Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar BeIakang
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
Treponema pallidum, yang menyerang manusia, bersifat kronis,
sistemik dan dapat mengenai semua bagian tubuh, dapat bersifat
laten selama bertahun-tahun, menular serta dapat diobati. Sifilis
kongenital adalah sifilis yang ditularkan oleh ibu kepada janinnya
secara intra uterin. Nama lainnya adalah lues connate, syphilis
connata, venereal, penyakit raja singa.
Pada abad ke-15, sifilis merupakan wabah di Eropa, tapi
sesudah tahun 1860, morbiditas penyakit ini menurun dengan cepat.
Selama perang dunia ke , insiden sifilis meningkat dan mencapai
puncaknya pada tahun 1946, dan setelah ditemukan penisilin
menurun dengan cepat. Di Eropa dan Amerika Serikat insiden sifilis
kongenital pada umumnya menurun sekitar tahun 1970 sampai awal
1980, namun dalam beberapa tahun terakhir tampak adanya
peningkatan insiden sifilis kongenital. Peningkatan ini diduga
berkaitan dengan peningkatan insiden primer dan sekunder pada
wanita usia subur yang berumur 15-29 tahun. Sebuah penelitian di
Zambia bahkan menyatakan bahwa hampir 1 % dari bayi yang
dilahirkan memiliki tanda sifilis kongenital dan 6,5 % seroreaktif pada
saat lahir, sekitar 2,9 % seroreaktif pada usia di bawah 6 bulan. Di
samping itu, sifilis kongenital merupakan penyebab 20-30% kematian
bayi perinatal.
Gambaran klinis sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis
kongenital dini (timbul sebelum usia 2 tahun), serta sifilis kongenital
lanjut (timbul setelah usia 2 tahun). Hampir semua kasus sifilis didapat
melalui kontak seksual langsung dengan lesi dari individu yang
terjangkit sifilis aktif primer ataupun sekunder. Sifilis dapat

ditransmisikan secara kongenital dari ibu yang terinfeksi melalui


plasenta ke janin. Transmisi lain yang mungkin namun jarang terjadi
termasuk transfusi darah, kontak personal non seksual, inokulasi
langsung yang tidak disengaja.

B. Rumusan MasaIah
1. Apa pengertian dari Sifilis?
2. Apakah penyebab penyakit Sifilis?
3. Apa sajakah klasifikasi penyakit Sifilis?
4. Bagaimana transmisi dari penyakit Sifilis?
5. Bagaimana masa inkubasi dari kuman penyakit Sifilis?
6. Apa sajakah gejala klinis penyakit Sifilis?
7. Bagaimana perawatan bagi penderita Sifilis?
8. Apa sajakah dampak dari penyakit Sifilis?
9. Bagaimana pencegahan penyakit Sifilis?
10. Bagaimana penanggulangan / pengobatan penyakit Sifilis?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Sifilis
2. Mengetahui penyebab penyakit Sifilis
3. Mengetahui klasifikasi penyakit Sifilis
4. Mengetahui transmisi dari penyakit Sifilis
5. Mengetahui masa inkubasi dari kuman penyakit Sifilis
6. Mengetahui gejala klinis penyakit Sifilis
7. Mengetahui perawatan bagi penderita Sifilis
8. Mengetahui dampak dari penyakit Sifilis
9. Mengetahui pencegahan penyakit Sifilis
10. Mengetahui penanggulangan / pengobatan penyakit Sifilis


BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi SifiIis
Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh
bakteri Troponema Pallidum. Penularan melalui kontak seksual,
melalui kontak langsung dan kongenital sifilis (melalui ibu ke anak
dalam uterus)
Gejela dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan ; sebelum
perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit
ini sering disebut "Peniru Besar karena sering dikira penyakit lainnya.
Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HV. Hal ini
dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HV masuk ke dalam tubuh
seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat
membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada
penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke
seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang
sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak
diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada
bayi yang ia kandung.
Penyakit sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis
dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi
masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang
seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, saraf dan
dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang di kandungnya.
Sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis
sering disebut sebagai "Lues Raja Singa.



B. Penyebab SifiIis
Treponema pallidum pallidum merupukan spirochaeta yang
bersifat motile yang umumnya menginfeksi melalui kontak seksual
langsung, masuk ke dalam tubuh inang melalui celah di antara sel
epitel. Organisme ini juga dapat ditularkan kepada janin melalui jalur
transplasental selama masa-masa akhir kehamilan. Struktur tubuhnya
yang berupa heliks memungkinkan Treponema pallidum pallidum
bergerak dengan pola gerakan yang khas untuk bergerak di dalam
medium kental seperti lender (mucus). Dengan demikian organisme ini
dapat mengakses sampai ke sistem peredaran darah dan getah bening
inang melalui jaringan dan membran mucosa. Pada tanggal 17 Juli
1998, suatu jurnal melaporkan sekuensi genom dari Treponema
pallidum. Treponema pallidum pallidum adalah bakteri yang memiliki
genom bakterial terkecil pada 1.14 million base pairs (Mb) dan memiliki
kemampuan metabolisme yang terbatas, serta mampu untuk
beradaptasi dengan berbagai macam jaringan tubuh mamalia.
Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada
beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis
(penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).Sifilis atau yang disebut
dengan 'raja singa' disebabkan oleh sejenis bakteri yang bernama
treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae
ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di
seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan
dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital
(kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). nfeksi ini juga dapat
ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan.
Anda tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau
tempat duduk WC.
Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada waktu persalinan, namun
sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in
utero. Resiko sifilis kongenital berhubungan langsung dengan stadium

sifilis yang diderita ibu semasa kehamilan. Lesi sifilis kongenital


biasanya timbul setelah 4 bulan in utero pada saat janin sudah dalam
keadaan imunokompeten. Penularan inutero terjadi transplasental,
sehingga dapat dijumpai Treponema pallidum pada plasenta, tali
pusat, serta cairan amnion.
Treponema pallidum melalui plasenta masuk ke dalam
peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh jaringan. Kemudian
berkembang biak dan menyebabkan respons peradangan selular yang
akan merusak janin. Kelainan yang timbul dapat bersifat fatal sehingga
terjadi abortus atau lahir mati atau terjadi gangguan pertumbuhan pada
berbagai tingkat kehidupan intrauterine maupun ekstrauterin. Seperti
terlihat pada bagan berikut ini :










C. KIasifikasi SifiIis
1. Sifilis kongenital
a. Sifilis kongenital dini
b. Sifilis kongenital lanjut
2. Sifilis akuisita (klasifikasi epidemiologis)
a. Sifilis dini (sifilis yang terjadi dalam 1 tahun setelah terinfeksi)
O Sifilis primer (S )
O Sifilis sekunder (S )
O Sifilis laten dini (early latent syphilis)

b. Sifilis lanjut (sifilis yang terjadi lebih dari 1 tahun setelah infeksi)
O Sifilis laten lanjut (late latent syphilis)
O Sifilis tersier (S )

D. Transmisi SifiIis
1. Stadium Dini
Pada sifilis yang didapat, Treponema pallidum masuk ke
dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui
senggama. Kuman tersebut berkembang biak, jaringan bereaksi
dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan
sel-sel plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh
darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum dan
sel-sel radang. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan
perubahan hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi
lumen (enarteritis obliterans). Pada pemeriksaan klinis tampak
sebagai S . Sebelum S terlihat, kuman telah mencapai kelenjar
getah bening regional secara limfogen dan berkembang biak,
terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan
tubuh. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S yang
terjadi 6-8 minggu setelah S . S akan sembuh perlahan-lahan
karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya.
Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa
sikatrik. S juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu
menghilang. Timbul stadium laten. Jika infeksi T.pallidum gagal
diatasi oleh proses imunitas tubuh, kuman akan berkembang biak
lagi dan menimbulkan lesi rekuren. Lesi dapat timbul berulang-
ulang.
. Stadium Lanjut
Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena
treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem
kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan

perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk


menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua pertiga kasus dengan
stadium laten tidak memberi gejala.

E. Masa Inkubasi SifiIis
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Treponema pallidum bersifat kronis dan menahun. Bakteri ini masuk
ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina
atau mulut ) atau melalui kulit.
Sifilis memiliki beberapa stadium infeksi. Setelah terinfeksi
dengan sifilis, ada masa inkubasi, yaitu masa sampai sebelum
timbulnya gejala luka terbuka yang disebut .han.re sekitar 9-90 hari,
umumnya rata-rata saat 21 hari sudah terlihat.

. GejaIa KIinis SifiIis
Perlu kita pelajari gejala yang timbul karena jika seorang dokter
tidak menanyakan dari seorang pasien tentang gejala dan proses
yang terlihat pada tubuhnya bisa jadi dokter akan salah diagnosis.
1) Stadium pertama sifilis bisa ada sebuah luka terbuka yang disebut
.han.re di daerah genital, rektal, atau mulut. Luka terbuka ini tidak
terasa sakit. Pembesaran kelenjar limfe bisa saja muncul.
Seorang penderita bisa saja tidak merasakan sakitnya dan
biasanya luka ini sembuh dengan sendirinya dalam waktu 4-6
minggu, maka dari itu penderita biasanya tidak akan datang ke
dokter untuk berobat, tetapi bukan berarti sifilis ini menghilang,
tapi tetap beredar di dalam tubuh. Jika tidak diatasi dengan baik,
akan berlanjut hingga stadium selanjutnya.
2) Stadium kedua muncul sekitar 1-6 bulan (rata-rata sekitar 6-8
minggu) setelah infeksi pertama, ada beberapa manifestasi yang
berbeda pada stadium kedua ini. Suatu ruam kemerahan bisa saja
timbul tanpa disertai rasa gatal di bagian-bagian tertentu,seperti

telapak tangan dan kaki, atau area lembab, seperti skrotum dan
bibir vagina. Selain ruam ini, timbul gejala-gejala lainnya, seperti
demam, pembesaran kelenjar getah bening, sakit tenggorokan,
sakit kepala, kehilangan berat badan, nyeri otot, dan perlu
diketahui bahwa gejala dan tanda dari infeksi kedua sifilis ini juga
akan bisa hilang dengan sendirinya, tapi juga perlu diingat bahwa
ini bukan berarti sifilis hilang dari tubuh Anda, tapi infeksinya
berlanjut hingga stadium laten.
3) Stadium laten adalah stadium di mana jika diperiksa dengan tes
laboratorium, hasilnya positif, tetapi gejala dan tanda bisa ada
ataupun tidak. Stadium laten ini juga dibagi sebagai stadium awal
dan akhir laten. Dinyatakan sebagai sifilis laten awal ketika sifilis
sudah berada di dalam badan selama dua tahun atau kurang dari
infeksi pertama dengan atau tanpa gejala. Sedangkan sifilis laten
akhir jika sudah menderita selama dua tahun atau lebih dari
infeksi pertama tanpa adanya bukti gejala klinis. Pada praktiknya,
sering kali tidak diketahui kapan mulai terkena sehingga sering
kali harus diasumsikan bahwa penderita sudah sampai stadium
laten.
4) Sifilis tersier yang muncul pada 1/3 dari penderita yang tidak
ditangani dengan baik. Biasanya timbul 1-10 tahun setelah infeksi
awal, tetapi pada beberapa kasus bisa sampai 50 tahun baru
timbul, stadium ini bisa dilihat dengan tanda-tanda timbul benjolan
seperti tumor yang lunak. Pada stadium ini, banyak kerusakan
organ yang bisa terjadi, mulai dari kerusakan tulang, saraf, otak,
otot, mata, jantung, dan organ lainnya.

Sipilis kongenital
Pada bayi dan anak-anak akan menimbulkan:
O Kelainan bentuk wajah
O Kelainan tulang

O Kebutaan, ketulian
O Kelainan bentuk gigi yang khas
O Kelainan kulit
O Bayi yang dilahirkan meninggal

G. Perawatan Penderita SifiIis
Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya.
Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding
perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan
pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan
penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan
untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap
pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menyebabkan rasa sakit.
Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat mulut
(memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal
karena ada beberapa jenis sifilis kebal terhadap azithromycin dan
sekitar 10% kasus terjadi pada tahun 2004. Perawatan lain kurang
efektif karena pasien diharuskan memakan pil beberapa kali per hari.

H. Dampak
Awal terjangkitnya Sifilis meningkatkan kemungkinan
berulangnya infeksi karena jangka waktu yang panjang dan jumlah
pasangan yang mungkin lebih banyak. Berulangnya infeksi dapat
berakibat buruk pada kesehatan.
Penyakit radang panggul, biasanya akibat infeksi saluran
kelamin oleh klamidia dan gonore, dan ini lebih sering ditemukan pada
remaja perempuan yang aktif secara seksual dari pada perempuan
dari kelompok usia yang lebih tua. Penyakit ini bisa menyebabkan
kemandulan.
Virus kutil kelamin adalah virus yang tersebar di kalangan
remaja, menyebabkan kutil kelamin dan berakibat meningkatnya risiko

yang diasosiasikan dengan kanker. Sifilis meningkatkan kemungkinan


akibat kehamilan negatif baik pada ibu remaja dan bayinya. Sipilis
dapat ditularkan pada bayi yang baru lahir. Vaginosis Bakterial dan
trikomoniasis berhubungan dengan kelahiran prematur dan berat
badan bayi kurang. Masalah ini menjadi lebih buruk karena lebih
sedikit remaja dari pada wanita yang lebih dewasa mencari perawatan
sebelum melahirkan (prenatal) dan layanan kesehatan reproduksi
untuk pengobatan infeksi ini.
Kemungkinan nfeksi HV bertambah dengan jika seseorang
telah positif terinfeksi SFLS. Risiko remaja terkena HV meningkat
karena tingginya tingkat Sifilis. ADS bisa terkena di awal remaja,
biasanya terus berkembang dan akibatnya benar-benar parah ketika
masa remaja sudah berakhir.
Banyak remaja mengalami dampak psikologis yang serius
sebagai akibat terinfeksi Sifilis. Reaksi umumnya adalah rasa bersalah
dan rasa malu yang menghambat remaja mencari pengobatan tepat
waktu.
Kemandulan sebagai akibat Sifilis dapat menyebabkan pria
meninggalkan dan menceraikan pasangannya. Di masyarakat tertentu,
perempuan tanpa dukungan finansial bisa berakhir sebagai pekerja
seks komersial untuk bertahan hidup.

I. Pencegahan
1) Didik masyarakat tentang cara-cara umum menjaga kesehatan,
berikan petunjuk tentang kesehatan dan hubungan seks yang
sehat. Jelaskan manfaat tentang menunda aktivitas seksual
sampai pada usia matang secara seksual demikian juga jelaskan
pentingnya perkawinan monogami dan mengurangi jumlah
pasangan seksual. Pemeriksaan serologi sifilis sebaiknya
dilakukan untuk semua kasus SFLS dan sebagai prosedur rutin
pada perawatan antenatal. Sifilis kongenital dicegah dengan

melakukan pemeriksaan serologis pada kehamilan dini dan


diulang lagi pada kehamilan tua dan pada saat partus pada
populasi dengan prevalensi tinggi; berikan pengobatan kepada
mereka yang hasil pemeriksaan serologisnya positif.
2) Lindungi masyarakat dari infeksi sifilis dengan cara mencegah dan
mengendalikan SFLS pada para pekerja seks komersial (PSK)
dan pelanggan mereka melalui penyuluhan tentang bahayanya
memiliki banyak pasangan seksual dan hindari hubungan seksual
dengan orang yang tidak dikenal. Dari penyuluhan tentang
tindakan profilaksis untuk mencegah infeksi sebelum, pada waktu
dan sesudah pemajanan. Terutama sekali ajarkan tentang cara-
cara menggunakan kondom yang tepat dan konsisten.
3) Sediakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk diagnosa dini dan
pengobatan dini SFLS. Jelaskan tentang manfaat fasilitas ini
melalui penyuluhan kesehatan masyarakat dan jelaskan juga
tentang gejala-gejala SFLS dan cara-cara penyebarannya;
bentuk fasilitas pelayanan kesehatan ini hendaknya sesuai
dengan budaya setempat dan mudah diakses dan dapat diterima
oleh masyarakat, tanpa mempertimbangkan status sosial ekonomi
seseorang. Buatlah program penemuan kasus secara intensif
termasuk kegiatan melakukan anamnesis penderita, motifikasi
pasangan seksual mereka. Lakukan pemeriksaan serologis ulang
untuk sifilis diwilayah dimana prevalensi SFLS nya tinggi.
Lakukan pemeriksaan serologis lain untuk mengesampingkan
kemungkinan infeksi SFLS lainnya atau infeksi HV.

. PenangguIangan / Pengobatan
1) Laporan ke Dinas Kesehatan setempat: Kasus sifilis infeksius dini
dan sifilis kongenital wajib dilaporkan hampir di semua wilayah
negara bagian dan bervariasi di berbagai negera, dihampir semua
negara bagian laboratorium-laboratorium diwajibkan melapor jika

menemukan spesimen yang memberikan hasil serologis reaktif dan


pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap positif. Kerahasiaan
penderita harus dijaga.
2) solasi: untuk pasien-pasien rawat inap, tindakan kewaspadaan
universal untuk darah dan sekret harus dilakukan. Penderita harus
menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai
pengobatan lengkap dan semua lesi menghilang; untuk
menghindari reinfeksi, mereka harus menahan diri untuk tidak
melakukan hubungan seksual dengan pasangan-pasangan
sebelumnya sampai pasangan tersebut selesai di periksa dan
diobati.
3) Disinfeksi serentak: Tidak ada jika penderita mendapat pengobatan
yang cukup mamadai; hati-hati dan hindari kontak dengan
discharge yang keluar dari lesi terbuka dan dengan benda-benda
yang terkontaminasi.
4) nvestigasi kontak dan sumber infeksi: ciri dasar dari program
pemberantasan sifilis adalah anamnesis yang dilakukan terhadap
penderita untuk mengetahui pasangan seks mereka darimana
mereka tertulari dan untuk mencari orang yang tertulari oleh
penderita itu sendiri. Pewawancara yang terlatih akan memberikan
hasil yang lebih baik. Tingkat stadium penyakit yang diderita sangat
menentukan kriteria notifikasi dari pasangan seks mereka misalnya
: a) untuk sifilis primer, seluruh pasangan seks mereka selama 3
bulan sebelum timbul gejala harus dicari; b) untuk sifilis sekunder
yang dicari adalah seluruh kontak selama 6 bulan sebelum timbul
gejala klinis; c) sedangkan untuk sifilis laten fase awal kontak yang
ditelusuri adalah pasangan seks selama setahun dengan catatan
jika saat stadium primer dan stadium sekunder tidak diketahui; d)
untuk sifilis lanjut dan sifilis laten lanjut, seluruh pasangan sah dan
anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi harus dicari; e) untuk
sifilis kongenital, seluruh anggota terdekat penderita harus

ditelusuri. Sebagai tindak lanjut dari investigasi, seluruh pasangan


seksual dari penderita sifilis stadium awal selama 90 hari sebelum
diagnosa ditegakkan harus diberikan pengobatan. Penderita sifilis
dan pasangan seks mereka dianjurkan untuk mendapatkan
konseling dan pemeriksaan HV. Bayi yang lahir dari ibu sero positif
harus diberi pengobatan dengan penisilin jika ibunya tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat pada bulan terakhir
kehamilan.
5) Pengobatan spesifik: Obat spesifik adalah Long acting penisilin G
(benzathin penicillin), sebesar 2,4 juta unit diberikan segera
setelah penderita didiagnosa sebagai penderita sifilis primer,
sekunder atau sifilis laten awal; hal ini dilakukan untuk meyakinkan
bahwa telah dilakukan pengobatan yang efektif walaupunpenderita
tidak kembali lagi. Obat alternatif yang dapat diberikan untuk
penderita yang alergi terhadap penisilin adalah: doksisiklin PO, 100
mg dua kali sehari selama 14 hari atau tetrasiklin PO (per oral)
empat kali sehari selama 14 hari.
Pengobatan alternatif untuk pasien-pasien alergi pinisilin
tanpa kehamilan: doxycycline PO, 100 mg dua kali sehari untuk 14
hari atau tetrasiklin PO, 500 mg empat kali sehari untuk 14 hari
Pemeriksaan serologis perlu dilakukan untuk menilai hasil
pengobatan; pemeriksaan serologis dilakukan 3 bulan dan 6 bulan
setelah pengobatan dan diulang lagi beberapa saat setelah itu jika
diperlukan. Penderita sifilis yang juga menderita HV, pemeriksaan
serologis dilakukan berulang pada bulan 1, 2, 3 setelah pengobatan
dan setelah itu dilakukan lagi dengan interval 3 bulan. Jika terjadi
peningkatan titer sebesar 4 kali atau lebih, berikan pengobatan ulang.
Tiga bulan setelah pengobatan sifilis primer atau sifilis sekunder, tidak
terjadi penurunan titer antibodi dibawah 4 kali kenaikan, menandakan
bahwa pengobatan yang diberikan gagal. Dosis perlu ditingkatkan dan
diberikan dalam jangka waktu yang lebih panjang pada sifilis stadium

lanjut (yaitu benzathin penicilin G sebesar 7.2 juta unit keseluruhan


diberikan M dengan interval satu minggu). Perlu dipertimbangkan
untuk melakukan pemeriksaan liquor cerebrospinalis (LCS) bagi
penderita yang diduga mempunyai risiko terkena neurolues; dan bagi
mereka yang gagal pengobatan, bagi mereka yang terinfeksi HV dan
bagi mereka yang menunjukkan gejala neurologis.
Untuk neurolues, diberikan penisilin G kristal dalam larutan
aqua sebanyak 18 24 juta unit sehari, diberikan 3 4 juta unit setiap
4 jam intravena selama 10 14 hari. Sebagai terapi alternatif dapat
diberikan procaine penicillin sebesar 2 4 juta unit setiap hari M
ditambah dengan probenecid PO, 500mg, 4 kali sehari, dua duanya
diberikan selama 10 14 hari. Kebersihan pengobatan dievaluasi
dengan pemeriksaan serologis dan pemeriksaan LCS setiap 6 bulan
sampai hitung sel normal. Wanita hamil yang sensitif terhadap derivat
penisilin baik yang major maupun minor perlu dilakukan tes kulit (skin
test), jika antigennya ada. Untuk ibu hamil yang sensitif terhadap
penisilin dapat diberikan eritromisin dengan risiko tingkat
kegagalannya tinggi. Penderita yang alergi terhadap penisilin dapat
dilakukan desensitisasi, kemudian dapat diberikan penisilin dengan
dosis sesuai dengan stadium penyakitnya. Untuk sifilis kongenital
awal, penisilin G kristal yang dilarutkan dalam aqua diberikan
sebanyak 50.000 unit/kgbb/dosis, diberikan V atau M setiap 12 jam
sekali pada usia satu minggu dilanjutkan setiap 8 jam selama 10-14
hari kemudian. Untuk sifilis kongenital lanjut dimana hasil pemeriksaan
LCS normal dan tidak ada gejala-gejala neurologis, bayi dapat diobati
seperti pengobatan sifilis laten. Jika hasil pemeriksaan LCS tidak
normal maka dilakukan pengobatan seperti pada neurolues yaitu :
200.000 unit/kgbb/dosis penisilin G kristal yang dilarutkan dalam aqua
setiap 6 jam diberikan selama 10 14 hari.

BAB III
PENUTUP
A. KesimpuIan
Sifilis merupakan infeksi kronik menular yang disebabkan oleh
bakteri troponema pallidum, menginfeksi dan masuk ke tubuh
penderita kemudian merusaknya.Penderita sipilis dapat dideteksi dari
luka terbuka yang lebar di bibir dan mulutnya. Sipilis disebabkan oleh
infeksi bakteri Treponema pallidum dan disebarkan melalui kontak
seksual langsung (termasuk oral) dengan individu yang terinfeksi lesi
(luka) sipilis menular tersebut.
Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya.
Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding
perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan
pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan
penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan
untuk mengurangi rasa sakit).
B. Saran
O Bagi ibu hamil diharapkan untuk melakukan pemeriksaan
Antenatal minimal 4 x selama kehamilan agar dapat mendeteksi
dini komplikasi.
O Mengingat sebagian besar penularannya melalui hubungan
seksual, maka cara pencegahan yang paling efektif adalah:
1. Menjalankan perilaku seksual yang sehat, misalnya memilih
perilaku seksual yang kecil risikonya atau tidak melakukan
hubungan seksual sama sekali
2. Menghindari berhubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan atau setia pada pasangan Anda.
3. Memeriksakan segera bila ada gejala-gejala Sifilis yang
dicurigai.
4. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan
transfusi darah yang sudah terinfeksi.

DATAR PUSTAKA

Dr. Widoyono, MPH. 2008. Penyakit Tropis (Epidemiologi, Penularan,
Pencegahan dan Pemberantasannya). PT Gelora Aksara Pratama :
Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis

http://poenyaqoe.wordpress.com/2007/06/26/ciri-ciri-sifilis/

http://obatpropolisaja.blogspot.com/2010/07/sipilis-atau-raja-singa.html

http://pisangkipas.wordpress.com/2009/05/03/syphilis-sipilis/

http://www.speedytown.com/goodday/index.php/tanda-tanda-gejala-
penyakit-sipilis/

http://www.anneahira.com/penyakit-kulit-kelamin.html

http://batujajarrepublik.wordpress.com/2011/02/19/infeksi-sifilis-pada-pria-
dan-wanita-melalui-hubungan-seksual/

http://childrenhivaids.wordpress.com/2009/08/09/sifilis-penyakit-transmisi-
seksual/

http://healthandmedic.blogspot.com/2011/03/sejarah-sifilis.html

http://hendrannam.blogspot.com/2010/03/sifilis.html