Jurnal POELITIK Vol.1 No.

1 2008

Kecenderungan Pilihan Masyarakat Dalam Pilkada
Lili Romli *

Pendahuluan
Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elit partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD. Ketiga, terjadi ‘pencopotan’ dan/atau tindakan over lain dari para anggota DPRD terhadap kepala daerah, seperti kasus di Surabaya dan Kalimantan Selatan, yang berdampak pada gejolak dan instabilitas politik dan pemerintahan lokal. Dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Pilkada langsung juga merupakan wujud nyata asas responsibilitas dan akuntabilitas. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan. Terdapat sejumlah kelebihan Pilkada langsung, antara lain: (1) memutus politik oligarki oleh sekelompok elit politik dalam penentuan kepala daerah; (2) memperkuat checks and balances dengan DPRD; (3) legitimasi yang kuat, karena langsung mendapat mandat dari rakyat; (4) menghasilkan kepala daerah yang akuntabel; dan (5) menghasilkan kepala daerah yang lebih peka dan responsif terhadap tuntutan rakyat. Pelaksanaan Pilkada langsung dimulai Juni 2005. Sejak Juni 2005 hingga Juni 2006, Pilkada telah berlangsung di 250 daerah di Indonesia, yakni di 10 propinsi, 202 kabupaten, dan 38 kota.

1

2 Paparan yang dibahas meliputi partisipasi pemilih. tertib. Angka ini lebih rendah dibandingkan Pemilu 2004. aman.2%. Di sejumlah daerah. walaupun di sana-sini masih terdapat ketidakpuasan berbagai pihak. unjuk rasa. http://www. Menurut data Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Kabupaten Pekalongan 32%.suarakarya online.77 persen pada putaran pertama dan 26. Tulisan ini mencatat kecenderungan-kecenderungan pilihan masyarakat dalam Pilkada selama bulan Juni hingga Desember 2005. Bengkulu dan Tuban.com/news. jumlah pemilih golput 21. popularitas figur. 2 . Pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS)-Partai Demokrat itu hanya memperoleh 350. di mana mereka yang tidak menggunakan hak pilih atau golput sebanyak 23. pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dalam Pilkada mencapai angka 30 persen.325 suara atau 32 persen dari jumlah pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.3 Sedangkan pada Pemilu presiden 2004.582 suara.039 suara.34 persen. dengan rincian pemilihan gubernur sebanyak 7 daerah. pemilih yang menggunakan hak pilih dalam Pilkada berkisar 65-75 persen. Partisipasi Pemilih Fenomena yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada langsung di antaranya adalah rendahnya angka pemilih yang menggunakan hak pilih (voters turnout).Jurnal POELITIK Vol. pada Pilkada di Kabupaten Serang jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya mencapai 362. Jawa Timur. bahkan kerusuhan seperti terjadi di Kaur. dan partai-partai kecil yang menang. 28 Juni 2006 di Jakarta 2 Alasan pembatasan analisis pelaksanaan Pilkada hanya sampai Desember 2005 karena data yang ada pada penulis dari Depdagri hanya sampai bulan tersebut. Sebagai contoh. dan pemilihan walikota 33 daerah. Di Kota Cilegon jumlah golput mencapai 23. Daerah-daerah lain juga menunjukkan kecenderungan yang sama. dalam Suara Karya.1 Pada umumnya Pilkada berlangsung secara demokratis.1 2008 Pada periode Juni—Desember 2005 berlangsung 210 Pilkada.27 persen pada putaran kedua. pemilihan bupati 170. warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput relatif tinggi. Kabupaten Bangka Tengah • * Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dan pengajar Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional 1 Data dikutip dari makalah Dirjen Otonomi Daerah Depdagri pada acara Evaluasi Satu Tahun Pilkada.html?id=114584. dan lancar. kemenangan partai koalisi. Kabupaten Kebumen 28. Meski juga harus diakui terdapat juga beberapa kasus fenomenal yang diwarnai berbagai protes. 3“Golput Pemenang Riil Pilkada”.129.7 %.1 No. dari sekitar 155 juta orang jumlah pemilih terdaftar. Jumlah ini lebih besar dari suara yang diperoleh pasangan Taufik Nuriman-Andi Sujudi yang memenangkan Pilkada. incumbent.

Begitu juga dengan partai-partai politik. Begitu sentralnya faktor figur.8 persen wilayah yang tingkat partisipasi masyarakatnya dibawah 70 persen. Kompas dan Media Indonesia. seperti. Yang menentukan kandidat akan terpilih atau tidak bukan lagi segelintir elit DPRD tetapi rakyat (massa.1 2008 41%.9% 41 5 46 7079. Dari 172 wilayah provinsi. bila tidak ada kader populer dari partainya. Tabel 1.9 persen terjadi di 58 wilayah (33. Rakyat menjadi pemutus siapa yang berhak menjadi kepala daerah. Mereka yang tidak atau belum terkenal akan berusaha ‘mensosialisasikan’ diri kepada publik lewat berbagai sarana.9% 42 0 42 90% atau lebih 7 0 7 Total Kabupaten /kotamadya 3 15 Provinsi 0 1 Total 3 16 Sumber: Lingkaran Survey Indonesia. kabupaten dan kota.9% 6069. Kisaran tertinggi tingkat partisipasi masyarakat hanya di bawah 80 persen saja. dan Kota Surabaya 48.4 Hasil analisis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada 2005 cenderung rendah (lihat Tabel 1).5 • Informasi diambil dari berita-berita di surat kabar nasional.Jurnal POELITIK Vol. Popularitas figur memainkan peran penting dalam mendulang suara. salah satu pertimbangan dalam mengusung kandidat adalah faktor figur yang dikenal masyarakat. tetapi di luar ruangan gedung DPRD. terdapat sekitar 37. konstituen). Tingkat partisipasi sekitar 70-79. sehingga individu-individu yang menganggap dirinya populer atau dikenal masyarakat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam Pilkada. belum tentu konstituen akan memilih figur tersebut. 2006. 165 7 172 Popularitas Figur Dalam Pilkada langsung. 4 5 3 .32 persen.9% 57 1 58 8089.72 persen). Tidak heran bila dalam mengusung kandidat. Bila tidak memiliki intergritas yang baik atau dikenal kerap kontraproduktif. Yang perlu digarisbawahi tentang figur populer adalah bahwa ia dikenal luas di kalangan publik sebagai sosok yang memiliki integritas dan jejak rekam yang baik. ‘lapangan permainan’ tidak lagi di dalam ruangan gedung DPRD. mengusung figur dari luar partai yang dianggap populer. Kabupaten Bangka Selatan 30%. Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Wilayah <50% Partisipasi Pemilih 5059. partai-partai politik atau koalisi partai-partai politik. Faktor figur sangat signifikan dalam Pilkada langsung.1 No. Kabupaten Bangka Barat 32%.

ia menjabat Menteri Kehutanan pada masa pemerintah K.05%) dimenangkan incumbent. selama masa kampanye lihai menciptakan isu yang menarik perhatian media. Kemenangan incumbent antara lain karena faktor popularitas dan penguasaan opini publik. Kabupaten Purbalingga. Selain mantan Presiden Partai Keadilan. Kabupaten Boyolali. Kemenangan para incumbent tidak mengejutkan banyak kalangan. satu incumbent kalah (Kabupaten Serang). yaitu lebih dari 50%. Jauh sebelum Pilkada berlangsung. misalnya. malah sudah diperkirakan sebelumnya. dari 10 kabupaten/kota di mana incumbent ikut Pilkada. incumbent walikota Depok. Secara nasional terlihat banyak calon incumbent yang menang.H. Mereka adalah sosok populer. Begitu juga dengan Agustin Teras Narang yang menang dalam pemilihan gubernur (pilgub) di Kalimantan Tengah. Upaya ‘menjual diri’ melalui iklan advertorial juga gencar mereka lakukan. Sisanya. Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. dan Kabupaten Rembang). Kemenangan incumbent juga terjadi di daerah-daerah lain. Sinyo Harry Sarundajang yang menang dalam pilgub di Sulawesi Utara. Kemampuan para incumbent menaikkan citra dirinya tidak terlepas dari kelihaian mereka ‘menguasai’ media massa. bukan saja di tingkat lokal tetapi juga nasional. pada tiga Pilkada yang semuanya diikuti calon incumbent. yang merupakan figur yang relatif populer. sebanyak 124 (59. 4 . dan Gamawan Fauzi yang menang dalam pilgub di Sumatera Barat. dapat mengalahkan Badrul Kamal. dua daerah dimenangkan calon incumbent (Kota Cilegon dan Kabupaten Pandeglang). 7 daerah (Kabupaten Kebumen. tiga incumbent kalah (Kota Solo.1 2008 Bahwa faktor figur memainkan peran penting ternyata terbukti terlihat dari hasil Pilkada langsung 2005. kalangan pengamat politik maupun masyarakat umum sudah berani memastikan para mantan pejabat lama yang ikut maju dalam Pilkada akan menang. Mereka.1 No. Mereka yang terpilih sebagai kepala daerah adalah figur-figur yang sudah dikenal masyarakat. Misalnya di Jawa Tengah. Dari 211 Pilkada yang diikuti incumbent. Sukoharjo. Misalnya Nur Mahmudi. incumbent kalah. Abdurrahman Wahid. Blora. sebanyak 87 daerah (40.Jurnal POELITIK Vol. Kemenangan Incumbent Dalam Pilkada langsung. terdapat kecenderungan incumbent terpilih kembali (menang). sehingga mendapat publikasi kampanye luas.95%). dan Kota Magelang) dimenangkan incumbent. Begitu juga di Banten.

namun berdasarkan kepentingan jangka pendek merebut kekuasaan. karena kurang memenuhi syarat untuk dapat mengajukan kandidat sendiri. platform.1 2008 Incumbent tidak perlu mengagendakan acara sosialisasi atau perkenalan: incumbent telah membangun dan memiliki jaringan ke seluruh pelosok desa/kelurahan. diharapkan sumber dukungan terhadap calon akan besar. incumbent sudah barang tentu mudah ‘menghapus’ citra para ‘pendatang baru’. Syarat ini membuat banyak partai melakukan koalisi. Setiap kunjungan kedinasan menjadi ‘fasilitas gratis’ untuk menanamkan simpati massa. 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa partai politik yang hendak mengajukan calon memiliki minimal 15% suara atau kursi.6 terlebih apabila saat memimpin ia sudah memiliki niatan mencalonkan diri kembali. secara psikologis kian merekatkan hubungan emosional incumbent dengan konstituen. Jaringan kerja sampai pelosok desa yang sudah dimilikinya. Begitu juga dengan peresmian rumah sakit. • 6 Bambang Prishardoyo. Terhadap berbagai gerakan menanamkan simpati massa yang dilakukan para penantangnya. Investasi untuk menarik simpati senantiasa dicurahkan pada setiap momen. jika pada satu saat ada ‘pendatang baru’ memberikan bantuan entah dalam bentuk apa saja ke suatu tempat tertentu. akan menumbuhkan citra positif sang pemimpin di mata rakyat. dalam berkoalisi partai-partai politik cenderung pragmatis. dan peresmian program-program pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat. Kucuran bantuan yang nota bene berasal dari pemerintah.com/harian/0506/16/opi03. pondok pesantren. gedung/kantor. koalisi yang terbentuk bersifat ‘pelangi’ dan ‘gado-gado’. Landasan koalisi bisa berupa faktor teknis. “Posisi Mantan Pejabat dalam Pilkada”. UU No. dan program. jalan. Besar kemungkinan. Namun sayang. Koalisi juga dibangun berdasarkan landasan untuk memenangkan kandidat yang diusung. Dengan melakukan koalisi dengan banyak partai. Koalisi yang mereka bangun bukan berlandaskan kesamaan visi-misi. menjadi sumber informasi handal yang dengan lincah mengakses gerakan para penantang.htm 5 . lapangan olahraga.1 No.suaramerdeka. perusahaan milik pemerintah/swasta. Kemenangan Koalisi Partai Kecenderungan umum lain dalam Pilkada langsung adalah terbentuknya koalisi partai-partai politik untuk mengusung kandidat. pembukaan seminar dan lokakarya.Jurnal POELITIK Vol. di saat yang lain incumbent akan memberikan bantuan yang besarnya dua atau tiga kali lipat. massa pendukung dari masing-masing partai diharapkan juga akan mendukung calon yang diajukan. Misalnya. penyerahan SK kenaikan pangkat atau penyaluran kredit dengan bunga ringan yang dilakukan incumbent saat menjabat. pasti melahirkan suasana psikologis tersendiri bagi penerimanya. Dengan banyaknya partai pengusung calon. Tidak heran. http://www. Partai-partai politik Islam berkoalisi dengan partai nasionalis.

Jurnal POELITIK Vol. dua di luar Jawa Keduanya di Jawa (Timur) Keduanya di luar Jawa Luar Jawa (OKS. 2006. Koalisi pemenang Pilkada di 224 daerah No. Hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan calon yang diusung satu partai.1 2008 bahkan dengan partai Kristen. satu di luar Jawa Satu di Jawa. Partai non-koalisi pemenang Pilkada 2005 Partai Pengusung Jumlah Daerah Partai Golkar 40 PDI Perjuangan 21 PKS 5 PPP 4 PAN 3 Partai Demokrat 3 PKB 2 PKPI 2 PBB 1 PDS 1 PNI Marhaenisme 1 Sumber: Syamsuddin Haris. di tingkat lokal berkoalisi dalam Pilkada. Sumut) 6 .1 No. Pemenang Pilkada 1. 2006. Koalisi partai nasionalis-Islam 2. Keterangan 85% diraih di luar Jawa dan 15% di Jawa Jawa-luar Jawa berimbang Satu di Jawa. Koalisi sesama partai Islam Sumber: JPPR. Tabel 3.48 Jumlah 7 172 32 211 Tabel 4.59 22. Koalisi partai dan non-koalisi yang memenangkan Pilkada 2005 Jenis Pilkada Koalisi Partai Tanpa Koalisi Provinsi 5 (71%) 2 (29%) Kabupaten 105 (60%) 67 (40%) Kota 16 (50%) 16 (50%) Jumlah 129 (59%) 85 (41%) Sumber: Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI. 2006 Jumlah Wilayah 83 73 51 17 Prosentase (%) 37. dua di luar Jawa Dua di Jawa. sebagaimana terlihat pada Tabel 2 di bawah ini. Sulteng) Luar Jawa (Toba Samosir. Partai nasionalis 3. Koalisi sesama partai nasionalis 4. empat di luar Jawa Dua di Jawa. Tabel 2.05 32. Partai-partai politik yang di tingkat nasional bersebarangan. koalisi yang dibangun dalam Pilkada tampaknya membuahkan hasil maksimal. Terlepas dari itu semua. Sumsel) Luar Jawa (Poso.27 7.

8 Tabel 5 menunjukkan tingkat partisipasi partai-partai kecil dalam Pilkada tahun 2005. para incumbent tetap mempertahankan kekuasaan. yang menang sebagai kepala daerah hanya 4 orang.Jurnal POELITIK Vol. • 7 Pengertian tentang partai kecil di sini merujuk pada partai yang tidak memenuhi ambang batas electoral threshold sebanyak 3% pada Pemilu 2009. Partai-partai kecil maju dalam Pilkada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. dan Partai Patriot. Keempat. partai-partai kecil ikut berpartispasi dalam Pilkada di hampir semua daerah. Ketiga. 30 September 2005.1 2008 Kemenangan Partai Kecil7 Menurut Kompas. PDS menang di Kabupaten Poso. sementara yang menang sebagai wakil kepala daerah 12 orang. pada Pilkada tahun 2005 tingkat partisipasi partai-partai kecil mencapai 96%. hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa faktor figur begitu sentral dalam Pilkada langsung. PKPI menang di Kota Bitung dan Kabupaten Seluna. Partai Kecil Masih Digdaya”. Sedangkan partai kecil yang tingkat partisipasinya rendah adalah Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). PDS.1 No. Meski secara nasional dikategorikan sebagai partai kecil bisa jadi di tingkat lokal ia keluar sebagai pemenang Pemilu di daerah tersebut. Perlu dicatat bahwa partai-partai kecil yang maju dalam Pilkada pada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. dari 63 Pilkada yang diikuti calon perempuan. 7 . sebanyak 25 kali dan menang di dua daerah. di beberapa daerah partai-partai kecil mampu keluar sebagai pemenang tanpa koalisi dengan partai lain. calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan dengan calon yang diusung satu partai. Pilkada juga menunjukan fenomena lain yang perlu dicermati dan mendapat perhatian. Kompas. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non-parlemen. Hanya ada enam kabupaten/kota yang tidak diikuti partaipartai kecil. PPDK. dan PBB menang di Kabupaten Oku Selatan. Beberapa partai kecil tersebut yang meraih kemenangan dalam Pilkada tahun 2005 adalah PKPI. Sebagai catatan tambahan. Partai Patriot Pancasila menang di Kabupaten Toli-Toli. sebanyak 84 kali ikut berkompetisi dalam Pilkada dan menang di 19 daerah. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non parlemen. PPDK menang di Kabupaten Luwu Utara. Kedua. Pertama. 8Lihat ”Pemilihan Kepala Daerah: Meski Terancam Tergusur. Namun. Partai kecil dengan tingkat partisipasi tinggi adalah Partai Bulan Bintang (PBB). Kesimpulan dan Catatan Tambahan Dapat disimpulkan: Pertama.

Banten. Di antara mereka yang terpilih adalah Agustin Teras Narang. Aat Syafaat (Walikota Cilegon. Papua. Sulawesi Barat. munculnya kandidat yang berasal dari TNI aktif. Beberapa kader murni partai yang menjadi kepala daerah adalah Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng. Dalam Pilkada 2005 ada 6 orang TNI aktif maju sebagai kandidat. Letkol Didi Sunardi (Paban Madya BAIS TNI) calon wakil bupati Serang. minimnya kader partai murni (pengurus partai) yang menjadi kepala daerah. dan Rustriningsih (Bupati Kebumen.9 Para kandidat dari TNI aktif itu ternyata tidak ada yang terpilih (menang). kandidat dalam Pilkada umumnya berasal dari birokrat dan pengusaha. kandidat Gubernur Kalteng). • 9 “Panglima TNI Berhentikan Sementara 6 Perwira”. dan yang tidak terpilih Iwan Prayitno. kandidat Bupati Serang). PDIP). Ketiga. dan Kampen AM Bahtiar Syambawa (Pama Paspamres) sebagai calon bupati Mamuju Utara. Letkol Nachfin FN (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Bereau. Kecenderungan yang muncul adalah kandidat dari luar partai terpilih menjadi kepala daerah.1 2008 Kedua. kebalikan era Orde Baru di mana TNI dan Polri aktif kerap menjadi kepala daerah. 8 . yang berkarir di Pemda sebagai Sekda atau Kepala Dinas/Badan/Kantor.J. PDIP). Para birokrat. Hal ini bisa dimaknai beragam. Di antaranya. Iwan Prayitno (anggota DPRD dari PKS. PKS). Pikiran Rakyat. Kelima. Keempat. Golkar). Jahidi (Wakil Ketua DPRD Serang dari PDIP. Sedangkan kader murni partai bisa dihitung dengan jari. menjadi kandidat dalam Pilkada. Mereka adalah Kolonel D. salah satu tafsir yang muncul adalah ‘keengganan’ masyarakat dipimpin tentara aktif. Sumatera Selatan. Mayor Bastiam (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Yapen Waropen. 12 Mei 2005.Jurnal POELITIK Vol. Moh. Nur Mahmudi Ismail (Wali Kota Depok. Nachrowi (Puspen TNI) yang menjadi calon wakil bupati Ogan Ilir. beberapa wakil rakyat. calon Gubernur Sumatera Barat). umumnya mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah. Kalimantan Timur. Agustin Teras Narang (anggota DPR dari PDIP. dan M.1 No. Sekarang adalah zaman pemerintahan sipil. baik DPR dan DPRD.

PKPI PBR. Poso Drs. SH. SH 22 Kab. MM Dr. PPDK. PKPI. PDS. PKPI. Soeleman Daud Betawi Drs. Boven Dogoel Yusak Yumeo Marceleno Yamkomda 23 Kab. 9 . Ma’ruf Bantilan. PPDI. PNIM. MBA Ir. BA FB. Mindi Siagian 4 Kab. PPD. Toba Samosir Monang Sitorus. Sos. Sijunjung H. PP PBSD. Minahasa Utara Vonnie A Panambunan Sompie SF Singel. Biakai. SE 15 Kab. Darius Atan Yuswir Arifin 14 Kab. Sagala 18 Kab. Zalnovri. Partai-partai kecil pemenang Pilkada tahun 2005 Pasangan Pemenang Hanny Sondakh Robert K Lahindo. Oku Selatan H. PBSD PBB. PPD P. MBA Ir. MM 6 Kab. PDK.1 No. MH 5 Kab. PIB PPDK. Abdul Rachman Amin 7 Kab. Keeron Drs. PBR. HM Luthfi A Mutty Drs. PNBK PNI Marhaenis PDK. Asmat Yufensius A. O Yacob Ramandey Daud Donggari 20 Kab. Sorring. PKPI. Muhtadin Sera’i Drs. Piet Inkiriwang. Bustami TH 3 Kab. Yopen Waropen Ir. Waropen Drs. Pelopor. SH. 2006. Sintang Milton Krosbi Jarot Winanrno 11 Kota Tomohn Jefferson Rumajan Linneke S Wtoelangkow 12 Kab. PBR PDS. PKPB PKPB. Sekadau Simon Petrus Abun Edyanto 10 Kab. Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama Khairul Effendi 9 Kab. Mangindaan Simbolon Ober Sihol P. No 1 Daerah Kota Bitung Partai Pengusung PKPI PKPI PNI Marhaenisme PDS PPDK Patriot Pancasila PBB PIB.Toba Samosir Monang Sitorus. PDS PNBK. SH.Si 2 Kab. Celcius Watae Drs. Luwu Utara Drs. Patriot Pancasila PBB. Murman Effendi. H. Deki Nenepat 21 Kab. Seluma H. PKPB. SE. PNBK PKPI. SE Drs. PBB. PPD PNBK.1 2008 Tabel 5. Agam Arsito Munandar Ardinal Hasan 13 Kab. Samosir Ir. Toli-Toli Drs. M. MM Firdaus K. P Merdeka. SH. PBB. SH. PIB PP. MM Sumber: Diolah dari Data Agregat Depdagri. M. PBB. MBA 19 Kab. S. Sawahlunto Sijunjung H. PBSD PPDI. Sorong Selatan Octafianus Ihalauw Tomde Daida 16 Kab. MM Abdul Muthalib Rimi. Arifin Junaidi. PNI-M. PPD. H. Wahfir. HM Wancik Rasyid 8 Kab. Mindi Siagian 17 Kab.Jurnal POELITIK Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful