Anda di halaman 1dari 6

2.

1 APT (ABRITAGE PRICING THEORY)

2.1.1

Pengertian Arbitrage Pricing Theory (APT)

rbitrage Pricing Theory (APT) adalah satu alternatif teori model keseimbangan selain CAPM. Seperti halnya CAPM, APT menggambarkan hubungan antara risiko dan return, tetapi dengan menggunakan asumsi dan prosedur yang berbeda. Estiasi return harapan dari suatu sekuritas dengan menggunakan

APT, tidak terlalu dipengaruhi portofolio pasar seperti hanya dalam CAPM. Pada CAPM, portofolio pasar sangat berpengaruh karena diasumsikan bahwa risiko yang relevan adalah risiko sistematis yang diukur dengan beta (enunjukan sensivitas return sekuritas terhadap perubahan return pasar). Sedangkan pada APT, return sekuritas tidak hanya dipengaruhi oleh portofolio pasar karena adanya asumsi bahwa return harapan dari suatu sekuritas bisa dipengaruhi oleh beberapa sumber risiko lainnya. Teori Harga Arbitrase menyatakan Pemerolehan keuntungan dengan pembelian surat berharga, mata uang, atau komoditas pada harga yang rendah di suatu pasar dan serentak menjual pada pasar yang lain dengan harga yang lebih tinggi; aktivitas tersebut mengurangi perbedaan antar pasar. Model alternatif untuk penentuan harga asset ini dikembangkan oleh Stephen Ross 2.1.2 Asumsi APT APT juga tidak menggunakan asumsi-asumsi yang dipakai dalam CAPM, seperti: a. Adanya suatu periode waktu tertentu, misalnya satu tahun; b. Tidak ada pajak c. Investor bisa meminjam dan menginvestasikan dananya pada tingkat return bebas risiko (Rf) d. Investor memilih portofolio berdasarkan return harapan dan variannya. Asumsi-asumsi CAPM yang digunakan adalah : a. Asumsi utama APT adalah setiap investor yang memiliki peluang untuk meningkatkan return portofolionya tanpa meningkatkan risikonya. Mekanisme pelaksanaannya melibatkan penggunaan portofolio yang telah ditentukan. b. Investor mempunyai kepercayaan yang bersifat homogen;

c. Investor adalah risk-averse yang berusaha untuk memaksimalkan utilitas; d. Pasar dalam kondisi sempurna; e. Return diperoleh dengan menggunakan model factorial APT didasari oleh pandangan bahwa return harapan untuk suatu sekuritas akan dipengaruhi oleh beberapa factor risiko. Faktor-faktor risiko tersebut akan menunjukkan kondisi ekonomi secara umum, dan bukan merupakan karakteristik khusus perusahaan. Faktor-faktor risiko tersebut harus mempunyai karakteristik seperti berikut : a. Masing-masing factor risiko harus mempunyai pengaruh luas terhadap return saham-saham di pasar. Kejadian-kejadian khusus yang berkaitan dengan kondisi perusahaan, bukan merupakan fakto risiko APT. b. Faktor-faktor risiko tersebut harus mempengaruhi return harapan. Untuk itu perlu dilakukan pengujian secara empiris, dengan cara menganalisis return saham statistic, untuk melihat bagaimana faktor-faktor risiko tersebut berpengaruh secara luas terhadap return saham. c. Pada awal periode, factor risiko tersebut tidak dapat diprediksikan oleh padar karena faktor-faktor risiko tersebut mengandung infomasi yang tidak diharapkan atau bersifat mengejutkan pasar (ada perbedaan antara nilai yang diharapkan dengan nilai yang sebenarnya) Dengan demikian, hal penting yang perlu diamati adalah besarnya penyimpangan (deviasi) nilai actual faktor risiko tersebut dari yang diharapkan. Sebagai contoh, jika suku bunga diperkirakan naik 19% per tahun, dan ternyata kenaikan tingkat suku bunga yang terjadi adalah 30%, maka penyimpangan sebesar 11% inilah yang akan mempengaruhi return actual selama periode tersebut.

2.1.3 Prinsip Arbitrase Arbitrase (arbitrage) adalah memperoleh laba tanpa risiko dengan memanfaatkan peluang perbedaan harga asset atau sekuritas yang sama. Sebagai taktik investasi yang digunakan secara luas, arbitrase biasanya meliputi penjualan sekuritas pada harga yang

relative tinggi dan kemudian membeli sekuritas yang sama (atau yang berfungsi sama) pada harga yang relatif lebih rendah. Aktivitas arbitrase merupakan elemen yang menentukan dari pasar sekuritas yang modern dan efisien. Karena secara definisi laba arbitrase tidak berisiko, semua investor mempunyai insentif untuk memanfaatkan peluang tersebut tersebut jika mereka mengetahuinya. 2.1.4 Proses Aribitrase Kegiatan arbitrase adalah kegiatan yang berusaha memperoleh keuntungan arbitrase. Keuntungan arbitrase adalah keuntungan yang diperoleh dengan modal nol dan risiko nol. Proses arbitrase akan mendorong berlakunya hukum satu harga (the law of one price). Hukum tersebut pada dasarnya mengatakan bahwa aset dengan karakteristik yang sama akan terjual dengan harga yang sama dimanapun di dunia ini. Misalkan Rf = 10%, tingkat keuntungan M = 20%, beta M = 1, beta Y = 0,5, dan tingkat keuntungan Y = 12%. Untuk melihat apakah ada kesempatan arbitrase atau tidak, kita melakukan langkah berikut ini. Membentuk portofolio M dengan Rf (dengan nama X), dengan komposisi sedemikian rupa sehingga beta portofolio X tersebut sama dengan beta Y, yaitu 0,5. Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang beta individualnya sebagai berikut ini. P = wi I dimana
P

wi i

= beta portofolio = simbol penjumlahan = bobot atau proporsi untuk aset i = beta aset i

Karena M = 1, dan RF = 0, maka proporsi masing-masing adalah 50%. Dengan demikian beta portofolio X akan sama dengan 0,5.
X = (0,5 0) + (0,5 1) = 0,5

Kemudian kita menghitung tingkat keuntungan sebagai berikut. E(RX) = (0,5 20%) + (0,5 10) = 15% Kita bisa membandingkan tingkat keuntungan dan beta portofolio X dengan Y sebagai berikut ini.

E(RX) = 15% E(RY) = 12%

= 0,5
Y

= 0,5

Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa meskipun risiko sistematis keduanya sama, yaitu 0,5, tetapi tingkat keuntungannya berbeda. Berarti ada kesempatan arbitrase. 1. Arbitrase dilakukan dengan jalan men-short sales aset Y, kemudian kas masuk dipakai untuk membeli portofolio X, yang berarti membeli 50% oada portofolio M dan 50% pada aset bebas resiko. Keuntungan dan resiko kegiatan tersebut adalah (X minus Y) : Keuntungan =15%-12% Tambahan resiko Tambahan modal = 2% =0 = 0,5 0,5

= 0 karena kas masuk (modal) diperoleh dari short sales Y

(pinjam aset Y, kemudian dijual dan dikembalikan periode berikutnya) 2. Proses itu akan menurunkan harga Y dan menaikkan harga X. Kemudian tingkat keuntungan y akan naik, tingkat keuntungan X akan turun. Setelah tingkat keuntungan Y dan X sama, maka tidak ada lagi kesempatan arbitrase.

2.1.5 Model APT Proses penghasilan return (return generating process) menurut APT bisa dirumuskan sebagai berikut ini. Ri = E(Ri) + b1 (RF1 - E(RF1)) + + bN (RFN E(RFN))

+ ei

Ri = tingkat keuntungan (return) aset i yang terjadi E(Ri) = tingkat keuntungan aset i yang diharapkan 1 N = risiko sistematis aset terhadap faktor 1... faktor N RF1..RFN= tingkat keuntungan dari faktor 1 .. faktor N eF1 ... RFN = tingkat keuntungan yang diharapkan dari faktor 1.faktor N Faktor tersebut bisa berupa faktor pasar (RM, seperti dalam CAPM) atau faktor lainnya, seperti faktor ekonomi (pertumbuhan GNP, inflasi, dan sejenisnya). Persamaan di atas mengatakan bahwa return suatu aset sama dengan: (1) return yang diharapkan, (2) perubahan faktor yang tidak diharapkan (RF - E(RF), (3) sensitifias aset i terhadap

perubahan faktor pada (2), dan (3) random term yang mencerminkan faktor spesifik perusahaan/industri. Dalam APT, hanya perubahan yang tidak terduga yang dikompensasi oleh return, seperti terlihat berikut ini. Return bisa dipecah ke dalam return yang diharapkan dan return yang tidak diharapkan: R = E(R) + Unexpected (Tidak Terduga)

Return yang tidak terduga bisa dipecah ke dalam dua tipe: (1) Return yang tidak diharapkan yang berasal dari kejutan (surprises) faktor-faktor tertentu. Kejutan tersebut bersifat sistematis (tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi), dan (2) Return yang tidak diharapkan yang berasal dari kejutan (surprises) dari perusahaan spesifik. Kejutan tersebut bersifat tidak sistematis (bisa dihilangkan melalui diversifikasi). Misalkan ada tiga faktor yang terlibat: (1) Inflasi, (2) Pertumbuhan GNP, dan (3) Perubahan Tingkat Bunga. Model di atas bisa dipecah ke dalam model berikut ini. Ri = E(Ri) + i - inflasi Finflasi + i - GNP FGNP + i - tkt-bunga Ftkt - bunga + i

Misalkan seorang investor memegang banyak (N) saham dalam portofolionya. Sumber return dari portofolionya bisa dilihat sebagai berikut ini. RP = E(RP) + P - inflasi Finflasi + P - GNP FGNP + P - tkt
bunga

Ftkt bunga + P

E(RP) = X1 E(R1) + + XN E(RN)


P-Faktor= X1 1 - Faktor F1 + + X1 N - Faktor FN

= X1 1 + + XN N Karena 1N bersifat tidak sistematis, maka P diharapkan mempunyai nilai 0.

Dengan demikian tingkat keuntungan portofolio bisa ditulis sebagai berikut ini. RP = E(RP) + P - inflasi Finflasi + P - GNP FGNP + P
tkt bunga

Ftkt bunga

Perhatikan hanya risiko sistematis terhadap faktor-faktor yang dikompensasi oleh kenaikan return. Dengan melakukan beberapa manipulasi matematis, model APT yang ekuivalen dengan SML dalam CAPM bisa dirumuskan sebagai berikut ini. E(Ri) = Rf + i1 (RF1 Rf) + + iN (RFN Rf)

dimana

E(Ri) = Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk aset i Rf = Teturn aset bebas risiko RF1 .. RFN = Untuk risiko faktor 1,2,3, dan N i1 .. iN = Risiko sistematis untuk faktor 1, 2, 3, dan N

Perhatikan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan. Jika hanya satu faktor dalam model tersebut, dan faktor tersebut adalah return pasar, maka APT akan sama dengan CAPM. Sayangnya APT tidak menjelaskan berapa faktor yang relevan dalam model tersebut. Kelebihan APT dibandingkan dengan CAPM adalah APT tidak memerlukan portofolio pasar dalam perhitungan tingkat keuntungan suatu aset. Secara teoritis, portofolio pasar yang digambarkan oleh CAPM adalah portofolio yang mencakup semua.