Anda di halaman 1dari 7

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

KAJIAN ANALISIS KELURUSAN STRUKTUR DENGAN CITRA LANDSAT DIGITAL UNTUK EKSPLORASI MINERALISASI EMAS DI DAERAH BAYAH, KAPUPATEN LEBAK, JAWA BARAT
Sugeng
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta, jl SWK 104 (Lingkar Utara) CondongCatur 55283, Indonesia Telp : (0274) 486403, Fax (0274)487816 email : Sugengrhj@Plasa.Com

Abstract
Bayah dome is one of a gold mineralization area at West Java. Area of mineralization usually have an intensively weathering. Up to now, there is no study of the rock alteration and lineament in the dome area by the remote sensing method. Three remote sensing methods to identify mineralization area i.e.: 1) geometric correction, 2) enhancement, 3) manual interpretation which process result: filtering, principle component analysis, and false color. Bayah dome has an ellipse form with North West South East direction. The lineament patterns are North West South East, North South and North East South West direction. Seven units of rock have been interpreted from the principle component analysis. Distribution of the rock alterations and fracture desain are in the center and edge of dome from the interpretation. The possibilities of a gold deposit areas which are identified by the alteration and lineament are in the Center, North, North East and East of dome.

1. PENDAHULUAN Pengembangan teknologi satelit sumber daya saat ini, digunakan untuk keperluan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, khususnya untuk keperluan pemetaan geologi dan eksplorasi mineral bijih terus dilakukan secara intensif. Salah satu keuntungan penggunaan citra satelit di samping cakupan cukup luas, juga kemampuan pengulangan rekaman di daerah yang sama dilakukan pada waktu yang ralatif singkat. Penggunaan citra satelit LANDSAT TM untuk keperluan eksplorasi bijih emas diarahkan pada : pengenalan: kelurusan, batuan yang mengalami alterasi, bentuk morfologi yang melingkar seperti kaldera, kondisi geografi seperti jalan, sungai dan lain sebagainya. Kelurusan yang dijumpai pada citra berhubungan dengan struktur geologi seperti patahan, rekahan, sumbu antiklin dan sinklin (Sabin,1996). Citra LANDSAT juga mampu mendekteksi pola pengaliran dan topografi permukaan sehingga sangat membantu dalam penafsiran keberadaan kubah Bayah. Disamping itu penggunaan

algoritma indek vegetasi mampu untuk mendekteksi daerah yang mengalami mineralisasi. Maksud penelitian ini untuk memetakan kelurusan struktur dan zona alterasi untuk menduga daerah yang berpotensi mengandung cebagan bijih emas. Tujuannya untuk menunjukkan manfaat dari penerapan metode penginderaan jauh dalam menunjang eksplorasi mineral, khususnya dalam : 1. Pemetaan geologi permukaan terutama ditekankan pada daerah alterasi. 2. Memetakan zona lineament yang ada kaitannya dengan mineralisasi di kubah Bayah. 3. Mengetahui batas kubah bayah 2. METODE PENELITIAN Untuk mencapai sasaran diatas, metode yang dilakukan sebagai berikut: 2.1. Penajaman Citra Penajaman citra dilakukan untuk melihat kenampakan morfologi daerah penelitian. Dari penajaman nampak jelas bahwa daerah penelitian merupakan dome yang berbentuk elip .
SDA - 162

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

2.2. Metode Interpretasi Litologi Kelurusan Struktur secara Visual

dan

Interpretasi geologi dilakukan dengan kunci untuk menginterpretasikan suatu kenampakan pada citra seperti rona, tekstur, pola, ukuran, dan asosiasi, diisamping itu di dalam interpretasi geologi juga memakai unsur penunjang antara lain: analisa pola pengaliran Metode interpretasi secara manual yang dilakukan meliputi: 1. Teknik pemfilteran (filtering) Tipe filter yang digunakan mengacu pada model klasifikasi filter yang dikembangkan oleh Sabins.Jr, 1996 yaitu filter directional dan filter non directional. Metode ini untuk mengetahui lineament dan batas-batas litologi. 2. Transformasi Transformasi analisa komponen utama ini dilakukan untuk membedakan satuan batuan 3. Pembuatan citra komposit Menggunakan 3 saluran dari penisbaan saluran, metode ini untuk mengidentifikasi litologi dan penyebaran batuan yang mengalami alterasi. 2.3. Metode Penggabungan hasil Penajaman Interpretasi Visual, dan Peta Geologi Hasil pengolahan diatas dilakukan overlay, sehingga diperoleh informasi daerah yang potensi mengandung cebagan bijih emas. 3. TATANAN GEOLOGI 3.1. Geomorfologi Bemmelen (1970) mengemukakan bahwa fisiografi daerah Jawa Barat dibagi menjadi 6 bagian yang meliputi : (1) Volkanik Kwarter (Quarternary volcanoes), (2) Dataran aluvial Jawa bagian utara, (3) Antiklinorium Bogor (Bogor Anticlinorium, (4) Kubah dan Pegunungan dalam zona depresi tengah (Domes and Ridges in the Central Depression Zone), (5) Zona depresi tengah Jawa Barat (Central Depression Zone of West Java), (6) Pegunungan Selatan Jawa Barat (Southern Mountains of West Java). Daerah Bayah terletak di ujung barat Bogor Zone (Koolhoven ,1933). Morfologi daerah Bayah terdiri dari perbukitan dan lembah, perbukitan dengan beberapa bukit

yang mempunyai ketinggian lebih dari 1500 meter seperti G. Ciawitali, G. Halimun, dan G. Sanggabuana, lembah Citorek merupakan lembah cukup luas dan dikelilingi oleh perbukitan dengan sungai Cimadur sebagai sungai utama yang berbentuk huruf U. Sungai yang mengalir di kubah Bayah antara lain: S. Cibareno yang terletak di bagian sayap timur dari kubah, sungai Cimadur yang terletak dibagian tengah dari kubah Bayah, sedang di sayap bagian barat mengalir sungai Cipeucangpari. 3.2. Stratigrafi Stratigrafi daerah Bayah terbagi atas 3 jalur tektonik : Jalur sedimen Utara, Tengah, dan selatan. Jalur sedimen Utara terdiri dari Formasi Cimapag, Sareweh, Cimanceuri dan dan sedimen Tersier Muda. Jalur Eruptiva Tengah terdiri dari Formasi Andesit Tua dan sedimen Tersier Tua, sedang Jalur Sedimen Selatan terdiri dari Formasi Bayah, Cicengkol, Cicarucup dan Citarate. Formasi Bayah yang merupakan batuan tertua berumur Eosen terdiri dari batupasir, batulempung, batugamping, dan tuf abu-abu mengandung fragmen batuan ubahan. Formasi ini menempati dibagian selatan dari kubah Bayah Diatasnya secara selaras Formasi Andesit Tua (Bemmelen,1970), berumur Miosen Awal terdiri dari tufa breksi dan lava berkomposisi andesit berwarna kehijauan dengan masa dasar bersifat andesitik tufaan. Formasi ini menempati hampir sebagian besar daerah kubah Bayah. Diatas formasi ini diendapkan Formasi Cimapag berumur Miosen Awal bagian Atas terdiri dari lapisan basal breksi dan konglomerat polimik yang mengandung fragmen yang lebih tua, selanjutnya batuan vulkanik yang berkomposisi andesitik sampai dasitik, kadang-kadang berselingan dengan konglomerat, batupasir, batulempung, dan batugamping. Diatas Formasi Cimapag ini secara tidak selaras diendapkan Formasi Sareweh yang terdiri dari batugamping, napal, batupasir dan tufa. Pada beberapa tempat batuan ini terpropolitkan dan terkersikan dengan piritisasi yang kadang-kadang telah berubah menjadi limonit.

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

SDA - 163

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

Intrusi-intrusi granodiorit Cihara, diorit kwarsa G. Malang dan G. Lukut yang berhungan dengan vulkanik pada masa pengendapan Formasi Cimapag dan Sareweh diduga sebagai penyebab mineralisasi di daerah ini (Sutisna dkk, 1994). 3.4. Struktur Geologi Arah struktur di daerah Bayah berkisar Utara Selatan, yang mungkin sangat dipengaruhi oleh pengaruh gaya-gaya yang disebabkan oleh pergerakan aktif lempeng tektonik Samudera Hindia di sebelah selatan, sejak Miosen hingga saat ini. Lempeng tektonik tersebut menyusup masuk kebawah lempeng benua Asia (Dangkalan Sunda), dan mengakibatkan munculnya aktifitas orogenesa/ vulkanisma, kemudian diikuti oleh mineralisasi dan ubahan hirothermal berulang-ulang. Dalam pembentukan kubah Bayah dipengaruhi oleh tektonik regional sebagai akibat NNE SSW Tangential Stress (Katili dan Koesoemadinata, dalam S. Soeharto, 1993). Berdasarkan peta geologi lembar Leuwidamar (Sujatmiko dan S.Santosa,1992) secara umum arah struktur patahan Utara Selatan, sesar naik dan lipatan mempunyai arah Timur-Barat. Struktur yang mengakibatkan endapan emas epitermal daerah Bayah dapat diterangkan dengan metode Strain Ellipsoides (Yaya Sunarya dalam Soeharto,1989) 3.5. Mineralisasi dan Batuan Alterasi Endapan emas di daerah Jawa Barat bagian selatan umumnya terletak pada bagian tengah dan sayap dari Kubah Bayah. Litologi terdiri dari batuan yang mulai berumur Oligosen sampai dengan Kuarter dengan karakteristik dari Kalk alkalin sampai dengan batuan andesitic dan intrusi-intrusi yang berupa stock-stock kecil, beberapa ada yang berinterkalasi dengan batugamping Miosen dan batupasir (Bemmelen, 1949; Milesi et. Al. 1994 vide Marcoux and Milen 1995). Mineralisasi di daerah Bayah terdapat di beberapa daerah seperti: G. Liman, daerah Muara, Daerah Leuwiliang, Daerah Cipinang, daerah Cipanas, daerah Cisone, daerah Nirmala,.daerah

Cibarengkok, Cikidang,

daerah

Ciawitali

dan

daerah

4. PEMBAHASAN 4.1. Bentuk Melingkar Hasil interpretasi pola pengaliran dan morfologi dari dari bentuk perbukitan melingkar di citra Landsat TM disimpulkan sebagai struktur kubah. Bentuk morfologi berupa bukit melingkar dapat dilihat dengan jelas pada citra saluran 4 dan 5, dimana bentuk morfologi ini di sisi bagian timur dan utara sangat jelas sedang di sisi barat dapat di lacak dari penjajaran bukit, sememtara di sisi selatan dapat dilacak dari pembelokan beberapa sungai utama dan anak sungai. Diantara perbukitan melingkar dijumpai depresi kecil yaitu depresi Citorek dan depresi dibagian sayap kubah bagian timur. Depresi Citorek ditandai dengan adanya bentuk melingkar sungai Cimadur dan dibatasi oleh punggungan yang konsentris, depresi di sisi timur sayap kubah ukuran lebih kecil ditandai juga adanya sungai yang melingkar, kedua depresi ini diinterpretasikan sebagai kaldera. Cebakan mineral yang berkaitan dengan struktur kubah di Dinkidi, Philipina, hal yang sama di Jepang dilaporkan kaldera Aso, Kyusiu. Hubungan terjadinya emas epitermal dengan kenampakan melingkar juga dilaporkan oleh B Wake (1996) di Sulawesi Utara. Keberadaan cebakan emas di daerah Bayah sangat erat hubungannya dengan struktur kubah, daerahdaerah yang prospek terutama di Cikotok, Cirotan, dan di Cikidang terletak di tengah dan di sayap kubah. Cikotok terletak di bagian sayap selatan kubah Bayah, Cirotan di bagian tengah sedang Cikidang dibagian timur laut sayap kubah. Mineralisasi di daerah Bayah berhubungan dengan proses terbentuknya Kubah Bayah. Depresi Citorek dan depresi di sayap timur kubah perlu menjadi perhatian karena menurut Marcoux (1994) yang memperkirakan depresi Citorek sebagai kaldera.

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

SDA - 164

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

4.2. Kelurusan Struktur Pola kelurusan secara umum di daerah Bayah mempunyai arah N S, NE SW dan SW - SE, berdasarkan parameter fisik dan genetik (Raina, 1979) kelurusan struktur di daerah penelitian dapat dikelompokkan menjadi: 1. Bentuk curvilinear yang menunjukkan adanya suatu kubah dan depresi yang diinterpretasikan sebagai kaldera, 2. Bentuk linear yang dapat menunjukkan adanya zona patahan dan batas litologi. Berdasarkan panjang kelurusan Raina, 1979 membagi menjadi: 1. Major ( > 300 km) 2. Intermidiate ( 100 - 300 km) 3. Minor (< 100 Km) Didaerah penelitian kelurusan termasuk minor. Di Nevada, Rowan dan Wetlaufer (1977) membuktikan bahwa dari 367 bentuk kelurusan 80% berhubungan dengan struktur sesar dan selebihnya merupakan punggungan dari perbukitan. Pola kelurusan struktur di daerah penelitian ada yang mengikuti pola patahan Meratus yang mempunyai ara NE SW (Pulunggono dan Soejono dalam Heru Sigit,1997). Kelurusan yang berarah N S mengikuti patahan Sunda atau Jampang Trend dan kelurusan yang mempunyai arah NW SE mengikuti The South Banten Trend (Sunarya dalam Suharto, 1989). Menurut Suharto (1989) terjadinya endapan emas epitemal di daerah kubah Bayah berkaitan model struktur geologi yaitu Jampang Trend yang mempunyai arah N S dan The South Banten Trend yang berarah NW SE. Keberadaan endapan emas yang dikontrol oleh suatu kelurusan yang sejajar juga dilaporkan oleh Corbelt (1996) di daerah Porgera, Papua New Guinea. Daerah mineralisasi di kubah Bayah seperti di Cikotok terjadi karena perpotongan struktur barat laut tenggara (NW-SE) dengan struktur berarah timur laut barat daya (NE SW) dan utara selatan (N S), Cirotan terjadi akibat perpotongan struktur berarah barat laut (NW SE) dengan struktur berarah utara selatan (N S) dan timur laut barat daya (NE SW) , dan Cikidang dikontrol oleh pola struktur yang mempunyai arah Timur Laut Barat Daya (NE SW) berpotongan dengan struktur berarah Barat Laut Tenggara (NW SE).

Melihat pola struktur pembawa emas di daerah yang prospek diatas, bisa disimpulkan bahwa daerah yang lain pada sayap kubah terutama di bagian utara, timur laut dan timur yang mempunyai pola struktur yang sama diperkirakan berpotensi mengandung cebagan bijih emas. 4.3. Alterasi Mineralisasi sebagai akibat dari kegiatan proses hidrotermal menyebabkan batuan samping mengalami ubahan (alteration), pada citra Landsat TM daerah Bayah kenampakan batuan yang mengalami alterasi tidak tercermin pada kenampakan ronanya, tetapi interpretasi batuan yang mengalami alterasi berdasarkan rona pada soil. Hasil pemrosesan citra komposit dan penisbaan saluran nampak daerah dengan batuan mengalami alterasi mempunyai rona yang berbeda dengan batuan yang tidak mengalami alterasi. Berdasarkan interpretasi manual beberapa daerah yang menunjukkan batuan mengalami alterasi yaitu di Cirotan, Cikotok, Ciawitali, G. Merak, dan sebelah timur dan timur laut Cikidang. Penyebaran batuan alterasi dari interpretasi secara umum berada di tengah ,sayap kubah Bayah, baik sayap selatan, barat, utara, timur, dan timur laut. 4.4. Korelasi antara Batuan Teralterasi, Kelurusan Struktur, dan Bentuk Melingkar di Daerah Bayah Hasil pemrosesan citra dari batuan yang mengalami alterasi, jika dilakukan overlay dengan kelurusan struktur, menunjukkan sebaran batuan yang mengalami alterasi cenderung mengikuti pola kelurusan struktur yang saling berpotongan atau di kelurusannya, tetapi juga ada penyebaran batuan teralterasi yang berada diluar kelurusan. Hasil overlay diatas jika di overlay dengan batas kubah secara umum batuan yang mengalami alterasi berada di tengah dan tepi kubah, tetapi Pola kelurusan struktur yang berpotongan secara umum berada di tengah kubah dan ditepi kubah, sementara pola stuktur yang tidak berpotongan berada diluar kubah.. Jika di overlay dengan satuan batuan hasil interpretasi dan citra komposit 457. maupun peta geologi lembar Leuwidamar menunjukkan bahwa
SDA - 165

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

batuan yang mengalami alterasi dan pola kelurusan struktur yang berpotongan berada pada satuan breksi gunungapi 3 atau Formasi Cikotok dan Formasi Cimapag (Sujatmiko dan Santosa, 1992) dan satuan breksi gunungapi 2 atau breksi Tapos (Sujatmiko dan Satosa1992) serta berada di tengah dan di tepi kubah, tetapi ada sebagian batuan yang teralterasi berada di satuan batupasir atau Formasi Bayah (Sutisna,1991) , satuan breksi gunungapi 2 atau breksi Tapos (Sujatmiko dan S. Santosa,1992), dan satuan breksi gunung 1 atau satuan batuan gunungapi Endut (Sujatmiko dan S. Santosa,1992). Fenomena sebaran batuan teralterasi nampak jelas di daerah Cirotan, Ciusul, Ciawitali, dan G. Batu G. Pandan, dimana di daerah tersebut mempunyai arah kelurusan NNE SSW yang terpotong oleh kelurusan berarah NW SE, daerah-daerah tersebut berada di dalam dan di tepi kubah. Daerah lain dengan batuan teralterasi dan pola struktur yang sama dengan daerah diatas dan berada di tepi kubah mungkin berpotensi mengandung cebakan bijih emas, karena itu harus di tinjau dahulu kondisi lapangan sebenarnya. 5. KESIMPULAN Berdasarkan kajian yang dilakukan dalam peneltian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Untuk daerah Bayah interpretasi dari citra Landsat dapat diidentifikasi batuan sebanyak 7 satuan yaitu: (1) satuan breksi gunungapi 1, (2) satuan breksi gunungapi 2, (3) satuan tuf, (4) satuan breksi gunungapi 3, (5) satuan batugamping, (6) satuan batupasir, dan (7) satuan batuan intrusi. 2. Kelurusan yang dapat diidentifikasi ada 3 dengan arah arah NW SE, N S, dan NE SW. 3. Berdasarkan interpretasi citra, potensi endapan emas di daerah Bayah berada di sayap Kubah bagian Utara, Timur Laut, Timur, daerah depresi Citorek dan depresi yang ada disayap kubah bagian timur. 4. Pengolahan citra LANDSAT TM olahan digital dapat mendukung batas kubah, pola kelurusan struktur dan alterasi.

UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini dapat terlaksana dari dukungan dana dari Bapak Dr. Budi Sulistijo, di Jurusan Rekayasa Pertambangan ITB, untuk itu saya mengucapkan terima kasih. DAFTAR PUSTAKA Bemmelen, RW, 1970. The Geology of Indonesia. Martinus Nijoff/ The Hague. Birnie, RW and JR Francica., 1981. Remote Detection of Geobotanical Anomalies Related to Porphyry Copper Mineralization. Economic Geology. Vol 78: 637647. Danoedoro, P, 1996. Pengolahan Citra Digital, Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. Dewanti, R, A Sarutji dan M Dimyati. Studi Penyambungan (Mosaicking) Citra Landsat Majalah LAPAN No 46: 2834. Gregory, AF, 1979. Remote Sensing in The Search for metallic Ores A Review of Current Practice and Future Potential. Economic Geology No 31: 511526. Hajar, N dan Soesilo Indroyono. Penggunaan Citra Landsat Olahan Digital Untuk Penyelidikan Geologi Daerah Jawa Barat. Majalah LAPAN No 38: 215. Soesilo Indroyono, 1994. Teknologi Penginderaan Jauh di Indonesia. Jakarta Timur: CV Aksara Buana. Izmaya, H. Koreksi Geometri Data Spot dengan Menggunakan Ground Control Points. Warta LAPAN No 22: 1619. Jensen, JR, 1986. Indtroductory Digital Image Processing, PrinticeHall. Koike, K, 1995. Lineament Analysis of satellite Image Using a segment Tracing Algorithm (STA), Computers & Geosciences Vol 21 No 9: 1091 1104. Lillesand & Kiefer, 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gajah Mada Press.

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

SDA - 166

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

Mangillo, MA, 1995, Application of Satellite Imagery to explore and Monitor Geothermal Systems, Course Geothermal Technology, ITB, Bandung. Murni Arymurthy, A dan S. Setiawan, 1992. Pengantar Pengolahan Citra. Jakarta: PT Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia). Pasaribu, DP, Hermansyah, Kristadi, HJ, Tjiptono, AG, 1992. Pengolahan Data Landsat MSS untuk Menunjang Eksplorasi Hidrokarbon daerah kasus: Cekungan Sumatera Utara, Diskusi Ilmiah, Hasil Penelitian LEMIGAS. Pirajno, F, 1992. Hidrotermal Mineral Deposits Principles and Foundamental Concepts for The Exploration Geologist, SpringerVerlag, Berlin, Heidelberg, New York, London, Paris, 709 h. Rowan, LC, 1977. Discimination of Hydrothermal Altered And Unaltered Rocks in Visible and Near Infrared, Geophysics Vol 42 No 3: 522535. Sabins, FF, 1996. Principles And Interpretation. New York: WH Freeman And Company. Schimidt, RG, 1976. Exploration for Porphyry Copper Deposits in Pakistan using Digital Processing of Landsat1 Data, Journal Reserch US Geology Survey Vol 4 No 1: 2734.

Soeharto, R.S dan Deddy T. Surisna, 1989. Variasi Mineralisasi Dalam Zona Kubah Bayah Banten Selatan, Jawa Barat, PITIAGI XVIII, Yogyakarta. Budi Sulistijo, 1999. Identification of massive low grade gold deposit in dome areas by combination of deep resistivity and image processing methods, Graduate Team Research Grant Batch IV, 1998/1999, University Research For Graduate Education (URGE) Project, ITB. Sutisna, DT, Pudjosujarwo, Wahyono H, Soeharto S, 1991. Eksplorasi Logam Mulia Di Daerah Jampang (Kab. Sukabumi-Cianjur) dan Bayah (Kab.Lebak) Jawa Barat, Kolokium Hasil Penyelidikan Sumber Daya Mineral Indonesia, Bandung. Suwiyanto , Asrenny Rianty, 1997. Aplikasi Penginderaan Jauh dalam Menunjang Eksplorasi Mineral, Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh dalam Kegiatan Pertambangan di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Geologi Universitas Pajajaran Bandung, hal 103126.

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

SDA - 167

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa

LAMPIRAN

Gambar 3. Potensi Mineralisasi Emas Gambar 1. Kubah Bayah

Gambar 2. Pola Kelurusan Struktur

Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 15 September 2005

SDA - 168