Anda di halaman 1dari 12

Elemen Minor atau Minor Elemen Elemen adalah unsur, materi atau bahan dasar (fundamental kinds of matter)

yang menyusun seluruh benda di alam semesta. Elemen ini tersusun dari atom-atom yang berasal dari elemen yang sama secara kimiawi dan memiliki sifat yang identik. Hingga saat ini telah dikenal sekitar 116 elemen atau unsur. Minor elemen atau elemen mayor memiliki suatu ukuran 1 ppb 4 ppm (< 1ppm) yang termasuk dalam elemen minor disuatu lautan yaitu diantaranya : O, H, Cl, Na, Mg, C, Ca, K, Dr, C, Sr, B, dan F. dari elemen elemen tersebut terdapat ada 14 unsur yang termasuk dalam elemen minor.elemen minor memiliki pola distribusi yang luas atau dengan kata lain pola penyebaran yang luas dari suatu perairan tropis sampai sub tropis.dari 14 jenis ion pada air laut.Dari jumlah itu, konsentrasi klorida dan natrium terdapat dalam jumlah yang sangattinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya salinitas air laut. . Di samping itu unsure Na juga dapat dimanfaatkan sebagai unsur hara untuk jenis-jenis tanaman tertentu yang membutuhkannya baik sebagai unsure tambahan/menguntungkan maupun sebagai pengganti sebagian dari kebutuhan akan unsur K. Elemen minor biasanya tidak membentuk elemen vegetasi yang mencolok,tetapi hanya dijumpai di tepian habitat tersebut dan jarang membentuk suatu tegakan murni, contohnya Pemphis acidula, Aegiceras sp., Excoecaria agallocha dan Xylocarpus sp. Tumbuhan dan hewan yang hidup umumnya membutuhkan nutrien untuk tumbuh dan berkembang. Organisme hidup unsur memenuhi hara dari kebutuhannya akan nutrien dengan cara menyerap

tanah, makan dan minum atau melalui proses absorbsi, dekomposisi dan difusi elemen yang dibutuhkan dari lingkungan sekitarnya. Ada elemen atau senyawa yang mampu diproduksi dan dihasilkan oleh tubuh seperti hormon, zat tepung, serbuk sari dan madu pada bunga. Namun adapula elemen yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Elemen ini umumnya diperlukan dalam jumlah sedikit oleh tubuh namun sangat penting bagi proses metabolisme, fisiologi dan reaksi biokimiawi dalam tubuh. Kekurangan elemen ini akan menyebabkan gangguan metabolisme dan penyakit akibat defisiensi. Elemen ini dikenal sebagai elemen esensial. Vitamin dan mineral umumnya termasuk dalam senyawa yang bersifat esensial. Secara garis besar, elemen dapat dibagi menjadi 2, yaitu : elemen organik dan inorganik. elemen Menurut Miessler dan Tarr (2000) berkaitan dengan senyawa menyatakan bahwa organik

hidrokarbon dan derivatnya yang sebagian besar menjadi elemen utama yang menyusun makhluk hidup. Sedangkan elemen inorganik mencakup keseluruhan elemen yang terdapat dalam tabel periodik unsur termasuk Hidrogen dan Karbon itu sendiri.

Millero (2006) membagi elemen (organik dan inorganik) menjadi 3 kelompok berdasarkan rata-rata konsentrasinya di alam, yaitu: elemen makro (0,05 750 mM), elemen mikro (0,05 50 M) dan elemen trace atau kelumit (0,05 -50 nM).

Sedangkan berdasarkan sifatnya, elemen (inorganik) dibedakan menjadi :


1.

jenis logam logam (metal) bersifat padat, memiliki kilap, dapat dibentuk menjadi lempengan tanpa mengalami kerusakan (malleable) serta mampu menghantarkan suhu kamar. listrik dengan baik.

Seluruh logam (metal) kecuali raksa (Hg) berbentuk padat pada

2. non logam memiliki sifat buram dan tidak semuanya dapat dibentuk dengan mudah. Sedangkan elemen non logam ada yang bersifat cair dan gas. Oksigen, klorin, cairan bromine coklat tergolong non metal.

Riley dan Chester (1971), menyatakan bahwa unsur N, P dan Si adalah merupakan elemen esensial terpenting yang dibutuhkan oleh organisme laut. Ketiga elemen tersebut berperan penting dalam metabolisme, proses fisiologis dan reaksi biokimiawi dalam tubuh. Nitrogen penting untuk membangun jaringan tubuh. Sedangkan fosfor dan silica penting Diatom, Seng, dalam Kobal pembentukan dan dan cangkang Pteropod. adalah terutama Besi, bagi kelompok Tembaga, Coccolithofor Mangan,

Molybdenum

mikro elemen

esensial yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan sebagaimana ditemukan pada enzim. Meskipun memiliki konsentrasi yang sedikit dalam air laut, namun mikro elemen esensial tidak pernah menjadi faktor pembatas yang mengontrol populasi biota laut. Kadang-kadang konsentrasi mikro elemen esensial ditemukan dalam jumlah yang

banyak

dalam

air

laut,

namun

hal

tersebut

belum

menjamin

pemenuhan kebutuhan mikro elemen esensial bagi organisme laut. Hal ini karena mikro elemen esensial tersebut berada dalam bentuk yang tidak dapat diabsorbsi langsung oleh biota laut yang ada. Berdasarkan strukturnya senyawa organik dapat dibagi menjadi :
1.

materi organik terlarut (DOM) yang berukuran < 0,45 m termasuk koloid

2.

materi organik partikulat (POM) yang terdiri atas materi berbentuk partikulat (> 2,0 m) dan materi tersuspensi (0,45 2,0 m). Mikro Elemen di Laut Minor elemen memiliki suatu ukuran 1 ppb 4 ppm (< 1ppm) yang

termasuk dalam elemen minor disuatu lautan yaitu diantaranya : O, H, Cl, Na, Mg, C, Ca, K, Dr, C, Sr, B, dan F. dari elemen elemen tersebut terdapat ada 14 unsur yang termasuk dalam elemen minor.elemen minor memiliki pola distribusi yang luas atau dengan kata lain pola penyebaran yang luas dari suatu perairan tropis sampai sub tropis.dari 14 jenis ion pada air laut.Dari jumlah itu, konsentrasi klorida dan natrium terdapat dalam jumlah yang sangattinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya salinitas air laut. . Di samping itu unsure Na juga dapat dimanfaatkan sebagai unsur hara untuk jenis-jenis tanaman tertentu yang membutuhkannya baik sebagai unsure tambahan/menguntungkan maupun sebagai pengganti sebagian dari kebutuhan akan unsur K.

Sumber Elemen Minor Berdasarkan asalnya, sumber elemen mikro yang masuk ke laut secara garis besar dapat di bagi menjadi 2 : a. Allotochnous (external sources) :

Aktifitas gunung berapi (erupsi) Pelapukan batuan Gurun Pasir Aktifitas Manusia (antropogenik) b. Autotochnous (internal sources) :

Aktifitas gunung berapi bawah laut (Submarine Eruption) Pergeseran kerak bumi Aktifitas Biologi Mekanisme transport elemen yang bersumber dari daratan dapat

dibagi 3 :

Melalui sungai (fluvial transport) Melalui udara (atmospheric transport) dan angin (Aeolian transport) Melalui pencairan es (glacial transport) Elemen yang masuk ke laut akan mengalami proses-proses :

Fisika : advection, mixing, adsorption, deposition Kimia : redox, hydrolysis, complexation, solidification, dissolution

Biologi : absorption, decomposition

Distribusi Elemen Minor Chester (1990) menyatakan bahwa ada tiga proses yang berperan dalam distribusi elemen di laut : 1. 2. 3. Saturasi dan presipitasi (Ca, Sr, Ba) Adsorbdi oleh partikel tersuspensi (Mn, Zn, Cd, Pb) Absorbsi oleh biologi (Co, Mo, Ni, Zn).

Selain proses diatas, proses-proses biogeokimia yang juga berperan penting dalam pendistribusian mikro elemen di laut seperti : 1. 2. 3. 4. Reaksi redoks Kompleksasi solidifikasi Mineralisasi-remineralisasi Faktor lingkungan (pH, suhu, salinitas, arus dan aktifitas

hidrothermal) o Tipe Distribusi Elemen. Elemen mikro memiliki konsentrasi yang sangat rendah di laut karena elemen mikro memiliki sifat yang sangat reaktif sehingga dengan cepat akan segera laut berikatan dengan dan mengendap senyawa di dasar kimia yang lain saat mencapai perairan dalam bentuk

sedimen. Selain itu, ada pula elemen mikro yang memang memiliki

konsentrasi sangat kecil dari sumbernya. Misalnya: batuan kristal dan gas yang berasal dari dalam perut bumi. Profil distribusi elemen mikro dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu: a) Conservative Profile terhadap elemen yang

Rasio konsentrasi elemen yang konstan

berkaitan dengan khlorinitas atau salinitas ditemukan pada beberapa elemen karena tingkat reaktifitasnya yang rendah. Beberapa elemen makro dan logam kelumit (trace metal) seperti seperti molybdenum (MoO42-) dan tungsten (WO42-). b) Nutrient Type Profile konsentrasi elemen di permukaan perairan dan

Penurunan

pengayaan di kedalaman perairan. Senyawa dipindahkan dari bagian atas permukaan oleh plankton atau senyawa partikulat yang dihasilkan oleh produsen melalui aktifitas biologi. Di perairan yang dalam senyawa partikulat akan mengalami regenerasi melalui proses oksidasi oleh bakteri. Berdasarkan tempat terjadinya regenerasi elemen mikro, maka

nutrient type profile dapat dibagi menjadi 3, yaitu: 1) Regenerasi elemen mikro pada perairan dangkal hingga

kedalaman maksimum 1 km. Misalnya pada logam Cd2+ yang berikatan dengan bagian yang lunak dari material biologi yang masih hidup atau yang sudah mati.

2) dapat

Regenerasi elemen mikro pada perairan dalam hingga terdeteksi. Beberapa elemen mikro yang termasuk ke dalam

kedalaman maksimum dimana keberadaan logam dalam air laut masih kelompok ini adalah: Zn, Bad an Ge. 3) Kombinasi regereneasi elemen mikro antara perairan dangkal

dan dalam. Salah satu elemen yang termasuk kelompok ini adalah perak (Ag). Logam ini diketahui berikatan dengan phytoplankton, diatom dan cangkang hewan laut. Surface atmosfir, sungai dan daratan. c) Surface enrichment and depletion at depth enrichment and depletion at depth: Elemen yang termasuk kelompok ini memiliki input yang berasal dari

Elemen yang termasuk kelompok ini mudah bereaksi dan secara cepat berpindah dari air laut karena berikatan dengan partikulat yang berada di kolom air untuk selanjutnya mengendap dalam sedimen. Waktu tinggal (residence times) dari elemen kelompok ini tergolong sangat pendek. Logam timbal (Pb) merupakan elemen yang inputnya berasal dari atmosfir (berasal dari asap kendaraan dan industri di darat yang menggunakan bahan bakar fosil). Mn2+ merupakan contoh yang baik untuk elemen yang memasuki permukaan air melalui sungai atau berasal dari endapan sedimen di perairan yang dangkal.

d)

Mid-depth minima

Kondisi mid-depth minimum dapat terjadi jika terdapat input dari permukaan yang kemudian mengalami regenerasi di dekat dasar atau mengalami scavenging di keseluruhan kolom air. Logam seperti Cu2+, Sn dan Al3+ tergolong dalam kelompok ini. Input dari permukaan laut berasal dari daratan yang terbang ke udara membentuk debu atmosfer yang kemudian jatuh ke permukaan laut. Al dengan cepat akan mengalami penyerapan oleh partikel tersuspensi dari permukaan air melalui proses adsorbs atau mengalami penyerapan oleh plankton. Partikel yang terserap kemudian jatuh dan mengendap di laut dalam membentuk sedimen. Resustensi dan flux Al dalam sedimen akan semakin meningkat saat mendekati dasar perairan. e) Pada Maxima and minima in Anoxic Waters suatu daerah dengan sirkulasi terbatas seperti di Laut

Hitam, Trench Cariaco perairan dapat

dan

fjords, air dapat menjadi anoxic (tidak reduksi oksidasi yang menyebabkan

memiliki kandungan Oksigen) dan memproduksi H2S. Di batas antara 2 terjadi proses maxima atau minima dari perubahan solubilitas dari species yang berbeda. Fe2+ dan Mn2+ tergolong maxima karena memiliki solubilitas yang meningkat dalam bentuk tereduksi. Kondisi maxima ini terjadi akibat proses reduksi oksidasi Besi dan Mangan dekat batas lapisan antara dari oksik-anoksik.

Manfaat mikro elemen di laut Nitrogen dalam air laut umumnya terlarut dalam bentuk nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan Amoniak (NH4). Bentuk-bentuk senyawa dari nitrogen tersebut diabsorbsi oleh organisme laut untuk memenuhi kebutuhan akan nitrogen sebagai salah satu komponen utama pembentukan asam amino yang menjadi cikal bakal terbentuknya protein. Senyawa Fosfor seperti ATP (adenosine tri-fosfat) dan ko-enzim nukleotida, memiliki peran yang penting dalam fotosintesis dan proses lainnya dalam tumbuhan. Fitoplankton umumnya memenuhi kebutuhan fosfor melalui asimilasi secara langsung dalam bentuk ortho-fosfat. senyawa fosfor organik terjadi saat Absorbsi dan konversi menjadi kondisi gelap. Sebagian besar tumbuhan dan hewan laut yang memanfaatkan silikon terdiri dari kelompok diatom, radiolaria, pteropoda dan sponges. Umumnya, kelompok organisme tersebut memiliki struktur kerangka yang mengandung silika dalam jumlah tinggi. Sisa-sisa tubuh yang telah mati terutama dari kelompok diatom akan tenggelam ke dasar perairan membentuk deposit endapan silikat yang spesifik. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana silika terlarut diabsorbsi oleh diatom.

TUGAS PAPER OSEANOGRAFI KIMIA ELEMEN MINOR

NAMA : Chandra E. Sinambela NIM : 26020110130103

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011