Anda di halaman 1dari 34

Mengapa Hasil Pemijahan tidak Maksimal?

Salam jumpa lagi para pembaca sekalian, tidak bosan-bosannya penulis menyapa anda semua. Pada kali ini penulis ingin mencoba menelusuri satu masalah yang tidak jarang dihadapi oleh para peternak lele sangkuriang khususnya bagi para pemula. Naah tentunya sudah tahukan masalahnya? yup betul tidak jauh dari judul yang dibahas yakni bagaimana cara membuat hasil pemijahan menjadi maksimal.

Sebelum kita membahas lebih dalam ada baiknya kalau kita terlebih dahulu meneliti dalam menyeleksi indukan pada saat pembelian(bagi para peternak pemula), pastikan indukannya benar-benar dalam kondisi prima.

Oke, sekarang kita melangkah kepokok permasalahan. Mengapa hasil pemijahan tidak maksimal? Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hasil pemijahan tidak maksimal: 1. Indukan yang akan memijah hanya mempunyai sedikit telur. 2. Telur dalam indukan belum matang atau belum siap untuk dipijah. 3. Proses pemijahan yang berlangsung singkat 4. dll.

Menurut pengalaman penulis ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar hasil pemijahan dapat maksimal. diantaranya: 1. Jarak antara pemijahan pertama dengan pemijahan kedua sebaiknya 40 hari dan seterusnya. 2. Memeriksa terlebih dahulu indukan yang akan dipijah:

Ciri-ciri induk betina yang siap pijah:

- Perut membesar (gendut) dan jika dipegang terasa lembek. - Lubang kelamin tampak bulat dan agak mengembang serta berwarna merah jambu.

Ciri-ciri induk jantan yang siap pijah:

- Alat kelamin panjang dan terlihat jelas. - Warna alat kelamin merah jambu. 3. Memberi herbal pada tiap-tiap kolam yang akan ditaruh kakaban hasil pemijahan(herbal:dari Abah Nas). 4. Waspadai hama capung yang akan menghasilkan ucrit dan gini-gini dikolam tempat larva menetas.

Pemberian Pakan Lele Sangkuriang untuk Pembenihan Dalam setiap peternakan pastilah ada beberapa tahap dalam pemberian pakannya, tak terkecuali pada lele sangkuriang yang sudah mulai tidak asing lagi dikalangan peternak. Selain rasanya yang khas serta begitu gurih dan lezat untuk di konsumsi.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi tentang cara pemberian pakan lele sangkuriang khususnya pada tahap pembenihan. tips ini hanya untuk sekedar sharing saja yang mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Berikut ini adalah jenis pakan untuk benih lele sangkuriang : a. Larva lepas kuning telur sampai umur 11 hari = cacing rambut / cacing sutera b. umur 11 hari hingga benih berukuran 2-3cm = tepung udang fengli - 1 c. dari 2-3cm hingga 3-4cm = Pelet F-999/Pelet F-1000 d. dari 3-4cm hingga 5-6cm = Pelet L1

e. dari 5-6cm hingga 7-8cm = Pelet PL2

Naah gimana? jadi sudah tahukan bagaimana caranya memberi makan lele, sebenarnya kalau diselidiki lebih lanjut tahap-tahap diatas hanyalah mencocokkan ukuran pakan dengan mulut sang larvanya saja. Hal ini menyesuaikan larva lele dengan habitat aslinya.

Oiya, untuk tahap ukuran 2-3cm hingga 7-8cm ada tipsnya lagi nih para pembaca sekalian, caranya dengan menambahkan sedikit air panas atau air biasa kedalam pakan lele tersebut sebelum disebarkan ke kolam. Mengapa demikian, hal ini dilakukan untuk mengurangi penyerapan cairan pada lambung dan usus lele. Jika pakan langsung disebarkan dikolam dalam keadaan kering, tidak menutup kemungkinan pakan tersebut akan menyerap cairan dari dalam tubuh lele. Dampak dari itu biasanya akan menjadi gejala penyakit pada lele itu sendiri.

Oke mungkin itulah beberapa cara dan tips yang dapat penulis berikan, cara ini berdasarkan pengalaman dan buku-buku yang dibaca oleh penulis serta Abah Nas. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Hama dan Penyakit Ikan Lele Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

Jenis hama/penyakit

1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.

Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.

Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.

Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum

Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.

Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.

Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.

Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.

Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,10,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.

Gejala:

(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;

(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;

(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.

Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari

5. Penyakit cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.

Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian:

(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;

(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;

(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama 30 menit;

(4) memakai larutan NaCl 2% selama 30 menit;

(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama 10 menit.

6. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.

Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.

Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :

1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.

2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.

3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.

4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.

Mengenal Dan Mengatasi Penyakit Pada Ikan Lele Hama dan penyakit pada budidaya lele menjadi salah faktor penentu keberhasilan bisnis ini. Menanggulangi penyakit lele merupakan salah satu upaya mekmaksimalkan budidaya lele. Meski pengetahuan dan cara menanggulangi penyakit pada budidaya lele cukup penting terkadang diabaikan oleh peternak lele, apalagi jika usaha lele ini hanya menjadi usaha sampingan atau bisnis skala usaha kecil. Banyak kejadian lele tiba-tiba mati mendadak dalam jumlah besar atau satu per satu mati dan akhirnya tidak bisa panen. Pertanyaan dan keluhan mengenai cara mengatasi penyakit pada ikan lele cukup sering kita dengar sehingga penting bagi para pembudidaya lele untuk memiliki pengetahuan di dalam hal ini. Hama ikan Lele ukuran besar nampak secara kasat mata misalnya kucing, ular,Linsang. Untuk lele bibit di sawah hama lele bisa datang dari kodok, Ucrit dan burung pemakan ikan dan hewan-hewan lain. Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata.

Penyakit pada ikan lele cukup beragam dan memerlukan penanganan yang berbedabeda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit apa yang menimpa ikan lele peliharaan kita, bisa dilihat dari gejala-gejala luar ikan lele. Meski lele termasuk ikan yang tahan hidup dalam air yang berkualitas buruk, tetapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.

Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat parasit yang hidup pada tubuh ikan lele, mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Beberapa penyebab penyakit pada ikan lele antara lain:

1. Penyakit karena Bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron. Gejala Lele Terserang Bakteri ini : warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.

Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik. Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3. Penyakit karena Jamur/Cendawan Saprolegnia. Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.

Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.

Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,10,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5. Penyakit cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.

Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian: (1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama 10 menit.

6. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.

Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.

Pengendalian: Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm. Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.

Penyakit yang menimpa ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, kepadatan tebar yang terlalu besar dan perubahan suhu yang drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit. Penyakit pada lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit

saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele. Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam karantina yang diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan tersebut. (Galeriukm).

Tips Ampuh Mengatasi Penyakit Pada Ikan Lele Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang ikan lele bisa disebabkan oleh bakteri, parasit atau bahkan cacing. Penyakit penyakit yang sering dijumpai oleh para peternak ikan lele adalah cendawan, bintik putih, borok, cacingan serta trichodina.

Untuk terhindar dari kerugian besar, para petani ikan lele harus dapat mengendalikan penyakit penyakit tersebut diatas dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab dari penyakit tersebut serta gejala yang muncul sebelum pada akhirnya nanti mengetahui bagaimana caranya untuk menanggulanginya.

CENDAWAN

Jenis yang dapat menyerang adalah saprolegnia dan achyla, dimana mereka sering dijumpai di perairan yang kaya akan bahan organik. Penyakit ini menyerang ikan lele yang sudah teruka atau yang sedang berada dalam kondisi lemah. Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah bahwa pada sekitar lukanya banyak dijumpai serabut berwarna putih. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah : kepadatan tebar dikurangi dan air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 5 gram / m2. Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah :

Merendam ikan lele yang sakit ke dalam air PK berdosis 1 gram / 100 liter air. Proses perendaman dilakukan selama 30 menit. Jamur dapat dihilangkan dengan menggunakan obat Furazolin.

BINTIK PUTIH

Penyebab dari munculnya penyakit ini adalah ichthyophthirius multifiliis dimana mereka akan menyerang ikan lele yang dipelihara didalam kolam yang airnya menggenang. Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah bahwa pada permukaan kulit dan juga insang ikan lele banyak dijumpai bintik bintik berwarna putih yang apabila dibiarkan terlalu lama, kulit dan insang ini akan rusak sebelum pada akhirnya nanti ikan lele akan mati dalam hitungan jam. Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Memperbaiki sistem sanitasi, air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 30 gram / liter air, sebanyak 2 3 kali berturut turut, penggunaan malachyte green berdosis 0,1 gram / m2 sebanyak 2 hari sekali hingga ikan lele sembuh.

BOROK

Merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh para peternak ikan lele dikarenakan dapat menyebabkan kematian massal. Penyebab dari munculnya penyakit ini adalah aeromonas dan pseudomonas dimana mereka meenyerang organ dalam ikan lele, seperti hati, limpa serta daging. Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah munculnya borok diseluruh permukaan kulit ikan lelel. Borok ini akan mengeluarkan nanah jikan penyakit ini memarah. Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah :

Mengkarantinakan ikan lele yang sakit dan pemberian antibiotik pada ikan lele yang masih sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Antibiotik ini dapat diberikan dengan cara dicampurkan ke dalam pakan ikan lele dengan dosis antibiotiknya adalah sebesar 1 mg / kg pakan. Selain itu air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 10 kilogram yang telah dicampur dengan tumbukan daun pepaya.

CACINGAN

Jenis yang dapat menyerang adalah dactylogyrus dan gyrodactylus, dimana mereka sering dijumpai dikolam yang kepadatan tebarnya terlalu tinggi serta baru saja mengalami perubahan lingkungan hidup yang drastis dan mendadak. Mereka sering menyerang bagian insang ikan lele (akan menyebabkan kesulitan dalam hal bernafas) serta kulitnya (menjadi berlendir). Gejala yang ditunjukkan oleh ikan lele yang terserang oleh penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan serta ikan lele sering berenang ke atas permukaan air. Beberapa tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah : Mengganti air dalam jumlah yang besar, air kolam ditaburi dengan garam dapur sejumlah 40 gram / m2, merendam ikan lele yang sakit ke dalam air PK berkonsentrasi 0,01 % selama 30 menit.

TRICHODINA Penyakit ini disebabkan oleh protozoa, dimana mereka menyerang bagian insang dari ikan lele. Ikan yang terserang oleh penyakit ini akan berputar putar dan muncul diatas permukaan air. Tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah merendam ikan lele yang sakit ke dalam air berformalin berkonsentrasi 15 20 ppm.

Beberapa Tips untuk menanggulangi Hama pada lele sangkuriang Sudah menjadi hal yang lumrah bagi pelaku bisnis, pasti ada hambatan dan rintangannya. Begitu pula dengan budi daya lele sangkuriang, hama adalah salah satu penyebab utama penghambat dalam proses pemanenan. Bisa dibuktikan dengan hasil panen yang tidak standard. Berikut ini jenis-jenis hama yang penulis ketahui selama pembudidayaan berlangsung:

1. Ucrit (hama berbentuk lancip seperti anak capung) Kebiasaan : memangsa larva lele sangkuriang yang masih berumur kurang dari 2 minggu dengan menangkap larva kemudian menyantapnya dengan capit, biasanya larva akan tampak dipermukaan dan tersisa tinggal bagian kepala atau badan sebagian karena tidak habis dimakan. Cara penanggulangan : belum ada obat yang bisa menanggulanginya melainkan dengan cara di serok dengan saringan untuk meminimalisir hama tersebut. usahakan pada waktu pagi, karena pada pagi hari hama tersebut belum sempat beraktivitas atau tidur.

2. Gini-gini (hama berbentuk seperti kutu merupakan anak capung yang belumbersayap) Kebiasaan : sama dengan ucrit suka memangsa larva lele sangkuriang yang masih berumur kurang dari 2 minggu. hama ini ada berasal dari capung yang melepaskan telurnya melalui permukaan air dengan cara mengibas-ngibaskan buntutnya ke air. Cara Penanggulangan : sama dengan ucrit dengan diserok memakai saringan pada waktu pagi hari.

3. Jamur Kebiasaan : menempel pada tubuh lele yang berbentuk bercak putih, keberadaannya disebabkan air yang kurang standard untuk lele sangkuriang.

Cara penanggulangan : dengan menyiramkan ramuan herbal dari "abah nas" dengan komposisi air 5 liter dituangkan kedalam ember, kemudian tuangkan obat herbal sebanyak 3 tutup botol aqua, kemudian 3 sendok makan garam dan aduk hingga merata. Siramkan secara merata keseluruh bagian kolam.

4. Lumut Kebiasaan : muncul kepermukaan pada waktu siang hari dan menyebabkan larva lele sulit untuk mengambil nafas kepermukaan. lumut tumbuh disebabkan pencucian kolam yang kurang bersih sehingga bakal lumut berkembang ketika air diisikan kekolam. Cara Penanggulangan : membersihkannya dengan serokan pada siang hari karena pada saat itulah lumut muncul.

Demikian tips yang kami peroleh berdasarkan pengamatan langsung dari kolam pembenihan Pak Puji Lee yang berlokasi di JL. Carita.C No:200 RT06/08 Kel. Sepanjang Jaya Kec Rawa Lumbu Kota Bekasi 17114. Jika anda memiliki tips yang lebih baik atau ada hama-hama lain yang belum tertulis, dapat anda postkan kembali di kolom komentar.

Blog Archive

2011 (1) o September (1) Prospek Budidaya Lele sangkuriang

Share it Daftar Blog Saya

TERAwarta

PEMBUATAN PAKAN TERNAK - Belakangan kalangan peternak sapi maupun kambing sempat di buat berpikir panjang bagaimana cara agar hewan ternaknya tetap bisa makan di musim kemarau yang...

Popular Posts

Prospek Budidaya Lele sangkuriang

Schedule an Appointment
Prospek Budidaya Lele sangkuriang
di 21:34 Diposkan oleh Budi Hendrawan 0 komentar

Prospek Budidaya Lele sangkuriang


Pemeliharaan ikan air tawar adalah sebuah hal yang semua orang akan bias lakukan baik sebgai sekedar iseng, hobi, maupun sebagai orientasi bisnis. Kadang kala orang mempunyai niatan untuk iseng karena hoby yang akhirnya menjadikan peluang bisnis yang menguntungkan, lumayan buat tambahan penghasilan utama. Tulisan ini saya harapkan akan bisa menjadi bahan acuan bagi rekan rekan yang mungkin punya keisengan dan hoby sama dengan saya untuk menggeluti budidaya perikanan air tawar. Budidaya Ikan Air Tawar saat ini memang mempunyai prospek sebagai lahan bisnis yang menguntungkan, tak jarang orang sukses dengan hadirnya sosok binatang air yang di peliharanya. Salah satu Ikan Budi daya air tawar yang cukup memiliki prospek bisnis yang menjanjikan adalah Ikan Lele, Siapa yang tidak mengenal si ikan kumis ynag mempunyai lendir di kulit tuhuhnya yang berwarna hitam kecoklatan semua orang pasti tau dan diberbagai daeram ada sebutanya sendirisendiri. Salah satu farian dari jenis lele yang ada adalah Lele Sangkuriang yang saat ini sangat diminati sebagai lahan bisnis budidaya, dari pada beberapa jenis lele yang sudah ada yang dintaranya Lele lokal, Lele Dumbo, dan Lele Phyton, disamping cara pengolahan budidayanya yang mudah, pertumbuhan harian yang pesat, Mempunyai nilai FCR ( Feeding Conversion Rate), atau efisiensi konversi berat makanan menjadi berat tubuh ikan yang baik, Tidak mudah terserang penyakit dan yang pasti dagingnya lebih gurih.

Gambar : Lele sangkuriang ( Indukan / ukuran konsumsi ) Memang ketenaran Lele Sangkuriang masih belum bisa menandingi ketenaran pendahulunya Ikan Lele Dumbo, namun secara fisik tidaklah memiliki perbedaan yang jauh. Lele Sangkuriang merupakan salah satu wujud upaya memperbaiki produktivitas farian yang telah ada untuk meningkatkan mutu dalam usaha bisnis bududaya air tawan di nusantara. Adalah BBAT Sukabumi beberapa tahun yang lalu telah mengupayakan perbaikan genetik yang menelorkan Verietas unggul yang mempunyai produktivitas yang sangat tinggi dengan cara penyilangan antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6) Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2&F6)( sumber BBAT Sukabumi ) Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama Lele Sangkuriang.

Dengan berbekal ilmu yang ada, yang juga di peroleh dari pengalaman yang tidak perlu di ragukan lagi adalah Bapak H. Jaenal (Abah jaenal ) yang merupakan salah satu guru/suhu dalam pengembangan usaha pertanian (Alat-alat / Mesin Pertanian) dan perikanan, telah mendatangkan Indukan Lele Sangkuriang dari BBAT sukabumi

yang akan di kembangkan di daerah Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Satu-satunya tempat pengembangan Budidaya Lele Sangkuriang area Malang selatan tepatnya di Jl. Sidomoro RT.02 Rw.02 Ketawang, Nadilangkung, Kepanjen Kab Malang.

Gambar : Desaku Ketawang, Kepanjen Penanganan induk lele sangkuriang yang baik akan meningkatkan mutu/ kualitas daya tetas telur dan bibit yang baik pula, dan yang paling penting untuk usaha pembibitan ini adalah tidak melakukan persilangan sekerabat atau biasa disebut inbreeding, pemakaian indukan yang mempunyai kualitas rendah akan menurunkan pada bibit yang dihasilkan (penyimpangan gen).

Pembibitan Lele Sangkuriang

Ada beberapa cara budidaya ( pembenihan ) dimana nantinya diharapkan dapat memperoleh benih benih lele, hasil dari pemijahan baik itu secara alami maupun secara buatan Seperti halnya telah banyak tertulis di berbagai sumber baik dari buku-buku, di beberapa blog yang tersedia di internet yang mengupas perihal pembenihan ikan lele. System perbenihan ikan terbagi diantaranya yaitu : 1. Sistem tradisional dimana lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu, dimana nantinya lele akan memijah dengan alami 2. Semi intensif dimana jantan dan betina di masukkan dalam satu kolam namun dengan menambahkan rangsangan hormon hipofesa 3. Intensif Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi). Dimana induk jantan dan betina di berikan suntikan (hipofesa) guna merangsang kematangan telur. dan kemudian telur dan seperma di campur secara manual oleh petani. Adapula beberapa ikan dapat dengan cara rangsangan ikan lain yang di tempatkan dalam satu wadah yang di masukkan dalam kolam pemijahan, langkah ini sebagai upaya untuk mempercepat rangsangan ikan untuk segera memijah Sistem Pemijahan Dalam perawatan indukan yang akan di pijahkan harus lah dengan penuh sangat hati hati, Indukan jantan dan betina di pelihara secara terpisah. Kolam yang digunakan bisa kolam tanah ( tidak dianjurkan ), kolam semen maupun kolam terpal. Disini digunakan kolam semen ukuram 3mx3mx1m dengan ketinggian air kolam sekitar 70cm.

Gambar : Kolam pemeliharaan induk Pemberian pakan induk haruslah yang berkualitas bagus, karena dari sinilah akan didapat benih-benih yang berkwalitas. Indukan yang matang gonad dipilih untuk pemijahan, proses pengambilan indukan harus hati-hati kerena agar indukan tidak stress dan yang akan berakibat tidak maksinalnya proses pemijahan, Indukan tidak langsung di jaring/diserok ( jaring yang bergagang )dari kolam melainkan Proses pengambilan dilakukan dengan pengurangan air kolam sampai ikan terlihat didasar kolam, sehingga kita bias memilih ikan yang akan di pijahkan dengan mudah, ambil dengan serok, lalu masukkan dalam kolam pemijahan.Ini dimaksudkan untuk menghindari stress pada induk.

Gambar : Pemilihan Indukan (Repro) Dari sini memang memerlukan keahlian untuk memilih induk yang telah matang gonad sehingga proses pemijahan berhasil dan juga dapat dihasilkan telur yang berkualitas baik

Diantara cirri-ciri induk yang baik adalah : Induk Jantan bertanda - tulang kepala berbentuk pipih - warna lebih gelap - gerakannya lebih lincah - perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung - alat kelaminnya berbentuk runcing agak memerah

Gambar : Kelamin Ikan Jantan Induk betina bertanda : - tulang kepala berbentuk cembung - warna badan lebih cerah - gerakan lamban

(Repro)

- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat. Dan memerah

Gambar : Kelamin Ikan Betina

(Repro)

Langkah berikutnya adalah dengan memasukkan Indukan Jantan dan Betina dalam satu kolam yang berukuran 2,3m x 2,3m x0,8m dengan ketinggian air 30-35 cm yang terlebih dahulu diberi kakaban ( rangkaian ijuk yang diapit bambu) dengan ukuran kolam tersebut bisa di pasang rangkaian ijuk 12 buah, dengan ukuran panjang sekitar 1m dan lebar rentangan ijuk 20 cm.

Gambar : Kolam pemijahan yang telah diberi ijuk Waktu pemasukan indukan ke dalam kolam hendaklah menjelang malam (sore) ini dikarenakan proses pemijahan memerlukan suasana yang cukup kondusif/tenang. Setelah kedua induk masuk diatas kolam di beri penutup bisa berupa lembaran plastik, terpal, maupun gedek ( anyaman bambu yang tipis ), biarkan proses pemijahan berjalan selama satu malam. Kesokan harinya telur yang menempel pada ijuk yang sudah terbuahi akan terlihat putih kekung-kuningan cerah, itu pertanda proses pembuahan telah berhasil. Itu terlihat dari indukan jantan dan betina berjauhan yang biasanya nampak si induk betina berdiam di sudut kolam.

Setelah itu induk diangkat dan dikembalikan pada kolam penampungan induk. Dengan Indukan berumur 1,5 -2 tahun dan mempunyai berat antara 1,5 2 kg akan mampu menghasilkan telur sekitar 15.000 - 20.000 butir Sesudah proses pengangkatan rentang waktu 20-24 jam telur akan menetas menjadi larva, ijuk segera diangkat karena apabila ijuk tidak diangkat, telur yang tidak sempurna dalam pembuahan akan busuk, dari sini akan timbul jamur yang nantinya akan mencemari air kolam. Biasanya larva terlihat bergerombol di beberapa bagian dalam kolam terutama pada sudut kolam dengan ukuran sangat kecil lebih mirip seperti lumut berwarna kehijauan

Gambar : Larva Ikan lele Dalam satu atau dua hari larva lele semakin besar disini tidaklah perlu kita memberikan pakan dulu, karena cadangan kuning telur yang yang tersimpan pada

tubuh ikan sudah mampu nyuplai makan 1-2 hari. Jangan lupa suplay oksigen ke kolam harus ada gunakan air pump atau alirkan air bersih ke kolam dengan debit kecil agar larva tidak bertebaran.Kolam masih dalam keadaan tertutup ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan suhu air, dan ada beberapa sumber mengatakan juga untuk beberapa daerah meyakini cara ini bisa untuk menghambat tumbuhnya lumut jerat. Proses penutupan selama 1 minggu ini karena bibit sudah mampu ber adaptasi dengan suhu lingkungan yang ada.

Setelah tiga hari menetas maka larva di beri makan cacing sutra halus segar, ada beberapa sumber juga mengatakan bisa di cacah dan disaring apabila cacing terlau besar .jangan lupa untuk menyipon (membersihkan kotoran dan sisa makanan yang tidak termakan) agar tdk menimbulkan penyakit, pemberian cacing dapat dilakukan 3 4 kali dalam 1 hari, bias juga sesuai nafsu makan dari larva dan ditambah porsinya untuk setiap karena larva semakin besar.

Gambar : Cacing sutra segar Pemberian Cacing akan lebih baik dilakukan selama 20 hari setelah itu bisa menggunakan pakan pellet tabur (D0) daerah sini menamai ceki (Pellet bubuk)

Gambar : Bibit ikan lele umur 14 hari Setelah bibit berukuran 3-4 cm dengan usia sekitar 20 hari dilakukan penyotiran / penyamplingan ukuran bibit yang nantinya akan di masukkan ke dalam kolam pendederan. (Tampungan) dengan ketinggian air 30 cm sampai mencapai ukuran 4-6 cm & 5-7 cm dan bibit sudah makan pellet f999, Hingga lele siap untuk di jual kepada petanni pendederan / petani pembesaran sampai ukuran konsumsi Ketersedian air yang bersih dan pasokan oksigen yang cukup disertai pemberiaan pakan yang teratur akan dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan dari benih. Ada beberap sumber mengatakan kualitas air adalah sangat penting dalam usaha budidaya ikan air tawar dalam hal ini ukuran kualitas arkolam dapat dinilai dari : Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik : - air harus bersih - berwarna hijau cerah

- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia : - bebas senyawa beracun seperti amoniak - mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C). Penggantian air secara berkala dengan takaran 30 % air dalam kolam dengan air bersih, dimungkinkan akan terpeliharanya kwalitas air secara menyeluruh dan yang artinya pertumbuhan dari ikan yang kita budidayakan akan berkembang jauh lebih baik. Semoga Tulisan ini bias berguna dan membantu bagi rekan-rekan yang ingin menerjuni usaha ini, atau hanya untuk menyalurkan hoby, Kalau ada hal yang belum jelas bias tulis cooment, InsyaAllah akan dibantu, untuk rekan rekan yang telah dahulu memposting perihal/mengenai teknik budidaya ikan air tawar khususnya lele, salam kenal semoga suatu saat kita bias sharing, Salam sukses.

Alamat Usaha :

Jl. Sidomoro RT.02 Rw.02 Ketawang, Nadilangkung, Kepanjen Kab Malang.

Telpon : - 081334774735 - 085649722537

Melayani/Menyediakan Bibit Lele Sangkuriang silahkan anda datang dan memilihnya sendiri.

Unggul,

dijamin

memuaskan,

Memijahkan Lele Sangkuriang Secara Alami


Dalam melakukan pemijahan lele sangkuriang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, al : 1. Persiapan kolam pemijahan. Kolam Pemijahan bisa dibuat dengan membuat kolam terpal yang lebih praktis dan ekonomis dan mudah dalam pelaksanaannya. Untuk kolam pemijahan bisa dibuat dengan ukuran 4m x 2m dengan ketinggian dinding kolam 1 meter.

2. Pembuatan Kakaban. kakaban dibuat dengan menggunakan ijuk yang telah dibersihan dari lidi-lidi besarnya dengan maksud agar lele tidak terluka pada saat melakukan pemijahan, ijuk tersebut dipotong kurang lebih 30 - 40 cm kemudian dipaku bersama dua bilah bambu yang sudah diserut halus. Panjang kakaban dibuat 1,5 m dan untuk kolam ukuran 2m x 4m dibutuhkan 14 - 18 buah kakaban.

3. Persiapan Kolam Penetasan. Kolam penetasan dibuat dengan ukuran 4m x 3m dengan ketinggian dinding 50cm, kolam ini juga dibuat dengan menggunakan terpal agar lebih mudah. Untuk satu

kali pemijahan dibutuhkan 5 buah kolam penetasan, ini disebabkan telur yang dihasilkan sangat banyak jadi harus dibagi ke beberapa kolam penetasan.

4. Persiapan Indukan. Dalam melaksanakan pemijahan harus disiapkan indukan yang siap untuk pemijahan baik jantan ataupun betina. Ciri indukan yang siap untuk betina adalah alat kelamin sudah berwarna merah jambu ataupun kalau itu tidak begitu kelihatan tinggal dipegang perutnya kalau terasa lembek berarti sudah siap. Untuk yang jantan juga sama bila alat kelaminnya sudah kelihatan berwarna merah mudah dan menonjol atau bisa juga dilihat dari siripnya bagian atas yang berdiri.

5. Persiapan Pemijahan.

setelah disiapkan kolam pemijahan kita bisa memulai proses persiapan pemijahan antara lain : a. Pengaturan kakaban didalam kolam pemijahan. kakaban yang telah disiapkan diatur didalam kolam pemijahan secara teratur dan rapat sehingga semua telur bisa menempel dengan bagus di kakaban tersebut dan juga agar indukan lele tidak stres. Kakaban yang sudah diatur di dasar kolam selanjutnya ditahan bambu dengan maksud agar kakaban setelah diisi air tidak naik keatas, (lihat foto).

b. Mengisi kolam pemijahan dengan air bersih. Setelah kakaban selesai diatur di kolam pemijahan selanjutnya dilakukan pengisian kolam dengan air bersih setinggi 25 sampai dengan 30 cm.

c. Pemindahan Indukan. Kolam yang sudah terisi air berarti telah siap untuk diisi indukan, indukan yang sudah kita siapkan baik jantan atau betina segera dipindahkan ke dalam kolam pemijahan dengan menggunakan seser secara pelan-pelan agar lele tidak stres. Pemindahan indukan sebaiknya dilakukan pada sore hari sekitar jam 16.00.

d. Proses Perkawinan. Selama indukan didalam kolam pemijahan jangan sekali-kali membuat kegaduhan di sekitar kolam karena menyebabkan lele tidak akan bertelur dengan baik, lele

baru akan bertelur kurang lebih setelah subuh sampai pagi hari apabila kondisi lingkungan tenang. 6. Pemindahan Telur. Biasanya pagi hari sekitar jam 6-7 pagi telur sudah bisa dilihat dengan mata kita ditandai adanya butiran warna hujau gelap diatas kakaban dan akan terlihat banyak sekali karena satu indukan bisa bertelur sampai 30.000 butir, selanjutnya pada sore harinya bisa diipindahkan masing-masing kakaban yang berisi telur ke masingmasing kolam penetasan.

Setelah semuanya berapa pada kolam masing-masing tnggal menunggu benih tersebut menetas pada keesokan harinya, biasanya pagi sudah kelihatan adan larva yang berenang disekitar kakaban apalagi dibawah kakaban akan kelihatan ribuan larva yang sedang berkumpul.

Demikian ulasan singkat mengenai pemijahan lele sangkuriang secara alami semoga berguna bagi rekan-rekan sesama pencinta lele sangkuriang, bagi yang kurang jelas silahkan berikan comment anda ataupun saran untuk bertukar pikiran mengenai budidaya lele sangkuriang.

Taufik Alamat : Jl. Bendungan Wadas Lintang no. 5 Malang, Jawa Timur. Tlp.08170820622 Didik Eko Cahyono, Badas : 085738158246