Anda di halaman 1dari 5

1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi
Malpraktek medis adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan
tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam
mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang
sama.
Malpraktek menurut World Medical Association (WMA) pada tahun 1992
adalah kegagalan dokter untuk memenuhi standar pengobatan dan perawatan yang
menimbulkan cedera pada pasien atau adanya kekurangan ketrampilan atau
kelalaian dalam pengobatan dan perawatan yang menimbulkan cedera pasien.
Malpraktek menurut Amri Amir pada tahun 1996 adalah tindakan yang
salah oleh dokter pada waktu menjalankan praktek, yang menyebabkan kerusakan
atau kerugian bagi kesehatan dan kehidupan pasien, serta menggunakan keahlian
kedokteran untuk kepentingan pribadi.
Namun demikian, dari semua deIinisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan malpraktek medis adalah :
a. Melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang
tenaga medis
b. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan (melalaikan kewajiban)
c. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan
perundang-undangan.









2.2. Aspek Pidana Malpraktek Medis (Malpraktek Kriminil)
Malpraktek kriminil adalah kesalahan dalam menjalankan praktek yang
berkaitan dengan pelanggaran undang-undang hukum pidana. Pelanggaran untuk
undang-undang tersebut antara lain :
1. Menyebabkan pasien mati/luka karena kelalaian
2. Melakukan abortus provokatus criminalis
3. Melakukan pelanggaran kesopanan/kesusilaan
4. Membuka rahasia kedokteran
5. Memalsukan surat keterangan
6. Bersepakat melakukan tindakan pidana
7. Sengaja tidak memberikan pertolongan pada orang yang dalam keadaan
bahaya
Perbuatan pidana dapat bersiIat kesengajaan (delik culpa) maupun
kealpaan (delik alpa). Kelalaian bukanlaah suatu pelanggaran hukum atau
kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada
orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Tetapi jika kelalaian tersebut
mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merengut nyawa orang
lain, maka ini diklasiIikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan
kriminil yang dapat menyebabkan seorang dokter dituntut oleh pasien.
Tolak ukur culpa lata adalah :
1. Bertentangan dengan hukum
2. Akibatnya dapat dibayangkan
3. Akibatnya dapat dihindarkan
4. Perbuatannya dapat dipersalahkan
Pada saat ini untuk mengukur suatu perlakuan medis dari seorang pelayan
kesehatan apakah telah masuk pada malpraktik yang membentuk
pertanggungjawaban hukum masih secara kompensional pada dua pasal, yakni
359 dan 360 KUHP. Baik aspek wujudnya perlakuan, sikap batin pembuat
maupun akibat haruslah diukur dari unsur kedua pasal tersebut. Dengan


berkembangnya teknologi kesehatan harus pula menyesuaikan dengan kedua pasal
itu apabila timbul masalah malpraktik kedokteran. Nampaknya kriteria hukum
pidana dalam kedua pasal itu tetap sebagai pegangan bagi praktisi hukum dalam
menyelesaikan kasus dugaan malpraktik kedokteran dari sudut hukum pidana.

2.3. Aspek Perdata dalam Malpraktek Medis (Malpraktek Sipil)
Malpraktek sipil adalah tipe malpraktek dimana dokter karena
pengobatannya dapat mengakibatkan pasien meninggal atau luka tetapi dalam
waktu yang sama tidak melanggar hukum pidana. Sementara negara tidak dapat
menuntut secara pidana, tetapi pasien atau keluarganya dapat menggugat dokter
secara perdata untuk mendapatkan uang sebagai ganti rugi.
Dari sudut hukum perdata, perlakuan medis oleh dokter pada pasien
didasari oleh suatu ikatan atau hubungan dalam perjanjian apa yang disebut
dengan inspanings verbentenis (Oemar Seno Adji,1991 : 109). Dalam Inspanings
verbentis, kewajiban hukum dokter adalah berupa kewajiban berusaha sekeras-
kerasnya dan sungguh-sungguh untuk berbuat (perlakuan) pengobatan atau
penyembuhan atau pemulihan kesehatan pasien, yang didalam kewajiban
sungguh-sungguh itu mengandung sekaligus kewajiban perlakuan yang benar dari
sudut disiplin kedokteran, kebiasaan yang wajar dalam kalangan dokter dan
kepatutan.
Perlakuan yang tidak benar menjadikan suatu pelanggaran perjanjian
(wanprestasi) dan bila menimbulkan kerugian merupakan perbuatan melawan
hukum (onrerchtmatige daad). Karena hubungan ini berada dalam suatu kerangka
perikatan hukum (perdata) maka perlakuan dokter pada pasien membentuk
pertanggungjawaban perdata. Ketentuan tersebut terkait dengan KUH Perdata
pasal 1366 KUH Perdata, ' setiap orang bertanggung jawab bukan hanya kerugian
yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga kerugian yang disebabkan karena
kelalaian atau kurang hati-hati.





2.4. Aspek Hukum Administrasi Malpraktek Medis
Malpraktek sebagaimana disebutkan secara singkat diatas, merupakan
perbuatan yang melanggar kewajiban yang seharusnya dilakukan, yang
bertentangan dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam standar proIesi.
Standar proIesi merupakan pengaturan terhadap cara pelaksanaan tindakan medis
sehingga tindakan tersebut sesuai dengan tujuan yang diharapkan, jadi merupakan
ketentuan hukum administrasi yang harus ditaati oleh tenaga medis yang
bersangkutan. Ketentuan tersebut tertuang dalam UU RI No.29 Tahun 2004 dan
didalam Permenkes RI No. 1419/Menkes/Per/X/2005 dijelaskan bahwa seorang
dokter yang praktik harus punya SertiIikat Kompetensi, Surat Tanda Registrasi,
dan Surat Ijin Praktik kalau seorang dokter tidak mempunyainya selain dokter
mendapat sanksi pidana, sanksi perdata juga sanksi administratiI.
Seorang dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:
1. Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum
dikalangan proIesi kedokteran
2. Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar proIesi (tidak lege
artis)
3. Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak
hati-hati
4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum

2.5.
2.6. kesimpulan

1 MalprakLlk kedokLeran pada dasarnya masuk dalam dua lapangan hukum yaknl
perdaLa dan pldana Masuk perdaLa sebagal wanpresLasl dan aLau perbuaLan melawan
hukum yang membeban perLanggung[awaban pemullhan keruglan Masuk lapangan
hukum pldana sebagal suaLu ke[ahaLan yang membeban perLanggung[awaban pldana
MalprakLlk pldana pada dasarnya [uga sekallgus masuk lapangan perdaLa melalul
perbuaLan melawan hukum
krlLerla umum malprakLlk perdaLa aLau pldana ada pada slfaL dan LempaL pengaLuran


aLau penyebuLan darl aklbaL keruglan 8lla keruglan lLu berslfaL perdaLa dan dlaLur
dalam hukum perdaLa maka malprakLlk masuk men[adl malprakLlk perdaLa !lka slfaL
keruglan dan pengaLurannya dlLenLukan oleh hukum pldana yang men[adl unsur
ke[ahaLan maka malprakLlk masuk dalam lapangan hukum pldana
keadaan MalprakLlk kedokLeran pldana harus memenuhl syaraLsyaraL dalam (Llga)
hal pokok yaknl syaraLsyaraL pada perlakuan medls syaraL slkap baLln dalam
hubungannya dengan perlakuan serLa aklbaL perlakuan medls dan aklbaL perlakuan
yang meruglkan paslen
ualam syaraL mengenal perlakuan Lerdlrl al darl wu[ud cara dan alaL perlakuan
kepada slapa perlakuan dllakukan penarlkan dlagnosa Lerapl sampal pada perlakuan
seLelah Lerapl SyaraL slkap baLln adalah merupakan culpa (culpa laLa) Lldak Lahu
Leledor balk Lerhadap prosedur maupun Lerhadap perlakuan dan aklbaL Mengenal
aklbaL haruslah aklbaL yang meruglkan paslen yang dlaLur dan dlLenLukan hukum
ersoalan malprakLlk kedokLeran acapkall menlmbulkan polemlk Lldak seragam
pemecahannya karena Lldak ada sLandard hukum yang mengaLur secara khusus Secara
kompenslonal pada LaLaran prakLlk malprakLlk pldana dlselesalkan melalul pasal dan
kuP Seraca perdaLa malprakLlk dlselesalkan melalul gugaLan perdaLa pengganLlan
keruglan melalul hukum wanpreLasl dan perbuaLan melawan hukum

Beri Nilai