Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sesuatu hal yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan begitu
saja dalam kehidupan manusia karena pengendalian utama manusia adalah kepribadiannya
yang mencakup segala unsurunsur pengalaman, pendidikan, keyakinan yang didapatkannya
sejak kecil.
Pada waktu anak mengembangkan kecakapan kognitiInya, mereka juga mengembangkan
konsep diri, cara berinteraksi dengan orang lain, dan sikap terhadap dunia. Pemahaman
perkembangan personal dan sosial ini sangat penting bagi guru karena dapat digunakan untuk
dasar pemberian motivasi, mengajar, dan berinteraksi dengan peserta didik.
Pakar psikologi yang mengembangkan teori perkembangan personal dan sosial adalah
Erik Erikson. Teori ini juga disebut juga dengan teori psikososial karena berhubungan dengan
prinsip prinsip psikologis dan sosial. Erikson menyatakan bahwa seseorang dalam
kehidupannya akan melewati delapan tahap psikososial. Setiap tahap perkembangan itu
terdapat krisis atau isuisu kritis yang harus dipecahkan. Banyak orang yang mampu
memecahkan masalah tersebut secara memuaskan, namun ada pula yang tidak mampu
memecahkannya sehingga mereka harus memecahkannya kembali pada tahap perkembangan
berikutnya. Misalnya, orang dewasa harus memecahlan krisis identitas yang belum
terpecahkan ketika mereka masih dalam tahap perkembangan adolescence.
Dengan melihat Ienomena yang ada seperti yang diuraikan diatas maka perkembangan
psikososial sangat perlu dipelajari untuk memehami karakter peserta didik guna
memperlancar kegiatan belajar mengajar di kemudian hari.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan personal dan sosial remaja SMP?
2. Apa saja Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi perkembangan sosial remaja SMP?
3. Bagaimana perubahan moral remaja SMP?
C. Tujuan Penulisan Makalah
O Untuk mengetahui perkembangan personal dan sosial remaja SMP.
O Untuk mengetahui Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi perkembangan sosial remaja
SMP.
O Untuk mengetahui perubahan moral remaja SMP.
2

D. Pembatasan Masalah
Makalah ini hanya membahas Iaktor perkembangan psikososial dan moral remaja
SMP kelas 7 dan 9 secara umum, karena observasi hanya dilakukan di sebuah SMP daerah
Ungaran yang tidak jauh dari daerah perkotaan dan tidak terlalu dekat dengan daerah
pedesaan. SMP tersebut adalah SMP Negeri 2 Pringapus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Perkembangan Personal dan Sosial
Saat anak mengembangkan kognitiInya,mereka juga mengembangkan sikap untuk
bermasyarakat dengan lingkungan dan dunia di sekitarnya. Pemahaman terhadap
perkembangan personal dan sosial anak sangan penting untuk guru memahami dan mengajari
seorang anak (peserta didik)
Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai masalahnya tersendiri,ada yang
dapat mengatasi masalah tersebut secara memuaskan,ada pula yang tidak bisa mengatasinya
dan harus menghadapi masalah tersebut di tahapan berikutnya(bisa dibilang manusia akan
mengalami remidi). Erikson berpendapat bahwa delapan tahap masalah yang dihadapi
manusia yang digambarkan pada tabel berikut:
%ahap Perkembangan Usia Perkembangan
Integritas versus Putus asa 60 tahun keatas
Generitivitas versus stagnasi 40-50 tahun
Imitasi versus Isolasi 20-30 tahun
Identitas versus Kebingungan 10-20 tahun
Upaya versus InIerioritas 6- masa puber
InisiatiI versus Rasa bersalah 3-5 tahun
Otonomi versus Keraguan 2 tahun
Kepercayaan versus Ketidakpercayaan 1 tahun
Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan
lingkungan sosialnya. Pada awalnya, ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan
keluarga. Ia mencoba meniru, mengidentiIikasi, dan mengamati segala sesuatu yang
ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-
keadaan di luar rumah, baik yang menyangkut nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang
ada dalam masyarakat. Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari
masyarakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Proses inilah
3

yang disebut juga sosialisasi. Sehingga sosialisasi pada intinya merupakan upaya
mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya.
Untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari cirri-ciri respons
interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga kategori:
1. Kecenderungan peranan (role disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang
merujuk pada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu.
2. Kecenderungan sosiometrik (sociometrik disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang
bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap terhadap individu lain.
3. Kecenderungan ekspresiI (expressive disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang
bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasan-kebiasan khasnya.
Lebih lanjut perkembangan sosial ini diwarnai dengan dua aktivitas yang kontradiktiI,
yaitu otonomi dan keterikatan
a. Otonomi
Remaja pada tahapan ini mengalami proses pencarian otonomi dan tanggung
jawab , kondisi ini menimbulkan kebingungan dan konIlik bagi banyak orang
implikasi perlakuannya dengan mengadakan pengendalian yang ketat. Namun
antisipasi perilaku ini justru menstimulasi panasnya suhu emosi komunikasi antara
remaja dan orang tua.
Tatkala anak memasuki remaja, satelisasi digantikan dengan desateliasi, yakni
remaja melepaskan diri dan bebas dari orang tua. Pada kondisi ini, potensi pemisahan
remaja dan orang tua mulai berkembang.
b. Keterikatan
Kondisi ini diyakini bahwa keterikatan dengan orang tua dapat memIasilitasi
kecakapan dan kesejahteraan sosial, seperti harga diri, penyesuaian emosi,dan
kesejahteraan Iisik.
Keterikatan pada orang tua semasa remaja dapat memiliki Iungsi adaptiI untuk
mendapatkan rasa aman, sehingga mereka dapat mengeksplorasi dan menguasai
lingkungan baru, serta dunia sosial yang lebih luas dengan kondisi psikologis yang
lebih sehat.
+

Sejalan dengan perkembangan remaja untuk menuju dewasa, remaja melepaskan


diri dari orang tua dan memasuki otonomi. Model ini akan menuai konIlik antara
remaja dan orang tua sepanjang masa remaja.

. aktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial anak pada prinsipnya dipengaruhi oleh tiga Iaktor, yaitu :
1.keluarga,
2.sekolah,
3.masyarakat.

. Perkembangan Perasan dan Emosi:
1. Pengertian Perasaan dan Emosi
Emosi adalah suatu respon (reaksi) terhadap suatu perangsang yang dapat
menyebabkan perubahan Iisiologis, disertai dengan perasaan yang kuat, biasanya
mengandung kemungkinan untuk meletus. Dapat disimpulkan bahwa perasaan erat
kaitannya dengan emosi.
Perasaan merupakan bagian dari emosi, dan tidak terdapat perbedaan yang tegas
antara perasaan dan emosi. Yang jelas emosi bersiIat lebih intens daripada perasaan, lebih
ekspresiI, ada kecenderungan untuk meletus, dan emosi dapat timbul dari kombinasi
beberapa perasaan, sehingga mosi mngandung arti yang lebih kompleks daripada
perasaan.
2. Hubungan antara Emosi dan %ingkah Laku
Teori yang membahas hubungan antara emosi dan tingkah laku diantaranya :
a. Teori Sentral
Individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan-
perubahan dalam jasmaninya.
b. Teori PeriIir
Perubahan Iisiologis menyebabkan perubahan psikologis yang disebut dengan
emosi.

c. Teori Kedaruratan Emosi


Emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergensi
atau darurat. Emosi dapat berIungsi sebagai motiI yang dapat memotivasi atau
menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu dapat berbuat atau bertingkah
laku.
. aktor-aktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi bergantung pada Iaktor pematangan (maturation) dan
Iaktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya.
Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan dominannya dan menguatnya emosi
seseorang:
a. Kondisi yang ikut memengaruhi emosi dominan adalah
1) kondisi kesehatan
2) kondisi rumah
3) cara mendidik anak
4) hubungan dengan para anggota keluarga
5) hubungan dengan teman sebaya
6) perlindungan yang berlebihan
7) aspirasi orang tua
8) bimbingan
b. Kondisi yang menunjang timbulnya emosionalitas yang menguat adalah:
1)kondisi Iisik
2)kondisi psikologis
3) kondisi lingkungan
. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Emosi
Kepribadian, lingkungan, pengalaman, kebudayaan, merupakan variabel yang
sangat berperan dalam perkembangan emosi individu.
0

Ragam Iaktor yang memengaruhi perkembangan emosi seseorang menyebabkan


reaksi yang dimunculkan oleh individu-individu terhadap suatu keadaan tidak sama antara
individu yang satu dengan yang lain.
Perbedaan individu dalam perasaan dan emosi dapat dipengaruhi oleh adanya
perbedaan kondisi atau keadaan individu yang bersangkutan, antara lain:
a. kondisi dasar individu. Hal ini erat kaitannya dengan struktur pribadi individu.
b. kondisi psikis individu pada suatu waktu dan
c. kondisi jasmani individu.

D. Perkembangan Moral
Masyarakat tidak dapat berIungsi apabila tidak ada aturan yang mengenai cara
anggotanya berkomunikasi dan hidup bersama dengan oranglain. Aturan yang terdapat di
masyarakat itu dapat berubah-ubah, karena perubahan itu sebagai akibat keinginan dari
masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan hasil pengamatan , Piaget membagi dua tahap perkembanagn moral yaitu
heteronomous (anak-anak) dan otonomus (dewasa). Berbeda dengan, Lawrence Kohlberg
membagi tiga tahap perkembanga moral yaitu prakonvensional, konvensional, dan
pascakonvenional. Kohlberg percaya bahwa perkembangan struktur logika yang diusulkan
oleh Piege adalah penting untuk melanjutkan bidang-bidang penalaran dan keputusan
moral.
1. Pandangan Piaget
Piaget meluangkan banyak waktunya untuk mengamati anak-anak yang sedang
bermain marbles dan menanyakan aturan main kepada mereka. Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan adalah berkisar isu-isu pencurian, kebohongan, hukuman, dan keadilan.
Dinyatakan bahwa dengan memahami anak-anak menalarkan aturan maun tersebut,
maka seseorang dapat memahami perkembangan moral mereka. Satu hal yang
ditangkap Piagen adalah bahwa sebelum anak usia 6 tahun, mereka bermain tanpa
menggunakan aturan. Pada usia 2-6 tahun anak-anak mengungkapkan kesadaran
tentang aturan bermain namun memahami tujuan atau pentingnya untuk mengikuti
aturan beramain. Pemikiran menang dalam permain tidak ada pada diri anak, dan jika
ada pemikiran seperti itu, kemenangan itu tidak didasarkan olehh adanya aturan
tertentu.
7

Anak-anak yang berusia antara 6-10 tahun mengetahui adanya aturan, namun
mereka tidak seca/ra konsisten mengikutinya. Kadang-kadang beberapa anak
memainkan permainan yang sama menggunakan aturan berbeda. Anak-anak pada usia
ini juga tidak meiliki pemahaman bahwa aturan permainan bersiIat arbiter dan
diputuskan oleh kelompok. Anak-anak mengetahui aturan jika aturan itu disampaikan
oleh orang-orang yang berkuasa dan dan aturan dianggap tidak berubah. Pada anak-
anak prasekolah atau sebelumnya, mereka belum memiliki konsep tentang aturan.
Menurut Piaget, tahap perkembangan moral itu dimulai anak usia 6 tahun, yakni ketika
anak mengalami masa transisi dari berpikir pra operasional kepada opkerasional
konkrit.
Tahap-tahapan perkembangan moral yang dikembangkan oleh Piaget disajikan
dalam tabel berikut:
Heteronomous Otonomous
Penalaran moral disasarkan pada hubungan
keterpaksaan
Penalaran moral didasarkan pada hubungan
kerjasama, pengakuan bersama antar kesamaan
individu, dan setiap individu dianggap sama
Penalaran moral didasarkan pada realism
moral. Aturan dipandang sebagai sesuatu yang
kaku, berasal dari luar dirinya dan dipegang
oleh orang yang memiliki kekuasaan, tidak
terbuka untuk negosiasi, dan kebenaran itu
berkaitan dengan ketaatan pada orang dewasa
dan aturan.
Penalaran moral direIleksikan pada sikap
moral yang rasional. Aturan dipandang sebagai
produk dari kesempatan bersama, terbuka
untuk bernegosiasi ulang, dilegitimasi oleh
setiap orang, dan kebenaran itu berkaitan
dengan persyaratan kerjasama yang saling
menghormati.
Kejahatan dinilai dari konsekuensi atas
tindakan, keadilan disamakan dengan isi
keputusan orang dewasa, kesewang-wenangan
dan hukuman dipandang sebagai keadilan.
Hukuman dipandang sebagai konsekuensi dari
pertahanan.
Kejahatan dipandang sebatau perilaku yang
bersiIat relative; keadilan diperlakukan secara
sama, atau memperhitungkan kebutuhan
individu, dan kewajaran hukuman dimaknai
melalui kelayakan terhadap pertahanan.

2. Pandangan Kolhberg
Konsep penting memahami teori Kolhberg adalah internalisasi, artinya perubahan
perkembangan dari perilaku yang dikontrol secara eksternal ke perilaku yang dikontrol
secara internal.
5

a. Preconventional reasoning(penalaran prakonvensional), merupakan level


terbawah dari perkembangan moral dalam teori Kolhberg. Anak tidak
menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikontrol oleh
hukuman dan ganjaran eksternal.
b. onventional reasoning (penalaran konvensional), adalah tahap kedua dari teori
Kalhberg. Pada tahap ini internalisasi masih setengah-setengah. Anak patuh secara
internal pada standar tertentu, tetapi standar itu pada dasarnya ditetapkan oleh
orang lain, seperti orang tua atau aturan sosial.
c. Pascaconventional reasoning (penalaran pasca konvensional), level yang
tertinggi, moralitas sudah depenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada
standar eksternal. Individu mengetahui aturan-aturan moral alternative,
mengeksplorasi opsi, dan kemudian memutuskan sendiri kode moral apa yang
tebaik baginya.
Tahapan perkembangan moralitas individu menurut Kolhberg, dijelaskan pada
tabel berikut:
Level 1
Prakonvensional
Tidak ada internalisasi
Level 2
Konvensional
Internalisasi pertengahan
Level 3
Post konvensional
Internalisasi penuh
Tahap 1
Heteronomous
morality
Tahap 2
Individualisme,
tujuan dan
pertukaran
Tahap 3
Ekspektasi
interpersonal
mutual,
hubungan
dan
konIormitas
interpersonal
Tahap 4
Moralitas
sistem
sosial
Tahap 5
Kontrak
social/utilitas
dan hak
individu
Tahap 6
Prinsip etika
universal
Anak patuh
karena orang
dewasa
menyuruh
mereka untuk
patuh. Orang
mendasarkan
Individu
mengejar
kepentingannya
sendiri, tetapi
membiarkan
orang lain
melakukan hal
Individu
menggunakan
rasa percaya,
perhatian,
dan loyalitas
kepada orang
lain sebagai
Penilaian
moral
didasarkan
pada
pemahaman
dan aturan
social,
Individu
memahami
bahwa nilai,
hak, dan
prinsip
mendasari
atau
Orang telah
mengembangkan
penilaian moral
berdasarkan hak
asasi manusia
yang universal
ketika
9

pada
keputusan
moralnya
karena takut
akan hokum.
yang sama.
Apa yang benar
mengakibatkan
pertukaran
yang
seimbangan.
basis untuk
menilai
moral.
hokum
keadilan
dan
kewajiban.
mengatasi
hokum.
berhadapan
dengan dilema
antara hokum
dan kesadaran,
yang akan
diikuti adalah
kesadaran
individu
seseorang.

















10

BAB III METODE PENELITIAN


A. #ancangan Penelitian
Peneliti dalam rancangan penelitiani menggunakan metode deskrisi kuantitatiI
menuju kualitatiI, yaitu mendeskripsikan data kuantitatiI menuju data kualitatiI.

. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi merupakan sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai siIat yang
sama, atau sekelompok individu tertentu yang memiliki satu atau lebih karakteristik
umum yang menjadi pusat penelitian (Hadi, 1995 : 70)
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas VII dan IX SMP
Negeri 2 Pringapus, kabupaten Semarang. Siswa kelas VII berada pada usia remaja awal
dan kelas IX berada pada usia remaja akhir. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah
408 orang siswa.

2. Sampel
Sample adalah sebagian kecil dari populasi yang akan diteliti dan merupakan wakil
dari populasi yang dijadikan subjek penelitian, atau sebagian jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 1998 : 57).
Teknik yang diambil dalam pengambilan sample pada penelitian ini adalah
'Purposive Sampling yaitu penetapan sample oleh penelitian karena telah diketahui
bahwa sample tersebut memiliki ciri atau karakteristik khusus yang dapat menjawab
permasalahan penelitian. Purposive adalah teknik penentuan sample yang dapat menjawab
rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 1998 : 68). Tujuan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah kelompok yang dijadikan sample penelitian telah mewakili ciri-ciri
yang erat dengan populasi yang diketahui sebelumnya (Hadi, 1987 : 82). Adapun subjek
yang dijadikan sample mempunyai ciri-ciri:
1) Siswa SMP.
2) Usia 13 dan 15.
3) Kelas VII dan kelas IX.
Jumlah sample dalam penelitian ini adalah 78 orang siswa mewakili 2 kelas yang
ada atau mewakili dari keseluruhan populasi. Adapun keuntungan dari teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah generalisasi dapat diterapkan secara langsung
pada populasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
11


. enis Data dan Instrument Penelitian
1. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan jenis data interval yang merupakan hasil yang bersiIat
jelas dan dapat diselidiki secara langsung sehingga dapat dihitung.

2. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode angket yang merupakan daItar pertanyaan pertanyaan tertulis yang harus di jawab
atau diisi oleh subjek sebagai sumber data.
Dalam penelitian ini menggunakan sebuah angket, yang menggunakan skala likert
yaitu sejumlah pernyataan sikap yang telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan
pernyataan dan didasarkan pada rancangan skala yang telah ditetapkan. Responden diminta
untuk menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap isi pernyataan dalam 5 macam
kategori:
1) Sangat Setuju (SS)
2) Setuju (S)
3) Kurang Setuju(KS)
4) Tidak Setuju (TS)
5) Ragu-ragu (R)
Pada angket ini terdiri dari 2 indikator yang terdiri dari : a). perkembangan
psikososial dan b). perkembangan moral. Setiap indikator terdiri dari 3 item yaitu item
keluarga, item sekolah, dan item lingkungan sekitar. Angket ini terdiri dari 30 item, yang
digolongkan menjadi 18 soal bersiIat Iavorable dan 12 soal bersiIat UnIavorable. Untuk
memperjelas angket maka dapat digambarkan dalam table sebagai berikut:
TABEL I
Blue Print Perkembangan Psikososial dan Moral

no item indikator moral psikososial Iavorable unIavorable
1
keluarga
Bersosialisasi dengan teman sekitar rumah ketika
bermain \ 2 1
2
Tanggung jawab dalam mengerjakan tugas dari
sekolah sendirian di rumah \ \ 3
3 Etika dalam berinteraksi dengan orang tua \ \ 6, 7 4, 5
4 Kesadaran untuk mendengarkan nasehat orang tua \ \ 6, 7
5 Kesadaran untuk mentaati aturan yang berlaku \ 8
6
Tanggung jawab dalam mengerjakan tugas dari
sekolah bersama teman di rumah \ \ 10
12

7
sekolah
Kesadaran pentingnya pelajaran BK \ 11, 12, 13
8
Tanggung jawab dalam mengerjakan tugas bersama
teman sekolah \ 14
9
Kesadaran dalam bersosialisasi dan berorganisasi di
lingkungan sekolah \ 15
10 Kesadaran untuk mentaati aturan sekolah \ 16
11 Berbuat baik dan menjaga hak teman di sekolah \ 18 17, 19
12 Arti penting pendidikan agama islam \ 25 26, 27
13 Penerapan pendidikan agama islam \ 28, 29, 30
14
lingkungan
sekitar
Kesadaran untuk besosialisasi dengan lingkungan
sekitar \ 20, 21, 22 9
15 Kesadaran menghormati orang yang lebih tua \ \ 23
16
Berbuat baik dan menjaga hak teman di lingkungan
sekitar \ 24


Pada angket moral terdiri dari 9 indikator yang terdiri dari: a) tanggung jawab dalam
mengerjakan tugas di rumah sendirian maupun berkelompok, b) etika dalam berintraksi
dengan orang tua, c) kesadaran untuk mendengarkan nasehat orang tua, d) kesadaran menaati
peraturan yang berlaku, e) arti penting pelajaran BK di sekolah, I) arti penting pelajaran
agama islam di sekolah dalam kehidupan sehari-hari, g) penerapan pendidikan agama islam, h)
berbuat baik dan menjaga hak teman di sekolah, dan i) kesadaran menghormati orang yang lebih tua.
Sedangkan angket psikososial terdiri dari 7 indikator yang terdiri dari: a) bersosialisasi dengan teman
sekitar rumah ketika bermain, b) tanggung jawab dalam mengerjakan tugas dari sekolah, c) etika
dalam berinteraksi dengan orang tua, d) kesadaran untuk mendengarkan nasehat orang tua, e)
kesadaran dalam bersosialisasi dan berorganisasi, I) kesadaran untuk besosialisasi dengan lingkungan
sekitar, dan g) kesadaran menghormati orang yang lebih tua.
Skala penilaian bergerak dari 1 sampai 5 untuk butir yang Iavorable sebagai berikut:
1) Angka 5 untuk jawaban Sangat Setuju (SS)
2) Angka 4 untuk jawaban Setuju (S).
3) Angka 3 untuk jawaban Kurang Setuju (KS)
4) Angka 2 untuk jawaban Tidak Setuju (TS)
5) Angka 1 untuk jawaban Ragu-ragu(R).
Sedangkan untuk butir yang UnIavorable penilaiannya adalah sebagai berikut
1) Angka 5 untuk jawaban Tidak Setuju (TS)
2) Angka 4 untuk jawaban Kurang Setuju (KS)
3) Angka 3 untuk jawaban Setuju (S)
4) Angka 2 untuk jawaban Sangat Setuju (SS)
5) Angka 1 untuk jawaban Ragu-ragu(R)
13


BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
PEMAHASAN
A. Perkembangan Personal dan Sosial
Menurut teori psikososial yang dikemukaan oleh Erik Erikson, remaja(usia 10-20 tahun)
mengalami tahap identitas versus kebingungan. Tahap ini remaja berusaha untuk mencari
jati dirinya, apa makna dirinya, dan ke mana mereka akan menuju. Mereka berhadapan
dengan peran baru dan status dewasa(seperti pekerjaan). Remaja perlu diberi kesempatan
untuk melakukan eksplorasi berabagai cara untuk memahami identitasnya, tatkala tidak
mempunyai kesempatan eksplorasi, mereka mengalami kebingungan tentang identitas dirinya.
Demikian pula pada remaja SMP pada umumnya mengalami tahap ini, mereka cenderung
untuk mencari jati diri mereka.
Pada umumnya remaja SMP akan cenderung banyak mencoba berbagai hal yang bisa
dilihat dari berbagai sisi, mulai dari kegiatan apa saja yang dia ikuti di lingkungan keluarga,
sekolah, bahkan masyarakat sekitar. Di lingkungan sekolahan, mereka cenderung mengikuti
banyak kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakuliker. Misalnya mereka mengikuti
ekstrakuliker di bidang olahraga, hal ini karena mereka ingin tahu dimana kemampuan
mereka, sejauh mana kemampuan mereka, dan apa kemampuan mereka. Selain itu mereka
mulai mencoba untuk ikut organisasi dalam lingkup sekolah dengan mengikuti OSIS
misalnya. Dari hasil observasi di SMP N 2 Pringapus, dengan sampel 32 siswa kelas VII
diperoleh data 8 siswa sangat setuju, 9 siswa setuju, 5 siswa kurang setuju, 2 siswa tidak
setuju, dan 8 siswa ragu-ragu dalam mengikuti organisasi di sekolah. Kemudian kelas IX dari
35 siswa diperoleh 5 siswa sangat setuju, 9 siswa setuju, 6 siswa kurang setuju, 5 siswa tidak
setuju, dan 10 siswa ragu-ragu dalam mengikuti organisasi di sekolah. Selain berorganisasi di
sekolah, remaja SMP juga mengikuti organisasi di lingkungan sekitar rumahnya seperti
karang taruna/perkumpulan remaja desa. Hal ini terbukti berdasarkan hasil observasi 67 siswa
SMP N 2 Pringapus diperoleh 17 siswa menjawab sangat setuju, 34 siswa setuju, 4 siswa
kurang setuju, 2 siswa tidak setuju, dan 10 siswa ragu-ragu dalam mengikuti kegiatan dan
organisasi karang taruna.
Remaja SMP akan mencari jati dirinya dengan melakukan hal baru yang bersiIat positiI
maupun negatiI. Hal positiI yang dilakukan mereka bisa berupa mengikuti kegiatan yang tidak
1+

bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum. Kegiatan positiI ini
bisa berupa mengikuti kajian/majelis ta`lim islam yang haq, ikut serta dalam berorganisasi di
sekolah maupun lingkungan sekitar(karang taruna), mengikuti pelatihan maupun lomba
cabang olahraga di berbagai tingkatan, dan lain-lain. Adapun kegiatan negatiI yang melanggar
berbagai norma yang ada bisa berupa kebut-kebutan, tawuran, Iree sex, miras, dan lai-lain.
Selain itu remaja SMP karena perkembangan sosialnya membentuk kelompok sendiri yang
memiliki tujuan yang sama dan menurut mereka baik tetapi melanggar norma-norma seperti
membentuk gang motor, gang alay, dan sebagainya.
Krech et. al. (1962) mengemukakan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu,
dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga kategori:
1. Kecenderungan peranan(role disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk
kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Misalnya seorang murid di sekolah
patuh kepada gurunya. Sehingga ketika seorang murid mendapatkan tugas atau PR, dia
mempunyai tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas/PR tadi. Murid tersebut akan
berusaha menyelesaikan tugas/PR tersebut dengan bertanya kepada orang tua, kakak,
teman, kakak kelas, ataupun orang yang dianggap mampu membantunya dalam
menyelesaikan tugas/PR tadi. Selain bertanya kepada orang lain, dia bisa mengajak
temannya untuk bekerja kelompok dalam menyelesaikan tugas/PR tadi. Hasil
observasi dari 67 siswa menunjukan bahwa 21 sangat setuju, 25 settuju ,2 kurang
setuju,4 tidak setuju, dan 15 ragu-ragu dalam mengerjakan tugas secara kelompok.
2. Kecenderungan sosiometrik(sociometric disposition); ciri-ciri respons interpersonal
yang bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain. Hasil observasi
menunjukan 25,3 sangat setuju; 50,7 setuju; 5,9 kurang setuju; 2,98 tidak
setuju; dan 14,92 ragu-ragu dalam mengikuti organisasi di sekolah. Hal ini
menunjukan bahwa remaja SMP mulai mengalami kecenderungan sosiometrik dengan
mengikuti organisasi di sekolah. Organisasi di sekolah sangat menuntut anggotanya
untuk percaya satu sama lain.
3. Kecenderungan ekpresiI(expressive disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang
bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan
khasnya(particular Iashion).


1

. aktor - faktor yang Memengaruhi Perkembangan Sosial


Perkembangan sosial anak pada prinsipnya dipengaruhi oleh tiga Iaktor, yaitu Iaktor
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1. Keluarga
Sejumlah studi telah membuktikan bahwa hubungan pribadi di lingkungan keluarga
(rumah) yang antara lain hubungan ayah dengan ibu, anak dengan saudaranya, dan anak
dengan orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan sosial anak.
Posisi anak dalam keluarga (apakah anak yang paling tua, anak tengah, anak bungsu, atau
anak tunggal) juga sangat berpengaruh. Ukuran keluarga misalnya, tidak hanya memengaruhi
pengalaman sosial awal tetapi juga meninggalkan bekas pada sikap sosial dan pola perilaku.
Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapat perhatian yang lebih dari semestinya.
Akibatnya mereka mengharapkan perlakuan yang sama dari orang luar dan kecewa jika
mereka tidak mendapatkannya.
Anak yang merasa ditolak oleh orang tua atau saudaranya mungkin menganut sikap
kesyahidan (attitude of martyrdom) diluar rumah dan membawa sikap ini sampai dewasa.
Anak semacam ini mungkin akan suka menyendiri dan menjadi introvert. Sebaliknya,
penerimaan dan sikap orang tua yang penuh cinta kasih mendorong anak bersikap ekstrovert.
Harapan orang tua memotivasi anak untuk berperilaku yang dapat diterima secara
sosial. Sebagai contoh, dengan meningkatnya usia anak, mereka harus belajar mengatasi
dorongan agresiI dan pelbagai pola peilaku tidak sosial lainnya, jika mereka ingin diterima
oleh orang tua mereka.
Cara pendidikan anak yang digunakan oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku anak, utamanya pada tahun tahun awal kehidupan. Anakanak yang
dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang demokratis, barangkali akan melakukan
penyesuaian yang paling baik. Mereka aktiI secara sosial dan mudah bergaul. Sebaliknya,
mereka yang dimanjakan cenderung menjadi tidak aktiI dan menyendiri. Anak anak yang
dididik dengan cara otoriter, cenderung menjadi pendiam dan tidak suka melawan,
keingintahuan dan kreativitas mereka terhambat oleh tekanan orang tua.
Dari hasil observasi dengan sampel kelas VII sebanyak 32 siswa didapat 14 orang
sangat setuju, 11 orang setuju, 2 orang tidak setuju, dan 4 orang ragu ragu dalam menjawab
pernyataan berkenaan dengan sering tidaknya anak tersebut mendapat nasehaat dari orang tua.
10

Terbukti sebagian besar anak mempunyai hubungan yang erat dengan orang tua masing
masing dengan dugaan sering mendapat nasehat dari orang tua. Kemudian untuk sampel kelas
IX sebanyak 35 siswa diperoleh 17 anak sangat setuju, 13 anak setuju, 1 anak tidak setuju,
dan 4 anak raguragu dalam menjawab pernyataan berkenaan dengan sering tidaknya
mendapat nasehat dari orang tua. Data tersebut juga membuktikann bahwa ikatan antara anak
dengan orang tuanya sangat dekat dengan dugaan sering mendapat nasehat dari orang tua
dalam rangka pembentukan perilaku anak.
Simpulan yang bisa diambil dari datadata hasil observasi di atas adalah semakin
bertambahnya umur anak maka semakin kuat perkembangan sosial anak terbukti dari
keseringan si anak mendapat nasehat dari orang tua dalam rangka pembentukan perilaku anak
agar menjadi lebih baik.
2. Sekolah
Ketika anakanak memasuki sekolah, guru mulai memasukkan pengaruh terhadap
sosialisasi mereka, meskipun pengaruh teman sebaya biasanya lebih kuat dibandingkan
pengaruh guru dan orang tua. Studi tentang perbedaan antara pengaruh teman sebaya dengan
pengaruh orang tua terhadap keputusan anak pada berbagai tingkatan umur, menemukan
bahwa dengan meningkatnya umur anak, jika nasihat yang diberikan keduanya berbeda, maka
anak cenderung lebih terpengaruh oleh teman sebaya.
Pengaruh yang kuat dari kelompok teman sebaya pada masa kanak kanak akhir
sampai dengan anak menginjak usia remaja(termasuk remaja SMP), sebagian berasal dari
keinginan anak untuk dapat diterima oleh kelompok dan sebagian lagi dari kenyataan bahwa
anak menggunakan waktu lebih banyak dengan teman sebaya.
Dari hasil observasi dengan sampel kelas VII dari 32 siswa didapat 5 sangat setuju, 13
setuju, 1 kurang setuju, 1 tidak setuju, dan 12 ragu-ragu dalam menjawab pernyataan
berkenaan dengan sering tidaknya pulang bersama teman sekelas. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar anak pulang bersama teman teman sebayanya. Untuk
sampel kelas IX dari 35 siswa didapat 7 sangat setuju, 14 setuju, 5 kurang setuju, 1 tidak
setuju, dan 8 ragu ragu. Dari data tersebut bisa disimpulkan sebagian besar anak sering
pulang dengan teman teman sebayanya.
Simpulan dari datadata di atas adalah teman sebaya di sekolah mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap perkembangan sosial anak. Dengan bertambahnya umur anak maka
17

semakin kuat juga pengaruh dari teman sebayanya. Terbukti dari kasus di atas dimana anak di
minta pendapatnya tentang sering tidaknya dia pulang sekolah bersama teman temannya.
Adapun banyaknya jawaban raguragu pada datadata di atas disebabkan oleh Iaktor 'x.
Misalnya ketika pulang dijemput orang tua, rumah yang jaraknya jauh dengan sekolah, dan
lain lain.

. Masyarakat
Sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa sejak anak mulai sekolah, anak
memasuki usia geng, yaitu usia yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat. Namun
tidak berarti tanpa risiko, sebab kehidupan geng turut memengaruhi perkembangan berbagai
macam perilaku sosisal. Pengaruh geng, disamping membantu anak anak menjadi pribadi
yang mampu bermasyarakat, sebaliknya, kehidupan geng menopang perkembangan kualitas
perilaku sosial tertentu yang baik, seperti sombong, kenakalan, dan sebagainya yang kadang
kadang meresahkan orang tua, guru, dan masyarakat.
Penerimaan dan penghargaan secara baik masyarakat terhadap diri anak, lebih lebih
terhadap peserta didik, mendasari adanya perkembangan sosial yang sehat, citra diri yang
positiI dan juga rasa percaya diri yang mantap. Sebaliknya, perkembangan sosial yang sehat,
citra diri yang positiI, dan rasa percaya diri yang mantap bagi anak akan menimbulkan
pandangan (persepsi) positiI tehadap masyarakatnya, sehingga anak lebih berpartisipasi dalam
kehidupan sosial.
Dari hasil observasi pada kelas VII dengan 32 siswa didapat 11 anak sangat setuju, 17
anak setuju, 4 anak raguragu dalam menjawab pernyataan berkenaan pentingnya sosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Data tersebut membuktikan bahwa sebagian besar siswa mengakui
pentingnya bersosialisai dengan lingkungan sekitarnya sehingga bisa disimpulkan siswa
siswa kelas VII tersebut mengalami perkembangan sosial yang sehat. Kemudian untuk sampel
kelas IX dengan 35 siswa didapat 13 anak sangat setuju, 20 anak setuju, 1 anak kurang setuju,
dan 1 anak raguragu dalam menjawab pernyataan berkenaan dengan pentingnya sosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Dari data tersebut membuktikan bahwa sebagian besar siswa
mengakui betapa pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar sehingga bisa
disimpulkan siswasiswa kelas IX telah mengalami perkembangan sosial yang cukup sehat.
15

Simpulan dari data hasil observasi di atas adalah semakin bertambahnya umur
seseorang(khususnya remaja) maka kesadaran akan pentingnya sosialisasi di lingkungan
sekitar terlebih di lingkungan masyarakat semakin bertambah.


BAB V SIMPULAN
A. Perkembangan Personal dan Sosial
Remaja SMP (usia 13-15 tahun) mengalami tahap identitas versus kebingungan. Tahap
ini remaja berusaha untuk mencari jati dirinya, apa makna dirinya, dan ke mana mereka akan
menuju. Mereka berhadapan dengan peran baru dan status dewasa(seperti pekerjaan).
. aktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial remaja SMP pada prinsipnya dipengaruhi oleh tiga Iaktor, yaitu :
1.keluarga,
2.sekolah,
3.masyarakat.

. Perkembangan Moral
1. Menurut Piaget
Dari hasil observasi ditemukan gejala gejala siswa SMP 2 Pringapus sedang
mengalami tahap transisi dari heteronomous menjadi otonomous akan tetapi sudah cenderung
ke otonomous. Misalnya pada penalaran moral didasarkan pada hubungan kerjasama,
pengakuan bersama antar kesamaan individu, dan setiap individu dianggap sama. Hasil
observasi menunjukkan kesamaan dengan teori yang dikemukakan oleh piaget di atas.
Terbukti dari kesamaan jawaban angket dari sebagian besar para siswa kelas VII dan IX,
antara lain :
a. Saya suka bermain bersama teman-teman (sebanyak 97 jawaban setuju)
b. Saya enggan besosialisasi dengan lingkungan sekitar saya (sebanyak 55 jawaban tidak
setuju)
c. Saya suka belajar kelompok (sebanyak 68 jawaban setuju)
d. Saya suka pulang sekolah bersama teman-teman sekelas (sebanyak 58 jawaban setuju)
e. Bergaul dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang penting bagi saya (sebanyak 91
jawaban setuju)
I. Mengikuti organisasi dan kegiatan karang taruna(perkumpulan remaja/pemuda desa) adalah
hal yang sangat menyenangkan (sebanyak 76 jawaban setuju)
19

g. Saya sangat perlu bergaul dengan orang yang lebih tua. (sebanyak 28 jawaban setuju
dimana untuk pernyataan ini terbukti sebagian besar siswa menjalin hubungan karena
keterpaksaan. Kesimpulan untuk pernyataan ini adalah sebagian besar siswa masih dalam
tahap heteronomous sesuai dengan tahapan perkembangan moral yang dikembangkan Piaget)
h. Saya sering menyapa guru atau tetangga anda ketika bertemu di jalan. (sebanyak 67
jawaban setuju)

Untuk tahapan perkembangan moral menurut Piaget yang berikutnya adalah penalaran
moral direIleksikan pada sikap moral yang rasional. Aturan dipandang sebagai produk dari
kesempatan bersama, terbuka untuk bernegosiasi ulang, dilegitimasi oleh setiap orang, dan
kebenaran itu berkaitan dengan persyaratan kerjasama yang saling menghormati. Hasil
observasi menunjukkan hal yang sama dengan yang dikemukakan oleh Piaget di atas.
Terbukti dari kesamaan jawaban angket dari sebagian besar para siswa kelas VII dan IX,
antara lain :
a. Saya suka mendengar nasehat orang tua saya. (sebanyak 83 jawaban setuju)
b. Saya suka mendapat nasehat dari orang tua saya. (sebanyak 85 jawaban setuju)
c. Saya suka melanggar peraturan(di rumah, di sekolah, dan di tempat lain). (sebanyak 71
jawaban tidak setuju)
d. Menurut saya bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah dengan teman teman lebih baik
dari pada dengan kekerasan. (sebanyak 91 jawaban setuju)
e. Bagi saya berkelahi adalah cara paling tepat dalam menyelesaiakan masalah. (sebanyak 95
jawaban tidak setuju)
Kemudian untuk tahap ketiga perkembangan moral menurut Piaget adalah Kejahatan
dipandang sebatau perilaku yang bersiIat relatiI; keadilan diperlakukan secara sama, atau
memperhitungkan kebutuhan individu, dan kewajaran hukuman dimaknai melalui kelayakan
terhadap pertahanan. Hasil observasi menunjukkan hal yang sama dengan yang dikemukakan
oleh Piaget di atas. Terbukti dari kesamaan jawaban angket dari sebagian besar para siswa
kelas VII dan IX, antara lain :
a. Saya suka membentak jika tidak diberi uang. (sebanyak 89,5 jawaban tidak setuju)
b. Saya setuju dengan adanya pelajaran BK di kelas. (sebanyak 80,5 jawaban setuju)
c. Bagi saya BK sangat membantu saya dalam menyelesaikan masalah saya. (sebanyak 83,5
jawaban setuju)
d. Saya sering meminta bantuan BK dalam menyelesaikan masalah saya. (sebanyak 58,2
jawaban setuju)
e. Menurut saya memukul teman saat marah adalah cara paling tepat dalam menyelesaiakan
masalah. (sebanyak 92,5 jawaban tidak setuju)
I. MemaaIkan teman saat marah merupakan hal yang sulit bagi saya. (sebanyak 51 jawaban
tidak setuju)
g. Bagi saya pendidikan agama Islam sangat penting dipelajari secara mendalam untuk
mempertebal keyakinan saya. (sebanyak 92,5 jawaban setuju)
h. Pendidikan agama tidak perlu dipelajari lebih dalam cukup diketahui seperlunya saja.
(sebanyak 79 jawaban tidak setuju)
20

i. Pendidikan agama Islam tidak perlu diberikan di sekolah cukup dipelajari sendiri saja.
(sebanyak 85 jawaban tidak setuju)
j. Dengan mempelajari agama Islam akan merubah diri saya menjadi lebih baik dari
sebelumnya. (sebanyak 94 jawaban setuju)
k. Saya terbiasa berdo'a bila mengalami masalah dalam hidup saya. (sebanyak 79 jawaban
setuju)
l. Saya biasa mengerjakan sholat lima waktu dengan lengkap tanpa pernah meninggalkan salah
satu diantaranya (sebanyak 47,7 jawaban setuju). Dalam kasus ini sebagian besar siswa
masih beranggapan bahwa kejahatan masih dinilai dari konsekuensi atas tindakan yang
merupakan teori heteronomous yang dikemukakan oleh Piaget.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil observasi di atas adalah siswa SMP sedang
dalam masa transisi dari tahap heteronomous ke tahap otonomous walaupun pada
kenyataannya ada beberapa kasus yang masuk dalam tahap heteronomous. Tetapi pada intinya
perkembangan moral siswa SMP sudah masuk tahap otonomous menuju kedewasaan.

2. Menurut Kolhberg
Menurut Kolhberg, perkembangan moral terdiri dari 3 level penalaran yaitu
prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Dari hasil observasi yang telah
dilakukan didapat perkembangan moral siswa SMP sedang dalam tahap transisi dari level
prakonvensional menuju konvensional namun lebih cenderung ke konvesional. Siswa SMP
sudah mulai menggunakan rasa percaya, perhatian, dan loyalitas kepada orang lain sebagai
basis untuk penilaian moral. Terbukti dari kesamaan jawaban angket dari sebagian besar
siswa, antara lain :
a. Saya suka bermain bersama teman-teman (sebanyak 97 jawaban setuju)
b. Saya enggan besosialisasi dengan lingkungan sekitar saya (sebanyak 55 jawaban tidak
setuju)
c. Saya suka belajar kelompok (sebanyak 68 jawaban setuju)
d. Saya suka pulang sekolah bersama teman-teman sekelas (sebanyak 58 jawaban setuju)
e. Bergaul dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang penting bagi saya (sebanyak 91
jawaban setuju)
I. Mengikuti organisasi dan kegiatan karang taruna(perkumpulan remaja/pemuda desa) adalah
hal yang sangat menyenangkan (sebanyak 76 jawaban setuju)
g. Saya sangat perlu bergaul dengan orang yang lebih tua. (sebanyak 28 jawaban setuju
dimana untuk pernyataan ini terbukti sebagian besar siswa masih mendasarkan keputusan
moralnya karena takut. Kesimpulan untuk kasus ini adalah sebagian besar siswa masih dalam
level konvensional sesuai dengan tahapan perkembangan moral yang dikembangkan
Kohlberg)
h. Saya sering menyapa guru atau tetangga anda ketika bertemu di jalan. (sebanyak 67
jawaban setuju)
i. Saya suka mendapat nasehat dari orang tua saya. (sebanyak 85 jawaban setuju)

Kemudian untuk tahap selanjutnya dalam level konvensional adalah penilaian moral
didasarkan pada pemahaman dan aturan sosial, hukum, keadilan, dan kewajiban. Hasil
21

observasi menunjukkan hal yang sama dengan teori yang dikemukakan oleh Kolhberg di atas.
Terbukti dari kesamaan jawaban angket dari sebagian besar para siswa kelas VII dan IX,
antara lain :
a. Saya suka mendengar nasehat orang tua saya. (sebanyak 83 jawaban setuju)
b. Menurut saya bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah dengan teman teman lebih baik
dari pada dengan kekerasan. (sebanyak 91 jawaban setuju)
c. Bagi saya berkelahi adalah cara paling tepat dalam menyelesaiakan masalah. (sebanyak 95
jawaban tidak setuju)
d. Bagi saya BK sangat membantu saya dalam menyelesaikan masalah saya. (sebanyak 83,5
jawaban setuju)
e. Saya sering meminta bantuan BK dalam menyelesaikan masalah saya. (sebanyak 58,2
jawaban setuju)
I. Menurut saya memukul teman saat marah adalah cara paling tepat dalam menyelesaiakan
masalah. (sebanyak 92,5 jawaban tidak setuju)
g. MemaaIkan teman saat marah merupakan hal yang sulit bagi saya. (sebanyak 51 jawaban
tidak setuju)
h. Bagi saya pendidikan agama Islam sangat penting dipelajari secara mendalam untuk
mempertebal keyakinan saya. (sebanyak 92,5 jawaban setuju)
i. Pendidikan agama tidak perlu dipelajari lebih dalam cukup diketahui seperlunya saja.
(sebanyak 79 jawaban tidak setuju)
j. Pendidikan agama Islam tidak perlu diberikan di sekolah cukup dipelajari sendiri saja.
(sebanyak 85 jawaban tidak setuju)
k. Dengan mempelajari agama Islam akan merubah diri saya menjadi lebih baik dari
sebelumnya. (sebanyak 94 jawaban setuju)
l. Saya terbiasa berdo'a bila mengalami masalah dalam hidup saya. (sebanyak 79 jawaban
setuju)
m. Saya biasa mengerjakan sholat lima waktu dengan lengkap tanpa pernah meninggalkan salah
satu diantaranya (sebanyak 47,7 jawaban setuju). Dalam kasus ini sebagian besar siswa
masih beranggapan bahwa mereka masih mengejar kepentingannya sendiri dan masih
membiarkan orang lain melakukan hal yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa
perkembangan moral siswa SMP untuk kasus ini masih berada pada level prakonvensional
tahap kedua.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil observasi di atas adalah perkembangan moral siswa
SMP masih dalam masa transisi atau peralihan dari level prakonvensional menuju level
konvensional walaupun pada kenyataannya ada beberapa kasus yang masuk kategori level
prakonvensional.Tetapi pada intinya perkembangan siswa SMP lebih cenderung pada level
konvensional.