Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Maksud

    • 1.1.1 Mengetahui sifat-sifat optik mineral.

    • 1.1.2 Mengetahui perbedaan pengamatan sifat optik mineral melalui nikol sejajar dan nikol bersilang.

    • 1.1.3 Mengetahui nama mineral berdasarkan ciri-ciri sifat optik mineral yang diamati dengan menggunakan mikroskop polarisasi.

  • 1.2 Tujuan

    • 1.2.1 Dapat mengetahui sifat-sifat optik mineral.

    • 1.2.2 Dapat mengetahui perbedaan pengamatan sifat optik mineral melalui nikol sejajar dan nikol bersilang.

    • 1.2.3 Dapat mengetahui nama mineral berdasarkan ciri-ciri sifat optik mineral yang diamati dengan menggunakan mikroskop polarisasi.

  • 1.3 Waktu Pelaksanaan Praktikum Praktikum mineralogi “mineral optik” ini dilaksanakan pada :

  • Hari / tanggal

    : - Kamis, 19 Mei 2011

    • - Senin, 23 Mei 2011

    • - Senin, 30 Mei 2011

    Waktu

    : 19.00 s.d selesai

    Tempat

    : Gedung Pertamina Sukowati Lt. 2, Ruang GS-203

    BAB II DASAR TEORI

    Dalam mempelajari mineral yang terdapat di berbagai batuan diperlukan sebuah mikroskop untuk mengamati sifat-sifat dari mineral yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Sifat-sifat tersebut adalah sifat optik dari sebuah mineral. Mikroskop yang digunakan untuk pengamatan sifat-sifat optik berbeda dengan mkiroskop yang digunakan pada bidang biologi atau kedokteran. Mikroskop yang digunakan adalah mikroskop Polarisasi , yang pada prinsipnya sama dengan mikroskop yang biasaya dipergunakan dalam ilmu biologi ataupun kedokteran. Perbedannya yaitu mikroskop dalam bidang kedokteran atau biologi hanya memperbesar benda yang diamati. Mikroskop polarisasi menggunakan cahaya yang terbias/ dibelokkan, bukan cahaya terpantul.

    • 2.1 Bagian-bagian mikroskop polarisasi dan fungsinya

    1. Kaki mikroskop Merupakan tempat tumpuan dari seluruh bagian mikroskop, bentuknya ada yang bulat dan ada yang seperti tapal kuda (U). Pada

    mikroskop tipe Bausch & Lomb, kaki mikroskop juga digunakan untuk menempatkan cermin. Pada tipe olympus yang akan kita gunakan, kaki mikroskop sebagai tempat lampu halogen sebagai sumber cahaya pengganti cermin.

    Gambar 2.1 Mikroskop
    Gambar 2.1 Mikroskop
    BAB II DASAR TEORI Dalam mempelajari mineral yang terdapat di berbagai batuan diperlukan sebuah mikroskop untuk

    2.

    Lengan Mikroskop, terdiri atas :

    - Substage Unit Bagian-bagiannya : Polarisator atau “lower nicol”, Diafragma Iris, dan Kondensor. Polarisator (“lower nicol”) Merupakan suatu bagian yang terdiri dari suatu lembaran polaroid (Gambar 2-E), berfungsi untuk menyerap cahaya secara terpilih (selective absorbtion), sehingga hanya cahaya yang bergetar pada satu arah bidang getar saja yang bisa diteruskan. Dalam mikroskop lembaran ini diletakkan sedemikian hingga arah getaran sinarnya sejajar dengan salah satu benang silang pada arah N-S atau E-W. Diafragma Iris Terdapat di atas polarisator, alat ini berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang diteruskan dengan cara mengurangi atau menambah besarnya apertur/bukaan diafragma. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan intensitas cahaya yang diterima oleh mata pengamat, karena kemampuan akomodasi mata tiap-tiap orang relatif berbeda. Fungsi penting lainnya adalah untuk menetapkan besarnya daerah pada peraga yang ingin diterangi, juga dalam penentuan relief, di mana cahaya harus dikurangi sekecil mungkin untuk pengamatan “garis becke”.

    • 3. Meja Objek Bentuknya berupa piringan yang berlubang di bagian tengahnya sebagai jalan masuknya cahaya. Meja objek ini berfungsi sebagai tempat menjepit preparat/peraga. Meja objek ini dapat berputar pada sumbunya yang vertikal, dan dilengkapi dengan skala sudut dalam derajat dari 0 o sampai 360 o . Pada bagian tepi meja terdapat tiga buah sekerup pemusat untuk memusatkan perputaran meja pada sumbunya (centering).

    Tubus Mikroskop

    Bagian ini terletidak di atas meja objek dan berfungsi sebagai unit teropong, yang terdiri atas beberapa bagian antara lain lensa objektif, lubang kompensator, analisator, lensa amici bertrand dan lensa okuler. Lensa objektif

    Merupakan bagian paling bawah dari tubus mikroskop, berfungsi untuk menangkap dan memperbesar bayangan sayatan mineral dari meja objek. Biasanya pada mikroskop polarisasi terdapat tiga buah lensa objektif dengan perbesaran yang berbeda, tergantung keinginan pengamat, dan biasanya perbesaran yang digunakan adalah 4x, 10x dan 40x, kadang ada yang 100x. Analisator

    Adalah bagian dari mikroskop yang fungsinya hampir sama dengan polarisator, dan terbuat dari bahan yang sama juga, hanya saja arah getarannya bisa dibuat searah getaran polarisator (nikol sejajar) dan tegak lurus arah getaran polarisator (nikol bersilang) Lensa okuler Terdapat pada bagian paling atas dari tubus mikroskop, berfungsi untuk memperbesar bayangan objek dan sebagai tempat kita mengamati medan pandang. Pada lensa ini biasanya terdapat benang silang, sebagai pemandu dalam pengamatan dan pemusatan objek pengamatan.

    • 2.2 Pengaturan Mikroskop Pengaturan yang paling penting adalah memusatkan perputaran meja objek/centering, pengaturan arah getaran polarisator sejajar dengan salah satu benang silang, dan pengaturan arah getar analisator agar tegak lurusarah getar polarisator. Centering penting dilakukan agar dapat pada saat pengamatan dengan menggunakan perputaran meja objek, mineral yang

    kita amati tetap berada pada medan pandangan (tidak keluar dari medan pandangan).

    • 2.3 Pengamatan Mikroskopik dengan Ortoskop tanpa Nikol

    Pengamatan mikroskop polarisasi tanpa nikol dalam praktek diartikan bahwa analisator tidak dipergunakan (berarti analisator dikeluarkan dari jalan cahaya di dalam tubus mikroskop,atau arah analisator diputar sampai sejajar dengan arah polarisator), sedang polarisator tetap dipasang pada tempatnya dengan arah getarannya sejajar dengan salah satu benang silang. Cahaya yang dipergunakan adalah cahaya terpolarisir dalam satu arah getar (satu bidang getar). Sifat-sifat optik yang dapat diamati dengan ortoskop tanpa nikol dibagi menjadi dua golongan sbb:

    a. Sifat-sifat optik yang mempunyai hubungan tertentu dengan sumbu- sumbu kristalografi yaitu yang sejajar atau yang menyudut tertentu, misalnya: bentuk, belahan, dan pecahan. Semua sifat tersebut juga dapat diamati baik dengan mikroskop binokular yang memakai cahaya yang tidak terpolarisir maupun pada contoh setangan dengan mata biasa. b. Sifat optik yang mempunyai hubungan erat dengan sumbu-sumbu sinar/sumbu optik pada kristal yaitu misal: index bias, relief, warna, dan pleokroisme. Perlu diperhatikan bahwa kejadian-kejadian dari sifat-sifat tersebut yang nampak di bawah ortoskop pada posisi meja objek tertentu adalah kejadian dari sinar atau komponen sinar yang pada posisi tersebut bergetar searah dengan polarisator. Sifat-sifat ini harus diamati dengan cahaya terpolarisir. Sifat-sifat optik yang dapat diamati adalah ketembusan cahaya, inklusi, ukuran, bentuk, belahan dan pecahan, indeks bias dan relief, warna, dan pleokroisme.

    Ketembusan Cahaya Berdasar atas sifatnya terhadap cahaya, mineral dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu mineral yang tembus cahaya/transparent dan mineral tidak tembus cahaya /mineral opak/mineral kedap cahaya.

    Di bawah ortoskop semua mineral kedap cahaya tampak sebagai butiran yang gelap/hitam. Mineral jenis ini tidak dapat dideskripsikan dengan mikroskop polarisasi, dan dapat dipelajari lebih lanjut dengan mikroskop pantulan. Mineral tembus cahaya dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu mineral berwarna dan mineral tidak berwarna. Inklusi Pada kristal tertentu, selama proses kristalisasi sebagian material asing yang terkumpul pada permukaan bidang pertumbuhannya akan terperangkap dalam kristal, dan seterusnya menjadi bagian dari kristal tersebut. Material tersebut dapat berupa kristal yang lebih kecil dari mineral yang berbeda jenisnya, atau berupa kotoran/impurities pada magma, dapat juga berupa fluida baik cairan ataupun gas. Kungkungan dapat dikenali di bawah mikroskop tanpa nikol apabila terdapat perbedaan antara bahan inklusi dengan kristal yang mengungkungnya, misalnya pada ketembusannya, relief maupun perbedaan warna. Bidang batas antara inklusi dengan mineral yang mengungkungnya dapat bersifat seperti batas bidang kristal biasa.

    Apabila kristal tersebut dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk euhedral

     Di bawah ortoskop semua mineral kedap cahaya tampak sebagai butiran yang gelap/hitam. Mineral jenis ini

    Apabila kristal tersebut dibatasi oleh hanya sebagian bidang kristalnya sendiri maka kristal disebut mempunyai bentuk subhedral

     Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai

    Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk anhedral

     Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai

    Parameter lain untuk menyatidakan bentuk adalah jumlah dan perbandingan panjang bidang-bidang batas kristal, terutama untuk kristal- kristal yang euhedral. Istilah yang sering digunakan antara lain: prismatik, tabular, granular, lathlike, fibrous, foliated, radiated, dan sebagainya. Untuk kristal yang dalam pertumbuhannya terhalang oleh kristal yang lain atau juga terhalang magma yang kental, sering menghasilkan bentuk “incipient crystals”.

     Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai

    Gambar 2.2 Parameter lain

    Belahan Belahan dalam sayatan mineral bisa terlihat dalam bentuk garis-garis

    yang teratur sepanjang bidang belahannya, di mana kenampakannya bisa sangat baik, baik, buruk atau tidak ada. Dalam hal tertentu sebaiknya orientasi belahan inii ditentukan kedudukannya terhadap sumbu kristalnya. Belahan merupakan sifat fisikyang tetap pada satu jenis mineral yang menunjukkan sifat khas dari struktur atom di dalamnya.

    • a. Belahan satu arah Pada mineral yang disayat tegak lurus atau miring terhadap arah bidang belahan , akan nampak sebagai garis lurus yang sejajar satu sama lain. Pada mineral yang disayat sejajar bidang belahan tidak menunjukkan belahan.

    • Belahan Belahan dalam sayatan mineral bisa terlihat dalam bentuk garis-garis yang teratur sepanjang bidang belahannya,
    • b. Belahan dua arah Pada mineral yang disayat sejajar sumbu C, akan nampak sebagai satu bidang belahan. Pada mineral yang disayat miring atau tegak lurus sumbu C, akan nampak dua belahan. Cleavage dibagi menjadi :

      • 1. Perfect Cleavage/sempurna

      • 2. Good Cleavage/baik

      • 3. Poor Cleavage/jelek

    c. Belahan tiga arah Mineral yang mempunyai belahan tiga arah, akan menampakkan belahan dua arah disetiap
    • c. Belahan tiga arah Mineral yang mempunyai belahan tiga arah, akan menampakkan belahan dua arah disetiap jenis sayatan.

    c. Belahan tiga arah Mineral yang mempunyai belahan tiga arah, akan menampakkan belahan dua arah disetiap

    Pecahan

    Pecahan atau fracture adalah kecenderungan dari suatu mineral untuk pecah dengan cara tertentu yang tidak dikontrol oleh struktur atom seperti halnya belahan. Jenis-jenis pecahan yang khas antara lain pecahan seperti gelas (subconchoidal fracture) pada kuarsa, pecahan memotong pada olivin, ortopiroksen dan nefelin. Indeks Bias dan Relief Relief adalah ekspresi dari cahaya yang keluar dari suatu media kemudian masuk ke dalam media yang lain yang mempunyai harga indeks bias yang berbeda, sehingga cahaya tersebut mengalami pembiasan pada batas kontidak kedua media tersebut. Semakin besar perbedaan harga indeks bias antara kedua media, maka semakin jelas bidang batas natara keduanya. Sebaliknya semakin kecil perbedaan harga

    indeks bias, maka kenampakan bidang batas antar mineral akan semakin kabur. Untuk mempermudah pengamatan relief di bawah ortoskop, maka sayatan mineral/batuan dilekatkan pada kaca dengan menggunakan media balsam kanada yang mempunyai relief nol (sebagai standar) dengan n = 1.537.

    R Relief tinggi n < 1.443 Contoh: fluorit (n=1.434) e l Relief sedang n = 1.494-1.443
    R
    Relief tinggi
    n < 1.443
    Contoh: fluorit (n=1.434)
    e
    l
    Relief sedang
    n = 1.494-1.443
    Zeolit (n=1.480)
    i
    e
    Relief rendah
    n = 1.543-1.493
    Plagioklas asam(n=1.518-
    f
    1.533) nefelin (n=1.526 -
    1.546)
    R
    Balsam kanada n = 1.537 atau kuarsa nω = 1.544
    e
    R
    Relief rendah
    n = 1.545-1.599
    Plagioklas basa,
    e
    klorit,muskovit
    l
    Relief sedang
    n = 1.600-1.699
    i
    amfibol, turmalin,
    andalusit, apatit,
    e
    f
    Relief tinggi
    n > 1.699
    Olivin, piroksen,
    kianit, sfen

    Tabel 2.1 Harga index bias dan relief beberapa jenis mineral dibandingkan dengan n standar

    • 2.4 Pengamatan Mikroskopik dengan Nikol Bersilang Pengamatan ortoskopik nikol bersilang (crossed polarized light) dimaksudkan bahwa dalam pengamatannya digunakan analisator bersilangan dengan polarisator (sinar diserap dalam dua arah yang saling tegak lurus). Sifat yang dapat diamati adalah sifat optik yang berhubungan

    dengan kedudukan dan jumlah sumbu optik. Sifat optik yang diamati antara lain warna interferensi, gelapan dan kedudukan gelapan serta kembaran.

    dengan kedudukan dan jumlah sumbu optik. Sifat optik yang diamati antara lain warna interferensi, gelapan dan

    Gambar. 2.6. Hasil Pengamatan nikol bersilang

    Warna Interferensi Warna interferensi adalah sifat optik yang sangat penting, namun penjelasannya cukup rumit, sehingga kita harus memahami konsep dasarnya secara bertahap. Pada posisi sumbu sinar sembarang terhadap arah getar polarisator inilah, komponen sinar lambat dan cepat tidak diserap oleh analisator,

    sehingga dapat diteruskan hingga mata pengamat. Karena perbedaan kecepatan rambat sinar cepat dan lambat inilah, maka terjadi yang

    disebut sebagai beda fase atau retardasi. Semakin besar selisih indeks bias, semakin besar beda fase/retardasinya. Warna interferensi dapat ditentukan dengan memutar meja objek yang terdapat sayatan mineral hingga diperoleh terang maksimal. Warna terang tersebut dicocokkan dengan tabel interferensi Michel Levy Chart (lampiran).

    • - polariser + analyser

    • - polariser + isotropic mineral + analyser

    • - polariser + anisotropic mineral + analyser (position perpendicular to the optic axis)

    • - polariser + anisotropic mineral + analyser. Specific position: extinction position

    - polariser + anisotropic mineral + analyser. General position:

    interference colour. Benang Silang Benang silang berada pada lensa okular, satu benang melintang ke kanan-kiri dan benang yang lain melintang ke atas dan ke bawah. Berfungsi untuk mengetahui kedudukan koordinat bidang sumbu mineral, atau sudut interfacial kristall. Meja obyektif harus berkedudukan centered dengan perpotongan benang silang, jika tidak centered maka benang silang tidak akan terlihat. Pembacaan akan dapat dilakukan jika salah satu sisi kristal sejajar dengan benang silang kanan-kiri, selanjutnya meja obyektif diputar sampai benang silang yang lain sejajar dengan arah lain dari meja obyektif tetetapi berlawanan dengan center-nya

     interference colour. Benang Silang Benang silang berada pada lensa okular, satu benang melintang ke kanan-kiri

    Gambar.2.7. Benang silang

    Tanda rentang optik Tanda rentang optik adalah istilah untuk menunjukkan hubungan antara sumbu kristalografi (terutama arah memanjangnya kristal) dengan sumbu sinar cepat (x) dan lambat (z). Tujuannya adalah menentukan sumbu sinar mana (x atau z) yang kedudukannya berimpit atau dekat (menyudut lancip) dengan sumbu panjang kristal. Dengan demikian, TRO hanya dimiliki oleh mineral yang memiliki belahan satu arah atau arah memanjangnya mineral (sumbu c). Jenis tanda rentang optik yaitu :

    - Length slow (+) = sumbu c berimpit /menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat (sumbu z). Keadaan ini dinamakan Addisi yaitu

    penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan.

    • - Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut lancip dengan arah

    getar sinar cepat (sumbu x). Keadaan ini dinamakan

    Substraksi

    yaitu pengurangan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. Kembaran Selama pertumbuhan kristal atau pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi, dua atau lebih kristal intergrown dapat terbentuk secara simetri. Simetri intergrown inilah yang dikenal sebagai kembaran. Kembaran hanya dapat diamati pada nikol bersilang karena kedudukan kisi pada dua lembar kembaran yang berdampingan saling berlawanan, sehingga kedudukan gelapan dan warna interferensi maksimalnya berlainan. Secara genesa, kembaran dapat terbentuk dalam tiga proses yang berbeda yaitu kembaran tumbuh, transformasi, dan deformasi. 1. Kembaran tumbuh/Growth Twins Kembaran ini terbentuk bersamaan pada saat kristalisasi atau pertumbuhan kristal, di mana dua unit kristal berbagi dan tumbuh dari satu kisi yang sama dengan orientasi berlawananJenis kembaran ini terbagi atas kembaran kontidak dan kembaran penetrasi. Contoh jenis kembaran ini adalah kembaran carlsbad pada ortoklas dan kembaran albit pada plagioklas.

    penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. - Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut
    penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. - Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut
    penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. - Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut

    Gambar 2.8 Kembaran tumbuh

    • 2. Kembaran transformasi Kembaran ini dapat terjadi karena kristal mengalami transformasi karena perubahan P dan T terutama karena perubahan T. Hal ini hanya dapat terjadi pada kristal yang mempunyai struktur dan simetri yang berbeda pada kondisi P dan T yang berbeda. Pada saat P&T berubah, bagian tertentu dari kristal ada yang stabil ada yang mengalami perubahan orientasi kisi, sehingga terjadi perbedaan orientasi pada bagian berbeda dari kristal. Contoh: kembaran dauphin dan kembaran brazil pada kuarsa terbentuk karena penurunan T. Contoh lain adalah kembaran periklin yang terjadi pada saat sanidin (monoklin, high T) berubah menjadi mikroklin (triklin, low T).

    2. Kembaran transformasi Kembaran ini dapat terjadi karena kristal mengalami transformasi karena perubahan P dan T

    Gambar 2.9 Kembaran transformasi

    • 3. Kembaran Deformasi/Deformation Twins Kembaran ini terjadi setelah kristalisasi, pada saat kristal telah padat. Karena deformasi (perubahan P) atom pada kristal dapat terdorong dari posisi semula. Apabila perubahan posisi ini terjadi pada susunan yang simetri, akan menghasilkan kembaran. Contoh kembaran jenis ini adalah polisintetik pada kalsit.

    2. Kembaran transformasi Kembaran ini dapat terjadi karena kristal mengalami transformasi karena perubahan P dan T

    BAB III HASIL DESKRIPSI

    • 3.1 No. Preparat 11-B2

      • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : Cokelat Kehitaman

    Ukuran

    : 1 x 1,3 mm

    Bentuk

    : Subhedral

    Belahan

    : Tidak ada

    Pecahan

    : Ada, banyak dan teratur

    Inklusi

    : Ada

    Relief

    : Sedang

    Pleokroisme

    : Monokroik

    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

    Gelapan

    : Ada, sejajar

    Sudut Gelapan Kembaran Sudut Kembaran

    : 90° : - :

    -

    Warna Interferensi TRO

    : Kuning orde II kuning orde III : Addisi (+)

    Sign of Elongation Gambar

    : Length slow :

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    Gambar 3.7 Nikol Sejajar 11-B2
    Gambar 3.7 Nikol Sejajar 11-B2
    Gambar 3.8 Nikol Bersilang 11-B2
    Gambar 3.8 Nikol Bersilang 11-B2

    Gambar 3.8 Nikol Bersilang 11-B2

    Nama Mineral

    : Biotit

    3.2

    No. Preparat 11-BM9

    • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : Colorless

    -

     

    Ukuran

    : < 1 mm

    Bentuk

    : Anhedral, prismatik

    Belahan

    : Ada, 3 arah

    Pecahan

    : Ada, teratur, banyak

    Inklusi

    :

    Relief

    : Rendah

    Pleokroisme

    : Monokroik

     
    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

     

    Gelapan

    : Ada, miring

     

    Sudut Gelapan Kembaran

    : 30 0 - :

    -

    5 0 = 25 0

    Sudut Kembaran

    :

    -

    Warna Interferensi

    : Pink orde II cokelat orde I

    TRO Sign of Elongation Gambar

    : Substraksi (-) : Lenght fast :

     

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    3.2 No. Preparat 11-BM9 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless - Ukuran : < 1
    3.2 No. Preparat 11-BM9 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless - Ukuran : < 1

    Gambar 3.9 Nikol Sejajar 11-BM9

    3.2 No. Preparat 11-BM9 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless - Ukuran : < 1
    3.2 No. Preparat 11-BM9 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless - Ukuran : < 1

    Gambar 3.10 Nikol Bersilang 11-BM9

    Nama Mineral

    : Kalsit

    3.3

    No. Preparat BM-2

    • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : Colorless

    Ukuran

    :

    -

    Bentuk

    -

    Belahan

    : Anhedral, granular :

    Pecahan

    : choncoidal

    Inklusi

    : -

    Relief

    : Rendah

    Pleokroisme

    : Monokroik

    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

    Gelapan

    : Ada, bergelombang

    Sudut Gelapan

    :

    -

    Kembaran

    :

    -

    Sudut Kembaran Warna Interferensi

    :

    - : Putih orde I pink tua orde III

    TRO Sign of Elongation Gambar

    : Length slow :

    : Addisi (+)

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    3.3 No. Preparat BM-2 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless Ukuran : - Bentuk -
    3.3 No. Preparat BM-2 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless Ukuran : - Bentuk -

    Gambar 3.11 Nikol Sejajar BM-2

    3.3 No. Preparat BM-2 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless Ukuran : - Bentuk -
    3.3 No. Preparat BM-2 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Colorless Ukuran : - Bentuk -

    Gambar 3.12 Nikol Bersilang BM-2

    Nama Mineral

    : Kuarsa

    3.4

    No. Preparat 11-B1

    • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : Kecoklatan

    Ukuran

    : 4 x 0,5 mm (perbesaran 4 kali)

    Bentuk

    : Euhedral, columnar

    Belahan

    : 2 arah

    Pecahan

    : Ada, sedikit, tidak beraturan

    Inklusi

    : Ada

    Relief

    : tinggi

    Pleokroisme

    : dikroik

    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

    Gelapan

    : Ada, miring

    Sudut Gelapan Kembaran

    : 123 0 - 95 0 = 28 0 :

    -

    Sudut Kembaran

    :

    -

    Warna Interferensi

    : Kuning muda orde II Kuning orde III

    TRO Sign of Elongation Gambar

    : Length fast :

    : Addisi (+)

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    3.4 No. Preparat 11-B1 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Kecoklatan Ukuran : 4 x 0,5
    3.4 No. Preparat 11-B1 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Kecoklatan Ukuran : 4 x 0,5

    Gambar 3.13 Nikol Sejajar 11-B1

    3.4 No. Preparat 11-B1 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Kecoklatan Ukuran : 4 x 0,5
    3.4 No. Preparat 11-B1 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : Kecoklatan Ukuran : 4 x 0,5

    Gambar 3.14 Nikol Bersilang 11-B1

    Nama Mineral

    : Hornblende

    3.5

    No. Preparat 11-B10

    • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : Colorless

    Ukuran

    : 3mm

    Bentuk

    : lathlike, subhedral-euhedral

    Belahan

    : Ada, 1 arah

    Pecahan

    : Ada, sedikit, tidak teratur

    Inklusi

    : Ada

    Relief

    : Rendah-sedang

    Pleokroisme

    : Monokroik

    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

    Gelapan Sudut Gelapan Kembaran Sudut Kembaran Warna Interferensi TRO Sign of Elongation Gambar

    : Tidak ada : Tidak ada : ada, carlsbad : 48° : Orange orde I merah muda orde I : Adisi (+) : lenght slow :

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    Gambar 3.15 Nikol Sejajar 11-B10 Gambar 3.16 Nikol Bersilang 11-B10 Nama Mineral : Orthoklas
    Gambar 3.15 Nikol Sejajar 11-B10
    Gambar 3.16 Nikol Bersilang 11-B10
    Nama Mineral
    : Orthoklas

    3.6

    No. Preparat 11B-7

    • 1. Deskripsi Nikol Sejajar

    Warna

    : colorless

    Ukuran

    : 3mm

    Bentuk

    : lathlike

    Belahan

    : 1 arah

    Pecahan

    : Ada, teratur, banyak

    Inklusi

    : Tidak ada

    Relief

    : Rendah

    Pleokroisme

    : Monokroik

    • 2. Deskripsi Nikol Bersilang

    Gelapan

    : Ada, miring

     

    Sudut Gelapan Kembaran

    : 190 0 :

    -

    - 151 0 =

    39 0

    Sudut Kembaran Warna Interferensi

    :

    - :Putih orde I kuning orde I

    TRO Sign of Elongation Gambar

    : Length slow :

    : Adisi (+)

     

    Nikol Sejajar

    Nikol Bersilang

    3.6 No. Preparat 11B-7 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : colorless Ukuran : 3mm Bentuk :
    3.6 No. Preparat 11B-7 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : colorless Ukuran : 3mm Bentuk :

    Gambar 3.17 Nikol Sejajar 11-B7

    3.6 No. Preparat 11B-7 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : colorless Ukuran : 3mm Bentuk :
    3.6 No. Preparat 11B-7 1. Deskripsi Nikol Sejajar Warna : colorless Ukuran : 3mm Bentuk :

    Gambar 3.18 Nikol Bersilang 11-B7

    Nama Mineral

    : Klinopiroksen(diopsid)

    BAB IV PEMBAHASAN

    4.1 No. Preparat 11-B2 (biotit)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor 11-B2 ini dapat di amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme.

    Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interference colors.

    Pada mineral yang di amati ini dengan nikol sejajar terlihat warna yang

    cokelat kehitaman. Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm dan didapatkan hasil 1x1,3 mm. Bentuk mineral pada mineral ini adalah subhedral karena kristal tersebut dibatasi oleh hanya sebagian kristalnya sendiri. Pada mineral ini kemungkinan adalah mineral yang terbentuk setelah adanya mineral lain. Pada mineral ini tidak terlihat kenampakan belahannya. Pecahan pada mineral ini ada, cukup banyak, dan juga teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang cukup tinggi. Lalu pada pengamatan ini terlihatanya adanya inklusi yang memungkinkan selama proses kristalisasi ini sebagian material asing terkumpul dan terperangkap dalam kristal. Relief pada mineral yang di amati adalah relief sedang karena kenampakkan bidang batas mineral tidak terlihat jelas namun tidak juga kabur. Relief sedang pada mineral ini dikarenakan tidak besar tetapi tidak kecil juga perbedaan harga indeks bias. Pada pengamatan relief ini menggunakan balsam kanada untuk

    mempermudah pengamatan relief di bawah ortoskop karena dengan menggunakan media balsam kanada memiliki relief nol. Mineral ini bersifat isotropik, karena pada saat meja objek diputar hanya terdapat satu warna saja. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada pengamatan nikol bersilang, gelapan dapat terjadi karena tidak ada cahaya yang diteruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Pada mineral ini memiliki gelapan sejajar yang terjadi dimana sumbu panjang kristal (sumbu c) sejajar dengan arah getar PP dan atau AA. Sehingga dapat dikatan sumbu optik berimpit dengan sumbu kristalografi dan dari perhitungan sudut yaitu 90°. Interferensi warna yang terjadi adalah kuning orde II sampai pada kuning orde III. Tanda rentang optik ini adalah addisi karena menambahnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan, yang berarti sign of elongation nya adalah lenght slow, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat. Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilang, mineral yang di amati adalah biotit.

    4.2 No. Preparat 11-BM9 (kalsit)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor 11-BM9 ini dapat di amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati

    adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme. Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interferebce colors.

    Pada mineral yang di amati pada nikol sejajar ini tidak terlihatnya warna atau tembus cahaya. Mineral tembus cahaya dapat dibagi dua jenis yaitu mineral berwarna dan mineral tidak berwarna. Pada mineral yang di amati termasuk pada jenis mineral tidak berwarna. Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau

    cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm dan didapatkan hasil <1 mm. Bentuk mineral pada mineral ini adalah anhedral karena kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri. Pada mineral ini terlihat kenampakan belahannya yaitu belahan tiga arah biasanya belahan tiga arah ini terdapat pada mineral yang disayat miring atau tegak lurus sumbu c. Pecahan pada mineral ini ada, cukup banyak, dan juga teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang cukup tinggi. Lalu pada pengamatan ini tidak terlihatanya adanya inklusi. Relief pada mineral yang di amati adalah relief rendah karena kenampakkan bidang batas mineral tidak terlihat jelas. Kenampakan relief rendah ini dikarenakan kecilnya indeks bias dan mengakibatkan kenampakkan bidang batas antar mineral akan semakin kabur. Pada pengamatan relief ini menggunakan balsam kanada untuk mempermudah pengamatan relief di bawah ortoskop karena dengan menggunakan media balsam kanada memiliki relief nol. Mineral ini bersifat isotropik karena pada saat meja objek diputar hanya terdapat satu warna saja. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada mineral ini memiliki gelapan yang terjadi karena karena tidak ada cahaya yang di teruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Kedudukan gelapan ini miring dimana sumbu panjang kristal(sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP atau AA dan dari perhitungan sudutnya di dapatkan hasil 25°. Interferensi warna yang terjadi adalah merah muda orde II sampai pada cokelat orde I. Tanda rentang optik ini adalah substraksi karena berkurangnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. yang berarti sign of elongation nya adalah lenght

    fast, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat. Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilang mineral yang di amati adalah kalsit.

    • 4.3 No. Preparat BM-2 (kuarsa)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor BM-2 ini dapat di amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati

    adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme. Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interferebce colors.

    Pada mineral yang di amati ini tidak terlihatnya warna atau tembus cahaya. Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm. Bentuk mineral pada mineral ini adalah anhedral karena kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri dan juga bentuk mineralnya granural. Pada mineral ini tidak terlihat kenampakan belahannya. Pecahan pada mineral ini ada dan juga teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang tidak terlalu tinggi. Lalu pada pengamatan ini tidak terlihatanya adanya inklusi. Relief pada mineral yang di amati adalah relief rendah karena kenampakkan bidang batas mineral tidak terlihat jelas. Mineral ini bersifat isotropik karena pada saat meja objek diputar hanya terdapat satu warna saja. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada mineral ini memiliki gelapan

    bergelombang yang terjadi karena pada mineral yang mengalami teganganatau distorsi sehingga orientasi sebagian sisi kristal mengalami perubahan berangsur dan kedudukan gelapan masing-maing agak berbeda. Interferensi warna yang terjadi adalah putih orde I sampai pada merah muda orde II. Tanda rentang optik ini adalah adisi karena bertambahnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan yang berarti sign of elongation nya adalah lenght slow, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat(sumbu z). Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilang mineral yang di amati adalah kuarsa.

    • 4.4 No. Preparat 11-B2 (hornblende)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor 11-B1 ini dapat di amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati

    adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme. Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interferebce colors.

    Pada mineral yang di amati ini terlihatnya warna kecoklatan. Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm dan didapatkan hasil 4x0,5 mm. Bentuk mineral pada mineral ini adalah euhedral karena kristal tersebut dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan dan juga bentuk mineralnya columnar. Pada mineral ini terlihat kenampakan belahannya yaitu belahan dua arah. Pecahan pada mineral ini ada, sedikit, dan juga teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang tidak terlalu tinggi. Lalu

    pada pengamatan ini terlihatanya adanya inklusi. Relief pada mineral yang di amati adalah relief tinggi karena kenampakkan bidang batas mineral terlihat jelas. Mineral ini bersifat anisotropik karena pada saat meja objek diputar terdapat kenampakan dua warna. Dengan demikian mineral yang anisotropik mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada mineral ini memiliki gelapan yang terjadi karena karena tidak ada cahaya yang di teruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Kedudukan gelapan ini miring dimana sumbu panjang kristal(sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP atau AA dan dari perhitungan sudut yaitu 28°. Interferensi warna yang terjadi adalah hijau orde III sampai dengan cokelat II. Tanda rentang optik ini adalah substraksi karena berkurangnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan yang berarti sign of elongation nya adalah lenght fast, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat. Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilangmineral yang di amati adalah hornblende.

    4.5 No. Preparat 11-B10 (orthoklas)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor 11-B10 ini dapat di

    amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme. Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interferebce colors.

    Pada mineral yang di amati ini tidak terlihatnya warna atau tembus cahaya.

    Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm dan didapatkan hasil 3x3mm. Bentuk mineral pada mineral ini adalah lathlike, subhedral-euhedral. Pada mineral ini terlihat kenampakan

    belahannya yaitu belahan satu arah terlihat dari bidang-bidang belahan yang nampak sebagai garis lurus yang sejajar satu dengan yang lain. Pecahan pada mineral ini ada, sedikit, dan juga tidak teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan semakin kebawah pada tabel Bowens Reaction Series maka resistensi pada mineral akan semakin kuat, yang berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang cukup tinggiLalu pada pengamatan ini terlihatanya adanya inklusi. Relief pada mineral yang di amati adalah relief rendah sampai sedang karena kenampakkan bidang batas mineral tidak terlihat jelas. Kenampakan relief rendah sampai sedang ini dikarenakan kecilnya harga indeks bias antara kedua media yang mengakibatkan kenampakan biadang batas antar mineral akan semakin kabur. Mineral ini bersifat isotropik karena pada saat meja objek diputar hanya terdapat kenampakan satu warna saja. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada mineral tidak ini memiliki gelapan, namun terlihat kembaran carlsbad. Kembaran terjadi selama pertumbuhan kristal atau pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi, dua atau lebih kristal intergrown dapat terbentuk secara simetri. Twinning angle nya di dapatkan hasil 48°. Interferensi warna yang terjadi adalah orange orde I sampai dengan merah muda orde I. Tanda rentang optik ini adalah addisi karena bertambahnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan yang berarti sign of elongation nya adalah lenght slow, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat(sumbu z).

    Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilangmineral yang di amati adalah orthoklas.

    4.6 No. Preparat 11B-7 (klinopiroksen)

    Pada pengamatan yang dilakukan pada preparat nomor 11-B7 ini dapat di

    amati pada nikol sejajar dan bersilang. Pada nikol sejajar yang dapat diamati adalah warna, ukuran, bentuk, belahan, pecahan, inklusi, relief, plekroisme. Sedangkan pada nikol bersilang yang dapat di amati adalah gelapan, sudut gelapan, kembaran, sudut kemberan, optic sign, sign of elongation, interferebce colors.

    Pada mineral yang di amati ini tidak terlihatnya warna atau tembus cahaya. Lalu yang dapat diamati adalah ukurannya, ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm. Dalam pengukuran yang dilakukan menggunakan penggaris yang tembus pandang(transparant) ini menggunakan satuan mm dan didapatkan hasil 3mm dengan perbesaran 10 kali. Bentuk mineral pada mineral ini adalah lathlike. Pada mineral ini terlihat kenampakan belahannya yaitu belahan satu arah terlihat dari bidang-bidang belahan yang nampak sebagai garis lurus yang sejajar satu dengan yang lain. Pecahan pada mineral ini ada, banyak, dan juga teratur. Mineral yang memiliki pecahan ini pembentukkannya dapat dianalisis dari Bowens Reaction Series. Pada tabel Bown Reaction Series mineral yang terbentuk lebih dahulu akan memiliki pecahan yang banyak karena kurangnya resistensi pada mineral tersebut dan berarti mineral ini terbentuk pada temperatur yang cukup tinggi. Lalu pada pengamatan ini tidak terlihat adanya inklusi. Relief pada mineral yang di amati adalah relief rendah karena kenampakkan bidang batas mineral tidak terlihat jelas. Kenampakan relief rendah ini dikarenakan kecilnya perbedaan harga indeks bias yang mengakibatkan kenampakan bidang batas antar mineral akan semakin kabur Mineral ini bersifat isotropik karena pada saat meja objek diputar hanya terdapat kenampakan satu warna saja. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme. Pada saat pengamatan nikol bersilang yang dapat di amati pertama kali adalah adanya kembaran atau belahan. Pada mineral ini memiliki gelapan yang terjadi karena karena tidak ada cahaya yang di teruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Kedudukan gelapan ini miring dimana sumbu panjang

    kristal(sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP atau AA dan dari perhitungan sudut yaitu 39°. Interferensi warna yang terjadi adalah putih orde I sampai pada kuning orde I. Tanda rentang optik ini adalah adisi karena menambahnya orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan yang berarti sign of elongation nya adalah lenght slow, yang berarti sumbu c berimpit atau menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat(sumbu z). Maka berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan nikol sejajar dan nikol bersilang mineral yang di amati adalah klinopiroksen(diopsid).

    BAB V KESIMPULAN

    Berdasarkan pengamatan preparat nomor 11-B2 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu memiliki warna kehitaman, bentuk berlembar , plekroisme kuat, dan juga gelapan miring, dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah biotit. Berdasarkan pengamatan preparat nomor 11-BM9 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu colorless, belahan sempurna tiga arah, tanda optik nya substraksi , dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah kalsit. Berdasarkan pengamatan preparat nomor BM-2 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu colorless, bentuk tak beraturan, anhedral granural, tidak memiliki belahan, gelapan bergelombang, dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah kuarsa. Berdasarkan pengamatan preparat nomor 11-B1 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu memiliki warna hijau kecoklatan, relief tinggi, juga gelapan miring, dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah hornblende. Berdasarkan pengamatan preparat nomor 11-B10 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu colorless, relief rendah, kembaran carlsbad, dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah orthoklas. Berdasarkan pengamatan preparat nomor 11-B7 yang telah dilakukan pada nikol sejajar dan bersilang yaitu colorless, relief rendah, gelapan miring, dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah klinopiroksen(diopsid).

    DAFTAR PUSTAKA