Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN Rusia menjadi negara merdeka dan berdaulat penuh, berdasarkan deklarasi Alma-Ata atau Almaty tanggal 21 Desember

1991. Pada era Uni Soviet, Rusia merupakan wilayah terbesar, yang menempati 76% dari seluruh wilayah negara Uni Soviet dan 51% dari seluruh jumlah penduduknya1. Negara yang dikenal dengan sebutan Euroasia atau Eropa-Asia, dikarenakan letaknya yang berada di Benua Eropa (Eropa Timur) sekaligus juga di Benua Asia. Pasca runtuhnya Uni Soviet, Federasi Rusia terus berbenah dan berupaya keras meninggalkan warisan Komunisme dan menciptakan suatu sistem politik yang lebih demokratis dan ekonomi pasar. Setelah hampir 10 tahun krisis, ekonomi Rusia tumbuh cepat daripada perkiraan semula, walaupun hal tersebut sangat tergantung kepada harga minyak dunia. Dalam berbagai kesempatan Rusia mempromosikan Energy Power yang digunakan sebagai salah satu kebijakan utama dalam berhubungan dengan negara-negara lainnya khususnya kawasan Eropa dan Asia Tengah.2 Sepanjang tahun 1917 hingga 1990 pamor Rusia jatuh ke titik terburuk, berkat warisan kekejaman komunis di era Uni Soviet. Rusia yang merupakan negara bagian Uni Soviet, dahulunya pun terkenal sebagai ateis dengan peredaman aktivitas agama, walau pun hal tersebut tidak pernah berhasil untuk menghilangkan keyakinan warga soal agama. Robohnya Tembok Berlin pada 9 November 1989 adalah refleksi dari kejatuhan komunis yang telah dibangun selama lebih kurang tujuh dasawarsa, yang merupakan hasil kerjasama Ronald Reagen dan Michael Goebachev.3 Pada masa transisi demokrasi di Rusia pada tahun 1990-an terjadi interaksi keberagaman elit. Pada masa itu banyak bermunculan kelompok elit politik, seperti garis keras konservatif, ultranasionalis, reformis, radikal, dan golongan moderat. Dari gambaran mengenai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok-kelompok tersebut yang muncul

H. M. Iwan Gayo, Buku Pintar Seri Senior, Jakarta: Pusataka Warga Negara, 2006, hal. 553-554 Area Study Federasi Rusia 2010, Athan Kemhan, hal. 1

Simon Saragih, Bangkitnya Rusia: Peran Putin dan Eks KGB, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2008, hal. xv.

1|Page

tmerupakan warisan dari permerintahan Gorbachev yang terbentuk oleh adanya konflik politik internal dalam tubuh pemerintahan maupun masayarakat Rusia. Pasca Perang Dingin yang ditandai dengan keruntuhan Uni Sovet, Rusia muncul sebagai sebuah negara yang berbentuk federasi dengan presiden sebagai seorang pemimpin, Boris Nikolayevich Yeltsin adalah presiden pertama Rusia. Dengan corak kepemimpinan Yeltsin, secara umum menunjukkan ciri transisi dari Uni Soviet kepada sebuah Republik yang demokratis. Namun akibat kurang tertatanya hubungan secara tegas antara tiap organ kekuasan, sehingga menyebabkan berbagai konflik politik dalam negeri. Para oligarki mendapatkan ruang gerak yang luas dan posisi yang istimewa, sehingga mengakibatkan keuntungan hanya bagi kelompok tertentu, sementara negara semakin terpuruk. Rusia merupakan negara yang mencoba bangkit dari keterpurukan pasca runtuhnya Uni Soviet dalah hal ini harus menanggung beban psikis maupun materiil, oleh karenanya dibutuhkan adanya kerjasama yang menguntungkan bagi kemajuan Rusia dalam rangka pembangunan di berbagai bidang. Dalam hal ini Rusia sebagai negara yang sedanag melakukan proses transisi demokrtasi mengalami banyak sekali hambatan dan tantangan dalam mewujudkannya. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam bagaimana proses transisi demokrasi di Federasi Rusia yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Boris Nikolayevich Yeltsin.

PEMBAHASAN Pada dua tahun pertama pemerintahan Boris Yeltsin diwarnai oleh perselisihan dengan pihak parlemen Rusia. Oleh seabab itu, Presiden menawarkan rencana agar parlemen membubarkan diri dan membentuk parlemen baru. Presiden melihat bahwa para anggota parlemen merupakan orang lama warisan Uni Soviet yang tidak menghendaki perubahan dan reformasi. Rencana Presiden ditolak dan mereka tetap berpegang pada konstitusi Uni Soviet 1977 yang sudah kadeluarsa dan sudah diamandemen4.

Zeffry Alkatiri, Gerakan Ultranasionalis pada Masa Transisi Demokrasi di Federasi Rusia Tahun 1990-an, Jurnal Kajian Eropa, Volume 3, tahun 2007, hal. 28

2|Page

Pada bulan Desember 1992, Boris Yeltsin mengganti kedudukan Perdana Menteri Yegor Gaidar dengan Victor Chernomyrdin dan mengangkat Wakil Presiden Jendral Alexander Rutskoi dari kalangan konservatif agar kubu mereka dapat dijembatani. Selain itu Yeltsin juga melakukan rekonsiliasi dengan pihak militer dengan mengangkat Jendral Albert Makashov yang berperan dalam menggagalkan kudeta 1991, sebagai Panglima Angkatan Perang. Pada tahun ini juga dilakukan program shock therapy dengan meniru model transformasi ekonomi kapitalis. Namun sangat disayangkan program ini tidak berjalan mulus dan berakibat pada perlambatan langkah perubahan itu sendiri. Kondisi tersebut pun telah memicu pihak oposisi untuk mendesak Boris Yeltsin untuk turun dari kursi kepresidenan5. Kondisi ketidakstabilan tersebut mendorong gerakan ultranasionalis pimpinan Vladimir Zhirnovsky yang menentang dan mengkritik kebijakan Boris Yeltsin yang kecewa terhadap perhatian Barat kepada Rusia yang tidak memulihkan kondisi dan dianggap menambah kemelut yang ada. Dalam proses transisi demokrasi ini terbentuk tiga kelompok politik, yaitu: pertama, kelompok radikal reformis, kelompok ini berasal dari golongan akademis yang mempelopori pasar bebas, shock therapy, dan privatisasi. Kelompok ini dipelopori oleh Andrei Kozyrev yang mempunyai hubungan baik dengan pihak Barat dan IMF. Walaupun pada awalnya berhasil mendominasi politik Rusia, tetapi munculnya faksi di dalam kelompok menyebabkan kurang efektifnya gerakan mereka6. Kedua, kelompok konservatif nasionalis yang merupakan kelompok oposisi terhadap program Presiden Boris Yeltsin. Pada dasarnya kelompok ini sangat berkomitmen terhadap nasionalisme Rusia dan anti-Barat. Tujuan mereka adalah untuk mengembalikan ekonomi secara terencana dan terpusat. Kelompok ini bersifat chauvinis dan mencurigasi adanya konspirasi dibalik reformasi ekonomi yang dijalankan oleh Presiden Boris Yeltsin. Kelompok ini terbagi dalam beberapa faksi, seperti Front Penyelamat Rusia dan Front Rakyat Rusia Bersatu. Tokoh-tokoh kelompok ini diantaranya adalah Ruslan Khasbulatov (Ketua Parlemen) dan Alexander Rutskoi (Wakil Presiden). Sebelumya, mereka termasuk kelompok tengah yang berubah orientasinya karena didukung oleh pihak konservatif komunis7.
5

Ibid, hal. 28-29

Richard Sakwa, Russia, Communism, and Democracy, Development in Russian and Post-Soviet Politics. London: McMillan, 1994

Richard Sakwa, Russia, Communism, and Democracy, Development in Russian and Post-Soviet Politics. London: McMillan, 1994

3|Page

Ketiga, Kelompok Tengah atau kelompok kompromis yang cendrung mendukung program demokratisasi. Akan tetapi mereka sangat berhati-hati dalam menyatakan pendapatnya. Pernyataan kelompok ini bersifat oportunis. Sedangkan kelompok tengah kanan adalah pihak yang sebelumya menguasai aset negara merasa terpojok dengan kedua kebijakan ekonomi tersebut mengambil peran sebagai kelompok oposisi. Sedangkan kelompok tengah kanan adalah kelompok konservatif-nasionalis, akan tetapi dimanfaatkan oleh Presiden Boris untuk mendukung programnya8. Presiden Boris Yeltsin dalam hal ini merupakan pihak independen yakni bebas partai dan tidak memiliki partai. Yeltsin sendiri berperan seperti agen yang menjebatani anatara kelompok radikal reformis dengan pihak konservatif-nasionalis, antara Rusia den Barat, anatara pemerintah dan masayarakat. Pada bulan Februari hingga April terjadi pertentangan antara Presiden Boris Yeltsin dengan Wakilnya Rutskoi mengenai program kebijakan mengenai reformasi agraria yang mengakibatkan pecopotan Rustkoi dan digantikan dengan Perdana Menteri Yegor Gaidar9. Delapan bulan kemudian Gaidar dingantikan oleh Victor Chernomyrdin dengan alasan Chernomyrdin dapat menjebatani kepentingan kelompok konservatif yang berada di parlemen yang baru dengan pihak eksekutif10. Pada akhir tahun 1993 perekonomian Rusia tidak menentu yang mengakibatkan kecaman dari banyak pihak. Vladimir Zhirinovsky seorang tokoh ultranasionalis melalui media masa mengecam kebijakan ekonomi Yeltsin dan mengecam multikulturalisme di wilayah Federasi Rusia. Hal tersebut mengakibatkan Yeltsin membentuk Komisi Konstitusi pada tahun 1993 untuk menyusun rancangan konstitusi baru. Sementara pihak parlemen juga melakukan hal yang sama. Dalam konstitusi ini Yeltsin menggabungkan sistem Presidensial dan Parlementer dengan presiden pemeggang tampuk kekuasaan. Tentu saja dengan keputusan Yeltsin tersebut menimbulkan polemik diantara kedua pihak dan terjadi proses tarik ulur yang berujung pada jalan buntu, sehingga pada tanggal 21 September 1993 Yeltsin
8

ibid

Presiden Boris Yeltsin memerintahkan kepada Wakil Presiden Rutskoi untuk menagani reformasi agraria tetapi Rutskoi malah memasukkan orang-orang komunis lama dan melakukan strategi lama yang bertentangan dengan program reformasi agraria yang diinginkan Yeltsin. Atas dasar tersebut pada konstitusi yang baru Yeltsin mengurangi tugas Wakil Presiden bahkan menguranginya. Kemudia Yeltsin ditangkap pada bulan Oktober 1993 karena telah beroposisi oleh Ruslan Khasbulatov (lihat Richard Sakwa, Russia, Communism, and Democracy, Development in Russian and Post-Soviet Politics)
10

John P. Willerton, Yeltsin and Russian Presidency, Development Russian and Post-Soviet Politics, Londodn: MCMillan, 1994, hal. 50

4|Page

mengeluarkan Dekrit no. 1400 yang diambil dari konstitusi 1977 yang berisi mengenai pembubaran parlemen11. Konstitusi baru akhirnya lahir yang dikenal dengan nama Konstitusi Yeltsin yang merupakan konstitusi pertama yang demokratis yang didalamnya terdapat nilai-nilai HAM terhadap warga negara, masyarakat minoritas, dan pekerja media masa. Walaupun banyak yang mengeritik terlepas dari semua itu Rusia memasuki babakan baru mengenai kejelasan hukum yang sebelumnya terabaikan. Kerisis multidimensi dan munculnya gerakan ultranasionalis membuat permasalahan semakin kompleks hal tersebut didorong pula oleh kondisi masayarakat yang multietnis dan agama. Rasa kebangsaan yang dahulu disatukan dalam Uni Soviet sekarang telah terpecah dan menggabungkan diri dengan Federasi Rusia dan CIS. Munculnya gerakan etnonasionalis yang berada di sebagian negara Eropa Timur sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap beberapa negara bekas Uni Soviet termasuk Federasi Rusia. Kelompok nasionalis baru yang cendrung radikal ini berupaya untuk memisahkan diri dari kesatuan Federasi Rusia. Kebangkitan nasional tersebut diwadahi oleh gerakan ultranasionalis dari partai liberal demokratik menganut paham fasis. Fenomena ini membuat khawatir Presiden AS Bill Clinton dan ia mendesak IMF segera membantu Rusia Sebelum terlambat dan jatuh ketangan fasis. Melihat fenomena tersebut baik CSCE/OSCE maupun lembaga HAM seperti International Helsinki Federation (IHF) memberi peringatan keras kepada Yeltsin mengenai dugaan adanya pelanggaran HAM yang diduga dilakukan kepada warga minoritas. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwasannya Demokrasi telah menimbulkan kekhawatiran pada kaum konservatif dan garis keras karena dianggap dapat membuat ketidak strabilan dan merugikan kepentingan mereka12. Dari ilustrasi diatas menunjukkan bahwa proses penegakan demokrasi di federasi Rusia mengalami jalan buntu. Hal tersebut dibuktikan dengan upaya pembentukan pondasi demokrasi yang dari akar selalu gagal oleh adanya kepentingan-kepentingan kelompok dan

11

Parlemen tidak tinggal diam dan ganti memecat Presiden. Konflik tersebut berujung pada penyerbuan ke gedung parlemen pada tanggal 3-4 Oktober 1993. Setelah perisriwa tersebut diakan Pemilu Rusia dan Referendum untuk mengesahkan konstitusi baru yang demokratis pada tanggal 12 Desember 1993. Referendum tersebut didukung oleh masyrakat dengan persentasi 58,43%. (Lihat Jurnal Kajian Eropa, Volume 3, tahun 2007)
12

Alexader Tsipko, Is Russian Democracy Doom, Journal of Democracy. April. Vol. 5 No. 2. Hal. 21-24

5|Page

golongan. Hal tersebut menandakan bahwa upaya penegakan demokrasi mengalami penolakan untuk dapat berdiri tegap di tanah Rusia.

Analisia
Transisi demokrasi yang terjadi di Rusia mengalami berbagai kendala untuk berjalan. Walaupun mekanisme pemilu sudah dijalankan, akan tetapi masih terdapat kecurangankecurangan dan ketidakadilan. Demokrasi di Rusia dapat dikatakan masih dalam taraf demokrasi yang terbatas. Dalam arti, secara normatif sudah mempersiapkan sistem aturan demokratis tetapi dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya dapat dioperasionalisasikan. Apalagi transisi yang terjadi di Rusia tidak hanya memfokuskan ada bidang ekonomi saja, tetapi juga pada bidang lainnya, seperti konflik etnik, konflik para elit, perwakilan di parlemen, kesempatan berpolitik, kebebasan media masa, rasionalisme militer, dan batas wilayah. Semua itu menjadi agenda krusial yang menghambat perjalanan demokrasi. Masalah lain yang menghambat adalah gerakan-gerakan demokrasi di Rusia masih belum sampai tingkat akar, seperti adanya gerakan organisasi masa yang mengusung ide demokrasi, lamanya rezim komunis berkuasa, dan multukulturalisme penduduk. Berbagai masalah dan krisis yang muncul selama masa transisi demokrasi secara langsung telah memicu dan mendorong munculnya gerakan ultranasionalis menambah keruh proses transisi yang sedang berjalan. Adanya konflik antara masayarakat mayoritas dan minoritas berupa kecemburuan sosial serta rasa saling curiga antara golongan yang pro demokrasi dengan komunis mengakibatkan transisi Rusia berjalan lama jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Timur lainnya. Namun yang terpenting dari semua itu adalah pada permasalahan mengenai kesadaran dan niat baik dari masing-masing pihak baik pemerintah, elit politik, dan masayarakat yang masih belum memiliki akar demokrasi yang kuat.

Kesimpulan
Setelah runtuhnya Uni Soviet pasca Perang Dingin, Rusia berupaya untuk memulihkan kondisi politik mereka yang hancur akibat transisi politik. Federasi Rusia 6|Page

sebagai negara baru mencoba untuk membangun pemerintahan yang berdiri secara demokratis. Dalam upaya demokratisasi tersebut Federasi Rusia mengalami banyak hambatan seperti munculnya kelompok-kelompok elit politik, multikulturalisme, dan krisis ekonomi. Boris Nikolayevich Yeltsin sebagai presiden pertama Rusia berupaya untuk melakukan reformasi total dan berupaya untuk meninggalkan nilai-nilai komunisme yang merupakan warisan dari pemerintahan Michael Goebachev. Namun perjalan demokrasi yang diharapkan dapat berjalan baik justru mengalami banyak hambatan, munculnya kelompokkelompok yang pro dan kontra terhadap kebijakan-kebijakan Boris memperkeruh kondisi geopolitik Rusia saat itu. Walaupun kondisi geopolitik Rusia mengalami degradasi bukan berarti proses demokrasi di negeri itu berjalan ditempat. Pada tahun 1993 Presiden Boris berhasil melahirkan konstitusi yang bernama Konstitusi Yeltsin yang merupakan konstitusi pertama yang demokratis yang didalamnya terdapat nilai-nilai HAM terhadap warga negara, masyarakat minoritas, dan pekerja media masa. Meskipun terdapat pertentangan dengan adanya konstitusi tersebut menjukkan bahwa masih ada komitmen pemerintah dalam membangun dasar-dasar nilai keadilan bagi rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Alkatiri, Zeffry, Gerakan Ultranasionalis pada Masa Transisi Demokrasi di Federasi Rusia Tahun 1990-an, Jurnal Kajian Eropa, Volume 3, tahun 2007 Tsipko, Alexader, Is Russian Democracy Doom, Journal of Democracy, April. Vol. 5 No. 2 John P. Willerton, Yeltsin and Russian Presidency, Development Russian and PostSoviet Politics, Londodn: MCMillan, 1994

7|Page

Saragih, Simon Saragih, Bangkitnya Rusia: Peran Putin dan Eks KGB, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2008 Richard Sakwa, Russia, Communism, and Democracy, Development in Russian and Post-Soviet Politics. London: McMillan, 1994

8|Page