Anda di halaman 1dari 26

Ordo Foraminifera

Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang

mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung- menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter. Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi. Biostratigrafi Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara

mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.

Paleoekologi dan Paleobiogeografi Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup. Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Foraminifera dibagi atas foraminifera plankton dan benthos 1. Pengenalan Genus dan Spesies Foraminifera Plankton
a. Family Globigerinidae

Family globigerinidae terdiri dari beberapa genus antara lain:

Genus Cribohantkenina Cirri-ciri morphologi sama dengan hantkenina tetapi kamar akhir sangat gemuk dan mempunyai CRISRATE yang terletak pada plular apertural face.Contoh: Cribrohantkenina bermudesi

Genus Hastigerina Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test biumbilicate, susunan kamar planispiral involute atau Loosely Coiled. Aperture berbentuk parabola, terbuka lebar dan terletak pada apertural face. Contoh: Hastigerina aequilateralis

Genus Clavigerinella Dengan cirri-ciri morphologi dinding test hyaline. Bentuk test pipih panjang, susunan kamar involute, radial elongate atau clavate. Contoh: Clavigerinella jarvisi

Genus Pseudohastigerina Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test biumbilicate, susunan kamar planispiral involute atau Loosely Coiled. Aperture terbuka lebar, berbentuk parabol dan terletak pada apertureal face. Genus ini dipisahkan dari Hastigerina karena testnya yang lebih pipih.

Genus Cassigerinella Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline. Susunan kamar pada permulaan planispiral dan seterusnya tersusun secara biserial. Aperture berbentuk parabol dan terletak didasar apertural face.Contoh: Cassigerinella chipolensis

b. Famili Globorotaliidae

Family ini umumnya mempuyai test biconvex, bentuk kamar subglobular, susunan kamar trochospiral , Aperture memanjang dari umbilicus ke pinggir test dan terletak pada dasar apertural face. Pinggir test ada yang mempunyai keel dan ada yang tidak. Berdasarkan bentuk

test, bentuk kamar, aperture dan keel, maka family ini dapat dibagi atas dua genus, yaitu :

Genus Globorotalia Cirri-ciri morphologi dengan test hyaline, bentuk test biconvex,

bentuk kamar subglobular, atau angular conical. Aparture memanjang dari umbilicus ke pinggir test. Pada pinggir test terdapat keel dan ada yang tidak. Berdasarkan ada tidaknya keel maka genus ini dapat dibagi menjadi dua sub genus, yaitu : Subgenus Globorotalia Subgenus ini mencakup seluruh glabarotalia yang mempunyai keel. Membedakan subgenus ini dengan yang lainnya maka dalam penulisan spesiesnya, biasanya diberi kode sebagai berikut : Contoh : Globorotalia A b c
Menrangkan genus. Menerangkan subgenus Menerangkan species.

Subgenus Turborotali Subgenus mencakup seluruh globorotalia yang tidak memiliki keel. Membedakannya, maka subgenus turborotalia dalam penulisan spesiesnya diberi kode : Contoh : Globorotalia

Genus truncorotaloides Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline bentuk test truncate , bentuk kamar angular truncate. Susunan kamar umbilical convex trochospiral dengan deeply umbilicus. Aperture terbuka lebar yang memanjang dari umbilicus ke pinggir test. Cirri-ciri khasnya dari genus ini ialah terdapatnya sutural supplementary aperture dan dinding test yang kasar (seperti berduri) yang pada genus globorotalia hal ini tidak akan dijumpai. Subgenus ini tidak dibahas lebih lanjut, karena terdapat pada lapisan tua Eosen Tengah. Contoh : Truncorotaloides rahri

Truncorotaloides rahri

c. Family Globigeriniidae

Family ini pada umumnya mempunyai bentuk test sperichal atau hemispherical, bentuk kamar glubolar dan susunan kamar trochospiral rendah atau tinggi. Apaerture pada umumnya terbuka lebar dengan posisi yang terletak pada umbilicus dan juga pada sutura atau pada apertural face. Berdasarkan bentuk test, bentuk kamar, bentuk aperture dan susunan kamar maka family ini dapat dibagi atas 14 genus yaitu:

Genus Globigerina Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test speroical, bentuk kamar globural, susunan kamar trochospiral. Aperture terbuka lebar dengan bentuk parabol dan terletak pada umbilicus. Aperture ini disebut umbilical aperture.

Genus Globigerinoides Ciri-ciri morphologi sama dengan Globigerina tetapi mempunyai supplementary aperture, dengan demikian dapat dikatakan bahwa globigerinoides ini adalah Globigerina yang mempunyai supplementary aperture. Contohnya: Globigerinoides primordius.

Genus globoquadina Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, bentuk kamar globural, dan susunan kamar trochoid. Aperture terbuka lebar

dan terletak pada umbilicus dengan segi empat yang kadang-kadang mempunyai bibir. Contohya: Globoquadrina alrispira

Genus Globorotaloides Ciri-ciri morphologi sama dengan genus Globorotalia tetapi

umbilicusnya tertutup oleh Bulla (bentuk segi enam yang tertutup).

Genus Pulleniatina Ciri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical, bentuk kamar globural, susunan kamar trochospiral terpuntir. Aperture terbuka lebar memanjang dari umbilicus ke arah dorsal dan terletak di dasar apertural face. Contohnya: Pulleniatina obliquiloculate (N19 N23)

Genus Sphaeroidinella Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical atau oval, bentuk kamar globural dengan jumlah kamar tiga buah yang saling berangkuman (embracing). Aperture terbuka lebar dan memanjang didasar sutura. Pada dorsal terdapat supplementary aperture. Salah satu spesies yang termasuk genus ini beserta gambar dan keterangan. Spaeroidinella dehiscens Test trochospiral, equatorial peri-peri lobulate sangat ramping, sumbu peri-peri membulat. Dinding berlubang kasar, permukaan licin. Kamar subglobular menjadi bertambah melingkupi pada saat dewasa, tersusun dalam tiga putaran, tiga kamar dari putaran terakhir bertambah ukurannya secara cepat. Suture tidak jelas tertekan radial. Aperture primer

interiomarginal umbirical, atau 2 aperture skunder pada sisi belakang terdapat pada kamar terakhir.

Genus Sphaeroidinellopsis Ciri-ciri morphologi sama dengan genus Spaeroidinella tetapi tidak mempunyai supplementary aperture, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Spaeroidiniellopsis itu adalah Spearoidinella yang tidak mempunyai supplementary aperture.

Genus Orbulina Ciri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline dan bentuk test spherical, serta aperture tidak kelihatan (small opening). Aperture ini adalah akibat dari terselumbungnya seluruh kamar-kamar sebelumnya oleh kamar terakhir. Beberapa speies yang termasuk pada genus ini beserta gambar. Urbulina universal, Orbulina bilobata

Genus Biorbulina Cirri-ciri morphologi sama dengan genus orbulina, tetapi gandeng dua.

Genus Praeorbulina Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical atau agak lonjong. Bentuk lonjong ini diakibatkan oleh kamar-kamar terakhir yang menyelumbungi kamar-kamar sebelumnya. Aperture utama tidak terlihat lagi, yang terlihat hanya supplementary aperture saja yang berbentuk strip-strip.

Genus Candeina Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, bentuk kamar globural. Jumlah kamar tiga buah dan di sepanjang sutura terdapat sutural supplementary aperture. Contohnya: Candeina nitida

Genus Globigerinatheca

Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, dan bentuk kamar globular. Susunan kamar pada permulaan trochospiral dan kemudian berangkuman (embracing). Umbilicus tertutup dan terdapat secondary aperture yang berbentuk parabol dan kadangkadang tertutup bulla.

Genus Globigerinita Cirri-ciri morphologi sama dengan genus globigerina tetapi dengan bulla.

Genus Globigerinatella Cirri-ciri morphologi dinding test hyaline, bentuk test spherical, susunan kamar pada permulaan trochospiral dan kemudian berangkuman. Umbilicus samar-samar karena tertutup bulla. Terdapat sutural secondary aperture bullae dengan infralaminal aperture.

Genus Catapsydrax Cirri-ciri morphologi dengan dinding test hyaline, bentuk test spherical, susunan kamar trochospiral. Memiliki hiasan pada aperture yaitu berupa bulla pada catapsydrax dissimilis dan tegilla pada catapsydrax stainforthi. Dengan memiliki accessory aperture yaitu infralaminal accessory aperture pada tepi hiasan aperturenya. Contohnya: Catapsydrax dissimilis

2. Pengenalan

genus

dan

spesies

foraminifera

benthonik

Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup secara vagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang digunakan untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat yang semula sesile dan berkembang menjadi vagile serta hidup sampai kedalaman 3000 meter di bawah permukaan laut. Material penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous, khitin, gampingan. Foraminifera benthonik sangat baik digunakan untuk indikator paleoecology dan bathymetri, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang

terjadi.

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

ekologi

dari

foraminifera

benthonic ini adalah :


Kedalaman laut Suhu/temperature Salinitas dan kimia air Cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis Pengaruh gelombang dan arus (turbidit, turbulen) Makanan yang tersedia Tekanan hidrostatik dan lain-lain. Faktor salinitas dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe

dari lautan yang mengakibatkan perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus biccarii adalah tipe yang hidup pada daerah lagoon dan daerah dekat pantai. Lagoon mempunyai salinitas yang sedang karena merupakan percampuran antara air laut dengan air sungai. Foraminafera benthos yang dapat digunakan sebagai indikator lingkungan laut secara umum (Tipsword 1966) adalah :

Pada kedalaman 0 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran.

Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.

Pada kedalaman 90 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.

Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina

Macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai :

Genus Ammobaculites Chusman Termasuk famili Lituolidae, dengan cirri-ciri test pada awalnya terputar, kemudian menjadi uniserial lurus, komposisi test pasiran, aperture bulat dan terletak pada puncak kamar akhir. Muncul pada karbon resen.

Genus Amondiscus Reuses 1861 Termasuk famili Ammodiscidae dan ciri ciri test monothalamus, terputar palnispiral, kompisisi test pasiran, aperture pada ujung lingkaran. Muncul Silur Resent.

Genus Amphistegerina d Orbigny 1826 Famili berbentuk lensa, trochoid, terputar involut, pada ventral terlihat surture bercabang tak teratur, komposisi test gampingan, berpori halus, aperture kecil pada bagian ventral kecil pada bagian ventral

Genus Bathysiphon Sars 1972 Termasuk famili Rhizamminidae dengan test silindris, kadang kadang lurus, monothalamus, komposisi test pasiran, aperture di puncak berbentuk pipa. Muncul Silur Resent.

Genus Bolivina Termasuk famili Buliminidae dengan test memanjang, pipih agak runcing, beserial, komposisi gampingan, berposi aperture pada kamar akhir, kadang berbentuk lope, muncul Kapur Resent.

Genus d Orbigny 1826 Termasuk famili Buliminidae, test memanjang, umunya triserial, berbentuk kamar sub globular, komoposisi gampingan berpori.

Genus Cibicides Monfort 1808 Termasuk famili Amonalidae, dengan cirri cirri test planoconvex rotaloid, bagian dari dorsal lebih rata, komposisi gampingan berpori kasar, aperture di bagian ventral, pemukaan akhir sempit dan memanjang.

Genus Decalina d Orbigny 1826 Termasuk famili Lageridae, dengan ciri ciri test pilythalamus, uniserial, curvilinier, suture menyudut, komposisi test gampingan berpori halus, aperture memancar, terletak pada ujung kamar akhir.

Genus Elphidium Monfort 1808 Termasuk famili Nonionidae dengan ciri cirri test planispiral, bilateral simetris, hampir seluruhnya involute, hiasan suture bridge dan akhir. umbilical, komposisi test gampingan berpori, aperture merupakan sebuah lubang/lebih pada dasar pemukaan kamar

Genus Nodogerina Chusman 1927 Termasuk famili Heterolicidae, degan test memanjang, kamar tersusun uniserial lurus, kompisi test gampingan berpori halus, aperture terletak di puncak membulat mempunyai leher dan bibir. Muncul Kapur Resen.

Genus Nodosaria Lamark 1812 Termasuk famili Lagenidae degan test lurus memajang, kamar tersusun uniserial, suturenya tegak lurus, terhadap sumbu, pada pemulaaan agak bengkok kemudian lurus, komposisi gampingan berpori, aperture di puncak berbentuk radier, muncul Karbon Resent.

Genus Nonion Monfort 1888 Termasuk famili Nonionidae dengan test cenderung involute, bagian tepi membulat, umumnya dijumpai umbilical yang dalam, komposisi gampingan berpori , aperture melengkung pada kamar akhir. Muncul Yura Resent.

Genus Rotalia Lanmark 1804 Umumnya suture menebal pada bagian dorsal, bagian ventral suturenya tertekan ke dalam, komposisi test gampingan berpori, aperture pada bagian ventral membuka dari umbilical pinggir.

Genus Saccamina M. Sars 1869 Termasuk famili Sacanidae degan test globular, komposisi test dari material kasar, biasanya oleh khitin berwarna coklat, aperture di puncak umumnya degan leher. Muncul Silur Resent.

Genus Textularia Derance 1824 Termasuk famili Textularidae test memanjang kamar tersusun biserial, morfologi kasar, komposisi pasiran, aperture sempit memanjang pada permukaan kamar akhir. Muncul Devon Resent.

Genus Uvigerina d Obigny 1826 Termasuk famili uvigeridae degan test fusiform, kamar triserial, komposisi berpori, aperture di ujung dengan leher dan bibir. Muncul Eosen Resent.

3. Foraminifera Besar Bhentonik

Ordo foraminifera ini memiliki bentuk yang lebih besar di bandingkan degan yang lainnya. Sebagian besar hidup didasar laut degan kaki semu dan type Letuculose, juga ada yang hidup di air tawar, seperti family Allogromidae. Memiliki satu kamar atau lebih yang dipisahkan oleh sekat atau septa yang disebut suture . aperture terletak pada permukaan septum kamar terakhir. Hiasan pada permukaan test ikut menentukan perbedaan tiaptiap jenis. Foraminifera besar benthonik baik digunakan untuk penentu umur. Pengamatan dilakukan degan mengunakan sayatan tipis vertical, horizontal, atau, miring di bawah miroskop. Pemberiam sitematik foraminifera benthonik besar yang umum ( A. Chusman 1927).
a. Famili Discocyclidae

Mempunyai

cangkang

discoidae

atau

lenticular.

Pada

bentuk

megalosfeer, kamar embrionik biasanya biloculer, sedang pada bentuk mikrosfeer, kamar embrionik terputar secara planispiral. Mempunyai septasepta sekunder yang membatasi kamar-kamar lateral.

Genus Aktinocyclina : kenampakan luar bulat, tidak berbentuk bintang, di jumpai rusak rusak yang memancar.

Genus

Asterocyclina

kenampakan

luar

seperti

bintang

polygonal, dijumpai rusak rusak radier.

Genus Discocyclina : kenampakam luar merupakan lensa, kadang bengkok menyerupai lensa, kadang bengkok menyerupai pelana, kelilingnya bulat degan/ tanpa tonggak tonggak.

b. Famili Camerinidae

Genus Asslina : kenampakan luar pipih (lentukuler) discoidal, test besar ukuran 50 mm, di jumpai tonggak tonggak. Genus Cycloclypeus : kenampakan luar seperti lensa dan kamar sekunder yang siku siku terlihat dari luar.

Genus Nummulites : kenampakan umumnya licin.

luar seperti lensa, terputar

secara planispiral, hanya putaran terluar yang terlihat, pada

c. Famili Alveolinelliadae

Genus Alveolina : kenampakan luar berbentuk telur/slllips (fusiform), panjang kurang lebih 1 cm.

Genus Alveolinella : bentuk sama degan

Alveolina panjang

sumbunya 0,5 1,5 cm serta ada suatu kanal (pre septa). Celah celahnya tersusun menjadi 3 baris dan tersusun bergantian, tetapi sambung menyambung.

d. Famili Miogpsinidae

Bentuk test pipih, segitiga atau asimetris, kamar embryonik bilocular terletak dipinggir (eksentris) atau dipuncak (apical ) terdiri dari protoconc yang hampir sama besar. Kamar embryonik ini seluruhnya dikelilingi oleh kamar-kamar nepionik. Kamar-kamar median berbentuk rhombik atau hexagonal yang memanjang, pilar-pilar dapat terlihat jelas.

Genus Miogypsian : kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong hingga bulat, kadang seperti bintang/pligonal, permukaan papilliate, sering di jumpai tongkak.

Genus Miogypsinoides ; kenampakan luar terbentuk lonjong dan kulit luarnya datar.

segitiga,

e. Famili Calcarinidae

Genus Biplanispira : kenampakan luar pipih hingga

seperti

lensa, discoidal, hampir bilateral simetri dengan/tanpa tonggak. Genus Pellatispira : kenampakan luar seperti lensa (lentikuler) dan bulat sering dijumpai tonggak.

f. Famili Orbitoididae

Golongan ini mempunyai test besar, lenticular/discoidal, biconcave, berkamar banyak dimana hubungan antara kamar-kamarnya dilakukan

dengan stolon (pori-pori yang terbentuk tabung), dinding lateralnya berpori dan tebal, dimana terdapat kamar-kamar dan pillar-pillar.\ Untuk bentuk yang megalosfer, kamar utamanya terdiri dari : 1. Kamar embrionik/initial chamber/nucleoconch Merupakan kamar permulaan yang tersusun dari beberapa inti. Berdasarkan jumalah dan kedudukan inti-inti tersebut dapat dibedakan beberapa bentuk yang akan membedakan penamaan sub-genusnya. Dari susunan inti-intinya, nucleoconch dapat berbentuk : Bilocular, terdiri dari protoconch dan deuteroconch
beberapa deuteroconch lebih kecil dan mengelilingi protoconch

polylepidina. Biasanya terdapat pada bentuk yang microsfeer.


denteroconchsama besar dengan protococh

Isolepidina atau

sebagai Lepidocyclina ss.


deuteroconch lebih besar dari protoconch dan menutupi sebagian

Nephrolepidina.
deuteroconchbesar sehingga

melingkupi seluruh protoconch

Eulepidina dan trybliolepidina. Trilocular, terdiri dari 3 nucleuconch Orbitoides Quadrilocular, terdiri dari 4 nucleoconch Orbitoides

2. Kamar nepionik/pery-embryonic chamber Merupakan kamar-kamar yang mengelilingi kamar embrionik, terletak antara kamar embrionik dan kamar-kamar post nepionik. Berdasarkan letak dan susunan kamar nepionik dapat digunakan untuk klasifikasi golongan Ortoididae (Tan Sin Hok, 1932) 3. Kamar post nepionik/median or equatorial chamber

Merupakan kamar-kamar yang terbentuk setelah kamar nepionik. Pada sayatan horizontal, kamar ini dapat mempunyai bentuk yang bermacammacam, seperti rhombie hexagonal, spatulate, arcuate, ogival. Bentukbentuk kamar post nepionik ini juga merupakan kendala dalam klasifikasi foraminifera besar.

4. Kamar lateral Merupakan rongga-rongga yang letaknya teratur, terletak di atas dan di bawah lapisan tengah ( median layer ). Pada genus Lepidocyclina, kamar lateral ini dapat terbentuk lensa, menyudut atau membulat.

Genus Lepidocyclina : kenampakan seperti lensa (lentiluler) pipih cembung, discoidal, permukaan test papilate, halus reticulate, pinggirnya bisa bulat, kadang seperti batang atau polygonal.

g. Aplikasi Foraminifera

Masalah masalah Geologi yang menghubungkan dengan umur suatu batuan sampai sekarang masih mempergunakan foraminifera planktonik di samping juga mengunakan metode metode lain yang lebih teruji dan lebih tepat.

Penentuan kisaran umur dengan mengunakan foraminifera planktonik, dilakukan degan langkah langkah sebagai berikut :

Menganalisa fosil foraminifera palakton dari suatu batuan sampai ke tingkat spesiesnya. Mempergunakan acuan Blow (1969) dalam penetuan kisaran umum dari fosil foram plankton yang telah diamati dan dianalisa. Menetukan kisaran umur fosil foram plankton yang muncul akhir dan umur yang punah awal. Maka umur batuan yang didapatkan merupakan suatu range dari hasil nomor C

Daftar Pustaka
melldremy.blogspot.com web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?...id wikipedia.org/wiki/Foraminifera ww.coraltrianglecenter.org/downloads/KLL%20Berau.pdf www.ucl.ac.uk/GeolSci/micropal/foram.html www.lemigas.esdm.go.id/en/node/44 www.bowserlab.org/foraminifera/forampage2.htm www.scribd.com Books Non-fiction