Anda di halaman 1dari 21

MORTALITAS (KEMATIAN)

Pendahuluan
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu diantara tiga kompoen demograIi yang
dapat mempengaruhi dua komponen demograIi yang lain adalah Iertilitas(kelahiran), dan
migrasi. InIormasi tentang kematian penting, tidak saja bagi pemerintah namun juga bagi pihak
swasta, yang terutama bergerak dalam bidang ekonomi dan kesehatan.
Data kematian sangat diperlukan antara lain untuk proyeksi penduduk guna perencanaan
pembangunan. Misalnya, perencanaan Iasilitas perumahan, Iasilitas pendidikan, dan jasa-jasa
lainnya untuk kepentingan masyarakat. Data kematian juga diperlukan untuk kepentingan
evaluasi terhadap program-program kebijaksanaan penduduk.
Konsep Mati
Konsep mati perlu diketahui guna mendapatkan data kematian yang benar. Dengan
kemajuan ilmu kedokteran, kadang-kadang sulit untuk membedakan antara keadaan mati dan
keadaan hidup secara klinik. Apabila pengertian mati tidak dikonsepkan, dikhawatirkan bisa
terjadi perbedaan penaIsiran antara berbagai orang tentang kapan seseorang akan dikatakan
mati.
Menurut konsepnya, terdapat 3 keadaan vital, yang masing-masing saling bersiIat
'mutualy exclusive, artinya keadaan satu tidak mungkin terjadi bersamaan dengan salah satu
keadaan lainnya. Tiga keadaan vital tersebut adalah:
1. ahir hidup(live birth)
2. Mati
3. ahir mati(Ietal death)
UN(United Nations) dan WHO(World Health Organization) membuat deIinisi 'mati
sebagai berikut:
'Mati adalah keadaan hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang
bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
!ada deIinisi diatas terlihat bahwa keadaan 'mati hanya bisa terjadi kalau sudah
kelahiran hidup. Dengan demikian keadaan mati selalu didahului oleh keadaan hidup. Dengan
kata lain tidak ada mati jika tidak ada hidup. Sedangkan hidup dimulai dengan kelahiran hidup.
DeIinisi lahir hidup menurut WHO dan Un adalah sebagai berikut:
'ahir hidup yaitu peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seorang ibusecara
lengkap tanpa memandang lamanya kelahiran dan perpisahan itu terjadi, hasil konsepsi
bernaIas dan mempunyai tanda-tanda hidup lainnya, seperti denyut jantung, denyut tali
pusat, atau gerakan-gerakan otot tanpa memandang apakah tali pusat sudah dipotong
atau belum.
Di pihak lain, lahir mati(Ietal death) adalah:
!eristiwa menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi sebelum hasil
konsepsi tersebut dikeluarkan dari rahim ibunya.
Dari deIinisi mati dan hidup diatas, maka lahir mati tidak dimasukkan kedalam mati
ataupun hidup. Termasuk kedalam pengertian lahir mati antara lain stillbirth dan abortus.
A.DEFINISI
ang dimaksud mati ialah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan yang
permanen, yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Budi Utomo, 1985). Dari
deIinisi ini terlihat bahwa keadaan 'mati hanya bisa terjadi kalau sudah terjadi kelahiran
hidup. Dengan demikian keadaan mati selalu didahului oleh kelahiran hidup. Degan kata
lain, mati tidak pernah ada kalau tidak ada kehidupan. Sedangkan hidup selalu dimulai
dengan lahir hidup. (Mantra, 2003)
Kematian atau mortalitas adalah salah satu dari tiga komponen proses demograIi yang
berpengaruh terhadap struktur penduduk. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk di
suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakan
barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.
Kematian adalah suatu konsekuensi dari keadaan sakit (penyakit) dan dari kecepatan
kejadian berbahaya. (Heer, 1985)
Di samping mortalitas, dikenal istilah morbiditas yang diartikan sebagai penyakit atau
kesakitan. !enyakit dan kesakitan adalah penyimpangan dari keadaan yang normal, yang
biasanya dibatasi pada kesehatan Iisik dan mental (Budi Utomo, 1985).
!ertumbuhan jumlah penduduk dipengaruhi oleh naik turunnya tingkat kematian.
Tingkat kematian adalah jumlah kematian setiap 1.000 penduduk setiap tahun. Kematian
bersiIat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian
caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran.
Di sini dibedakan peristiwa-peristiwa kematian yang terjadi di dalam rahim dan di luar
rahim. !ada masa janin masih dalam kandungan ibu, terdapat peristiwa-peristiwa kematian
janin sebagai berikut:
1. Abortus, kematian janin menjelang dan sampai 16 minggu
2. Immatur, kematian janin antara umur kandungan di atas 16 minggu sampai pada umur
kandungan 28 minggu
3. !remature, kematian janin di dalam kandungan pada umur di atas 28 minggu sampai
waktu lahir
Selanjutnya kematian bayi di luar rahim dibedakan atas:
4. ahir mati, kematian bayi yang cukup masanya pada waktu keluar dari rahim, tidak ada
tanda-tanda kehidupan
5. Kematian baru lahir adalah kematian bayi sebelum berumur satu bulan tetapi kurang dari
satu tahun
6. Kematian lepas baru lahir adalah kematia bayi setelah berumur satu bulan tetapi kurang
dari setahun
7. Kematian bayi, kematian setelah bayi lahir hidup hingga berumur kurang dari satu
tahun.(Mantra, 2003)
Beberapa perbedaan-perbedaan tentang kematian yang menarik perhatian terhadap
sosiologi yaitu membeda-bedakan antara: waktu damai dan waktu perang, perbedaan kelas-
kelas sosial dalam suatu bangsa, bangsa yang maju dan bangsa kurang maju, dan tingkatan-
tingkatan nasional sekarang yang dibandingkan dengan yang terdahulu. (Heer, 1985).
Tingkat kematian penduduk dipengaruhi oleh beberapa Iaktor seperti kondisi
sosial, ekonomi, pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan, dan jenis kelamin. Semua Iaktor itu
menurut siIatnya dapat dibedakan menjadi Iaktor pendukung kematian(promortalitas) dan
Iaktor penghambat kematian(antimortalitas).
a. Faktor-Iaktor antimortalitas:
1) Fasilitas kesehatan yang memadai
2) ingkungan yang bersih dan teratur
3) Ajaran agama yang melarang bunuh diri
4) Tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi sehingga penduduknya tidak mudah
terserang penyakit.
b. Faktor-Iaktor promortalitas:
1) Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan
2) Kurangnya Iasilitas kesehatan yang memadai
3) Seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas
4) Adanya bencana alam yang meminta korban jiwa
5) Terjadinya peperangan

B.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMATIAN
Kelaparan merupakan suatu penyebab yang umum bagi kematian pada waktu-waktu
terdahulu, mutu gizi yang tetap merupakan Iaktor-Iaktor penentu bagi tejadinya kematian.
Studi pada waktu sekarang telah memberikan bukti bahwa penyebab yang paling utama dari
kematian anak-anak di bawah umur lima tahun yaitu suatu diet yang tidak berkecukupan,
terutama yang mengandung protein. Tingkatan-tingkata kematian dapat pula dipengaruhi
oleh program-program pendidikan kesehatan. (Heer, 1985)

C. PERKEMBANGAN (TREN) MORTALITAS DI INDONESIA
Selama periode sebelum !erang Dunia II, perkiraan tingkat mortalitas
kasar (CDR) di Indonesia sangat tinggi yaitu antara 28-35 per 1000 penduduk. !ada
periode ini angka harapan hidup waktu lahir berkisar 30-35 tahun. Tingkat kematian
kasar per tahun selama periode ini sangat tidak menentu sebagai akibat itu sudah
diadakan berbagai tindakan pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut tetapi karena
keadaan perumahan yang tidak sehat dan kekurangan makanan yang bergizi (2alnutrisi),
penyakit tersebut tetap parah kecuali pes.
!ada tahun 1930-an tingkat kematian kasar kelihatan mulai menurun, tetapi
ketenangan ini diganggu oleh !erang Dunia II pada tahun 1941 dan didudukinya
Indonesia oleh Jepang dari tahun 1942-1945. Setelah itu disusul oleh !erang
Kemerdekaan dari tahun 1945 hingga tahun 1950. Keadaan ini menyebabkan tingkat
kematian di Indonesia meningkat kembali.
Setelah 1950 (penyerahan kedaulatan) keadaan keamanan di Indonesia mulai baik.
Tampak adanya titik balik dalam arah mortalitas di Indonesia, yaitu memperlihatkan
kencenderungan menurun perlahan-lahan. Angka harapan hidup pada waktu lahir pun
kelihatan meningkat pula dan angka ini terus meningkat sehingga sekitar tahun 1960-an
perkiraan harapan hidup waktu lahir berkisar antara 40-44 tahun.
Setelah tahun 1960, memang telah ada tedensi penurunan tingkat kematian, tetapi
penurunan ini tidak stabil kadang-kadang mengalami Iluktuasi yang dipengaruhi oleh
naik turunnya produksi pangan, situasi politik, dan taraI kesehatan masyarakat. !roduksi
pangan dalam tahun 1960-an tidak dapat mengimbangi tingkat pertambahan penduduk.
Merosotnya kesehatan masyarakat terjadi baik di daerah perkotaan maupun di daerah
pedesaan. Rumah sakit dan Iasilitas kesehatan lainnya kekurangan obat dan peralatan.
Sehingga menyebabkan penyakit endemic yang dianggap telah musnah mulai muncul
kembali. (Mantra, 2010)

D. SUMBER DATA KEMATIAN
Data kematian dapat diperoleh dari berbagai macam sumber, antara lain:
1. Sistem Registrasi Vital
Apabila sistem ini bekerja deengan baik merupakan sumber data kematian yang ideal.
Di sini kejadian kematian dicatat dan dilaporkan segera setelah peristiwa kematian
tersebut terjadi. Di Indonesia masih belum ada registrasi vital yang bersiIat nasional,
yang ada hanya sistem registrasi vital yang bersiIat lokal, dan inipun tidak sepenuhnya
meliputi semua kejadian kematian pada kota-kota itu sendiri. Dengan demikian di
Indonesia tidak mungkin memperoleh data kematian yang baik dari sistem registrasi
vital.

2. Sensus atau Survey !enduduk
Sensus penduduk survey merupakan kegiatan sesaat ysng bertujuan untuk
menumoulkan data penduduk, termasuk pula data kematian. Berbeda dengan sistem
registrasi vital, pada sensus atau survey, kejadian kematian dicatat setelah sekian lama
peristiwa kematian terssebut terjadi. Data kematian yang diperoleh melalui sensus atau
survey digolonkan menjadi dua bentuk:
1. Bentuk langsung(direct mortality data)
2. Bentuk tidak langsung(indirect mortality data)
Data kematian bentuk langsung diperoleh dengan menanyakan kepada responden
tentang ada tidaknya kematian selama kurun waktu tertentu. Apabila ada idaknya
kematian dibatasi dalam kurun waktu satu tahun terakhir menjelang waktu sensus atau
survey dilakukan, data kematian yang diperoleh dikenal dengan 'curent Mortality
Data.
Sedangkan data kematian bentuk tidak langsung diperoleh melalui pertanyaan tentang
'survivorship golongan penduduk tertentu, misalnya: anak, ibu, ayah, dan
sebagainya. Dalam kenyataan data kematian bentuk langsung mempunyai kualitas
lebih buruk dibandingkan data kematian bentuk tidak langsung, dan biasanya data
'survivorship anak. Selain data diatas, data kematian untuk golongan penduduk
tertentu di suatu tempat, kemungkinan diperoleh dari:
a. Rumah Sakit
b. Dinas !emakaman
c. Kantor !olisi alu intas, dsb
Tingkat kematian berbeda antara kelompok penduduk satu dan kelompok penduduk
lainnya. Tingkat kematian penduduk laki-laki biasanya lebih tinggi daripada tingkat kematian
penduduk wanita. Tingkat kematian penduduk dewasa muda lebih rendah daripada tingkat
kematian bayi dan anak, dan penduduk usia lanjut. !enduduk negara maju mempunyai tingkat
kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang. !enduduk
yang berstatus sosial-ekonomi baik, mempunyai tingkat kematian yang lebih rendah
dibandingkan dengan penduduk yang berstatus sosial-ekonomi buruk. Tingkat kematian
penduduk juga berbeda menurut tempat tinggal dan mungkin berubah menurut waktu. Dengan
demikian, tingkat kematian dipengaruhi oleh berbagai Iaktor, antara lain: Iaktor sosial-ekonomi,
Iaktor pekerjaan, Iaktor tempat tinggal, Iaktor pendidikan, Iaktor umur, Iaktor jenis kelamin, dan
sebagainya.
Selanjutnya, untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat kematian suatu penduduk,
dipergunakan ukuran kematian.
E. PENYEBAB ENDOGEN DAN EKSOGEN DARI KEMATIAN BAYI
!enyebab endogen dasn eksogen dari kematian bayi dalam sub ini disarikan dari
tulisan Budi Utomo (1985) dalam makalah dengan judul 'Mortalitas: !engertian dan
contoh Kasus Di Indonesia yang ditulis tahun 1985. Berbeda dengan kematian pada
umur-umur selanjutnya, pada bayi memerlukan perhatian sendiri.
Banyak sekali Iaktor yang dapat dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis
besar, dari segi penyebabnya, kematian bayi dibagi menjadi dua jenis, yaitu endogen dan
eksogen. Kematian bayi endogen adalah kematian bayi yang disebabkan oleh Iactor-
Iaktor anak yang dibawa sejak lahir, diwarisi oleh orang tuanya pada saat konsepsi atau
didapat darim ibunya selama kehamilan. Sedangkan kematian bayi eksogen adalah
kematian bayi yang disebabkan oleh Iactor-Iaktor yang berkaitan dengan pengaruh
lingkungan luar. !embedaan antara kedua jenis penyebab kematian tersebut idealnya
dapat dilakukan melalui data statistic penyebab kematian, tetapi dalam praktek tidak
mudah karena masalah kualitas data (United Nation, 1973).
Dengan semakin meningkatnya usia, penyebab kematian endogen semakin
berkurang dan penyebab kematian eksogen meningkat. Sementara semua kematian bayi
yang terjadi setelah usia satu bulan (post neonatal) merupakan kematian eksogen, maka
kematian eksogen pada bayi sebelum usia satu bulan (neonatal) besarnya kira-kira 25
dari seluruh kematian bayi pada post neonatal. Gambaran ini menunjukan bahwa Iaktor
lingkungan luar berkontribusi besar sebagai penyebab kematian bayi. Kualitas
lingkungan pada bentuk kondisi hygiene, sanitasi dan sosial ekonomi akan sangat
menentukan terhadap tinggi-rendahnya kematian bayi.
Apabila kematian bayi tinggi, maka rasio kematian bayi post neonatal terhadap
kematian bayi neonatal adalah juga tinggi. Rasio ini menurun dengan semakin rendahnya
kematian bayi yang sampai pada suatu saat dengan terkontrolnya Iaktor lingkungan luar,
porsi kematian neonatal menjadi lebih dominan. !ada keadaan ini, kematian bayi lebih
banyak disebabkan Iaktor endogen, yang pengontrolannya memerlukan kemampuan
untuk menembus pengetahuan tentang masalah-masalah biologi yang lebih mendasar
(KeyIitz, 1977). Di Indonesia dan di banyak negara berkembang lainnnya, keadaan
tersebut masih jauh dari jangkauan. (Mantra, 2010)

F. MEKANISME PENURUNAN KEMATIAN BAYI DAN ANAK
Faktor sosio-ekonomi merupakan Iaktor penentu mortalitas bayi dan anak. Namun
Iaktor sosio-ekonomi bersiIat tidak langsung, yaitu harus melalui mekanisme biologi
tertentu (variable antara) yang kemudian baru menimbulkan resiko morbiditas, dan
selanjutnya bayi dan anak sakit dan apabila tidak sembuh akhirnya cacat atau meninggal.
Dalam mekanisme ini, penyakit dan kurang gizi bukan merupakan variable independen,
tetapi lebih merupakan indikator yang mereIleksikan mekanisme kerja variable antara.
!enanganan terhadap masalah kematian bayi dan anak menuntutut adanya kerangka
konseptual tentang Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas bayi dan
anak. Komponen dari kerangka ini terdiri atas morbiditas sebagai maslah pokok, dan
Iaktor sosial-ekonomi serta variabel antara sebagai Iaktor-Iaktor social-ekonomi serta
variabel antara sebagai Iaktor-Iaktor yang mempengaruhinya. Termasuk dalam Iaktor
sosial-ekonomi adalah Iaktor-Iaktor yang ada dalam individu, keluarga dan masyarakat.
!engetahuan, kepercayaan, nilai-nilai, dan sumber ekonomi merupakan Iaktor individu
dan keluarga, sedang suasana politik, ekonomi, dan keamanan merupakan Iaktor-Iaktor
yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas dalam masyarakat. (Mantra, 2010)
Faktor-Iaktor maternal, lingkungan, gizi, cedera, dan pelayanan kesehatan
merupakan beberapa dari variabel antara. Morbiditas dalam masyarakat ditentukan atas
dasar prevalensi dan insidensi penyakit-penyakit yang merupakan penyebab kematian
utama. (Budi Utomo, 1985).




G. ANGKA HARAPAN HIDUP PADA SUATU UMUR %Expectacy of Life) e )
Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih
akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun
tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka
Harapan Hidup Saat ahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang
baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada
umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara.
Meningkatnya perawatan kesehatan melalui !uskesmas, meningkatnya daya beli
masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi
kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga
memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat
kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus
diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk
kesehatan lingkungan, kecukupan gisi dan kalori termasuk program pemberantasan
kemiskinan.
Idealnya Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut
Umur (Age SpeciIic Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi
kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat Tabel Kematian. Tetapi
karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk
menghitung Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak langsung dengan program
Mortpak ite (Sembiring,1985).

H. UKURAN KEMATIAN
Ukuran kematian menunjukkan suatu angka atau indeks, yang dipakai sebagai
dasar untuk menentukan tinggi rendahnya tingkat kematian suatu penduduk.
Ada berbagai macam ukuran kematian , mulai dari yang paling sederhana sampai yang
cukup kompleks. Namun demikian perlu dicatat bahwa keadaan kematian penduduk
tidaklah dapat diwakili oleh hanya suatu angka tunggal saja. Biasanya berbagai macam
ukuran kematian dipakai sekaligus guna mencerminkan keadaan kematian penduduk secara
keseluruhan. Hampir semua ukuran kematian merupakan sebuah 'rate atau 'ratio.
'Rate merupakan salah satu ukuran yang menunjukkan terjadinya suatu kejadian
(misalnya: kematian, kelahiran, sakit, dsb.) selama periode waktu-waktu tertentu. Secara
umum, rate dapat dideIinisikan/dijabarkan sebagai berikut:
Jumlah kejadian yang terjadi selama periode waktu tertentu
Rate suatu kejadian
Jumlah penduduk yang mempunyai resiko mengalami kejadian
tersebut selama periode yang sama

Catatan: kejadian (rate) tersebut bisa berupa: kematian, kelahiran sakit, dsb.
Sedangkan ratio merupakan suatu ukuran yang berbentuk suatu angka tunggal yang
menyatakan hasil perbandingan antara 2 angka. Disamping dua bentuk ukuran diatas, kadangkala
dipakai ukuran lain yang berupa 'presentase. !resentase sebenarnya adalah suatu rasio , hanya
pada presentase, pembilangnya merupakan bagian dari penyebut. Dalam menyatakan rate atau
ratio atau presentase sebagai suatu ukuran, harus dijelaskan populasi golongan mana yang
tersangkut. Dalam hal ini jelas:
a. Kapan: Waktu berlakunya ukuran tersebut.
b. Siapa: Ukuran tersebut mengenai populasi yang mana.
c. Apa: ukuran tersebut merupakan ukuran kejadian apa.
Contoh:
Rate : Angka Kematian Kasar (CDR) penduduk Indonesia tahun 1971.
Ratio : Sex Ratio penduduk Indonesia tahun 1971.
Jumlah penduduk laki laki
sex ratio
Jumlah penduduk wanita

!resentase kematian penduduk laki laki di Indonsia tahun1971.



Jumlah kematian laki-laki
!resentase kematian laki-laki X 100
Jumlah kematian laki-laki dan wanita

Konsep ~Person Years Lived
Khusus mengenai rate yang sudah disebutkan, penyebutnya adalah jumlah orang yang
mempunyai resiko untuk mengalami kematian (jumlah orang yang exposed to risk).
Menentukan jumlah orang yang betul-betul 'exposed to risk selama periode waktu tertentu
penting dalam perhitungan rate. Misalnya untuk menyelidiki kejadian kematian selama satu
tahun pada suatu kota. Maka orang yang meninggal pada saat sebelum periode itu berakhir,
dinyatakan bahwa ia tidak exposed to risk untuk keseluruhan periode. Bayi yang lahir selama
periode itu juga tidak exposed to risk untuk keseluruhan periode.
Dalam mengatasi persoalan diatas, digunakan konsep 'person years lived untuk
menentukanjumlah orang yang betu-betul exposed to risk. Apabila person years lived (!)
diterjemahkan sebagai 'Tahun orang Hidup, maka pengertia ! dapat diilustrasikan sebagai
berikut:
Misalnya kita ingin menentukan ! selama periode 1 tahun.
Seorang yang mulai hidup dari awal sampai akhir periode berarti menjalani satu
'tahun hidup atau 1 !. Dua orang yang mengalami hidup mulai dari awal samapai
akhir periode menjalani 2 !. Seratus orang yang mengalami hidup mulai dari awal
sampai akhir periode mengalami 100!.
Namun demikian tidak semua orang bisa menjalani hidup dari awal hingga akhir
periode. Seorang yang mengalami hidup dari awal hingga pertengahan periode berarti menjalani
0,5 !. ima orang yang mengalami hidup dari awal hingga pertengahan periode berarti
menjalani 5 x 0,5 ! 2,5 !.
Dalam menghitung jumlah orang yang betul-betul exposed to risk menggunakan
satuan !, disamping mempertimbangkan kematian, juga harus mempertimbangkan migrasi
masuk dan migrasi keluar serta kelahiran pada daerah yang bersangkutan pada periode yang
dimaksud. Suatu orang yang masuk kota pada pertengahan periode dan kemudian meninggal di
kota tersebut setelah 3 bulan, berarti orang tersebut mengalami 3/12 0,25 !. Demikian pula
apabila satu periode yang lamanya 5 tahun. Seorang yang mengalami periode itu akan
mempunyai 5 !. Seorang yang menjalani hidup hanya dari awal hingga pertengahan periode
tersebut berarti mempunyai 2,5 !.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang exposed to risk dan
dinyatakan dengan satuan ! hanya dapat dihtung apabila orang pada kota atau penduduk yang
bersangkutan diketahui kapan tepatnya lahir atau masuk ke kota tersebut dan mati atau keluar
dari kota tesebut selama periode yang dimaksud. Dalam prakteknya, inIormasi tentang data
tersebut sangat sulit atau mustahil untuk diperoleh, apalagi jika menyangkut penduduk yang
besar. Karena hal ini, maka jumlah orang yang exposed to risk dengan satuan tidak pernah
terhitung tetapi hanya diperkirakan.
!erkiraan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa jumlah kematian/ jumlah kelahiran/
jumlah orang yang berpidah masuk atau keluar adalah sama antara sebelum dan setelah
pertengahan periode. Kalau asumsi ini benar maka jumlah orang yang exposed to risk dengan
satuan ! akan sama dengan jumlah penduduk tengah-periode. Dengan ini jumlah penduduk
tengah periode akan sama dengan setengah setengah penjumlahan penduduk awal periode
dengan akhir periode.
!
tengah periode
(!
awal periode
!
akhir periode
)
!enduduk tengah periode ini sering disebut 'mid year population.
I. PENGUKURAN DATA KEMATIAN PENDUDUK
1. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate CDR)
Angka kematian kasar ialah jumlah kematian pada tahun tertentu diagu dengan jumlah
penduduk pada pertengahan tahun tersebut. Secara konvensional, angka kematian untuk 1000
orang dapat dinyatakan dengan:
Jumlah kematian pada tahun x
CDR X 1000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun x

D
X k
!

Dimana: D jumlah kematian tahun x
! jumlah penduduk tahun x
k 1000
Contoh soal:
Jumlah penduduk Jakarta pertengahan tahun 2000 berjumlah 11.000.000 orang. !ada tahun
tersebut terdapat kematian 200.000 orang.
Hitung berapa angka kematian kasarnya!
!enyelesaian soal:
CDR D/! x k
CDR 200.000/11.000.000 X 1000
CDR 18

CDR 18 artinya tiap 1000 penduduk terdapat kematian 18 jiwa dalam waktu satu tahun.
Angka kematian kasar dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu tinggi,
sedang, dan rendah.
a) Tinggi, jika angka kematian kasar suatu daerah lebih dari 20 setiap 1.000 jiwa.
b) Sedang, jika angka kematian kasar suatu daerah lebih dari 10-20 setiap 1.000 jiwa.
c) Rendah, jika angka kematian kasar suatu daerah kurang dari 10 setiap 1.000 jiwa.
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan
pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini
berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada
suatu tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan
menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.

2. Angka Kematian Menurut Umur (Age SpeciIic Death Rate - ASDR)
Risiko kematian berbeda antara satu kelompok penduduk dan kelompok penduduk
lainnya, demikian pula antara satu kelompok umur dengan kelompok umur lainnya. Orang
yang berumur 65 tahun akan memiliki resiko kematia lebih besar daripada orang yang
berumur 20 tahun. Anak yang berumur 1 tahun memiliki resiko kematian lebih tinggi
daripada anak yang berusia 10 tahun. Dalam hal ini resiko kematian relatiI tinggi pada usia
sangat muda dan tua. Sehingga pola kematian apabila digambarkan dengan graIik akan
menyerupai huruI 'U. karena perbedaan resiko kematian menurut umur tersebut, nantinya
akan dikenal angka kematian bayi, angka kematian anak, dan angka kematian
dewasa.disamping adanya perbedaan resiko kematian berdasarka umur, ada juga perbedaan
keamtian menurut jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dsb.
Resiko kematian yang diperinci menurut variabel-variabel tertentu dengan resiko
kematian spesiIik(SpeciIic Death Rate). Diantara angka-angka kematian spesiIik, yang
palisng sering digunakan adalah 'Age SpeciIic Death Rate(ASDR). ASDR atau dikenal
dengan Angka Kematian Menurut Umur dapat dirumuskan sebagai berikut:
Jumlah kematian orang berumur i
pada tahun x
ASDR untuk grup umur i X 1000
Jumlah penduduk berumur i pada
pertengahan tahun x

D
i

x k
!
i

Dimana : D
i
jumlah kematian dari orang-orang berumur i
!
i
jumlah penduduk berumur i (pada pertengahan tahun)
k 1000
3. Angka Kematian Bayi (3fa3t Mortality Rate atau IMR)
Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator penting dalam
menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Angka ini sangat sensitiI terhadap perubahan
tinkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka kematian tersebut dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Jumlah kematian bayi berumur
dibawah 1 tahun sealama tahun x
Angka kematian bayi X 1000
Jumlah kelahiran selama tahun x
Untuk angka kematian bayi ukurannya sebagai berikut:
- Rendah, jika IMR antara 15-35.
- Sedang, jika IMR antara 36-75.
- Tinggi, jika IMR antara 76-125.
Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap
seribu bayi yang lahir. Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun.
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai
bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak Iaktor yang dikaitkan dengan kematian
bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu
endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal;
adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya
disebabkan oleh Iaktor-Iaktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang
tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang
terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh
Iaktor-Iaktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Apabila angka kematian bayi di suatu negara pada tahun 1971 adalah 120
o
/
oo
ini
berarti bahwa pada negara tersebut terdapat 120 kematian bayi pada setiap 1000 kelahiran
bayi.
4. Komposisi Umur dan CDR
!enduduk dikenal dengan CDR merupakan angka kematian kasar. Disebut kasar,
karena angka kematian tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat kematian.
Disamping kematian, masih ada Iaktor-Iaktor lain yang mempengaruhi angka tersebut,
yaitu komposisi umur penduduk, komposisi jenis pekerjaan, dsb. !ada pokoknya, bear
kecilnya CDR tidak terlepas dari bagaimana komposisi penduduk menurut 'mortality
related variables( variabel yang dianggap mempengaruhi kematian). Karena
membandingkan CDR penduduk antara 2 negara atau lebih biasanya hanya dapat
dilakukan apabila penduduk di kedua negara tersebut mempunyai komposisi penduduk
yang sama pula. Seandainya komposisi penduduk negara satu dan yang lainnya tidak
sama, maka untuk membandingkan CDR, komposisi penduduk tadi perlu untuk saling
disamakan terlebih dahulu. Cara untuk menyamakan komposisi penduduk dikenal dengan
standarisasi. Hubungan antara CDR dan ASDR dapat ditulis dengan rumus berikut:
!
i

CDR c ASDR
i

i !
Dimana: !
i
tahun pertama penduduk pertengahan pada umur i
! total penduduk pertengahan pada umur i
ASDR
i
jumlah Age SpeciIic Death Rate pada umur i
Dari rumus diatas dapat dilihat bahwa CDR adalah merupakan Iungsi dari:
a. 'Age SpeciIic Death Rates yang dituliskan sebagai (ASDR
i
)
b. Komposisi umur penduduk, yang dituliskan sebagai (!
i
/!)
Sebagai akibatnya umur oenduduk dan ASDR
i
menentukan besar kecilnya CDR.
5. Angka Kematian Anak (Child Mortality Rate CMR)
ang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia
satu sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari.
Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang
langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila
terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk,
tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam
atau di sekitar rumah (Budi Utomo, 1985).
Rumusnya:
CMR

P
X k
Keterangan:
CMR Angka kematian anak
D Jumlah kematian anak usia 1-4 tahun
! = }umlah penuuuuk usia - tahun
Dibandingkan dengan angka kematian bayi, angka kematian anak lebih
mereIleksikan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat
kesehatan anak. Angka ini tinggi pada keadaan salah gizi, higiene buruk, tingginya
prevalensi penyakit menular pada anak dan insiden kecelakaan di dalam atau sekitar
rumah. Dalam menunjukkan tingkat kemiskinan, indicator ini lebih unggul dibandingkan
dengan tingkat kematian bayi. (Mantra, 2003)
Angka Kematian Anak dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi,
serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program
penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.

6. Angka Kematian Balita (Childhood Mortality Rate ChMR)
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir,
yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). !ada
umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun.
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama
satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk
kematian bayi).
Angka ini sekaligus mereIleksikan tinggi rendahnya angka kematian bayi dan
angka kematian anak. Hanya dengan menggunakan angka kematian bayi belum cukup
untuk menggambarkan tingkat kematian anak pada umur di atas satu tahun. Dua
penduduk dengan tingkat kematian bayi yang sama, belum tentu sama dalam hal angka
kematian anak di atas satu tahun. Variasi angka ini, di Negara berkembang dapat lebih
tinggi dari 100, tetapi di Negara maju dapat lebih rendah dari dua. (Mantra, 2003).
Rumusnya:
ChMR
<
P<
X k
Keterangan:
ChMR Angka kematian balita
D_ jumlah kematian anak usia _5 tahun.
!_ = jumlah penuuuuk usia _5 tahun.

1. STANDARISASI
Komposisi penduduk menurut umur sangat berpengaruh terhadap Tingkat Kematian
Kasar. Karakteristik-karakteristik lainnya yang juga mempengaruhi Tingkat Kematian Kasar
adalah:
a. Komposisi penduduk menurut urban rural (mungkin karena perbedaan status
kesehatan)
b. Komposisi pekerjaan (orang yang bekerja di pertambangan mempunyai resiko
kematian lebih tinggi daripada orang yang bekerja di perkantoran)
c. Komposisi pendapatan (orang kaya bisa memperoleh perawatan kesehatan yang
lebih baik)
d. Sex (umumnya laki laki mempunyai resiko kematian lebih tinggi dariipada wanita)
e. Status perkawinan (orang dewasa, mereka yang kawin mempunyai resiko kematian
lebih tinggi daripada mereka yang bujangan, janda atau duda, atau cerai).
Kalau kita ingin membandingkan Tingkat Kematian Kasar antara dua kelompok
penduduk dengan struktur yang berbeda (misalnya struktur umur), kita tidak hanya dapat hanya
melihat perbedaan Tingkat Kematian Kasar pada kedua kelompok umur tersebut sebelum
diadakannya penyamaan jumlah penduduk menurut kelompok umue tertentu.cara penyamaan ini
disebut standarisasi. !enduduk yang dipakai sebagai penduduk standar, biasanya penduduk dari
salah satu kelompok yag diperbandingkan atau penduduk dari Negara lain. (Mantra, 2003).
Karena tujuan kita untuk mengukur mortalitas bukan mengukur variabel-variabel yang
lain seperti variabel komposisi umur, komposisi jenis pekerjaan, komposisi pendapatan, dsb.
Sebagai ilustrasi dapat dilihat dari contoh sederhana dibawah ini




Umur
Negara A Negara B
!enduduk
pertengahan tahun
Death rate
!enduduk
pertengahan tahun
Death rate
0 44
45

CDR
1000
4000
25
40

37
4000
1000
30
45

33
!ada tabel diatas, CDR untuk negara A adalah 37 dan untuk negara B adalah 33. Bagaimana
setelah dilakukan standarisasi? Apakah betul CDR pada negara A lebih tinggi dari negara B?
uttuk ini kita menentukan penduduk standar. Kalau negara A sebagai standar,maka CDR negara
A tetap 37 sedangkan CDR negara B berubah menjadi:
1000 4000
X 30 X 45 42
5000 5000
Kalau di negara B sebagai standar, maka CDR untuk negara A menjadi:

4000 1000
X 25 X 40 28
5000 5000
Sedangkan CDR di negara B tetap 33
Tabel Kematian (iIe Table)
Tabel kematian merupakan alat analisa mortalitas yang paling memuaskan. Ini
merupakan suatu tabel hipotesis dari sekumpulan orang yang dilahirkan pada waktu yang sama
(kohor) yang oleh karena proses kematian, jumlah ornga terssebut semakin lama semakin
berkurangdan akhirnya habis semua.
Ada 2 macam tabel kemarian yaitu 'longitudinal liIe table dan 'cross sectional liIe
table dilihat dari kepraktisan dan pengunaannya, maka 'cross sectional liIe table jauh lebih
praktis dan berguna. Disini apabila disebut tabel kematian berarti 'cross sectional liIe table.
!engaruh Sosio-Ekonomi Terhadap Mortalitas Bayi dan Anak
ewat Variabel Antara (Mantra, 2010:111)
Sumber: Mosley, W.H. dan .C. Chen (1984)









!encegahan
!engobatan









DETERMINASI SOAIA-EKONOMI
Kekurangan
Gizi
uka Faktor Ibu !encemaran
ingkungan
Mati
Sakit Kesehatan
!engendali
!enyakit
!erorangan
Gangguan
!ertumbuhan
DAFTAR RU1UKAN

Heer, David M. 1985. asalah Kependudukan di Negara Berke2-ang. Jakarta: !T Bina
Aksara
ucas, dkk. 1987. Pengantar Kependudukan. ogyakarta: Gadjah Mada University !ress
Mantra, Ida Bagoes. 2010. De2ografi U2u2. ogjakarta: !ustaka !elajar.
!ollard, dkk. 1984. Teknik De2ografi. Jakarta: !T Bina Aksara.
Razake, Abdul. A. 1988. Pengantar Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta:
Direktorat Jendral !endidikan Tinggi !engembangan embaga !enelitian Tenaga
Kependidikan.
Sembiring. 1985. De2ografi. Jakarta:Fakultas !ascasarjana IKI! Jakarta bekerja sama
dengan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
Sudjinggo. 1988. Teknik Pengukuran De2ografi Jilid I. Jakarta: DE!DIKBUD.
Wirosuhardjo, Kartomo. 1981. Dasar-Dasar De2ografi. Jakarta: embaga DemograIi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.