Secara awam, banyak orang menyangka konflik Poso adalah konflik agama.

Namun, tatkala dilakukan penelitian mendalam ternyata tidak demikianlah keadaannya. Konflik yang terjadi di Posos bersifat multi akar, yang satu sama lain saling berjalin secara rumit. Untuk itu telah hadir di dunia kepustakaan hasil-hasil penelitian yang menyelidiki akar-akar konflik Poso sekaligus resolusi konfliknya. Poso adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah. Komposisi penduduk Poso terdiri atas penduduk asli dan penduduk pendatang. Penduduk asli terdiri dari suku Kaili, suku Pamona, suku Mori, dan suku Wana. Penduduk pendatang berasal dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Toraja), Jawa, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur. Pendatang dari Jawa, Bali, dan Lombok masuk ke Poso lewat program transmigrasi, baik swakarsa maupun mobilisasi pemerintah. khusus dari kaum pendatang ini, di Poso pun terbentuk Paguyuban BugisMakassar, Paguyuban Masyarakat Jaaw, Paguyuban Masyarakat Gorontalo, Paguyuban Masyarakat Bali, Paguyuban Masyarakat Lombok, dan sebagainya kaum pendatang itu. Agama dominan di Poso adalah Islam dan Kristen Protestan, serta sejumlah kecil pemeluk agama Kristen Katolik, Hindu, dan Buddha. Komposisi penduduk beragama Kristen Protestan dan Islam hampir berimbang, kendati pemeluk agama Kristen Protestan ini sedikit lebih banyak. Agama Islam utamanya dipeluk oleh kaum pendatang dari Jawa, Lombok, Gorontalo, Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar) serta sebagian warga asli yaitu suku Kaili. Warga yang beragama Kristen umumnya adalah penduduk asli suku Pamona dan Mori serta para pendatang dari Manado dan Minahasa (Sulawesi Utara), Toraja, dan Nusa Tenggara Timur. Tabel di bawah ini menjelaskan komposisi penduduk tersebut:1

Analisis Akar Konflik Poso Terdapat sejumlah pendapat para ahli seputar akar penyebab konflik horizontal di Poso. Pendapat pertama diajukan sosiolog Thamris Amal Tomagola lewat konsepnya bertajuk piramida bertingkat tiga.1 Pada tingkat paling dasar terdapat 2 transformasi utama yang telah mengubah wilayah Poso secara fundamental. Pertama, transformasi demografi. Kendati Poso telah dimasuki pendatang Islam dan Kristen sejak masa prakolonial, proporsi migrasi yang cukup signifikan terjadi di masa Orde Baru yang mulai membuka Sulawesi dengan Jalan Trans-Sulawesi dan pembangunan berbagai pelabuhan laut dan udara. Para pendatang ini datang dari arah Utara dan Selatan. Akibatnya, proporsi pendatang, terutama yang menganut Islam semakin membesar mendekati proporsi umat Kristen, baik di Poso Pesisir maupun di Pamona Selatan. Umat Kristen yang berada di tengah wilayah Poso mulai merasa terjepit dan terancam. Kedua, transformasi ekonomi. Kegiatan ekonomi perdagangan secara perlahan mulai mengambil alih peran ekonomi pertanian. Sektor perdagangan yang berpusat di perkotaan lebih banyak dikuasai pendatang yang beragama Islam. Kenyataan ini makim memperkuat sentiment keterdesakan penduduk asli yang berbasis pertanian dan beragama Kristen. Pada lapisan tengah piramida beroperasi sejumlah factor kesukuan dan keagamaan yang berkaitan dengan factorfaktor politik. Dua transformasi di lapisan bawah piramida kemudian merembes ke atas dan menempatkan Islam dan Kristen yang berbasis suku secara diametral. Transformasi structural masuk dalam kesadaran kolektif masingmasing umat beragama. Pada saat inilah warga setiap agama mulai bertarung. Pertama, pertarungan dilakukan dalam arena politik dengan memperebutkan berbagai posisi strategis, baik dalam partai-partai politik maupun

Berakhirnya masa jabatan bupati lama dan dimulainya pemilihan bupati baru dan sekwilda baru membuka peluang pertarungan baru yang ternyata gagal diselesaikan secara politik. (4) hancurnya lembaga-lembaga adat karena ulah pemerintah pusat dan sikap tidak bersahabat yang diperlihatkan oleh berbagai lembaga agama. Apalagi ditambah kekecewaan institusional yang telah lama menumpuk di pihak umat Kristen. Terdapat 3 konteks fasilitator konflik yaitu konteks local. Kedua. Kristenisasi). dan konteks internasional. Menurut Tomagola. Pertama adanya upaya pemanfaatan medan konflik Poso oleh jaringan Islam regional sebagai training ground dan sekaligus mekanisme rekrutmen anggota baru jaringan tersebut. Ketiga. (2) pola pemukiman yang eksklusif dan tersegregasi menurut garis suku yang tumpang tindih dengan garis agama. (3) persaingan sengit antara lembaga-lembaga agama dalam memperluas teritori masing-masing dan membiakkan pengikut (Islamisasi.dalam pemerintahan. Dendam semakin menumpuk. Kedua. Perkelahian antar pemuda dari kedua pihak merupakan pemicu yang meletupkan ketegangan dan potensi konflik yang sudah mengendap. konteks nasional. roda gila spiral kekerasan pun menjadi lepas kendali. Pada puncak piramida diisi faktor-faktor penyulut konflik atau provokator serta stereotip-stereotip labeling psikologi sosial dan dendam yang semakin menguat seiring denga berkepanjangannya kekerasan. Kalimantan) yang didominasi tokoh dari Bugis semakin menguat posisinya mengitari Habibie (presiden RI waktu itu). Ketika korban berjatuhan. di Poso juga terjadi hal yang sama. Piramida tersebut terletak di tengah suatu lingkungan yang mempengaruhi factor-faktor di dalam piramida. perkembangan di panggung nasional memberi angin dan peluang kepada para politisi Islam berbasis perkotaan yang berasal dari suku Bugis berperan di Sulawesi secara keseluruhan. Sulawesi. Akibatnya kekerasan menjadi semakin bengis dan tak berkesudahan sampai berjilid-jilid. bias peliputan pers internasional yang lebih merugikan umat Islam di Poso maupun di Maluku karena dikesankan seakan umat Islam-lah yang secara sepihak beraksi membantai umat Kristen di kedua wilayah itu. Para politisi Iramasuka (Irian. lingkungan ini berupa factor-faktor kontekstual yang memfasilitasi terjadinya konflik komunal. Selama masing-masing pihak berhasil meraih posisi strategis secara berimbang dalam powersharing. Faktor internasional berwujud dua bentuk. pola tempat tinggal yang membedakan “kita” dan “mereka”. Konteks nasional terdiri atas : Pertama. semakin dominannya para politisi Islam berbasis perkotaan di panggung perpolitikan nasional. Kegamangan umat Kristen menerima kenyataan baru membuat lempengan-lempengan gunung berapi mulai bergoyang mengancam keharmonisan hidup di Poso. Maluku. pertarungan tidak meletup dalam bentuk peperangan fisik. mirip dengan kecenderungan Golkar merangkul para kiyai di Banjar (Kalimantan Selatan). Keadaan ini membuat terjadinya ketegangan yang tinggi antara kedua komunitas (pendatang versus local) yang membawa symbol-simbol agama sebagai identitas. Konteks local terdiri atas : (1) komposisi dan konfigurasi suku-suku yang bermukim di Poso. jelas Golkar tidak akan mendukung calon PPP yang berbasis Islam pedesaa dan lebih memilih mendukung Abdul Muin Pusadan yang terhitung Islam modernis. Dalam pemilihan Bupati Poso. .

1 bus dibom. Peristiwa kerusuhan yang pecah pada 18 Februari 2001 di Jalan Karyabaru. 48 unit motor. Pada kerusuhan Sampit. 41 buah kapak. Kemudian pada masa Kapolri Suroyo Bimantoro terjadi kerusuhan etnis di daerah Sampit dan Palangkaraya. Lalu mereka pun diajukan ke pengadilan untuk diproses secara hukum. selebihnya terlibat dalam kasus pembakaran.Konflik Antar Agama & Etnis di Poso & Sampit Konflik etnis yang terjadi di Sampit dan sekitarnya adalah permusuhan antara dua suku. Selain itu. Menurut data Polri. Sedangkan kerugian material sebanyak 1. dan 114 becak dibakar. penjarahan. Dalam kerusuhan tersebut terjadilah saling serang antara desa Nasrani dan desa Islam. 16 unit mobil. Akibat dari penyerangan tersebut adalah terjadinya serangan balas dari suku Dayak terhadap suku Madura yang mengakibatkan 87 orang meninggal. dan menghasut massa. 27 luka-luka. 455 buah parang. 1 buah samurai.234 rumah dibakar dan 748 rumah dirusak. yakni Suku Dayak (asli) dan Suku Madura (pendatang). 98 buah bom rakitan. dibakar. sebagian besar dari suku Madura. 14 gudang dirusak/dibakar. kerusuhan tersebu memakan korban 137 orang meninggal. Sampit) dipicu oleh serangan yang dilakukan kelompok suku Madura terhadap suku Dayak. Kerusuhan ini terjadi pada masa kepemimpinan Kapolri Rusdihardjo. Ditambah lagi sebuah pasar. dan dibom. dan 10 buah linggis. Dalam peristiwa penyerangan tersebut 7 orang suku Dayak dan 5 orang Madura meninggal. Sampit dan di Jalan Tidar Cilik Riwut (km 1. sedangkan menurut militer 237 orang meninggal. Kerusuhan yang berlatarbelakang agama. Rincian jumlah korban yang jatuh dalam kerusuhan ini menurut Polda Kalteng adalah 388 orang (164 diantaranya tanpa kepala) dari suku Madura dan dari suku Dayak hanya 16 orang meninggal serta 2 orang suku Banjar. 75 kios. tercatat sebanyak 65. dan golongan terjadi di Poso. Rumah-rumah suku Madura yang dibakar suku Dayak. beberapa gereja dirusak. 410 buah mandau. 2 Maret 2001. alhasil Polri pun berhasil menangkap 114 tersangka.134 orang Madura mengungsi dan dievakuasi ke Surabaya menggunakan 5 kapal laut. Sedangkan untuk kendaraan. puluhan rumah rusak dan dibakar. 374 buah tombak. polisi pun menyita barang bukti kerusuhan berupa 9 pucuk senjata api rakitan. Kapolri pun bergegas mengatasi kerusuhan ini. 29 ruko. etnis. . 77 diantaranya membawa senjata tajam dan senjata api rakitan. Sulawesi Tengah pada 17 April 2000. Kalimantan Tengah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful