelakunya yang lebih dari satu orang dan sampai ketidakjelasan jumlah subyek pelaku yang ada. Bentukbentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara masal, yang terbagi menjadi dua macam yaitu perbuatan pidana yang dilakukan secara masal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir dan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir. Dengan adannya kedua bentuk tersebut maka dalam hal ini perlu dikaji bagaimana hubungan antar pelaku satu dengan yang lainnya sehingga jelas dalam menentukan kesalahan masing-masing. Dalam menentukan kedudukan para pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dapat menggunakan empat macam bentuk dalam delik penyertaan yaitu turut serta (medapleger), menyuruh lakukan (doen pleger), menganjurkan lakukan (uitlokker), dan membantu melakukan (medeplichtigheid). Adapun dengan keempat macam bentuk penyertaan tersebut apabila dikontekskan dengan bentuk-bentuk perbuatan pidana yang dilakuka secara massal, yang pada akhirnya memperoleh suatu kejelasan terhadap hubungan dan kedudukan para pelaku tersebut, khusunya apabila dalam hal dihadapkan pada banyaknya jumlah pelaku yang tidak jelas berapa besarnya. Satu hal yang menjadi catatan sebelum masuk pada penjelasan tiaptiap bentuk delik penyertaan yang ada, maka perlu diketahui sebelumnya

bahwa untuk bentuk penyertaan pleger tidak masuk tidak masuk dalam kategori perbuatan pidana yang dilakukan secara massal karena menurut penjelasan yang salah satu diambil dari penjelasan KUHP bahwa pleger adalah seseorang yang sendirian telah berbuat mewujudkan segala anasir atau elemet dari pristiwa pidana278. Jadi tidak tepat kiranya bentuk pleger dimasukan dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Adapun penjelasan mengenai bentuk-bentuk penyertaan tersebut adalah sebagai berikut. a. Bentuk penyertaan turut serta melakukan perbuatan pidana (medepleger). Bentuk ini terdapat pada pasal 55 KUHP, sedangkan pengertian medeplegen itu sendiri adalah orang yang melakukan kesepakatan dengan orang lain untuk melakukan tindak pidana dan secara bersama-sama pula ia turut beraksi dalam melaksanakan tindak pidana sesuai dengan yang disepakati tersebut279. Jadi sedikit-dikitnya harus ada dua orang atau lebih dalam hal bersama-sama melakukan perbuatan pidana (medepleger). Hal tersebut apabila dikontekskan dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tidak dapat diterapkan pada semua kasus, karena pada bentuk penyertaan ini disyaratkan salah satunya selain dilakukan bersama-sama280 tetapi juga kerja sama yang dilakukan secara sadar dan terencana. Adapun bentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang relevan diterapkan pada bentuk penyertaan ini adalah:

278 279

R.Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, ctk. Ulang ,politea, Bogor, 1996, hlm. 73 Abdul Kholiq, Hukum Pidana (Buku Panduan Kuliah), Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002, hlm. 224 280 Lihat pengertian bersama-sama pada bentuk penyertaan turut serta (medeplegen).

- Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa terbentuk secara terorganisir. Pada massa yang terorganisir dimana massa tersebut terkendali baik oleh operator-operator lapangan, pemimpin atau ketua dalam kelompok tersebut atau bisa juga mereka terorganisir dari pembagian kerja yang diemban masing-masing dan hal tersebut memang sengaja dilakukan untuk bekerjasama dalam melakukan perbuatan pidana. Perlu dipahami bahwa untuk massa yang terorganisir syarat pokoknya adalah dimana dalam melakukan perbuatan pidananya para pelaku dengan sengaja uintuk melakukan kerjasama. Adapun dalam hal ini bentuk kerjasama yang dilakukan bisa secara fisik dan non fisik dan kedua hal tersebut harus mutlak ada pada bentuk penyertaan ini, karena apabila hanya salah satunya saja maka bisa dikatakan bentuk pembantuan saja281. Kerjasama secara fisik yaitu merupakan kerjasama dalam kesepakatan yang telah direncanakan sebelum melakukan tindak pidana, sedangkan kerjasama fisik dalam hal ini dapat terjadi dalam 3 (tiga) bentuk kemungkinan yaitu 282: 1. Dalam kenyataan, perbuatan dari masing-masing pihak

yang terlibat perbuatan pidana, secara individual sesungguhnya memenuhi semua unsur delik yang terjadi hanya saja pihak yang

281

Lihat perbedaan antar bentuk turut serta (medeplegen) dengan bentuk pembantuan (medeplictigen) pada delik penyertaan. 282 Abdul Kholiq, op.cit.,hlm

lainnya memberikan bantuan fisik sehingga terlihat adanya kerjasama. 2. Dalam kenyataan, perbuatan dari masing-masing pihak

yang terlibat perbuatan pidana, sesungguhnya memang tidak ada / belum memenuhi semua unsur delik yang terjadi. Namun, jika seluruh perbuatan dari masing-masing yang terlibat tersebut digabungkan, maka semua unsur dari rumusan delik dapat terpenuhi. 3. Dalam kenyataan, diantara 2 orang / lebih yang terlibat

kerjasama fisik, sesungguhnya hanya satu orang saja yang perbuatannya benar-benar memenuhi seluruh unsur delik yang terjadi; sedangkan yang lainnya walaupun tidak memenuhi semua unsur delik tetapi peranannya cukup menentukan bagi terjadinya delik tersebut. Pada bentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir, dalam jenis perbuatan atau kekerasan massa yang dilakukan, yang menurut Tb Ronny Nitibaskara dibagi menjadi tiga macam kekerasan massa yang dilakukan yaitu: d. Kekerasan massal primitif, adalah yang pada umumnya

bersifat nonpolitis, ruang lingkup terbatas pada suatu komunitas lokal, misalnya pengeroyokan, tawuran sekolah.

Selanjutnya menurut Tb Rony Nitibaskara, secara teoritis khususnya dalam jenis kekerasan kolektif primitik sangat sedikit ditemukan bukti bahwa tingkah laku itu direncanakan dan direkayasa sebelumnya, kebanyakan kerusuhan merupakan ledakan sepontan dari kelompok283. Jadi pada jenis perbuatan massa ini terbentuknya massa yaitu bisa secara terencana dan tidak terencana. Apabila massa dalam melakukan perbuatan pidana dengan terencana artinya massa tersebut merupakan massa yang terorganisir, sedangkan untuk massa yang melakukan perbuatan pidana tidak dengan terencana artinya massa tersebut tidak terorganisir. Jadi untuk massa yang terbentuk secara terorganisir yaitu perbuatan pidana yang dilakukan massa direncanakan terlebih dahulu atau terencana. Sedangkan untuk massa yang tidak terorganisir yaitu perbuatan pidana yang dilakukan massa tidak terencana terlebih dahulu atau spontanitas. Jadi untuk jenis perbuatannya maka massa yang terorganisir masuk pada perbuatan yang terencana untuk kekerasan primif. Dari segi tujuan perbuatan pidana yang dilakukan secara masal pada bentuk pertama ini dikumpulkan untuk memberikan tekanan dalam suatu proses sosial tertentu. Sebagian massa ada yang terang-terangan mengusung simbol -simbol identitasnya, ada yang menampilkan simbol-simbol identitas yang sengaja dibuat untuk
283

Ibid.

menyembunyikan identitas sejatinya atau agar dapat memberikan stigma kepada identitas kelompok tertentu, tetapi ada juga yang melakukan aksi sama sekali tanpa identitas jati diri yang jelas 284. Jadi dalam hal ini massa bertindak melakukan kerusuhan atau tindakan agresif massa ada yang sengaja diciptakan, tetapi ada juga yang sebagai respons terhadap kondisi lapangan saat ini. e. kekerasan massa reaksioner, adalah umumnya reaksi ini

terjadi terhadap penguasa yang mana bisa dilakukan oleh siapa saja baik oleh kelompok masyarakat swasta maupun pemerintah. Reaksi tersebut muncul karena merasa berkepentingan dengan tujuan kolektif, dimana dilakukan untuk menentang suatu kebijakan/sistem yang dianggap tidak adil dan jujur. Jadi dengan melihat penjelasan tersebut terdapat suatu pernyataan yaitu berkepentingan dengan tujuan kolektif. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat sebuah permasalahan yang menjadi masalah bersama bagi kelompok tertentu, dimana terdapat kepentingan-kepentingan yang ingin dicapai. Jadi karena reaksi muncul karena adanya permasalahan bersama yang jelas duduk persoalannya, maka diperlukan suatu satu pemahaman dan keseragaman berpikir dan bergerak. Maksudnya adalah bagaimana cara atau strategi yang akan dipakai dalam menyampaikan kehendak yang diinginkan kelompok tertentu dan aksi massa tersebut betul-betul bergerak demi kepentingan kolektif. Karena
284

Korupsi dan Amuk Massa dan Dagelan Hukum, dalam http//antikorupsi.org/mod

kolektif jadi segala sesuatu dikerjakan secara bersama-sama dan sadar, sebagaimana contoh tentang aksi mogok sopir angkot akibat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah yang menaikan retribusi dari Rp. 400,- menjadi Rp. 800,-. Oleh karena itu agar memberikan hasil yang maksimal dan menunjukkan bahwa akibat kebijakan yang ada dari pemerintah atau penguasa merugikan banyak orang dan hal tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi yang terkait untuk merubah kebijakan dan sistem yang terkait. c. Kekerasan kolektif modern, yaitu merupakan suatu aksi dari satu organisasi yang tersusun dan terorganisir dengan baik yang tujuannya untuk tujuan ekonomis dan politis. Untuk bentuk kekerasan ini sudah sangat jelas sekali bahwa massa yang berbuat adalah massa yang terorganisir dengan baik, bahkan lebih baik dari kekerasan massa yang reaksioner. Untuk kekerasan massa modern tujuan yang dicapai dari sebuah reaksi yang dilakukan adalah untuk jangka panjang, sedangkan kekerasan massa yang reaksioner adalah untuk jangka pendek, sebab reaksi terjadi karena adanya suatu kebijakan yang mendadak dan merugikan pihak-pihak tertentu atau golongan tertentu. Jadi dengan melihat ketiga jenis kekerasan massa tersebut, dengan jelas dapat dikatakan bahwa massa yang bergerak termasuk dalam kelompok massa yang terorganisir, yaitu dimana massa dalam

melakukan suatu perbuatan pidana dilakukan dengan adanya kerjasama yang disengaja baik secra fisik maupun non fisik. Jadi pada bentuk penyertaan ini hanya berlaku pada massa yang terbentuk secara terorganisir, baik perbuatan pidana yang dilakukan secara massal didepan umum maupun tidak didepan umum. Hal tersebut dikarena bahwa dalam rumusan bentuk penyertaan turut serta (medeplegen) disyaratkan adanya kerjasama yang disadari dan terkordinasi sebelumnya baik secara fisik maupun non fisik. Jadi seperti kasus-kasus yang marak akhir-akhir ini kerusuhan massa, amuk massa, perkelahian antar kampung dan lain-lain asalkan massa dalam hal ini terorganisir dan adanya kerjasama yang dilakukan dengan sengaja maka dapat diterapkan bentuk penyertaan ini dengan catatan perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan yang melawan hukum formal dan material serta penegakan hukum yang dilakukan jelas prosedurnya. Pada bentuk penyertaan ini para pelaku dalam melakukan perbuatan pidana walaupun ada yang dikatakan sebagai ketua, pemimpin atau yang merupakan otak dari perbuatan tersebut kedudukan satu dengan yang lainnya sama. Artinya sama-sama dianggap sebagai pelaku dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan hanya saja disesuaikan apakah dalam melakukan perbuatan pidananya sesuai dengan yang disepakati sebelumnya atau keluar dari yang direncanakan (berlebihan)

apabila sama tapi apabila diluar dari hal tersebut maka disesuaikan dengan proporsinya masing-masing. b. Bentuk penyertaan menyuruh lakukan (doenpleger) . Tercantum dalam pasal 55 KUHp penyertaan dalam bentuk menyuruh lakukan dapat terjadi sebelum dilakukan perbuatan, karena orang yang menyuruh lakukan itu berbuat dengan perantaraan orang lain285. Jadi menyuruh lakukan adalah disini sedikitnya ada dua orang atau lebih, yang menyuruh (doenploger) dan yang disuruh (pleger), dengan demikian bukan orang itu sendiri yang melakukan perbuatan pidana, akan tetapi ia menyuruh orang lain (instrument), yaitu dimana yang disuruh tidak dapat dihukum karena tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya karena adanya alas an penghapusan pidana286. Apabila dihubungkan dengan rumusan dari perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dimana pelakukanya lebih dari satu dan adanya kerjasama baik disadari atau tidak serta perbuatan tersebut sengaja dilakukan. Jadi untuk bentuk penyertaan ini perlu dicatat bahwa para pelaku terutama yang disuruh tidak mempunyai unsur kesengajaan untuk melakukan perbuatan pidana, tapi walaupun disengaja namun tidak disadari bahwa perbuatan tersebut melawan hukum atau sebaliknya disadari bahwa perbuatan tersebut melawan hukum tapi dalam keadaan terpaksa.

285

Aruan Sakijdjo dan Bambang Poernomo, Hukum Pidana,Dasar Aturan Hukum Pidana Kodifikasi, Ctk. Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm 163 286 R.Soesilo, op.cit., hlm 73

Jadi perlu ditekankan disini bahwa dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal salah satu unsurnya sengaja dalam artian menginginkan dan menghendaki terjadinya perbuatan pidana dan hal tersebut dilakukan secara sadar. Jadi untuk bentuk penyertaan ini tidak dapat diterapkan pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal walaupun sebenarnya pihak yang menyuruh sengaja dan menyadari perbuatan yang dilakukannya, tapi bisa dikatakan disini penyuruh sebagai satu-satunya pelaku yang bertanggungjawab walaupun dalam kenyataannya ada dua orang atau lebih pelaku yang melakukan perbuatan tersebut.

c. Bentuk penyertaan menganjurkan (uitlokker). Bentuk penyertaan ini terdapat dalam rumusan pasal 55 KUHP, bentuk penyertaan ini sama halnya dengan menyuruh lakukan (doen pleger). dalam bentuk menganjurkan terdapat dimana pelakunya paling sedikit ada dua orang atau lebih dan kedudukannya masing-masing terdapat dua pihak yaitu, sebagai pihak yang menganjurkan dan pihak yang melakukan anjuran. Hanya saja yang melakukan anjuran penganjur bukan sebagai alat (instrument) yang tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban tetapi orang yang melakukan anjuran disini dapat dihukum atau dimintakan pertanggungjawabannya 287. Jadi disini sifatnya bahwa yang menganjur lakukan hanya sebagi orang yang mengerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana
287

ibid, hlm. 74

yang mana sebelumnya orang yang dianjurkan tersebut belum punya niat untuk melakukan perbuatan pidana kemudian akhirnya mempunyai niat karena tergerak oleh orang yang menganjurkan. Pada bentuk penyertaan ini dari salah satu pihaknya yaitu yang dianjurkan untuk melakukan perbuatan pidana, pada awalnya niatan untuk melakukan perbuatan pidana berawal dari yang menganjurkan, dimana cara atau bentuk dari anjuran tersebut dilakukan sebagaimana yang tertuang dalam pasal 55 KUHp, yaitu: a. Pemberian janji-janji yang atau iming-iming, dalam hal ini tidak

harus berapa barang atau fisik tapi bisa juga yang tidak berwujud. b. Dengan menggunakan pengaruh kekuasaan yang dimiliki. c. Dengan kekerasan atau ancaman tapi tidak boleh sedemikian rupa

sehingga yang dianjur itu tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya. d. Tipu daya, dalam hal ini juga idak boleh sedemikia rupa sehingga

yang dianjurkan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. e. Memberi kesempatan, daya upaya / keterangan, yaitu dimana

orang menganjurkan sengaja memberi kesempatan atau daya upaya itulah yang mempunyai inisiatif untuk melakukan perbuatan lain dan bukan dari yang dianjurkan untuk melakukan288. Jadi dengan bentuk atau cara yang disebutkan diatas maka orang yang dianjurkan tergerak hatinya untuk melakukan perbuatan pidana. Hal
288

ibid., hlm. 75

tersebut dapat berlaku pada massa yang tidak terorganisir karena segala bentuk perbuatan yang dilakukan muncul secara spontanitas tanpa adanya rencana dan kerjasama terlebih dahulu dan dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor penggerak yang berbeda satu dengan yang lainnya, jadi bersifat kasuitis bisa karena ekonomi, sara, poltik dan lain-lain.dengan sebagai penggerak awal hal terjadi karena adanya pihak penganjur atau yang sering kita kenal sebagai provokator. Pada massa yang tidak terorganisir sangat mudah untuk dipengaruhi karena tidak adanya kordinasi atau pihak-pihak yang memimpin dan mengarahkan gerak massa tersebut sehingga disini pihak penganjur dapat dengan mudah masuk kedalam kerumunan massa. Adapun massa tergerak kerana adanya satu permasalahan dan isu yang sama dan terjadi secara spontanitas. Bentuk penyertaan mengajurkan (uitlokker) hanya berlaku bagi perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir dan untuk jenis perbuatan pidananya adalah bentuk kekerasan primitif yang tidak terencana. Dimana dengan melihat bentuk kekerasan massa tersebut massa bergerak dengan bentuk massa yang tidak terorganisir yang didalamnya terdapat pihak-pihak yang memicu terjadinya perbuatan pidana untuk pertama kalinya sehingga massa yang lain tergerak hatinya untuk berbuat, seperti pengeroyokakan, tawuran dan lain-lain.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah sulitnya membedakan mana yang sebagai penganjur dan mana yang tidak karena dalam prakteknya massa yang ditindak adalah massa yang secara fisik dan nyata telah ikut berbuat secara langsung dilapangan dan bukan yang tidak bergabung dalam kerumunana massa yang berbuat. Sebab biasanya penganjur pada bentuk massa yang tidak terorganisir, hanya sebatas pembakar emosi karena isu yang dibangun adalah isu bersama bagi massa untuk ditindak secara brutal dan anarkis sehingga masuk dalam kategori perbuatan pidana. Pada kenyataannya untuk bentuk massa yang terbentuk tidak secara terorganisir ini dalam melakukan perbuatan pidana, niat awal bisa muncul dan berawal dari diri pribadi masing-masingdan bukan dari orang lain, yang mana hal tersebut terjadi karena memiliki satu permasalahan dan isu yang sama dan harus diselesaikan dengan cara yang ilegal dan melawan hukum. Sebagai contoh pemukulan terhadap pencopet yang ditangkap warga secara beramai-ramai kemudian dipukuli massa secara spontanitas dengan tanpa adanya yang memprovokatori atau mempengaruhi untuk berbuat. Maka pada kasus diatas penyelesain tidak dengan menggunakan delik penyertaan menganjur lakukan (uitlokker), tetapi dengan menggunakan delik biasa. Artinya diterapkan dengan model pebuatan yang dilakukan oleh individu, pelakunya individu dan pertanggungjawaban pidana yang juga individu.

Jadi dalam hal tidak adanya pihak penganjur atau provokator maka antar pelaku atau massa yang berbuat tidak memiliki hubungan atau ikatan satu dengan yang lainnya, tetapi terpisah. Kedudukan antar pelaku massa satu dengan yang lainnya sama-sama sebagai pelaku penuh dan pertanggungjawaban disesuaikan dengan kontribusi perbuatan yang dilakukan masing-masing pelaku. Jadi pada bentuk penyertaan ini kedudukkan antar pelaku baik yang menganjur atau yang dianjur melakukan sama-sama sebagai pelaku perbuatan pidana, dan diantara keduanya tidak ada hubungan yang mengikat pada waktu pelaksanaan perbuatan tidak seperti turut serta melakukan. Hubungan antara kedua terjadi yaitu pada saat sebelum perbuatan pidana dilakukan. Sama halnya dengan menyuruh melakukan hanya saja dalam menyuruh melakukan dimana yang disuruh pelaku berada dibawah kendali yang menyuruh dan hal ini berbeda dengan menganjur lakukan karena disini penganjur memiliki peranan yang sangat terbatas yaitu sebatas menganjurkan saja. Tapi perlu diingat untuk penyertaan ini tidak tertutup hanya pada massa yang tidak terorganisir tapi juga yang terorganisir. Tapi untuk massa yang terorganisir para penganjur ini atau istilah lain adalah provokator sangat mudah terdeteksi karena keluar dari rencana yag telah disepakati para massa yang terorganisir tersebut. d. Penyertaan pembantuan/membantu melakukan (medeplichtigheid).

Tercantum dalam pasal 56 seperti yang tertuang dalam penjelasan KUHP bahwa membantu melakukan perbuatan pidana adalah orang yang sengaja memberikan bentuan pada waktu atau sebelum (jadi tidak sesudahnya) kejahatan itu dilakukan289 Bentuk bantuan yang diberikan tidak secara limitatif seperti halnya menganjur melakukan (uitlokker) hanya saja diantaranya memberi kesempatan daya upaya atau keterangan, untuk membedakanya dengan bentuk penyertaan lain yang hampir sama yaitu menyuruh lakukan (doen pleger) dan menganjur lakukan (uitlokker), terletak pada dimana kehendak untuk berbuat jahat sebelumnya sudah ada pada pelaku kemudian disini munculah inisiatif dari yang membantu dalam menjalankan perbuatan pidananya. Adapun bantuan tersebut tidak selalu signifikan keberadaanya dalam proses melakukan perbuatan pidana290. Pada bentuk penyertaan ini bisa berlaku pada semua bentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal baik dengan massa yang terbentuk secara terorganisir maupun tidak terorganisir, hal ini di karenakan pembantuan dalam perbuatan pidana sifatnya berada diluar system dan dari perbuatan para pelaku yang sudah punya niat untuk melakukan perbuatan pidana, jadi pembantu dalam hal ini hanya sebatas pelengkap dari perbuatan pidana karena walaupun tanpa adanya bantuan tersebut perbuatan pidana tetap berjalan dan terlaksana.

289 290

ibid., hlm. 75-76 Utrecht, Hukum Pidana II, Ctk. Ketiga, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, hlm.79-80

Jadi dalam hal ini kedudukan pembantu dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tetap diakui keberadaanya dalam kontribusi yang diberikan, dan tetap dinyatakan sebagai pelaku perbuatan pidana meskipun hanya yang membantu tapi dalam hal ini dipidana. Walaupun perbuatannya tersebut walaupun hanya kecil dan bisa dikatakan tidak terlalu berarti pada pelaku yang sebenarnya. Dengan melihat pembahasan yang tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antar pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dapat dilihat melalui bentuk massa yang terbentuk, apakah massa beraksi secara terorganisir atau tidak terorganisir dan khususnya untuk massa yang terorganisir dapat diterapkan bentuk penyertaan turut serta (medeplegen), sedangkan untuk massa yang tidak terorganisir dapat diterapkan pada bentuk penyertaan penganjuran (uitlokker). Oleh karena itu dengan melihat bentuk-bentuk penyertaan tersebut diantaranya turut serta melakukan (medepleger), menyuruh lakukan (doen pleger), mengajur lakukan (uitlokker) dan membantu melakukan (medeplichtigheid) dan diantara kesemuanya bagi penulis tidak semuanya cocok diterapkan pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal,baik massa yang terorganisir ataupun tidak terorganisir. Karena pada saat dikontekskan tidak semuanya tepat digunakan meskipun ajaran dari kesemua bentuk penyertaan tersebut adalah perbuatan yang dilakukan lebih dari satu orang atau lebih yang dalam hal ini tanpa batas, sebagaimana hal tersebut juga bersesuaian dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal.

Jadi diantara keempat bentuk penyertaan tersebut yang dapat diterapkan adalah, turut serta melakukan (medeplegen), mengajur lakukan (uitlokker), dan membantu melakukan (medeplichtigheid). Dan kesemua hal tersebut telah tercantum dalam KUHP sehingga tinggal diterapkan pada para pelanggar pembuatan pidana khususnya pada perbuatan yang dilakukan secara massal.

2. Konsep Pertanggungjawaban Pelaku Perbuatan Pidana Yang Dilakukan Secara Massal Seseorang dikatakan bertanggungjawab atas perbuatan pidana yang dilakukan apabila dalam dirinya terdapat atau mempunyai kesalahan dalam dirinya yang merupakan azas-azas dari pertanggungjawaban pidana. Dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hal ini sesuai dengan konsep penyertaan dimana kedudukan para pelaku berbeda-beda yaitu ada yang sebagai aktor intelektual , aktor material, bersama-sama melakukan dan yang membantu melakukan perbuatan pidana. Secara ideal apabila dikontekskan dalam konsep penyertaan maka dalam hal kontribusi atau peranan dalam melakukan perbuatan pidana dengan banyaknya pelaku tentunya berbeda-beda, dan dalam segi pertanggungjawaban pidananya pun berbeda-beda juga. Pada bentuk penyertaan turut serta (medepleger), dalam melakukan perbuatan pidana para pelaku dalam hal terbukti secara bersama-sama baik itu dari fisik dan non fisik maka seperti dinyatakan pada bab sebelumnya,

kedudukanya sama artinya selama semua perbuatan yang dilakukan bersama itu tidak berlebihan atau tidak diluar dari yang direncanakan sebelumnya yang telah disepakati maka tanggungjawabnya sama. Tetapi apabila ada diantara para pelaku dan turut serta melakukan perbuatan yang diluar dari kesepakatan diawal, maka tanggungjawabnya berbeda artinya disesuaikan dengan besarnya peranan yang diberikan pada perbuatan pidana tersebut. Bentuk penyertaan menganjur lakukan (uitlokker) adalah dimana disini terdapat dua posisi kedudukan para pelaku yang memang sudah dibedabedakan tidak seperti turut serta lakukan. Ada sebagai penganjur (aktor intelektual) dan yang melakukan anjuran (aktor material), jadi karena memiliki peranan yang berbeda-beda maka, tanggungjawab pidana yang diemban pastinya juga berbeda-beda. Bagi pihak yang menganjurkan pada prinsipnya tanggungjawabnya hanya sebatas pada perbuatan yang benarbenar dianjurkan saja dan tidak lebih291 yaitu sebagai contoh menganjur mencuri, jadi pertanggungjawaban yang menganjur hanya sebatas pada mencuri apabila lebih maka penganjur tidak bertanggungjawab, dan hal ini sebagaimana batas keterlibatan penganjur. Bagi yang melakukan anjuran dari penganjur maka pertanggungjawabanya dapat melebihi pada batasan dari perbuatan yang dianjurkan, jika hal itu memang timbul secara berkaitan sebagai akibat langsung dari perbuatan pihak yang menganjurkan292. Jadi sebagai contoh pada sebuah segerombolan massa yang tidak terorganisir kemudian
291 292

Abdul Kholiq, op.cit., hlm232 ibid.

terprovokatori untuk melakukan perbuatan pidana berupa merusak rumah seorang warga yang dianggap sebagai dukun santet, dan pihak yang memprovokatori bisa terlibat langsung atau langsung pergi dan hanya menonton saja aksi massa tersebut. Dari para massa yang pada awalnya terprovokasi untuk melakukan penghancuran rumah saja kemudian bisa menjadi lebih brutal sampai memukul orang yang dianggap sebagai dukun santet. Jadi dengan mendasari hal tersebut maka massa di hukum sesuai dengan semua perbuatan yang telah dilakukan. Perlu ditegaskan bahwa terhadap penganjur dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal peran sertanya tidak hanya sebatas menganjurkan saja kemudian melihat / mengamati perbuatan yang dianjurkan sampai selesai, tetapi juga bisa turut andil pada saat perbuatan pidana dilakukan. Dengan melihat pernyataan tersebut maka kedudukan penganjur tetap sebagai penganjur meskipun dalam hal ini penganjur juga turut serta melakukan perbuatan pidana Dalam pertanggungjawaban bentuk penyertaan pembantuan (medeplichtigheid), sebagai mana yang tertuang dalam pasal 57 ayat 1 dan 2 yaitu : Ayat 1 : selama-lamanya hukuman pokok bagi kejahatan, dikurangi dengan sepertiganya, dalam hal membantu melakukan kejahatan Ayat 2 : jika kejahatan itu diancam dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup maka dijatuhkan hukuman penjara selamalamanya 15 tahun.

Jadi untuk pembantun konsep pertanggungjawabanya telah ditetapkan dan diatur dalam KUHP dengan jelas. Jadi dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal terhadap konsep pertanggungjawabanya simpel sebagaimana yang selama ini berlaku. pada perbuatan pidana yang dilakukan oleh satu orang, karena apabila melihat secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari sering sekali menemukan baik dari media cetak atau elektronik bahkan menyaksikan langsung terhadap perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang mana pelakunya tidak jelas berapa banyak jumlahnya, tetapi dalam proses hukumannya yang ditindak hanyalaah segelitir orang saja, atau bisa dikatakan refresentatif dari massa yang terlibat. Menurut Marc Ancel bicara masalah pertanggungjawaban pidana adalah dimana pertanggungjawaban tersebut didasarkan pada kebebasan individu merupakan kekuatan penggerak yang utama dari proses penyesuaiansosial, tujuan utamanya adalah dimana setiap perlakuan readaptasi-sosial harus diarahkan pada perbaikan terhadap penguasaan diri sendiri. Oleh karena itu masalah pertanggungjawaban (kesalahan pen) seharusnya tidak boleh diabaikan, malah justru diperkenalkan kembali sebagai suatu pertanggungjawaban pribadi (kesalahan individual). Reaksi terhadap perbuatan anti-sosial justru harus dipusatkan pada konsepsi pertanggungjawaban pribadi ini 293.

293

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, Hlm.38

Pertanggungjawaban pribadi (individual responsibility) menurut Mark Ancel menekankan pada perasaan kewajiban moral pada diri sendiri / individu dan oleh karena itu mencoba untuk merangsang ide tanggungjawab atau kewajiban sosial terhadap anggota masyarakat yang lain dan juga mendorongnya untuk menyadari moralitas sosial. Dan hal tersebut merupakan manifestasi dari kepribadian si pelaku294 Jadi berdasarkan pernyataan Marck Ancel tersebut maka hukum pidana kita tidak mengenal pertanggungjawaban kolektif dan saksi lebih ditujukan kepada diri individu pelanggar. Tapi yang menjadi permasalahan sampai sekarang adalah bagaimana menjatuhkan sanksi kepada semua pelaku secara merata yang sangat tidak mungkin dilakukan terhadap para pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Jangankan sampai menjatuhkan sanksi untuk menentukan siapa saja yang menjadi tersangka dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal aparat penegak hukum khususnya polisi dalam hal ini mengalami kesulitan terutama pada massa yang tidak jelas berapa jumlah yang terlibat. Hal tersebut diatas dapat tergambar dari aparat penegak hukum salah satunya polisi, bagi polisi sesuatu yang tidak mudah untuk menangkap dan menyidik pelaku kejahatan massa, apalagi yang tidak jelas jumlahnya. Dalam kasus-kasus yang melibatkan massa yang banyak dan tidak jelas jumlahnya polisi cenderung berhati-hati bertindak agar tidak terpeleset dalam tindak pelanggaran (kejahatan) menurut UU No 39 / 1999 tentang HAM295. Akibat
294 295

ibid., hlm. 38-39 Main Hakim Sendiri dan Budaya Hukum, dalam http//

sikap kehati-hatian tersebut mengakibatkan rasa keadilan masyarakat tercampakkan khususnya terhadap para korban yang merasa tidak puas terhadap penegakan hukum bagi para pelaku yang dilakukan secara massal. Jadi berdasarkan kondisi riil dari penegakkan hukum terhadap perbuatan pidana yang dilakukan secara massal tersebut, maka diperlukan suatu solusi yang dapat mengatasi hal tersebut, dalam hal ini menurut hemat penulis dalam mencari pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal serta bagaimana konsep atau pertanggungjawaban yang diemban maka dapat menggunakan konsep pertanggungjawaban pada korporasi yang khusunya diberlakukan pada jumlah massa yang tidak jelas berapa jumlahnya, yang mana dalam hukum pidana konsep yang ditawarkan tersebut menyimpang dari dasar hukum pidana yang ada. Dalam munculnya konsep pertanggungjawaban korporasi yang akan diberlakuakn pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, dikarena suatu alasan yang mendasar dan tidak mengada-ada, tetapi dengan melihat kenyataan dari sebuah penegakkan hukum yang selama ini berlangsung walaupun tidak dominan, tapi perlu untuk dipertimbangkan. Tapi untuk lebih jelas apakah konsep pertanggungjawaban korporasi tepat diberlakukan pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal maka harus dilihat pada bentuk massa yang terbentuk. Dalam tulisan ini yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimanakah hubungan antar pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, yang pada akhirnya menghasilkan seberapa besar tanggungjawab yang

akan diemban para pelaku masing-masing. Oleh karena itu, hal ini dapat dengan mudah dikaji apabila dilihat dari aspek bentuk massa yang terbentuk untuk melakukan perbuatan pidana, karena dalam hal ini massa yang berbuat kolektif sifatnya. Jadi dengan melihat bentuk massanya, baik yang terorganisir maupun tidak terorganisir. Maka akan terlihat apakah konsep pertanggungjawaban korporasi dapat menjadikan sebuah solusi kedepannya. Untuk lebih jelasnya maka akan dibahas satu persatu dari bentuk massa tersebut. a. Massa yang terorganisir Pada kelompok massa yang terorganisir mempunyai suatu kerjasama yang terjalin, baik secara fisik maupun non fisik dalam melakukan suatu perbuatan pidana. Pada umumnya kelompok massa yang terorganisir dapat berbentuk suatu organisasi dan bukan organisasi. Untuk massa yang terorganisir dengan sebuah organisasi, mempunyai ciri-ciri yaitu: memiliki identitas/nama perkumpulan, memiliki struktur organisasi, memiliki peraturan yang mengikat anggotanya, memiliki keuangan sendiri, berkesinambungan dan sosial oriented. Seperti: FPI, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Muhamadiyah, LSM. Organisasi mahasiswa, buruh, ormas, dan lain-lain dan tidak termasuk organisasi kejahatan seperti sidikat mafia, narkotik, senjata api dan lain-lain. Apabila dikontekskan dengan korporasi maka untuk organisasi massa ini bukan merupakan sebuah korporasi, karena dilihat dari defenisi korporasi itu sendiri adalah merupakan sebuah

perkumpulan harta atau orang, tapi korporasi terbentuk dengan tujuan profit oriented. Jadi apabila suatu organisasi yang bertujuan profit oriented maka dinyatakan sebagai korporasi, seperti Bank, perusahaan-perusahan dan lain-lain dan dalam hal terjadi tindak pidana baik dilakukan individu atau secara massal/kolektif sudah mempunyai aturan dan konsep pertanggungjawaban yang jelas karena sangat mengikat sifatnya. Sedangkan untuk organisasi yang bukan bertujuan untuk profit oriented maka dinyatakan sebagai organisasi massa yang tujuannya lebih pada sosial oriented yaitu pengabdian pada masyarakat dan pengembangan diri, yang menjadi permasalahan adalah apabila terjadi perbuatan pidana dilakukan oleh organisasi massa secara massal yang jumlahnya tidak jelas, maka hal tersebut yang selama ini mengalami kendala. Sedangkan untuk massa terorganisir tidak dengan sebuah organisasi, atau sementara, artinya adalah massa yang terorganisir hanya untuk jangka pendek atau sementara sifatnya dan spontan dibentuk untuk melakukan suatu perbuatan pidana, sebagai contoh, penggeroyokan, tawuran, sara, dan lain-lain. Yang mana apabila sudah selesai apa yang dikerjakan maka langsung bubar. Jadi sangat jelas disini untuk bentuk ini tidak dapat dikatakan sebagai sebuah korporasi. Tetapi walaupun massa yang terorganisir terbentuk dengan sebuah organisasi atau tidak, dalam hal ini tidak menjadi permasalah. Karena yang penting adalah bagaimana cara kerja massa yang terorganisir dalam

melakukan perbuatan pidana yang mana sama-sama mempunyai keterikatan yang erat satu dengan yang lain atau bisa dikatakan sebagai satu kesatuan. Sering kali dalam perbuatan pidana yang dilakukan secara massal baik massa yang terbentuk secara terorganisir atau tidak terorgansir, dalam praktek selama ini yang ditangkap dan yang dijadikan tersangka adalah orang-orang yang dianggap otak atau pemimpin dalam suatu kelompok massa yang melakukan perbuatan pidana sebagai contoh adalah suatu organisasi Islam yaitu Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini aksi-aksi penerbitan terhadap tempat-tempat yang dianggap maksiat atau pengrusakan dan penyerangan terhadap keberadaan kelompok- kelompok ahmadiah (9 juli 2005)296 . Dengan melihat hal tersebut bisa dikatakan bahwa praktek penegakan hukum terhadap perbuatan yang dilakukan secara massal bersifat perwakilan atau representative bagi pelaku-pelaku yang lain dan apakah ini dapat dibenarkan?. Seperti halnya yang berlaku pada pertanggungjawaban korporasi Berdasarkan realitas tersebut maka menimbulkan suatu pertanyaan apakah untuk kolompok-kelompok yang terorganisir seperti FPI dimungkinkan menggunakan konsep pertanggungjawaban seperti pada pertanggungjawaban pada korporasi. Pada bab sebelumnya tentang korporasi, dimana selama ini dalam hukum pidana kita belum atau tidak mengenal tentang
296

Tentang kasus Ahmadiyah,tedapat dalam, http// majelis,mujahidin.or.id

pertangggungjawaban korporasi. Tapi pertanggungjawaban korporasi baru dikenal di Indonesia pada tahun 1951, tapi sampai sekarang hukum pidana kita ( KUHP ) belum mengakui keberadaanya. Namun pada RUU KUHP nasional memberikan ruang bagi korporasi sebagai subjek hukum. Sebagaimana dirumuskan pengertian korporasi diluar KUHP yaitu kumpulan terorganisir orang atau kekayaan baik merupakan badan hukum atau bukan297. Tapi satu hal yang perlu diingat bahwa walaupun korporasi berbadan hukum atau tidak tapi dalam hal ini tetap dalam lingkup yang bersifat profit oriented selain itu kecuali yang berbentuk yayasan . Dalam korporasi dikenal tiga system pertanggungjawaban pidananya yaitu : 1. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurus yang bertanggungjawab. Pada sistem ini apabila terjadi tindak pidana dilingkungan korporasi maka tindak pidana itu dianggap dilakukan pengurus korporasi dan system ini membedakan tugas mengurus dari pengurus298. Jadi disini korporasi tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Hal ini pun diakui dalam KUHP kita, dimana korporasi tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya yaitu pada pasal 169 KUHP, pasal 398 KUHP, dan pasal 399 KUHP dimana di dalam pasal tersebut mengatakan bahwa yang bertanggung jawab dalam sebuah korporasi adalah pengurus299.
297

Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung, 1991,hlm 19 298 H. Setiyono, Kejahatan Korporasi, Ctk. Pertama, Averros Press&Fakultas Hukum Unversitas Medeka Malang&Pustaka Pelajar, Malang &Yogyakarta, 2002, hlm. 15 299 Muladi dan Dwidja Prayitno, op.cit., hlm 108

2. Korporasi sebagai pembuat maka pengurus yang bertanggungjwab pada sistem pertanggungjawaban ini diakuinya korporasi sebagi subjek hukum dimana korporasi dapat melakukan tindak pidana akan tetapi tanggung jawab untuk itu menjadi beban dari pengurus badan hukum (korporasi) tersebut300. Tindak pidana yangh dilakukan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan seseorang teertentu sebagai pengurus dari badan hukum tersebut, sifat dari perbuatan yang menjadikan tindak pidana itu adalah opersoolijk dan yang memimpin korporasi bertanggungjawab pidana terlepas dari apakah ia tahu atau tidak tentang dilakukannya perbuatan itu301 . 3. Korporasi sebagai pembuat dan yang bertanggungjawab pada system pertanggungjawaban yang ketiga ini adanya pertanggungjawaban langsung dari korporasi dan dibuka kemungkina menuntut korporasi dan meminta pertanggungjawabanya menurut hukum pidana302. Jadi apabila dikontekskan bentuk atau system pertanggungjawaban korporasi tersebut, maka dari realitas sosial yang ada, biasanya kelompok massa yang terorganisir mengunakan identitas kelompok atau organisasi dalam melakukan perbuatan pidananya dan yang ditangkap dan diproses adalah pemimpin dari kelompok tersebut walaupun tidak semua kasus diperlakukan sama sebagai contoh kasus FPI dimana yang ditangkap

300 301

ibid.,hlm 16 Muladi dan Dwidja Priyatno, op,cit., hlm70 302 H.Setiyono,op.cit., hlm 17

adalah ketua dari front pembela Islam sedangkan teman-temannya yang satu perjuangan tidak diproses. Jadi apabila dipadukan dengan pertanggungjawaban korporasi adalah sama dengan bentuk yang kedua yaitu dimana korporasi yang berbuat maka yang bertanggungjawab adalah pengurus, dalam hal ini adalah pemimpin perusahaan yang bersangkutan. Menurut hemat penulis system pertanggungjawaban tersebut lebih efektif walaupun dalam hukum pidana kita tidak dikenal. Adapun hal tersebut dengan mempertimbangkan bahwa ciri-ciri dari massa salah satunya adalah sugestif dan menular, apalagi ucapan dan atau tindakan yang dilakukan oleh salah satu individu (apalagi kalau dia dianggap sebagai pemimpin). Karena tanpa adanya pemimpin organisasi massa yang terorganisir dalam hal akan melakukan perbuatan pidana tidak akan berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang ditargetkan. Dalam hal penegakan hukumnya maka yang ditangkap dan diproses adalah pemimpin maka hal tersebut bisa membuat orang yang memimpin massa atau organisasi setidak-tidaknya berfikir untuk menggerakkan massa untuk melakukan pidana karena yang nantinya akan bertanggung jawab adalah pemimpin tersebut. Massa berani bereaksi dan sampai berakibat anarkis serta brutal dikarenakan salah satu ciri massa adalah anonimitas, dimana karena dalam massa ini memindahkan identitas dan tanggung jawab individual ke dalam identitas dan tanggung jawab kelompok. Artinya perilaku individu dalam

massa ini sangat berani, tidak rasional, agresif, destruktif, pendeknya tidak bertanggung jawab karena tidak merasa bertindak sebagai individu dan tidak akan di mintai pertanggungjawaban sebagai individu303. b. Massa yang tidak terorganisir Bagi kelompok massa yang tidak terorganisir, dimana dalam melakukan perbuatan pidana timbul secara reaktif dan spontanitas, karena kondisi atau keadaan yang menyebabkan massa tersebut terprovokasi untuk melakukan perbuatan pidana. Otomatis dalam beraksipun tidak adanya koordinasi atau instruksi yang jelas dari orang yang dianggap ketua atau pemimpin, dan yang menggerakkan massa tersebut serempak bukan adanya pemimpin tetapi karena kesamaan isu atau permasalahan. Realita tersebut biasanya dipicu karena timbulnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap kewibawaan hukum yang menurun, sebab dengan melihat kenyataan bahwa penegak atau pengemban hukum justru melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai hukum yang seharusnya ditegakkan (antara lain kebenaran, keadilan, kejujuran, kepercayaan dan cinta kasih antar sesama)304 . Nilai kepercayaan merupakan salah satu nilai atau kepentingan yang perlu selalu dipelihara, ditegakkan, dilindungi. Masyarakat yang aman , tertib, dan damai diharapkan dapat dicapai apabila ada saling kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai kepercayaan inilah yang justru menjalin hubungan harmonis kehidupan bermasyarakat dan
303 304

Korupsi dan Amuk Massa dan Dagelan Hukum, dalam http//antikorupsi.org/mod Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakkan Penegakkan&Pengembangan Hukum Pidana, Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 56

bernegara dan sebaliknya, akan timbul kekacauan, ketidaktentraman, dan ketidakdamaian apabila nilai kepercayaan itu telah hilang atau mengalami erosi dalam kehidupan bermasyarakat. Dan dalam mencari penyelesaian dilakukan dengan kekerasan dan bahkan main hakim sendiri305. Sebagai contoh pada kasus diadilinya seorang pastur di Flores yaitu RM. Frans Amanue, perbuatan akibat mengkritik pemerintah akhirnya ditangkap dan diproses hukum padahal niat dari pastur untuk membela keadilan dan kebenaran tapi malah dihukum. Hal tersebut memicu masyarakat Flores yaitu tepatnya di Larantuka, kota Reinha yang merasa bahwa para penegak hukum tidak lagi berpihak pada rasa keadilan dan kebenaran tapi pada yang berkuasa. Kemarahan massa memuncak dan berakibat pada pemboikotan dua gedung tempat masyarakat mencari keadilan yaitu gedung pengadilan dan kejaksaan negeri ( Akantika )306 . Jadi untuk mengatasi hal tersebut diperlukannya pembenahan atau reformasi terhadap para penegak hukum kita untuk menjadi lebih baik dan menghilangkan citra yang selama ini melekat yaitu hilangnya rasa kepercayaan masyarakat pada para penegak hukum. Jadi untuk konsep pertanggungjawaban pidana yang dilakukan secara massal, dimana massa disini tidak terorganisir tidak dapat diterapkan sistem pertanggungjawaban seperti korporasi baik untuk yang sistem pertanggungjawaban pertama atau sistem pertanggungjawaban yang kedua karena pertimbangan : 1. karena massa terbentuk tidak secara terorganisir dan teratur dengan baik tetapi muncul secara spontanitas maka tidak ada identitas atau nama perkumpulan yang mewadahi gerakan mereka sehingga tidak

305 306

ibid., hlm 56 Setelah Putusan Hakim atas Rm. Frans Amanue,Pr

dapat diterapkan pertanggungjawaban korporasi baik yang pertama dan yang kedua. 2. Pada kelompok massa tidak adanya pemimpin atau ketua yang mengatur atau memimpin perkumpulan massa tersebut. Jadi dalam hal ini orang-orang yang bergabung dalam kelompok massa adalah masing-masing menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri. Jadi tidak bisa diterapkan pertanggungjawaban korporasi baik sistem yang pertama maupun yang kedua. Sedangkan untuk sistem pertanggungjawaban korporasi yang ketiga pada kasus perbuatan pidana yang dilakukan massal baik massa yang terbentuk secara terorganisr ataupun tidak terorganisir, tidak dapat diterapkan karena sangat resisten, karena dengan diberlakukan pertanggungjawaban langsung kepada kelompok massa yang terorganisasi khususnya, maka akan menimbulkan kontrafersi sebab salah satu hak asasi warga negara masyarakat Indonesia adalah kebebasan berserikat dan berpendapat. Kecuali perkumpulan tersebut adalah perkumpulan terlarang sebagaimana yang disebutkan pada pasal 169 KUHP. Jadi setiap orang berhak untuk berserikat dan berpendapat selama tidak bertentangan dengan hukum. Sebenarnya bukan masalah berserikat atau berpendapat yang dilarang tetapi apabila bentuk dan perbuatan berserikat dan berpendapat yang sudah melawan hukum atau kearah perbuatan pidana yang dilarang307 .

307

Lihat penjelasan pasal 169 KUHP

Setelah melihat uraian diatas dimana disini penulis mencoba untuk menampil model pertanggungjawaban seperti halnya yang berlaku dalam korporasi pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, Khusus pada massa yang terorganisir walaupun sebenarnya keberadaan dari organisasi massa tersebut tidak atau bukan merupakan korporasi, tapi dalam hal ini penulis melihat efektivitas dari penegakkan hukum. Hal tersebut didasarkan pada praktek penegakkan hukum terhadap beberapa kasus perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang mana sistem pertanggungjawaban yang diterapkan menyerupai sistem pertanggungjawaban yang ada pada korporasi. Salah satu sumber dari undang-undang adalah yurisprudensi, maka apa salahnya hal tersebut coba diterapkan pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Sebab permasalahan utama dari perbuatan pidana yang dilakukan secara massal adalah bagaimana cara penegakkan hukum yang ideal dan adil. Bagi penulis dengan diterapkannya konsep pertanggungjawaban seperti pada korporasi adalah bertujuan salah satunya sebagai aspek preventif dimana bagi siapa saja tidak akan berani dan sembaranagan untuk menjadi pemimpin dan penanggungjawab dalam aksi perbuatan pidana yang dilakukan secara massal.selaian aspek preventif juga aspek represif.

B. Hubungan Antar Pelaku Perbuatan Pidana yang Dilakukan Secara Massal Menurut Yurisprudensi.

Fenomena perbuatan pidana yang dilakukan secara massal baik yang dilakukan dengan massa yang terorganisisr ataupun yang tidak terorganisir yang terjadi akhir-akhir ini diIndonesia sudah semakin marak dan memprihatinkan, dimana perbuatan tersebut sudah menjadi wabah sosial yang dengan cepat menjalar kemana-mana, mulai dari kota besar hingga pelosok tanah air. Demikian yang diungkapkan oleh pakar sosiologi hukum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo SH.308. Sudah banyak juga dari kasuss-kasus tersebut yang diprosese dipengadilan dan kasus-kasusnyapun sudah inkracht. Disini penulis memberikan pandangan dari segi yurisprudensi terkait dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Dengan melihat apakah antara law in the book dan law in action berjalan seiringan atau tidak. 1. Putusan Pengadilan Negeri Surakarta

No.28/Pid.B/1999/PN.Ska. Pada tanggal 13 Desember 1998 tepatnya pukul 02.00 wib. Dijalan lamet Riyadi No. 376 Surakarta, Ferry Susanto bersama-sama dengan Hendrik Sugiyanto, Ronny, Irwan,dan beberapa orang yang lain melakukan perbuatan pidana berupa pengrusakan terhadap barang, yaitu berupa lampu bulat diatas gapura POLWIL Surakarta yang mana perbuatan tersebut dilakukan dengan cara mereka secara beramai-ramai memasuki kantor Polisi kemudian bersamasama melempari lampu tersebut dengan batu sebanyak, sehingga mengakibatkan lampu milik kantor Polisi tersebut rusak dan pecah.

308

Amuk Massa diIndonesia Sudah jadi wabah Sosial, dalam, http//www.kompas.com/kompascetak/..

Dari rangkaian perbuatan yang dilakukan maka dalam kasus ini yang ditetapkan sebagai terdakwa adalah Ferry Susanto yang merupakan salah satu pelaku dalam perbuatan pidana tersebut. Berdasarkan uraian kasus tersebut dapat diamati bahwa terdapat beberapa orang yang bersama-sama dengan Ferry Susanto yaitu Hendrik Sugiyanto, Ronny, Irwan, dan beberapa orang lagi yang dalam surat dakwaan tidak disebutkan namanya. Dalam hal ini tidak dijadikan terdakwa oleh jaksa penuntut umum, dan kalaupun pada kasus ini dilakukan spiltsing, hendaknya disebutkan oleh Penuntut Umum bahwa namanama yang tercantum dinyatakan juga sebagai terdakwa dalam kasus yang sama. Dalam KUHAP sebagaimana yang tercantum pada pasal 141 bahwa penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dengan satu surat dakwaan. Tapi kemungkinan penggabungan itu dibatasi dengan syarat-syarat oleh pasal tersebut, syarat-syarat tersebut sebagai berikut309: a. Beberapa perbuatan pidana yang dilakukan oleh seseorang yang

sama dengan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya. b. Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut dengan yang lain

( dalam hal ini terdapat lebih dari satu orang pelaku) c. Beberapa perbuatan pidana meskipun tidak ada sangkut pautnya

akan tetapi satu dengan yang lain ada hubungannya. Disamping kewenangan untuk menggabungkan perkara penuntut umum juga punya kewenangan untuk menuntut secara terpisah (splitsing)dari
309

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana, Edisi Revisi, Sinar Grafika, Jakarta, 2001, hlm159

berkas perkara yang memuat beberapa perbuatan pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka sesuai dengan pasal 142 KUHAP310. Dalam pedoman pelaksanaan KUHAP dijelaskan bahwa splitsing biasanya dilakukan dengan membuat berkas perkara baru dimana para tersangka saling menjadi saksi, sehingga untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan baru baik terhadap tersangka maupun saksi311. Menurut Andi Hamzah penuntut dalam hal ini dapat langsung memecah berkas tersebut menjadi beberapa buah. Yang perlu diminta dari penyidik ialah duplikat hasil pemeriksaan, karena sangat kurang bermanfaat kalau hanya untuk dipecah menjadi beberapa berkas perkara itu harus bolakbalik dari penuntut umum kepenyidik, dan tidak sesuai dengan asas peradilan cepat.312 Jadi berdasarkan pasal 141 KUHAP penuntut umum dapat menggabungkan perkara yaitu dimana beberapa tindak pidana yang bersangkut paut dengan yang lain (dalam hal ini terdapat lebih dari satu orang pelaku). Kata bersangkut paut mempunyai makna yaitu313: 1. Oleh lebih dari seorang yang bekerjasama dan

dilakukan pada saat yang bersamaan; 2. Oleh lebih dari seorang pada saat dan tempat

yang berbeda, akan tetapi merupakan pelaksanaan dari pemufakatan jahat yang dibuat oleh mereka sebelumnya;
310

Bambang Poernomo, Pokok-pokok Tata Acara Peradilan Pidana diIndonesia dalam UndangUndang R.No. 8 Tahun 1981,Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1993. hlm 24 311 Andi Hamzah, op.cit., hlm160 312 ibid., hlm 161 313 ibid., hlm 160

3.

Oleh seorang atau lebih dengan maksud

mendapatkan alat yang dapat dipergunakan untuk melakukan delik lain atau menghindarkan diri dari pemidanaan (tidak dijelaskan apa yang dimaksud pada point tertsebut). Jadi pada perbuatan pidana yang dilakukan tersebut pelakunya lebih dari satu orang, jadi dimungkinkan untuk digabungkan apabila para pelaku tersebut terbukti melakukan perbuatan yang sama dengan Ferry susanto. Pada kewenangan penuntut umum untuk melakukan pemisahan terhadap para pelaku satu dengan yang lain bisa dilakukan sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 142 KUHAP. Tapi dari penuntut umum tidak dilakukan padahal secara nyata dari rangkaian perbuatan tersebut dilakukan secara bersama-sama. Hal mana penting untuk menyebutkan bahwa ada terdakwa lain dalam kasus yang sama yang hal tersebut penting untuk diketahu oleh umum. Lagi pula hal tersebut dilakukan untuk menghidari sama-sama menjadi terdakwa pada kasus yang sama tapi dipersidangan yang berbeda dimana terdakwa bergantian dijadikan saksi, hal tersebut menurut Mahkamah Agung dalam putusannnya terhadap kasus Marsinah menyatakan bahwa para saksi adalah para terdakwa bergantian dalam perkara yang sama dengan dakwaan yang sama yang dipecah-pecah bertentangan dengan hukum acara pidana yang menjunjung tinggi hak asasi manusia314. Dalam kasus ini penuntut unun mendakwakan dengan bentuk dakwaan subsidair, dakwaan primer; pasal 170 ayat (1) KUHP, yaitu barang siapa
314

ibid., hlm 161

yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara selama 5 tahun 6 bulan. Dan dakwaan subsidair; pasal 406 ayat (1) KUHP, yaitu barang siapa yang dengan sengaja dan melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain, dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya 4.500,-. Berdasarkan bentuk surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum berupa dalam bentuk dakwaan subsidair, dimana yang sistemnya yang harus pertama kali dibuktikan adalah dakwaan primair dan apabila tidak terbukti melanggar maka baru membuktikan dakwaan subsidair. Dalam pasal 143 KUHAP disebutkan bahwa dalam surat dakwaan yang harus dimuat ialah uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai delik yang didakwaakan dengan menyebut waktu dan tempat delik dilakukan, menurut Jonkers lebih jelasnya adalah dimana yang harus dimuat ialah selain dari perbuatannya sungguh dilakukan yang bertentang dengan hukum pidana juga harus memuat unsur-unsur yuridis kejahatan yang bersangkutan. Sedangkan menurut Andi Hmazah bahwa surat dakwaan yang disusun secara cermat, jelas dan sederhana adalah menurut bahasa yang mudah dimengerti oleh terdakwa tidak berbelit-belit dan jelas apa yang dimaksudkan oleh penuntut umum, untuk memudahkan membela dirinya315. Penuntut umum pada kasus Ferry Susanto dalam surat dakwaan telah memenuhi hal tersebut karena dilihat dari rumusan pasal yang diberikan
315

ibid., hlm 165-167

sangat singkat, jelas, cermat dan tidak berbelit-belit serta mudah dimengerti. Dilihat dari unsur formalitas dari surat dakwaan terhadap ferry susanto telah memenuhi keseluruhan unsur, sebagaimana yang terdapat dalam pasal 143 KUHP. Tapi apabila dilihat dari pasal yang dicantumkan penuntut umum dalam surat dakwaan yitu pasal 170 KUHP dalam hal ini bagi penulis mengandung kerancuan. Dalam pasal 170 KUHP disebutkan bahwa unsur-unsur dari pasal tersebut adalah: 1. orang atau personal. 2. bersama-sama dimuka umum bersama-sama Barang siapa, dimana yang dimaksud adalah

melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dimuka umum adalah dimana tempat tersebut tidak tersembunyi atau dapat diketahui orang lain316, secara bersama-sama artinya lebih dari seorang melakukan perbuatan dan dilakukan secara bersama-sama, dan melakukan kekerasan terhadap orang atau barang317 Biasanya pasal ini sering dipakai oleh penuntut umum untuk menjerat para pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara dengan massal yang terbentuk secara tidak terorganisir. Sedangkan menurut Tb Ronny Nitibaskara pasal 170 KUHP mengandung kendala dan berbau kontraversi karena subyek barang siapa menunjuk pelaku satu orang, sedangkan istilah dengan tenaga bersama mengindikasikan suatu kelompok manusia. Delik ini menurut
316 317

Defenisi berdasarkan surat dakwaan pada putusan No. 94/2002/Pid.B/PN.Ska dan terlampir. Defenisi entang kekerasan lihat pada pasal 89 KUHP

penjelasannya tidak ditujukan kepada kelompok atau massa yang tidak teratur melakukan perbuatan pidana, ancamannya hanya ditujukan pada orang-orang diantara kelompok benar-benar terbukti serta dengan tenaga bersama melakukan kekerasan. Dalam kelompok massa yang unik sifatnya jelas delik seperti ini sukar diterapkan318. Jadi sebenarnya pasal 170 KUHP menurut Tb Ronny Nitibaskara dianggap tidak dapat mengakomodir untuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal khususnya pada bentuk kasus ini dimana massa terbentuk tidak secara terorganisir. Melihat rangkain perbuatan yang dilakukan oleh Ferry Susanto apabila dikontekskan dengan rumusan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal menurut doktrin hukum pidana, maka dapat dikategorikan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan bentuk massa yang tidak terorganisir dan dilakukan secara spontanitas. Hal tersebut dapat dibuktikan dari keterangan terdakwa Ferry yang menyatakan bahwa dia beserta massa yang lain yang melakukan pengrusakkan dipicu karena berawal dari pada saat Ferry Hendrik, Ronny, Irwan dan massa yang lain sedang nonton trek-trekkan, kemudian oleh polisi dilakukan penertiban menyebabkan orang-orang atau massa bubar secara bergerombolan, karena emosi maka massa secara berkelompok mendatangi kantor polisi dan melakukan pengrusakan terhadap fasilitas umum tersebut Jadi sini massa bergerak karena terprovokasi oleh keadaan yang membuatnya melakukan perbuatan pidana yang dilakukan secara beramai318

UNAIR: Meningkatnya archive/unair@itb.ac.id/

Derajat

Kekerasan

Kolektif,

dalam,

http//www.mail-

ramai karena adanya kesamaan isu dan permasalahan yang dihadapi. Jadi massa tidak direncanakan akan adanya muncul sebelumnya. Adapun kerjasama yang terjadi hanya secara fisik saja tapi tidak secara non fisik karena kesulitan dalam membuktikan hal tersebut. Walaupun perbuatan tersebut secara nyata dapat diliat adanya kerjasama tapi tidak memenuhi unsur-unsur dari bentuk turut serta (deelneming) sebagaimana dalam delik penyertaan. Menurut penulis tidak semua perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dapat dikategorikan kedalam delik penyertaan. Hanya yang memenuhi unsur dari turut serta (deelneming), menganjur lakukan (uitlokker) dan pembantuan (medeplichtigheid), yang dapat disamakan dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Jadi pada kasus Ferry Susanto ini, memang apabila melihat dari rangkaian perbuatan yang dilakukan masuk dalam kategori perbuatan pidana massal tapi tidak masuk dalam rumusan delik penyertaan. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya untuk massa yang terbentuk tidak secara terorganisir masuk dalam rumusan delik penyertaan menganjur lakukan (uitlokker). Tapi pada kasus ini tidak ditemukannya siapa yang menjadi penganjur atau yang memprovokatori Ferry dan kawan-kawan untuk merusak kantor polisi. Berdasarkan keterangan bahwa Ferry dan kawankawan tergerak sendiri ketika melihat massa banyak yang menuju kantor polisi dengan tujuan untuk melampiaskan dendam karena diusir dari tempat

menonton trek-trekkan, jadi perbuatan tersebut muncul dari diri Ferry dan kawan-kawan karena kondisi atau keadaan saat itu. Dalam hal penuntut umum menjerat terdakwa dengan pasal 170 KUHP sebagai dakwaan primair, karena argumentasi yang dibuat bahwa benar perbuatan pidana yang dilakukan secara bersama-sama dan berupa perbuatan kekerasan merusak barang. Tapi permasalahannya dalam melakukan penetapan sebagai terdakwa dalam kasus ini hanya Ferry Susanto seorang dan tidak ada terdakwa lainnya yang merupakan bersama-sama-dalam melakukan perbuatan pidana. Seharusnya apabila memang terbukti bersama-sama sebagaimana terdapat dalam rumusan pasal 170 KUHP, maka bukan hanya Ferry Susanto yang menjadi terdakwa tapi teman-teman massanya yang lain juga baik Irwan, Ronny, Hendrik hendaknya dijerat dengan pasal yang sama. Kasus yang sama dan dakwaan yang sama. Jadi disini karena hanya Ferry Susanto yang didakwakan pasal 170 KUHP yang salah satu unsurnya bersama sama. Maka dapat dikatakan tidak ada unsur bersama-sama, karena yang didakwa hanya Ferry Susanto sendiri . walaupun perbuatan tersebut dilakukan secara bersama-sama. Maka logikanya dihukumpun bersama-sama karena tanpa bersama-sama maka pasal ini tidak berlaku. Jadi disini Ferry Susanto hendaknya dikenakan pasal yang subsidair yaitu pasal 406 KUHP. Apabila dikontekskan dengan pendapat dari Tb Ronny Nitibaskara terhadap pasal 170 KUHP, maka penulis sepakat dalam hal unsur barang siapa pada hakekatnya diberlakukan untuk personal atau individu. Sedangkan

muatan dari pasal ini mengandung maksud dilakukan lebih dari satu orang atau kelompok. Jadi dapat disimpulkan bahwa pasal ini diberlakukan untuk individu yang melakukan perbuatan bersama-sama. Padahal unsur bersamasama merupakan unsur yang membedakannya dengan perbuatan pidana biasa yang dilakukan oleh orang seorang, jadi seharusnya bukan ditujukan bukan pada individu (barang siapa) tapi kepada orang banyak atau paling sedikit dua orang, sehingga rumusan pasal ini konsisten dengan maksud dibuatnya pasal ini. Salah satu kritik lain yang dilancarkan oleh Tb Ronny Nitibaskara terhadap pasal ini adalah dimana hendaknya pasal ini tidak diberlakukan pada massa yang tidak terorganisir tetapi diancamkan pada massa yang jelas-jelas melakukan perbuatan pidana secara bersama-sama. Dalam hal ini penulis kurang sependapat karena dari pasal ini bukan masalah dari apakah massal tersebut dalam melakukan perbuatan pidana terorganisir atau tidak, karena yang dilihat bukan dari sifat massa tersebut tapi dari bentuk atau cara bagaimana perbuatan pidana itu dilakukan sehingga sesuai dengan rumusan pasal. Karena apabila pasal ini tidak diberlakukan pada massa yang tidak terorganisir maka para penagak hukum khususnya penuntut umum dalam mendakwakan perbuatan pidana pada massa yang sama melakukan perbuatan pidana akan mengalami kesulitan, karena harus merumuskan satu persatu dari sekian massa yang terlibat perbuatan pidana sehingga kurang efektif dan memakan waktu lama. Sebagai contoh yang akhir-akhir ini terjadi adalah perbuatan pidana yayng dilakukan secara massal diTuban, karena permasalahan yang memicu

adalah kasus Pemilihan Kepala Daerah Tuban. Dari sekian massa yang melakukan perbuatan pidana oleh aparat polisi ditetapkan sebagai tersangka sebanyak 85 orang dari sekian ratus massa yang melakukan pengrusakkan terhadap fasilitas Negara. Jadi disini apabila melihat jumlah massa yang yang begitu banyak sehingga sangat membuat para penegak hukum kesulitan apabila harus mengkonstuksikan perbuatan massa tersebut secara satu persatu, mengingat banyaknya massa yang terlibat. Jadi dengan adanya pasal tersebut sangat membantu tugas penuntut umum khususnya dalam menyelesaikan kasus-kasus rumit dalam penegakkan hukumnya, seperti perbuatan pidana yang dilakukan secara massal ini. disamping itu juga mengingat asas dari peradilan adalah salah satunya cepat dan tidak berlama-lma dalam menyelesaikan suatu permasalahan pidana Jadi pasal 170 relevan diterapkan pada massa yang reaksioner atau spontanitas dalam melakukan perbuatan pidana. Berbeda halnya apabila massa yang terorganisir bisa menggunakan pasal pada delik penyertaan, karena dalam pasal-pasalnya jelas mengenai kedudukan para pelaku yang satu dengan yang lain, tidak seperti massa yang reaksioner (tidak masuk dalam delik penyertaan yaitu penganjuran) dimana massa tidak jelas kedudukan satu dengan yng lain, dan otomatis dalam hal ini dipandang sama-sama sebagai pelaku yang mempunyai tanggungjawab yang sama dengan pelaku yang lain. Berdasarkan surat dakwaan, penuntutan, keterangan saksi dan terdakwa, barang bukti, serta fakta yang terungkap dipersidangan serta pertimbangan lain319, maka hakim pengadilan negeri Surakarta dengan
319

Lihat lampiran putusan

pertimbangan-pertimbangan tersebut menjatuhkan putusan kepada terdakwa Ferry Susanto yaitu: 1. Terdakwa besalah dan menyakinkan telah melakukan

perbuatan pidana sebagaimana terdapat dalam dakwaan primair yaitu telah memenuhi unsure pasal 170 KUHP 2. masa tahanan 3. 4. memerintahkan agar terdakwa dikeluarkan dari tahanan membayar ongkos perkara sebesar Rp. 500,Jadi berdasarkan putusan pengadilan maka terpidana Ferry susanto dikenakan bersalah telah melanggar pasal 170 KUHp. Padahal seharusnya dikenakan dakwaan subsidair karena dalam dakwaan penuntut umum hanya mencantumkan satu tersangka sehingga tidak ada bukti secara yuridis telah dilakukan perbuatan pidana bersama-sama. Pada dasarnya hakim dalam memutuskan sebuah perkara dalam hukum acara pidana hanya boleh mengenai peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batas-batas yang ada dalam surat dakwaan, namun untuk pemeriksaan dipersidangan tidak batal jika melampaui batas-batas yang ada dalam surat dakwaan. Jadi surat dakwaan isinya mengikat bagi hakim dalam memutuskan sebuah perkara pidana dan tidak boleh keluar dalam materi dakwaan. Jadi karena yang menjadi terdakwa hanyalah Ferry Susanto dan hakim mempunyai pemikiran yang sama dengan penuntut umum dalam mengenakan pasal yang dilanggar oleh terdakwa. Menjatuhkan pidana penjara selama 59 hari dikurangi

Secara formal putusan Pengadilan Negeri Surakarta ini dinyatakan telah memenuhi syarat formal dari sebuah putusan dalam hukum acara pidana, dimana syarat putusan tersebut adalah320: a. Kepala putusanberbunyi DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA b. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa. c. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan d. Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan disidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa e. Tuntutan pidana sebagimana terdapat dalam surat tuntutan f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum bagi putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan meringankan terdakwa g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah mejelis kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal h. Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhinya semua unsur dalam rumusan delik disertai dengan kaulifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan i. Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebenkan dengan menyebut jumlah yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti
320

Andi Hamzah, op.cit., hlm 283

j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat autentik dianggap palsu k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus dan nama penitera. Jadi apabila syarat formal tersebut tidak terpenuhi kecuali yang tersebut pada point g, maka putusan dpat batal demi hukum. Dengan melihat putusan hakim tersebut menurut hemat penulis dapat disimpulkan bahwa untuk penetapan pasal yang dijatuhkan untuk terpidana Ferry Susanto yaitu pasal 170 KUHP tidak tepat. Karena sebagaimana pertimbangan yang telah dipaparkan sebelumnya. Jadi lebih tepat diterapkan pasal 406 KUHP dimana lebih terbukti secara sah dan menyakinkan terpenuhinya unsur-unsur yang ada dalam pasal tersebut. Unsur-unsurnya antara lain: Barang siapa, yang dimaksud disini adalah orang perseorangan yaitu Ferry Susanto Dengan sengaja dan dengan melawan hak merusak, membinasakan barang yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain, yaitu dimana Ferry Susanto dengan sadar dan sudah mempunyai niat sebelum sampai kantor polisis untuk berkeinginana melakukan perbuatan pidana yaitu merusak lampu kantor polisi yang secaca nyata lampu tersebut bukan kepunyaan Ferry Susanto dan dilakukan dengan melawan hak

Menyebabakan barang tersebut tidak dapat dipakai lagi, yitu hal tersebut benar bahwa lampu gapura milik kantor polisi Surakarta pecah dan rusak sehingga tidak dapa dipakai lagi. Jadi pasal ini lebih tepat dijatuhkan kepada terpidana, tapi dalam hal

ini apabila terpidana dalam hal sebagaimana yang disebutkan dalam surat dakwaan tidak sendiri artinya ada pelaku lain, maka pasal 170 KUHP dapat dijatuhkan pada para pelaku dalam kasus ini (lihat lampiran putusan No.94/2002/Pid.B/PN.Ska). Satu hal yang menjadi catatan dalam putusan ini adalah dalam putusan tidak ditemukannya sama sekali hak-hak dari korban, dimana dengan adanya putusan bersalah terhadap terdakwa. Korban dalam hal ini polisi diwakili oleh Moec Masruri dan Heri Purwanto, tidak mendapatkan apa-apa dalam hal ini ganti rugi, memang walaupun sebenarnya dari pihak korban tidak menggabungkan dengan tuntutan ganti rugi. Tetapi secara materiil korban telah mengalami kerugian. Jadi hukum acara pidana kita sampai sejauh ini masih bersifat pasif dan menunggu saja untuk dapat memberikan hak bagi korban kejahatan. Bagi pengadilan kita dengan dihukumnya pelaku perbuatan pidana sudah merupakan perlindungan bagi korban kejahatanyang mana dalam hal ini baik secara materiil maupun immateriil korban mengalami kerugian yang mana hal itu disebabkan oleh akibat perbuatan pelaku perbuatan pidana.

2.

Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta No. 49/Pid.B/2004/PN.YK

Pada tanggal 12 Maret 2004 hari Jumat, sekitar pukul 15.00 wib dijalan taman siswa Yogyakarta. Hadi Nove Hara bersama-sama dengan Anto dan para simpatisan partai PPP kira-kira berjumlah 10 orang melakukan penganiayaan terhadap korban Gatot Arifianto, hal tersebut berawal dari Hadi Nove Hara pada saat konvoi kampanye tepatnya di depan Hotel Cailendra melihat korban Gatot Arifianto, dan pada saat itu terdakwaa langsung teringat peristiwa perselingkuhan antara istrinya dengan korban. Hadi Nove Hara berniat membalas dendam, kemudian terdakwa Hadi Nove Hara turun dari motor dan mengeluarkan celurit dari balik bajunya dan diayunkan kepada korban dan sempat terjadi aksi saling dorong hingga akhirnya celurit mengenai lengan kiri dan punggung korban, dan kemudian korban dipukul secara beramai-ramai oleh 10 oarang simpatisan yang ada pada saat kejadian. Akibat perbuatan tersebut korban mengalami kluka. Dalam surat dakwaan oleh penuntut umum yang ditetapkan sebagai terdakwa adalah Hadi Nove Hara karena 10 orang simpatisan partai tersebut sedang buron. Dakwaan yang dibuat penuntut umun adalah dakwaan subsidair, yaitu primair; pasal 170 ayat (2) ke1 KUHP tentang bersama-sama didepan umum melakukan kekerasan terhadap orang dan mengakibatkan luka. Dakwaan subsidair; tentang penganiayaan, dan subsidair pasal 351 ayat (1) KUHP. Penuntut umum dalam surat dakwaan menempatkan pasal 170 KUHP pada dakwaan primair, padahal terdakwa yang dicantumkan namanya hanya satu oarang saja yaitu Hadi Nove Hara, hal tersbut sama halnya dengan

putusan NO. 28/1999/Pid.B/ PN.Ska. secara de fakto memang perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, dilakukan secara bersama-sama walaupun yang dahulu memulai adalah terdakwa Hadi Nove Hara baru kemudian 10 orang simpatisan yang tidak disebutkan namanya melakukan penganiayaan terhadap korban. Tapi akibat semua perbuatan yang dilakukan baik terdakwa dan 10 orang simpatisan mengakibatkan luka tubuh, walaupun pada kenyataanya yang paling punya andil adalah terdakwa Hadi Nove Hara dimana dengan perbuatannya sendiri saja sudah bisa mengakibatkan luka pada terdakwa. Menurut penulis dalam kasus ini dapat membuat surat dakwaan dengan melalui dua jalan alternatif, yaitu: 1. Terdakwa dalam hal seorang diri yaitu Hadi Nove Hara,

dengan dakwaan., primair pasal 351 ayat (1) KUHP dan subsidair pasal 170 ayat (2) ke1 KUHP, dengan pertimbangan bahwa: a. Perbuatan yang dilakukan terdakwa adalah yang paling berat di banding 10 oarang simpatisan yang juga menjadi tersangka, dimana terdakwa Hadi Nove hara dengan menggunakan senjata tajam melukai korban b. Dilakukan apabila terdakwa Hadi Nove hara pada kasusnya di splitsing. 2. Terdakwa bersama dengan 10 tersangka lainnya minimal 1 orang, artinya ada 2 terdakwa atau lebih dalam surat dakwaan, dikenakan dakwaan, primair pasal 170 ayat (2) ke1 KUHP dan subsidair pasal 351 ayat (1) KUHP, dengan pertimbangan;

c. Pasal 170 KUHP sebagai dakwaan primair karena terdapat lebih dari satu orang pelaku perbuatan pidana dan dalam kasus ini dapat dikatakan unsur bersama-sama terpenuhi, dan untuk mempercepat kasus penyelesainnya dipengadilan. d. Tetapi tentunya satu disini yang sangat disayangkan adalah perbuatan terdakwa Hadi Nove Hara disamakan dengan perbuatan 10 tersangka lainnya yang mana kontribusi perbuatannya tidak seberapa besar dibandingkan dengan perbuatan pidana yang dilakukan Hadi Nove Hara. Berdasarkan surat tuntutan dari penuntut umum terhadap terdakwa, bahwa dakwaan primair tidak terbukti karena salah satu unsur tidak terpenuhi. Dan dalam putusan tidak dicantumkan unsur apa saja yang tidak terpenuhi bagi penuntut umum, padahal seharusnya dicantumkan agar diketahui oleh publik Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar putusan hakim, maka hakim pengadilan negeri Yogyakarta menjatuhkan putusan kepada terdakwa Hadi Nove hara yaitu: 1. Terdakwa tidak terbukti bersalah sebagaimana terdapat dalam dakwaan primair yaitu pasal 170 ayat (2) ke1 KUHP dan dibebaskan dari dakwaan primair 2. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana yang didakwaakan pada dakwaa subsidaair yaitu pasal 351 ayat (1) KUHP 3. masa tahanan Terdakwa dihukum dengan penjaraselama 2bulan dikurangi

4. 5.

Menetapkan terdakwa tetap dalam tahanan Merampas barang bukti dan membebenkan biaya perkara sebasar Rp.1000,Berdasarkan putusan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hakim

sependapat dengan penuntut umum bahwa dakwaan primiar tidak terpenuhi dan tidak dituliskan unsur apa yang terdapat dalam dakwaan primair yaitu pasal 170 ayat (2) ke1, adapun tujuan kenapa harus disebutkan unsur yang tidak terpenuhi, agar publik tidak menginterpretasikan yang negatif. Karena dakwaan primair tidak terbukti maka dibuktikan dakwaan subsidair yaitu pasal 351 ayat (1) KUHP dan tebukti dilakukan oleh terdakwa Hadi Nove Hara. Walaupun menurut penulis unsur dalam pasal 170 ayat (2) ke1 KUHP tidak disebutkan, tapi menurut analisis penulis bahwa hal tersebut memang tidak dapat dibuktikan unsur bersama-sama secara yuridis, karena terdakwa dalam hal ini hanya seorang diri tidak ada terdakwa lain yang dapat membuktikan secara yuridis perbuatan pidana tersebut telah dilakukan secara bersama-sama, ditambah lagi 10 orang yang terlibat masih buron. Jadi dalam hal ini penulis sependapat dengan putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta. Pada kasus ini apabila dikontekskan dengan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal sebenarnya sama halnya dengan kasus pada analisis putusan No.28.1999/Pid.B/PN.Ska. dimana perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dilakukan karena terprovokasi oleh keadaan yang dalam hal ini bisa karena rasa setiakawan yang berlebihan atau ada faktor lain sehingga menjerumuskan pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal. Padahal hal tersebut tidak akan terjadi, artinya perbuatan apabila 10 orang simpatisan PPP tidak ikut memukuli dan terpengaruh ikut memukuli korban. Adapun massa dalam kasus ini sifatnya tidak terorganisasi dan spontanitas dalam melakukan perbuatan pidana. Jadi kasus ini tidak dapat dianalisis dengan menggunakan delik penyertaan, sebagaimana dikontekskan dengan teori-teori yang ada, karena kasus

ini tidak termasuk kedalan tiga (3) bentuk delik penyertaan yaitu turut serta (medeplegen), menganjurlakukan (uitlokker) dan pembantuan (medeplichtigen). Setelah penulis melakukan terhadap kedua putusan tersebut yaitu putusan No.28/1999/Pid.B/PN.Yk dan putusan No. 49/Pid.B/PN.Ska. maka kedudukan pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal antara pelaku yang satu dan pelaku yang lain mempunyai proporsi yang sama sebagai pelaku walaupun pasal yang didakwakan adalah pasal yang berbau kolektif, tapi pada penerapannya tetap pertanggungjawaban individual bagi setiap pelaku, dan bisa dikatakan untuk tindak pidana massal yang tidak terorganisir dan tidak masuk dalam kategori bentuk penyertaan penganjuran, dan biasanya pasal yang didakwakan adalah pasal 170 KUHP yang mana menurut penulis ini sifatnya mengikat satu sama lain bagi pelaku karena tanpa adanya pelaku massal maka pasal ini tidak dapat diterapkan.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam defenisinya menyatakan bahwa perbuatan pidana yang mana pelakunya lebih dari satu orang tidak dan maksimalnya tanpa batas, sedangkan substansi dari perbuatan yang dilakukan sama dengan perbuatan pidana pada umunya. Pada perbuatan pidana ini yang selama ini menjadi permasalahan adalah bagaimana dalam hal penegakkan hukumnya bagi massa yang banyak dan tidak jelas berapa banyak yang terlibat sehingga hal ini menyulitkan dalam menentukan siapa yang berbuat dan sebatas apa perbuatan yang dilakukan. Walaupun sebenarnya dalam hukum pidana untuk perbuatan pidana yang pelakunya lebih dari satu orang terdapat pada delik penyertaan tetapi dalam delik juga tidak dapat mengakomodir dalam penegakkan hukumnya. Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dibagi menjadi dua bentuk yaitu: perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir dan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk tidak secara terorgansir. Berdasarkan pada judul dari tulisan ini yang mengkaji tentang hubungan antar pelaku perbuatan pidana massal menurut hukum pidana dan yurisprudensi, maka dalam tulisan ini menyimpulkan bahwa, delik penyertaan yang relevan dapat diterapkan pada kedua bentuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal adalah turut serta (medepleger), mengajurkan (uitlokker), dan Pembantuan (medeplichtighei). Untuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir maka berlaku delik penyertaan turut serta (medepleger), dan untuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir maka berlaku delik penyertaan

menganjurkan (uitlokker). Sedangkan untuk pembantuan (medeplichtigheid) berlaku bagi semua bentuk penyertaan karena bentuk penyertaan ini hanya sebagai pelengkap saja dan diluar dari sistem perbuatn yang dilakukan. Jadi dengan dikontekskannya perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan delik penyertaan maka dapat dilihat hubungan antar pelaku massa yang berbuat. Untuk massa yang terorganisir hubungan antar pelaku dalam hal ini saling terikat satu sama lain dan merupakan satu kesatuan. Jadi memilik porsi yang sama baik dari segi perbuatn maupun dari segi pertanggungjawabannya hanya saja apabila diluar dari yang direncanakan maka pertanggungjawaban masing-masing sesuai dengan apa yang dilakukan dan hal ini sesuai dengan rumusan pada turut serta (medeplegen). Sedangkan untuk massa yang tidak terorganisir hubungan antar pelaku tidak saling mengikat dan terpisah hanya saja terjadi pada saat sebelum perbuatan dilakukan. Jadi antar pelaku satu dengan yang lainnya memiliki tanggungjawab yang berbeda-beda sesuai dengan posisi masing-masing dari pelaku apakah sebagai penganjur atau sebagai yang diberi anjuran. Dan perbuatn yang dilakukan tentunya juga berbeda-beda dan hal ini juga sesuai dengan rumusan pada menganjurkan (uitlokker). Adapun selama ini mengingat keterbatasan dari aparat penegak hukum dalam prakteknya yang selama ini banyak mengalami kendala dalam mengungkap siapa saja yang terlibat dan yang bertanggungjawab, maka dalam tulisan ini diberikan ada alternatif penyelesian dalam penegakkan hukumnya diluar dari konsep delik penyertaan, yaitu dengan menggunakan konsep pertanggungjawaban korporasi yaitu pada bentuk pertanggungjawaban yang kedua yaitu: korporasi berbuatan dan pengurus yang bertanggungjawab, dalam hal ini adalah pemimpin. Untuk konsep pertanggungjawaban korporasi ini hanya berlaku pada perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk secara terorganisir. Jadi pada model ini yang bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh massa adalah pemimpin atau ketua dari massa tersebut karena dia yang merupakan motor penggerak dari massa yang bereaksi dan yang bertangungjawab sepenuhnya atas semua perbuatan yang dilakukana anggotanya,

hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar tidak ada yang mau menjadi pemimpin bagi massa yang terorganisir dalam bernuat puidana karena semua tanggungjawab pidana akan diemban kepadanya. Sedangkan untuk perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dengan massa yang terbentuk tidak secara terorganisir tidrak dapat mengunkan konsep pertanggungjawaban ini karena tidak mempunyai pemimpin yang resmi. Jadi untuk bentuk massa ini dalam penyelesainnya dapat menggunakan pasal 170 KUHP sebagai mana yang sering digunakan penuntut umum untuk mendakwa massa yang berbuat anarkis, dan hal ini sering ditemukan pada yurisprudensi sebagaimana salah satunya terdapat dalam tulisan ini. Tapai yang menjadi catatan bahwa pasal ini hanya berlaku bagi kasus-kasus yang tidak ada atau tidak ditemukannya pihak yang menganjurakan atau mempropokatori saja, sedangkan untuk kasus yang ditemukan ada pihak yang menganjurkan maka tetap menggunakan bentuk penyertaan menganjurkan (uitlokker). Jadi antara doktirn hukum pidana dan yurisprudensi pada prakteknya saling melengkapi satu dengan yang lain, karena keduanya sama-sama sebagai sumber dari hukum pidana. Tinggal bagaimana dari pihak aparat penegak hukum melihat suatu perbuatan pidana dan menindaknya dengan berdasarkan pada nilai keseimbangan, yang baik bagi yang korban maupun pelaku, dan pada kata bagaimana mudahnya saja/praktis.

B.Saran Berdasarkan pada hasil kajian yang dilakukan baik melalui literature, perundang-undangan, pendapat para ahli dan juga yurisprudensi berkenaan dengan bukan saja permasalahan kedudukan para pelaku perbuatan pidana yang dilakukan secara massal yang ditinjau dari sudut pandang hukum pidana dan yurisprudensi tetapi juga penanggulangannya. Maka hendaknya dilakukan suatu tindakan. Yaitu: 1. Permasalahan perbuatan pidana yang dilakukan secara massal selama ini kurang mendapatkan tempat dalam konstitusi khususnya hukum pidana, baik

hukum pidana Formil maupun hukum pidana materiil, jadi hendaknya diberlakukan sebuah peraturan perundang-undangan yang dapat mengakomodir perbuatan tersebut, sehingga dalam penegakkan hukumnya dapat berjalan dengan lancar, sehingga paling tidak adanya keseimbangan antara perbuatan yang dilakukan dengan pertanggungjawaban yang dikenakan. 2. Pemidanaan dijatuhkan sebagai upaya untuk tujuan refresif dan preventif, dan khususnya pada model perbuatan pidana hendaknya diberlakukan sistem pertanggungjawaban pidana seperti pada korporasi yaitu dimana yang dipidana adalah para ketua atau pemimpin dalam melakukan perbuatan pidana massal khususnya massa yang jumlahnya tidak jelas serta terorganisir , karena adalah dalam kasus-kasus seperti inilah sering sekali dalam melakukan penegakkan hukumnya. 3. karena permasalahan yang memicu timbulnya perbuatan pidana yang dilakukan secara massal bermacam-macam dan komplek disertai ciri-ciri yang berbedabeda maka hendaknya dalam melakukan penanggulangan terhadap perbuatan pidana ini tidak hanya dengan hukum pidana tapi juga dilakukan dengan non pidana yaitu dengan melalui upaya-upaya kepada pencegahan sebelum perbuatan pidana dilakukan baik dari segi sosial, politik, hukum dan lain-lain 4. karena maraknya kejadian fenomena perbuatan pidana yang dilakukan secara massal, maka sering juga diadakan pembahasan-pembahasan tentang hal tersebut baik oleh akedemisi, agamawan, penegak hukum dan lain-lain, yang mana hendaknya hasil kajian tersebut dapat dijadikan acuan atau rekomendasi bagi penegak hukum khususnya sebagai salah satu pedoman bagaimana hendaknya dalam menghadapi hal tersebut

DAFTAR PUSTAKA Buku Arif Barda Nawawi.2002.Bunga Rampai kebijakan Hukum Pidana. Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung -----------------------2005. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakkan Pengembangan Hukum Pidana. Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung &

Arif Barda Nawawi dan Muladi. 1998. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Edisi revisi, Alumni, Bandung Utrecht.E. 1981. Hukum Pidana I. Universitas Jakarta, Jakarta ------------ 1986. Hukum Pidana II. Ctk. Kedua, Bulan Bintang, Jakarta Gosita Arif. 2004. Masalah Korban Kejahatan (Kumpulan Karangan).Bhuana Ilmu Populer.Jakarta Moeljatno.1987. Azas-Azas Hukum Pidana, Bina Aksara,

-------------1983. Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban dalam Hukum Pidana -------------1983. Hukum Pidana Delik-delik Penyertaan Poernomo Bambang. 1985. asas-asa Hukum Pidana. Ctk. Kelima. Ghalia Indonesia., Jakarta. ------------------------- 1981. Pokok-pokok Tata Acara Peradilan Pidana Indonesia. Ctk Pertama.Liberty , Yogyakarta Rahardjo Sajipto. Masalah Sosiologis).Sianar baru, Bandung Penegakkan Hukum (Suatu Tinjauan

Mulyadi Lilik.2004. Kapita Selekta Hukum Pidana Kriminologi dan Victimologi. Djambatan, Jakarta, Sakidjo Aruan dan poenomo Bambang. 1990. Hukum Pidana. Dasar Aturan Hukum Pidana Kodifikasi. Ctk. Pertama, Ghalia Indonesi, Jakarta Lamintang. 1983. Hukum Pidana Indonesia. Sinar Baru, Bandung Prasetyo Teguh dan Barkatullah Halim. 2005. Politik Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Dewantara Nanda Agung .1988. Kemampuan Hukum Pidana Menanggulangi Kejahatan-Kejahatan Baru yang Berkembang Masyarakat, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta dalam dalam

Wiratmo S.. 1979. Pengantar Ilmu Hukum, Perc. Lukman Offset, Yogyakarta Santoso Topo dan Zulfa Eva Achjani. 2001. Persada, Jakarta Kriminologi, PT Rajagrafindo

Santoso Topo. 2003. Membumikan Hukum Islam, Gema Insani Perss, Ctk Pertama, Jakarta ---------------- 2001. Menggagas Hukum Pidana Islam (Penerapan Syariat Islam dalam Konteks Modernitas). Ctk. Kedua, asy syaamil Press&Grafika, Bandung Atmasasmita Romli. 1992. Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Ctk. Pertama, PT Eresco, Bandung D.Schaffmeister. N. Keijzer dan E. PH. Sotorius. 1995. Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta.

Muladi dan Priyatno Dwidja. 1991. Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana, Ctk. Pertama, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung. Dwidja Priyatno. 2004. Kebijakkan Legislasi Tentang Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Di Indonesia, Ctk. Pertama, Utomo, Bandung Setiyono.H.2002. Kejahatan Korporasi. Ctk. Pertama, Averroes . press Fakultas Hokum Universitas merdeka malang.&p, malang dan yogyakarta Remmelink Jan. 2003. Hukum Pidana. Ctk. Pertama, Pustaka Utama, Jakarta Hanafi A. 1976. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Ctk. Kedua, Bulan Bintang, Jakarta. Kansil C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum & Tata Hukum Indonesia. Ctk. Kedelapan, Balai Pustaka, Jakarta Maulana Muhamad dkk. 2003. Kamus Ilmiah Populer. Ctk. Pertama, Absolut, Yogyakarta. Saleh Roeslan. 1983. Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Pidana. Ctk. Keempat, Aksara Baru, Jakarta. Samidjo. 1985. Hukum Pidana (Ringkasan & Tanya Jawab). Armico, Bandung. Jurnal Jurnal Hukum, edisi no. 26 Vol. 11, hal Makalah Mudzakkir.2005. Viktimologi makalah disampaikan pada Penataran Nasional Hukum Pidana dan Kriminologi XI Tahun 2005, Fakultas Hukum Universitas Surabaya, Forum Pemantau Pemberatas Korupsi, ASPEHUPIKI, Surabaya, 14-16 Maret 2005 ------------ 2002. Pengaturan Hak Korban Kejahatn Dalam KUHAP dan Penegakkan Dalam Praktek Peradilan Pidana (analisis posisi hukum korban dalam ius constitutum dan ius constituendum. Makalah disampaikan pada acara bedah Disertasi, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 16 Mei 2002. Barda Nawawi Arief.1980. Masalah Pemidanaan sehubungan Perkembangan Delik-delik Khusus dalam Masyarakat Modern, Kertas Kerja pada Seminar

Perkembangan Delik-delik Khusus dalam Masyarakat yang mengalami Modernisasi BPHN-FH UNAIR Surabaya, Tanggal 25-27 Februari 1980 Muladi. 1988. Perlindungan Korban Melalui Proses Pemidanaan. Disampaikan pada Seminar Victimologi, UNAIR, Surabaya, 28-29 Oktober 1988. Reksodiputro Mardjono. 1988. Struktur Perekonomian Dewasa ini dan Permasalahan Korban. Disampaikan pada Seminar Viktimologi, UNAIR, Surabaya, 28 Oktober 1988. Sholehuddin. 2006. Kekerasan Dalam Konsep Kriminologi. Disampaikan pada Talk ShowMengurai Kekerasan diIndonesia. Forum Komunikasi Gerakan 1998, Surabaya, 15 April 2006 Victim dan Pusat Pelayanannya. Makalah Seminar Viktimologi

Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Yurisprudensi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 28/1999/Pid.B/PN.Ska Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 94/2002/Pid.B/PN.Ska Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta No. 49/Pid.B/2004/PN.Yk Artikel http://majelis, mujahidin.or Tentang kasus ahmadiyah, 25 Juli 2005 http://antikorupsi.org/mod Korupsi, Amuk Massa, dan Dagelan Hukum 13. April 2005 http//www. Mail-archive.com/unair @itb.ac.id/msg 00584. html Dan: WP UNAIR: Meningkatnya Derajat Kekerasan Kolektif. http//www. Kompas.com/kompas. Cetak/02.10/20/utama/pres/.htm.