Anda di halaman 1dari 3

01 December 2008 Ancaman itu Disebabkan Tepung Ikan Nilai impor produk perikanan Indonesia yang 300 juta

USD, sebagian besar dibelanjakan tepung ikan. Impor tepung ikan yang pada 2003 hanya 47.746 ton, melonjak dua kali lipat di 2006 menjadi 88.852 ton Pengembangan industri akuakultur Indonesia diramalkan bakal terancam oleh ketersediaan tepung ikan sebagai bahan baku pakan ikan dan udang. Pasalnya, sampai detik ini, Indonesia masih belum mampu melepaskan diri dari ketergantungan tepung ikan impor, karena industri tepung ikan lokal masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri pakan. "Sampai saat ini pabrik pakan masih harus mendatangkan 60% tepung ikan dari luar negeri," ujar Anang Hermanta, Marketing Manager PT Sinta Prima Feedmill. Hal yang sama juga disampaikan oleh Purnomo, General Manager PT Matahari Sakti melalui surat elektronik yang dikirim kepada TROBOS, "Industri tepung ikan lokal masih belum bisa memenuhi kebutuhan pabrik pakan. Sebagiannya masih harus diimpor dari Chile dan Peru." Seiring dengan berkembangnya industri pakan di tanah air, trend impor tepung ikan memang terus mengalami peningkatan. Indonesia yang pada 2003 hanya mengimpor tepung ikan sebesar 47.746 ton, pada 2006 melonjak dua kali lipat menjadi 88.852 ton (lihat grafik). Kondisi tersebut masih terus berlanjut pada 2007. Menurut Achmad Poernomo, kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap pada Balai Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (BRKP ? DKP), dari total nilai impor produk perikanan Indonesia yang mencapai 300 juta USD, sebagian besarnya masih digunakan untuk membeli tepung ikan. Kontinyuitas Produksi dan Konsistensi Kualitas Bukan hanya soal kuantitas, ketidakmampuan industri tepung ikan lokal untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan juga masih terbentur dengan masalah kualitas tepung ikan yang dihasilkan. Menurut Anang, kebanyakan dari pengolah tepung ikan di tanah air hanya bisa memproduksi tepung ikan dengan kadar protein tak lebih dari 50%. Padahal tepung ikan impor yang berasal dari Peru dan Chile, telah memiliki kandungan protein lebih dari 60%. "Hanya sedikit kualitas tepung ikan lokal yang memenuhi kriteria pabrik pakan. Dan itupun tidak berlangsung secara kontinyu." Masalah kontinyuitas produksi dan konsistensi kualitas itulah yang menjadi alasan utama bagi pabrik pakan

untuk lebih memilih mengimpor tepung ikan ketimbang membelinya dari para pengolah lokal. Meski demikian, Anang menegaskan, jika pihak pabrikan pakan sebenarnya lebih senang untuk membeli tepung ikan lokal, asalkan standar kualitasnya dapat dipenuhi. "Dari segi harga jelas lebih menguntungkan bila membeli tepung ikan lokal, karena harganya tidak terpengaruh dengan fluktuasi nilai dolar," ujarnya. Menurut Purnomo, harga tepung ikan impor sebelum nilai tukar rupiah melemah sebesar Rp 11.000/kg, sedangkan setelah nilai tukar rupiah melemah seperti sekarang ini, harganya melonjak menjadi Rp 14.000/kg. Sedangkan harga tepung ikan lokal berkisar antara Rp 8.000 ? Rp 9.000 per kg. "Sayang, keinginan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan bahan baku pakan dengan tepung ikan lokal masih sebatas impian," ucap Anang menyayangkan. Belum Bisa Diandalkan Pernyataan berbeda justru dilontarkan ketua divisi pakan ikan, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), Denny Indradjaja. Menurutnya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Indonesia sudah mampu mendongkrak produksi tepung ikan. "Sepanjang 2007, sebanyak 70% dari kebutuhan tepung ikan sudah bisa dipenuhi oleh tepung ikan lokal," ujarnya. Denny menyebut, kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan berkisar antara 90.000 ? 100.000 ton setiap tahun. Tak hanya mampu mendongkrak produksi, menurut Denny, para pengolah tepung ikan lokal juga telah mampu meningkatkan kualitas tepung ikan yang dihasilkannya. Jika sebelumnya para pengolah tepung ikan hanya mampu menghasilkan tepung ikan dengan kualitas grade C (kandungan protein dibawah 40%) dan grade B (kandungan protein 40 ? 50%) saja, sekarang para pengolah tepung ikan sudah mampu memproduksi tepung ikan dengan kualitas grade A (kandungan protein 50 ? 60%). "Lebih dari 50% yang sudah mencapai kualitas grade A." Meski demikian, Denny juga tak menampik, jika kontinyuitas produksi dan konsistensi kualitas tepung ikan lokal tersebut masih belum bisa diandalkan dalam jangka waktu yang panjang. Hasil tangkapan nelayan yang semakin tidak menentu dan cenderung terus mengalami penurunan, menjadi penyebab utama masih diragukannya kontinyuitas produksi dan konsistensi kualitas tepung ikan lokal. "Artinya, permasalahan ketersediaan tepung ikan ini masih tetap menjadi ancaman bagi pengembangan industri akuakultur," tandasnya. Chile dan Peru Kurangi Ekspor Lepas dari kontroversi di atas, semua kalangan sepakat jika Indonesia harus berupaya untuk melepaskan diri dari jeratan tepung ikan impor.

Pasalnya, Peru dan Chile yang menjadi pemasok utama tepung ikan bagi industri pakan nasional dan juga di dunia, sudah mulai mengurangi ekspor tepung ikannya. "Kedua negara tersebut sedang gencar mengembangkan budidaya salmon. Jadi sebagian besar tepung ikan yang diproduksinya digunakan untuk membuat pakan ikan salmon," ujar Achmad Poernomo yang sering disapa Ipung. Menurutnya, produksi salmon di Chile telah mengalahkan Norwegia, yang dikenal sebagai salah satu negara penghasil ikan salmon terbesar di dunia. "Makanya kalau kita masih ingin terjerat dengan dengan tepung ikan impor ya silahkan. Tetapi nanti akan susah sendiri, karena harga tepung ikan pasti akan terus melambung," Ipung setengah memperingatkan. Penegasan yang sama juga disampaikan oleh Anang, "Selama masih mengimpor dalam jumlah besar, pabrik pakan akan sulit mengontrol harga pakan. Dan ini akan berpengaruh besar pada dayasaing produk perikanan yang dihasilkan." Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Desember 2008