Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak lepas dari peran aktif masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Dengan keberhasilan tersebut masyarakat tidak hanya mampu mengenali tetapi sekaligus akan mampu mengatasi persoalan yang dihadapi, maupun untuk mengantisipasi tantangan kemajuan SDM secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang mampu memelihara bahkan dapat mendorong peningkatan kualitas kesehatan perorangan dan masyarakat. Selain itu, pemerintah ingin mewujudkan pembangunan nasional dibidang kesehatan berlandaskan prakarsa dan aspirasi masyarakat dengan memberdayakan, menghimpun, mengoptimalkan potensi daerah untuk kepentingan daerahdan prioritas nasional dalam mencapai Indonesia Sehat 2010. Yaitu masa depan dimana bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan sehat, penduduknya berperilaku hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, sehingga memiliki derajat kesehatan yang optimal. PHBS adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat bertujuan untuk meningkkatkan pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya baik secara fisik, mental, spiritual maupun social. Peningkatan PHBS merupakan salah satu upaya dalam rangka pembudayaan PHBS dengan menggunakan metode Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Terpadu (PKMT) melalui keterpaduan pendekatan tujuan, sasaran, pesan dan penyelenggaraan yang akan memberikan tambahan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat. Dari survei PHBS yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2002 pada tatanan rumah tangga diselengarakan di 5 propinsi (SUMUT, JAMBI, BENGKULU, KALTENG, KALSEL) meliputi 19 kabupaten/kota dengan bantuan dana dari proyek Family Health and Nutrition (FHN), didapatkan hasil yang menyatakan bahwa hanya

satu kabupaten yang memiliki persentase keluarga pada tatanan rumah tangga dengan status Sehat 4 tertinggi, yaitu Kabupaten Tanah Laut di Propinsi KALSEL (40,19 %). WHO telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai hari bebas tembakau sedunia. Pencanangan ini dimulai sejak tahun 1988, sehingga sampai tahun 2008 ini telah memasuki tahun ke 20. Hal ini menunjukkan makin meningkatnya perhatian dunia terutama kalangan kesehatan terhadap akibat negatif rokok bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Kebiasaan merokok di Indonesia dan di beberapa negara berkembang lainnya cukup luas, bahkan ada kecenderungan semakin meningkat. Sementara itu di negara maju kebiasaan merokok justru semakin berkurang, karena mereka telah sadar akan bahaya rokok pada kesehatan. WHO memperkirakan bahwa di negara industri sekitar sepertiga kaum pria berumur di atas 15 tahun mempunyai kebiasaan merokok. Di pihak lain sekitar setengah dari kaum pria di negara berkembang mempunyai kebiasaan merokok dan sekitar 10% wanita juga mempunyai kebiasaan merokok. Data WHO dan 65 negara antara tahun 1975 sampai dengan tahun 1986, menyatakan bahwa 75% kaum pria di Indonesia mempunyai kebiasaan merokok dan di kalangan wanita sebesar 5%. Indonesia menduduki urutan nomor 5 tertinggi di bawah Papua New Giunea, Fiji, Nepal, Filipina dan jauh di atas Singapura yang hanya menduduki urutan ke 31. Hal ini tentu saja memprihatinkan kalangan kesehatan mengingat akibat buruk yang ditimbulkan rokok bagi kesehatan. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok antara lain kanker paru, bronkitis kronik, emfisema, penyakit jantung koroner, ulkus peptikum, kanker mulut/tenggorok, penyakit pembuluh darah otak dan gangguan janin dalam kandungan. Atas dasar tersebut diatas kami memiliki judul penelitihan ini, yaitu Pengaruh Larangan Merokok di Tempat Kerja terhadap Kebiasaan Merokok di Dalam Rumah Pada Penduduk Laki-Laki Perokok RW I Desa Yosowilangan Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik.

1.2 RUMUSAN MASALAH Apakah ada pengaruh larangan merokok di tempat kerja terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah pada penduduk laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangon kecamatan Manyar kabupaten Gresik. 1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui pengaruh larangan merokok di tempat kerja terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mempelajari tingkat kesadaran masyarakat dalam kebiasaan merokok di dalam rumah. 2. Mempelajari tingkat pengetahuan masyarakat tentang bahaya merokok. 3. Mempelajari kegiatan anggota keluarga dalam merokok. 4. Mempelajari pengaruh larangan merokok di tempat kerja dengan kebiasaan merokok di dalam rumah. 1.4 MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Peneliti a. Belajar untuk melakukan penelitian b. Sarana peningkatan pengetahuan dalam melakukan penelitian ilmiah bagi dokter muda yang berminat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 2. Bagi Masyarakat a. Bertambahnya informasi tentang bahaya merokok baik perokok maupun orang sekitarnya di dalam rumah. b. Diharapkan adanya peningkatan kesadaran untuk tidak merokok di dalam rumah. 3. Bagi Institusi (Pengelola Program, Puskesmas dan Pustu) Dalam upaya ikut membantu dalam memasyarakatkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam kebiasaan merokok di dalam rumah.

4. Bagi Universitas Sebagai tambahan referensi bagi mahasiswa yang ada di Universitas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT Derajat kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), oleh karena itu pembangunan kesehatan menempati peran penting dalam pembangunan nasional. Peningkatan derajat kesehatan sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku sehingga perlu untuk menIngkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. 2.1.1 Definisi Perilaku Menurut Skinner (1938), perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (Stimulus) dan tanggapan (Respon). Ia membedakan adanya 2 respon, yaitu : 1. Respondent Respon atau Reflexive Respons ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan rangsangan tertentu. 2. Operant Respon atau Instrumental Respons ialah respon yang ditimbulkan oleh perangsang tertentu. Pembentukan perilaku menurut Skinner adalah sebagai berikut : 1. Identifikasi 2. Analisis 3. Menggunakan Komponen hasil identifikasi 4. Pembentukan perilaku 2.1.2 Definisi Sehat Definisi Sehat menurut WHO adalah A State Of Complete Physical, Mental and Social Wellbeing (WHO, 1981:38) 2.1.3 Definisi Hidup Bersih dan Sehat Definisi Hidup Bersih dan Sehat adalah sikap yang dilakukan oleh setiap individu yang bertujuan untuk memelihara kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman.

2.1.4 Definisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Definisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar mau dan mampu melakukan PHBS untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. 2.1.5 Tujuan PHBS Tujuan umum : Meningkatkan rumah tangga sehat di Indonesia Tujuan Khusus : 1. Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga unruk melaksanakan PHBS 2. Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat 2.1.6 Manfaat PHBS 1. Setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit (terserang penyakit) 2. Rumah tangga sehat dapat menngkatkan produktivitas kerja anggota rumah tangga 3. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga, maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi yang lain 4. Salah satu indikator menilai keberhasilan pemerintah di bidang kesehatan 5. Meningkatkan citra pemerintah dalam bidang kesehatan.

2.1.7 Indikator PHBS Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan di rumah tangga. Mengacu pada Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan bahwa Rumah Tangga Sehat ditargetkan mencapai 65% tahun 2010 dengan 10 indikator PHBS yang terdiri dari 6 indikator perilaku dan 4 indikator lingkungan sebagai berikut :

1. Pertolongan Persalinan oleh Nakes 2. Memberi bayi ASI Ekslusif 3. Menimbang Bayi dan Balita 4. Menggunakan air bersih 5. Mencuci tangan dengan air bersih dengan sabun 6. Menggunakan jamban sehat 7. Memberantas jentik di rumah 8. Makan buah dan sayur setiap hari 9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari 10. Tidak merokok di dalam rumah Keterangan : Apabila dalam rumah tangga tersebut tidak ada Ibu yang pernah melahirkan dan tidak ada Balita, maka pengertian Rumah Tangga Sehat adalah Rumah Tangga yang memenuhi 8 indikator. 2.2 ROKOK IBARAT PABRIK BAHAN KIMIA Dalam 1 batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan sekitar 4000 bahan kimia berbahaya, diantaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon Monoksida (CO). Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung serta aliran darah Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker CO menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi rokok secara rutin dengan sekecil apapun walaupun itu cuma 1 batang dalam sehari. Atau orang yang menghisap rokok walau tidak rutin sekalipun atau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap rokok cuma sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap masuk kedalam paru-paru.

Perokok Pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang lain atau orang yang berada dalam satu ruangan tertutup dengan orang yang sedang merokok. Rumah adalah tempat berlindung, termasuk dari asap rokok. Perokok pasif harus menyuarakan haknya untuk tidak menghirup asap rokok.

Bahaya Perokok Aktif dan Perokok Pasif Menyebabkan kerontokan rambut Gangguan pada mata seperti katarak Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok Menyebabkan penyakit paru-paru kronis Merusak gigi yang menyebabkan bau mulut yang tidak sedap Menyebabkan stroke dan serangan jantung Tulang lebih mudah patah Menyebabkan kanker kulit Menyebabkan kemandulan dan impotensi Menyebabkan kanker rahim dan keguguran

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 RANCANGAN PENELITIAN Pada penelitian ini digunakan metode penelitian observasional analitik, disebut observasi karena peneliti hanya melakukan pengamatan dan wawancara dengan responden menggunakan kuisioner tanpa memberikan suatu perlakuan atau intervensi. Disebut analitik karena peneliti ingin meneliti pengaruh larangan merokok di tempat kerja terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah. Sedangkan menurut waktu pengambilan data, penelitian ini termasuk penelitian cross sectional karena pengamatan dilakukan satu kali pada saat penelitian berlangsung. 4.2 WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN 1. Penelitian dilakukan selama 2 minggu, terhitung sejak tanggal 6 November hingga 20 November 2008. 2. Lokasi penelitian di RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar kabupaten Gresik. 4.3 POPULASI DAN SAMPEL 4.3.1 Populasi penelitian Populasi pada penelitian ini adalah laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar kabupaten Gresik,sebanyak 200 orang. 4.3.2 Besar sampel Besar sampel penelitian ini dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : n = ___ N _ 1 + N (d) keterangan : n N : besar sampel : jumlah populasi = 200

: tingkat ketepatan yang dikehendaki = 0,1 = 67

Perhitungan: n = _____200___ 1 + 200 (0,1) 4.3.3 Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

simple random

sampling, yaitu pada tanggal 6 November 20 November 2008 di RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar kabupaten Gresik didapatkan laki-laki perokok sebanyak 200 responden, kemudian dihitung berdasarkan rumus di atas didapatkan besar sampel 67 responden, kemudian tiap responden diberi nomor dan dipilih 67 responden dari 200 responden dengan tabel random 2 digit secara manual. 4.4 VARIABEL PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL Variabel yang diteliti: 1. Variabel terikat: Kebiasaan merokok di dalam rumah. 2. Variabel bebas: Larangan merokok di tempat kerja. Tabel 4.1Definisi Operasional Penelitian. Variabel Kebiasaan merokok di dalam rumah Definisi operasional Perilaku perokok yang lebih sering merokok di dalam rumah daripada di luar rumah. Wawancara. Cara mengukur Indikator Pengolahan data Lebih sering Nominal: merokok di dalam 1= Ya rumah daripada di 2= Tidak luar rumah dalam satu minggu terakhir. Skala

Larangan merokok kerja

Adanya larangan merokok di tempat kerja

Wawancara.

Adanya peraturan Nominal: resmi tertulis secara 1=Ya. tentang 2=Tidak.

di tempat untuk

larangan merokok di tempat kerja.

4.5 Teknik Pengumpulan Data 4.5.1 Data Primer Diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden yang berpedoman pada kuesioner meliputi status pekerjaan, pendidikan terakhir, umur, dan kebiasaan merokok. 4.5.2 Data Sekunder Diperoleh dari data yang didapatkan dari Puskesmas Sukomulyo, berupa gambaran umum keadaan puskesmas dan dari kelurahan Yosowilangun berupa jumlah penduduk laki-laki dan potensi sumber daya manusia yang digunakan sebagai dasar dari penelitian kami. 4.6 Rencana pengolahan dan analisis data Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis dengan menggunakan tabel silang untuk mengetahui adanya pengaruh status pekerjaan terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah/ adanya larangan merokok di tempat kerja dengan kebiasaan merokok di dalam rumah. Analisis statistik dengan uji teknik chi-square. Disajikan dalam bentuk tabulasi frekuensi dan dianalisis secara sistemik untuk mendapatkan gambaran secara faktual.

Bab V HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Desa Yosowilangun 5.1.1 Data Topografi Desa 1. Desa 2.Kecamatan 3.Kabupaten 4.Provinsi 5.1.2 Keadaan Desa/Geografis 1. Luas Desa 2.Batas Wilayah - Batas Utara - Batas Timur - Batas Barat - Batas Selatan 3. Kependudukan/Demografi - jumlah penduduk laki-laki - jumlah penduduk perempuan - jumlah KK - jumlah RT - jumlah RW : 5765 orang : 6284 orang : 3100 : 11 :4 : 737 ha : : Desa Sukomulyo : Desa Roomo : Desa Randu Agung : Desa Suci : Yosowilangun : Manyar : Gresik : Jawa Timur

- jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan 1. Buta huruf 2. Tidak Tamat SD 2. Tamat SD/ sederajat 3. Tamat SLTP/sederajat 4. Tamat SLTA/sederajat 5. Sarjana 1. PNS 2. TNI/Polri 3. Karyawan Swasta 4. Wiraswasta/ Pedagang 5. lain-lain 5.2 Gambaran Hasil Penelitian (Deskriptif) 5.2.1 Karakteristik Laki-laki Perokok a.Umur Tabel 5.1 Distribusi frekuensi umur laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada November 2008. Umur <20 20 35 36 50 >50 Total Jumlah 1 32 23 11 67 Persentase 1,49 47,76 34,33 16,42 100 : 26 orang : 76 orang : 2571 orang : 1427 orang : 4604 orang : 1972 orang : 427 orang : 53 orang : 5702 orang : 47 orang : 93 orang

- jumlah penduduk menurut mata pencaharian

Dari tabel 5.1 di atas dapat diketahui sebagian besar laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok sebagian besar berusia 20-35 tahun yaitu sebesar 47,76%, sedangkan usia 36-50 sebesar 34,33%, >50 sebesar 16,42% dan <20tahun sebesar 1,49%. b. Pekerjaan

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi pekerjaan laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun, kecamatan Manyar, kabupaten Gresik pada November 2008. Jenis Pekerjaan PNS/TNI-Polri Pegawai Swasta Wiraswasta Pelajar Lain-lain Total Jumlah 11 26 21 1 8 67 Persentase 16,42 38,81 31,34 1,49 11,94 100

Dari tabel 5.2 di atas diketahui bahwa pekerjaan laki-laki perokok sebagian besar adalah pegawai swasta yaitu sebesar 38,81%, wiraswasta 31,34%, PNS/TNI Polri 16,42%, pelajar 1,49%, lain-lain 11,94%. c.Pendidikan Tabel 5.3 Distribusi frekuensi pendidikan laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, pada November 2008. Pendidikan Sarjana Tamat SMU/sederajat Tamat SLTP/sederajat Tamat SD/sederajat Lain-lain Total Jumlah 9 35 13 10 0 67 Persentase 13,43 52,24 19,40 14,93 0 100

Dari tabel 5.3 di atas diketahui bahwa pendidikan penduduk laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok adalah 13,43% sarjana, 52,24% tamat SMU, 19,40% tamat SLTP, dan 14,93% tamat SD.

d. Tempat Merokok Tabel 5.4 Distribusi frekuensi tempat merokok penduduk laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun di Kecamatan Manyar,Kabupaten Gresik pada bulan November 2008. Kebiasaan merokok di dalam rumah Ya 19 28,36 Jumlah Persentase

Tidak Total

48 67

71,64 100

Dari tabel 5.4 di atas, diketahui bahwa laki-laki perokok memiliki kebiasaan merokok 28,36% di dalam rumah, 71,64% di luar rumah. e. Larangan Merokok di tempat kerja Tabel 5.5 Distribusi frekuensi tempat kerja yang memberi larangan merokok bagi penduduk laki-laki perokok di RW I desa Yosowilangun di kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada bulan November 2008. Larangan Merokok Ya Tidak Total Jumlah 22 45 67 Persentase 32,84 67,16 100

Dari tabel 5.5 di atas, diperoleh data tempat kerja yang memberi larangan merokok bagi penduduk laki-laki perokok adalah 32,84%, dan 67,16% tidak memberi larangan merokok.

5.2.2 Hubungan antara status pekerjaan dengan kebiasaan merokok di dalam rumah Tabel.5.6 Cross tabel pengaruh larangan merokok di tempat kerja terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah pada penduduk laki-laki perokok RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar kabupaten Gresik periode November 2008. Merokok Rumah Larangan Merokok Ya Tidak Ya 7(10,45%) 12(17,91%) Tidak 15(22,39%) 33(49,25%) Total 22(32,84%) 45(67,16%)

Total

19(28,36%)

48(71,64%)

67(100%)

5.2.3 Analisis Hasil Penelitian Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa dari 22 responden yang ada larangan merokok di tempat kerjanya, sebanyak 7 orang (yaitu 10,45%) merokok di dalam rumah,dan 15 orang (yaitu 22,39%) tidak merokok di dalam rumah. Sedangkan dari 45 orang responden yang tidak ada larangan merokok di tempat kerjanya, sebanyak 12 orang (yaitu 17,91%) merokok di dalam rumah,dan 33 orang (yaitu 49,25%) tidak merokok di dalam rumah. Dari hasil uji statistik Chi-Square dengan menggunakan SPSS versi 16.0 didapatkan nilai p > 0,05 dimana p= 0,660. Hal ini berarti H0 diterima, yaitu tidak ada pengaruh antara larangan merokok di tempat kerja dengan kebiasaan merokok di dalam rumah.

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Larangan Merokok di tempat kerja Dari hasil penelitian didapatkan hanya sebagian dari responden memiliki larangan merokok di tempat kerjanya, yaitu sebesar 32,84%. 6.2 Kebiasaan merokok di dalam rumah

Dari hasil penelitian didapatkan sebagian kecil dari responden merokok di dalam rumah, yaitu sebesar 28,36%. Hal ini menunjukkan bahwa para perokok tersebut sudah memahami tentang bahaya yang ditimbulkan jika asap rokok terhirup oleh anggota keluarga yang lain bila mereka merokok di dalam rumah. Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO bahwa perokok pasif atau mereka yang ada di sekitar perokok aktif akan memiliki resiko terkena kanker paru lebih tinggi daripada perokok aktif itu sendiri. 6.3 Pengaruh larangan merokok di tempat kerja terhadap kebiasaan merokok di dalam rumah. Dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa 22 responden yang ada larangan merokok di tempat kerjanya, sebanyak 7 orang (yaitu 10,45%) merokok di dalam rumah,dan 15 orang (yaitu 22,39%) tidak merokok di dalam rumah. Sedangkan dari 45 orang responden yang tidak ada larangan merokok di tempat kerjanya, sebanyak 12 orang (yaitu 17,91%) merokok di dalam rumah,dan 33 orang (yaitu 49,25%) tidak merokok di dalam rumah. Dari hasil uji statistik Chi-Square dengan menggunakan SPSS versi 16.0 didapatkan nilai p > 0,05 dimana p= 0,660. Hal ini berarti H0 diterima, yaitu tidak ada pengaruh antara larangan merokok di tempat kerja dengan kebiasaan merokok di dalam rumah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu perokok yang telah memiliki kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat dimana mereka tidak merokok di dalam rumah, meskipun mereka dilarang untuk merokok di tempat kerja. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian yang kami lakukan di RW I desa Yosowilangun kecamatan Manyar kabupaten Gresik periode November 2008 dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh antara larangan merokok di tempat kerja dengan kebiasaan merokok di dalam rumah. Hal ini disebabkan karena tingginya kesadaran bahaya merokok baik itu perokok aktif maupun perokok pasif. Para perokok tersebut lebih

banyak merokok di luar rumah daripada di dalam rumah, meskipun di tempat kerjanya memiliki peraturan untuk tidak merokok di lingkungan kerja. 7.2 Saran 1. Sebaiknya para perokok menghentikan kebiasaan merokok atau setidaknya mengurangi frekuensi merokok dimanapun mereka berada. 2. Kepada masyarakat hendaknya memahami bahaya merokok baik untuk perokok aktif maupun perokok pasif dalam upaya mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh rokok, dan apabila terpaksa tidak bisa mengubah kebiasaan merokok disarankan agar tidak merokok di dalam rumah karena bisa menimbulkan penyakit akibat rokok bagi anggota keluarga yang lain dan agar rumah tangga menjadi sehat. 3. Memberikan edukasi kepada keluarga untuk ikut mengawasi dan memotivasi anggota keluarganya yang merokok agar berhenti merokok. 4. Petugas kesehatan diharapkan lebih sering memberikan penyuluhan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat terutama tentang dampak yang ditimbulkan oleh rokok.