Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 2

Topik Kelompok Tgl. Praktikum Pembimbing

: Amalgam : II-7 : 11 Oktober 2011 : Asti Meizarini, drg., MS

Penyusun :

1. 2. 3. 4.

ILFI KARICHMA Y ANNETE NABILA RAMADHANI PUTRI S AGRIPPINE PUTRICIA A

021011112 021011113 021011115 021011116

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011

DAFTAR ISI

COVER ........................................................................................................ DAFTAR ISI.................................................................................................. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1.2 Tujuan........................................................................................... BAB 2 METODE PERCOBAAN 2.1 Bahan ............................................................................................ 2.2 Alat ................................................................................................ 2.3 Cara Kerja 2.3.1 Triturasi Secara Manual ..................................................... 2.3.2 Triturasi Secara Mekanik.................................................... BAB 3 HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Praktikum ............................................................................ 3.2 Pembahasan BAB 4 KESIMPULAN ................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

1 2

3 3

4 4

5 6

8 8 17 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Amalgam terdiri dari campuran antara dua logam atau lebih , yang salah satunya merupakan merkuri. Sebenarnya amalgam terdiri dari merkuri yang dipadukan dengan bubuk alloy dari perak dan timah. Merkuri berupa liquid pada suhu ruang dan mampu membentuk sebuah massa yang efektif digunakan bila tercampur dengan alloy. Sifat inilah yang membuat amalgam menjadi material yang sesuai digunakan dalam bidang kedokteran gigi. Reaksi antara merkuri dan alloy yang merupakan reaksi pencampuran keduanya disebut dengan reaksi amalgamasi. Reaksi ini menghasilkan bentuk material restorasi yang keras dengan tampilan berwarna perak keabu-abuan. Warna amalgam seperti ini menjadikannya terbatas dalam pengaplikasian karena memang material ini bukan untuk faktor estetik. Amalgam telah digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama dengan ukuran kesuksesan yang cukup besar karena penggunaanya telah digunakan secara meluas. Namun, karena alasan tingkat keamanan yang relatif rendah, kepopuleran amalgam menjadi turun bila dibandingkan dengan material restorasi lainnya. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.181)

1.2 Tujuan a. Mahasiswa mampu melakukan manipulasi bahan restorasi amalgam dengan benar menggunakan perbandingan antara bubuk amalgam dengan merkuri tepat b. Mahasiswa mampu membedakan antara hasil triturasi bahan restorasi amalgam secara manual dengan mekanik c. Mahasiswa mampu melakukan aplikasi bahan restorasi amalgam dalam kavitas (cetakan model) dengan tepat

BAB II METODE PERCOBAAN

2.1 Bahan a. Bubuk amalgam b. Cairan merkuri

Gb 2.1 cairan merkuri

2.2 Alat a. Mortar dan pestle amlgam b. Kondenser amalgam c. Kain kasa d. Pistol amalgam e. Cetakan model f. Dispeser bubuk amalgam g. Dispenser cairan merkuri h. Stopwatch i. Sonde j. Spatula semen k. Brander l. Burnisher m. Pinset n. Pisau model

2.3 Cara Kerja 2.3.1 Triturasi Secara Manual a. Bubuk amalgam dikeluarkan dari dispenser sebanyak satu kali tekanan (arah tegak lurus), kemudian dimasukkan dalam mortar. b. Cairan merkuri dikeluarkan dari dispenser sebanyak satu kali tekanan (arah tegak lurus) dimasukkan dalam mortar yang telah berisi bubuk amalgam. c. Bubuk amalgam dan cairan diaduk dengan cara menekan pestle pada dinding mortar (pen-type grip) dengan gerakan memutar sampai homogen selama 40 detik. Pada saat mulai pengadukan waktu dicatat. d. Adonan yang telah diaduk dimasukkan ke dalam kain kasa, kelebihan merkuri dikeluarkan dengan cara memeras dalam kain kasa. Kain kasa
5

dijepit kuat dengan pinset kemudian kain kasa diputar dan digerakkan ke atas, maka sisa merkuri akan keluar dari kasa. Pekerjaan ini dilakukan beberapa kali sampai tidak ada sisa merkuri yang keluar dari kasa. e. Adonan dari kain kasa diambil dengan amalgam pistol dimasukkan dalam cetakan model. Penempatan adonan amalgam dalam cetakan model sedikit demi sedikit sambil dilakukan kondensasi menggunakan kondenser sampai adonan padat. Pekerjaan ini dilakukan berulang-ulang sampai cetakan model penuh, kemudian dihaluskan dengan burnisher. Kekerasan permukaan diamati dengan menggurat permukaan amalgam menggunakan sonde. f. Amalgam ditunggu samapi mengeras. Waktu yang diperlukan samapi amalgam mengeras dicatat.

2.3.2 Triturasi Secara Mekanik a. Sambungkan listrik amalgamator ke sumber listrik. b. Bubuk amalgam dan merkuri ditimbang 1:1, dimasukkan ke kapsul. c. Kapsul diletakkan di tempat pengaduk pada amalgamator dengan tepat. d. Tentukan waktu pengadukan 10 detik dan 20 detik. Tentukan kecepatan pengadukan dengan menekan tombol High. Kemudian tekan tombol ON dinyalakan. e. Triturasi sesuai waktu yang ditentukan, selanjutnya kapsul dikeluarkan dari amalgamator. Kapsul dibuka dan amalgam diletakkan di atas kain kasa, kemudian diperas. f. Adonan pada akin kasa diambil dengan amalgam pistol, dimasukkan ke cetakan model. Penempatan adonan amalgam dalam cetakan model, sedikit demi sedikit sambil dilakukan kondensasi menggunakan kondenser sampai adonan padat. Pekerjaan ini dilakukan berulang-ulang sampai cetakan model penuh, kemudian dihaluskan dengan burnisher. g. Kekerasan permukaan diamati dengan menggurat permukaan amalgam menggunakan sonde. Polishing dilakukan minimal 24 jam setelah amalgam mengeras.

TUGAS 1. Mahasiswa diharuskan melakukan triturasi amalgam secara manual dan catat waktu yang dibutuhkaan selama triturasi. 2. Mahasiswa diharuskan melakukan triturasi amalgam secara mekanik selama 10 detik dan 20 detik dengan kecepatan pengadukan HIGH. 3. Mahasiswa diharuskan melakukan analisa dari hasil kedua macam triturasi tersebut.

BAB III HASIL PRAKTIKUM dan PEMBAHASAN

3.1 Hasil Praktikum Percobaan pertama, yaitu melakukan triturasi manual menggunakan bubuk amalgam 0,43 gr dan cairan merkuri 0,43 gr yang diaduk selama 40 detik hingga homogen. Pada percobaan triturasi manual pertama didapatkan hasil berupa waktu untuk mencapai kekerasan amalgam (setting time amalgam) 24 menit. Percobaan kedua, masih sama dengan percobaan pertama, namun menggunakan bubuk amalgam 0,50 gr dan cairan merkuri 0,50 gr dengan triturasi manual dan diaduk selama 40 detik didapatkan hasil setting time amalgam 22 menit. Percobaan ketiga, yaitu melakukan triturasi secara mekanik menggunakan bubuk amalgam 0,50 gr dan cairan merkuri 0,50 gr dengan bantuan amalgamator selama 8 detik. Pada percobaan ini didapatkan hasil berupa waktu untuk mencapai kekerasan amalgam (setting time amalgam) 13 menit.

3.2 Pembahasan a. Komposisi Amalgam Merkuri yang terkandung dalam amalgam dimurnikan melalui proses distilasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses eliminasi sisa-sisa material yang tak murni yang dapat mempengaruhi karakteristik setting dan sifat-sifat fisik dari amalgam yang telah setting. Komposisi bubuk alloy diatur sesuai dengan Standar ISO untuk amalgam alloy. Komponen utama dari alloy adalah perak, timah, dan tembaga. Beberapa komponen lain dengan jumlah sedikit yang terkandung dalam alloy antara lain besi, indium, atau palladium. Secara spesifik, kadar perak dan rimah lebih berpengaruh terhadap campuran intermetallic-nya, yaitu Ag3Sn. Campuran ini dikenal dengan system (gamma) perak dan timah yang terbentuk dalam skala komposisi kecil dan secara khusus menguntungkan proses reaksi amalgamasi dengn

merkuri. Sebagian besar alloy umumnya mengandung 5% alloy , yang memiliki dampak untuk memperkuat amalgam. Peran besi adalah sebagai pembersih selama proses produksi alloy. Besi bereaksi cepat, terlebih bila tersedia oksigen, yang kemudian akan membentuk zinc oxide. Terdapat juga alloy yang tidak mengandung besi. Alloy semacam ini disebut dengan zincfree alloy. Bentuk dan ukuran partikel-partikel bubuk alloy bervariasi dari satu produk ke produk lainnya. Ada dua metode yang secara umum digunakan untuk membuat partikel bubuk alloy. Pertama, bahan pengisi alloy yang didapat dari proses homogenisasi alloy, yaitu lathe-cut alloy powders yang memiliki bentuk tak beraturan. Kedua, partikel-partikel yang dihasilkan dari proses atomisasi, dimana alloy yang telah melebur disemburkan dalam sebuah kolom berisi gas inert. Partikel semacam ini disebut dengan spherical. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.181-182)

b.

Reaksi Setting Reaksi yang terjadi ketika bubuk alloy dan merkuri tercampur adalah reaksi yang kompleks. Merkuri berdifusi kedalam partikel-partikel alloy, dimana partikel-partikel yang sangat kecil dapat larut secara menyeluruh dalam merkuri. Reaksi ini menghasilkan kristal yang membentuk fase baru dalam amalgam yang telah setting. Skema reaksi yang terjadi dalam amalgam alloy konvensional yaitu:
Ag3Sn + Hg Ag2Hg3 + SnxHg + Ag3Sn + 2 +

atau

+ Hg 1

Produk primer reaksi ini adalah 1 (fase perak-merkuri) dan 2 (fase timahmerkuri). Nilai x dalam formula SnxHg bervariasi, mulai dari 7 hingga 8. Sedangkan untuk alloy yang diperkaya dengan tembaga, reaksi yang terjadi adalah :
Ag3Sn + Cu + Hg Ag2Hg3 + Cu6Sn5 + Ag3Sn

atau

+ Cu + Hg 1

+ Cu6Sn5 +

(Mc Cabe and Walls, 2008, p.183) c. Karakteristik


9

1. Perubahan Dimensi Definisi perubahan dimensi adalah adanya kontraksi atau ekspansi amalgam selama proses manipulasi. Nilai perubahan dimensi menjadi positif (+) apabila terjadi ekspansi dan menjadi (-) apabila terjadi kontraksi selama proses manipulasi. Menurut ADA / ANSI, amalgam tidak mengalami kontraksi atau ekspansilebih dari 20m/cm antara 5 menit dan 24 jam setelah awal triturasi. Jika amalgam yang baru dimanipulasi segera diaplikasikan pada kavitas restorasi, normalnya tidak akan terjadi ekspansi maupun kontraksi dari amalgam. Ekspansi secara sensitif dapat terjadi setelah aplikasi amalgam atau protrusi dari kavitas ketika kontraksi menyebabkan adanya celah antara gigi dengan restorasi amalgam. (Powers and Wataha, 2008, p.104-105) 2. Kekuatan Amalgam harus cukup kuat untuk menahan beban yang ditumpukan pada restorasi amalgam dalam rongga mulut. Ketidakmampuan dalam menahan beban dapat menimbulkan fraktur besar atau fraktur marginal pada tepi amalgam. Ada dua jenis kekuatan amalgam, yaitu tensile strength dan compressive strength. Tensile strength amalgam kira-kira 12,5% dari compressive strength-nya pada hari pertama. Umumnya, pembentukan high copper spherical amalgam adalah yang tercepat. Manipulasi amalgam dapat mempengaruhi kekuatan amalgam. Kondensasi yang tidak memadai dapat menurunkan kekuatan amalgam. Pengadukan amalgam yang terlalu lama atau terlalu sebentar juga dapat menurunkan kekuatan amalgam karena mengubah rasio dari yang tidak bereaksi membentuk 1 dan . Untuk memperoleh kekuatan maksimal, dianjurkan mengikuti petunjuk pabrik pada proses manipulasinya. (Powers and Wataha, 2008, p.104) 3. Deformasi Plastis (creep) Pada restorasi amalgam, pemberian beban selama proses pengunyahan yang kontinyu dapat menyebabkan terjadinya creep. Secara klinis, creep berhubungan dengan kerusakan marginal restorasi amalgam, yang menyebabkan kerusakan restorasi. Restorasi high copper memiliki nilai

10

creep yang lebih rendah daripada low copper. Artinya, pada restorasi low copper lebih sering terjadi kerusakan marginal daripada restorasi high copper. Oleh karena itu, saat ini restorasi amalgam yang lebih sering digunakan adalah high copper. (Powers and Wataha, 2008, p.105-106) 4. Korosi dan tarnish Korosi berbeda dengan tarnish. Amalgam dapat mengalami tarnish karena pembentukan lapisan sulfide pada permukaannya. Tarnish melibatkan hilangnya kilau dari permukaan logam atau alloy karena pembentukan surface coating. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.187). Tarnish dapat menurunkan nilai estetika dari restorasi amalgam, namun tidak menyebabkan kegagalan restorasi. (Powers and Wataha, 2008, p.106). Sedangkan korosi adalah masalah serius yang mengakibatkan perubahan karakteristik struktur dan mekanik. Korosi dapat dipercepat ketika restorasi amalgam kontak dengan restorasi emas. Perbedaan potensial yang sangat jauh antara keduanya ini meghasilkan korosi yang sangat nampak. Korosi menghasilkan tampilan restorasi yang tidak menarik dan secara signifikan mempengaruhi karakteristik mekanik, seperti terjadinya creep. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.187). Korosi menyebabkan kegagalan restorasi amalgam. Tarnish dan korosi lebih sering terjadi pada restorasi amalgam dengan permukaan kasar. (Powers and Wataha, 2008, p.106-107). 5. Thermal Properties Amalgam memiliki nilai thermal diffusivity tinggi, yang merupakan faktor yang selalu diutamakan sebagai material restorasi dari logam. Dalam membuat restorasi amalgam, sebuah insulating material, dentin, diganti dengan sebuah konduktor termal yang baik. Untuk kavitas besar, dibutuhkan proses lining pada basis kavitas dengan sebuah insulating, yaitu material cavity lining yang lebih dahulu dapat mengkondensasi amalgam. Hal inilah yang dapat mengurangi dampak yang cukup berbahaya terhadap stimulus termal pada pulpa. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.188). 6. Biological Properties

11

Ada bermacam-macam persepsi dalam hal toksisitas merkuri dalam pengunaannya di bidang kedokteran gigi. Merkuri dalam amalgam dapat terkondensasi dalam plasenta kemudian ke fetus, yang berpotensi menyebabkan aborsi spontan maupun keabnormalan bayi yang baru lahir. Selain itu, amalgam juga berpotensi menimbulkan reaksi alergi, yang manifestasinya dapat berupa dermatitis atau reaksi lichenoid. Uap merkuri dapat mengisi atmosfer selama proses triturasi, kondensasi, atau selama proses pembersihan restorasi amalgam. Tekanan uap merkuri meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Merkuri sebaiknya disimpan baik dari jangkauan sumber panas. Spillages merkuri yang dekat dengan sumber panas seperti radiator atau oven , dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi merkuri di atmosfer. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.188-189).

d.

Manipulasi Variabel-variabel yang ada di bawah kendali dokter gigi dan yang dapat mempengaruhi kualitas akhir dari restorasi antara lain: 1. Komposisi dari logam campur dan merkuri serta dispensing Dalam hal ini biasanya digunakan dispenser atau kapsul amalgam. Keuntungan dari penggunaan kapsul adalah dokter gigi tidak perlu khawatir jika rasio merkuri yang tercampur tinggi dan mengurangi resiko tumpahnya merkuri selama penanganan dan penempatan amalgam. Sayangnya, harga kapsul jauh lebih mahal daripada bubuk logam campuran. Di sisi lain, dengan pemakaian dispenser kita dapat menambahkan merkuri dengan rasio sesuai yang kita inginkan, ini dapat memberi keuntungan bagi dokter gigi yang ingin memulai dengan campuran yang sedikit basah. (Van Noort, 2007, p.89) 2. Triturasi Triturasi adalah salah satu dari variabel yang sangat penting. Namun, sebelum melakukan triturasi,baik triturasi manual maupun mekanik, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah menakar bubuk amalgam dan cairan merkuri. Perbandingan takaran cairan merkuri dan bubuk amalgam

12

yang dipakai adalah 1:1. Cairan merkuri ditimbang sesuai takaran yang telah ditentukan , yaitu maksimal 0,50 gr, baru kemudian bubuk amalgam ditakar, juga maksimal 0,50 gr. Hal ini dilakukan karena pengukuran merkuri lebih susah bila dibandingkan dengan pengukuran takaran bubuk amalgam. Waktu triturasi yang dibutuhkan tergantung dari jenis logam campuran yang digunakan, serta teknik pencampuran dan kelarutannya. Logam jenis spherical alloy cenderung membutuhkan waktu triturasi yang pendek. Ini dikarenakan partikelnya lebih mudah terbasahi daripada lathe-cut alloy. Waktu triturasi yang tepat tergantung pada teknik pencampuran pada sistem yang berjalan dengan kecepatan 4000 rpm dan pergerakan sekitar 50 mm, waktu amalgamasi dapat berlangsung sekitar 5 detik. Untuk sistem yang lebih lambat, dengan kecepatan 2600 rpm waktu triturasi bisa mejadi 20 detik atau lebih. Jika ditemukan bahwa amalgam setting terlalu cepat, maka waktu triturasi harus ditingkatkan dan bukan diturunkan sepperti yang kebanyakan dilakukan, triturasi tambahan akan menyediakan lebih banyak campuran yang plastis dengan waktu kerja yang lebih lama. (Van Noort, 2007, p.89-90) Triturasi dapat dilakukan dengan tangan atau juga dapat menggunakan mesin elektrik yang dapat menggetarkan kapsul berisi merkuri dan alloy (amalgamator). Untuk triturasi manual menggunakan tangan, alat yang umum digunakan adalah mortar dari kaca dan pestle berupa pengaduk dengan permukaan kasar. Rasio alloy dan merkuri yang rendah sangat dianjurkan untuk menghasilkan hasil campuran yang efektif dan harus diperhatikan bahwa tekanan yang diberikan tidak boleh terlalu besar untuk menghindari terbentuknya pecahan partikel alloy yang dapat mengubah sifat dari hasil pencampuran. Beberapa produk disarankan setidaknya selama 40 detik dilakukan triturasi untuk mencapai partikel alloy basah secara menyeluruh. Triturasi menggunakan tangan tidak dipakai secara umum di negara-negara berkembang. Triturasi csecara mekanik jauh lebih umum digunakan disini.

13

Pada teknik triturasi secara mekanik, merkuri dan alloy dimasukkan dalam sebuah kapsul yang akan digetarkan pada mesin yang disebut amalgamator. Waktu triturasi yang normal adalah sekitar 5-20 detik, tergantung kecepatan yang dimiliki amalgamator. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.191-192). Dalam percobaan triturasi manual, cairan merkuri dituang pada bubuk amalgam yang ada di mortar, kemudian diaduk dengan cara menekan pestle pada dinding mortar hingga homogen selama 40 detik. Posisi pestle yang dipakai untuk mengaduk, bagian permukaanya yang tidak rata berada di bawah (berhadapan langsung dengan mortar). Dalam percobaan triturasi mekanik, kapsul berisi bubuk amalgam dan cairan merkuri yang telah ditakar diletakkan pada tempat pengaduk pada amalgamator. Amalgamator dapat diatur lama triturasi dan kecepatannya sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam percobaan yang kami lakukan, amalgamator yang dipakai termasuk mesin yang berkapasitas kecepatan rendah,yakni hanya 75x/detik. Jadi, waktu yang dibutuhkan untuk triturasi relatif lebih panjang dibandingkan dengan amalgamator yang dipakai oleh kelompok lain yang memiliki kapasitas kecepatan yang lebih tinggi. Waktu yang diperlukan dalam triturasi mekanik sesuai percobaan adalah 8 detik. Keuntungan triturasi secara mekanik antara lain; didapatkan hasil pencampuran yang seragam (homogen), waktu untuk proses triturasi lebih pendek daripada triturasi secara manual, dan rasio alloy dan merkuri yang lebih besar dapat digunakan dalam teknik triturasi mekanik. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.192). Selain itu, triturasi secara mekanik dapat mengurangi adanya kontaminasi antara merkuri dengan pekerja. 3. Kondensasi Setelah triturasi, hal yang dilakukan selanjutnya adalah menggunakan pistol amalgam untuk mengambil adonan amalgam dan menempatkannya kedalam cetakan model sambil melakukan kondensasi menggunakan kondenser (maksimal selama 4 menit) hingga adonan padat. Kondenser yang dipakai harusnya tidak boleh terlalu kecil sehingga menyebabkan

14

adonan tumpah, juga tidak boleh terlalu lebar sehingga tidak dapat masuk kedalam cetakan model. Pada teknik kondensasi hal terpenting adalah banyaknya merkuri yang bisa dihilangkan, sehingga hasil restorasi akhir tidak akan porus dan adaptasi marginal yang optimum dapat dicapai sehingga mencegah sensitivitas setelah pengerjaan. Komponen penting dari kondensasi adalah penggunaan kekuatan yang maksimum, penggunaan kondenser dengan ukuran yang tepat pada ukuran kavitas yang digunakan. (Van Noort, 2007, p.90) Pekerjaan ini dilakukan berulang hingga cetakan model penuh, kemudian dihaluskan dengan burnisher. Proses burnishing ini selain bertujuan untuk menghaluskan , juga agar mengkilapkan permukaan. 4. Carving dan polishing Kemampuan untuk mengukir amalgam tergantung dari jenis dan ukuran partikel logam campuran yang digunakan. Umumnya, logam jenis spherical alloys menghasilkan permukaan akhir yang lebih baik daripada logam jenis lathe-cut alloys. Kebutuhan untuk memoles amalgam pada kunjungan kedua pada pasien masih menjadi perdebatan. Beberapa setuju bahwa memoles dibutuhkan untuk meningkatkan estetik dan bukan tujuan lain, sementara lainnya lebih menitik beratkan pada tingginya tingkat residual merkuri pada permukaan dan merasa bahwa hal ini harus dihilangkan. Setelah permukaan amalgam diukir biasanya menjadi kasar dan beberapa bentuk finishing dibutuhkan. Pilihannya adalah dengan memanggil kembali pasien untuk memoles restorasi atau dengan cara burnishing pada restorasi pada saat pertama kali diaplikasikan. (Van Noort, Richard, 2007, p.90-91) Carving dilakukan untuk tujuan membentuk oklusi dan membuang kelebihan merkuri yang naik ke permukaan. Polishing dapat dilakukan minimal 24 jam setelah amalgam mengeras. Oleh karenanya, dalam praktikum ini, tahap manipulasi yang dapat dilakukan adalah menakar bubuk amalgam dan cairan merkuri, melakukan triturasi, dan burnishing. Selain karena waktu yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya

15

polishing, pertimbangan cavity (cetakan model) yang terlalu kecil tidak memungkinkan untuk dilakukan tahapan carving dan polishing.

16

BAB IV KESIMPULAN

Manipulasi amalgam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu triturasi secara mekanik dan triturasi secara manual. Triturasi dilakukan agar reaksi antara merkuri dan logam campur dapat terjadi secara tepat. Sifat homogen yang dihasilkan berbeda antara triturasi secara manual dan mekanik. Triturasi mekanik menghasilkan detail yang lebih homogen atau seragam daripada triturasi manual. Setting time amalgam dari triturasi secara manual lebih lama bila dibandingkan dengan setting time triturasi secara mekanik. Setiap tahapan dalam manipulasinya harus dilakukan dengan tepat agar menghasilkan karakteristik restorasi sesuai dengan yang diharapkan.

17

DAFTAR PUSTAKA 1. Mac Cabe J.F. and Walls A.W.G. Applied Dental Materials. 9th ed. Oxford. Blackwell Publishing Ltd. 2008 2. Powers J.M and Wataha J.C. Dental Materials. 9th ed. St Louis. Mosby Elsevier. 2008 3. Van Noort R. Introduction to Dental Materials. 3th ed. London, New York, Mosby. Elsevier Limited. 2007

18