Jurnal POELITIK Vol.1 No.

1 2008

Kecenderungan Pilihan Masyarakat Dalam Pilkada
Lili Romli *

Pendahuluan
Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elit partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD. Ketiga, terjadi ‘pencopotan’ dan/atau tindakan over lain dari para anggota DPRD terhadap kepala daerah, seperti kasus di Surabaya dan Kalimantan Selatan, yang berdampak pada gejolak dan instabilitas politik dan pemerintahan lokal. Dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Pilkada langsung juga merupakan wujud nyata asas responsibilitas dan akuntabilitas. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan. Terdapat sejumlah kelebihan Pilkada langsung, antara lain: (1) memutus politik oligarki oleh sekelompok elit politik dalam penentuan kepala daerah; (2) memperkuat checks and balances dengan DPRD; (3) legitimasi yang kuat, karena langsung mendapat mandat dari rakyat; (4) menghasilkan kepala daerah yang akuntabel; dan (5) menghasilkan kepala daerah yang lebih peka dan responsif terhadap tuntutan rakyat. Pelaksanaan Pilkada langsung dimulai Juni 2005. Sejak Juni 2005 hingga Juni 2006, Pilkada telah berlangsung di 250 daerah di Indonesia, yakni di 10 propinsi, 202 kabupaten, dan 38 kota.

1

dengan rincian pemilihan gubernur sebanyak 7 daerah. tertib. Partisipasi Pemilih Fenomena yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada langsung di antaranya adalah rendahnya angka pemilih yang menggunakan hak pilih (voters turnout). http://www. bahkan kerusuhan seperti terjadi di Kaur. 3“Golput Pemenang Riil Pilkada”. Kabupaten Pekalongan 32%.suarakarya online.2%. walaupun di sana-sini masih terdapat ketidakpuasan berbagai pihak.Jurnal POELITIK Vol.039 suara.1 2008 Pada periode Juni—Desember 2005 berlangsung 210 Pilkada. pemilihan bupati 170. Kabupaten Bangka Tengah • * Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dan pengajar Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional 1 Data dikutip dari makalah Dirjen Otonomi Daerah Depdagri pada acara Evaluasi Satu Tahun Pilkada. Angka ini lebih rendah dibandingkan Pemilu 2004.2 Paparan yang dibahas meliputi partisipasi pemilih.77 persen pada putaran pertama dan 26. warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput relatif tinggi. dan lancar. Daerah-daerah lain juga menunjukkan kecenderungan yang sama.325 suara atau 32 persen dari jumlah pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.3 Sedangkan pada Pemilu presiden 2004. unjuk rasa. Jumlah ini lebih besar dari suara yang diperoleh pasangan Taufik Nuriman-Andi Sujudi yang memenangkan Pilkada. kemenangan partai koalisi. Menurut data Departemen Dalam Negeri (Depdagri). incumbent. pada Pilkada di Kabupaten Serang jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya mencapai 362. Tulisan ini mencatat kecenderungan-kecenderungan pilihan masyarakat dalam Pilkada selama bulan Juni hingga Desember 2005.com/news. Di sejumlah daerah. Sebagai contoh. jumlah pemilih golput 21.html?id=114584. Jawa Timur. dan partai-partai kecil yang menang.129. Bengkulu dan Tuban. di mana mereka yang tidak menggunakan hak pilih atau golput sebanyak 23. dalam Suara Karya.7 %. pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dalam Pilkada mencapai angka 30 persen.27 persen pada putaran kedua. popularitas figur.1 No. Di Kota Cilegon jumlah golput mencapai 23. 28 Juni 2006 di Jakarta 2 Alasan pembatasan analisis pelaksanaan Pilkada hanya sampai Desember 2005 karena data yang ada pada penulis dari Depdagri hanya sampai bulan tersebut. dan pemilihan walikota 33 daerah. aman. Kabupaten Kebumen 28. Meski juga harus diakui terdapat juga beberapa kasus fenomenal yang diwarnai berbagai protes. pemilih yang menggunakan hak pilih dalam Pilkada berkisar 65-75 persen.582 suara.34 persen. Pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS)-Partai Demokrat itu hanya memperoleh 350. 2 . dari sekitar 155 juta orang jumlah pemilih terdaftar.1 Pada umumnya Pilkada berlangsung secara demokratis.

konstituen).9% 57 1 58 8089.1 No. Tidak heran bila dalam mengusung kandidat. Mereka yang tidak atau belum terkenal akan berusaha ‘mensosialisasikan’ diri kepada publik lewat berbagai sarana. belum tentu konstituen akan memilih figur tersebut. tetapi di luar ruangan gedung DPRD.9% 42 0 42 90% atau lebih 7 0 7 Total Kabupaten /kotamadya 3 15 Provinsi 0 1 Total 3 16 Sumber: Lingkaran Survey Indonesia. mengusung figur dari luar partai yang dianggap populer. Begitu sentralnya faktor figur. Rakyat menjadi pemutus siapa yang berhak menjadi kepala daerah. dan Kota Surabaya 48. salah satu pertimbangan dalam mengusung kandidat adalah faktor figur yang dikenal masyarakat. kabupaten dan kota.9 persen terjadi di 58 wilayah (33. Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Wilayah <50% Partisipasi Pemilih 5059.9% 41 5 46 7079.9% 6069. ‘lapangan permainan’ tidak lagi di dalam ruangan gedung DPRD. Kisaran tertinggi tingkat partisipasi masyarakat hanya di bawah 80 persen saja. Yang perlu digarisbawahi tentang figur populer adalah bahwa ia dikenal luas di kalangan publik sebagai sosok yang memiliki integritas dan jejak rekam yang baik. 2006. terdapat sekitar 37.Jurnal POELITIK Vol. Yang menentukan kandidat akan terpilih atau tidak bukan lagi segelintir elit DPRD tetapi rakyat (massa. Tingkat partisipasi sekitar 70-79. bila tidak ada kader populer dari partainya. Kompas dan Media Indonesia.72 persen). seperti. sehingga individu-individu yang menganggap dirinya populer atau dikenal masyarakat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam Pilkada. 4 5 3 . Kabupaten Bangka Barat 32%.1 2008 41%. Tabel 1. 165 7 172 Popularitas Figur Dalam Pilkada langsung. partai-partai politik atau koalisi partai-partai politik. Kabupaten Bangka Selatan 30%. Begitu juga dengan partai-partai politik.4 Hasil analisis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada 2005 cenderung rendah (lihat Tabel 1). Bila tidak memiliki intergritas yang baik atau dikenal kerap kontraproduktif. Faktor figur sangat signifikan dalam Pilkada langsung.8 persen wilayah yang tingkat partisipasi masyarakatnya dibawah 70 persen.5 • Informasi diambil dari berita-berita di surat kabar nasional. Dari 172 wilayah provinsi. Popularitas figur memainkan peran penting dalam mendulang suara.32 persen.

Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. yang merupakan figur yang relatif populer.H. misalnya. Kabupaten Boyolali. selama masa kampanye lihai menciptakan isu yang menarik perhatian media. Sinyo Harry Sarundajang yang menang dalam pilgub di Sulawesi Utara. tiga incumbent kalah (Kota Solo. satu incumbent kalah (Kabupaten Serang).1 No. dapat mengalahkan Badrul Kamal. Kemenangan incumbent juga terjadi di daerah-daerah lain. dari 10 kabupaten/kota di mana incumbent ikut Pilkada. Kemampuan para incumbent menaikkan citra dirinya tidak terlepas dari kelihaian mereka ‘menguasai’ media massa. Sukoharjo. Misalnya di Jawa Tengah. dan Kota Magelang) dimenangkan incumbent. dan Gamawan Fauzi yang menang dalam pilgub di Sumatera Barat. Begitu juga di Banten. kalangan pengamat politik maupun masyarakat umum sudah berani memastikan para mantan pejabat lama yang ikut maju dalam Pilkada akan menang.05%) dimenangkan incumbent.1 2008 Bahwa faktor figur memainkan peran penting ternyata terbukti terlihat dari hasil Pilkada langsung 2005. incumbent kalah. ia menjabat Menteri Kehutanan pada masa pemerintah K. incumbent walikota Depok. Jauh sebelum Pilkada berlangsung. 7 daerah (Kabupaten Kebumen. Mereka adalah sosok populer. Upaya ‘menjual diri’ melalui iklan advertorial juga gencar mereka lakukan. Begitu juga dengan Agustin Teras Narang yang menang dalam pemilihan gubernur (pilgub) di Kalimantan Tengah.95%). bukan saja di tingkat lokal tetapi juga nasional. Kemenangan incumbent antara lain karena faktor popularitas dan penguasaan opini publik. dan Kabupaten Rembang).Jurnal POELITIK Vol. yaitu lebih dari 50%. pada tiga Pilkada yang semuanya diikuti calon incumbent. Abdurrahman Wahid. terdapat kecenderungan incumbent terpilih kembali (menang). Kemenangan para incumbent tidak mengejutkan banyak kalangan. Kabupaten Purbalingga. 4 . sebanyak 87 daerah (40. Mereka. Misalnya Nur Mahmudi. Secara nasional terlihat banyak calon incumbent yang menang. Selain mantan Presiden Partai Keadilan. Blora. Mereka yang terpilih sebagai kepala daerah adalah figur-figur yang sudah dikenal masyarakat. sehingga mendapat publikasi kampanye luas. sebanyak 124 (59. Sisanya. malah sudah diperkirakan sebelumnya. dua daerah dimenangkan calon incumbent (Kota Cilegon dan Kabupaten Pandeglang). Kemenangan Incumbent Dalam Pilkada langsung. Dari 211 Pilkada yang diikuti incumbent.

htm 5 . pondok pesantren. secara psikologis kian merekatkan hubungan emosional incumbent dengan konstituen.com/harian/0506/16/opi03. jika pada satu saat ada ‘pendatang baru’ memberikan bantuan entah dalam bentuk apa saja ke suatu tempat tertentu. Koalisi yang mereka bangun bukan berlandaskan kesamaan visi-misi. Namun sayang. di saat yang lain incumbent akan memberikan bantuan yang besarnya dua atau tiga kali lipat. Kucuran bantuan yang nota bene berasal dari pemerintah. penyerahan SK kenaikan pangkat atau penyaluran kredit dengan bunga ringan yang dilakukan incumbent saat menjabat.Jurnal POELITIK Vol. Setiap kunjungan kedinasan menjadi ‘fasilitas gratis’ untuk menanamkan simpati massa. Dengan banyaknya partai pengusung calon. Investasi untuk menarik simpati senantiasa dicurahkan pada setiap momen. incumbent sudah barang tentu mudah ‘menghapus’ citra para ‘pendatang baru’. “Posisi Mantan Pejabat dalam Pilkada”. gedung/kantor. Begitu juga dengan peresmian rumah sakit. Koalisi juga dibangun berdasarkan landasan untuk memenangkan kandidat yang diusung. Kemenangan Koalisi Partai Kecenderungan umum lain dalam Pilkada langsung adalah terbentuknya koalisi partai-partai politik untuk mengusung kandidat. menjadi sumber informasi handal yang dengan lincah mengakses gerakan para penantang. pembukaan seminar dan lokakarya. Dengan melakukan koalisi dengan banyak partai.6 terlebih apabila saat memimpin ia sudah memiliki niatan mencalonkan diri kembali. Partai-partai politik Islam berkoalisi dengan partai nasionalis. namun berdasarkan kepentingan jangka pendek merebut kekuasaan. Misalnya. dan peresmian program-program pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat. • 6 Bambang Prishardoyo. dalam berkoalisi partai-partai politik cenderung pragmatis. Besar kemungkinan. platform.suaramerdeka. Syarat ini membuat banyak partai melakukan koalisi. jalan. dan program. diharapkan sumber dukungan terhadap calon akan besar. karena kurang memenuhi syarat untuk dapat mengajukan kandidat sendiri. UU No.1 No. Terhadap berbagai gerakan menanamkan simpati massa yang dilakukan para penantangnya. Tidak heran. pasti melahirkan suasana psikologis tersendiri bagi penerimanya. http://www. perusahaan milik pemerintah/swasta.1 2008 Incumbent tidak perlu mengagendakan acara sosialisasi atau perkenalan: incumbent telah membangun dan memiliki jaringan ke seluruh pelosok desa/kelurahan. lapangan olahraga. massa pendukung dari masing-masing partai diharapkan juga akan mendukung calon yang diajukan. Landasan koalisi bisa berupa faktor teknis. 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa partai politik yang hendak mengajukan calon memiliki minimal 15% suara atau kursi. koalisi yang terbentuk bersifat ‘pelangi’ dan ‘gado-gado’. akan menumbuhkan citra positif sang pemimpin di mata rakyat. Jaringan kerja sampai pelosok desa yang sudah dimilikinya.

2006. dua di luar Jawa Dua di Jawa. di tingkat lokal berkoalisi dalam Pilkada. Pemenang Pilkada 1. 2006. satu di luar Jawa Satu di Jawa.1 2008 bahkan dengan partai Kristen.27 7. Koalisi sesama partai Islam Sumber: JPPR. Sulteng) Luar Jawa (Toba Samosir. Hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan calon yang diusung satu partai. Partai non-koalisi pemenang Pilkada 2005 Partai Pengusung Jumlah Daerah Partai Golkar 40 PDI Perjuangan 21 PKS 5 PPP 4 PAN 3 Partai Demokrat 3 PKB 2 PKPI 2 PBB 1 PDS 1 PNI Marhaenisme 1 Sumber: Syamsuddin Haris. 2006 Jumlah Wilayah 83 73 51 17 Prosentase (%) 37.05 32. empat di luar Jawa Dua di Jawa. dua di luar Jawa Keduanya di Jawa (Timur) Keduanya di luar Jawa Luar Jawa (OKS. Koalisi partai nasionalis-Islam 2. Partai nasionalis 3. Koalisi pemenang Pilkada di 224 daerah No.Jurnal POELITIK Vol. koalisi yang dibangun dalam Pilkada tampaknya membuahkan hasil maksimal. Partai-partai politik yang di tingkat nasional bersebarangan. Tabel 2. Tabel 3.1 No. sebagaimana terlihat pada Tabel 2 di bawah ini. Sumsel) Luar Jawa (Poso.59 22. Koalisi sesama partai nasionalis 4. Sumut) 6 . Keterangan 85% diraih di luar Jawa dan 15% di Jawa Jawa-luar Jawa berimbang Satu di Jawa.48 Jumlah 7 172 32 211 Tabel 4. Terlepas dari itu semua. Koalisi partai dan non-koalisi yang memenangkan Pilkada 2005 Jenis Pilkada Koalisi Partai Tanpa Koalisi Provinsi 5 (71%) 2 (29%) Kabupaten 105 (60%) 67 (40%) Kota 16 (50%) 16 (50%) Jumlah 129 (59%) 85 (41%) Sumber: Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI.

dari 63 Pilkada yang diikuti calon perempuan. Kompas. 7 . sebanyak 25 kali dan menang di dua daerah. Perlu dicatat bahwa partai-partai kecil yang maju dalam Pilkada pada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain.1 2008 Kemenangan Partai Kecil7 Menurut Kompas. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non parlemen. Keempat. Namun. di beberapa daerah partai-partai kecil mampu keluar sebagai pemenang tanpa koalisi dengan partai lain. Ketiga. PKPI menang di Kota Bitung dan Kabupaten Seluna. 8Lihat ”Pemilihan Kepala Daerah: Meski Terancam Tergusur. PDS. dan PBB menang di Kabupaten Oku Selatan. PPDK. Pilkada juga menunjukan fenomena lain yang perlu dicermati dan mendapat perhatian. para incumbent tetap mempertahankan kekuasaan. Sedangkan partai kecil yang tingkat partisipasinya rendah adalah Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). 30 September 2005. Kedua. calon yang diusung koalisi partai lebih banyak menang dibandingkan dengan calon yang diusung satu partai.1 No. sebanyak 84 kali ikut berkompetisi dalam Pilkada dan menang di 19 daerah.Jurnal POELITIK Vol. PPDK menang di Kabupaten Luwu Utara. Partai Patriot Pancasila menang di Kabupaten Toli-Toli. Partai-partai kecil maju dalam Pilkada umumnya berkoalisi dengan partai-partai lain. pada Pilkada tahun 2005 tingkat partisipasi partai-partai kecil mencapai 96%. partai-partai kecil ikut berpartispasi dalam Pilkada di hampir semua daerah. Sebagai catatan tambahan. sementara yang menang sebagai wakil kepala daerah 12 orang.8 Tabel 5 menunjukkan tingkat partisipasi partai-partai kecil dalam Pilkada tahun 2005. Pertama. dan Partai Patriot. Kesimpulan dan Catatan Tambahan Dapat disimpulkan: Pertama. hasil Pilkada langsung 2005 menunjukkan bahwa faktor figur begitu sentral dalam Pilkada langsung. • 7 Pengertian tentang partai kecil di sini merujuk pada partai yang tidak memenuhi ambang batas electoral threshold sebanyak 3% pada Pemilu 2009. Partai Kecil Masih Digdaya”. Hanya ada enam kabupaten/kota yang tidak diikuti partaipartai kecil. Meski secara nasional dikategorikan sebagai partai kecil bisa jadi di tingkat lokal ia keluar sebagai pemenang Pemilu di daerah tersebut. yang menang sebagai kepala daerah hanya 4 orang. baik dengan partai-partai besar maupun dengan sesama partai kecil non-parlemen. Beberapa partai kecil tersebut yang meraih kemenangan dalam Pilkada tahun 2005 adalah PKPI. PDS menang di Kabupaten Poso. Partai kecil dengan tingkat partisipasi tinggi adalah Partai Bulan Bintang (PBB).

Hal ini bisa dimaknai beragam. dan Rustriningsih (Bupati Kebumen. Letkol Didi Sunardi (Paban Madya BAIS TNI) calon wakil bupati Serang. Dalam Pilkada 2005 ada 6 orang TNI aktif maju sebagai kandidat. • 9 “Panglima TNI Berhentikan Sementara 6 Perwira”. PKS). kandidat Bupati Serang). Nur Mahmudi Ismail (Wali Kota Depok. Sumatera Selatan. Banten. Sedangkan kader murni partai bisa dihitung dengan jari. dan yang tidak terpilih Iwan Prayitno. PDIP). calon Gubernur Sumatera Barat). dan Kampen AM Bahtiar Syambawa (Pama Paspamres) sebagai calon bupati Mamuju Utara. munculnya kandidat yang berasal dari TNI aktif. Para birokrat. Nachrowi (Puspen TNI) yang menjadi calon wakil bupati Ogan Ilir.1 No. Iwan Prayitno (anggota DPRD dari PKS. kandidat dalam Pilkada umumnya berasal dari birokrat dan pengusaha. Golkar).J. Beberapa kader murni partai yang menjadi kepala daerah adalah Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng.9 Para kandidat dari TNI aktif itu ternyata tidak ada yang terpilih (menang). Aat Syafaat (Walikota Cilegon. Di antara mereka yang terpilih adalah Agustin Teras Narang. Ketiga. Mereka adalah Kolonel D. beberapa wakil rakyat. Moh. umumnya mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah. Kecenderungan yang muncul adalah kandidat dari luar partai terpilih menjadi kepala daerah. Sulawesi Barat. Keempat. Kalimantan Timur. kebalikan era Orde Baru di mana TNI dan Polri aktif kerap menjadi kepala daerah. Mayor Bastiam (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Yapen Waropen. PDIP). Pikiran Rakyat. salah satu tafsir yang muncul adalah ‘keengganan’ masyarakat dipimpin tentara aktif. kandidat Gubernur Kalteng).1 2008 Kedua. Di antaranya. Agustin Teras Narang (anggota DPR dari PDIP. 8 . yang berkarir di Pemda sebagai Sekda atau Kepala Dinas/Badan/Kantor. Letkol Nachfin FN (Paban Madya BAIS TNI) calon bupati Bereau. 12 Mei 2005. Jahidi (Wakil Ketua DPRD Serang dari PDIP. Sekarang adalah zaman pemerintahan sipil. Papua. Kelima. menjadi kandidat dalam Pilkada. baik DPR dan DPRD. dan M.Jurnal POELITIK Vol. minimnya kader partai murni (pengurus partai) yang menjadi kepala daerah.

PKPI. PKPI. PBSD PPDI. Sekadau Simon Petrus Abun Edyanto 10 Kab. Sorong Selatan Octafianus Ihalauw Tomde Daida 16 Kab. Luwu Utara Drs. PP PBSD. S. Darius Atan Yuswir Arifin 14 Kab. Toba Samosir Monang Sitorus. Zalnovri. Wahfir. MM Abdul Muthalib Rimi. HM Wancik Rasyid 8 Kab. Oku Selatan H. PNIM. PDS.1 No. PPDI. MBA Ir. Arifin Junaidi. PKPB PKPB. M. PNI-M. PBSD PBB. MBA 19 Kab. SH. SE Drs. Mangindaan Simbolon Ober Sihol P. Asmat Yufensius A. PPD P. Soeleman Daud Betawi Drs. Biakai. Sagala 18 Kab. Minahasa Utara Vonnie A Panambunan Sompie SF Singel. Agam Arsito Munandar Ardinal Hasan 13 Kab. Waropen Drs. Mindi Siagian 4 Kab. Partai-partai kecil pemenang Pilkada tahun 2005 Pasangan Pemenang Hanny Sondakh Robert K Lahindo. Piet Inkiriwang. SH. PIB PP. Sijunjung H. PDK. PNBK PKPI. MBA Ir. PKPI PBR. PBR PDS. PBR. 9 . MM Sumber: Diolah dari Data Agregat Depdagri. MM Firdaus K. Sawahlunto Sijunjung H. MM Dr. BA FB. O Yacob Ramandey Daud Donggari 20 Kab. PPD. Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama Khairul Effendi 9 Kab. SH. Muhtadin Sera’i Drs. PKPB. Sos. SH 22 Kab. H. Patriot Pancasila PBB. Yopen Waropen Ir. 2006.Si 2 Kab. Poso Drs. Bustami TH 3 Kab. PNBK PNI Marhaenis PDK. M. SE. Celcius Watae Drs. PIB PPDK. Toli-Toli Drs. PPD PNBK. Sintang Milton Krosbi Jarot Winanrno 11 Kota Tomohn Jefferson Rumajan Linneke S Wtoelangkow 12 Kab. SH. Ma’ruf Bantilan. Boven Dogoel Yusak Yumeo Marceleno Yamkomda 23 Kab. SH. PPDK. MH 5 Kab. HM Luthfi A Mutty Drs. PBB. PBB. Mindi Siagian 17 Kab. Seluma H. Murman Effendi. PKPI. Pelopor.1 2008 Tabel 5. Keeron Drs. Samosir Ir. PBB.Jurnal POELITIK Vol. PPD. No 1 Daerah Kota Bitung Partai Pengusung PKPI PKPI PNI Marhaenisme PDS PPDK Patriot Pancasila PBB PIB. Abdul Rachman Amin 7 Kab. MM 6 Kab. Sorring. PDS PNBK. H. Deki Nenepat 21 Kab. SE 15 Kab.Toba Samosir Monang Sitorus. P Merdeka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful