Anda di halaman 1dari 107

UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi di POLRES MALANG)

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-syarat Untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan Dalam Ilmu Hukum Oleh : M SHODIK AVIANO NIM.0410113123

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS HUKUM MALANG 2008

LEMBAR PERSETUJUAN

Upaya Polri dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor hasil Pencurian (studi kasus di POLRES Malang)
Oleh :

M. SHODIK AVIANO NIM. 0410113123

Disetujui pada tanggal :

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Eny. Haryati, S.H., M.H NIP : 131573925

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669

Mengetahui, Ketua Bagian Hukum Pidana

Setiawan Noerdajasakti, S.H.,MH NIP : 131839360

LEMBAR PENGESAHAN
UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi Kasus di POLRES Malang)

Disusun oleh: M. SHODIK AVIANO NIM. 0410113123

Skripsi ini telah disahkan oleh dosen pembimbing pada tanggal:

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Eny. Haryati, S.H., M.H NIP : 131573925 Ketua Majelis

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669 Ketua Bagian Hukum Pidana

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669 Mengetahui,

Setiawan Noerdajasakti,S.H, MH NIP : 131839360

Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Herman Suryokumoro, SH, MS NIP : 131472741

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang patut penulis ucapkan selain puja dan puji syukur bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah S.A.W. Dengan Limpahan Rahmat, Hidayat serta Inayah-Nya kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul Upaya Polri Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian (Studi di Polres Malang) dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam rangka memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, pengarahan, bimbingan, serta memberikan dorongan semangat. Adapun pihak-pihak tersebut adalah sebagai berikut : 1. Bapak Herman Suryokumoro SH.M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. 2. Bapak Setiawan Nurdajasakti, SH.MH, selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. 3. Ibu Eny. Haryati, S.H.,M.H, selaku Dosen Pembimbing I atas bimbingan serta motivasinya, petunjuk, ilmu, kesabaran didalam membimbing penulis. 4. Bapak Abdul Majid, S.H.,M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II atas Bimbingan serta motivasinya, petunjuk, ilmu, kesabaran didalam membimbing penulis. 5. Seluruh dosen dan staf pengajaran Fakultas Hukum yang telah banyak membantu penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. 6. Kepala Satuan Reskrim Polres Malang, Bapak AKP Sunardi Riyono S.H, atas bimbingan dan arahanya.

7. Kanit Sidik I Bapak Aiptu Sutiyo S.H, atas informasi, bimbingan serta petunjuknya. 8. Keluarga tercinta, Bapak dan Ibu yang tiada henti-hentinya memberi semangat dan motivasi kepada penulis. 9. Pihak-pihak lain yang turut membantu selesainya skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Penulis yakin skripsi ini masih sangat jauh dari kata sempurna sehingga masukan dan kritik membangun akan selalu penulis harapkan untuk memperbaiki skripsi ini. Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam proses pembuatan skripsi ini penulis melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengampuni kesalahan kita dan berkenan menunjukkan jalan yang benar.

Malang, 11 September 2008

Penulis

DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan....... Lembar pengesahan....... Kata Pengantar Daftar Isi.... Daftar Bagan ............................................................................................... Daftar Tabel... Daftar Lampiran Abstraksi.... Bab I PENDAHULUAN A. B. C. D. E. Latar Belakang Rumusan Masalah... Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian.. Sistematika Penulisan.. 1 6 6 6 7 i ii iii v viii ix x xi

Bab

II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Tindak pidana . 1. Pengertian Modus Operandi.. 2. Pengertian Tindak Pidana.. 3. Jenis - jenis Tindak Pidana. 4. Tindak pidana pencurian. 5. Tindak pidana penadahan a. Penadahan Biasa.. b. Penadahan Sebagai Kebiasaan. 6 Faktor-faktor timbulnya pelanggaan hukum B. Tinjauan Umum Tentang Peranan Polri Dalam Tindak Pidana .. 1. Pengertian Polisi 2. Satuan Fungsi Polri 23 23 24 9 9 9 10 13 17 18 21 22

3. Tugas dan Wewenang Polri.. 4. Tugas Polri Dalam Tindak Pidana .. a. Penyidikan Tindak Pidana b. Kegiatan Penyidikan c. Penanganan Kasus C. Teori Upaya Penanggulangan Kejahatan. a. upaya pencegahan Preventif. b. upaya pencegahan Represif.. c. upaya pencegahan Reformatif.. d. upaya pencegahan Pre-emptif..

26 28 34 35 38 42 43 46 47 48

Bab

III

METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. Metode Pendekatan................................................... Lokasi Penelitian....................................................... Jenis Dan Sumber Data............................................. Teknik pengumpulan Data......................................... Populasi Sample dan Responden.............................. Teknik Analisis Data................................................ 49 50 50 51 52 43

Bab

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. B Gambaran Umum Tentang Polres Malang ........... Realita tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian........................................................... C. Modus-modus dalam melakukan tindak pidana Penadahan................................................................ D Upaya Polres malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian .......................................................... 79 73 65 54

E.

Kendala yang dihadapi Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasli

pencurian. Bab V PENUTUP A. B. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Kesimpulan.............................................................. Saran........................................................................

84

86 87

DAFTAR BAGAN

Bagan I. Struktur Organisasi Polres Malang ............................................ Bagan II. Struktur Organisasi Reskrim Polres Malang .............................

56 64

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tentang penjualan sepeda motor di wilayah kabupaten malang 2008... Tabel 2. Tentang tindak pidana pencurian kendaan bermotor roda dua Tahun 2008 ........................................................ Tabel 3. Tentang tindak pidana penadahan kendaan bermotor roda dua Tahun 2008............................................................................ 71 69 67

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman A. SURAT SURAT 1. Surat Penetapan Pembimbing Skripsi.. 2. Surat Keterangan Telah Melakukan Survey (POLRES MALANG).. 91 90

ABSTRAKSI M. SHODIK AVIANO, Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, SEPTEMBER 2008, Upaya Polri Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian (Studi Kasus Di Polres Malang ), Eny. Haryati, S.H.,M.H ; Abdul majid, S.H.,M.Hum. Dalam skripsi ini penulis membahas mengenai upaya Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Hal ini dilatarbelakangi banyaknya kepemilikan kendaraan bermotor khusunya roda dua dan kurangnya kewaspadaan masyarakat mengakibatkan tingginya pencurian kendaraan bermotor yang berdampak pada timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian tersebut. Polri berusaha memberikan pemahaman hukum kepada masyarakat tentang hal hal yang berkaitan dengan timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Permasalahan yang muncul adalah modus modus apa saja yang dilakukan oleh pelaku kejahatan yang menimbulkan adanya praktek praktek penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian serta upaya upaya yang dilakukan oleh polri dalam meminimalisir tingkat penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. serta kendala kendala yang dihadapi oleh polri dalam rangka penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Dalam upaya menjawab permasalahan an tersebut maka metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis sosiologis. Mengkaji dan menganalisa permasalahan yang ditetapkan secara yuridis dengan melihat fakta sosiologis. Kemudian menganalisa seluruh data yang ada secara diskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh jawaban atas permasalahan an yang ada, yaitu adanya modus modus yang mengakibatkan timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, dimana pendahan timbul akibat tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku pencurian kendaraan bermotor dan penadahan yang timbul akibat niat dari penadah kendaraan bermotor yang memang berproofesi sebagai penadah. Uapaya yang dilakukan oleh polri dalam menanggulangi tindak pidana tersebut adalah dengan uapaya yang bersifat preventif berupa penyuluhan hukum terhadap masyarakat dan upaya yang bersifat represif yaitu melakukan razia temapat-temapat yang disinyalir sebagai tempat penjualan sepeda motor hasil curian. Kendala kendala yang dihadapi adalah sulitnya menemukan barang bukti hasil kejahatan pencurian yang kemudian dijual kepenadah dikarenakan barang bukti sudah tidak seperti semula hal ini menyulitkan Polri dalam melakukan pemeriksaan. Menyikapi permasalahan permasalahan tersebut diatas, maka perlu kiranya Polri untuk memberikan pengarahan dan pemahaman hukum serta peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap praktikk- praktik tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian guna meminimalisir tindak pidana penadahan tersebut.

BAB I LATAR BELAKANG Negara kita adalah Negara hukum dimana hal ini mempunyai arti bahwa setiap anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap hukum tersebut harus dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dimata hukum. Bahwa setiap aspek kehidupan yang terdapat dalam masyarakat yakni aspek sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya ini telah diatur oleh hukum baik itu secara tertulis maupun tidak tertulis. Keberadaan hukum ini dimaksudkan agar tercipta suatu keadaan yang tentram dan terciptanya suatu ketertiban di masyarakat. Terciptanya ketertiban tidak lepas pada peran serta masyarakat atau boleh dikatakan lebih dititikberatkan pada kewajiban masyarakat. Sedangkan ketentraman lebih dititikberatkan pada hak-hak masyarakat. Oleh karena itu hukum itu sendiri harus bisa mengakomodir dan mencerminkan perlindungan terhadap hak-hak dan kewajiban masyarakat. Tidak dapat dipungkiri dalam menjalankan kehidupannya manusia memerlukan kedua hal tersebut, harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Dari hal tersebut akan menghindarkan dari sikap yang totaliter akibat terlalu

mengedepankan kewajiban dan sikap yang cenderung akan membuka jalan menuju anarki akibat dari sikap yang terlalu mengedepankan hak. Dalam mewujudkan kestabilan nasional yang bertujuan agar tercapainya suatu pembangunan nasional yang optimal harus tercipta keserasian antara ketentraman dan ketertiban. Oleh karena ketertiban merupakan kepentingan umum dan ketentraman merupakan kepentingan pribadi, maka selururh

masyarakat harus mengerti akan hak dan kewajibannya sesuai dengan normanorma yang berlaku. Suatu kenyataan dalam pergaulan hidup manusia, individu maupun kelompok, sering terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma hidupnya terutama yang dikenal sebagai norma hukum. Terlebih dimasa yang sulit ini, dimana tingkat pengangguran meningkat sedangkan lapangan pekerjaan sangat terbatas, serta masalah ketidakmampuan ekonomi sering kali ini dijadikan alasan dan dikaitkan dengan perilaku-perilaku yang menyimpang tersebut, pelaku penyimpangan tersebut dalam memenuhi kebutuhannya dengan jalan pintas terkadang tidak menghiraukan bahwa tindakannya tersebut telah melanggar hukum, diantaranya adalah dengan merampas hak orang lain, mencuri atau bahkan menadah hasil dari kejahatan tersebut. Hal tersebut termasuk sebagai suatu tindak pidana, yang mempunyai akibat hukum bagi pelaku. Kemajuan pertumbuhan sosial dimasyarakat ditandai pula dengan tingkat konsumtif masyarakat yang naik pula, salah satunya adalah dengan banyaknya masyarakat yang mempunyai kendaaraan bermotor. Sekarang ini hampir di setiap jalan-jalan di kota maupun kabupaten disesaki oleh kendaraan-kendaraan bermotor, kendaraan roda empat dan khususnya kendaraan roda dua. Semakin terjangkaunya harga dari kendaraan bermotor serta banyaknya lembaga-lembaga pembiayaan yang memudahkan masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor dengan waktu yang cepat menjadi salah satu faktor yang menunjang banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di kota dan kabupaten.

Tetapi disisi lain, semakin banyaknya kendaraan bermotor tersebut timbul pula masalalah sosial tersendiri dikalangan masyarakat yang perlu perhatian yaitu semakin banyaknya pula kesempatan bagi pelaku tindak pidana terhadap harta benda seseorang dalam hal ini adalah kendaraan bermotor yaitu tindak pidana pencurian dan khususnya dalam hal ini adalah tindak pidana penadahan

kendaraan bermotor. Faktor lain yang mengakibatkan tindak pidana tersebut yang sering dijadikan alasan pihak pelaku adalah masalah kebutuhan hidup yang mana pelaku memang tidak mempunyai mata pencaharian. Hal itulah yang melatarbelakangi meningkatnya jumlah pencurian kendaraan bermotor yang kemudian berpotensi kepada meningkatnya jumlah penadahan kendaraan bermotor. Dari data polri yang tecatat dalam tahun 2007 tindak pidana pencurian ranmor adalah tindak pidana dengan prosentase tertinggi dibanding dengan tindak pidana yang lain . 1 Polri mencatat tindak pidana pencurian kendaraan bermotor menempati tingkat tertinggi yaitu dengan prosentase 30 % kemudian tindak pidana pembunuhan yang menduduki peringkat kedua dengan prosentase 20% serta tindak pidana yang lain seprti penganiayaan berat, penculikan, pencurian dengan kekerasan, serta tindak pidana kepemilikan senjata api ilegal sebanyak 10 %. Dari data Polri tersebut jelas terlihat tindak pidana terhadap kendaraan bermotor sangatlah rawan tejadi di kalangan masyarakat. Tingkat kejahatan pencurian kendaraan bermotor yang tinggi tersebut kemudian memunculkan adanya suatu peran dari penadah, hal ini di karenakan
Tingkat Kejahatan tahun 2007 http://www.polri.go.id/index.php?opstatistik2007, diakses pada tanggal 19 maret 2008
1

pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor kebanyakan menjual hasil kejahatannya itu kepada para penadah, selain untuk menghilangkan barang bukti hasil kejahatannya para pelaku pencurian kendaraan bermotor memang sengaja mencuri kendaraan bermotor untuk keuntungan ekonomis, yaitu mendapatkan uang dari hasil kejahtannya itu dengan menjulanya kepada para penadah. Sehingga dalam hal ini terlihat bahwa peran penadah sangat penting bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor. Bisa dikatakan bahwa pencurian kendaraan bermotor timbul karena adanya peran dari para penadah atau bisa juga penadahan timbul kerana adanya pelaku pencurian kendaraan bermotor yang kemudian mencari penadah sebagai media untuk menghilangkan barang bukti serta memperoleh keuntungan dari kejahatan pencurian kendaraan tersebut. Contoh kasus dalam hal ini adalah kasus pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh pelaku bernama Agung Prayogo, 19 tahun warga Perum Citra Pesona Buring Raya Blok C-6/5 Wonokoyo Kedungkandang. Diamana pelaku melakukan tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor bernomor polisi N 3178 KJ milik Abdul Rosyid 17 tahun warga Dusun Karangasem Gondanglegi Wetan karena faktor ekonomi, dimana pelaku mencuri kendaraan tersebut untuk kemudian dijual ke daerah Kedungkandang. 2 Di sini bisa dilihat bahwa indikasinya adalah pelaku menjulanya kepada penadah. Karena himpitan ekonomi, serta tidak punya mata pencaharian pelaku melakukan tindak pidana pencurian untuk mendapatkan uang dari hasil penjualnnya kepada penadah kendaraan bermotor.

. Malang Post, selasa 17 April 200, Maling Kedungkandang Dibekuk, dikutip dalam http://www.google.com (25 April 2008)

Jika dilihat tindak pidana dalam hal ini penadahan kendaraan bermotor sangat berhubungan dengan apa yang sudah dijelaskan diatas. Ketika jumlah kendaraan meningkat jumlah tindak pidana terhadap hal tersebut juga meningkat yaitu dengan pencurian yang kemudian menimbulkan suatu tindak pidana yang terkait dengan hal tersebut yaitu tindak pidana penadahan terhadap kendaraan hasil pencurian. Disamping itu karena kendaraan bermotor merupakan benda yang bernama dan ada kewajiban pendaftaran untuk Penerbitan Bukti Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), maka biasanya pelaku atau pihak lain yang akan memanfaatkan kendaraan tadi berupaya menegelabuhi petugas yang berwenang atau surat-surat yang terkait agar kejahatan yang berantai tersebut tidak terbongkar. Berangkat dari uraian di atas, penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul : UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA

PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi Kasus di Polres Malang)

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana modus operandi tindak pidana penadahan kendaraan hasil pencurian? 2. Bagaimana upaya POLRI dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian? 3. Apa saja kendala bagi POLRI dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana modus operandi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian 2. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya apa yang dilakukan Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis kendala dalam penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis a. Bagi akademisi untuk menambah wawasan keilmuan demi

perkembangan ilmu hukum khususnya yang terkait dengan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. b. Bagi mahasiswa untuk pengetahuan tambahan bagaimana penangganan kasus tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

2. Praktis a. Bagi masyarakat, diharapkan dapat memberikan wacana baru bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran hukum dan

kewaspadaannya terhadap tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. b. Bagi Aparat Penegak Hukum, diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi aparat penegak hukum khususnya pihak kepolisian dalam upaya penanggulangankasus penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. E. Sistematika Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sistematika penulisan yang sistematis untuk membahas permasalahan yang telah ditetapkan. Adapun sistematika penulisan ini dibagi menjadi 5 (lima) bagian, yaitu: Bab I : PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisikan mengenai latar belakang permasalahan, rumusan masalah , tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bab II : TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka mengenai Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana, Pengertian Modus Operandi, Pengertian Tindak Pidana, Jenis jenis Tindak Pidana, Tindak Pidana Pencurian, Tindak Pidana Penadahan, Faktor Timbulnya Pealnggaran Hukum, Peranan Polri

Berdasarkan UU no. 2 tahun 2002 serta Teori Upaya Penanggulangan Kejahatan.

Bab III

: METODE PENELITIAN Pada bab ini berisi metode pendekatan, lokasi penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, populasi dan sampel, teknik analisis data.

BAB IV

: HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini merupakan pembahasan dari rumusan masalah sebagaimana yang diuraikan pada bab I yaitu berupa data yang meliputi gambaran umum lokasi penelitian, realita tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian , dan upayaupaya serta kendala Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

BAB V

: PENUTUP Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran dari pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA 1. Pengertian Modus Operandi Istilah modus operandi memang cukup sering didengar dan sangat erat dan tidak terlepas apabila dikaitkan dengan proses terjadinya kejahatan atau suatu tindak pidana baik yang dilakukan individu atau perorangan maupun yang yang dilakukan oleh beberapa orang yang biasanya dilakukan secara terkoordinir. Modus operandi sendiri mempunyai pengertian yaitu, metode operasional suatu perbuatan yang mungkin saja terjadi dari satu atau lebih bahkan merupakan kombinasi dari bebrapa perbuatan. 3 Adapun pengertian lain modus operandi, menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu; cara atau teknik berciri khusus dari seseorang penjahat dalam melakukan perbuatan jahatnya. 4 2. Pengertian Tindak Pidana Tindak pidana merupakan masalah sosial yaitu masalah yang timbul dikalangan masyarakat dimana pelaku dan korbanya merupakan anggota masyarakat. Tindak pidana adalah merupakan hasil interaksi sosial yang dimungkinkan terjadi karena kondisi kemapanan sosial yang bergeser, atau karena

M. Sholehuddin, 1997, Tindak Pidana Perbankan, Jakarta, P.T Grafindo Persada, hal 11. Tim Penyusun Kamus Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta, Balai Pustaka, hal 662.
4

mekanisme aparatur yang lemah atau keadaan hukum yang tertinggal oleh kepesatan perubahan sosial. 5 Menurut Moeljanto bahwa : Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. Asal saja dari pada itu diingat bahwa larangan itu ditujukan kepada perbuatan (yaitu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. 6 3. Jenis- jenis Tindak Pidana Tindak pidana merupakan salah satu istilah untuk menggambarkan suatu perbuatan yang dapat dipidana, dalam bahasa belanda disebut straftbaarfeit, istilah lain yang pernah digunakan untuk menggambarkan perbuatan yang dapat dipidana adalah : 1) Peristiwa pidana 2) Perbuatan pidana 3) Pelanggaran pidana 4) Perbuatan yang dapat dihukum. 7 Sedangkan menurut Wirjono Projodikoro tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dipidana. 8 Definisi yang diberikan oleh Wirjono
tindak pidana pencurian www.google.com/http//hukum online.com diakses pada tanggal 19 maret 2008 6 Moeljanto, Asas-Asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1987, hal 54 7 Masruchin rubai, Asas-Asas Hukum Pidana , kerjasama penerbit UM Press dan FH.UB, Malang 2001.hal 21
5

lebih sederhana jika dibandingkan dengan definisi yang diberikan oleh Prof.Pompe. Tindak pidana dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu : a. Tindak pidana formil dan tindak pidana materiil Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang perumusanya dititik beratkan pada perbuatan yang dilarang misalnya mengenai Pasal 362 KUHP yaitu mengenai tindak pidana pencurian, sedangkan tindak pidana materiil yaitu tindak pidana yang perumusanya dititik beratkan pada akibat yang dilarang conntohnya Pasal 338 KUHP yaitu mengenai tindak pidana pembunuhan. Pada Pasal 338 tersebut dititik beratkan pada akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang . b. Tindak pidana commisionis, tindak pidana omissionis, tindak pidana commmissionis per omissionem comissa. Pengklasifikasian dari tindak pidana ini didasarkan pada cara mewujudkan tindak pidana tersebut. Suatu tindak pidana itu dapat terdiri dari suatu pelanggaran terhadap suatu larangan atau dapat juga terdiri dari suatu pelanggaran terhadap suatu keharusan. 9 Definisi dari tindak pidana commisionis adalah tindak pidana yang berupa pelanggaran terhadap larangan yaitu dengan jalan melakukan perbuatan yang dilarang. Contohnya : Tindak pidana penipuan, pembunuhan. Sedangkan tindak pidana omissionis adalah tindak pidana berupa pelanggaran-pelanggaran terhadap keharusan-keharusan menurut undang-undang.

8 9

Ibid, hal 22 P.A.F Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Di Indonesia, Sinar Baru, Bandung, 1984, hal

213.

Contohnya tidak menghadap sebagai saksi dimuka pengadilan (Pasal 224 KUHP). Tindak pidana commisionis per omissionem commissa yaitu tindak pidana yang berupa pelanggaran terhadap larangan, tetapi dilakukan dengan cara tidak berbuat , contohnya seorang ibu yang berniat untuk membunuh anaknya dengan jalan tidak memberikan air susu kepada anaknya. 10 c. Tindak pidana dolus dan culpa/ opzettelijke delicten dan culpooze delicten Pembedaan tindak pidana ini didasarkan pada sikap batin petindak. Opzettelijke delicten adalah delik-delik yang oleh pembuat undang-undang telah disyaratkan bahwa delik-delik tersebut harus dilakukan dengan sengaja. Sedangkan culpooze delicten adalah delik-delik yang oleh pembentuk undangundang telah dinyatakan bahwa delik-delik tersebut cukup terjadi dengan tidak sengaja agar pelakunya dapat dihukum. d. Tindak pidana aduan dan bukan aduan Dasar pembedaan tindak pidana ini adalah berkaitan dengan dasar penuntutan. Definisi dari tindak pidana aduan ini adalah tindak pidana yang baru dilakukan penuntutan apabila terdapat pengaduan dari korban. Tindak pidana aduan ini dibagi menjadi dua yaitu tindak pidana aduan absolut dan tindak pidana aduan relatif. Tindak pidana aduan absolut adalah tindak pidana yang menurut sifatnya baru dapat dituntut apabila ada pengaduan dari korban , contohnya Pasal 284 KUHP tentang perzinahan. Tindak pidana aduan absolut tidak dapat dipecah, dalam tindak pidana ini yang dituntut adalah peristiwanya atau perbuatanya. Tindak pidana aduan relatif yaitu tindak pidana yang pada dasarnya bukan tindak pidana aduan akan tetapi berubah menjadi tindak pidana aduan karena ada
10

Masruchin Rubai .loc cit.hal 27.

hubungan khusus antara petindak dengan korban. Contohnya pencurian dalam lingkungan keluarga yaitu Pasal 367 KUHP. Adapun definisi mengenai tindak pidana bukan aduan adalah tindak pidana yang penuntutanya selalu dapat dilaksanakan walaupun tidak ada pengaduan dari korban. e. Delik umum dan delik-delik khusus Delik umum adalah tindak pidana yang dapat dilakukan oleh siapa pun sedangkan delik khusus adalah tindak pidana yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memenuhi kualifikasi atau memiliki kualitas tertentu, misalnya pegawai negeri, pelaut, militer. 4. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Istilah tindak pidana adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menterjemahkan istilah dari Bahasa Belanda yaitu strafbaar feit. Selain digunakan istilah tindak pidana strafbaar feit juga diterjemahahkan sebagai perbuatan pidana, peristiwa pidana, pelanggaran pidana atau kejahatan. Istilah dalam Bahasa Belanda dengan sebutan delict mempunyai makna yang sama dengan strafbaar feit, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan delik. Pendapat Hazewinkel-Suringa seperti yang dikutip oleh P.A.F Lamintang tentang suatu rumusan yang bersifat umum dari strafbaar feit, yaitu sebagai suatu perilaku manusia yang pada suatu saat tertentu telah ditolak di dalam suatu pergaulan hidup tertentu dan dianggap sebagai perilaku yang harus di tiadakan oleh hukum pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya. 11

11

P.A.F lamintang. loc cit, hal 172

Pompe mengemukakan pengertian tindak pidana secara teoritis sebagaimana dikutip oleh P.A.F Lamintang yaitu : suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan segaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum. 12 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas, maka pada dasarnya tindak pidana adalah serangkaian dari suatu perbuatan yang dapat dipidana karena perbuatan tersebut telah dirumuskan dalam undang-undang. Adapun perumusan terhadap tindak pidana ini adalah merupakan kebijakan pemerintah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan harus disesuaikan dengan perasaan hukum yang hidup di dalam masyarakat, sedangkan ancaman dan penjatuhan pidana adalah jalan yang utama untuk mencegah dilanggarnya larangan-larangan yang dimuat dalam ketentuan-ketentuan undang-undang tersebut. Sebelum terjadinya suatu tindak pidana penadahan kendaraan bermotor faktor yang mempengaruhi adanya penadahan itu sendiri adalah diawali dengan adanya tindak pidana pencurian terhadap kendaraan bermotor (curanmor). Masalah yang kemudian muncul adalah kemana para pelaku curanmor tersebut menghilangkan atau menjual barang hasil pencuriannya tersebut, yang tertuju dalam masalah ini adalah pelaku penadahan kendaraan bermotor. Pengertian pencurian menurut hukum beserta unsur-unsurnya dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP, adalah berupa rumusan pencurian dalam bentuk pokok yang berbunyi: Barang siapa mengambil sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara mealawan hukum,
12

Ibid, hal 173

diancam dengan pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp. 900,00. Apabila diperinci rumusan itu terdiri dari unsur-unsur yakni: 1. Unsur-unsur obyektif, terdiri dari : a. Perbuatan mengambil b. Objeknya suatu benda c. unsur kaeadaan yang menyertai/melekat pada benda, yaitu benda tersebut atau sepenuhnya milik orang lain 2. Unsur-unsur subyektif, terdiri dari : a. Adanya maksud b. Yang ditujukan untuk memiliki c. Dengan melawan hukum. 13 Suatu perbuatan atau peristiwa, baru dapat dikualifisir sebagai pencurian apabila terdapat semua unsur-unsur tersebut. 14 1. Unsur-unsur obyektif : a. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen) Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. Mengambil adalah suatu tingkah laku positif / perbuatan materiil, yang dilakukan dengan gerakan-gerakan
13 14

Adami chazawi, Kejahatan Terhadap Harta Benda , Bayumedia, Malang, 2004, hal 5. Ibid

otot yang disengaja yang pada umumnya dengan menggunakan jari-jari dan tangan kemudian diarahkan kepada suatu benda, menyentuhnya, memegangnya, dan mengangkatnya dalam kekuasaannya. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif, ditunjukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. 15 Sehubungan dengan hal ini, Projodikoro menyampaikan bahwa, unsur memiliki benda adalah kontradiksi dengan unsur melanggar hukum. Karena memiliki benda yang berarti menjadikan dirinya pemilik adalah harus menurut hukum, maka tidak mungkin memiliki benda orang lain dengan melanggar hukum itu. Dilihat dari hal tersebut maka yang menjadi syarat terjadinya pencurian adalah bukan beralihnya hak milik atas sesuatu benda, tetapi sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak untuk menjadikan benda tersebut sebagai miliknya. b. Unsur benda c. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain 2. Unsur-unsur subjektif a. Maksud untuk memiliki b. Melawan hukum Macam-macam tindak pidana pencurian menurut KUHP dalam bab XXII, yaitu : a. Pencurian biasa
15

Ibid, hal 6

b. Pencurian dengan pemberatan c. Pencurian ringan d. Pencurian dengan kekerasan. 5. Tindak Pidana Penadahan (helling) Sebelum menentukan unsur unsur yang terdapat pada tindak pidana penadahan (helling), terlebih dahulu mengetahui bahwa rumusan hukum dari setiap tindak pidana sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), maka perlu dipahami dulu unsur-unsur yang melekat dalam setiap pasalnya. Setiap tindak pidana umumnya memiliki dua (2) unsur yang pokok, yaitu : a. Unsur obyektif : Pada umumnya ini terdiri atas suatu perbuatan atau suatu akibat b. Unsur subyektif Unsur ini terdiri dari atas suatu kehendak atau tujuan, yang terdapat dalam jiwa pelaku. Unsur ini dirumusakan dengan istilah sengaja, niat, atau maksud. 16 Terdapat dua aliran dalam mengkaji tentang unsur-unsur tindak pidana, yaitu : 1. Aliran Monistis Suatu aliaran yang memandang semua syarat untuk menjatuhkan pidana sebagai unsur tindak pidana. Aliran ini tidak memisahkan antara unsur yang
16

H.A.K Moch. Anwar, (Dading) Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP buku II), Alumni, Bandung, 1980, hal 15.

melekat pada perbuatan pidana (criminal act) dengan pertanggungjawaban hukum pidana (criminal responsibility). Sarjana yang termasuk dalam aliran antara lain : Simon, Hamel, Mezger Karni, Wirjono Prodjodikoro. 2. Aliran Dualistis Suatu aliran yang memisahkan antara perbuatan pidana (criminal act) dengan pertanggungjawaban hukum pidana (criminal responsibility). Yang menjadi unsur tindak pidana hanyalah unsur yang melekat pada perbuatan pidana (criminal act). Sarjana yang termasuk dalam kelompok dualistis ini antara lain : HB. Vos, W.P.J. Pompe, dan Moeljanto. 17 a. Penadahan Biasa Jika dilihat dari kedua aliran tersebut maka apabila dikaji unsur-unsur yang terdapat dalam Pengertian tindak pidana penadahan yang terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu Pasal 480 yang berbunyi : Ke-1 : karena melakukan penadahan (heling) barang siapa membeli, menyewa, menukari, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau dengan maksud mendapat untung, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan,

mengangkut, menyimpan, atau menyembunyikan suatu barang, yang diketahuinya atau pantas disangkanya, bahwa barang itu diperoleh dengan jalan kejahatan ; Ke-2 : barang siapa mengambil untung dari hasil suatu barang yang diketahuinya atau pantas harus disangkanya bahwa barang itu diperoleh dengan jalan kejahatan. Terdapat rumusan penadahan yang pertama mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

17

Masruchin RubaI, Hukum Pidana I, FH-UB, Malang, 1989, hal 35-36.

1.

Unsur-unsur obyektif ; a. Perbuatan kelompok 1, ialah : 1) Membeli 2) Menyewa 3) Menukar 4) Menerima gadai 5) Menerima hadiah, atau kelompok 2. Untuk menarik keuntungan ; 1) Menjual 2) Menyewakan 3) Menukarkan 4) Menggadaikan 5) Mengangkut 6) Menyimpan, dan 7) Menyembunyikan b. Objeknya : suatu benda. c. Yang diperolehnya dari suatu kejahatan.

2. Unsur-unsur subyektif :

a. Yang diketahuinya b. Yang sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari kejahatan. 18 Dari rumusan diatas penadahan dapat dibagi menjadi dua bentuk (perhatikan rumusan perbuatannya). Bentuk pertama adalah unsur perbuatannya terdiri dari membeli, menyewa, menukarkan, menerima gadai, dan menerima hadiah. Sedangkan bentuk yang kedua adalah unsur perbuatannya terdiri dari menjual, menyewakan, menukarakan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan, dan menyembunyikan. Perbedaannya antara bentuk pertama dan kedua adalah pada bentuk kedua, perbuatannya didorong oleh suatu motif untuk menarik keuntungan, dan motif ini harus dibuktikan. Sedangkan bentuk pertama tidak diperlukan motif apapun juga. 19 Sedangkan pada ayat kedua (2) dirumuskan bahwa penadahan terdiri dari unsur-unsur: 1. Unsur-unsur obyektif : a. Perbuatan : menarik keuntungan dari : b. Objeknya : hasil suatu benda. c. Yang diperolehnya dari suatu kejahatan. 2. Unsur-unsur subyektif : a. Yang diketahuinya, atau

18 19

Adami chazawi, Op.Cit, hal 202 Ibid

b. Patut menduga benda itu hasil kejahatan. 20 Dalam hal barang yang diperoleh dari kejahatan terdapat dua jenis yaitu ialah : 1. Barang sebagai hasil kejahatan terhadap kekayaan, yaitu pencurian, pemerasan, pengancaman, penggelapan, penipuan dan penadahan ; 2. Barang sebagai hasil kejahatan pemalsuan seperti uang palsu, cap palsu, atau surat palsu. 21 Perbedaan antara barang ke-1 dan ke-2 adalah bagaimanapun barang ke-2 akan tetap merupakan barang yang diperoleh dari suatu kejahatan, sedangkan barang yang ke-1 ada kemungkinan berhenti dapat dinamakan barang yang diperoleh dengan kejahatan, yaitu apabila misalnya - barang yang dicuri atau digelapkan dengan pertolongan polisi sudah kembali ke tangan si korban pencurian atau penggelapan. b. Penadahan Sebagai Kebiasaan Penadahan yang dijadikan sebagi kebiasaan dimuat dalam Pasal 481 Kitab Undang-Undang hukum Pidana (KUHP) yang rumusannya adalah sebagai berikut : 1) Barang siapa menjadikan kebiasaan untuk sengaja membeli, menukar, menerima gadai, menyimpan, atau menyembunyikan yang diperoleh dari suatu kejahatan, diancam, dengan penjara paling lama 7 tahun.

Ibid Wirjono Prodjodikoro, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Refika aditama, Bandung, 2003. Hal 60.
21

20

2) Yang bersalah dapat dicabut haknya tersebut dalam pasal 35 No. 1- 4 dan haknya untuk melakukan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. Unsur-unsur kejahatan yang dirumuskan tersebut diatas adalah : 1. Unsur obyektif a. Perbuatan : 1. Membeli ; 2. Menukar ; 3. Menerima gadai ; 4. Menyimpan ; 5. Menyembunyikan ; b. Objeknya suatu benda. c. Yang diperoleh dari suatu kejahatan. d. Menjadikan sebagai kebiasaan. 2. Unsur-unsur subyektif : sengaja. 22

6. Pengertian Faktor- Faktor Timbulnya Pelanggaran Hukum Menurut Soerjono Soekanto menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya suatu tindakan pelanggaran terhadap hukum, jika di lihat secara sosiologis dan psikologis, penyebabnya adalah :

22

Adami chazawi, Op.Cit, hal 206

1. Adanya kesempatan atau peluang, yang dimaksudkan adalah kejahatan timbula karena adanya kesempatan yang membuat orang menjadi pencuri. Artinya ada kelemahan kelemahan di dalam mekanisme pengawasan ( yang konsekuen ). Pengawasan yang dilakukan setengah setengah, sebenarnya justru memberikan petunjuk mengenai adanya peluang peluang tertentu untuk melakukan pelanggaran hukum, kelemahan tersebut hanya dapat diatasi, apabila ada pengawasan ketat t5anpa kompromi. Artinya, para pengawas mempunyai mental yang baik dan mampu untuk mengendalikan dirinya. Ini hanya mungkin terjadi apabila mereka terdidik dan kebutuhan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. 2. Pameran kekayaan materiel Kejahatan timbul akibat adanya kesempatan bagi pelaku kejahatan untuk melakukan tindakan melanggar hukum diakibatkan pameran kekayaan material oleh seseorang. Seolah olah dengan pameran tersebut diberikan kesempatan yang mudah untuk mengambil dengan paksa. Keadaan semcam itu menimbulkan hasrat atau keinginan yang besar untuk juga memiliki kekayan material tersebut. Dari hal hal semacam itulah timbulnya perbuatan perbuatan melawan hukum, yang bersumber pada kekayaan material tersebut. 23 B. PERANAN POLRI BERDASARKAN UU NO 2 TAHUN 2002 1. Pengertian Polisi
23

Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Jakarta, 1982, Hal 9.

Kata Polisi berasal dari bahasa Yunani yaitu politea. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menyebut orang yang menjadi warga negara dari kota Athene, kemudian pengertian itu berkembang menjadi kota dan kemudian dipakai untuk menyebut semua usaha kota. Oleh karena pada yaman itu kota-kota merupakan negara yang berdiri sendiri. Yang disebut juga polis, maka politea atau polis diartikan sebagai semua usaha dan kegiatan Negara, juga termasuk kegiatan keagamaan. 24 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata polisi adalah suatu badan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum ( menangkap orang yang melanggar hukum ), merupakan suatu badan pemerintahan ( pegawai negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban ). 25 Pada undang-undang no.2 tahun 2002 tentang Polri yaitu pada Pasal 1 angka 1 disebutkan mengenai pengertian Kepolisian yaitu Kepolisian adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Beranjak dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa istilah polisi dan kepolisian mengandung pengertian yang berbeda. Istilah polisi adalah sebagai organ atau lembaga pemerintah yang ada dalam negara, dan istilah kepolisian adalah sebagai organ dan sebagai fungsi. Sebagai organ yakni suatu lembaga pemerintah yang terorganisasi dan terstruktur dalam organisasi negara, sedangkan sebagai fungsi yakni tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa undang-undang untuk menyelenggarakan fungsinya, yaitu antara lain pemeliharaan keamanan dan
24

Andi munawarman , Sejarah Singkat Polri (www.hukum online.com) diakses tanggal 16 maret W.J Poerwadarmita , Kamus Besar Bahasa Indonesia, balai pustaka , Jakarta, 1989, hal 320.

2008
25

ketertiban masyarakat, penegakan hukum, pelindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat. 2. Satuan Fungsi Polri Seperti diungkapkan Sutarto dalam bukunya bukunya Dasar-dasar Organisasi bahwa dengan fungsi adalah sekelompok aktifitas sejenis berdasarkan atas kesamaan sifatnya atau pelaksanaanya. Fungsi tertentu merupakan bagian dari suatu organisasi yang kedudukannya berada dibawah pucuk pimpinan atau satuan utama organisasi dimaksud, satuan fungsi ini diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu sesuai dengan lingkup tugas dan kewenangannya guna mendukung keberhasilan pencapaian secara keseluruhan. 26 Lebih lanjut Sutarto menjelaskan bahwa satuan organisasi dikelompokan menurut pembagian fungsi umum dan dalam organisasi diantaranya disebut satuan pimpinan, satuan haluan, satuan komersil, satuan penunjang, satuan kontrol dan satuan konsultasi. Satuan-satuan tersebut malakukan komunikasi secara vertical dan horizontal sesuai dengan kedudukanya dalam organisasi, secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang bersifat saling mendukung dan saling melengkapi satu sama lain dibawah satu koordinasi kendali pimpinan tertinggi dalm organisasi tersebut. 27 Satuan pimpinan adalah wewenang tertinggi serta penanggung jawab terakhir organisasi, dinamakan satuan pimpinan apabila terdiri dari beberapa orang pejabat sebagai kesatuan dan disebut pimpinan apabila hanya terdiri dari seorang pejabat. Satu kesatuan haluan adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas untuk
26 27

Sutarto, Dasar-Dasar Organisasi, Gunung Aksara, Jakarta,1988, hal 23 . Ibid, hal 45

menerapkan norma, peraturan, kebijaksanaan pokok serta menampung pendapat pendapat masyarakat di lingkungannya. Satuan operasi adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas pokok yang langsung berhubungan dengan tercapainya tujuan yang pengurusanya mendasarkan pada berbagi azas ekonomi. Satuan

kontrol adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas mengkontrol satuan lain agar sesuai dengan perencanaan, kebijaksanaan, pedoman, serta berbagai ketentuan lain yang sudah ditetapkan. Satuan konsultasi adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas memberikan bantuan keahlian dengan jalan memberikan nasehat, saran atau pertimbangan tentang masalah tertentu kepada satuan lain. Dalam Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No Pol : Kep / 54/ X / 2002, tentang Organisasi Tata Kerja Satuan-Satuan Organisasi Polri pada tingkat kewilayahan telah diatur oraganisasi tata kerja mulai dari tingkat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) sebagi kesatuan pusat nasional secara berjenjang ke bawah baik di tingkat Kepolisian Daerah (Polda) sampai Ketingkat Kepolisian Resort (Polres) dan Kepolisian Sector (Polsek). Dalam pelaksanaan tugas operasional untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, dilaksanakan oleh satuan kerja kepolisian sesuai dengan tingkat organisasi yang mewilayahi suatu daerah tertentu sebagai wilayah hukum, Mabes Polri melaksanakan tugas pengawasan dan pembinaan meliputi keseluruhan wilayah Negara kesatuan republik Indonesia, Polda mewilayahi suatu daerah setingkat propinsi, Polres mewilayahi daerah setingkat kabupaten, Polsek mewilayahi daerah setingkat kecamatan.

3. Tugas dan Wewenang Polri Berdasarkan Undang-undang no.2 tahun 2002 yaitu tentang Kepolisian Negara Tugas dan Wewenang POLRI adalah : Tugas POLRI berdasarkan pasal 13 UU no 2 tahun 2002. Di dalam pasal 13 UU no 2 tahun 2002 di sebutkan bahwa Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah : a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

b. Menegakkan hukum;dan c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Rumusan ketiga tugas pokok tersebut diatas bukan menggambarkan adanya suatu hierarkhi, namun demikian ketiga-tiganya sama penting. Substansi tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat bersumber dari kewajiban umum kepolisian untuk menjamin keamanan umum, sedangkan substansi tugas pokok menegakkan hukum bersumber dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang memuat tugas pokok POLRI dalam kaitannya dengan peradilan pidana contohnya saja KUHP, KUHAP dan berbagai peraturan perundang-undangan yang lain. Berkaitan dengan substansi tugas pokok POLRI yang lainya yaitu memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat hal ini sebagai suatu bentuk konsekuensi POLRI sebagai fungsinya yaitu sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara yang pada hakekatnya bersifat pelayanan

publik (public service). Pada pasal 14 UU no 2 tahun 2002 disebutkan mengenai tugas yang harus dilaksanakan oleh POLRI . Dalam pasal 14 disebutkan bahwa : (1). Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pasal 13 , kepolisian negara Republik Indonesia bertugas : a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan; c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat, serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan; d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional; e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum; f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk pengamanan swakarsa; g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya; h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian; i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia; j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/ atau pihak yang berwenang; k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentinganya dalam lingkup tugas kepolisian; serta l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 14 UU no 2 tahun 2002 merupakan kelompok tugas POLRI yang bersumber dari substansi tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dan menggambarkan fungsi-fungsi teknis dalam rangka pelaksanaan kewajiban umum kepolisian.

4. Tugas Polri Dalam Tindak Pidana Dalam rangka menyelenggarakan tugas di bidang proses tindak pidana, Kepolisian Republik Indonesia berwenang untuk : a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; b. Melarang setiap orang untuk memasuki atau meninggalkan tempat kejadian perkara guna kepentingan penyidikan; c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan; d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dalam pemeriksaan perkara; h. Mengadakan penghentian penyidikan; i. Menyerahkan berkas perkara pada jaksa penuntut umum; j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi dalam keadaan mendesak untuk mencegah dan menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana; k. Memberikan petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidik pegawai negeri sipil itu untuk diserahkan kepada jaksa penuntut umum; l. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum yang bertanggung jawab; 1. Pengertian penyidik Sebelum suatu penyidikan dimulai dengan konsekuensi penggunaan upaya paksa, terlebih dahulu perlu ditentukan secara cermat berdasarkan segala data hasil penyelidikan bahwa peristiwa yang semula diduga sebagai suatu tindak pidana. Terhadap tindak pidana yang terjadi itu dapat dilakukan penyidikan,

dengan demikian penyelidikan merupakan tindak pidana lanjut dari suatu penyelidikan. Pelaksanaan tugas-tugas penyidikan ditangani oleh pejabat penyidik atau penyidik pembantu sesuai dengan kewenangan masing-masing sebagai mana diatur dalam Pasal 7 dan Pasal 11 KUHAP. Dalam Pasal 1 angka 1 KUHAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidik adalah pejabat polisi Negara atau pejabat negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Dalam pelaksanaan lebih lanjut pada pasal 2 PP nomer 27 1983, tentang syarat-syarat penyidikan adalah sebagai berikut : 1) Polisi Negara Republik Indonesia yang berpangakat sekurang-kurangnya pembantu letnan dua polisi yang sekarang disebut Ajun Inspektur Dua Polisi (AIPDA). 2) Pejabat pegawi negri sipil tertentu dengan pangkat sekurang-kurangnya pengatur muda tingkat 1 (Golongan 11/b) atau yang disamakan dengan itu. 3) Apabila di satu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik maka komandan sektor kepolisian yang berpangkat bintara dibawah pembantu AIPDA, karena jabatannya adalah penyidik. 4) Penyidik polisi Negara ditunjuk oleh kepala kepolisian Republik Indonesia, wewenang penunjukan tersebut dapat dilimpahkan kepada kepala pejabat kepolisian lain.

5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) ditunjuk oleh mentri kehakiman dengan pertimbangan dari jaksa agung dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Dalam pelaksanaan tugas seorang penyidik memiliki kewenangan sesuai dengan Pasal 7 KUHAP yang mana dijelaskan bahwa seorang penyidik memiliki kewenangan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. Menerima tindakan pertama pada saat ditempat kejadian. Menyuruh berhenti tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. Melakukan penangkapan, penggeledahan, penahanan, dan penyitaan. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksa perkara. Mengadakan penghentian penyidikan. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum yang bertanggung jawab.

Disamping pejabat penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 10 KUHAP ditantukan juga tentang pejabat penyidik pembantu. Sesuai dengan ketentuan Pasal 3 PP nomor 27 tahun 1983 ditentukan bahwa penyidik pembantu adalah :

1. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat sersan dua polisi yang sekarang diganti Brigadir Polisi dua (BRIPDA). 2. Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diungkapkan Kepolisian Negara Republik Indonesia sekurang-kurangnya berpangkat pengatur muda ( gol 11/a ). 3. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1 huruf a dan b diangkat oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia atas usul komandan atau pimpinan kesatuan masing-masing. Penyidik pembantu merupakan pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia yang karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan yang diatur dalam undang-undang. Dalam pelaksanaan penyidikan terhadap suatu perkara pidana yang ditangani oleh serorang penyidik pembantu dibutuhkan penyelidikan yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi, yang mana dapat dijelaskan bahwa penyelidikan menurut Pasal 1 angka 5 KUHAP adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menemukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Kegiatan yang dilaksanakan penyelidik adalah sebagai berikut : 1. Mencari dan mengumpulkan informasi berkenaan dengan laporan atau pengaduan tentang benar dan tidaknya telah terjadi tindak pidana.

2. Mendapatkan keterangan kejelasan tersangka dan atau barang bukti dan saksi secara lengkap supaya dapat diadakan penindakan dan pemeriksaan. Sedang menururt M. Yahya Harahap mengatakan bahwa penyelidikan merupakan tindakan tahap pertama permulaan penyelidikan. Orang yang melakukan penyelidikan atau dengan kata lain penyidik adalah orang yang melakukan menyelidiki suatu peristiwa atau kejadian guna mendapatkan kejelasan mengenai peristiwa atau kejadian. 28 Sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik yang diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti pelaku tindak pidana. 29 Untuk menggambarkan pengertian kata penyidikan A. Hamzah mengatakan KUHAP membedakan penyidikan dan penyelidikan, penyidikan sejajar dengan opsporing atau investigation. Pembedaan kedua istilah tersebut rupanya tidak didasarkan kepada pengertian biasa, pengertian biasa menunjukan bahwa penyidikan berasal dari kata SIDIK yang mendapat sisipan EL menjadi selidik artinya sama dengan SIDIK hanya pengertiannya banyak menyidik. 30 Kalau dilihat secara yuridis bahwa penyidikan sesuai dalam Pasal 1 ayat 2 KU HAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini untuk mencari serta

M. Yahya Harahap Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHP,Pustaka kartini, Jakarta. 1988. Hal 99. 29 Kamus besar bahasa Indonesia, balai pustaka. 1989. Hal . 837 30 A. Hamzah Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Galia Indonesia. 1978. Hal 121.

28

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan menemukan tersangka. Mengingat pentingnya penyidikan dalam kaitannya penyidikan segala konsekuensinya (terutama ganti rugi dan rehabilitasi) maka harus mendapat perhatian dan ketelitian dari pejabat penyelidik dalam melaksanakan tugastugas penyelidikan dimaksud : 1. Penyelidikan sebagai rangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa sebagai suatu tindak pidana atau bukan merupakan suatu tindak pidana memerlukan pengetahuan yang memadai, sebagaimana kita ketahui bahwa tidak semua peristiwa yang tampak sebagai tidak pidana. Untuk dapat menentukan suatu tindak pidana bukan merupakan hal yang mudah untuk menetapkan suatu peristiwa atau perbuatan sebagai suatu kegiatan tindak pidana seseorang penyidik disamping memiliki pengetahuan dan pengalaman dari segi teknis Reserse kriminal ia harus pula memiliki pengetahuan dan hukum pidana yang cukup memadai sesuai dengan bidang tugasnya sebagai seorang penyidik. 2. Penyidik sebagai suatu usaha untuk menentukan dapat tidaknya dilakukan terhadap suatu tindak pidana, setelah seseorang penyidik mendapat kepastian bahwa suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana, benar-benar merupakan suatu tindak pidana sehingga dapat dilakukan penyidikan secara singkat dapat dikatakan bahwa pada tahap penyidikan segala data dan fakta yang diperlukan sebagai penyidikan tindak pidana tersebut harus dapat dikumpulkan sedemikian rupa, sehingga hasil penyelidikan itu didapatkan kepastian tentang bahwa peristiwa semula diduga sebagai tindak pidana adalah benar-benar merupakan

suatu tindak pidana dan terhadap tindak pidana tersebut dapat dilakukan penyelidikan tindak pidana telah terkumpul melalui usaha penyelidikan. Dengan adanya pejabat penyelidikan dalam pelaksanaan tugas penyelidikan itu penyidikan yang akan dilakukan nantinya akan mudah karena sejak dini pejabat penyidik telah memperoleh gambaran tentang tindak pidana yang akan disidik. a. Penyidikan Tindakan Pidana Dalam melaksanakan penyidikan suatu tindak pidana yang mana tindak pidana dapat dilaksanakan penyidikanya setelah diketahui bahwa suatu peristiwa yang terjadi merupakan tindak pidana, sedangkan suatu peristiwa dan tindak pidana dapat diketahui melalui : 1. Laporan Yang mana laporan diterima dari seseorang baik tertulis maupun lisan yang dicatat oleh penyidik pembantu atau juga oleh penyidik dan setelah selesai permainan laporan, kepada pelapor diberikan surat tanda penerimaan laporan. 2. Pengaduan Pengaduan bisa dilakukan baik secara lisan atau tertulis kepada Polri yang disertai dengan permintaan untuk menindak menurut hukum terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana aduan (delik aduan relative) dari pihak yang dirugikan. 3. Tertangkap Tangan a. Dalam hal tertangkap tangan, setiap petugas Polri tanpa surat perintah dapat dilakukan tindakan :

1. Penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan melakukan tindakan lain menurut hukum yang tanggung jawab. 2. Segera melakukan tindakan pertama di TKP dan setelah itu memberitahukan dan atau menyerahkan tersangka beserta atau tanpa barang bukti kepada petugas Polri yang berwenang melakukan penanganan selanjutnya. b. Petugas Polri yang berwenang apabila menerima penyerahan tersangka beserta atau tanpa barang bukti dan anggota Polri masyarakat wajib : 1. 2. 3. 4. Membuat laporan polisi Mendatangi TKP dan melakukan tindakan yang diperlukan Membuat berita acara pemeriksaan atas setiap yang dilakukan Jika diketahui langsung oleh petugas Polri dalam satu tindakan

pidana diketahui langsung oleh petugas Polri tersebut wajib segera melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan wewenang masing-masing kemudian membuat laporan polisi dan berita acara tentang tindakan-tindakan yang dilakukannya guna penyelesaian selanjutnya. b. Kegiatan Penyidikan Setelah diketahui bahwa suatu peristiwa yang terjadi diduga merupakan tindak pidana, segera dilakukan penyidikan melalui kegiatan-kegiatan penyidikan, penindakan pemeriksaan serta penyelesaian dan penyerahan berkas perkara. 1. Penyelidikan :

Dalam proses penyidikan yang berwenang melakukan penyelidikan adalah setiap pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang khusus di tugaskan untuk itu, penyelidikan dilaksanakan berdasarkan pada : a. Berbagai informasi atau laporan yang diterima maupun diketahui langsung oleh penyelidik atau penyidik b. Laporan Polisi c. Berita Acara Pemeriksaan TKP d. Berita Acara Pemeriksaan Tersangka Dan Saksi. Dalam penyelidikan yang dilakukan oleh petugas Polri tersebut bertujuan untuk mencari keterangan-keterangan dan bukti guna menentukan apakah melakukan tindakan pidana atau bukan, dan juga untuk melengkapi keterangan dan bukti-bukti yang telah diperoleh, agar menjadi jelas sebelum dilakukan penindakan selanjutnya, dan disamping itu juga merupakan persiapan pelaksanaan penindakan dan atau pemeriksaan dan yang menjadi sasaran penyelidikan dalam suatu perkara pidana adalah orang, benda atau barang, tempat (termasuk rumah dan tempat tertutup lain), disamping itu penyelidikan dapat dilakukan dengan cara terbuka sepanjang hal tersebut menghasilkan keterangan-keterangan yang

diperlukan dan dilakukan secara tertutup apabila terdapat kesulitan dalam mendapatkan, dalam pelaksanaan penyelidikan secara terbuka penyelidik wajib menunjukkan tanda pengenal serta menggunakan tehnik wawancara yang benar dan begitu juga dalam melaksanakan penyelidikan secara tertutup penyelidik menggunakan tehnik-tehnik observasi, undercover, survelaince yang benar

hindarkan sikap dan tindakan yang dapat merugikan pelaksanaan penyelidikan selanjutnya. 2. Penindakan Penindakan adalah setiap tindakan hukum yang dilakukan oleh penyelidik atau penyidik pembantu terhadap orang atau benda atau barang yang ada hubungannya dengan tindak pidana yang terjadi, yang mana tindakan hukum tersebut diantaranya berupa : pemanggilan tersangka dan saksi-saksi,

penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan. 3. Pemeriksaan Pemeriksaan merupakan kegiatan untuk mendapatkan keterangan, kejelasan dan keindentikan tersangka dan atau saksi dan atau barang bukti didalam tindak pidana tersebut menjadi jelas dan dituangkan dalam berita acara pemeriksaan, dan dalam pemeriksaan ini yang berwenang melakukan pemeriksaan adalah penyidik atau penyidik pembantu. Pemeriksaan dilakukan atas dasar : Laporan Polisi, laporan hasil penyelidikan yang dibuat oleh petugas atas perintah penyidik atau penyidik pembantu, berita Acara Pemeriksaan di TKP, Penangkapan, penahanan penggeledahan dan penyitaan, petunjuk dari penuntut umum untuk melakukan pemeriksaan tambahan, dalam hal saksi atau tersangka berada di luar wilayah hukum penyidik pembantu dari kesatuan dimana saksi atau tersangka berada. 4. Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara merupakan kegiatan akhir dari proses penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik atau penyidik pembantu, yang mana kegiatan dalam penyelesaian dan penyerahan berkas perkara meliputi : pembuatan resume yang mana resume merupakan kegiatan

penyidik untuk menyusun isi dan kesimpulan berdasarkan hasil penyelidik tindakan pidana yang terjadi dan dalam pembuatan resume tersebut harus memenuhi persyaratan formal dan persyaratan materiil serta persyaratan penulisan yang telah ditentukan. 31 Setelah semua unsur terpenuhi sehingga dilanjutkan dengan pemberkasan yang mana pemberkasan merupakan kegiatan untuk memberkas isi berkas perkara dengan susunan dan syarat-syarat pengikatan serta penyegelan tertentu dan siap berkas tersebut diserahkan kepada jaksa penuntut umum untuk dilakukan penuntutan. Setelah kita ketahui beberapa pengertian penyelidik dan penyidik pembantu yang telah terurai diatas secara umum kita lanjutkan dengan pengertian tindak pidana dan kejahatan menurut Miljinto yang dimaksud dengan pengertian tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang mana disertai dengan ancaman (saksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang atau diancam dengan pidana asal saja dalam larangan di tunjukkan dalam perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang) sedangkan pidananya ditentukan pada orang yang menimbulkan kejadian itu. c. Penanganan Kasus Tentang bentuk penanganan permasalahan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan sebagai berikut : a. Tindakan Preventif
Harun M Husein Penyidikan dan Penuntutan dalam tindak pidana, Rineka Cipta. Jakarta. Th 1991. h 180-182
31

Merupakan usaha dan tindakan awal yang dilakukan dengan maksud untuk menghindarkan terjadinya suatu kejahatan, peristiwa kejahatan dan pelanggaran hukum / peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Usaha dan kegiatan dilakukan adalah untuk memelihara keselamatan orang, benda, masyarakat termasuk memberikan perlindungan dan pertolongan serta mengusahakan ketaatan warga masyarakat terhadap peraturan yang berlaku. b. Tindakan Represif : Merupakan upaya untuk melakukan tindakan pada setiap gelatan ancaman yang terjadi, membuat terang setiap tindak pelanggaran / kejahatan untuk ditangani sesuai dengan tata cara ketentuan hukum yang berlaku. Tindakan represif tiada lain merupakan upaya untuk melakukan identifikasi terhadap setiap gelagat ancaman, membuat terang suatu idikasi perbuatan pelanggaran pidana atau kejahatan, mengamankan hal-hal yang berkaitan dengan orang, benda ataupun informasi, melakukan penggalangan berkaitan dengan orang, benda ataupun informasi, melakukan penggalangan terhadap potensi yang mendukung atau yang akan merugikan tugas-tugas Polri serta melakukan tindakan untuk mengungkapkan setiap bentuk pelanggaran beserta mata rantainya melalui kegiatan penyidikan perkara sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang diatur oleh Undang-Undang. Kegiatan tugas yang bersifat represif dilakukan dalam bentuk : 1. Penyidikan yaitu kegiatan-kegiatan mencari dan mengumpulkan bahan keterangan / informasi serta mendapatkan kejelasan suatu laporan / pengaduan

atau suatu gelagat terjadinya tindak pidana / pelanggaran sehingga dapat dilakukan penindakan hukum dan pemeriksaan. Yang menjadi sasaran penyelidikan adalah : a. b. Orang, sebagai saksi atau tersangka Benda / barang yang memiliki kaitan secara langsung atau tidak

langsung terhadap peristiwa pidana atau pelanggan. c. Tempat yang merupakan lokasi dimana terjadinya kejahatan atau

pelanggaran serta tempat-tempat lain yang berkaitan dengan peristiwa kejahatan / pelanggaran tersebut. 2. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti itu akan membuat terang a.Tindakan Pertama Di Tempat Kejadian Dalam praktek tindakan pertama di tempat kejadian tersebut di kenal dengan istilah tindakan pertama di TKP (tempat kejadian perkara). Menurut PAF. Lamintang yang dimaksud dengan tempat kejadian itu adalah dimana telah dilakukan sesuatu tindak pidana, yang dimaksud tindakan pertama di tempat kejadian melakukan segala macam tindakan pertama di tempat kejadian melakukan segala macam tindakan yang oleh penyidik telah dipandang perlu. b. Pemanggilan Yaitu pemanggilan tersangka dan saksi di Kantor polisi dengan maksud untuk dimintai keterangan berkaitan dengan suatu perkara pidana / pelanggaran dalam suatu pemeriksaan penyidik.

c. Penangkapan Penangkapan hanya dapat dikenakan kepada seseorang yang berdasarkan bukti permulaan yang cukup telah disangkal telah melakukan tidak pidana. Dengan kata lain penangkapan hanya dikenakan terhadap seseorang yang berdasarkan bukti permulaan yang cukup diduga telah melakukan tindak pidana. d. Penahanan Untuk kepentingan penyidikan suatu tindak pidana penyidik atau penyidik pembantu atas perintah penyidik dapat melakukan penahanan, penahan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 20 ayat 1 KUHAP berlaku paling lama 20 hari. e. Penggeledahan : Dalam pasal 32 KUHAP ditentukan untuk kepentingan-kepentingan penyidik, penyidik dapat melakukan penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau badan menurut tata cara yang ditentukan Undang-Undang. f. Penyitaan Adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan untuk menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak maupun tidak bergerak, benda berwujud maupun tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan. 32 Dalam rumusan Bab II Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia No. Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, ditetapkan tentang tugas wewenang Polri yaitu : tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia

adalah (a). memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, (b). menegakkan


32

Ibid, hal 104-145

hukum dan (c). memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Lebih lanjut dalam hal penegakan hukum dijelaskan dalam Pasal 14 ayat (1) point g, yaitu dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dalam Pasal 13 Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas untuk melakukan penyidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan dengan orang asing, dalam Pasal 15 ayat (2) point i, dijelaskan bahwa : Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya berwenang untuk melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait. 33 Dari esensi pengertian dalam uraian dan pasal-pasal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penanganan kasus yang berupa penegakan hukum adalah tugas wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 untuk melakukan penegakan hukum melalui tindakan tugas penyelidikan terhadap semua tindakan pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik terhadap orang Indonesia sendiri maupun orang asing yang di wilayah Indonesia. C. TEORI UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN Penanggulangan adalah proses, cara perbuatan menanggulangi. 34 Jadi penanggulangankejahatan adalah proses, cara perbuatan menanggulangi

Undang-Undang No 2 Th 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Departemen pendidikan dan kebudayaan , Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1996. Hal 1005.
34

33

kejahatan. Penanggulangan kejahatan itu tidak semata-mata menghukum atau menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku pelanggaran hukum pidana

melainkan untuk memberikan perlindungan hak masyarakat dari gangguan apapun bentuknya termasuk kejahatan. Penanggulangan kejahatan meliputi kegiatan mencegah timbulnya kejahatan sebelum terjadi, di Indonesia diprakarsai oleh Kepolisian Republik Indonesia. 35 Namun efektifitas

penanggulangankejahatan menurut Perry yang dikutip Kemal Darmawan hanya akan mungkin dapat dicapai jika terdapat keikutsertaan masyarakat secara luas yang meliputi kesadaran dan keterlibatan nyata. 36 Walter C. Reckless meletakkan jajaran kepolisian di urutan pertama agar penanggulangan kejahatan oleh pemerintah dapat berhasil, dengan pembentukan sistem dan organisasi kepolisian yang baik. Selanjutnya diikuti pelaksanaan peradilan yang efektif, hukum yang berwibawa, pengawasan dan pencegahan yang terkoordinir, serta partisipasi masyarakat. 37 Keiser memberikan batasan tentang pencegahan kejahatan: sebagai sesuatu usaha yang meliputi segala tindakan yang mempunyai tujuan yang khusus untuk meprkecil luas lingkup dan kekerasan suatu pelanggaran, baik melalui pengurangi kesempatan-kesempatan untuk melakukan kejahatan ataupun melalui usaha-usaha pemberian pengaruh terhadap orang-orang yang secara potensial dapat menjadi

35 36

Soedjono Dirdjosisworo (III), Sinopsis Kriminologi, mandar maju, Bandung, 1973, hal 157 Moh. Kemal Darmawan, Strategi Pencegahan Kejahatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1994. Soedjono Dirdjosisworo (I), Sosiologi Kriminologi, Sinar Baru, Bandung, 1984, ha l38

Hal 102
37

pelanggaran serta kepada masyarakat umum. 38 Sehingga upaya pencegahan pada dasarnya terdiri dari 4 metode yakni preventif, represif, reformatif dan pre-emptif. 1. Upaya pencegahan secara preventif Cara ini diarahkan kepada usaha pencegahan terhadap kejahatan yang pertama kali mencegah supaya kejahatan tidak terulang. Upaya ini dilakukan dengan cara menyesuaikan cara pencegahan dengan jenis kejahatan dan penyebab kejahatan yang mendorong terjadinya kejahatan. Misalnya wajib kunjung yang dilakukan aparat penegak hukum untuk memberikan informasi dan memberikan penyuluhan. 39 Upaya pencegahan kejahatan yang ditunjukan kepada factor-faktor yang memungkinkan timbulnya kejahatan terbagi 2 yakni : 40 a. Sistem Moralistik Dilakukan dengan pendekatan melalui penyuluhan dan penerangan agar warga masyarakat tidak berbuat kejahatan atau menjadi korban kejahatan. Dengan pembianaan mental spiritual, yang bisa dilakukan oleh ulama, pendidik, juru penerang hukum dan lain-lain. Contohnya melalui proses keluarga sadar hukum yang dilakukan oleh kejaksaan, Departemen Kehakiman, dakwah kuliah subuh, kegiatan sosial yang dilakukan oleh organisasi keagamaan dan lembaga sosial lainnya. b. Sistem Obolisionistik

38 39

Mohammad Kemal Darmawan, Op.Cit, hal 12 Soedjono Dirdjosisworo (V), Penanggulangan Kejahatan, Alumni, Bandung, 1975, hal 55 40 Soedjono dirdjosisworo (III), Op.Cit, hal 157

Pendekatan penanggulangankriminalitas dengan upaya-upaya lanjutan yang bersifat konsepsiaonal yang harus dilakukan dengan dasar penelitian ilmu pengetahuan seperti kriminologi, sosiologi dan lain-lain. Dan menggali sebab musabab timbulnya suatu kejahatan tertentu dari berbagai faktor yang berhubungan misalnya mekanisme peradilan dan partisipasi masyarakat untuk menanggulangi juvenile-deliquency. 41 Keiser dalam dalam bukunya Kemal Dermawan membagi strategi pencegahan ke dalam 3 kelompok berdasar pada model pencegahan kejahatan umum : 42 1. Pencegahan Primer Yakni strategi pencegahan kejahatan melalui bidang sosial, ekonomi dan bidang-bidang lain dari kebijakan umum. Khususnya sebagai usaha untuk mempengaruhi situasi-situasi kriminogenik dan sebab-sebab dasar dari kejahatan. Tujuan utamanya untuk menciptakan kondisi- kondisi yang sangat memberikan harapan bagi keberhasilan sosialisasi untuk setiap anggota masyarakat. Dengan target masyarakat secara keseluruhan. Contohnya melauai pendidikan,

perumahan, ketenagakerjaan, rekreasi 2. Pencegahan Sekunder Hal yang mendasar dalam metode pencegahan ini dapat ditemui dalam kebijakan pidana dan pelaksanaanya. Dapat ditmbahkan bahwa pencegahan umum dan pencegahan khusus meliputi identifikasi dini dari kondisi kriminogenik dan pemberian pengaruh pada kondisi-kondisi tersebut. Peran

41 42

Ibid, hal 157 Mohammad Kemal Darmawan, Op.Cit, hal 12

preventive dalam pencegahan sekunder dilakukan oleh polisi, begitu pula pengawasan dari mass media. Dengan sasaran utama orang-orang yang sangat mungkin melakukan pelanggaran. 3. Pencegahan Tertier Pencegahan ini memberikan perhatian pada pencegahan terhadap residivisme melalui polisi dan agen-agen lain dalam sistem peradilan pidana. Segala tindakan pidana berkisar dari sanksi sanksi peradilan informal dan bayar utang bagi korban atau juga sebagai perbaikan pelanggar atau hukuman penjara. Target utamanya orang-orang telah melanggar hukum. Bebrapa ahli berpendapat bahwa pencegahan kejahatan haruslah lebih bersifat teoritis praktis, kemudian diputuskan untuk membagi pencegahan kejahatan kedalam 3 pendekatan yang saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama lain, antara lain: 43 a. Pendekatan sosial atau sosial crime prevention Segala kegiatannya bertujuan untuk menumpas akar segala penyebab kejahatan dan kesempatan untuk melakukan pelanggaran. Sasarannya masyarakat atau kelompok kelompok yang secara khusus mempunyai resiko untuk melakukan pelanggaran. b. Pendekatan situsional atau situsional crime prevention Perhatian utamanya adalah mengurangi kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan pelanggaran. c. Pendekatan kemasyarakatan atau community based crime prevention

43

Ibid, hal 17

Tujuannya untuk meperbaiki kapsitas masyarakat untuk mengurangi kejahatan dengan jalan meningkatkan kapasitas mereka untuk menggunakan control sosial informal. Pelaksanaan preventif polisi meliputi 2 hal, yakni : 44 1. pencegahan yang bersifat phisik dilakukan dengan 4 kegiatan pokok yakni mengatur, menjaga, mengawal dan patroli. 2. pencegahan yang bersifat pembinaan dilakukan dengan kegiatan penyuluhan, bimbingan, arahan, sambung, anjangsana untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan taat hukum serta memiliki daya cegah tangkal atas kejahatan. 2. Upaya pencegahan secara represif Dilakukan apabila kejahatan ini sudah terjadi dimasyarakat. Tujuannya untuk mengembalikan ketertiban, ketentraman dimasyarakat setelah terganggu dengan kejahatan yang telah terjadi. Pihak yang dominan melaksanakan pemberantasan ini adalah para penegak hukum antara lain kepolisian, kejaksaan, pengadilan. Disamping untuk memberantas kejahatan yang terjadi di masyarakat, juga diarahkan kepada pelaku kejahatan tersebut. Misalnya dengan memberikan arahan, masukan tentang kesadaran hukum kepada pelaku kejahatan. 45 Menurut Walter C. Reckless sebagaimana dikutip oleh Soejono, konsepsi umum dalam penanggulangan kriminalitas yang berhubungan dengan mekanisme peradilan pidana dan partisipasi masyarakat secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut :

44 45

Kunarto, Perilaku Organisasi Polri, Cipta Manuggal, Jakarta, 1997, hal 112 Soedjono Dirdjosisworo (V), Op.Cit, hal 55

a. Peningkatan dan pemantapan aparatur penegak hukum, meliputi pemantapan organisasi, personil dan sarana sarana untuk menyelesaaikan perkara pidana. b. Perundang undangan yang dapat berfungsi menganalisa dan membendung kejahatan dan mempunyai jangkauan ke masa depan. c. Mekanisme peradilan pidana yang efektif dan memenuhi syarat syarat cepat, tepat, murah dan sederhana. d. Koordinasi antara penegak hukum dan aparatur pemerintahan lainnya yang berhubungan untuk meningkatkan dayaguna dalam penanggulangankriminalitas. e. Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangankriminalitas. 46 3. Upaya pencegahan secara reformatif Upaya peanggulangan yang ditujukan untuk merubah, memperbaiki perilaku penjahat dan kejahatan. Ada 2 upaya penanggulanganyang bersifat reformatif : a. Reformatif Dinamis Upaya dinamis berkaitan dengan bagaimana merubah penjahat dari kebiasaan yang tidak baik. Bentuknya berupa penjatuhan pidana yang tepat bagi pelaku tindak pidana, misalnya dengan menggunakan cara moralistik serta pemberian pendidikan formal untuk narapidana di lembaga permasyarakatan. b. Reformatif Klinis Upaya klinis berkaitan dengan pengobatan pelaku kejahatan yang disesuaikan dengan jenis kejahatannya. Sebab pembinaan narapidana tidak selalu harus dilakukan di Lembaga Permasyarakatan, misalnya pembinaan terhadap pelaku kejahatan yang mengalami kejiwaan sebaiknya dilakukan di rumah sakit jiwa.

46

Abdulsyani, Sosiologi Kriminalitas, Remadja Karya, Bandung, 1987, hal 135

4. Upaya pencegahan secara pre-emptif Ialah bentuk upaya penanggulangan yang sifatnya edukatif, dengan memasuki tatanan atau materi pendidikan. Tujuannya untuk mencegah sedini mungkin agar orang tidak melakukan kejahatan. Misalnya dengan mealakukan sosialisasi rambu lalu lintas di playgroup atau di TK (taman kanak - kanak).

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode pendekatan Penulisan skripsi ini didasarkan pada metode pendekatan yuridis sosiologis. Pendekatan yuridis mempunyai arti bahwa penelitian ini akan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam segi hukum dan sistematika lisan 47 . Dalam hal ini menelaah peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana penadahan dan POLRI kemudian dihubungkan dengan realita penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian yang dilakukan oleh POLRI sebagi upaya untuk meminimalisir tindak pidana penadahan tersebut. Sedangkan pendekatan sosiologis dalam penelitian ini adalah suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan nyata di masyarakat atau lingkungan masyarakat dengan maksud dan tujuan untuk menemukan fakta (fact-finding) yang kemudian dilanjutkan dengan menemukan masalah (problem-finding) yang menuju pada identifikasi masalah (problem-identification) 48 . Pendekatan

sosiologis dilakukan untuk mengetahui secara jelas modus-modus yang digunakan dalam melakukan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, dan untuk mengetahui upaya-upaya serta kendala Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

Ronny Hanintijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jumetri, Ghalia Indonesia, Semarang, 1989, hal 34.
48

47

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI (UI Press), Jakarta, 1986, hal 10.

B. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Kepolisian Resor (Polres) Malang. Sebab, dalam wilayah hukum Polres Malang merupakan wilayah yang rawan akan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, sesuai dengan hasil pra survey yang sudah dilakukan di wilayah Polres Malang mencatat setidaknya lebih dari 50 (lima puluh) kasus pencurian telah terjadi tiap tahunnya. Selain itu juga ada indikasi di wilayah Polres Malang merupakan tempat bagi para pelaku pencurian kendaraan bermotor roda dua untuk menjualnya ke penadah yang terdapat di wilayah Hukum Polres Malang. C. Jenis dan sumber data Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu : 1. Data Primer Merupakan data yang berupa informasi yang diperoleh langsung oleh peneliti dari responden. 49 Data tersebut berupa informasi mengenai modus-modus apa saja yang digunakan dalam tindak pidana penadahan, upaya-upaya serta kendalakendala polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian tersebut. 2. Data Sekunder Merupakan data pendukung dan pelengkap bagi data primer 50 . Yaitu suatu informasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti diperoleh dari studi

49 50

Sumadi Surya Subrata, Metodologi Penelitian, CV Rajawali, Jakarta, 1984, hal 24. Ibid.

kepustakaaan dan dokumentasi antara lain data statistik yang terdapat di Polres Malang mengenai tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, hasil penelitian, skripsi, tesis, desertasi. Sumber Data a. Data Primer Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari Polres Malang khususnya di bagian satuan Reskrim. b. Data Sekunder Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya Malang, Pusat Dokumentasi Ilmu Hukum (PDIH) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Situs-situs internet, literatur pustaka Polres Malang. D. Teknik pengumpulan data Dalam penelitian ini, data yang digunakan diperoleh penulis dikumpulkan dengan cara terjun langsung pada obyek penelitian (field research) dimana dengan cara ini diharapkan diperoleh data yang obyektif. Cara-cara yang dipergunakan untuk memperoleh data menggunakan dua cara antara lain : 1. Teknik pengumpulan data primer Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara, yaitu suatu bentuk komunikasi verbal. Jadi semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling

berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilakukan melalui telepon 51 . Teknik wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik gabungan, yaitu wawancara berencana dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) dan wawancara bebas yang tetap menggunakan pedoman wawancara namun dengan

pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan Petugas Reskrim Polres Malang. 2. Teknik pengumpulan data sekunder Teknik memperoleh data sekunder dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research), yaitu suatu kegiatan yang berusaha mengumpulkan berbagai buku-buku, artikel, makalah, internet, serta peraturan perundang-undangan dan hasil-hasil penelitian lainnya yang berasal dari perpustakaan (Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum), Perpustakaan Pusat Brawijaya. Bahan-bahan tersebut berkaitan langsung dengan permasalahan mengenai tindak pidana peandahan kendaraan bermotor hasil pencurian . E. Populasi, Sampel dan Responden 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama 52 . Populasi dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan penelitian mengenai modus-modus tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian yang dalam hal ini adalah seluruh anggota polisi Polres Malang. 2. Sampel

S. Nasution, Metode Research Edisi Pertama, Jemmars, Bandung, 1992, hal 131. Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (suatu pengantar), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal 121.
52

51

Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari populasi 53 .

Dalam

penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu penarikan sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subyek didasarkan pada tujuan tertentu. Adapun yang menjadi sampel, yaitu : a. Petugas Reskrim Polres Malang b. Petugas Polantas Polres Malang Dalam sample penelitian ini diambil beberapa responden yaitu : a. Petugas Reskrim Polres Malang yaitu sebanyak 2 responden Dalam hal ini adalah Kasat Reskrim Polres Malang atau yang mewakili Wakasat Reskrim Polres Malang. b. Petugas Polantas Polres Malang sebanyak 1 responden Dalam hal ini adalah Kasat Lantas Polres Malang atau yang mewakili Wakasat Lantas Polres Malang. F. Teknik Analisis Data Dalam melakukan teknik analisis data, peneliti menggunakan metode diskriptif analitis yang digunakan untuk mempermudah pembahasan mengenai modus tindak pidana penadahan kendaraan bernotor hasil pencurian, upaya serta kendala yang dihadapi Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, guna mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian dilapangan.

53

Ibid, hal 36

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Polres Malang Pada penelitain ini penulis melakukan penelitian Polres Malang. Polres Malang merupakan Kepolisian Resor (Polres) yang terletak di pusat Kabupaten Malang yaitu di Jl. A. Yani No 1 Kepanjen Malang diamana Kabupaten Malang sendiri terletak antara 112017, 10,90 Bujur Timur dan 1120,57,00,00 Bujur Timur dan diantara 7044,55,11 Lintang Selatan dan 8026,35,45 Lintang Selatan. Dengan batas wilayah sekitar 3.347,8 Km2 Kabupaten Malang merupakan kabupaten terbesar kedua setelah Kabupatan Banyuwangi. Polres Malang sendiri membawahi 26 institusi Kepolisian Sektor yang berada di setiap kota kecamatan. Sejalan dengan dinamika perkembangan sejarah negara Indonesia dalam era reformasi terjadi perubahan paradigma ketatanegaraan yang menyangkut kedudukan Kepolisian Republik Indonesia yang telah berdiri sendiri berada langsung di bawah presiden. Gagasan itu menjadi wacana pernyataan resmi sejak tanggal 1 April 1999 yang selanjutnya ditetapkan dengan keputusan Majelais Permusyawaratan Rakyat Nomer : VI/MPR/2000 tentang pemisahan Tentara Nasional Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Momentum ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai landasan mengoptimalisasikan dan mendinamiskan peran dan fungsi Polri sebagai pelindung pengayom dan pelayan masyarakat.

Susunan organisasi Polri secara hirarkhis organisasi dan pembagian wilayah lingkungan kerja sesuai dengan pasal 6 dan 7 BAB II Undang undang nomer 2 tahun 2002, tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur mulai di tingkat pusat sampai ke daerah adalah : a. Di tingkat pusat disebut Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) yang mewilayahi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. b. Di tingkat Propinsi disebut Kepolisian Daerah (Polda) mewilayahi seluruh wilayah propinsi. c. Di tingkat wilayah tertentu dalam suatu wilayah Propinsi dibentuk Kesatuan Kepolisian Wilayah (Polwil) mewilayahi beberapa wilayah hukum Polres dalam satu Polda. d. Di tingkat wilayah kota atau kabupaten disebut Kepolisian Resor (polres) dan Kepolisian Resor Kota (Polresta). e. Di tingkat kecamatan disebut Kepolisian Sektor (Polsek) yang mewilayahi seluruh wilayah kecamatan. 1. Struktur Organisasi Polres Malang Organisasi Polres Malang disusun dalam komposisi yang tergabung dalam unsur pimpinan, unsur pembantu, pimpinan / staf pelaksana, unsur pelaksana staf khusus dan pelayanan serta unsur pelaksana utama. Adapun struktur organisasi Polres Malang sesuai dengan keputusan kapolri No. Pol : / 54 / X / 2002 tanggal 17 oktober 2002 di jelaskan melalui bagan sebagai berikut :

Bagan I. Struktur Organisasi Polres Malang KAPOLRES

WAKAPOLRES

BAG OPS

BAG BINAMITRA

BAG MIN

UNIT P3D

BAG BINA MITRA

UR DOKKES

TAUD

SPK

SAT INTEL KAM

SAT RESK RIM

SAT NAR KOB

SAT SAMA PTA

SAT PAM OPSU

SAT LAN TAS

POLSEK

Sumber : Kantor Taud Polres Malang

2. Kedudukan Tugas Dan Fungsi Lebih lanjut penjelasan yang dituangkan pada lampiran C keputusan Kapolri No. Pol : Kep / 54 / X / 2002 tanggal 17 Oktober tentang Organisasi tata kerja kepolisian Negara republik Indonesia, gambaran umum tentang diskripsi organisasi polri setingkat polres termasuk Polres Malang, dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut : a. Tingkat Markas Kepolisisn Negara Rerublik Indonesia resor disingkat Mapolres terdiri dari : 1. Unsur pimpinan a. Kepala polres disingkat Kapolres b. Wakil kepala polres disingkat Waka Polres 2. Unsur pembantu pimpinan dan pelasana staf : a. Bagian operasi disingkat Bagops b. Bagian Pembina kemitraan disingkat Bina mitra c. Bagian administrasi disingkat Bagmin. 3. Unsur pelaksana staf khusus dan pelayanan : a. Unsur telekomunikasi dan informatika disingkat Ur Telematika b. Unit pelaksanaan dan pengaduan dan penegakan disiplin disingkat Unit P3D

c. Tata usaha dan urusan dalam disingkat Taud. 4. Unsur pelaksana Utama : a. Sentra pelayanan kepolisisn disingkat SPK. b. Satuan intelejen keamanan disingkat Intelkam c. Satuan reserse kriminal di singkat satreskrim d. Satuan lalu lintas disingkat satlantas. b. Unsur pelaksana utama kewilayahan Polres, adalah kepolisian Negara Republik Indonesia Sektor, disingkat Polsek. c. Pada wilayah tertentu susunan organisasi polres dapat dikembangkan dengan pembentukan satuan fungsi sebagai berikut : 1. Pada unsur pelaksanaan Staf Khusus dan pelayanan urusan kedokteran dan kesehatan disingkat Urdokkes. 2. Pada unsur pelaksan Utama : a. Satuan narkotika dan obat berbahaya lainnya disingkat Sat Narkoba 3. Tugas Dan Tanggung Jawab a. Unsur Pimpinan 1) Kapolres adalah pimpinan polres yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kapolda. Kapolres bertugas memimpin, meminta dan mengawasi / mengendalikan satuan satuan organisasi dalam lingkungan

Polres serta memberikan saran pertimbangan dan melaksanakan tugas lain sesuai dengan perintah Kapolda. 2) Waka Polres adalah pembantu utama kapolres yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kapolres. Wakapolres bertugas membantu kapolres dalam melaksasnakan tugasnya dengan mengendalikan

pelaksanaan tugas tugas staf seluruh satuan organisasi dalam jajaran Polres, dan dalam batas kewenanganya memimpin Polres dalam hal berhalangan serta melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolres.

b. Unsur pembantu Pimpinan dan Pelaksanaan Staf 1) Bag Ops adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksanaan staf polres yang berada di bawah Kapolres. Bag Ops bertugas menyelenggarakan administrasi dan pengawasan operasional, perencanaan dan pengendalian operasi Kepolisian Pelayanan fasilitas dan perawatan dan pelayanan atau permintan perlidungan saksi / korban kejahatan dan permintaan pengamanan proses peradilan dan pengamanan kasus lainya. 2) Bag ops dipimpin oleh kepala Bag Ops disingkat Kabag Ops yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam Pelaksanaan tugas sehari hari di bawah kendali Waka Polres. Dalam melaksanakan tugas kabagops dibantu oleh - Kepala Sub Pembinaan operasional Kassubag binops.

- Kepala Sub bagian Perawatan tahanan disingkat Kasubag Wattah 3) Bag bina mitra adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksanaan staf Polres yang berada di bawah Kapolres. Bag Bina Mitra bertugas mengatur penyelenggaraan dan mengawasi / mengarahkan pelaksanaan penyuluhan masyarakat dan pembinaan bentuk bentuk pengamanan swakarsa oleh satuan satuan fungsi yang berkompeten membina hubungan kerjasama dengan organisasi / lembaga / tokoh sosial / kemasyarakatan dan instansi pemerintah khususnya instansi Polsus / PPNS dan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi Daerah, dalam rangka peningkatan kesadaran dan ketaatan warga masyarakat pada hukum dan peraturan perundang undangan, pengembangan pengamanan swakarsa dan pembinaan hubungan Polri masyarakat yang kondusif bagi pelaksanaan tugas Polri. Bag Bina Mitra dipimpin oleh Kabag Bina Mitra yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari hari dibawah kendali Waka Polres. 4) Bag Min adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada di bawah Kapolres. Dipimpin oleh kabag min yang bertaggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari hari dibawah kendali Waka Polres. Bertugas menyelenggarakan penyusunan rencana / program dan anggaran, pembinaan dan administrasi personil, pelatihan serta pembinaan dan administrasi logistic. Dalam melaksanakan tugasnya Kabag Min dibantu oleh :

- Kepala Sub Bagian Perncanaan disingkat Kasubag Ren. - Kepala Sub Bagian Personal disingkat Kasubag Pers. - Kepala Sub Bagian Pelatihan disingkat Kasubag Pel. - Kepala Sub Bagian Logistik disingkat Kasubag Log. c. Unsur Pelaksanaan Staf Khusus dan Pelayanan 1) Urelematika adalah unsur pelaksana staf Khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. Bertugas menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi, pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi termasuk informasi kriminal an pelayanan multi media. Urtelematika dipimpin oleh Kepala Urtelematika disingkat Kaur Telematika yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan tugas sehari hari dibawah kendali Waka Polres. 2) Unit P3D adalah unsur pelaksanaan Staf Khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. Bertugas menyelenggarakan pelayanan pengaduan masyarakat tentang penyimpangan perlakuan tindakan anggota Polri dan pembinaan disiplin, tata tertib, termasuk pengamanan internal dalam rangka penegakkan dan pemuliaan profesi. Unit ini dipimpin oleh Kepala Unit P3D disingkat Kanit P3D. 3) Ur Dokkers adalah unsur pelaksanaan staf khusus polres yang berada di bawah Kapolres yang pembentukannya ditetapkan dengan surat Keputusan kapolda setelah memperoleh persetujuan pejabat yang bertanggung jawab

dalam pembinaan organisasi Polri. Ur dokkers bertugas menyelenggarakan fungsi kedokteran kepolisian dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional Polri dan pelayanan kesehatan personil, baik dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia maupun kerja sama dengan pihak lain. Ur Dokkers dipimpi oleh kepala Ur Dokkers disingkat Kaur Dokkers yang bertanggung jawab kepada Kapolres yang dalam pelaksanaan tugas sehari hari dibawah kendali Waka Polres. 4) Taud adalah Unsur pelayanan Polres yang berada dibawah Kapolres. Taud bertugas melaksanakan ketatausahaan dan urusan meliputi korespondensi, ketatausahaan perkantoran, kearsipan, dokumentasi, penyelenggaraan rapat, apel / upacara dan ketertiban. Taud dipimpin kepala taud disingkat Kataud yang bertanggung jawab kepada Kapolres yang dalam pelaksanaan tugas sehari hari dibawah kendali Waka Polres. d. Unsur Pelaksana Utama 1) SPK adalah pelaksana utama polres yang terdiri dari tiga Unit dan disusun berdasarkan pertimbangan waktu (plug/shift) yang berada di bawah Kapolres. SPK bertugas memberikan pelayanan kepolisian kepda

masyarakat yang membutuhkan, dalam bentuk penerimaan dan penanganan pertama laporan / pengaduan, pelayanan permintan bantuan / peertolongan kepolisian, penjagaan markas termasuk penjagaan tahanan dan pengamanan barang bukti yang berbeda di Mapolres dan penyelesaian perkara ringan / perselisihan antar warga, sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan /

kebijakan dalam organisasi Polri. Masing masing Unit SPK dipimpin oleh Kepala SPK disingkat Ka SPK yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaa sehari hari dibawah Kendali Kabag Ops. 2) Sat Intelkam bertugas menyelenggarakan / membina fungsi intelejen bidang keamanan termasuk persediaan dan pemberian pelayanan dalam bentuk surat ijin / keterangan yang menyangkut orang asing, senjata api dan bahan peledak, kegiatan sosial / politik masyarakat dan surat keterangan rekaman kejahatan (SKRK / Crime Record) kepada warga masyarakat yang membutuhkan serta melakukan pengawasan / pengamanan atas

pelaksanaanya. Sat Intelkam dipimpin oleh kepala Sat Intelkam disingkat Kasat Intelkam yang bertanggung Jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan tugas sehari hari dibawah kendali Waka Polres. Sat Intelkam terdiri dari urusan administrasi dan ketatausahaan serta sejumlah unit. 3) Sat Reskrim adalah unsur pelaksana utama pada Polres yang berada dibawah kapolres. Bertugas menyelenggarakan / membina fungsi

penyelidikan dan penyidik tindak pidana dengan memberikan pelayanan / perlindungan khusus kepada korban / pelaku remaja, anak dan wanita serta menyelenggarkan fungsi identifikasi, baik untuk kepentingan penyidikan maupun kepentingan umum dan penyelenggaran koordinasi, pengawasan operasional dan administrasi penyidikan PPNS, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang undangan. Sat Reskrim dipimpin oleh Kepala Sat Reskrim disingkat Kasat Reskrim. Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan serta sejumlah unit.

4) Sat Narkoba adalah unsur pelaksana pada Polres, yang merupakan pemekaran dari Sat Reskrim yang dibawah Kapolres. Sat Narkoba bertugas menyelenggarakan / membina fungsi penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotik dan obat berbahaya (narkoba), termsuk penyuluhan dan pembinaan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban

penyalahgunaan narkoba. Sat Narkoba dipimpin oleh Kepala Sat Narkoba, disingkat Kasat Narkoba. Sat Narkoba terdiri dari Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan serta sejumlah unit. 5) Sat Samapta bertugas menyelenggarakan / membina fungsi kesempatan kepolisian / tugas polisi umum dan pengamanan obyek khusus termasuk pengembalian tindakan pertama di tempat kejadian perkara dan penanganan tindak pidana ringan, pengendalian masa dan pemberdayaan bentuk bentuk pengamanan swakarsa masyarakat dalam rangka pemeliharaan dan ketertiban masyarakat. Sat Samapta dipimpin oleh Kepala Sat Samapta, disingkat Kasat Samapta. Sat Samapta terdiri dari Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan, satuan setingkat kompi atau peleton pengendalian masa, serta sejumlah unit. 6) Sat Lantas adalah Unsur Utama Polres yang berada dibawah Kapolres. Bertugas menyelenggaraan / membina fungsi lalu lintas Kepolisian yang meliputi penjagaan, pengaturan, pengawalan, patrol, pendidikan pengemudi / kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakkan hukum dalam bidang lalu lintas guna memelihara keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Sat Lantas dipimpin oleh Kepala Sat Lantas disingkat

Kasat Lantas, yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari - hari di bawah kendali Waka Polres. Sat Lantas terdiri dari urusan administrasi dan ketatusahaan serta sejumlah unit. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Polres Malang mempunyai satuan yang salah satunya adalah Reskrim. Satuan Reskrim bertugas melakukan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi di seluruh wilayah Polres Malang. Untuk kelancaran dalam melaksanakan tugas dan fungsinya satuan Reskrim dibantu oleh beberapa unit. Separti dalam bagan dibawah ini :

Bagan II. Struktur Organisasi Reskrim Polres Malang

KASAT RESKRIM

KAUR BIN OPS

PAUR YANMIN

PAUR IDENT

BAHTATI

BANUM

UNIT SIDIK I

UNIT SIDIK II

UNIT SIDIK III

UNIT SIDIK IV

RPK

UNIT OPSNAL V

UNIT OPSNAL

Sumber : Bag min Reskrim Polres Malang a. Unit I : Unit Ranmor ( Kendaraan bermotor ), menangani masalah yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap kendaraan bermotor. b. Unit II : Unit Resum ( Reserse Umum ), menangani masalah yang

berkaitan dengan tindak pidana yang bersifat umum. c. Unit III : Unit Harda ( Harta Benda ), menangani masalah yang

berkaitan dengan tindak pidana terhadap harta benda.

d. Unit III

: Unit Judisusila ( perjudian dan kesusilaan ), menangani

masalah yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap perjudian dan kesusilaan. e. RPK : Ruang Pelayanan Khusus, menangani masalah masalah

tindak pidana yang berkaitan dengan perempuan dan anak anak. f. Unit Opsnal V : Bertugas menyelenggarakan pengawasan operasional dan administrasi Reskrim. g. Unit Opsnal VI : Bertugas melakukan Perencanaan dan pengendalian operasi dan permintan perlidungan saksi / korban kejahatan. B. Realita Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian Tindak pidana penadahan kendaraan bermotor merupakan bentuk tindak pidana yang muncul akibat adanya tindak pidana pencurian. Tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua yang tinggi mengakibatkan timbulnya praktik praktik penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Hal ini sangat berkaitan erat, dimana pelaku tindak pidana pencurian kerap kali menjual barang curian mereka kepada pihak kedua yang disebut sebagai penadah. Dari data yang didapat tiap tahunnya tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua di wilayah hukum Polres Malang sangatlah tinggi (Tabel 2). Kedua tindak pidana ini mempunyai hubungan yang erat dikarenakan keduanya merupakan bentuk pidana yang satu sama lain membutuhkan. Ketika pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua melakukan tindakannya, yang timbul kemudian adalah bagaimana hasil pencurian tersebut dapat menghasilkan materi. Disisi lain pihak penadah juga memanfaatkan

hal itu dengan membeli barang hasil pencurian tersebut dengan harga yang murah untuk kemudian di jual kembali dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang diiginkan. Pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua sangatlah rawan terjadi, hal ini disebabkan karena semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua sebagai sarana bagi merka untuk melakukan segala aktifitasnya, yang mampu merambah kesemua kalangan di masyarakat mulai pekerja perkantoran, pedagang, pegawai negri serta mahasiswa. Hal ini sangat realistis mengingat pada saat ini sangat dituntut untuk selalu tepat waktu dalam melakukan setiap aktifitas. Beranjak dari kebutuhan akan alat transportasi itulah masyarakat semakin konsumtif untuk memilki atau membeli kendaraan bermotor khususnya roda dua. Selain itu alat transportasi ini sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang. Dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum masyarakat lebih cenderung memilih kendaraan pribadi roda dua. Selain faktor efisiensi dengan menggunakan kendaraan roda dua masyarkat lebih sedikit menggeluarkan uang hanya sekedar untuk kebutuhan transportasi untuk melakukan kegiatannya sehari hari. Selain itu saat ini semakin maraknya lembaga pembiayaan yang memberikan uang muka rendah untuk memperoleh motor baru dengan cara mengkredit, hal itu menambah minat masyarakat untuk semakin ingin memilki kemudian membeli kendaraan roda dua. Dari data yang diperoleh oleh peneliti menyebutkan bahwa setiap tahunnya tingkat pembelian sepeda motor dengan cara mengkredit mengalami peningkatan bisa kita lihat dari tabel berikut :

Tabel 1 . Tabel penjualan sepeda motor di wilayah Kabupaten Malang Tahun Jumlah sepeda motor Keterangan Cash ( lgsg Melalui lembaga Di dealer ) pembiayaan 80 465 96 87 578 630

2005 2006 2007

600 unit 700 unit 800 unit

Sumber data : Panji Motor Kepanjen, 2008, diolah Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa secara garis besar dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, terjadi sebuah peningkatan penjualan yang berakibat semakin banyaknya masyarakat khususnya di wilayah hukum Polres Malang yang mempunyai kendaraan pribadi roda dua. Dengan segala kemudahannya para masyarakat dapat memiliki sepeda motor baru dengan cara cash atau mengkredit. Hal ini terjadi karena saat ini banyak dealer sepeda motor yang bekerja sama dengan lembaga pembiayaan (PT Adira Multi Dinamika Finance) bertujuan agar masyarakat mendapat kemudahan untuk membeli sepeda motor. Dari tahun 2005 hingga 2007 tingkat pembelian masyarakat mengalami suatu peningkatan. Pada tahun 2005 banyaknya orang yang membeli sepeda motor adalah sebanyak 545 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer motor tersebut pada tahun 2005 sebanyak 600 unit, sepeda motor dibeli dengan cara kontan (80

unit) atau cash serta dibeli dengan melalui lembaga pembiayaan sebanyak 465. Kemudian pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006 jumlah masyarakat yang membeli kendaraan bermotor roda dua meningkat yaitu sebanyak 674 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer pada tahun 2006 sebanyak 700 unit, dengan keterangan 96 unit dibeli dengan cara kontak melalui dealer dan 578 unit dibeli dengan cara mengkredit melalui lembaga pembiayaan. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah masyarakat yang membeli kendaraan bermotor roda dua meningkat yaitu sebanyak 787 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer pada tahun 2007 sebanyak 800 unit, dengan keterangan 87 unit dibeli dengan cara kontak melalui dealer dan 700 unit dibeli dengan cara mengkredit melalui lembaga pembiayaan. Disatu sisi hal ini sangat menggembirakan bagi masyarakat tapi disisi lain juga memunculkan suatu masalah baru yang mungkin tidak disadari oleh masayarakat. Selain masalah keruwetan lalu lintas, polusi akibat asap knalpot, kecelakan lalu lintas dan masalah yang paling buruk terjadi adalah semakin terbukanya peluang bagi pelaku pelaku tindak kenjahatan terhadap kendaraan bermotor, khususnya roda dua. Diawali dengan terjadinya suatu tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang kemudian menimbulkan kejahatan lain yaitu penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kanit Sidik I AIPTU Sutiyo S.H disamping hal tersebut diatas, pencurian terhadap kendaraan bermotor terjadi karena memang adanya kesempatan bagi para pelaku kejahatan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan lingkungan serta kecerobohan

masyarakat sendiri. 54 Terjadinya perbuatan melanggar hukum semacam ini secara sosiologis terjadi diantaranya karena adanya kesempatan atau peluang, artinya adalah bahwa pelanggaran atau kejahatan terjadi karena adanya kelemahan kelemahan dalam mekanisme pengawasan ( yang konsekuen ). Pengawasan yang setengah setengah malah memberikan petunjuk mengenai adanya peluang peluang tertentu untuk melakukan pelanggaran atau kejahatan. 55 Dari data yang ada jumlah pencurian kendaraan bermotor di wilayah hukum Polres Malang tiap tahunnya menunjukkan angka yang sangat signifikan, dimana dapat kita lihat di tabel berikut Tabel 2 : Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor roda dua di wilayah hukum Polres Malang Tahun TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDRAAN BERMOTOR Laporan Selesai 59 44 72 52 68 60 75 59 79 57 86 68 94 71

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (hingga bulan juli) Jumlah 533 411 Sumber data sekunder : Bagian adminstrasi Reskrim Polres Malang, tahun 2008 Jika dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi didalam wilayah hukum

Polres Malang mengenai tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua sangatlah mungkin bila di kawasan Polres Malang juga banyak terjadi
Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Jakarta, 1982, Hal 10.
55 54

praktik praktik penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian ini. Jika dilihat dari data diatas dalam kurun waktu 6 (enam) tahun yaitu periode tahun 2002 hingga 2008 telah terjadi 533 kasus mengenai tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua, dari 533 kasus tersebut telah ditangani dan diselesaikan oleh Polres Malang sebanyak 411 kasus. Jika mengacu dari data diatas dapat dianalisa bahwa rata rata terjadi 76 kasus tindak pidana pencurian kendaraan bermotor tiap tahunnya dengan jumlah penanganan kasus hingga selesai sebanyak 58 kasus tiap tahunnya. Dari tingginya jumlah pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua yang terjadi dalam kurun waktu 6 tahun tersebut, dapat danalisa dan ditealaah lebih jauh bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan atau menimbulkan efek yang secara tidak langsung kepada terjadinya praktek praktek tindak pidana lain yaitu tindak pidana penadahan. Secara umum bisa disimpulkan bahwa semakin tingginya tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua ini maka mempengaruhi pula kepada tingginya tingkat tindak pidana penadahan. Dalam kenyataan yang terjadi tingkat tindak pidana penadahan yang terjadi dalam wilayah hukum Polres Malang dapat kita lihat di tabel berikut :

Tabel 3. Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bernotor Roda Dua Di Wilayah Hukum Polres Malang TAHUN 2002 2003 2004 2005 2006 2007 JUMLAH PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR LAPORAN SELESAI 6 4 8 8 13 16 6 4 5 3 9 12

2008 (hingga 20 19 bln juli) Jumlah 75 58 Sumber data sekunder : Bagian adminstrasi Reskrim Polres Malang, tahun 2008 Dari tabel tersebut secara umum yang terjadi adalah bahwa setiap tahunnya tindak pidana penadahan ini mengalami peningkatan. Bisa kita lihat dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir telah terjadi 75 kasus penadahan kendaraan bermotor yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang. Bila kita telaah pada periode tahun 2002 hingga periode tahun 2005 tingkat penadahan tidak begitu mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2002 telah terjadi 6 (enam) kasus penadahan dan kasus tersebut bisa ditangani sampai selesai. Begitu juga pada tahun 2003, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dari jumlah kasus di tahun 2002 sebanyak 6 (enam) kasus turun menjadi 4 (empat) kasus saja yang terjadi dalam satu tahun dan semua kasus itu juga selesai ditangani. Berikutnya adalah tahun 2004, jumlah penadahan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 8 (delapan) kasus pada tahun 2004. Begitu

pula dengan tahun 2005 yang juga terjadi adalah sebanyak 8 (delapan) kasus penadahan. Menginjak pada periode 2006 - 2008 jumlah atau tingkat tindak pidana kendaraan bermotor ini mengalami penigkatan yang sangat tajam dibandingkan dengan periode tahun 2002 2005. Jika kita lihat pada periode tahun 2006 hingga 2008 sampai bulan juli saja tiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 telah terjadi 13 kasus penadahan dalam 1 tahun. Kemudia pada tahun 2007 terjadi 16 kasus penadahan dalam kurun waktu 1 tahun. Jumalah paling banyak adalah pada tahun 2008 yang hingga bulan Juli telah terjadi 20 kasus. Jika di rata rata tiap tahunnya telah terjadi peningkatan sejumlah 15 % dari jumlah kasus yang terjadi. Jadi sekitar 10 kasus tindak pindana penadahan terjadi tiap satu tahunnya. Dari data yang ada tersebut peneliti mencoba mengkaji bahwa tingkat penadahan terjadi seiriing dengan semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor yang mengakibatkan tingginya pula tingkat pencurian kendaraan bermotor. Tanpa disadari oleh masyarakat bahwa semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor khususnya roda dua dan kurangnya kewaspadaan masyarakat dapat menimbulkan akibat lain, yaitu semakin terbukanya peluang bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor untuk melakukan tindak pidana pencuriaan. Dari hal tersebut dapat kita analisa bahwa semakin banyaknya objek bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yaitu khusunya roda dua maka semakin terbuka pula peluang mereka untuk dapat memperoleh kendaraan bermotor roda dua dengan melakukan pencurian. Sebaliknya apabila kurangnya objek atau bahkan tidak adanya objek

tersebut maka pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor sendiri tidak akan bisa melakukan tindakannya. C. Modus Modus Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Berawal dari tingginya pencurian tersebut kemudian berakibat kepada munculnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Jika dilihat dari rangkaian modus modus atau cara cara yang dilakukan oleh pelaku kejahatan pencurian, hingga kemudian muncul tindak pidana penadahan kendaraan bermotor, maka terdapat dua bentuk terjadinya suatu bermotor, yaitu : 1. Penadahan yang timbul dari pihak pelaku pencurian kendaraan bermotor. Yang dimaksudkan adalah tingginya tingkat pencurian kendaraan mengakibatka kepada timbulnya tindak pidana penadahan. Para pelaku pancurian kendaraan bermotor setelah mereka melakukan pencurian mereka selalu menjual hasil kejahatannya tersebut kepada pihak lain guna memperoleh keuntungan materi dari hasil pencurian tersebut. Dalam hal ini bahwa tindak pidana penadahan ini timbul bukan karena kehendak atau semata mata ada niat dari pelaku penadahan, melainkan timbulnya dari pelaku pencurian itu sendiri yang menawarkan, menjual, menggadaikannya kepada pihak kedua yang kemudian disebut penadah yang mana pelaku penadahan tidak tahu dari mana asal sepeda motor tersebut apakah dari pencurian atau bukan. Jika dianalisa dari modus operandi seperti ini ada indikasi bahwa seharusnya apa yang dilakukan oleh pihak kedua selaku pembeli sepeda motor penadahan kendaraan

tersebut adalah sebagai korban dan bukan murni sebagai penadah kendaraan bermotor hasil pencurian. Akan tetapi hal ini bisa di dikenakan Pasal 480 KUHP dikarenakan pada ketentuan pasal tersebut disebutkan bahwa sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari kejahatan. Dalam hal ini pihak kedua selaku pembeli sepeda motor tersebut juga merupakan pihak yang seharusnya menduga bahwa sepeda motor tersebut adalah merupakan hasil dari kejahatan. Modus modusnya adalah sebagai berikut : 56 1) Mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil pembelian dari dealer motor, kemudian karena kebutuhan ekonomi pelaku menjualnya. Dengan begitu pihak yang membeli motor tersebut tidak akan curiga kepada pelaku dengan menanyakan dari mana asal motor tersebut apakah hasil pencurian atau bukan. 2) Mengatakan kepada pihak kedua (pelaku penadah) bahwa dia (pelaku pencurian) membutuhkan uang, sebagai gantinya ia menjaminkan motor tersebut untuk kemudian mendapatkan pinjaman uang dari pihak kedua. Pelaku pencurian tersebut tidak mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil kejahatan melainkan merupakan motor miliknya sendiri. Untuk meyakinkan kepada pihak kedua sebagai penerima motor hasil pencurian tersebut pelaku memberikan janji bahwa dalam kurun waktu tertentu yaitu antara 1 sampai 2 minggu uang tersebut akan dilunasi untuk kemudian mengambil motornya kembali.

56

Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal 17 Juli 2008.

3) Menjual langsung kepada pihak kedua yang berminat dengan motor hasil pencurian tersebut. Dalam hal ini pihak kedua sebagai pembeli tidak tahu bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil pencurian. Dalam melakukan modus seperti ini pelaku menjual kepada pembeli dengan cara cara yang tidak sewajarnya sebagai sebuah transaksi jual beli. Hal tersebut dilakukan di pinggir jalan yaitu pada saat pelaku berhasil mencuri dan membawa lari motor hasil curian tersebut. Ketika di perjalanan pelaku menemui seseorang yang berada di pinggir jalan ia langsung menawari orang tersebut motor hasil pencuriannya dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga di pasaran. Selain dengan cara tersebut biasanya pelaku menjual motor hasil curiannya tersebut pada saat malam hari. Pada penelitian ini peneliti mencontohkan seperti kasus yang terjadi sesuai dengan berkas pemeriksaan menganai tindak pidana penadahan kendaraan bermotor denagan NO : POL/SP. Kap 21/ XI / 2007/ Reskrim. Kasus penadahan kendaraan bermotor ini terjadi di desa Ampel gading Kabupaten Malang. Kasus ini merupakan pengembangan dari kasus pencurian yang terjadi di Dusun Wendit, desa Mangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Awal mula kejadian, menurut penuturan pelaku yang berjumlah 4 orang yaitu Suradi (21 tahun) warga Desa Toyomarto, Solikin (24 tahun) dan H. Manap (36 tahun) keduanya warga Dusun Lokjati Desa Baturetno serta Harmono (29 tahun) warga dusun Bodean Patuk desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Mereka menuturkan bahwa sepeda motor hasil curian mereka tersebut dijual kepada penadah yang awlanya tidak disebutkan oleh para

tersangka, dimana lokasi penadah tersebut adalah di desa Ampel Gading dengan tersangka penadah yaitu Buari. Pada saat dilakukan penangkapan polisi menemukan sepeda motor hasil pencurian tersebut masih dalam kondisi yang bagus dan tanpa ada perubahan pada fisik sepeda motor tersebut. Pada saat itu tersangka Buari mengelak ditangkap oleh Polisi karena ia tidak merasa bahwa telah melakukan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Pada mulanya ia mengelak bahwa ia membeli sepeda motor hasil pencurian tapi pada saat tersangka penadah Buari ditemukan dengan salah satu tersangka pencurian yaitu Solikin yang selaku penjual kepada Buari, dia akhirnya menggungkapkan bahwa sepeda motor itu adalah sepeda motor yang dibeli dari tersangka Solikin 3 (tiga) hari sebelumnya. Pada saat menjualnya tersangka Solikin mengatakan bahwa motor hasil curian tersebut adalah motor yang dibelinya dari dealer secara kredit, dengan menyisahkan 1 (satu) kali cicilan lagi, selain itu tersangka juga berjanji akan melunasi sisa cicilan tersebut ke dealer dari hasil penjualan motor tersebut tanpa harus membebani tersangka penadah Buari. Tersangka solikin menjualnya kepada Buari karena terdesak kebutuhan ekonomi. Mendapat tawaran yang

semcam itu dari tersangka Solikin tersebut selanjutnya tersangka penadah Buari mau membeli sepeda motor tersebut. Dilihat dari contoh kasus tersebut penadahan yang dilakukan oleh tersangka Buari adalah merupakan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor sesuai dengan modus yang terpapar di awal yaitu modus penadahan pada angka 1 (satu), yaitu pelaku pencurian sepeda motor tersebut menjual kepada pihak kedua dengan mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan pembelian dari

dealer, dan dengan dalih terdesak kebutuhan ekonomi ia menjualnya ke pihak kedua selaku penadah. Bila dikaitkan dengan pasal yang terdapat pada Kitab Undang- undang Hukum Pidana kasus yang terjadi tersebut adalah merupakan kasus penadahan yang termasuk dalam pasal 480 ayat 1. Jika dianalisa secara yuridis kasus tersebut dapat dianalisa sesuai dengan Pasal 480 ayat 1 KUHP karena terpenuhinya unsur unsur sesuai dengan yang terdapat pada pasal tersebut sebagai berikut : a.) Barang Siapa : Tersangka Buari, umur 52 tahun, lahir di Dampit, 16 april

1956, pekerjaan buruh tani, alamat Dusun gunung kelop, kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. b.) Membeli : Tersangka Bari didatangi oleh Solikin selaku

tersangka pencurian sepeda motor di rumahnya yang menawarkan sepeda motor kepadanya, dengan alasan karena kebutuhan ekonomi dan tawaran yang sangat menggiurkan dari Solikin kemudian tersangka membeli sepeda motor dari tersangka pencuriaan sepeda motor yaitu Solikin pada hari rabu tanggal 14 maret 2008 dengan harga yang Rp 5.4 juta c.) Sesuatu benda : Tersangka membeli sebuah sepeda motor Honda Supra

dari tersangka Solikin. d.) Yang sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari hasil kejahatan : tersangka Buari seharusnya bisa lebih teliti dan bisa menduga bahwa sepeda motor tersebut adalah merupakan hasil kejahatan karena tersangka tidak dapat memberikan kelengkapan surat surat kepemilikan

sepeda motor tersebut, meskipun dengan alasan bahwa BPKB belum dapat diambil dari dealer sebab masih menyisahkan 1 (satu) kali angsuran lagi. Secara garis besar faktor yang sering terjadi dilapangan adalah bahwa tingkat kesadaran hukum terhadap masalah penadahan ini juga kurang dipahami betul oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang AIPTU Sutiyo S.H. Masyarakat kurang waspada pada saat melakukan pembelian terhadap suatu benda dalam hal ini adalah kendaraan bermotor roda dua. Masyarakat hanya berpikir sesaat saja. 57 Jika dihubungkan dengan aturan yang ada yaitu Pasal 480 ayat 1 dan 2 KUHP dengan fakta yang terjadi dilapangan kesadaran hukum masyarakat memang sangat diperlukan, mengingat pada pasal tersebut menyebutkan bahwa tindak pidana penadahan dapat disangkakan kepada seseorang yang melakukan tindakan pembelian, menawarkan, menerima gadai, menerima hadiah atau mengambila keuntungan, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyembunyikan suatu benda yang diketahuinya atau sepatutnya adalah merupakan hasil dari sebuah kejahatan. 2. Tindak penadahan yang memang timbul dari pelaku penadahan sendiri. Yang dimaksud adalah bahwa tindak pidana penadahan kendaraan ini muncul akibat dari penadah yang memang mempunyai niat untuk menadah kendaraan bermotor hasil pencurian, untuk kemudian memperoleh keuntungan dengan menjualnya kepada orang lain. Berkaitan dengan ini pasal yang berlaku adalah

57

Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal 17 Juli

2008.

Pasal 481 KUHP yaitu penadahan sebagai kebiasaan. Modus yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Pihak kedua selaku penadah kendaraan bermotor memang sengaja memberikan sejumlah uang kepada pihak pertama selaku pencuri kendaraan bermotor, dimana pembayaran uang tersebut adalah dengan cara penadah pertama kali memberikan setengah dari jumlah uang yang sudah disepakati antara penadah dengan pencuri kemudian setelah pencuri berhasil mencuri kemudian menyerahkan motor hasil curian tersebut maka penadah meberikan sisa uang yang sudah disepakati. Penadah menyuruh pihak pertama selaku pancuri kendaraan bermotor untuk mencarikan atau dengan kata lain memesan motor dengan merek merek tertentu dengan cara mencuri untuk kemudian ditadah dengan tujuan untuk mencari keuntungan. Cara yang digunakan oleh penadah untuk mencari keuntungan tersebut adalah dengan cara : a) Mempreteli motor hasil curian tersebut untuk dijual secara terpisah b) Mempreteli serta merubah nomer rangka dan nomer mesin kemudian dirangkai untuk membuat sebuah motor baru dengan bentuk fisik yang baru dengan nomer rangka dan nomer mesin palsu. Biasanya motor yang dipesan oleh penadah kepada pencuri berharga murah yaitu motor dengan haraga dipasaran sekitar 8 10 jutaan mereka beli dari pencuri dengan harga 1 juta hingga 2 juta rupiah kemudian dijual dengan harga diatas harga pembelian tersebut yaitu antara 2 juta hingga 3 juta rupiah.

Dari modus modus yang sudah dipaparkan tersebut diatas dapat dianlisa dengan mengaitkannya sesuai dengan pasal yang ada pada Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu Pasal 480 dan Pasal 481 tentang tindak pidana penadahan, maka yang termasuk dalam pasal pasal tersebut adalah : 1. Jika dikaitkan dengan Pasal 480 ayat 1 dan 2 KUHP maka yang termasuk penadahan biasa adalah penadahan yang timbul dari pihak pelaku pencurian kendaraan bermotor. 2. Jika dikaitkan dengan Pasal 481, maka yang termasuk penadahan sebagai kebiasaan adalah penadahan yang memang timbul dari pelaku penadahan sendiri. D. Upaya Polres Malang dalam menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Tingginya tingkat penadahan kendaraan bermotor yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang tersebut ditanggapi dengan adanya upaya upaya yang dilakukan oleh jajaran Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Hal ini sesuai dengan UU No 2 tahun 2002 pasal 13 dan 14 Berdasar dari hal tersebut kepolisian Resor Malang, menindak lanjutinya dengan melakukan upaya upaya meliputi : 1. Upaya Preventif ( pencegahan ), Upaya preventif atau upaya pencegahan yaitu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu tindak pidana penadahan kendaraan bernotor khusunya roda dua. Hal ini dilakukan oleh Babinkantibmas.

Penanggulangan preventif atas tindak pidana penadahan kendaraan bermotor ini meliputi : 58 a. Memberikan penyuluhan atau himbauan kepada masyarakat akan

pentingnya saling mejaga dan melindungi antar warga. b. Meningkatkan kewaspadaan masyarkat untuk menghindari terjadinya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor khusunya roda dua, yaitu dengan cara jangan membeli sepeda motor bekas kepada orang yang tidak dikenal sebelumnya. c. Meningkatkan langkah langkah praktis dalam pengamanan diri dari hal hal yang dapat menimbulkan suatu kejahatan dalam hal ini adalah tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang mempunyai dampak kepada timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Bagi semua warga masyarkat agar selalu waspada bila memarkir kendaraan baik di rumah maupun di luar rumah, selalu mengkunci rumah apabila ditinggal dan meninggalkan sepeda motor dirumahnya. d. Memberikan penerangan kepada masyarakat apabila terjadi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor masyarakat dihimbau untuk segera melaporkan bahwa telah terjadi peristiwa pencurian. Hal ini bertujuan agar Polisi dapat dengan cepat ditangani dan ditindak lanjuti agar jangan sampai sepeda motor hasil curian tersebut jatuh ke penadah. e. Mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya cek fisik sebelum membeli kendaraan roda dua. Hal itu bisa dilakukan di kantor samsat.

Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal 17 Juli 2008, diolah.

58

f. Pendekatan kepada tokoh tokoh masyarakat dan agama setempat agar terjalin suatu hubungan yang baik antara polisi dengan masyarakat. Hal in mempunyai tujuan agar apa yang telah disosialisasikan oleh polisi dapat dijalankan oleh masyarakat. Dari upaya upaya tersebut dapat dilihat bahwa perlu adanya suatu kerja sama yang baik antara Polisi dengan masyarakat. Kaitannya antara pentingnya polisi bekerja sama baik dengan masyarakat dalam

menanggulangi kejahatan seperti ditulis oleh Kemal Darmawan bahwa anggota polisi yang mengemban tugas dan fungsi bimbingan masyarakat harus dibekali kemampuan antar lain : 1. Kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, terutama masalah masalah penegakan hukum dan penegakan kamtibmas. 2. Kamampuan membimbing dan menyuluh masyarakat tentang hal hal yang berkaitan dengan masalah masalah kesadaran hukum dan penegakan kamtibmas. 3. Kemampuan memberi pelayanan dan bantuan kepada masayarkat tentnag hal hal yang berkaitan dengan penyeleasian dengan penyesuaian perkara, ketertiban hukum, ketertiban sosial dan keamanan. 4. Kemampuan mendidik dan melatih potensi potensi kamtibmas, tentang cara cara melapor, manjadi saksi dan membantu polisi dalam tugas tugas preventif dan penegakan hukum ( penyelidikan dan penyidikan ) 5. Kemampuan menertibkan masyarkat.

6. Kemampuan melakukan rehabilitasi dan resosialisasi terhadap penyandang masalah yang mempunyai kerawanan kamtibnas dan terhadap situasi yang rusak, bencana dan pencemaran lingkungan serta dampak negatif dari suatu tindak pidana. Dalam hal kerja sama antara Polri dengan masyarakat yang perlu ditekankan adalah menangani pembagian kerja yang jelas diantara polisi dan masyarakat. Masyarakat harus diberi penjelasan tentang sejauh mana masyarakat mempunyai wewenang untuk terlibat dalam pencegahan terjadinya tindak pidana penadahan, hal ini tentunya untuk mencegah adanya reaksi yang berlebihan dari masyarakat seperti contohnya adalah main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarkat. 2. Upaya represif ( penindakan ) Upaya repersif atau biasa dikenal dengan upaya penindakan oleh satuan reserse. Satuan Reserse melakukan upaya penindakan terhadap semua tindaka pidana termasuk tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Upaya represif tersebut meliputi : 59 1. Upaya yang pertama yang dilakukan adalah upaya penindakan berdasarkan laporan dari masyarakat atau keterangan dari pelaku pencurian yang tertangkap mengenai kemana pelaku pencurian tersebut menjual hasil curiannya. Upaya ini dilakukan agar diperoleh bukti bukti yang falid (sempurna) karena dimungkinkan bukti bukti yang ada masih

Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal 17 Juli 2008, diolah.

59

utuh yang memudahkan penyidik dalam melakukan penaganan lebih lanjut. 2. Penyidik langsung menyikapi dengan langsung terjun ke tempat tempat yang di sinyalir menjadi tempat tempat yang digunakan oleh pelaku tindak pidana pencurian sebagai tempat menjual atau menadah hasil kejahannya. Langkah yang diambil oleh anggota Reskrim Polres Malang yaitu, mendata tempat tempat penjualan sepeda motor pretelan yang ada di kawasan hukum Polres Malang kemudian terjun langsung ke tempat temapat tersebut. Berkaitan dengan masalah ini anggota Reserse melakukan tertutup yaitu dengan menggunakan pakaian biasa. 3. Membentuk UKL ( Unit Kecil Lengkap ) yang terdiri dari anggota Reserse Polres Malang dimana setiap unit berjumlah 6 orang anggota Reserse. UKL tersebut ditempatkan di setiap Kring kring yang ada di wilayah Polres Malang. Kring adalah semacam daerah daerah kecil dalam wilayah yang dekat mengingat Kabupaten Malang mempunyai wilayah yang luas. Kring kring tersebut anatara lain : Kring Kepanjen, meliputi : Panjen, Pakishaji, Sumberpucung, Wonosari, Pagak, Kalipare, Nagajum, Kromengan. Kring Ngantang, meliputi : Kasembon, Nagantang, Pujon. Kring Dampit, maliputi : Dampit, Turen, Ampel Gading, Sumber Manjing Wetan, Tirtoyudo. Kring Gondanglegi, meliputi : Bantur, Gedangan, Pagelaran, Gondanglegi.

Kring

Tumpang,

meliputi

Jabung,

Tumpang,

Wajak,

Poncokusumo. Kring lawang, meliputi : Lawang, Singosari.

4. Mendata daftar daftar residivis terutama terutama penadahan kendaraan bermotor. Dengan begitu memudahkan Polisi untuk langsung menuju ke tempat residivis tersebut tinggal dimana hal itu sesuai dengan data yang ada sebelumnya yang telah dicatat oleh pihak Polres. Dari upaya upaya tersebut diharapkan kedepannya Polres Malang dapat menanggulangi tingginya tingkat penadahan kendaraan bermotor khususnya roda dua hasil pencurian mengingat masih adanya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor ini. E. Kendala yang dihadapi Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Dalam upaya menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bemotor khusunya roda dua di wilayah Polres Malang ini jajaran Polres Malang dihadapkan dengan kendala kendala. Kendala yang dihadapi oleh Polres Malang adalah sebagai berikut : 60 1. Korban tidak segera melapor sepeda motor yang hilang. Polisi kesulitan mencari barang bukti dikarenakan ketika terjadi pencurian yang kemudian hasil curian tersebut dilempar ke penadah, sepeda motor hasil curian tersebut sudah sulit sekali dicari dan hal ini menyulitkan polisi untuk melakukan pembuktian apakah seseorang tersebut menadah atau tidak
60

Wawancara dengan bapak Sutiyo S.H, Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang, tanggal 17 Juli

2008.

dikarenakan lamanya laporan yang diterima dari korban pencurian yang menimbulkan adanya waktu bagi penadah untuk segera minghilangkan barang bukti kejahatannya. Sehingga ia tidak dapat terbukti sebagai penadah. 2. Sepeda yang sudah didapat dipreteli sehingga sulit dikenali lagi. Sepeda motor hasil curian yang kemudian dilempar kepenadah kemudian oleh penadah dibongkar dan dipisah pisah kemudian chasisnya dibuang atau dikubur, sehingga menyulitkan pihak kepolisian dalam mengumpulkan bukti secara utuh. Selain itu pada umumnya pelaku penadah merusak no mesin dn nomer rangka sepeda motor. 3. Dijual keluar Jawa. Kendala ini merupakan kendala yang paling sulit dihadapi oleh Polres Malang, hal ini dikarenakan jauhnya jarak yang harus ditemepuh dimana itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Selain itu belum tentu barang bukti yang dicari tersebut masih utuh atau ditemukan. 4. Terhadap sepeda motor asuransi biasanya korban tidak melapor karena sudah merasa diganti oleh pihak asuransi. Dalam penangkapan yang dilakukan polisi menemukan sejumlah sepeda motor hasil curian tapi ada juga sepeda motor yang disita sebagai barang bukti tersebut yang tidak bertuan dikarenakan tidak adanya laporan kehilangan. Hal ini menyulitkan sebab motor motor tersebut tidak bisa digunakan sebagai bukti dikarenakantidak adanya laporan kehilangan. Dengan kata laian banyak bukti penadahan tetapi laporan kehilangan tidak ada. Hal ini menimbulkan

pertanyaan apakah sepeda motor tersebut hasil pencurian yang kemudian ditadah atau sama sekali bukan hasil pencurian dan peadahan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari beberapa uraian pada bab IV diatas maka dapat kita simpulakan sebagai berikut :

1. Tidak pidana penadahan yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang secara umum masih banyak terjadi. Ada dua modus timbulnya kejahatan penadahan ini yaitu yang pertama adalah penadahan yang timbul akibat pelaku pencurian yang kemudian memunculkan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor, modusnya adalah : a menjual kepada pihak kedua tanpa memberitahukan asal usul sepeda motor tersebut. b. menggadaikan kepada pihak kedua yang kemudain sengaja tidak ditebus dimana kemudaian pihak kedua disebut sebagai penadah. c. menjual langsung kepada pihak kedua pada saat bertemu di jalan setelah pelaku pencurian berhasil melakukan kejahatannya. dan yang kedua adalah penadahan yang timbul akibat adanya niat dari penadah yang memang berprofesi sebagai penadah, modusnya adalah : a. pihak penadah memberikan sejumlah uang kepada pelaku pencurian untuk memcarikan sepeda motor dengan merek merek tertentu

2. Dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor khusunya roda dua ini pihak Polres Malang melakukan penanggulanganyang bersifat preventif (pencegahan) dan penanggulanganyang bersifat represif (penindakan) 3. kendala- kendala yang dihadapai oleh Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian ini adalah faktor dari barang bukti itu sendiri yaitu sepeda motor yang sudah ditadah tersebut tidak dalam keadaan yang sama saat kendaraan tersebut dicuri sehinnga menyulitkan polisi dalam mengusut keberadaan barang bukti tersebut.

B. Saran 1. Masyarakat harus lebih waspada tehadap terjadinya tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang berakibat kepada timbulnya tindak pidana penadahan. 2. Masyarakat harus lebih memahami akan pentingnya kewaspadaan apabila akan membeli sepeda motor bekas dari pihak lain. 3. Menambah intensitas razia terhadap kendaraan bermotor khususnya roda dua yang dilakukan oleh Polri guna meminimalisir terjadinya penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

DAFTAR PUSTAKA Buku-buku : Abdulsyani, Sosiologi Kriminalitas, Remadja karya, Bandung, 1987. Adami chazawi, Kejahatan Terhadap Harta Benda , Bayumedia, malang, 2004 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (suatu pengantar), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1996 Harun M.Husein, Penyidikan dan Penuntutan Dalam Proses Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 1991 H.A.K Moch. Anwar, (Dading) Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP buku II), Alumni, Bandung, 1980 Kunarto, Perilaku Organisasi Polri, Cipta Manunggal, Jakarta, 1997. Masruchin RubaI, Hukum Pidana I, FH-UB, Malang,1989 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2002. Mohammad Kemal Darmawan, Strategi Pencegahan Kejahatan, Citra Aditya Bakati, Bandung, 1994. P.A.F lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indoesia, Sinar Baru, Bandung, 1984 Remelink Jan, Hukum Pidana, PT. Gramedia, Jakarta, 2003. Ronny Hanintijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jumetri, Ghalia Indonesia, Semarang, 1989 Sadjijono, Hukum Kepolisian Prespektif Kedudukan dan Hubunganya Dalam Hukum Administratif, Laksbang, Jogjakarta.2006 Soedjono Dirdjosiworo , Sosiologi Kriminologi, Sinar Baru, Bandung, 1984.

, Ruang Lingkup Kriminologi , Remadja Karya, Bandung, 1984. , Sinopsis Kriminologi Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1994. , Pengantar Penelitian Kriminologi, Remadja Karya, Bandung, 1984. , Penanggulangan Kejahatan, Alumni, Bandung, 1975. S. Nasution, Metode Research Edisi Pertama, Jemmars, Bandung, 1992, hal 131. Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI (UI Press), Jakarta, 1986. Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Jakarta, 1982. Sumadi Surya Subrata, Metodologi Penelitian, CV Rajawali, Jakarta, 1984. Sutarto, Dasar-Dasar Organisasi, gunung aksara, jakrta,1988 W.J Poerwadarmita , Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1989. Peraturan perundang-undangan : UU no.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Penelusuran situs internet : Andi munawarman , Sejarah Singkat Polri (www.hukum online.com) Bappenas, Kebijaksanaan Pembangunan 2006 //www.google.com/ tindak pidana penadahan. Malang Post, Selasa 17 April 2007, Maling Kedungkandang Dibekuk, dikutip dalam http://www.google.com Tindak pidana pencurian www.google.com/http//hukum online.com Tingkat Kejahatan tahun 2007 http://www.polri.go.id/index.php?opstatistik2007