Anda di halaman 1dari 8

49 SIRKUIT DAN MODEL TRANSISTOR EKUIVALEN

49-1. Umum
Kita akan memulai dengan mengidealkan sebuah transistor dengan dibantu oleh
perkiraan sederhana yang akan menahan sisi pentingnya serta membuang kualitas
yang kurang penting. Perkiraan ini akan membantu kita dalam menganalisis
sirkuit transistor dengan mudah dan dengan cepat.

Kita hanya akan mendiskusikan sinyal lemah sirkuit ekuivalen pada bab ini.
Operasi sinyal lemah adalah bahwa dimana sinyal input arus dan tegangan bolak
balik dalam susunan 10 dari arus dan tegangan batas Q.

Ada dua aliran pemikiran terkemuka pada saat ini mengenai sirkuit ekuivalen
untuk digantikan pada transistor. Kedua pendekatan tersebut memberi manIaat
pada:
(a) mpat parameter- h transistor dan nilai komponen sirkuit
(b)Beta () transistor dan nilai sirkuit komponen
Sejak lama, institusi pendidikan dan industri dengan berat bergantung hingga saat
ini pada parameter hybrid karena hal ini menghasilkan hasil yang lebih akurat
dalam analisis sirkuit ampliIier. Pada kenyataannya, parameter hybrid sirkuit
ekuivalen tetap popular bahkan hingga saat ini. Tetapi kegunaannya mengalami
penurunan yang disebabkan oleh kesulitan-kesulitan seperti di bawah ini:
1. Nilai parameter-h tidak dapat dihasilkan dengan mudah dan siap.
2. Nilainya sangat bervariasi dengan transistor individual bahkan denghan
nomor tipe yang sama pun.
3. Nilainya terbatas pada pengaturan khusus kondisi operasi untuk hasil yang
akurat dan masuk akal.
Metode kedua yang menggunakan transistor beta nilai ketahanan memperoleh
lebih banyak propularitas akhir-akhir ini. Ini memiliki kelebihan antara lain:
1. Nilai yang dibutuhkan mudah didapatkan.
2. Prosedur yang digunakan sederhana dan mudah dipahami.
3. Hasil yang diperoleh lebih akurat bagi penelitian karakteristik sirkuit
ampliIier.
&ntuk memulainya, kita akan mempertimbangkan metode kedua terlebih dahulu.









49-2. Sirkuit Ekuivalen DC (Searah)
(a)Sirkuit CB
Pada transistor ideal, u 1 yang berarti I
c
I

.
mitter dioda bertindak seperti suatu diode ideal yang berat sebelah. Akan tetapi,
dikarenakan gerak transistor, diode kolektor bertindak sebagai sumber arus.
Dengan kata lain, sebagai tujuan penggambaran sirkuit ekuivalen searah, kita
dapat melihat sebuah transistor ideal sebagai sesuatu yang tidak lebih dari sebuah
diode perata arus dalam emitter dan sumber arus pada kolektor. Pada sirkuit
ekuivalen searah dalam gambar 49-1 (b), panah arus selalu menunjuk pada arah
arus konvensional.

Sebagaimana tiap-tiap polaritas terminal transistor (artikel 47-3) ditunjukkan
dalam gambar 49-1 (a), arus emitter mengalir dari ke B dan arus kolektor dari B
ke C.








Sirkuit ekuivalen searah yang ditunjukkan pada gambar 49-2 bagi sebuah
transistor NPN adalah sama persis kecuali bahwa arah aliran arusnya berlawanan.

(b)Sirkuit CE
ambar 49-3 menunjukkan sirkuit ekuivalen searah pada sebuah transistor NPN
ketika terhubung dengan konIigurasi C. Arah aliran arus dapat ditemukan
dengan mudah dengan mengingat aturan polaritas transistor seperti yang dibahas
pada artikel 47-3. Pada sebuah transistor C yang ideal, kita abaikan arus bocoran
dan menganggap beta AC sama dengan beta searah.

49-3. Sirkuit Ekuivalen AC (Bolak-balik)
(a)Sirkuit CB
Pada keadaan sinyal input kecil, diode emitter tidak meralat, melainkan
menawarkan ketahanan yang disebut resistensi AC. Seperti biasa, diode kolektor
bertindak sebagai sumber arus.

ambar 49-4 (b) menunjukkan sirkuit ekuivalen AC pada sebuah transistor yang
terhubung dengan konIigurasi CB. Disini, resistensi AC yang ditawarkan oleh
diode emitter adalah:
r
ac
resistensi persimpangan (r
j
) resistensi penyebaran dasar (r
B
)
(r
j
) (r
B
) dapat diabaikan

25 mv
I
E

Dimana I

adalah arus emitter searah pada resistensi mA. Ini ditulis sebagai r
e
`
yang berarti resistensi persimpangan emitter yaitu resistensi AC masuk ke dalan
emitter
r
c

I
L


Oleh sebab itu, sirkuit ekuivalen AC pada sebuah sirkuit CB menjadi seperti yang
ditunjukkan pada gambar 49-5. Karena perubahan dalam arus kolektor hamper
sama dengan pada arus emire, Ai
e
Ai
r.

(b)Sirkuit CE
ambar 49-6 (a) menunjukkan sirkuit ekuivalen saat sebuah transistor NPN telah
terhubung dalam konIigurasi C.

Resistensi AC seperti tampak pada
r
ac

25 mv
I
B

arus DC adalah I
B
bukan I



25 mv
I
C
[.
25 mv
I
C

[.
25 mv
I
C
[ r
c

Dengan jelas diungkapkan, = i
ac
( + [) r
c
[r
c

Arus kolektor AC adalah dikali arus dasar yaitu i
c
i
b


49-4 Sirkuit Ekuivalen dari sebuah Amplifier CB
Pada gambar 49-7 (a) ditunjukkan sirkuit sebuah ampliIier dasar umum. Seperti
tampak pada gambar, emitter dibiaskan oleh V

dan kolektor dibalikkan oleh
V
CC
. sumber tegangan sinyal AC v
i
mengendalikan emitter. Hal ini
menghasilkan Iluktuasi kecil pada tegangan transistor dan arus pada sirkuit
keluaran.

(a)Sirkuit Ekuivalen DC
&ntuk menggambarkna sirkuit ekuivalen DC, prosedur dibawah ini harus
diterapkan:
(i) Pendekkan semua sumber AC yakni menguranginya hingga nol
(ii) Buka semua kapasitor karena mereka memblokir dc
Jika kita melakukannya, kemudian seperti tampak pada gambar 49-7 (a), tidak
hanya arus emitter yang dapat melewati C
1
tetapi juga arus kolektor dapat
melewati C
2
. arus-arus ini terkurung pada resistensi masing-masing R

dan R
C

(yang pada bagian awal telah kita tunjukkan dengan R
L
).
Disini I
C
I
L
dan
CB
=
CC
-I
C

L

Oleh karena itu, sirkuit ekuivalen DC menjadi sperti yang ditampilkan pada
gambar 49-7.

(b)Sirkuit Ekuuivalen AC
&ntuk menggambarkan sirkuit ekuivalen AC, prosedur dibawah ini harus
diterapkan:
(i) Semua sumber DC dipendekkan yaitu mereka diperlakukan sebagai
AC yang didasarkan.
(ii) Semua kapasitor gabungan seperti C
1
dan C2

pada gambar 49-7 (a)
dipendekkan, dan
(iii) Diode emitter digantikan oleh resistensi CA-nya R
ac
R
e`


r
c

I
L

Dimana I

adalah arus emitter DC pada mA.
Seperti tampak pada sinyal input AC, dia harus menyuplai R

dan R
e`
dalam
rangkaian parallel |ambar 49-8 (a)|. Seperti yang tampak pada titik A pada
ambar 49-7 (a), R

didasarkan melalui V

yang telah dipendekkan dan R
e`
telah
didasarkan dari dasar.

Sama halnya, kolektor harus menyuplai R
C
dan R
L
yang terhubung parallel tepat
padanya, yaitu pada titik B dalam gambar 49-7 (a). sinyal AC pada kolektor
bertemu sebuah keluaran yang memuat resistensi r
L
R
C
||R
L
.
Dengan demikian, sirkuit ekuivalen AC adalah seperti tampak pada gambar 49-8
(b). Disini, diode kolektor sendiri telah ditunjukkan sebagai sebuah sumber arus.
Dua hal pokok di bawah ini merupakan cacatan yang penting:
(i) Perubabahan pada arus sinyal kolektor sangat mirip dengan perubahan
pada arus sinyal emitter. Dengan demikian,


c
.
(ii) Arah arus AC yang ditunjukkan pada diagram sirkuit adalah yang
terhubung pada setengah lingkaran positiI tegangan input AC. Itulah
sebabnya mengapa
c
ditunjukkan mengalir menanjak pada ambar
49-8 (b).
(c) Karakteristik Operasi Utama
1. Resistensi Input
Sebagaimana yang tampak pada ambar 49-8 (a), resistensi input pada sirkuit
(atau papan) diberikan oleh
r
n
=
L
IIi
c'
=
i
c'
R
E
R
E
+ i
c'

Pada prakteknya, R

selalu lebih besar daripada Re` sehingga kombinasi parallel

L
IIi
c'
i
c'

i
In
i
c'
= resistensi input pada diode emitter.

2. Resistensi Muatan AC
Muatan kolektor sebagaimana yang tampak sebagai sinyal keluaran AC terdiri
dari sebuah kombinasi parallel R
L
dan R
c
. ini telah dirancang sebagai r
L.

i
L
=
L
IIR
C

Harus sangat diperhatikan bahwa resistensi output seperti yang tampak oleh
kolektor dan bukan resistensi output AC ketika dimasukkan ke dalam kolektor.
Catatan: pada kasus di atas, R
L
tidak sedang tersambung, kemudian R
L
R
C

(contoh 49-1).

3. Bati Arus
Ini ditentukan oleh perbandingan

=

c

c
u
4. Bati Tegangan
Ini ditentukan oleh perbandingan

out

n

Sekarang,
n
=
c
. r
n

= ( +[)

. r
n

out
=
c
. r
L
= [

. r
L

=
[

. r
L
( +[)

. r
n