Anda di halaman 1dari 19

1

PENDIDIKAN KELUARGA
SURAH AT-TAUBAH AYAT 71 DAN ALI IMRAN AYAT 18
Agar keluarga mampu menjalankan fungsinya dalam mendidik anak secara
Islami, maka sebelum dibangun keluarga perlu dipersiapkan syarat-syarat
pendukungnya. Al-Quran memberikan syarat yang bersifat psikologis, seperti saling
mencintai, kedewasaan yang ditandai oleh batas usia tertentu dan kecukupan bekal
ilmu dan pengalaman untuk memikul tanggung jawab yang di dalam al-Quran
disebut baligh. Selain itu, kesamaan agama juga menjadi syarat terpenting.
Kemudian tidak dibolehkan menikah karena ada hal-hal yang menghalanginya dalam
ajaran Islam, yaitu syirik atau menyekutukan Allah dan dilarang pula terjadinya
pernikahan antara seorang pria suci dengan perempuan pezina. Selanjutnya, juga
persyaratan kesetaraan (kafaah) dalam perkawinan baik dari segi latar belakang
agama, sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan memperhatikan persyaratan
tersebut, maka diharapkan akan tercipta keluarga yang mampu menjalankan
tugasnyasalah satu di antaranyamendidik anak-anaknya agar menjadi generasi
yang tidak lemah dan terhindar dari api neraka. Allah SWT berfirman:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
2
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.(QS. At-Tahrim: 66)
Karena besarnya peran keluarga dalam pendidikan, keluarga dikategorikan
sebagai lembaga pendidikan primer, utamanya untuk masa bayi dan masa anak-anak
sampai usia sekolah. Dalam lembaga ini, sebagai pendidik adalah orang tua, kerabat,
famili, dan sebagainya. Orang tua selain sebagai pendidik, juga sebagai penanggung
jawab.
Untuk memenuhi harapan tersebut, al-Quran juga menuntun keluarga agar
menjadi lingkungan yang menyenangkan dan membahagiakan, terutama bagi
anggota keluarga itu sendiri. Al-Quran memperkenalkan konsep kelurga sakinah,
mawaddah, wa rahmah. Firman Allah SWT:


Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berfikir. (Q.S. Ar-Rum : 21)
Dengan demikian, keluarga harus menciptakan suasana edukatif terhadap
anggota keluarganya sehingga Tarbiyah Islamiyah dapat terlaksana dan
menghasilkan tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
3
A. Surah At-Taubah ayat 71
_`...l ....l .-, ',!,l _-, _'.!, .`-.l!, _ ., _s >..l
_.,1`, :l.l _.`, :l _`-,L`, < .`. ,.l` `.-,. < _| <
,s ',>> _
Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian
mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan
diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (QS. At-Taubah: 71)
Dalam surah at-Taubah ayat 71 ini, ada beberapa point terpenting yang Allah
sampaikan kepada manusia yaitu:
1. Membiasakan tolong-menolong
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari bantuan
orang lain. Setip hari, minggu, bulan dan tahun pun manusia pasti selalu memerlukan
bantuan orang lain. Suatu hal yang sangat mustahil apabila manusia dapat hidup
sendirian tanpa bantuan orang lain. Namun tidak diketahui dengan pasti apakah
bantuan itu berupa kebaikan atau keburukan.
Membantu sama artinya dengan menolong. Dalam ajaran Islam, menolong
merupakan perbuatan terpuji, baik menolong terhadap sesama ataupun terhadap
hewan. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud perbuatan terpuji tersebut adalah
menolong dalam hal kebaikan saja. Rasulullah sebagai suri teladan umat selalu
menolong kepada orang yang mendapat kesulitan. Tidak hanya kepada orang lain
4
saja, akan tetapi Rasulullah pun membiasakan hal ini dalam kehidupan berkeluarga.
Rasulullah sering membantu istri-istrinya dalam berbagai macam urusan, kendati
urusan itu seharusnya dikerjakan oleh perempuan dan beliau pun tidak malu-malu
mengerjakannya. Diriwayatkan oleh Bukhari dari jalan Al-Aswad yaitu:


Artinya: Dari Aswad berkata: aku bertanya kepada Aisyah r.ha: Apa yang
dikerjakan Nabi ketika berada di rumah? Aisyah r.ha berkata: Adalah beliau
(suka) membantu keluarganya dan apabila sampai waktu shalat beliau keluar
(HR. Bukhari).
1
Dalam kehidupan berumah tangga, sikap tolong menolong antar anggota
keluarga menjadi sebuah kebiasaan dan bahkan menjadi kewajiban yang harus
dilaksanakan. Membiasakan tolong-menolong dalam rumah tangga harus dimulai
dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Misalnya: orang tua menyuruh si anak
untuk memberi uang kepada pengemis. Dengan adanya perintah tersebut, secara tak
langsung orang tua telah mendidik anak untuk menolong orang lain. Jika hal
demikian terus dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan anak akan mampu
mengaplikasikan kebiasaan tolong menolong ini dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada intinya, tolong menolong hendaknya untuk kebaikan saja bukan untuk
keburukan (maksiat kepada Allah). Allah berfirman yang artinya:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
1
Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, Shahih Bukhary, jild. I (Beirut: Dar Ihya At-Tursats Al-Araby,
t,th.), hal. 157
5
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-
Maidah: 2)
2. Menghidupkan suasana beragama di rumah tangga (Keluarga Islami)
Keluarga adalah kesatuan yang utuh, teratur, dan sempurna. Dari situ
bergelora perasaan yang halus dan sukma yang hidup, yang dianggap sebagai mata
air perikemanusiaan dan telaga pesaudaraan sejagad yang tidak pernah kering.
Struktur rumah tangga yang terbentuk melalui hubungan pernikahan
mengandung tanggung jawab sekaligus meliharkan rasa saling memiliki dan saling
berharap (mutual expectation). Perikatan hukum yang diikuti perikatan batin itu akan
menimbulkan saling asah, asih dan asuh yang tercermin dalam pelaksanaan hak dan
kewajiban.
Setiap keluarga Muslim pasti menginginkan rumah tangga yang bernafaskan
Islam atau disebut rumah tangga Islami. Rumah tangga Islami adalah sebuah rumah
tangga yang didirikan di atas landasan ibadah yang di dalamnya ditegakkan adab-
adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga.
Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran
dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang maruf dan mencegah yang
mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah. Mereka betah tinggal di dalamnya
karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhidmat kepada Allah swt
dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.
Rumah tangga Islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat iklim yang
sakinah (tenang), mawadah (penuh cinta), dan rahmah (sarat kasih sayang).
Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota
6
keluarga merasakan suasana surga di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan
mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Allah pun berfirman yang
artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum 30:21)
Dalam rumah tangga sakinah, mawadda wa rahmah akan ditemui suasana
yang sehat bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Anak-anak telah diarahkan
sejak dini untuk memiliki aqidah, visi hidup, pola pikir dan akhlak yang benar.
Mereka tumbuh dan berkembang dalam suasana kondusif menuju pribadi dewasa
yang memiliki aqidah sehat, ibadah benar, ahklak sempurna, fisik yang kuat,
mandiri, pandai mengatur dan mengurus urusannya, bertanggung jawab, pandai
mengatur waktu, dan optimal dalam memanfaatkan potensinya untuk meraih materi.
Prinsip-prinsip dasar rumah tangga yang bisa disebut Islami dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Pertama, tegak di atas landasan ibadah. Rumah tangga Islami harus didirikan
dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh,
landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan
agamanya, bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan,
maupun atribut-atribut fisikal lainnya. Nabi saw bersabda yang artinya:
7
Dari Jabir r.a, Nabi saw telah bersabda:Sesungguhnya perempuan itu dinikahi
orang karena agamanya, hartanya dan kecantikannya, maka pilihlah (olehmuu)
yang beragama. (HR. Muslim dan Tirmidzi).
2
Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau
melangsungkan pernikahan harus tidak lepas dari prinsip ibadah. Prosesi
pernikahannya pun, sejak akad nikah hingga walimah, tetap dalam rangka ibadah,
dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan
dalam suasana taabudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu.
Kedua, nilai-nilai Islam dapat terinternalisasi secara kaffah. Internalisasi
nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota
keluarga, sehingga mereka senantiasa komitmen terhadap adab-adab Islami. Untuk
itu, rumah tangga Islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah yang
memadai, agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi
dalam kehidupan sehari-hari bisa diwujudkan. Misalnya dalam pelaksanaan shalat,
sebagaimana hadits Nabi saw:
: :

) (
Artinya: Abdullah bin Amru bin Ash r.a.,Rasulullah saw. bersabda,Suruhlah
anakmu melakukan shalat bila umurnya sudah tujuh tahun, dan pukullah dia
bila meninggalkan shalat sedang umurnya sudah sepuluh tahun, dan
pisahkanlah tempat tidur anak laki-laki dengan anak perempuan. (HR. Abu
Daud dan Hakim).
3
2
Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, (Jakarta: At-Thahiriyah, t.th), hal. 360
3
Software Maktabah Syamilah, Sunan Abu Daud, Juz 2, hal. 88. no. hadits 418
8
Ketiga, hadirnya qudwah yang nyata. Diperlukan qudwah (keteladanan) yang
nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki
posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan
kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama
kali orang tua harus memberikan keteladanan. Keteladanan semacam ini amat
diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya dalam keluarga
amat dekat. Anak-anak akan langsung mengetahui kondisi ideal yang diharapkan. Di
sisi lain, pada saat anak-anak masih belum dewasa, proses penyerapan nilai lebih
tertekankan pada apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini orang tua sepantasnya lebih banyak memberi peringatan terhadap anak
agar senantiasa menghindari maksiat dan takut kepada Allah, sebagaimana hadits
Nabi saw:
: :
): (
Artinya: Dari Ibnu Umar,Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu
angkatkan tongkat (untuk mengancam) keluargamu, timbulkanlah rasa takut
mereka pada Allah azza wajalla. (HR.Thabrani).
4
Keempat, masing-masing anggota keluarga diposisikan sesuai syariat.
Dalam rumah tangga Islami, masing-masing anggota keluarga telah mendapatkan
hak dan kewajibannya secara tepat dan manusiawi. Suami adalah pemimpin umum
yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup rumah tangga. Istri adalah
pemimpin rumah tangga untuk tugas-tugas internal. Nabi saw bersabda:
4
Software Maktabah Syamilah, Mujam al-Kabir li at-Thabrani, Juz 11, hal. 92. no. hadits 13
9


) (
Artinya: Dari Abdullah ibn Umar r.a, ia mendengar Rasulullah saw bersabda:
Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggungjawab atas
orang yang dipimpinnya. Raja adalah pemimpin, laki-laki pun pemimpin atas
keluarganya dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-
anaknya, maka kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan
dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari-Muslim).
5
Kelima, membiasakan sikap taawun (tolong-menolong) dalam menegakkan
adab-adab Islam. Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak
gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri
secara tepat, maka taawun dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.
Ketujuh, tercukupinya kebutuhan materi secara wajar. Demi mewujudkan
kebaikan dalam rumah tangga Islami itu, tak lepas dari faktor biaya. Memang materi
bukanlah segala-galanya. Ia bukan pula merupakan tujuan dalam kehidupan rumah
tangga tersebut. Akan tetapi, tanpa materi, banyak hal tak bisa didapatkan.
Kedelapan, rumah tangga dihindarkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan
semangat Islam. Menyingkirkan dan menjauhkan berbagai hal dalam rumah tangga
yang tak sesuai dengan semangat keislaman harus dilakukan. Pada kasus-kasus
tertentu yang dapat ditolerir, benda-benda hiasan, dan peralatan harus dibuang atau
dibatasi pemanfaatannya.
5
Husaini A. Majid Hasyim, Riyadhus Shalihin, (Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, t.th), hal. 479.
10
Kesembilan, anggota keluarga terlibat aktif dalam pembinaan masyarakat.
Rumah tangga Islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi kebaikan
masyarakat sekitarnya, sebagai sebuah upaya pembinaan masyarakat (ishlah al-
mujtama) menuju pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam yang shahih,
untuk kemudian berusaha bersama-sama membina diri dan keluarga sesuai dengan
arahan Islam. Betapa pun taatnya keluarga kita terhadap norma-norma Ilahiyah,
apabila lingkungan sekitar tidak mendukung, pelunturan terhadap nilai-nilai agama
akan mudah terjadi, terlebih lagi pada anak-anak.
Kesepuluh, rumah tangga dijaga dari pengaruh lingkungan yang buruk.
Dalam kondisi keluarga islami yang tak mampu memberikan nilai kebaikan bagi
masyarakat sekitar yang terlampau parah kerusakannya, maka harus dilakukan
upaya-upaya serius untuk, paling tidak, membentengi anggota keluarga. Harus ada
mekanisme penyelamatan internal, agar tak larut dan hanyut dalam suasana jahili
masyarakat di sekitarnya. Pada suatu kasus yang sudah amat parah, keluarga muslim
bahkan harus meninggalkan lokasi jahiliyah itu dan mencari tempat lain yang lebih
baik. Hal ini dilakukan demi kebaikan mereka sendiri.
6
Demikianlah beberapa karakter dasar sebuah rumah tangga yang Islami.
Dengan adanya bangunan rumah tangga Islami, rumah tangga teladan yang menjadi
panutan dan dambaan umat inilah, maka masyarakat Islami dapat diwujudkan.
B. Surah Ali Imran ayat 18
6
Dikutip dari www.embuntarbiyah.co.id/menuju-rumah-tangga-Islami.html
11
.: < .. .l| | > >.l.l l` l-l !.! 1`.1l!, .l| | > ',-l
`,>l _
Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang
berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang
berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang
berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran: 18)
Pada ayat 18 dalam surah Ali Imran ini, Allah secara tegas menyatakan kepada
umat manusia bahwa hanya Dia-lah Tuhan yang patut disembah. Hal ini berarti suatu
larangan untuk menyekutukan Allah, kemudian selanjutnya Allah memerintahkan untuk
menegakkan keadilan.
Dalam hal ini, ada dua point terpenting yang dimaksud oleh Allah pada surah Ali
Imran ayat 17 tersebut. Dua point terpenting tersebut yaitu:
1. Larangan menyekutukan Allah (Syirik)
Syirik menurut bahasa adalah persekutuan/bagian. Sedangkan menurut istilah
ialah mempersekutukan Allah dengan lain-Nya atau menyamakan selain Allah
dengan Allah. Ada juga yang mengatakan bahwa syirik artinya kufur, disamping itu
pula ada yang mengatakan bahwa syirik merupakan salah satu diantara macam-
macam kekufuran.
7
Karena syirik bisa membawa kepada kekufuran terhadap Allah, maka syirik
dihukumkan menjadi dosa besar. Allah berfirman yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya.
7
Syamsuddin Adz-Dzahabi, 75 Dosa Besar, (Surabaya: Media Idaman, 1987), hal. 12
12
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa
besar. (QS. An-Nis: 48)
Syirik terbagi menjadi dua macam yaitu syirik besar dan syirik kecil. Syirik
besar ialah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti
mendekatkan diri kepada selain-Nya dengan cara menyembelih kurban, baik untuk
kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah yang tidak kuasa
memberikan manfaat maupun mudharat. Syirik besar ini terbagi lagi kepada empat
macam, yaitu:
a. Syirik doa yaitu disamping berdoa kepada Alah, ia juga berdoa kepada
selainnya.
b. Syirik niat yaitu seseorang menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah.
c. Syirik ketaatan yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiat kepada
Allah.
d. Syirik mahabbah (kecintaan) yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah
dalam hal kecintaan. Misalnya mencintai seseorang, baik wali atau lainnya
layaknya mencintai Allah.
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-
tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada
Allah (QS. Al-Baqarah: 165).
Mahabbah dalam ayat ini adalah mahabbatul ubudiyah (cinta yang
mengandung unsur-unsur ibadah), yaitu cinta yang disertai dengan
ketundukan dan kepatuhan mutlak serta mengutamakan yang dicintai
13
daripada yang lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah,
hanya Allah yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan
disetarakan dengan-Nya sesuatu apapun.
8
Sedangkan syirik kecil ialah ingin mendapatkan pujian dari orang lain dalam
beramal. Syirik kecil terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Syirik zhahir (nyata) yaitu syirik dalam bentuk ucapan dan perbuatan,
misalnya bersumpah dengan nama selain Allah.
b. Syirik khafi (tersembunyi) yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti
riya (ingin dipuji) dan sumah (ingin didengar orang).
9
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa syirik mempunyai bahaya yang
sangat besar, diantaranya yaitu:
a. Merusak amal yang tercampur dengan syirik kecil. Dari Abu Hurairah r.a
(yang artinya): Nabi saw bersabda: Allah berfirman: Aku tidak butuh
sekutu-sekutu dari kalian, barang siapa yang melakukan suatu amalan yang
dia menyekutukan-Ku padanya selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan
persekutuannya.
10
b. Termasuk dosa besar dan jika meninggal dalam keadaan syirik Allah tidak
akan mengampuninya sesuai firman-Nya pada surah An-Nis ayat 48
terdahulu.
8
Ibid., hal. 13
9
Ibid., hal. 16
10
Muslim, Shahih Muslim,juz IV,(Beirut: Dar Ihya At-Tursats Al-Araby, t.th.), hal. 2289
14
c. Menghancurkan seluruh amal. Firman Allah yang artinya: Sesungguhnya
jika engkau berbuat syirik, niscaya hapuslah amalmu, dan benar-benar
engkau termasuk orang yang rugi. (QS. Az-Zumar: 65).
d. Pelakunya diharamkan masuk surga. Firman Allah yang artinya:
Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah
mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada
bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. (QS. Al-Maidah: 72).
e. Kekal di dalam neraka. Firman Allah yang artinya : Sesungguhnya orang
kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka
jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk
makhluk. (QS. Al-Bayyinah: 6).
f. Pelakunya adalah orang-orang najis (kotor) akidahnya. Allah Ta'ala
berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
orang-orang musyrik itu najis. (QS. At-Taubah: 28).
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa syirik merupakan perbuatan yang
mengandung dosa besar dan tidak ada ampunannya dari Allah. Menjadi pertanyaan
sekarang adalah bagaimana menciptakan sebuah keluarga yang mampu menghindari
perbuatan syirik tersebut? Jawabnya hanyalah terletak pada peran orang tua dalam
membina dan mendidik akidah anak-anaknya. Bilamana orang tua buta terhadap
ajaran agama Islam itu sendiri, maka kemungkinan besar berdampak terhadap anak-
anaknya karena dalam hal ini orang tua merupakan guru pertama dalam mendidik
anak-anak.
15
2. Berlaku jujur dan adil
Semua orang pasti mengakui bahwa perilaku jujur dan adil merupakan
perilaku yang mulia, baik itu dilakukan oleh anak kecil maupun orang dewasa.
Dalam kamus bahasa Indonesia, kata jujur memiliki arti tidak bohong; lurus hati;
dapat dipercaya kata-katanya; tidak khianat.
11
Adil berarti tidak berat sebelah; tidak
memihak; berpegang pada kebenaran.
12
Dari definisi tersebut maka pengertian jujur/kejujuran akan tercermin dalam
perilaku yang diikuti dengan hati yang lurus (ikhlas), berbicara sesuai kenyataan,
berbuat sesuai bukti dan kebenaran. Sedangkan makna adil adalah menunaikan hak
kepada setiap pemiliknya. Atau bisa juga diartikan dengan mendudukkan setiap
pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya.
Dalam kehidupan Nabi saw dipenuhi dengan sikap jujur dan adil, baik itu
terhadap umatnya secara umum ataupun terhadap keluarga beliau sendiri. Terbukti
karena kujujurannya, beliau terpilih menjadi penengah yang adil dalam perseteruan
antar kabilah ketika merenovasi Baitullah untuk meletakkan Hajar Aswad pada
tempatnya. Lalu bagaimana kehidupan keluarga Rasulullah yang dipenuhi dengan
keadilan? Tentu masih tertanam kuat dalam ingatan kaum Muslimin dengan
perkataan Rasulullah yang akan memotong tangan putrinya Fatimah apabila
ketahuan mencuri. Hal ini menujukkan betapa seorang Rasul (yang juga seorang
ayah) yang mempunyai kedudukan tinggi tidak lagi memandang terhadap anaknya,
11
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1990), hal. 367
12
Ibid., hal. 7
16
bilamana ia salah maka ia pantas mendapatkan hukuman dan hukuman tersebut
sesuai dengan kesalahannya. Inilah keadilan yang ditegakkan Rasulullah.
Sebagai seorang Muslim yang taat, sudah sepatutnya meniru apa yang
dilakukan Rasulullah. Berlaku jujur dan adil dalam keluarga terlebih dahulu
diterapkan oleh orang tua, kemudian diajarkan kepada anaknya.
Ada beberapa tahapan untuk belajar jujur yang ditujukan kepada anak:
kehamilan sampai dengan melahirkan
Peran orang tua sangat dominan dalam pembentukan sikap dan perilaku
(kejujuran) anak yang akan dilahirkan. Dalam proses kehamilan perlu diikuti
dengan perilaku orang tua yang benar. Secara psikologis, perilaku orang tua
pada saat kehamilan sangat berpengaruh besar terhadap jabang bayi.
melahirkan
Proses kelahiran adalah satu dari tiga kejadian yang krusial (lahir, hidup dan
mati). Sebenarnya waktu bayi mau lahir, puluhan bahkan ratusan setan telah
menunggu untuk membisikan kalimat-kalimat kebohongan. Untuk itu, sesuai
ajaran Islam, bayi yang baru lahir agar didengarkan suara adzan sehingga
bisa menghalau bisikan setan.
1 sampai dengan 5 tahun:
Pada masa balita, hendaknya orang tua selalu memberikan bisikkan-bisikan
kalimat kebenaran yang akan terpatri dalam nurani anak.
5 sampai dengan 13 tahun:
17
Dalam usia ini disiplin kejujuran harus ditegakkan karena untuk
memperkokoh nurani anak dalam kejujuran.
13
Demikian uraian singkat tentang berlaku jujur dan adil, yang mana perilaku
jujur dan adil merupakan perilaku yang mulia karena dengan berperilaku jujur dan
adil akan membawa kepada kemaslahatan, baik di dunia dan akhirat. Rasulullah
bersabda:


)
(
Artinya: Dari Abdullah r.a, Nabi saw bersabda: Sesungguhnya kejujuran akan
menghantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan menghantarkan kepada
surga. Orang yang jujur akan ditetapkan Allah sebagai orang yang benar-benar
jujur. sedangkan kebohonga akan menghantarkan kepada perbuatan jelek dan
perbuatan jelek akan menghantarkan kepada neraka. Orang yang melakukan
kebohongan akan ditetapkan Allah sebagai seorang pembohong. (HR.
Bukhari).
14
13
Dikutip dari www.palanta.com/tahapan.belajar-jujur.html
14
Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, Shahih Bukhary, jild. VIII (Beirut: Dar Ihya At-Turaats Al-
Araby, t.th.), hal. 2
18
BAB III
PENUTUP
Dari uraian singkat di atas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu pada surah at-
Taubah ayat 71 tersebut Allah telah memerintahkan manusia (laki-laki-perempuan)
untuk saling tolong menolong dalam kehidupannya. Membiasakan perbuatan tolong
menolong ini hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga yang mana orang tua lebih
berperan dalam mendidik anak-anaknya sehingga perbuatan tersebut melekat kuat pada
diri anak dan anak akan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Kemudian dalam ayat tersebut, ada pesan tersirat untuk membina keluarga atau
rumah tangga Islami. Dimana rumah tangga Islami merupakan sebuah rumah tangga
yang didirikan di atas landasan ibadah yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam,
baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Mereka bertemu
dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta
saling menyuruh kepada yang maruf dan mencegah yang mungkar.
Pada surah Ali Imran ayat 18, Allah hanya menegaskan kepada hamba-Nya
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dalam hal ini tentunya Allah tidak
menginginkan hamba-Nya berbuat syirik, karena perbuatan syirik merupakan dosa besar
yang tidak ada ampunannya. Kemudian ada point penting dalam ayat tersebut yaitu
untuk berlaku jujur dan adil. Jujur merupakan perilaku yang diikuti dengan hati yang
lurus (ikhlas), berbicara sesuai kenyataan, berbuat sesuai bukti dan kebenaran.
Sedangkan makna adil adalah menunaikan hak kepada setiap pemiliknya.
19
DAFTAR PUSTAKA
Adz-Dzahabi, Syamsuddin. 75 Dosa Besar. Surabaya: Media Idaman, 1987.
Al-Bukhari, Ismail bin Ibrahim. Shahih Bukhary. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-
Araby, t,th.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka, 1990.
Hasyim, Husaini A. Majid. Riyadhus Shalihin. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, t.th.
Muslim, Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Araby, t.th.
Rasyid, Sulaiman. Fiqih Islam. Jakarta: At-Thahiriyah, t.th.
Syamilah, Maktabah. Sunan Abu Daud.
Syamilah, Maktabah. Mujam al-Kabr li at-Thabrn.
www.embuntarbiyah.co.id
www.palanta.com