Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PEDAHULUAN
I.1Latar Belakang
Berbagai program telah banyak dikembangkan dalam upaya memperkecil angka
kesakitan dan kematian akibat kerja. Program2 tersebut berkembang atas dasar pendekatan yang
dipergunakan mulai dari yang menggunakan pendekatan rekayasa, kemudian pendekatan sistim
kemudian yang dewasa ini banyak diterapkan menggunakan pendekatan perilaku serta budaya.
Pendekatan perilaku dan budaya banyak diterapkan oleh karena masih melekatnya pandangan
yang menganggap bahwa penyebab kecelakaan banyak disebabkan oleh Iaktor perilaku manusia
dan juga belum membudayanya K3.
Berkembangnya pendekatan budaya keselamatan dan kesehatan (Health and SaIety Culture)
mulai dikenal setelah terjadinya peristiwa Chernobyl di thn 1986.
Istilah Budaya Keselamatan (safety culture) sebagai bagian dari Budaya Organisasi
(organizational culture) menjadi populer dan mulai diugunakan sebagai pendekatan untuk lebih
memantapkan implementasi sistim manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
Secara global, di dunia akademis berkembang berbagai konsep dan model untuk menilai maupun
mengembangkan budaya K3. Begitu juga perkembangan yang terjadi didalam dunia praktis yang
umumnya berlandaskan pada pendekatan keilmuan yang berkembang saat itu. Namun tak dapat
disangkal terdapat pula beberapa program yang berkembang tidak berakar pada konsep keilmuan
yang ada sehingga pada akhirnya menimbulkan berbagai kontroversi di dalam penerapan.

I.2 Batasan Masalah
- Perkembangan k3.
-Permalahan dipertambangan diIndonesia.


BAB II
PEMBAHASAN
II.1 KA1IAN PERKEMBANGAN K3

alam kajian ini, system manejemen keselamatan dan kesehatan dideIinisikan sebagai
kombinasi dari susunan organisasi manejemen, termasuk elemen-elemen perencanaan dan kaji
ulang, susunan konsultatiI dan program khusus yang terintegrasi untuk meningkatkan kinerja
keselamatan dan kesehatan. Program Khusus mencakup identiIikasi bahaya, control dan
penilaian resiko, keselamatan dan kesehatan terhadap kontraktor, inIormasi dan penyimpanan
data dan pelatihan.

Ada empat pendekatan terhadap manejemen keselamatan dan kesehatan yang
diidentiIikasikan dari kesimpulan literature-literature tentang sistem manejemen keselamatan dan
kesehatan serta tipe-tipe sistem dan bukti kasus yang muncul. Empat pendekatan tersebut adalah
:
Manejemen Tradisional, dimana keselamatan dan kesehatan dipadukan dalam peran
pengawasan dan orang penting` adalah pengawas dan/atau spesialis keselamatan dan kesehatan;
karyawan-karyawan turut dilibatkan, tetapi keterlibatan mereka tidak dipandang penting bagi
pelaksanaan sistem manejemen keselamatan dan kesehatan, atau komite keselamatan

Manejemen inovatiI, dimana manejemen memiliki peran penting dalam usaha keselamatan dan
kesehatan; ada level integrasi yang tinggi dalam penerapan sistem keselamatan dan kesehatan,
keterlibatan karyawan dipandang penting dalam pelaksanaan sistem.

Sebuah strategi tempat aman` yang dipusatkan pada control bahaya pada sumber dengan
memperhatikan prinsip tingkat perencanaan dan penerapan identiIikasi bahaya, penilaian resiko
dan kontrol resiko.

Suatu strategi kontrol orang yang selamat/aman` yang dipusatkan atas pengawasan tingkah
laku karyawan

Agar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan eIektiI maka harus :
Memastikan tanggung jawab keselamatan dan kesehatan yang diidentiIikasikan dan
diintegrasikan dalam pembuatan undang-undang keselamatan dan kesehatan.
Memiliki para manejer senior yang mengambil peran aktiI dalam keselamatan dan kesehatan.
Mendorong keterlibatan para pengawas dalam keselamatan dan kesehatan
Memiliki perwakilan keselamatan dan kesehatan yang terlibat secara aktiI dan luas dalam
kegiatan sistem manejemen keselamatan dan kesehatan.
Memiliki komite keselamatan dan kesehatan yang eIektiI.
Memiliki pendekatan terhadap penilaian resiko dan identiIikasi bahaya yang direncanakan.
Memberikan perhatian yang konsisten terhadap pengawasan bahaya disumbernya.
Memiliki pendekatan yang menyeluruh terhadap pengawasan dan penyelidikan insiden tempat
kerja.
Telah membangun sistem-sistem pembelian.
alam perkembangannya sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dipengaruhi oleh :
1. Pengaruh Formative Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pada sekitar pertengahan tahun 1980 sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
dimunculkan sebagai kunci dalam strategi pencegahan. Peristiwa Bhopal yang mengakibatkan
2500 orang meninggal dan terluka akibat kebocoran pabrik methyl isocyanate pada desember
1984 adalah sebagai pendorong untuk lebih memperhatikan sistem manajemen proses di
berbagai industri meskipun konsep pendekatan sistem telah ada sekitar tahun 1960. Belajar dari
peristiwa Bhopal tersebut maka beberapa perusahaan yang berisiko tinggi mulai memperhatikan
masalah keselamatan dan kesehatan dalam proses industrinya baik dalam hal teknologi proses,
manajemen keselamatan, prosedur dan metoda.


i Australia sekitar pertengan tahun 1980 juga berkembang sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja. Buku-buku pedoman tentang sistem manajeman keselamatan dan kesehatan
kerja dipublikasikan oleh kelompok konsultan, organisasi pengusaha dan pemerintah.
Terminologi 'sistem merupakan hal yang baru, elemen-lemen sistem Iocus pada program
keselamatan dan kesehatan kerja yang selanjutnya akan dikembangkan dalam bentuk sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

i Amerika, periode pembentukan program program manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja muncul sekitar tahun 1950 1960 sehingga pada tahun itu disebut 'era menejemen
keselamatan. Pada saat itu konsep keselamatan dan kesehatan dimunculkan sebagai bagian dari
ilmu manajemen dan teknik yang merupakan gabungan dari beberapa konsep dan teknik dari
berbagai disiplin keilmuan. Teknik-teknik manajemen dan personil meliputi :

- pembuatan kebijakan
- diIinisi tanggung jawab
- seleksi pekerja dan penempatan

Ilmu stastistik digunakan dalam bidang quality control, sedangkan ergonomi atau human Iactor
engineering juga dilibatkan dalam pembuatan aturan keselamatan dan kesehatan kerja, demikian
juga tanggung jawab baru yang berhungan dengan keselamatan seperti kontrol potensi bahaya
dan keselamatan dalam bekerja. Peran higiene industri adalah dalam pembuatan aturan-aturan
keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan dengan aturan kompensasi alam hal penyakit
akibat kerja. Sejarah dari program keselamatan dan kesehatan kerja ini dimunculkan untuk
merespon perlunya dibentuk organisasi keselamatan dan kesehatan sebagai pendukung undang-
undang tentang kompensasi pekerja. Tiga prinsip pengelolaan program keselamatan dan
kesehatan kerja ini adalah teknik, pendidikan dan tersedianya aturan-aturan tentang kerangka
kerja dan manajemen keselamatan (H.W. Heinrich, 1959, Iirst published in 1931)


2. Pengaruh Heinrich

Pengaruh Heinrich dalam proses terbentuknya smk3 adalah tentang penerapan keselamatan dan
kesehatan dan elemen-elemen program keselamatan dimana telah menjadi dasar dari teknik
manajemen keselamatan dan kesehatan. Pengaruh Heinrich yang paling kuat dalam dunia kerja
adalah pendekatan teori tentang pencegahan 'Industrial Accident Prevention. Teori tersebut
mendasari dalam pembuatan program-program keselamatan dan kesehatan dan merupakan
kerangka IilosoIi yang menjelaskan pekerja secara individu dari pada kondisi kerja sebagai
penyebab utama kecelakaan.

Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja didukung oleh Heinrich pada tahun 1931 dalam
bentuk program dan sistem keselamatan dan kesehatan kerja. Teknik tentang manajemen
keselamatan yang diusulkan oleh Heinrich meliputi : pengawasan, aturan keselamatan,
pendidikan bagi pekerja melalui training, pemasangan poster-poster, pemutaran Iilm, identiIikasi
potensi bahaya dan analisisnya, survey dan inspeksi, investigasi kecelakaan, analisis pekerjaan,
analisis metoda keselamatan, lembar analysis kecelakaan, ijin konstruksi, instalasi peralatan baru
perubahan-perubahan dalam proses atau prosedur kerja, pembentukan saIety comitte dan
penyusunan tanggap darurat dan P3K.

3. ukungan Bagi Individu dalam Penelitian Psikologi Industri

Penelitian Heinrich tentang peran individu sebagai penyebab kecelakaan didukung oleh
perkembangan ilmu baru dalam bidang psikologi industri. Laju kecelakaan yang tinggi
menimbulkan keinginan untuk melakukan penelitian awal dalam bidang psikologi industri. ari
hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signiIikan antar individu tanpa
memperhatikan Iaktor lingkungan. Study tentang 'accident proneness dikembangkan sebagai
prioritas sentral dalam penelitian psikologi industri.


Peran psikologi industri di tempat kerja adalah dalam hal tes kecerdasan untuk pekerja yang akan
ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan khusus menggunakan teori 'accident proneness seperti
tingkat kecerdasan, kecekatan, kesesuaian dengan keinginan dari pihak manajemen.
4. Pengaruh Ilmu Manajemen terhadap Sejarah Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Frederick Taylor, seorang penemu ilmu manajemen menunjukkan sedikit perhatiannya dalam
masalah yang berhubungan dengan kesehatan pekerja. Hubungan antara ilmu manajemen dengan
keselamatan dan kesehatan merupakan sejarah baru dalam sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja modern. Ada dua aspek dalam yaitu :

Praktisi ilmu manajemen melakukan identiIikasi masalah keselamatan dan kesehatan.
Pengaruh ilmu manajemen terhadap kelanjutan dan pengembangan program keselamatan dan
kesehatan kerja.

5. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan : pendekatan voluntary
Program-program keselamatan dan kesehatan dalam sejarah bersiIat sukarela/voluntary (Jones,
1985:223), sebuah Iakta yang perlu menjadi pemikiran dalam perkembangan pengetahuan dan
dalam aspek penegakan dan pengesahan undang-undang keselamatan dan kesehatan.
II. Implementasi SMK3
Banyak perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen K3 sesuai dengan kebutuhannya
masing-masing. Berikut adalah jenis-jenis sistem manajemen K3 :

SMK3 Permenaker 05 Th 1996
ILO OSHA
OSHA Guide Line
Process SaIety Management
NOSA
Five Star (British SaIety Council)

International SaIety Rating System (ILCI-NV)


International SaIety Management System (ISM)
OHSAS 18001
BS 8800 (UK) dll

alam makalah ini yang akan kami sajikan adalah implementasi SMK3-Permenaker 05 Th 1996.
i dalam pasal 87 (1): UU No.13 Th 2003 Ketenagakerjaan dinyatakan bahwa setiap perusahaan
wajib menetapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen
perusahaan. Pada pasal 3 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang
memperkerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi
bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat
mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan
penyakit akibat kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3. engan demikian kewajiban
penerapan SMK3 didasarkan pada dua hal yaitu ukuran besarnya perusahaan dan tingkat potensi
bahaya yang ditimbulkan. Untuk menerapkan sistem manajemen K3, perusahaan diwajibkan
melaksanakan 5 ketentuan pokok yaitu :

1. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan sistem manajemen K3
:
a. Adanya kebijakan K3
b. Adanya komitmen dari pucuk pimpinan terhadap K3
c. Adanya tinjauan awal kondisi K3
2. Merencanakan pemantauan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapansistem manajemen K3 :
a. Adanya perencanaan tentang identiIikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko
b. Adanya pemahaman terhadap peraturan perundangan
c. Adanya penetapan tujuan dan sasaran kebijakan
d. Adanya indikator kinerja K3 yang dapat diukur
e. Adanya perencanaan awal dan perencanaan kegiatan yang sedang berlangsung
3. Menerapkan kebijakan K3 secara eIektiI :
a. Adanya jaminan kemampuan

b. Adanya kegiatan pendukung (komunikasi antar manajemen, pelaporan, pendokumentasian,


pencatatan)
c. Adanya manajemen resiko dan manajemen tanggap darurat
4. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikan
a. Adanya inspeksi, pengujian dan pemantauan
b. Adanya audit SMK3 secara berkala
c. Tindakan pencegahan dan perbaikan
5. Meninjau ulang secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem manajemen K3 secara
berkesinambungan :
a. Evaluasi penerapan kebijakan K3
b. Tujuan, sasaran dan kinerja K3
c. Hasil temuan audit SMK3
d. Evaluasi eIektiI penerapan SMK3
Secara Iormal ketentuan-ketentuan pokok tentang penerapan SMK3 harus dapat dibuktikan
secara nyata melalui pencapaian sertiIikasi audit.
Elemen-elemen dan kriteria-kriteria di dalam petunjuk teknis audit SMK3 merupakan sarana
atau alat audit yang dirancang untuk membantu perusahaan dalam meningkatkan kinerja
manajemen K3. Berikut adalah elemen-elemen yang ada dalam Permenaker No. 05 th 1996 :
Elemen VeriIikasi kinerja Catatan Auditor
Elemen 1
Komitmen Pembangunan dan Pemeliharaan
okumen kebijakan, penunjukan penanggung jawab K3, kualiIikasi staI K3, penugasan
pengurus perusahaan kepada regu tanggap darurat, hasil review penerapan SMK3, prosedur
penjadwalan konsultasi dll.
Elemen 2
Strategi pendokumentasian Prosedur, laporan, inIormasi yang terdokumentasi
Elemen 3
Peninjauan ulang desain dan kontrak okumen desain dan kontrak
Elemen 4

Pengendalian dokumen Tersedianya dokumen yang terkendali


Elemen 5
Pembelian Prosedur pembelian yang terdokumentasi
Elemen 6
Keamanan bekerja berdasarkan SMK3 Check list identiIikasi sumber bahaya
Elemen 7
Standar pemantauan Prosedur inspeksi yang terdokumentasi
Elemen 8
Pelaporan dan perbaikan Prosedur yang terdokumentasi untuk pelaporan sumber bahay
Elemen 9
Pengelolaan material dan perpindahannya Prosedur identiIikasi dan penilaian resiko dari
pengelolaan material
Elemen 10
Pengumpulan dan Penggunaan ata Prosedur pencatatan, Iormulir pencatatan terdokumentasi
dengan baik
Elemen 11
Pemeriksaan sistem manajemen okumen audit internal
Elemen 12
Pengembangan ketrampilan dan kemampuan aItar hadir training K3untuk eksekutiI dan senior
manajemen
II.2 Permasalahan Dipertambangan Indonesia

Masalah pertambangan di Indonesia utamanya bersumber dari dua hal. Pertama, pengusaha
pertambangan lebih menyukai pola pertambangan terbuka (surIace mining atau open pit mining).
Kedua, sejumlah besar lahan pertambangan terdapat pada kawasan hutan, dengan eksplorasi
yang menimbulkan resiko tingginya degredasi lingkungan. Sistem tambang tertutup
(underground mining) cenderung ditolak para pelaku pertambangan. Kedua masalah itu tidak
disikapi dengan pelaksanaan Pasal 38 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yang
menegaskan bahwa pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola
pertambangan terbuka. esakan untuk mengubah batas kawasan, serta mengubah kawasan hutan

dari yang awalnya berstatus hutan lindung menjadi hutan produksi ditengarai lazim terjadi.
Perubahan status kawasan hutan itu, contohnya, dilakukan memakai proses rescoring

Pada bab II tentang kewajiban perusahaan pertambangan dan energi dari SK Menteri Kehutanan
dan Perkebunan no. 146/Kpts-II/1999 tentang pedoman reklamasi bekas tambang dalam kawasan
hutan sesungguhnya telah mengatur tata cara reklamasi lahan bekas tambang. isebutkan pada
pasal 3 bahwa perusahaan pertambangan dan energi mempunyai kewajiban melaksanakan
reklamasi lahan bekas tambang atas kawasan hutan yang dipinjam-pakai. Termasuk juga
menanggung biaya pelaksanaan reklamasi lahan bekas tambang atas kawasan hutan yang
dipinjam pakai, serta mempunyai organisasi pelaksana reklamasi lahan bekas tambang dalam
kawasan hutan. Selanjutnya diatur untuk melakukan usaha perlindungan dan pengamanan hutan
atas kawasan hutan yang dipinjam-pakai.

alam Bab 3 dari SK tersebut ditetapkan pula pelaksanaan reklamasi yang meliputi penyiapan
lahan, pengaturan bentuk lahan (land scaping), pengendalian erosi dan sedimentasi, pengelolaan
lapisan olah (top soil), revegetasi serta pemeliharaan. i Kalimantan Selatan misalnya, dari total
lahan yang harus direklamasi bekas tambang batubara baru sekitar 30. Lahan yang dibuka
perusahaan pertambangan batubara seluas 3.446 hektar, namun hanya 1.274 hektar yang sudah
direklamasi. Bekas tambang batubara terluas yang belum direklamasi berada di kabupaten
Kotabaru yakni mencapai 1.000 hektar dari luas areal tambang yang dibuka seluas 1.901,22
hektar. Sedangkan luas bekas tambang batubara yang belum direklamasi lainnya adalah di
Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), yakni dari luas lahan bukaan tambang 644 hektar, baru
direklamasi 169,35 hektar. Luas lahan pertambangan batubara di Kalsel mencapai 244.318
hektar dengan potensi batubara yang terkandung mencapai 5 miliar ton. (Antara, 2003).
Penambangan juga mencakup pulau-pulau kecil di Kalsel, seperti Pulau Sebuku, sekitar 290
kilometer dari Banjarmasin. Pulau Sebuku luasnya hanya 225,5 km dengan jumlah penduduk
sekitar 4900 jiwa.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (No. 41/2000,Bab IV.C), pengelolaan
pulau-pulau kecil dengan luas kurang atau sama dengan 2.000 km hanya dapat digunakan untuk
kepentingan konservasi, budidaya laut, kepariwisataan, usaha penangkapan dan industri

perikanan secara lestari, pertanian organik dan peternakan skala rumah tangga, industri teknologi
tinggi nonekstraktiI, pendidikan dan penelitian, industri manuIaktur dan pengolahan sepanjang
tidak merusak ekosistem dan daya dukung lingkungan

Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang
terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berIungsi dan berdaya guna
sesuai peruntukannya.
Pembangunan berwawasan lingkungan menjadi suatu kebutuhan penting bagi setiap bangsa dan
negara yang menginginkan kelestarian sumberdaya alam. Oleh sebab itu, sumberdaya alam perlu
dijaga dan dipertahankan untuk kelangsungan hidup manusia kini, maupun untuk generasi yang
akan datang

Sumber daya alam yang meliputi vegetasi, tanah, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan Nasional oleh karena itu harus
dimanIaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan kepentingan pembangunan
nasional dengan memperhatikan kelestariannya. Salah satu kegiatan dalam memanIaatkan
sumberdaya alam adalah kegiatan pertambangan bahan galian yang hingga saat ini merupakan
salah satu sector penyumbang devisa negara yang terbesar. Namun demikian kegiatan
pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak negative
terhadap lingkungan terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar.
ampak lingkungan kegiatan pertambangan antara lain : penurunan produktivitas tanah,
pemadatan tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran,
terganggunya Ilora dan Iauna, terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk, serta perubahan
iklim mikro.

ampak negatiI kegiatan pertambangan terhadap lingkungan tersebut perlu dikendalikan untuk
mencegah kerusakan di luar batas kewajaran. Prinsip kegiatan Reklamasi adalah : (1) kegiatan
Reklamasi harus dianggap sebagai kesatuan yang utuh dari kegiatan penambangan (2) kegiatan
Reklamasi harus dilakukan sedini mungkin dan tidak harus menunggu proses penambangan
secara keseluruhan selesai dilakukan (Siti LatiIah, 2003).

KONISI AGROEKOLOGI BEKAS TAMBANG



Lahan bekas tambang memiliki masalah-masalah Iisik, kimia (nutrients and toxicity), dan
biologi. Masalah Iisik tanah mencakup tekstur dan struktur tanah. Akibat dari kegiatan
pertambangan mempengaruhi solum tanah dan terjadinya pemadatan tanah, mempengaruhi
stabilitas tanah dan bentuk lahan. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah (pH),
kekurangan unsur hara (seperti NPK dan Mg), serta mineral toxicity. (Rahmawaty,2002). Juga
bulk density dan kelembaban tanah (Sturges, 2003).
SiIat Iisik tanah

Stres suhu dan kelembaban cenderung mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada tanah bekas
tambang. Kapasitas ikat air tanah bekas tambang dipengaruhi oleh laju inIiltrasi dan
konduktivitas hidraulik. Adanya perlakuan pengairan/irigasi permukaan akan mempengaruhi
produksi pada tanaman semusim (Barhisel dan Hower, 1997 dalam Sturges, 2003).
Tanah sisa penggalian diidentiIikasi sebagai tanah yang sangat minimal potensi Iisiknya sebagai
media tumbuh. Land Iorming (penggunaan alat berat untuk perataan tanah yang dibuang setelah
ditambang) pada kenyataannya meninggalkan lahan yang tidak dapat ditanami. Tanah kompak
dari sisa tambang mengurangi jaringan pori besar (macropores network) untuk memIasilitasi
gerakan air, udara dan sistem perkembangan akar (unker et. al., 1991). Kondisi ini juga
membatasi pertumbuhan akar dan menekan pertumbuhan tanaman. Pada sisi lain, kandungan
pasir dan liat yang tinggi (80 - 90) seperti lahan bekas tambang nikel menjadikannya tidak
sesuai untuk pertumbuhan tanaman,

Pembalikan tanah dengan menempatkan lapisan tanah sub soil ke bagian atas merupakan
masalah utama dalam mengusahakan tanaman di lahan bekas tambang. Pada areal bekas
pertambangan, dengan bentangan kubangan-kubangan juga menjadi tidak dapat ditanami karena
sudah merupakan sub soil dengan kepadatan yang tinggi. Bentuk lahan tidak memungkinkan
drainase baik.


SiIat kimia tanah



Umumnya, tanah-tanah bekas pertambangan memiliki pH yang rendah. Tingginya konsentrasi
logam seprti Al, Ar, Ba, B, Cad, Pb, Mg, Ni, Se dan Zn umumnya ditemui pada tanah-tanah
tambang (Norland, 1993 dalam Sturges, 2003). Seluruh lahan bekas pertambangan rendah P dan
N. Tingkat K cukup. Hanya 7 dari ammonium nitrat yang ditambahkan ternitriIikasi pada
tanah tambang, dibandingkan dengan 93 pada tanah yang tidak ditambang. (Hons dan Hosser,
1980).

eIisiensi P selalu merupakan Iaktor pembatas dalam mencapai revegetasi lahan tambang. P
yang tersedia menurun di tanah sejalan dengan naiknya persentase kandungan subsoil di tanah
yang direkonstruksi (Berg, 1975 dalam Sturger, 2003).


SASARAN AN PERENCANAAN KEGIATAN REKLAMASI LAHAN

Penambangan dapat mengubah lingkungan Iisik, kimia dan biologi seperti bentuk lahan dan
kondisi tanah, kualitas dan aliran air, debu, getaran, pola vegetasi dan habitat Iauna, dan
sebagainya. Perubahan-perubahan ini harus dikelola untuk menghindari dampak lingkungan
yang merugikan seperti erosi, sedimentasi, drainase yang buruk, masuknya gulma/hama/penyakit
tanaman, pencemaran air permukaan/air tanah oleh bahan beracun dan lain-lain.

Sasaran Reklamasi

alam kegiatan reklamasi terdiri dari dua kegiatan yaitu :

- Pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaiki lahan yang terganggu ekologinya.
- Mempersiapkan lahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk
pemanIaatannya selanjutnya.

Perencanaan
Untuk melakukan reklamasi lahan bekas tambang diperlukan perencanaan yang baik agar dalam
pelaksanaannya dapat tercapai sasaran sesuai yang dikehendaki. Hal-hal yang harus diperhatikan
didalam perencanaan reklamasi adalah sebagai berikut :

- Mempersiapkan rencana reklamasi sebelum pelaksanaan penambangan
- Luas areal yang direklamasikan sama dengan luas areal penambangan.
- Memindahkan dan menempatkan tanah pucuk pada tempat tertentu dan mengatur
sedemikian rupa untuk keperluan revegetasi.
- Mengembalikan/memperbaiki pola drainase alam yang rusak
- Menghilangkan/memperkecil kandungan (kadar) bahan beracun sampai tingkat yang
aman sebelum dapat dibuang ke suatu tempat pembuangan.
- Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
- Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi.
- Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan lagi dalam aktiIitas penambangan.
- Permukaan yang padat harus digemburkan namun bila tidak memungkinkan agar
ditanami dengan tanaman pionir yang akarnya mampu menembus tanah yang keras.
- Setelah penambangan maka pada lahan bekas tambang yang diperuntukkan bagi
revegetasi, segera dilakukan penanaman kembali dengan jenis tanaman yang sesuai
dengan rencana rehabilitasi dari epartemen Kehutanan dan RKL yang dibuat.
- Mencegah masuknya hama dan gulma yang berbahaya. (Siti LatiIah, 2003).









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

- alam kajian ini, system manejemen keselamatan dan kesehatan dideIinisikan sebagai
kombinasi dari susunan organisasi manejemen, termasuk elemen-elemen perencanaan
dan kaji ulang, susunan konsultatiI dan program khusus yang terintegrasi untuk
meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan. Program Khusus mencakup
identiIikasi bahaya, control dan penilaian resiko, keselamatan dan kesehatan terhadap
kontraktor, inIormasi dan penyimpanan data dan pelatihan.
- Ada empat pendekatan terhadap manejemen keselamatan dan kesehatan yang
diidentiIikasikan dari kesimpulan literature-literature tentang sistem manejemen
keselamatan dan kesehatan serta tipe-tipe sistem dan bukti kasus yang muncul. Empat
pendekatan tersebut adalah :
Manejemen Tradisional, dimana keselamatan dan kesehatan dipadukan dalam peran
pengawasan dan orang penting` adalah pengawas dan/atau spesialis keselamatan dan
kesehatan; karyawan-karyawan turut dilibatkan, tetapi keterlibatan mereka tidak
dipandang penting bagi pelaksanaan sistem manejemen keselamatan dan kesehatan, atau
komite keselamatan

Manejemen inovatiI, dimana manejemen memiliki peran penting dalam usaha
keselamatan dan kesehatan; ada level integrasi yang tinggi dalam penerapan sistem
keselamatan dan kesehatan, keterlibatan karyawan dipandang penting dalam pelaksanaan
sistem.

Sebuah strategi tempat aman` yang dipusatkan pada control bahaya pada sumber
dengan memperhatikan prinsip tingkat perencanaan dan penerapan identiIikasi bahaya,
penilaian resiko dan kontrol resiko.

Suatu strategi kontrol orang yang selamat/aman` yang dipusatkan atas pengawasan
tingkah laku karyawan

- Masalah pertambangan di Indonesia utamanya bersumber dari dua hal. Pertama,
pengusaha pertambangan lebih menyukai pola pertambangan terbuka (surIace mining
atau open pit mining). Kedua, sejumlah besar lahan pertambangan terdapat pada kawasan
hutan, dengan eksplorasi yang menimbulkan resiko tingginya degredasi lingkungan.
Sistem tambang tertutup (underground mining) cenderung ditolak para pelaku
pertambangan.






















DAFTAR PUSTAKA
AIrianto. 2010. Masalah Lingkungan Dalam Pembangunan Pertambangan Energi.
http.//afryandisini.blogspot.com/2010/11/masalah-lingkungan-dalam-pembangunan.html
www.miningsite.inIo/konsep-sistem-manajemen-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-smk3-serta-
implementasinya