Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Untuk menyingkap sejak sebelum ada apa apa, yaitu semasih dalam suasana Kosong /
sepi, ternyata disitu terdapat kehidupan yang bisa hidup bertahan tanpa memerlukan makan dan
minum bahkan selalu aktiI melakukan aktivitas tanpa pernah absen selama 24 jam. Siapa yang
dimaksud, tiada lain adalah TUHAN itu sendiri, Beliaulah menempati suasana sebelum terjadi
apa apa dan beliau memiliki kemampuan yang tiada taranya, super prima dan maha dari
segalanya. Orang Bali dalam menyebut kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, menulis sastra suci
aksara Bali yang berbunyi 'ONG. Kata ini merupakan perpaduan dua huruI yaitu : O dan NG,
penjelasannya :O artinya Alam Semesta, dan 'NG artinya : Getaran atau Kehidupan yang bisa
hidup tanpa memerlukan apa apa sebagaimana layaknya umat manusia. Aksara Bali yang
disebut 'ONG ( Eka Aksara ), kemudian dikatakan sastra suci, karena melihat Iungsinya untuk
menjungjung tinggi Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu satunya Sumber Kehidupan dari
Segalanya.
Untuk menyambut kebesaran Tuhan sesuai dengan suasana yang ditempatinya, Umat
Hindu Bali menakan Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya besar untuk menyambut dan
memperingati kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Cikal Bakal Ing Dumadi. Dengan kata
lain yaitu menyambut dan memperingati suasana awal, sebelum tercipta apa apa / kosong.

I.2 Rumusan Masalah.
Dari latar belakang masalah diatas kita dapat mengambil suatu masalah yaitu apa makna dari hari
raya nyepi bagi umat baeragama terutama umat beragama hindu.

I.3 Tujuan Penulisan.
Semakin majunya zaman akibat dari perkembangan teknologi dan masuknya budaya luar
kedalam kehidupan kita mengakibatkan kurangnya minat para generasi muda pada saat ini untuk


lebih mengenal hari raya sucinya, banyak generasi muda pada saat ini hanya mengikuti tanpa
tahu makna dari hari raya tersebut.

Melihat dari peristiwa tersebut ,kami ingin mengangkat makna hari raya nyepi yang nantinya
dapat lebih mengenalkan kepada generasi muda ,apa sebenarnya hari raya nyepi tersebut ,dan
asal usul terjadinya nyepi .

I.4 Landasan Teori
I.4.1 Sejarah Hari Raya Nyepi
Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan
Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku
menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan
beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku
bangsa, maupun karena adanya penaIsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.
Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah
pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari
sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi. Dari sini
dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan
Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling
berbeda.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang
satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa,
bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di
Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata
ulang.
Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari
pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian
sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan
Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia.


Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang
Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5
abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan
pergantian tahun saka ini, jga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan. Pengiring atau
caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo
padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, sama-sama
sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi
pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.
I.4.2 Pengertian Hari Raya Nyepi
Hari raya Nyepi oleh umat hindu di Bali dirayakan sebagai hari pergantian tahun baru
Caka. Hari raya ini menurut penanggalan hindu jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih
X (kedasa) atau tepatnya sehari sesudah tilem ke IX (kesanga). Terdapat beberapa rangkaian
pelakasanaan hari raya Nyepi ini, yaitu:
05 berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan
perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun
78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan
menyepi. Tidak ada aktiIitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan
umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
I.4.3 Tujuan utama Hari Raya Nyepi

adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Al9 (alam
manusia / microcosmos) dan Buwana Agung / macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya
Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah
Bali.






BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Rangkaian Acara Hari Raya Nyepi
Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka Peringatan tahun Saka di Indonesia
dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :
II.2 Upacara melasti, mekiyis dan melis
Upacara melasti yaitu pergi kelaut atau kesumber air untuk ngambil tirta amerta suci
untuk sumber kehidupan umat manusia. Air yang bersih dan suci yang berada ditengah samudra
atau pada sumber air adalah merupakan sumber utama dari kehidupan. Dalam kehidupan
modern, yadnya melasti ini mengandung pesan bahwa umat manusia dimanapun dia berada dia
harus selalu menjaga kebersihan dan kesucian air karena air yang bersih dan suci adalah sumber
kehidupan umat manusia. Semua ini tidak lain maknanya menjaga laut, sungai dan semua
sumber air tetap bersih. Manusia modern, industri di jaman modern ini harus mengolah
limbahnya sedemikian rupa agar tidak mengotori sungai, laut dan sumber-sumber air karena
semua itu sebagai sumber kehidupan. Jika itu tidak dijaga bersih maka tentu akan sulit dapat air
minum, aliran sungai terganggu dan akan terjadi banjir, sungai dan laut yang kotor
mengakibatkan ikan-ikan tercemar dan lain sebagainya. Yadnya melasti yang dilaksanakan
begitu sakral dan indah yang didalamnya mengandung makna ganda yaitu: disamping dapat
mencerminkan keluhuran dan keindahan budaya juga menuntun terwujudnya sebuah tata krama
kehidupan yang harmonis dengan lingkungan yang diyakini oleh umat Hindu sebagai ibu dan
bapak manusia karena ia sebagai sumber kehidupan umat manusia, yang semua itu dilandasi oleh
IilsaIat kebenaran Dharma. Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan
bhuana Agung atau alam semesta ini.


Upacara melasti dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara.
Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena.sekalian untuk nunas tirtha amerta
(tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda
II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun
dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan). Setelah melasti, biasanya dilanjutkan dengan
melakukan pemujaan di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali
dari mekiyis.
II.1.2 Tawur Agung/mecaru
persis sehari sebelum hari Nyepi dilaksanakan tawur kesanga yaitu penyucian atau
pembersihan alam dengan segala kelengkapannya sehingga alam dengan segala isinya selalu
dapat menjaga dan memberi kehidupan pada manusia. Pada yadnya tawur tersebut manusia
memberikan rasa bhakti dan cinta kasihnya pada alam yang juga dilaksanakan begitu sakral dan
indah. Arti operasionalnya di jaman modern adalah bahwa manusia tidak boleh merusak alam
sembarangan, manusia harus menjaga kelestarian alam, menjaga keberadaan dan keseimbangan
tumbuh-tumbuhan karena tumbuh-tumbuhan dapat menyeimbangkan atau mengendalikan air
tanah, dapat mengendalikan CO2 sehingga tidak merusak lapisan ozon. Jika tumbuh-tumbuhan
sudah tidak seimbang maka CO2 tidak terkendali dan akan mengakibatkan pemanasan global,
dimana es di kutub akan mencair dan air laut akan naik. Disamping itu jika tumbuh-tumbuhan
tidak seimbang maka aliran air tanah akan tidak terkendali, ketahanan tanah jadi lemah sehingga
terjadi banjir dan longsor. Manusia modern juga harus memahami pesan lain yang tersirat dalam
Tawur Kesanga tersebut yaitu setiap rumah harus punya halaman dan halaman harus ditanami
pohon yang berbunga, yang berbuah, yang berumbi agar halaman menjadi indah dan tumbuh-
tumbuhan menjadi seimbang secara ekologi. Maka itu, dalam yadnya baik waktu melasti, tawur
kesanga, dan yadnya yang lain menggunakan kembang, buah-buahan, daun-daunan, umbi-
umbian, dan air yang bersih. Semua persembahan yang dilakukan secara tulus dalam yadnya
penyepian tersebut dan juga yadnya yang lain dimaksudkan untuk membangun kebajikan di hati
manusia, membangun tatakrama dalam kehidupan manusia, dan membangun budaya yang indah
dan luhur.
Tawur Agung dilaksanakan di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang
menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia


Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan
dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).
Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna
membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga
dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi
bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang siIat bhutanya masih tersisa pada
orangnya).
II.1.3 Nyepi (Sipeng)
Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati
lelungan dan amati lelanguan).
II.1.5 Ngembak Geni.
Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan
keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma
Santi seperti saat ini. Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur
Weda XIX. 30 dinyatakan : Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham
apnoti, sraddhaya satyam apyate.
Artinya : Melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat
kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita
memperoleh kebenaran.
Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun
baru saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini
selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai.
Mekiyis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia
dengan alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala maniIetasi-Nya serta para leluhur yang
telah disucikan.
Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam
sekitar para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit.


Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara din sejati (Sang
Atma) seseorang umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam
din manusia ada sang din /atrnn (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau
Tuhan Yang Maha Esa).
Sima krama atau dharma Santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana
yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan
kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini.
Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat telah melakukan
dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta,
dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan
kedamaian bersama.
Namun patut juga diakui bahwa setiap hari suci keagamaan seperti Nyepi tahun 2009 ini,
ada saja godaannya. Baik karena sisa-sisa bhutakalanya, sisa mabuknya, dijadikan kesempatan
memunculkan dendam lama atau tindakan yang lain.
Dunia nyata ini memang dikuasai oleh hukum Rwa Bhineda. Baik-buruk, menang-kalah,
kaya-miskin, sengsara-bahagia dst. Manusia berada di antara itu dan manusia diuji untuk
mengendalikan diri di antara dua hal yang saling berbeda bahkan saling berlawanan.

II.1.6 Dharma Santi
Adapun Dharma Santi sebagai rangkaian akhir Nyepi merupakan hal yang wajib
dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa.
Dengan Dharma Santi kita dapat saling memaaIkan jika ada kesalahan atau kekeliruan
yang pernah terjadi setidak tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu
juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang
dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multi
kepentingan, multi karakter dan multi cultural



Pada hari raya Nyepi juga diperingati dengan prosesi mengarak ogoh-ogoh, Makna dari
ogoh-ogoh adalah patung yang melambangkan Buta Kala diharapkan dapat menetralisir roh-roh
jahat yang menguasai alam manusia antara kebaikan dan keburukan yang biasa juga disebut
dengan "Balance oI the World".
Prosesi Ogoh-Ogoh merupakan serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga adalah sebuah
ekspresi kreatiI masyarakat Hindu Bali di dalam memaknai perayaan pergantian Tahun Caka.
Masyarakat menciptakan Ogoh-Ogoh Bhutakala seperti : Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen,
Kala Lampah, Kala Ireng, dan banyak lagi bentuk-bentuk lainnya, sebagai perlambang siIat-siIat
negatiI yang harus dilebur agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Ogoh-Ogoh Bhutakala
yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji 'natab caru pabiakalan sebuah ritual yang
bermakna 'nyomia, mengembalikan siIat-siIat Bhutakala ke asalnya.
Ritual tersebut dilanjutkan dengan prosesi Ogoh-Ogoh, seluruh lapisan masyarakat bersama-
sama mengusung Ogoh-Ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus pata sebagai
simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah ritual
dan prosesi Ngerupuk tersebut Ogoh-Ogoh Bhutakala itupun 'di-prelina, mengembalikan ke
asalnya dengan dilebur atau dibakar.
Terkait dengan upacara Tawur Kesanga dan ritual Ngerupuk tersebut, prosesi Ogoh-
Ogoh mengandung dua makna yaitu :

a. mengekspresikan nilai-nilai religius dan ruang-waktu sakral berdasarkan sastra-sastra agama,
b. merupakan karya kreatiI yang disalurkan melalui ekspresi keindahan dan kebersamaan.

Arak-arakan ogoh-ogoh sering diperlombakan antar banjar. Pada Hari Raya Nyepi semua
kegiatan masyarakat Bali yang ada di Lombok ditiadakan. Mereka tidak diperbolehkan
bepergian, bekerja, membaca, menyalakan lampu, memasak dll. Hal ini dilakukan dari jam 6
pagi tanggal 5 Maret 2011 sampai jam 6 pagi hari berikutnya (tanggal 6 Maret 2011).





II.2 Makna Tapa Brata Penyepian
Kehidupan Dharma menuntun kita umat manusia selalu harus menjalani siklus kehidupan
Dharma agar selalu dapat terhindar dari jebakan hidup yang merusak kedamaian dan
keharmonisan. Siklus kehidupan Dharma yaitu Satyam-Cit-Ananda-Moksartham. Satyam artinya
setiap manusia haruslah secara rutin dapat melakukan perenungan, instrospeksi, mulat sarira
untuk memahami secara dalam makna kebenaran yang dituntun oleh Dharma yang tidak lain
pada tahap ini manusia harus membangun kebajikan dihati masing-masing. Cit adalah proses
dimana manusia terbangun pemahaman, terbangun kebajikan dihati, maka ia harus membangun
kesadaran dan keyakinan atau sraddha dan bhakti yang tinggi dalam dirinya masing-masing.
Kesadaran, keyakinan, atau sraddha inilah sebagai pondasi yang kuat untuk kehidupan yang
bertata krama. Kemudian tahap ketiga adalah ananda yaitu manusia harus menjalankan
kehidupan yang bertata krama, santun, beretika dituntun oleh konsep Tri Kaya Parisudha.
Pikiran, perkataan dan perbuatan harus dituntun oleh kebenaran yang telah diyakini sesuai jalan
Dharma untuk mencapai kehidupan yang ananda atau bahagia. Kemudian langkah yang keempat
adalah moksartham yaitu kehidupan yang tidak terikat oleh kepentingan duniawi yang penuh
ketulusan untuk dapat menuju sangkan paraning dumadi.
Yadnya dan tapa brata penyepian yang dilakukan umat Hindu setiap tahun adalah merupakan
langkah pertama dalam siklus kehidupan Dharma yaitu langkah Satyam. Nyepi artinya sepi,
kosong, tidak terikat, bersih, dan suci. Disaat itulah manusia melepaskan diri dari segala ikatan
duniawi, mengosongkan diri dari beban duniawi, menyepikan diri dari segala hingar bingar
duniawi, membersihkan diri dari godaan duniawi, dan menyucikan diri segala dosa duniawi.
Umat Hindu melalui yadnya dan brata penyepian berusaha tidak diikat dan tidak dikendalikan
oleh kepentingan duniawi, namun harus hidup harmonis dengan penuh cinta kasih dengan alam,
dengan Tuhan sang pencipta, dan dengan mahluk ciptaan Tuhan.
Konsep kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, mahluk lain, dan alam semesta ini oleh umat
Hindu disebut Tri Hita Karana. Dalam usaha melepaskan diri dari ikatan duniawi, ikatan alam
semesta umat Hindu bukanlah harus memusuhi alam, namun justru dengan cinta kasih, yaitu
dengan membersihkan dan menyucikan alam dan segala perlengkapannya, karena alam adalah
ciptaan Tuhan yang diyakini sebagai ibu dan bapak dari manusia yang memberikan kehidupan
pada umat manusia. Sehingga alam sebagai ibu dan bapak dari umat manusia juga wajib
10

mengingatkan kepada umat manusia jika ia membuat kesalahan yaitu menyalahi tata krama
kehidupan Dharma. Karena keyakinan dan sraddha seperti itulah umat Hindu dalam menjalankan
yadnya penyepian diawali dengan melasti.
Persis pada hari Nyepi, umat Hindu selama 24 jam melakukan pengendalian diri secara total
melalui Catur Brata Penyepian yaitu : amati geni, amati karya, amati lelungaan, dan amati
lelanguan. Amati geni artinya mematikan api yang ada di dalam diri manusia yang dapat
membakar atau merusak kehidupan yaitu egoisme, keserakahan, kemarahan, iri hati, kebencian,
pikiran, keinginan yang berlebihan, dan juga berpuasa. Untuk itu, disamping mematikan api yang
ada dalam diri untuk menjaga kehidupan yang harmonis dengan alam agar mendukung manusia
mematikan api pada dirinya, maka api yang ada di alam pun ikut dimatikan selama 24 jam. Brata
yang kedua adalah amati karya yang artinya tidak melakukan kegiatan berkarya dalam bentuk
apapun agar betul-betul dapat melepaskan diri dari segala ikatan dan kepentingan duniawi. Itu
juga melatih manusia untuk betul-betul bisa melaksanakan segala kehidupan dengan tulus iklas
tanpa pamrih. Brata ini juga sering disebutkan sebagai pengendalian raga. Brata yang ketiga
adalah amati lelungaan artinya kita tidak bepergian baik jiwa, pikiran, maupun raganya. Brata ini
melatih manusia untuk memahami sang diri, menyatukan bayu-sabda-idep, menyatu dalam
kekuatan samadhi sehingga pikiran, jiwa, dan raga menjadi bersih tanpa beban suatu apapun.
Dengan pikiran, jiwa, dan raga yang bersih dan bersatu maka manusia akan mempunyai
kekuatan besar dan terkonsentrasi untuk dapat menjalani kehidupan dengan segala tantangannya
dan akan selalu dituntun pada jalan yang benar. Brata ini akan membentuk moral dan karakter
yang baik dan positiI sehingga dapat mengendalikan stress yang kerap muncul di jaman modern
ini. Moral dan karakter yang baik sangat penting sebagai kekuatan hidup pada jaman modern.
Seperti dikatakan John C. Maxwell no one can stop people with good attitude to success; and no
one can help people with bad attitude to success. Brata yang keempat adalah amati lelanguan
yaitu mengendalikan rasa atau emosi untuk tidak bergejolak, untuk selalu dapat tenang dan sabar
dalam menghadapi segala persoalan. Dengan ketenangan dan kesabaran seseorang akan
mendapat kecerdasan dan kebijakan. Brata ini juga melatih dan menuntun agar kita dalam
kehidupan dapat selalu eling, waspada, hidup wajar, sederhana, bisa prihatin, dimana semua ini
tidak lain adalah olah rasa.

Keempat brata penyepian tersebut akan menuntun manusia untuk membangun kesadaran
11

Dharma, membangun kebajikan, membangun kesadaran, membangun keyakinan, menguatkan
sraddha umat Hindu, menanamkan tata krama yang benar dalam kehidupan. Setelah hari Nyepi
umat Hindu melaksanakan Dharma Shanti yaitu mulai menjalani kehidupan dengan tata krama
yang benar yang dilandasi kesadaran, kebajikan, dan sraddha yang dibangun melalui catur brata
penyepian.

Pembangunan negara yang ajeg di jaman modern ini sangat sulit karena penuh tantangan dan
penuh dengan persaingan. Dengan kebajikan yang ada di hati setiap manusia modern yang
dihasilkan dari pelaksanaan, yadnya dan tapa brata penyepian maka diyakini pembangunan suatu
bangsa akan bisa lancar dan ajeg, seperti dikatakan dalam sastra sebagai berikut. Jika ada yadnya
dan tapa brata, maka akan ada kebajikan di hati; Jika ada kebajikan di hati, maka akan ada
ketentraman dalam rumah tangga;
Jika ada ketentraman dalam rumah tangga, maka akan ada keajegan negara dan bangsa.
Dengan tapa brata penyepian, umat Hindu akan diharapkan dapat meningkatkan sraddha dan
dapat santun dan teguh menegakan kebenaran untuk mencapai kehidupan yang mulia dan
terhormat di jaman modern ini seperti dikatakan dalam sastra.
Dengan tapa brata seseorang akan mencapai diksa;
Dengan diksa seseorang akan mencapai daksina;
Dengan daksina seseorang akan mencapai sraddha;
Dengan sraddha seseorang akan mencapai satyam;
Dengan satyam seseorang akan mencapai kemuliaan Tuhan.

Dengan yadnya dan tapa brata penyepian diharapkan umat Hindu akan selalu mempunyai
kekuatan dan bekal yang paling berharga dalam menjalani kehidupan di jaman modern yaitu
kebajikan di hati, tata krama yang baik, dan budaya yang indah dan luhur.




1


BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Makna dari Nyepi adalah membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa
menyalakan api (amati geni), tidak keluar rumah (amati lelungaan), dan tanpa hiburan (amati
lelanguan), yang dikenal dengan istilah 'Catur Berata Penyepian. Di hari itu umat Hindu
melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta
menilai pelaksanaan trikaya (kayika perbuatan, wacika perkataan, manacika pikiran) di
masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan

Jadi makna Nyepi merupakan usaha manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada
Tuhan. Bukan hanya nyepi dari tingkah laku dan perbuatan...melainkan juga 'nyepi' pikiran'.
Pikiran yang nyepi adalah pikiran yang diam dan mengalami keheningan yang luar biasa. Maka
dia akan menyatu dengan kehidupan ini.








1

hLLp//wwwhlndubaLamcom/upacara/dewayadnya/harlrayanyeplhLml
hLLp//wwwpesonaballcom/011/0/harlrayanyeplLahunbarusaka1/
hLLp//wwwvlslLlomboksumbawacom/paradeogohogoh/
hLLp//asLacalaorg/wp/?p
hLLp//wwwkmhdlorg/?apparLlkelpagereadld1
hLLp//wwwparlsadaorg/lndexphp?opLloncom_conLenLLaskvlewld111lLemld
hLLp//ballkamlcom/LapabraLapenyeplanmareL011
hLLp//blogubacld/Lanlaparamecwarl/011/0/0/maknaharlrayanyeplo/