Jurnal POELITIK Vol.1 No.

1 2008

Kecenderungan Pilihan Masyarakat Dalam Pilkada
Lili Romli *

Pendahuluan
Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elit partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD. Ketiga, terjadi ‘pencopotan’ dan/atau tindakan over lain dari para anggota DPRD terhadap kepala daerah, seperti kasus di Surabaya dan Kalimantan Selatan, yang berdampak pada gejolak dan instabilitas politik dan pemerintahan lokal. Dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Pilkada langsung juga merupakan wujud nyata asas responsibilitas dan akuntabilitas. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan. Terdapat sejumlah kelebihan Pilkada langsung, antara lain: (1) memutus politik oligarki oleh sekelompok elit politik dalam penentuan kepala daerah; (2) memperkuat checks and balances dengan DPRD; (3) legitimasi yang kuat, karena langsung mendapat mandat dari rakyat; (4) menghasilkan kepala daerah yang akuntabel; dan (5) menghasilkan kepala daerah yang lebih peka dan responsif terhadap tuntutan rakyat. Pelaksanaan Pilkada langsung dimulai Juni 2005. Sejak Juni 2005 hingga Juni 2006, Pilkada telah berlangsung di 250 daerah di Indonesia, yakni di 10 propinsi, 202 kabupaten, dan 38 kota.

1

Di sejumlah daerah. Angka ini lebih rendah dibandingkan Pemilu 2004. pada Pilkada di Kabupaten Serang jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya mencapai 362. dalam Suara Karya. Kabupaten Kebumen 28. pemilih yang menggunakan hak pilih dalam Pilkada berkisar 65-75 persen.77 persen pada putaran pertama dan 26. aman. bahkan kerusuhan seperti terjadi di Kaur.3 Sedangkan pada Pemilu presiden 2004. dari sekitar 155 juta orang jumlah pemilih terdaftar. unjuk rasa. 3“Golput Pemenang Riil Pilkada”. dan pemilihan walikota 33 daerah. Jumlah ini lebih besar dari suara yang diperoleh pasangan Taufik Nuriman-Andi Sujudi yang memenangkan Pilkada.1 No.com/news. jumlah pemilih golput 21. dengan rincian pemilihan gubernur sebanyak 7 daerah. Daerah-daerah lain juga menunjukkan kecenderungan yang sama. 2 . http://www.582 suara. tertib.039 suara. Kabupaten Pekalongan 32%. dan partai-partai kecil yang menang.2%. kemenangan partai koalisi.2 Paparan yang dibahas meliputi partisipasi pemilih.34 persen. 28 Juni 2006 di Jakarta 2 Alasan pembatasan analisis pelaksanaan Pilkada hanya sampai Desember 2005 karena data yang ada pada penulis dari Depdagri hanya sampai bulan tersebut.325 suara atau 32 persen dari jumlah pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.129. Partisipasi Pemilih Fenomena yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada langsung di antaranya adalah rendahnya angka pemilih yang menggunakan hak pilih (voters turnout). warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput relatif tinggi. Tulisan ini mencatat kecenderungan-kecenderungan pilihan masyarakat dalam Pilkada selama bulan Juni hingga Desember 2005.27 persen pada putaran kedua.1 2008 Pada periode Juni—Desember 2005 berlangsung 210 Pilkada. Meski juga harus diakui terdapat juga beberapa kasus fenomenal yang diwarnai berbagai protes. pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dalam Pilkada mencapai angka 30 persen. incumbent. walaupun di sana-sini masih terdapat ketidakpuasan berbagai pihak. Kabupaten Bangka Tengah • * Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dan pengajar Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional 1 Data dikutip dari makalah Dirjen Otonomi Daerah Depdagri pada acara Evaluasi Satu Tahun Pilkada. di mana mereka yang tidak menggunakan hak pilih atau golput sebanyak 23.7 %.Jurnal POELITIK Vol.1 Pada umumnya Pilkada berlangsung secara demokratis.suarakarya online. Sebagai contoh.html?id=114584. pemilihan bupati 170. Bengkulu dan Tuban. Menurut data Departemen Dalam Negeri (Depdagri). dan lancar. popularitas figur. Di Kota Cilegon jumlah golput mencapai 23. Pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS)-Partai Demokrat itu hanya memperoleh 350. Jawa Timur.

4 Hasil analisis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada 2005 cenderung rendah (lihat Tabel 1). seperti. Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Wilayah <50% Partisipasi Pemilih 5059.9 persen terjadi di 58 wilayah (33. partai-partai politik atau koalisi partai-partai politik. Yang menentukan kandidat akan terpilih atau tidak bukan lagi segelintir elit DPRD tetapi rakyat (massa. 165 7 172 Popularitas Figur Dalam Pilkada langsung. konstituen). tetapi di luar ruangan gedung DPRD. 4 5 3 . 2006. kabupaten dan kota. Kabupaten Bangka Selatan 30%. Begitu juga dengan partai-partai politik. Begitu sentralnya faktor figur. Tingkat partisipasi sekitar 70-79. Faktor figur sangat signifikan dalam Pilkada langsung. belum tentu konstituen akan memilih figur tersebut. bila tidak ada kader populer dari partainya.9% 42 0 42 90% atau lebih 7 0 7 Total Kabupaten /kotamadya 3 15 Provinsi 0 1 Total 3 16 Sumber: Lingkaran Survey Indonesia. Kisaran tertinggi tingkat partisipasi masyarakat hanya di bawah 80 persen saja. dan Kota Surabaya 48. Tabel 1.8 persen wilayah yang tingkat partisipasi masyarakatnya dibawah 70 persen. mengusung figur dari luar partai yang dianggap populer. Rakyat menjadi pemutus siapa yang berhak menjadi kepala daerah.9% 57 1 58 8089. Yang perlu digarisbawahi tentang figur populer adalah bahwa ia dikenal luas di kalangan publik sebagai sosok yang memiliki integritas dan jejak rekam yang baik. ‘lapangan permainan’ tidak lagi di dalam ruangan gedung DPRD. Kabupaten Bangka Barat 32%.32 persen. salah satu pertimbangan dalam mengusung kandidat adalah faktor figur yang dikenal masyarakat.1 No. Tidak heran bila dalam mengusung kandidat.Jurnal POELITIK Vol. Mereka yang tidak atau belum terkenal akan berusaha ‘mensosialisasikan’ diri kepada publik lewat berbagai sarana.72 persen). Dari 172 wilayah provinsi. Kompas dan Media Indonesia.9% 41 5 46 7079. Bila tidak memiliki intergritas yang baik atau dikenal kerap kontraproduktif. terdapat sekitar 37. sehingga individu-individu yang menganggap dirinya populer atau dikenal masyarakat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam Pilkada.5 • Informasi diambil dari berita-berita di surat kabar nasional.9% 6069. Popularitas figur memainkan peran penting dalam mendulang suara.1 2008 41%.

1 2008 Bahwa faktor figur memainkan peran penting ternyata terbukti terlihat dari hasil Pilkada langsung 2005. Jauh sebelum Pilkada berlangsung.1 No. Kabupaten Boyolali. 4 .05%) dimenangkan incumbent. Mereka adalah sosok populer. Blora. Kabupaten Purbalingga. Sukoharjo. Mereka yang terpilih sebagai kepala daerah adalah figur-figur yang sudah dikenal masyarakat. Dari 211 Pilkada yang diikuti incumbent. dan Kota Magelang) dimenangkan incumbent. Misalnya Nur Mahmudi.H. dan Kabupaten Rembang). yang merupakan figur yang relatif populer. selama masa kampanye lihai menciptakan isu yang menarik perhatian media. dari 10 kabupaten/kota di mana incumbent ikut Pilkada. yaitu lebih dari 50%. incumbent walikota Depok. Sinyo Harry Sarundajang yang menang dalam pilgub di Sulawesi Utara. Selain mantan Presiden Partai Keadilan. Kemenangan Incumbent Dalam Pilkada langsung. Kemenangan incumbent juga terjadi di daerah-daerah lain. Secara nasional terlihat banyak calon incumbent yang menang. Begitu juga dengan Agustin Teras Narang yang menang dalam pemilihan gubernur (pilgub) di Kalimantan Tengah. Kemenangan para incumbent tidak mengejutkan banyak kalangan. Mereka. kalangan pengamat politik maupun masyarakat umum sudah berani memastikan para mantan pejabat lama yang ikut maju dalam Pilkada akan menang. Abdurrahman Wahid. Misalnya di Jawa Tengah. Upaya ‘menjual diri’ melalui iklan advertorial juga gencar mereka lakukan. sebanyak 87 daerah (40. Kemampuan para incumbent menaikkan citra dirinya tidak terlepas dari kelihaian mereka ‘menguasai’ media massa. malah sudah diperkirakan sebelumnya. misalnya. ia menjabat Menteri Kehutanan pada masa pemerintah K. terdapat kecenderungan incumbent terpilih kembali (menang). dapat mengalahkan Badrul Kamal. Kemenangan incumbent antara lain karena faktor popularitas dan penguasaan opini publik. sebanyak 124 (59.Jurnal POELITIK Vol. dan Gamawan Fauzi yang menang dalam pilgub di Sumatera Barat. incumbent kalah. dua daerah dimenangkan calon incumbent (Kota Cilegon dan Kabupaten Pandeglang).95%). satu incumbent kalah (Kabupaten Serang). Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. bukan saja di tingkat lokal tetapi juga nasional. sehingga mendapat publikasi kampanye luas. pada tiga Pilkada yang semuanya diikuti calon incumbent. Sisanya. Begitu juga di Banten. 7 daerah (Kabupaten Kebumen. tiga incumbent kalah (Kota Solo.

suaramerdeka. akan menumbuhkan citra positif sang pemimpin di mata rakyat. Begitu juga dengan peresmian rumah sakit. karena kurang memenuhi syarat untuk dapat mengajukan kandidat sendiri. pasti melahirkan suasana psikologis tersendiri bagi penerimanya.1 2008 Incumbent tidak perlu mengagendakan acara sosialisasi atau perkenalan: incumbent telah membangun dan memiliki jaringan ke seluruh pelosok desa/kelurahan. Investasi untuk menarik simpati senantiasa dicurahkan pada setiap momen. dan peresmian program-program pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat.com/harian/0506/16/opi03. Koalisi yang mereka bangun bukan berlandaskan kesamaan visi-misi. lapangan olahraga. Partai-partai politik Islam berkoalisi dengan partai nasionalis. pondok pesantren. UU No. Terhadap berbagai gerakan menanamkan simpati massa yang dilakukan para penantangnya.1 No. secara psikologis kian merekatkan hubungan emosional incumbent dengan konstituen. diharapkan sumber dukungan terhadap calon akan besar. dan program. incumbent sudah barang tentu mudah ‘menghapus’ citra para ‘pendatang baru’. Namun sayang. namun berdasarkan kepentingan jangka pendek merebut kekuasaan. http://www. “Posisi Mantan Pejabat dalam Pilkada”. • 6 Bambang Prishardoyo. penyerahan SK kenaikan pangkat atau penyaluran kredit dengan bunga ringan yang dilakukan incumbent saat menjabat. Misalnya. Dengan melakukan koalisi dengan banyak partai. Setiap kunjungan kedinasan menjadi ‘fasilitas gratis’ untuk menanamkan simpati massa. jika pada satu saat ada ‘pendatang baru’ memberikan bantuan entah dalam bentuk apa saja ke suatu tempat tertentu. massa pendukung dari masing-masing partai diharapkan juga akan mendukung calon yang diajukan. Jaringan kerja sampai pelosok desa yang sudah dimilikinya. Koalisi juga dibangun berdasarkan landasan untuk memenangkan kandidat yang diusung. pembukaan seminar dan lokakarya.6 terlebih apabila saat memimpin ia sudah memiliki niatan mencalonkan diri kembali. Syarat ini membuat banyak partai melakukan koalisi. Landasan koalisi bisa berupa faktor teknis. koalisi yang terbentuk bersifat ‘pelangi’ dan ‘gado-gado’. Tidak heran. jalan.Jurnal POELITIK Vol. menjadi sumber informasi handal yang dengan lincah mengakses gerakan para penantang. platform.htm 5 . Kemenangan Koalisi Partai Kecenderungan umum lain dalam Pilkada langsung adalah terbentuknya koalisi partai-partai politik untuk mengusung kandidat. dalam berkoalisi partai-partai politik cenderung pragmatis. Kucuran bantuan yang nota bene berasal dari pemerintah. 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa partai politik yang hendak mengajukan calon memiliki minimal 15% suara atau kursi. Dengan banyaknya partai pengusung calon. Besar kemungkinan. di saat yang lain incumbent akan memberikan bantuan yang besarnya dua atau tiga kali lipat. perusahaan milik pemerintah/swasta. gedung/kantor.

Jurnal POELITIK Vol. Partai nasionalis 3. Terlepas dari itu semua. Tabel 2.27 7. sebagaimana terlihat pada Tabel 2 di bawah ini. Koalisi sesama partai Islam Sumber: JPPR. satu di luar Jawa Satu di Jawa. 2006. Tabel 3. 2006 Jumlah Wilayah 83 73 51 17 Prosentase (%) 37. Partai-partai politik yang di tingkat nasional bersebarangan.59 22. Sumsel) Luar Jawa (Poso.48 Jumlah 7 172 32 211 Tabel 4. Koalisi pemenang Pilkada di 224 daerah No.1 No. di tingkat lokal berkoalisi dalam Pilkada. Koalisi sesama partai nasionalis 4. Koalisi partai dan non-koalisi yang memenangkan Pilkada 2005 Jenis Pilkada Koalisi Partai Tanpa Koalisi Provinsi 5 (71%) 2 (29%) Kabupaten 105 (60%) 67 (40%) Kota 16 (50%) 16 (50%) Jumlah 129 (59%) 85 (41%) Sumber: Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI. dua di luar Jawa Keduanya di Jawa (Timur) Keduanya di luar Jawa Luar Jawa (OKS. empat di luar Jawa Dua di Jawa. Sulteng) Luar Jawa (Toba Samosir. koalisi yang dibangun dalam Pilkada tampaknya membuahkan hasil maksimal.1 2008 bahkan dengan partai Kristen. 2006. Hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan calon yang diusung satu partai.05 32. dua di luar Jawa Dua di Jawa. Partai non-koalisi pemenang Pilkada 2005 Partai Pengusung Jumlah Daerah Partai Golkar 40 PDI Perjuangan 21 PKS 5 PPP 4 PAN 3 Partai Demokrat 3 PKB 2 PKPI 2 PBB 1 PDS 1 PNI Marhaenisme 1 Sumber: Syamsuddin Haris. Sumut) 6 . Koalisi partai nasionalis-Islam 2. Pemenang Pilkada 1. Keterangan 85% diraih di luar Jawa dan 15% di Jawa Jawa-luar Jawa berimbang Satu di Jawa.

Hanya ada enam kabupaten/kota yang tidak diikuti partaipartai kecil. Partai-partai kecil maju dalam Pilkada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. partai-partai kecil ikut berpartispasi dalam Pilkada di hampir semua daerah. PKPI menang di Kota Bitung dan Kabupaten Seluna. Pertama. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non parlemen. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non-parlemen. pada Pilkada tahun 2005 tingkat partisipasi partai-partai kecil mencapai 96%. 7 . di beberapa daerah partai-partai kecil mampu keluar sebagai pemenang tanpa koalisi dengan partai lain. dan Partai Patriot. Kesimpulan dan Catatan Tambahan Dapat disimpulkan: Pertama. Kompas. Perlu dicatat bahwa partai-partai kecil yang maju dalam Pilkada pada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. • 7 Pengertian tentang partai kecil di sini merujuk pada partai yang tidak memenuhi ambang batas electoral threshold sebanyak 3% pada Pemilu 2009. PDS menang di Kabupaten Poso.1 No. Partai kecil dengan tingkat partisipasi tinggi adalah Partai Bulan Bintang (PBB). Partai Patriot Pancasila menang di Kabupaten Toli-Toli. 8Lihat ”Pemilihan Kepala Daerah: Meski Terancam Tergusur. Beberapa partai kecil tersebut yang meraih kemenangan dalam Pilkada tahun 2005 adalah PKPI. Kedua. Keempat.1 2008 Kemenangan Partai Kecil7 Menurut Kompas.8 Tabel 5 menunjukkan tingkat partisipasi partai-partai kecil dalam Pilkada tahun 2005.Jurnal POELITIK Vol. calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan dengan calon yang diusung satu partai. Sebagai catatan tambahan. dari 63 Pilkada yang diikuti calon perempuan. dan PBB menang di Kabupaten Oku Selatan. Meski secara nasional dikategorikan sebagai partai kecil bisa jadi di tingkat lokal ia keluar sebagai pemenang Pemilu di daerah tersebut. hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa faktor figur begitu sentral dalam Pilkada langsung. PPDK menang di Kabupaten Luwu Utara. yang menang sebagai kepala daerah hanya 4 orang. Namun. Sedangkan partai kecil yang tingkat partisipasinya rendah adalah Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). PPDK. para incumbent tetap mempertahankan kekuasaan. Pilkada juga menunjukan fenomena lain yang perlu dicermati dan mendapat perhatian. Partai Kecil Masih Digdaya”. Ketiga. sementara yang menang sebagai wakil kepala daerah 12 orang. sebanyak 84 kali ikut berkompetisi dalam Pilkada dan menang di 19 daerah. PDS. 30 September 2005. sebanyak 25 kali dan menang di dua daerah.

Kelima. Sulawesi Barat. umumnya mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah. beberapa wakil rakyat. salah satu tafsir yang muncul adalah ‘keengganan’ masyarakat dipimpin tentara aktif. Letkol Nachfin FN (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Bereau. Agustin Teras Narang (anggota DPR dari PDIP. 8 . kandidat Bupati Serang). kandidat Gubernur Kalteng). Di antara mereka yang terpilih adalah Agustin Teras Narang. Pikiran Rakyat. dan Rustriningsih (Bupati Kebumen. 12 Mei 2005. kandidat dalam Pilkada umumnya berasal dari birokrat dan pengusaha. Para birokrat. Dalam Pilkada 2005 ada 6 orang TNI aktif maju sebagai kandidat. Moh. Mereka adalah Kolonel D. Iwan Prayitno (anggota DPRD dari PKS. baik DPR dan DPRD. Sumatera Selatan. Di antaranya. dan Kampen AM Bahtiar Syambawa (Pama Paspamres) sebagai calon bupati Mamuju Utara. Kecenderungan yang muncul adalah kandidat dari luar partai terpilih menjadi kepala daerah.J. Banten. minimnya kader partai murni (pengurus partai) yang menjadi kepala daerah. Sekarang adalah zaman pemerintahan sipil.9 Para kandidat dari TNI aktif itu ternyata tidak ada yang terpilih (menang). yang berkarir di Pemda sebagai Sekda atau Kepala Dinas/Badan/Kantor. Mayor Bastiam (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Yapen Waropen. Golkar). kebalikan era Orde Baru di mana TNI dan Polri aktif kerap menjadi kepala daerah. PDIP). dan yang tidak terpilih Iwan Prayitno. Beberapa kader murni partai yang menjadi kepala daerah adalah Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng. Letkol Didi Sunardi (Paban Madya BAIS TNI) calon wakil bupati Serang. Papua. Ketiga. Keempat. Sedangkan kader murni partai bisa dihitung dengan jari. dan M. • 9 “Panglima TNI Berhentikan Sementara 6 Perwira”.Jurnal POELITIK Vol.1 No. Hal ini bisa dimaknai beragam. Nur Mahmudi Ismail (Wali Kota Depok.1 2008 Kedua. menjadi kandidat dalam Pilkada. Jahidi (Wakil Ketua DPRD Serang dari PDIP. Aat Syafaat (Walikota Cilegon. calon Gubernur Sumatera Barat). PKS). Nachrowi (Puspen TNI) yang menjadi calon wakil bupati Ogan Ilir. Kalimantan Timur. munculnya kandidat yang berasal dari TNI aktif. PDIP).

Samosir Ir.Si 2 Kab. PBB. SH. PKPI. Sos. O Yacob Ramandey Daud Donggari 20 Kab. SH. Poso Drs. Bustami TH 3 Kab. PIB PPDK. Muhtadin Sera’i Drs. PP PBSD. HM Wancik Rasyid 8 Kab. Piet Inkiriwang. Deki Nenepat 21 Kab. PPD PNBK. Minahasa Utara Vonnie A Panambunan Sompie SF Singel. Asmat Yufensius A. Celcius Watae Drs. PPD. Sawahlunto Sijunjung H. PKPI PBR. PBB. H. PNBK PNI Marhaenis PDK. Luwu Utara Drs. PDS. PPD P. Sorring. MM 6 Kab. Sekadau Simon Petrus Abun Edyanto 10 Kab. PDK. PPD. Mindi Siagian 17 Kab. Zalnovri. No 1 Daerah Kota Bitung Partai Pengusung PKPI PKPI PNI Marhaenisme PDS PPDK Patriot Pancasila PBB PIB. PBR. Toba Samosir Monang Sitorus. MM Sumber: Diolah dari Data Agregat Depdagri. Agam Arsito Munandar Ardinal Hasan 13 Kab. PKPI.1 No. Soeleman Daud Betawi Drs. M. Toli-Toli Drs.Toba Samosir Monang Sitorus. BA FB. Waropen Drs. P Merdeka. PNI-M. MM Firdaus K.1 2008 Tabel 5. SH 22 Kab. Darius Atan Yuswir Arifin 14 Kab. Yopen Waropen Ir. Abdul Rachman Amin 7 Kab. PKPB PKPB. Oku Selatan H. Sintang Milton Krosbi Jarot Winanrno 11 Kota Tomohn Jefferson Rumajan Linneke S Wtoelangkow 12 Kab. PNIM. PKPB. Sorong Selatan Octafianus Ihalauw Tomde Daida 16 Kab. PBSD PPDI. Murman Effendi. MBA 19 Kab. PKPI. Ma’ruf Bantilan. PPDI. Pelopor. PNBK PKPI. PPDK. Sagala 18 Kab. Mindi Siagian 4 Kab. 2006. M. PBR PDS. Arifin Junaidi. MM Dr. HM Luthfi A Mutty Drs. Mangindaan Simbolon Ober Sihol P. Boven Dogoel Yusak Yumeo Marceleno Yamkomda 23 Kab. Seluma H. SH. MH 5 Kab. Keeron Drs. PBSD PBB. Sijunjung H. MBA Ir. SH. Patriot Pancasila PBB. S.Jurnal POELITIK Vol. PDS PNBK. MBA Ir. PIB PP. SE 15 Kab. MM Abdul Muthalib Rimi. SH. Biakai. H. Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama Khairul Effendi 9 Kab. SE. SE Drs. PBB. 9 . Wahfir. Partai-partai kecil pemenang Pilkada tahun 2005 Pasangan Pemenang Hanny Sondakh Robert K Lahindo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful