Anda di halaman 1dari 5

1.

Batik Kawung

Batik motiI Kawung mempunyai
makna yang melambangkan harapan
agar manusia selalu ingat akan asal
usulnya.
Jaman dahulu, batik motiI kawung
dikenakan di kalangan kerajaan.
Pejabat kerajaan yang mengenakan
batik motiI kawung mencerminkan
pribadinya sebagai seorang pemimpin
yang mampu mengendalikan hawa
naIsu serta menjaga hati nurani agar
ada keseimbangan dalam perilaku
kehidupan manusia.
Sejarah diketemukannya batik motiI
kawung ini adalah ketika ada seorang pemuda dari desa yang mempunyai penampilan berwibawa
serta disegani di kalangan kaumnya. Tak lama karena perilaku pemuda ini yang sangat santun
dan bijak, hingga membuat namanya terdengar hingga di kalangan kerajaan Mataram.
Pihak kerajaan merasa penasaran dengan kemashuran nama pemuda ini, sehingga diutuslah telik
sandi untuk mengundang pemuda ini menghadap raja. Sang telik sandipun berhasil menemukan
pemuda ini. Mendengar bahwa putranya diundang oleh raja, membuat ibunda merasa terharu dan
menggantungkan banyak harapan. Ibunda berpesan agar si pemuda ini bisa menjaga diri & hawa
naIsu serta tidak lupa akan asal-usulnya.
Untuk itulah ibunda membuatkan batik dengan motiI kawung, dengan harapan putranya bisa
menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat banyak.
Tak lama kemudian setelah dipanggil oleh pihak kerajaan dan diberikan beberapa pekerjaan yang
selalu bisa diselesaikannya, akhirnya pemuda ini diangkat menjadi adipati Wonobodro.
Dalam pengangkatannya sebagai adipati Wonobodro, pemuda ini mengenakan baju batik
pemberian ibundanya dengan batik motiI kawung.
Dan akhirnya hingga saat ini, batik motiI kawung semakin dikenal masyarakat.

. Batik sidomukti
Mengandung makna kemakmuran. Demikianlah
bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain
keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar
hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau
makmur baik di dunia maupun di akhirat. Orang
hidup di dunia adalah mencari kemakmuran dan
ketentraman lahir dan batin. Untuk mencapai
kemakmuran dan ketentraman itu niscaya akan
tercapai jika tanpa usaha dan kerja keras,
keluhuran budi, ucapan, dan tindakan. Namun
untuk mencapai itu semua tentu tidaklah mudah.
Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa
naIsu, mengurangi kesenangan, menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain,
dan sebagainya, agar dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai
kemakmuran lahir dan batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat Jawa dan
tentu juga secara universal.

. Batik truntum

MotiI batik Truntum diciptakan oleh Kanjeng
Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku
Buwana III) bermakna cinta yang tumbuh
kembali. Beliau menciptakan motiI ini sebagai
simbol cinta yang tulus tanpa syarat,abadi dan
semakin lama terasa semakin subur
berkembang(tumaruntum).
Boleh dibilang motiI truntum merupakan
simbol dari cinta yang bersemi kembali.
Menurut kisahnya, Sang Ratu yang selama ini
dicintai dan dimanja oleh Raja, merasa
dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai
kekasih baru. Untuk mengisi waktu dan
menghilangkan kesedihan, Ratu pun mulai
membatik. Secara tidak sadar ratu membuat
motiI berbentukbintang-bintang di langit yang
kelam, yang selama ini menemaninya dalam
kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik
menarik perhatian Raja yang kemudian mulai
mendekati Ratu untuk melihat pembatikannya.
Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, sedikit demi sedikit kasih
sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali. Berkat motiI ini cinta raja bersemi kembali
atau tum-tum kembali, sehingga motiI ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang
bersemi kembali
Karena maknanya,kain motiI truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari
pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua
mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk 'menuntun kedua
mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

. Batik semen cuwiri sala

Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono IV (1787
1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota sebagai calon penggantinya. Beliau
menciptakan pola tersebut guna mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang
penguasa seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan Wibisana
saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan sebutan Hasta Brata.
Wejangan ini terdiri dari 8
(hasta) hal yang masing-masing
ditampilkan dalam pola semen
dengan bentuk ragam-ragam hias
yang mempunyai arti IilosoIis
sesuai dengan makna masing
masing ragam hias tersebut. Oleh
karena itu, pola batik ciptaan
beliau tersebut diberi nama
semen Rama (dari Prabu Rama).
Berdasarkan uraian diatas
nampak bahwa pola semen
merupakan salah satu pola batik
yang mencerminkan pengaruh
agama Hindhu-Budha pada
batik. Hal tersebut dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu kira-kira
pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, abad 17 M),
peradaban di kerajaan tersebut masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat
dipengaruhi oleh agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada unsur-
unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam upacara
adat dan keagamaan hingga saat ini.
Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak zaman Mataram (pada
masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong lebih muda. Pola semen yang diciptakan
setelah pola semen Rama selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen
Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu ragam hias yang selalu
harus dihadirkan dan merupakan ciri dari sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau
meru. Hal ini disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias tersebut.
Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal dari kata Mahameru yaitu
gunung tertinggi tempat bersemayam para dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat
tanah tempat tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.
Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain pola-pola batik Lung-
lungan Buketan, Dan Pinggiran.

. Batik udan riris

Mengandung makna
ketabahan dan harus tahan
menjalani hidup prihatin
biarpun dilanda hujan dan
panas. Demikianlah bagi
orang hidup berumah
tangga, apalagi bagi
pengantin baru, harus
berani dan mau hidup
prihatin ketika banyak
halangan dan cobaan,
ibaratnya tertimpa hujan
dan panas, tidak boleh
mudah mengeluh. Segala
halangan dan rintangan itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama. Suami atau istri
merupakan bagian hidup di dalam rumah tangga. Jika salah satu menghadapi masalah maka
pasangannya harus ikut membantu menyelesaikan, bukan sebaliknya justru menambahi masalah.

. Batik Parangkusumo

Parangkusumo mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari
keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusuma). Demikianlah, bagi orang
Jawa, hidup di
masyarakat yang paling
utama dicari adalah
keharuman pribadinya
tanpa meninggalkan
norma-norma yang
berlaku dan sopan
santun agar dapat
terhindar dari bencana
lahir dan batin.
Walaupun sulit untuk
direalisasikan, namun
umumnya orang Jawa
berharap bisa
menemukan hidup yang
sempurna lahir batin.
Apalagi di zaman yang
serba terbuka sekarang
ini, sungguh sulit untuk mencapai ke tingkat hidup seperti yang diharapkan, karena banyak
godaan. Di zaman materialistis ini, orang lebih cenderung mencari nama harum dengan cara
membeli dengan uang yang dimiliki, bukan dari tingkah laku dan pribadi yang baik.

%ugas Seni Rupa

Motif Batik



Sabrina Umi Khabibah
XII IPA 8 / 1







SMA Negeri 1 Yogyakarta
11