P. 1
Bab 2 Tinjauan Pustaka

Bab 2 Tinjauan Pustaka

|Views: 958|Likes:
Dipublikasikan oleh Yola Khairanisa

More info:

Published by: Yola Khairanisa on Oct 31, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1Latar Belakang
  • 1.2Batasan Masalah
  • 1.3Tujuan Penulisan
  • 1.4Manfaat Penulisan
  • 1.5Metode Penulisan
  • 2.1Anatomi dan Fisiologi
  • 2.2Definisi dan Epidemiologi Trauma Toraks
  • 2.3Peranan Radiologi Pada Kasus Trauma Toraks
  • 2.4.1Gambaran Klinis
  • 2.4.2Pemeriksaan Radiologis
  • 2.4.3Tatalaksana
  • 2.5.1 Gambaran Klinis
  • 2.5.2 Pemeriksaan Radiologis
  • 2.5.3Tatalaksana
  • 2.6.1 Pemeriksaan Radiologis
  • 2.6.2Tatalaksana
  • 2.7.1Gambaran Klinis
  • 2.7.2Pemeriksaan Radiologis
  • 2.7.3Tatalaksana
  • 2.8.1Gambaran Klinis
  • 2.8.2Pemeriksaan Radiologis
  • 2.8.3Tatalaksana
  • 2.8.4Penyulit
  • 2.9.1 Gambaran Klinis
  • 2.9.2Pemeriksaan Radiologis
  • 2.9.3Tatalaksana
  • 2.10.1Manifestasi Klinis
  • 2.10.2Pemeriksaan Radiologis
  • 2.10.3Tatalaksana
  • 2.11.1Gambaran Klinis
  • 2.11.2Pemeriksaan Radiologi
  • 2.12Trauma Jaringan Lunak Dinding Dada
  • 3.1Kesimpulan
  • 3.2Saran

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dewasa ini trauma melanda dunia bagaikan wabah karena dalam kehidupan modern penggunaan kendaraan otomotif dan senjata api semakin luas. Sayangnya, penyakit akibat trauma sering ditelantarkan sehingga trauma merupakan penyebab kematian utama pada kelompok usia muda dan produktif di seluruh dunia. Angka kematian ini dapat diturunkan melalui upaya pencegahan trauma dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin kepada korbannya. Perlu diingat bahwa penanggulangan trauma bukan hanya masalah di rumah sakit, tetapi mencakup penanggulangan menyeluruh yang dimulai di tempat kejadian, dalam perjalanan ke rumah sakit dan di rumah sakit.1 Foto toraks sebaiknya selalu dilakukan pada penderita dengan trauma yang mengancam nyawa. Dengan foto toraks ini dapat dilihat pneumotoraks, hematotoraks, fraktur iga, cedera mediastinum dan kadang-kadang juga dapat dilihat cedera pada diafragma. Pada penderita yang syok, tanpa tanda perdarahan diluar, biasanya terjadi perdarahan di daerah fraktur di dalam toraks atau di abdomen. 1 Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan. Cedera toraks sering disertai dengan cedera perut, kepala dan ekstrimitas sehingga merupakan cedera majemuk.2 Cedera dada yang memerlukan tindakan darurat adalah obstruksi jalan nafas, hemotoraks besar, tamponade jantung, pneumotoraks desak, flail chest, pneumotoraks terbuka, dan kebocoran udara trakeobronkial. Semua kelainan ini menyebabkan gawat dada atau toraks akut analog dengan gawat perut, dalam arti diagnosis harus ditegakkan secepat mungkin dan penanganan dilakukan segera untuk mempertahankan pernafasan, ventilasi paru dan pendarahan. Sering tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan penderita bukan merupakan tindakan operasi seperti membebaskan jalan nafas, aspirasi rongga pleura, aspirasi rongga perikard, dan menutup sementara luka dada. Akan tetapi kadang kadang

1

diperlukan torakotomi darurat. Luka tembus di dada harus segera ditutup dengan jahitan yang kedap udara.2 1.2 Batasan Masalah Referat ini membahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis dan tatalaksana umum pada trauma toraks. Dalam referat ini, pembahasan terutama dititikberatkan pada peranan radiologi dalam mendiagnosis trauma toraks. 1.3 Tujuan Penulisan Referat ini disusun untuk lebih memahami mengenai definisi,

epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis dan tatalaksana umum pada trauma toraks terutama mengenai peranan radiologi dalam mendiagnosis trauma toraks sekaligus sebagai salah satu pemenuhan sesi pembelajaran kepaniteraan klinik dokter muda bagian Radiologi RSUP DR. M. Djamil Padang. 1.4 Manfaat Penulisan Referat ini disusun dengan harapan dapat meningkatkan pemahaman mengenai definisi, epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis dan tatalaksana umum pada trauma toraks terutama mengenai peranan radiologi dalam mendiagnosis trauma toraks sehingga dapat diaplikasikan dengan baik pada kasus di lapangan sesuai kompetensi dokter. 1.5 Metode Penulisan Makalah ini disusun dengan metode tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur, termasuk buku teks dan berbagai makalah ilmiah.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Dada berisi organ vital paru dan jantung. Rangka dinding toraks, yang dinamakan compage thoracis yang dibentuk oleh columna vertebralis di belakang, costae dan spatium intercostalis di samping dan sternum serta rawan iga di depan. Di superior toraks, berhubungan dengan leher melalui aperture thoracis superior dan di inferior dipisahkan dari abdomen oleh diafragma. Compages thoracis melindungi paru-paru dan jantung dan merupakan tempat perlekatan untuk otototot toraks, ekstrimitas atas, abdomen dan punggung. Cavitas thoracis dapat dibagi dalam bagian median yang dinamakan mediastinum, dan bagian lateral yang ditempati oleh paru-paru dan pleura. Paru-paru diliputi oleh membran tipis yang dinamakan pleura viseralis yang berjalan dari pangkal masing-masing paru menuju ke permukaan dalam dinding thoraks yang dinamakan pleura parietalis. Dengan cara ini terbentuk dua kantong membranosa yang dinamakan cavitas pleuralis pada setiap pinggir toraks antara paru-paru dan dinding toraks.3
Gambar 2.1: Anatomi Rangka Diniding Toraks

Trakea terbentang dari pinggir bawah cartilage cricoidea (berhadapan dengan corpus vertebrae cervical VI) di leher sampai setinggi angulus sterni pada
3

toraks. Trakea terdapat di garis tengah dan berakhir tepat di sebelah kanan garis tengah dengan bercabang menjadi bronchus principalis dextra dan sinistra. Bronkus prinsipalis kanan lebih lebar, lebih pendek dan lebih vertical dibandingkan kiri. Sebelum masuk ke hilus paru-paru kanan, bronkus principalis mempercabangkan bronkus lobaris superior. Waktu masuk ke hillus, ia membelah menjadi bronkus lobaris medius dan bronkus lobaris inferior. Sedangkan bronkus prinsipalis kiri, waktu masuk ke hillus paru kiri, ia akan bercabang menjadi bronkus lobaris superior dan inferior.3 Paru-paru berbentuk konus dan diliputi oleh pleura viseralis. Paru-paru terbenam bebas dalam rongga pleuranya sendiri, hanya dilekatkan ke mediastinum oleh radiks pulmonis. Masing-masing paru mempunyai apeks yang tumpul, yang menjorok ke atas, masuk ke leher sekitar 2,5 cm diatas klavikula, facies costalis yang konveks, yang berhubungan dengan dinding dada dan facies mediastinalis yang konkaf, yang membentuk cetakan pada perikardium dan struktur mediastinum lain. Sekitar pertengahan permukaan kiri, terdapat hillus pulmonis, suatu lekukan dimana bronkus, pembuluh darah, dan saraf masuk ke paru-paru untuk membentuk radiks pulmonis.3 Di inferior, toraks berhubungan dengan abdomen melalui lubang besar yang dinamakan aperture thoracis inferior. Lubang ini dibatasi oleh articulatio xiphosternalis, arcus costae, dan corpus vertebrae thoracica XII. Diafragma merupakan otot utama respirasi. Diafragma berbentuk kubah yang terdiri atas bagian otot di perifer, yang berasal dari pinggir aperture thoracis inferior dan di tengah diganti oleh tendo.3 Pernafasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Jaringan paru dibentuk oleh jutaan alveolus yang mengembang dan mengempis tergantung mengembang atau mengecilnya rongga dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernafasan, yaitu m.intercostalis dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada membesar dan paru-paru mengembang sehingga udara terhisap ke alveolus melalui trakea dan bronkus.2

4

Jika dipasang penyalir tertutup 5 .2 : Anatomi Paru Sebaliknya. Kekuatan tiupan harus melebihi kelenturan dinding dada. Sementara itu. bila m. karena tekanan intraabdomen. kekenyalan jaringan paru dan tekanan intraabdomen. Dengan demikian. diafragma akan naik ketika m. ekspirasi merupakan kegiatan yang pasif. dinding dada mengecil kembali dan udara terdorong ke luar.Gambar 2. Ketiga faktor ini.interkostalis tidak berkontraksi.2 Jika pernafasan gagal karena otot pernafasan tidak bekerja. yaitu kelenturan dinding toraks.intercostalis melemas. Hal ini terjadi pada pneumotoraks.2 Adanya lubang di dinding dada atau di pleura viseralis akan menyebabkan udara masuk ke rongga pleura sehingga pleura viseralis terlepas dari pleura parietalis dan paru tidak lagi ikut dengan gerak nafas dinding toraks dan diafragma. Hal ini dilakukan pada ventilasi dengan respirator atau pada resusitasi dengan nafas buatan mulut ke mulut. ventilasi paru dapat dibuat dengan meniup cukup kuat agar paru mengembang di dalam toraks bersamaan dengan mengembangnya toraks. kekenyalan paru dan tekanan intraabdomen menyebabkan ekspirasi jika otot interkostal dan diafragma kendur dan tidak mempertahankan keadaan inspirasi.

depan dan ke kiri.3 : Anatomi Radiografi Toraks Normal (lange) 2. Definisi ini memberikan gambaran superfisial dari respon fisik terhadap cedera. Di 6 . meskipun demikian terletak bebas di dalam perikardium. Basis cordis berbentuk piramid dan terletak berlawanan dengan apeks. Basis kordis dihubungkan dengan pembuluh pembuluh darah besar. batas kiri oleh aurikula sinistra dan dibawah oleh ventrikulus sinistra. Batas kanan jantung dibentuk oleh atrium dextra. Trauma merupakan penyebab kematian utama pada kelompok umur dibawah 35 tahun. udara ini akan terisap dan paru dapat dikembangkan lagi. Sembilan cm dari garis tengah. Jantung juga mempunyai apeks yang arahnya ke bawah. Apeks terletak setinggi spatium intercostalis V sinistra.2 Jantung merupakan organ muscular berongga yang bentuknya mirip piramid dan terletak di dalam perikardium di mediastinum.2 Gambar 2.2 Definisi dan Epidemiologi Trauma Toraks Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Batas-batas ini penting pada pemeriksaan radiografi jantung. Batas bawah terutama dibentuk oleh ventrikulus dekstra tetapi juga oleh atrium dekstra dan apeks oleh ventrikulus sinister. Apeks ini dibentuk oleh ventriculus sinister mengarah ke bawah depan dan kiri.yang diberi tekanan negatif.

biasanya sebagai akibat dari kecelakaan sepeda motor. lebih dari 300.000 pasien dirawat dan 25. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan.000 di antaranya meninggal segagai akibat langsung dari trauma toraks. kepala dan ekstrimitas sehingga merupakan cedera majemuk. trakeobronkial. dan diafragma. trauma merupakan penyebab kematian utama. trauma merupakan penyebab kematian nomor empat. Trauma ini dapat mencederai tulang (iga. dan terutama trauma toraks merupakan sebuah faktor dari 50% kecelakaan lalu lintas yang berakibat fatal.5 7 .1 Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. esofagus. tetapi pada kelompok umur 15-25 tahun.4 : Mekanisme Trauma Trauma tumpul toraks dapat mempengaruhi komponen dinding toraks dan rongga toraks. paru dan pleura.4 Gambar 2.Indonesia. Trauma toraks terhitung 25% dari seluruh kematian karena trauma. jantung. klavikula. skapula dan sternum). Trauma toraks yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat adalah trauma tumpul toraks (90%). Insiden trauma tembus seimbang atau lebih sedikit. Cedera toraks sering disertai dengan cedera perut. pembuluh darah besar toraks. dan banyak luka tembus pada dada dapat ditanggulangi dengan tube thoracostomy saja.1 Setiap tahun di Amerika Serikat.

hematotoraks.6 Radiografi toraks merupakan hal penting dalam trauma toraks.2. Ultrasonografi sangat berguna. Mencari adanya benda asing (luka tembak) 3. dan melihat kelainan diafragma sinus. klavikula. hanya dalam kasus yang bisa mengancam nyawa. Ini memberikan diagnosis yang tepat untuk sebagian besar trauma yang mengancam jiwa yang melibatkan dinding dada. pneumotoraks. radiografi toraks bisa ditunda.7 2. benda asing. paru-paru. Radiografi polos harus digunakan sebagai pemeriksaan skrining awal pada pasien yang telah berkelanjutan trauma dada. pneumotoraks Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan antara lain : 1. Ultrasonografi juga digunakan untuk mengevaluasi pasien yang mengalami luka tusuk daerah torakoabdominal. terutama untuk tulang iga harus lebih diperhatikan. mediastinum dan diafragma. skapula dan vertebra dapat dinilai apakah terjadi fraktur atau tidak. Mencari adanya hematotoraks.3 Peranan Radiologi Pada Kasus Trauma Toraks Tujuan pemeriksaan radiologis :6 1. Tulang-tulang toraks. yaitu tulang iga. Mencari adanya kelainan pada mediastinum 4. pleura. Mencari adanya fraktur tulang-tulang dinding dada 2. USG USG digunakan untuk melihat adanya efusi pleura. yang merupakan teknik yang sederhana dalam diagnosis cedera diafragma. yang digunakan untuk melukiskan subkutan 8 . radiografi konvensional tetap menjadi modalitas diagnostik utama untuk semua pasien trauma dada. Penilaian sistematis dari radiografi dapat menemukan kelainan yang terlihat dan yang tidak terlihat secara klinis.6 Dengan kata lain. Radiografi konvensional Radiografi dipakai sebagai dasar untuk mencari fraktur.

untuk mengidentifikasi saluran luka.8 5. dan dengan frekuensi yang lebih besar. ini termasuk tracheobronchial tears. kontusio paru. dan cedera dinding dada lebih baik daripada radiografi.8 4. Pada keadaan ini digunakan media kontras. Aortografi Aortografi merupakan salah satu kriteria standar untuk mendiagnosis suatu cedera terhadap aorta pada kasus trauma dada. cedera tulang belakang dada. pneumotoraks. hemothoraks.dan lapisan fasia. ruptur diafragma. adanya benda asing. Sekitar 90% pasien tidak mengalami cedera aorta. mediastinum. atau adanya dugaan cedera pada pembuluh darah (aorta). dan komplikasi yang terkait dengan rongga dada. CT Scan Computed tomography adalah modalitas pilihan untuk penilaian cepat gawat darurat dada. esophageal tears. Namun. MRI MRI biasanya disediakan untuk mengevaluasi pasien stabil dengan CT scan yang hasilnya samar-samar atau nondiagnostic. tetapi banyak hal serius lainnya.8 3. MRI juga merupakan alat yang sangat baik dalam diagnosis cedera vaskular pada pasien stabil. cedera dinding dada dan sabuk pengaman. dengan generasi baru CT scan yang memiliki sensitivitas 100% dan 9 . Sebuah CT scan secara signifikan lebih mungkin untuk menghasilkan informasi tambahan daripada CXR saja. meskipun dada x-ray (CXR) tetap merupakan modalitas skrining awal. CT dada biasanya dilakukan bersamaan dengan CT abdomen dan kombinasi ini meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas.6 CT scan dapat menunjukkan cedera pada paru-paru.8 CT Scan digunakan untuk melihat adanya pneumotoraks yang tersembunyi. cedera jantung. cedera yang tak terduga dapat diidentifikasi pada scan dada CT. Pada pasien trauma akut. dan untuk mendeteksi luka yang mengenai peritoneum atau pleura parietalis. Banyak luka dada serius mungkin diabaikan pada radiografi dada awal. pleura.

khususnya pada keadaan fraktur kosta superior atau dislokasi sternoklavikular posterior.2 Pemeriksaan Radiologis Tanda-tanda radiografi dada dari trauma aorta memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang kecil. harus segera mendapat perhatian untuk trauma pembuluh darah besar atau trauma pada struktur lain di dalam toraks.4.5 2. Pasien yang bertahan hidup yang diantar ke instalasi gawat darurat biasanya memiliki cedera dinding aorta yang kecil atau parsial dengan formasi pseudoaneurysm. dan 85-90% dari pasien dengan ruptur aorta traumatik meninggal sebelum mendapatkan pertolongan medis. Tanda-tanda radiografi yang paling sensitif (tetapi tidak 10 . dan diagnosis didasarkan pada indeks kecurigaan yang tinggi berdasarkan mekanisme cedera.spesifisitaslebih dari 99% maka pemakaian aortografi pada pasien trauma dapat dikurangi. Banyak dari pasien ini meninggal di TKP akibat transeksi aorta lengkap.9 Trauma pembuluh darah besar (dengan atau tanpa robekan aorta yang serentak) terjadi pada 1-2% pasien dengan trauma tumpul toraks. dan hasil studi pencitraan.9 2. tepat di sebelah distal pangkal arteri subklavia kiri.4 Dipostulasikan mekanisme lain untuk cedera aorta adalah kompresi antara sternum dan tulang belakang.4 2.9 Ruptur traumatik dari aorta sendiri terhitung sebanyak 16% dari kecelakaan kendaraan bermotor yang berakibat fatal. 90% ruptur aorta traumatik terjadi pada ismus aorta.4 Trauma Aorta dan Pembuluh Darah Besar Sampai dengan 15% dari semua kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor adalah karena cedera aorta torakalis. Dalam seri klinisnya.4.1 Gambaran Klinis Tanda-tanda klinis dari cedera aorta traumatis jarang ditemukan. khususnya setingkat diafragma. Sebagian kecil trauma aorta (1-3%) melibatkan aorta desenden. Hematom mediastinum superior perivaskuler atau hematom servikal inferior. dan peningkatan mendadak tekanan intra-lumen aorta pada saat dampak.

Pelebaran mediastinum non spesifik B.5 : Laserasi aorta A.spesifik) adalah pelebaran mediastinum dan kehilangan definisi dari arkus aorta. contrast-enhanced.6: Laserasi aorta desenden.4 Gambar 2. Aortogram menunjukkan laserasi pada ismus aorta. Radiografi dada yang normal memiliki nilai prediksi negatif tinggi (98%) tetapi nilai prediksi positif yang rendah untuk trauma aorta. CT scan menunjukkan pseudoaneurisma pada aorta desenden (panah)17 Pada banyak institusi.4 Gambar 2. thin-section CT scanning (tiga milimeter penjajaran atau kurang dengan rekonstruksi yang overlapping) telah menggantikan aortografi konvensional dalam mengevaluasi pasien dengan trauma 11 .

termasuk (a) perubahan kaliber aorta pada lokasi trauma (pseudoaneurisma atau pseudokoarktasio).1 : Tanda Radiografi dada pada Trauma Aorta4 12 . Apabila terdapat tandatanda langsung dari trauma aorta yang terlihat pada CT. flap intima linier). tanpa adanya tanda-tanda langsung dari trauma aorta. dan (e) ekstravasasi kontras yang aktif. (c) keireguleran intralumen atau daerah-daerah yang beratenuasi rendah (bekuan darah. termasuk peningkatan lemak mediastinum.aorta. anomali pembuluh darah. trauma paru-paru yang terpecah-belah. atelektasis paramediastinal atau efusi pleura. tortuositas pembuluh darah. limfadenopati. bukan berarti hal itu kecil dan tidak terpusat di sekitar aorta. pasien memungkinkan atau tidak dilakukan angiografi konvensional konfirmasi pada operasi yang terpisah. sisa jaringan timus.4 Tabel 2. artefak karena posisi supinasi. (b) dinding atau kontur aorta yang abnormal atau ireguer. Apabila ada perdarahan mediastinum. dan penyisikirian vena cava superior persisten. Tidak hanya CT yang berguna untuk mendeteksi tandatanda langsung dari trauma aorta. (d) hematom atau diseksi intramural. tetapi CT juga bisa memperlihatkan penyebab lain pelebaran mediastinum. pasien umumnya memerlukan angiografi konvensional. dan apabila tidak ada keterangan lain dari perdarahan yang terlihat pada hasil CT.

2 Pemeriksaan Radiologis Pada pemeriksaan radiologi tampak bayangan bercak di paru. Operasi perbaikan aorta dilakukan atas indikasi sebagai berikut :9 • • • • Ketidakstabilan hemodinamik Besar volume perdarahan dari tabung dada Adanya ekstravasasi kontras pada CT atau hematoma mediastinum yang berkembang pesat Luka tembus aorta Trauma Parenkim Paru Kontusio paru dapat menyebabkan edema dan menumpuknya darah di 2. Cedera tumpul paru yang berkembang selama 24 jam. Dalam hal ini dapat terjadi pula. Opasifikasi abnormal parenkim paru pada pasien trauma dapat sebagai hasil dari atelektasis. patah tulang rusuk atau flail chest. reaksi inflamasi yang signifikan pada paru-paru.9 2.4. Hal ini dapat menunjukkan adanya kontusio paru yang mendasari. Sekitar 50% pasien dengan kontusio paru mengalami hemoptisis.1 Gambaran Klinis Kontusio paru jarang didiagnosis pada pemeriksaan fisik. Kontusio ini dapat terjadi dengan atau tanpa fraktur iga. aspirasi.5. dan 50-60% dari pasien dengan kontusio paru yang signifikan akan berkembang menjadi Respiratory Distress Syndrome bilateral akut (ARDS).2. dan mungkin ada tandatanda jelas trauma dinding dada seperti memar.10 2. Mekanisme cedera mungkin mengarahkan pada trauma tumpul dada.9.3 Tatalaksana Atasi perdarahan tetap menjadi prioritas utama.5 ruang alveolar serta hilangnya struktur dan fungsi paru-paru yang normal. edema. pneumonia.5. Kontusio paru-paru (lung bruis) dapat berakibat pada kebocoran darah dan edema cairan ke dalam interstisial dan ruang 13 . menyebabkan gangguan pertukaran gas dan peningkatan resistensi pembuluh darah paru. trauma paru-paru (kontusio dan laserasi) dan biasanya etiologinya multifaktorial.

Cedera sabuk pengaman berat dapat menyebabkan lecet kulit yang berhubungan dengan luka dalam pada 30% pasien. terlihat bayangan opak pada paru kanan dan beberapa iga yang patah. CT scan menunjukkan kontusio paru (panah merah) dan fraktur iga (panah biru)4 Cedera yang terkait sabuk pengaman dapat menyebabkan kontusio pada jaringan subkutan dan lemak dari dinding dada anterior. Radiografi dada posisi AP supinasi seorang laki-laki usia 16 tahun yang mengalami trauma dada. terlihat beberapa bayangan lusen berbentuk bulat dengan bayangan opak pada paru kanan yang menunjukkan laserasi paru dan perkembangan pneumatocele4 Gambar 2. A.8 : Kontusio paru.alveolar. B. Laserasi paru-paru merupakan trauma yang lebih berat yang mengakibatkan gangguan arsitektur paru-paru.8 14 .4 Gambar 2. Hal ini dapat diidentifikasi pada CT scan. radiografi dada yang dibuat 4 hari kemudian.7: Laserasi Paru.

yang mana mengarah kepada nonsegmental perifer. Pada keduanya. tulang rusuk. dalam 5 sampai 7 hari. ground-glass opacification. Pasien dengan hemoptisis setelah cedera. kontusio paru-paru diperlihatkan sebagai areas of airspace opacity. atau keduanya.8 CT lebih sensitif daripada radiografi untuk menunjukkan kontusio dan laserasi.9 : Radiografi dada pada seorang laki-laki dengan trauma dada tumpul terlihat perdarahan pada lobus atas paru kiri. dan prosesus transversus C7 atau T1 Transeksi aorta Kontusio jantung atau ruptur ventrikel Cedera pada arteri subklavia atau vena kava superior Trakeal or laryngeal tears Ruptur diafragma Insiden fraktur sternum sebenarnya lebih tinggi pada pengguna sabuk • • • • • pengaman daripada bukan pengguna. pasien yang sehat tidak berhubungan dengan peningkatan angka kematian. dan emfisema. mungkin pada awalnya tertutup oleh kontusio koeksisten dan bentuk-bentuk 15 . Kontusio terbukti pada temuan atau dalam 6 jam setelah trauma. radiografi dada dan CT. klavikula.8 Untuk melakukan identifikasi cedera sabuk pengaman pada CT scan harus segera mencari hal-hal berikut:8 • Fraktur sternum.Gambar 2. patah tulang terjadi pada 2 cm dari persimpangan manubrium-tulang dada. dengan kata lain. biasanya tanpa sekuele yang permanen. dan geografis dalam distribusi. Kontusio paru-paru terisolasi pada dewasa muda. Laserasi paru-paru. dan hilang sendiri.

aorta adalah yang paling sering dihubungkan dengan struktur yang terluka. Radiografi atau CT scan mendiagnosis laserasi paru-paru didasarkan pada temuan penumpukan udara yang terlokalisasi dalam sebuah daerah ruang udara opak pada daerah trauma toraks. seperti kosta dan korpus vertebra.3 Tatalaksana Kebanyakan memar tidak memerlukan terapi spesifik. kontusio dan laserasi.4% sampai 1.9 2.4 Ruptur trakea servikal dapat terjadi sebagai sebuah “clothesline injury” ketika leher tertarik pada kecepatan yang tinggi yang berkontak dengan tali. dan trauma pada struktur-struktur lain seperti kerangka toraks. Pengelolaan cedera tumpul dada karena termasuk analgesia yang memadai dan tepat.6 Trauma Trakeo-bronkial Insiden trauma trakheobronkhial (ITT) dilaporkan sebesar 0.5% dalam serial klinis trauma tumpul mayor. Keduanya. kontusio cenderung berkembang selama 24-48 jam. Namun kontusio yang luas dapat mempengaruhi pertukaran gas dan mengakibatkan hipoksemia. diperlukan pemantauan secara ketat dan oksigen tambahan harus diberikan.5. Lebih dari 80% ITT terjadi pada jarak 2. Ketika trakea intratorasis atau bronkus terluka. mengarahkan kepada terjadinya gangguan terhadap struktur-struktur padat . yang tersering dari trauma yang berhubungan. kadang-kadang dengan jaringan parut sisa. Trauma tumpul yang berat dapat menyebabkan ruptur jalan napas. 16 . udara (pneumatocele).5 cm dari karina. dan ini secara umum memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk hilang sendiri. dengan obstruksi jalan napas yang muncul berhari-hari atau berbulan-bulan setelah trauma inisial. Sebagai dampak fisiologis. atau keduanya.lainnya dari trauma toraks pada radiografi permulaan atau CT scan. dan pembuluk darah besar sepertinya. Intubasi trakea dan ventilasi mekanis mungkin diperlukan jika ada kesulitan dalam oksigenasi atau ventilasi. ITT dihubungkan dengan 30% dari seluruh angka kematian. paru-paru. Kegagalan untuk memperkirakan ITT dapat berakibat kematian atau meninggalkan sikatrisasi pada lokasi trauma. Laserasi paru-paru akibat dari robeknya parenkim paru dan pembentukan kavitas yang terisi dengan darah (hematom).4 2.

Tanda lain dari transeksi trakea adalah overdistensi akut dari cuff pipa endotrakea (ETT). balon bisa mendekati ujung ETT sebagai hasil dari ekspansi distal dari balon pada robekan. Pada ruptur trakea. karena pneumotoraks biasanya terlihat bersama fraktur iga.4 Secara patologi. trauma trakea sangat sering dijumpai sebagai robekan transversal di antara cincin trakea atau robekan longitudinal pada segmen membranosa posterior. yang menyebabkan elevasi yang searah dari tulang hyoid oleh perototan suprahyoid. Trauma pada trakea mediastinum atau bronkus utama dapat menghasilkan pneumomediastinum yang dengan cepat menyebar ke dalam leher dan wajah. bahu. secara langsung dimana ini menambah diameter normal trakea. kompresi jalan napas yang melawan vertebra. pneumotoraks akan respon terhadap penempatan thorax tube.4 Pneumomediastinum merupakan suatu tanda yang lebih spesifik ITT dari pada pneumotoraks. Hal ini terjadi sebagai akibat dari trauma otot-otot infrahyoid. sebuah pneumotoraks yang tidak hilang dengan memfungsikan drainase tube merupakan sinus qua non trauma jalan napas mediastinum.kawat. Akan tetapi. atau kabel oleh individu yang sedang mengendarai berbagai jenis kendaraan rekreasi atau sedang berlari.6. yang dapat terlihat pada radiografi lateral dari vertebra sevikal.4 17 .2. sehingga reekspansi paru-paru tidak meniadakan trauma trakheobronkhial. dengan herniasi parsial balon ke dalam robekan seperti tube yang berpindah ke dalam jalan napas atau direposisi kembali. Kerusakan trakea dan bronkus akan menyebabkan pneumomediastinum dan emfisema subkutis yang luas. akan tetapi hal ini mungkin tidak dijumpai jika outer adventitial sleeve dari sisa bronkus intak dan tidak ada kebocoran udara. tapi kontinuitas jalan napas masih dapat dipelihara oleh jaringan peritrakeobronkial. Pemisahan kompleks dari trakea dapat terjadi. Laserasi trakea bisa juga terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor ketika leher pengendara menghantam puncak dari roda stir. Pneumotoraks terlihat dalam 60% sampai 100% kasus ITT. dan dinding dada.4 2.1 Pemeriksaan Radiologis Sebuah indikasi dari robekan trakea adalah elevasi tulang hyoid ke atas level C3. Pada banyak kasus.

10 : Trakeal tear. Normalnya dengan sebuah pneumotoraks.4 18 . Sebuah fallen-lung sign diperkirakan sebagai akibat dari gangguan pada hilus normal paru-paru. Temuan CT scan patah tulang bronkus adalah sebagai berikut:8 • • Sebuah pneumotoraks yang besar Pneumomediastinum besar dan emfisema subkutan Pengumpulan udara peribronkial fokal Diskontinuitas atau penyimpangan dari dinding bronkus Kolaps paru-paru atau lobus paru-paru fallen-lung sign mengacu pada penampilan yang tidak biasa dari lobus paru-paru yang kolaps. Tanda ini mengarah kepada paru-paru yang jatuh secara lateral dan posterior pada posisi supinasi dan jatuh secaara inferior menjauh dari hilus pada posisi atas kanan. • • • • Gambar 2. Radiografi dada posisi supinasi AP pada wanita muda yang menglami kecelakaan lalu lintas yang menunjukkan overdistensi balon endotrakeal tube pada sisi dimana terjadi herniasi balon melalui trakeal tear.Tanda fallen lung sign jarang terlihat namun sangat menyokong tanda robekan bronkial yang bisa terlihat pada radiografi dada dan CT. pergerakan paru ke dalam ke arah hilus. menyebabkan paru-paru kolaps di perifer daripada di sentral.

1 Gambaran Klinis Hernia karena trauma tumpul mungkin tidak menimbulkan gejala atau tanda.2 Pemeriksaan Radiologis Tujuh puluh lima hingga 95% pasien dengan ruptur akut diafragma memiliki gambaran radiografi toraks yang abnormal. Hal yang didapat pada gambaran radiografi ruptur termasuk gambaran diafragma normal. atau dari pipa endotrakea yang keluar dari jalan nafas melalui tempat yang rusak. limpa. perpindahan tempat dari NGT di dalam gaster. namun hanya 17 hingga 40 % yang ditemukan pada radiografi. kontur diafragma yang tidak teratur. a right chest tube (panah).6.2 Tatalaksana Tatalaksananya berupa torakotomi dan penutupan kerusakan trakea atau bronkus. basilar opacity yang menyebabkan gambaran yang tidak biasa pada diafragma.2 2. dan kolaps (fallen right lung) (FL) pada hemitoraks kanan4 2. atau berangsur0angsur dalam waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun. gambaran elevasi dari diafragma.7. kolon ataupun sedikit traktus urinarius ke dalam toraks.7 Ruptur Diafragma Ruptur akut diafragma terjadi pada 1-7 % pasien dengan trauma tumpul yang hebat. dapat timbul gejala dan tanda obstruksi.11 2. perpindahan tempat dari isi perut.Gambar 2. dan kesalahan diagnosis pada pemeriksaan awal terjadi lebih dari 66%. Harus diperhatikan pemberian anesthesia yang baik karena dapat menyebabkan pneumotoraks yang bertambah berat akibat udara dari alat ventilator yang tidak masuk ke alveolus.7.11: CT seorang pasien dengan fraktur bronkus utama kanan menunjukkan pneumotoraks luas (P). Visera seperti lambung dapat masuk ke dalam rongga toraks segera setelah trauma. fraktur tulang iga dan pergeseran mediastinum pada kejadian pleura efusi ataupun pnemotoraks. Hernia karena trauma tumpul kebanyakan terjadi di bagian tendineus kiri karena di sebelah kanan dilindungi oleh hati. Bergantung pada banyaknya visera yang masuk ke dalam rongga toraks. seperti hati. pneumotoraks.11 2. pleura efusi.4 19 .

Pada penegakkan diagnosis tidak selalu mudah.4 Tabel 2. ataupun inkarserasi dari hernia abdominal visera dapat terjadi lama setelah kejadian trauma.Angka kejadian ruptur hemidiafragma kanan mungkin sama dengan angka kejadian ruptur hemidiafragma kiri. walaupun tampilan klinis cedera lebih sering disadari pada sebelah kiri. pasien mungkin tidak merasakan gejala apapun.2 : Penemuan Radiologi pada Ruptur Diafragma4 20 .

Radiografi toraks AP posisi supine pada wanita berusia 24 tahun yang mengalami kecelakaan kendaraan.4 21 . lebih jelas dibandingkan CT konvensional karena data volumetriknya memberikan potongan sagital dan koronal kualitas tinggi. Terlihat herniasi dari isi perut yang mengembung melampaui diafragma kiri ke dalam hemitoraks kiri (pada panah putih dan hitam).12 : Ruptur Diafragma. Bergin dan kawankawan menjelaskan tanda-tanda ruptur diafragma akibat trauma tumpul pada CT. Sensitivitas diagnosis pada ruptur diafragma menggunakan CT adalah 54%-73%. Gambaran CT yang berhubungan dengan ruptur akut diafragma adalah diskontinuitas diafragma. atupun saluran cerna atau isi perut bersentuhan dengan iga kiri bawah. tanda-tanda tersebut terutama pada sepertiga ke atas hati berdesakan dengan iga kanan bawah. dan opaksikasi dari paru kiri akibat cedera parenkim. pemuntiran saluran cerna.4 Gambar 2. Terlihat pergeseran mediastinum ke kanan.Multidetector CT dapat berguna membuat diagnosis pada ruptur akut diafragma. dan spesifitasnya 86%-90%. Terutama untuk daerah cedera diafragma posterolateral. herniasi intratoraksal dari isi perut. fraktur iga kiri.

B: CT scan menunjukkan collar sign (panah). A.4 Gambar 2. atelektasis dari bagian usus. CT Scan menunjukkan diskontinuitas dari hemidiafragma kiri.4 Gambar 2. dan fraktur iga bawah. Terlihat massa di hemitoraks bagian bawah kiri yang tak terlihat herniasi.Gambar 2. dan pergeseran mediastinum ke kanan.15: Ruptur Diafragma. Fundus (F) di posisi posterior4 Pada CT juga dapat ditemukan laserasi pada hati.14 : Ruptur diafragma. kontusio ginjal. Radiografi toraks AP posisi supine pada pasien kecelakaan motor yang terlihat opaksikasi hemitoraks kiri dan pneumo torakskiri (panah).13 : Ruptur Diafragma. laserasi limpa. hemotoraks. Walupun diskontinuitas diafragma merupakan tanda pasti dari ruptur diafragma. Hemidiafragma kiri tidak terlihat. Foto toraks AP posisi supine pada kasus kecelakaan kendaraan. B.4 akibat usia yang tidak ada 22 . namun harus diingat bahwa ini bisa saja terjadi hubungannya dengan trauma. hemoperitonium. Perpindahan tempat dari NGT (panah).

17 : CT scan yang diambil beberapa minggu setelah trauma.7.3 Tatalaksana 23 .4 2. Garis diafragma hilangdan lambung mengalami herniasi ke hemitoraks kiri17 Gambar 2.16 : Ruptur Diafragma.Gambar 2. Potongan koronal. menunjukkan herniasi usus ke dalam hemitoraks kiri dan menggeser mediastinum ke kanan.

2 Pemeriksaan Radiologis Radiografi tulang belakang torakal dilakukan untuk menilai tulang belakang torakal. klavikula. Jika terjadi patah tulang iga multiple. Fraktur iga bisa mengakibatkan laserasi pada pleura dan paru. Akan tetapi. ukuran vertebra yang abnormal. suatu segmen dinding dada akan terlepas dari kesatuannya.8. dan perluasan fraktur kompresi anterior. ataupun ditambah dengan CT Scan. dan tulang belakang bisa terjadi bahkan oleh trauma tumpul. Fraktur tulang belakang toraks terjadi sekitar 16%30% dari keseluruhan cedera tulang belakang dan dapat menyebabkan gangguan neurologi yang berat pada hampir 60% pasien. dan sternum bagian atas biasanya diikuti cedera pleksus brakial dan vaskular pada 3%-15% pasien. biasanya dinding toraks tetap stabil. namun akan lebih optimal jika ditambah dengan foto frontal dan lateral dari dada. hati dan ginjal. bentuk.11 2. hemotoraks.8 2. scapula. muka-belakang. Tujuh puluh persen hingga 90% fraktur tulang belakang dapat dilihat dengan radiografi konvensional. yang dapat menyebabkan hematoma. sternum.8 Trauma Tulang Toraks Cedera iga. dan nyeri pada gerak nafas. Nyerinya berupa nyeri lokal dan kompresi kiri-kanan. klavikula. densitas. Pada keadaan darurat.8. diperlukan pembedahan untuk reposisi visera dan menutup kembali diafragma.2 2.4 Fraktur iga atas. Fraktur lima iga atau lebih pada iga yang terpisah atau lebih dari tiga iga yang berdekatan 24 . bila beberapa iga mengalami patah tulang pada dua tempat. mungkin kelainan lain perlu dikerjakan segera.Pada penderita dengan keluhan dan gangguan. yang dapat dikonfirmasi dengan CT scan. ataupun pneumotoraks. tetapi setelah itu sedapat mungkin rupture diafragma harus ditutup juga. dan lokasi. Yang dinilai adalah disrupsi korteks. CT dan MRI berguna untuk membedakan brust fracture yang stabil dan yang tak stabil. Fraktur iga bawah biasanya juga mengenai cedera limpa. CT dan MRI mungkin dapat memberikan gambaran komplikasi dari fraktur dan hanya dilakukan untuk menilai integritas dari spinal cord dan ligamen intervertebra.1 Gambaran Klinis Diagnosis patah tulang ditentukan berdasarkan gejala dan tanda nyeri local.

4 Gambar 2. tidak termasuk dalam pengobatan (19%). trakea. Ketika fraktur skapula tidak terlihat pada foto toraks inisial. terjadi pada 8% trauma toraks. foto lateral lebih jelas biasanya. pada banyak kasus fraktur skapula. mungkin fraktur terjadi pada bagin retrospektif pada 725 kasus. Fraktur sternum yang sering terjadi dengan hematoma retrosternal.(satu iga fraktur di dua tempat atau lebih) bisa menyebabkan gangguan gerakan paradoksal yang akan menyebabkan gangguan mekanis lalu menyebabkan atelektasis dan infeksi paru.menunjukkan fraktur communited skapula kanan(panah)4 25 .4 Fraktur sternum. CT paru. Walaupun dislokasi sternoklavikula dapat dilihat dengan radiografi dada. Fraktur jenis ini tidak tidak dapat dilihat pada foto toraks PA. Fraktur skapula didiagnosis berdasarkan foto toraks inisial pada setengah pasien. dapat menyebabkan kontusio jantung dan sering tidak memberikan gejala klinis yang jelas pada awalnya. namun biasanya lebih tampak lagi dengan CT Scan. nervus mediastinum atas. dan esofagus. namun ini lebih mudah dilihat dengan CT. khususnya digunakan secara kombinasi dengan radiografi konvensional.18 : radiografi dada posisi PA. yang diambil 10 hari setelah trauma. Fraktur skapula biasanya menyebabkan sedikit komplikasi pada pasien. kasus foto yang kabur akibat superimposed structure atau artefak (9%). sekitar 58%-80% angka kejadian.4 Dislokasi ke posterior dari klavikula bisa menyebabkan cedera pembuluh darah yang berat.

Gambar 2.3 Tatalaksana Fraktur iga tunggal atau multipel dengan gerak dada yang masih memadai dan teratur ditangani dengan pemberian analgetik atau anestetik.20 : USG iga (A) Normal (B) Fraktur Iga16 2.8. Nyeri harus 26 .19 : Radiografi dada menunjukkan fraktur iga dan hemototaks kiri.8 Gambar 2.

Luka pleura parietalis dapat mengakibatkan hemotoraks dan atau pneumotoraks.9 Manifestasi Pleura Pada Trauma Toraks Pneumotoraks terjadi karena ada hubungan terbuka antara rongga dada dan dunia luar. Bidai rekat ini mengganggu pengembangan rongga dada. Pemasangan bidai rekat tidak ada manfaatnya walaupun memberi rasa aman kepada penderita. ekspektoran dan fisioterapi. Jarang ditemukan dislokasi karena iga terbungkus perios yang kuat dan otot. Bila penderita tidak dapat batuk untuk membersihkan parunya. mudah terjadi bronkopneumonia. Pneumonia disebabkan oleh gangguan gerak nafas dan gangguan batuk. Patahnya kedua iga ini harus dipandang berbahaya karena pasti penderita mengalami cedera yang hebat.2 2. Jika luka penyebab tetap terbuka. harus dilakukan anestesi blok interkostal yang meliputi segmen kaudal dan kranial iga yang patah. penyembuhan dan penyatuan tulang biasanya berlangsung cepat dan tanpa halangan atau penyulit. Penanganannya terdiri dari pemberian anestesi sempurna. Oleh karena itu. lebar dan kuat. harus dicari cedera lain yang lebih penting yang mungkin tidak nyata. paru akan menguncup karena jaringan paru bersifat elastik dan karena tak ada tekanan negatif yang menyedotnya. antibiotik yang memadai. Jika pemberian analgetik tidak menghilangkan nyeri.2 27 . mengganggu gerakan nafas dan dapat menyebabkan dermatitis. Hubungan ini mungkin melalui luka di dinding dada yang menembus pleura parietalis atau melalui luka di jalan nafas yang sampai ke pleura viseralis. Karena tulang iga pendarahannya baik. seperti cedera jantung atau aorta.4 Penyulit Penyulit patah tulang iga adalah pneumonia.8. Iga I atau II jarang patah karena iga ini letaknya agak terlindung.2 2.dihilangkan untuk menjamin pernafasan yang baik atau mencegah pneumonia akibat gerak nafas tidak memadai dan terganggunya batuk karena nyeri. sedangkan dalam mengurangi nyeri tidak lebih baik daripada analgetik. Pneumotoraks dan hemotoraks terjadi karena tusukan patahan tulang iga pada pleura parietalis dan atau pleura viseralis. pneumotoraks dan hemotoraks. Apalagi tulang tersebut metupakan tulang pendek.

Keadaan ini dapat terjadi berulang kali dan menyebabkan suatu keadaan yang kronis. Udara lingkungan luar masuk ke dalam rongga pleura melalui luka tusuk atau pneumotoraks artifisial dengan tujuan terapi dalam hal pengecilan kavitas proses spesifik yang sekarang tidak dilakukan lagi. Udara berasal dari subdiafragma dengan adanya robekan lambung akibat suatu trauma atau abses subdiafragma dengan kuman pembentuk gas. Pneumotoraks spontan timbul sobekan subpleura dan bulla sehingga udara saluran pernafasan masuk ke dalam rongga pleura melalui suatu lobang robekan atau katup.21 : Pneumotoraks desak. B. 4. pada ekspirasi. Tujuan pneumotoraks sengaja lainnya adalah untuk diagnostik membedakan massa apakah berasal dari pleura atau jaringan paru. udara masuk ke rongga pleura melalui luka di pleura parietalis dan dinding dada atau melalui luka di pleura viseralis dan paru. A. 2. Penyebab lain adalah akibat tindakan biopsi paru dan pengeluaran cairan pleura.Pneumotoraks adalah adanya udara dalam rongga pleura dimana masuknya udara didalam rongga pleura dapat dibedakan menjadi :12 1. (1) udara tidak dapat keluar karena luka yang bersifat katup tertutup . Keganasan dalam mediastinum dapat pula mengakibatkan udara dalam rongga pleura melalui fistula antara saluran nafas proksimal dan rongga pleura.1 Gambaran Klinis 28 . Mediastinum makin terdorong ke sisi yang sehat. Masuknya udara yang melalui mediastinum yang biasanya disebabkan oleh trauma pada trakea dan esofagus akibat tindakan pemeriksaan dengan alat-alat (endoskopi) atau benda asing tajam yang tertelan. (2) tekanan tinggi mendesak vena kava inferior maupun superior2 2. Gambar 2. Penyebab lain adalah suatu trauma tertutup pada dinding dan fistula bronkopleural akibat neoplasma dan inflamasi. pada inspirasi.9. 3.

takipnea dan tanda hipoksia yang lainnya.Pasien akan merasa nyeri dan sesak nafas. fremitus menurun sampai hilang. Luka dinding toraks. pada pemeriksaan fisik mungkin dada tampak asimetris. Dapat timbul sianosis. namun. yang merupakan. perkusi timpani. Udara di rongga pleura. Pergeseran mediastinum. pneumotoraks pada tidak adanya patah tulang rusuk kadang-kadang terlihat pada orang dewasa dan umumnya terlihat pada anak-anak.2.2 Pemeriksaan Radiologis Pneumotoraks terlihat pada radiografi dada pada hampir 40% pasien dengan trauma tumpul dada dan pada sampai dengan 20% dari pasien dengan luka penetrasi dada. Gelembung udara di jaringan 4.22 : Pneumotoraks desak dan emfisema. lusen sulkus kostofrenikus. CT jauh lebih sensitif untuk mendiagnosis pneumotoraks pada pasien terlentang daripada radiografi dada dan mengidentifikasi pneumotoraks yang tidak dapat 29 . 5. dan (c) tanda diafragma ganda.13 Gambar 2. Wajah dan leher bengkak karena udara.9.4 Tanda-tanda radiografi pneumotoraks pada pasien telentang meliputi (a) tanda sulkus dalam. Penyebab paling umum pada trauma tumpul dianggap patah tulang rusuk yang menembus pleura viseral.2 2. (b) peningkatan relatif dalam lusensi di basal paru-paru yang terkena. 2. Udara pleura akan naik ke bagian yang paling nondependen toraks pada apeks pada pasien tegak dan pada aspek kaudal anterior ruang pleura pada pasien terlentang. 1. 3. dan suara nafas menurun atau hilang. yang dibentuk oleh permukaan antara bagian ventral dan dorsal dari pneumotoraks dengan aspek anterior dan posterior hemidiafragma tersebut.

yang dihasilkan oleh kehadiran udara antara perikardium dan diafragma.4 Gmbar 2. Hal ini dapat didiagnosis pada radiografi dada dengan gambaran lusen abnormal dalam mediastinum yang menonjolkan kontur dari aorta dan arteri pulmonal dan displace pleura mediastinum ke lateral.dilihat pada radiografi konvensional telentang dalam 10%-50% dari pasien yang telah menderita trauma tumpul pada dada. kerongkongan.4 Gambar 2. atau saluran napas trakeobronkial.24 : CT scan tension pneumothorax8 30 . dan continuous diafragma sign.23 : Tension Pmeumothorax8 Pneumomediastinum dapat terjadi dalam hubungan dengan pneumotoraks. Pneumomediastinum dapat dengan mudah diidentifikasi pada CT dada dan mungkin menandakan adanya laserasi pada faring.

4 Gambar 2. CT dapat membantu dalam membedakan hematoma dari kelainan pleura lainnya dengan menunjukkan high CT attenuation pada darah.9. dan dapat menunjukkan lokulasi cairan pleura dan menggambarkan opasitas kompleks pleuroparenkim. Ruptur duktus torasikus pada toraks bawah mengakibatkan right-sided chylothorax. Keunggulan CT dibandingkan radiografi dada dalam membedakan cairan pleura dari penyebab lain dari kepadatan radiografi. dan efusi pleura berkembang pesat kemungkinan besar disebabkan oleh pendarahan arteri. Inspirasi paksaan ini akan 31 . mengakibatkan chylothorax.3 Tatalaksana Terapinya adalah pemasangan penyalir sekat air. dengan milky fluid dapat dipulihkan melalui thorasentesis. sedangkan ruptur di daerah tingkat atas dimana duktus toraks melintasi garis tengah di midthoraks mengakibatkan left-sided chylothorax. seperti atelektasis.Efusi pleura yang berkembang paska trauma akut biasanya merepresentasikan hemothoraks. cedera parenkim. atau pneumonia. yang jarang. CT menunjukkan high-attenuation blood (H) pada rongga pleura kanan. Jika terjadi mekanisme katup pada luka di dinding toraks atau luka di pleura viseralis. Tekanan di dalam rongga pleura akan semakin tinggi karena penderita memaksaan diri inspirasi kuat untuk memperoleh zat asam. tetapi ketika ekspirasi udara tidak dapat keluar (mekanisme katup).4 2. timbul pneumotoraks desak.25 : Hemothoraks. Ruptur duktus torasikus.

14 2. hipotensi. Karena tekanan tinggi di rongga pleura. terdorong dan terlipat. terutama vena kava inferior dan vena kava superior. Trauma tajam umumnya lebih banyak melukai bilik jantung kanan karena letaknya didepan.menambah tekanan sehingga makin mendesak mediastinum ke sisi yang sehat dan memperburuk keadaan umum karena paru yang sehat tertekan.10.10 Trauma Jantung Trauma jantung dapat berupa trauma tumpul atau trauma tajam yang umumnya trauma tusuk. darah tidak dapat kembali ke jantung.10. perdarahan ventrikel dan tamponade perikard. bendungan vena di leher juga disertai sesak nafas dan pulsus paradoksus. Ini memerlukan tindakan bedah segera. udara ditekan masuk ke jaringan lunak melalui luka dan naik ke wajah. Dengan pungsi darurat rongga toraks berupa tusukan sederhana dengan jarum di ruang antar iga II. dan catatan mengenai cedera traumatis jarang. suara jantung menjauh.2 Pemeriksaan Radiologis Jantung dan perikardium cukup baik dilindungi dari cedera nonpenetrating. Karena pembuluh vena besar.1 Manifestasi Klinis Tamponade perikard selalu ditandai dengan trias Beck yaitu.2 2. Pada pneumotoraks desak traumatik dapat terjadi emfisema. Keduanya dapat mengakibatkan memar otot jantung. Pada perabaan terdapat krepitasi yang mungkin meluas ke jaringan subkutis toraks. maka keadaan ini perlu diperhatikan pada trauma dada yang menyebabkan patah tulang rusuk. Trauma ini sering disebabkan tusukkan langsung atau oleh patahan iga. penderita dapat diselamatkan. Evaluasi sonografi jantung 32 . Keunggulan radiografi dada adalah dalam mendeteksi cedera yang berhubungan. Trauma jantung dapat pula menyebabkan infark miokard atau defek sekat serambi dan bilik jantung. inilah yang menyebabkan kematian. Leher dan wajah membengkak seperti pada edema hebat.4 2. seperti patah tulang rusuk.4 Akumulasi cepat darah di ruang perikardial dapat menyebabkan tamponade jantung dan gangguan hemodinamik berat. patah tulang sternum. dan luka memar parut. Radiografi dada memainkan peran yang relatif kecil dalam evaluasi cedera miokard.

Ventrikel kanan adalah yang paling sering mengalami cedera. atau pembesaran jantung besar. Regurgitasi mitral dari yang terakhir mungkin menyebabkan edema paru asimetris.4 Ruptur septum interventrikuler dan kerusakan aparat katup mitral dapat menyebabkan gagal jantung kongestif. klasik dari lobus kanan atas sebagai akibat dari arah regurgitasi.4 Gambar 2. Tamponade jantung didapatkan oleh temuan CT dimana tampak distensi dari vena kava. pencitraan jantung nuklir.4 33 . sebagaimana didapatkan dari high CT attenuation dari cairan. Kepadatan CT melebihi 35 unit Hounsfield membedakan hemoperikardium dari efusi perikardial transudatif. dan vena ginjal dan dengan perkembangan edema periportal di hati. seperti gagal jantung kongestif. CT juga sangat sensitif untuk mendeteksi cairan perikardial dan mungkin mengindikasikan perdarahan perikardial. karena terdiri hampir tiga kali lebih banyak terkena permukaan anterior dari jantung daripada ventrikel kiri. Diagnosis biasanya dibuat dari elektrokardiografi.adalah metode pilihan yang cepat dan noninvasif mendeteksi cairan perikardial.26 : Hemopericardium. CT scan menunjukkan pengumpulan darah yang menekan jantung kanan. atau ekokardiografi. Radiografi dada dan CT dapat menunjukkan gejala sisa dari kontusio jantung. aneurisma ventrikel. Pneumoperikardium dapat terjadi ketika udara masuk melalui gangguan perikardial yang terjadi pada pneumotoraks. vena hepatik.4 Kontusio jantung dapat diakibatkan oleh trauma tumpul dada 8%-76% dari pasien.

Gambar 2. Pneumotoraks. dan penetrasi langsung oleh fragmen fraktur tulang belakang leher. pneumomediastinum. Pertolongan pertama yang diperlukan adalah pungsi perikard dan penyaliran isi rongga perikard dan membuat jendela perikard. Thoracic esophageal tears disebabkan hampir secara eksklusif oleh luka tembak.3 Tatalaksana Torakotomi eksploratif yang segera dilakukan sering dapat menolong jiwa penderita. opasifikasi parenkim bilateral dan emfisema subkutan bilateral. keduanya dapat menyebabkan tamponade jantung dan mungkin memerlukan drainase perikardial. Esophageal tears paling banyak terjadi di esofagus servikal dan 34 . A: Radiografi dada posisi AP pada pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas yang menunjukkan udara di sekitar jantung (P). B: CT scan menunjukkan pneumopericardium (P).10. Hemoperikardium ditandai oleh adanya udara atau atenuasi tinggi akibat darah dalam kantung perikardial.4 Cedera jantung dicurigai saat yang dicatat EKG abnormal dan ketika hemoperikardium terlihat pada CT scan. and emfisema subkutan. bilateral pneumothoraks.14 2. Gangguan esofagus dapat terjadi mulai dari penghancuran esofagus antara tulang belakang dan trakea. traksi dari hiperekstensi.27 : Pneumoperikardium. Trauma tumpul yang merusak sebagian dinding jantung dapat mengakibatkan gagal jantung permanen. Perikarditis konstriktif dapat terjadi sebagai komplikasi jangka panjang hemoperikardium. efusi pleura.8 2.11 Trauma Esofagus Esophageal tears lebih sering terjadi pada pasien dengan trauma tembus dan terjadi pada kurang dari 1% dari kasus trauma tumpul.

tetapi mereka juga mungkin terjadi tepat di atas persimpangan gastroesofageal. Dengan demikian. bagaimanapun. sebuah saluran di lokasi cedera dapat diidentifikasi pada CT scan. Tanda efusi pleura atau hidropneumotoraks dapat ditemukan pada pemeriksaaan fisik atau foto toraks.4 Temuan CT pada ruptur esofagus adalah pengumpulan udara ekstraluminal pada tempat cedera dan hematoma dari dinding mediastinum atau esofagus. garis paraspinal melebar. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan fluoroskopi menggunakan bahan kontras atau dengan endoskopi.8 35 . CT scan dapat menunjukkan temuan yang sama.12 2.11. Esofagus menyilang kembali ke kiri karena memasuki perut.1 Gambaran Klinis Gejala klinis sangat tergantung pada tempat dan luasnya perforasi. ruptur esofagus bagian tengah sampai ke distal biasanya disertai dengan efusi pleura sisi kanan. Esofagus torakal terletak di kiri dari trakea di cekungan dada tetapi bergerak ke kanan saat melewati posterior lengkung aorta pada tingkat karina.4 2. dan perdarahan dan biasanya tidak divisualisasikan. Perforasi itu sendiri. Kadang-kadang. dan efusi yang disebabkan oleh ruptur di persimpangan gastroesofageal terjadi lebih sering di sebelah kiri. efusi pleura. Gejala utama ialah rasa nyeri. di samping kebocoran kontras oral dari esofagus yang pecah ke mediastinum atau ruang pleura dan perubahan mediastinum.torakal atas.11. Daerah penebalan esofagus terbesar pada CT sering mewakili tingkat perforasi.2 Pemeriksaan Radiologi Radiografi dada pada pasien dengan ruptur esofagus dapat menunjukkan pneumomediastinum persisten berat atau pneumotoraks. dan opasifikasi retrokardiak-paru. demam dan emfisema mediastinum yang kemudian meluas sampai di subkutis. mungkin dikaburkan oleh edema.

perforasi esophagus dan pneumothoraks. atau mengakibatkan perdarahan dari permukaan tulang. CT scan dapat dengan mudah membedakan dinding dada dari cedera parenkim atau mediastinum. yang mungkin tidak dapat dilihat pada radiografi dada.15 2. Selain itu. Pada CT. terutama pada orang tua karena kelemahan kulit dan jaringan subkutan. otot interkostal. cabang-cabang dari arteri toraks lateral yang memasok otot-otot dada dan beranastomosis dengan pembuluh dinding dada dapat terkoyak dan berdarah.4 36 .28: CT scan menunjukkan ekstravasasi kontras ke dalam rongga pleura kiri.Gambar 2. Patah tulang rusuk dapat mencederai arteri atau vena interkostal. sedangkan diferensiasi ini tidak mungkin dapat dilakukan dengan radiografi dada. CT scan menunjukkan fistula bronko-pleura-kulit. hematoma jaringan lunak dinding dada dapat dengan mudah dibedakan dari cedera parenkim. Sejumlah besar darah dapat menumpuk dalam subkutan atau ruang ekstrapleural dada.12 Trauma Jaringan Lunak Dinding Dada Dinding dada memiliki banyak jaringan pembuluh darah berasal dari arteri interkostal dan mammary internal. dan udara subkutan dapat dibedakan dari pneumotoraks.

sekumpulan udara yang terperangkap dalam jaringan lunak dinding dada kanan. CT scan yang menunjukkan hubungan antara jalan nafas dan hematoma dinding dada. B.Gambar 2.4 Trauma pada payudara. yang mengalami kecelakaan lalu lintas yang menunjukkan fraktur iga kanan yang mengakibatkan flail chest. Radiografi dada seorang pria berusia 29 tahun. A.30 : Breast Hematoma.29 : Broncho-pleural-cutaneous fistula. opasifikasi paru kanan akibat cedera parenkim. CT scan dari seorang wanita yang mengalami kecelakaan lalu lintas yang menunjukkan penumpukkan darah pada payudara kanan akibat penggunaan seat belt. yang sering mengakibatkan perdarahan dan pembentukan hematoma. opasifikasi pleura akibat hemotoraks.4 37 . dapat dikarenakan kombinasi stres kompresi dan geser yang dihasilkan oleh sabuk pengaman.4 Gambar 2.

Adapun tujuan pemeriksaan radiologis antara lain adalah mencari adanya fraktur tulang-tulang dinding dada. USG dan MRI. trauma jantung. ruptur diafragma. kemampuan dalam pemanfaatan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologis guna membantu menegakkan diagnosis dan memberikan penanganan yang optimal bagi pasien. Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan pada kasus trauma toraks diantaranya adalah radiografi konvensional. kelainan pada mediastinum. kepala dan ekstrimitas sehingga merupakan cedera majemuk. CT scan. trauma tulang dada. Cedera toraks sering disertai dengan cedera perut. trauma parenkim paru. 3.1 Kesimpulan Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan. 38 . Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami trauma toraks diantaranya adalah trauma aorta dan pembuluh darah besar. terutama dokter layanan primer yang akan menjadi lini pertama pelayanan kesehatan. pneumotoraks.2 Saran Sebaiknya sebagai tenaga kesehatan. adanya benda asing (luka tembak). memiliki pengetahuan. trauma trakeobronkial.BAB III PENUTUP 3. trauma esophagus dan trauma jaringan lunak dinding dada. hematotoraks.

Mancini.medscape.R dan Wim De Jong. h406-13 3. Trauma. Khan. Dinding Toraks dan Pleura. Stern. Diakses tanggal 12 Oktober 2011 10.2003. Price. Blunt Chest Trauma. Lippincott Williams & Wilkins. h48-146 4.com/ article/357007-overview. Pustaka Cendekia Press.h 90-9 2. In Chest Radiology.medscape. Fred.Available at http://www. health. Mary C et all. Washington.Jakarta.imagingpathways.gov. h130-31 7.au/includes/dipmenu/chest_trau/refs.A. Jannette and Eric J. Dalam Patofisiologi. Diakses tanggal 09 Oktober 2011 9. Ghazali. Thorax. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Diakses tanggal 12 Oktober 2011 6.2005 11. Dalam Radiologi Diagnotik. Available at http://emedicine. Gangguan Sistem Pernafasan.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Sjahriar. hal 800-1 39 .html. In Essential of Radiology. 2002. Dalam Anatomi Klinik. Sjamsuhidajat. Rasad. Chest Trauma. Rusdi. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.Pneumothoraks.Jakarta.2003. Collins.Edisi Kedua. Thoracic Trauma Imaging.Edisi 6. 2008 5. Jakarta.R dan Wim De Jong. html.R dan Wim De Jong.2005. Jakarta.2008. Diakses tanggal 12 Oktober 2011 8.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Mettler. Kasus Cito. Chest Trauma. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Esofagus dan Diafragma. Dalam Radiologi Diagnostik. Richard S. Snell. 2nd Edition. Available at http://emedicine.wa. www. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Philladelphia. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.trauma.1995. Jakarta.com/article/428723-overview. Yogyakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2nd Edition. Sylvia Anderson dkk.Thoracic Trauma Imaging.Penerbit Buku Kedokteran EGC.2003.org/archive/thoracic/ CHESTtension.Saunders. Trauma dan Bencana.h 119-20 13. h513-8 12. Sjamsuhidajat. Nawas Ali.DAFTAR PUSTAKA 1. Sjamsuhidajat.

Jennifer Francesca et all.html.ispub. Pembuluh Darah dan Limf. In Greenwich Medical Media. In The Internet Journal of Thoracic and Cardiovascular Surgery. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sjamsuhidajat.h447-8 15. 2004. Available at http://www. London. Chest Trauma. Ultrasound for Bony Trauma.com/journal/the internet_Journal_of_Thoracic_and_Cardiovascular_Surgery/volume_13_n umber_1_2/article/spontaneous_Esophageal_Perforation_Presenting_as_ Pneumothorax /a_case_report.2003.14. Diakses tanggal 12 Oktober 2011 16. Sciuchetti. In Ultrasound in Emergency Care. Hopkins. Blackwell Publishing.Greenwich Medical Media.2003. Spontaneous Esophageal Perforation Presenting as Pneumothorax. UK. Brooks.R dan Wim De Jong. Adam et all. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Richard et all.p 126-36 40 . p96-100 17. Jantung.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->