Anda di halaman 1dari 27

KRITIK SANAD

(SEJARAH DAN METODOLOGI)


A. PENDAHULUAN
Sebuah hadits dikatakan shahih (dalam hal ini shahih lidztihi) adalah jika
sanadnya muttashil, periwayatnya adil dan dhbit, dan sanadnya terhindar dari
syudzudz dan illat.
Pada masa Rasulullah saw; kritik atas hadits tidaklah begitu besar.
Keberadaan Rasul di tengah-tengah mereka sudah dianggap cukup untuk menjadi
narasumber atas persoalan-persoalan agama. Pada masa pemerintahan
khulafa'urrsyidn, kritik hadits mulai terlihat mencuat. Terbukti dengan semakin
berhati-hatinya para sahabat dalam menerima hadits hal ini sebagaimana yang terjadi
dengan Ab Bakar saat ditanya tentang bagian warisan seorang nenek. Begitu juga
Umar saat bertanya kepada Ab Musa al-Asyari tentang keabsahan anjuran
mengetuk pintu sebanyak tiga kali saat bertamu. Bahkan Al bin Ab Thlib tidak
akan menerima hadits dari seseorang, sebelum ia bersumpah. Hal ini
mengindikasikan bahwa para sahabat begitu antusias untuk memelihara sunnah
Rasul.
Ketika permulaan masa tabn, geliat kritik hadits semakin besar. Hal ini
disebabkan munculnya fitnah yang menyebabkan perpecahan internal umat Islam.
Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya para pemalsu hadits untuk mendukung
golongan tertentu. Iklim yang tidak sehat ini menuntut para kritikus hadits agar lebih
gencar dalam meneliti keadaan para perawi. Mereka lalu melakukan perjalanan untuk
mengumpulkan sejumlah riwayat, menyeleksi dan membandingkannya, hingga
akhirnya mampu memberikan penilaian atas setiap hadits.
Metode kritik hadits terus berkembang pesat, ditandai dengan lahirnya
beberapa karya ulama tentang kritik sanad hadits. Kritikan tersebut ditulis dalam
kitab tersendiri dan memuat seluruh riwayat yang dimiliki oleh masing-masing
perawi. Hal ini dilakukan agar penilaan atas hadits benar-benar objektif sebagaimana
2
yang dilakukan Imam Ahmad dalam karyanya: Kitbul Ilal fi Marifatil Rijl, atau:
Musnad al-Muallal karya Yaqub bin Syaibah.
Selanjutnya, penulisan kritik hadits menjadi lebih sistematis dengan
dilakukannya penelitian atas sanad secara terpisah dari matan. Hal ini digagas oleh
pakar kritik hadits seperti Ibnu Ab Hatim dalam bukunya: al-Jarh wa Tadl, dan
Ilal yang begitu detail dalam melacak keabsahan hadits dari aspek matan dan
perawinya. Setelah sejumlah peninggalan ulama tersebut ditelaah kembAl oleh para
ulama mutaakhirn seperti al-Mizzi, Dzahab, Ibnu Hajar dan lainnya, mereka
kemudian meletakkan materi-materi kritikan dalam satu buku tersendiri tanpa
memuat sanadnya secara lengkap. Kemudian mereka mendiskusikan (munaqasyah)
komentar-komentar ulama hadits, hingga dapat memberikan penilaian akhir pada
sebuah hadits.
Pada tulisan ini akan dibahas secara khusus mengenai sejarah dan metodologi
kritik sanad pada hadits-hadits Nabi SAW.
B. Sejarah Singkat Perkembangan Kritik Hadits
Tradisi atas kritik pemberitaan hadits ada sejak pada masa Nabi hidup. Motif
kritik pemberitaan hadits lebih bercorak konfirmasi, klarifikasi, dan upaya
memperoleh testimoni yang target akhirnya menguji validitas keterpercayaan berita.
Kritik bermotif konfirmasi yakni upaya menjaga kebenaran dan keabsahan berita,
antara lain kejadian yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang seorang pria yang
tertolak pinangannya untuk mempersunting wanita Banu Laits, lokasi pemukiman itu
kurang lebih 1 mil dari Madinah. Ia tampil berbusana kostum dimana potongan,
warna, dasar dan cirri-ciri lain yang benar-benar mirip keseharian Nabi, kedatangan
pria itu seperti pengakuanya membawa pesan Nabi untuk singgah ke rumah siapapun
yang dalam versi lain menyatakan untuk membuat perhitungan hukum sendiri.
Ternyata pilihan rumahnya jatuh ke rumah wanita yang gagal dipinangnya. Segera
warga kabilah tersebut mengirim kurir menemui Nabi untuk mengkonfirmasi atas
pengakuan sepihak pemuda tersebut. Setelah sampai pada Nabi, Nabi segera
3
mengutus Abu Bakar dan Umar untuk menangkap pria itu, ternyata pria itu adalah
seorang yang munafik dan akhirnya pria itu dihukum mati.
1
Kritik bermotif klarifikasi yakni penyelarasan dan mencari penjelasan lebih
kongkrit antara lain seperti menyangkut laporan Walid ibn Ubah yang ditugasi
sebagai amil sodakoh terhadap warga muslim Banu Musthaliq. Walid yang pada
masa lalu pernah terlibat dalam kasus pembunuhan dengan korban warga Banu
Musthaliq larut terbawa halusinasi balasan balas dendam dari mereka. Membaca
gelagat penyambutan adat kabilah dengan persenjataan lengkap semakin
mengentalkan halusinasi tersebut, Walid selanjutnya merekayasa laporan bahwa Banu
Musthaliq telah memasang perangkap untuk membunuh setiap petugas zakat yang
dikirim Rasulullah. seperti tertulis pada redaksi surat al-Hujurat:6, dimana Rasulullah
nyaris percaya pada laporan Walid tersebut, saat itu juga mengamanati Khalid ibn
Walib untuk klarifikasi dan ternyata tidak demikian halnya.
2
Motif kritik lain menyerupai upaya testimoni, yaitu mengusahakan kesaksian
dan pembuktian agar sesuatu yang tersinyalir diperbuat oleh Nabi seperti keseriusan
Umar bin Khatab ketika menjumpai Nabi selepas jamaah sholat subuh begitu
mendengar berita dari tetangga dekat rumahnya bahwa Nabi telah menjatuhkan talak
kepada semua istri beliau testimoni langsung diperoleh dari pengakuan Nabi, ternyata
beliau hanya menjatuhkan ila (tekat tidak meniduri istri-istri yang ada dengan ikrar
dibawah sumpah) untuk limit 1 bulan Qamariyah.
Pada masa pemerintahan khulafaurrasyidin, kritik hadits mulai terlihat
mencuat. Terbukti dengan semakin berhati-hatinya para sahabat dalam menerima
hadits hal ini sebagaimana yang terjadi dengan Ab Bakar saat ditanya tentang bagian
warisan seorang nenek. Begitu juga Umar saat bertanya kepada Ab Musa al-
Asyari tentang keabsahan anjuran mengetuk pintu sebanyak tiga kali saat bertamu.
Bahkan Al bin Ab Thlib tidak akan menerima hadits dari seseorang, sebelum ia
bersumpah. Hal ini mengindikasikan bahwa para sahabat begitu antusias untuk
memelihara sunnah Rasul.
1
Nurul Laila, Kritik Hadits, website:http://www.nurullaila.blogspot.com
/index.php?content=artikel&id=, Diakses pada Tanggal 4 Juni 2010.
2
Ibid.
4
Namun sejak terjadi perpecahan dikalangan umat Islam, pada saat
kepemimpinan khalifah Ali mulai banyak ditemukan hadits palsu, seperti:

Hai Ali sesungguhnya Allah mengampuni kamu, anak-anakmu, kedua orang
tuamu, keluargamu, pengikutmu dan orang-orang yang mencintai pengikutmu
:
Orang-orang yang dapat dipercaya di hadirat Allah ada tiga: saya
(Muhammad), Jibril dan Muawiyah
Ketika permulaan masa tabiin, geliat kritik hadits semakin besar. Hal ini
disebabkan munculnya fitnah yang menyebabkan perpecahan internal umat Islam.
Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya para pemalsu hadits untuk mendukung
golongan tertentu. Iklim yang tidak sehat ini menuntut para kritikus hadits agar lebih
gencar dalam meneliti keadaan para perawi. Mereka lalu melakukan perjalanan untuk
mengumpulkan sejumlah riwayat, menyeleksi dan membandingkannya, hingga
akhirnya mampu memberikan penilaian atas setiap hadits.
Metode kritik hadits terus berkembang pesat, ditandai dengan lahirnya
beberapa karya ulama tentang kritik sanad hadits. Kritikan tersebut ditulis dalam
kitab tersendiri dan memuat seluruh riwayat yang dimiliki oleh masing-masing
perawi. Hal ini dilakukan agar penilaan atas hadits benar-benar objektif, sebagaimana
yang dilakukan Imam Ahmad dalam karyanya: Kitbul Ilal fi Marifatil Rijl, atau
Musnad al-Muallal karya Yaqub bin Syaibah.
3
C. Kritik Sanad
1. Pengertian Kritik Sanad
Menurut bahasa kata sanad mengandung arti jalan atau sandaran.
Sedangkan menurut istilah hadits, sanad ialah jalan yang menyampaikan kita
kepada matan hadits, selain itu ada beberapa pengertian sanad ialah rantai
3
Ibid.
5
penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari
orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga
mencapai Rasulullah. Sanad juga memberikan gambaran keaslian suatu riwayat
secara historis.
4
Jadi kritik sanad hadits ialah penelitian, penilaian, dan
penelusuran sanad hadits tentang kualitas individu perawi serta proses penerimaan
hadits dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan
dan kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran, yaitu kualitas
hadits.
5
Selanjutnya kegiatan kritik atau penelitian hadits bertujuan untuk
mengetahui kualitas hadits yang terdapat dalam rangkaian sanad hadits untuk
diteliti memenuhi kriteria kesahihan sanad, hadits tersebut digolongkan sebagai
hadits sahih dari segi sanad.
6
Selain itu untuk memahami kritik tentang sanad
hadits, perlu dahulu memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kegiatan
penerimaan dan penyampaian hadits, serta penyandaran hadits kepada mata rantai
para periwayat (rawi) nya. Ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam periwayatan
hadits, yaitu (a) kegiatan penerimaan hadits dari periwayat hadits (b) kegiatan
menyampaikan hadits itu kepada orang lain (c) ketika hadits disebutkan maka
mata rantai pun juga disebutkan.
7
2. Metodologi Kritik Sanad
Dr. Syuhudi Ismal dalam buku beliau yang berjudul Metodologi
penelitian Hadits Nabi menguraikan ada beberapa langkah yang harus ditempuh
dalam melakukan suatu kritikan terhadap sanad suatu hadits
8
, yaitu sebagai
berikut:
4
Fathurrahman, Mustalahul Hadits, (Bandung: Al Maarif, 1974), hal. 6
5
Ibid., hal. 7
6
Ibid.
7
Sadullah Assaidi, Hadits-hadits Sekte (Jokjakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 12
8
M. Syuhudi Ismal, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hal.
51
6
a) Melakukan Itibar
Kata al-Itibar ( ) adalah masdhar dari kata yang menurut bahasa
berarti peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui
sesuatunya yang sejenis.
9
Sedangkan menurut istilah ilmu hadits, Itibar adalah
menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadits tertentu yang hadits itu
pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja; dan
dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui
apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari
sanad hadits yang dimaksud.
10
Kegunaan Itibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadits seluruhnya
dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus
muttab atau syhid.
11
Dengan adanya Itibar ini maka akan diketahui apakah
hadits yang diteliti itu memiliki muttab dan syhid ataukah tidak.
Untuk mempermudah proses kegiatan Itibar itu diperlukan adanya pembuatan
skema untuk seluruh sanad untuk hadits yang akan diteliti. Ada 3 hal yang
harus diperhatikan:
1) Jalur seluruh sanad,
2) Nama-nama periwayat untuk seluruh sanad
3) Metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat.
b) Meneliti Pribadi Periwayat dan Metode Periwayatannya
Untuk meneliti hadits diperlukan sebuah acuan yaitu acuan yang akan
digunakan untuk meneliti kesahihan hadits bila hadits yang diteliti bukanlah
hadits yang mutawatir.
Ab Amr Usmn bin Abdirrahman bin as-Salah asy-Syahrazuri yang biasa
disebut Ibnus Salah (w. 577 H/ 1245 M), beliau merumuskan sebagai berikut:
9
Mahmud Thahan, Taisir Mushthalahul hadits, (Beirut: Dar Al-Fikr, t.t), hal. 115
10
Ibid. Lihat Ibn as Salah, Ab Amr Usman bin Abdirrahman,Ulum al-Hadits, (naskah
diteliti oleh Nurud-Din itr (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-Ilmiyyah, 1972 M), hal. 74
75.
11
Muttab adalah disebut juga tab jamak dengan tawab yang artinya periwayat yang
berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi. Sedangkan syhid jamaknya syawahid
yang artinya periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi.
7
Hadits Shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi SAW),
diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan dhbit sampai akhir sanad ( di dalam hadits itu)
tidak terdapat kejanggalan (Syudzudz) dan cacat (illat).
12
Jadi unsur-unsur hadits dikatakan shahih apabla sesuai dengan kaidah-kaidah
sebagai berikut:
1. Sanad hadits yang bersangkutan harus bersambung mulai dari mukharrijnya
sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Seluruh periwayat dalam hadits itu harus bersifat adil dan dhbit.
3. Hadits itu, jadi sanad dan matannya harus terhindar dari kejanggalan (Syudzudz)
dan cacat (illat).
Berikut ini akan dijelaskan kaidah-kaidah kesahihan hadits yang berhubungan
dengan sanad, yaitu sebagai berikut:
1. Sanad Bersambung
Yang dimaksud dengan sanad bersambung adalah tiap-tiap periwayat
dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari periwayat terdekat sebelumnya;
keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad hadits itu.
13
Dr. M. Syuhudi Ismal menjelaskan bahwa sanad hadits dikatakan
bersambung jika mengandung usnur-unsur : muttashil, marfu, mahfuzh, dan
bukan muallal.
14
Muttashil, artinya: Hadits yang bersambung sanadnya baik
persambungan itu sampai kepada Nabi (marfu) maupun hanya sampai kepada
sahabat Nabi saja (mauquf).
15
Marfu, artinya: Apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW
baik perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat beliau.
16
Mahfuzh artinya terhindar dari syudzudz.
12
Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushulul al-Hadits, (Beirut: Dar al Fikr, 1989 M/1409 H), hal.
304
13
Subhiy al-Shalh, Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Beirut: Dar al-Ilm li al-malayin,
1977), cet IX, hal. 145
14
Dr. H.M. Syuhudi Ismal dalam buku Yunahar Ilyas dkk, Pengembangan Pemikiran
Terhadap Hadits, (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: LPPI, 1996), Cet. 1, hal. 7
15
Mahmud Thahan, Op. Cit., hal. 111
16
Ibid, hal. 105
8
Muallal, artinya: Yaitu hadits yang setelah diadakan penelitian terdapat
di dalamnya cacat yang disembunyikan kecacatannya dan terlihat selamat dari
keacatatan itu pada zahirnya.
17
Jadi, hadits tersebut harus terhindar dari kecacatan tersebut.
Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, biasanya ulama
hadits menempuh tata kerja penelitian sebagai berikut:
a. Mencatat nama semua periwayat dalam sanad yang diteliti
b. Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat untuk mengetahui
keadilan dan kedhbitan perawi ataukah tidak; apakah terapat hubungan
kesamaan zaman atau hubungan guru murid dalam periwayatan hadits
tersebut.
c. Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara periwayat dengan periwayat
yang terdekat dalam sanad, apakah menggunakan kata-kata , ,
, dan yang lainnya.
18
Dalam Kitab Ilmu Hadits ada 8 macam cara-cara periwayatan yaitu : as
Sama, al-qirah, al-Ijzah, al-Munwalah, al-Muktabah, al Ilam, al-wasiyyah
dan al-wijdah. Kedelapan metode periwayatan tersebut memiliki perbedaan
dalam tingkat akurasinya.
Sanad hadits selain memuat nama-nama periwayat juga membuat lafal-lafal
yang member petunjuk tentang metode periwayatan yang digunakan masing-
masing periwayat yang bersangkutan. Dari sinilah dapat diketahui dan dapat
diteliti tingkat akurasi metode periwayatan yang digunakan oleh periwayat yang
namanya termuat dalam sanad.
Kegiatan menerima riwayat hadits dalam dalam ilmu hadits dinamakan
dengan tahammul al hadits, sedangkan kegiatan menyampaikan riwayat hadits
disebut adau al hadits. Lafal yang digunakan dalam kegiatan tahammul al hadits
17
Ibid, h. 83 lihat : M. Syuhudi Ismal, Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan
Pemalsunya(Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 77
18
M. Syuhudi Ismal, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits, Op. Cit, hal. 128
9
bentuknya bermacam-macam seperti , , , , , .
Sebagian dari lambang-lambang itu ada yang disepakati dan ada juga yang tidak.
Lambang-lambang yang penggunaannya disepakati yaitu , ,
, . kedua lambang yang disebutkan pertama digunakan dalam metode
periwayatan dengan as-Sama sebagai metode yang menurut jumhur ulama hadits
memiliki tingkat akurasi yang tinggi, dan dua lambang berikutnya disepakati
sebagai lambang periwayatan al-munwalah, yakni metode periwayatan yang
masih dipersoalkan tingkat akurasinya.
19
Sedangkan lambang-lambang yang tidak disepakati penggunaannya seperti
, , , . Untuk kata sebagian periwayat
menggunakannya untuk metode as Sama dan sebagian yang lainnya
menggunakannya untuk al-qirah. Kata-kata , , untuk sebagian
periwayat digunakan dalam metode as Sama, dan sebagian yang lain
menggunakannya untuk metode al qirah, dan oleh sebagian periwayat yang lain
lagi digunakan untuk metode al Ijzah.
20
Adapun dikhususkan untuk lambang-lambang berupa kata-kata seperti ,
, ulama telah banyak mempersoalkannya. Sebagian ulama mengatakan sebagai
hadits muanan, yakni hadits yang sanadnya mengandung lambang an, dan
hadits muannan yakni hadits yang sanadnya mengandung lambang anna
memiliki sanad yang putus. Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa hadits
muanan dapat dinilai bersambung sanadnya jika dipenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
a. Pada sanad hadits yang bersangkutan tidak terdapat tadlis (penyembunyian
cacat).
b. Para periwayat yang namanya beriring dan diantarai oleh lambang an ataupun
anna itu telah terjadi pertemuan.
19
Ibid, hal. 52 58 dan 64
20
Ibid.
10
c. Periwayat yang menggunakan lambang-lambang an ataupun anna itu adalah
periwayat yang tsiqh.
21
Adapun keadaan periwayat dapat dibagi kepada yang tsiqh dan yang tidak
tsiqh. Dalam hubungannya dengan persambungan sanad, kualitas periwayat
sangat menentukan. Periwayat yang tidak tsiqh yang menyatakan telah menerima
riwayat dengan metode samina, misalnya walaupun metode itu diakui oleh para
ulama hadits memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tetapi karena yang
meriwayatkannya orang yang tidak tsiqh, maka informasinya itu tetap tidak dapat
dipercaya. Selain itu ada periwayat yang dinilai tsiqh oleh ulama kritik hadits
namun dengan syarat bila dia menggunakan lambang periwayatan haddatsani atau
samitusanadnya bersambung, tetapi bila menggunakan selain kedua lambang itu
sanadnya terdapat tadlis (penyembunyian cacat), seperti Abdul Malik bin Abdul
Aziz bin Juraij (Ibnu Juraij) (w. 149 H / 150 H).
22
2. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat adil
Kata adil dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti tidak berat
sebelah (tidak memihak) atau sepatutnya; tidak sewenang-wenang
23
Sedangkan pengertian adil yang dimaksud dalam ilmu hadits, para ulama
berbeda pendapat. Dari berbagai perbedaan pendapat itu dapat dihimpunkan
kriteria sifat adil yaitu a) Beragama Islam, b) Mukallaf, c) Melaksanakan
ketentuan agama dan d) Memelihara murah.
24
Beragama Islam merupakan satu kriteria keadilan periwayat apabla yang
bersangkutan melakukan kegiatan menyampaikan hadits, sedangkan untuk
kegiatan menerima hadits kriteria itu tidak berlaku. Periwayat boleh saja tidak
21
Ibid, hal. 62 - 63
22
Ahmad bin Al bin Hajar al-Asqalani, Tahzib at Tahzib, (India: Majlis Dairat al-Maarif
an-Nizamiyyah, 1325 H), Juz II, hal. 402 406 dan Juz XII, hal. 288
23
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985),
Cet ke-8, hal. 16
24
Dr. H.M. Syuhudi Ismal, Kriteria Hadits Shahih dalam buku Yunahar Ilyas dkk,
Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits Loc. Cit.
11
beragama Islam tatkala ia menerima hadits dari Rasulullah SAW asalkan ketika
dia menyampaikan hadits itu dia telah memeluk agama Islam.
25
Mukallaf yaitu balgh dan berakal sehat untuk kriteria ketika dia
menyampaikan sebuah riwayat hadits, akan tetapi boleh saja periwayat masih
belum mukallaf asal dia telah mumayyiz dalam kegiatan menerima hadits. Maka
tidak diterima riwayat dari seseorang yang belum memenuhi ketentuan syarat
mukallaf sebagaimana hadits Nabi SAW:
-
.
26
Yang ketiga adalah kriteria melaksanakan ketentuan agama, yang
dimaksud adalah teguh dalam agama, tidak berbuat dosa besar, tidak berbuat
bidah, tidak berbuat maksiat dan harus berakhlak mulia.
27
Sedangkan yang dimaksud dengan memelihara murah, artinya
kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya
kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal itu dapat diketahui melalui adat
istiadat yang berlaku di masing-masing tempat.
28
Berdasarkan kriteria sifat adil yang telah dikemukakan di atas, maka hadits
yang diriwayatkan oleh orang-orang yang suka berdusta, suka berbuat munkar,
atau sejenisnya tidak dapat diterima sebagai hujjah. Bila riwayatnya juga diterima
sebagai hadits, maka kedudukannya adalah sebagai hadits dhaif (lemah) dan oleh
sebagian ulama dinyatakan sebagai hadits maudhu (palsu).
29
Secara umum ulama telah mengemukakan cara penetapan keadilan
periwayat hadits yaitu berdasarkan:
25
Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, Op.cit, h. 227 232. As-Suyuti, Tadrib ar-
Rawi fi Syarh Taqrib an Nawawi, (Beirut: Dar Ihya as-Sunnah an-Nabawiyah, 1979 M), Juz II, hal. 4
7
26
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Ab Daud dan Hakim dari Umar dan Al r.a, dan lebih
banyak dari jalan lain yaitu dari Sayyidah Aisyah r.a. lihat Fathul al-Kubra, Juz II, hal. 135
27
M. Syuhudi Ismal, Kaedah Kesahihan Sanad haditsOp. Cit, hal. 116 118.
28
Ibid, h. 115 - 117
29
Munzier Suparta, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 131 - 132
12
a. Popularitas keutamaan periwayat dikalangan ulama hadits; periwayat yang
terkenal keutamaan pribadinya, misalnya Malik bin Anas dan Sufyan ats-tsauri,
tidak lagi diragukan keadilannya.
b. Penilaian dari para kritikus periwayat hadits; penilaian ini berisi pengungkapan
kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri periwayat hadits.
c. Penerapan kaidah al-Jarh wa at-Tadil ; cara ini ditempuh bila para kritikus
periwayat hadits tidak sepakat tentang kualitas peribadi periwayat tertentu.
30
Khusus mengenai perawi hadits pada tingkat sahabat, menurut jumhur
ulama ahli sunnah, dikatakan bahwa seluruh sahabat adil. Sedangkan golongan
Mutazilah menganggap bahwa sahabat-sahabat yang terlibat dalam pembunuhan
Al dianggap fasiq, yang periwayatannya ditolak.
31
Jadi, untuk mengetahui adil atau tidaknya seorang periwayat hadits
haruslah diteliti terlebih dahulu kualitas peribadinya dengan kesaksian para ulama,
dalam hal ini adalah ulama ahli kritik periwayat.
3. Seluruh Periwayat Dalam Sanad bersifat dhbit
Arti harfiah dhbit ada beberapa macam yakni dapat berarti: yang kokoh,
yang kuat, dan yang hafal dengan sempurna.
32
Ulama hadits berbeda pendapat
dalam memberikan pengertian istilah untuk kata dhbit, namun perbedaan itu dapt
dipertemukan dengan rumusan sebagai berikut:
a. Periwayat yang bersifat dhbit ialah:
1) Periwayat yang hafal dengan sempurna hadits yang diterimanya, dan
2) Mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepada
orang lain.
30
At-Thahan, Taisir Mushtalahul Hadits, Op.Cit, hal. 87 91, Muhammad Ajjaj al-Khatib,
Ushul al-Hadits, Op. Cit, h. 433, Ab Lubabah Husain, al-Jarh wa Tadil, (Riad: Dar al Liwa, 1399 H
/ 1979 M), hal. 133 - 134
31
M. Syuhudi Ismal, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits, Op. Cit, hal. 134
32
Al-Fayumi, Ahmad bin Muhammad, al-Misbah al-Munir fi Gharib asy-Syarh al-Kabr li
ar-RafiI, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1398 H / 1978 M), Juz II, hal. 420 421 dalam Syuhudi
Ismal, Metodologi Penelitian hadits Nabi, Op. Cit, hal. 69
13
b. Periwayat yang bersifat dhbit ialah periwayat yang selain disebutkan dalam
butir pertama di atas juga dia mampu memahami dengan baik hadits yang
dihafalnya itu.
33
Rumusan pertama merupakan rumusan kriteria sifat dhbit umum,
sedangkan yang kedua disebut sebagai tam dhbit atau dhbit plus.
Selain kedua macam rumusan kedhbitan itu dikenal pula istilah khafifud
dabt, yaitu kedhbitan yang disifatkan kepada periwayat yang kualitas haditsnya
digolongkan kepada hadits hasan.
34
Adapun cara penetapan kedhbitan seorang periwayat menurut pendapat
berbagai ulama dapat dinyatakan sebagai berikut:
a. Kedhbitan periwayat dapat diketahui berdasarkan persaksian para ulama
b. Kedhbitan periwayat dapat diketahui juga berdasarkan kesesuaian riwayatnya
dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat lain yang telah dikenal
kedhbitannya. Tingkat kesesuaiannya itu mungkin hanya sampai ke tingkat
makna atau mungkin ke tingkat harfiah.
c. Apabla seorang periwayat sekali-sekali mengalami kekeliruan, maka dia masih
dapat dinyatakan sebagai periwayat yang dhbit. Tetapi apabla kesalahan itu
sering terjadi maka periwayat yang bersangkutan tidak lagi sebagai periwayat
yang dhbit.
35
4. Terhindar dari Syudzudz (kejanggalan)
Menurut bahasa kata syadz, dapat berarti; jarang, yang menyendiri, yang
asing, yang menyalahi aturan dan yang menyalahi orang banyak. Mahmud Thahan
33
M. Syuhudi Ismal, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits, Op. Cit, hal. 122
34
Subhi as-Salih, Ulum al-Hadits wa Mustalahuhu, (Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1977
M), hal. 156.
35
M. Ajjaj al-Khatib, Op. Cit, hal. 232. Lihat juga: K.H. Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadits,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hal. 126
14
dalam kitab Taisir Mushthalah al-Hadits menyebutkan: Syudzudz ialah berbeda
dengan hadits yang tsiqt atau berbeda dengan yang lebih tsiqt daripadanya.
36
Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian syudzudz suatu hadits,
dari pendapat-pendapat itu ada 3 pendapat yang menonjol yaitu:
a. Al-Hakim an-Naisaburi (w.405 H / 1014 M) mengemukakan bahwa hadits
syudzudz ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqh, tetapi orang
yang tsiqh lainnya tidka meriwayatkan hadits itu.
b. Ab Yala al-Khalili (w.446 H) mengemukakan hadits syudzudz ialah hadits
yang sanadnya hanya satu buah saja, baik periwayatnya bersifat tsiqh maupun
tidak bersifat tsiqh.
c. Imam Syafii (w.204 H / 820 M) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan
Hadits syudzudz ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqh, tetapi
riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak
perawi yang tsiqh juga. Pendapat ini yang banyak diikuti oleh ulama hadits
sampai saat ini.
37
Dari penjelasan asy-Syafii di atas dapat dinyatakan bahwa hadits syadz
tidak disebabkan oleh karena kesendirian individu periwayat dalam sanad hadits,
yang dalam ilmu hadits dikenal dengan istilah fard muthlaq dan karena periwayat
yang tidak tsiqt.
Hadits baru berkemungkinan mengandung sydzudz, apabla hadits itu
memiliki lebih dari satu sanad, para periwayat hadits itu seluruhnya tsiqt, dan
matan atau sanad hadits itu ada yang mengandung pertentangan.
Ulama hadits pada umumnya mengakui bahwa meneliti syudzudz dan illat
hadits tidaklah mudah. Sebagian ulama menyatakan:
36
Mahmud, Thahan, Op. Cit, h. 30
37
Ahmad bin Al bin Hajar al-Asqalani, Nuzhatun NAzar Syarh Nukhbah al-Fikr,
(Semarang: Maktabah al-Munawwar, t.th), hal. 20
15
a. Penelitian tentang syudzudz dan illat hadits hanya dapat dilakukan oleh mereka
yang mendalam pengetahuan hadits mereka dan telah terbiasa melakukan
penelitian hadits.
b. Penelitian terhadap syudzudz hadits lebih sulit daripada penelitian terhadap
illat hadits.
38
5. Terhindar dari Illat (cacat)
Illat menurut istilah ilmu hadits sebagaimana yang terdapat dalam kitab
Taisir mushthalah al-Hadits, Mahmud Thahan menyebutkan: Illat ialah sebab
yang tersembunyi yang merusak kualitas hadits. Keberadaannya menyebabkan
hadits yang pada lahirnya tampak berkualitas shahih menjadi tidak shahih.
39
Adapun cara meneliti illat suatu hadits adalah dengan cara membanding-
bandingkan semua sanad yang ada untuk matn yang isinya semakna. Ibnul Madini
(w.234 H / 849 M) dan al-Khatib al-Bagdadi (w. 463 H / 1072 M) memberi
petunjuk bahwa untuk meneliti illat hadits adalah dengan langkah-langkah:
a. Seluruh sanad hadits yang matannya semakna dihimpunkan dan diteliti, bila
hadits yang bersangkutan memang memiliki muttab ataupun syhid.
b. Seluruh periwayat dalam berbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang telah
dikemukakan oleh para ahli kritik hadits.
40
Menurut penjelasan ulama ahli kritik hadits, illat hadits umumnya
ditemukan pada:
a. Sanad yang tampak muttashil (bersambung) dan marfu (bersandar kepada
Nabi), tetapi kenyataanya mauquf (bersandar kepada sahabat Nabi) walaupun
sanadnya dalam keadaan muttasil (bersambung).
b. Sanad yang tampak muttashil dan marfu tetapi kenyataanya mursal (bersandar
kepada tabi), walapun sanadnya muttashil.
c. Dalam hadits itu telah terjadi kerancuan karena bercampur dengan hadits lain.
38
Jalalud-Din Abdurrahman bin Ab Bakr as Suyuti, Tadrib ar Rawi fi Syarh Taqrib an
Nawawi, (Beirut: Dar Ihya as-Sunnah an-Nabawiyyah, 1979 M), Juz I, hal. 233
39
Mahmud Thahan, Loc. Cit
40
Ibn as-Salah, Op. Cit, h. 82, as-Suyuti, Op. Cit, Juz II, hal. 253
16
d. Dalam sanad hadits itu terdapat kekeliruan penyebutan nama periwayat yang
memiliki kemiripan atau kesamaan dengan periwayat lain yang kualitasnya
berbeda.
41
Dalam kegiatan kritik sanad, beberapa massalah sering di hadapi oleh
peneliti hadits, misalnya:
a. Adanya periwayat yang tidak disepakati kualitasnya oleh para kritikus hadits.
b. Adanya sanad yang mengandung lambang-lambang anna, an, dan yang
semacamnya.
c. Adanya matan hadits yang memiliki banyak sanad, tetapi semuanya lemah
(dhaif).
42
Jarh wa Tadil untuk mengetahui nilai pribadi perawi
Al- Jarh menurut bahasa artinya melukai, sedangkan menurut istilah dalam
ilmu hadits al-Jarh berarti tampak jelasnya sifat pribadi periwayat yang tidak adil,
atau yang buruk dibidang hafalannya dan kecermatannya, yang keadaan itu
menyebabkan gugurnya atau lemahnya riwayat yang disampaikan oleh periwayat
tersebut.
43
At-Tadil artinya menurut bahasa adalah masdar dari kata adala, yakni
mengemukakan sifat-sifat adil yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan menurut
istilah dalam ilmu hadits at-Tadil berarti mengungkap sifat-sifat bersih yang ada
pada diri periwayat sehingga dengan demikian tampak jelas keadilan periwayat itu
dan karenanya riwayat yang disampaikannya dapat diterima.
44
Berikut ini akan dikemukakan sebagian dari teori-teori yang telah
dikemukakan oleh ulama-ulama ahli al-jarh wa tadil berkenaan dengan penelitian
para periwayat hadits.
41
Ibid. Lihat: Ibn as Salah; as-Suyuti, juz II, hal. 253 254
42
Yunahar Ilyas dkk, Op. Cit, hal. 10-11
43
Muhammad Ajjaj al-Khatib, Op. Cit, hal. 260
44
Ibid.
17
1. (at-Tadil didahulukan atas al-Jarh). Maksudnya adalah
jika seorang periwayat dinilai terpuji oleh seorang kritikus dan dinilai tercela oleh
kritikus lainnya, jadi yang dipilih adalah kritikan yang berisi pujian.
Alasannya adalah sifat dasar periwayat hadits adalah terpuji sedangkan
sifat tercela merupakan sifat yang dating kemudian. Karenanya bila sifat dasar
berlawanan dengan sifat yang dating kemudian maka yang harus dimenangkan
adalah sifat dasarnya. Pendukung teori ini adalah An-Nasi (w. 303 H / 915 M).
Pada umumnya ulama hadits tidak menerima teori tersebut karena kritikus
yang memuji tidak mengetahui sifat tercela yang dimiliki oleh periwayat yang
dinilainya, sedangkan kritikus yang mengemukakan celaan adalah kritikus yang
telah mengetahui ketercelaan periwayat yang dinilainya.
45
2. (al-Jarh didahulukan atas at-Tadil). Maksudnya adalah
jika kritikus dinilai tercela oleh seorang kritikus dan dinilai terpuji oleh kritikus
yang lainnya, maka yang didahulukan dan yang dipilih adalah kritikan yang berisi
celaan. Alasannya ialah:
a. Kritikus yang menyatakan celaan lebih paham terhadap pribadi periwayat yang
dicelanya itu.
b. Yang menjadi dasar untuk memuji seseorang periwayat adalah persangkaan
baik dari pribadi kritikus hadits dan prasangka baik itu harus dikalahkan bila
ternyata ada bukti tentang ketercelaan yang dimiliki oleh periwayat yang
bersangkutan.
Kalangan ulama hadits, ulama fiqih dan ulama ushul fiqih banyak yang
menganut teori tersebut. Dalam pada itu, banyak pula ulama kritikus hadits yang
menuntut pembuktian atau penjelasan yang menjadi latar belakang atas
ketercelaan yang dikemukakan terhadap periwayat tersebut.
46
Ustadz Abdul Qodir Hasan dalam bukunya Ilmu Musthalahul Hadits
halaman 468 menerangkan kaidah ini dengan gamblang,: Apabla seorang rawi
dipuji oleh seseorang (Ab Ahmad: Tadil), tetapi ada juga yang mencacat dia atau
45
M. Syuhudi Ismal, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Op.Cit, hal. 78.
46
Ibid.
18
menunjukkan celaannya (Ab Ahmad: Jarh), maka yang dipakai ialah celaan
orang itu, jika celaannya beralasan (Ab Ahmad: Jarh Mufassar).
Contohnya seperti: Ibrahim bin Ab Yahya Ab Ishaq. Imam Syafii dan
Ibnu Ash bahani menganggap dia sebagai seorang kepercayaan. Tetapi berkata
Ibnu Hibban: Adalah ia berpendirian Qadariyah, dan bermadzhab kepada
omongan Jahmiyah, tambahan pula ia pernah berdusta dalam urusan hadits
Syafii dan Ibnul Ashbahani memuji dia, sedang Ibnu Hibban menunjukkan
celanya. Jadi yang dipakai disini adalah omongan Ibnu Hibban.
47
3. (Apabla terjadi
pertentangan antara kritikan yang mencela dan yang memuji, maka yang harus
dimenangkan adalah kritikan yang memuji, kecuali apabla kritikan yang mencela
disertai penjelasan tentang sebab-sebabnya).
Alasannya adalah kritikus yang mampu menjelaskan sebab-sebab
ketercelaan periwayat yang dinilainya lebih mengetahui terhadap pribadi
periwayat tersebut daripada kritikus yang hanya mengemukakan pujian terhadap
periwayat yang sama.
Pendukung teori ini adalah jumhur ulama ahli kritik hadits. Sebagian dari
mereka ada yang menyatakan bahwa:
a. Penjelasan ketercelaan yang dikemukakan itu haruslah relevan dengan upaya
penelitian.
b. Bila kritikus yang memuji telah mengetahui juga sebab-sebab ketercelaan
periwayat yang dinilainya itu dan dia memandang sebab-sebab ketercelaannya
itu memang tidak relevan ataupun telah tidak ada lagi, maka kritikan yang
memuji itu yang harus dipilih.
48
Dari keterangan diatas jelaslah bahwa jika ada sekelompok ulama ahlus
sunnah memuji/mentadil seseorang namun ada ulama ahlus sunnah yang
mencela/menjarh orang itu maka kita lebih mendahulukan jarh tersebut jika jarh
47
http://ikhwan-interaktif.com/islam/?pilih=news&aksi=lihat&id=2525
48
M. Syuhudi Ismal, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Op.Cit, hal. 79
19
itu beralasan. Namun jika jarh tidak beralasan atau tidak dijelaskan sebab sebab
jarh maka tadil lebih diutamakan.
4. (Apabla kritikus yang mengemukakan
ketercelaan adalah orang yang tergolong dhaif, maka kritikannya terhadap orang
yang tsiqh tidak diterima). Maksudnya ialah apabla yang mengkritik adalah
orang yang tidak tsiqh, sedangkan yang dikritik adalah orang yang tsiqh,maka
kritikan orang yang tidak tsiqh tersebut harus ditolak.
Alasannya adalah karena orang yang bersifat tsiqh dikenal lebih berhati-
hati dan lebih cermat daripada orang yang bersifat tidak tsiqh. Pendukung teori
ini adalah jumhur ulama ahli kritik hadits.
49
5. (Al-Jarh tidak diterima kecuali
setelah ditetapkan (diteliti dengan cermat) dengan adanya kekhawatiran terjadinya
kesamaan tentang orang-orang yang dicelanya). Maksudnya ialah apabla nama
periwayat memiliki kesamaan ataupun kemiripan dengan nama periwayat lain lalu
salah seorang periwayat itu dikritik dengan celaan, maka kritikan itu tidak dapat
diterima, kecuali telah dapat dipastikan bahwa kritikan itu terhindar dari
kekeliruan akibat adanya kesamaan atau kemiripan nama tersebut.
Alasannya adalah suatu kritikan harus jelas sasarannya. Dalam mengkritik
pribadi seseorang maka orang yang dikritik haruslah jelas dan terhindar dari
keragu-raguan atau kekacauan. Pendukung teori ini adalah jumhur ulama ahli
kritik hadits.
50
6. (Al-Jarh yang dikemukakan oleh orang
yang mengalami permusuhan dalam masalah keduniawian tidak perlu
diperhatikan).
Alasannya adalah pertentangan pribadi dalam masalah dunia dapat
menyebabkan lahirnya penilaian yang tidak jujur. Kritikus yang bermusuhan
49
Ibid, hal. 80
50
Ibid.
20
dalam masalah dunia dengan periwayat yang dikritik dengan celaan dapat berlaku
tidak jujur karena didorong oleh rasa kebencian.
51
Kitab-Kitab yang diperlukan dalam Kritik Sanad
Adapun kitab-kitab yang diperlukan dalam membantu melakukan kritik sanad
hadits diantaranya adalah:
a. Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para sahabat Nabi, seperti: al-istiab
fi marifati al-ashhab, Usud al gabati fi marifati as-shahabat, al-Ishabatu fi
tamyizi shahabat.
b. Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para periwayat hadits yang disusun
berdasarkan tingkatan para periwayat dilihat dari segi tertentu, seperti kitab ath-
thabaqatu al-kubra, kitab at tadzkirati al-hufazh.
c. Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadits secara umum, seperti kitab at-
tarikhu al-kabr dan al-jarh wa at-tadil.
d. Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadits untuk kitab-kitab hadits
tertentu, seperti kitab al-hidayatu wa al-irsyadu fi marifati ahli ats-tsiqh wa as-
sadad, rijalu shahih muslim, dan lain-lain.
e. Kitab-kitab yang membahas kualitas para periwayat hadits, seperti kitabu ats-
tsiqt, lisanu al-mizan, kitabu adh-dhuafa, dan lain-lain.
f. Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadits berdasarkan negara asal
mereka. Seperti tarikhu wasith, tarikhu bugdad, mukhtasharu tabaqati ulama
ifriqiyyati wa tunis, dan lain-lain.
g. Kitab-kitab yang membahas illat hadits, seperti Ilalu al-hadits, al-ilalu wa
marifatu ar-rijal, al-Ilal, dan lain-lain.
52
51
Ibid.
52
Ibid, h. 89 - 97
21
Contoh Kritik Sanad Hadits:
Contoh hadits tentang ancaman sumpah palsu:
` ` `` ` ` `` `` ' ` `` ` `' `` ` ` ` `
` ` ` `` `` ` `' ` ` `` ` `` ` ``
`` ` ` ` ` ` ` ` `` ` ` ``
` ` ` ` ` ` ` ` `` ` `
` , ` ` `` ` ` ` ` .
, ,
Artinya: Yahya bin Ayyub, Quthaibah bin Said, dan Al bin Hujr semuanya
telah memberitakan kepada kami dari Ismal bin Jafar. Ibnu Ayyub berkata:
Telah memberitahukan kepada kami Ismal bin Jafar katanya: telah memberikan
khabar kepada kami Al-Ala yaitu Ibnu Abdurrahman maula Al-Hurqah dari
Mabad bin Kaab As-Salami dari saudaranya yaitu Abdullah bin Kaab dari Ab
Umamah Al-Harits r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang
mengambil hak orang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan
baginya api neraka dan Dia mengharamkan baginya surga. Seseorang bertanya
kepada Rasulullah SAW., Walaupun hanya sedikit, wahai Rasulullah ? Beliau
menjawab, Walaupun hanya setangkai daun pohon duri. (HR. Muslim).
53
53
Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani, Bulugul Maram Min Adillatil Ahkam, Beirut: Darul
Fikri. 1998. Hal. 247. Lihat : Imam Muhammad bin Ismal Amir Yaman Ash Shanani, Subulus salam
Syarh Bulugul Maram Min Jami Adillatil Ahkam Jilid 4, Beirut: Darul Fikri, 1995. Hal. 133. Lihat:
Imam Ab Al-Husin Muslim Bin Al-Hajjaj Ibnu Muslim Al-Qusyairi An-Nisaburi, Al-Jamiu Al-
Shahih Fi Bab Al-Yamin Ala Al-Muddai Alaih, Beirut: Darul Fikri, Juz: 1, Hal. 85.Lihat:
Muhammad Fuad Abdul Ash, Al-Mujam Al-Mufahras Li Alfazhil Al-Hadits An-Nabawi An Al-
Kitab As-Sittah Wa An Musnad Ad-Darimi Wa Muwaththa Malik Wa Musnad Ahmad Bin Hanbal,
Lidan: Barbil, 1955, Juz: 5, hal: 430
22
Tinjauan tentang para perawi:
Yahya bin Ayyb, nama lengkap beliau adalah Yahya bin Ayyub Al-Maqabri
Ab Zakaria al-Ghadadi al-Abd. Dilahirkan pada tahun157 H dan wafat pada tanggal
2 Rabul Awwal 234 H. Guru-guru beliau adalah Ismal bin Jafar, Abdullah bin
Mubarak, Hasyim, marwan bin Muawiyah, Ibn Wahab, dan lain-lain. Sedangkan
murid-murid beliau adalah Imam Muslimi, Ab Daud, Imam Bukhari, Imam Nasi,
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Ibnu Syuaib Al-Hirany mengatakan
bahwasanya Yahya bin Ayyub adalah seorang hamba pilihan Allah SWT. Imam
Husein bin Fahmi juga mengatakan bahwa Ibnu Yahya bin Ayyub adalah orang yang
tsiqh (kuat), wara, muslim yang baik, berkata-kata sesuai dengan sunnah.
54
Qutaibah bin Said, Nama lengkap beliau adalah Qutaibah bin Said bin Jamil
bin Tharif bin Abdullah Ats-Tsaqafy. Ibnu Adi mengatakan: nama beliau adalah
Yahya, sedangkan Qutaibah adalah gelar. Sedangkan Ibnu mundah mengatakan :
nama beliau adalah Al. Guru-guru beliau adalah : Malik, Al-Laits, Rasyidin bin
Saad, Ismal bin Jafar, Ismal bin Alyah, ibnu Dhamrah, Ibnu Usamah, Marwan
bin Muawiyah, dan lain-lain.Murid-murid beliau adalah: Imam Bukhari, Imam
Muslim, Imam Ab Daud, Imam Nasi, Imam TarmidziAhmad bin Saad Ad-
Darimy, Ab Bakar bin Syaibah, dan lain-lain. Ibnu Muayyan, Ab Hatim, dan
Imam Nasi mengatakan bahwa Qutaibah adalah orang yang tsiqh (kuat). Imam
Nasi menambahkan, beliau juga dalah orang yang shuduq (dapat dipercaya).
Farhiyany mengatakan : Qutaibah adalah orang yang dapat dipercaya. Al-hakim juga
berpendapat: Qutaibah adalah orang yang tsiqtun mamun (kuat lagi amanah).
55
Al bin Hujrin, Nama lengkap beliau adalah Al bin Hujrin bin Iyas bin
Maqatil bin Makhadis bin Masymarakh bin Khalid As-Sady Ab Al-Husein Al-
Maruzy. Guru-guru beliau adalah : ayah beliau sendiri, maruf al-Khiyath temannya
Watsilah, Halaf bin KhAlfah, Ismal bin Jafar, Ismal bin Alyah, dan lain-lain.
Murid-murid beliau adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tarmidzi, Imam
54
Al-Hafizh Syihabuddin bin Al bin Hajar AlAsqalani, Tahdzibut Tahdzib, (Hindi: Darul
Maarif, 1325 H), Jilid: 1, hal. 188.
55
Al-Hafizh Syihabuddin bin Al bin Hajar AlAsqalani, Tahdzibut Tahdzib, (Beirut: Darul
Fikr, 1995 / 1415 H) Juz: 6. hal. 488-489.
23
Nasi, Muhammad bin Al bin Hamzah, dan lain-lain. Muhammad bin Al bin
Hamzah mengatakan bahwa Al bin hujrin adalah fhadilan, hafizhan (orang yang
mulia dan kuat hafalan). Imam Nasi mengatakan behawa Al bin Hujrin adalah
orang yang tsiqtun mamun hafizhan (kuat dan amanah lagi kuat hafalan). Al-
Khathib mengatakan beliau adalah oranga yang dapat dipercaya, takwa, kuat hafalan,
dan hadits beliau terkenal di Meru.
56
Ismal bin Jafar, Nama lengkap beliau adalah Ismal bin Jafar bin Ibn
Katsir Al-Anshary Az-Zarqy Maula Ab Ishaq Al-Fary. Guru-guru beliau adalah ab
Thawalah, Abdullah bin Dinar, Rabah, Jafar Shadiq, Israil bin Yunus, Amru bin
Ab Amru, Ala Ibn Abdurrahman, Muhammad bin Amru bin Ab Halhamlah, dan
lain-lain. Murid-murid beliau adalah Muhammad bin Jahdam, Yahya bin Yahya An-
NisAbri, Sarih ibn Numan, Qutaibah bin Zanbur, Yahya bin Ayyub Al-Maqabry,
Al bin Hujrin, dan lainnya. Ahmad, Ab Zarah dan Imam Nasi mengatakan bahwa
Ismal bin Jafar adalah orang yang tsiqh (kuat). Ibnu Muayyan dan Ibn Saad
mengatakan bahwa Ismal bin Jafar adalah tsiqh.
57
Ibnu Abdurrahman (Ab AlAla), penulis belum dapat menemukan biografi
beliau.
Mabad bin Kaab As-Salami. Nama lengkap beliau adalah Mabad bin Kaab
bin Malik Al-Anshari As-Salamy Al-Madani. Guru-guru beliau seperti Ibnu Qatadah,
Jabr, saudara-saudara beliau yaitu Abdullah bin Kaab dan Ubaidullah bin Kaab.
Murid-murid beliau seperti Wahab bin Kisan, Muhammad bin Amru bin Halhalah,
Ala bin Abdurrahman, Walid bin Katsir, Ibnu Ishaq, Usamah bin Zaid Al-Laits, Isa
bin Muawiyah, dan lain-lain.
58
Abdullah bin Kaab, Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Kaab bin
Malik Al-Anshari As-Salamy Al-Madani. Guru-guru beliau adalah Ab Ayyub, Ab
Lubabah, Ab Umamah bin Tsalabah, Utsmn bin Affn, Ibnu Abbas, Jabr, dan
lainnya. Sedangkan murid-murid beliau adalah anak beliau sendiri yaitu
Abdurrahman, saudara-saudara beliau seperti Abdurrahman, Mabad bin Kaab,
56
Al-Asqalani, (Hindi: Darul Maarif) op.cit. Jilid 9. hal. 293 294.
57
Ibid. Jilid: 1 hal. 287 - 288
58
Ibid, Juz 8. hal. 280.
24
Zuhri bin Ibrahim, Abdullah bin Ab Ummah bin Tsalabah, dan lannya. Pendapat
para ulama tentang beliau, seperti Ab Zarah mengatakan bahwa beliau orang yang
tsiqh, Ibnu Saad mendengar dari Utsmn bahwa Abdullah bin Kaab adalah orang
yang tsiqh.
Ab Umamah, Nama lengkap beliau adalah Ab Umamah Iyas bin Tsalabah
bin Al-Harits Al-Anshari Al-Khajraji. Dia tidak menyaksikan Perang badar karena
orang tuanya terkena sakit dan telah mendapat izin dari Rasulullah SAW untuk tidak
mengikuti Perang Badar tersebut. Ab Umamah adalah seorang sahabat yang
memiliki banyak hadits. Di antara murid-muridnya adalah Muhammad bin Zaid bin
Al-Muhajir dan anaknya Abdullah bin Umamah.
Imam Muslim. Nama lengkapnya: Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi
Abl Husain an-NaisAbri. Wafat: 261 H. Guru-gurunya antara lain: Zuhair bin
Harb, Ibn Ab Syaibah, Ahmad bin Yunus, Ismail bin Uwais, Daud bin Amru. Murid-
muridnya antara lain: Ahmad bin salamah, Ibrahim bin Ab Thalib, Ab Amru al-
Kharaf. Derajatnya: Menurut Ab Hitam: Tsiqh, al-Jarudi berkata: Ia sangat banyak
mengetahui hadis. Ibn Qasim: Tsiqh.
59
D. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan terdahulu, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk melakukan kritik sanad hadits, harus mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Melakukan Itibar, yaitu menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadits
tertentu yang hadits itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang
periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan
dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian
sanad dari sanad hadits yang dimaksud. Selanjutnya adalah dengan membuat
skema rawi hadits yang dimaksud.
59
Ibid.
25
2. Kaidah kesahihan hadits dijadikan sebagai acuan untuk meneliti sanad hadits,
kaidah-kaidah tersebut adalah:
a. Sanad bersambung.
b. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat adil
c. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhbit
d. Sanad hadits itu terhindar dari kejanggalan (syudzudz)
e. Sanad hadits itu terhindar dari cacat (illat)
26
DAFTAR PUSTAKA
Fathurrahman, 1974, Mustalahul Hadits, Bandung: Al Maarif.
Assaidi, Sadullah, 1996, Hadits-hadits Sekte, Jokjakarta: Pustaka Pelajar.
Ash, Muhammad Fuad Abdul, 1955, Al-Mujam Al-Mufahras Li Alfazhil Al-Hadits An-
Nabawi An Al-Kitab As-Sittah Wa An Musnad Ad-Darimi Wa Muwaththa Malik Wa
Musnad Ahmad Bin Hanbal, Lidan: Barbil.
Asqalani, Ahmad bin Al bin Hajar al-, 1325 H, Tahzib at Tahzib, India: Majlis Dairat al-
Maarif an-Nizamiyyah. Juz II dan Juz XII
___________________________, Nuzhatun Nazar Syarh Nukhbah al-Fikr, Semarang:
Maktabah al-Munawwar.
____________________________, 1998, Bulugul Maram Min Adillatil Ahkam, Beirut: Darul
Fikri.
Asqalani, Al-Hafizh Syihabuddin bin Al bin Hajar Al- , 1325, Tahdzibut Tahdzib, Hindi:
Darul Maarif.
Abadi, Al-Alamah Ibnu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al-Azhim, Aunul Mabud
Syarh Sunan Ab Daud Fi Bab Ilmi, Beirut: Darul Fikri.
Bagdadi, Ab Bakr Ahmad bin Al Sabt al-Khatib al-, 1972, Kitab al Kifayah fi Ilmir
Riwayah, Mesir: Matbaah as-Saadah.
Husain, Ab Lubabah, 1399 H / 1979 M, al-Jarh wa Tadil, Riad: Dar al Liwa.
Ibn as Salah, Ab Amr Usman bin Abdirrahman, 1972, Ulum al-Hadits, (naskah diteliti
oleh Nurud-Din itr, al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-Ilmiyyah.
Ilyas, Yunahar, Drs, Lc, dkk, 1996, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta: LPPI.
Ismal, H. M. Syuhudi, Prof. Dr, 1992, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan
Bintang.
_______________________, 1995, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits, Telaah Kritis dan
Tinjauan dengan Pendekatan SejarahJakarta: PT. Bulan Bintang.
______________________, 1995, Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan
Pemalsunya, Jakarta; Gema Insani Press.
Khatib, Muhammad Ajjaj al-, 1989 M/1409 H, Ushulul al-Hadits, Beirut: Dar al Fikr.
_____________________, 1993 M / 1414 H, as-Sunnah Qabla Tadwin, Beirut: Dar al Fikr.
Nisaburi, Imam Ab Al-Husin Muslim Bin Al-Hajjaj Ibnu Muslim Al-Qusyairi An-, Al-
Jamiu Al-Shahih, Beirut: Darul Fikri.
Poerwadarminta, W.J.S, 1985, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Qazawaini, Al-Hafizh Ab Abdillah Muhammad Bin Mazid Al-, Sunan Ibnu Majjah Fi Kitab
Ahkam Bab Shulhu.
27
Salh, Subhi as-, 1977, Ulum al-Hadits wa Mustalahuhu, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin.
Sayuti, Jalalud-Din Abdurrahman bin Ab Bakr as-, 1979, Tadrib ar Rawi fi Syarh Taqrib
an Nawawi, Beirut: Dar Ihya as-Sunnah an-Nabawiyyah.
Shalh, Subhiy al-, 1977, Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Beirut: Dar al-Ilm li al-
malayin..
Shanani, Imam Muhammad bin Ismal Amir Yaman Ash-, 1995, Subulus salam Syarh
Bulugul Maram Min Jami Adillatil Ahkam Jilid 4, Beirut: Darul Fikri.
Suparta, Munzier, Drs, MA, 2008, Ilmu Hadits,Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suyuti, As-, 1979, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an Nawawi, Beirut: Dar Ihya as-Sunnah
an-Nabawiyah.
Thahan, Mahmud, Taisir Mushthalahul hadits, Beirut: Dar Al-Fikr, t.t.
Yaqub, Ali Mustafa, Prof, KH, MA, 2008, Kritik Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus.