Anda di halaman 1dari 4

KETAHANAN KOROSI BAJA ANTI KARAT PADA OPERASI SUHU TINGGI

Oleh Bernardus bandriyana, Nyoman udhi, Bagus jihad UBiNUS Jakarta httpisjd.pdii.lipi.go.idadminjurnal5204117126.pdf ABSTRAK Penelitian dilakukan dengan pengujian ketahanan oksidasi material baja AISI 316L dan 316Ti pada suhu tinggi dengan uji termogravimetri. Untuk mengamati struktur mikro setelah oksidasi serta pengaruhnya terhadap karakter lapisan oksida, dilakukan beberapa pengujian, yaitu pengujian metalografi dengan mikroskop optik, pengujian XRay Dlfiactometer (XRD), serta pengukuran kekerasan mikro. Hasil penelitian diharapkan menjadi data masukan untuk evaluasi dan analisis desain material suhu tinggi. Simpulan pengujian adalah bahwa material baja anti karat AISI 316L don 316Ti dapat digunakan untuk bahan komponen mekanik yang beroperasi di bawah 700C dengan laju korosi di bawah standar yang diizinkan Bernardus bandriyana, Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, UBiNus, Jakarta Nyoman udhi dan Bagus J, Sarjana Teknik, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, UBiNus, Jakarta PENDAHULUAN Perkembangan industri proses operasi suhu tinggi berkembang pesat dalam bidang pembangkit energi, otomotif, petrokimia, dan bidang nuklir. Perkembangan itu memerlukan dukungan dalam pemilihan bahan yang tahan terhadap kerusakan akibat proses oksidasi suhu tinggi. Material yang tahan terhadap oksidasi suhu tinggi diatas 500C adalah baja tahan karat austenitik tipe AlSI 316L (American Institute Standard idustries-316L) dan AlSI 316 Ti (Sedric, 1979). Pada temperatur tinggi, ketahanan korosi baja itu akan menurun, diantaranya karena proses oksidasi akibat interaksi dengan lingkungan dan terjadinya sensitisasi. Pengujian oksidasi perlu dilakukan untuk mengetahui laju oksidasi, jenis dan sifat lapisan oksida, dan pengaruhnya terhadap struktur mikro serta kekerasan bahan. Penelitian dilakukan dengan uji termogravimetri. Untuk mengamati struktur mikro setelah oksidasi serta pengaruhnya terhadap karakter lapisan oksida, dilakukan beberapa pengujian, yaitu pengujian metalografi dengan mikroskop optik, pengujian X-ray Difractometer (XRD), serta pengukuran kekerasan mikro. Proses Oksidasi Suhu Tinggi Proses oksidasi pada temperatur tinggi dimulai dengan adsorpsi oksigen yang kemudian membentuk oksida pada permukaan bahan. Selanjutnya, terjadi proses nukleasi oksida dan pertumbuhan lapisan untuk membentuk proteksi. Persyaratan lapisan proteksi adalah homogen, daya lekat tinggi, tidak ada kerusakan mikro ataupun makro, baik yang berupa retak atau terkelupas. Lapisan proteksi tergantung jenis

oksida dengan suatu karakteristik, dinyatakan dengan Pilling-Bedworth ratio (PB ratio) masa molekul oksida X masa logam dalam massa M oksida (Trethewey, 1991) yaitu: kerapatan molekul oksida X kerapatan molekul logam , Harga PB tergantung pada jenis material, oksida dengan PB >1 merupakan oksida dengan karakter pelindung oksidasi yang baik, Lapisan proteksi yang terbentuk dapat sangat tipis dan retak atau hilang sehingga tidak memberikan proteksi. Akibat retak mikro/makro, oksigen akan masuk melewati lapisan oksida dan mengoksidasi metal. Lapisan oksida yang tebal dan daya lekat tinggi akan melindungi metal dari oksidasi berikutnya. Laju oksidasi dalam logam pada temperature tinggi dipengaruhi oleh sifat dan karakter oksida dan pertumbuhan lapisan oksida yang terbentuk. Pada umumnya laju oksidasi bergantung pada 3 faktor penting yaitu difusi reaktan melalui lapisan oksida, laju pemasokan oksigen ke permukaan luar oksida, dan nisbah volume molar oksida terhadap logam. Oksida suhu tinggi pada baja karat Baja tahan karat merupakan logam paduan yang mengandung unsure Fe, C, Cr, Ni, dan beberapa unsure tambahan seperti Mo, Mn, Va, Ti. Masing-masing unsure berpengaruh dalam proses oksidasi suhu tinggi. Proses oksidasi menghasilkan oksida logam, dengan jenis, tipe dan karateristik yang bergantung pada kandungan unsure dan suhu lingkungan. Peningkatan laju oksidasi dapat terjadi jika lapisan tipis dari oksida berkurang . Dalam baja tahan karat kondisi itu dapat terjadi dengan adanya sensitisasi yaitu terbentuknya fase krom-karbida pada batas butir sehingga pembentukan krom oksida berkurang. Gangguan ini dapat diatasi dengan mengurangi unsure karbon atau menambah unsur titanium pada baja tahan karat. Secara garis besar laju pertumbuhan oksida dapat dibagi menjadi pertumbuhan parabolic, garis lurus dan logaritmik. Untuk oksida baja tahan karat pada suhu diatas 3000C, laju oksidasi mengikuti kaidah parabolic. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dengan menguji sampel dari material baja tahan karat AISI 316L dan 316Ti secara laboratorium. Dilakukan pengujian oksidasi, struktur mikro, kekerasan, dan identifikasi fase. Berdasarkan hasil pengujian dilakukan analisis untuk mengetahui karateristik oksida pada suhu tinggi beserta perubahan struktur mikro akibat oksidasi. Dalam penelitian ini dibuat sampel berupa plate dengan tebal 2 mm dari baja tahan karat standart. Uji oksidasi Dilakukan pengujian TGA (thermo gravimetric analisis) untuk mengukur laju okssidasi. Pengukuran didasarkan pada perubahan masa sampel sebagai fungsi temperature yang dinyatakan dalam kurva termal. Proses oksidasi dilakukan di P3IBBATAN dengan peralatan termogravimetri tipe RUBOTHERM dengan tekhnik magnetic suspension balance. Proses oksidasi dilakukan pada masing-masing sampel selama 5000 menit, suhu 7000C, dan aliran udara atsmosfir yang mengalir pada cawan terbuka. Ujji struktur mikro Dilakukan dengan mikroskop optic pada sampel sebelum dan sesudah oksidasi. Perbesaran pengujian 500 kali dan batas butir dengan dipoles dan dietsa. Juga dilakukan pengukuran tebal oksida dengan foto struktur mikro masing-masing. Uji kekerasan mikro

Dilakukan dengan Vickers hardness testing machine untuk mengamati perubahan sifat mekanik akibat oksidasi. Beban penjajakan 25 gram dengan waktu 15 detik, digunakan pada pegukuran kekerasan sampel sebelum dan setelah oksidasi. Dilakukan matrik-logam pada 5 titik pengukuran dengan posisi melintang. Identifikasi Identifikasi fase dilakukan dengan pengujian XRD untuk mengetahui fasse dan oksida yang terbentuk setelah oksidasi. Berdasar kurva dan data hasil XRD, dilakukan identifikasi fase yang memperhatikan factor jarak kisi dan besarnya intensitas. Identifikasi didekati dengan jarak kisis material tertentu yang ada pada JCPDS dari program PDF. Hasil yang diperoleh berupa space group, perkiraan fase dan parameter kisi. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan GSAS, dicocokan dengan thick mark dengan puncak yang ada. PEMBAHASAN Hasil pengujian termogravimetri Data yang diperoleh berupa data numeric dan grafik yang menunjukan harga pertambahan berat sampel sebagai fungsi waktu oksidasi yang disebut kurva termal. Kurva ini menyajikan harga berat bersih persatuan luas sebagai fungsi oksidasi. Pada pengujian yang dilakukan terjadi pertambahan berat denngan cepat dalam waktu tertentu, kemudian pertambahan mengecil sampai tidak terjadi lagi. Ini menunjukan terjadi proses oksidasi dengan proses difusi unsure yang diikuti dengan pembentukan lapisan oksida. Lapisan oksida yang terbentuk terdeteksi dengan adanya pertambahan beratnya. Penurunan laju oksidasi adalah akibat terhambat oleh lapisan oksida yang terbentuk. Berdasar kurva termal dapat diamati beberapa karateristik oksidasi baja tahan karat. Jenis bahan akan menentukan karateristik oksidasi pada material dengan menghasilkan laju oksidasi yang berbeda. Laju oksidasi baja AISI 316L pada 700 0C selama 5000 menit mencapai harga 0,00035 mg/cm 3 sedang untuk AISI 316Ti sebesar 0,00560 mg/cm3. Hasil uji struktur mikro Dari pengujian ini diperoleh data yang menunjukan terjadinya perubahan struktur yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, dan distribusi butir. Setelah oksidasi didapat bentuk butir yang tidak homogen dengan kondisi rapat dan sedikit bintik hitam sebagai presipital. Ini menunjukan adanya fase dan oksidasi baru selama oksidasi. Hasil Uji Kekerasan Mikro Pengujian kekerasan mikro dilakukan pada kondisi sebelum dan sesudah oksidasi. Pengujian dilakukan secara melintang pada 5 titik pengukuran dari kedua ujung ke arah dalam dengan beban penjejakan 25 gram selama 15 detik. Hasilnya baik untuk baja AISl 316L maupun 316Ti, mengalami penurunan yang disebabkan oleh pembesaran ukuran butir. Perubahan kekerasan itu terjadi akibat perubahan struktur mikro setelah oksidasi. Had Pengujian XRD

Hasil uji XRD disajikan dalam kurva intensitas sebagai fungsi sudut difraksi dengan spektrum dan puncak yang menunjukkan macam dan jumlah fase. Hasil uji untuk kedua sampel dapat dirangkum sebagai berikut. Oksida yang terbentuk tergantung jenis dan macam bahan khususnya macam unsur yang terkandung dalam bahan. Oksida besi yang merupakan lapis paling dalam yaitu FeO dan Fe04 teramati dalam uji XRD sedangkan oksida Fe2O sukar teramati karena merupakan oksida yang tidak stabil dan dalam suhu ruang cenderung membentuk FeO4. Oksida Cr2O3 sebagai pelindung oksidasi sudah terbentuk tetapi kemampuan proteksi lapisan oksida secara keseluruhan tergantung struktur dan sifat oksida. Fase Cr23C6 tidak teridentifikasi pada oksidasi 700C sehingga kemampuan dan kehandalan proteksi oksidasi dari bahan cukup baik. PENUTUP 1. Laju oksidasi ditentukan oleh karakter oksida yang terbentuk dan dipengaruhi oleh komposisi unsur dalam material dengan kecenderungan mengikuti kaidah parabolik. 2. Proses oksidasi pada suhu 700C menghasilkan oksida besi dalam fase FeO dan FeO4 serta oksida krom Cr2O3 sedangkan fase Cr23C6 tidak terdeteksi. Lapisan oksida yang terdiri dari besi dan krom oksida berfungsi dengan baik sebagai pelindung oksidasi. 3. Akibat oksidasi, terjadi perubahan struktur mikro dengan perubahan bentuk dan besar butir yang menyebabkan terjadinya penurunan kekerasan pada matriks logam. 4. Berdasarkan data dan evaluasi hasil pengujian, dapat dinyatakan bahwa baja AISI 316L dan 316Ti sesuai untuk digunakan sebagai material komponen yang beroperasi pada suhu di bawah 700C dengan laju korosi-oksidasi di bawah standar yang diizinkan DAFTAR PUSTAKA Birks, N. and G.H. Meier. 1983. Introduction to High Temperature Oxidation ofMetals. London: Edward Arnold. Jones, Denny A. 1992. Principle and Prevention of Corrossion. USA: Macmillan Publishing Company. Lawson, Herbert H. 1975. Stainless Steels and their Application. Process Industries Corrosion, NACE Publication, National Association of Corrosion Engineers. Texas: 2400 West Loop South Houston. Peckner, D. and 1.M. Bernstein. 1977. Hand Book of Stainless Steels. USA: McGrawHill. Sedricks, A.J. 1979. Corrosion ofStainless Steels. New York: John Willey and Sons Inc. Suryanarayana, C. and M. Grant Norton. 1998. X-Ray Dzffraction A Practical Approach. New York: Plenum Press. Trethewey, K.R. and J. Chamberlin. 1991. Korosi. Terj. Alex Tri Kantjono Widodo. Jakarta: PT Gramedia. INASEA, Vol. 5 No. 2, Oktober 2004: 1 17-1 26