Anda di halaman 1dari 13

Makalah Kitab Injil dan Kisah Para Rasul

Kelahiran Mesias

Disusun oleh:

Nama : Rudy Wibowo

Pokok pembahasan diambil dari Matius 1:18 - 2:12

Kejadian terbesar dalam sejarah manusia di muka bumi ini tidak lain adalah kelahiran Sang Juru Selamat atau Mesias. Mengapa disebut sebagai kejadian terbesar? Karena satusatunya bayi yang dilahirkan dari kuasa Roh Kudus yang merupakan salah satu pribadi Allah sendiri yaitu Yesus dilahirkan di muka bumi ini. Hal tersebut merupakan suatu keputusan besar yang harus diambil oleh Allah demi kasihNya kepada umat manusia, karena tujuan kelahiranNya adalah untuk mengajarkan jalan kebenaran, mewartakan tentang kerajaan Allah, memulihkan hubungan manusia dengan Allah, serta memberikan keselamatan pada manusia melalui kematianNya di kayu salib dan kebangkitanNya. Betapa kelahiranNya membawa damai dan sukacita bagi dunia. Kata "Mesias" dalam bahasa Ibrani adalah - MASYIAKH dari kata MASYAKH, dan bahasa Arab 'MASIH', artinya "YANG DIURAPI". Kata ini "Mesias" ditulis - khristos dalam bahasa Yunani, dari kata kerja - khri, "mengurapi". Kata ini adalah merupakan asal-muasal bentuk Indonesia 'Kristus' yang menjadi salah satu gelar Yesus. Maka, nama "Kristus" adalah persamaan "Mesias" dalam bahasa Yunani, sehingga nama Yesus Kristus sungguh berarti "Yesus Sang Mesias", atau "Yesus yang Diurapi". Sebutan mesias berakar dari pengertian Yahudi mengenai seorang tokoh di masa depan yang akan datang sebagai wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi. Konsep mesianik ini dikenal juga di dalam agama-agama yang berakar dari Abraham, yakni kekristenan dan Islam. Di dalam kekristenan, Yesus Kristus dianggap sebagai mesias yang telah dinanti-nantikan untuk membawa keselamatan dari Allah kepada manusia. Sedangkan di dalam Islam, konsep mesianik terdapat di dalam pemahaman Islam mengenai Isa/Yesus yang akan datang pada hari penghakiman untuk mengalahkan dajjal. Kata mesias merujuk kepada orang yang diurapi Allah, sesuai kebiasaan Israel kuno yang melihat tindakan pengurapan sebagai tanda pemilihan dan pengudusan Allah. Orang yang diurapi dianggap sebagai milik Allah dan mendapat tugas khusus. Tokoh-tokoh yang dilantik dengan pengurapan biasanya raja dan imam, ataupun tokoh yang dipilih oleh Tuhan sendiri. Di dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama, istilah tersebut dikenakan kepada Raja dari orang-orang Yahudi yang diurapi saat peristiwa pelantikan dirinya. 2

Di dalam perikop yang pertama, tentang kelahiran Yesus Kristus, kita menemukan satu jalan pemikiran yang agak membingungkan. Mula-mula dikatakan bahwa Yusuf bertunangan dengan Maria, tetapi kemudian dikatakan bahwa Yusuf ingin menceraikan Maria dengan diam-diam. Selanjutnya Maria disebut istri Yusuf. Namun hubungan antara Yusuf dan Maria, seperti yang diceriterakan dalam perikop ini merupakan hubungan yang normal di dalam masyarakat Yahudi. Rupanya ada perbedaan antara tata cara di masyarakat Yahudi dengan di negara kita. Dalam masyarakat Yahudi hubungan seorang laki-laki dan wanita yang menjurus kepada pernikahan terdiri dari tiga tahap:

1. Tahap saling berjanji Tahap ini sering dilakukan ketika pasangan itu masih kecil. Tahap ini biasanya dilakukan oleh orang tua masing-masing atau melalui wali yang lain. Tahap ini kadang-kadang juga dilakukan tanpa yang bersangkutan pernah saling bertemu. Pernikahan dianggap sebagai suatu langkah yang sangat serius di dalam tahap hubungan seorang laki-laki dan wanita, sehingga tidak bisa dibiarkan dilakukan oleh kedua orang yang bersangkutan saja.

2. Tahap pertunangan Tahap ini boleh kita samakan dengan peresmian hubungan pertunangan dan diketahui oleh umum. Pada tahap ini, hubungan perjanjian yang telah dilakukan oleh orang tua atau wali dapat saja dibatalkan, apabila gadisnya tidak bersedia untuk melanjutkan perjanjian itu. Tetapi sekali pertunangan itu dilakukan dan diketahui oleh umum, maka sifatnya menjadi mengikat. Masa pertunangan itu berlangsung selama satu tahun. Dalam masa pertunangan itu, kedua orang yang berhubungan sudah dikenal sebagai suami dan isteri, meskipun mereka belum mempunyai hak sebagai suami dan isteri. Hubungan itu tidak bisa diputuskan, kecuali dengan jalan perceraian. Di dalam hukum Yahudi kita sering menemukan hal-hal yang bagi kita sangat aneh. Seorang gadis yang ditinggal mati oleh tunangannya sudah disebut sebagai seorang gadis janda. Pada tahap seperti inilah kejadian yang diceriterakan di dalam perikop kita ini terjadi. Yusuf dan Maria pada waktu itu sudah ada pada tahap pertunangan. Kalau Yusuf ingin mengakhiri pertunangan itu, ia dapat melakukannya hanya dengan jalan 3

perceraian. Di dalam masa pertunangan itu Maria sudah secara sah dikenal sebagai istri Yusuf, dan Yusuf sebagai suami Maria. Itulah sebabnya seorang gadis dihukum berat kalau memungkiri janji setianya; juga orang yang melarikan gadis yang bertunangan dihukum berat, seperti yang dilarang dalam kitab Ulangan.

3. Tahap pernikahan Kalau kita mengingat kebiasaan perkawinan Yahudi, maka hubungan Yusuf dan Maria, seperti yang terdapat di dalam perikop kita ini, adalah hubungan yang normal dan jelas. jadi pada tahap itu diceriterakan kepada Yusuf, bahwa Maria ternyata sudah mengandung, bahwa bayi itu diperkandungkan oleh Roh Kudus, dan bahwa ia kelak harus disebut dengan nama Yesus. Yesus adalah nama yunani untuk nama Yahudi Yusak. Dan Yusak berarti Tuhan adalah keselamatan. Ada seorang pemazmur yang mengatakan bahwa Allah berkata: "Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya (Mzm 130:8). Selanjutnya Yusuf diberitahu, bahwa anak yang akan lahir itu akan menjadi besar dan menjadi Juruselamat yang menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka. Jadi Yesus sebenarnya pertama-tama bukanlah orang yang lahir untuk menjadi raja; Ia lebih merupakan orang yang lahir untuk menjadi Juruselamat. Ia datang ke dunia ini bukan demi kepentinganNya sendiri, tetapi demi kepentingan manusia dan keselamatan kita.

Kejadian unik yang mustahil bagi manusia adalah seorang perawan mengandung oleh Roh Kudus tanpa campur tangan seorang ayah manusia, melahirkan seorang anak lakilaki. Sudah bertahun-tahun doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan ini disanggah oleh para teolog liberal. Akan tetapi, tidak dapat disangkal bahwa Nabi Yesaya sudah bernubuat tentang seorang anak yang lahir dari seorang perawan, anak yang akan dinamakan Imanuel, suatu istilah Ibrani yang berarti Allah menyertai kita (Yes.7:14). Nubuat ini sudah disampaikan sekitar 700th sebelum Yesus dilahirkan. Memang secara akal sehat kita tidak dapat menerima peristiwa ini. Namun kita harus yakin bahwa yang bekerja di sini bukan manusia tetapi Tuhan. Untuk memahami peristiwa ini, kita membutuhkan iman yang teguh dan iman yang murni. Memang dalam terjemahan Alkitab terjemahan baru, kata perawan (anak dara) tidak terdapat dalam Yesaya 7:14. Tetapi yang anehnya dalam 4

terjemahan yang sama yaitu di kitab Matius 1:23 terdapat kata anak dara, padahal Matius 1:23 ini dikutip dari Yesaya 7:14. Jadi untuk mempelajari peristiwa ini kita harus mempergunakan Alkitab terjemahan lama khusus untuk Yesaya 7:14.

Ada banyak orang yang tidak mau menerima peristiwa ini karena ini tidak masuk akal namun mereka lupa bahwa di ayat itu sendiri Tuhan telah berbicara melalui hambanya Yesaya bahwa Tuhan akan memberitakan suatu tanda, Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang anak dara mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14 a).

Mesias telah lahir dari seorang perawan sesuai nubuatan Yesaya 7:14 dan kegenapannya Matius 1:23. Jadi jika ada orang yang mengatakan dirinya mesias tetapi ia tidak lahir dari seorang perawan, berarti ia adalah mesias palsu (Matius 24:24).

Istilah "anak dara" (perawan) dalam Matius 1:23 ini merupakan padanan yang tepat dari istilah Yunani parthenos yang terdapat dalam versi Septuaginta di Yes 7:I4, Kata anak dara dalam bahasa lbrani (almah) yang dipakai oleh Yesaya menunjuk kepada seorang gadis yang sudah cukup umur untuk menikah dan dalam PL tidak pernah dipakai untuk gadis yang tidak perawan lagi. Dengan demikian, Yesaya dalam PL dan Matius serta Lukas dalam PB sama-sama menyatakan bahwa ibu Yesus adalah seorang perawan.

Pentingnya kelahiran dari seorang perawan tidak dapat dititikberatkan secukupnya. Agar Sang Penebus dapat memenuhi syarat untuk menanggung hukuman karena dosa kita dan membawa keselamatan, maka di dalam dirinya Ia harus sepenuhnya manusia, tidak berdosa dan sepenuhnya ilahi (lbrani 7:25-26). Kelahiran Yesus dari seorang perawan memenuhi ketiga syarat ini: (a) Satu-satunya cara Yesus dapat lahir sebagai manusia ialah dengan lahir dari seorang wanita. (b) Satu-satunya cara Ia dapat lahir tanpa dosa ialah dengan cara dikandung oleh Roh Kudus.

(c) Satu-satunya cara Ia dapat sepenuhnya Ilahi adalah dengan Allah sendiri selaku Bapa-Nya.

Oleh karena itu Yesus tidak dikandung secara alamiah, melainkan secara adikodrati, "anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah" (Luk 1:35). Karena itu Yesus Kristus dinyatakan kepada kita sebagai satu pribadi ilahi dengan dua tabiat - ilahi dan manusiawi tanpa dosa. Dengan hidup dan menderita selaku manusia, Yesus turut merasakan kelemahan kita (Ibr 4:15-16). Sebagai Anak Allah yang ilahi, Ia berkuasa untuk melepaskan kita dari perbudakan dosa dan kuasa Iblis (Kis.26:18). Sebagai ilahi dan manusiawi, Ia memenuhi syarat untuk menjadi korban karena dosa setiap orang, dan menjadi Imam Besar yang memohon syafaat untuk semua orang yang datang kepada Allah.

Dalam Mat.1:24-25 dikatakan bahwa Yusuf akhirnya mengambil Maria sebagai istrinya namun Yusuf tidak bersetubuh dengannya sampai Maria melahirkan. Hal ini berarti Yusuf dan Maria mengadakan hubungan jasmani sebagai suami-istri setelah Yesus lahir. Sebab dikatakan bahwa Yesus memiliki saudara-saudara.

Dalam perikop yang kedua, tentang Orang-orang Majus dari Timur, merupakan suatu kisah yang menarik dimana orang-orang kafir dari negeri yang jauh, mendapatkan suatu pertanda tentang kelahiran seorang raja besar dari orang Yahudi, yang dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea. Namun, siapakah orang-orang Majus itu? Orang Majus aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi/Madai. Bangsa Medi adalah sebagian dari warga kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Medi. Namun usaha itu gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan atau prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi para imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada Persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir di dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana.

Para Majus adalah orang-orang yang mengetahui filsafat, ilmu kedokteran dan ilmu alam. Mereka juga mampu menafsirkan mimpi serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi. Pada waktu yang kemudian kata Majus ternyata berkembang ,can memperoleh arti yang lebih rendah, dan pada akhirnya hanya berarti peramal nasib, dukun dan pengusir setan. Meskipun demikian tetaplah dicatat, bahwa orang Majus adalah orang yang baik dan suci, yang selalu berusaha mencari kebenaran.

Pada waktu dahulu kala semua orang percaya kepada astrologi. Mereka percaya bahwa para astrolog dapat menuturkan hal-hal yang akan terjadi melalui penafsiran mereka tentang gerakan bintang-bintang. Mereka juga percaya bahwa nasib dari manusia sudah ditentukan oleh bintang di mana dia dilahirkan. Tidaklah sulit untuk melihat asal usul munculnya kepercayaan itu. Bintang-bintang selalu berjalan menurut jalur-jalur yang sudah tetap. Bintang-bintang itu menunjukkan keteraturan dari alam semesta. Kalau pada suatu saat tiba-tiba muncul bintang yang sangat cemerlang, dan keteraturan alam semesta itu terganggu oleh suatu gejala aneh, maka nampaklah bahwa Allah juga mengadakan perobahan di dalam keteraturan itu. Allah seolah-olah mengumumkan adanya sesuatu yang sedang terjadi. Di antara tahun 5 sampai 2 sebelum Masehi ada juga gejala astronomis yang singat luar biasa. Pada tahun-tahun itu, pada hari pertama bulan pertama menurut kalender Mesir, bintang angin yang disebut Mesori dan Serius muncul secara mendadak, bersamaan dengan munculnya matahari pagi, dan memancarkan sinar yang sangat cemerlang. Nama Mesori itu sendiri berarti lahirnya seorang pangeran. Dan bagi para astrolog pada zaman kuno bintang cemerlang seperti itu pasti berarti lahirnya seorang raja yang besar. Kita tidak dapat mengatakan bintang apa yang dilihat para Majus. Tetapi tugas mereka adalah memang mengamat-amati langit dan melihat apakah ada sesuatu yang cemerlang yang muncul di langit tersebut sebagai tanda lahirnya seorang raja besar di dunia ini.

Pada dasarnya Alkitab mengutuk astrologi atau nujum sebagai bentuk penyembahan berhala. Namun, dalam Matius 2:2 kelahiran Yesus diberitahukan kepada orang-orang Majus dari Timur melalui penampakan bintang-Nya di langit. Bagaimana ini bisa terjadi? Pertama-tama, kita perlu mendefinisikan astrologi (ilmu nujum) sebagai kepercayaan bersifat takhayul pada gerakan atau letak planet-planet dan bintang-bintang sebagai peringatan lebih dahulu mengenai kehendak dari ilah-ilah (atau kekuatan-kekuatan yang 7

menentukan nasib), di mana para penganut astrologi bisa mengatasinya dengan melakukan semacam tindakan mengelak atau menghindarinya. Atau yang lain, sebagai horoskop dan telaah tentang zodiak yang begitu banyak digemari pada masa kini, astrologi bisa menunjukkan kemungkinan-kemungkinan khusus pada mereka yang lahir di bawah konstelasi tertentu, atau menunjukkan peruntungan baik atau buruk untuk berbagai kegiatan yang dilakukan pada hari-hari tertentu. Pada zaman-zaman kuno sebelum muncul agama Kristen, minat terhadap astrologi ini disertai dengan penyembahan yang sebenarnya terhadap benda-benda langit secara ritual. Semua orang yang melakukan praktik-praktik seperti itu pada zaman lsrael kuno harus dihukum mati dengan dilempar batu (Ul. 17:2-7).

Akan tetapi, dalam hal bintang natal Kristus, tidak ada satu pun unsur-unsur di atas. Bintang yang dilihat oleh orang-orang Majus di Timur merupakan pemberitahuan bahwa bayi kecil Kristus teiah lahir. Kita mengetahui hal ini sebab jangkauan dari perintah Herodes kepada satuan pembantai yang dikirimnya ke Betlehem: "Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu, ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu" (Mat. 2:16). Karena itu, bintang tersebut pasti telah muncul ketika Yesus lahir, dan pastilah orang-orang Majus itu memerlukan lebih dari satu tahun untuk bisa sampai di Yerusalem dan kemudian berbincang-bincang dengan Herodes. Bintang itu bukanlah suatu peringatan yang datang mendahului, melainkan pemberitahuan mengenai satu fakta yang sudah terjadi. Kedua, perjalanan orang-orang majus untuk berziarah ini tidak ada hubungannya dengan penyembahan terhadap allah-allah palsu atau terhadap kuasa-kuasa penentu nasib. Mereka sekadar menerima pemberitahuan Allah lewat bintang tersebut, yang memerintahkan mereka untuk mencari Raja yang baru lahir, sebab mereka mengerti bahwa Dia telah ditetapkan menjadi Penguasa atas seluruh dunia termasuk negeri mereka sendiri (Persia, sebab ilmu nujum beredar sangat aktif di sana pada zaman kuno). Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membentuk kafilah untuk rombongan tersebut (entah mereka terdiri dari tiga orang atau lebih, kita tidak bisa memastikan, kecuali barangkali penyebutan tiga jenis pemberian: emas, kemenyan dan mur) dan melakukan perjalanan suci ke kerajaan bangsa Yahudi. Mereka ingin datang untuk menyembah dan memberikan penghormatan 8

kepada Sang Bayi yang diutus Allah untuk menjadi Raja atas bangsa Yahudi dan juga atas seluruh bumi.

Ketiga, perlu diketahui bahwa dalam beberapa bagian lain Alkitab berbicara mengenai berbagai pemberitahuan secara ilahi di langit yang disampaikan melalui matahari, bulan dan bintang-bintang. Sebagai contoh, Yesus berbicara tentang tanda Anak Manusia" yang "akan tampak ... di langit ... dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya" (Mat. 24:30). Adalah cukup wajar untuk mengasumsikan bahwa tanda tersebut meliputi matahari, bulan, atau bintang-bintang kendatipun itu bisa merupakan semacam bayangan yang menyala-nyala. Tetapi pada hari Pentakosta jelas bahwa Rasul Petrus, yang mengutip dari Yoel 2:28-32, merujuk pada tanda-tanda mengenai Kedatangan Kristus kali kedua ini ketika dia mengatakan: "Dan Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat di atas ... Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu." (Kis. 2:19-20). Berbagai manifestasi di angkasa ini tidak ada kaitannya dengan astrologi atau ilmu nujum sebagai hal-hal takhayul pada orang-orang kafir.

Banyak spekulasi dan perhitungan astronomi telah digunakan terhadap persoalan bagaimana sebuah bintang yang terang dan mencolok seperti itu dapat terlihat oleh orangorang Majus. Ada yang berpendapat bahwa terdapat rangkaian planet-planet atau bintangbintang yang luar biasa, sehingga kumpulan cahaya mereka dapat menghasilkan kecemerlangan yang hebat itu. Meskipun alasan seperti itu bisa diberikan untuk penampakan bintang aslinya, suatu bintang biasa sangat tidak mungkin dapat mengarahkan cahayanya sedemikian khusus ke atas Betlehem, sehingga orang-orang bijak tersebut dapat mengenali tempat di mana bayi Kristus berada. Tetapi, bagaimanapun, menurut Matius 2:9, Bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Jelas bahwa ini adalah bintang adikodrati yang dikirim oleh Allah untuk memberikan petunjuk khusus bagi mereka.

Dalam kedatangan orang-orang Majus tersebut mereka membawa persembahanpersembahan yang akan diberikan kepada Yesus, yaitu emas, kemenyan dan mur. Sejak pada waktu permulaan orang telah berusaha melihat fungsi dan makna yang cocok dari 9

persembahan para Majus tersebut" Mereka telah melihat, bahwa di dalam masing-masing persembahan itu ada sesuatu yang kemudian cocok dengan sifat dan pekerjaan Yesus.

(i) Emas adalah pemberian untuk seorang raja Seneka menceriterakan, bahwa di Partia ada kebiasaan di mana tidak seorangpun dapat mendekati raja tanpa membawa persembahan. Dan emas sebagai raja dari segala losam, adalah persembahan yang cocok bagi seorang raja manusia. Jadi Yesus adalah manusia yang lahir untuk menjadi raja. Tetapi Ia harus memerintah bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan kasih. Dan Ia akan memerintah manusia bukan dari atas sebuah tahta, tetapi dari atas kayu salib. Bagi kita adalah cukup kalau kita mengingat bahwa Yesus Kristus adalah Raja. Kita tidak pernah dapat melihat dan bertemu Yesus lebih daripada itu. Dan kita juga tidak pernah dapat menyamakan Yesus dengan hal-hal atau orang-orang yang lain. Kita hanya dapat bertemu dan datang kepada Yesus, kalau kita bersedia untuk menaklukkan diri kita kepadaNya. Penaklukan diri kepada Kristus itu merupakan tindakan pertama yang harus kita lakukan. Yesus adalah Raja. Sebelum kita bergaul akrab dengan Kristus, lebih dahulu kita harus menaklukkan diri kita kepadaNya.

(ii) Kemenyan adalah pemberian untuk seorang imam Di Bait Allah, di dalam upacara ibadah serta pada waktu persembahan dipersembahkan, terdapatlah bau yang harum dari kemenyan untuk melengkapi seluruh upacara itu. Kemenyan dipakai pada waktu upacara dan kegiatan ibadah. Dan tugas dari seorang imam ialah membuka jalan bagi manusia untuk bertemu dengan Allah. Kata bahasa Latin untuk imam adalah pontifek, yang berarti pembangun jembatan. Imam adalah orang yang membangun sebuah jembatan yang menghubungkan manusia dan Allah. Dan itulah juga yang dilakukan oleh Yesus. Yesus membuka jalan yang menuju kepada Allah. Ialah yang memungkinkan manusia untuk masuk ke dalam wilayah kehadiran Allah. Dia-lah yang membangun jembatan itu, dan Dia-lah sebenarnya jembatan itu sendiri.

10

(iii) Mur adalah pemberian bagi seseorang yang akan mati Mur dipakai untuk membalsem tubuh orang yang telah mati. Yesus datang ke dunia ini untuk mati. Ada sebuah gambar yang terkenal tentang yesus. Gambar itu menunjukkan, bahwa Yesus sedang berdiri di depan tempat bekerja seorang tukang kayu di kota Nazareth. Di situ digambarkan Yesus sebagai seorang anak laki-laki, yang berdiri di depan pintu untuk melemaskan kembali tubuhnya yang telah kaku karena terlalu lama duduk di bangku. Ia berdiri di sana dengan kedua belah tanganNya terlentang. Dan di belakangNya, di tembok rumah tersebut, terdapatlah bayangbayang dari tubuhNya itu. Bayang-bayang tersebut ternyata menggambarkan sebuah salib. Jauh di belakangNya berdirilah Maria. Dan ketika ia melihat bayang-bayang salib di belakang tubuh Yesus, Maria sangat ketakutan dan wajahnya membayangkan tragedi yang akan menimpa Yesus. Yesus datang ke dunia ini untuk hidup bagi manusia, dan pada akhirnya untuk mati juga buat manusia. Ia datang untuk memberikan hidup dan matiNya bagi manusia.

Emas bagi raja, kemenyan bagi imam, mur bagi seseorang yang akan mati. Semuanya adalah pemberian dari para bijak yang disampaikan di palungan tempat Yesus dilahirkan. Pemberian-pemberian itu meramalkan apa yang akan dialami oleh Raja yang Benar, Imam Agung yang sempurna dan Juruselamat manusia yang satu-satunya itu. Pemberianpemberian tersebut menggambarkan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh Yesus, bayi yang baru lahir, sampai dengan kematianNya kelak.

Sisi lain dari sejarah orang Majus Menurut Gereja Barat, nama orang Majus adalah Caspar, Melchior, Balthazar. Menurut Gereja Timur nama mereka variatif. Misal: Hor, Karsudan, Basanater (Ethiopia). Kagpha, Badadakharida, Badadilma (Armenia). Larvandad, Gusnasaph, Hormisdas (Syria). Menurut tradisi Gereja Syria di Irak, jumlah mereka dua belas. Mereka terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan persembahan yang dibawa. Emas dibawa Arvandid bin Artiban, Hormsad bin Satros, Gusnasab bin Gunafar, Arshak bin Makrus. Mur dibawa Zarandar bin Warzud, Akreho bin Kesro, Arbachas bin Kolite, Ashtankakodon bin Shesran. Kemenyan dibawa Mahros bin Kohram, Aksherosh bin Kashan, Sadlak bin Baldan, Marodak bin Bildad. 11

Menurut tradisi, Caspar berasal dari nama Gundaphoros, raja India (Kitab Kisah Rasul Tomas). Larvandad adalah kombinasi dari Lar (Iran bagian selatan), vand (mengacu pada nama-nama lokasi di Iran), vand atau vandad (akhiran yang biasa dijumpai di Media-Persia), dad (diberikan oleh atau dilahirkan di). Larvandad artinya dilahirkan di Iran selatan. Hormisdas adalah variasi dari Hormoz, nama orang Persia. Di Media-Persia, disebut Hormazd(a). Nama ini mengacu pada malaikat hari pertama dari setiap bulan yang diberikan Ahuramazda atau Ormazd, dewa tertinggi orang Persia Kuno. Gushnasp adalah kombinasi dari Gushn (berenergi atau banyak) dan Asp (kuda). Kuda adalah binatang utama orang Iran atau sering digunakan sebagai nama orang Iran. Gushnasp artinya seenergik kuda atau pemilik banyak kuda. Untuk menelisik asal mereka, sejumlah data dikumpulkan. Di atas, ada dua tempat, India dan Media-Persia. India disebut dalam Ester 1:1; 8:9. Di Media-Persia, astronomi berkembang baik. Kata majus adalah latinisasi dari magos (jamak; Yun). Magos berasal dari Magian, sekte orang Midian, suku Arab Utara, keturunan Abraham dari Ketura (Kej. 25:1-6). Orang Majus adalah imigran yang telah lama hijrah ke Persia. Kalau Injil menyebut orang Majus dari Timur (Mat. 2:1), artinya mereka, yang mengunjungi bayi Kristus di Betlehem pada 6 Januari setelah menempuh 450-500 km, adalah orang Persia, keturunan Abraham, orang Midian, suku Arab. Kebijaksanaan orang-orang Majus ini terletak pada perbintangan yang disertai artinya. Mereka adalah para ahli perbintangan. Dan mereka sama sekali tidak ragu mengenai arti munculnya bintang baru tersebut yaitu kelahiran raja yang telah dijanjikan itu di Yehuda.

12

Kepustakaan The Lion Handbook to the Bible, Lion Publishing plc, Sandy Lane West, Oxford, England. Yayasan Kalam Hidup. Cetakan ke-2, 2004. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius Ps. 1-10. Cetakan ke-7. Jakarta: Gunung Mulia, 2008. http://www.ebahana.com/warta-2126-Orang-Majus.html J. H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah, vol. 2, cetakan ke-14. Jakarta: Gunung Mulia, 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Mesias Gleason L. Archer, Hal-hal yang sulit dalam Alkitab, cetakan pertama. Gandum Mas, 2004. http://www.sarapanpagi.org/yesus-sang-mesias-vt577.html http://www.tftwindo.org/livingwords/SH462005/462005-3.htm

13