Anda di halaman 1dari 5

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN LENTENG SUMENEP INSTITUTE FOR AGRICULTURAL EXTENSION DISTRICT LENTENG SUMENEP Calendar J A M Minggu, 07 November

2010 Menyiasati Kelangkaan Pupuk Kebijakan sejumlah pemerintah daerah menggalakkan kembali pertanian harus didukun g dengan kerja keras, terutama oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Banyak ha l yang harus dilakukan para penyuluh agar hasil pertanian bisa maksimal. Tentu s aja prinsipnya biaya seminimal mungkin. Salah satunya adalah membudayakan pemupu kan berimbang kepada para petani. Pasalnya, para petani masih beranggapan, semakin banyak menggunakan pupuk, hasil nya akan bertambah pula. Padahal, pan-dangan demikian sangatkeliru. Pandangan itu ditengarai menjadi salah satu penyebabterjadinya kelangkaan pupukd i sejumlah daerah belakangan belakangan ini. Sebab, petani yang memiliki modal l ebih besar akan melakukan aksi borong pupuk sehingga petani bermodal pas-pasan m enjadi tidak kebagian. Padahal alokasi pupuk dari pabrikan ditetapkan berdasarka n kuota. Misalnya Pupuk Kaltimhanya mengalokasikan 30 ribu ton per tahun ke Kabu paten Demak. Namun itu tidak sepenuhnya kesalahan petani. Hingga kinirekomendasi pemupukan un tuk padi sawah di sebagian besar daerah masihbersifat umum, baik jumlah maupun j enisnya sehingga efisiensi pemupukan rendah dan tidak berimbang. Agar efisien dan berimbang, maka rekomendasi pemupukan harus didasarkan atas uji tanah. Rekomendasi pemupukan harus memperhatikan statusdan dinamika hara tanah, serta kebutuhan tanaman. Terkait soal pemupukan berimbang, yang harus diketahui pertama kali adalah statu s hara tanah sawah. Berkat kemajuan teknologi dewasa ini, petani atau penyuluh t idak perlu lagi mendatangi laboratorium uji tanah. Sebab, pengujian dapat dilaku kan di lapangan dengan cepat, mudah, murah, dan hasilnya pun akurat. Uji tanah m erupakan teknik yang tepat sebagai dasar merekomendasi pemupukan berimbang di lo kasi spesifik. Pemupukan berimbang bukan berarti pemberian semua unsur makro mau pun mikro, seperti N, P, K,Cu, Zn, dan Mn. Unsur tersebut harus disesuaikan dengan hara yang terkandung dalam tanah. Hanya tanah dengan unsur hara kurang (kahat) yang harus ditambahkan sesuai tingkat keb utuhan tanaman. Sebab, penambahan hara yang tidakdiperlukan tanaman justru dapat mencemari lingkungan(tanah dan perairan). Terlebih bila status hara tanah sudah sangat tinggi. Penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah memerlukan data analisis tanah. Di sisi lain, pengguna, penyuluh, dan petani sulit untuk melaku kananalisis contoh tanah karenabiayanya relatif mahal. Apalagi laboratorium uji tanah di sekitar wilayah pertanian masih sangat terbatas. Hal itu menyebabkan re komendasi pemupukan untuk padi sawah masih bersifat umum dan seragam di seluruh Indonesia. Perangkat Uji Tanah Sawah Untuk mengatasi kesenjangan penerapan teknologi pemupukan berimbang, kini ada al at bantu untuk menentukan kandungan (status) hara tanah yang dapat dikerjakan di lapangan. Alat bantu itu dinamakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). PUTS dihar apkan mampu membantu petani meningkatkan ketepatan pemberian takaran pupuk N (ni trogen), P (pospat), dan K (kalium) untuk padi sawah dengan produktivitas setara IR 64. Secara umum, PUTS dapat digunakan untuk menilai status kesuburan tanah sawah sec ara cepat. Tanah sawah yang mempunyai kandungan hara N, P, K tinggi dinyatakan s ebagai tanah sawah yang subur sehingga upaya pelestarian produktivitas lahannya sedikit lebih ringan dibandingkan tanah sawah yang berstatus hara rendah. Dengan PUTS pula, pemberian rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk padisawah dapat lebih tepat dan efisien sehingga menghemat pemakaian. Perangkat tersebut terdiri atas satu set alat dan bahan kimia untuk menganalisis kadar hara tanah sawah. Keunggulannya, dapat digunakan di lapangan dengan relat if cepat, mudah,murah, dan cukup akurat karena dirancang untuk mengukur kadar N, P, K dan PH (keasaman) tanah. Petani atau PPL cukup mengelompokkan hasil penguku

ran kadar hara N, P dan K tanah ke dalam kategori rendah (R), sedang (S), dan ti nggi (T). Ini sudah dilengkapi tabel dan kita cukup mencocokkanhasil uji tanah sawah denga ntabel tersebut. Dengan alat ini pekerjaan analisis tanah yang biasanya dilakuka n di laboratorium bisa diselesaikan cukup di sawah. Bahkan perangkat ini dapat d igunakan untuk menganalisis 50 contoh tanah. Jika dirawat dan ditutup rapat sete lah digunakan, massa kedaluwarsa bahan kimia yang ada dalam PUTS ini bisa mencap ai 1,5 tahun dihitung dari pertama kali pembukaankemasannya. Akurasi PUTS telah diuji dengan menggunakan contoh tanah mineral dari lahan sawa h yang memiliki kandungan N, P, dan K, serta di tanah ber-PH rendah hingga tingg i. Uji validasi PUTS telah dilaksanakan pada tanah Inceptisol, Uktisol, Entisol, dan Vertisol yang tersebar di 146 lokasi diPulau Jawa. Dengan adanya PUTS yang dapat dioperasikan oleh pe-nyuluh pertanian atau petani terlatih, ma-ka takaran pupuk untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien.Penerapannya pun dapat menj angkau wilayah yang luas. Bagi petani, penggunaan PUTS dapat meningkatkan efisie nsi pemakaian pupuk sehingga berpotensi menambah keuntungan. Ditinjau dari sisi lingkungan, pemakaian pupuk yang tepatdan efisien dapat menek an pencemaran dari badan air (nitrat) dan dalam tanah (logam berat dari pupuk). Selain itu, penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah dengan PUTS dapat m enghemat pemakaian pupuk secara nasional. Tentu saja hal itu akan menambah devis a negara karena alokasi untuk menyubsidi pupuk bisa dialihkan untuk keperluan ya ng lain. Sayangnya, meski sudah ada perangkat yang berpotensi menguntungkan petani itu, b elum semua PPL menerapkannya. Padahal sebagian besar dari mereka telah memiliki perangkat tersebut sejak satu tahun lalu. Hal itu menjadikan petani yang mestiny a mampu menghemat pupuk dalam setahun, justru menjadi penghambur pupuk akibat ke tidaktahuannya. Bahkan, imbas lebih jauh yang diperoleh itu mengakibatkan pupuk langka. Untuk it u, perlu adanya pengawasan yang lebih ketat dari stakeholders pertanian. PPL yan g tidak segera menerapkan PUTS hendaknya ditegur, bila perludiberi sanksi. Apala gi pengadaan PUTS atas biaya negara yang tentunya menggunakan uang rakyat. Pengg unaan uang rakyat diharapkan dapat kembali memberikan kontribusi yang lebih berm anfaat bagi keperluan masyarakat luas. (Anang Hariadi-80) Diposkan oleh BPP Lenteng Sumenep di 06:10 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz Reaksi: 0 komentar: Poskan Komentar KOMENTAR Link ke posting ini Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Entri Populer Penggerek Batang Padi I. PENDAHULUAN Salah satu kendala yang hampir selalu dijumpai dalam bud danya serangan organ... PENGENDALIAN HAMA UTAMA TANAMAN CABAI MERAH Salah satu penyebab rendahnya poduksi cabai merah adalah adanya serangan Organis me Pengganggu Tanaman (OPT). Timbulnya masalah hama dan l... PENGENALAN FORMULASI DAN ALAT APLIKASI PESTISIDA Pendahuluan Sistem budidayatanaman di Indonesia menganut prinsip Pengendalian Ha ma Terpadu (PHT) yang dinyatakan dalam Undang-Undang No. 12... TRANSLATE PRAKIRAAN CUACA See 10-Day Forecast

HotelsCombined.com "NOT JUST WORDS" Ask not what your country can do for you -- ask what you can do for your country ".(by JFKennedy) Extension may be defined as the science of making people innovative for sustaina ble improvement in their quality of live (Ray, 1998) mendengar, saya lupa; melihat, saya ingat; melakukan, saya paham; menemukan sendiri, saya kuasai (Falsafah SL-PTT) melakukan ( mengalami ), mengungkapkan, menganalisis, menyimpul-kan dan menerapk an ( kembali melakukan ). dan bersifat partisipatoris (Prinsip Pendidikan SLI) PADI BUKAN TANAMAN AIR TAPI TANAMAN PADI MEMBUTUHKAN AIR (FILOSOFI BUDIDAYA PADI ) (The Law of the Minimum) Pertumbuhan tanaman dibatasi oleh unsur hara tanaman ya ng terdapat dalam jumlah yang sangat rendah, sedangkan faktor lainnya berada dal am keadaan cukup (Justus von Liebig) Sebidang tanah, betapapun suburnya, takkan memberikan hasil tanpa usaha bercocok tanam, demikian pula otakmanusia tak akan memberikan manfaat tanpa belajar. (Ci cero) DATA BPP LENTENG Kegiatan PPL Kec. Lenteng Kab. Sumenep Peta Wilayah Binaan PPL Kecamatan Lenteng Kabupate... DATA KELOMPOK TANI SE-KECAMATAN LENTENG GAPOKTAN DESA SE-KECAMATAN LENTENG CONTACT PERSON PETUGAS PERTANIAN LENTENG UNDANG-UNDANG NO 16 TAHUN 2006 TENTANG SISTIM PEN... PERATURAN MENTERI PERTANIAN PEDOMAN UMUM DAN PETUNJUK TEKNIS ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA WEB APLIKASI APLIKASI PEMUPUKAN HARA SPESIFIK LOKASI (PHSL) Instansi Pertanian BPP Bluto Sumenep Cyber Extension Dinas Pertanian Propinsi JawaTimur Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia Instansi Lain Pemerintah Kabupaten Sumenep Badan Urusan Logistik (BULOG) Biro Pusat Statistik Jawa Timur Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (Karang Ploso) Perguruan Tinggi Pertanian Institut Pertanian Bogor Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Fakultas Pertanian Universitas Jember Organisasi Pertanian Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Serikat Petani Indonesia Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Jatim) Kontak Tani Nelayan Andalan Media Massa Pertanian AGROINDONESIA TABLOID AGRINA TABLOID SINAR TANI MAJALAH BANGKIT TANI MAJALAH TRUBUS

Mengenai Saya BPP Lenteng Sumenep Lihat profil lengkapku Video Biogas didukung oleh Video Bubu Perangkap Tikus & Pemupukan Padi Sawah Tampilan slide File Download Pertanian Sistem Pemilihan Varietas Padi(SIPAVAR) PIRANTI LUNAK PEMUPUKAN PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI -PuPS versi 1.1 Sistem Pakar Budi Daya Padi (SIPADI) Sistem Pakar Budidaya Kedelai(SIPALE) Formulasi Ransum Penggemukan Sapi Formulasi Konsentrasi Rumansia Leafet Dan Brosur BAGAN WARNA DAUN PADA TANAMAN JAGUNG BAGAN WARNA DAUN PADA TANAMAN PADI BAWANG MERAH BUDIDAYA BUNGA SEDAP MALAM BUDIDAYA CABE BESAR BUDIDAYA KACANG TANAH BUDIDAYA WIJEN HAMA DAN PENYAKIT KUBIS MERANGSANG PEMBUNGAAN MANGGA PEMANFAATAN AZZOLA SEBAGAI PUPUK ORGANIK TEKNIK PERBANYAKAN BIBIT PISANG TEKNOLOGI PENGENDALIAN GULMA ARTIKEL PERTANIAN TENTANG KACANG TANAH SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION BUDIDAYA PISANG BUDIDAYA LEBAH BUDIDAYA BUAH NAGA KAJIAN KEBUTUHAN DAN PELUANG OPT PADA TANAMAN KEDELAI PENGELOLAAN GULMA SEMUA TENTANG JAGUNG OPT DAN HARA PADA TANAMAN PADI HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN PEPAYA Arsip Blog 2011 (29) 2010 (42) Desember (14) November (21) HUMIC ACID (Asam humus / Asam Humat) PELATIHAN PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN ... Peternak Bantul Produksi Pakan Ternak Dari Sampah ... Harus Ada Intervensi Gizi Peran Penyuluh Pertanian Mencemaskan Andragogi, Suatu Orientasi Baru dalam Pembelajaran... UGM Buat Burger untuk Sapi Korban Merapi Kidung Penyuluh Pertanian Indonesia Pupuk Mahal, PetaniManfaatkan Batang Pisang Manfaat kuning telur sebagai pestisida hayati Bagaimana memilih metode penyuluhan yang tepat? Anggota DPR RI Dituding Bermain di PUAP Amoniasi Jerami untuk Pakan Ternak Menyiasati Kelangkaan Pupuk Partikulasi Asap Rokok Dapat Tingkatkan Kualitas K... Pinang Muda Cegah Penyakit Cacingan Pada Ternak Teknologi Konsorsia Mikrob Mampu Atasi Lahan Masam...

Petani Jatim Termiskin di Jawa Getah Pisang Sembuhkan Luka Mentan Diversifikasi Pangan Dapat Kurangi Konsumsi... REVOLUSI HIJAU DAN PENYULUHAN PERTANIAN Oktober (7) Peta Lenteng Lihat Peta Lebih Besar SMS GRATISAN LIHAT PENGUNJUNG 7,826 Pengikut R ISKANDAR ZULKARNAEN, SP. Template Watermark. Gambartemplate oleh TommyIX . Did ukung oleh Blogger .