Anda di halaman 1dari 35

SEJARAH JAKA TINGKIR - RADEN HADIWIJOYO – MAS KAREBET

Keris atau pisau dua mata berombak adalah benda yang dipercaya oleh masyarakat mempunyai daya magis.
Bahkan setiap keris mempunyai nama yang menandakan bahwa benda-benda itu keramat.

Rangkud berangkat ke Kudus mengendarai kudanya dengan cepat. Tempat pertama yang dikunjungi adalah
Sunan Kudus untuk meminta jampi-jampi bagi kerisnya agar bertuah. Sesampainya disana kelihatan Sunan sudah
menunggu; nampaknya dia sudah tau akan kedatangan Rangkud dan tau apa maksudnya. Kemudian keris
diterimakan dan dibacakan jampi-jampi. Setelah itu keris diserahkan kembali sambil beliau berpesan, " Rangkud
jalankan perintah tuanmu dengan baik; engkau adalah orang yang dipercaya; saya beritahukan bahwa tugas
kamu menjadi ringan disebabkan Sultan sedang sakit sekarang ini."

" Ya Sunan, saya akan menjalankan perintah dengan baik," kata Rangkud.

Sesampainya dipinggir kota Demak, dia titipkan kudanya kepada seseorang dikampung. Dan dengan cepat dia
pergi ke Istana pada tengah malam. Dia tidak dapat memasuki Istana karena dipintu gerbang ada penjaganya.
Kemudian dia duduk bersila diatas rumput dan membacakan mentera agar semua perajurit yang bertugas jaga
dapat megantuk dan akhirnya akan tertidur nyenyak. Beberapa menit kemudian, dunia seolah-olah menjadi
sunyi, tidak ada suara bahkan tidak ada suara jangkrik. Para perajurit tertidur, demikian penjaga pintu gerbang.
Rangkud memasuki Istana tanpa halangan apa-apa karena semua penjaga tertidur. Akhirnya dia sampai ke
tempat tidur Raja. Dimuka pintu kamar tidur Raja ada empat penjaga yang tertidur. Rangkud melangkahi tubuh-
tubuh yang tertidur perlahan-lahan dan membuka pintu kamar. Beruntung dia karena pintu kamar tidak terkunci.

" Selamat datang anak muda dan laksanakan tugasmu dengan baik; apakah engkau tidak menyadari bahwa
engkau memasuki kamar Raja Demak untuk maksud pembunuhan dan sadarkah engkau bahwa engkau akan
dihukum, hukuman mati,' kata Sultan Prawoto.
Rangkud terkejut, mengapa Sultan tidak tertidur seperti semua orang di Istana. Tentunya Sultan mempunyai
kesaktian yang tak mungkin dibunuh. Rangkud bermaksud lari dari situ, tetapi dia teringat akan tugas dari
Tuannya, Aryo Penangsang. Maka dia genggam hulu kerisnya dan maju perlahan-lahan.

" Siapakah engkau anak muda?, mengapa engkau mau membunuhku? Siapa yang menyuruhmu membuhuhku?,
tanya Sultan.

" Saya Rangkud, tamtama dari Jipang Panolan; Aryo Penangsang yang menyuruhku membunuhmu; Saya harus
siap melaksanakan semua perintah layaknya seorang perajurit yang harus melaksanakan perintah Rajanya,"
Jawab Rangkud.

" Baiklah laksanakan tugasmu, tetapi dengan satu syarat saya mohon kepadamu, jangan melukai isteriku, karena
dia tidak tersangkut dengan bisnis ini," kata Sultan. Nampaknya Sultan menyadari kesalahannya membunuh
ayah Aryo Penangsang waktu dulu, dan sekarang dia akan membayar semua hutangnya.

" Baik Sultan saya akan melaksanakan tugas saya dan saya berjanji tidak akan melukai isterimu," kata Rangkud.

" Ingatlah bila engkau melukai isteriku, maka engakau akan mati dan bukan aku," Kata Sultan.

Sementara itu isteri Raja terbangun dan terkejut," Lihat kakang Prabu, siapakah orang gila yang telah memasuki
kamar kita? dan membawa senjata ditangannya, Tolong, hai pengawal tolong, semua orang tolong,"

Rangkud dengan gerakan cepat menusuk badan Raja. Tetapi bukan hanya Raja yang tertusuk tetapi juga
isterinya, disebabkan isterinya merangkulnya dari belakang. Sultan mengangakt kerisnya yang namanya Kiai
Betok.

" Hai Rangkud engkau telah melanggar janjimu," kata Sultan.


Rangkud berbalik dan lari kearah pintu. Sultan melemparkan kerisnya; Kiai Betok terbang kearah targetnya di
paha Rangkud dekat kemaluannya. Rangkud mati seketika didekat pintu kamar; Raja dan Permaisuru juga mati.
Sementara itu para perajurit tetap tidur selama kejadian itu, tetapi setelah Rangkud mati barulah mereka
terbangun; mereka terkejut dan takut mendapatkan Raja dan Permaisuri wafat bersama sipembunuh.

Aryo Penangsang sangat puas dengan misi Rangkud yang dianggap berhasil. Dia berpikir bahwa tidak ada bukti-
bukti pembunuhan disebabkan sipembunuh juga ikut tewas. Tetapi dia salah, siapakah yang tidak kenal siapa
Rangkud sebenarnya. Keluarga kerajaan waspada akan pembunuhan berikutnya oleh Aryo Penagsang. Mereka
juga berunding bagaimana melunakan kebrutalan Aryo Penangsang. Anak-anak Sultan ditempatkan disuatu
tempat yang dianggap aman.

Setelah wafatnya Sultan Prawoto atau Pangeran Mukmin, tidak ada seorang Raja yang dinobatkan; karena anak
Sultan, Aryo Panggiri masih terlalu kecil untuk menjadi Raja. Jadi Demak menjadi kerajaan tanpa Raja untuk
waktu pendek. Sementara itu Sultan Hadiwijoyo dari Pajang atau Jaka Tingkir akan mendapat tugas
menyelesaikan masalah administrasi kerajaan.

Sementara itu Ratu Kali Nyamat sedang berunding dengan suaminya, Pangeran Hadiri, Adipati Jepara, dalam
menghadapi kebrutalan Aryo Penangsang.

" Apa saran Kang Mas didalam menghadapi kebrutalan Aryo Penangsang? tanya Ratu Kali Nyamat.

" Kita mempunyai seseorang yang bijaksana yang kita anggap sebagai senior kita;kepadanya kita mintakan
pengaruhnya dan dapat membuat semua orang puas dan senang; orang itu adalah Sunan Kudus. Jadi marilah
kita bersama membuat kunjungan kesana," kata Pangeran Hadiri.

" Kamu benar, hanya Sunan Kudus yang dapat membuat suasana menjadi dingin kembali di Kerajaan Demak ini,"
kata Ratu Kali Nyamat.
Sementara itu di Istana Jipang Panolan, Aryo Penangsang sedang berdiskusi dengan Patih Matahun, wakilnya,
tentang masalah bagaimana langkah selanjutnya untuk menuju ketahta kerajaan Demak, setelah pembunuhan
Raja berhasil dengan sukses. " Kita sangat beruntung dengan kematian Rangkud yang dengan demikian kita tidak
perlu membersihkan tangan kita; Demak tidak mempunyai bukti-bukti tentang pembunuhan, benarkan," kata
Aryo Penangsang.

" Dan engkau Tuan, akan menjadi Raja dengan mudah karena sudah tidak ada lagi saingan-saingannya." kata
Patih Matahun.

" Ya saya mengerti, saingan sudah tidak ada, tetapi penghalang banyak sekali yang akan menyulitkan kita" kata
Aryo Penangsang.

" Saya tidak mengerti Tuan, siapakah penghalang itu?, tanya Patih Matahun.

" Kamu orang tua bodoh Matahun; apakah kamu pikir orang-orang disekitar Sultan akan diam saja setelah terjadi
pembunuhan ini? Mereka akan menjadi penghalang adalah Pangeran Hadiri dari Jepara dan si Karebet atau Jaka
Tingkir si Raja palsu dari Pajang; apakah kamu mengerti Matahun? kata Aryo Penangsang.

" Tetapi mereka itu adalah hanya menantu menantu Raja, tidak berhak untuk menjadi Raja," kata Matahun.

" Jika rakyat memilih Ratu Kali Nyamat atau Ratu Mas Cempa menjadi Raja, maka itu berarti Pangran Hadiri atau
Jaka Tingkir yang akan menjadi Raja," kata Aryo Penangsang.

" Apa rencana Tuan selanjutnya ?"

" Saya akan meminta Sunan Kudus memanggil Pangeran Hadiri dan Ratu Kali Nyamat datang ke Kudus,"

" Apakah Tuan yakin bahwa beliau akan benar-benar mendukung usaha kita?"
" Orang tua itu akan mendukung kita, saya yakin, tetapi orang tua itu penuh dengan pertimbangan. Jika kedua
penghalang Jaka Tingkir dan Pangeran Hadiri dapat dilenyapkan maka jalan ke tahta kerajaan Demak sudah
terbuka lebar," kata Aryo Penangsang.

" Apakah dengan demikian Tuan mau membunuh keduanya?," tanya Matahun.

" Apakah engkau kira engkau akan diam saja untuk melaksanakan kerja besar ini? ya tentu saja saya akan
lakukan. Apakah engkau takut? Jika engkau takut baiklah akan aku laksanakan sendiri." kata Aryo Penangsang.

Patih Matahun sudah lama menjadi deputi Adipati Jipang panolan, jadi dia tahu betul karakteristik tuannya yang
penuh ambisi dan kemarahan. Usahanya sekarang adalah mengarahkan dan memberikan pertimbangan demi
untuk keselamatan Aryo Penangsang sendiri.

" Tapi Tuan, rencana ini sudah melampoui batas jadi sangat berbahaya," kata Patih.

" Hai orang tua, kamu pengecut, tanpa kamu rencana ini akan berjalan dengan mantap," kata Aryo Penangsang.

Aryo Penangsang dengan para pengikutnya disertai juga dengan saudara angkatnya, Aryo Mataram, berangkat
menuju Kudus menemui Sunan Kudus dan meminta Sunan Kudus untuk memanggil Pangeran Hadiri dan Ratu Kali
Nyamat. Sunan Kudus terkejut dengan rencana cucunya ini, tapi dengan berat hati dia menyetujui.

Setelah dua minggu pembunuhan Raja, Ratu Kali Nyamat dan Pangeran Hadiri datang berkunjung ke Kudus atas
kemauannya sendiri. Mereka akan meminta orang bijak ini dan juga senioritasnya untuk turut mendinginkan
suasana Kerajaan Demak dan juga mengadukan tindakan brutal cucunya, Aryo Penangsang. Jadi Sunan Kudus
tidak perlu memanggilnya tetapi mereka yang datang atas kemauannya sendiri.
Ratu Kalinyamat saudara perempuan dari Sultan Prawoto tidak senang atas kejadian pembunuhan beruntun yang
dilakukan oleh Aryo Penangsang. Dia menjadi marah besar atas kelakuannya. Oleh sebab itu dia ingin
mengadukannya kepada kakeknya, Sunan Kudus.

" Jadi kamu datang kesini ingin meminta keadilan, lalu apa yang saya harus katakan? tanya Sunan Kudus. "
Sudah lama terjadi sejarah Kerajaan Demak berlumuran darah, saling membunuh satu sama lain didalam
keturunan Sultan Bintoro. Kamu sudah mendengar sejarah itu dan kamu tahu itu."

" Tetapi pembunuhan Sultan Trenggono dan Sultan Prawoto dilakukan oleh Aryo Penangsang," kata Ratu
Kalinyamat.

" Marilah kita menengok sejarah kebelakang dan marilah kita pertimbangkan apa yang terjadi dan apa
hubungannya dengan kejadian yang sekarang," kata Sunan Kudus.

Jika kita melihat kebelakang, melihat sejarah Kerajaan Demak; kita teringat bagaimana Sultan Trenggono telah
membunuh Sultan Patiunus dan juga Sultan Kanduruan, ayah Aryo Penangsang; bagaimana Pangeran Trenggono
sampai hati membunuh kakak-kakaknya sendiri.

Ratu Kali Nyamat dan Pangeran Hadiri terdiam, tidak berkomentar; dalam katahatinya mereka setuju dengan apa
yang dikatakan Sunan.

" Baiklah, kami akan melihat kebelakang seperti yang engkau syaratkan dengan hati-hati," kata Pangeran Hadiri.

" Kamu seharusnya belajar sejarah anakku," kata Sunan Kudus.

Ratu Kali Nymat dan pengikutnya pulang dengan perasaan tidak puas.

"Sudah jelas Sunan berpihak kepada Aryo Penangsang dan bukan kita," kata Ratu kepada suaminya.
" Apapun yang dikatakan Sunan, kita dapat mengerti karena Aryo Penangsang adalah cucunya," kata Pangeran
Hadiri.

" Tetapi pertalian keluarga janganlah dibawa didalam permasalahan kita, baiklah kita akan hadapi Penangsang
oleh kita sendiri." kata Ratu dengan marah.

" Kita dapat melibatkan adik menantu kita, Sultan Hadiwijoyo, Sultan Pajang," kata Pangeran Hadiri.

" Ya saya setuju, dia pasti akan membantu kita; saya akan menulis surat kepadanya secepatnya." kata Ratu .

Sementara itu terjadi serangan secara rahasia yang dilancarkan Aryo Penangsang beserta Tamtama dan perajurit-
perajuritnya; tanpa tanda-tanda dan sangat mengejutkan tiba-tiba mereka sudah ada dimuka dan dibelakang
barisan Ratu.

" Hai Ratu dan Hadiri, kamu sudah terkepung oleh banyak tentara dimuka dan dibelakang kamu, menyerahlah,"
kata Aryo Penangsang dari atas kudanya.

" Pengawal, siap untuk menyerang," Ratu memberi perintah kepada seluruh perajuritnya; kemudian semuanya
memegang hulu pedangnya dan siap untuk bertempur. Bahkan barisan pemanah sudah memanah lebih dahulu.
Ratu dan suaminya turun dari kudanya dan mulai menusuk musuh, para pengacau dimukanya. Keduanya
bertempur dengan gagah berani, demikian juga semua perajuritnya.

Sayangnya perajurit Jipang Panolan jumlah dua kali lipat dari perajurit Jepara, jadi walaupun mereka bertempur
mati-matian kemungkinan besar serdadu Jepara akan menderita kekalahan.

Sementara itu Aryo Penangsang memberi perintah rahasia kepada Tamtamanya, " ingat target kita adalah
Pangeran Hadiri, jika dia sudah terbunuh, kita menarik mundur pasukan kita dengan segera," katanya.
Setelah instruksi itu diberikan, kelihatan Pangeran Hadiri mendapat tekanan lebih dan bahkan menjadi terpisah
dengan isterinya. Ratu Kali Nyamat bertempur dengan gagah berani seperti laki-laki, walaupun masih kelihatan
cantik. Dia berusaha untuk mendekati suaminya, tetapi banyak perajurit Japang yang menghalangi jalannya.
Walaupun sudah banyak perajurit musuh mati oleh pedangnya, dia tidak berhasil mendekati suaminya.

Pada akhirnya Pangeran Hadiri mati oleh tusukan diperutnya. Sebelum mati dia berteriak," lari,lari isteriku,
tinggalkan aku, nanti kita akan membalas dendam dikemuadian hari,"

Ratu lebih hebat menyerang begitu juga semua perajuritnya ketika mendengar perintah dari suaminya.

Sementara itu Aryo Penangsang memberikan perintah yang lain lagi," mundur semua perajurit Jipang Panolan,
mundur," Mendengar perintah itu perajurit Jipang mundur perlahan-lahan sambil meninggalkan mayat teman-
temannya dan mayat musuhnya.

Sesudah perajurit-perajurit Jipang mundur, Ratu mendekati mayat suaminya dan dipeluknya. " terkutuk engkau
Penangsang, terkutuk, tunggu pembalasanku,"

Kemudian perajurit yang kalah itu pulang ke Jepara sambil membawa mayat pemimpinnya dan kesedihan yang
mendalam didiri Ratu Kali Nyamat.

Dirumahnya, Ratu berpikir, " Dimanakah keadilan, dimanakah dia, bahkan Sunan Kudus berpihak kepada
Penangsang. Pada kenyataannya serangan itu sudah dipersiapkan oleh keduanya, Penangsang dan Sunan,atau
paling tidad ini suatu dugaan. Satu-satunya teman yang dapat membantu adalah Sultan Pajang, Sultan
Hadiwijoyo; saya harus merundingkan dengannya segera mengenai masalah ini."

" Apakah utusan saya ke Pajang sudah datang?, tanaya Ratu kepada pengawalnya.

" Belum kanjeng Ratu," jawabnya


" Bila sudah datang, segera menghadap saya," kata Ratu.

Sejak itu Ratu kehilangan nafsu makannya dan selalu bermimpi buruk. Badannya menjadi kurus dan mukanya
pucat, hal ini membuat kechawatiran para stafnya akan halnya kesehatannya. Pada akhirnya dia mengumumkan
akan melakukan tapa di gunung Danareja dalam keadaan telanjang. Dia mengumumkannya dengan sumpah, "
Saya akan mengakhiri tapa saya dan mengenakan pakaian lagi setelah Penangsang mati," Dia pergi ke suatu
guha dan duduk bersila disuatu batu datar dalam keadaan tanpa busana atau telanjang. Para perajurit
pengawalnya berada dimuka guha menjaga keselamatannya dan para dayang mensuplai makanan dan
minumannya.

Aryo Penangsang sangat puas dengan serangan rahasianya. Jalan menuju singgasana Kerajaan Demak semakin
terbuka, sejauh ini jalannya sudah baik. Sekarang tinggal satu orang lagi yang harus dilenyapkan, dia adalah Jaka
Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo, Sultan Pajang.

Aryo Penangsang mengakui kesaktian Jaka Tingkir, " Rencana pembunuhan yang terakhir akan menjadi yang
tersulit, tetapi harus dilakukan sebagai pukulan terakhir dari suatu kerja besar." Tentu saja Aryo Penangsang akan
membunuh Jaka Tingkir sebagai target terakhir.

Aryo Penangsang memanggil tiga orang perajuritnya yang terbaik untuk diberi tugas yang berat itu, mereka
adalah Demang Begog, Suta dan Sonder. Tiga perajuritnya sudah cukup untuk membunuh Sultan Pajang.

" Begog dan yang lain-lainnya, saya percayakan tugas ini kepadamu karena kamu baru saja menyelesaikan
pelajaran Ilmu Silatmu. Ini adalah kesempatan kamu untuk memperlihatkan darma baktimu kepada Negara dan
Rajamu, Jangan katakan tidak. Bila engkau sukses dalam tugas ini, hadiah menanti kamu dan kedudukan yang
baik didalam kedinasan. Jika gagal, Negara akan menanggung hidup keluargamu.

" Tuan, perintah Tuan adalah suatu kehormatan bagi kami, kami akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya.' kata
Begog mewakili teman-temannya.
" Now, go and good luck," said Aryo Penangsang.

Yang empunya cerita tidak menerangkan mengapa Aryo Penangsang tidak memerintahkan mereka pergi dulu ke
Sunan Kudus agar beliau membacakan mantera kepada keris-kerisnya agar bertuah, seperti yang dilakukan oleh
Rangkud. Barangkali Aryo Penangsang lupa akan hal itu atau dia percaya akan para pembunuhnya disebabkan
mereka adalah akhli silat nomer satu.

Ketiga pembunuh pergi memakai kuda dengan cepat. Setelah sampai di Pajang, mereka menambatkan kuda-
kudanya di hutan dan pergi berjalan kaki ke Istana. Penjagaan istana ketat, banyak perajurit mengawal istana.
Mereka duduk dirumput diluar Istana, kemudian membacakan mantera yang akan menidurkan para perajurit
pengawal dan seluruh orang diIstana tertidur dengan nyenyak. Beberapa menit kemudian mereka melihat
hasilnya, penjaga pintu gerbang tertidur. Mereka memasuki Istana tanpa halangan, karena semua orang tertidur.

Begog membuka peta ditangannya dan kemudian memberikan instruksi kepada kawan-kawannya dengan berbisik.

Sementra itu Sultan masih bercakap-cakap dengan Ki Pemanahan, " Adakah engkau merasakan sesuatu yang
aneh Ki Pemanahan?, kata Sultan.

" Ya saya merasakan, sesuatu yang membuat saya mengantuk,"

" Saya juga begitu, mungkin ada orang yang telah membacakan mantera agar kita tertidur dan pasti mereka ingin
berbuat jahat. Saya menduga pembunuhan akan terjadi di Istana ini sesudah pembunuhan terhadap Sultan
Prawoto." kata Sultan.

Tidak berapa lama kemudian masuk kedalam dua orang muda yang melaporkan bahwa seluruh Istana menjadi
sangat sunyi sekali, sangat aneh.
" Marilah kita berpura-pura tidur, tapi tetap waspada, saya akan menangkap pengacau itu oleh saya sendiri," kata
Sultan.

Maka semua orang pergi kekamar masing-masing, Pemanahan, Pangeran Benawa, Sutawijaya dan lain-lain.

Sultan memasuki kamarnya dan melihat isterinya, " Rai Cempa tertidur pulas karena mantera itu, saya akan tidur
dikamar sebelah karena saya percaya bahwa target pembunuhan adalah saya dan bukan isteri saya," pikir Sultan.

Para pembunuh berpikir, " Alangkah mudahnya memasuki Istana ini, tetapi Sultan mempunyai kesaktian, jadi
mungkin dia tidak tertidur,"

Mereka sampai kepada suatu pintu kamar yang besar, tentulah ini kamar Raja, sesuai dengan petunjuk dari peta
ini. Mereka memasuki kamar yang pintunya tidak terkunci; terlihat sesorang sedang tidur dibawah selimut, pasti
ini Raja. Kemudian mereka menghunus kerisnya masing-masing dan menusukkannya berulang-ulang ketubuh
yang sedang tidur itu. Tetapi menakjubkan Raja tidak mempan senjata bahkan berpura-pura melanjutkan
tidurnya.

Tak berapa lama kemudian Raja bangun dan menangkap satu persatu pembunuh itu dan dilemparkan kedinding,
dia pukul dia tendang yang lainnya, " Siapakah kamu? beraninya memasuki kamar Raja ditengah malam seperti
ini? kata Sultan.

" Maaf Tuan, saya Begog,"

" Begog siapa? saya mengenal satu persatu staf saya disini," kata Raja.

Ki Pemanahan, Pangeran Benawa dan Sutawijaya datang kekamar Raja dan menanyakan ada apa, pada hal
mereka sudah tau pengacau-pengacau itu tertangkap. Pangeran Benawa langsung memukul salah seorang dan
menarik rambutnya, " Jawab, jangan membuat kami marah dan membunuhmu,"
" Kalem sedikit Banawa, kamu tidak akan mendapat jawabannya dengan cara seperti ini," kata Sultan. " Sekarang
anak muda bicaralah, sipakah kamu?."

" Kami adalah utusan dari Jipang Panolan," kata Begog.

" Apakah maksud kamu, kamu ini adalah utusan dari kakak saya Aryo Penangsang?" tanya Sultan dengan kalem.

" Ya Tuan,"

" Jadi tuanmu menyuruhmu membunuh aku? tanya Sultan.

" Ya Tuan dan maafkan saya Tuan,"

" Baiklah, kamu adalah orang-orang jujur jadi kamu saya bebaskan untuk pergi. Kamu harus ceritakan semua
kejadian ini kepada Tuanmu, Mas Aryo Penangsang. Dan saya ingin agar kamu menyampaikan pesan saya kepada
Tuanmu, jika dia ingin membunuhku jangan menyuruh seseorang seperti kamu tetapi lakukanlah sendiri; Saya
merasa terhina karena kamu bukan kelas saya untuk diajak berkelahi," kata Sultan.

" Kakak Pemanahan berikan beberapa hadiah dan uang secukupnya untuk perjalanan mereka," kata Sultan.

" Sandika Gusti (Ya tuan)," jawab Pemanahan.

" Kanjeng Rama Sultan, mengapa dilepaskan pengacau-pengacau ini, kita seharusnya membunuh mereka sebagai
pelajaran Aryo Penangsang," kata Pangeran Benawa.

" Saya tahu bahwa pamanmu pantang mundur sebelum tujuannya tercapai apapun yang kamu lasnakan. Kita
tidak perlu mengotori tangan kita sendiri untuk membunuh mereka, tetapi Penangsang yang akan melakukan,"
kata Sultan.
Begog dan kawan-kawan kembali keJipang dengan tanpa hampa. Mereka mengakui bahwa Sultan Hadiwijoyo
memang sakti seperti yang mereka alami sendiri.

Seharusnya mereka tidak usah kembali ke Jipang karena Aryo Penangsang akan marah besar kepada mereka,
tetapi mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi. Sewaktu mereka melaporkan kepada Boss mereka, semua
kejadian di Pajang, mereka mendapat hukuman, hukuman yang berat.

Sekarang Penangsang merasa terhina dengan kejadian ini, " Bangsat kamu Karebet, saya akan lawan kamu
seperti mau-mu." katanya.

" Patih Matahun, siapkan kuda saya si Gagak Rimang; Saya mau pergi kePajang dan kamu ikuti saya; si Karebet
menantang saya berkelahi, akan saya bunuh dia dengan kerisku si Kiai Setan Kober." Penangsang berteriak.

" Tenang sedikit Nik Mas, tenanglah; ini adalah jebakan, jebakan; dapatkah kita rundingkan dengan suasana
dingin," kata Patih Matahun.

" Saya tidak takut sekalipun ini jebakan; kamu pengecut, tinggallah dirumah dan tunggu berita kematian si
Karebet, saya akan pergi sendirian," kata Penangsang.

" Apakah engkau tidak menyadari bahwa ini adalah suatu perangkap agar engkau menjadi marah. Apakah engkau
tidak menyadari bahwa ini juga merupakan strategi perang antara Jipang melawan Pajang. Jika engkau sudah
marah, maka engkau tidak dapat lagi membedakan antara tindakan baik dan tindakan tidak baik didalam
menghadapi Sultan Pajang." kata Matahun dalam menberikan saran.

Aryo Penangsang terdiam sejenak, dia berpikir, " memang benar apa yang dikatakan oleh Patih Matahun, ini
adalah bagian dari perang,"

" Apakah engkau mau mendengarkan nasihat saya, Nik Mas Adipati?, tanya Patih Matahun.
" Apa menurut pendapatmu?, tanya Penangsang.

" Saya kira, Sultan Pajang sedang atau sudah menyiapkan semua laskarnya diperbatasan untuk menyambut
kamu. Dan ini buklan soal kecil, jadi sebaiknya kita berkunjung ke Sunan Kudus dan meminta nasihatnya," kata
Patih Matahun.

" Kamu benar Matahun, tapi saya peringatkan kamu, jangan kamu menyebut dia Raja,sebut saja dia Karebet,
karena saya Raja Demak sebenarnya, bukan dia." kata Penangsang.

" Ya Nik Mas Adipati, kamu akan menjadi Raja segera, tetapi pekerjaan ini tidaklah mudah. Saya sarankan agar
Nik Mas menghadap sekali lagi Sunan Kudus untuk mendapatkan dukungannya dan juga petunjuknya, saya yakin
beliau akan mendukung kita," kata Patih Matahun.

Setelah beberapa saat Aryo Penangsang menjadi tenang lagi, pendapat Patih Matahun memang benar adanya "
Kamu adalah satu stafku yang terbaik, baik kita pergi ke Kudus lagi," kata Aryp Penangsang.

" Ya Nik Mas Adipati, kita akan pergi ke Kudus dengan semua perajurit, Tamtama, Hulubalang dan juga dengan
logistik yang penuh," kata Patih Matuhun.

" Mengapa?," tanya Penangsang.

" Jika Sunan Kudus mendukung kita, kita akan langsung pergi Ke Pajang untuk melawan Karebet dan kawan-
kawannya."

Adipaty Aryo Penangsang memimpin laskarnya dengan naik kuda dimuka barisan, menuju Kudus.

Pada waktu mereka sampai dipinggir Kasunanan, kampus Sunan, mereka membuat tenda-tenda untuk tentara.
Sunan Kudus terkejut meliha tindakan Penangsang.
" Hai Penangsang akan dapakan kami dengan tentara kamu sebanyak ini?, tanya Sunan Kudus.

" Eyang Guru, kami tidak bermaksud jelek terhadap institusi Guru," kata Penangsang.

" Tetapi kamu telah membuat takut semua murid muridku; Sebetulnya kamu bermaksud apa?, " Tanya Sunan
Kudus.

Aryo Penangsang menceritakan apa adanya bahwa dia telah mengirim pembunuh untuk melenyapkan Karebet,
tetapi gagal. "Adi Mas Karebet tahu bahwa saya mengirim pembunuh untuknya, jadi peperangan antara Jipang
dan Pajang sudah tidak bisa dihindari lagi" kata Aryo Penangsang.

" Sebelum dia menyerang, saya akan menyerang lebih dulu," katanya

" Jadi kamu mau menyerang Pajang?, tidak Penangsang, saya tidak setuju itu," kata Sunan Kudus.

" Mengapa Kakek Sunan?, saya tahu bahwa tentara si Karebet terlatih baik, tetapi saya tidak takut karena tentara
saya mempunyai kemampuan untuk tampil sebagai pemenang, saya percaya itu, " kata Aryo Penangsang.

" Masalahnya bukanlah takut atau tidak takut, menang atau tidak menang, tetapi engkau mempunyai pikiran yang
sempit," kata Sunan Kudus.

" Mengapa kakek?, menang atau kalah adalah hasil akhir dari suaru pertempuran, kita akan lihat nanti," kata
Penangsang.

"Baik, dimisalkan engkau sebagai pemenang, apakah engkau kira engkau masih mempunyai tentara yang utuh?,
Engkau akan kehilangan ribuan perajurit, ratusan hulu balang dan puluhan Tantama. Dan apakah kamu kira
sekutu Pajang akan diam saja? seprti Jepara, Kalinyamat, Cirebon, Banten dan masih banyak lagi negeri yang lain;
Sanggupkah engkau menghadapi mereka? Sementara itu jika engkau kalah, itu berarti tidak ada cerita lagi,
selesai.

" Tapi Kakek, Jipang juga mempunyai sekutu," kata Penangsang.

" Anakku, didalam peperangan yang engkau siapkan menyangkut ribuan tentara seperti ini, keberanian dan
kesaktian komander hanyalah memainkan peran yang kecil, tetapi strategi komander untuk memenangkan
pertempuran adalah sangat diperlukan; Oleh sebab itulah kami memerlukan komander yang briliant pandai," kata
Sunan Kudus.

" Jadi apa yang harus saya lakukan Kakek?

" Penangsang, saya adalah gurunya si Karebet. Karebet juga mempunyai guru-guru yang lain, diantaranya Ki
Ageng Sela, Ki Ageng Banyu Biru, Ki Ngenis, Ki Butuh dan Sunan Kali Jaga. Betapa kuatnya si Karebet itu, tetapi
engkau juga sama kuatnya dengan dia, saya tidak tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang andai kata
engkau diadu berkelahi melawan si Karebet. Jadi saya akan mengundang Sultan Pajang datang kesini dan saya
akan konfrontasikan kepadamu, kemudian terserah sama kamu mau guna memecahkan masalah ini," Kata Sunan.

Sunan Kudus pergi diiringi oleh dua orang stafnya, kemudian dia membuat surat undangan kepada Sultan Pajang,
meminta dia datang tetapi tidak disebutkan untuk apa. Utusan segera pergi ke Pajang memakai kuda mengantar
surat tersebut.

Aryo Penangsang berpikir, " Sunan mengatakan saya harus menyelesaikan masalah ini dengan cara saya, jadi
kalau saya bunuh si Karebet, saya akan segera menjadi Raja.

Sementara itu Sultan Hadiwijoyo sedang mengadakan rapat dengan seluruh staf sewaktu utusan dari Sunan Kudus
datang.
Diantara yang hadir didalam rapat itu adalah, Tumenggung Ki Macanegara, Ki Pemanahan, Bupati Ki Wilamarta,
Bupati Ki Wuragil, Pangeran Benawa, Ki Panjawi, Pangeran Danang Sutawijaya.

" Guruku Sunan Kudus mengundangku ke Kasuhunan, saya tidak tahu dengan maksud apa, dapatkah saudara-
saudara memberikan pendapat?" kata Sultan.

Mancanegara berkata, " Saya mendapat laporan bahwa terlihat pergerakan pasukan Jipang ke arah Kudus dalam
jumlah yang besar; apakah ada hubungannya dengan undangan Sunan Kudus kepada Sultan dengan peristiwa ini,
kita perlu mengkajinya,"

" Ya saya setuju dengan pendapat anda bahwa kedua peristiwa itu ada hubungannya dan terkait juga dengan
percobaan pembunuhan kepada saya baru-baru ini; Tetapi saya tidak dapat menolak undangan ini," kata Sultan.

" Baginda dapat pergi, tetapi harus ditemani disebabkan tingkah Adipati Jipang sudah menunjukan sikap
bermusuhan, siapa tahu dia membuat trik trik yang membahayakan baginda," kata Mancanegara.

" Benawa dan Sutawijaya, perintahkan kepada semua perajurit-perajurit kita untuk bersiap-siap, kita akan
berangkat ke Kudus dua hari kemudian," perintah Sultan.

" Sandika Gusti Rama," kata Pangeran Benawa.

Pasukan Pajang dalam jumlah besar berangkat keKudus dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijoyo sendiri diiringi
oleh Pangeran Benawa, Sutawijaya, Patih Mancanegara dan lainnya. Karena Sultan akan menghadapi saat saat
yang genting di Kasunanan Kudus maka dia membawa keris yang bernama Kiai Cerubuk dan Kiai Metir yang
mempunyai daya kesaktian. Meraka sampai di tepi sungai yang dinamai sungai Sore dan mendirikan kemah-
kemah. Sewaktu senja menjelang, Sultan datang ke Kasunanan beserta rombongan guna menghadap Sunan
Kudus. Sultan tidak menemukan Sunan Kudus tetapi didapati Aryo Penangsang beserta sepuluh orang
pengawalnya. Sultan Hadiwijoyo melangkah menuju Aryo Penangsang hingga berjarak tiga meter dimuka dia,
kemudian berhenti. Mereka saling pandang menatap dengan pandangan tajam; seperti dua harimau yang akan
berkelahi. Ruangan pendopo menjadi sunyi disebabkan tidak ada orang yang bercakap atau berbisik. Tetapi
pada akhirnya Aryo Penangsang berbicara guna mendinginkan suasana yang tegang itu.

" Selamat datang di Kudus Dimas Sultan, Kakek Sunan Kudus masih ada dikelasnya tetapi dia akan datang segera
menemui kita," kata Aryo Penagsang.

" Terimakasih kakang Adipati," kata Sultan.

Mereka duduk dikursi masing-masing dan situasinya lebih tenang.

" Sudah lama kita tidak pernah bertemu, jadi maafkan saya yang mana saya tidak dapat datang pada saat
pelantikan anda sebagai Raja di Pajang," kata Aryo Penangsang.

" Tidak mengapa Adipati, saya tau betapa sibuknya anda belakangan ini," kata Sultan.

" Apa maksud kedatangan anda kesini?" tanya Aryo Penangsang.

" Hanya memenuhi undangan Sunan, dan kamu?," kata Sultan.

" Sama seperti kamu, memenuhi undangan Sunan; jika tidak salah anda mempunyai keris yang bagus sekali,
bolehkah saya melihat keris itu? pinta Aryo Penangsang.

" Orang-orang hanya omong saja, itu bohong semua, tidak bisa dibandingkan dengan keris kamu, kiai Setan
Kober," kata Sultan.

" Jangan merendahkan diri Dimas, bolehkah saya melihatnya?, pinta Aryo Penangsang.
Mancanegara berbisik," jangan lakukan itu Sultan, ini adalah trik,"

" Jangan takut, saya mengerti," jawab Sultan.

" Inilah kerisku tetapi rupanya tidak lah sama dengan kerismu, si Kiai Setan Kober", kata Sultan sambil
memberikan kerisnya. Sementara itu Sultan juga bersiap-siap dengan kerisnya yang lain di punggungnya; Jika dia
menusuk dengan kerisnya, dia akan membalas menusuk dengan kerisnya yang lain.

Tiba-tiba Aryo Penangsang berdiri dari kursinya, menghunus keris itu dan berkata, " Engkau benar Adimas tidak
seperti Kiai Setan Kober, tetapi senjata ini ampuh sekali dimana hanya tergores saja orang sudah dapat mati."
Sultan pun ikut berdiri dan menghunus kerisnya Kiai Cerubuk, kemudian keduanya saling menatap dengan keris
ada ditangan. Pendopo menjadi sunyi semua orang menahan nafasnya, kelihatannya kedua pemimpin itu mau
saling tusuk. Para pengikutnya masing-masing memegang hulu keris senjatanya bersiap untuk bertempur.

Tetapi situasi yang tegang itu menjadi kalem kembali saat Sunan Kudus memasuki ruang Pendopo. " Hai apa yang
kalian lakukan? sedang berdagang keris? Nikmas Sultan simpanlah kerismu, tidak baik memperlihatkan senjata
dihadapan orang-orang. Dan enkau Penangsang sarungkan keris itu secepatnya agar semua masalah menjadi
beres, kerjakan." kata Sunan Kudus.

Hadiwijoyo menyarungkan kerisnya, sementara Aryo Penangsang melihat kepada Sunan, menunggu
perintah. " Penangsang sarungkan kerismu cepat, menunggu apa lagi," kata Sunan Kudus.

" Saya hanya melihat kerisnya Dimas Sultan yang terkenal itu," kemudian disarungkan dan diberikan kepada
Sultan Hadiwijoyo.

" Dia benar-benar menyarungkan keris itu,oh Penangsang alangkah bodohnya kamu itu," pikir Sunan Kudus.
Aryo Penangsang memberikan kembali kerisnya Hadiwijoyo. " Itu adalah keris yang bagus, jarang ada orang yang
dapat mempunyai keris sebagus itu," katanya.

" Terimakasih Kangmas Adipati," jawab Sultan.

" Ini baru baik sekali; engkau adalah ningrat dan juga pemimpin masyarakat jadi janganlah bersifat kekanak-
kanakan; selamat datang Nak Mas Sultan di Kudus; Saya kira kamu berdua dalam keadaan lelah, jadi saya
persilahkan kembali ke kamp masing-masing dan besok saya panggil kembali bila susananya menjadi dingin dan
tenang kembali," kata Sunan Kudus.

Sultan Hadiwijoyo pulang kembali ke kamp bersama dengan rombongan dan sementara itu Aryo Penangsang
masih bercakap-cakap dengan kakeknya.

" Kamu kehilangan kesempatan emas cucuku," kata Sunan Kudus

" Kesempatan emas?, apa maksudmu dengan itu? tanya Aryo Penangsang.

" Sebenarnya engkau adalah seorang yang cerdas Penangsang, tetapi didalam keadaan genting kamu tiba-tiba
menjadi bodoh," kata Sunan Kudus.

" Apakah saya salah? apakah saya berbuat sesuatu yang bodoh?" tanya Aryo Penangsang.

" Matahun dapatkah engkau terangkan kepada Tuanmu, perbuatan bodoh apakah yang dilakukan oleh tuanmu,
sementara saya akan masuk kamar untuk beristirahat, jangan diganggu," kata Sunan

" Ya Matahun tolong jelaskan kepada saya, nampaknya Sunan marah dan kecewa kepada saya," kata Aryo
Penangsang.
" Sangat disayangkan bahwa Tuan tidak mengerti akan kata-kata sandi yang diucapkan oleh Sunan; Apakah
engkau mengharapkan Sunan akan memberikan aba-aba dengan jelas untuk menikan Sultan Hadiwijoyo dengan
kerisnya Kiai Metir? Apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Sunan, " Sarungkan kerismu segera dan
masalahmu akan selesai". Menyarungkan keris berarti menikam Hadiwijoyo karena kalimat itu ditambah "
masalah kamu akan selesai" Tuan tidak mengerti dengan kata -kata itu," kata Patih Matahun.

" Oh alangkah bodohnya aku ini," kata Ary Penangsang sambil memukul kepalanya sendiri. " Tidak mengapa,
paling tidak kita sudah tahu bahwa Sunan mendukung kita, ini adalah fakta; Kita gagal untuk hari ini, tetapi besok
tidak; Saya tidak akan berhenti sampai tujuan saya tercapai.

Sementara itu dalam perjalanan pulang ke kamp, Sultan Hadiwijoyo berdiskusi dengan stafnya apa yang baru
terjadi dipendopo Kasunanan. " Hampir saja kita melumuri Pendopo Kasunanan dengan darah, saya perhatikan
setiap Tamtama Jipang memegang kerisnya masing-masing; Jika sampai terjadi maka saya akan memilih patih
Matahun sebagai lawan saya,"

" Saya akan memilih Kiai Ronce yang banyak tingkah," kata yang lain.

" Seperti yang kamu lihat sendiri, bagaimana hebatnya sikap permusuhan orang-orang Jipang kepada kita; dan
perang terbuka tidak dapat dihindari lagi, sekarang tinggal masalah waktu. Saya mengharapkan kamu sudah
siap," kata Sultan Hadiwijoyo diatas kudanya.

" Ditepi sungai sebelah sana mereka mendirikan kemah, saya harap kamu tidak melakukan provokasi, tunggu
perintah saya," kata Sultan Hadiwijoyo.

" Sandika Gusti," kata para perajurit.

" Saya masih belum mengerti maksud Sunan memanggil saya. Sementara saya menunggu panggilan Sunan, saya
akan mengunjungi kakak tercinta Ratu Kali Nyamat digunung Danareja," kata Sultan.
Malam itu Sultan dan para pengikutnya pergi kegunung Danareja. Tempatnya gelap dan sunyi; terdapat beberapa
gubuk yang dibangun bagi para pengawal. Setelah Sultan minta izin kepada pengawal, dia berdiri dimuka guha
dan mengadakan percakapan denga Ratu, tanpa melihat satu sama lain.

" Apa maksud kamu mengunjungi kami?" tanya Ratu.

"Hanya ingin mengetahui kondisi kesehatan kamu, Kakang Ratu," kata Sultan.

" Saya baik-baik saja; Saya mendengar khabar bahwa Jipang dan Pajang didalam masa-masa genting menuju ke
peperangan, apakah benar begitu? kata Ratu.

" Ya Yunda Ratu, sepertinya kita akan berperang. Tetapi ini tergantung kepada Kakang Penangsang, kami hanya
bertahan dan membuat pengimbang," kata Sultan.

" Dimas Sultan, saya mendukung kamu untuk berperang melawan Penangsang. Jika kamu sukses membunuh
Penangsang, saya akan berikan kamu Kalinyamat, Jepara dan seluruh isi kekayaannya disana, " kata Ratu.

Dibelakang Sultan, Mancanegara berbisik kepada Sultan, " katakan ya, hayo katakan ya,"

" Baik Yunda Ratu jangan takut akan hal itu, nampaknya hanya saya yang dapat membunuh Aryo Penangsang,
Adipati Jipang." kata Sultan.

Percakapan berlanjut kepada hal-hal yang tidak serius sampai tengah malam dan pada akhirnya Sultan meminta
diri.

Keesokan harinya Sultan berkunjung kembali ke Kasunanan karena dia sudah berjanji kepada Sunan untuk datang
kembali. Di pendopo sudah hadir Aryo Penangsang dengan para pengikutnya. Kedua orang yang bermusuhan itu
duduk dikursi disamping kiri dan kanannya. Sementara itu para pengawalnya duduk di lantai dan kelihatannya
siap dengan senjatanya untuk bertempur.

" Pada kenyataannya saya merasa tidak puas jika diantara kalian berdua ada permusuhan didalam keluarga kita
sendiri yang akan menuju kepada perpecahan. Persatuan diantara keluarga kerajaan nampaknya diambang
perpecahan" kata Sunan. " Nampaknya persatuan didalam keluarga yang sudah dibina oleh pendahulu kita,
Sultan Bintoro, berada didalam waktu yang sangat gawat, pikirkanlah oleh kamu berdua," Sunan menambahkan.

Sunan Kudus berkata lagi, " Saya mengharapkan kamu berdua dapat menyelesaikan persoalan usang kamu
berdua, Nakmas Hadiwijoyo tetap sebagai Sultan di Pajang dan sementara itu Aryo Penangsang pada posnya
sebagai Adipati di Jipang."

" Hmmm, jadi Jipang dibawah kekuasaan Pajang dan saya harus mengakui bahwa Pajang sebagai atasan saya,"
kata Aryo Penangsang.

" Saya kira apa yang dikatakan oleh Sunan sudah jelas, Jipang adalah suatu Kadipaten sedang Pajang adalah
suatu Kesultanan dan engkau sebagai Adipati harus memenuhi kewajibanmu terhadap Pajang." kata Sultan
Hadiwijoyo.

" Tidak mungkin, saya harus soan ke Pajang dan memberi hormat kepadamu? Aryo Penangsang pantang
menyerah sebelum berperang," kata Aryo Penangsang.

" Baiklah, Sultan Pajang akan menyerang setiap Adipati yang tidak bisa dikontrol," kata Sultan Hadiwijoyo.

" Hai Karebet, kamu kira hanya kamu saja yang laki-laki? Hayo kita berkelahi sampai ada yang mati, kamu yang
mati atau aku yang mati atau dua-duanya mati; Hayo keluar kita berkelahi," kata Aryo Penangsang sambil berdiri
dari kursinya dan juga Sultan.
" DIAM,!" kata Sunan Kudus dengan ekspresi wajah yang marah. Semua orang yang ada disitu menjadi takut dan
terdiam

" Hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda," kata Aryo Penangsang.

" Dan hampir saja saya memberi makan kepada segerombolan burung gagak yang kelaparan dengan mayat
seorang Adipati," kata Sultan.

" Hmmm, kelakuan kamu sama dengan preman pasar," kata Sunan Kudus. "Apakah kamu tidak malu dengan
bawahan kamu disini? Kamu sama sekali tidak menghargai kedudukan kamu sendiri,"

" Saya minta maaf guru," kata Sultan

" Saya minta maaf kakek Guru,' kata Aryo Penangsang.

" Alangkah memalukan kamu semua; Walaupun posisi kamu tinggi, kamu adalah murid-murid ku; Apakah engkau
masih menghargai gurumu yang mengajarkan kamu ilmu? Tanpa seorang guru, seseorang siapapun dia, tidak
akan mencapai kepangkatan yang tinggi seperti yang engkau capai sekarang," kata Sunan Kudus.

Sunan sedemikian marah sehingga ruang Pendopo Kasunanan menjadi sunyi, tidak ada yang bercakap-cakap dan
tidak ada yang berbisik.

" Baiklah, apakah engkau masih menaruh rasa permusuhan kepada Adipati Jipang, Hadiwijoyo?, tanya Sunan
kepada Sultan Pajang.

" Itu terserah kepada Kanda Aryo Penangsang," kata Sultan.

" Dan bagaimana dengan kamu Penangsang?" tanya Sunan.


" Jipang tidak akan pernah menyerah kepada Pajang," kata Aryo.

Kedua musuh saling pandang dengan ekspresi yang mengancam.

" Baiklah, saya kira kamu tidak memerlukan saya lagi, semua terserah kepada kamu; sekarang kalian boleh
pulang kembali kerumah masing-masing; Lakukanlah apa-apa yang akan kamu ingin lakukan, tapi dengan satu
syarat jangan kamu merusak institusiku, Kasunanan Kudus.

Setelah itu Sunan Kudus pergi dan juga Aryo penangsang keluar ruangan tanpa mengucapkan apa-apa kepada
Sultan Hadiwijoyo.

Sultan Hadiwijoyo beserta pengikutnya juga pulang. Didalam perjalanan pulang, dia menginstruksikan kepada
seluruh jajaran perajuritnya untuk siap tempur, tetapi sifatnya hanya menunggu serangan dari Penangsang.

Sementara itu di kam Penangsang, Penangsang sibuk mengatur serangan ke Kam Pajang. " Patih Matahun
siapkan seluruh angkatan perang kita untuk menyerang Pajang, kita akan beri kejutan kepada Karebet sebelum
dia siap dengan tentaranya," kata Penangsang.

" Sandika, baik Tuan," kata Patih Matahun

Keesokan harinya, Penangsang membawa seluruh perajuritnya menyebrang sungai Sore dan sampai di tepi Barat
sungai. Ditepi sungai sudah menunggu Karebet dengan tentaranya, maka terjadilah pertempuran ditepi sungai
dan disungai, satu lawan satu. Sungai Sore tidak dalam. Mereka memakai senjata keris, pedang dan juga
tombak. Korban segera berjatuhan hingga mencapai ratusan orang perajurit. Sungai Sore menjadi merah
diwarnai oleh darah. Sejarah mencatat perang ini terjadi pada tahun 1550.

Sewaktu magrib mendatang, kedua tentara ditarik kembali dan arena pertempuran kembali sunyi meninggalkan
begitu banyak mayat perajurit yang gugur. Keesokan harinya terjadi lagi pertempuran dan begitu seterusnya.
Penangsang dan tentaranya lebih banyak mengambil inisiatif dalam pertempuran dibanding Sultan Hadiwijoyo.
Penangsang bertempur dengan bernafsu untuk memperoleh kemenangan dalam waktu yang singkat. Hal ini
membuat seluruh angkatan perang Pajang menjadi frustrasi.

" Nampaknya peperangan ini akan memakan waktu yang lama, kita tidak tahu kapan akan berakhir," kata Ki
Mancanegara

" Sultan kehilangan kebranian didalam bertempur," kata Pangeran Benawa.

" Saya tidak setuju dengan pendapatmu, Sultan tetap berani, tetapi dia kehilangan semanagat bertempur," kata
Jurumartani.

" Barangkali disebabkan Penangsang adalah cucunya Sunan dan alasan lain adalah Sultan menghormati Sunan
karena dia dalah gurunya," kata Ki Pemanahan.

" Jadi apa yang kamu sarankan Pemanahan? tanya Ki Mancanegara.

" Marilah kita tanyakan kepada Ratu Kalinyamat di gunung Danareja," kata Ki Pemanahan sambil berbisik-bisik
ditelingan Mancanegara. Mancanegara mangut-manggut tanda setuju.

" Ini adalah strategi yang bagus Pemanahan saya setuju sekali, segera dilaksanakan," kata Mancanegara.

" Saya dengan Panjawi akan pergi kegunung Danareja besok untuk menemui Ratu Kali Nyamat dan kita berharap
agar peperangan yang membosankan ini selesai; Jangan katakan kepada siap-siapa tentang kepergian saya, ini
harus menjadi misi yang dirahasiakan," kata Pemanahan.

Kedua orang itu sampai pada tengah malam di guha tempat Ratu Kali Nyamat. Setelah meminta izin kepada
penjaganya untuk berdialok hal yang penting, mereka berdiri dimulut guha.
" Pengawal siapa yang datang? Mengapa datang ditengah malam seperti ini? tanya Ratu Kali Nyamat.

" Kami adalah Pemanahan dan Panjawi dari kerajaan Pajang, kami minta maaf datang ditengah malam seperti ini,"

" Apa maksud kamu? dan mesti ada sesuatu yang penting," kata Ratu.

" Pertempuran terus berlangsung antara Pajang dan Jipang dan kita tidak tahu kapan akan berakhir," kata
Pemanahan.

" Berita dari medan pertempuran tidak penting bagi saya; kamu tidak perlu melaporkannya atau apakah saya
harus akhiri tapa saya dan terjun dalam pertempuran dipihak kamu melawan Penangsang? tanya Ratu.

" Ya, kami meminta bantuanmu, tetapi tidak perlu terjun didalam pertempuran,"

" Jadi apa yang harus saya lakukan?,"

" Kami menyangka Sultan kehilangan kebraniannya didalam pertempuran, barangkali ini disebabkan Penangsang
adalah cucunya Sunan Kudus. Penangsang selalu berinisiatif menyerang membuat kami menjadi frustrasi dan
meminta pertolonganmu," kata Pemanahan.

" Apakah engkau mempunyai ide untuk membangkitkan semangat bertempur Sultan? tanya Ratu.

" Barangkali ide ini akan menjadi baik, bawalah Sultan memnghadapmu dan tawarkan kepada dia dua orang gadis
cantik yang akan memberi semangat bertempur." kata Panjawi.

Tidak ada jawaban dari dalam Guha,membuat Pemanahan dan Panjawi menahan nafas. "apakah Ratu menjadi
marah?"
Akhirnya datang juga jawaban dari dalam guha, " Baiklah, salam hormat saya kepada Sultan dan bawa dia kesini
secepatnya," kata Ratu.

Setelah dialok berakhir, Panjawi dan Pemanahan pulang dengan berkuda.

Sesampainya di kam, mereka melaporkan kepada Sultan, tapi hanya mengatakan bahwa Ratu memanggil beliau
secepatnya.

" Dia meminta saya berkunjung, untuk apa? Tetapi baiklah saya akan penuhi; Pemanahan, Panjawai dan yang lain
ikuti saya berkunjung ke gunung Danareja." Sultan memerintahkan.

Sultan berdiri dimuka guha dan siap berdialok.

" Dikmas Sultan, berapa lamakah pertempuran ini akan berlangsung? tanya Ratu

" Saya tidak tahu tetapi diperkirakan akan memakan waktu yang lama," kata Sultan.

" Akan memakan waktu lama? apakah saya akan mati sebelum Penangsang, si bangsat, itu mati? apakah saya
tidak akan pernah melihat kamu membunuh Penangsang? tanya Ratu dengan suara kemarahan.

" Saya tidak bermaksud begitu, tetapi memang kakang Penangsang seorang Senapati yang pembrani," kata
Sultan.

" Saya tidak percaya, saya hanya percaya akan kemampuan kamu membunuh Penangsang; kamu cuma hormat
kepada Sunan Kudus, Sunan Kudus memang kakeknya dan dia juga gurumu, benarkan? tanya Ratu.

Sultan terdiam dengan kata-kata Ratu, dia menyadari bahwa Ratu sedang marah kepadanya, dia juga menyadari
bahwa tindakannya kepada Jipang tidak tegas dan kenyataannya apa-apa yang dikatakan oleh Ratu adalah benar.
" Kakakku Ratu, posisiku sekarang ini serba salah, apa yang akan kulakukan ini serba salah," kata Sultan.

" Apakah itu sikap seorang Raja? Bagaimana kamu dapat memerintah suatu kerajaan sebagai Raja besar jika
kamu tidak mempunyai pendirian yang tetap seperti ini? Kamu bahkan tidak menyadari bahwa tindakanmu itu
akan ditiru oleh seluruh rakyat kamu." kata Ratu.

Ratu menambahkan," Kamu telah berjanji kepadaku untuk membunuh Penangsang lalu kapan dilaksanakan?
Saya menyarankan agar kamu menantang duel diatara kamu berdua guna mengakhiri peperangan secepatnya;
peperangan ini hanya merugikan semua orang. Sekali lagi saya berjanji akan memberikan kepadamu, daerah
Jepara, Kali Nyamat dan Pati jika kamu berhasil membunuh Penangsang. Bahkan saya bersedia menjadi
pelayanmu. Lebih dari itu saya akan memberikan dua orang keponakanku, dua gadis cantik kepadamu, jika kamu
berhasil membunuh Penangsang.

Sultan kembali terdiam mungkin sedang berpikir apa yang dikatakan Ratu. Bahkan sekarang hadiahnya
ditambah dengan tanah Pati dan dua gadis cantik.

" Baiklah Yunda Ratu, saya akan memenuhi permintaan Yunda sebaik-baiknya," kata Sultan.

Didalam perjalanan pulang mereka mendiskusikan dialok. " Nampaknya Ratu sangat serius untuk membunuh
Penangsang secepatnya," kata Ki Pemanahan.

" Semua orang juga tahu bahkan dia berani berkorban hingga hal yang membahayakan nyawanya." kata Sultan

Di kam Hadiwijoyo berpikir, " Jika saya membunuh Penangsang saya tidak yakin bahwa Sunan Kudus tidak akan
marah kepada saya. Jika dia marah kepada saya, lalu apa yang akan saya lakukan? Guru adalah sama dengan
orang tua yang harus dihormati, bagaimana masalah ini membuat saya menjadi bingung."
Pada akhirnya Sultan mendapat jalan untuk membunuh Penangsang dengan memakai tangan orang lain, dia akan
menyuruh Pemanahan sebagai komandan pasukan untuk membunuh Penangsang. Dia memanggil semua stafnya
guna rapat darurat. Hadir didalam rapat itu adalah Ki Pemanahan, Jurumartani, Ki Mancanegara, Panjawi dan
yang lain-lain.

" Sebagaimana kamu ketahui bahwa Sunan Kudus adalah guruku dan saya tidak dapat membunuh Penangsang
disebabkan dia adalah cucunya Sunan Kudus; tetapi dilain pihak saya harus membunuh Penangsang atas perintah
kakakku Ratu Kali Nyamat. Saya sanggup membunuh Penangsang, tetapi hubungan saya denga Sunan Kudus
menjadi terganggu dan saya tidak mau hal ini terjadi. Saya mempunyai ide jalan keluarnya; Saya umumkan
kepada kamu sekalian, tetapi utamanya kamu Pemanahan, barang siapa yang berhasil membunuh Penangsang
akan saya beri hadiah berupa Hutan Mentaok dan tanah Pati. Apakah kamu sanggup melaksanakan pekerjaan ini
Pemanahan? tanya Sultan.

" Sesuai perintah Paduka, saya akan kerjakan sebaik-baiknya,"

" Tetapi sibangsat Adipati Jipang itu sakti, jadi kamu harus hati-hati Pemanahan," kata Sultan.

" Seperti sabung ayam, kemenangan itu bukan peran ayamnya itu sendiri tapi peran botoh (yang empunya ayam)
yang pandai memilih ayam sabungannya yang akan menentukan kemenangan," kata Ki Pemanahan.

" Baik, rencanakan semuanya dalam satu tim. Jika Sunan Kudus marah,saya akan membela kamu; kamu tidak
mempunyai hubungan apa-apa dengan Sunan Kudus itu menjadi baik. Saya akan senang hati meberikan hutan
Mentaok dan tanah Pati kepada kamu," kata Sultan.

Setelah Sultan meninggalkan sidang, mereka berdiskusi; mereka adalah Ki Pemanahan, Jurumartani, Sutawijaya
dan Panjawi.
" Kamu harus mengetahui bahwa Penangsang adalah kasar dan mudah marah. Temparemennya yang cacat ini
harus dapat digunakan." kata Ki Pemanahan.

" Kita harus akui bahwa dia adalah sakti, itu yang menjadi masalah," kata Panjawi.

" Kita cari gara-gara, agar dia marah dan datang ke kam kita, kemudian kita keroyok, " kata Sutawijaya.

Pada keesokan harinya, keempat orang itu, Ki Pemanahan, Panjawi, Sutawijaya, Pangeran Benawa, dan juga
Jurumartani berkuda mendatangi Kam Penangsang.

Seorang mata-mata melaporkan bahwa tidak berapa jauh ada kam musuh. Maka mereka juga membuat kam
disitu, ditepi sungai Sore.

Keempat pemimpin Pajang berkuda menyebrangi sungai Sore, mendatangi kam Penangsang. Disana terlihat ada
tukang rumput yang sedang mengambil rumput untuk ternaknya. " Hai lihat ada orang disana, pasti dia orang
Jipang,musuh kita," kata Sutawijaya.

" Hai ki sanak, engkau pandai memilih rumput, pasti ternak kamu bagus sekali," sapa Ki Pemanahan.

" Ya tentu saja, Gagak Rimang sangat disayang oleh tuannya,Kanjeng Adipati Jipang," kata tukang rumput itu.

" Dia adalah tukang kudanya Penangsang, sebaiknya kita apakan dia?" bisik Ki Pemanahan.

" Setiap orang Jipang adalah musuh kita, sebaiknya dibunuh saja," kata Sutawijaya berbisik.

" Jangan membunuh sembarangan, kita bisa memanfaatkan orang ini," kata Ki Pemanahan.
" Hai anak muda, kamu adalah orang Jipang, sedangkan kami adalah orang Pajang. Apakah engkau tidak
menyadari bahwa sedang terjadi peperangan antara Pajang melawan Jipang?" tanya Ki Pemanahan.

" Tentu saya tahu, tetapi saya adalah rakyat biasa, saya tidak terlibat didalam peperangan itu." kata tukang
rumput.

" Apapun yang kamu katakan, kamu adalah orang Jipang, musuh kami dan kawan-kawan kami sudah sepakat
untuk membunuh kamu, tapi saya tahu bahwa kamu ingin hidup, betulkan begitu? tanya Ki Pemanahan.

" Oh maafkan saya, saya hanyalah rakyat biasa yang tidak terlibat dalam peperngan ini; tugas saya hanyalah
sebagai tukang kuda Kanjeng Adipati," kata si tukang kuda.

" Baiklah, saya hanya akan membuat luka dibadan kamu; apakah kamu ingin memilih mati atau memilih luka
dibadan? tanya Ki Pemanahan.

" Saya tidak ingin keduanya, saya baru saja menikah dengan perempuan dua bulan yang lalu, oh maafkan saya
dan isteri saya," pintanya.

" Panjawi dan Sutawijaya, pegang orang ini,' Pemanahan memberi instruksi.

" Oh jangan, mau diapakan saya ini?"

" Saya tidak ingin membunuh kamu; Saya hanya ingin membuat luka ditelinga kamu, baik? kata Ki Pemanahan.

Ki Pemanahan memotong telinganya dan menempelkan sepotong surat ditujukan kepada Adipati Aryo Penangsang
di telinga yang terpotong.
" Sekarang kamu harus pulang secepatnya dan melapor kepada tuanmu, Aryo Penangsang, katakan Raja Pajang
Sultan Hadiwijoyo menantang duel; kamu mengerti? PERGI " kata Pemanahan.

Keempat orang itu melihat ke tukang kuda yang berlari menuju tuannya.

" Sekarang kita harus bersiap-siap karena tidak berapa lama lagi mereka akan datang; mereka akan datang
dengan kemarahan, terutama Aryo Penangsang pasti datang kepada kita, saya kenal wataknya," kata Ki
Pemanahan.

" Dan mungkin Aryo Penangsang akan datan sendirian tanpa pengawalnya." kata Jurumartani.

Sementara itu di kam Jipang, Aryo Penangsang sedang makan nasi sewaktu datang pengawalnya melaporkan
bahwa seorang tukang kuda penuh darah dianiaya oleh oarang-orang Pajang.

Walaupun luka ditelinga tidak terlalu besar, tetapi telah membuat mukanya penuh dengan darah, kelihatannya
sangat menakutkan.

Sewaktu tukang kuda menghadap, Adipati Penangsang berteriak, " Hai apa yang terjadi dengan kamu?"

" Maafkan saya tuan, orang Pajang memotong telingan saya dan menggantungkan surat diluka saya,"

" Apa? mana surat itu?," kata Penangsang.

Penangsang menerima surat dari telinga yang dipotong dengan emosi penuh kemarahan. Surat dari musuhnya si
Karebet.

Isi surat itu adalah demikian, " Hai Penangsang jika engkau mengaku seorang jantan dan pembrani,
menyebranglah, aku tunggu engkau disebrang sungai, tertanda Raja Pajang.
" Bangsat Karebet, kepalamu akan terpisah dari badanmu hari ini," katanya dan sambil memukul meja
didepannya. Dia keluar dari kemahnya dan berteriak kesemua orang, " Hai siapkan kudaku si Gagak Rimang dan
kerisku si Kiai Setan Kober, aku akan membunuh si Bangsat Karebet,"

" Tenang Nakmas Adipati, tenang, ada apa denganmu? kata Patih Matahun.

" Tenang? Orang-orang Pajang telah menghina kita, ini akan menjadi masalah serius buat kita, saya tidak sabar, "
kata Penangsang.

" Menghina kamu, bagaimana caranya? tanya Ki Mataram, adiknya yang kecil.

" Jangan tanya, lihat itu suratnya diatas meja saya," kata Penangsang.

" Kamu Patih Matahun dan lainnya, jika diam saja, kamu bukan orang Jipang Panolan. Bukan saja saya yang
dihina tetapi semua orang di jipang ikut dihina," kata Aryo Penangsang.

" Marilah kita rundingkan dulu sebelum bertindak Nakmas Adipati. Saya percaya bahwa ini adalah jebakan buat
kita dan mungkin jebakan yang berbahaya sekali,Nakmas Adipati" kata Patih Matahun.

" Hai kamu orang tua, jika kamu tidak mau ikut dengan aku untuk memotong kepalanya si Karebet, biarlah aku
akan pergi sendiri, aku Aryo Penangsang akan berperang melawan orang Pajang sendirian." Kemudian dia keluar
menuju kam Pajang tanpa pengawal dibelakangnya.

" Apa yang harus kita lakukan Patih Matahun? tanya Ki Mataram.

" Siapkan perajurit kita dan kita susul dia," instruksi Patih Matahun.
Aryo Penangsang berkuda cepat sekali menuju kam Pajang hingga mencapai tepi timur Sungai Sore. Dia melihat
ratusan perajurit Pajang sudah bersiap ditepi barat sungai Sore, tetapi tidak ada Karebet diantara mereka.

" Hai orang-orang Pajang dimana Raja kalian? Dia berani menantang saya untuk berkelahi tetapi tidak muncul
kelihatan, katakan kepada dia untuk memakai rok dan bh dan suruh kerja didapur," kata Penangsang.

" Hai Arya Jipang lawanlah saya lebih dulu sebelum Tuan saya, menyebranglah kesini," kata Ki Pemanahan.

" Hai monyet buruk, akan kupatahkan lehermu," kata Penangsang.

Mengejutkan, Aryo Penangsang betul menyebrang dengan kudanya sendirian. Dia telah berhasil diprovokasi
sehingga mau menyebrang tanpa kawalan serdadunya dan ini betul sangat berbahaya buat dirinya.

" Serdadu Pajang serang dia sewaktu dia ada disungai," Ki Pemanahan memberi komando.

Kurang lebih dua ratus perajurit Pajang menyerbu ke sungai dan mengepung Aryo Penangsang. Tetapi Aryo
Penangsang betul betul seorang laki-laki yang tidak gentar sedikitpun dan memang dia seorang perajurit sejati.