P. 1
Hamil Usia Tua 1

Hamil Usia Tua 1

|Views: 19|Likes:
Dipublikasikan oleh A-ghost Rider

More info:

Published by: A-ghost Rider on Oct 31, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2011

pdf

text

original

Hamil Usia Tua Menurut *dr. Agustinus Gatot, Sp.

OG*, dari RS Mitra Keluarga, siap-tidaknya seorang ibu yang hamil di usia tua, lebih karena faktor si ibu sendiri. "Adakalanya justru ibu yang memulai kehamilan di usia ini, jauh lebih mantap. Sebab, biasanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang sejak memulai pernikahan," terang Gatot. Sebaliknya, ibu yang tak siap mental, lebih disebabkan ia merasa tak percaya diri menghadapi kehamilannya. "Ia merasa sudah tua sehingga menganggap dirinya tak mampu." BERISIKO TINGGI Dalam ilmu kedokteran, terang Gatot, usia reproduksi sehat untuk hamil antara 25-30 tahun. Sehingga, dari segi kesehatan reproduksi, sebetulnya risiko pertama dari usia ini adalah tak dapat hamil karena telah berkurangnya kesuburan. Jadi, bila si wanita usianya telah melewati usia reproduksi sehat untuk hamil ternyata kemudian hamil, berarti risiko itu telah terlewati. Hanya saja, seperti diakui Gatot, usia ini memang tergolong berisiko tinggi dalam kehamilan. Yakni, melahirkan bayi dengan sindroma *down*, yang berciri khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu, berkurangnya tonus otot, dan sebagainya. "Risiko ini akan meningkat sesuai dengan usia ibu, yakni 6-8 per mil untuk usia 35 sampai 39 tahun dan 10-15 per mil untuk usia di atas 40 tahun," jelas Gatot. Kelainan kromoson dan lainnya yang diperkirakan karena sel telur sudah berusia lanjut, terkena radiasi, terpengaruh obat-obatan, infeksi, dan sebagainya, diduga merupakan penyebab sindroma down. Untuk mencermati adanya sindroma ini, dapat dilakukan pemeriksaan amniosentesis. Pada pemeriksaan ini cairan ketuban diambil melalui alat semacam jarum yang dimasukkan melalui perut ibu. Bisa juga dilakukan dengan cara kordosentesis. "Bedanya, jika amniosentesis mengambil cairan ketuban, pada kordosentesis diambil sampel darah janin dari tali pusat," jelas Gatot. Pemeriksaan itu sendiri bisa dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 16-20 minggu. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyerahkan keputusan pada pasangan suami-istri. Apakah akan meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. "Pemeriksaan ini jarang dilakukan mengingat biayanya yang masih cukup tinggi," ujar Gatot. Umumnya ibu memasrahkan segalanya pada Yang Kuasa. Kecuali melahirkan bayi dengan sindroma down, makin tinggi usia ibu main tinggi pula risiko untuk melahirkan. Hal ini dapat berisiko bagi kesehatan ibu sendiri. Bahkan, risiko kematian pun meningkat. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil usia ini, seperti perdarahan *postpartum* (sesudah melahirkan), hipertensi, dan eklampsia. PERAWATAN TERBAIK Kendati demikian, pada dasarnya menjalani kehamilan pada usia di atas 35 tahun, tak berbeda dengan usia lain. Yang terpenting dan pertama ialah kesiapan ibu menjalani kehamilan itu. Nah, dengan perawatan pralahir yang baik, maka ibu hamil berisiko pun bisa mengurangi risiko tersebut. Apa saja perawatan pralahir itu? "Salah satunya tentu dengan pemeriksaan rutin oleh dokter atau bidan," ujar Gatot. Dengan demikian, jika ada gangguan atau kelainan akan bisa segera diketahui dan ditangani. Bahkan,

rubella. ia merasa dibelenggu oleh aturan yang tak biasanya karena sebelumnya ia termasuk tipe wanita enerjik. selalu dimulai dengan pertanyaan. mengkonsumi makanan cukup gizi. Tak perlu berkecil hati. ** Marah* Kemarahan juga kerap melanda wanita yang menjalani kehamilan berisiko. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasangan suami-istri di mana istri menghadapi kehamilan dengan risiko tinggi. Misalnya ketika harus bed rest. Jadi. "Ibu harus melakukan diet yang baik. karena ia tak bisa menjalani kehamilan seperti kebanyakan wanita lain. Dengan demikian risiko calon ibu menjadi berkurang dan si ibu pun bisa menjalani kehamilan serta persalinan dengan lancar. Juga amat perlu senantiasa menjaga menu makanan. Bukan cuma untuk si ibu. dan anjuran. berat lahir bayi yang rendah. juga akan sangat membantu. Tapi jika kehamilan Anda berisiko tinggi. ** Rasa Cemas* Anda berdua mungkin akan dipenuhi rasa cemas setelah mengetahui risiko yang mungkin dialami. aturan itu terasa begitu menyiksanya. Selain itu. tekanan darah tinggi. seperti TORCH (toksoplasmosis. *Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi* ** Kehamilan adalah proses normal untuk dialami. Ingat. Artinya. Ia takut untuk berbuat sesuatu di luar itu. Berbagilah dengan pasangan. citomegalovirus. Anda berdua mungkin tak berharap terlalu banyak terhadap kondisi janin. bukan penyakit yang harus diobati. tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.menjelang kehamilan. lanjut Gatot. si ibu sekaligus bisa mencapai berat badan ideal (tak lebih dan tak kurang) sehingga ibu bisa terhindar dari berbagai komplikasi seperti sakit gula. Tapi Anda berdua tak boleh larut dalam kecemasan. si ibu akan terus-menerus mengingatnya. dan sebagainya). semua itu demi Anda dan janin di kandungan. dokter banyak memberi obat-obatan. calon ibu harus menyiapkan diri dengan pemeriksaan untuk berbagai infeksi. Sehingga tiap kali akan berbuat sesuatu. atau kesulitan persalinan karena ukuran bayi yang terlalu besar. Misalnya. Jalani saja dengan santai. larangan. dan obat-obatan yang tak perlu. agar perasaan itu sedikit berkurang. . wanita dengan kehamilan berisiko tinggi juga bisa merasa bersalah. wasir. Jadi. Apalagi kehamilan yang disertai kecemasan sangat tak baik pengaruhnya bagi si ibu maupun janin. bergaya pola hidup sehat seperti menjauhi rokok. tapi juga demi si janin. varises. "Bolehkah saya melakukan ini? Apakah ini tak akan bertambah membahayakan bayi saya?" Menghilangkan sama sekali rasa tertekan itu memang agak mustahil. ** Merasa Bersalah* Di sisi lain." Dengan menjalani diet. Yang lebih parah. alkohol. ** Merasa Tertekan* Karena banyak anjuran dan larangan.

Tapi. Usia saya sekarang sudah di atas 40. mantap. saya sering kesemutan. ia bersama suami memutuskan untuk meneruskan kehamilan tanpa menjalani tes itu. Saya yakin kehamilan ini yang terbaik buat saya. saya sama sekali tidak makan makanan instan. segalanya akan berjalan lancar. 36 tahun. . Misalnya. Padahal. Lily dan suaminya sudah tahu bahwa mereka tergolong pasangan yang "terlambat" untuk hamil." tuturnya. Saya pun berdoa memohon petunjuk. "Saya ingin menjalani kehamilan dengan tenang.Ia merasa. "Saya pasrah pada Yang Kuasa. "Saya memang menikah di usia yang sudah enggak muda lagi. "Sampai-sampai saya diledekin teman-teman. dokter menyarankannya untuk menjalani tes amniosentesis. jika kita menjalaninya dengan ikhlas." lanjutnya. Saya sendiri yang menginginkannya." katanya." katanya lagi. Ia pun melakukan pemeriksaan cukup lengkap. agar bisa lebih yakin. Saya menimbang baik buruknya. tapi saya enggak peduli. Lily melahirkan normal. karena ia menganggap dirinya yang menyebabkan istrinya "menderita". Hasilnya. "Tapi sebelum hamil." terangnya. Bahkan. yang boleh masuk ke mulut saya hanyalah makanan sehat penuh gizi. Dalam menjalani kehamilannya." tutur Lily. dirinyalah yang menyebabkan semua itu. ia mengaku sampai melakukan pemeriksaan rutin ke dokter tiap dua minggu sekali." katanya. *Pengalaman Berharga* ** Lily. sih. ada banyak hal yang di luar kekuatan dan kemampuan kita. Hanya makanan terbaik buat janin di rahimnya yang boleh masuk ke mulutnya. Ia pun sangat menjaga mutu makanannya. seorang karyawati bank swasta hamil untuk pertama kalinya ketika usianya sudah memasuki 38 tahun. dokter enggak meminta demikian." katanya. Ia tetap bekerja seperti biasa. "Cukup satu saja.45 kg dan panjang 51 cm. Akhirnya. Bahkan. memang sesuai harapan. ** Menganggap Diri Kurang* Seorang wanita yang tak memiliki kehamilan "normal" juga bisa menganggap dirinya tak mampu atau kurang. Pasangannya pun akan diliputi rasa bersalah. seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat 3. Harus diingat. ia mengalami mual-mual hebat. kenyataannya tidaklah demikian. termasuk TORCH. Apalagi saya sudah tahu bahwa kehamilan saya berisiko karena usia saya. Pokoknya. "Sebetulnya. Ketika kehamilannya mencapai usia 17 minggu. Padahal. pada trimester pertama. percayalah. yang lalu menghilang di trimester kedua. "Cuma. Lily merasa tak berbeda seperti wanita lain yang kehamilannya tak berisiko. "Saya berdiskusi cukup lama tentang hal itu. Karena itu. tentu saja bukan. Kendati demikian. ia tak mengurangi kegiatannya." akunya. saya berkonsultasi dulu dengan dokter.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->