Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan Tujuan 1.1.1 Maksud Melakukan analisis kuantitatif data log menggunakan data log Melakukan analisis log kualitatif menggunakan data log Gamma Melakukan perhitungan nilai volume shale,porositas, faktor Gamma ray, log Resistivitas, log Neutron, dan log Densitas. ray, log Resistivitas, log Neutron, dan log Densitas. formasi, resistivitas air, kandungan serpih, dan saturasi air pada reservoir.

1.1.2 Tujuan Dapat mengetahui dan menginterpretasi data log menggunakan Dapat mengetahui nilai porositas, volume shale, faktor formasi, Dapat mengetahui jenis litologi, fluida pengisi, dan lingkungan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. resistivitas air, kandungan serpih, dan saturasi air pada reservoir. pengendapan berdasarkan data-data log. 1.2 Pelaksanaan Praktikum Hari Tanggal Pukul Tempat : Jumat : 8 dan 15 April 2011 : 15.30 18.00 WIB : Gedung S Lantai 1 Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

BAB II KAJIAN TEORI


2.1Pengertian Log Log adalah suatu grafik kedalaman (atau waktu) dari satu set yang menunjukkan parameter fisik, yang diukur secara berkesinambungan dalam sebuah sumur (Harsono, 1997). Logging adalah pengukuran atau pencatatan sifat-sifat fisika batuan di sekitar lubang bor secara tepat dan kontinyu pada interval kedalaman tertentu (Schlumberger, 1986). Maksud dari logging adalah untuk mengukur parameter fisika sehingga dapat diinterpretasi litologi penampang sumur, karakteristik reservoir antara lain porositas, permeabilitas dan kejenuhan minyak. Well logging merupakan suatu teknik untuk mendapatkan data bawah permukaan dengan menggunakan alat ukur yang dimasukkan kedalam lubang sumur, untuk evaluasi formasi dan identifikasi ciri-ciri batuan dibawah permukaan (Schlumberger, 1958). Tujuan dari well logging adalah untuk mendapatkan informasi litologi, pengukuran porositas, pengukuran resistivitas, dan kejenuhan hidrokarbon. Sedangkan tujuan utama dari penggunaan log ini adalah untuk menentukan zona, dan memperkirakan kuantitas minyak dan gas bumi dalam suatu reservoir. 2.2 Macam Macam Log Log itu sendiri diartikan sebagai suatu grafik kedalaman (atau waktu) dari satu set yang menunjukkan parameter fisik, yang diukur secara berkesinambungan dalam sebuah sumur (harsono,1997). Data log yang ada pada pengamatan analisis kualitatif adalah Log S( Spontaneous potensial ), Log GR ( Gamma Ray ), Log resistivitas, Log RHOB ( Densitas ), dan Log

NPHI ( Neutron ).Ada 4 jenis log yang sering digunakan dalam interpretasi yaitu : Log listrik terdiri dari log resistivitas dan log SP Log radioaktif terdiri dari log GR (Gamma Ray), log porositas yaitu terdiri dari log densitas dan log neutron Log akustik berupa log sonic Log caliper

2.2.1 Log Spontaneous Potensial (Log SP) Log SP adalah rekaman perbedaan potensial listrik antara elektroda dipermukaan yang tetap dengan elektroda yang terdapat di dalam lubang bor yang bergerak naik turun.Supaya SP dapat berfungsi, lunamg bor harus diisi dengan lumpur konduktif.Skala SP adalah dalam milivolt, tidak ada harga mutlak yang dama dengan mol karena hanya perubahan potemsial yang dicatat. Kita bayangkan sebuah lubang sumur yang terdiri dari lapisan permeabel dan tak permeabel.Secara alamiah karena perbedaan kandunagn garam air, arus listrik hanya mengalir di sekeliling perbatasan formasi di dalam lubang bor. Di lapisan serpih dimana tidak ada aliran listrik, sehingga potensialnya adalah konstan sengan kata lain SP-nya rata.Pembacaan ini disebut garis dasar serpih (Shale Base Line). Mendekati lapisan-permeabel, aliran listrik mulai terjadi, yang menyebabkan beda potensial negatif (relatif terhadap serpih). Penurunan kurva SP tidak pernah tajam saat melewati dua lapisan yang berbeda, melainkan selalu mempunyai sudut kemiringan.Jika lapisan permeabel itu cukup tebal maka SP menjadi konstan mendekati nilai maksimumnya (SSP-StaticSP). Memasuki lapisan serpih lagi, situasi sebaliknya akan terjadi, dan potensial kembali ke nilai serpih secara teratur. Kurva SP biasanya tidak mampu dengan tepat memberikan ukuran ketebalan lapisan, karena sifatnya yang malas atau

lentur.Perubahan dari posisi garis-dasar-serpih ke daris permeabel tidak tajam melainkan molor, sehingga garis batas tidak mudah dengan tepat ditentukan.Garis batas tersebut tidak harus setengah dari garis lenturnya. Tahap pertama yang dilakuakan dalam analisis log adalah mengenal lapisan-permeabel, dan serpih yang tak-permeabel. Untuk itu digunakan log SP dan juga dengan bantuan dari log Gamma Ray (GR). Log GR dan SP membedakan serpih dari yang bukan serpih dengan cara yang berbeda. SP adalah pengukuran secara elektrik, sedangkan GR adalah pengukuran secara radioaktif.Keduanya bisa sangat berbeda dalam penampilan. Penyajiannya adalah : pembacaan serpih disebelah kanan sedang pasir yang permeabel disebelah kiri dalam kolom 1. Pada formasi lunak, SP memberikan perbedaan yang lebih kontras antara serpih dan pasir daripada GR. Sebaliknya pada formasi karbonat yang keras perubahan SP sangat kecil, sehingga tidak dapat membedakan formasi yang permeabel dari yang tak-permeabel. Dalam kondisi ini log GR adalah cara terbaik, karena memberikan resolusi lapisan yang baik.Log SP digunakan untuk : Identifikasi lapisan-lapisan permeabel. Mencari batas-batas lapisan permeabel dan korelasi antar sumur berdasarkan batas lapisan itu. Menentukan resistivitas air-formasi,Rw. Memberikan indikasi kualitatif lapisan serpih. 2.2.2 Log Gamma Ray (Log GR) Sejarah Log Sinar Gamma (GR) sudah lama, tapi hanya sedikit

pengembangan yang dilakukan pada alat GR atau cara interpretasinya. Dengan kehadiran GR spektroskopi beberapa tahun silam telah membuka era baru bagi kemungkinan interpretasi yang lebih

rinci.Dengan alat seperti NGT (Natural spectroscopy Gammaray Tool) kita dapat mendeteksi unsur-unsur sumber radioaktif. Prinsip Log GR adalah suatu rekaman tingkat radioaktivitas alami yang terjadi karena tiga unsur : uranium (U), thorium (Th), dan potassium (K) yang ada pada batuan. Pemancaran yang terus menerus terdiri dari semburan pendek tenaga tinggi sinar gamma, yang mampu menembus batuan, sehingga dapat dideteksi oleh detektor yang memadai (biasanya jenis detektor scintillation). Sinar Gamma sangat efektif dalam membedakan lapisan permeabel dan yang tak permeabel karena unsur-unsur radioaktif cenderung berpusat di dalam serpih yang tak-permeabel, dan tidak banyak terdapat dalam batuan karbonat atau pasir secara umum adalah permeabel. Kadangkala lumpur bor mengandung sejumlah unsur potassium, karena zat potassiumchlorida ditambahkan kedalam lumpur untuk mencegah pembengkakan serpih. Radioaktivitas dari lumpur akan mempengaruhi pembacaan log GR berupa tingkatan latar belakang radiasi yang tinggi. Koreksi pengaruhi unsur potassium lumpur ini hanya ada pada alat NGT. Log GR diskala dalam satuan API (GAPI). Satu GAPI = 1/200 dari tanggapan yang didapat dari kalibrasi standar suatu formasi tiruan yang berisi Uranium, Thorium dan Potassium dengan kuantitas yang diketahui dengan tepat dan diawasi oleh American Petroleum Institute (API) di Houston, Texas. Log GR biasanya ditampilkan pada kolom pertama, bersamasama kurva SP dan Kaliper.Biasanya diskala dari kiri ke kanan dalam 0-100 atau 0-150 GAPI. Tingkat radiasi serpih lebih tinggi dibandingkan batuan lain karena unsur-unsur radioaktif cenderung mengendap di lapisan serpih yang tidak permeabel, hal ini terjadi selama proses perubahan geologi batuan.

Pada formasi permeabel tingkat radiasi GR lebih rendah, dan kurva akan turun ke kiri. Sehingga log GR adalah log permeabilitas yang bagus sekali karena mampu memisahkan dengan baik antara lapisan serpih dari lapisan permeabel. Secara khusus log GR berguna untuk definisi lapisan permeabel disaat SP tidak berfungsi karena formasi yang sangat resistif atau bila kurva SP kehilangan karakternya (Rmf = Rw), atau juga ketika SP tidak dapat direkam karena lumpur yang digunakan tidak konduktif (oil base mud). Log GR dapat digunakan untuk mendeteksi dan evaluasi terhadap mineral-mineral radioaktif, seperti biji potasium atau uranium.Log GR juga dapat digunakan untuk mendeteksi mineralmineral yang tidak radioaktif, termasuk lapisan batubara.Log GR digunakan secara luas untuk korelasi pada sumur-sumur berselubung. Gabungan perekaman GR dengan CCL (casing collar locator) memungkinkan alat perforasi diposisikan dengan akurat di depan lapisan yang akan dibuka. Korelasi dari sumur ke sumur sering dilakukan dengan menggunakan log GR, dimana sejumlah tanda-tanda perubahan litologi hanya terlihat pada log GR.Ringkasan dari kegunaan Log GR : Evaluasi kandungan serpih Menentukan lapisan permeabel Evaluasi biji mineral yang radioaktif maupun yang tidak radioaktif Korelasi log pada sumur yang berselubung Korelasi antar sumur 2.2.3 Log Resistiviy Log ini mengukur tahanan jenis formasi, untuk medapatkan sifat

sifat fisik batuan.Tahanan jenis suatu media adalah tahanan / hambatan yang diberikan oleh suatu media tersebut terhadap aliran arus listrik yang melewatinya. Tahanan jenis diukur dengan alat normal, 6

yang mengukur Ra ( tahanan jenis semu dari formasi ) dan alat lateral dan induksi yang dapat mengukur tahanan jenis sebenarnya Rt. Log tahanan jenis dapat dibagi lagi menjadi tiga berdasarkan tempat pengambilan datanya, yaitu : 1. Log tahanan jenis dangkal digunakan untuk mengukur tahanan jenis zona invasi yakni zona yang berada di sekitar tabung bor. Zona ini dapat dipengaruhi oleh air lumpur bor atau mud filtrat. Log ini disebut juga Laterallog Shallow (LLS). 2. Log tahanan jenis menengah, log ini menguur tahanan jenis zona transisi yakni zona yang sebagian dari fluidanya terusir oleh mud filtrat dan sebagian masih merupakan fluida asli. Log ini disebut juga Spherically FocusLog (SFL) 3. Log tahanan jenis dalam, log ini mengukur tahanan jenis formasi yang tidak terganggu oleh proses pemboran.Tujuan penggunaan adalah untuk mengukur tahanan jenis asli ( Rt ), membantu mengetahui porositas dan permeabilitas batuan. Juga untuk menghitung Sw dan untuk korelasi.Log ini disebut juga Laterallog Deep (LLD). 2.3 Analisis Log Kuantitatif a. Perhitungan Volume Shale a. Volume Shale Gamma Ray = b. Volume Shale Spontaneous Potential = c. Volume Shale Neutron = Log neutron, hasil pembacaan untuk dari log neutron adalah kepada

standarpengukuran

batugamping,

mengkonversikan

batupasir kita ubah dengan menggunakan chart Por-13b.

Gambar 2.1 Kurva Kesamaan Porositas untuk Neutron Thermal

d. Volume Shale Density-Neutron = b. Perhitungan Porositas Porositas Densitas (D) D = Koreksi Porositas Densitas Dc = D (Dsh x Vsh) Porositas Neutron (N) N = Dibaca langsung dari kurva log

Total Porositas (Tot) : tot = Porositas Neutron Shale Terdekat ( Nsh) Koreksi Porositas Neutron (Nc) Nc = N (Nsh x VSh) Porositas Densitas Neutron (e)

e = c. Faktor Formasi (F) Faktor formasi merupakan faktor keras lunaknya batuan rata-rata yang tergantung dari mineral pembentuk batuan.
F= a m

Catatan : Untuk batupasir a = 0,62; m = 2,15 Untuk batugamping a = 1; m = 2 d. Perhitungan True Resistivity (Rt) e. Perhitungan Water Restivity (Rw) Water Restivity Loose (Rwl) Rwl Water Restivity Consolid (Rwc) Rwl f. Perhitungan Resistivitas Batuan di Flushed Zone (Rxo) Rxo loose (Rxol) Rxol = Rxol = Rxo Consolid (Rxoc)

g. Porositas Gabungan Kombinasi log densitas dan neutron, harga yang diperoleh dari pembacaan log densitas &neutron dengan menggunakan persamaan: gab = Keterangan :
(7 x D + 2 x N) 9

D : nilai porositas densitas N : nilai porositas neutron


Tabel 2.1 Persentae Porositas

Persentase Porositas 0% - 5% 5% - 10% 10% - 15% 15% - 20% 20% - 25% > 25% h. Saturasi Air (Sw) Metode Archie

Penilaian dapat diabaikan (negligible) buruk (poor) cukup (fair) baik (good) sangat baik (very good) istimewa (excellent) (Koesoemadinata,1980)

Uninvaded Zone (Zona Tak Terinvasi) Determinasi harga kejenuhan air (Sw) dari log resistivitas dalam formasi yang bersih (non-shaly), berdasarkan pada rumus Archie (Harsono, 1997) : Keterangan : Sw: nilai kejenuhan air pada zona tidak terbilas F : nilai faktor formasi Rw: nilai resistivitas air Rt : nilai resistivitas zona tidak terbilas Invaded Zone (Zona Terinvasi)
Sxo = F.Rmf Rxo

Sw =

F.Rw Rt

Keterangan : Sxo: nilai kejenuhan air pada zona terbilas F : nilai faktor formasi Rmf: nilai resistivitas mud filtrate Rxo: nilai resistivitas zona terbilas Rxo diperoleh dari short normal, Rt dari Induction atau laterolog, sedangkan Rmf/Rw dari harga yang diukur. Dari harga Sw dan Sxo dapat diketahui Shr (saturasi hidrokarbon tersisa) Shr = 1 - Sxo

10

Harga Shr dipakai untuk menentukan porositas batuan bat = kor-gab (1 0,1 Shr) (Chabibie, Abdurrahman, dkk, 2008) Metode Simandoux

Uninvaded Zone (Zona Tak Terinvasi) Sw Keterangan : C : Konstanta untuk litologi ( sandstone = 0,4, limestone = 0,45) Rsh : Restitivity shale terdekat dan tertinggi di suatu zonasi Invaded Zone (Zona Terinvasi) Sw

2.4 Lingkungan Pengendapan Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan tertentu (Gould, 1972).Interpretasi lingkungan pengendapan dapat ditentukan dari struktur sedimen yang terbentuk.Struktur sedimen tersebut digunakan secara meluas dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini terbentuk pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan.Terjadinya struktur-struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta lingkungan pengendapan tertentu.Lingkungan Pengendapan DIbagi menjadi 3, yaitu : 1. Continental / darat 2. Coastal / transisi 3. Marine / laut Klasifikasi lingkungan pengendapan dapat dibedakan menjadi:

11

a.

kontinetal, antara lain gurun atau eolian, fluvial termasuk braided river dan point bar river, dan limnic

Gambar 2.2 - Depositional model for peatland development associated with fluvial systems. Coals that develop from peatlands in fluvial systems tend to thicken away from channels and split toward channels. Areas of peatlands are removed by fire splays, crevasse splays or eroded by fluvial incision.

b.

peralihan, termasuk delta. lobate, esturine, litoral (pantai, laguna, dan barrier islands, offshore bar, tidal flat.

Gambar 2.3 Sequence stratigrafi Lingkungan Transisi

12

marine, meliputi neritis atau laut dangkal, deep neiritis, batial, abisal.

Gambar 2.4- Depositional model for peatland development above regressive marine carbonates. Variation in coal thickness may be due to subtle changes in topography, where shallower areas that submerge before deeper areas are conducive to peat development.

13

14

BAB III TAHAPAN INTERPRETASI


3.1 Analisis log kualitatif

15

3.2 Analisis log kuantitatif

16

3.2.1 Menghitung Nilai Volume Shale Mulai

Mempersiapkan alat dan bahan (data log, penggaris, penghapus, dan kalkulator, serta pensil) -Mengepick nilai GR Menghitung nilai Vsh Gamma Ray Vsh GR = log, N log, SP log pada depth 1282, 1283, 1284 Menghitung nilai Vsh SP Vsh SP = -Menentukan nilai GR clean, SP clean, dan N clean dari sand bersih -Menentukan Grshale, Menghitung nilai Vsh Neutron Vsh N = Nshale bersih -Untuk nilai N log dan Menghitung nilai Vsh Neutron-Densitas Vsh N-D = Mencari nilai Vsh minimum dari nilai Vsh keseluruhan N clean dikonversi gaftar menggunakan por 13-b dari nilai Spshale, shale

17

3.2.2 Menghitung Nilai Porositas

Mulai

Mempersiapkan alat dan bahan (data log, penggaris, penghapus, dan kalkulator, serta pensil)

Menghitung nilai Porositas Densitas (D) D = Menghitung nilai . Porositas Neutron (N) tot = , Koreksi Porositas Neutron (Nc) Nc = N (Nsh x VSh)

-Menghitung 1282, 1283, 1284 -Nilai N

nilai

porositas pada depth dapat

dilihat dari data log pada N log -Nilai Vsh adalah nilai Vsh min pada masingmasing depth

Menghitung nilai Porositas D-N(e) e =

-Nilai

diperoleh dari untuk

konstanta 2,468 -Nilai

sandstonenilainya Porositas Densitas Neutron (%e) diperoleh dari nilai densitas masing-masing merupakan mud water

Selesai

pick pada depth -Nilai nilai water

nilainya 1,1 untuk salt

18

3.2.3 Menghitung Nilai True Resistivity Mulai

Menganalisis nilai Rt dari masing-masing depth 1282,1283, dan 1284 dari nilai deep later log

Nilai Rt1282 = 19 ohm, Rt1283 = 20 ohm, dan Rt1284 = 21 ohm 3.2.4 Menghitung Nilai Water Restivity (Rw) Mulai

Menghitung nilai Rw masing-masing depth 1282,1283, dan 1284 Rw Nilai Rw untuk loose dan consolidated dimana nilai aloose = 0,62 dan aconsolidated = 0,81

3.2.5 Menghitung Nilai Resistivitas Batuan di Flushed Zone (Rxo) Mulai Menghitung nilai Rxo masing-masing depth 1282,1283, dan 1284 Rxo =

Nilai Rxo untuk loose dan consolidated dimana nilai Rwmenggunakan masing-masing nilai Rw loose dan consolidated

19

3.2.6 Menghitung Nilai Saturasi Mulai Menghitung nilai saturasi masing-masing depth 1282,1283, dan 1284 untuk loose dan consolidated

Metode Archie

Metode Simandoux

Menghitung nilai F = =

dan nilai

Mencari nilai c yaitu konstanta untuk sandstone = 0,4

, untuk nilai F dan Sxonloose

Mencari nilai Rsh adalah nilai resistivitas tertinggi di suatu zonasi Menghitung nilai saturasi di uninvaded zone untuk loose dan consolidated Sw =

dan consolidated Menghitung nilai saturasi di flushed zone untuk loose dan consolidated Shr = 1 - Sxo

Menghitung nilai saturasi di virgin zone untuk loose dan consolidated Sh = 1 - Sw

Menghitung nilai saturasi di invaded zone untuk loose dan consolidated Sxo = )

20

BAB IV PENGOLAHAN DATA


4.1 Analisis Log Kualitatif Terlampir 4.2 Analisis Log Kuantitatif 1. Perhitungan Volume Shale a. Volume Shale Gamma Ray = VShl_GR1288 =

VShl_GR1289 = VShl_GR1290 =

b. Volume Shale Spontaneous Potential = VShl_SP1288 = VShl_SP1289 = VShl_SP1290 = c. Volume Shale Neutron = VShl_N1288= VShl_N1289 = VShl_N1290 = d. Volume Shale Density-Neutron = VShl_ND1288 = VShl_ND1289 = VShl_ND1290 = 21

e. Volume Shale Minimum VShl_Min1288 = 0,03226 VShl_Min1289 = 0.08621 VShl_Min1290 = 0,03226 2. Perhitungan Porositas a. Porositas Densitas (D) D = D_1288= D_1289 = D_1290 = = 0.257106 = 0.192506 = 0.198966

Keterangan : Dsh = dsh_1288 = 2.21 dsh_1288 = 2.21 sdh_1290 = 2.21 Dsh_1288 = Dsh_1288 = Dsh_1290 =

Koreksi Porositas Densitas Dc = D (Dsh x Vsh) Dc_1288 = 0,257106 (0,28295 x 0.03226) = 0,247979 Dc_1289 = 0.192506 (0,28295 x 0.225806) = 0,168115 Dc_1290 = 0.198966 (0,28295 x 0.032258) = 0,189839

b. Porositas Neutron (N) N = Dibaca langsung dari kurva log N_1288 = 0,33 22

N_1289 = 0.342 N_1290 = 0.33 Total Porositas (Tot) : tot = Tot_1288= Tot_1289 = Tot_1290 =

Koreksi Porositas Neutron (Nc) Nc = N (Nsh x VSh) Nc_1288 = 0.33 (0.39 x 0.03226) = 0.317419 Nc_1289 = 0.342 (0.39 x 0.225806) = 0.308379 Nc_1290 = 0.33 (0.39 x 0.032258) = 0.317419 c. Porositas Densitas Neutron (e) e = e_1288 = = 0.284823

e_1289 =

= 0.248355

e_1290=

= 0,261528

Prosentase Porositas Densitas Neutron (%e) %e_1288 = 28,48% %e_1289 = 24,84% %e_1290 = 26,15%

3. Perhitungan True Resistivity (Rt)

23

Rt

Dibaca dari log Deep Laterolog

Rt_1288 = 11 ohm Rt_1289 = 10,5 ohm Rt_1290 = 10,5 ohm

4. Perhitungan Water Restivity (Rw) a. Water Restivity Loose (Rwl) Rw Rw_1288 = Rw_1289 = Rw_1290 = b. Water Restivity Consolid (Rwc) Rw Rw_1288 = Rw_1289 = Rw_1290 = 0,912525 0,6488 0,725052 a= 0,81 1,19 0,85 0,95 a= 0,62

5. Perhitungan Resistivitas Batuan di Flushed Zone (Rxo) a. Rxo loose (Rxol) Rxol = Rxol_1288 = Rxol_1289 = Rxol_1290= = 1,762334 = 2,366021 = 2,117193

b. Rxo Consolid (Rxoc) Rxol =

24

Rxoc_1288= Rxoc_1289 = Rxoc_1290 =

= 2,302404 = 3,091093 = 2,76601

6. Perhitungan Saturasi a. Metode Archie Uninvaded zone loose (Fl) Fl = Fl_1288 = Fl1_1289 = Fl_1290 = = 9,23 = 12,39 = 11,08 m = e

Uninvaded zone consolid (Fc) Fc = m = e

Fc_1288 = Fc_1288 = Fc_1290 =

= 12,05447 = 16,18373 = 14,48173 ) =

Invaded zone loose (

_1288= _1289= _1290= ) =

= 1,0003 = 1,0001 = 0,99995

Invaded zone consolid(

25

_1288= _1289= _1290=

= 0,99999999 = 0,99999998 =1,000000001

Flushed Zone

Saturasihidrokarbon loose (Shr) Shr = 1 Shr_1288 = 1 1,0003= 0 Shr_1289 = 1 1,0001= 0 Shr_1290 = 1 0,99995= 0,001 Saturasihidrokarbonconsolid(Shr) Shr = 1 Shr_1288 = 1 0,99999999= 0,001 Shr_1289 = 1 0,999= 0,001 Shr_1290 = 1 1,000000001 = 0 - Virgin Zone Saturasihidrokarbon loose (Sh) Sh = 1 - Sw Sh_1282 = 1 1,0003= 0 Sh_1283 = 1 1,0001= 0 Sh_1284 = 1 0,99995= 0,001 Saturasihidrokarbonconsolid(Sh) Sh = 1 Sh_1288 = 1 0,99999999= 0,001 Sh_1289 = 1 0,999= 0,001

26

Sh_1290 = 1 1,000000001 = 0 b. Metode Simandoux - Uninvaded Zone Water Saturation loose (Sw) Sw = Sw_1288 = Sw_1289= 0,957786 Sw_1290 1,002008 Water Saturation consolid (Sw) Sw = Sw_1288 = 0,883976 Sw_1289= 0,844908 Sw_1290 = 0,879375 Invaded zone loose (Sxo) Sxo = ) = = = = = = 1,00708 =

27

Sxo_1288= 3,1005 Sxo_1289= 3,42 Sxo_1290 = 3,363 Invaded zone consolid(Sxo) Sxoc = )

Sxo_1288 = 3,0884 Sxo_1289= 3,363 Sxo_1290 = 3,462

28

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Analisis Kualitatif Wireline log merupakan data yang sangat penting di dunia perminyakan. Hal ini dikarenakan melalui data wireline log dapat diketahui variable - variabel petrofisika yang meliputi porositas dan kejenuhan air dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Variabel - variabel petrofisika batuan ini dapat digunakan untuk mengetahui besarnya kandungan hidrokarbon pada batuan reservoar di bawah permukaan. Karena peranannya yang sangat penting ini menyebabkan wireline log mengalami perkembangan yang sangat cepat baik teknologi ataupun jenisnya. Berdasarkan data Log Gamma ray, Log Resistivity, Log Neutron, dan Log Density tersebut dapat diinterpretasikan yaitu mempunyai 2litologi batuan dan pembagian zona menjadi 6 zonasi serta penentuan lingkungan penendapan. Adapun interpretasi tersebut berdasarkan analisis kualitatif yang meluputi sifat fisik batuan maupun kandungan fluida yang terdapat dalam batuan dari masing-masing lapisan. Berikut hasil interpretasi dari data log tersebut. Dari data pada bab kedua tentang data log, kita dapat menginterpretasikan apakah pada daerah tersebut memiliki kandungan hidrokarbon atau tidak. Metode yang digunakan yaitu metode interpretasi pintas ( quick look). Hal ini berdasarkan pada data-data yang terdiri dari:

Kurva Gamma Ray Log (GR) Kurva Caliper Log (CALI) Kurva Density Log (LDL) Kurva Neutron Log (CNL) Kurva Resistivity Log (MSFdan LLS) 29

Berdasarkan kurva GR, kita melihat bahwa pada kurva GR menunjukkan nilai GR menuju pada minimum. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa daerah dengan kurva yang mendekati minimum kemungkinan merupakan lapisan reservoir. Lapisan reservoir adalah lapisan permeabel yang biasanya ditunjukkan oleh rendahnya harga kurva gamma Ray dan juga radioaktivnya juga rendah yang berasosiasi dengan batupasir dan coal sehingga menunjukkan volume serpih yang rendah. Dalam identifikasi litologi berdasarkan kurva log Gamma Ray yang pertama ditentukan adalah Shale Base Line dan Sand Base Line dari kurva log Gamma Ray tersebut. Shale base line yang merupakan garis lempung ini adalah garis yang ditarik dari titik yang memiliki harga paling tinggi yang mengisyaratkan bahwa daerah tersebut merupakan daerah serpih (shale), sedangkan sand base line merupakan garis yang ditarik dari titik yang memiliki harga yang paling kecil dalam kurva log gamma ray yang juga mengisyaratkan bahwa daerah tersebut adalah daerah yang permeabel. Log Gamma ray yang memiliki skala 0 sampai 150 ini kemudian dianggap mempunyai persentase 100%. Maka selanjutnya barulah ditentukan daerah interes yang menjadi kandidat batupasir dimana kandidat ini adalah zona yang terletak diantara 50%-80% (sering juga disebut cut off). Daerah yang terletak pada zona inilah yang dianggap sebagai zona clean sand. Selain itu, dari kurva ini juga dapat ditentukan batas-batas perlapisan dengan mengambil patokan adanya perubahan pola kurva (defleksi kurva) merupakan tanda bahwa terdapat perubahan litologi. Namun yang perlu diingat kurva Gamma Ray ini tidak mengisyaratkan besar butir tetapi hanya memberikan informasi tentang distribusi butir dan kandungan lempungnya. Berdasarkan kurva kaliper dapat diinterpetasikan bahwa adanya kelokan pada bagian tengah kurva ke arah kiri menunjukkan kemungkinan adanya batuan yang memiliki porositas serta permeabilitas yang besar

30

karena

kurva

kaliper

ini

erat

kaitannya

dengan

porositas

dan

permeabilitas. Berdasarkan kurva CNL yang merupakan hasil pengukuran konsentrasi kandungan atom hidrogen dalam formasi dan secara tidak langsung dapat menafsirkan porositas batuan. Pada prinsipnya sumber radioaktif akan memancarkan partikel-partikel neutron pada formasi sepanjang lubang bor. Partikel-partikel tersebut kemudian bertabrakan dengan suatu melemah. Energi partikel neutron yang diterima kembali oleh detektor relatif masih besar, menunjukkan energi neutron yang dipancarkan sebagian besar diterima kembali oleh detektor dikarenakan formasi kurang mengandung unsur hidrogen yang dijumpai dalam senyawa air (H2O) yang terdapat pada rongga batuan. Keadaan ini dapat diasumsikan sebagai batuan yang mempunyai porositas yang rendah. Begitu pula sebaliknya, semakin lemah energi partikel neutron yang diterima detektor, menunjukkan sebagai fluida. 5.1.1 Interpretasi Litologi Interpretasi litologi umumnya dilakukan menggunakan log gamma ray. Untuk analisis tingkat lanjut, maka bermacam-macam jenis log yang lain dapat digunakan untuk mendukung interpretasi litologi, seperti log SP, log tahanan jenis, log sonik, dan log densitas.Dari pembacaan data log yang ada, pada sumur tersebut terbagi menjadi dua litologi batuan, antara lain yaitu shale , sandstone dan sandstone with carbonaceous streak serta coal. 1. Shale banyak hidrogen (H) dalam formasi. Keadaan ini menunjukkan tingginya porositas batuan, jika H tersebut terkonsentrasi massa hidrogen yang terdapat dalam formasi sehingga energi partikel-partikel neutron yang diterima kembali oleh detektor akan

31

Litologi ini terdapat pada kedalaman 2290 2299 ft, 2301-2304 ft, 2307-2317 ft, 2323 2340 ft, 2750 2777 ft, 2835-2860 ft, yang masingmasing mempunyai ketebalan yang bervariasi. Litologi batuan ini dicirikan dengan data log Gamma Ray yang tinggi yaitu sekitar 70-140 gAPI, hal ini karena pada lapisan ini mempunyai kandungan radioaktif yang sangat tinggi. pada depth ini log Gamma Ray menunjukkan nilai yang tinggi dengan menunjukkan defleksi ke arah kanan karena pada shale memiliki komposisi radioaktif berupa uranium, thorium, dan potassium. Pada log resistivitas yaitu MSF, LLS, dan LLD berhimpit , hal ini terjadi karena pada shale memiliki porositas yang besar sehingga celah antar butir yang menjadi media penghantar arus listrik tinggi kemudian kemungkinan lapisan batuan ini memiliki salinitas yang rendah. Log neutron mengalami defleksi ke arah kiri dan log densitas mengalami defleksi ke arah kanan. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan batuan ini memiliki porositas yang rendah dan permeabilitas yang rendah, hal ini berhubungan dengan prinsip log densitas yang memanfaatkan sinar gamma dimana pada saat sinar gamma bertabrakan dengan elektron dalam batuan akan mengalami pengurangan energi. Semakin banyaknya elektron dalam batuan berarti makin padat butiran atau mineral penyusun batuan tersebut sehingga apabila semakin padat maka ruang atau pori antar butirannya sangat kecil sehingga batuan ini porositasnya rendah. Pada depth 2777 2780 ft terdapat sedikit sisipan sandy shale dimana log Gamma Ray menunjukkan defleksi ke arah kiri tetapi belum melewati cut off. Umumnya pada lapisan batuan shale bersifat impermeable. Pada log Caliper biasanya terdapat garis yang berbelok ke kanan, dapat di interpretasikan pada kedalaman ini terdapat (caved hole) yang menyebabkan diameter lubang bor membesar, tetapi pada data log tersebut tidak menunjukkan pembelokan secara signifikan, sehingga dapat diperkirakan tetap terjadi pembesaran lubang bor namun tidak begitu besar gradiennya. Hal ini dikarenakan permeabilitas dari shale hampir mendekati nol, sehingga tidak terjadi kerak lumpur yang

32

menyebabkan runtuhnya dinding sumur bor ( washed out ), sehingga diameter dinding sumur bor mengalami perbesaran. Pada Log resistivity harga yang ditunjukkan rendah, dan tidak terjadi separasi tahanan jenis yang negatif. Pada Log Neutron (CNL) menunjukkan harga yang tinggi dan pada Log Density (LDL) menunjukkan harga yang rendah, oleh karena itu batuan ini mempunyai porositas yang sangat kecil dan impermeable. Dari kombinasi data log Neutron dan data log Density dari kedua litologi tersebut tidak ditemukan adanya crossover yang mengindikasikan kehadiran porositas yang diisi fluida di dalam batuan ini, sehingga dapat disimpulkan pada batuan ini tidak terdapat fluida. Kenampakan pada log sonic pada shale menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan pada sandstone karena pada prinsipnya log sonic merupakan suatu log yang berfungsi dalam penentuan besarnya harga porositas dari batuan dimana pada log ini terdapat transmitter yang mengirimkan gelombang suara ke dalam formasi yang diterima oleh penerima yang terdapat pada log ini dimana makin lama waktu tempuhnya maka porositas batuannya makin besar. 2. Sandstone Berdasarkan data log, litologi ini terdapat di kedalaman 2340 2355 m, 2364 2400 m, 2783 2790 m, 2794-2828 m dan yang terakhir 2778 -2780 m. Litologi ini dicirikan dengan data log Gamma Ray yang rendah yaitu sekitar 40 - 60 API, hal ini karena pada lapisan ini hampir tidak mempunyai kandungan radioaktif atau dapat dikatakan mempunyai intensitas radioaktif yang sangat rendah. Dari hasil log neutron (NPHI) yang menunjukan angka yang kecil karena H pada batupasir terkonsentrasi sebagian besar di fluidanya, maka dapat diketahui bahwa batuan ini memiliki porositas yang besar. Dan dengan melihat dari Log Density (RHOB) maka dapat diketahui pula bahwa batuan ini memiliki densitas yang rendah yang dimungkinkan berasal dari jumlah porositas yang banyak, oleh karena itu batuan ini mempunyai porositas yang baik

33

dan permeable yang memungkinkan dapat menjadi batuan reservoir. Pada kedalaman 2795 ft 2829ft, 2345ft 2349ft, dan 2370mft 2399ft dari log resistivitas menunjukkan harga yang cukup tinggi yang diinterpretasikan sebagai dan air tawar (freshwater). Sedangkan jika dilihat dari log porositas (LDL dan CNL) menunjukkan adanya crossover yang cukup besar sehingga diinterpretasikan bahwa pada lapisan batupasir tersebut berisi fluida berupa air tawar (fresh water). Pada sandstone kenampakan log caliper menunjukkan nilai yang besar, hal ini diakibatkan karena sandstone memiliki permeabilitas yang besar sehingga terjadi kerak lumpur yang mengakibatkan pengecilan diameter lubang bor karena terjadi endapan lumpur pada dindingnya (mud cake). Permeabilitas batuan yang besar mengakibatkan fluida pemboran yang masuk ke dalam formasi cukup besar sehingga mengakibatkan adanya endapan lumpur yang menyebabkan diameter lubang bor lebih kecil. Kenampakan pada log sonic pada sandstone dengan shale karena pada prinsipnya log sonic merupakan suatu log yang berfungsi dalam penentuan besarnya harga porositas dari batuan dimana pada log ini terdapat transmitter yang mengirimkan gelombang suara ke dalam formasi yang diterima oleh penerima yang terdapat pada log ini dimana makin lama waktu tempuhnya maka porositas batuannya makin besar. Sandstone memiliki porositas yang cukup baik sehingga gelombang sura yang diterima oleh formasi lebih cepat ditangkap dan dipantulkan kembali karena memiliki celah antar butir yang cukup baik untuk memantulkan gelombang suara sehingga waktu tempuh yang diperlukan tidak terlalu lama. 3. Batubara (Coal) Berdasarkan data log, litologi ini terdapat di kedalaman 2340 2355 ft, 2364 2400 ft, 2783 2790 ft, 2794-2828 ft dan yang terakhir 2778 -2780 ft. Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuhtumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi

34

tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan postsedimentary .Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi. Pada kedalaman ini log Gamma Ray menunjukkan nilai yang rendah dengan menunjukkan defleksi ke arah kiri, hal ini disebabkan pada lapisan coal kandungan radiokatifnya kecil. Coal merupakan jenis batuan yang terbentuk dari bahan organik tidak memiliki unsur radioaktif yang tinggi akan tetapi pada coal tidak terdapat unsur radioaktif berupa uranium, thorium, dan potassium sehingga tingkat radiokatifnya kecil. Log SP tidak menunjukkan defleksi karena coal merupakan lapisan batuan yang bersifat impermeable sehingga tidak terjadi perubahan pada kurva log SP ini, log resistivitas yaitu MSF, LLS, dan LLD sangat tinggi karena pada log ini menunjukkan bahwa coal tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan baik karena pada batuan ini bersifat impermeable dimana apabila dilihat dari kenampakan log resistivitas yang tinggi menunjukkan bahwa lapisan batuan ini dapat menghambat arus listrik dengan baik karena lapisan batuan ini memiliki kekompakkan yang sangat tinggi sehingga porositas batuan mendekati nol atau sangat kecil sehingga celah antar butirrannya yang menjadi media penghantar arus listrik sangat kecil, matriks batubara yang berupa material-material organik banyak memiliki komposisi C, H, dan O yang tidak konduktif. Pada log densitas dan log neutron radikal ke kiri. Hal ini menunjukkan log neutron memiliki nilai yang tinggi, hal ini diakibatkan karena batubara memiliki komposisi C,H, dan O sehingga memiliki partikel mssa neutron yang bertumbukan sehingga dengan atom-atom detektor mengalami sedikit hilang, dimana massa material pembentuk batubara yang hampir sama kecepatan menghitung akan semakin meningkat. Pada log densitas nilainya rendah karena batubara memiliki porositas yang rendah dengan komposisi material-material organik yang cukup tinggi sehingga butiran atau mineral penyusun batuan tersebut semakin padat dan mengakibatkan semakin banyak tumbukan antara sinar gamma dengan elektron dalam batuan

35

yang menimbulkan pengurangan energi. Pada litologi coal ini kenampakan log sonic tidak menunjukkan perubahan yang signifikan nilainya hampir sama denga nilai log sonic pada litologi shale. Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yang berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya dilingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa). Menurut Diessel (1984, o p c i t S u s i l a w a t i , 1 9 9 2 ) l e b i h d a r i 9 0 % b a t u b a r a d i d u n i a t e r b e n t u k d i lingkungan paralik yaitu rawarawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpaidi dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower deltaplain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda. Proses pengendapan bawahberupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara danplagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain . Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketikamuatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halusdan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination. 4. Sandstone with carbonaceous streak

36

Litologi endapan ini terdapat pada kedalaman 2298m 2301m, 2305m 2307m, 2834m 2835m. Litologi ini merupakan batupasir dengan sisipan atau sedikit laminasi karbon. Pada kedalaman ini log Gamma Ray menunjukkan nilai yang rendah dengan menunjukkan defleksi ke arah kiri, hal ini disebabkan pada lapisan batuan ini kandungan radiokatifnya kecil. Dimana sandstone with carbonaceous streak ini me memiliki kompoisisi coal yang tidak bersifat radioaktif dan memiliki konduktivitas yang rendah. Log SP menunjukkan defleksi ke arah kanan dengan nilai hampir sama dengan lapisan sandstone, hal ini karena lapisan batuan yang bersifat permeable sehingga terjadi perubahan pada kurva log SP ini dimana sesuai dengan prinsip kerja log SP yang hanya dapat mengidentifikasi lapisan permeable atau tidak, log resistivitas yaitu MSF, LLS, dan LLD tinggi dibandingkan log resistivitas pada sandstone karena pada log ini menunjukkan bahwa lapisan batuan ini tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan baik karena pada batuan ini tidak bersifat konduktif karena unsur atau komposisi pada batuan ini berupa coal, log neutron memiliki nilai yang tinggi karena lapisan batuan ini memiliki konsentrasi hidrogen yang rendah sehingga partikel-partikel neutron yang memancar lebih jauh menembus formasi dan pada log densitas nilainya rendah karena batuan ini bersifat impermeable sehingga celah-celah antar butirnya lebih besar dan sinar gamma yang bertabrakan dengan elektron semakin kecil, hal ini mengakibatkan pengurangan energi yang tidak terlalu besar. Dari hasil interpretasi data log kenampakan log Gamma Ray menunjukkan kenampakan seperti pada litologi sandstone akan tetapi pada log resistivity kenampakannya cukup tinggi apabila dibandingkan dengan log resistivity pada sandstone, pada log densitas kenampakannya hampir hilang ke arah kiri sehingga hal ini menunjukkan suatu hal dimana terjadi perubahan proses pengendapan sehingga terdapat litologi coal berupa lamina-lamina yang kemungkinan terjadi akibat adanya perubahan arus di suatu lingkungan pengendapan.

37

Dilitologi ini kenampakan log sonic tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, nilainya hampir sama dengan nilai log sonic pada sandstone.

5.1.2 Interpretasi Fluida (Zonasi) Zonasi ini dibuat untuk menentukan zona-zona yang mempunyai kandungan fluida hidrokarbon atau dengan kata lain zona prospektif. Dari pembacaan data log yang ada, pada sumur tersebut terbagi menjadi 3 zona yang mengandung fliuda air (water). Setelah penentuan zona prospektif tersebut, dilakukan analisa kuantitatif yang secara garis besar dengan melihat parameter petrofisika batuan. Adapun parameter tersebut yaitu meliputi porositas, faktor formasi, resistivitas air, kandungan serpih, saturasi air dan saturasi hidorkarbon. Pada Neutron Log, bila konsentrasi hidrogen didalam formasi besar maka semua partikel neutron akan mengalami penurunan energi serta tertangkap tidak jauh dari sumber radioaktifnya. Hal yang perlu digarisbawahi bahwa neuton hidrogen tidak sepenuhnya mewakili porositas batuan karena penentuannya didasarkan pada konsentrasi hidrogen. Neutron tidak dapat membedakan antara atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara kimia terikat dengan mineral batuan, akibatnya pada formasi lempung yang banyak mengandung atom-atom hidrogen didalam susunan molekulnya seolaholah mempunyai porositas tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kurva Neutron Log adalah shale atau clay dimana semakin besar konsentrasinya dalm lapisan batupasir akan memperbesar nilai NPHI batupasir. Kekompakan batupasir juga akan mempengaruhi defleksi kurva Neutron Log dimana semakin kompak batuan tersebut maka NPHI batuan akan menurun dan kandungan fluida yang ada dalam batuan apabila mengandung minyak dan gas maka akan mempunyai harga NPHI yang relatif kecil, sedangkan

38

air asin atau air tawar akan memberikan harga porositas neutron yang mendekati harga porositas sebenarnya. Density Log menunjukkan besarnya densitas lapisan yang ditembus oleh lubang bor sehingga berhubungan dengan porositas batuan. Besar kecilnya density juga dipengaruhi oleh kekompakan batuan dengan derajat kekompakan yang variatif, dimana semakin kompak batuan maka porositas batuan tersebut akan semakin kecil. Pada batuan yang sangat kompak, harga porositasnya mendekati harga nol sehingga densitasnya mendekati densitas matrik. Kombinasi Log digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengevaluasi formasi serta menentukan potential productivity yang dikandungnya. Pada kombinasi log antara Neutron Log dan Density Log maka akan terdapat tampilan Log Density yang dari kiri ke kanan satuannya semakin besar sedangkan Neutron Log dari kiri ke kanan satuan porositasnya semakin kecil sehingga dapat diinterpretasikan sebagai berikut : 1. Lapisan shale akan memberikan nilai yang kecil harga densitas yang besar pada Density Log dan harga porositas neutron yang besar pada Neutron Log. 2. Lapisan hidrokarbon akan memberikan separasi positif dimana kurva Density Log akan cenderung mempunyai defleksi ke kiri dan Neutron Log cenderung mempunyai defleksi ke kanan. 3. Lapisan air asin atau air tawar akan memberikan separasi positif sehingga untuk dapat membedakan antara separasi positif pada lapisan air dengan lapisan hidrokarbon maka jalan terbaik adalah dengan melihat kurva Resistivity Log dan SP Log. Berikut interpretasi dari masing-masing zonasi : 1. Zona 1 Zona ini terdapat di kedalaman 2343 2348 ft. Dari interpretasi data yang didapat, diperkirakan pada interval kedalaman ini terdapat

39

berupa fluida air tawar. Hal ini di tunjukan dari nilai log Gamma Ray yang rendah dan nilai log resistivitas yang rendah dan defleksinya terlihat melurus. Selain itu ciri data log yang paling mencolok yaitu ditunjukkan adanya separasi positif (cross over ) dengan bentukan yang besar antara nilai log density dan log neutron, hal ini karena harga porositas Neutron jauh lebih kecil daripada harga porositas Densitas. Selain itu resistivitasnya juga tergolong rendah. Dengan melihat data log tersebut maka dapat diperkirakan zona ini merupakan lapisan yang poros yaitu berupa formasi dengan litologi berupa sandstone yang merupakan batuan reservoir. Adapun perkiraan kandungan fluida pada zona ini yaitu fluida berupa air asin. Berdasarkan analisa secara kuantitatif pada batuan reservoir tersebut diperoleh nilai porositas batuan terkoreksi sebesar 13.88 %. Dengan nilai tersebut maka porositas pada batuan ini termasuk dalam tingkatan yang cukup. Nilai faktor formasi didapatkan sebesar 21.71, sehingga dapat dikatakan formasi pada zona ini relative lunak. Kemudian didapatkan kandungan serpih sebesar 0.23. Kandungan serpih ini dipakai untuk mengkoreksi densitas neutron dan porositas yang keduanya digabungkan dan menghasilkan nilai porositas gabungan terkoreksi yang nantinya didapatkan nilai porositas batuan yang sebenarnya. Adapun saturasi air pada zona ini sebesar 0.50 dan saturasi hidrokarbon sebesar 0.46. Dengan melihat nilai dari parameter tersebut di atas dapat dikatakan zona ini merupakan zona yang cukup prospektif untuk di eksploitasi. 2. Zona 2 Zona ini terdapat di kedalaman 2369 2398 ft. Dari interpretasi data yang didapat, diperkirakan pada interval kedalaman ini terdapat berupa fluida air. Hal ini di tunjukan dari nilai log Gamma Ray yang rendah dan nilai log resistivitas yang rendah dan defleksinya terlihat melurus. Selain itu ciri data log yang paling mencolok yaitu ditunjukkan adanya sparasi positif (cros over ) dengan bentukan yang besar antara nilai log

40

density dan log neutron, hal ini karena harga porositas Neutron jauh lebih kecil daripada harga porositas Densitas. Dengan melihat data log tersebut maka dapat diperkirakan zona ini merupakan lapisan yang poros yaitu berupa formasi dengan litologi berupa sandstone yang merupakan batuan reservoir. Adapun perkiraan kandungan fluida pada zona ini yaitu fluida berupa air tawar. Berdasarkan analisa secara kuantitatif pada batuan reservoir tersebut diperoleh nilai porositas batuan terkoreksi sebesar 12.5 %. Dengan nilai tersebut maka porositas pada batuan ini termasuk dalam tingkatan yang cukup. Nilai faktor formasi didapatkan sebesar 35, sehingga dapat dikatakan formasi pada zona ini relative keras dari zona 1. Kemudian didapatkan kandungan serpih sebesar 0.106. Kandungan serpih ini dipakai untuk mengkoreksi densitas neutron dan porositas dan keduanya digabungkan dan menghasilkan nilai porositas gabungan terkoreksi yang nantinya didapatkan nilai porositas batuan yang sebenarnya. Adapun nilai nilai saturasi air pada zona ini sebesar 0.68 dan saturasi hidrokarbon sebesar 0.46. Dengan melihat nilai dari parameter tersebut di atas dapat dikatakan zona ini merupakan zona yang cukup prospektif untuk di eksploitasi. 3. Zona 3 Zona ini terdapat di kedalaman 2797 2829 ft. Dari interpretasi data yang didapat, diperkirakan pada interval kedalaman ini terdapat berupa fluida air. Hal ini di tunjukan dari nilai log Gamma Ray yang rendah dan nilai log resistivitas yang rendah dan bentuk kurvanya terlihat melurus. Selain itu ciri data log yang paling mencolok yaitu ditunjukkan adanya sparasi positif (cross over ) dengan bentukan yang kecil antara nilai log density dan log neutron, hal ini karena harga porositas Neutron jauh lebih kecil daripada harga porositas Densitas. Dengan melihat data log tersebut maka dapat diperkirakan zona ini merupakan lapisan yang poros yaitu berupa formasi dengan litologi berupa sandstone yang

41

merupakan batuan reservoir. Adapun perkiraan kandungan fluida pada zona ini yaitu fluida berupa air asin. Berdasarkan analisa secara kuantitatif pada batuan reservoir tersebut diperoleh nilai porositas batuan terkoreksi sebesar 7.76 %. Dengan nilai tersebut maka porositas pada batuan ini termasuk dalam tingkatan porositas yang buruk. Nilai faktor formasi didapatkan sebesar 80.43, sehingga dapat dikatakan formasi pada zona ini relative sangat keras dari zona 2. Kemudian didapatkan kandungan serpih sebesar 0.18. Kandungan serpih ini dipakai untuk mengkoreksi densitas neutron dan porositas dan keduanya digabungkan dan menghasilkan nilai porositas gabungan terkoreksi yang nantinya didapatkan nilai porositas batuan yang sebenarnya. Adapun nilai nilai saturasi air pada zona ini sebesar 0.68 dan saturasi hidrokarbon sebesar 0.70. Melihat perbandingan tersebut maka dapat dikatakan kandungan hidrokarbon relatif lebih banyak daripada air. Dengan melihat nilai dari parameter tersebut di atas dapat dikatakan zona ini merupakan zona yang cukup prospektif untuk di eksploitasi. 4. Zona 4 Pada kedalaman 2305 2307 ft terlihat kenampakan log resistivitas yang cukup tinggi menunjukkan bahwa lapisan batuan ini tidak memiliki kemampuan yang baik untuk mengalirkan arus listrik dimana kaitannya dengan kandungan minyak dalam suatu lapisan batuan adalah suatu fluida yang mempunyai konduktivitas yang sangat rendah karena minyak merupakan suatu rangkaian ikatan hidrokarbon yang memiliki banyak atom C yang saling berikatan membentuk ikatan jenuh maupun tidak jenuh dimana ikatan rantai karbon merupakan suatu unsur organik yang memiliki resistivitas lebih rendah apabila dibandingkan dengan gas yang bersifat resistif. Umumnya kandungan fluida ditemukan pada sandstone karena pada batuan ini mempunyai porositas yang tinggi sehingga sehingga rongga-rongga antar butirnya dapat menyimpan fluida, log densitas mengalami defleksi ke arah kiri dan log neutron mengalami defleksi ke arah kanan karena partikel-partikel neutron yang bertumbukan

42

dengan atom yang massanya hampir sama dengan atom hidrogen ditunjukkan oleh kenampakan CNL-LDL yang mengalami cross over.

5.1.3 Lingkungan Pengendapan Penentuan lingkungan pengendapan dapat dilihat dari bentuk kurva log terutama log Gamma Ray dan log SP ( Walker, 1922 ). Analisis lingkungan pengendapan tidak akan lepas dari analisis pola log yang bertujuan untuk mengetahui perubahan muka air laut pada interval penelitian dengan mengkombinasikan antara kemenerusan vertikal pengandapan, stratigrafi dan pelamparan litologi secara lateral. 1. Creevase splay Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play . Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus sedang dengan struktur sedimen cross bedding,ripple lamination , dan bioturbasi. Laminasi b a t u p a s i r , b a t u l a n a u d a n b a t u l e m p u n g j u g a u m u m ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnyamemperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Lingkungan pengendapan ini terdapat pada kedalaman 2778ft 2795ft dan 2340ft 2366ft. Lingkungan pengendapan pada kedalaman ini adalah crevase splay karena pada depth ini terdapat litologi yang didominasi oleh shale dengan sedikit sisipan sandstone. Pola log Gamma Ray yang terdapat pada depth ini adalah coarsening upwards. Di daerah crevasse splay memiliki energy pengendapan yang relative kecil karena pada lingkungan ini terbentuk akibat adanya suatu aliran dari sungai yang overtopping sehingga sebagian aliran air di sungai keluar dari channel, hal ini mengindikasikan bahwa jumlah atau kuantitas debit air yang ada pada

43

aliran di crevasse splay ini kecil sehingga material-material yang terendapkan umumnya berukuran halus dan terbawa melalui suspense. 2. Flood Plain Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis. Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut. Subfasies flood plain terdiri dari endapan batupasir yang sangat halus, batulanau dan batulempung yang diendapkan pada daerah overbank floodplain sungai. Struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi ripple mark dan kadang-kadang terdapat horizon batupasir yang mengisi struktur shrinkage yang diasumsikan terdapat pada daerah subaerial. Lingkungan pengendapan ini terdapat pada kedalaman 2750ft 2778ft, 2829ft 2860ft, dan 2290ft 2340ft. Pada kedalaman ini, lingkungan pengendapannya adalah flood plain dimana terdapat litologi berupa coal, sandstone tipis, dan shale. Pada daerah floodplain memiliki energy pengendapan yang relative rendah dimana material yang terendapkan berukuran relative halus.

3. Distributary Channel Endapan distributary channel terdiri dari endapan braided dan meandering, levee dan endapan point bar. Endapan distributary channel ditandai dengan adanya bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menunjukkan kecenderungan menghalus ke atas. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai adalah cross bedding, ripple cross stratification, scour and fill dan lensa-lensa lempung. Endapan point bar terbentuk apabila terputus dari channel-ya.

44

Sedangkan levee alami berasosiasi dengan distributary channel sebagai tanggul alam yang memisahkan dengan interdistributary channel. Sedimen pada bagian iniberupa pasir halus dan rombakan material organik serta lempung yang terbentuk sebagai hasil luapan material selama terjadi banjir. Lingkungan pengendapan ini terdapat pada kedalaman 2364ft 2400ft dan 2798ft 2829ft. Pada lingkungan pengendapan distributary channel umumnya litologi yang terdapat pada depth ini adalah sandstone dengan sedikit sisipan shale. Lingkungan pengendapan pada distributary channel memiliki energi pengendapan yang cukup tinggi karena material yang terendapkan di daerah ini relative lebih kasar dibandingkan di daerah crevasse splay sehingga menghasilkan endapan batupasir dengan energi pengendapan dan energi transportasi yang relatif besar. 5.2 Analisis log kuantitatif Analisa log kuantitatif membedakan antara clean formation dan shaly formation. Shaly formation membutuhkan perlakukan yang berbeda batuan di dalam penghitungan Hasil studi sifat petrofisikanya. cekungan di Hal ini dikarenakan hadirnya serpih (shale) yang cukup tinggi di dalam reservoar. berbagai dunia menunjukkan bahwa serpih terutama terdiri atas 50% lempung (clay) sedangkan sisanya 25% silika, 10% feldspar, 10% karbonat, 3% oksida besi, 1% bahan organik dan 1% mineral lain (Dewan, 1983). Peralatan logging di dalam melakukan pengukuran akan merespon formasi yang mempunyai ketebalan vertikal minimal 2-4 feet. Hal ini mengakibatkan serpih tersebut tidak dapat dibedakan oleh peralatan logging. Penghitungan sifat petrofisika batuan reservoar dapat dilakukan tanpa memperhatikan serpih tersebut. Analisis log secara kuantitatif mempunyai tujuan yaitu menghitung porositas efektif (e ) dan kejenuhan air (Sw) pada suatu batuan reservoar yang mengandung hidrokarbon. Kedua parameter ini sangat

45

penting di dalam meng-estimasi cadangan hidrokarbon yang ada di dalam batuan reservoar tersebut. Di dalam menghitung kejenuhan air (Sw) parameter yang harus dicari terlebih dahulu adalah tahanan jenis air formasi (Rw) dan tahanan jenis foramsi (Rt). Pada wireline log ini analisis kuantitatif yang dilakukan meliputi analisis perhitungan volume shale, porositas, densitas, true resistivity, water resistivity, saturasi, dimana volume shale yang dianalisis adalah data V shale Gamma Ray, V shale Spontaneous potential, V shale Neutron, V shale Density Neutron. Analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui sifat fisika (physical properties) dari batuan. Parameter dari sifat fisika (phisical properties) yang dihitung pada praktikum kali ini adalah porositas, saturasi air, dan saturasi hidrokarbon. Pada umumnya, perhitungan parameter petrofisika tersebut dilakukan pada zona air dan minyak atau untuk mengetahui nilai saturasi hidrokarbon dan saturasi air dalam suatu analisis log. Untuk mendapatkan nilai saturasi ini digunakan berbagai macam variable petrofisika yaitu faktor formasi, resistivitas dalam formasi, resistivitas dalam formasi komposisi air tergantung pada zonanya apabila didaerah terinvasi maka nilai Rw digantikan oleh Rmf karena air formasi didesak keluar oleh fluida yang tersaring dari lumpur pada saat pemboran. Saturasi air merupakan kejenuhan air formasi adalah rasio dari volume pori yang terisi oleh air dengan volume porositas total. Apabila mengetahui saturasi air kita dapat mengetahui kandungan fluida dalam suatu formasi. Apabila nilai saturasi air bernilai 1 maka nilai saturasi hidrokarbon bernilai 0 dimana metode yang digunkan adalah metode Archie yang menyimpulkn bahwa nilai saturasi air ditambah nilai saturasi hidrokarbon bernilai 1. Pada pembahasan kali ini dibahas pada kedalaman 2290 feet hingga 2400 feet dan 2750 feet hingga 2860 feet yang secara kebetulan kedalaman tersebut masih termasuk pada zona 3. reservoar pada zona ini adalah termasuk didalamnya untuk

46

kedalaman 2340-2355 ft, 2364-2400 ft,2783-2790 ft, 2794-2828 ft dan yang terakhir 2778-2780 ft. Dari hasil perhitungan, didapat nilai porositas rata-rata sebesar 27,102%. Porositas tersebut merupakan porositas efektif yaitu ruang antar pori dalam batuan yang saling berhubungan. Porositas efektif dari batupasir tersebut menandakan bahwa cukup banyak lubang (pore) yang dapat terisi oleh fluida. Dengan porositas sebesar 27,102%, maka dapat diinterpretasikan bahwa volume salt water dalam lapisan reservoir tersebut cukup besar. Porositas tersebut dipengaruhi juga oleh kandungan serpih (shale) yang terdapat pada lapisan batupasir tersebut. Oleh karena itu, dalam perhitungan porositas, digunakan parameter Vsh (volume shale) yang didapat dari perhitungan nilai-nilai gamma ray pada tiap kedalaman. Selain dari parameter Vsh, juga dilihat dari perhitungan log porositas itu sendiri yang meliputi log densitas dan log neutron. Dari hasil penurunan rumus ketiga parameter tersebut, maka akan didapat porositas efektif dari lapisan tersebut. Kemudian parameter selanjutnya dalam analisis petrofisika adalah menentukan saturasi air formasi (Sw) dan saturasi air pada zona invasi (Sxo). Perhitungan kandungan air tersebut akan digunakan untuk menentukan saturasi dari hidrokarbon baik pada zona terinvasi maupun pada zona tak terinvasi. Untuk log densitas dan log neuton densitas matriks batuan dan densitas fluida batuan berpengaruh terhadap penentuan nilai porositas. Penentuan True Resisitivity juga harus diketahui untuk menetukan resistivitas pada zona yang tidak terganggu pada lapisan batuan. True Resistivity merupakan resistivitas batuan sebenarnya yang terdapat pada log dimasing-masing depth. Dalam perhitungan ini, faktor formasi juga sangat berpengaruh dalam penentuan Rw. Dimana nilai faktor formasi didapatkan dari variabel dimana a merupakan suatu konstanta

yang telah diketahui nilainya untuk masing-masing jenis batuan

47

dengan tipenya baik loose maupun consolidated serta mineral penyusunnya dan merupakan porositas batuan yang didapat dari nilai porositas densitas dikurangi porositas neutron. Saturasi air didapat dari perhitungan resistivitas air dan resistivitas formasi karena mengindikasikan banyaknya air yang yang terkandung didalam lapisan tersebut yang dicerminkan oleh nilai resistivitas atau tahanan jenis dari air formasi tersebut. Kaitan antara faktor formasi (F) dengan Rw (Water Resistivity) adalah antara F dan Rw memiliki perbandingan nilai yang terbalik dimana semakin besar faktor formasi maka nilai Rw akan semakin kecil karena nilai Rw didapat dari perhitungan True Resistivity (Rt) dibagi dengan faktor formasi. Nilai resistivitas air yang kecil menunjukkan porositas batuan yang besar dan komposisi mineral penyusun batuan yang bersifat konduktif sehingga batuan ini bersifat lunak karena mineral-mineral penyusunnya mudah menghantarkan arus listrik, umumnya penghantar arus listrik sifatnya mudah larut atau mengalami alterasi karena komposisi mineral logam yang mudah terubahkan oleh faktor-faktor tertentu. Hal ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap nilai saturasi air pada zona yang tidak terganggu karena nilai F dan Rw akan berbanding lurus dengan nilai saturasi air. Dan nilai saturasi air akan sangat berpengaruh terhadap nilai saturasi hidrokarbon karena saturasi hidrokarbon pada zona yang tidak terganggu diperoleh dari 1 dikurangi dengan saturasi air sehingga semakin besar harga saturasi air maka nilai saturasi hidrokarbon semakin kecil oleh karena itu variabel-variabel Sw, Rw, F, Rt sangat berperan dalam menentukan keberadaan hidrokarbon. Selain dari resistivitas air formasi itu sendiri, juga dipengaruhi oleh resistivitas dari lumpur pemboran dan juga konstanta seperti fktor sementasi, panjang alur, dan saturation component dari tiap jenis litologi. Faktor formasi merupakan faktor keras lunaknya batuan rata rata. Faktor sementasi juga akan berpengaruh dalam pengitungan saturasi fluida. Berkaitan dengan komposisi semen, semen yang ada 48

terletak diantara pori pori batuan, sehingga penghitungan atau penentuan faktor formasi (F) dipengaruhi oleh semen. Hal ini terjado pada invaded zone atau zona yang terganggu.pada zona ini harga Rw digantikan dengan harga Rmf karena air formasi didesak keluar oleh fluida yang tersaring dari lumpur pada saat pemboran, dimana harga Rmf merupakan suatu konstanta. Dalam penentuan saturasi air maupun hidrokarbon, dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu berdasarkan metode archie dan berdasarkan metode simandoux. Metode archie digunakan untuk menghitung saturasi air dengan litologi bersih dimana kandungan shalenya < 10 % yaitu pada formasi bersih (clean formation). Selain itu merode archie sangat cocok dugunkan dalam perhitungan cepat dalam menentukan saturasi air maupun oil. Sedangkan pada metode simandoux dapat dilakukan pada lapisan batupasir berserpih (shally sands) dengan tipe dispersed shally sands. Selain itu, metode simandoux tidak kurang sesuai untuk digunakan dalam penghitungan Sxo karena pada perhitungan Sxo (nilai kejenuhan air pada zona terbilas) ini memiliki nilai yang sangat besar sehingga saturasi air memiliki harga yang sangat tinggi karena pada zona ini telah terjadi invasi dimana fluida pemboran mendesak ke dalam formasi sehingga mengakibatkan kejenuhan pada formasi tersebut. Dalam perhitungan saturasi digunakan dua jenis litologi yaitu loose dan consolidated.Dari hasil perhitungan didapatkan nilai saturasi air (Sw) rata-rata sebesar 0,75, dengan menggunakan metode archie, sedangkan dengan metode simandoux diperoleh nilai rata-rata 1,1. dalam hal ini, kejenuhan fluida diasumsikan satu, sehingga jika nilai lebih dari 1, maka kemungkinan hasil yang didapat kurang valid atau kemungkinan juga ada asumsi lain pada metode simandoux yang mempunyai banyak variabel yang digunakan untuk melakukan perhitungan. Akan tetapi pada perhitungan menggunakan metode archie banyak komponen-komponen yang sebelumnya harus dihitung dahulu untuk

49

mengetahui

nilai

saturasi

sehingga

apabila

terjadi

kesalahan

pembacaan ataupun perhitungan pada salah satu komponen dapat mengakibatkan kesalahan fatal dalam penentuan nilai saturasi. Sedangkan untuk kandungan air pada zona terinvasi (Sxo) rata rata sebesar 3,43. Dari dua parameter tersebut, maka dapat digunakan untuk menentukan saturasi dari hidrokarbon. Untuk saturasi hidrokarbon pada zona terinvasi didapat dengan mengasumsikan kejenuhan hidrokarbon yang dapat bergerak dari formasi dikurangi dengan kejenuhan air pada zona terinvasi sehingga didapat nilai Shr rata rata sebesar 0,00. Kemudian untuk nilai Sh didapat dari perhitungan satu dikurangi dengan saturasi air pada zona tak terinvasi (Sw). Dari hasil perhitungan, didapat nilai saturasi hidrokarbon rata rata pada kedalaman ini sebesar 0,00. Jadi dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa fluida pengisi dari lapisan reservoir pada zona 3 ini adalah air. Kondisi formasi pada Well-Q ini merupakan suatu formasi dengan keadaan yang cukup bersih dimana terdapat lapisan batuan yang benar-benar bersih tidak terinvasi oleh fluida pemboran tetapi ada pula lapisan batuan yang mengalami invasi atau gangguan dari lumpur pemboran sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pengolahan data, seperti pada log dengan kedalaman 2303-2308 feet yang memiliki litologi shally sands ataupun sandy shale sehingga dalam mengetahui kandungan fluida dan penentuan zona terinvasi mengalami kesulitan karena pada pembacaan log resistivitas kemungkinan terjadi kesalahan karena menunjukkan nilai yang lebih tinggi sehingga dianggap terdapat kandungan fluida didalamnya. Pada analisis log ini menurut saya hanya digunakan quick look sehingga apabila menggunakan metode simandoux kemungkinan data yang didapatkan kurang valid karena dalam penggunaan metode simandoux harus diperhatikan pula analisis secara rinci dan fokus. Penggunaan metode archie lebih sesuai dan lebih relevan

50

dikarenakan variabel-variabel yang digunakan dalam penghitungan metode ini dapat diinterpretasi dan dapat dianalisis secara quick look meskipun kadang terdapat kesalahan pembacaan, oleh karena itu diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam membaca variabelvariabel ini seperti nilai Rt, Nsh, GR log, N log, SP log, dsb sehingga dalam analisis data didapatkan hasil yang lebih akurat. Sedangkan pada log dengan kedalaman 2305-2307 feet didapatkan kandungan hidrokarbon dengan nilai saturasi air menggunakan metode simandoux bernilai 0,9650 sehingga nilai saturasi hidrokarbonya sekitar 15 % dan menggunakan metode archie didapatkan nilai saturasinya 0,724 dan 0,554, oleh karena itu dimungkinkan pada log ini terdapat reservoir hidrokarbon. Hal ini dimungkinkan karena berdasarkan nilai saturasi yang didapatkan diperoleh saturasi air sekitar 0,603 dan 0,441 sehingga apabila mengacu pada metode archie dimana nilai saturasi hidrokarbon dan saturasi air dianggap satu sehingga apabila nilai saturasi air <1 maka dimungkinkan terdapat fluida pengisi lain pada lapisan batuan ini. Selain melihat pada analisis secara kuantitaf ini, perlu dilakukan kaji ulang pula pada analisis secara kualitatif dimana pada log dengan depth 2305-2307 feet ini terdapat kemungkinan komposisi hidrokarbon pada kedalaman tersebut karena pada kedalaman ini memiliki litologi berupa batupasir yang memiliki kecenderungan untuk menjadi sebuah reservoir karena mempunyai porositas dan pemeabilitas yang baik.

51

BAB VI PENUTUP
Berdasarkan hasil pengolahan data-data dan analisis data log di atas dapat disimpulkan bahwa : 6.1 Kesimpulan 1. Pada kedalaman 2340-2355ft, 2364-2400ft, 2783-2790ft, 27942828ft, dan 277-2780ft didapatkan litologi berupa sandstone pada kedalaman 2290-2299ft, 2301-2304ft, 2307-2317ft, dan 23232340ft didapatkan litologi berupa shale, pada kedalaman 23402355ft, 2364-2400ft, 273-2790ft, dan 2794-228ft didapatkan litologi berupa coal dan litologi sandstone with carbonaceous stripe pada kedalaman 229-2301ft, 2305-2307ft, 2834-2835ft. 2. Berdasarkan hasil analisis log diketahui bahwa zona reservoir berupa sandstone. 3. Fluida pengisi formasi berupa air asin pada depth 2343-2349ft kandungan fluida berupa water terletak pada kedalaman 23692398ft, 2778-2780ft, dan 2782-2793ft.. Untuk fluida hidrokarbon terletak pada log dengan pada kedalaman 2305-2307ft. 4. Nilai saturasi pada kedalaman 2290-2400 rata-rata menunjukkan nilai 1 dan pada kedalaman 2305-2307ft menunjukkan nilai Sw mencapai 0.845, menunjukkan nilai saturasi hidrokarbon sekitar 20 %, pada metode archie nilai Sxo pada consolidated dan loose 1, nilai Sw pada consolidated 0,441 dan pada loose 0,603, nilai Shr

52

pada loose dan consolidated 0, sedangkan nilai Sh pada loose 0,397 dan pada consolidated 0,559 5. Metode archie mempunyai kelebihan lebih mudah dan cepat daripada metode simandoux sedangkan kelemahannya metode archie menggunakan variable lebih sedikit daripada metode simandoux apabila dilihat dari sudut pandang prioritas waktu dan kondisi lapangan. 6.2 Saran Para praktikan masih kurang archie mengerti bagaimana jadi menggunakan metode maupun simandoux

sebaiknya ada tambahan penjelasan mengenai hal tersebut

53

DAFTAR PUSTAKA

Koesoemadinata, RP. 1980. Geologi Minyak dan GasBumi. Institut Teknologi Bandung. Bandung Samsuri A, Stiowiyoto J. 2006. Oil Water Contact and Hydrocarbon Saturation Estimation Based on Well Logging Data. Regional Postgraduate Conference on Engineering and science (RPCES 2006). Johor. 2011. Buku Panduan Praktikum Geologi Minyak dan Gas Bumi, Edisi II, UNDIP, Semarang.

54