P. 1
PEMBANGUNAN NASIONAL

PEMBANGUNAN NASIONAL

|Views: 107|Likes:
Dipublikasikan oleh Tamtowil Mustofa

More info:

Published by: Tamtowil Mustofa on Oct 26, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/27/2014

pdf

text

original

PEMBANGUNAN NASIONAL

Tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang dibimbing oleh : Rasyid Fadholi, IR.MS

Disusun oleh : Tamtowil Mustofa 0910310316

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2009

PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG IPTEK

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, disingkat Bappenas, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang sekaligus sejak 22 oleh Menteri bertugas Negara melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perencanaan pembangunan nasional.Jabatan Kepala Perencanaan Bappenas dijabat Nasional yang Pembangunan Oktober 2009 dijabat

oleh Armida Alisjahbana.Bappenas dibagi menjadi beberapa unit kerja, salah satunya yaitu Deputi Bidang Ekonomi. Deputi Bidang Ekonomi adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang berada di bawah dan bertanggung pelaksanaan fungsi:  penyiapan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, keuangan negara, jasa keuangan dan analisis moneter, perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi internasional, serta industri, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan badan usaha milik negara (BUMN)  koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, keuangan negara, jasa keuangan dan analisis moneter, perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi internasional, serta industri, IPTEK, dan BUMN  pelaksanaan penyusunan perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, keuangan negara, jasa keuangan dan analisis moneter, perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi internasional, serta industri, IPTEK, dan BUMN  pemantauan, evaluasi, dan analisis pelaporan tentang pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, keuangan jawab kepada Kepala rencana Badan Perencanaan nasional Pembangunan di bidang Nasional.Deputi ini mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan dan penyusunan pembangunan ekonomi.Dalam melaksanakan tugas, Deputi Bidang Ekonomi menyelenggarakan

negara, jasa keuangan dan analisis moneter, perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi internasional, serta industri, IPTEK, dan BUMN  pelaksanaan hubungan kerja di bidang perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, keuangan negara, jasa keuangan dan analisis moneter, perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi internasional, serta industri, IPTEK, dan BUMN  pelaksanaan tugas lain yang di berikan oleh Menteri Negara/Kepala sesuai dengan bidangnya Susunan organisasi Deputi Bidang Ekonomi terdiri dari:
    

Direktorat Perencanaan Makro Direktorat Keuangan Negara Direktorat Jasa Keuangan dan Analisis Moneter Direktorat Perdagangan, Investasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional Direktorat Industri, IPTEK, dan BUMN

Tugas, Pokok dan Fungsi Direktorat Industri , IPTEK, dan BUMN Pasal 265 Direktorat Industri, IPTEK, dan BUMN mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan, dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang industri, iptek dan BUMN, serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Pasal 266 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265, Direktorat Industri, IPTEK, dan BUMN menyelenggarakan fungsi: 1. penyiapan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang industri, iptek, dan BUMN;

2. koordinasi

dan

sinkronisasi

pelaksanaan

kebijakan

perencanaan

pembangunan nasional di bidang industri, iptek, dan BUMN; 3. penyusunan rencana pembangunan nasional dan rencana pendanaannya di bidang industri, iptek, dan BUMN dalam jangka panjang, menengah, dan tahunan; 4. pengkajian kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang industri, iptek, dan BUMN; 5. pemantauan, evaluasi dan penilaian kinerja pelaksanaan rencana pembangunan nasional di bidang industri, iptek, dan BUMN; 6. penyusunan rencana kerja pelaksanaan tugas dan fungsinya serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaannya; 7. melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan pejabat fungsional perencana di lingkungan direktoratnya.

Pasal 267 Direktorat Industri, IPTEK, dan BUMN terdiri dari: 1. Sub Direktorat Pengembangan Industri dan Pemanfaatan IPTEK; 2. Sub Direktorat Organisasi Industri dan Kompetisi; 3. Sub Direktorat Pengembangan IPTEK; 4. Sub Direktorat BUMN. Pasal 268 Sub Direktorat Pengembangan Industri dan Pemanfaatan IPTEK mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang pengembangan industri dan pemanfaatan iptek, serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaannya.

Pasal 269 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 268, Sub Direktorat Pengembangan Industri dan Pemanfaatan IPTEK menyelenggarakan fungsi: 1. penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang pengembangan industri dan pemanfaatan iptek; 2. penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang pengembangan industri dan pemanfaatan iptek; 3. pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang pengembangan industri dan pemanfaatan iptek; 4. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang pengembangan industri dan pemanfaatan iptek.

Pasal 270 Sub Direktorat Organisasi Industri dan Kompetisi mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang organisasi industri dan kompetisi, serta melaksanakan pelaksanaannya. Pasal 271 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 270, Sub Direktorat Organisasi Industri dan Kompetisi menyelenggarakan fungsi: 1. pengkajian kebijakan di bidang organisasi industri dan kompetisi; 2. pelaksanaan koordinasi perencanaan pembangunan nasional di bidang organisasi industri dan kompetisi; 3. penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang organisasi industri dan kompetisi dalam jangka panjang, menengah dan tahunan; pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas

4. penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang organisasi industri dan kompetisi; 5. pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang organisasi industri dan kompetisi; 6. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang organisasi industri dan kompetisi.

Pasal 272 Sub Direktorat Pengembangan IPTEK mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang pengembangan iptek, serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaannya. Pasal 273 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272, Sub Direktorat Pengembangan IPTEK menyelenggarakan fungsi: 1. pengkajian kebijakan di bidang pengembangan iptek; 2. pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang pengembangan iptek; 3. penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang pengembangan iptek; 4. penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang pengembangan iptek; 5. pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang pengembangan iptek; 6. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang pengembangan iptek.

Pasal 274 Sub Direktorat BUMN mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang BUMN, serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaannya. Pasal 275 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 274, Sub Direktorat BUMN menyelenggarakan fungsi: 1. pengkajian kebijakan di bidang BUMN; 2. pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang BUMN; 3. penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang BUMN; 4. penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang BUMN; 5. pelaksanaan inventarisasi dan penganalisisan berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang BUMN; 6. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang BUMN.

Fokus Area Pembangunan Nasional IPTEK  Arah Pengembangan Berdasarkan tujuan pembangunan dan prioritas pembangunan iptek yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 20042009, dan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas) Iptek 2005-2009, berikut ini dipaparkan arah pengembangan dari bidang fokus: (1) Ketahanan Pangan; (2) Energi Baru dan Terbarukan; (3) Teknologi dan Manajemen Transportasi;

(4) Teknologi Informasi dan Komunikasi; (5) Teknologi Pertahanan dan Keamanan; dan (6) Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan. Pembangunan Ketahanan Pangan Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang cukup, bergizi, aman, bermutu, sesuai selera dan keyakinannya, melalui: peningkatan produktivitas, kualitas dan efisiensi produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan secara berkelanjutan; pengolahan hasil, dan penganekaragaman pangan. Prioritas utama adalah untuk: (a) mendukung terwujudnya kemandirian ketahanan pangan, revitalisasi nilai kearifan lokal, dan meningkatkan kemitraan antar lembaga; dan (b) mengembangkan komoditas pangan yang menjadi prioritas, yang diselaraskan dengan kebijakan revitalisasi pembangunan produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan. Kebijakan iptek ketahanan pangan diarahkan/ditekankan pada upaya peningkatan daya dukung teknologi untuk mempertajam prioritas penelitian, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan iklim inovasi, dan pembentukan SDM yang handal dalam pengelolaan pangan. Penyediaan dan Pemanfaatan Sumber Energi Baru dan Terbarukan Arah kebijakan penelitian, pengembangan dan penerapan iptek di bidang energi adalah: (a) peningkatan kemampuan iptek yang berorientasi mendukung kebijakan penyediaan energi nasional melalui langkah konservasi sumber energi, pemanfaatan energi secara efisien,diversifikasi penggunaan energi, dan pengembangan energi baru dan terbarukan; (b) peningkatan kemampuan iptek dalam pengelolaan energi nasional jangka panjang, dan peningkatan kemampuan pasokan energi dengan memanfaatkan bauran energi (energy-mix) berbasis pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan; (c) peningkatan kemampuan iptek dalam pembangunan infrastruktur energi melalui penguatan kelembagaan, optimalisasi dan pendayagunaan

sumber daya, serta pembangunan jaringan yang mencakup focal point untuk tiap jenis energi dan kegiatan yang dikembangkan; (d) mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya teknologi dan inovasi yang berorientasi pada kekuatan dan kemampuan sumber daya nasional. Pengembangan Teknologi dan Manajemen Transportasi Pengembangan teknologi dan manajemen transportasi di masa mendatang diarahkan untuk: (a) memenuhi kebutuhan transportasi na sional yan aman, nyaman, tepat waktu dan terjangkau masyarakat luas;(b) meningkatkan transaksi perdagangan sebagai sumber pergerakan orang, barang, dan jasa yang menjadi pangsa pasar bisnis transportasi melalui political trading yang saling menguntungkan; (c) menciptakan jaringan pelayanan secara inter dan antarmoda angkutan melalui pembangunan prasarana dan sarana transportasi, serta diikuti dengan pemanfaatan ecommerce dalam konteks less paper document, sehingga kemudahan, kelancaran, dan kepastian pelayanan dapat dicapai; (d) menyelaraskan semua peraturan perundang-undangan baik yang mencakup investasi maupun penyelenggaraan jasa transportasi untuk memberikan kepastian hokum bagi semua pihak yang terkait; (e) menciptakan sistem perbankan dan mekanisme pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi bidang prasarana dan sarana transportasi; (f) mendorong seluruh stakeholders untuk berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, dan pengoperasiannya; (g) menghilangkan segala macam bentuk monopoli agar dapat memberikan alternatif/pilihan bagi pengguna jasa; (h) mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan kepada masyarakat; (i) menyatukan persepsi dan langkah para pelaku penyedia jasa transportasi dalam konteks global services.

Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkanuntuk: (a) mengantisipasi implikasi konvergensi TIK, baik dalam aspek kelembagaan maupun peraturan perundang-undangannya, termasuk yang terkait dengan persoalan keamanan, kerahasiaan, privasi dan integritas informasi, hak atas kekayaan intelektual, serta legalitasnya; (b) mengoptimalkan dan mensinergikan pembangunan dan pemanfaatan prasarana telekomunikasi dan non-telekomunikasi dalam pengembanga TIK secara menyeluruh dengan pengutamaan daerah pedesaan, guna menciptakan efisiensi, termasuk efisiensi dalam investasi, yang pada akhirnya akan menentukan harga/biaya layanan yang dibebankan kepada masyarakat pengguna; (c) manfaatkan konsep teknologi netral yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri, namun tetap menjaga keutuhan sistem yang telah ada; (d) mendorong persaingan yang sehat dalam penyelenggaraan telekomunikasi fixed line dengan mempersiapkan tahapan migrasi dari bentuk duopoli ke bentuk kompetisi penuh yang setara dan berimbang, seperti telekomunikasi nirkabel; (e) mendorong pengembangan industri pendukung (komponen, material, submodul, dan lain-lain), industri konten dan aplikasi sebagai upaya penciptaan nilai tambah dari industri TIK dalam negeri; (f) menumbuhkembangkan kepemimpinan (leadership) dalam bidang TIK untuk memperkuat arah yang jelas bagi pengembangan sektor ini; (g) meningkatkan pengetahuan masyarakat (khususnya masyarakat pedesaan) dan kepedulian tentang potensi pemanfaatan TIK. Pengembangan Teknologi Pertahanan dan Keamanan Arah kebijakan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam) ditujukan untuk: (a) memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista), baik perangkat keras maupun perangkat lunak berteknologi terbaru, sesuai dengan kebutuhan operasional yang mempunyai efek penangkal yang tinggi; (b) meningkatkan penguasaan kapabilitas iptek hankam di kalangan industri nasional melalui regulasi,

kelembagaan dan penanganan alokasi pendanaan yang khusus; (c) meningkatkan pemahaman, penguasaan iptek, dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai keunggulan bangsa berbasiskan kemandirian, melalui roadmap yang bersifat kuantitatif dan rancangan strategis hankam yang terpadu; (d) mengikuti pemenuhan standardisasi sarana pertahanan (ranahan) pangs pasar dunia yang kompetitif; (e) memberikan peluang kepada industri strategis di bidang hankam untuk berinovasi sehingga mampu menjaga kelangsungan hidup industri secara ekonomis. Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan Penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan dan obat-obatan diarahkan untuk memberikan pemecahan berbagai permasalahan utama kesehatan yang dihadapi sebagian masyarakat Indonesia. Prioritas utama pengembangan iptek kesehatan dan obat-obatan adalah: (a) pencapaian gizi seimbang, terutama untuk mempertahankan dan meingkatkan keadaan gizi masyarakat, serta tumbuh kembang anak dalam rangka menjaga kualitas SDM Indonesia; (b) pengembangan industri farmasi untuk mewujudkan kemandirian dalam menjamin ketersediaan obat-obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas; (c) pengembangan obat bahan alam menjadi fitofarmaka dan sediaan obat modern; (d) pengembangan obatobat preventif seperti vaksin sera, serta obat-obat protein pharmaceutical; (e) pengendalian penyakit melalui deteksi dini dan diagnosis, peningkatan kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta pemulihan kesehatan; (f) pengembangan alat kesehatan/kedokteran dengan meningkatkan kemampuan produksi dan mutu alat kesehatan, terutama untuk subsidi impor, serta pengembangan jejaring nasional untuk pelayanan purna jual peralatan; (g) penjagaan mutu pelayanan kesehatan dengan prioritas kesehatan keluarga, pengawasan penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif, perawatan terhadap korban trauma dan bencana, serta pengurangan dampak pembangunan terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->