Anda di halaman 1dari 6

ELASMOBRANCHII II. TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Morfologi Ikan Menurut Saanin (1968), bentuk tubuh ikan beradaptasi dengan cara, tingkah laku, dan kebiasaan hidup di dalam suatu habitat hidup ikan. Dengan kata lain, habitat atau lingkungan dimana ikan itu hidup akan berpengaruh terhadap bentuk tubuh; sedangkan cara bergerak maupun tingkah lakunya akan berbeda dari satu habitat ke habitat lainnya. Ikan akan menyesuaikan diri terhadap faktor-faktor fisika, kimia, biologi dari habitat ikan yang bersangkutan, misalnya kedalaman air, suhu air, arus air, pH, salinitas, dan makhluk-makhluk lainnya seperti plankton, jasad-jasad renik, benthos, dan sebagainya (Saanin H,1968). Ikan yang hidup di dalam lumpur diantara bebatuan, tumbuhan air, misalnya ikan belut dan ikan sidat akan memiliki bentuk tubuh memanjang seperti ular. Sedangkan pada ikan perenang cepat seperti tengiri, tongkol dan tuna mempunyai bentuk stream line (Djuanda, 1981). Tubuh ikan pada umumnya mempunyai atau terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kepala, badan, dan ekor. Ikan umumnya berbentuk simetris bilateral namun ada juga yang berbentuk tidak simetris bilateral yaitu ikan ilat-ilat (Cyonoglossus monopus) dan yang lainnya (Rahardjo, 1985). Pada bagian kepala (caput) ikan, terdapat organ mata (organon visus), mulut (rima oris), lekuk hidung (fovea nasalis), dan tutup insang (operculum). Pada sebagian ikan juga terdapat sungut dan antena. Fungsi hidung pada ikan bukan untuk pernafasan melainkan untuk penciuman. Operculum atau tutup insang yang terdapat diantara kepala dan tubuerguna untuk melindungi insang. Ikan elasmobranchia tidak mempunyai tutup insang (Rahardjo, 1985). 2.1.1. Sirip Sirip pada ikan berfungsi sebagai keseimbangan ubuh dan alat gerak. Sirip yang tidak berpasangan seperti sirip punggung dan sirip anus berfungsi sebagai penjaga keseimbangan. Sirip yang berjumlah sepasang fungsinya sebagai alat gerak, sedangkan sirip ekor untuk kemudi (Rahardjo, 1985). 2.1.2. Bentuk dan tipe ekor Menurut Rahardjo (1985), bentuk ekor ikan ditentukan oleh beberapa ruang vertebrata yang paling belakang. Ekor ikan dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1. Protocercal Ruas-ruas vertebrata menyokong sirip ekor tanpa mengalami perubahan bentuk. Sirip ekor simetri antara bagian atas dan bawah. Tipe ini dimiliki oleh ikan kelas cephalaspidomorphi. 2. Heterocercal Bentuk ekor tidak simetri. Bagian atas ujung ekor melengkung ke atas dan disokong oleh ruas tulang punggung dan bagian ujung tulang ekor lebih pendek dan disokong oleh beberapa jari-jari sirip ekor. Tipe ini terdapat pada kelas chondrictyes dan ikan bertulang sejati tingkat rendah. 3. Homocercal Bentuk ekor simetri, bagian atas sama dengan bagian bawah dan disokong oleh jari-jari sirip ekor. Dua ruas terakhir tulang punggung mengalami perubahan bentuk dan terdapat beberapa potong tulang tambahan. 2.1.3. Bentuk tubuh Menurut Rahardjo (1985), Bentuk tubuh ikan akan beradaptasi dengan cara tingkah laku dan kebiasaan hidup di dalam habitat ikan tersebut. Ikan yang hidup di daerah dasar perairan mempunyai bentuk perut datar dan punggung mengelembung. Sedangkan untuk ikan-ikan pelagis mempunyai bentuk bagian tubuh yang mengelembung pada bagian perut maupun punggung. Bentuk tubuh ikan terdiri dari: 1. Bentuk Torpedo Bentuk tubuh ramping dengan potongan melintang, badannya berbentuk elips dan bentuk ekor sempit tepat di depan sirip ekor. Bentuk tubuh ini dimiliki oleh ikan tuna, selar dan kembung betina. 2. Bentuk seperti ular Bentuk tubuh memanjang dengan penampang melintang bundar. Terdapat pada belut dan sidat. 3. Bentuk Pipih a. Pipih secara lateral Ikan bentuk ini dalam keadaan biasa berenang dengan lambat dan bila ada bahaya mampu berenang dengan cepat. Misalnya ikan mas. b. Pipih secara dorsoventral Bentuk tubuh ini cocok dengan ikan yang hidup di dasar perairan misalnya genus Rajidae mobulidae. 4. Bentuk Tubuh Benang Terdapat pada famili Nemichtydae. 5. Bentuk Membulat Bentuk tubuh ikan ini bulat akan semakin tampak apabila dalam keadaan bahaya karena ikan akan mengembangkan tubuhnya semakin maksimal. Terdapat pada famili Tetraodentidae dan Diodontidae. 6. Bentuk Tubuh Pita Terdapat pada famili Trachypterydae dan Trichiuridae. 7. Bentuk Kombinasi Famili Claridae dan Pangasidae mempunyai kepala yang picak, badan bundar dan ekor yang pipih. 2.1.4. Warna tubuh dan sisik ikan Menurut

Rahardjo (1985), Warna tubuh ikan disebabkan konfigurasi sisik (schemochroma) dan pigmen pembawa warna (biochrome), yaitu : 1. Carrotenoid : kuning, merah 2. Chromolipoid : kuning sampai cokelat 3. Indigoid : biru, merah dan hijau 4. Melanin : hitam cokelat 5. Porphyrin : merah, hijau, kuning, biru dan cokelat 6. Flanin : kuning kehijau-hijauan 7. Purin : putih keperak-perakan 8. Pterin : putih, kuning, merah dan jingga Sel khusus yang memberikan warna pada ikan ada dua yaitu iridocyte dan cromatophore. Iridocyte disebut juga sel cermin karena mengandung bahan yang memantulkan cahaya warna yakni guanin kristal. Sel chromatophore terdapat dalam dermis, mempunyai butir-butir pigmen yang mengandung pigmen sungguhan. Chromatophore dasar ada tiga macam yaitu erythophore, xanthophore, dan melanophore (Rahardjo, 1985). Menurut Rahardjo (1985), berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung didalamnya, sisik ikan dibedakan menjadi : 1. Ganoid Terdiri dari garam-garam saponim, bentuknya seperti belah ketupat. 2. Placoid Sisik dari tonjolan kulit bentuknya seperti duri halms dan terletak rebah ke belakang di bawah kulit. 3. Cycloid Disebut juga sisik lingkaran, mempunyai bentuk bulat, tipis transparan dan mempunyai lingkaran pada belakang bergirigi. 4. Ctenoid Disebut juga sisik sisir, mempunyai bentuk agak persegi. 5. Cosmoid Pada ikan terdapat lima macam bentuk sirip yaitu sirip tunggal (sirip punggung, sirip dada dan sirip dubur), sirip berpasangan (sirip perut dan sirip dada). Sirip punggung terdapat pada ikan teleostei disokong oleh tulang rawan dalam pectoral girdle yang kuat walaupun rapuh atau lunak dan disebut caracos sapula. Pada sirip dada ikan teleostei, gelang bahu terdiri dari tulang rawan dan tulang demersal yang berasal dari tulang rawan adalah tulang ceracoid yang berpasangan, seapul dan empat pasang tulang radial. Sirip perut elasmobranchia disokong oleh tulang rawan pelvic yaitu tulang rawan tempat menempelnya tulang basipterygum. Sirip perutnya menempel pada tulang ini. Pada ikan jantan, di ujung rawan basal terdapat organ clasper yang digunakan dalam pcmijahan untuk membantu menyalurkan sperma. Pada kelas ostheichtyes, gelang bahu dan perut juga dibentuk dari tulang rawan yang disebut basipterygum (Rahardjo, 1985). Menurut Rahardjo (1985), pada umumnya ikan memiliki tipe mulut yang berbeda tergantung dari lingkungan, cara makan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Tipe mulut ikan yang dimaksud antara lain: 1. Tipe Terminal Yaitu letak mulut ikan terletak diujung depan kepala. 2. Tipe Subterminal Yaitu letak mulut ikan terletak didekat ujung depan kepala. 3. Tipe Superior Yaitu letak mulut ikan terletak diujung bagian atas. 4. Tipe Inferior Yaitu letak mulut ikan terletak dibawah kepala. 2.2 Anatomi Ikan 2.2.1 Sistem digestoria Menurut Rahardjo (1985), sistem digestoria meliputi 2 bagian yaitu: 1. Pencernaan Saluran pencernaan ikan dimulai dari mulut, faring, oesophagus, lambung kemudian usus sampai ke anus. Organ saluran pencernaan ikan meliputi : a. Rongga mulut (rima oris) Terdiri dari bibir, dasar mulut, langitlangit dan gigi. b. Oesophagus Oesophagus pada ikan pendek dan mempunyai kemampuan untuk menggelembung, berbentuk kerucut dan terletak di belakang insang. c. Lambung (ventriculus) Lambung menunjukkan beberapa adaptasi diantaranya adalah adaptasi dalam bentuknya. Pada ikan pemakan ikan, lambung semata-mata berbentuk memanjang seperti ikan bowfin (amira). Sebagian besar ikan mempunyai lambung. Adanya lambung dapat dicirikan oleh rendahnya pH dan adanya pepsine diantara getah pencernaan. Pada beberapa ikan seringkali bagian depan ususnya membesar menyerupai lambung sehingga dinamakan lambung palsu, misalnya pada ikan mas (Cyprinus carpio). d. Usus (intestinum) Usus mempunyai banyak variasi pula. Pada ikan carnivora ususnya pendek karena makanan berdaging dapat dicerna dengan lebih mudah. Sebaliknya usus ikan herbivora panjang dan teratur di dalam satu lipatan atau kumparan. 2. Kelenjar pencernaan Kelenjar pencernaan terdiri dari : a. Hati (hepar) Hati termasuk kelenjar yang besar pada ikan misalnya pada ikan pari. Pada hati terdapat kantung empedu yang menyalurkan cairan empedu. Disamping itu hati berperan sebagai gudang penyimpanan lemak dan glikogen. b. Pankreas (pancreas) Pankreas mensekresikan beberapa enzim yang berfungsi dalam pencernaan makanan. Pada

ikan bertulang sejati biasanya menyebar di sekeliling hati, bahkan pada ikan berjari-jari sirip keras, pankreas dan hati menyatu menjadi hepatopankreas. Pada ikan cucut dan ikan pari pankreas merupakan dua buah organ yang kompak. 2.2.2 Sistem muscularia Menurut Rahardjo (1985). pada umumnya otot ikan mempunyai otot utama, yaitu otot polos, otot jantung, dan otot rangka (otot skeletal). Jika ditinjau dari sifatnya ada yang bersifat voluntary yaitu otot yang sifatnya dipengaruhi oleh kemauan syaraf sadar dan involuntary yaitu otot yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh kemauan syaraf sadar. Menurut Rahardjo (1985), otot ikan dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Otot rangka Susunan otot rangka pada badan mempunyai sifat kokoh dan berfungsi membentuk tubuh dan bergerak. Berkas-berkas otot badan bagian lateral (myomore), akan nampak sebagai daging jika ikan dikuliti atau dipotong secara melintang. Myomore diikat oleh suatu bagian yang merupakan bagian otot yang tipis (membraneous) yang disebut myocoma. 2. Otot jantung Tersusun atas otot dan jaringan-jaringan pengikat, otot jantung berwarna merah gelap. Hal ini berbeda dengan otot bagian badan yang biasanya berwarna coklat. Susunan otot jantung (mycocardium) dibungkus oleh sesuatu selaput, yaitu bagian luar disebut pericardium dan bagian dalam disebut endocardium. Sifat otot ini involuntary (tidak dipengaruhi saraf sadar). 3. Otot polos Otot yang mempunyai sifat involuntary ini terdapat beberapa bagian organ, antara lain, saluran pencernaan, gelembung renang, saluran reproduksi dan ekskresi, mata dan sebagainya (Djuanda, 1981). 2.2.3 Sistem sceleton Rangka pada ikan berfungsi untuk menegakkan tubuh, menunjang atau menyokong organ-organ tubuh, melindungi organ-organ tubuh ikan dan berfungsi pula dalam pembentukkan butir darah merah (Rahardjo, 1985). Menurut Rahardjo (1985), rangka ikan dapat dibedakan menjadi 3 bagian : 1. Rangka axial Terdiri dari tulang tengkorak, tulang punggung dan-tulang rusuk. 2. Rangka visceral Terdiri dari semua bagian tulang lengkung insang dan derivatnya. 3. Rangka appendicular Terdiri dari sisik dan perekat-perekatnya. Sedangkan pada tulang punggung pada ikan, berkembang dari scelerotome yang terdapat di sekeliling notochorda dan batang saraf. Setiap pasang dari scelerotome berkembang menjadi empat pasang arcualia. Pada beberapa ikan, pembentukan pusat tulang punggung (centrum) bukan semata-mata dari arcualia, melainkan oleh sel mesenchyme yang merapat dan berkumpul di sekitar notochorda, yang kemudian bersama-sama arcularia membentuk centrum. 2.2.4 Sistem circulatoria Sistem peredaran darah pada ikan merupakan sistem peredaran tunggal. Darah yang dialirkan itu merupakan suatu fluida beberapa subtansi terlarut dan erytrocyte, leucocyte, dan beberapa bahan lain yang tersuspensi. Sistem pembuluh darah pada ikan terdiri dari jantung dan pembuluh darah. 1. Jantung Jantung ikan terdiri dari 2 ruang dan terletak di bagian posterior lengkung insang. Kedua ruang itu adalah atrium (auricle) yang berdinding tipis dan ventrikel yang berdinding tebal. Pada jantung terdapat suatu ruang tambahan yang berdinding tipis yang disebut sinus venosus yang berfungsi sebagai penampung darah dari ductus cuveri dan vena hepaticus, serta mengirimkannya ke atrium. Antara sinus venosus dan atrium terdapat katup, yang disebut katup sinuatrial. Darah kemudian dikirimkan ke ventrikel. Oleh ventrikel, darah dipompa dan dialirkan ke trunchus arteious lalu ke conus arteriosus. Pada elasmobranchia, conus arteriosus berkembang dengan baik, tetapi tidak mempunyai bulbus arteriosus. Sedang pada sebagian besar teleostei, conus arteriosus sudah tereduksi menjadi suatu struktur yang sangat kecil, sedang buIbus arteriosusnya berkembang dengan baik. Dari conus arteriosus kemudian darah mengalir ke aorta ventral sebelum masuk ke insang melalui arteri branchial afferent. Di dalam insang darah mengalami proses fisiologi di mana oksigen diambil dari air secara difusi dan karbondioksida dilepaskan ke air pula secara difusi pula. Darah yang kaya oksigen tersebut dari insang melewati arteri branchial afferent. Dari sini lewat aorta dorsal kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah cabang dan kapiler. Sesudah digunakan oksigennya lalu masuk ke jantung lagi lewat pembuluh vena. Oleh jantung dipompa lagi menuju insang, demikian seterusnya berulang lagi. Bagian-bagian jantung

terdiri dari: a. Ductus cuveri b. Sinus venosus c. Atrium d. Ventrikel e. Truncus arteriosus Dari bagian-bagian tersebut yang merupakan jantung adalah: a. Sinus venosus b. Ventrikel c. Atrium d. Truncus arteriosus Sedangkan organ-organ yang diketahui mempunyai fungsi pembentukkan darah adalah : a. Pembuluh darah pada ikan embrio b. Sumsum tulang belakang c. Lympha yang tersebar pada sub mucosa alat pencernaan d. Mesonephros yang khusus membuat trombocyte e. Sub mucosa dari ikan-ikan elasmobranchia dapat membentuk sel-sel darah putih. 2. Pembuluh darah Pembuluh darah pada ikan terdiri dari : a. Pembuluh darah utama Yaitu pembuluh darah dorsal dan ventral yang terletak sejajar memanjang sepanjang tubuh ikan. b. Pembuluh darah ikan yang merupakan cabang-cabang yang menuju hampir ke seluruh bagian tubuh. Pada ikan, darah ke insang (dari jantung) melalui aorta, ventral, kemudian ke arteri branchia afferent. Sedangkan darah tersebut dari insang melalui branchia afferent kemudian ke aorta dorsal. 2.2.5 Sistem respiratoria Menurut Rahardjo (1985), organ utama untuk pernafasan dari dalam media air pada ikan adalah insang. Udara pernafasan diambil melalui mulut dan keluar melalui dubur. Insang terdapat di dalam rongga insang yang berasal dari kantong insang. Pada waktu embrio, kantong merupakan sepasang penonjolan ke arah luar dari lapisan endodermal di daerah anterior saluran pencernaan embrio. 1. Insang pada ikan elasmobranchia Pada ikan ini belum terdapat tutup insang, sehingga celah insang langsung berhubungan dengan lingkungan. Celah insang berjumlah 5 pasang, pada jenis-jenis tertentu sering dijumpai 6-7 pasang celah insang. Pada keadaan biasa air masuk dari mulut melalui insang di dalam rongga insang kemudian dikeluarkan melalui celah insang. Pertukaran oksigen dan karbondiok-sida, terjadi di dalam lamela insang. Setiap lengkung insang pada elasmobranchia disokong oleh rangka yang melengkung, terdiri dari : a. Tapis insang, terdapat pada dasar lengkung insang mengarah ke dalam rongga pharing. Berfungsi untuk menapis bahan makanan yang terbawa bersama air pernafasan, yang kemudian diteruskan ke dalam oesophagus. b. Jari-jari insang, melekat pada bagian luar dari lengkung insang mengarah ke permukaan tubuh sebagai penguat struktur insang. c. Lamela insang, berupa rambut yang halus terbungkus oleh epithelium tipis dengan satu ujungnya melekat pada jari-jari insang penuh dengan kapiler darah. Di sini terjadi proses pernafasan di dalam insang. 2. Insang pada ikan osteichthyes Pada ikan ini operculum yang tersusun atas 4 potong tulang dermal, yaitu operculum, properculum, interculum, dan sub operculum. Selaput tipis bekerja se-bagai klep pada celah insang. Bagian depan dari selaput melekat pada operculum, sedangkan pada bagian belakangnya terlepas bebas. Selaput kulit tipis ini disebut membran branchiostegii yang disokong oleh beberapa potong yang terletak pada dinding ventral pharing disebut radii branchiostegii. Septum insang hanya satu saja dan tidak menonjol keluar dari lamela insang, serta kadang-kadang insang tidak ada. Jari-jari insang selalu ada sepasang untuk setiap lengkung insang ber-jumlah 5, tetapi lengkung insang 1 dan 5 berupa hemibranchia, hanya lengkung kedua, tiga dan empat saja yang berupa holobranchia. Lamela insang pada lengkung pertama hanya ada pada bagian belakang lengkung insang dan pada lengkung insang kelima pada bagian depan saja. 2.2.6 Sistem urogenitalia Merupakan gabungan antara sistem urinaria dan sistem genitalis. Akan tetapi dalam praktikum ini hanya sistem genitalis saja yang dilihat (Rahardjo, 1980). Ikan termasuk hewan heteroseksual, artinya perbedaan antara sel kelamin jantan dan betina jelas. Perbedaan secara mikro dapat diketahui, misalnya dengan kita memijat pada bagian di atas porus urogenotalis pada jantan, maka ikan mengeluarkan cairan putih seperti susu. Sedangkan pada ikan betina akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan. Secara anatomis perbedaan tersebut akan terlihat jelas karena pada ikan jantan di dekat ginjal terdapat kantong berbentuk memanjang putih keruh, sedangkan pada ikan betina lebih besar dari pada ikan jantan. Alat perkembangbiakkan ikan yaitu gonad, gonad pada jantan disebut testis dan pada betina disebut ovarium (Djatmiko, 1986). 2.2.7. Sistem optik (organon visus) Menurut Saanin H (1968), pada sistem ini pada

ikan pada dasarnya sama seperti hewan-hewan lain, dimana sistem optik tersebut terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya : 1. Kornea Berfungsi menutup bagian muka dari biji mata, kornea merupakan bagian transparan dari biji mata. 2. Iris Berfungsi untuk membentuk pupil dan mengatur jumlah cahaya yang masuk pada retina. 3. Lensa Merupakan bagian transparan, biasanya terbuat dari protein. 4. Pupil Berfungsi memberi warna atau pigmen pada mata. 5. Retina Berfungsi menerima cahaya, pada retina terdapat lapisan-lapisan : a. Serabut saraf yang menuju ke saraf optik b. Sel ganglion c. Sel bipolar d. Sel photoreseptor 6. Sclera Berfungsi sebagai membran yang menutupi kornea. 7. Lapisan choroid 8. Nervus Optikus Berfungsi menghubungkan retina mata dengan tectum opticum dan membawa impuls penglihatan. 9. Lensa crystallina Berfungsi sama dengan lensa dan juga terbuat dari protein. 2.2.8. Sistem nervorum centrale Menurut Rahardjo (1985), sistem ini terdapat pada otak, dimana otak ikan dibagi menjadi 5 bagian yaitu: 1. Telencephalon Adalah otak sebagai pusat hal-hal yang berhubungan dengan hidung (pembau). Saraf utama yang keluar dari daerah ini adalah saraf olfaktori yang berhubungan dengan hidung untuk mencari mangsanya, otak pada bagian menjadi lebih berkembang. 2. Diencephalon Diencephalon dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, aphitalamus, thalamus dan hypothalamus. Di bagian atas diencephalon terdapat organ yang disebut badan pine. Di bawah hypothalamus terdapat kelenjar hypophysa (pituitary). Badan pineal teleostei ada yang berkembang dan ada yang tidak. Ikan-ikan tertarik pada cahaya (fototaksis positif) pada kepalanya akan mengandung pigmen dan atap cranial yang transparan di atas diencephalon. Sedangkan ikan yang fototaksis negatif pada kepalanya terdapat jaring yang menghalangi cahaya. 3. Metencephalon Memiliki cerebellum yang berfungsi mengatur keseimbangan tubuh dalam air, mengatur tegangan otot dan daya orientasi terhadap lingkungan. Ikan-ikan perenang cepat memiliki cerebellum yang besar. 4. Mesencephalon Berfungsi sebagai pusat penglihatan. Tectum optikum yang merupakan organ koordinator yang melayani rangsangan penglihatan serta merupakan pusat-pusat saraf motoris. Keduanya merupakan bagian dari lobus optikus. 5. Myenchephalon Merupakan bagian paling posterior dari otak. Medula oblongata merupakan komponen utama dari organ ini, sebagai pusat saraf cranial. Pada bagian ini terdapat organ yang dinamakan kristal cerebelli dan saraf yang keluar dari organ ini belum diketahui fungsinya. Diduga saraf ini ada hubungannya dengan kecenderungan ikan untuk berkelompok. 2.3. Taksonomi Menurut Subani (1978), taksonomi atau sistematika adalah suatu ilmu menge-nai klasifikasi dari jasad-jasad. Istilah taksonomi berasal dari kata Yunani taxis yang berarti susunan dan pengaturan. Dan dari kata nomos atau hukum dan istilah ini diusulkan oleh Candolle pada tahun 1813 untuk teori mengklasifikasikan tumbuh-tumbuhan. 2.3.1 Identifikasi Identifikasi merupakan salah satu dari tiga tugas pokok ahli taksonomi, dimana ini merupakan tingkatan analitis. Tugas pokok seorang ahli sistematika adalah mengelompokkan jasad yang telah begitu beraneka ragam dari alam ke dalam berbagai kelompok yang sudah dikenal untuk menetapkan ciri-ciri penting dari kelompok ini dan untuk senantiasa mencari perbedaan yang tetap di antara kelompok itu. Disamping itu ahli ini harus memberikan nama ilmiah kepada kelompok-kelompok itu untuk memungkinkan pemberian nama pengakuan kepadanya oleh ahli-ahli lain di seluruh dunia. Kronologi geologis dari jasad tergantung dari ketetapan identifikasi dari fosil. Tiap survei ekologi yang bersifat ilmiah harus diselesaikan dengan mengidentifikasikan semua spesies yang ekologis penting (Subani, 1978). Juga ahli biologi telah menyadari pentingnya identifikasi yang tepat. Banyak sekali generasi yang memiliki spesies yang secara morfologis tidak berbeda. Perbedaannya terletak di dalam sifat fisiologisnya (Subani, 1978). 2.3.2 Klasifikasi Membuat klasifikasi adalah tugas kedua dari ahli taksonomi. Pada umumnya untuk menyusun suatu klasifikasi adalah dengan menetapkan suatu definisi dari suatu kelompok atau kategorikategori menurut skala hirarki. Tiap-tiap kategori meliputi satu atau beberapa kelompok lebih rendah yang terdekat yang merupakan kategori berikutnya. Hasilnya adalah bahwa semua

binatang dapat diklasifikasikan ke dalam suatu hirarki taksonomi yang terdiri dari satu rentetan kategori-kategori yang meningkat dari species hingga kingdom, tiap-tiap kategori berikutnya meliputi satu atau beberapa kategori sebelumnya. Satu hal yang perlu diingat bahwa klasifikasi pada pokoknya harus praktis. Dari semua kategori-kategori tersebut akan mempunyai arti khas atau spesifik dari semua jenis ikan yang ditemukan (Saanin H, 1968). Kategori-kategori yang saat ini dipakai adalah : Kingdom Filum Sub-filum Kelas Sub-kelas Ordo Famili Genus Species Kategori-kategori tersebut yang sekarang dipakai dalam penyusunan klasifikasi. Terkadang ada beberapa buku yang memasukkan unsur sub-ordo ke dalamnya (Saanin H, 1968).