Anda di halaman 1dari 11

PENGANTAR AGROINDUSTRI

HASIL RUMUSAN SIMPOSIUM NASIONAL AGROINDUSTRI KE-IV, 5 SUMBER DAYA HAYATI YANG MEMILIKI PROSPEK PENGEMBANGAN, DAN 10 ENERGI POTENSIAL INDONESIA Dosen: Prof. Dr. Ir. Djumali Mangunwidjaja, DEA

PENGANTAR AGROINDUSTRI HASIL RUMUSAN SIMPOSIUM NASIONAL AGROINDUSTRI KE-IV, 5 SUMBER DAYA HAYATI YANG MEMILIKI PROSPEK PENGEMBANGAN,

Maya Ramadhayanti

F34100149

2011

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

0
0

Agroindustri adalah kegiatan mengolah hasil pertanian untuk mendapatkan nilai tambah. Pada dasarnya pertanian terbagi menjadi tiga generasi yaitu yang pertama generasi penyediaan bibit yang unggul dan genersai kedua adalah pengembangan budidaya pertanian dengan produktivitas yang tinggi, serta pertanian generasi ketiga adalah generasi yang menyempurnakan nilai tambah pertanian yaitu generasi Agroindustri, industri yang mengolah hasil pertanian.

Proses dalam agroindustri akan meningkatkan diversifikasi dan fungsi produk yang dihasilkan. Diversifikasi produk tersebut pada akhirnya akan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Dalam kenyataannya kita memiliki tantangan dan sekaligus harapan bagi pengembangan agroindustri di Indonesia adalah agar dapat meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian dan sekaligus menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasaran dunia.

Sejalan perkembangan teknologi terkini di bidang Agroindustri pertanian, teknologi proses menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam rangka pengembangan iptek untuk industrialisasi secara umum, dan agroindustri pada khususnya. Ada 4 Teknologi terkini di bidang agroindustri yaitu, teknologi nano (nano technology), teknologi bio (biotechnology), teknologi hijau (green technology), seperti yang disebutkan tadi, dalam teknologi terkini juga di bagi atas tiga tahapan utama yang secara umum dapat di deskripsikan sebagai berikut,

  • 1. Proses hulu, serangkaian perlakuan yang dilibatkan pada bahan mentah sehinnga dapat digunakan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme.

  • 2. Fermentasi dan trasformasi, penumbuhan mikro organisme sasaran dalam bioreaktor besar (biasanya lebih dari 100 liter)

yang diikuti dengan

produksi (hasil biotrasformasi) bahan yang di inginkan, misalnya:

antibiotic, asam amino, enzim, atau asam-asam organik.

3.

Proses

hilir,

pemisahan

dan

pemumian

senyawa

atau

bahan

yang

diinginkan

dari

medium

fermentasi

atau

dari

massa

sel

(biomasa).

Dalam pembangunan agroindustri tidak hanya melibatkan pihak pemerintah saja tetapi harus melibatkan pihak swasta. Agroindustri sering di anggap sebagai usaha yang memiliki resiko cukup tinggi, dengan modal kerja yang besar dan waktu yang panjang, tentunya pihak investor perlu mendapatkan keyakinan investasinya aman dijamin secara hukum. Peran pemerintah yang sangat diharapkan untuk mengembangkan agroindustri, di sini kita memerlukan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan infrastruktur yang harus dikerahkan. Pemerintah selayaknya berpikir seperi investor negara yang akan memperoleh investasinya secra long term, pihak suasta dengan sendirinya akan mengambil peran apabila ada kegiatan ekonomi yang memberikan harapan keuntungan. Mengingat kompleksnya permasalahan pengembangan agroindustri, namun semua menyadari bahwa agroindustri memiliki prospek yang sangat baik, maka untuk mewujudkan agroindustri menjadi salah satu pilar struktur industri yang kuat di Indonesia, terdapat dua agenda utama yang harus dirancang dan dilaksanakan secara konsisten, yaitu strategi pengembangan dan transformasi teknologi serta strategi pemasaran produk.

Agroindustri untuk Mengatasi Kemiskinan, Pengangguran, dan Ketahanan Pangan

Agroindustri merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia yang secara wilayah masuk ke dalam negara agraris. Bisnis agroindustri harus dikelola secara terintegrasi agar mampu mengakomodir kepentingan semua pelaku serta berkeadilan. Dalam pengembangan agroindustri perlu diciptakan iklim usaha yang

kondusif, baik oleh perusahaan besar milik swasta dan negara maupun oleh koperasi petani dan masyarakat pedesaan atau pesisir. Selain itu, perlu adanya perbaikan pada semua tahapan bisnis serta adanya kolaborasi secara aktif dengan

perguruan tinggi yang bisa menjadi ‘agen perubahan’. Untuk komoditi

agroindustri, perlu adanya pengoptimalan dalam pemanfaatan bahan, setiap

pelaku agroindustri harus mengetahui komoditi unggulan dari masing-masing daerah.

Pembiayaan Agroindustri Oleh: Ogi Prastomiyono dan Nasirwan Ilyas

Secara general subsektor pembiayaan peretanian dibagi menjadi 3 (agrikultur, agribisnis, dan agroindustri), setiap subsektor memiliki berbagai masalah pembiayaan yang berbeda sehingga memunculkan suatu kewajiban bagi pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Faktanya, pembiayaan yang terkait sektor pertanian menyerap 40% tenaga kerja dan menyumbang 15.6% PDB menggunakan luas lahan sebesar 71.3 % luas lahan keseluruhan. Namun, sektor yang tumbuh positif hanyalah 0.38% saat terjadi krisis tahun 1998-1999. Hal ini memunculkan wacana untuk mendirikan Bank Pertanian yang bertujuan untuk mendedikasikan pembiayaan secara meluas pada dunia pertanian. Wacana ini muncul didasarkan pada pasal 5 UU Perbankan No. 10 tahun 1998 yang berbunyi, ”Bank umum dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan tertentu”.

Akibat dari adanya wacana tersebut mengakibatkan terbentuknya dua opini, opini pertama mengatakan pendirian Bank Pertanian merupakan suatu tindakan positif dan suatu kepedulian terhadap dunia pertanian. Opini kedua mengatakan bahwa kehadiran Bank Pertanian ini dapat dikatakan suatu ketidak konsistenan kebijakan dan semangat penataan perbankan yang sudah digariskan sejak liberalisasi sektor perbankan tahun 1980-an.

Pendirian bank pertanian dapat dipandang sebagai opsi jangka menengah panjang, mengingat banyaknya persyaratan yang masih harus dipenuhi. Selain itu untuk jangka pendek opsi pendirian lembaga pembiayaan pertanian menjadi lebih rasional. Keunggulan dari lembaga ini adalah kecepatan dalam pembiayaan pertanian yang dapat langsung serahkan kepada petani.

Untuk mengatasi pembiayaan pertanian, sistim perbankan syariah dipandang sebagai suatu penyelesaian masalah yang paling tepat untuk saat ini. Terdapat beberapa alasan pengembangan:

  • 1. Skema pembiayaan syariah yang mengedepankan prinsip bagi hasil sama dengan tradisi yang mengakar di masyarakat.

  • 2. Secara konsep dan praktek dapat melayani seluruh level pertanian.

  • 3. Sesuai dengan kebijakan makro perbankan syariah.

Selain itu, pembiayaan dapat ditingkatkan dengan menerapkan prinsip perbankan syariah dalam kegiatan agribisnis, antara lain:

  • 1. Menciptakan forum dan mekanisme mediasi

  • 2. Riset dan proyek skim pembiayaan usaha tani pola syari’ah

  • 3. Pengembangan skim penjamin pembiayaan usaha kecil pertanian

  • 4. Pengembangan pola bantuan teknis atau link age program

Memanfaatkan FTA (Free Trade Area) Untuk Pengembangan Pasar Ekspor Agroindustri Nasional

Secara umum adanya perjanjian perdagangan bebas, menguntungkan bagi Indonesia yaitu memperbesar pertumbuhan ekspor non migas ke negara-negara tersebut. Sektor non migas, sebagian besar didukung oleh agroindustri, sehingga adanya perjanjian perdagangan bebas akan sangat membantu perkembangan agroindustri nasional. Banyak agroindustri nasional yang bergantung pada ketersediaan bahan baku impor. Peraturan yang bersifat proteksi terhadap impor bahan baku agroindustri bisa menyebabkan kehancuran agroindustri nasional, oleh karena itu dilakukan deregulasi impor bahan agroindustri, dalam menentukan kebijaksanaan proteksi impor bahan baku agroindustri.

Pemerintah harus memperhatikan kepentingan semua pihak. Sebelum menentukan kebijaksanaan pembatasan impor bahan baku agroindustri, perlu dilakukan terlebih dahulu studi secara mendalam dan menyeluruh tentang kebutuhan dan

suplai bahan baku tersebut. Pemerintah perlu selalu ingat bahwa dengan adanya perdagangan bebas dan peraturan dari WTO, semua keputusan yang melanggar bisa dikenakan sanksi oleh PA. Banyak impor bahan baku industri bukanlah hal yang tidak nasionalis. Impor bahan baku yang nantinya akan diproses dan diekspor lagi justru akan memperkuat ekonomi negara.

Peran Agroinsutri untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional

Agroindustri berperan dalam membantu ketahanan energi nasional. Dengan semakin berkurangnya sumberdaya energi yang tak terbarukan yang saat ini digunakan, maka dengan agroindustri sangat berperan dalam membantu ketahanan energi nasional. Seperti penggunaan BBN (bahan bakar nabati) untuk penggantian BBM (bahan bakar minyak), karena kebutuhan BBM di Indonesia adalah sekitar 215 juta liter per hari, di pihak lain produksi dalam negeri hanya mencapai 178 juta liter per hari. Jika hal ini terus terjadi maka dengan menipisnya cadangan minyak, maka import BBM akan terus meningkat dan berarti akan menguras APBN untuk mensubsidi BBM untuk rakyat.

Salah satu BBN yang potensial di Indonesia adalah bioetanol, berbeda deengan BBM, bioetanol secara intrinsik memiliki elemen oksigen dalam molekulnya yanbg cukup untuk menjamin kecukupan oksigen untuk pembakaran yang lebih sempurna. Selain itu nilai oktannya relatif lebih tinggi, serta tidak memerlukan timbal untuk katalis, sehingga relatif ramah lingkungan. Namun, dalam pelaksanaan program penggunaan BBN ini menemui banyak kendala seperti keberlanjutan produksi, harga yang masih mahal, serta kebijakan yang belum sepenuhnya memihak pada program ini

Pendidikan dan Technopreneurship

Pendidikan tinggi agroindustri sudah mulai berkembang di Indonesia, sejak tahun 1981, IPB adalah pionir pendidikan agroindustri di indonesia. Selain itu

diharapkan akan tercipta technopreneurship yang dapat mengembangkan agroindustri di Indonesia untuk kemajuan bangsa.

5 Sumber Daya Hayati yang Memiliki Prospek Pengembangan

Mangunwidjaja dan Sailah (2009) menyebutkan, sebagai negara agraris dan kepulauan yang besar di dunia, kekayaan alam berupa sumberdaya hayati, baik hasil pertanian nabati dan hewani, serta ikan dan biota laut merupakan modal yang dapat didayagunakan untuk industri dengan beragam produk bernilai tambah tinggi. Pangsa pasar produk agroindustri tersebut masih sangat besar baik di luar negeri dan pasar dalam negeri.

10 Energi Potensial Indonesia

  • 1. Geothermal Sebagai negara yang menyimpan 40% cadangan panas bumi dunia, Indonesia jelas-jelas memiliki keuntungan dalam hal panas bumi. Kini Indonesia menempati urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Filipina sebagai negara yang memiliki kapasitas produksi panas bumi terbesar. Presiden SBY sendiri telah menyatakan bahwa geothermal akan menjadi salah satu sumber energi unggulan Indonesia. Panas bumi begitu berlimpah di negeri kita, menanti untuk dimanfaatkan dan menjadikan Indonesia pemimpin di bidang geothermal.

  • 2. Hydropower

Kondisi alam Indonesia yang memiliki banyak dataran tinggi dan sungai- sungai besar merupakan dua dari beberapa alasan mengapa air akan menjadi salah satu EBT potensial Indonesia.

Utamanya untuk mikro hidro (pembangkit berkapasitas kecil). Dengan investasi yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan PLTA, menjadikan mikro hidro memenuhi skala ekonomis.

  • 3. Biomasa Limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga limbah rumah tangga menjadi bahan baku utama EBT ini. Perkebunan sawit menjadi salah satu andalan sumber bahan baku biomassa. Saat ini perkebunan menyumbang 64 juta ton limbah untuk biomassa per tahun.

  • 4. BBBC (Bahan Bakar Batubara Cair) Kekayaan alam Indonesia yang satu ini tak perlu diragukan lagi. Pada 2010 saja Indonesia berhasil memproduksi 280 Juta ton batubara, jauh di atas target yang ditetapkan pemerintah sebesar 250 juta ton. Tujuan utama produksi batubara Indonesia adalah ekspor, sementara untuk domestik relatif lebih kecil. Harga batubara Indonesia juga relatif lebih rendah dari produksi negara lain, karena kandungan kalori yang dimiliki cenderung lebih rendah dibandingkan produksi negara lain. Penggunaan batubara kurang disukai karena berdampak lingkungan dan kesehatan yang cukup buruk. Namun, beberapa penelitian kemudian membuktikan bahwa batubara dapat diolah menjadi cair, sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi dan ramah terhadap manusia dan lingkungan. Hingga kini, Afrika Selatan adalah satu-satunya negara yang memproduksi batubara cair, kapasitas produksinya sebesar 150.000 barel per hari.

Pemerintah pun menyadari hal itu, dan kemudian membuat rencana induk Program Nasional Pencairan Batubara hingga 2025. Investasi yang dibutuhkan untuk pengolahan batubara menjadi cair memang tidak murah. Untuk menghasilkan 50.000 barel per hari dibutuhkan investasi hingga Rp 40 triliun.

  • 5. Bio-oil Bio-oil adalah pengganti minyak bakar (fuel oil) untuk industri sebanyak 50%. Bahan bakunya adalah kelapa sawit dan jarak pagar (Jatropha). Penggunaan bio-oil sebaga bahan bakar alternatif dinilai lebih mudah dan efektif daripada biodiesel, bahkan bio-oil dapat menggantikan solar hingga 100%, sementara biodiesel hanya bisa menjadi bahan campuran solar sebesar 10%-20%. Meski proses pengolahan bio-oil lebih mudah daripada biodiesel, masalah bahan baku juga menjadi persoalan utama bagi bio-oil, sebagaimana dihadapi biofuel lainnya.

  • 6. Biodiesel Bahan bakar alternatif ini akan menjadi pengganti bahan bakar diesel (solar) yang akan digunakan untuk transportasi (10%) dan pembangkit listrik (50%). Bahan bakunya kalapa sawit dan jarak pagar. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, biodiesel tentu menjadi salah satu potensi besar untuk EBT. Namun, yang jadi permasalahan kemudian adalah EBT harus berbut dengan kebutuhan industri dan makanan. Belum lagi harga sawit yang makin mahal, menjadikan EBT tidak memenuhi skala ekonomi. Pada 2020, produksi biodiesel diperkirakan mencapai 4,25 juta kiloliter.

  • 7. Bioetanol

Bioetanol digunakan sebgai pengganti bahan bakar minyak (gasolin) pada transportasi, dengan target 10%. Bahan bakunya adalah sugar cane (tebu) dan cassava (singkong).

Perkembangan bioetanol juga diwarnai denga perebutan bahan baku antara EBT dengan pangan. Skala perkonomian juga menjadi permasalahan lain yang tak kalah pelik.

Untuk dapat meningkatkan produksi bioetanol yang diperkirakan akan mencapai 6,28 juta kiloliter pada 2025, pemerintah banyak mendapat bantuan investasi dari negara-negara lain seperti Jepang.

  • 8. Matahari Sebagai negara tropis, matahari memang bersinar sepanjang tahun di Indonesia. Oleh karena itu, tenaga surya menjadi salah satu potensi besar EBT Indonesia. Tak heran jika kemudian PT PLN berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 100 pulau di Indonesia selama 2011 ini. Kawasan Indonesia Timur dipilih dengan salah satu alasan adalah karena tingkat elektrifikasi di daerah tersebut masih sangat rendah. Salah satu hambatan dari PLTS adalah tingginya investasi yang dibutuhkan untuk mengolah energi ini.

  • 9. Angin Hingga kini, total kapasitas terpasang energi angin baru mencapai 800 kilowatt (kW) saja. Ada dua alasan mengapa meski memiliki banyak daerah berangin, tetapi pembangkit listrik bertenaga angin sangat sulit dikembangkan di Indonesia. Pertama, kecepatan angin Indonesia rata-rata hanya sekitar 3 m/s. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan angin minimal yang

dibutuhkan yaitu sekitar 5 m/s. Alasan kedua adalah Indonesia belum memiliki peta potensi angin di Indonesia, sehingga sulit untuk melakukan pengembangan.

Menurut data Lapan daerah NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Jawa adalah beberapa daerah yang memiliki kecepatan angin di atas 5 m/s.

10. Gelombang Laut Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi keuntungan bagi sektor energi Indonesia. Hasil penerlitian yang dilakukan oleh BPPT di Pulau Jawa menyebutkan bahwa gelombang laut pantai Indonesia dapat menghasilkan beberapa kilowatt listrik, tetapi tingkat efisiensinya masih sangat rendah.

Dengan potensi 90%, pada dasarnya energi gelombang laut lebih potensial dibandingkan dengan energi matahari dan angin, dengan kawasan yang tidak terbatas. Namun, kurangnya penelitian di bidang ini menyebabkan energi gelombang laut sulit dikembangkan (Anonim, 2011)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.10 Energi Baru dan Terbarukan Andalan Indonesia[Terhubung Berkala].http://www.wartaekonomi.co.id.[02 Oktober 2011] Mangunwidjaja, D dan Illah Sailah.2009.Pengantar Teknologi Pertanian.Jakarta:

Penebar Swadaya. Simposium Nasional Agroindustri ke-IV 2011