Anda di halaman 1dari 60

Daftar Isi

PENDAHULUAN
• New York, 5 Desember 1960

o Lahore, 21 Januari 1961

• New York, 31 Januari 1961

o Lahore, 25 Februari 1961

• New York, 8 Maret 1961

o Lahore, 1 April 1961

• New York, 12 April 1961

o Lahore, 19 Mei 1961

• New York, 29 Mei 1961

o Lahore, 20 Juni 1961

• New York, 11 Juli 1961

o Lahore, 29 September 1961

• New York, 9 Oktober 1961

o Lahore, 24 Oktober 1961

• New York, 8 November 1961

o Lahore, 16 Desember 1961

• New York, 25 Januari 1962

o Lahore, 10 Februari 1962

• New York, 22 Maret 1962

o Lahore, 31 Maret 1962

• New York, 7 April 1962

o Lahore, 18 April 1962

• Lahore, 18 April 1962

o New York, 2 Mei 1962


Tentang Penulis
Maryam Jamilah
(d/h Margaret Marcus)
PENDAHULUAN

Pada umur 19 tahun segera setelah mulai saya pelajari dengan intensif
literatur Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, saya
melakukan surat menyurat dengan belasan kaum muda dan dunia Arab
dan Pakistan. Tujuan saya adalah agar dapat memperoleh pengetahuan
yang lebih mendalam dari tangan pertama tentang arti Islam menurut
orang Islam sendiri, dan untuk mendapatkan informasi yang lebih
terperinci tentang peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di negara Islam
daripada informasi yang biasa dimuat dalam surat kabar dan majalah.

Sebagian hubungan sahabat pena tidak berlangsung lama karena segera


saja saya menjadi kecewa dengan gaya hidup mereka yang ter-barat-kan
karena, keacuh-takacuhan mereka dan kadang-kadang permusuhan yang
tersembunyi terhadap Islam, dan pikiran mereka yang kekanak-kanakan.
Akhirnya saya putuskan untuk melakukan surat-menyurat dengan
pemimpin-pemimpin Islam yang matang dan berpengaruh, khususnya
dengan para ulama.

Pada penghujung tahun 1960, telah saya adakan surat-menyurat dengan


Dr. Fadhil Jamali, bekas pemimpin delegasi Irak di PBB; Dr. Mahmud F.
Hoballah, Direktur Islamic Centre di Washington DC pada waktu itu; Syaikh
Muhammad Bashir Ibrahimi (almarhum) pemimpin ulama Aljazair dan
pemimpin perjuangan kemerdekaan melawan Imperialis Perancis; Dr.
Muhammad al-Bahay dari Al-Azhar; Dr. Hamidullah dari Paris; Dr. Ma'ruf
Dawalibi, ahli hukum Islam dan Guru Besar dalam Syari'ah pada
Universitas Damaskus yang juga bekas Perdana Menteri Syria; dan Dr. Said
Ramadhan, pemimpin Islamic Centre di Jenewa. Saya telah berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk melakukan kontak dengan Sayyid Qutb
(almarhum) yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman yang
panjang di penjara Mesir.

Walaupun kegiatan-kegiatan Syaikh Hasan al-Banna (almarhum) dan al-


Ikhwan al Muslimuun telah mendapatkan publisitas yang melimpah
walaupun dengan nada menghina di persurat-kabaran New York, tetapi
Maulana Maududi dan Jemaat Islaminya belum banyak menarik perhatian
kalangan sarjana dan wartawan Amerika.

Walaupun sudah hampir satu dekade saya begitu keranjingan membaca


semua buku dan terbitan-terbitan berkala dalam bahasa Inggris tentang
Islam yang saya temukan, belum saya dengar tentang Maulana Maududi
dan tidak pula saya ketahui siapa dan apa Jemat Islami itu, sampai saya
dapatkan esai Mazharuddin Siddiqui dalam buku Islam Jalan Lurus (Editor
Kenneth Morgan, Ronald Press, New York, 1958), ketika secara kebetulan
sekali saya temukan artikel yang bagus dalam majalah The Muslim Digest,
Durban, oleh penulis yang sama, segera saja saya merasa tertarik untuk
berkirim surat dengan orang yang mempunyai kelebihan luar biasa ini,
dan menulis surat kepada redaksi majalah tersebut untuk meminta
alamatnya.

Pertama kali mengirim surat, saya hanya mengharap jawaban singkat


yang mengungkapkan rasa saling simpati yang timbul dan kesamaan cita-
cita. Waktu itu saya tidak bisa meramalkan betapa surat menyurat ini
akan menandai perioda yang paling kritis dalam seluruh sejarah hidup
saya.

Maulana Maududi tidak perlu lagi membujuk saya untuk memeluk Islam
karena waktu itu saya telah berada di ambang peralihan kepada agama
Islam, dan sudah akan mengambil langkah terakhir, bahkan tanpa
sepengetahuannya. Maulana Maududi juga tidak mengupayakan pengaruh
yang menentukan apapun atas arah karier menulis saya, karena sudah
sejak lebih dari setahun sebelum persahabatan kami saya telah menulis
esai-esai untuk membela Islam dan pokok-pokok pikiran saya yang utama
telah mapan jauh sebelum kami berdua saling berkenalan. Namun
demikian, sebagai hasil dari surat menyurat ini adalah banyak
bertambahnya wawasan dan pengetahuan saya, sehingga saya lebih
mahir mengemukakan pendapat, dan tulisan-tulisan saya pun bertambah
matang dan mendalam.

Surat-surat ini mesti dibaca dengan tetap memperhatikan latar belakang


sejarahnya. Di Amerika, John F. Kennedy, presiden waktu itu, telah
mencapai kekuatan politik dan kemakmuran ekonomi yang belum pernah
dicapai sebelumnya. "Perang dingin" antara Komunis Rusia di bawah
Krushchev dengan demokrasi Barat baru mulai mencair. Di Pakistan,
Presiden Ayub Khan memerintah tanpa penentang, dan untuk
melestarikan kediktatorannya dia memberlakukan undang-undang darurat
perang dan melarang partai politik, termasuk Jemaat Islami. Ulama yang
takwa diganggu dan diintimidasi karena mereka berani mengkritik
pemberlakuan undang-undang keluarga yang tidak Islam secara
sewenang-sewenang dan sembarangan melawan kehendak mayoritas
rakyat.

Sesudah tiga setengah tahun psikoanalisa yang mahal dan tak


membuahkan hasil dan dua tahun di rumah sakit, saya baru saja mentas
dari masa remaja yang panjang, tidak bahagia lagi penuh dengan
kesendirian dan frustrasi, dan sedang berusaha menemukan diri saya
sendiri serta tempat yang cocok dalam hidup ini. Hanya karena Allah yang
Maha Pengasih lagi Penyayang sajalah pada tahap itu Maulana Maududi
memberikan kesempatan bagi saya untuk meraih kehidupan yang
bermanfaat, kaya dengan pemuasan kebutuhan dengan menyediakan
tanah yang subur tempat bisa tumbuh dan berkembang penuhnya usaha-
usaha saya.

Maryam Jamilah
14 Jumadits-Tsana 1389 H (28 Agustus 1969 M).
-------------------------------------------------------------
New York, 5 Desember 1960

Maulana Maududi yth.,

Artikel anda yang bagus sekali berjudul Life After Death (Hidup Sesudah
Mati) yang dimuat dalam majalah The Muslim Digest, Durban, Afrika
Selatan terbitan bulan Februari 1960 adalah yang terbaik dan paling
meyakinkan yang pernah saya baca. Ketika pertama kali saya baca
tentang anda dalam tutisan Mazharuddin Siddiqui yang dimuat dalam
buku Islam The Straight Path (Islam Jalan-Lurus, editor Kenneth Morgan,
Ronald Press, New York 1958) tentang umat Islam di Pakistan, segera saja
saya bersimpati sepenuh hati terhadap anda dan masalah-masalah anda,
walaupun Mazharuddin adalah seorang modernis khas yang
menggambarkan anda dengan gaya menghina.

Pada tahun lalu saya telah berketetapan hati untuk membaktikan


kehidupan saya guna berjuang melawan filasafat-filsafat materialistik,
sekularisme dan nasionalisme yang sekarang masih merajalela di dunia.
Aliran-aliran tersebut tidak hanya mengancam kehidupan Islam saja,
tetapi juga mengancam seluruh umat manusia. Untuk itulah telah saya
tulis sejumlah artikel, enam di antaranya telah dimuat oleh majalah The
Muslim Digest dan The Islamic Review, Woking, England.

Artikel saya yang pertama berjudul Sebuah Kritik terhadap buku "Islam in
Modern History" yang ditulis oleh Prof. Wilfred Cantwell Smith, Direktur
Islamic Institute di McGill University, Montreal. Saya menentang bagian
demi bagian argumentasinya yang mengatakan bahwa sekularisme dan
westernisme itu cocok dengan Islam dan bahwa "pembaharuan" Kemal
Ataturk di Turki menawarkan model yang paling baik untuk ditiru oleh
negara-negara Islam lainnya.

Artikel saya yang kedua berjudul Nasionalisme, Suatu Ancaman terhadap


Solidaritas Islam menunjukan betapa tidak cocok dan tak terujukkannya
konsep nasionalisme modern dengan konsep ummah atau persaudaraan
Islam yang universal.

Artikel saya yang ketiga --dimuat dalam majalah The Islamic Review, bulan
Juni 1960 dan majalah The Muslim Digest bulan Agustus 1960 merupakan
bantahan terhadap argumentasi Asaf A. Fyzee (wakil Rektor Universitas
Kashmir) tentang Islam yang terbaratkan, diperbaharui dan "diliberalkan"
sampai suatu titik ia hanya menjadi ungkapan-ungkapan etika yang
hampa dan kosong dan tidak mampu memberi dampak terhadap
pembentukan masyarakat dan kebudayaan.

Artikel lain yang saya tulis membantah pendapat ahli sosiologi Turki, Ziya
Gokalp, yang mencoba untuk memperdayakan pembacanya agar yakin
bahwa nasionalisme dan sekularisme itu cocok dengan Islam (langsung
daripadanyalah Kemal Ataturk memperoleh inspirasinya); Sir Sayyid
Ahmad Khan yang menuhankan ilmu pengetahuan dan filsafat Eropa abad
XIX; Ali Abdur-Raziq dalam buku Islam and the Principles of Government
yang ditulisnya sesudah penghapusan kekhalifahan Usmaniyah yang
mencoba menunjukan bahwa kekhalifahan tidak pernah menjadi bagian
integral dari Islam, sehingga harus dijauhkan secara total dan terus-
menerus dari negara; Presiden Habib Bourguiba yang tahun lalu
menyerang puasa bulan Ramadan dengan menyatakan bahwa puasa
Bulan Suci merupakan penghalang bagi pembangunan ekonomi Tunisia;
dan Dr. Toha Husein, intelektual dan penulis Mesir buta yang telah
mengemukakan dalam bukunya Future and Culture in Egypt bahwa Mesir
adalah bagian integral dari Eropa, karenanya perlu melakukan sekularisasi
dan westernisasi sepenuhnya.

Mereka yang sering disebut-sebut sebagai muslim "progresif" yang lebih


berbahaya dari pada musuh-musuh dari luar, karena mereka menyerang
landasan-landasan asasi Islam dari dalam. Tujuan saya menulis artikel-
artikel tersebut tidak lain adalah untuk membuka mata kaum muslimin
akan fakta ini.

Sekularisme, nasionalisme dan materialisme masa kini disadap dari filosof-


filosof yang membangkitkan revolusi Perancis, seperti Voltaire, Rousseau,
Montesquieau dan lain-lain. Mereka adalah pembenci-pembenci fanatik
terhadap seluruh agama. Merekalah yang bertanggung-jawab terhadap
adanya keyakinan yang menyatakan bahwa manusia dapat maju dan
mencapai keselamatan tanpa Tuhan. Khayalan bahwa manusia tidak
tergantung pada Allah dan bahwa Hari Akhir tidak ada, akan membawa
kepada keyakinan bahwa tujuan utama kehidupan umat manusia adalah
kemajuan material. Tanpa adanya suasana anti agama yang mematikan
ini, maka faham-faham seperti Marxisme, Fascisme, Nazisme,
Pragmatisme (seperti yang dipropagandakan oleh John Dewey) dan
Zionisme (penyebab tragedi Palestina) tidak akan pernah mengakar. Saya
merencanakan untuk menulis artikel lain tentang masalah ini dengan lebih
terperinci.

Mungkin anda ingin tahu siapa saya sebenarnya. Saya adalah seorang
gadis Amerika, umur 28 tahun, yang begitu tertarik kepada Islam sebagai
satu-satunya harapan dalam hidup saya, sehingga saya sekarang ingin
berpindah agama. Masalah saya yang pelik adalah kesulitan untuk
bertemu dengan orang Islam di daerah pinggiran kota New York, tempat
tinggal saya. Lagi pula saya merasa terasing, Karena itu tatkala saya
dapati artikel anda dalam The Muslim Digest, segera saja saya kirim surat
kepada redaksi majalah tersebut untuk meminta alamat anda dengan
harapan akan anda balas surat-surat saya.

Bila anda bersedia, kirimkanlah kepada saya beberapa tulisan anda,


khususnya brosur yang anda tulis beberapa tahun yang lalu yang berjudul
The Process of Islamic Revolution. Karena kita saling berbagi cita-cita yang
sama dan bekerja untuk meraih tujuan yang sama, maka saya ingin sekali
menikmati hubungan persahabatan dengan anda dan menolong anda
dalam perjuangan anda sebisa-bisanya.

Salam takzim,
Margaret Marcus
-------------------------------------------------------------
Lahore, 21 Januari 1961

Saudari Marcus yth.,

Assalamu 'alaikum,

Surat anda tertanggal 5 Desember 1960 sampai di sini ketika saya telah
pergi ke Saudi Arabia untuk menghadiri undangan Raja Ibnu Saud. Raja
ingin mendirikan Universitas Islam di Medinah dia undang saya untuk
mempersiapkan rencana tersebut. Karenanya, saya berada di luar negeri
kira-kira selama satu bulan. Ketika pulang saya dapatkan surat anda
beserta ketiga esai anda. Saya benar-benar tak mampu mengutarakan
alangkah bahagianya saya setelah membaca surat dan esai-esai anda.

Sengaja saya tuliskan kata "Assalamu 'alaikum" di awal surat ini, yakni
ucapan salam khusus untuk kaum muslimin. Alasannya ialah walaupun
anda masih menimbang-nimbang untuk beralih agama, tetapi saya
percaya bahwa anda sudah menjadi seorang muslimah. Seseorang yang
meyakini keesaan Tuhan, dan meyakini bahwa Muhammad adalah
rasulullah dan nabi-Nya yang terakhir, al-Qur'an adalah Kitab-Nya dan
juga beriman kepada Hari Akhir, maka ia adalah seorang muslim yang
sebenarnya, baik ia dilahirkan sebagai Yahudi, Kristen maupun dari
keluarga yang menyembah berhala.

Gagasan-gagasan anda telah menjadi saksi atas kenyataan bahwa anda


beriman terhadap kebenaran-kebenaran yang telah disebutkan di atas.
Karenanya, saya pandang anda sebagai seorang muslimah dan sebagai
saudara saya seiman. Tidak diperlukan upacara baptis di hadapan pendeta
atau yang semacamnya bila seseorang hendak memeluk agama Islam.

Bila anda yakin terhadap kebenaran Islam, maka anda hanya perlu
menegaskan dengan sungguh-sungguh bahwa "Tak ada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah rasul-Nya". Kemudian hendaknya anda ganti nama
dengan nama Islam (seperti Aisyah atau Fatimah) lalu membuat
pengumuman tentang nama dan agama anda, sehingga dunia Islam
secara luas mengetahui bahwa anda adalah anggota persaudaraan Islam.
Kemudian anda harus mulai menegakkan shalat wajib lima kali sehari
semalam dan menaati perintah-perintah Islam yang lain dengan sabar.

Saya dapati anda telah berada di ambang pintu Islam dan dengan satu
langkah pasti lagi anda sudah akan termasuk dalam kelompok orang-
orang beriman. Saya pikir langkah terakhir ini akan merupakan puncak
yang logis dan wajar dari gagasan-gagasan anda.

Pembantu pribadi saya telah mengirimkan beberapa brosur kepada anda,


termasuk yang anda minta. Sebagai tambahan, saya kirimkan pula buku-
buku saya. Ketika saya baca artikel-artikel anda, saya merasa seolah-olah
sedang membaca gagasan-gagasan saya sendiri. Saya berharap anda
rasakan hal yang sama bila anda baca karya-karya saya. Walaupun
kenyataannya kita belum saling berkenalan, namun rasa simpati dan
kesatuan pemikiran kita adalah hasil langsung dari kenyataan bahwa kita
telah memperoleh ilham dari satu sumber yang sama.

Orang-orang Islam kebarat-baratan yang kekurangan semangat Islamnya


yang anda sesali itu, adalah hasil terjelek daripada penjajahan barat atas
negara-negara Islam. Pukulan yang terberat yang telah ditimpakan oleh
penjajahan atas kita bukanlah di lapangan politik ataupun ekonomi,
melainkan di bidang pemikiran dan semangat. Imperialisme ini telah
menghasilkan banyak budak secara mental, yang bahkan setelah
kemerdekaan, masih tetap tunduk pada Barat dan dengan setia mengikuti
langkah majikan terdahulu mereka. Dari sudut pandangan inilah saya pikir
perang kemerdekaan belum lagi selesai, karena kita masih harus
menjalani perang yang panjang melawan orang asing dalam negeri seperti
itu.

Dan sekarang saya tak tahan untuk tidak mengungkapkan rasa takjub
saya mengenai satu hal. Saya ingin tahu dengan persis bagaimana dan di
mana seorang gadis Amerika dapat sampai pada konsepsi Islam yang
murni lagi cemerlang seperti itu. Dapatkah anda sisihkan waktu untuk
menulis cerita singkat tentang evolusi mental anda, dan mengirimkannya
kepada saya? Saya benar-benar dapat mengerti perasaan kesendirian
anda karena ketiadaan masyarakat Islam di lingkungan anda. Tentu hal ini
adalah penderitaan yang paling berat bagi seorang muslimah yang hidup
di negara non-muslim. Tetapi tentu dapat merupakan suatu pelipur bagi
anda memahami bahwa di dunia kini tiap orang Islam sejati sama berbagi
kepedihan dan keterasingan bersama anda, walaupun mungkin pada
tingkat yang lebih ringan atau dalam bentuk lain.

Kapan saja anda mengunjungi Pakistan, saya akan berbahagia sekali jika
bisa bertemu dengan anda dan mengelu-elu anda sebagai tamu saya.
Alangkah gembiranya saya beserta seluruh keluarga bila anda dapat
datang dan bersama kami melaksanakan puasa bulan Ramadhan (yang
tahun ini akan jatuh pada 17 Februari s/d 18 Maret). Saya berada di Lahore
hingga akhir bulan Maret, setelah itu saya hendak melawat ke beberapa
negara di benua Afrika untuk mengorganisasikan da'wah Islam di sana,
Insyaallah. Saya akan kembali berada di Lahore akhir bulan Mei. Saya
rencanakan untuk tetap tinggal di Lahore hingga akhir tahun, karenanya,
kapan saja anda datang, anda dapat temui saya di rumah.

Saudaramu Seagama,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 31 Januari 1961

Maulana Maududi yth.,

Beberapa hari yang lalu saya menerima hadiah buku-buku berbahasa


Inggris dari anda yang jumlahnya menyerupai suatu perpustakaan kecil.
Saya rasa, mengatakan terimakasih saja tidak cukup. Saya hanya bisa
berjanji akan selalu memelihara dan menghargainya. Baru kemarin saya
terima surat anda yang menceritakan bahwa tatkala anda baca naskah-
naskah saya seolah-olah anda sedang membaca karya sendiri. Yakinlah,
bahwa tatkala saya baca buku-buku anda, saya juga merasa seolah benar-
benar sedang membaca gagasan-gagasan saya sendiri yang hanya saja
diungkapkan dengan lebih tegas dan menyeluruh daripada yang
barangkali bisa saya tulis.

Dua naskah terakhir saya adalah; yang satu tentang puisi Allamah Iqbal
[Lihat artikel saya tentang Allamah Iqbal dalam Islam Versus The West],
satu-satunya ilmuwan dunia Islam masa kini yang telah berhasil
mengungkapkan --dalam bentuk puisi dengan keindahan abadi-- tentang
apa arti sebenarnya menjadi seorang muslim; naskah yang lain berjudul
The Philosophical Sources of Western Materialism (Sumber-sumber Filsafat
Materialisme Barat), di sini saya lacak perkembangan Materialisme Barat
sejak kelahirannya di masa Yunani Kuno, melewati zaman Renesan sampai
memuncak dalam bentuk ideologi, seperti Komunisme.

Dalam naskah yang kedua ini juga saya coba tunjukkan, bahwa kejahatan-
kejahatan yang kita saksikan saat ini adalah akibat logis daripada
kecenderungan yang telah berlanjut selama lebih dari lima abad. Tokoh-
tokoh pemikiran Barat seluruhnya adalah materialis yang bersemangat;
nyatanya, seluruh tema peradaban Barat modern adalah pemberontakan
terhadap gereja dan pada puncaknya juga terhadap seluruh agama dan
nilai rohaniah. Jadi, materialisme adalah bagian dari esensi Barat
terpenting.

Pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, sebagaimana anda jelaskan dengan


jitu dalam artikel anda Nasionalism and India (Nasionalisme dan India),
secara serempak telah diajar untuk memandang rendah pusaka asli
mereka dan dicekoki dengan filsafat materialisme. Karena rasa dendam
dan benci yang mendalam kepada majikan Barat mereka terdahulu, maka
mereka lemparkan kembali sampah-sampah tepat ke muka mereka
sendiri. Hal ini saya maksudkan sebagai gambaran pergolakan hebat yang
saat ini sedang terjadi di Asia dan Afrika, khususnya di Kongo.

Setelah saya baca tentang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Afrika,


saya mengkhawatirkan keselamatan anda. Sungguh sangat menyakitkan
terasa bagi saya membaca dan mengetahui bagaimana negara-negara
muslim seperti Republik Persatuan Arab (sekarang pecah menjadi Mesir
dan Syria -penerjemah) secara membudak meniru Komunis Rusia dan Cina
dalam hal politik luar negeri mereka di Afrika. Saya hendak bersimpati
dengan beberapa negara seperti RPA, tetapi tidak saya lihat sesuatu yang
Islami dalam kebijaksanaan pemerintahannya. Seorang muslim yang
mudah tertipu akan menyambut gembira upaya-upaya Nasser dalam
memajukan dakwah Islam di Afrika, tetapi tak syak lagi bahwa ia tidak
begitu tertarik untuk berjuang lebih jauh dari pada sekedar menggunakan
akidah itu semata-mata sebagai slogan untuk meninggikan keharuman
nama dan harkatnya.

Saya dengan tulus dan pasti yakin bahwa pemahaman anda tentang Islam
sebagai yang anda kernukakan dalam buku Towards Understanding Islam
(Menuju Pemahaman Islam) dan Islamic Law and Constitution (Hukum dan
Perundang-undangan Islam) dan brosur-brosur lain yang telah anda
kirimkan kepada saya adalah satu-satunya penafsiran yang tepat. Saya
berharap agar saya tidak dipandang sebagai orang yang berpikiran sempit
dengan berkata demikian. Sungguh saya hargai anda dan segala sesuatu
yang anda kerjakan, sebab anda memegang teguh Islam dalam
kemurniannya di samping menolak untuk berdamai dengan tingkah laku
zaman atau memperkosanya dengan filsafat-filsafat asing.

Seperti yang telah anda uraikan dalam karya-karya anda, maka saya
percaya bahwa Islam adalah jalan hidup yang unggul dan merupakan
satu-satunya jalan menuju kebenaran. Tragisnya, ternyata banyak orang
Islam yang tidak setuju. Berkali-kali saya bertemu dengan mahasiswa-
mahasiswa Islam yang belajar pada universitas-universitas di New York
yang berusaha meyakinkan saya bahwa Kemal Ataturk adalah orang Islam
yang baik dan bahwa Islam harus menerima kriteria filsafat kontemporer,
sehingga bila ada akidah Islam dan peribadatannya yang menyimpang
dari kebudayaan Barat modern, maka hal itu harus dicampakkan.
Pemikiran demikian dipuji sebagai "liberal", "berpandangan ke depan" dan
"progresif". Sedang orang-orang yang berpikiran seperti kita dicap sebagai
"reaksioner dan fanatik", yakni orang-orang yang menolak untuk
menghadapi kenyataan masa kini. Suatu hal di dalam buku kecil anda
Nasionalisme dan India yang perlu mendapatkan perhatian khusus ialah
sikap oposisi anda terhadap orang Islam yang memakai pakaian Barat.
Banyak orang memandang masalah ini sebagai sesuatu yang remeh,
tetapi saya memandangnya sebagai hal yang paling penting. Tidakkah
Nabi Besar Muhammad saw telah bersabda: "Barangsiapa yang meniru
orang kafir, maka ia termasuk salah seorang dari mereka!" Saya pikir,
orang muslim harus merasa bangga memperlihatkan kenyataan berupa
kekhasan penampilan fisiknya. Demikianlah, maka bila saya lihat
pemimpin Islam yang sama sekali berpakaian model barat dan bercukur
licin, tak bisa tidak saya anggap imannya bercacat, karena lewat
pakaiannya, dia permaklumkan kepada dunia bahwa ia malu akan
identitasnya yang sebenarnya. Pernahkah anda baca Islam di Simpang
Jalan karya Muhammad Asad yang membicarakan hal ini secara panjang
lebar?

Tidak aneh bila anda begitu heran terhadap gadis yang lahir dari keluarga
khas Amerika bisa memeluk Islam. Karenanya, berikut ini akan saya
ceritakan bagaimana hal itu terjadi.

Ketika saya berumur sepuluh tahun, saya bersekolah di sekolah Jewish


Sunday yang diperbaharui. Segera saya terpesona dengan sejarah Yahudi
yang tragis. Saya tertarik kepada cerita Ibrahim dan kedua anaknya Ismail
dan Ishak. Ishak dianggap sebagai bapak orang Yahudi dan Ismail bapak
orang Arab. Tidak saja orang Arab dan Yahudi bersamaan asal, tetapi
sejarahnya pun saling berkaitan pada beberapa perioda. Telah saya
pelajari bahwa di bawah pemerintahan Islam, khususnya di Spanyol, orang
Yahudi mengalami masa keemasan dengan kebudayaan Ibraninya. Karena
ketidaktahuan, tentunya terhadap sifat jahat Zionisme, secara naif saya
mengira bahwa orang Yahudi Eropa kembali ke Palestina untuk menjadi
orang semit lagi dan hidup seperti orang Arab. Sungguh saya sangat
tergairahkan oleh prospek kerja sama antara orang-orang Arab dan Yahudi
untuk menciptakan zaman keemasan baru seperti pernah terjadi di
Spanyol.

Selama masa remaja, saya mengalami keterasingan sosial di sekolah


karena saya senang menggunakan sebagian besar waktu saya untuk
membaca buku-buku di perpustakaan dan tidak tertarik, kepada lain jenis,
pesta-pesta, dansa, film, pakaian, perhiasan atau pun kosmetika. Saya
beranggapan bahwa merokok adalah kebiasaan vulgar dan kemubaziran.
Meskipun kenyataan di masyarakat mengharuskan seseorang untuk
minum-minum di dalam pesta dengan tujuan agar dapat diterima secara
sosial, dan kedua orangtua saya berpendapat bahwa pengumbaran diri
sekedarnya dengan anggur tak dapat dipisahkan dari "kenikmatan hidup",
namun saya belum pernah menyentuh minuman keras. Saya hampir tidak
mempunyai teman selama delapan tahun di sekolah lanjutan pertama dan
atas, karena saya hanya berbagi sedikit kegetiran dengan anak-anak laki-
laki dan perempuan sebaya saya.

Pada tahun kedua di Universitas New York, saya bertemu dengan seorang
gadis remaja dari keluarga Yahudi yang telah memutuskan untuk memeluk
agama Islam. Karena begitu tertarik kepada bangsa Arab sebagaimana
saya, maka dia kenalkan saya dengan teman-teman Arab dan muslimnya
di New York. Dia dan saya sama-sama mengikuti pelajaran dalam kelas
yang diajar oleh Rabbi Yahudi berjudul Yudaisme dalam Islam.

Rabbi itu mencoba untuk memberikan bukti-bukti kepada para siswanya,


dibalik kedok "perbandingan agama", bahwa segala yang baik dalam Islam
itu dipinjam langsung dari perjanjian lama, Talmud dan Midrash. Buku teks
kami, yang disusun oleh Rabbi ini juga (Judaism in Islam, Abraham I Katsh,
Washington Square Press, New York 1954), menuliskan surat kedua dan
ketiga dari Al-Qur'an ayat demi ayat, untuk melacak asal-usulnya dari
sumber-sumber Yahudi. Kuliah ini diselingi juga dengan pemutaran film
berwarna dan slide propaganda Zionis untuk mengagungkan negara
Yahudi. Tetapi ironisnya, kuliah ini bukannya mampu meyakinkan saya
akan keunggulan Yahudi atas agama Islam, tapi malah mengalihkan saya
kepada pandangan yang sebaliknya.

Walaupun kenyataannya di dalam kitab Perjanjian Lama terdapat konsep-


konsep universal tentang Tuhan dan cita moral luhur seperti yang
diajarkan oleh para nabi, tetapi agama Yahudi selalu mempertahankan
karakter kesukuan dan kebangsaan. Dan meskipun di dalamnya terdapat
idealisme luhur, narnun kitab suci agama Yahudi itu bagaikan buku sejarah
orang Yahudi saja layaknya sejarah ketuhanan dan kebangsaannya.

Parokialisme berpandangan sempit telah mendapatkan ungkapan


modernnya dalam Zionisme (walaupun dalam bentuk yang sepenuhnya
sekular). Perdana Menteri Israel, David ben Gurion, tidak beriman kepada
Tuhan yang bersifat pribadi dan supranatural, tidak pernah mendatangi
sinagoge dan tidak menaati hukum Yahudi, adat-adat maupun upacara-
upacara, namun.ia dipandang sebagai orang Yahudi terbesar masa kini,
bahkan juga oleh orang-orang yang taat dan ortodoks.

Sebagian besar pemimpin Yahudi memandang Tuhan sebagai super agen


real estate yang membagi-bagikan lahan untuk keuntungan mereka
sendiri. Zionisnie telah menjadikan aspek-aspek yang sangat jelek dari
nasionalisme materialistik Barat modern sebagai milik mereka sendiri.
Hanya filsafat utilitarian dan opportunisme seperti itu yang dapat
membenarkan di dalam pikiran-pikiran, hal-hal seperti: kampanye zalim
untuk mengusir mayoritas orang Arab dan menginjak-injak minoritas yang
mengibakan yang masih tinggal di "Israel", kemudian memasang gaya
pembawa "kemajuan" dan "pencerahan" bagi bangsa Arab "yang jahil".

Betapapun unggulnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


"Israel", namun saya yakin kemajuan material yang dikombinasikan
dengan moralitas kesukuan bangsa "terpilih" ini adalah suatu ancaman
yang amat besar bagi perdamaian dunia. Pernah saya dengar Golda Meir
berpidato di depan Sidang Umum PBB: "Saya akan menentang siapa saja
yang hendah mempersoalkan hak keamanan Israel dengan menahan
daerah Arab yang dikuasai lewat penaklukan. Satu-satunya etika yang
penting bagi kami adalah bertahan hidupnya bangsaYahudi di negeri
Yahudi" (Tak apa, Nyonya Golda Meir, tentang bertahan hidup itu, bangsa-
bangsa lain pun akan mempertahankan hidupnya pula).

Waktu itu pula saya ketahui babwa para ulama Yahudi memendam rasa
permusuhan yang lebih besar terhadap Nabi Muhammad saw daripada
orang-orang Kristen. Kemunafikan agama Yahudi yang diperbaharui sama
juga tak bisa diterima. Sehingga, walaupun seorang keturunan Yahudi,
saya tetap tidak bisa mengidentifikasikan pemikiran-pemikiran dan
aspirasi-aspirasi saya dengan bangsa Yahudi.

Karena kedua orangtua saya bukanlah Yahudi yang taat dan keduanya
sangat yakin akan perlunya orang Yahudi Amerika untuk berpikir,
berpandangan dan berperilaku seperti orang Amerika lain, maka setelah
dua tahun belajar di sekolah agama Yahudi, saya didaftarkan pada sistem
pendidikan Pergerakan Kebudayaan Etika yang didirikan oleh mendiang Dr.
Felix Adler pada dekade-dekade terakhir abad sembilan belasan.

Dalam buku anda Pandangan Islam tentang Etika, anda merujuk kepada
pergerakan humanis agnostik ini yang menolak landasan supranatural
nilai-nilai etika dan menganggapnya sebagai relatif dan buatan manusia.
Saya hadiri pengajaran di sekolah kebudayaan Etika itu seminggu sekali
selama empat tahun sampai saya tamat pada usia lima belas tahun.

Sejak itu hingga saya masuk sekolah Rabbi Katsh di Universitas New York
tahun 1954, saya menjadi seorang ateis tulen dan meremehkan semua
organisasi keagamaan ortodoks sebagai ketahayulan. Suatu hari di kelas,
Rabbi Katsh memberikan kuliah di hadapan para mahasiswa, ia
kemukakan alasan-alasan mengapa seluruh nilai-nilai etika yang tumbuh
sebagai hak bawaan universal setiap manusia bersifat mutlak dan
merupakan pemberian Tuhan, bukan ciptaan manusia dan tidak pula
relatif sebagaimana telah diajarkan kepada saya sebelumnya.

Saya lupa argumentasi khasnya, tetapi saya hanya ingat bahwa alasan-
alasan tersebut begitu masuk akal dan meyakinkan saya, sehingga hal ini
menandai suatu titik balik dalam kehidupan saya. Setelah saya pelajari Al-
Qur'an lebih dalam lagi, saya mulai sadar mengapa Islam dan hanya
agama Islam telah mampu membuat bangsa Arab menjadi bangsa besar.
Tanpa Al-Qur'an saat ini bahasa Arab mungkin telah punah. Paling-paling,
tanpa Al-Qur'an bahasa Arab akan menjadi kurang berarti dan tidak
dikenal seperti dulu. Keberadaan seluruh kesusasteraan dan kebudayaan
Arab berhutang banyak kepada Al-Qur'an. Karenanya, kebudayaan Arab
dan Islam tidak bisa dipisahkan. Tanpa Islam, kebudayaan Arab tidak akan
berarti penting dalam dunia internasional.

Walaupun kedua orangtua saya tidak dapat memahami penentangan saya


terhadap kebudayaan yang membesarkan saya, khususnya rasa
permusuhan saya terhadap Zionisme, mereka tetap memberikan
kebebasan untuk mencari dan mendapatkan pegangan hidup. Mulanya
mereka mencoba melemahkan semangat saya dengan mengatakan
bahwa keterlibatan saya akan menjauhkan saya dari mereka dan seluruh
keluarga. Tetapi saat ini, setelah mereka lihat saya begitu tetap hati,
mereka yakinkan saya bahwa mereka tidak akan menghalangi saya
berpindah agama atau menjalani kehidupan yang membuat saya bahagia.
Walaupun tetap meyakini pandangan-pandangan yang berlawanan
dengan saya hampir dalam segala hal, mereka tetap toleran dan lapang
dada. Betapapun tidak setuju, mereka tak pernah mengancam untuk tidak
mengakui saya sebagai anaknya. Alangkah bedanya dengan orangtua
Yahudi ortodoks, yang menganggap anaknya yang memeluk agama lain
sebagai telah mati.

Kemarin saya kunjungi Islamic Foundation di New York, imamnya adalah


Dr. Nuruddin Shoreibah, sarjana tamatan al Azhar. Ia ajari saya bacaan-
bacaan shalat lima waktu dalam bahasa Arab, sebagai persiapan untuk
menghadapi bulan Ramadan yang akan datang, karena saya bemiat
hendak melaksanakan ibadah puasa untuk pertama kalinya.

Saya serahkan pada anda untuk memutuskan, adakah lebih baik kita
bekerja bersama atau sendiri-sendiri, mengingat kita mengejar cita-cita
yang sama. Dengan surat saya yang panjang ini, ingin sekali saya ucapkan
terimakasib atas tawaran-tawaran yang telah anda sampaikan.

Salam takzim,
Margaret Marcus
-------------------------------------------------------------
Lahore, 25 Februari 1961

Nona Marcus yth..

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Surat anda yang panjang lebar tertanggal 31 Januari itu agak terlambat
sampai di sini. Maaf, karena saya tidak bisa segera membalas sebab
adanya kesibukan yang tak terhindarkan. Saya khawatir keterlambatan ini
akan menyebabkan anda tidak enak hati. Oleh karena itu saya mohon
maaf.
Saya mempelajari sketsa kehidupan anda dengan rasa tertarik dan
perhatian yang besar. Begitu selesai membaca, segera saya menyadari
bagaimana pikiran terbuka dan tanpa prasangka bisa menemukan Jalan
yang Lurus, asalkan berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus
menerus.

Kisah kesulitan, kesengsaraan dan kesedihan mental anda bukan


merupakan hal baru bagi saya. Bila seseorang mengalami konflik yang
keras dengan lingkungan sosialnya serta tidak mendapatkan simpati atau
penghargaan sedikitpun dari lingkungan mental maupun moralnya,
sungguh luar biasa bila sarafnya tidak mengalami kehancuran fatal.

Ketidakmampuan anda untuk menyesuaikan adalah akibat yang alami


daripada ketidak-cocokan antara anda dengan masyarakat anda. Tabiat,
citarasa, gagasan, kebiasaan dan seluruh kelakuan anda secara asasi
berbeda dari lingkungan masyarakat tempat anda tinggal. Pergesekan
yang terus-menerus bisa lebih merusak daripada yang kenyataannya
terjadi.

Anda tampak bagaikan seperti pohon muda di daerah Khatulistiwa yang


ditanam di zona Arktik dan anda tak bisa tidak dipaksa menghadapinya.
Tiap orang dapat tumbuh dan memancar sebaik-baiknya dalam suasana
cocok. Pada iklim permusuhan, seseorang cenderung kehilangan atau
dituduh sebagai telah kehilangan keseimbangan mental dan seluruh
kemampuannya, seakan-akan hilang sirna.

Alasan serupalah yang menyebabkan anda masih belum menikah;


masyarakat anda tidak menyukai tipe wanita seperti anda. Seluruh
kelebihan anda dipandang sebagai cacat. Tidak mungkin anda temukan
teman hidup sejati dalam keadaan sekarang ini. Jika anda paksakan
mengikat diri kepada seseorang di sana, anda tak akan mungkin bisa
menjalani kehidupan perkawinan yang baik atau berhasil.

Sejak surat anda yang pertama, telah saya pertimbangkan masalah anda
dengan penuh perhatian. Saya pikir anda harus memilih salah satu dari
dua pilihan. Pertama, anda harus bekerja secara terbuka untuk Islam di
Amerika dengan mengumpulkan simpatisan-simpatisan dan rekan-rekan
sekerja di sekitar anda, atau, yang kedua, anda pindah ke suatu negara
Islam, sebaiknya Pakistan. Tidak mudah bagi saya untuk memilih salah
satu alternatif yang sesuai dengan anda, karena hal ini tergantung pada
lingkungan dan kemampuan anda yang tentunya anda sendiri yang
memahaminya dengan baik.

Saya hanya mampu menyampaikan bahwa bila anda hendak hijrah dan
tinggal di Pakistan, anda akan berada di tengah-tengah orang-orang yang
sependirian, hanya saja dengan bahasa yang berbeda. Insyaallah di
Pakistan akan anda dapatkan segenap dukungan serta dorongan moral
dan material Lebih lagi, besar kemungkinan anda temukan orang muslim
yang takwa, yang dapat menjadi teman hidup anda.

Bila anda berada di Pakistan, saya dapat memberikan segala pertolongan.


Tetapi sayang sekali saya tidak dapat membantu perjalanan anda dari
Amerika ke Pakistan, mengingat adanya pembatasan-pembatasan yang
sangat ketat terhadap lalu-lintas luar negeri.

Saya benar-benar berharap agar orangtua anda, yang menaruh harapan


baik bagi anda, tidak menghalangi pilihan anda. Mereka seharusnya
menyadari kenyataan bahwa bila anak putrinya dipaksa untuk hidup
dalam iklim yang buruk, akibatnya tidak hanya akan memaksa anaknya
hidup dalam keputusasaan, tetapi lebih dari itu, putrinya akan mengalami
goncangan-goncangan syaraf yang membahayakan.

Tetapi sebaliknya, bila ia cukup beruntung dan mendapatkan suasana


beruntung dan mendapatkan suasana sosial yang cocok lagi bersahabat,
pikirannya akan kembali sehat dan bersemangat, dan akan menjalani
kehidupan yang produktif dan bermanfaat. Saya pikir, begitu mereka
sadar akan hal ini sepenuhnya, maka tak akan anda temui halangan dari
pihak mereka. Malah, ada kemungkinan akan mereka terima usulan-
usulan saya.

Anda tanyakan buku Islam di Simpang Jalan. Buku tersebut sudah saya
baca dan juga buku-buku karya Muhammad Asad lainnya. Saya telah
berkesempatan untuk berkenalan secara pribadi dengannya tidak lama
setelah ia memeluk Islam, ketika ia tinggal di anak benua Indo-Pakistan.

Mungkin menarik bagi anda untuk mengetahui, bahwa Muhammad Asad


juga keturunan Yahudi (Austria). Saya sangat kagum akan pikiran-
pikirannya tentang Islam, khususnya kritikan-kritikannya terhadap
kebudayaan Barat dan filsafat materialistik. Namun demikian, sayang
sekali, meskipun di awal keislamannya ia seorang muslim yang begitu
kukuh dan taat, tetapi secara perlahan-lahan ia bergeser mendekati jalan
apa yang sering disebut sebagai muslim "progresif", sebagaimana Yahudi
yang "diperbaharui".

Belakangan ini, perceraian dengan istri Arabnya dan kemudian


perkawinannya dengan gadis Amerika modern, dengan pasti
mempercepat proses ini. Walaupun kenyataan-kenyataan yang
mengharukan ini tidak bisa dipersoalkan apalagi dibenarkan, namun
dalam masalah ini saya tidak bisa terlalu menyalahkannya. Ketika saya
bertemu pertama kali di tahun-tahun pertama keislamannya, perubahan-
perubahan yang menggembirakan terjadi dalam hidupnya.

Tetapi, sekali seseorang menjalani kehidupan sebagai orang Islam sejati,


segera saja semua kemampuannya kehilangan "nilai pasar" nya. Cerita
sedih yang sama juga menimpa Muhammad Asad. Sebelum itu ia sudah
terbiasa hidup dengan standar tinggi lagi modern. Sesudah memeluk
Islam, ia harus menghadapi kesulitan-kesulitan ekonomi yang teramat
berat.

Akibatnya, ia terpaksa melakukan kompromi-kompromi. Saya selalu


berharap, meskipun dengan terjadinya perubahan-perubahan ini, cita-cita
dan pendirian-pendiriannya tidak berubah, walaupun kehidupan sehari-
harinya telah mengalami perubahan. Nabi besar Muhammad saw pernah
bersabda bahwa, akan datang suatu masa bila seseorang mengikuti
jalannya, ia seolah sedang memegang bara api dalam genggamannya.
Nubuatannya ini telah terbukti.

Akhir-akhir ini, bila seseorang, laki-laki maupun perempuan, hendak


mencoba melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ia akan menghadapi
tantangan-tantangan yang keras dalam setiap langkahnya dari peradaban
materialistik. Seluruh lingkungannya berbalik memusuhi muslim itu. Ia
akan dipaksa untuk berkompromi atau tetap berada dalam suasana
pertentangan dengan masyarakat. Syaraf yang paling kuat dan tahan uji
mutlak diperlukan untuk perjuangan yang tidak mengenal henti ini.

Sudahkan anda berhubungan dengan Islamic Centre di Washington D.C.


atau di Montreal yang mungkin bermanfaat bagi anda? Alamat Islamic
Centre di montreal adalah: The Islamic Centre, 1345 Red Path Crescent,
Montreal - 2, Quebeq, Canada.

Terima kasih atas perhatian yang tulus dari anda terhadap keselamatan
saya sehubungan dengan kepergian saya ke Afrika yang akan datang.
Alhamdulillah, negara-negara di benua Afrika yang akan saya kunjungi ada
dalam keadaan yang sangat aman dan damai. Saya bermaksud
mengunjungi Somalia, Kenya, Uganda, Tanganyika, Zansibar, Mauritus dan
Republik Afrika Selatan. Di negara-negara tersebut terdapat banyak orang
India, Pakistan dan Arab yang muslim. Dengan bantuan mereka saya
berharap dapat meningkatkan dakwah Islam di sana.

Benar-benar dapat saya pahami kebingungan anda terhadap Presiden


Nasser. Sebaliknya daripada seorang pembela Islam, tangan bengisnya
dilumuri darah merah para syuhada. Dengan kejam ia tindas al-lkhwanul
Muslimin. Dialah yang telah menghancurkan kekuatan Islam di dunia Arab.
Paling sedikit ia memiliki empat lidah dalam satu mulut. Bila berbicara
kepada orang Mesir, ia katakan: "kita adalah putra-putra Firaun." (ia
dirikan patung raksasa Ramses II yang dikutuk sebagai Firaun sang
penindas di alun-alun Kairo).

Bila berbicara kepada dunia Arab, dia katakan: "Kita adalah bagian dari
satu bangsa Arab yang agung". Bila berbicara kepada masyarakat umum
Afrika dia berupaya sok menjadi eksponen dan penyambung lidah mereka.
Baru-barn ini ia berusaha untuk meniup terompet "Suara Islam" lewat
Radio Kairo, karena hal ini sesuai dengan kepentingan dan strateginya.

Petualang-petualang jahat seperti dia tidak akan pernah mengabdi untuk


perjuangan Islam. Hanyalah mujahid yang tidak kenal pamrih --ikhlas,
sederhana dan tidak kenal kompromi, yang siap mengorbankan segenap
kepentingan pribadinya dan menyerahkan kehidupannya ke haribaan
Islam-- yang bisa melakukan hal ini.

Sungguh saya amat bahagia mengetahui bahwa anda telah menjadi orang
Islam yang taat dan telah mulai melaksanakan shalat lima kali sehari, dan
pula telah menjalankan ibadah puasa. Akan hal ini, saya ucapkan selamat
kepada anda. Saya berdoa kepada Allah semoga Dia selalu menguatkan
hati dan membantu anda di atas jalan Islam.

Hormat saya,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 8 Maret 1961

Maulana Maududi yth

Saya terima surat anda tertanggal 25 Februari 1961 yang membuat saya
sangat bahagia, karena saya dapatkan jawaban yang terperinci dan
bijaksana tentang berbagai hal yang sudah lama saya timbang-tunbang
dengan serius sejak dalam pikiran saya.
Bersama ini saya sertakan esai-foto dari majalah Look tentang mode
mutakhir pakaian wanita. Bagi saya hal itu amat menjijikkan dan saya
tolak mentah-mentah. Lebih baik mati daripada saya tampak
mengenakannya. Tujuan para perancang mode di Amerika dan Eropa
dalam membuat berbagai rancangan adalah untuk membuat wanita
Barat-modern tampak seperti pelacur. Pelacur-pelacur sekalipun tidak
melakukan hal seekstrim yang dilakukan oleh mereka yang disebut-sebut
sebagai wanita "terhormat". Oscar Wilde menyatakan kebenaran tatkala
berbicara bahwa mode adalah sesuatu yang sangat buruk, ia harus diubah
tiap enam bulan. Salah satu fungsi pakaian adalah tentunya untuk
kesopanan. Seperti yang anda saksikan dalam gambar tersebut, mode
Barat-modern untuk wanita itu dirancang secara khusus untuk seks yang
dikomersilkan.

Upaya paling pertama yang saya lakukan setelah memeluk Islam dan
melakukan shalat adalah memperpanjang pakaian-pakaian saya. Keluarga
saya terkejut ketika melihat saya berpakaian panjang sampai menyentuh
mata kaki, sementara waktu itu para wanita berpakaian pendek sampai
lutut.

Di majalah-majalah populer Amerika dilancarkan propaganda yang gencar


tentang meningkatnya "emansipasi" di kalangan wanita di negara-negara
Islam, tentu saja sebagai dampak dari pendidikan Barat dan pengaruh
media-massa. Walaupun saya yakin bahwa setiap wanita mesti dididik
agar bisa memanfaatkan sepenuhnya kapasitas intelektualnya, namun
tetap saya pertanyakan keuntungan menganjurkan perempuan bekerja di
luar rumah (lebih-lebih bagi mereka yang mempunyai anak kecil), untuk
berlomba dengan lelaki di kantor-kantor dan pabrik-pabrik sambil
menyerahkan asuhan anak-anak mereka kepada taman kanak-kanak dan
penunggu-anak.

Beginilah yang benar-benar terjadi di Uni Sovyet dan Cina Komunis;


negara-negara yang para penguasanya menggunakan "emansipasi"
wanita dengan sengaja untuk menghancurkan keluarga. Dalam tingkat
yang lebih ringan, situasi seperti ini terjadi pula di negara saya.

Cerita anda tentang Muhammad Assad dalam surat yang lalu membuat
hati saya terguncang dan sedih. Tidak pernah saya menaruh rasa curiga,
bahwa dari tulisan-tulisannya yang terakhir, maupun dari surat-suratnya
kepada saya, bahwa ia bukan orang muslim yang kukuh dan taat. Tidak
bisa saya lupakan tulisannya yang luar biasa dalam bukunya Islam at the
Cross-road (Islam di Simpang Jalan), tentang perlunya orang Islam
mengikuti al-Qur'an dan Sunnah dengan ketat bila diharapkan Islam bisa
bertahan dan berkembang. Argumentasi-argumentasinya tentang Islam
sungguh sangat nyata. Selain karena kesulitan keuangannya sebagaimana
yang anda ceritakan, saya tak habis pikir mengapa pikirannya dapat
berubah seperti itu. Saya berdoa kepada Allah agar hal yang serupa tidak
menimpa diri saya.

Dapatkah anda terangkan secara terperinci tentang program-program


yang anda gariskan untuk Universitas Islam Raja lbnu Saud yang baru?
Semula saya perkirakan bahwa universitas tersebut akan menganut model
dan pola al-Azhar. Tetapi beberapa hari yang lalu saya baca artikel yang
mengatakan bahwa universitas yang direncanakan tersebut pada
pokoknya bersifat sekular dan berpola Barat, dengan studi Islam hanya
merupakan bagian kecil saja daripada kurikulum.

Artikel yang sama juga menguraikan rencana Raja Ibnu Saud untuk
mengadakan pembangunan kembali kota Makkah dan Madinah. Walaupun
saya tahu bahwa banyak bangunan-bangunan kuno di kota suci tersebut
telah usang dan sangat memerlukan perbaikan, saya hanya berharap agar
bangunan-bangunan yang baru akan disesuaikan dengan arsitektur Islam,
karena seluruh suasana di tempat itu akan rusak-binasa bila mereka
meniru model-model ultra modern itu.

Saya sendiri tidak menyukai arsitektur modern karena ia bertentangan


dengan kriteria-kriteria keindahan, simetri, keanggungan dan kehangatan.
Setiap kali saya kunjungi markas besar PBB (contoh bangunan modern
yang menonjol), saya seolah-olah terpukul oleh kesuraman, kegersangan
dan kedinginan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi itu yang
nampak tidak lebih daripada kotak-kotak raksasa berjendela kaca.

Saya pikir arsitektur kontemporer yang menjadikan kota-kota kita


berwajah lebih buruk setiap hari itu adalah pantulan yang sempurna dari
penolakan seluruh nilai-nilai rohani oleh para perancangnya, Kota Makkah
Madinah jauh lebih baik tetap tua dan bahkan bobrok daripada meniru
kota-kota modern.

Walau sedikitpun saya tidak tahu tentang Islamic Centre di Montreal


sampai anda menceritakannya pada surat yang baru lalu, namun sejak
setesai dibangun tahun 1957, saya selalu melakukan kontak dengan
Masjid Washington. Musim panas yang lalu saya melakukan perjalanan ke
Washington hanya untuk melihatnya, berbicara serta bertukar pikiran
dengan direkturnya, Dr. Mahmud F. Hoballah, yang seperti halnya Dr.
Syoreibah adalah lulusan universitas al-Azhar.

Masjid Washington dibangun secara serasi dan sesuai dengan arsitektur


Islam tradisional, seindah masijid-masjid lain di tempat lain di dunia ini.
Satu hal yang membuat saya bersedih adalah bahwa penguasa
Washington tidak mengizinkan dikumandangkannya azan lewat menara,
dengan pertimbangan akan menganggu daerah non-muslim dan mereka
menganggapnya sebagai gangguan umum. Mesjid hanya dipakai untuk
shalat Jum'at Sepanjang pengamatan saya, jumlah jemaah yang
mengunjungi masjid itu hampir mendekati nol.

Tahukah anda akan adanya kampanye menentang puasa bulan Ramadan


yang dilancarkan oleh Presiden Tunisia, Habib Borguiba? Dia
mengeluarkan pernyataan bahwa puasa berbahaya bagi kesehatan dan
puasa bertanggung jawab terhadap kemunduran-kemunduran ekonomi
Tunisia, karena produksi industri mengalami penurunan selama Bulan
Puasa. Adapun orang yang memaksakan untuk melaksanakan ibadah
puasa difitnah sebagai "reaksioner".

Target utama gigitan berbisa dari Presiden Habib Borguiba ditujukan


kepada Rektor Universitas Zaitunah, universitas yang selama beberapa
abad merupakan pusat pendidikan Islam di Afrika Utara. Saya telah baca
dari surat kabar bahwa setiap mendekati Bulan Puasa di Uni Sovyet kaum
komunis memperhebat propagandanya melawan Islam. Propaganda
komunis yang ditujukan untuk konsumsi dalam negeri ini tidak pernah
lupa menekankan kehancuran ekonomi akibat Puasa Ramadhan, dengan
alasan bahwa pekerja pabrik atau petani akan kehabisan tenaga
disebabkan puasanya.

Alasan lain adalah bahwa orang Islam yang berhenti bekerja untuk
melaksanakan shalat dianggap telah melakukan penyabotan terhadap
produktifitas nasional. Walaupun Habib Borguiba dianggap sebagai
sahabat karib demokrasi Barat, namun dia sama sekali memakai taktik-
taktik yang sama dalam menentang Ibadah Puasa Ramadhan.

Kenalkah anda dengan orientalis Dr. Wilfred Cantwell Smith, direktur


Institute of Islamic Studies, McGill University di Montreal? Bila kenal,
pernahkah anda baca bukunya Islam in Modern History (Islam dalam
Sejarah Modern) yang temanya bahwa Islam yang disampaikan dan
diamalkan oleh Rasulullah saw kepada alam sebagai "ketinggalan zaman",
dan mestinya menerima sekularisasi dan modernisasi bila diinginkan agar
Islam tetap bertahan di masa depan? Dalam bab tentang Pakistan, dia
mengatakan tentang anda sebagai berikut:
"... Maududi hendak menampilkan Islam sebagai suatu sistem, yang
dahulu kala memberi satu himpunan-jawab terhadap masalah-masalah
kemanusiaan, dan bukannya suatu keyakinan yang di dalamnya Tuhan
memberi karunia tiap hari-baru dengan kekayaan yang bisa menjawab
masalah itu sendiri ... Kecenderungan-kecenderungan modern akan
memandang sistem Maududi ini sebagai ketinggalan zaman, sempit,
ketetapan-ketetapan dan bentuknya terlalu tegar untuk bisa menampilkan
imperatif-imperatif tersebut bagi masa kini, dan hendak mencari
kebenaran Islam lebih banyak dalam bidang nilai, dinamika dan semangat
... Lebih jauh lagi, dinilai dari pemaparan Maududi sendiri, akan tampak
bahwa ia bertujuan untuk melaksanakan sistemnya di Pakistan bila ia
dapat memperjuangkan kelompoknya untuk menduduki kekuasaan. Juga
dalam bentuk sistematis yang keras, Maududi menunjukkan kecilnya
perhatian, baik bagi kesejahteraan manusia umumnya maupun pribadi-
pribadi yang akan hidup di bawah kekuasaannya. Ideologinya tampak
hanya memberikan sedikit kelonggaran bagi harapan-harapan dan
ketulusan rakyat ataupun untuk kecenderungan yang oleh para penguasa
sudah sering ditunjukkan lewat sejarah manusia untuk menyimpangkan
skema yang paling baik sekalipun oleh penyimpangan individu ...
Pergerakan Maududi merupakan kompromi dan adaptasi antara sejarah
Islam belakangan dengan tuntutan kehidupan modern yang ia sarikan bagi
pola statiknya, dan bukannya suatu pandangan kreatif."
Karena saya tahu bahwa bila surat ini sampai di tangan anda nanti, anda
betul-betul sangat sibuk dengan persiapan perjalanan ke Afrika, maka
saya tidak mengharapkan jawaban anda sampai anda kembali berada di
Lahore lagi akhir Mei nanti.

Sahabat anda yang tulus,


Margaret Marcus
-------------------------------------------------------------
Lahore, 1 April 1961

Nona Marcus yth

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Surat anda tertanggal 8 Maret 1961 telah sampai di sini dengan segera,
tetapi tidak dapat saya balas lebih cepat karena kesehatan saya
terganggu. Sejak pertengahan Ramadan saya menderita nyeri yang amat
sangat lagi terus menerus di bahu kanan saya. Pengobatan yang diberikan
sejauh ini belum bisa menyembuhkannya. Akhirnya, dokter menasehatkan
agar saya diberi penyinaran sinar X yang kuat.

Telah saya baca surat anda dengan penuh rasa tertarik. Gambar pakaian
wanita Amerika yang anda kirimkan itu bukan berita baru bagi saya. Telah
sering kami lihat wanita Eropa dan Amerika di Lahore mengenakan
pakaian dengan mode serupa. Saya telah melihat wanita Arab di Kairo,
Beirut dan Damaskus yang berkeliaran dengan pakaian yang sama.
Sungguh tidak dapat saya bayangkan bagaimana seorang wanita yang
punya rasa kesopanan bisa berpakaian seperti itu, walaupun di antara
keluarga terdekatnya sekalipun, apalagi di luar rumah!

Saya benar-benar berbahagia mengetahui betapa anda memandang


rendah terhadap bentuk pakaian seperti ini. Jika anda bisa belajar bahasa
Arab atau Urdu dan belajar secara langsung perintah-perintah terperinci
Nabi Muhammad saw berkenaan dengan wanita, saya berharap, akan
anda dapati hal tersebut sangat sesuai dengan sifat kewanitaan sejati.

Peran sosial yang harus dimainkan oleh wanita Barat itu bukanlah
merupakan "emansipasi" yang sebenarnya, tetapi merupakan perbuatan
yang tidak wajar dan perbudakan. Sebagai hasil dari propaganda yang
salah dan menyesatkan ini, kaum wanita mencoba untuk membuang sifat
kewanitaan mereka sendiri. Mereka pikir, menduduki tempatnya yang
alami dalam kehidupan dan melaksanakan tugas-tugas yang dikenakan
oleh alam akan memerosotkan diri mereka. Mereka malah mengejar
kehormatan dengan upaya-upaya kelaki-lakian.

Peradaban Barat telah terbukti berlaku sangat kejam terhadap


kewanitaannya. Di satu pihak ia menuntut agar wanita menduduki
kodratnya sebagai wanita, tapi di pihak lain peradaban ini mengajak
mereka untuk menduduki dan mengerjakan berbagai pekerjaan kaum pria.

Dengan demikian, wanita diletakkan persis di antara dua batu gerinda.


Lagi pula, propaganda seperti ini telah memikat kaum wanita, sehingga
mereka merasa harus membuat diri mereka lebih menarik bagi lawan
jenisnya. Dengan demikian mereka telah memperkosa kesopanan mereka
dengan mengenakan pakaian yang minim atau bahkan telanjang. Mereka
telah dijelmakan menjadi barang mainan di tangan kaum lelaki.

Islam telah membuktikan diri sebagai penyelamat kaum wanita, dengan


mengikatkan setiap wanita kepada seorang laki-laki dan
memerdekakannya dari semua laki-laki lain. Islam memberikan nilai yang
tinggi bagi kegiatan-kegiatan yang dikaruniakan oleh alam kepada kaum
wanita. Peradaban Barat, di lain pihak, telah menjadikan kaum wanita
sebagai budak banyak kaum lelaki dan melekatkan pengertian yang salah
dengan menganggap seluruh tugas yang seharusnya cocok untuk kaum
wanita sebagai memalukan.

Keterangan anda tentang Universitas Islam Madinah itu tidak benar.


Kurikulum yang saya ajukan dan telah disetujui oleh panitia yang ditunjuk
oleh Raja terdiri dari pengajaran al-Qur'an, Fikih, Ilmu Kalam dan Sejarah
Islam yang dikombinasikan dengan Filsafat Barat, Ilmu Hukum, Sejarah,
Ekonomi, Politik dan Perbandingan Agama, ditambah satu bahasa Barat:
Perancis, Inggris atau Jerman sebagai pilihan wajib. Pendidikan yang
wujudnya seperti ini tidak bisa dikatakan "sekular" ataupun agamis dalam
arti sempit masing masing istilah tersebut.

Kami menghendaki agar Universitas ini betul-betul berbeda dari sekolah-


sekolah modern atau madrasah model lama dan mempunyai kedudukan
yang sama sekali unik. Ingin kami cetak sarjana-sarjana muslim yang
benar-benar memahami ajaran Islam yang dikombinasikan dengan
pengetahuan modern, sehingga mereka akan berkompeten untuk
menerapkan nilai-nilai pokok Ajaran Islam kepada masalah kehidupan
masa kini.

Seperti negara-negara Islam yang lain, Saudi Arabia saat ini merupakan
ajang perbenturan dua peradaban yang saling bertentangan. Penemuan
minyak telah memberikan kekayaan yang tidak terimpikan dan melimpah
ruah. Akhirnya, pintu air penahan peradaban Barat telah terbuka lebar.
Riyadh modern saat ini sedang tumbuh sebagai tiruan dari ibukota
negara-negara Barat di padang pasir Arab, demikian pula kota-kota
Dhahran dan Jeddah. Bahkan Makkah dan Madinah pun sedang dalam
proses "pemodernan".

Pada saat kritis seperti ini, bila kita gagal menghasilkan sarjana kelas
wahid yang dapat membekali negara Arab dengan kepemimpinan
intelektual dan praktis yang dibutuhkan, saya khawatir tempat suci Islam
ini akan disapu bersih oleh gelombang kebudayaan materialistik yang
telah menimpakan malapetaka di Turki. Dan sekarang, Mesir, Tunisia,
Maroko, Indonesia dan Pakistan sedang menderita genggaman mautnya.
Saya pikir, tugas utama kita adalah menyelamatkan pusat Islam dari
bahaya yang terus meningkat ini.

Presiden Tunisia, Habib Bourguiba dengan taat kini mengikuti Mustafa


Kemal Ataturk. Kesemua orang ini yang ingin disebut sebagai pemimpin
Islam modern ini telah melakukan pengkhianatan besar-besaran di
negerinya masing-masing. Ketika mereka lancarkan perjuangan untuk
mengusir penjajah Barat, mereka bujuk orang atas nama Islam. Tetapi
segera setelah mereka pegang kekuasaan, mereka anggap agama sebagai
kambing hitam "kemunduran" bangsa. Dengan tanpa ampun mereka
padamkan segala pewujudan pemikiran dan kebudayaan Islam. Orang-
orang seperti itulah produk imperialisme. Mereka tak punya pengetahuan
ataupun penghargaan terhadap Islam. Mereka dididik dan dibesarkan di
Inggris, Perancis atau negara Eropa yang lain.

Banyak di antara mereka yang menikah dengan wanita barat (istri


Bourguiba orang Perancis). Mereka benar-benar merupakan prototip
masyarakat Barat dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Umat Islam
harus menerima kepemimpinan mereka agar dapat memenangkan
kebebasan politik mereka dan kini pemimpin-pemimpin yang ter-eropa-kan
ini berusaha melenyapkan sisa-sisa terakhir peradaban Islam dari negeri
mereka demi mengamankan dan memperkuat kekuasaan politik mereka.

Dr. Wilfred Cantwell Smith pernah bertemu muka dengan saya di tahun
1958 ketika dia menghadiahkan saya sebuah salinan pelengkap dari buku
yang anda sebutkan dalam surat yang lalu. Orang-orang ini tidak berhasil
membuat Islam Baru untuk kita. Sia-sia mereka berharap agar kita
meninggalkan Islam yang benar dari Qur'an dan Sunnah untuk menerima
model yang mereka ciptakan. Mereka tidak sadar bahwa semua usaha
mereka ditakdirkan akan gagal. Seorang muslim harus tetap menjadi
muslim dalam bentuknya yang murni, dan Allah melarangnya untuk
menyeleweng dari sumber Islam yang murni. Sebab itu, mestilah ia pilih
jalan tengah antara keduanya, dan kesempatan-kesempatan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup Islam suam-suam kuku seperti ini
sangatlah suram.

Saya terheran-heran melihat ketololan penguasa-penguasa Barat. Di satu


pihak mereka ingin agar orang Islam menghajar Komunis karena mereka
ateis, tetapi di lain pihak mereka anggap Islam sebagai ancaman. Karena
itu mereka berusaha melakukan de-lslamisasi orang-orang Islam dan
menggalakkan segala bentuk bid 'ah dan kemurtadan. Alangkah
kasihannya orang-orang yang tidak mengerti akibat ketololan mereka ini.
Mereka selalu mendorong unsur-unsur yang terus menyusupkan nilai-nilai
yang bertentangan dengan Islam ke dalam negara Islam, dan tak pernah
lelah mengutuk orang-orang yang berjuang untuk mempertahankan ruh
Islam dan mernfitnahnya sebagai "reaksioner" dan "fanatik". Tak cukup
puas dengan kecaman-kecaman seperti itu, mereka jadikan pemimpin
modern sebagai alat untuk memojokkan orang Islam yang selalu berjuang
demi kebangunan Islam. Hanya Tuhanlah yang tahu apa yang akhirnya
akan terjadi akibat sikap yang tidak bijak lagi sesat dari orang-orang Barat
pengkritik itu.

Dr. Wilfred Cantwell Smith dan rekanan-rekanannya di kalangan kita mesti


yakin bahwa mayoritas orang Islam samasekali tak akan mungkin
menerima dan mempercayai "Islam" versi baru ini sebagai ajaran yang
murni. Syukur kepada Allah, bahwa sumber Islam yang murni al-Qur'an
dan Sunnah masih tetap perawan dan tidak tercampur. Selama masih ada
seorang muslim yang dapat menggunakan sumber-sumber asli ini, maka
tak akan ada terbitan palsu yang bisa beredar luas dan dipakai di
kalangan umat Islam. Perjalanan saya ke Benua Afrika mungkin akan
tertunda sampai bulan Juli, karena kesehatan saya tidak memungkinkan
untuk bepergian. Lagi pula, teman Afrika saya menganggap bahwa
perjalanan saya akan lebih bermanfaat bila kerusuhan akibat pemilihan
umum di Kenya telah reda dan ketenangan politik telah pulih kembali.

Teriring salam dan segala harapan,


Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 12 April 1961

Maulana Maududi yth,

Assalamu'alaikum,

Saya sangat terkejut ketika tahu bahwa anda tidak bisa melakukan
perjalanan ke Afrika karena buruknya kesehatan anda dan telah menderita
sakit selama hampir dua bulan. Saya hanya bisa berharap agar dokter bisa
segera mendapatkan pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan rasa
nyeri anda tersebut. Dalam keadaan menderita sakit seperti itu, tentunya
anda harus bersusah payah untuk mengetik surat yang sedemikian
terperinci bagi saya dan untuk menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan
yang saya ajukan.

Akhir-akhir ini tampaknya setiap orang secara terus-menerus diberondong


oleh radio, televisi dan persuratkabaran akan perlunya "peningkatan
standar hidup" dan "pembangunan ekonomi" di negara-negara yang
disebut-sebut sebagai "terkebelakang". Untuk ini, bantuan luar negeri
secara besar-besaran dari Amerika Serikat ataupun dari Sovyet dianggap
penting. Apa yang disebut-sebut sebagai "pembangunan ekonomi" di
negara "terkebelakang" telah menjadi suatu tuntutan. pembangunan
ekonomi di negara-negara terkebelakang diartikan sebagai urbanisasi,
industrialisasi dan mekanisasi pertanian. Praktis bisa dikatakan bahwa
slogan "pembangunan ekonomi" semata-mata merupakan alat untuk
menyebarkan westernisasi dan perusakan menyeluruh terhadap budaya
asli Asia-Afrika.

Upaya pemberantasan buta huruf dan memperluas pendidikan selalu


ditekankan, tetapi hal itu di masa sekarang dalam lingkup pendidikan
hanya berarti pendidikan sekular di sepanjang garis yang murni Barat
sembari menekankan teknologi. Sarana-sarana Islam untuk menegakkan
keadilan sosial dan pembagian kekayaan yang lebih merata seperti zakat,
hukum warisan, yayasan-yayasan wakaf dan larangan bunga sama sekali
diabaikan. Satu-satunya gerakan pada masa kini yang saya ketahui
berupaya untuk mewujudkan keadilan sosial sesuai dengan metoda-
metoda Islam adalah organisasi yang telah dibubarkan oleh pemerintah,
yakni, al-lkhwanul Muslimun yang didirikan oleh Shaikh Hassan al-Banna
pada tahun 1928.

Selama masa remaja dulu, saya sangat tertarik pada cita-cita badan-
badan PBB seperti UNESCO, karena saya selalu berfikir tentang yang serba
internasional dan tertarik pada upaya-upaya melanjutkan lebih jauh
pertukaran kebudayaan dan pemahaman yang lebih baik antara bangsa-
bangsa di dunia. Tetapi belakangan ini saya mulai kurang memperhatikan
hal-hal seperti itu, termasilk UNESCO sekalipun. Sudah saya baca hampir
seluruh penerbitannya sejak didirikannya ketika saya masih seorang anak
berumur 12 tahun di tahun 1946. Walaupun penerbitan-penerbitan
tersebut diinginkan agarbenar-benar obyektif dan tidak memihak, toh
mereka juga berprasangka terhadap Islam seperti halnya penerbitan
berkala Barat lainnya. Akhirnya, dapat saya ambil kesimpulan bahwa
badan-badan PBB hanyalah sebuah alat lagi untuk menyebarkan
westernisasi dan materialisme modern. Direktur UNESCO yang pertama
tidak lain adalah Sir Julian Huxley, cucu ahli biologi Inggris terkenal, Sir
Thomas Huxley, dan pengarang sejumlah buku yang terkenal akan
ateisme dan materialismenya.

Bab terakhir dari novel saya, Ahmad Khalil: The Biography of a Palestinian
Arab Refugee, telah diterbitkan sebagai cerita pendek dalam dua buah
majalah edisi Maret 1961, yakni The IslamicReviews di Woking dan The
Ramadan Annual of the Muslim, Digest dari Durban. Sejak itu terus saya
terima banyak surat dari orang-orang Islam yang berkeberatan terhadap
penggambaran saya yang dilandasi dengan rasa simpati tentang
kehidupan orangArab "tradisional" dan "zaman pertengahan", seperti
memakai pakaian asli, makan dengan jejari dari satu piring, tidur di atas
permadani atau kasur di lantai dan seterusnya. Mereka melemparkan
tuduhan bahwa saya telah menimpakan kerusakan berat atas orang Arab
dengan menggambarkan kehidupan tokoh saya dalam bentuk
"kemunduran" seperti itu. Bagaimana pendapat anda?

Saya kira, elite penguasa di Asia dan Afrika yang berpendidikan modern
begitu tergoda dengan kegandrungan untuk melakukan "pembangunan"
negara mereka masing-masing, bukan karena mereka betul-betui
memperhatikan kesejahteraan kaum miskin, akan tetapi karena malu akan
mereka. Mereka menderita penyakit rendah diri (inferiority-complex) yang
parah setiap kali negara mereka dijuluki sebagai "mundur". Saya kira
kegandrungan industrialisasi bukan berasal dari keinginan untuk
mendapatkan manfaat positif bagi negara, melainkan karena pabrik-pabrik
besar, bendungan-bendungan raksasa dan pembangkit listrik tenaga-air
akan menaikkan gengsi dan kehormatan negara tersebut di mata
sebagian negara maju. Tidak ada perbedaan antara bangsa-bangsa dan
pribadi-pribadi yang selalu bersitegang-syaraf untuk mengumpulkan
kekayaan sebanyak-banyaknya dengan maksud agar mereka bisa
berlagak dan membual tentangnya.

Kitab suci al-Qur'an mengikhtisarkan masalah ini dengan indah sebagai


berikut: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu hanyalah pemainan
dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara
kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak" Ayat
Al Qur'an ini tampak lebih berlaku di masa sekarang daripada di zaman
Nabi.

Sekarang saya dapat mengerti mengapa iman terhadap Hari Akhir adalah
merupakan bagian yang sedemikian penting dari Islam dan mengapa ia
ditekankan hampir di setiap ayat al-Qur'an. Begitu seseorang mulai
beriman kepada Hari Akhir, maka nilai-nilai dunia yang dipandang hebat
menjadi kehilangan artinya. Iman kepada Hari Akhir sekaligus memberi
wawasan yang benar tentang kehidupan kepada orang yang beriman,
sehingga ia mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan
mana yang tidak. Kemudian ia akan mulai mendambakan benda-benda
yang abadi dan bukannya benda-benda material yang ditakdirkan akan
musnah segera tanpa bekas. Beriman pada Pengadilan Tuhan di Hari Akhir
merupakan satu-satunya sanksi yang efektif di samping hukum moral.
Tanpa Iman pada Hari Akhir, agama tak punya arti. Apabila Hari Akhir itu
adalah suatu keperluan moral seperti itu, maka ia tidak mungkin
merupakan hasil khayalan belaka, sebagaimana dibilang para skeptik,
melainkan harus merupakan suatu hakikat obyektif.

Telah saya ceritakan kepada anda betapa saya merasa terasing dari
orang-orang yang punya pemikiran yang sama. Di New York ini, terdapat
sekelompok kecil orang-orang muslim yang saya temui di masjid setiap
saya ikuti pelajaran bahasa Arab. Pada hari Jum'at, saya pergi ke
Universitas Columbia untuk berkumpul dengan sejumlah mahasiswa
muslim dari berbagai negara (termasuk Pakistan) untuk melaksanakan
shalat Jum'at dan kemudian makan bersama sambil berdiskusi. Tetapi
pikiran-pikiran mereka bentrok dengan pikiran saya sebanyak dengan
orangtua saya di hampir segala hal. Mereka begitu yakin bahwa Islam
harus dirujukkan dengan peradaban Barat modern, demikian pula cita-cita
dan praktek-prakteknya harus disesuaikan dengannya. Beberapa di
antaranya bahkan mengkritik ajaran-ajaran asasi Islam. Beberapa yang
lain meragukan keaslian Hadits.

Walaupun saya telah berusaha untuk selalu bersikap sopan dan bijaksana,
saya tetap tidak bisa meyakinkan mereka dan mereka pun tidak bisa
meyakinkan saya. Saya selalu berpisah dengan mereka dengan perasaan
frustrasi. Guru bahasa Arab saya di masjid, orang Kairo asli, mengatakan
pada saya, bahwa dia menganggap menjadi seorang Mesir baginya sama
penting dengan keislamannya. Dia berusaha meyakinkan saya bahwa
nasionalisme sama sekali bukannya barang impor dari Barat, melainkan
telah tertanam di lubuk hati setiap orang.

Sekarang saya hendak bertanya pada anda, apa yang bisa saya kerjakan
berkenaan dengan soal ini? Jauh sebelum November 1959, telah saya tulis
sejumlah artikel yang diterbitkan oleh beberapa majalah Muslim
berbahasa Inggris, untuk membela pendapat semacam ini, tetapi ini saja
tidak cukup. Saya sungguh akan bersenang hati bila anda dapat
menerangkan tentang upaya praktis apa di samping menulis yang telah
dan sedang anda lakukan dalam soal ini.

Dengan segala doa demi perbaikan kesehatan anda, saya sampaikan


salam untuk anda beserta keluarga.

Hormat saya,
Margaret Marcus
-------------------------------------------------------------
Lahore, 19 Mei 1961

Nona Marcus yth.

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Telah saya teriina surat anda tertanggal 12 April dan lagi-lagi saya harus
nnuita maaf karena terlambat menjawabnya. Alasannya, seperti yang
telah anda ketahui, adalah buruknya kesehatan saya dan kerja lembur.
Setelah sakit yang berkepanjangan, saya akhirnya diberi pengobatan
dengan penyinaran sinar X yang kuat dan alhamdulillah, saya sudah
hampir sembuh. Tinggal rasa lemah saja yang saya rasakan.

Telah saya baca dengan penuh rasa tertarik guntingan majalah The Islamic
Review yang memuat cerita-pendek dari novel anda yang anda lampirkan
dalam surat yang lalu. Telah anda lukiskan dengan tepat sekali dampak
materialisme Barat pada orang-orang Arab Islam. Telah saya saksikan
dengan mata kepala sendiri pengaruh-pengaruh yang serupa pada
kehidupan bangsa Arab ketika saya berkunjung ke sana. Dan telah saya
diskusikan maasalah-masalah ini dengan para pemikir dan pembaharu
yang cinta Islam.

Komentar-komentar yang anda terima tentang cerita anda tidak terlalu


mengagetkan saya. Orang-orang Islam yang ikhlas sekali pun khawatir
bahwa orang-orang Barat dan orang Islam modern akan memberikan
reaksi berupa penolakan bila gambaran "kemunduran" Islam ditampilkan
kepada mereka. Reaksi pertama anda menghadapi pendapat yang
menentang ini secara alami akan bercampur dengan keputusasasaan,
tetapi anda harus mencoba untuk memahami semuanya ini. Bila anda
tekun lagi sabar dalam melakukan dakwah Islam, akhirnya anda sungguh
akan berhasil dalam segala upaya anda dan akan menghasilkan muallaf-
muallaf baru.

Saya nasehati anda agar jangan mencoba untuk meyakinkan setiap orang,
khususnya orang-orang yang tidak mau mendengarkan atau yang
pandangannya bertolak belakang seratus-delapan-puluh-derajat dengan
anda, walaupun mereka adalah kedua orangtua anda sekalipun. Allah
telah berfirman: "Berilah peringatan bila peringatan itu bermanfaat." Anda
harus selalu berusaha untuk mendapatkan jiwa-jiwa yang dapat naik
melampaui konsepsi-konsepsi materialistik dan menghargai nilai-nilai
ruhaniah dan moral yang lebih tinggi. Jika anda tidak berhasil
mendapatkan orang-orang seperti ini sejak dini, anda akan merasa
sendirian dan terasing di tengah kebuasaan materialisme, persangkaan
dan perdebatan terus-menerus dengan orang-orang yang bermusuhan
dan apatis yang cenderung menciptakan rasa pesimis dalam benak anda.

Tentunya merupakan sesuatu yang alami, bila negara-negara yang


disebut-sebut sebagai "terkebelakang" berusaha mengakhiri
kemundurannya secepat-cepatnya dan mengejar negara-negara Barat
dalam perlombaan meraih kemajuan material. Tetapi yang tragis adalah
bahwa bantuan dari negara-negara kaya membawa bersamanya air bah
kebudayaan Barat yang merupakan tantangan maut terhadap agama,
moral, peradaban dan kebudayaan kita, ringkasnya, segala sesuatu yang
dekat dengan kita dan membuat kehidupan kita berharga. Lagi pula
kepemimpinan di negara-negara Islam masih berada di tangan orang-
orang yang pikirannya telah tertaklukkan sepenuhnya dan yang secara
serampangan melakukan penafsiran kembali hukum-hukum syari'ah,
walaupun pengetahuan mereka masih cetek dalam hal ini.

Situasi seperti ini menimbulkan bahaya ganda. Hal ini tidak hanya
merupakan tekanan bagi pola-pola pemikiran dan perilaku Islam, tetapi
juga membuka kemungkinan bagi negara-negara Islam untuk jatuh ke
pangkuan Komunisme. Bila umat Islam menyaksikan nilai-nilai
kehidupannya yang luhur diinjak-injak sehingga hanya gagasan-gagasan
materialistik saja yang tinggal sebagai wadah menjalani hidup dan mati
mereka, maka pastilah dunia Islam akan menjadi tanah yang subur bagi
propaganda, penyusupan dan permusuhan rahasia Komunis.

Saya pikir, politik luar negeri Amerika akan mengalami pembalikan yang
tak terperbaiki lagi. Ia akan menemui nasib yang sama di sini, seperti
yang pernah dialaminya di negeri Cina, dan seluruh bantuan mereka
berupa uang maupun barang jatuh ke tangan musuh. Buruk sangka yang
berakar dalam terhadap Islam dan kebencian terhadap muslim di antara
orang-orang Amerika dan Eropa telah membutakan mereka dari akibat
yang merugikan mereka sendiri.

Pertanyaan yang anda lemparkan di akhir surat anda yang lalu adalah
benar-benar suatu pertanyaan yang penting, persis serupa dengan
pertanyaan yang telah saya coba pecahkan sejak tiga puluh lima tahun
yang lalu. Saya mulai upaya saya ketika saya masih remaja berumur dua
puluh tiga tahun, dan sejak itu, saya baktikan seluruh kehidupan saya
untuk tugas ini.

Saya tidak percaya dengan taktik bertahan ataupun menjaga garis


belakang belaka. Telah saya lancarkan ofensif tiga cabang. Pertama, saya
serang habis-habisan dasar-dasar ideologi kebudayaan Barat, kemudian
saya beberkan sejelas-jelasnya pokok-pokok ideologi Islam. Mengenai hal
ini, saya terangkan dengan panjang lebar apa yang dimaksud dengan
pandangan hidup Islam dan betapa ia lebih unggul dalam segala hal dari
kebudayaan Barat.
Ketiga, saya tawarkan jawaban Islam yang praktis terhadap masalah-
masalah penting yang di zaman sebelumnya seorang Islam yang taat
sekali pun tidak punya pilihan lain kecuali harus mengikuti Barat. Sebagai
hasil dari upaya ini, berjuta-juta orang Islam Pakistan dan India ikut
bersemangat dan mendamba suatu tatanan Islam dengan saya.

Kira-kira dua puluh lima buku saya yang berbahasa Urdu telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan sebagian besar masyarakat
Islam di negara berbahasa Arab menghargai dan bersimpati pada
gagasan-gagasan saya. Saya tundukkan kepala di hadapan Allah dan
memuji-Nya atas semua ini. Sayang sekali, baru sedikit karya-karya saya
yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bila anda bisa belajar
bahasa Urdu, saya pikir, buku-buku saya ini akan membantu anda dalam
memperjuangkan Islam di Amerika.

Tahukah anda bahwa sejak tahun 1941, suatu organisasi Jama'at-e-Islami


telah bergiat di anak benua India Pakistan. Jama'at-e-Islami berjuang
untuk menyebarkan dan menerapkan ideologi yang. telah saya paparkan
dalam karya-karya saya.

Setelah pemisahan Pakistan dan India di tahun 1947, organisasi ini pecah
menjadi dua partai Jema'at-e-Islami Pakistan dan Jama'at-e-Islami India.
Yang di Pakistan telah dilarang bersama dengan partai politik yang lain
tatkala diberlakukannya Undang-undang Darurat oleh Presiden Ayub Khan
tahun 1958; yang di India masih hidup di bawah kepemimpinannya sendiri
yang independen.

Saya ceritakan hal ini kepada anda untuk menarik perhatian anda akan
kenyataan bahwa, agar anda bisa meraih hasil yang positif, diperlukan
perjuangan dengan sabar selama bertahun-tahun. Lagi pula, agar bisa
meraih keberhasilan, seseorang perlu diperlengkapi dengan kemampuan
intelektual yang cukup di samping kemampuan moral.

Memang sulit melakukan perjuangan habis-habisan tanpa berhenti. Anda


baru mulai. Saya menyadari sepenuhnya betapa sulit dan melelahkannya
bagi seorang gadis muda yang belum menikah dan baru memeluk Islam
untuk melakukan perjuangan demi Islam di negara seperti Amerika. Tetapi,
setelah anda peluk Islam dan pahami kewajiban yang dibebankan olehnya,
mesti anda cari pertolongan Allah Yang Maha Kuasa dan berusaha
memikul tanggung jawab yang telah la pilihkan untuk anda.

Makin serius dan ikhlas anda berjuang, makin bertambah banyaklah


bantuan yang anda terima dari Allah, yang akan datang dari arah dan
dengan cara yang tidak anda dan saya duga sebelumnya.

Harus saya akui bahwa dengan terganggunya kesehatan saya, saya harus
memaksa diri untuk melakukan berbagai-bagai pekerjaan. Setiap hari saya
harus banyak membaca dan menulis, dan tiap hari banyak orang
menyurati dan mengunjungi saya. Karena itu, bila saya terlambat
membalas surat anda, harap jangan ambil pusing dan teruslah memberi
kabar kepada saya tentang kegiatan dan kesejahteraan anda. Sungguh
saya sangat tertarik kepada perjuangan anda untuk menegakkan Islam.
Juga ingin saya terbitkan di dalam majalah bulanan saya yang berbahasa
Urdu, Turjumanul Qur'an, ikhtisar surat-surat dan esai-esai anda, tentunya
dengan menghilangkan rinci-rinci masalah pribadi.
Saya harap anda tidak berkeberatan. Bolehkah saya bertanya, sudahkah
anda memakai nama Islam?

Teriring salam dan harapan baik.

Hormat saya,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 29 Mei 1961

Maulana Maududi yth.,

Assalamu'alaikum,

Saya amat berbahagia menerima surat anda tertanggal 20 Mei dan


merasa lega ketika mengetahui bahwa anda telah sembuh dari sakit. Saya
berharap anda segera akan merasa sehat kembali.

Saya berikan izin sepenuhnya kepada anda untuk menerbitkan beberapa


bagian dari surat-surat dan artikel saya dalam majalah anda, Turjumanul
Qur'an.

Dari seluruh surat yang memberi komentar tentang cerita-pendek saya


yang pernah saya terima, surat andalah satu-satunya yang menunjukkan
pengertian yang berharga terhadap apa yang sedang saya coba
sampaikan. Sebagaimana telah saya ceritakan kepada anda, cerita pendek
ini adalah salah satu bab terakhir novel saya, Ahmad Khalil: Biografi
Seorang Pengungsi Arab-Palestina,yang saya tulis di bulan Agustus 1949
ketika saya berumur lima belas tahun.

Bagian pertama menceritakan awal masa kanak-kanaknya di sebuah desa


kecil Palestina Selatan; rumahnya, lingkungannya dan anggota
keluarganya yang berakhir dengan pengusiran mereka secara tragis dari
tanah-air mereka saat meletus perang Palestina tahun 1948 dan
penghancuran desa mereka secara total (bersama jalan hidup mereka)
oleh kekuatan militer Zionis yang dahsyat.

Paroh kedua dimulai tatkala Ahmad Khalil, sekarang berumur 19 tahun,


setelah menikah selama dua tahun, memutuskan untuk meninggalkan
perkampungan pengungsi dan tanpa izin pemerintah mengambil sisa-sisa
bekal keluarganya untuk melakukan ibadah haji ke Makkah "secara tidak
sah". Begitu berada di sana ia putuskan untuk tinggal di Madinah sampai
memungkinkannya kembali ke Palestina.

Bagian selebihnya berpusat pada saudara sepupunya, Rasyid, yang


sepanjang hidupnya selalu menjadi sahabat dan pengikut akrabnya;
tentang adiknya Khalifa, yang sakit mental, kemudian tentang kekejaman
dan kekafiran satu-satunya anak Ahmad Khalil yang masih hidup bernama
Ismail; dan tentang anak pungutnya Abdur Raziq, mahasiswa Ushuluddin
di al-Azhar yang buta, satu-satunya pelipur jiwanya.

Bagian pertama dari cerita ini menekankan tentang kejahatan


materialisme Barat yang berlindung di balik kedok tujuan imperialisme
Zionis dan bagian kesimpulannya, tentang akibat yang merusak dari
industri minyak di Saudi Arabia karena mempengaruhi kehidupan sehari-
hari dan nasib akhir keluarga Arab muslim ini.
Novel saya mengungkapkan gagasan-gagasan yang sama dengan buku-
buku anda, hanya saja dalam bentuk cerita. Untuk alasan-alasan yang
jelas terlepas dari kelebihan kesusasteraannya atau kekurangannya,
Ahmad Khalil tentu akan sangat tidak terkenal di sini, dan saya tak akan
mencoba-coba untuk menyerahkannya kepada penerbit Amerika.

Saat ini saya sedang merencanakan untuk menyusun suatu buku lagi
berjudul Islam Attacked from Without and Within: An Anthology of Anti-
Islamic Propaganda (Islam Diserang Dari Dalam dan Dari Luar: Sebuah
Kumpulan Tulisan tentang Propaganda Anti Islam). Tujuan saya tidak hanya
untuk menunjukkan secara terperinci tentang betapa Islam dalam segala
hal telah diserang oleh para orientalis Barat dan orang Islam yang
terbaratkan dari dalam; dengan itu ingin pula saya ungkapkan mental
musuh-musuh kita.

Hampir tidak ada artinya mengutuk musuh-musuh kita. Untuk memerangi


mereka secara efektif, saya pikir, kita perlu memahami mereka dan
mempelajari bagaimana jalan pikiran mereka. Psikologi adalah salah satu
ilmu yang paling menarik dan saya ingin menerapkan prinsip-prinsipnya di
sini, sehingga secara khas dapat kita ketahui sebab-sebab yang
mendorong mereka berbuat seperti itu.

Di antara pengarang yang akan saya kutip dengan panjang lebar adalah
Wilfred Cantwell Smith, Direktur Islamic Institute di Universitas McGill
Canada; H.G. Wells, ahli sejarah Inggris yang terkenal; Arnold Toynbee;
William Douglas, jaksa yang saat ini bekerja di Mahkamah Agung Amerika;
Julian Huxley, Ahli Biologi dan bekas Direktur UNESCO 1946-1948; Albert
Schweitzer; Mrs. Eleanor Roosevelt dan John S. Badeau, bekas Profesor di
American College Kairo dan sekarang menjadi Duta Besar Amerika untuk
Republik Persatuan Arab.

Di antara orang Islam yang terbaratkan, akan saya masukkan Ziya Gokalp,
Dr. Thaha Hussain dan Asaf A. Fyzee, wakil Rektor Universitas Kasmir.
Setiap kutipan akan diawali dengan beberapa alinea perkenalan diikuti
dengan komentar panjang lebar. Di awal kumpulan tulisan ini, akan saya
tuliskan kata pengantar yang panjang, dan pada kesimpulan, saya tuliskan
suatu penutup yang ringkas lagi jelas.

Baru saya baca buku yang sangat menarik karya Muhammad Ali
almarhum, yang pernah menjabat sebagai pemimpin pergerakan
Ahmadiyah Lahore, berjudul The Christ Gog and Magog (Ya'juj dan
Ma'jujnya Kristen) yang menguraikan mengapa nubuatan-nubuatan
Rasulullah saw hanya bisa berarti dominasi materialisme Barat di muka
bumi. Sebagaimana kekhawatiran saya bahwa yang disebut-sebut sebagai
"bantuan teknik" untuk "pembangunan ekonomi" di negara-negara yang
terkebelakang hanya berarti penyebaran materialisme Barat, Nabi Besar
kita telah memahami hal ini dengan tepat ketika bersabda: "Dia (Dajjal)
akan memberi mereka (orang Islam yang membutuhkan) makanan untuk
dimakan, tetapi dia akan juga membuat mereka kafir."

Sayangnya, seluruh isi buku ini dirusak di bagian akhirnya ketika


pengarangnya mencoba meyakinkan pembacanya bahwa Mirza Ghulam
Ahmad dari Qadian adalah Imam-Mahdi yang djjanjikan.

Selama beberapa bulan yang lalu telah saya coba untuk melakukan kontak
dengan Sayyid Qutb yang anda ketahui lebih baik dari siapapun
dipenjarakan oleh rezim Nasser sejak dilarangnya al-Ikhwanul Muslimun
tahun 1954.

Walaupun ia tidak bisa menulis surat sendiri untuk saya, baru kemarin
saya terima surat yang indah dari adik perempuannya, Aminah Qutb, yang
menceritakan bahwa surat saya telah disampaikan kepada kakaknya di
dalam penjara dan bahwa ia hendak mengirim surat kepada saya atas
namanya.

Sayyid Qutb, ulama dan pengarang beberapa buku, adalah pengagum


anda dan ia secara khusus merekomendasikan buku-buku anda untuk
saya baca. Alangkah tragis, di suatu negara yang disebut-sebut sebagai
negara Islam, Islam malahan ditindas jauh lebih keras daripada di negara-
negara non-Islam.

Bersama ini saya lampirkan bulletin mingguan lokal Unitarian Church,


organisasi yang ingin dimasuki oleh kedua orangtua dan kakak perempuan
saya. Sampai kini, selalu terkesankan pada saya bahwa Unitarian Church
adalah salah satu sekta agama Kristen yang menolak Trinitas dan
Penuhanan Kristus, menganggap Jesus sebagai nabi dan menekankan
Keesaan Tuhan. Bagaimana pun juga, gereja yang dikunjungi orangtua dan
saudara perempuan saya menganut ideologi yang tidak berbeda dengan
humanisme agnostik dan pergerakan Ethical Culture.

Lima hari yang lalu, di hari Idul Adha, sesudah shalat Id dan dengan
disaksikan dua orang muslim teman saya, secara resmi saya berikrar
mengucapkan Syahadat yang menjadikan saya sebagai orang Islam
sepenuhnya. Kemudian saya terima sertifikat Peralihan Agama Islam di
Missi Islam Amerika, Brooklyn dari Syaikh Daoud Ahmad Faisal. Nama
Islam saya adalah Maryam Jamilah.

Dengan nama itu selanjutnya akan saya tandatangani seluruh surat dan
tulisan-tulisan saya. Tetapi, karena kedua orangtua dan keluarga saya
tidak mau memanggil saya dengan nama Arab, maka saya tidak akan
memaksakannya atas mereka. Tetapi dengan anda dan seluruh saudaraku
yang seiman, saya hanya ingin menggunakan nama baru yang sangat
membanggakan ini.

Teriring harapan agar kesehatan anda terus bertambah baik.

Saudaramu seagama,
Maryam Jamilah
-------------------------------------------------------------
Lahore, 20 Juni 1961

Nona Maryam Jamilah yth.,

Assalamu'alaikum wa rahamatullah,

Telah saya terima surat anda tertanggal 29 Mei dan saya sangat bahagia
ketika mengetahui bahwa anda telah menjadi bagian dari pada
persaudaraan Islam dengan niengucapkan ikrar syahadat dan memakai
nama Islam. Semuanya ini adalah akibat alami dari gagasan-gagasan dan
keyakinan anda. Dengan khidmat saya panjatkan doa kepada Allah agar
menerima keikhlasan anda, memberi anda kekuatan untuk hidup dan
bekerja demi Islam dan memberanikan anda dalam menghadapi
lingkungan yang terus menerus memusuhi anda.

Terima kasih atas perhatian anda terhadap kesehatan saya. Alhamdulillah,


kesehatan saya telah kembali normal. Insyaallah saya akan berangkat ke
Afrika bulan Juli mendatang.

Terima kasih atas izin anda untuk menerbitkan esai-esai serta beberapa
bagian surat anda. Saya kira tulisan-tulisan anda tersebut akan menjadi
pembuka mata para pemuda muslim di sini, dan akan merupakan suatu
kontras yang menyolok mata, yakni sementara mereka sedang mencoba
membaratkan diri mereka sendiri, walaupun dilahirkan di negeri Islam, ada
seorang pemudi yang dilahirkan di keluarga Yahudi yang "diperbarui" di
negara Amerika modern yang telah berjuang demi kebenaran dan kini
berusaha untuk mempraktekannya ketika akhirnya dia temukan
kebenaran itu. Saya harap contoh anda ini dapat menjadi pelajaran bagi
mereka.

Silakan anda kirimkan manuskrip novel anda yang berjudul Ahmad Khalil.
Saya akan menyempatkan diri untuk membacanya, kemudian
menunjukkannya kepada penerbit saya, Messrs. Islamic Publications Ltd.
di Lahore. Saya tentu akan bergembira sekali bila mereka setuju untuk
menerbitkannya.

Kumpulan tulisan anda tentang propaganda anti-Islam akan sangat


bermanfaat dan banyak memberikan pelajaran. Ada beberapa kenyataan
yang tidak boleh anda lupa menyebutnya di sana. Pertama, bahwa
Komunis di Timur dan Demokrasi di Barat bekerja bersama-sama untuk
memusuhi Islam.

Kedua, bilamana terjadi seorang muslim melakukan penyimpangan dari


ajaran Islam, maka dunia Barat akan memberi tepukan keras yang akan
membuat muslim modernis itu lebih berani melakukan pengacauan. Bagi
para pengecam ini, menjauh dari Islam berarti "pencerahan" dan
"kemajuan". Dan akibat kegandrungan mereka untuk mendapatkan pujian,
maka orang Islam yang "termodernkan" itu bertambah berani melakukan
"pembaharuan-pembaharuan". Hal ini hanyalah menghasilkan gelombahg
kebencian di kalangan mayoritas orang muslim senegaranya sendiri. Para
penguasa melancarkan peperangan terbuka terhadap rakyatnya, sehingga
konflik dalam negeri yang terus menerus ini menjadikan negara Islam
tersebut kehilangan vitalitasnya.

Akibat lain dari sikap yang tidak bijaksana ini adalah bahwa kelompok
yang disebut-sebut sebagai "kelompok dunia bebas" ini membuat garis
pertahanan mereka melawan Komunisme menjadi lemah dan mudah
ditembus. Sejauh ini, Komunisme melakukan penjajahan terhadap kaum
muslimin hanya di negara-negara yang mereka kuasai, tetapi kelompok
Negara non-Komunis menimpakan malapetaka juga atas negara-negara
Islam yang merdeka. Mereka berupaya untuk mengalahkan pertahanan-
bersama negara-negara Islam.

Orang-orang muslim sejati tidak bisa melihat adanya perbedaan antara


kedua blok kekuatan ini dan mereka dipaksa untuk percaya bahwa
kepentingan kedua blok ini pada pokoknya sama. Dengan adanya rasa
muak dan perubahan mendadak seperti itu di kalangan mayoritas rakyat
Islam, aliansi-aliansi politik penguasa merupakan sesuatu yang dibuat-
buat dan kehilangan makna.

Sekarang saya pindah kepada pertanyaan anda tentang Dajjal. Dalam


bahasa Arab Dajjal secara harfiah berarti penipuan dan kecurangan. Dari
sudut pandangan ini, orang, kelompok ataupun negara yang curang
adalah Dajjal. Meskipun demikian, menurut Sunnah Rasul, Dajjal
(Pendusta) haruslah oknum tunggal. Di bawah kepemimpinan Dajjal
seperti telah diramalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw orang-orang
muslim sejati akan menderita penganiayaan berat. Bila saya pikirkan
secara terperinci tentang Dajjal atau Anti-Christ dalam hadits, saya
cenderung meyakini bahwa Dajjal belum datang. Namun demikian saya
pikir waktu terjadinya nubuatan ini telah datang. Saya kira Dajjal akan
tampil di bumi Israel.

Saya gembira mendengar kontak anda dengan Sayyid Qutb dan


kerabatnya. Walaupun sejauh ini belum pernah ketemu muka dengan
Sayyid Qutb, namun kami telah saling mengenal dengan baik. Dia telah
kirimkan buku-bukunya kepada saya dari penjara dan saya pernah
bertemu dengan saudaranya, Muhammad Qutb, tatkala saya ke Kairo di
tahun 1960. Cobaan-cobaan berupa api dan pedang yang harus dipikul
oleh Ikhwan dan kenyataannya juga oleh seluruh kaum muslimin di mana
saja berada tidak usah mengagetkan anda. Bila seorang muslim dididik
dan dibesarkan di bawah pengaruh kekafiran dan dipegangnya kuat-kuat
panji-panji kekafiran di kedua-belah tangannya, dia tentu akan bertindak
ekstrim, menganiaya rekan seagamanya dengan cara yang tidak terpikir
oleh orang non-Islam sekalipun. Tetapi lambat atau cepat, waktunya akan
datang ketika setiap orang akan menuai apa yang telah ditanamnya.

Semoga anda mendapat kemajuan yang mantap di jalan Islam.

Hormat saya,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 11 Juli 1961

Maulana Maududi yth

Assalamu'alaikum,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 20 Juni. Saya sangat gembira
ketika mendengar bahwa kesehatan anda telah kembali normal seperti
sedia kala, sehingga anda akan bisa melakukan perjalanan ke beberapa
negara Afrika. Saya kirimkan surat ini dengan perangko biasa, karena saya
tidak mengharapkan jawaban sebelum anda kembali ke Lahore bulan
September mendatang.

Dari keterangan yang telah saya kumpulkan dari bacaan-bacaan saya,


dapat saya ambil kesimpulan bahwa Afrika merupakan bagian yang paling
cerah di dalam peta bumi dalam hal prospek perkembangan Islam.
Khususnya di Nigeria di bawah kepemimpinan Ahmadu Bello dan Abu
Bakar Tawafa Belawa yang cakap. Islam di sana tersebar sedemikian pesat
sehingga untuk pembanding setiap penyembah berhala yang beralih ke
agama Kristen, sepuluh memeluk Islam. Walaupun missionaris-missionaris
Katolik dan Protestan mendapatkan kekayaan material serta dukungan
yang berlimpah dari kekuatan-kekuatan Barat dan telah memonopoli
pendidikan, rumah-rumah sakit dan kerja-kerja sosial selama hampir satu
abad, namun mereka hanya dapat mengkristenkan beberapa orang saja.
Sementara itu, hanya dalam beberapa minggu atau beberapa bulan saja
seluruh penduduk desa telah memeluk Islam. Baru-baru ini The New York
Times menerbitkan suatu tulisan yang berisi wawancara antara
korespondennya dengan beberapa missionaris Katolik Roma di suatu kota
di Nigeria yang menceritakan bahwa sebagian besar orang-orang Afrika
yang telah mereka baptis, sekarang ini dengan teratur mengunjungi
masjid-masjid dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Saya pikir
salah satu alasan yang sangat penting dalam hal ini adalah kenyataan
diterimanya diskriminasi rasial oleh orang-orang Kristen dan bahwa semua
gereja-gereja mereka melakukan pemisahan-pemisahan secara tegar.
Sedangkan di masjid, orang-orang Afrika tahu bahwa mereka akan
diterima dengan baik dan diperlakukan sedemikian sehingga mereka
merasa seakan-akan di rumah sendiri. Bila dakwah Islam dapat dikelola
secara efektif di Amerika, akan kita temukan untuknya medan yang
sangat subur di antara dua puluh juta penduduk Negronya, khususnya
yang miskin, menganggur, terhina dan tercampakkan, yang memadati
ghetto-ghetto besar di New York dan Chicago.

Saya sertakan dalam kumpulan tulisan saya tentang propaganda anti


Islam, tajuk The Islamic Review yang memuji kampanye Presiden Habib
Bourguiba dalam menentang ibadah puasaRamadhan yang bagi saya
merupakan suatu tindakan menjijikkan dan tak termaafkan. Sebagian
besar penyumbang kumpulan tulisan saya adalah orang-orang Universitas
Amerika di Beirut dan American College di Kairo. Kedua lembaga ini adalah
milik missionaris Protestan dan walaupun dalam kenyataannya mereka
hanya berhasil mengkristenkan beberapa orang saja, namun mereka telah
berhasil membuat mahasiswa-mahasiswa muslim memusuhi Islam dan
berpandangan hidup Barat. Suatu hari saya bertemu dengan seorang
mahasiswa dari Saudi Arabia yang saat itu sedang membuat disertasi
dalam bidang pendidikan di Universitas Columbia. Ia mendapatkan ijazah
Sarjana-Mudanya di Universitas Amerika di Beirut. Katanya, seluruh
mahasiswa Islam diharuskan mengikuti peribadatan Kristen di kapel. Bagi
mereka yang menolak, diwajibkan mengikuti mata kuliah wajib tentang
"moral Kristen".

Setelah saya pelajari cara menggunakan mesin ketik di sekolah dagang,


saya pikir waktu itu saya tak akan mengalami kesulitan untuk bekerja
sebagai sekretaris. Dalam usaha mencari pekerjaan, pertama kali saya
pergi ke Pusat Informasi Arab, karena saya pikir minat saya yang besar
terhadap negara-negara yang berbahasa Arab dan Islam akan bisa
bermanfaat. Tetapi, segera setelah mereka ketahui bahwa saya adalah
orang Yahudi yang telah memeluk Islam dan bahwa saya tidak menaruh
simpati terhadap Presiden Nasser dengan "Arabisme''nya, maka
penerimaan mereka terhadap saya menjadi dingin. Sayapun tidak pernah
kembali lagi.

Di lain kesempatan, saya datang ke kantor pusat Persatuan Orang Amerika


Sahabat Timur Tengah, di situ saya temui dua orang gadis Amerika yang
cantik-cantik duduk di meja depan, dengan terus terang berbicara kepada
saya bahwa, menurut mereka, seluruh agama-agama ortodoks itu telah
usang, dan jika orang-orang Arab tidak mencampakkan Islam ke balik
punggungnya seperti mencampakkan pakaian yang telah aus, tidak akan
pernah mereka raih kemajuan ekonomi ataupun taraf hidup yang lebih
tinggi. Segera setelah itu saya mengerti bahwa organisasi-organisasi yang
ada di New York yang berhubungan dengan negara-negara Timur Dekat
sesungguhnya berada di bawah kendali para Zionis, missionaris Kristen,
atau sama sekali bersifat komersial. Di hari yang lain lagi saya lewat Pusat
Perdagangan Tunisia di New York. Karena tertarik dengan pameran
permadani tenunan tangan dan talam tembaga berukir yang indah-indah
di jendela etalase, saya pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan
melihat-lihat. Selama hidup, saya tidak pernah sedemikian terguncang
karena melihat sesuatu seperti saat itu, yakni ketika saya lihat di dalam
toko tersebut rak-rak yang dari lantai sampai ke langit-langit sama sekali
penuh dengan botol anggur, whisky, rum dan bir. Saya bertanya kepada
seorang wanita yang bertugas di meja depan, adakah semuanya itu
produksi negeri Tunisia yang merdeka. Dia katakan bahwa produksi besar-
besaran minuman tersebut untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor,
adalah merupakan bukti kemajuan ekonomi yang dihasilkan oleh Presiden
Habib Bourguiba bagi negaranya. Kemudian ditambahkannya bahwa Islam
hanyalah peninggalan Abad Pertengahan; makin cepat ditinggalkan,
makin baik. Mendengar aksen Perancis yang medok dari wanita tersebut,
maka saya bertanya kepadanya, apakah ia seorang penduduk Perancis,
wanita tersebut menjawab "ya" dengan penuh semangat. Ia ceritakan
bahwa dirinya dipekerjakan oleh pemerintah Tunisia karena Presiden Habib
Bourguiba ingin meningkatkan hubungan persahabatan negaranya dengan
Perancis. Sore ini saya bermaksud pergi ke Universitas New York, sekolah
saya dahulu, untuk berbicara dengan seorang pemuda Yahudi yang telah
mengucapkan ikrar syahadat dua minggu yang lalu di masjid. Ketika
ibunya tahu bahwa ia telah memeluk Islam, segera ia bawa anaknya
tersebut ke sinagog. Di sana seorang Rabbi memaksanya melepaskan
Islam dan kembali memeluk agama Yahudi. Ia tidak punya pilihan lain
karena ibunya (ayahnya telah meninggal) mengancam untuk menyetop
seluruh bantuan keuangannya bila ia tetap memeluk Islam. Karena ia
mahasiswa kedokteran, maka ia tidak akan bisa membiayai dirinya sendiri
untuk beberapa tahun yang akan datang. Saya hanya bisa bersyukur
kepada Allah mengingat bahwa kedua orangtua saya tidak berpandangan
sempit dan tidak toleran seperti ibu ini.

Dengan hasrat yang menggebu-gebu saya tunggu jawaban anda di bulan


September bersama segenap rincian cerita menarik tentang perjalanan
anda ke Afrika.

Saudaramu seagama,
Maryam Jamilah
-------------------------------------------------------------
Lahore, 29 September 1961

Nona Maryam Jamilah,

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Surat anda tertanggal 11 Juli baru sampai pada saya beberapa hari yang
lalu, menunjukkan betapa lambatnya perjalanan surat biasa dari negara
anda ke negara saya. Naskah novel anda Ahmad Khalil yang telah sampai
ke sini lebih dari sebulan yang lalu, saat ini sedang berada di Islamic
Publication Ltd. Segera setelah mereka kembalikan kepada saya, akan
saya coba sempatkan waktu untuk membacanya dan memberi komentar
atasnya.

Anda tentu akan kaget mendengar bahwa karena Pemerintah tiba-tiba


memutuskan untuk mencoret nama-nama semua negeri Afrika dan Arab
dari paspor saya, saya terpaksa membatalkan perjalanan saya ke Afrika.
Sejak saat itu saya terima banyak sekali surat dari negara-negara
tersebut, demikian juga dari dalam negeri, yang semuanya memprotes
pembatalan yang sewenang-wenang terhadap kegiatan saya di luar
negeri. Yang sangat bergembira dengan adanya tindakan ini adalah para
missionaris Kristen dan orang-orang Qadiani yang menganggap Mirza
Ghulam Ahmad dari Qadiani sebagai Nabi baru dan menganggap setiap
orang yang tidak beriman kepadanya sebagai kafir.

Tanpa organisasi dan dukungan keuangan yang memadai, Islam telah


memperoleh pijakan yang mantap di Afrika, meskipun terdapat usaha-
usaha yang sangat intensif dan persediaan dana yang besar di pihak misi
Kristen. Kenyataan ini berbicara dengan jelas mengenai perbedaan
kelebihan-kelebihan bawaan dari masing-masing agama tersebut.
Kekristenan itu sedemikian lemahnya, sehingga walaupun terdapat sangat
banyak sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit Kristen, kegiatan-kegiatan
missionaris yang terorganisasikan dengan rapi dan dukungan
pemerintahan kolonial, toh sedikit sekali orang-orang Afrika yang memeluk
agama Kristen dengan teguh; atau kalaupun ada, mereka akan segera
sadar dan melepaskannya kembali.

Di lain pihak, walaupun Islam tidak disajikan kepada mereka dengan


segenap keindahannya, dan sebagian besar orang-orang Islam tidak
memberikan contoh yang baik tentang perilaku Islami lagi pula kita hanya
memiliki sedikit juru dakwah yang terlatih, maka Islam yang diketahui oleh
orang-orang Afrika ini hanyalah dari pengaruh orang-orang muslim yang
berpikiran sederhana, sebagian besar di antaranya tak terpelajar, sekedar
lewat kontak pribadi belaka. Tetapi begitu saja ternyata telah cukup
mampu memberi daya tarik kepada orang-orang Afrika. Karenanya saya
ingin sekali mengelola suatu program terencana untuk penyebaran Islam
di sana. Tetapi sayang, tangan-tangan saya telah terikat. Namun demikian
tidak akan pernah saya lupakan masalah ini sehingga, Insyaallah, akan
saya coba untuk berbuat sebaik-baiknya, walaupun saya berada di tempat
yang jauh dari mereka.

Anda tentu tidak akan terperanjat oleh adanya dukungan Islamic Review,
Woking, terhadap Habib Bourguiba bila anda pahami aliran pemikiran
majalah ini. Mereka adalah rekan senegara kami dan sangat kami pahami
mereka dengan baik. Mereka adalah anggota kelompok Lahore pengikut
Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiani, yang berbuat lancang dengan
mengaku sebagai nabi. Badan utama organisasi pengikutnya secara
terbuka menyatakan bahwa Mirza adalah seorang Nabi dan bahwa orang-
orang yang menolaknya adalah kafir.

Putera Mirza Ghulam Ahmad, Bashiruddin Mahmud, memimpin kelompok


ini. Sempalan sekta ini yang mengendalikan The Islamic Review di masjid
Woking, Inggris segan mengumumkan secara terus terang bahwa Mirza
adalah seorang Nabi, melainkan hanyalah sebagai "Nabi" secara metafora,
yang mereka sambut sebagai Messiah Yang Dijanjikan, Majaddid
(pembaharu) dan Mahdi.
Kedua kelompok Qadiani ini adalah sahabat-sahabat akrab pemerintah
Inggris ketika masih menguasai anak benua India-Pakistan. Mereka tidak
hanya menikmati dukungan yang diberikan secara diam-diam tetapi juga
mendapatkan perlindungan positif dan dorongan-dorongan dari Imperialis
Inggris.

Di dalam negeri mereka dianugerahi kedudukan-kedudukan penting,


sedang di luar negeri mereka merupakan orang-orang yang sangat
dipercaya, setia dan taat dari Kerajaan Inggris. Propaganda "Islam"
mereka diizinkan hanya karena tidak berbahaya, malahan misi bertindak
sebagai kedok yang etektif bagi banyak kegiatan-tanpa-nama mereka
untuk kepentingan penjajahan. Maulana Muhammad Ali, yang
menerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris, adalah pemimpin
Pergerakan Ahmadiyah Lahore yang mendirikan The Woking Mission and
Literary Trust di Inggris dan menerbitkan The Islamic Review.

Orang-orang ini berupaya dengan sungguh-sungguh untuk


memperlihatkan bahwa diri mereka "tercerahkan", maju, progresif dan
liberal menurut ukuran Barat. Inilah sebabnya mengapa dengan penuh
harap mereka sambut gembira setiap langkah yang diambil oleh Pakistan
dan negara Islam lain untuk "memperbaharui" Islam. Baru-baru ini
Undang-undang Keluarga telah diperbaharui untuk membuatnya lebih
cocok dengan kriteria Barat, yang disambut oleh The Islamic Review
dengan gegap gempita.

Penilaian anda terhadap Universitas-universitas Kristen di Beirut dan Kairo


sangatlah tepat. Pasti anda akan tertarik untuk mengetahui bahwa
sekolah-sekolah Kristen di Pakistan telah menciptakan hasil serupa selama
satu setengah abad. Elite sosial kami yang mendapatkan hak khusus
berkat tingkat ekonominya dan pegawai-pegawai tinggi negara
mempercayakan anak-anak mereka yang baru berumur empat atau lima
tahun kepada lembaga pendidikan seperti ini. Mereka belajar bahasa
Inggris, bukan bahasa Urdu, dan sebagian besar dari mereka benar-benar
tidak bisa berbicara ataupun menulis dalam bahasa nasional sedikitpun.
Mereka benar-benar terasing dari tradisi keimanan dan budaya mereka
sendiri. Mereka merayakan Hari Natal dan mengabaikan Idul Fitri. Mereka
sangat jahil mengenai Islam. Setelah dewasa, mereka akan jadi pemimpin,
penguasa dan penentu nasib kami. Dampak dari sistem pendidikan
nasional kami yang merupakan warisan dominasi Inggris tidak kurang
berbahayanya. Walaupun sekolah pemerintah tidak mengubah pelajar
yang beragama Islam menjadi Kristen, tetapi hasil praktis dari suasana
yang materialistik-sekular membuahkan kejahilan, kemasabodohan dan
ketakacuhan. Sebagian besar pemuda kami yang terpelajar tetap
beragama Islam bukan karena sistem pendidikan ini, tetapi karena hal-hal
lain. Karena anda adalah orang baru dalam lingkungan umat Islam, saya
harap anda memahami alasan-alasan sebenarnya mengapa orang-orang
Islam menjadi termodernkan dan terjauhkan dari Islam, dan mengapa
lidah-lidah dan pena-pena mereka mengabdi kepada kekafiran.

Saya, sangat masygul atas masalah-masalah yang anda hadapi. Saya


sadar sepenuhnya cobaan-cobaan yang harus dihadapi oleh seseorang
bila ia memeluk agama Islam di negeri kafir, dan seorang wanita akan
menghadapi kesulitan seribu kali lebih besar daripada yang dihadapi oleh
laki-laki. Melalui pengalaman pribadi yang lebih pahit, anda jadi tahu
betapa toleran dan luasnya pikiran orang-orang Barat itu! Juga telah anda
temui jenis orang yang mewakili negara-negara Islam di luar negerinya.
Walaupun masa-masa yang amat sulit menunggu di depan anda, saya
pikir pengalaman-pengalaman ini akan membekali anda dengan
kesabaran dan pasti akan anda peroleh ganjaran yang kekal di Hari
Kemudian. Saya yakin, jika saja anda terima undangan saya untuk datang
ke Lahore, anda dapat terhindar dari masalah-masalah yang sulit ini dan
pasti saya akan dapat menolong anda dengan segala cara. Tetapi,
meskipun di Amerika, jika anda pikir saya dapat menolong anda dengan
bantuan-bantuan praktis, segeralah beritahu saya dengan terus terang,
saya pun tentu tidak akan segan-segan mengerjakan apa saja yang bisa
saya perbuat. Semoga Allah Yang Maha Pengasih menolong dan
mengaruniai anda kesabaran dan ketabahan.

Wassalam,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 9 Oktober 1961

Maulana Maududi yth.,

Assalamu'alaikum,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 29 September. Setiap Jum'at siang
saya kunjungi Perkumpulan Mahasiswa Islam di Universitas Columbia
untuk shalat Jum'at. Setiap minggu, mahasiswa-mahasiswa di sana secara
bergantian menyampaikan khutbahnya dan menjadi imam-shalat. Karena
saya seorang wanita, maka saya tidak diperkenankan untuk
menyampaikan khutbah sendiri, sehingga ketika tiba giliran saya, seorang
mahasiswa dari Republik Persatuan Arab (Mesir) menawarkan diri untuk
menyampaikan khutbah atas nama saya.

Khutbah saya yang berjudul "Dapatkah Islam Dirujukkan dengan


Semangat Abad Duapuluh?" menganalisa tujuh usulan yang paling penting
untuk "memodernkan" Islam, sebagaimana berulangkali digembar-
gemborkan oleh orang-orang progresif, yakni:

1. Penghapusan kekhalifahan.

2. Penghapusan syariat dan menggantinya dengan sistem hukum


sekular Barat modern.

3. Penggantian konsep persaudaraan muslim universal (ummah)


dengan nasionalisme rasial dan kedaerahan.

4. Penerjemahan resmi al-Qur'an tanpa teks bahasa Arabnya dan


mengganti tulisan Arabnya dengan abjad Latin.

5. Pandangan yang menyatakan bahwa meningkatkan taraf hidup


sehingga sama dengan Barat melalui industrialisasi, hendaknya
menjadi tujuan utama pemerintah, sehingga hal-hal yang lain
hendaknya dikorbankan dulu.

6. Apa yang disebut-sebut sebagai "emansipasi" wanita.

7. Pengambilalihan mode pakaian dan kebiasaan hidup Barat.


Dalam khutbah tersebut saya tunjukkan betapa jika setiap usulan ini
ditelusur hingga kesimpulan logisnya, tampak hal itu akan membawa
kehancuran total atas peradaban Islam. Meskipun demikian, para
mahasiswa itu dengan berang menolaknya. Mereka katakan kepada saya
bahwa segera setelah mereka selesaikan studi mereka di Amerika dan
pulang ke negeri masing-masing, mereka akan berusaha sekuat tenaga
untuk menerapkan pembaharuan-pembaharuan ini.

Seorang mahasiswa dari Afghanistan meyakinkan saya bahwa yang paling


dibutuhkan oleh negaranya adalah juga seorang Ataturk. Sebagian besar
mahasiswa Islam yang saya jumpai berpendapat seperti ini. Harus saya
akui bahwa hal ini kadang-kadang membuat saya murung. Terlampir
bersama surat ini teks khutbah saya. [Lihatlah esai saya Dapatkah Islam
Dirujukkan dengan Semangat Abad-Duapuluh? dalam buku saya Islam
versus Barat.] Bagaimana pendapat anda?

Saudaramu dalam Islam,


Maryam Jamilah
-------------------------------------------------------------
Lahore, 24 Oktober 1961

Saudaraku dalam Islam,

Assalamu 'alaikum,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 9 Oktober dan naskah khutbah
anda. Uraian anda tentang mahasiswa-mahasiswa Islam yang anda temui
di Universitas Columbia adalah persis seperti yang saya duga. Saya telah
melakukan penetitian yang mendalam terhadap sistem pendidikan yang
dilalui oleh generasi yang sedang tumbuh saat ini, di sini maupun di
negara-negara Arab. Akibat-akibat yang tak terelakkan dari sistem ini
berujud prasangka para mahasiswa yang amat dalam terhadap Islam dan
warisan sejarah serta budayanya. Pada kesempatan pertama, mereka
asyik merusak bentuk dan mengacaukan ruhnya. Mental mereka
mengalami kemunduran dan moral mereka menjadi rendah. Ketika pulang
ke negeri sendiri, mereka temukan hal-hal dan kedudukan yang paling
menonjol lagi ampuh dalam kehidupan nasional kami, yang merupakan
sebab utama timbulnya perang tanpa henti antara penguasa dengan
rakyatnya.

Tetapi yakinlah, masih ada juga sisi yang cerah, dan di sekolah serta
universitas ini terdapat pula mahasiswa-mahasiswa yang berhasrat untuk
menegakkan tatanan Islam. Hal yang sama terjadi pula di dunia Arab,
Turki, Indonesia dan negara-negara Islam lainnya. Mahasiswa-mahasiswa
ini, khususnya yang tergabung dalam Jamiatut-Tulaba yang terus
melakukan kontak dengan saya, dan saya menaruh harapan yang besar
pada mereka. Tetapi sayang, mereka hanya bisa memperoleh sedikit
kesempatan untuk melanjutkan pelajaran ke Amerika atau Eropa, karena
kesempatan untuk itu hanya dicadangkan bagi anak-anak manja negeri
ini. Inilah sebabnya mengapa tidak anda temui pemuda seperti ini di New
York. Sebenarnya saya ingin cepat mengambil keputusan tentang
pencetakan novel anda, Ahmad Khalil, demi kepentingan anda. Tetapi
sayang, beberapa hari yang lalu Mian Tufail Muhammad, Direktur
Pelaksana Islamic Publication, ditahan oleh pemerintah dan saat ini
dipenjara berdasarkan Akta Keselamatan Umum. Akta ini warisan penjajah
Inggris membolehkan untuk memenjarakan seseorang dengan
sembarangan tanpa proses pengadilan. Penguasa begitu saja menangkap
dan menempatkannya di balik terali besi sekehendak hati mereka. Mian
Tufail Muhammad adalah teman sejawat saya sejak duapuluh tahun
terakhir ini. Karena keberaniannya menerbitkan naskah yang mengkritik
Undang-undang keluarga, maka seluruh usaha Islamic Publication
dibekukan sampai waktu yang tak terbatas. Telah saya pelajari khutbah
Jum'at anda dengan teliti. Yakinlah bahwa apa yang anda khutbahkan itu
serupa dengan apa yang selalu saya sampaikan dalam khutbah saya sejak
lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Inilah sebabnya mengapa kaum
modernis menganggap saya sebagai "bahaya". Sungguh saya kagum,
bagaimana seorang gadis yang lahir dan dibesarkan di Amerika dapat
memperoleh wawasan yang cermat dalam menghadapi masalah seperti
ini. Khutbah anda tak bisa tidak layak mendapat pujian. Saya hanya
berdoa kepada Allah agar Ia melimpahkan lebih banyak lagi kearifan
kepada anda dan kesabaran dalam mendakwahkan Islam.

Teriring salam dan harapan baik.

Saudaramu seagama,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 8 November 1961

Maulana Maududi yth.

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Terima kasih atas surat anda tertanggal 24 Oktober.

Saya senang, anda begitu menentang pendekatan polemik yang apolojetik


sebagaimana saya. Ketika mulai pertama kali saya baca kepustakaan
tentang Islam yang bisa diperoleh dalam bahasa Inggris di tahun 1953,
teman-teman dan kenalan saya yang beragama Islam mendesak saya
agar membaca buku Sir Sayyid Amir Ali, The Spirit of Islam. Setelah
membacanya, saya berkesimpulan bahwa buku tersebut adalah buku
tentang Islam terjelek yang pernah saya baca. Teman-teman muslim saya
terkejut atas reaksi negatif ini dan tak dapat memahami mengapa saya
tidak menyukai buku ini.

Ambillah sebagai contoh masalah poligami. Orang-orang muslim seperti


Dr. Hoballah, pemimpin Islamic Centre di Washington, mengatakan kepada
saya bahwa Islam hanya memperkenankan poligami dalam sedikit
peristiwa-peristiwa pengecualian tertentu. Golongan modernis malahan
telah lebih jauh menafsirkan ayat al-Qur'an yang menyatakan bahwa
"kamu tidak akan bisa berbuat adil terhadap lebih dari satu istri,
betapapun kamu menginginkannya", sebagai larangan mutlak terhadap
poligami. Berikut ini, pandangan apolojetik serupa dikutip dari tafsir
Muhammad Ali Lahori dalam terjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa
Inggris (hal. 187-188).

"Surat 4:3 membolehkan poligami hanya dalam keadaan-keadaan


tertentu... Dengan demikian, akan jelaslah bahwa izin untuk mempunyai
istri lebih dari satu itu diberikan untuk keadaan khas umat Islam yang ada
pada saat itu... Dapat ditambahkan di sini bahwa poligami dalam Islam,
teori maupun praktek, adalah suatu perkecualian, bukan aturan..."

Dalih yang paling kuat untuk menentang cara berpikir yang sesat seperti
itu adalah kenyataan bahwa tak ada satu pun penafsir al-Qur'an yang
dikenal nama baiknya sepanjang sejarah Islam pernah menafsirkan ayat
tersebut seperti demikian, hingga dunia Islam jatuh ke dalam kekuasaan
imperialis Eropa. Saya tidak bisa menemukan pernyataan dalam
kepustakaan al-Qur'an maupun Hadits yang mengatakan bahwa poligami
dikutuk sebagai suatu kejahatan, tidak pula suatu masalah pernah timbul
mengenai perlunya untuk membatasinya hanya bagi keadaan-keadaan
pengecualian tertentu. Persisnya bunyi ayat yang menjadi pembicaraan
adalah:
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil terhadap istri-istri (mu),
walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu, janganlah
kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu
biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu berbuat kebaikan dan
memelihara diri dari kejahatan, maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang (al-Qur'an 4:129).
Dengan kata lain, karena tidak ada dua manusia yang sama, maka
tentunya seorang suami tidak mungkin dapat memperlakukan istri-istrinya
dengan rasa cinta-kasih yang sama. Tetapi ayat ini tidaklah melarangnya
untuk melakukan poligami hanya karena ia tidak dapat mencintai mereka
dengan kadar yang sama. Tidak! Al-Qur'an hanyalah memerintahkan
untuk berlaku baik serta mempergauli mereka dengan seadil-adilnya.
Catatan pendahuluan Marmaduke Picktall untuk terjemahan al-Qur'annya
ke dalam bahasa Inggris, dengan sangat meyakinkan menafsirkan ayat
yang berkenaan dengan masalah di atas sebagai berikut:
"Dalam Islam, kesucian tidak pernah diidentikkan dengan kehidupan
membujang. Bagi kekristenan, cita keagamaan yang paling tinggi adalah
membujang; monogami sudah merupakan kelonggaran bagi sifat manusia.
Bagi kaum muslim, monogami adalah cita-cita, sedang poligami
merupakan kelonggaran bagi sifat manusia. Setelah memberikan contoh
agung tentang perkawinan monogami lewat pernikahannya dengan
Khadijah, Rasulullah juga memberikan contoh tentang perkawinan
poligami yang diwarnai dengan segala sifat luhur. Islam tidak
melembagakan poligami, tapi menetapkan batasan atas suatu lembaga
yang telah lebih dulu ada di masyarakat, yakni dengan membatasi jumlah
istri sampai empat dan dengan memberi kepada setiap wanita kepribadian
dan hak-hak sah yang harus dihormati, dan dengan membuat setiap laki-
laki bertanggung-jawab secara hukum terhadap setiap istrinya. Apakah
poligami ataukah monogami yang mesti berlaku di suatu masyarakat atau
masa tertentu adalah merupakan masalah kecocokan dengan keadaan
sosial-ekonomi".
Sudahkah anda baca The Voice of Islam edisi April-Mei 1961 yang
diterbitkan oleh Jamiul Falah, Karachi, yang memuat suatu esai yang
berjudul Hukuman dalam Islam tulisan Muhammad Syibli? Tulisan ini
segera saja mengagumkan saya karena penyajian alasan-alasan logis
dengan jelas dan terus-terang tentang kenapa Islam telah menetapkan
apa yang sering disebut orang sebagai hukuman yang bersifat "barbar",
seperti merajam sampai mati orang yang melakukan zina (bila yang
bersangkutan telah berkeluarga penerj.), memotong tangan bagi pencuri,
mendera orang di muka umum bagi pelaku zina dan pemabuk dan
sebagainya. Sembilanpuluh sembilan persen penulis muslim-kontemporer
hendak mencoba untuk menerangkan bahwa hukuman menurut al-Qur'an
tersebut telah usang bagi abad modern ini. Contoh khas dari orang-orang
seperti ini adalah surat yang bernada marah kepada redaksi majalah yang
sama, dimuat dalam edisi bulan Agustus, yang menyalahkan Muhammad
Syibli karena tidak memandang sistem hukum Barat lebih tinggi daripada
syariat.

Demikian pula Presiden Habib Bourguiba mengatakan: "Sampai kini Islam


masih dipahami menurut cara-cara pemahaman para ulama, yakni
penafsiran yang statis tanpa perubahan selama berabad-abad. Penafsiran
kuno itu telah ketinggalan zaman ..."

Dengan kata lain, kaum modernis bermaksud mengatakan kepada kita


bahwa seluruh mujaddid kita sepanjang duabelas abad belakangan telah
melakukan kesalahan yang besar dalam memahami makna sebenarnya
dari al-Qur'an dan baru sekarang inilah untuk pertama kalinya kaum
modernis dapat mencapai wawasan yang benar!

Inilah beberapa alasan yang menyebabkan saya memandang pendekatan


apolojetik sebagai suatu puncak ketidakjujuran, kepengecutan moral,
fitnah rohaniah dan kemunafikan.

Ketika mahasiswa-mahasiswa muslim "progresif" ini menceritakan kepada


saya bahwa negara-negara mereka tidak akan mampu menjadi negara
yang relijius sebelum bisa mencapai pembangunan ekonomi dan taraf
hidup yang lebih tinggi terlebih dulu, saya tidak bisa menahan diri untuk
mengingatkan mereka kecuali akan kata-kata Nabi Isa as. sebagaimana
tercatat dalam Perjanjian Baru tatkala ia berkata kepada pengikut-
pengikutnya: "Carilah lebih dahulu Kerajaan Surga dan kemudian seluruh
benda-benda ini akan ditambahkan bagi kamu sekalian ..."

Tetapi orang-orang yang "progresif" ini mencoba melakukan hal yang


sebaliknya! Mereka berusaha meyakinkan kita bahwa setelah mereka
peroleh kemakmuran material, mereka akan punya banyak waktu untuk
memusatkan perhatian pada masalah-masalah rohaniah. Tetapi
pengalaman menunjukkan bahwa hal ini tak pernah terjadi, karena orang
yang menganut sikap seperti ini akan menjadi sedemikian sibuknya
dengan upaya-upaya materialistik, sehingga melupakan sama sekali segi
kehidupan rohaniah.

Penalaran yang aneh dari orang-orang "progresif" ini nampak ketika guru
bahasa Arab saya di masjid New York berkata bahwa Kamal Ataturk
melarang orang-orang Turki untuk beribadah Haji karena parahnya
ekonomi negara dan kelaparan yang melanda rakyat, sehingga
pemerintah tidak dapat mengizinkan mengalirnya kapital ke luar negeri.
"Hal ini sama sekali bisa dibenarkan", guru saya memberi alasan, "dan
sesuai dengan nilai-nilai Islam, karena Ibadah Haji memang hanya wajib
bagi mereka yang mampu". Tetapi tidak ia sebutkan bahwa dekrit Ataturk
hanya menimpa Ibadah Haji ke Makkah! Sedang semua perjalanan ke luar
negeri yang lain, khususnya ke negara-negara Eropa dan Amerika tidak
hanya diizinkan tetapi malah didorong dengan aturan-aturan resmi.

Pada pertemuan-pertemuan Perkumpulan Mahasiswa Muslim di


Universitas Columbia, topik pembicaraan yang disukai adalah pendidikan
Islam tradisional sebagaimana diterapkan di al-Azhar, Deoband atau
madrasah-madrasah yang lebih kecil yang karena selalu menekankan
pada hafalan, dikritik sebagai membunuh kemerdekaan intelektual, dan
pikiran-pikiran orosinal dan kreatif. Para mahasiswa ini tidak menyadari
bahwa kritikan mereka terhadap madrasah tradisional itu justru beribu kali
lebih tepat ditujukan kepada diri mereka sendiri! Di antara mahasiswa-
mahasiswa berpendidikan Barat ini, sama sekali tidak saya temukan
kemerdekaan intelektual dan pikiran-pikiran orisinal dan kreatif. Tidak
pernah mereka ciptakan pemikiran mereka sendiri selain sekedar
mengulang secara mekanis bak burung beo segala sesuatu yang diajarkan
kepada mereka.

Inilah sebabnya, walaupun Universitas-universitas di Amerika penuh


dengan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negara-negara Islam,
tetapi di dalamnya tak bisa didapati satu pun sarjana sejati.

Makna harfiah kata "Islam" adalah penyerahan diri kepada kehendak


Allah. Seseorang tidak akan mungkin dekat kepada Allah tanpa
menyerahkan diri untuk melaksanakan aturan-aturan serta mengikuti
petunjuk-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Orang seperti itu tidak akan
meragukan hikmah Ilahiah (sebagaimana yang pernah terjadi pada
seorang mahasiswa Universitas Columbia yang menyatakan bahwa
sekarang orang muslim dibolehkan makan daging babi karena para
peternaknya kini telah tahu cara memelihara babi secara higenis,
sehingga bahaya penyakitnya dapat dihilangkan!). Orang muslim sejati
tidak akan pernah mencampakkan ajaran-ajaran al-Qur'an karena
menganggapnya tidak cocok lagi dengan kehidupan masa kini. Tujuan
hidupnya yang utama adalah menempuh kehidupan sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Allah, dan tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya
lebih bersedih daripada mengingkari Tuhannya. Dia tidak akan
menganggap hukum Allah sebagai beban, melainkan kebahagiaan. Pada
titik inilah agama Yahudi Ortodoks dan Islam bertemu. Setiap hari seorang
Yahudi yang taat selalu membaca perintah-perintah dari Hukum Nabi Musa
berikut:
"Engkau harus mencintai Rabbmu dengan seluruh hatimu, dengan seluruh
jiwa dan kekuatanmu. Dan kata-kata yang Aku (Tuhan) perintahkan
kepadamu (Musa) ini mesti tertanam dalam hatimu. Engkau harus
mengajarkannya dengan rajin kepada anak-anakmu dan kamu harus
membicarakannya bila sedang duduk-duduk di rumah, atau bila
bepergian, bila berbaring dan bila berdiri. Harus kamu ikat mereka untuk
suatu tanda di tanganmu dan harus selalu kau tempatkan mereka di
bawah pengawasan. Harus kau catat mereka di daun pintu rumahmu dan
di daun pintu gerbangmu. (Deuteronomy 6:4-9).
Di pihak lain, bukannya menyerahkan diri kepada Allah, kaum modernis
malah mengharap Allah menyerahkan diri-Nya kepada mereka!

Bersama ini saya sertakan tajuk The IslamicReview edisi Juli 1961 yang
memuji Undang-undang Keluarga Pakistan yang baru. Apa komentar anda?

Saudaramu dalam Islam,


Maryam Jamilah

-------------------------------------------------------------
Lahore, 16 Desember 1961

Nona Maryam Jamilah,


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 8 November bersama lampiran


tajuk rencana The Islamic Review tentang Undang-undang Keluarga.
Dalam sampul yang lain juga telah saya terima naskah esai anda yang
berjudul Makna Taqbir. [Lihat Makna Taqbir dalam buku saya Islam versus
Barat, cetakan kedua yang telah direvisi dan diperluas, diterbitkan oleh
Muhammad Yusuf Khan, Lahore, 1968.]

Telah saya baca naskah anda dengan teliti dan saya setuju dengan setiap
kata di dalamnya. Nabi Besar dengan tegas telah melarang orang muslim
untuk menggambar dan membuat patung binatang ataupun manusia.
Sejarah telah menyaksikan kenyataan bahwa pembuatan gambar adalah
langkah pertama ke arah syirik dan penyembahan berhala. Penyembahan
berhala tidak mesti berarti penyembahan secara ritual di depan suatu
obyek. Bila gambar para pemimpin dan orang-orang terkenal
digantungkan secara menyolok atau dibagi-bagikan ke mana-mana,
pastilah hal itu akan menghasilkan pembudakan mental dan penuhanan,
serta menanamkan kesan "keagungan" kepada orang-orang (sebagai ganti
keagungan Allah), pada pikiran dan jiwa mereka. Pastilah hal ini
merupakan suatu bentuk penyembahan berhala.

Ketika Rusia mencaplok Polandia, ribuan gambar Stalin telah dimasukkan


ke setiap kota dan desa. Tentara Nazi dulu terbiasa mengenakan foto
Hitler di dada mereka dan bila mereka terluka dan menghembuskan
nafasnya yang penghabisan di rumah sakit, mereka ditemui sedang
menciumi potret-potret ini dan menaruhnya di pelupuk mata mereka.
Gambar-gambar pemimpin nasional pada mata uang dan perangko
merupakan simbul-simbul kekuasaan duniawi mereka dan bila gambar-
gambar mereka dipertunjukkan di layar bioskop, maka para hadirin pun
diminta untuk berdiri seketika. Bila ini semua bukan syirik, lantas apa lagi
namanya? Kaum Nazi, Fasis, Komunis, Kamalis dan Nasseris telah
menunjukkan kegunaan atau lebih tepat disebut sebagai penyalahgunaan
gambar-gambar dan mendemonstrasikan sedemikian jelas malapetaka
yang diakibatkannya, sehingga saya pikir tidak semestinya ada akal sehat
yang meragukan sedikit pun mengapa Islam mengharamkan gambar-
gambar dan patung-patung.

Bagaimanakah seseorang yang mengetahui perbedaan antara tauhid dan


syirik dapat mengizinkan pembuatan gambar bila akibatnya begitu terang
saat ini? Di atas semuanya itu, mengapa Krushchev dalam mencela Stalin
memerintahkan juga untuk membuang patung-patung Stalin dari tempat-
tempat umum? Tidakkah hal ini berarti bahwa Krushchev menyadari
sepenuhnya betapa hukum dari tuhan-palsu ini telah terukir pada otak
orang-orang Rusia melalui gambar-gambar ini?

Sejak awal sekali gambar-gambar telah dipakai secara luas untuk


menyebarkan ketakbermoralan dan kecabulan di dunia ini. Anggur, musik,
bacaan, gambar dan patung cabul sekarang, lebih dari dulu-dulu,
merupakan penghasut yang paling potensial bagi perzinaan. Bila kaum
modernis di negeri-negeri muslim masih mempertahankan kegemaran-
kegemaran seperti itu, sekalipun telah ada larangan yang terang dari Nabi
kita saw, agar bisa berkompromi dengan perubahan "zaman" dan dipuji
sebagai up to date, mereka tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu
tanpa mengabaikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Tak bisa saya
pahami, bagaimana orang seperti ini mampu meyakinkan diri mereka
sendiri dan orang lain bahwa, meskipun mengalami perubahan yang
mendasar seperti itu, mereka adalah orang Islam yang baik.

Saya setuju sepenuhnya dengan apa yang anda tulis tentang apolojetik.
Ada dua sebab penting dari penalaran seperti ini baik merupakan hasil
dari kesalahpahaman dan kejahilannya tentang Islam, ataupun karena
hasil alami dari mentalitas orang yang kalah sehingga secara buta mereka
terima nilai budaya yang dominan sebagai kriteria tertinggi. Akibatnya,
peradaban Barat telah menjadi juri penilai atas kelebihan dan "kesalahan"
Islam, bukan sebaliknya.

Pelopor kaum apolojetik di anak benua Pakistan adalah Sir Sayyid Ahmad
Khan dan rekannya Chiragh Ali. Belakangan, Sir Sayyid Amir Ali pun
menyusul (Amir Ali dan Chiragh Ali adalah orang-orang Syi'ah). Akhirnya,
seluruh Sekolah Aligarh pun meneriakkan koor apoloji kepada Barat atas
nama Islam. Muhammad Ali Lahori (pengikut Mirza Ghulam Ahmad dan
penerjemah al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris) yang oleh para pengarang
Barat sering dikacaukan namanya dengan Muhammad Ali Jauhar
(negarawan terkenal dan pejuang kemerdekaan) banyak mengikatkan diri
pada pandangan-pandangan Sekolah Aligarh. Di Mesir, Syaikh Muhammad
Abduh melakukan kompromi serupa, sehingga dengan demikian membuka
pintu lebar-lebar bagi orang-orang yang melancarkan pembaratan di dunia
Arab yang tiba sesudahnya.

Sekali mereka mulai berjalan di jalur ini, maka mereka hampir tidak bisa
membatasi pemikiran sehat yang mubazir ini. Jihad hanya ditafsirkan
sebagai perang "defensif" semata-mata. Ajaran Islam tentang tawanan-
tawanan perang (budak-budak) diberi arti yang sangat aneh dan dicari-
cari. Poligami dengan setengah hati dianggap hanya sebagai langkah
darurat; makin cepat diharamkan makin baik. Mukjizat yang disebutkan
dalam al-Qur'an diingkari sebagai kepalsuan atau, upaya-upaya fantastik
mereka lakukan untuk menjelaskannya sebagai fenomena alami. Malaikat-
malaikat dikatakan sebagai "kekuatan-kekuatan alam" belaka dan wahyu
sebagai hasil subyektif daripada kegiatan mental yang luar biasa yang
diproyeksikan ke luar menyerupai hallusinasi orang gila. Meskipun kalah
secara politis, orang-orang Islam tidak mengalami kekalahan yang serius
dalam dunia pemikiran dan hanya karena kelumpuhan mental sajalah
maka tidak dapat mereka tangkap hidayah Allah kepada Nabi-Nya yang
terakhir.

Apa yang anda tulis tentang poligami mutlak benar. Hanya ingin saya
tambahkan bahwa surat 4:3 diwahyukan tidak untuk mengesahkan
poligami. Poligami tidak pernah diharamkan oleh Allah. Ia dibolehkan oleh
syariat seluruh nabi. Sebagian besar para nabi beristri lebih dari satu.
Sebelum ayat ini diturunkan kepada Nabi saw., beliau telah beristri tiga
(Saudah, Aisyah dan Ummu Salamah ra). Sebagian besar sahabat juga
berpoligami. Jadi tidak diperlukan lagi pengesahan atas suatu praktek
yang halal dan telah dikenal. Ayat tersebut di atas diturunkan ketika
banyak wanita Madinah ditinggal mati suami-suami mereka yang gugur di
medan perang Uhud dan banyak pula anak-anak yang sudah tidak
berbapak lagi. Dihadapkan pada masalah ini, orang Islam diarahkan untuk
memecahkannya dengan memanfaatkan lembaga yang telah ada dan
lazim, yakni dengan mengawini dua, tiga atau empat wanita di antara
janda-janda tersebut.
Sebagai akibatnya, janda-janda dan anak-anak yatim tidak terlantar,
melainkan terserap ke dalam berbagai keluarga. Kalaupun petunjuk Tuhan
ini menyiratkan suatu pembentukan hukum baru, hal itu bukanlah
pemberian izin berpoligami, melainkan merupakan pembatasan jumlah
istri sampai empat dan penetapan syarat lebih jauh, yakni bila suami tidak
bisa bertindak adil terhadap seluruh istrinya, maka ia harus mempergauli
mereka dengan baik atau beristri satu saja Dua buah perintah di atas tidak
pernah diketahui dan dikenal oleh orang Arab penyembah berhala, dan
Bible yang sekarang pun tidak menyebutkannya.

Mengenai orang-orang yang mencoba untuk menafsirkan kembali Islam,


saya tidak tahu siapakah yang mereka coba bohongi, Allah atau diri
mereka sendiri. Tetapi yakinlah bahwa penipuan ini tidak akan
berlangsung lama. Karena kekuasaan politik mereka, maka mereka
berusaha menjejalkan pandangan mereka kepada rakyat yang beragama
Islam, sedang pers Barat mendorong mereka dari belakang. Tetapi di sini
terdapat juga gelombang besar kemarahan di kalangan rakyat. Pendapat
umum di negara-negara Islam yang menentang mereka sedemikian
kerasnya, melampaui bayangan anda selama masih di Amerika.

Bila anda pergi ke salah satu negara Islam, akan anda dapati kenyataan
bahwa, tidak hanya orang-orang yang berpikiran sederhana saja, bahkan
kaum modern yang terpelajar pun merasa sebal dan letih oleh penafsiran
baru yang merupakan pencemaran terhadap bentuk dan jiwanya. Pemuda
yang anda temui di Universitas Columbia bukanlah wakil sebenarnya dari
pendapat umum orang Islam. Mereka hanya berbicara bagi sebagian kecil
orang yang dianggap lebih sebagai kekurangan daripada kelebihan oleh
rekan-rekannya seagama.

Orang-orang ini, setelah kembali ke negeri asalnya, akan hidup seperti


orang asing saja. Kebiasaan, cita-rasa, perilaku dan cara berpikir mereka
bertolak belakang seratus-delapanpuluh-derajat dengan rekan mereka
sesama muslim. Mereka tidak bergaul dengan orang-orang lain dan orang-
orang lain pun tidak bergaul dengan mereka. Mereka adalah sekelompok
orang asing bumiputra yang dibesarkan di negara Islam sebagai hasil
sampingan dari pemerintahan penjajah Eropa. Karena mereka tahu bahwa
mereka tidak akan mampu membujuk rakyat untuk mengambil
sekularisme dengan sarana-sarana demokrasi, maka mereka mencoba
untuk menyusupkan ideologi asing mereka atas sasaran-sasaran yang tak
menghendakinya melalui kelaliman yang sewenang-wenang.

Suara-suara yang bersimpati mendorong mereka dari ufuk Barat, yakni


"Timur belum lagi siap menerima demokrasi". Tetapi diktator-diktator ini
tidak punya penghargaan sedikit pun terhadap cita-cita demokrasi.
Merekalah korban perbudakan yang terjelek. Barat memberikan tepukan
kepada mereka hanya karena taklid buta mereka kepada materialisme
Barat dan karena iman mereka kepada Islam telah rusak sama sekali.

Sedangkan mengenai tajuk rencana The Islamic Review yang anda


lampirkan dalam surat anda yang lalu, yakni tentang Undang-undang
Hukum Keluarga, mungkin anda akan tertarik untuk mengetahui bahwa
segera setelah dekrit tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Maret, saya
bersama para ulama dari semua aliran pemikiran yang diakui
mengeluarkan pernyataan bersama untuk niengkritik secara terperinci
setiap bagian dari undang-undang tersebut dan menunjukkan
pertentangannya dengan al-Qur'an dan Sunnah.

Instruksi dari Pemerintah diberikan kepada pers agar jangan memuatnya.


Meskipun demikian, beberapa orang memberanikan diri untuk
menerbitkannya juga. Mereka kemudian diinterogasi dan diganggu dengan
berbagai cara, bahkan ada yang dipenjara berdasarkan Undang-undang
Keselamatan Umum. Sementara itu, pujian terhadap "pembaharuan" ini
dipublikasikan secara luas di dalam dan di luar negeri. Juga telah anda
minta agar saya memberi komentar atas tajuk rencana tersebut. Saya
hanya akan mengatakan bahwa ketakutan penguasa terhadap kritik telah
cukup sebagai komentar.

Akhirnya, saya harus minta maaf karena terlambat membalas surat anda,
walaupun bukannya tanpa alasan.

Teriring salam dan harapan.

Saudaramu seagama,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 19 Sya'ban 1381 (25 Januari 1962)

Maulana Maududi yth.

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Terima kasih sekali atas surat anda tertanggal 16 Desember yang sarat
dengan keterangan untuk menjawab semua pertanyaan, yang tentunya
melelahkan anda.

Beberapa minggu yang lalu, Zafrullah Khan datang ke masjid kami di New
York untuk memberikan kuliah khusus. Semula telah saya rencanakan
untuk menghadirinya, tetapi pada saat-saat akhir ternyata saya tidak bisa
berangkat. Sebagaimana anda ketahui, Zafrullah Khan adalah salah
seorang pemimpin Ahmadiyah yang terkenal. Dan dua cabangnya, saya
kira yang Lahore lebih berbahaya daripada kelompok utamanya di
Rabwah. Orang Qadiani bersikap terang-terangan dalam penerimaan
mereka akan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan mengecap mereka
yang menolaknya sebagai kafir, sehingga dengan demikian berada di luar
Islam.

Orang Ahmadiyah Lahore, di lain pihak, mencoba untuk bersikap seperti


orang muslim yang sempurna, sekaligus berusaha menyebarkan
pandangan sesat mereka dengan diam-diam. Saya yakin, Zafrullah Khan
termasuk dalam kelompok kedua. Walaupun ia berusaha bersikap seperti
orang Islam ortodoks, tetapi telah ia tampakkan warnanya yang
sebenarnya ketika sebagai pegawai tinggi pemerintah, ia menolak untuk
ikut melakukan shalat jenazah Quaid-i-Azam, hanya karena imamnya
bukan orang Lahore.

Di suatu toko kecil di New York yang khusus menjual buku-buku tentang
Ketimuran dan Islam cetakan Pakistan, saya temukan buku kecil yang
bagus tentang pergerakan Qadiani yang diterbitkan oleh Syeikh
Muhammad Asraf berjudul His Holiness: A Fearless and Frank Exposition of
the Hollowness of Mirza Ghulam Ahmad's Claim to Prophethood oleh
"Phoenix" dengan kata pengantar yang bagus oleh Zafar Ali Khan.

Buku ini berisi kajian yang paling menarik tentang Mirza yang pernah saya
baca dalam bahasa Inggris dan memuat pula kutipan-kutipan dari karya-
karyanya. Setelah membaca sejarah hidupnya, saya terheran-heran,
bagaimana bisa sarjana-sarjana yang pandai seperti Muhammad Ali Lahori
menerima pengakuannya yang fantastik itu jika bukan karena ingin
memperoleh keuntungan pribadi ataupun materi. Mirza Ghulam Ahmad
sama sekali tak memiliki kepekaan moral, dan kemampuan intelektualnya
cukupan saja. Karena itu, saya tidak ragu lagi bahwa Mirza Ghulam Ahmad
adalah orang gila. "Visi"-nya (atau lebih tepat, hallusinasinya) meyakinkan
dirinya bahwa Tuhan di Surga telah menyucikan dan memperlengkapi
dirinya dengan bintang kehormatan yang paling tinggi. Dialah raja orang-
orang Arya, Jai Singh Bahadur (nama Sikh yang berarti singa yang
menang) dan Dewa Krisna. Maria adalah juga salah satu namanya. Nabi
Isa yang ditunggu tidak lain adalah Mirza sendiri (hal. 191-192). Tidakkah
ini suatu bukti bahwa ia seorang gila? Saya tak tahu mengapa
keluarganya tidak mengerti hal ini dan membawanya ke rumah sakit jiwa.
Bila Mirza Ghulam Ahmad dikurung di rumah sakit jiwa, tentu ia tidak akan
punya kesempatan untuk menyebarkan ajaran sesatnya. Sehingga anda
tidak perlu harus ditahan ketika terjadi kerusuhan di Punjab, tahun 1953
dan tidak perlu pula harus dijatuhi hukuman mati. Bila Mirza Ghulam
Ahmad masih hidup saat ini, tentulah khayalan kemegahan dan
penganiayaannya akan didiagnosa oleh dunia kedokteran sebagai tipe
Schizophrenia-paranoid. Tiap baris karyanya menunjukkan penyakitnya.

Seperti yang ditulis oleh "Phoenix": "Ghulam Ahmad nabi itu telah
menderita mania penganiayaan yang amat parah. Pengakuan-
pengakuannya berendeng dengan mania penganiayaannya. Makin ia
merasa dianiaya, makin membubung pula pengakuannya. Orang gila itu
makin gigih dengan khayalannya jika mereka makin jengkel. Jika saja
masyarakat Islam membiarkannya sendirian dan mengangap
pengakuannya sebagai kegilaan, maka penyakitnya tak akan sampai
separah itu" (hal. 155-186). Pada akhirnya, dilihatnya dalam khayalannya
bahwa ia telah menjadi Tuhan Yang Maha Kuasa, lalu mencela orang-orang
yang tidak mau menerima kebenarannya sebagai "anak haram".

Dari berjilid-jilid buku karya Mirza Ghulam belum pernah saya dengar ada
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kecuali satu buah karya
kecilnya yang berjudul The Teachings of Islam. Mereka harus benar-benar
sadar betapa orang akan menghinakan keanehan dan bualannya yang
berkedok "wahyu". Tetapi saya kira buku-bukunya, khususnya Haqiqatul
Wahyi (Hakikat Wahyu) perlu sekali dicetak ulang dalam bahasa Urdu,
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa
Eropa lainnya; tidak untuk khalayak ramai melainkan untuk bahan
penelitian kedokteran.

Buku ini akan sangat menarik perhatian mahasiswa Psikologi Abnormal.


Buku-buku tersebut akan dianggap oleh para Psikiater sebagai dokumen
berharga tentang Schizophrenia yang memberi pengetahuan tangan
pertama tentang bagaimana pemikiran orang yang menderita paranoid
bekerja kepada orang-orang yang terlatih secara profesional. Dipandang
dari sudut ini, maka penelitian tentang buku-buku Mirza Ghulam Ahmad
akan membantu riset ilmiah tentang penyakit-penyakit mental.
Dalam salah satu buku yang anda kirimkan kepada saya beberapa waktu
yang lalu, telah anda terangkan bagaimana kaum nasionalis di Asia dan
Afrika melestarikan sistem yang sama dengan yang digunakan oleh
majikan-majikan kaum penjajah mereka terdahulu. Perbedaannya hanya
terletak pada orang-orangnya. Bersama dengan kerusuhan-kerusuhan anti
Islam di Aligarh dan kota-kota lain di India, yang mengakibatkan banyak
orang muslim yang tidak berdosa dibunuh, kenyataan ini segera saja
terbawa pulang.

Sebagai seorang ateis dan pendukung sosialisme, Nehru mengikuti kredo


materialistik, seperti halnya kaum penjajah. Dia tidak segan-segan
melakukan penekanan terhadap rakyatnya seperti yang dilakukan oleh
penjajah Inggris. Kalaupun ia bukan orang yang bersalah menghasut
pembunuhan besar-besaran terhadap kaum muslimin di India, paling tidak
ia tidak mencoba untuk menyetop dan menghukum mereka yang
bertanggung jawab. Asas pembimbing Nasionalisme model Barat itu
adalah kebencian terhadap kelompok-kelompok minoritas. Nasionalisme
mendekritkan bahwa seluruh penduduk harus mempunyai ras yang sama,
berbicara dengan bahasa yang sama dan tunduk pada hukum yang sama;
ia tidak bisa menerima perbedaan. Kesamaan harus dipaksakan, berapa
pun biayanya. Prinsip ini telah merajalela di seluruh dunia, telah kita
saksikan hal itu di Uni Sovyet dalam masalah orang non-Rusia, telah kita
lihat pula orang Yahudi di bawah Nazi, serta penderitaan orang-orang Arab
di "Israel". Kini tragedi yang serupa terulang di India. Saya bertanya-
tanya, adakah Nehru mengambil pelajaran dari Nazisme dan Zionisme
dalam merampas milik orang Islam India lalu mengusir mereka dan kini
mengadakan pembunuhan secara besar-besaran terhadap mereka?
Alangkah bertolakbelakangnya hal ini dengan sistem millat dalam negara
Islam yang di dalamnya agama-agama minoritas yang dilindungi
diperbolehkan mengembangkan kehidupan budaya dan menjalankan
hukum-hukum agama mereka tanpa diganggu.

Uraian anda tentang alasan Islam mengharamkan gambar-gambar benar-


benar jelas dan masuk akal. Saya yakin akan adanya hubungan yang erat
antara seni yang bernilai tinggi dengan agama. Bagi saya, masjid-masjid
besar seperti lbnu Tulun di Kairo, masjid-masjid di Kordoba, di Istambul
dan yang ada di seluruh dunia Islam, kaligrafi yang menghiasi halaman-
halaman al-Qur'an, permadani, kain tembikar dan barang pecah-belah,
semuanya itu merupakan ungkapan perwujudan nilai-nilai rohaniah Islam.
Tidakkah Nabi besar saw. sendiri telah mengatakan bahwa Tuhan itu indah
dan menyukai keindahan?

Ketika peradaban Islam sedang berada pada puncaknya, seni sama sekali
bukanlah sesuatu yang hanya ditimbun di museum-museum, melainkan
merupakan bagian terpadu dari kehidupan seorang muslim yang paling
rendah sekalipun. Dalam kehidupan sehari-hari orang Barat, seni seolah-
olah tidak mempunyai tempat. Pakaian dan arsitektur ultra modern Barat
adalah seni terburuk yang pernah saya lihat. Apa yang disebut-sebut
sebagai lukisan "non-obyektif" atau "abstrak", yang begitu populer masa
kini, mirip sekali dengan gambar-gambar ciptaan penderita schizophrenia
di rumah sakit-rumah sakit jiwa.

Lukisan-lukisan itu mengatakan: "Hidup ini tidak punya arti dan tujuan.
Tuhan tidak ada. Yang ada hanyalah kekacauan dan kehampaan". Saya
tidak ragu bahwa sebab kemunduran seni modern itu berhubungan erat
sekali dengan "filsafat perubahan". Bila segala sesuatu itu harus selalu
berada dalam keadaan mengalir maka, logikanya, tidak ada kestabilan
dalam segala sesuatu; semuanya mesti dibatasi pada suatu waktu dan
tempat tertentu dan tidak ada sesuatu pun yang bernilai permanen.
Seluruh seni yang tinggi harus menyiratkan keimanan kepada kebenaran-
kebenaran moral dan estetika.

Saya pikir, penyelewengan dalam bidang seni modern seperti halnya


dalam bidang-bidang yang lain bersumber dari penolakan secara langsung
terhadap cita-cita yang lebih luhur. Tanpa konsep kebenaran mutlak, tidak
mungkin seseorang bisa mencapai kebaikan. Bagaimana mungkin
seseorang akan dapat meraih harkat dan watak luhur bila apa yang ia
senangi hari ini akan menjadi usang esok hari?

Telah saya baca buku tentang Syah Waliullah; ada sedikit hal yang telah
membingungkan saya. Di satu pihak saya baca bahwa banyak sarjana
muslim di anak benua India-Pakistan menganggapnya sebagai sarjana
nomor dua setelah al-Ghazali. Tetapi, di lain pihak sering dikatakan bahwa
karyanya yang terbesar Hujjatullah al Balighah memberikan ilham bagi
pergerakan pembaratan oleh kaum modernis dengan menekankan
keunggulan rasionalisme dan mendorong dilakukannya penerjemahan al-
Qur'an ke dalam bahasa-bahasa asing (dia sendiri menerjemahkan al-
Qur'an ke dalam bahasa Parsi) dan menolak segala yang disebut-sebut
sebagai unsur-unsur Islam "Arab" yang menurutnya hanya relevan untuk
waktu dan tempat yang khas masyarakat asli zaman Nabi. Dikatakan juga
bahwa Syah Waliullah menolak otoritas empat aliran pemikiran ortodoks
dan menghendaki disusunnya sistem hukum baru yang sesuai dengan
kebutuhan kaum muslimin di India. Dikatakan pula, ia pernah menyatakan
bahwa hanya bagian-bagian Qur'an dan Sunnah yang bersifat murni dan
rohaniah sajalah yang mengikat, sedang sisanya, yang meliputi seluruh
aspek kehidupan duniawi, hanya cocok untuk abad ketujuh di Jazirah
Arabia. Hal berikut inilah yang sulit saya mengerti: Syah Waliullah hidup
sebelum adanya dampak kolonialisme Inggris, tetapi menurut
kepustakaan yang saya baca, filsafatnya memberikan pembenaran dan
dasar bagi apolojetik muslim yang tiba sesudahnya. Adakah dia rumuskan
gagasan-gagasannya secara bebas atau, bila tidak, apa sajakah yang
mempengaruhi pemikirannya? Dalam bukunya yang baru diterbitkan oleh
Lembaga Kebudayaan Islam Lahore, The Religious Thought of Sir Sayyid
Ahmad Khan, Bashir Ahmad Dar mengatakan bahwa Ahmad Khan selalu
mengutip Syah Waliullah untuk mendukung pandangannya sendiri.

Apologi Sir Sayyid Ahmad Khan merusak ajaran-ajaran Islam dan memberi
pengaruh penting kepada Sayyid Amir Ali dan Maulana Kalam Azad.
Allamah Iqbal pun tidak bisa sepenuhnya lepas dari pengaruhnya seperti
terlihat terutama di dalam bukunya Reconstruction of Religious Thought in
Islam.

Saya tahu bahwa Allamah Iqbal adalah penyair muslim terbesar abad dua
puluh. Beberapa karyanya, walaupun hanya terjemahannya ke bahasa
Inggris, sangat mengagumkan saya. Tetapi di manakah persisnya ia
berdiri? Beberapa sarjana ngotot mengatakan bahwa dia adalah seorang
modernis sejati. Untuk menguatkan pendapat ini mereka mengutip dari
bukunya tersebut di atas percobaan untuk menafsirkan ajaran Islam
menurut kriteria para filosof Eropa kontemporer, dan kegairahannya
memuji percobaan kaum Kemalis di Turki. Namun dalam puisinya yang
berbahasa Parsi dan Urdu, ia kritik dengan pedas sekali kebudayaan Barat
serta pendirinya dan mengecap kaum muslimin yang meninggalkan
warisan mereka sebagai membebek pada orang-orang Barat. Tidak ada
seorang yang skeptis dan sinis seperti biasanya kaum modernis yang
mampu menulis tema-tema keislaman seperti halnya Iqbal, dengan
perasaan yang sedemikian murni dan mulia. Tetapi yang tidak saya
mengerti tentang Iqbal adalah, mengapa pandangan-pandangannya selalu
saling bertentangan satu sama lain dalam berbagai hal? Saya tidak bisa
percaya bahwa dia seorang munafik; karena suaranya terdengar begitu
ikhlas. Lalu, bagaimanakah penjelasannya?

Dapatkah anda terangkan tentang Maulana Abul Kalam Azad (1888-1958),


karena hanya satu buku saja tentang beliau, yang ditulis oleh Prof.
Humayun, yang bisa saya temukan di Perpustakaan Umum New York;
tetapi itu saja belum cukup. Yang saya ketahui, dia adalah seorang
pejuang kemerdekaan, kawan dekat Mahatma Gandi Presiden Partai
Kongres hampir selama dua dasawarsa, dan sesudah kemerdekaan India
duduk sebagai Menteri Pendidikan sampai meninggalnya. Juga pernah
saya baca bahwa ia seorang terpelajar yang alim, menguasai prosa
bahasa Urdu dan menulis tafsir al-Qur'an yang sangat kontroversial.
Sayangnya tidak ada karya tulisnya yang bisa diperoleh dalam bahasa
Inggris.

Saya akan sangat gembira sekali bila dapat memperoleh penjelasan dari
anda tentang masalah-masalah tersebut.

Saudaramu seagama,
Maryam Jamilah

-------------------------------------------------------------
Lahore, 10 Februari 1962

Nona Maryam Jamilah,

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 25 Januari.

Pandangan-pandangan anda tentang Mirza Ghulam Ahmad sepenuhnya


benar. Sekalipun hanya demi argumen, kita misalkan bahwa setelah Nabi
Muhammad saw. akan ada nabi lagi, walaupun ini tentunya akan sangat
bertentangan dengan dalil al-Qur'an dan Hadits kemudian bila kita
berhenti sejenak untuk berfikir bagaimana bisa seseorang yang bermoral
dan bermental rendah seperti itu telah diangkat sebagai Nabi, tentu akan
kita pahami dengan mudah dalamnya keterperosotan konsep Kenabian di
masa kita ini.

Sebagian besar buku karya penipu ini bukan saja tidak diterjemahkan ke
dalam bahasa lain, bahkan cetak ulang dalam bahasa Urdunya pun tidak
dilakukan oleh pengikutnya. Peredaran karya-karyanya diawasi dan dijaga
dengan teliti, karena orang Qadiani menyadari kemustahitan dan sifat
menjijikkannya. Anda telah membuat gambaran yang benar tentang
Ahmadiyah Lahore dan Qadiani di Rabwah, tetapi kesan anda bahwa Sir
Zafrullah Khan itu termasuk kelompok Lahori adalah salah. Dia adalah
pengikut setia Qadiani dan mengakui Mirza sebagai Nabi.
Analisa anda tentang sikap pemerintah India terhadap kaum muslimin
benar sekali. Pada umumnya, pemimpin politik modern di Asia dan Afrika
cinta akan kemerdekaan hanya dalam arti bahwa mereka tidak ingin
kendali kekuasaan berada di tangan orang asing. Tetapi dalam hal
pemikiran dan perilaku, mereka adalah hamba-hamba yang taat pada
bekas penjajahnya; dengan setia mereka ikuti setiap langkah bekas
penjajah itu. Hanya sedikit dari mereka yang memiliki pikiran yang bebas
dan berani. Nehru memiliki jiwa yang sama sekali Inggris dalam dirinya.
Dia orang India hanya bila dilihat dari penampilan jasmaninya saja.

Sedangkan Syah Waliullah, dia adalah ulama sejati dan besar sejak awal
hingga akhir hayatnya. Tidak bisa saya jamin bahwa saya menyokong
setiap pendapatnya, tetapi yang jelas dia adalah seorang ahli hadits dan
fikih nomor wahid. Di anak-benua India-Pakistan, dialah perintis
penyebaran Ilmu Hadits dan setiap ulama kita berhutang kepadanya
dalam penyebaran ajaran Nabi. Mengingat kedudukannya yang terhormat
dan mempunyai otoritas, maka setiap "pembaharu" di sini mencoba untuk
memanfaatkan namanya, mencerabut perkataannya sampai keluar dari
konteksnya serta menyelewengkannya demi memenuhi kepentingannya
sendiri. Seluruh bukunya menggunakan bahasa Arab atau Parsi, dan setiap
orang yang memahami gagasan-gagasannya tentu akan sepenuhnya
memahami betapa tidak jujurnya para pencari dukungan ini. Mereka taruh
susunan yang fantastik dan aneh di atas kata-katanya dan mencoba untuk
menggali gagasan-gagasan yang sebenarnya tidak terdapat dalam karya-
karyanya. Syah Waliullah tidak pernah meneriakkan kehebatan
rasionalisme ataupun berkeinginan untuk menghapus unsur-unsur Arab
dari Islam. Dia adalah pengagum keempat madzhab fikih dan tidak pernah
berkehendak untuk membuat sistem hukum baru guna mengganti yang
lama. Tetapi walaupun demikian, mengingat adanya kekakuan dan
antagonisme yang timbul akibat lampaunya waktu pembentukan
madzhab, pernah ia sampaikan keinginan bahwa akan lebih baiklah bila
dikembangkan suatu sistem hukum baru yang merupakan sintesa dari
fikih Hanafi dan Syafi'i khususnya. Ia tidak pernah lebih jauh dari itu.

Saya tidak menyangkal kenyataan bahwa Iqbal secara tepat telah


mengkritik Barat dan berjuang demi Islam, terutama lewat puisi-puisinya.
Tetapi sayang, seperti yang telah anda katakan, karya-karyanya tidak
bebas dari pertentangan-pertentangan. Pertama, Iqbal melewati berbagai
tahapan evolusi mental selama rentang hayatnya dan baru di tahun-tahun
terakhir kehidupannya sajalah bisa ia bentuk di dalam pikirannya konsepsi
Islam yang jernih tanpa tercemar. Di masa hidupnya yang lebih dini,
banyak pemikiran dan pengaruh yang bercampur secara bebas dengan
pemahaman Islamnya.

Kedua, dalam bagian besar kehidupannya, bukannya ia menjadi muslim


yang setia pada pandangan kosmopolitan, selalu ada warna "Nasionalisme
Muslim" yang tidak bisa ia hindari. Inilah sebabnya mengapa ia merasa
ragu-ragu untuk menyalahkan pemimpin muslim dan pemikir modernis.
Kadang-kadang, sehubungan dengan alasan puitis, ia bertindak
sedemikian jauh untuk merasionalkan dan mendukung kegiatan-kegiatan
mereka termasuk yang tidak Islami sekalipun.

Ketiga, akan anda lihat bahwa banyak faktor sejarah dan politik yang
mendukung adanya rasa simpati yang berakar-dalam kepada Turki di
antara orang muslimin di India dan Pakistan. Kaum muslimin ini, setelah
diperbudak Inggris, merasakan suatu ikatan sentimental dengan sisa-sisa
terakhir keagungan mereka yang telah hilang dan berusaha
mempertahankannya dengan berbagai cara. Sebagai ganjaran atas upaya
Kemal Ataturk untuk menyelamatkan negara muslim yang limbung ini,
maka sarjana pemikir-pemikir muslim di sini siap untuk mengampuni
tindakan-tindakan nyata Kemal yang anti Islam dan menghina Tuhan itu.
Dengan latar belakang mental dan emosional seperti ini, maka Iqbal pun,
sampai tahun 1930, memberikan apologi-apologi dan penjelasan-
penjelasan bagi "pembaharuan" Kemal dan berusaha mencarikan
tempatnya di dalam tatanan Islam. Tetapi akhirnya, setelah habis
sabarnya, ia lemparkan kutukan terbuka terhadap movasi Kemal.

Sampai tahun 1921, Maulana Abul Kalam Azad merupakan tokoh yang
bersemangat untuk kebangunan kembali Islam dan pergerakan khilafat.
Tetapi kemudian ia berubah seratus delapan puluh derajat dalam hal
pemikiran dan gerakan, sehingga rakyat mulai membuka mata mereka
untuk meyakinkan adakah ia masih Azad yang sama ataukah Azad yang
melalui suatu proses metamorfosa telah melahirkan manusia Azad yang
baru dalam dirinya. Kini ia adalah Nasionalis India seratus persen dan
meneriakkan satu kebangsaan India yang sekaligus terdiri dari muslim dan
non muslim. Dia mengasimilasikan apa yang disebut-sebut sebagai konsep
"kesatuan agama" buatan filosof Hindu dengan teori Barat, Evolusi Darwin.
Teori ini dapat dilihat dengan jelas dalam buku tafsir Qur'annya. Islam
membangkitkan suatu kehalusan rohaniah dan rasa estetik dalam diri kita
yang memungkinkan kita untuk menghindari keburukan dan mengerjakan
segala sesuatu yang indah. Di lain pihak Ateisme dan Materialisme
menodai cita rasa manusia dan membuat manusia memuja dan
mengagungkan kejelekan. Itulah sebabnya mengapa, di bawah pesona
peradaban kebendaan masa kini, setiap cabang seni dan kesusasteraan
mengalami kemunduran.

Teriring salam dan harapan.

Saudaramu seagama,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 22 Maret 1962 (16 Syawwal l381)

Maulana Maududi yth.,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sejak paspor anda dicabut keberlakuannya untuk Afrika dan negara-


negara Arab dan khususnya sejak penerbit anda, Mian Tufail Muhammad,
ditangkap dan dipenjarakan, saya sangat resah memikirkan kesehatan
anda. Bila balasan anda terlambat sebulan atau lebih, saya sangat gelisah
kalau-kalau anda jatuh sakit, atau, mudah-mudahan tidak, mengalami
nasib yang sama dengan penerbit anda. Saya sedemikian memikirkan
kesejahteraan anda, sehingga seolah-olah anda adalah keluarga dekat
saya, walaupun sebenarnya kita belum pernah bertemu muka. Saya hanya
bisa berdoa kepada Allah, semoga anda diselamatkan dari segala
marabahaya.

Tentu anda bertanya-tanya dalam hati selama bulan-bulan belakangan ini,


kenapa saya segan untuk segera menerima tawaran ikhlas anda untuk
memberi segala dukungan maupun pertolongan segera setelah saya
setuju untuk datang ke Lahore. Yang menjadi masalah berat bagi saya
adalah bahwa saya tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk dengan
pasti mematahkan ikatan-ikatan keluarga dan masa lalu serta dengan
yakin melangkah ke arah sesuatu yang tidak saya kenal. Itulah sebabnya,
mengapa setiap anda kemukakan masalah ini, saya selalu menghindar,
dengan harapan, suatu saat, situasi dalam keluarga saya akan berubah
menjadi lebih baik. Sekarang saya tabu bahwa harapan saya tersebut sia-
sia belaka.

Berikut ini dengan ringkas saya ceritakan masalah saya. Saya adalah
orang serba canggung yang tak punya harapan. Saya benar-benar tidak
bisa tinggal di dalam masyarakat seperti ini. Karena tidak saya miliki
kemampuan dan keinginan dagang, tidak pernah mengikuti latihan-latihan
khusus serta tidak punya keahlian profesional dan diploma lebih dari itu
semuanya, selama dua tahun lebih saya dirawat di rumah sakit mental,
yakni dari Maret 1957 sampai April 1959 -maka saya sudah tidak punya
harapan lagi untuk menjalani kehidupan yang jujur, produktif dan
bermanfaat yang sesuai dengan tabiat saya.

Maka dari itu, setiap kali saya berusaha mencari kerja, semua agen tenaga
kerja menerima saya dengan dingin. Fungsi utama agen tenaga kerja ini
adalah untuk menyaring mereka-mereka "yang tidak diingini", yaitu
mereka yang tidak mempunyai "nilaipasar", dan menurut pandangan
mereka saya ini benar-benar tidak berharga. Ayah saya seorang petugas
penjualan, sedang ibu saya adalah pekerja sosial yang sangat dihormati.
Keduanya hendak berhenti bekerja tahun depan. Karena penghasilan
mereka akan berkurang, maka dengan terpaksa mereka akan menyetop
pula dukungan keuangan mereka pada saya.

Mereka bahkan akan pindah dari rumah susun yang telah kami tinggali
sejak bulan September 1939, kemudian menjual barang-barang mebel dan
alat-alat rumah tangga lainnya untuk selanjutnya akan pergi dari suatu
tempat ke tempat lain untuk pelesir sampai penyakit atau kematian
menimpa mereka. Mereka tidak memperbolehkan saya untuk menyertai
mereka, karena kedua orangtua saya memahami sepenuhnya mengapa
saya tidak dapat hidup bersama mereka dengan selaras dan penuh
kedamaian. Kalaupun mereka ijinkan saya untuk ikut, saya toh akan tidak
bahagia, bahkan frustrasi dalam menjalani gaya hidup mereka yang tidak
lebih daripada mereguk kenikmatan dunia. Bagi saya, kehidupan seperti
itu adalah kehidupan yang cetek, kosong dan tak berarti. Jadi, sekarang,
lebih dari dulu-dulu ketika saya keluar dari rumah sakit tiga tahun yang
lalu, ancaman yang terus menerus bergelantungan di atas kepala saya,
yaitu jika saya tidak mendapatkan pekerjaan sebelum kedua orangtua
saya berhenti bekerja dan melepaskan ikatan kerumahtanggaannya, maka
saya akan terpaksa hidup dengan belas kasihan Departemen
Kesejahteraan Kota atau menghadapi masa depan yang suram.

Rehabilitasi adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saya tidak pernah punya
tempat dalam masyarakat ini. Tanpa dukungan orangtua, saya tak
mungkin bisa hidup, meski hanya sehari pun, seperti orang lain. Saya
lebih senang mati daripada hidup hina dan sengsara. Dengan terus terang
saya akui bahwa jika bukan karena iman Islam saya, tentulah saya sudah
bunuh diri sejak beberapa tahun yang lalu. Setelah mengambangkan
undangan anda sekian lama, apakah terlalu terlambat untuk menerimanya
sekarang?

Saudaramu seiman,
Maryam Jamilah.

-------------------------------------------------------------
Lahore, 31 Maret 1962

Nona Maryam Jamilah,

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 22 Maret yang menunjukkan


perhatian anda yang dalam dan ikhlas terhadap kesehatan dan
keselamatan saya. Tidak lain ini adalah akibat alami dari ikatan
persaudaraan yang tertanam di dalam hati semua muslim sejati. Berkat
rahmat Allah, saya dalam keadaan selamat dan sehat walafiat. Saya
benar-benar yakin, bila seseorang bertawakal kepada Allah dan dengan
jujur bekerja untuk-Nya, tentu akan ia nikmati karunia, hidayah dan
lindungan-Nya. Selama tiga puluh tahun terakhir ini saya tidak pernah lagi
memikirkan keselamatan diri saya atau memikirkan perlunya mengambil
tindakan penyelamatan. Yang saya pikirkan hanyalah kebenaran. Saya
ucapkan hal ini tanpa ragu-ragu, dan terus memperjuangkannya tanpa
segan-segan sampai ke tujuan. Mereka yang tidak suka akan hal ini, tidak
membiarkan saya selamat. Tetapi persekongkolan mereka tidak pernah
berhasil, malah kenyataannya, keuntungan ada di pihak saya. Saya harap
Allah Yang Pengasih akan selalu menakdirkan nasib yang demikian kepada
saya dan kepada musuh-musuh saya di hari depan. Telah saya pahami
segala kesulitan dan masalah-masalah anda. Saya tidak pernah menaruh
banyak harapan pada masa depan anda di Amerika. ltulah sebabnya pada
surat saya yang pertama, saya nasehatkan agar anda meninggalkan
Amerika dan pindah ke salah satu negara Islam, lebih dianjurkan ke
Pakistan. Telah saya bayangkan segera bila anda datang ke Pakistan, tentu
saya akan bahagia memberi naungan kepada anda sebagai salah seorang
anggota keluarga saya di tempat tinggal saya. Dengan demikian, anda
akan dapat pula berkenalan dengan pemuda-pemuda muslim yang taat.
Bila ada di antara mereka yang anda dapati sebagai pasangan yang cocok
dengan anda, keduanya bisa disatukan dengan tali perkawinan dan pasti
akan dapat menjadi pejuang yang baik bagi pergerakan Islam di sini.
Tetapi bila tampaknya anda pikir lebih layak bagi anda untuk tetap tinggal
di Amerika, maka saya urungkan gagasan.saya ini. Tetapi kini saya
terdorong untuk memperbaharui tawaran saya kepada anda tatkala saya
renungkan masalah-masalah yang anda hadapi. Berkenaan dengan
adanya pembatasan-pembatasan pertukaran luar negeri, tidak mungkin
saya bisa memberi bantuan keuangan kepada anda di saat anda masih di
Amerika. Maka, saya pikir lebih baik anda tinggalkan Amerika sebelum
keadaan keuangan anda memburuk. Sekali anda berada di sini, Insyaallah,
anda tidak akan lagi punya alasan untuk mengkhawatirkan masa depan
anda. Saya ingin anda jelaskan seluruh keadaan ini kepada orangtua anda.
Hendaknya anda ceritakan kepada mereka dengan terus terang, betapa
akan sulitnya bagi anda untuk terus tinggal di Amerika setelah kedua
orangtua anda berhenti bekerja dan juga bahwa demi kesejahteraan anda,
mereka mesti rela memberi izin kepada anda untuk tinggal di Pakistan.
Juga hendaknya anda ceritakan kepada mereka, bahwa orang yang
menasehatkan dan mengundang anda untuk mengambil langkah yang
rumit ini adalah orang yang di samping mereka berdua, paling ikhlas
menginginkan kebaikan anda. Ia tidak akan puas hanya dengan memberi
nasehat belaka, tetapi ia akan siap untuk memikul segala tanggung jawab
yang mengikutinya setelah diterimanya nasehat ini. Bila anda dan
orangtua anda mempercayairiya, Insyaallah kepercayaan mereka tidak
akan dikhianati.

Saudaramu seiman,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 7 April 1962 (2 Dzul Qa'idah 1381)

Maulana Maududi yth.,

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Baru saja saya terima surat tercatat anda tertanggal 31 Maret dan saya
terima undangan anda, akan saya turuti nasehat-nasehat anda dengan
rasa syukur yang paling dalam.

Saya pernah berbicara dengan seorang anak muda di masjid. Ia ceritakan


kepada saya diskusinya dengan Maulana Fazlur Rahman Ansari Al-Qaderi,
pemimpin Federasi Missi Islam Sedunia di Karachi, ketika mengunjungi
New York, kata orang, ia mengatakan bahwa "orang yang berpindah
agama merupakan suatu kasus mental".

Reaksi saya yang pertama adalah bahwa ini adalah suatu pernyataan
paling menyakitkan yang pernah saya dengar dan saya katakan hal itu
kepadanya. Saya telah melakukan kesalahan dalam hidup saya dan saya
akui pula bahwa saya pernah melakukan tindakan-tindakan yang bodoh,
tetapi penerimaan saya akan Islam merupakan tindakan saya yang paling
positif, konstruktif dan bijaksana.

Juga saya sadari sepenuhnya bahwa Islam adalah obat yang paling
mujarab bagi kesehatan mental. Meskipun demikian, Maulana itu boleh
jadi benar dalam satu hal, yakni bahwa perpindahan dari agama Yahudi
atau Kristen kepada agama Islam tak kurang dari perpindahan dari
peradaban Barat kepada peradaban Islam dan suatu penganutan sepenuh
hati terhadap suatu cara hidup yang lain sama sekali.

Orang-orang yang bahagia, makmur, dan mudah bergaul seperti orang


tua, saudara perempuan, bibi, paman dan saudara sepupu saya akan
kekurangan motivasi, apalagi keinginan, untuk melakukan pengorbanan
pribadi untuk menolak kepercayaan-kepercayaan dan kegiatan-kegiatan
mereka yang berharga di masa lalu untuk ditukar dengan sesuatu yang
begitu asing bagi seluruh pengetahuan atau pengalaman mereka
sebelumnya.

Hanya orang yang sangat tidak bahagia atau sekurang-kurangnya tidak


puas dengan cara hidupnya sajalah yang mau melaksanakan perubahan
yang radikal seperti itu. Jadi, jika saja saya tidak mengalami kekacauan
emosional dan kegagalan penyesuaian diri yang parah, sudah tentu tidak
akan saya lakukan usaha-usaha yang seberat itu dalam upaya
menemukan suatu filsafat hidup yang lebih mernuaskan. Jika saja saya
mendapatkan anugerah alam sedemikian baik sebagaimana anggota
keluarga saya yang lain, tentunya saya tidak akan punya sebab dan
alasan untuk meragukan kebaikan dan kesehatan masyarakat saya dan
sudah akan saya jalani hidup persis seperti hidup orangtua dan saudara
perempuan saya. Maka bisa anda lihat bahwa Allah mengingini apa yang
paling baik bagi hambanya dan apa yang tampak sebagai bencana itu
ternyata bisa menjadi rahmat.

Tentunya akan sangat menarik sekali tinggal di Lahore, karena dalam satu
atau dua dasawarsa yang lalu, yakni sejak dilarangnya al-lkhwanul-
Muslimun dan juga sekularisasi serta nasionalisasi Universitas al-Azhar,
Lahore telah menggantikan Kairo sebagai pusat kegiatan Islam. Saya juga
akan menyenangi Lahore, karena kepustakaan Islam begitu mudah
diperoleh di sini. Tampak bagi saya seolah-olah buku-buku Islam lebih
banyak diterbitkan di sini daripada di tempat lain. Bila ternyata saya gagal
menguasai pengetahuan Islam karena abai dan malas, tentu hanya diri
sayalah yang bisa disalahkan.

Silakan anda tulis secara langsung dan jelaskan segalanya. Salah satu
yang mungkin menjadi keberatan mereka adalah, seperti halnya orang-
orang Barat yang lain, mereka kira bahwa orang Islam selalu menghinakan
kaum wanita seperti memperlakukan benda bergerak saja, dan bahwa di
Pakistan kaum wanitanya diperlakukan tidak baik dan hak-hak
individualnya diingkari.

Sekali lagi, saya sampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam kepada
anda. Semata-mata hanya karena kasih dan rahmat Allah sajalah sehingga
saya tidak dibiarkan berjuang secara terasing sendirian. Semoga Allah
memberkahi anda.

Saudaramu seagama,
Maryam Jamilah

-------------------------------------------------------------
Lahore, 18 April 1962

Nona Maryam Jamilah,

Assalamu'alaikum warahmatullah,

Surat anda tertanggal 7 April telah saya terima kemarin. Saya gembira
ketika mengetahui bahwa anda menerima nasehat saya dan bersiap-siap
untuk datang ke Pakistan. Saya berdoa kepada Allah semoga Ia menunjuki
anda apa yang benar dan penting bagi anda.

Saya nasehati anda agar berangkat melalui laut saja, karena ongkosnya
jauh lebih murah daripada dengan pesawat udara, dan anda bisa
membawa lebih banyak barang. Anda nanti akan mendarat di Pelabuhan
Karachi, dan dari sini anda bisa ke Lahore dengan kereta api. Banyak
kereta api cepat yang menghubungkan kedua kota ini.

Biasanya perjalanannya memakan waktu dua puluh dua jam. Setelah anda
urus segala pengaturan akhir pada Konsulat Pakistan di New York, maka
hendaknya segera anda beritahu Chaudri Ghulam Muhammad yang
beralamat di 23 Strachen Road, Karachi-1, tentang tanggal keberangkatan
kapal, nama kapal, nama perusahaan angkutan dan tanggal kedatangan
anda di Karachi.

Segera saya akan tulis surat kepadanya untuk memintanya agar


menerima anda di Karachi dan mengatur segala keperluan perjalanan
anda dari Karachi ke Lahore dan sekaligus mengirim telegram tentang
kedatangan anda. Saya sendiri atau sekretaris saya Malik Ghulam Ali akan
berada di Stasiun Lahore menjemput dan mengantarkan anda ke rumah
saya. Sebaiknya, selambat-lambatnya anda datang pada minggu ketiga
bulan Juni. Saya hendak pergi ke Afrika pada pertengahan Juli. Bila anda
datang setidaknya dua atau tiga minggu sebelum keberangkatan saya
keluar negeri, saya harap anda dan keluarga saya dapat saling
menyesuaikan diri dan bila anda sudah mulai merasa kerasan di rumah
saya, barulah saya dapat melakukan perjalanan saya dengan tenang.

Saya pikir, ada baiknya saya ceritakan beberapa hal yang dapat
membantu penyesuaian psikologi dan fisik anda dengan lingkungan anda
yang baru. Seperti anda ketahui, pandangan hidup dan keadaan sosial
kami jauh sekali berbeda dengan di Amerika. Di sini kita kekurangan
fasilitas-fasilitas dan kemudahan yang di Amerika sudah tidak
dipersoalkan lagi. Halangan bahasa juga akan sedikit mengganggu.

Berkenaan dengan alasan-alasan di atas, bulan-bulan pertama anda di sini


akan memayahkan dan membebani saraf anda. Jika anda tidak
mempunyai kesabaran dan telah betul-betul tetap-hati untuk
menyesuaikan kehidupan anda dengan pola kehidupan kami, dan hidup
dan mati di tengah-tengah saudara seagama anda di sini, tentu akan anda
alami kesulitan yang amat berat untuk menyesuaikan diri anda dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan yang tidak terelakkan pada tahap
permulaan ini. Walaupun saya akan berusaha untuk berbuat sebaik-
baiknya untuk memenuhi kebutuhan anda dan menjadikan segalanya
lebih mudah, kerjasama anda yang sabar akan sangat menentukan.

Dua anak saya yang perempuan hampir sebaya dengan anda. Humaira
yang berusia dua puluh tiga tahun sedang mengambil sarjana penuh
dalam bidang sastra Inggris, sedang Asma, sembilan belas tahun, sedang
menuntut ilmu dalam bidang ekonomi di tingkat sarjana muda. Saya harap
mereka bisa bersahabat dengan anda, mengajar anda bahasa Urdu dan,
sebagai gantinya, mereka bisa belajar dari anda antusiasme seorang yang
baru pindah agama.

Karena isteri saya hanya sedikit bisa berbahasa Inggris, maka hambatan
bahasa pada saat-saat awal dapat menghalangi keakraban anda
dengannya. Tetapi saya berharap anda akan bisa mempelajari bahasa
Urdu secukupnya selama dua atau tiga bulan sekedar agar bisa melakukan
percakapan sehari-hari. Setelah anda pelajari bahasa Urdu, maka akan
relatif mudah bagi anda untuk belajar bahasa Arab, karena kedua bahasa
ini berbagi banyak kosakata yang sama. Sayapun ingin berusaha untuk
mengajar anda bahasa Arab.

Mengenai perkawinan anda, akan saya serahkan masalah ini sepenuhnya


pada kebijaksanaan anda. Saya sama sekali tak akan memaksa anda.
Tetapi jika anda pernah memikirkan untuk berkeluarga, akan saya coba
menolong anda untuk memilihkan kawan hidup yang sesuai. Dalam setiap
hal, saya, bersedia untuk menerima anda sebagai anggota keluarga saya
selamanya. Saya undang anda untuk bersama-sama merasakan
keramahan saya dengan semangat seperti ketika orang Islam Madinah
mengundang saudara-saudara mereka yang teraniaya di Mekkah, dan
saya ingin anda tanggapi hal ini dengan semangat hijrah yang serupa, dan
yakin bahwa ikatan iman lebih teguh dan kuat daripada ikatan darah dan
daging.

Masih ada beberapa alasan yang menyebabkan anda sebaiknya menunda


dulu keputusan anda mengenai perkawinan. Nanti bila anda mulai tinggal
di rumah saya, isteri saya akan memberikan latihan praktis kepada anda
mengenai bagaimana kaum wanita Pakistan menyelenggarakan dan
mengatur kehidupan rumah tangganya. Bila akhirnya kelak anda jalani
kehidupan rumah-tangga, pengetahuan ini akan mutlak diperlukan. Anda
tentunya tidak akan berbahagia jika menikah dengan seseorang yang
terbaratkan, melainkan secara alami tentunya anda ingin menikah dengan
seorang yang menjalani hidup sebagai muslim Pakistan yang baik. Agar
berhasil membentuk rumah tangga seperti ini, perlu anda pelajari etika-
etika keluarga muslim di sini.

Anda harus ingat pula bahwa tatkala anda tiba di Lahore, daerah ini akan
sedang mengalami musim panas yang paling terik. Di bulan Juni, Juli dan
Agustus, suhu musim panas mencapai titik tertinggi; siang hari rata-rata
sampai di atas 100 F. Rumah kami tidak ber-AC, tetapi kami pakai kipas
angin listrik. Pada akhirnya anda akan terbiasa dengan musim-musim
tropis. Walaupun begitu, anda tetap harus siap menerima sengatan panas
pertama dari teriknya cuaca ini.

Saya gembira, Konsulat Jenderal Pakistan di New York telah menawarkan


untuk membantu memberikan kemudahan transit. Hendaknya anda
dapatkan kepastian darinya mengenai masa mukim paling lama dan
prosedur untuk mendapatkan izin tinggal. Hendaknya jangan anda ganti
kewarganegaraan anda sekarang. Akan lebih bijaksana bila anda tinggal di
sini selama suatu masa tertentu dengan paspor Amerika.

Sebaiknya anda bawa semua milik anda yang perlu dan gampang anda
bawa. Barang-barang produksi luar negeri di sini begitu mahal, sehingga
tak terbayangkan oleh anda di Amerika. Karenanya, jangan tinggalkan
sesuatu yang mungkin anda perlukan, karena menganggap bahwa barang
itu bisa dicari nantinya di Pakistan.

Bersama surat ini juga saya tulis surat tersendiri untuk kedua orangtua
anda. Saya nasehatkan kepada anda agar anda sendiri mengenalkan saya
kepada mereka dengan menunjukkan surat-surat saya untuk anda,
sehingga dapat mereka mengerti sepenuhnya latar belakang surat saya
untuk mereka ini.

Saudaramu seagama,
Abul A'la

-------------------------------------------------------------
Lahore, 18 April 1962

Tuan dan Nyonya Marcus,


Saya beranikan diri untuk menulis surat ini kepada anda dari Pakistan.
Media perkenalan saya dengan anda adalah puteri anda, Nona Margaret
Marcus, yang telah melakukan surat-menyurat dengan saya sejak satu
setengah tahun yang lalu. Berikut ini dengan ringkas akan saya ceritakan
sebab saya kirimkan surat ini.

Saya kira telah anda ketahui bahwa puteri anda telah bertahun-tahun
belajar agama Islam dan bahkan sebelum berpindah agama secara resmi,
ia telah menulis naskah-naskah dan esai-esai untuk membela Islam.
Kemudian, setelah ia timbang-timbang dengan hati-hati, akhirnya ia
putuskan untuk memeluk Islam dan menerima iman sebagai pandangan
hidupnya. Karena saya juga adalah pemeluk Islam dan telah
menggunakan seluruh hidup akil-baligh saya untuk menyiarkan Islam,
maka kesalingtertarikan kami ini akhirnya membawa kami untuk saling
melakukan kontak dan berkenalan dengan akrab.

Apa yang ia ceritakan kepada saya tentang kesulitan-kesulitannya di masa


lalu melalui surat-suratnya telah menyadarkan saya, bahwa tampaknya
tidak ada masa depan baginya di Amerika. Malah bila ia tetap tinggal di
Amerika dengan lingkungan yang sekarang, seluruh hidupnya akan hancur
berantakan. Karenanya, saya dengan ikhlas telah memberinya nasehat
untuk tinggal di suatu negeri muslim dan bila ia pilih Pakistan, maka ia
akan saya terima dengan baik di rumah dan di hati saya; bukan sebagai
tamu sesaat, melainkan sebagai anggota tetap keluarga saya. Sangat
saya kagumi watak dan cita-citanya, dan dia telah saya anggap sebagai
saudara terkasih dan dekat seperti semua saudara sedarah saya. Dengan
semangat ini, saya undang dia untuk datang dan hidup dengan saya
bersama keluarga saya. Dia telah siap menerima undangan saya, tetapi
dia akan segan pergi jika kedua orangtuanya tidak mengizinkannya. Itulah
tujuan saya menulis surat ini.

Jika telah anda ketahui semuanya tentang saya sebelumnya, maka


tentunya sudah tidak ada lagi yang perlu saya tambahkan. Tetapi sebagai
orang yang sama sekali asing bagi anda, saya tidak bisa meyakinkan anda
supaya anda bisa sepenuhnya memberikan kepercayaan kepada saya
dalam masalah ini. Secara alami, tentu reaksi anda yang pertama adalah
tidak menginginkan ia pindah dari Amerika ke salah satu negara Timur.
Tetapi bila anda timbang-timbang lebih dalam seraya mempertimbangkan
kesejahteraan puteri anda, saya berharap anda akan sepakat dengan saya
bahwa hal ini memang satu-satunya pemecahan bagi kesulitan-kesulitan
yang ia hadapi sebelumnya. Pakistan, dalam hal ini, lebih disenangi
daripada negara-negara Islam yang lain, karena di sini bahasa Inggris
dipakai dan dimengerti secara luas. Lagi pula seorang yang baru memeluk
Islam sangat dihormati di sini. Sedang mengenai diri saya, dapat anda
tanyakan apa saja yang ingin anda ketahui dari Nona Margaret Marcus.
Saya yakin bahwa isteri dan anak-anak saya akan menjadi ganti yang
sebanding, bila tidak lebih baik, daripada keluarganya di Amerika. Dengan
kehendak Tuhan, tidak perlu anda risaukan hari depannya.

Teriring salam.

Hormat kami,
Abul A'la
-------------------------------------------------------------
New York, 2 Mei 1962

Tuan Maududi yth.,

Terima kasih atas surat anda tertanggal 18 April yang berisi undangan
kepada puteri saya, Margaret, untuk hidup di dalam keluarga anda. Isteri
saya dan saya sendiri sangat tergerak oleh tawaran keramahtamahan
anda itu.

Sejak memeluk Islam setahun yang lalu, khususnya sebagai pemeluk baru
yang rajin, hidup di dalam masyarakat kami tampaknya akan
mendatangkan kesulitan praktis baginya. Margaret bernafsu untuk
menerima undangan anda dan menerima anda sebagai orangtuanya.
Kami telah siap memberinya izin walaupun ia harus tinggal di tempat yang
jauh. Lebih-lebih berkenaan dengan semangat yang telah ia tunjukkan,
kami berharap agar hal ini memberinya kesempatan untuk menjalani
hidup yang bahagia dan penuh arti.

Datang di suatu negara dengan budaya yang sedemikian berbeda, benar-


benar akan menuntut kesabaran selama masa penyesuaian. Dengan
simpati dan pengertian yang tersirat dalam surat-surat anda dan
ditambah semangat Margaret, saya yakin bahwa masuknya Margaret
dalam kehidupan keluarga anda akan berjalan mulus.

Saya gembira mengetahui isi surat anda kepada Margaret berkenaan


dengan nasehat anda tentang perubahan kewarganegaraan dan
perkawinan. Keinginan saya sebagai orangtuanya juga demikian, yakni
hendaknya ia hanya mengambil langkah yang tidak bisa dibatalkan lagi itu
setelah suatu masa mukim secukupnya.

Dia pergi ke negeri anda dengan kerelaan kami dan akan terus kami
perhatikan kesejahteraannya. Maka silakan anda tulis surat tentangnya
kapan saja.

Saya dan isteri menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hati yang
paling dalam kepada anda, isteri dan putera-puteri anda.

Hormat kami,
Herbert S. Marcus
-------------------------------------------------------------
Wallahu ‘alamu bishowwab

Riwayat Hidup Ringkas Maryam Jamilah


Gadis yang berasal dari suatu keluarga Yahudi yang mukim di New York, ini
memang lain sejak awalnya. Demi memuasi dahaganya akan kebenaran hidup,
sejak masa-masa remajanya yang paling dini ia telah sekian kali berpindah dari
suatu "pusat kerohanian" ke "pusat kerohanian" lainnya. Dari yang sepenuhnya
bersifat keagamaan hingga tak kurang dari yang bersifat agnostik, atau malah
ateistik sama sekali.

Juga, berbeda dengan remaja-remaja New York sebayanya, Margaret Marcus nama
gadis ini mengharamkan bagi dirinya segala sesuatu yang disebut sebagai
"sumber kenikmatan hidup", seperti pergaulan bebas, pesta-pesta, mode,
minuman keras, merokok dan ajojing, justru di masa-masa yang sering disebut
sebagai "masa-masa yang paling membahagiakan" dalam kehidupan seseorang.
Dan sebagai gantinya, ia benamkan dirinya dalam tumpukan buku-buku yang
terhitung "berat" bagi kebanyakan manusia, apalagi bagi remaja seumurnya,
seperti: agama, filsafat, psikologi dan sebangsanya. Upaya pencarian kebenaran
dan identitas diri ini, sebagaimana hampir jadi sebuah kelaziman, harus
dibayarnya dengan harga yang amat mahal. Rontoknya pilar-pilar kepercayaan
yang telah terbangun dalam dirinya dan tak adanya alternatif yang
menggantikannya, ditambah dengan keterasingan dari keluarga, teman sebaya,
dan masyarakat yang otomatis sulit menerimanya, akhirnya memaksanya
menjalani psikoanalisa selama 3,5 tahun disusul dengan dua tahun perawatan di
rumah sakit jiwa.

Gadis ini belum lagi terbebas dari masa-masa kritisnya ketika kemudian dia
temukan Islam. Dan ternyata hilangnya rasa dahaga setelah terpuasi oleh Islam
belum melepaskannya sama sekali dari derita yang berkepanjangan. Mudah
diduga, masyarakat New York yang Kristen dan keluarga Yahudinya seolah
membuang muslimah muallaf ini. Harapannya untuk menemukan pelipur dari
saudara-saudaranya sesama muslim di Amerika ternyata hampa belaka. Sekali
lagi, tak kalah keras dari bentrokannya dengan keluarga dan masyarakatnya,
pandangan-pandangannya harus berbentrokan dan, ironisnya, kali ini justru
dengan rekan-rekan seagamanya yang telah terbaratkan.

Kalimat perpisahan pada deritanya baru bisa ia ucapkan setelah dikenalnya


Sayyid Abul A'la al-Maududi, seorang imam besar umat yang tinggal di Pakistan.
Mulai dari surat-menyurat yang mengharukan antara seorang bapak dengan
putrinya, antara seorang muslimah intelektual dengan ulama besar yang ternyata
sama sekali bersesuaian pendapat ini, akhirnya mentaslah dari gadis ini seorang
Maryam Jamilah yang tegar. Berkat ketekunan dan semangatnya dan hidayah
Allah swt, sebentar saja namanya telah bisa disejajarkan dengan ulama-ulama
besar terkemuka di dunia Islam, menyusul rekan-rekannya sesama muallaf lain
seperti: Marmaduke Pickthall, Muhammad Asad, T.B. Irving dan lain-lain.

Saat ini, juga sebagai salah satu hasil surat-menyuratnya dengan Maududi,
Maryam Jamilah mukim di Pakistan, membina suatu keluarga bahagia sebagai istri
kedua dari seorang muslim Pakistan --yang sekaligus menjadi penerbit tulisan-
tulisannya. ***

Keterangan :
media@isnet.org)

Isi artikel ini ditayang oleh Komite Media ISNET berdasarkan posting dari
sdr Hamzah (hamzahtd@mweb.co.id) di milis is-lam@isnet.org.

"Maryam Jamilah (d/h Margaret Marcus) adalah muslimah muallaf yang


berasal dari sebuah keluarga Yahudi yang mukim di New York. Memeluk
Islam setelah suatu upaya pencarian kebenaran --sejak masa remajanya
yang paling dini-- yang penuh penderitaan. Kini namanya dapat
disejajarkan dengan ulama-ulama besar dunia Islam, menyusul rekan-
rekannya sesama muallaf seperti Marmaduke Pickthall, Muhammad Asad,
T.B. Irving dan sebagainya.
Kumpulan surat-menyurat dengan Sayid Abul A'la Maududi --ditulis
beberapa saat sebelum ia memeluk Islam dan sesudahnya-- lebih dari
sekedar kisah pribadi dan pengakuan diri yang mengharukan, sarat
dengan bahasan-bahasan ilmiah atas masalah-masalah pelik yang
dihadapi oleh umat Islam zaman sekarang."
Referensi:
Surat Menyurat Maryam Jamilah Maududi
Judul Asli: Correspondence between Maulana Maudoodi and Maryam
Jameelah
Terbitan Mohammad Yusuf Khan, Lahore, 1978
Penterjemah: Fathul Uman
Penyunting: Haidar Bagir
Penerbit Mizan, Jln. Dipati Ukur No. 45, Bandung 40124
Cetakan 1, 1403H, 1983M
Telp.(022) 83196

www.media.isnet.org

Anda mungkin juga menyukai