Anda di halaman 1dari 51

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) .dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan. Kata selamat bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :


Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan


yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak


pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau


penumpang

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang


Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,


maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati. siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka


perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim. jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya


pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut consigner tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut shipper (A.K.Muhammad)

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain, memuat janji yang seperti itu. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu, tidak boleh menariknya kembali, apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa, sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu, maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa, setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut, bukan pada pihak yang dirugikan. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. c. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak.

2. Tanggung jawab pengirim


Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang, tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. Bagaimanapun juga, sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya, yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan, maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan

a.

Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability)

Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. Pihak b. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah, maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian, telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion

prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar, terlambat sampainya ditempat tujuan, atau sama sekali tidak, tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. b. Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. c. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91, 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan, pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan, jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. Pasal 1245 KUH Per menentukan, tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya, apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD), hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya.

B.

Pengusaha Transport

Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya, tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD), orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD), orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. C. Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal, Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati, dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Menurut Purwosutjipto, makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian, sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal, paling banter dia dapat menjadi saksi. D. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah

kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal, menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. E. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya, jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng, miring, dll. F. 7 Per-Veem-an

menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. Diatur dalam KUHD Buku I, Bab V, Bagian Pasal 85 90. Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. 2 Tahun 1969, Per-veeman, adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing), yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang, lapangan-lapangan, dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan, yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan, pengepakan, pengepakan kembali, sortasi, penyimpanan, pengukuran, penandaan, dll. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. lebih lama dalam perjalanan, mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati, lazim disebut "deviation". d. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga, misalnya bajak laut, penyamun, pencuri, pencoleng, perampok, pemberontakan, perampasan, penawanan, pemogokan, kerusuhan, dll. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus, kutu, binatang penggerek dan hama lainnya.

e.

Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri, antara

lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (unseaworthy packing"), ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai, gdombang, angin, kabut, kapal kandas, pulau karang, gunung es, kilat, tabrakan kapal. 2. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. 3. Sifat-sifat dari muatan sendiri. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. Misalnya buah, sayur dan pada binatang, serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya, baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri, segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut, selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang

a.

Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau, membuang ke

laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison".

b.

Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal

maupun muatan, sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal, sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". c. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa, yang dapat merugikan dan merusak muatan, misalnya karena menjadi

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya, segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut, baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan, baik menutupnya, maupun melaksanakan, kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain, yang ahli dibidang yang bersangkutan. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal, untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur, sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan, misalnya, ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur, makelar kapal dan agen duane atau convooiloper, sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD, Buku I, Bab V, Bagian II, pasal 86 sampai dengan 90. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang, yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal, barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). Di sini jelas, bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II, PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi, sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD, mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi

1. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal, barang
dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. 2. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"), yang meliputi kapal saja atau barang saja. Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus, yaitu :

1. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan


menyelamatkan kapal dan barang. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja.

khusus: kerugian

2. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama, sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. 3. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama, sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. Di antara para perantara pengangkutan, hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas, bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap, yaitu ekspeditur insidentil. Sifat hukum perjanjian ekspedisi pemberian kuasa" ini jelas ada, bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim, tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim, maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). Kemungkinan juga ada, bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur, maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving). Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming), bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER).

SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim, di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim, sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap, yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada, karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap, hanya kadang kala saja, yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk , mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi, yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd), dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji, tetapi provisi. 10

TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur, sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD, pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). Jadi, menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim, dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut, biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri, walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain, terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya, kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan."

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner, yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka, maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut, begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. Kecuali register harian tersebut di atas, dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut.

f.

Hak retensi. Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian

ekspedisi tersebut di atas, maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. Sebagai yang telah diketahui, pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER), begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD), penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER), penyelenggara urusan (menurut arrest H.R. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR

a.

Sebagai pemegang kuasa. Ekspeditur melakukan perbuatan

hukum atas nama pengirim. Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER).

b.

Sebagai komisioner. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya

sendiri, maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. KUHD).

c.

Sebagai

penyimpan

barang.

Sebelum

ekspeditur

Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. b. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim; barang-barang tersebut. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas, juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya:

mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat, maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving), pasal 1694 dsl. KUHPER.

d.

Sebagai

penyelenggara

urusan

(zaakwaarnemer).

Untuk

melaksanakan amanat pengirim, ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut, misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan, bea cukai dan lain-lain. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. KUHPER.

c.
d. e.

pengambilan barang-barang dari gudang pengirim; bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur; pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan)

tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya.

e.

Register dan surat muatan. Sebagai pengusaha, seorang

ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c, d, dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff, Polak dan Dorhout Mees, pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap, artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. Misalnya, pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut, tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. Tetapi dalam praktek, banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut, tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap, maka sebagai juga pengangkut, ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara, di sini undang-undang tidak memberi pembatasan, kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD, tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. Tetapi menurut pasal 88 KUHD, kerugian-kerugian sesudah saat tersebut, bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur, maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. Kecuali itu, ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur), yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap, dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil, yang diatur dalam pasal 85-a KUHD, maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap, yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan, atau dia menolak untuk menerimanya, karena ada kerusakan atau kekurangan, maka. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja, tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi, sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. Dia harus membayar uang angkutan, bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya, bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya;

b.

kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan

seorang tertentu, sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. Dan selanjutnya. Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat, sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. Dalam hal inikesulitan hanya ada, bila penerima tidak menggunakan haknya. Pada pengangkutan dengan konosemen, kesulitan itu tidak akan terjadi, sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima, yang pada umumnya bukan si pengirim. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu, sedangkan si pengirim adalah sl penjual. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima, maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan, maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium, (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur, dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri, tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu, maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim, maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer), bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula, tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Jadi, pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri, maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim, sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim, maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya, jadi, dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan, tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum, pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. Kesulitan persoalan ini ditambah pula, bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar, apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. Untung juga, ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967, di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu, maka disitulah letak kepentingannya. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya, tetapi tidak, atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. Mengenai pengusaha jenis ini, Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan," sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut." Kecuali itu, kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta, cetakan tahun 1976, halaman 1089). Dengan istilah "pengusaha transpor" itu, Purwosutjipto memperkirakan, orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi, misalnya: pasal 93, 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor. Selanjutnya, H.R. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921, menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu, tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan, sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s.d. 1616 KUHPER. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan, karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. Pemberian jasa itu diberikan, bila ada yang membutuhkan. Jadi, sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. Kecuali sifat pelayanan berkala, perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain, yaitu: Pemberian kuasa. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT, EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD, maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya, tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Dari itu, perbedaan antara ekspeditur, pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan, yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap, yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Menurut Dorhout Mees, perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala.

a.

Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut

dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim, sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan. b. 1. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri;

2.

pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan, baik yang

dapat diangkut melalui trayeknya sendiri, maupun di luarnya.. Sudah tentu,pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri, maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer), yang terjadi dari pengangkutan pertama, terletak dalam trayeknya, sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. Persoalan timbul, apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur, ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus, kita menghadapi seorang pengusaha transpor, tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama, ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua, yang dilakukan oleh pengangkut lain, ditambah lagi dengan uang provisi, maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer), di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri, sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain, maka di sini timbul persoalan, apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut, dalam hal isi itu tidak ada, maka terletak dalam maksud mereka. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto, sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap, yaitu : a. pelayanan berkala, sebab perbuatan itu baru dilakukan, bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. Jadi, perbuatan itu kadang kala saja, yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER); b. KUHPER); pemegang kuasa, sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa, baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. Persoalan lain timbul, apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja, sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b, PP No 2 Tahun 1969, LN 1969-2). MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal.Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati, di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian, sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal, paling banter dia dapat menjadi saksi.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

c.

makelar, sebab dia bertindak sebagai makelar. Dengan ini

lain. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya, jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. Jadi, pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri, yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri, tidak termasuk perusahaan kapal, tetapi kalau sudah ada dalam kapal, maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). Jadi, perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya, menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya, bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal, maka mereka kembali ke induk perusahaannya. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur, pengusaha transpor, makelar, kapal, agen duane, dan pengatur muatan. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu, misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut, per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut, yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2), tentang

berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. KUHD). AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan, yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in- dan uitklaring", menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain, sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. b. pelayanan berkala, sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa, sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap, hanya kadang kala saja, bila dibutuhkan; pemberi kuasa. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya, tergantung siapa yang memberi amanat, apakah pengusaha kapal, pemilik barang, pencarter atau lain-lainnya.

PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup, ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar, ada yang mudah pecah dan lain-

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut". Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan, yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970, No 122/Kp/VI/70, tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing), yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang, lapangan-lapangan, di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan, yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan, pengepakan, pengepakan kembali, sortasi, penyimpanan, pengukuran, penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas, tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men.jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. 1969, tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969;

b.

perusahaan-perusahaan milik warga negara R.I. yang memiliki

izin impor/ekspor, perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi, yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an, perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969, pasal 32). Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas, maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur, pengusaha transpor dan agenduane. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja, di bidang pengangkutan jenis lain pun ada, misalnya di bidang pengangkutan udara, pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing), yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang, lapangan-lapangan, di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan, yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan, pengepakan, pengepakan kembali, sortasi, penyimpanan, pengukuran, penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. diangkut b. Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a. pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5.000.000,-

menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan, yang pengangkutan, atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang; Pengepakan, pengepakan kembali, penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut; c. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang, lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu, dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud; d. barang; e. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang, yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2, SK Menteri Perdagangan R.I. No 122/Kp/VI/70, tanggai 8 Juni 1970). Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik

b. c.

Rp 3.000.000,Rp 2.000.000,

izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan, sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969), kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas, yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3, SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70, tanggal 8 Juni 1970). Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan, agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang, yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an.

1)

Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan,

penyimpanan, pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan, boomzaken dan lain-lain.

2)

Perlengkapan

perusahaan

berupa

ruangan-

ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan, ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang, alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik, perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang; 18

tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________
19

____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________
20

____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________

____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________


Dozen: Hendro Punto AdJi, S.H., M.S.

Angkutan Darat UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 1. Lalu lintas adalah gerak kendaraan, orang, dan hewan di jalan; 2. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan; 3. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan; 4. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum; 5. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi; 6. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor; Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :

21

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu; 8. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan; 9. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran; 10.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan, baik untuk angkutan orang maupun barang. Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus, yaitu jalan inspeksi minyak gas, jalan perkebunan, jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum, misalnya jalan inspeksi pengairan, pertambangan, jalan komplek Unsoed, dll. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien, mampu memadukan moda transportasi lainnya, menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan, untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong, penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Pasal 8 1. Untuk keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan, jalan wajib dilengkapi dengan : a. b. c. d. e. Pasal 4 1. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. 2. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. 22 f. rambu-rambu; marka jalan; alat pemberi isyarat lalu lintas; alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan; alat pengawasan dan pengamanan jalan; fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6

1. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu


dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. 2. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi, fungsi, peranan, kapasitas lalu lintas, dan kelas jalan. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan, jalan dibagi dalam beberapa kelas. 2. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

yang berada di jalan dan di luar jalan. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penjelasan:

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat

1. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang


dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib, di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. 2. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. 3. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum, serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi, tata ruang, kapasitas, kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. Pasal 10 1. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. 2. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 23

perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan diantaranya, yang digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. b. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. c. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan, persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan. d. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan, ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan, dan delinator e. agar f. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki, parkir dan halte. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1. Untuk menunjang keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan, dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. 2. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. 3. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. 4. Persyaratan, tata cara pengujian, masa berlaku, dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus, karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya, memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. 2. Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor, harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. 2. Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. 3. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran, bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pada umumnya, kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus, misalnya katup penyelamat, tangki bertekanan dan lain sebagainya

2. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, badan hukum Indonesia, atau warga negara Indonesia. 3. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. 2. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. Untuk keselamatan, keamanan, dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan, dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. 2. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. b. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan; pemeriksaan tanda bukti lulus uji, surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Setiap pengemudi kendaraan bermotor, wajib memiliki surat izin mengemudi. 2. Penggolongan, Pemerintah. Pasal 19 1. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan, calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi, setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan, perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. persyaratan, masa berlaku, dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. 2. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor, dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Pasal 14, Pasal 18, dan lain-lain yang diperlukan. 3. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan, keamanan, dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan, maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus

25

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas, wajib : a. b. c. menghentikan kendaraannya; menolong orang yang menjadi korban kecelakaan; melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi

pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 23 1.Pengemudi a. b. c. kendaraan bermotor di jalan, wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar; mengutamakan keselamatan pejalan kaki; menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan

bermotor, atau surat tanda coba kendaraan bermotor, surat izin mengemudi, dan tanda bukti lulus uji, atau tanda bukti lain yang sah, dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16; d. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan, rambu-rambu dan marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi, gerakan lalu lintas, berhenti dan parkir, persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor, penggunaan kendaraan bermotor, peringatan dengan bunyi dan sinar, kecepatan maksimum dan/atau minimum, tata cara mengangkut orang dan barang, tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain; e. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah. 2.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan, dan bagi 26

negara Republik Indonesia terdekat. 2. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b, kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat.

Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga, yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan;

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga; c. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. Pasal 30 1. Setiap pengemudi, pemilik, dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum, ditetapkan oleh Pemerintah. Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. Pasal 33 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

2.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku

dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a.

Pasal 31 1. Apabila korban meninggal, pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. 2. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban, bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang, setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. 2. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. Pasal 44

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang, jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. Pasal 45 1. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang, pengirim barang atau pihak ketiga, karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. 2. Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang, pengirim barang atau pihak ketiga. 3. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. 4. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. Pasal 48 1. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya, di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. 2. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. 3. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu, dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut, pengangkut tidak punya hak retensi, namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat, apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan.

Pasal 46 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. Jalan umum adalah jalan yang dibuat, diselenggarakan oleh pemerintah. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 47

Contoh: jalan propinsi, jalan kabupaten.

28

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh

pribadi, badan, dsb. Contoh: jalan inspeksi pengairan, kompleks perumahan. Dalam UU tersebut, yang dimaksud adalah jalan umum. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini.

Exgratia santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos

santunan). kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita. angkut dilunasi.

Dalam pasal 3 UU No. 14 Tahun 1992 menyebutkan antarmoda

transportasi. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung, ia naik kerete sampai di jakarta. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok, selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. Jalan untuk kelancaran, misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan, contohnya adalah jalan arteri, jalan tol. Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang

Jalan Arteri PP No. 26 Tahun 1985 gang

tanggul marka

kabupaten, jalan pedesaan.

berada di permukaan jalan). Contohnya sebra cross, as jalan.

o o o o o

Marka jalan Rambu

sebra cross dilarang parkir

Pulau jalan

Alat pengendali terminal, Alat pengaman deni motor diberi fosfor (floresense), kaca tanggul

cembung. Fasilitas pendukung halte bus

Fungsi terminal alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri

keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin, dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi. 29

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam , = 8m ; jalan masuk Atas usul Menteri, Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol.

Jalan arteri primer didesain untuk V = 60

km

dibatasi; kapasitas > dari volume lalin rata-rata; lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik, lalin lokal atau kegiatan lokal, tidak putus walaupun masuk kota. Pasal 15
km

Jalan kolektor primer, V 40

/jam, 7 m ; kapasitas volume lalin

Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada. Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol, harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1. Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada. 2. Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada. 3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol.

rata-rata. Jalan masuk dibatasi, tidak putus walaupun masuk kota. Jalan lokal primer, V = 20
km

/jam, = 5m , tidak putus walaupun masuk /jam, = 8m , kapasitas > dari volume

kota. Jalan arteri sekunder, V = 30


km

lalin rata-rata, lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat. Jalan kolektor sekunder, V = 20 /jam, = 7 m ; termasuk jalan desa.
km

Jalan lokal sekunder, V = 10

km

/jam, = 5m ; untuk kendaraan bermotor

roda 3 atau lebih harus punya lebar. Jalan Tol UU No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres, yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer.

Menhub. tujuan yang sama.

Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. Pasal 14 30

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. 2. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. 4. Dilarang memasuki Jalan Tol, kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian 1 1. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana, prasarana, dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem; Pasal 19 1. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. 2. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. 3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31 UU No. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. 2. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. 3. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. Petugas Jalan Tol.

diserahkan penyelenggaraannya. 4. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

2.

Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik

berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel, Pembinaan perkretaapian, dalam pasal 4, Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah.

Penyelenggaraan: Pasal 6

1. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya


diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. Contohnya: westing house. 2. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. Pasal 7 1. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri, pertanian, pertambangan, dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. Pasal 12 Prasarana dan sarana, BAB V 1. Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. 2. Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api, Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan, daerah milik jalan, dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. Pasal 14 1. Dilarang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul dan bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas, maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. 32 Pasal 8 1. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. 2. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. 3. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Pasal 9 1. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. 2. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2), dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. 3. Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. 1. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib

mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. 2. Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 3. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 15 1. Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. 2. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran, baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. 3. Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Pasal 17 1. Pembangunan jalan, jalur kereta api khusus, terusan, saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan, pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api, dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. 2. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 18 Biaya Angkutan, BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang, di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut oleh Menteri. Pasal 19 1. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. 2. Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara, naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun. Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api; b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api; c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api; d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang; e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum.

33

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. 2. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, wajib diangkut oleh badan penyelenggara. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara, badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 28 1. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. 2. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diberikan dengan ketentuan: a. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas, atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara; b. besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang; b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a; c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum; mengganggu perjalanan kereta api. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati.

penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan, dikenakan biaya pcnyimpanan barang. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu, dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 34

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang

Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat

diperjual belikan (hanya PT. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih). Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati.

Pengirim

dan

penerima

barang

mempunyai

hak

retensi

penafsiran pasal 32 ayat 2. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi, namun pada saat ini

pembayaran angkutan laut dilakukan di depan. POS UU No. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. Pengusaha transport serupa tapi tak

sebidang. digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. Hal ini hanya merupakan alasan teknis, bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem, kereta tersebut menempuh jarak 200m. Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian, dasarnya pasal 1320 BW.

sama dengan pengusaha angkutan. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri, sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain, dengan ongkos angkut dibayar sekaligus.

Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. POS Weselpos, giro pos tidak ada hubungannya dengan bank, demikain juga

berdasarkan PP no. 5 Tahun 1995, pendiriannya dibuat oleh notaris. dengan cek pos. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos, uang, barang, dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri, yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. 2. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. 3. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. 4. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. 5. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat, warkatpos, kartupos, barang-cetakan, surat-kabar, sekogram, dan bungkusan kecil. 6. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 7. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. 8. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. 9. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. 10. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. 11. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. 12. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos. 13. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan, kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. 2. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum, termasuk perwakilan atau pegawainya, yang menerima, membawa dan/atau menyampaikan surat, warkatpos, dan kartupos untuk pihak ketiga, dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. 3. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku, apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. 4. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu, paket, dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. badan yang bertugas menerima, membawa dan/atau menyampaikan surat, warkatpos, serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. Pos diselenggarakan oleh negara. 2. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. 3. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. 2. Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan.

36

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 5 1. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara. 2. Pembukaan, pemeriksaan, dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam, keadaan darurat, atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia, sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1.perincian penyelenggaraan pos; 2.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3); 3.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan; 4.batas ukuran, berat, dan isi kiriman; 5.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. 2. Menteri menetapkan : a.tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos; b.klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. Pasal 10 37 prangko; 6.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3); 7.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim; 8.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3); 9.pembebasan tarif pos; 10.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim, atau yang buntu karena sesuatu sebab; 11.persyaratan dan 1. Setiap perusahaan angkutan darat, laut, udara, dan media

telekomunikasi untuk umum, wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 2. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya. 3. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat, laut, udara, dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya; dan 12.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. Pasal 12 1. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. b. c. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. dikirim dengan harga tanggungan; tanggungan; 2. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang, maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu; b. c. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri; Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos; 2. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan; dan 3. melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. 3. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. b. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan; atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim; Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman, kiriman-pos, atau keselamatan orang, dilarang. c. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan

harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. 4. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam, keadaan darurat, atau hal lain di luar kemampuan berwenang. 5. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali, ditetapkan oleh Menteri. 6. Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini. 7. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh, yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. manusia, sebagaimana yang ditentukan oleh yang

38

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1. menerima setoran, melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos; dan 2. menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan, selain uang Kantor Perbendaharaan Negara, diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku Luchtverkeersverordening, Stb. 1936 No. 425 yang mengatur

tentang lalu lintas undara, seperti penerbangan, tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. Verordening Toesicht Luchtvaart, Stb. 1936 No. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan, mengatur personil, syaratsyarat jasmani rokhani, pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. Luchtvaartquorantieue ordonantie, Stb. 1939 No. 149 Jo. Stb. 1939 No. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. 2. Perjanjian Internasional Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. 1939 No. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional.

Perjanjian Roma 29 Mei 1933, mengatur tentang tanggung jawab

udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. 3. Ilmu Pengetahuan. UU No. 15 Tahun 1992

Pasal 1, dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, keamanan

Pengangkutan Udara 1. Peraturan UU No. 5 Tahun 1985, sudah tidak berlaku sejak ada UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. 15 Tahun 1992. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia

dan keselamatan penerbangan, serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait; 2. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia; 3. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara;

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia; 5. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara, bersayap tetap, dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri; 6. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara, dapat terbang dengan sayap berputar, dan bergerak dengan tenaganya sendiri; 7. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 8. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara; 9. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia; 10. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 2. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. 3. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu, terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal, sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh, dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 4. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara; 14. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran; 15. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

11. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk


mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi; 12. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; 13. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang, kargo, dan pos untuk satu

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. 2. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. b. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. 2. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam penjelasan ayat 1, terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. 2. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. hukum Indonesia; dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli, sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya; c. d. dimiliki oleh instansi Pemerintah; dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. Pasal 11 1. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

3. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia, hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah. 3. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia, hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. 4. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. Pasal 15 1. Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia, hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara, penumpang dan barang, dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Pasal 19 1. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. 2. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. 2. Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 1. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. 2. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun, pembuatan, perakitan, perawatan, dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen, dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. 2. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. Pasal 22 1. Dalam rangka keselamatan penerbangan, pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. 2. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. 3. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Menurut penjelasan pasal ini, pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara, meteorologi, komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. Pasal 23 1. Selama bersangkutan terbang, kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. 2. Penentuan lokasi, pembuatan rancang bangun, perencanaan, dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan, keselamatan penerbangan, dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Misalnya, bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10, boing 747, Air Bus, dll karena lokasinya yang dekat gunung, sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. Demikian juga di medan, gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. Pasal 26 43

keamanan dan keselamatan penerbangan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. 3. Pengadaan, pengoperasian, dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. 4. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang, kargo/pas dibandara lain hotel, jasa boga, toko gudang, hanggar, parkir, jasa perawatan pada umumnya. Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU, bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL, bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. Pasal 27 1. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Pasal 33 1. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. 2. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara, mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan, naiuk-turunya pesawat haji. Bandara Milik Misionaris. bandar udara khusus

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin

44

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. 2. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti, mengubah letak pesawat udara, mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. 3. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia, wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan, wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan, dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. 2. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia, lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga, ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 41 1. Perusahaan angkutan udara niaga, wajib mengangkut orang dan/atau barang, setelah disepakati perjanjian pengangkutan. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. Pasal 37 1. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. 2. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. Pasal 38 1. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. 2. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

45

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ditinjau secara yuridis, betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. Pasal 45 Pasal 42 1. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 43 1. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. b. c. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut; musnah, hilang atau rusaknya barang yang diangkut; keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya. Pasal 44 1. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara, dianggap sebagai satu pengangkutan udara, apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya, ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. 2. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah.

diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. 2. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. Penumpang dengan bukti angkutan tiket, untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara, pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. 2. barang bagasi, dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut, sejak pengangkut cek in di Bandara. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri, untuk penerbangan perintis 15 kg. 3. barang kiriman, dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat, ia hanya mengirimkan baranag. 4. bagasi tangan, tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang, seperti dompet, tas wanita, tustel, tas kantor dan lain47 Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab, tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun, sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas, sistem ini berlaku untuk penumpang, barang gasi dan barang kiriman. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut. 2. pengangkutan barang dan bagasi, bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat, kesalahan navigasi, dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang, merupakan hak setiap penumpang kecuali balita. Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama, dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi barang, maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan, maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang, berat 5 kg, selalu

dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab.

c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang


dirugikan. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. 2. Prinsip II

Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak

lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. berlaku pada saat overmacht. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha).

a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak


bertanggung jawab. Contohnya barang bagasi tangan.

b) Prinsip Non limitation of liabilities. Berlaku untuk barang bagasi


tangan: 1. 2. kemungkinan: a. secara limit b. tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab. dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang, maka ada dua

Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas, karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas, dalam hal ini dikarenakan Hak retensi:

dibawa oleh penumpang. kesalagan dari penumpang juga. kesalahan pengangkut.

o o o

Angkutan laut tidak ada Angkutan darat ada Angkutan udara tidak ada.

Masinis kereta hanya menjalankan, memperlambat, mempercepat dan

STRESSING

menghentikan kereta. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA, baru kereta boleh jalan. Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta, negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. macam transportasi).

Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. Jalan tol

bukan merupakan satu-satunya jalan. Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. Barang bagasi berat antara 20-30 kg, lebih dari itu didenda 1% tiket.

48

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________
49

____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________
50

____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan

___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___

51