Jurnal POELITIK Vol.1 No.

1 2008

Kecenderungan Pilihan Masyarakat Dalam Pilkada
Lili Romli *

Pendahuluan
Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elit partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD. Ketiga, terjadi ‘pencopotan’ dan/atau tindakan over lain dari para anggota DPRD terhadap kepala daerah, seperti kasus di Surabaya dan Kalimantan Selatan, yang berdampak pada gejolak dan instabilitas politik dan pemerintahan lokal. Dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Pilkada langsung juga merupakan wujud nyata asas responsibilitas dan akuntabilitas. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan. Terdapat sejumlah kelebihan Pilkada langsung, antara lain: (1) memutus politik oligarki oleh sekelompok elit politik dalam penentuan kepala daerah; (2) memperkuat checks and balances dengan DPRD; (3) legitimasi yang kuat, karena langsung mendapat mandat dari rakyat; (4) menghasilkan kepala daerah yang akuntabel; dan (5) menghasilkan kepala daerah yang lebih peka dan responsif terhadap tuntutan rakyat. Pelaksanaan Pilkada langsung dimulai Juni 2005. Sejak Juni 2005 hingga Juni 2006, Pilkada telah berlangsung di 250 daerah di Indonesia, yakni di 10 propinsi, 202 kabupaten, dan 38 kota.

1

582 suara. di mana mereka yang tidak menggunakan hak pilih atau golput sebanyak 23. pada Pilkada di Kabupaten Serang jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya mencapai 362. bahkan kerusuhan seperti terjadi di Kaur.1 No. popularitas figur.2%. http://www. Bengkulu dan Tuban. dan partai-partai kecil yang menang.325 suara atau 32 persen dari jumlah pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1. walaupun di sana-sini masih terdapat ketidakpuasan berbagai pihak.039 suara. pemilihan bupati 170. Menurut data Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Kabupaten Bangka Tengah • * Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dan pengajar Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional 1 Data dikutip dari makalah Dirjen Otonomi Daerah Depdagri pada acara Evaluasi Satu Tahun Pilkada. jumlah pemilih golput 21. kemenangan partai koalisi. 3“Golput Pemenang Riil Pilkada”. Meski juga harus diakui terdapat juga beberapa kasus fenomenal yang diwarnai berbagai protes.129. Di Kota Cilegon jumlah golput mencapai 23. Jawa Timur.2 Paparan yang dibahas meliputi partisipasi pemilih.Jurnal POELITIK Vol. 2 . aman.html?id=114584. Tulisan ini mencatat kecenderungan-kecenderungan pilihan masyarakat dalam Pilkada selama bulan Juni hingga Desember 2005. unjuk rasa. dan pemilihan walikota 33 daerah. Partisipasi Pemilih Fenomena yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada langsung di antaranya adalah rendahnya angka pemilih yang menggunakan hak pilih (voters turnout).1 Pada umumnya Pilkada berlangsung secara demokratis.com/news. dengan rincian pemilihan gubernur sebanyak 7 daerah.77 persen pada putaran pertama dan 26.27 persen pada putaran kedua. dari sekitar 155 juta orang jumlah pemilih terdaftar. Kabupaten Pekalongan 32%. 28 Juni 2006 di Jakarta 2 Alasan pembatasan analisis pelaksanaan Pilkada hanya sampai Desember 2005 karena data yang ada pada penulis dari Depdagri hanya sampai bulan tersebut. warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput relatif tinggi.1 2008 Pada periode Juni—Desember 2005 berlangsung 210 Pilkada. Di sejumlah daerah.34 persen. incumbent.7 %. Sebagai contoh.suarakarya online. tertib. pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dalam Pilkada mencapai angka 30 persen. pemilih yang menggunakan hak pilih dalam Pilkada berkisar 65-75 persen. Jumlah ini lebih besar dari suara yang diperoleh pasangan Taufik Nuriman-Andi Sujudi yang memenangkan Pilkada. dalam Suara Karya. dan lancar. Daerah-daerah lain juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Kabupaten Kebumen 28.3 Sedangkan pada Pemilu presiden 2004. Pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS)-Partai Demokrat itu hanya memperoleh 350. Angka ini lebih rendah dibandingkan Pemilu 2004.

terdapat sekitar 37.9% 57 1 58 8089. Yang menentukan kandidat akan terpilih atau tidak bukan lagi segelintir elit DPRD tetapi rakyat (massa.1 2008 41%.4 Hasil analisis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada 2005 cenderung rendah (lihat Tabel 1). tetapi di luar ruangan gedung DPRD.9% 41 5 46 7079. ‘lapangan permainan’ tidak lagi di dalam ruangan gedung DPRD. Kabupaten Bangka Barat 32%. seperti. Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Wilayah <50% Partisipasi Pemilih 5059. 2006. partai-partai politik atau koalisi partai-partai politik. Kisaran tertinggi tingkat partisipasi masyarakat hanya di bawah 80 persen saja. Mereka yang tidak atau belum terkenal akan berusaha ‘mensosialisasikan’ diri kepada publik lewat berbagai sarana. 165 7 172 Popularitas Figur Dalam Pilkada langsung. kabupaten dan kota. dan Kota Surabaya 48.32 persen. Rakyat menjadi pemutus siapa yang berhak menjadi kepala daerah.5 • Informasi diambil dari berita-berita di surat kabar nasional. bila tidak ada kader populer dari partainya.9 persen terjadi di 58 wilayah (33. konstituen). Yang perlu digarisbawahi tentang figur populer adalah bahwa ia dikenal luas di kalangan publik sebagai sosok yang memiliki integritas dan jejak rekam yang baik. Begitu juga dengan partai-partai politik. salah satu pertimbangan dalam mengusung kandidat adalah faktor figur yang dikenal masyarakat. Popularitas figur memainkan peran penting dalam mendulang suara.72 persen). Tingkat partisipasi sekitar 70-79. Bila tidak memiliki intergritas yang baik atau dikenal kerap kontraproduktif.1 No. belum tentu konstituen akan memilih figur tersebut. Kompas dan Media Indonesia. Tabel 1. Tidak heran bila dalam mengusung kandidat. Begitu sentralnya faktor figur.9% 6069. mengusung figur dari luar partai yang dianggap populer. Faktor figur sangat signifikan dalam Pilkada langsung. 4 5 3 . Dari 172 wilayah provinsi.Jurnal POELITIK Vol. sehingga individu-individu yang menganggap dirinya populer atau dikenal masyarakat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam Pilkada.9% 42 0 42 90% atau lebih 7 0 7 Total Kabupaten /kotamadya 3 15 Provinsi 0 1 Total 3 16 Sumber: Lingkaran Survey Indonesia.8 persen wilayah yang tingkat partisipasi masyarakatnya dibawah 70 persen. Kabupaten Bangka Selatan 30%.

95%). incumbent walikota Depok. selama masa kampanye lihai menciptakan isu yang menarik perhatian media. Secara nasional terlihat banyak calon incumbent yang menang. dan Kabupaten Rembang). sebanyak 87 daerah (40. 4 . yaitu lebih dari 50%. Kabupaten Boyolali. Mereka yang terpilih sebagai kepala daerah adalah figur-figur yang sudah dikenal masyarakat. incumbent kalah. terdapat kecenderungan incumbent terpilih kembali (menang). malah sudah diperkirakan sebelumnya. Kemenangan Incumbent Dalam Pilkada langsung.Jurnal POELITIK Vol. Kemenangan incumbent antara lain karena faktor popularitas dan penguasaan opini publik. sebanyak 124 (59. Kemenangan para incumbent tidak mengejutkan banyak kalangan. Abdurrahman Wahid. Sisanya. Upaya ‘menjual diri’ melalui iklan advertorial juga gencar mereka lakukan. dapat mengalahkan Badrul Kamal. yang merupakan figur yang relatif populer. Sinyo Harry Sarundajang yang menang dalam pilgub di Sulawesi Utara.H. dua daerah dimenangkan calon incumbent (Kota Cilegon dan Kabupaten Pandeglang). bukan saja di tingkat lokal tetapi juga nasional. Kemenangan incumbent juga terjadi di daerah-daerah lain.1 2008 Bahwa faktor figur memainkan peran penting ternyata terbukti terlihat dari hasil Pilkada langsung 2005. tiga incumbent kalah (Kota Solo.1 No. Sukoharjo. Dari 211 Pilkada yang diikuti incumbent. satu incumbent kalah (Kabupaten Serang). Begitu juga di Banten. Begitu juga dengan Agustin Teras Narang yang menang dalam pemilihan gubernur (pilgub) di Kalimantan Tengah. Mereka adalah sosok populer. ia menjabat Menteri Kehutanan pada masa pemerintah K. Mereka. 7 daerah (Kabupaten Kebumen. dan Kota Magelang) dimenangkan incumbent. sehingga mendapat publikasi kampanye luas. dan Gamawan Fauzi yang menang dalam pilgub di Sumatera Barat. Misalnya di Jawa Tengah. misalnya. dari 10 kabupaten/kota di mana incumbent ikut Pilkada. Misalnya Nur Mahmudi.05%) dimenangkan incumbent. Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Kabupaten Purbalingga. Jauh sebelum Pilkada berlangsung. kalangan pengamat politik maupun masyarakat umum sudah berani memastikan para mantan pejabat lama yang ikut maju dalam Pilkada akan menang. pada tiga Pilkada yang semuanya diikuti calon incumbent. Selain mantan Presiden Partai Keadilan. Blora. Kemampuan para incumbent menaikkan citra dirinya tidak terlepas dari kelihaian mereka ‘menguasai’ media massa.

perusahaan milik pemerintah/swasta. Partai-partai politik Islam berkoalisi dengan partai nasionalis. gedung/kantor. pasti melahirkan suasana psikologis tersendiri bagi penerimanya. di saat yang lain incumbent akan memberikan bantuan yang besarnya dua atau tiga kali lipat. Tidak heran. karena kurang memenuhi syarat untuk dapat mengajukan kandidat sendiri. jalan. namun berdasarkan kepentingan jangka pendek merebut kekuasaan. secara psikologis kian merekatkan hubungan emosional incumbent dengan konstituen. menjadi sumber informasi handal yang dengan lincah mengakses gerakan para penantang. akan menumbuhkan citra positif sang pemimpin di mata rakyat. • 6 Bambang Prishardoyo. Namun sayang. Misalnya. Kemenangan Koalisi Partai Kecenderungan umum lain dalam Pilkada langsung adalah terbentuknya koalisi partai-partai politik untuk mengusung kandidat. incumbent sudah barang tentu mudah ‘menghapus’ citra para ‘pendatang baru’. dan peresmian program-program pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat. pembukaan seminar dan lokakarya. massa pendukung dari masing-masing partai diharapkan juga akan mendukung calon yang diajukan.1 2008 Incumbent tidak perlu mengagendakan acara sosialisasi atau perkenalan: incumbent telah membangun dan memiliki jaringan ke seluruh pelosok desa/kelurahan. Syarat ini membuat banyak partai melakukan koalisi. “Posisi Mantan Pejabat dalam Pilkada”. Setiap kunjungan kedinasan menjadi ‘fasilitas gratis’ untuk menanamkan simpati massa. Kucuran bantuan yang nota bene berasal dari pemerintah. dalam berkoalisi partai-partai politik cenderung pragmatis. Besar kemungkinan. Jaringan kerja sampai pelosok desa yang sudah dimilikinya.1 No. Koalisi juga dibangun berdasarkan landasan untuk memenangkan kandidat yang diusung. pondok pesantren. 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa partai politik yang hendak mengajukan calon memiliki minimal 15% suara atau kursi. Begitu juga dengan peresmian rumah sakit. Koalisi yang mereka bangun bukan berlandaskan kesamaan visi-misi. platform. Terhadap berbagai gerakan menanamkan simpati massa yang dilakukan para penantangnya. koalisi yang terbentuk bersifat ‘pelangi’ dan ‘gado-gado’. Dengan banyaknya partai pengusung calon. dan program. Landasan koalisi bisa berupa faktor teknis. Dengan melakukan koalisi dengan banyak partai. http://www. penyerahan SK kenaikan pangkat atau penyaluran kredit dengan bunga ringan yang dilakukan incumbent saat menjabat.htm 5 .com/harian/0506/16/opi03.6 terlebih apabila saat memimpin ia sudah memiliki niatan mencalonkan diri kembali.Jurnal POELITIK Vol.suaramerdeka. UU No. jika pada satu saat ada ‘pendatang baru’ memberikan bantuan entah dalam bentuk apa saja ke suatu tempat tertentu. lapangan olahraga. Investasi untuk menarik simpati senantiasa dicurahkan pada setiap momen. diharapkan sumber dukungan terhadap calon akan besar.

48 Jumlah 7 172 32 211 Tabel 4. Koalisi partai dan non-koalisi yang memenangkan Pilkada 2005 Jenis Pilkada Koalisi Partai Tanpa Koalisi Provinsi 5 (71%) 2 (29%) Kabupaten 105 (60%) 67 (40%) Kota 16 (50%) 16 (50%) Jumlah 129 (59%) 85 (41%) Sumber: Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI. Koalisi pemenang Pilkada di 224 daerah No.Jurnal POELITIK Vol. koalisi yang dibangun dalam Pilkada tampaknya membuahkan hasil maksimal. dua di luar Jawa Keduanya di Jawa (Timur) Keduanya di luar Jawa Luar Jawa (OKS.27 7. Sumsel) Luar Jawa (Poso. sebagaimana terlihat pada Tabel 2 di bawah ini. dua di luar Jawa Dua di Jawa. Partai non-koalisi pemenang Pilkada 2005 Partai Pengusung Jumlah Daerah Partai Golkar 40 PDI Perjuangan 21 PKS 5 PPP 4 PAN 3 Partai Demokrat 3 PKB 2 PKPI 2 PBB 1 PDS 1 PNI Marhaenisme 1 Sumber: Syamsuddin Haris. di tingkat lokal berkoalisi dalam Pilkada.05 32. Hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan calon yang diusung satu partai. Partai-partai politik yang di tingkat nasional bersebarangan. Pemenang Pilkada 1.1 2008 bahkan dengan partai Kristen. satu di luar Jawa Satu di Jawa. Koalisi sesama partai nasionalis 4. 2006. Terlepas dari itu semua. Tabel 2. 2006 Jumlah Wilayah 83 73 51 17 Prosentase (%) 37. Sulteng) Luar Jawa (Toba Samosir. Koalisi partai nasionalis-Islam 2.1 No. Partai nasionalis 3. Keterangan 85% diraih di luar Jawa dan 15% di Jawa Jawa-luar Jawa berimbang Satu di Jawa.59 22. Tabel 3. 2006. empat di luar Jawa Dua di Jawa. Sumut) 6 . Koalisi sesama partai Islam Sumber: JPPR.

sebanyak 25 kali dan menang di dua daerah. Namun. Pertama. Beberapa partai kecil tersebut yang meraih kemenangan dalam Pilkada tahun 2005 adalah PKPI. 30 September 2005. para incumbent tetap mempertahankan kekuasaan. Sedangkan partai kecil yang tingkat partisipasinya rendah adalah Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). Pilkada juga menunjukan fenomena lain yang perlu dicermati dan mendapat perhatian. sementara yang menang sebagai wakil kepala daerah 12 orang. Sebagai catatan tambahan. PKPI menang di Kota Bitung dan Kabupaten Seluna. sebanyak 84 kali ikut berkompetisi dalam Pilkada dan menang di 19 daerah. calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan dengan calon yang diusung satu partai. PDS. Meski secara nasional dikategorikan sebagai partai kecil bisa jadi di tingkat lokal ia keluar sebagai pemenang Pemilu di daerah tersebut. dan Partai Patriot. pada Pilkada tahun 2005 tingkat partisipasi partai-partai kecil mencapai 96%. hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa faktor figur begitu sentral dalam Pilkada langsung. Ketiga.8 Tabel 5 menunjukkan tingkat partisipasi partai-partai kecil dalam Pilkada tahun 2005. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non-parlemen.1 2008 Kemenangan Partai Kecil7 Menurut Kompas. PPDK menang di Kabupaten Luwu Utara. di beberapa daerah partai-partai kecil mampu keluar sebagai pemenang tanpa koalisi dengan partai lain. Partai Kecil Masih Digdaya”.Jurnal POELITIK Vol. Kompas. 8Lihat ”Pemilihan Kepala Daerah: Meski Terancam Tergusur. Hanya ada enam kabupaten/kota yang tidak diikuti partaipartai kecil. Kedua. partai-partai kecil ikut berpartispasi dalam Pilkada di hampir semua daerah. Kesimpulan dan Catatan Tambahan Dapat disimpulkan: Pertama. dan PBB menang di Kabupaten Oku Selatan. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non parlemen. PPDK. • 7 Pengertian tentang partai kecil di sini merujuk pada partai yang tidak memenuhi ambang batas electoral threshold sebanyak 3% pada Pemilu 2009. Keempat. Perlu dicatat bahwa partai-partai kecil yang maju dalam Pilkada pada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. 7 . PDS menang di Kabupaten Poso. Partai-partai kecil maju dalam Pilkada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. dari 63 Pilkada yang diikuti calon perempuan. Partai kecil dengan tingkat partisipasi tinggi adalah Partai Bulan Bintang (PBB).1 No. Partai Patriot Pancasila menang di Kabupaten Toli-Toli. yang menang sebagai kepala daerah hanya 4 orang.

Para birokrat. PKS). Papua.J. Pikiran Rakyat. baik DPR dan DPRD. Sulawesi Barat. Hal ini bisa dimaknai beragam. Kecenderungan yang muncul adalah kandidat dari luar partai terpilih menjadi kepala daerah. Moh. kandidat Gubernur Kalteng). Di antara mereka yang terpilih adalah Agustin Teras Narang. calon Gubernur Sumatera Barat). dan yang tidak terpilih Iwan Prayitno. yang berkarir di Pemda sebagai Sekda atau Kepala Dinas/Badan/Kantor. munculnya kandidat yang berasal dari TNI aktif. Nur Mahmudi Ismail (Wali Kota Depok. kandidat Bupati Serang). Agustin Teras Narang (anggota DPR dari PDIP. PDIP). Kelima. Mereka adalah Kolonel D. Jahidi (Wakil Ketua DPRD Serang dari PDIP. Iwan Prayitno (anggota DPRD dari PKS. menjadi kandidat dalam Pilkada. umumnya mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah.9 Para kandidat dari TNI aktif itu ternyata tidak ada yang terpilih (menang). Letkol Didi Sunardi (Paban Madya BAIS TNI) calon wakil bupati Serang. Mayor Bastiam (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Yapen Waropen. kandidat dalam Pilkada umumnya berasal dari birokrat dan pengusaha.Jurnal POELITIK Vol. dan Rustriningsih (Bupati Kebumen. minimnya kader partai murni (pengurus partai) yang menjadi kepala daerah. Aat Syafaat (Walikota Cilegon. Dalam Pilkada 2005 ada 6 orang TNI aktif maju sebagai kandidat. Sedangkan kader murni partai bisa dihitung dengan jari. Keempat. Banten. Sumatera Selatan. • 9 “Panglima TNI Berhentikan Sementara 6 Perwira”. Golkar). Kalimantan Timur. kebalikan era Orde Baru di mana TNI dan Polri aktif kerap menjadi kepala daerah. dan M. 12 Mei 2005. salah satu tafsir yang muncul adalah ‘keengganan’ masyarakat dipimpin tentara aktif. 8 .1 2008 Kedua. dan Kampen AM Bahtiar Syambawa (Pama Paspamres) sebagai calon bupati Mamuju Utara.1 No. Sekarang adalah zaman pemerintahan sipil. Letkol Nachfin FN (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Bereau. Beberapa kader murni partai yang menjadi kepala daerah adalah Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng. Di antaranya. Nachrowi (Puspen TNI) yang menjadi calon wakil bupati Ogan Ilir. beberapa wakil rakyat. Ketiga. PDIP).

Muhtadin Sera’i Drs. Wahfir. PBR PDS. Toli-Toli Drs. Arifin Junaidi. Abdul Rachman Amin 7 Kab. PDK. PKPI. PKPI. No 1 Daerah Kota Bitung Partai Pengusung PKPI PKPI PNI Marhaenisme PDS PPDK Patriot Pancasila PBB PIB. SH.1 No. PBB. Poso Drs. MM Abdul Muthalib Rimi. Seluma H. PPDK. SH. Piet Inkiriwang. 2006. Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama Khairul Effendi 9 Kab. Sintang Milton Krosbi Jarot Winanrno 11 Kota Tomohn Jefferson Rumajan Linneke S Wtoelangkow 12 Kab. Bustami TH 3 Kab. PPD P. PBB. Ma’ruf Bantilan. Deki Nenepat 21 Kab.Toba Samosir Monang Sitorus. SE. Murman Effendi. PPD. SE 15 Kab. MBA 19 Kab. Sagala 18 Kab. Sos. Luwu Utara Drs. Biakai. PDS PNBK. MM Sumber: Diolah dari Data Agregat Depdagri. M. SH. Celcius Watae Drs. Sekadau Simon Petrus Abun Edyanto 10 Kab. MM Dr. Zalnovri. Agam Arsito Munandar Ardinal Hasan 13 Kab. PKPB. PIB PP. MM Firdaus K. MBA Ir. HM Luthfi A Mutty Drs. Boven Dogoel Yusak Yumeo Marceleno Yamkomda 23 Kab. MH 5 Kab. Toba Samosir Monang Sitorus. PBSD PPDI. Mindi Siagian 4 Kab. Sijunjung H. PIB PPDK. Asmat Yufensius A. SE Drs. PNI-M. SH. MBA Ir. MM 6 Kab. PKPI. PBR. PPD PNBK. Waropen Drs. H. SH 22 Kab. PNIM. Mindi Siagian 17 Kab. HM Wancik Rasyid 8 Kab. PPD. SH. Partai-partai kecil pemenang Pilkada tahun 2005 Pasangan Pemenang Hanny Sondakh Robert K Lahindo. Samosir Ir. PKPI PBR. Pelopor. PP PBSD.Jurnal POELITIK Vol. 9 . PBSD PBB. PNBK PNI Marhaenis PDK. Patriot Pancasila PBB. PKPB PKPB. Sorring.1 2008 Tabel 5. S. Oku Selatan H. Keeron Drs. Yopen Waropen Ir. Mangindaan Simbolon Ober Sihol P. O Yacob Ramandey Daud Donggari 20 Kab. PDS. H.Si 2 Kab. Soeleman Daud Betawi Drs. Sawahlunto Sijunjung H. M. Darius Atan Yuswir Arifin 14 Kab. P Merdeka. Minahasa Utara Vonnie A Panambunan Sompie SF Singel. Sorong Selatan Octafianus Ihalauw Tomde Daida 16 Kab. PNBK PKPI. PBB. BA FB. PPDI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful