Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Energi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusaia dan saat ini konsumsinya semakin meningkat. Namun cadangan bahan bakar konvensional yang tidak dapat diperbaharui makin menipis dan akan habis pada suatu saat nanti. Karena itu berbagai usaha diversifikasi sumber energi telah banyak dilakukan dan salah satu diantaranya adalah pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan (Lubis Khairati, 2008). Isu kenaikan harga BBM (khususnya minyak tanah) dan BBG (elpiji) menyadarkan kita bahwa konsumsi energi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak seimbang dengan ketersediaan sumber energi tersebut. Kelangkaan dan kenaikan harga minyak akan terus terjadi karena sifatnya yang nonrenewable. Hal ini harus segera diimbangi dengan penyediaan sumber energi alternatif yang renewable, melimpah jumlahnya, dan murah harganya sehingga terjangkau oleh masyarakat luas (Hermawan, 2006). Disamping untuk mendapatkan sumber energi baru, usaha yang terus menerus dilakukan dalam rangka mengurangi emisi CO2 guna mencegah terjadinya pemanasan global telah mendorong penggunaan energi biomasa sebagai pengganti energi bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Bahan bakar biomassa merupakan energi paling awal yang dimanfaatkan manusia dan dewasa ini menempati urutan keempat sebagai sumber energi yang menyediakan sekitar 14% kebutuhan energi dunia (Winaya, 2008). Briket arang adalah arang yang diperoleh dengan membakar biomassa kering dengan sedikit udara (karbonisasi). Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari jasad hidup baik tumbuh tumbuhan maupun hewan. Contoh biomassa adalah dedaunan, rerumputan, ranting, gulma, serta limbah pertanian dan peternakan serta gambut (Mulia, 2007). Beberapa penelitian mengenai briket arang telah dilakukan dimana bahan penyusun beraneka ragam. Bahan bahan penyusunnya antara lain dari kotoran lembu, sampah pekarangan rumah, ampas tebu dan ilalang. Ismu Ati Adan (1998) meneliti pembuatan briket dari bahan sampah organik seperti dedaunan, ampas

kelapa dan sampah dapur rumah tangga. Widarto dan Suryanta (1995) meneliti pembuatan briket dari kotoran lembu dan jerami limbah pertanian. Samsudin Anis (2006) meneliti pembuatan briket dari kulit durian yang memiliki nilai kalori cukup tinggi yaitu 5010 kkal/kg atau 21 MJ/kg. Adi Candra Brades dan Febrina Setyawati Tobing (2005) meneliti pembuatan briket dari enceng gondok (Tobing dan Brades, 2008). Peneliti mencoba meneliti pembuatan briket dari cangkang kemiri dengan bahan perekat berupa tepung kanji. 1.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana membuat briket arang berbahan baku cangkang kemiri. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1. 2. Bagaimana kualitas briket arang yang dihasilkan dari cangkang kemiri Mengetahui pengaruh variasi suhu karbonisasi, ukuran mesh dan dengan perekat tepung kanji. konsentrasi perekat yang diberikan pada nilai kalor briket arang dari cangkang kemiri. 1.4 Manfaat Penelitian Secara umum, manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Meningkatkan nilai ekonomis kemiri. teknik pembuatan briket arang 3. Menginformasikan kepada mahasiswa dan masyarakat untuk bisa mengembangkan usaha alternatif ini dalam penghematan BBM. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Adapun ruang lingkup dari penelitian ini adalah pembuatan briket arang dari cangkang kemiri dengan bahan tambahan berupa perekat tepung kanji. Variabel yang akan diteliti adalah : 2. Mengetahui secara teoritis dan praktek dalam skala kecil (laboratorium)

a. Suhu karbonisasi : 400oC, 500 oC, dan 600 oC b. Ukuran Mesh : 50 dan 100 mesh c. Perekat yang digunakan adalah tepung kanji dengan konsentrasi perekat adalah 25%, dan 30%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan proses karbonisasi

(pengarangan) dalam sebuah muffle furnace dengan temperatur yang divariasikan. Briket arang yang dibuat berbentuk silinder dengan ukuran diameter 2,5 cm dan tinggi 5 cm. Parameter yang diuji yang dilakukan terhadap briket arang meliputi : a. Uji Nilai Bakar b. Uji Kadar Air c. Uji Kadar Abu d. Uji Kadar Bahan Mudah Terbakar dan Menguap e. Uji Kadar Karbon Terikat Dengan mengikuti standar kualitas briket arang menurut Sudrajat (1982).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Arang Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95 % karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan aktif faktor bahanbahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif. Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan arang aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25-1000 % terhadap berat arang aktif (Sembiring dan Sinaga, 2003). 2.2 Briket Arang Briket adalah gumpalan yang terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan. Sedangkan briket arang adalah gumpalan-gumpalan atau batangan-batangan arang yang terbuat dari bioarang (bahan lunak). Bioarang yang sebenarnya termasuk bahan lunak yang dengan proses tertentu diolah menjadi bahan arang keras dengan bentuk

tertentu. Kualitas bioarang ini tidak kalah dengan batubara atau bahan bakar jenis arang lainnya (Adan,1998). Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu. Kandungan air pada pembriketan antara 10 20 % berat. Ukuran briket bervariasi dari 20 100 gram. Pemilihan proses pembriketan tentunya harus mengacu pada segmen pasar agar dicapai nilai ekonomi, tekhnis dan lingkungan yang optimal. Pembriketan bertujuan untuk memperoleh suatu bahan bakar yang berkualitas yang dapat digunakan untuk semua sektor sebagai sumber energi pengganti. Beberapa tipe / bentuk briket yang umum dikenal, antara lain : bantal (oval), sarang tawon (honey comb), silinder (cylinder, telur (egg), dan lain-lain. Adapun keuntungan dari bentuk briket adalah sebagai berikut : 1. Ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 2. Porositas dapat diatur untuk memudahkan pembakaran. 3. Mudah dipakai sebagai bahan bakar. Secara umum beberapa spesifikasi briket yang dibutuhkan oleh konsumen adalah sebagai berikut : 1. Daya tahan briket. 2. Ukuran dan bentuk yang sesuai untuk penggunaannya. 3. Bersih (tidak berasap), terutama untuk sektor rumah tangga. 4. Bebas gas-gas berbahaya. 5. Sifat pembakaran yang sesuai dengan kebutuhan (kemudahan dibakar, efisiensi energi, pembakaran yang stabil). Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan didalam pembuatan briket antara lain : (a). Bahan baku Briket dapat dibuat dari bermacam-macam bahan baku, seperti ampas tebu, sekam padi, serbuk gergaji, dan lain-lain. Bahan utama yang harus terdapat di dalam bahan baku adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa semakin baik kualitas briket, briket yang mengandung volatile matter yang terlalu tinggi cenderung mengeluarkan asap dan bau tidak sedap.

(b) Bahan pengikat Untuk merekatkan partikel-partikel zat dalam bahan baku pada proses pembuatan briket maka diperlukan zat pengikat sehingga dihasilkan briket yang kompak. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat briket arang adalah berat jenis bahan bakar atau berat jenis serbuk arang, kehalusan serbuk, suhu karbonisasi, dan tekanan pengempaan. Selain itu, pencampuran formula dengan briket juga mempengaruhi sifat briket (Tobing dan Brades, 2008). 2.3 Kegunaan dan Keunggulan Briket 2.3.1 Kegunaan Briket arang merupakan bahan bakar alternatif yang cukup berkualitas. Bahan bakar ini adalah sejenis arang keras yang biaya produksinya amat murah karena bahan bakunya dapat berasal dari sampah atau bahan-bahan lain yang tidak berguna. Penggunaan bahan bakar ini cukup fleksibel karena dapat dicetak dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Bahan bakar ini dapat dimanfaatkan dengan teknologi sederhana, tetapi panas (nyala api) yang diperoleh cukup besar, cukup lama dan aman. Jika tungku dengan bahan bakar arang ini sudah menyala, kita akan mendapatkan bara dan nyala api sekurang-kurangnya selama dua hari dan dua malam. Bahan bakar ini cocok pula digunakan oleh para pedagang atau pengusaha yang memerlukan pembakaran terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya pembuatan gula jawa/gula aren, penggorengan kerupuk, warung makan, warung soto, atau orang yang sedang punya hajat. Pemanasan dengan briket arang ini cocok bagi pengusaha makanan. Adapun penggunaan briket arang sebagai berikut : 1. Briket arang berukuran kecil (dibuat dengan kepalan tangan) dapat langsung dibakar di atas tungku atau anglo. Pemanas ini dapat langsung digunakan untuk memasak atau membakar sate seperti layaknya orang menggunakan arang kayu biasa.

2. Briket arang lebih efektif dan efesien jika dibakar pada tungku briket arang yang dipersiapkan secara khusus. Dengan tungku yang dipersiapkan secara khusus, briket arang akan menyala mulai dari bagian tengah (sumuran). Karena sistem ventilasi yang dibuat, panas akan menembus keatas dan seluruh briket akan terbakar habis. Panas yang dihasilkan kian lama kian besar dan bertahan cukup lama. Untuk mematikannya, kita hanya perlu menutup lubang ventilasi dengan potongan batu bata dan menutup bagian atas tungku dengan lembaran seng yang ditaburi pasir basah sehingga udara tidak dapat masuk kedalam tungku. 3. Setelah briket pada tungku menyala, maka tinggal meletakkan panci atau barang-barang yang akan dipanaskan diatasnya (Adan,1998). 2.3.2 Keunggulan briket Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan briket arang antara lain adalah biayanya amat murah. Alat yang digunakan untuk pembuatan briket arang cukup sederhana dan bahan bakunya pun sangat murah, bahkan tidak perlu membeli karena berasal dari sampah atau daun-daunan kering yang sudah tidak berguna. Dari antara peralatan-peralatan tersebut yang harus dipersiapkan (dibiayai) secara khusus hanya drum untuk pembuatan arang, kanji dan seng talang. Bahan baku untuk pembuatan arang umumnya telah tersedia disekitar rumah (tidak harus membeli). Dengan demikian, biaya pembuatan briket arang ini amat murah, apalagi jika diperhitungkan dengan keuntungan-keuntungan dalam penggunaanya. Jika briket arang digunakan dengan tungku yang dipersiapkan secara khusus (tungku arang), maka keuntungan-keuntungan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Biayanya lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah atau arang kayu. 2. Tidak perlu berkali-kali mengipasi atau menambah dengan bahan bakar baru. 3. Briket arang memiliki masa bakar jauh lebih lama. 4. Penggunaan briket arang relatif lebih aman karena nyalanya berada ditengah tungku dan tidak akan bocor. 5. Briket arang mudah disimpan dan dipindah-pindahkan. 6. Briket arang menghasilkan aroma yang lebih sedap, baik bagi orang yang menggunakannya maupun bagi masakan yang diolahnya.

7. Briket arang yang dibuat dengan ukuran diameter 20 cm, tinggi 30 cm, dan diameter 7 cm jika dibakar dalam tungku standar akan menyala selama 2 hari 2 malam (Adan,1998). 2.4 Proses Pembriketan Proses pembriketan adalah proses pengolahan yang mengalami perlakuan penggerusan, pencampuran bahan baku, pencetakan dan pengeringan pada kondisi tertentu, sehingga diperoleh briket yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan sifat kimia tertentu. Tujuan dari pembriketan adalah untuk meningkatkan kualitas briket bahan sebagai bakar, mempermudah penanganan dan transportasi serta mengurangi kehilangan bahan dalam bentuk debu pada proses pengangkutan. Secara umum proses pembuatan briket melalui tahap penggerusan, pencampuran, pencetakan, pengeringan dan pengepakan. 1. Penggerusan adalah menggerus bahan baku briket untuk mendapatkan ukuran butir tertentu. Alat yang digunakan adalah crusher. 2. Pencampuran adalah mencampur bahan baku briket pada komposisis tertentu untuk mendapatkan adonan yang homogen. Alat yang digunakan adalah mixer, combining blender, horizontal kneader dan freet mill. 3. Pencetakan adalah mencetak adonan briket untuk mendapatkan bentuk tertentu sesuaikan yang diinginkan. Alat yang digunakan adalah Briquetting Machine. 4. Pengeringan adalah proses mengeringkan briket dengan menggunakan udara panas pada temperatur tertentu untuk menurunkan kandungan air briket. 5. Pengepakan adalah pengemasan produk briket sesuai dengan spesifikasi kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan. Proses karbonisasi merupakan suatu proses dimana bahan-bahan berupa batang, daun, batubara, serbuk gergaji, tempurung kelapa, dan lain-lain, dipanaskan dalam ruangan tanpa kontak dengan udara selama proses pembakaran sehingga terbentuk arang.Proses karbonisasi merupakan salah satu tahap yang penting dalam pembuatan briket arang. Proses pengarangan dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:

Penguapan air, kemudian penguraian selulosa menjadi destilat yang sebagian besar mengandung asam-asam dan metanol. Penguraian selulosa secara intensif hingga menghasilkan gas serta sedikit air. Penguraian senyawa lignin menghasilkan lebih banyak tar yang akan bertambah jumlahnya pada waktu yang lama dan suhu tinggi. Pembentukan gas hidrogen merupan proses pemurnian arang yang terbentuk (Tobing dan Brades, 2008).

2.5 Parameter Kualitas Briket Beberapa 1. Kandungan Air Moisture yang dikandung dalam briket dapat dinyatakan dalam dua macam : Free moisture (uap air bebas) Free moisture dapat hilang dengan penguapan, misalnya dengan airdrying. Kandungan free moisture sangat penting dalam perencanaan coal handling dan preperation equipment. Inherent moisture (uap air terikat) Kandungan inherent moisture dapat ditentukan dengan memanaskan briket antara temperatur 104 110 oC selama satu jam. 2. Kandungan Abu Semua briket mempunyai kandungan zat anorganik yang dapat ditentukan jumlahnya sebagai berat yang tinggal apabila briket dibakar secara sempurna. Zat yang tinggal ini disebut abu. Abu briket berasal dari clay, pasir dan bermacammacam zat mineral lainnya. Briket dengan kandungan abu yang tinggi sangat tidak menguntungkan karena akan membentuk kerak 3. Kandungan Zat Terbang (Volatile matter) Zat terbang terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti hidrogen, karbon monoksida (CO), dan metana (CH4), tetapi kadang-kadang terdapat juga gas-gas yang tidak terbakar seperti CO2 dan H2O. Volatile matter adalah bagian dari briket dimana akan berubah menjadi volatile matter (produk) bila briket tersebut dipanaskan tanpa udara pada suhu lebih kurang 950 oC. Untuk kadar volatile parameter kualitas briket yang akan mempengaruhi pemanfaatannya antara lain :

matter 40 % pada pembakaran akan memperoleh nyala yang panjang dan akan memberikan asap yang banyak. Sedangkan untuk kadar volatile matter rendah antara 15 25% lebih disenangi dalam pemakaian karena asap yang dihasilkan sedikit. 4. Nilai Kalor Nilai kalor dinyatakan sebagai heating value, merupakan suatu parameter yang penting dari suatu thermal coal. Gross calorific value diperoleh dengan membakar suatu sampel briket didalam bomb calorimeter dengan mengembalikan sistem ke ambient tempertur. Net calorific value biasanya antara 93-97 % dari gross value dan tergantung dari kandungan inherent moisture serta kandungan hidrogen dalam briket (Tobing dan Brades, 2008). 2.6 Standar Kualitas Briket Arang Saat ini belum ada suatu standar kualitas briket arang. Namun persyaratan briket arang menurut Sudrajat (1982) adalah : Fixed Carbon Kadar abu Nilai kalor Kerapatan > < > > 60 % 8% 6000 cal/gr 0,7 gr/cm3

Sifat briket arang kayu diantaranya dapat dipengaruhi oleh jenis kayunya (bahan baku). Kayu dengan berat jenis tinggi akan menghasilkan briket arang dengan kadar fixed carbon dan nilai kalor yang tinggi pula (Tobing dan Brades, 2008). 2.7 Perkembangan Teknologi Pembriketan Pengembangan biobriket umumnya dilakukan untuk meningkatkan kualitas fisik dan keterbakarannya. Bentuk-bentuk biobriket juga sudah banyak dikembangkan seperti kubus, silinder, dan sarang tawon. Selain dari biomasa mentah, briket juga telah dikembangkan dari campuran biomasa-batubara yang kemudian lebih dikenal sebagai biocoal. Pembakaran campuran batubara dan biomasa mempunyai beberapa keuntungan yang dapat diperoleh; yakni tingginya

kadar zat volatil (volatile matter) dari mayoritas biomasa dan tingginya kandungan karbon tetap (fixed carbon) batubara dapat melengkapi satu sama lain[8, 9]. Kombinasi batubara kualitas rendah (low rank coal) dengan biomasa dapat saling menghilangkan kelemahan dari masing-masing bahan bakar dari sisi proses pembakaran. Keuntungan lain pembakaran biomasa bersama dengan batubara yakni penurunan emisi CO2, SO2, rendahnya emisi NOX, dan tingginya kandungan zat volatil dari biomasa. Saptoadi, H melakukan penelitian pembakaran biocoal (briket campuran batubara lignite dan serbuk kayu) dengan memvariasikan komposisi (perbandingan massa) yaitu 100% batubara, 25% batubara - 75% serbuk gergajian kayu, 50% batubara - 50% serbuk gergajian kayu, 75% batubara - 25% serbuk gergajian kayu, 100% serbuk gergajian kayu dan kecepatan udara pembakarannya. Parameter pembanding yang digunakan dalam penelitian ini yaitu temperatur gas rata-rata, burning time, laju pembakaran, kalor yang dilepaskan. Dari analisis data disimpulkan bahwa biocoal dengan komposisi 25% batubara 75% serbuk gergajian kayu merupakan komposisi terbaik meskipun temperatur gas rata-rata dan nilai kalornya rendah tapi massa yang terbakar, burning time, dan laju pembakarannya cukup bagus. Dengan biobriket yang nilai kalornya sekitar setengah dari nilai kalor 1 liter minyak tanah dengan harga jual sekitar Rp 500 akan terjadi penghematan biaya bahan bakar sebesar 50% (lihat Tabel 2.1). Dengan data ini memperlihatkan bahwa briket biomasa secara harga akan mampu bersaing dengan batubara dan minyak tanah. Dengan mengatur kandungan volatil yang cocok, briket biomasa relatif lebih mudah dinyalakan daripada briket batubara. Bau yang dikeluarkan dari pembakaran biobriket juga tidak terlalu menyengat sebagaimana bau yang dikeluarkan selama pembakaran biobriket. Memang kandungan kalor dari biomasa yang lebih rendah menyebabkan jumlah briket yang diperlukan untuk keperluan yang sama relatif lebih banyak dibanding batubara dan minyak tanah, namun dengan teknik karbonisasi nilai kalor dari briket biomasa dapat ditingkatkan lagi.

Tabel 2.1 Penghematan yang terjadi dengan menggunakan biobriket Pengguna Rumah tangga 3 l/hari Warung makan 10 l/hari Industri kecil 25 l /hari Industri menengah 1000 l/hari Minyak Tanah*) Rp8.400 Rp28.000 Rp70.000 Rp2,8 jt Briket Batu Bara**) Rp5.760 Rp19.200 Rp48.000 Rp1.920.000 Biobriket***) Rp3.375 Rp11.250 Rp.28.125 Rp1.125.000 Penghematan Briket Batu Bara Rp2.640 Rp8.800 Rp22.000 Rp880.000 Penghematan Rp5.025 Rp16.750 Rp.41.875 Rp1.675.000

*) Nilai kalor 9000 kkal/kg, harga Rp 2800/l **) Nilai kalor 5500 kkal/kg, harga Rp 1200/l ***) Nilai kalor 4000 kkal/kg, harga Rp 500/l (Suyitno, 2008) 2.8 Bahan Baku 2.8.1 Kemiri Tanaman kemiri (Aleurites moluccana) termasuk suku euphorbiaceae. Tanaman dapat tumbuh ditanah-tanah kapur, tanah berpasir dan jenis-jenis tanah lainnya. Buah kemiri termasuk buah batu, berbentuk bulat telur dan ada bagian yang menonjol kesamping. Daging buahnya kaku dan mengandung 1-2 biji yang diselimuti oleh kulit biji yang keras. Tanaman kemiri merupakan tanaman industri, sebab produk yang dihasilkannya dapat dipakai untuk bahan pembuatan perabot (peralatan) rumah

tangga atau bahan berbagi industri. Biji buah kemiri digunakan sebagai bumbu masak, bahan cat, pernis, sabun, obat-obatan dan kosmetik. (Artita, 2010) Kemiri dalam bahasa Inggris disebut Candlenut banyak tumbuh di daerah NTT, Sulawesi dan sumatera. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian produksi kemiri Nasional terus meningkat dari 74317 ton pada tahun 2000 menjadi 89155 ton pada tahun 2003. Kemiri mempunyai dua lapis kulit yaitu kulit buah dan cangkang, dari setiap kilogram biji kemiri akan dihasilkan 30% inti dan 70% cangkang (Hapis, 2007). 2.8.2 Perekat Kanji Kanji merupakan salah satu sumber karbohidrat yang penting. Mempunyai kadar amilosa 17% dan amilopektin 83%. Sumber-sumber karbohidrat lain yang mengandung amilum dan amilopektin adalah gandum, kentang, sagu, jagung dan beras. Masing-masing mempunyai rasio amiosa atau amilopektin yang berbeda, biasanya mendekati perbandingan 1:3. Kanji adalah perekat tapioka yang dibuat dari tepung tapioka dicampur air dalam jumlah tidak melebuhi 70% dari berat serbuk arang dan kemidian dipanaskan sampai berbentuk jeli. Pencampuran kanji dengan serbuk arang diupayakan dengan merata. Dengan cara manual pencampuran dilakukan dengan meremas-meremas mengunakan tangan, secara maksimal dilakukan oleh alat mixer (Lubis Khairati, 2008)