Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PEMBENIHAN IKAN 2011

Posted on June 29, 2011 by tomyperikanan 1. I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan. Pembenihan ini merupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan yang akan dibudidayakan harus dapat tumbuh dan berkembang biak agar kontinuitas produksi budidaya dapat berkelanjutan. Untuk dapat menghasilkan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat mesti diimbangi dengan pengoptimalan penanganan induk dan larva yang dihasilkan melalui pembenihan yang baik dan berkualitas. Pembenihan dengan ikut campur tangan manusia atau fertilisasi buatan sudah dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan, khususnya bagi ikan yang penjualannya tinggi di pasaran diantaranya komoditas ikan air tawar seperti lele, nila, gurami dan lain-lain. Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan ( Suyanto, 1991). Sehingga pemijahan ikan ini terkendala akan musim, untuk itu pemenuhan akan bibit ikan lele yang bermutu dan sesuai dengan waktu akan sulit terpenuhi. Salah satu cara mengatasi masalah di atas dapat dengan pemijahan buatan pada ikan lele. Pemijahan buatan dapat dengan pemberian hormon. Pemberian hormon ini akan membantu fertilisasi ikan tanpa perlu terkendala musim sehingga dapat dipijahkan kapanpun sesuai keinginan. Oleh karena itu praktikum tekhnologi pembenihan ikan ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan mahasiswa dalam mengetahui teknik-teknik dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembenihan ikan. mulai dari seksualitas primer dan sekunder ikan, teknik pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary, teknik fertilisasi buatan hingga pada penanganan dan perkembangan telur. 1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dalam praktikum kali ini antara lain: 1. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan antara ikan jantan dan betina melalui pengamatan pada seks primer dan sekunder ikan. 2. Mahasiswa diharapkan mampu menyediakan hormon GnRH dari ekstrak kelenjar pituitary.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Untuk dapat mengenali induk ikan yang siap memijah Untuk dapat mengetahui cara penyuntikan ikan Untuk dapat mengetahui teknik stripping Untuk dapat mengetahui teknik pencampuran teliur dan sperma Untuk dapat mengetahui teknik inkubasi telur Untuk mampu membedakan antara bentuk telur yang terbuahi dan tidak terbuahi Mengetahui perkembangan telur sejak fertilisasi hingga penetasan telur

1.3 Manfaat Praktikum Manfaat dari praktikum ini yakni dapat menambah wawasan mahasiswa secara langsung mengenai teknik pembenihan ikan dan keterampilan melakukannya sehingga nantinya dapat diaplikasikan secara langsung dalam prakteknya ke depan.

1. 2. II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Identifikasi dan Taksonomi Ikan 2.1.1 Identifikasi dan taksonomi ikan komet Kingdom Phylum Class Ordo Famili : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Chpriniformes : Chyprinidae

Genus Spesies

: Carassius : Carassius auratus (Goernaso, 2005).

Bentuk tubuh ikan mas komet memanjang dan memipih, tegak (compressed) dengan mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Bagian ujung mulut ini memiliki dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang tersusun dari tiga baris. Sisik ikan mas komet berukuran relatif kecil dan bergerigi dimana seluruh bagian siripnya berbentuk rumbai-rumbai atau panjang. Gurat sisi (linnea lateralaris) pada ikan komet tergolong lengkap, berada dipertengahan tubuh dengan posisi melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Ciri dari ikan jantan adalah sirip dada relatif panjang dengan jari-jari luar tebal, lapisan sirip dada kasar, kepala tidak melebar dan tubuh lebih tipis, langsing atau ramping dibandingkan betina pada umur yang sama. Sedangkan ciri ikan betina yakni sirip dada relatif pendek, lunak, lemah dengan jari-jari luar tipis, lapisan dalam sirip dada licin, kepala relatif kecil, bentuknya agak meruncing dan tubuh lebih tebal atau gemuk dibandingkan jantan pada umur yang sama (Anonim, 2011).

2.1.1 Identifikasi dan taksonomi ikan nila Kingdom Phylum Class Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Chordata :Osteichtyes :Perciformes :Cichlidae :Oreochromis : Oreochromis niloticus

Tubuh ikan ini berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin tidak jelas pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan ketika musim berbiak. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, baru dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, disamping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh (Anonim,2011).

2.1.3 Identifikasi dan taksonomi ikan bawal

Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies

: Chordata : Craniata : Pisces : Neoptergii :Cypriniformes : Cyprinoidae : Characidae : Colossoma : Colossoma macropomum ( Guzfir, 2009).

Warna tubuh ikan bawal abu-abu tua. Dengan bentuk tubuh tegak dan membulat, sisik berbentuk cycloid berwarna perak dan pada kedua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam. Tubuh bagian ventral dan sekitar sirip dada ikan bawal muda berwarna merah, ikan bawal memiliki bibir bawah yang menonjol dan memiliki gigi-gigi besar dan tajam. Ikan bawal yang tumbuh normal dapat memijah setelah umur 4 tahun dengan berat badan mencapai 4 kg. Induk ikan jantan dan betina dapat diseleksi berdasarkan perbedaan kelamin sekunder. Pada umumnya, induk ikan betina memiliki postur tubuh melebar dan pendek, operculum halus dan warna kulit lebih gelap. Perut dan bibir urogenitalnya berwarna merah atau kemerah-merahan. Perut lembek dan lubang kelamin agak membuka. Sedangkan postur ikan jantan relatife lebih langsing, panjang dan operculumnya agak kasar (Abbas, 2001).

2.1.4 Identifikasi dan taksonomi ikan lele Kingdom Phyllum Sub-phyllum Kelas Ordo Familia : Animalia : Chordata : Vertebrata : Pisces : Ostariophysi : Clariidae

Genus Species

: Clarias : Clarias batrachus (Suyanto 2007).

Tubuhnya berbentuk silinder, dengan kepala pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed), Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh pelat tulang. Pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Disinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Mulut berada diujung moncong (terminal), dengan dihiasi 4 pasang sungut. Lubang hidung yang di depan merupakan tabung pendek yang berada di belakang bibir atas, lubang hidung sebelah belakang merupakan celah bundar yang berada di belakang sungut nasal. Mata kecil dengan tepi orbital yang bebas. Sirip ekor membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip perut berbentuk membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada dilengkapi sepasang duri tajam / patil yang memiliki panjang maksimum mencapai 400 mm. Ciri-ciri induk betina ikan lele adalah genital papila berbentuk bundar (oval), bagian perut relatif lebih besar, gerakan lambat, jika di raba bagian perut terasa lembek dan alat kelamin berwarna kemerah merahan. Sedangkan induk jantan dicirikan dengan genitalnya meruncing ke arah ekor, perut ramping dan pada ujung alat kelamin berwarna kemerahan selain itu ada perubahan warna tubuh menjadi coklat kemerahan (Suyanto, 1991).

2.2 Teknik Pembenihan Ikan 2.2.1 Pembenihan ikan lele Pembenihan ikan lele terbagi dalam 2 cara, yaitu : pertama secara alami, pemijahan secara alami adalah pemijahan yang dilakukan di alam terbuka sesuai dengan sifat hidupnya tanpa perlakuan dan bantuan manusia. Secara Disuntik Dengan Kelenjar Hipofisa Penyuntikan dengan kelenjar hipofisa adalah pemijahan yang dilakukan dengan bantuan atau penanganan manusia melalui pemberian kelenjar hormon hipofisa pada recipient (penerima) yang berguna untuk melancarkan proses kematangan gonad, sehingga mempercepat proses jalannya pemijahan ikan tersebut (Anonim, 2011).

2.2.2 Fertilisasi alami dan buatan ikan lele Pemijahan ikan lele secara alami dapat dilakukan dengan memijahkan induk jantan dan betina tanpa perlakuan khusus. Induk ikan lele memijah berdasarkan kondisi alam dan ikan itu sendiri. Kelemahan pemijahan secara alami adalah pemijahan induk belum dapat diperkirakan waktunya sehingga ketersediaan telur juga belum dapat diperkirakan. Pada ikan lele yang akan dilakukan pemijahan secara buatan maka pengambilan sperma dilakukan dengan pembedahan perut induk jantan. Selanjutnya sperma diambil dan dibersihkan dari darah dengan menggunakan tissue. Kelenjar sperma dipotong-potong dengan menggunakan gunting kemudian ditekan secara halus untuk mengeluarkan sel sperma dari kelenjar sperma tersebut, lalu

diencerkan di dalam larutan sodium clorida 0.9 % dalam mangkuk plastik yang bersih. Pengurutan induk betina dilakukan dengan hati-hati agar induk tersebut tidak terluka. Telur induk betina tersebut ditampung dalam baki dan pada waktu yang bersamaan sperma yang telah disiapkan sebelumnya dicampur dengan telur. Telur dan sperma diaduk menggunakan bulu ayam. Setelah telur dan sperma tercampur merata, lalu ditambah air sampai semua telur terendam dan biarkan beberapa menit agar semua telur terbuahi oleh sperma. Air rendaman yang berwarna putih selanjutnya di buang (Gusrina, 2008).

2.2.3 Perkembangan dan penanganan telur ikan lele Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis.

1. Stadia Cleavage Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit yang lebih kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan rangkaian mitosis yang berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer. 1. Stadia morula Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil. Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel. Pada saat ini ukuran sel mulai beragam. 1. Stadia blastula Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal, meso-dermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ. Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel datar membentuk blastocoels dan blastodisk berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur. 1. Stadia gastrula Gastrulasi adalah proses perkembangan embrio, dimana sel bakal organ yang telah terbentuk pada stadia blastula mengalami perkembangan lebih lanjut. 1. Stadia organogenesis

Organogenesis merupakan stadia terakhir dari proses perkembangan embrio. Stadia ini merupakan proses pembentukan organ-organ tubuh makhluk hidup yang sedang berkembang. Dalam proses organogenesis terbentuk berturut-turut bakal organ yaitu syaraf notochorda, mata, somit, rongga kuffer, kantong alfaktori, rongga ginjal, usus, tulang subnotochord linea lateralis, jantung, aorta, insang infundibullum dan lipatan-lipatan sirip. Sistem organ-organ tubuh ( Zairin.M.J., 2002 ).

Menurut Tucker, C.S and Hargreaves, J.A. 2004 untuk penanganannya telur ikan lele biasanya telurnya dilekatkan pada substrat. Telur yang telah menempel pada kakaban dapat ditetaskan dalam wadah budidaya disesuaikan dengan sistem budidaya yang akan diaplikasikan. Selama penetasan telur, air dialirkan terus menerus. Seluruh telur yang akan ditetaskan harus terendam air, kakaban yang penuh dengan telur diletakan terbalik sehingga telur menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam air seluruhnya. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang aerasi. Telur akan menetas tergantung dari suhu air wadah penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama.

1. III.

METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Kegiatan praktikum ini dilakukan pada tanggal 28 hingga 30 Mei 2011 di Lingsar-Lombok Barat dan dilanjutkan dengan pengamatan telur pada tanggal 30 Mei 2011 di lab Budidaya Perairan Universitas Mataram. 3.2 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Metode Deskriftif yaitu metode yang memberi gambaran secara lengkap, sistematis dan factual mengenai data atau kegiatan yang tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data semata, tetapi juga melipuknik ti analisa

dan pembahasan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan informasi lengkap tentang Teknik Pembenihan Ikan yang meliputi : seksualitas primer dan sekunder pada ikan nila, komet, dan bawal ; pemijahan buatan terhadap ikan lele ; dan perkembangan telur ikan lele. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1). Observasi lapangan; 2). Partisipasi langsung; 3). Wawancara; dan 4). Studi literatur. Data yang dikumpulkan berupa data primer yaitu berupa data yang diambil dari sumbernya secara langsung, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya dan data sekunder yaitu informasi yang telah dikumpulkan dari pihak lain seperti dosen, asisten dosen dan masyarakat yang terkait pada bidang perikanan,khususnya bidang pembenihan ikan.

3.4 Prosedur Pengamatan 3.4.1 Seksualitas Primer dan Sekunder Ikan 3.4.1.1 Pengamatan Seks Sekunder Ikan Komet, Nila dan Bawal masing-masing satu pasang dimasukkan ke dalam akuarium. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap warna, bentuk tubuh, bentuk sirip dan morfologi lainnya dari ketiga ikan tersebut. Dicatat hasilnya dalam table pengamatan. 3.4.1.2 Pengamatan seksualitas primer Ikan Komet, Nila dan Bawal masing-masing diangkat kemudian diamati alat kelamin luarnya. Diamati perbedaan bentuk alat kelamin, jumlah saluran pengeluaran, dan warna alat kelamin. Setelah itu dilakukan pembedahan pada pada ikan tersebut kemudian diamati bentuk gonad, dan bagian isi/dalam gonad. Pengamatan isi gonad dengan menggunakan mikroskop. Dicatat hasilnya dalam table pengamatan.

3.4.2

Pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang di butuhkan. Kemudian ditentukan dosis atau berat ikan donor yang akan digunakan (berdasarkan berat induk yang akan disuntik). Dipotong kepala ikan donor sampai putus pada tepi operculum. Kepala ikan yang telah dipotong diletakan dengan posisi mulut menghadap ke atas, lalu sayat mulai dari dekat lubang hidung ke bawah. Dibuka tengkorak ikan agar otaknya dapat terlihat dengan jelas. Lemak, darah, dan jaringan-jaringan yang biasanya menutupi otak dibersihkan dengan tissue, lalu diangkat otak tersebut. Biasanya kelenjar hipofisa tertinngal pada sella tursica berbentuk bulat kecil berwarna putih. Di ambil

kelenjar hipofisa tersebut dengan hati-hati dengan menggunakan pinset, kemudian dihancurkan dalam penggerus jaring dengan cara memutarkan batang alurnya sambil diletakkan dam sambil di beri aquades sekitar 0,2 ml. Setelah benar-benar hancur, ditambahkan NaCl 0.9 % sebanyak 0.2 ml sehingga menjadi 1-1,5 ml atau tergantung kebutuhan (tidak boleh lebih dari 5 ml). Dengan menggunakan spuit berjarum besar, dipindahkan suspensi ke tabung sentrifuse, lalu di sentrifuse hingga jaringan-jaringan kasar mengendap. Sebagai hasilnya diperoleh suspense yang agak jernih. Suspense tersebut di ambil dengan menggunakan jarum spuit untuk dipindahkan ke dalam tabung reaksi yang beresih. Pastikan ampas kelenjar hipofisa tidak ikut terambil. Kemudian ekstrak kelenjar hipofisa siap disuntikan. 3.4.3 Fertilisasi Buatan

Induk ikan yang siap disuntik diambil dan diamati bentuk dan warna alat kelaminya. Bagian genitalnya ditekan dengan halus sampai ada cairan yang keluar. Larutan hormon buatan yang berasal dari ekstrak kelenjar pituytari (1 resipien : 3 donor). Suntikan hormon tersebut pada bagian punggung sebelah kanan . Penyuntikan I dilakukan dengan dosis 0.1 ml atau 70 %, dengan kemiringan 450 mengarah ke kepala. Enam jam kemudian dilakukan penyuntikan kedua. Bagian yamg disuntik adalah bagian punggung sebelah kiri. Mengembalikan induk ke kolam pemijahan, dan membiarkan induk memijah sendiri. Setelah 6-10 jam dari penyuntikan biasanya akan terjadi pemijahan. 3.4.4 Perkembangan Telur

Pertama diambil telur yang telah terbuahi dalam akuarium. Setelah itu dilakukan pengamatan pada telur dengan menggunakan mikroskop. Dilakukan pengamatan setiap 10 menit pada 2 jam pertama setelah fertilisasi. Dilakukan pengamatan setiap 30 menit mulai pada jam ke-2 sampai pada jam ke-7. Dilakukan pengamatan setiap 60 menit mulai jam ke-7 hingga penetasan. Kemudian digambar setiap fase perkembangan embrio (sebaiknya menggunakan kamera) dan dicatat waktu pengamatan.

3.5 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 3.5.1 Alat praktikum Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini antara lain adalah akuarium, alat bedah, mikroskop, lup, penggerus, tabung reaksi, timbangan duduk, pipet tetes, talenan, pendingin/coolbox, selang kateter, petri dish, lap halus, mangkok porselain atau kaca, bulu ayam, aerator, gelas objek, stopwatc/jam, termometer dan heater, kakaban ijuk. 3.5.2 Bahan praktikum

Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum antara lain yaitu induk ikan lele satu pasang, ikan komet satu pasang, ikan nila satu pasang, ikan bawal satu pasang, ikan donor (nila) 3 kg, aquadest, tissue, larutan pencuci telur, NaCl 0.9% dan telur ikan yang terbuahi.

1. IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Seksualitas Primer dan Sekunder Ikan

Tabel 1. hasil pengamatan seksualitas primer dan sekunder pada ikan Parameter Ikan Komet A B Ikan Nila A B A Ikan Bawal B

Seksualitas Sekunder Warna/pola warna Warna Warna Abu cerah, Abu gelap, sirip putih sirip merah warna mulut mulut bawah bawah kuning kuning kemerahan keputihan Bentuk ramping Badan P: 157 cm P: 155 cm badan/proporsi kembung badan L: 63 cm L: 60 cm Bentuk sirip Perut Seksualitas Primer

Cerah, Abu gelap bagian bawah tubuh putih abu P: 167 cm P: 166 cm

Abu cerah,

P: 145 cm L: 55 cm -

L: 60 cm L: 53 cm Lembek Keras/kaku

Warna alat kelamin Merah Merah kecoklat-an kecoklat-an Saluran kelamin Gambar gonad Kesimpulan 1 Jantan 2 Betina Betina

Putih,bulat merah, kecil menonjol lonjong 2 2 Betina Jantan Betina

Seksual primer dan seksual sekunder pada ikan akan menunjukan jenis kelamin dari ikan tersebut. Pengetahuan ini sangat penting dalam budidaya khususnya pada saat akan melakukan pembenihan ikan tersebut. Seksualitas primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis beserta pembuluhnya untuk ikan jantan. Pada hasil pengamatan di atas dapat dilihat pada ikan komet jantan (A) warna alat kelaminnya merah kecoklatan dengan saluran kelamin sebanyak 1 buah. Komet (B) warna alat kelaminnya merah kecoklatan dengan saluran kelamin sebanyak 2 buah namun belum diketahui jenis kelaminnya. Yang menjadi patokan saat akan menentukan jenis kelamin ini dengan melakukan pembedahan dan dilihat gonadnya. Pada ikan komet A mempunyai testis saat dilihat dimikroskop namun pada ikan komet B tidak dapat ditentukan karena tidak jelas dimikroskop dan sisa gonadnya terbuang. Pada ikan nila pun demikian seksualitas primernya tidak dapat dilihat secara langsung dari genitalnya namun dengan jalan pembedahan ikan tersebut. Baik pada ikan A maupun B memiliki telur dalam perutnya. Sedangkan pada ikan bawal (A) warna genitalnya putih dan bulat kecil dengan saluran kelamin sebanyak 2 buah dan setelah dibelah memiliki telur hal ini menunjukkan ikan ini betina, pada ikan (B) warna dari genitalnya merah, menonjol lonjong dengan saluran kelamin 2 buah, setelah dibedah memiliki testis sehingga ikan ini berjenis kelamin jantan. Sedangkan ikan terakhir (C) setelah dibedah dia memiliki telur hal ini menunjukan ikan ini betina. Seksuallitas sekunder ini menyangkut tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Pada ikan komet A warna siripnya putih dengan tubuh ramping yang menunjukan ikan tersebut jantan sedangkan pada ikan komet B dengan warna sirip merah dan badan kembung namun masih belum dapat ditentukan jenis kelaminnya. Pada ikan nila A dan B memiliki jenis kelamin yang sama yakni betina namun dari segi seksualitas sekunder yang membedakannya yakni warna tubuh abu cerah, warna mulut bawah kuning keputihan pada ikan A dan pada ikan B warna tubuh abu gelap, mulut bawah kuning kemerahan. Sedangkan pada ikan bawal A warna tubuh cerah dengan bagian bawah tubuh putih abu dan perut lembek men. unjukan ikan tersebut betina, pada ikan bawal B warna tubuh abu gelap dengan perut kaku menunjukan ikan tersebut jantan. Sedangkan pada ikan bawal C berwarna abu cerah menunjukan ikan tersebut betina.

4.2

Pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Tabel 2. Data hasil pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Uraian Berat induk Berat total ikan donor Volume total ekstrak kelenjar

Jumlah 1 kg 3 kg 0.5 ml

Kelenjar hipofisa (pituitary) banyak sekali mengandung hormon terutama hormon yang berhubungan dengan perkembangan dan pematangan gonad. Hormon tersebut diantaranya adalah Gonadotropin yaitu GTH I dan GTH II, sehingga ekstrak kelenjar hipofisa sering digunakan gonad. Le tak kelenjar hipofisa ini terdapat pada bagian otak sebelah depan. Untuk kebutuhan ikan yang memiliki bobot 1 kg diperlukan 3 kg ikan donor, dengan kata lain perbandingannya 1:3.Setelah mendapatkan kelenjar tersebut kemudian digerus dengan alat gerus dalam tabung reaksi dan ditambahkan NaCl sebanyak 0,2 ml. Tujuan pemberian NaCl agar terlepasnya ampas dari larutan karena ampas ini akan dapat menyumbat saat akan dilakukan penyuntikan dan agar larutan tersebut lebih encer sehingga mudah untuk disuntikan ke ikan indukan. Pada kelompok empat hasil ekstrak kelenjar pituitarynya tidak digunakan karena terlalu sedikit sehingga digantikan dengan hormon ovaprim sebanyak 0,15 ml.

4.3

Fertilisasi buatan

Tabel 3. Hasil pengamatan fertilisasi buatan Parameter Ikan Lele Berat induk jantan/betina 300 gram Kesiapan induk untuk disuntik Ada telur yang keluar Gambar telur yang diambil dan bagiannya Jenis dan volume serta waktu penggunaan Hormon ovaprim sebanyak 0.15 ml ( 0.3 x 0.5 ) hormon Penyuntikan I sebanyak 0.1 ml jam 12.30 Penyuntikan II sebanyak 0.05 ml jam 18.30 Jam 03.20

Waktu fertilisasi

Fertilisasi buatan atau pembuahan secara buatan dilakukan dengan bantuan manusia, dengan cara mempertemukan sel telur dengan sel sperma pada suatu tempat tertentu dan dengan alat tertentu. Proses melakukan pembuahan buatan ini diperlukan sikap kehati-hatian agar induk tidak terluka atau proses penempelan sperma pada sel telur merata. Meratanya sperma menempel pada telur akan menambah jumlah pembuahan sperma pada sel telur. Proses pembuahan buatan ini membutuhkan waktu tertentu, maksudnya jika terlalu lama maka sperma atau sel telur bisa mati

atau terganggu. Jika demikian keadaannya proses pembuahan tidak akan berhasil dengan baik. Pada praktikum kali ini sebelum dilakukannya fertilisasi buatan diawali dengan pengecekan kesiapan induk untuk penyuntikan dengan cara melakukan striping terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena induk yang berhasil untuk dipijahkan yakni induk yang telah telah melewati fase pembentukan kuning telur (fase vitellogenesis) dan masuk ke fase dorman dimana dilihat dari adanya telur yang keluar jika diurut perutnya (ovulasi). Setelah mengetahui induk betina itu siap maka indukkan tersebut disuntik dengan hormon ovaprim sebanyak 0,15 ml. Ovaprim adalah campuran analog salmon GnRH dan Anti dopamine dinyatakan disini bahwa setiap 1 ml ovaprim mengandung 20 ug GnRH-a(D-Arg6-Trp7, Lcu8, Pro9-NET) LHRH dan 10 mg anti dopamine. Ovaprim juga berperan dalam memacu terjadinya ovulasi. Pada proses pematangan gonad GnRH analog yang terkandung didalamnya berperan merangsang hipofisa untuk melepaskan gonadotropin. Sedangkan sekresi gonadotropin akan dihambat oleh dopamine. Bila dopamine dihalangi dengan antagonisnya maka peran dopamine akan terhenti, sehingga sekresi gonadotropin akan meningkat (Gusrina, 2008). Penyuntikannya dilakukan dengan bertahap dan dengan beberapa kali dosis. Untuk penyuntikan pertama dengan dosis 70 % sebanyak 0,1 ml pada punggung sebelah kanan. Enam jam kemudian disuntik kembali dengan dosis 0,05 ml yakni 30% namun pada punggung sebelah kiri agar menghindari ikan tersebut merasa sakit jika disuntik ditempat yang sama. Delapan jam kemudian induk betina distriping dan telurnya dikumpulkan dalam ember. Ikan lele jantan dibedah dan gonadnya diambil kemudian spermanya dicampurkan dengan sel telur. Setelah dicampur merata kemudian ditebarkan dalam akuarium yang berisi kakaban dan diberi aerasi. Pengamatan telur kemudian dilakuakan setelah satu jam dari fertilisasi tersebut. 4.4 Perkembangan Telur

Tabel 4. hasil pengamatan perkembangan telur Waktu Pengamatan Jam 04.10 Jam 04.30 Jam 05.10 Jam 05.40 Jam 06.10 Jam 06.40 Jam 07.10 Jam 07.40 Jam 08.10 Jam 08.40 Jam 09.10 Jam 10.10 Jam 11.10 Jam 13.15 Jam 14.00 Stadia Perkembangan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase persiapan pembelahan Fase gastrula Fase gastrula Fase gastrula Fase blastula Fase gastrula Keterangan atau Gambar

Jam 15.00 Jam 16.00 Jam 17.00 Jam 18.00 Jam 19.00 Jam 20.00 Jam 21.00 Jam 00.00 Jam 01.00 Jam 02.00 Jam 03.00

Fase gastrula Fase gastrula Fase gastrula Fase gastrula Fase gastrula Fase gastrula Fase embriogenesis Fase embriogenesis Fase embriogenesis Fase embriogenesis menetas

Setelah induk ikan melakukan pemijahan maka sel telur dan sel sperma akan bertemu dan mengalami proses pembuahan (fertilisasi) yang akan membentuk zygot. Oleh karena itu pembuahan ini merupakan proses peleburan antara sel telur dan sel sperma untuk membentuk zygot. Setelah membentuk zygot maka setiap individu akan mengalami proses embriogenesis sebelum menetas nantinya. Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis atau embryogenesis. Pada hasil pengamatan di atas fase persiapan pembelahan berlangsung selama 5 jam kemudian diikuti oleh fase gastrula selama 11 jam namun pada jam ke 4 didapatkan fase blastula hal ini dikarenakan fertilisasi tidak berlangsung secara merata sehingga adanya perbedaan fase pada seluruh telur tersebut. Setelah fase gastrula diikuti dengan fase embriogenesis dan setelah 23 jam telur tersebut menetas. Namun hasil data ini masih belum solid dikarenakan alat untuk mengamati yang masih belum dapat mendukung secara optimal pengamatan ini dan sulitnya memastikan perubahan keadaan telur tiap fase yang berbeda.

1. V.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengamatan dan pembahasan di atas sebagai berikut: 1. Ciri-ciri seksualitas primer dan sekunder dapat digunakan untuk mentukan perbedaan antara ikan jantan dan betina. 2. Dalam pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary menggunakan 1 kg ikan resipien dengan 3 kg ikan donor yang digerus dan ditambahkan NaCl 0,9%. 3. Fertilisasi buatan dengan penyuntikan hormon ovaprim dilakukan secara bertahap dengan dosis yang berbeda.

4. Setelah terbentuknya zigot akan berlangsung proses perkembangan telur yang dimulai dari fase (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis atau embriogenesis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Ikan Komet (goldfish). http://www.aqufish.net/show.php?h=goldfish1. Diakses tanggal 5 Juni 2011.

________, 2011. Ikan Nila. http: Wikipedia.org/ikan nila.org. diakses tanggal 5 juni 2011.

Anonim, 2009. Pembenihan Ikan Lele Dumbo. http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/teknik-pemijahan-lele dumbo-sistem-inducedbreeding-kawin-suntik/. Diakses tanggal 5 Juni 2011.

Goernaso, 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka. Jakarta.

Gusrina, 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Pusat Perbukuan DepartemenPendidikan Nasional. Jakarta.

Guzfir, 2009. Klasifikasi Ikan Bawal. http://guzfir.blogspot.com. Diakses tanggal 5 Juni 2011

Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tucker, C.S and Hargreaves, J.A., 2004. Biology and Culture of Channel Catfish. Elsevier. B.V. Amsterdam.

Zairin.M.J. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan dan Betina. Penebar Swadaya. Jakarta. . 105 hal.

ahsanur.rizqi
Kamis, 06 Januari 2011
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

TINGKAT KEMATANGAN GONAD dan SEKSUALITAS IKAN


Ikan Tambakan (Helostoma temmincki)

Oleh : Ahsanur rizqi 0904121623

LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan praktikum biologi perikanan yang berjudul

Kematangan Gonad dan Seksualitas Ikan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini disusun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan secara langsung terhadap 20 ekor spesies ikan Tambakan (Helostoma temmincki). Ke-20 ekor ikan ikan tersebut diamati secara seksama untuk mendapatkan hasil seobjektif mungkin. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para assisten praktikum biologi perikanan yang telah memberikan arahan ketika melakukan praktikum tersebut. Tidak ada gading yang tak retak oleh karena itu penulis menyadari bahwa laporan praktikum ini masih dan jauh dari yang kesempurnaan. membangun Untuk itu penulis demi

mengharapkan

saran

kritik

dari

pembaca

kesempurnaan dalam penulisan untuk masa akan datang. Semoga laporan ini bermanfaat dan berguna.

Pekanbaru, 14 Oktober 2010

Ahsanur rizqi

DAFTAR ISI

Isi KATA PENGANTAR............................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................. DAFTAR GAMBAR............................................................................... DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... I. PENDAHULUAN...........................................................................

Halaman 2 3 4 5 7 7 9 10 13 13 13 13 14

1.1 Latar belakang............................................................................. 1.2 Tujuan dan manfaat..................................................................... II. III. TINJAUAN PUSTAKA................................................................. BAHAN DAN METODE...............................................................

3.1 Waktu dan tempat....................................................................... 3.2 Bahan dan alat............................................................................. 3.3 Metode praktikum....................................................................... 3.4 Prosedur praktikum......................................................................

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................

15 15 18

4.1 Hasil............................................................................................. 4.2 Pembahasan.................................................................................

V.

KESIMPULAN DAN SARAN......................................................

23 23 24

5.1 .Kesimpulan................................................................................. 5.2 Saran...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara bahari dan tepatnya dikatakan negara

kepulauan. Indonesia ditutupi dua pertiga oleh air, wilayah tanah air Indonesia memiliki potensi sumberdaya hayati perikanan yang besar dan belum seluruhnya dapat dikelola Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang Perikanan. Luas wilayah Indonesia sebesar 7,9 juta km2 atau sekitar 81 % dari wilayah seluruh Indonesia. Sedangkan luas perairan Indonesia saat ini lebih kurang 14 juta Ha, yang terdiri dari sungai dan rawa sebesar 11,9 juta Ha, 1,78 juta Ha danau alam dan 0,93 juta Ha danau buatan. Hal ini merupakan potensi yang sangat bagus untuk pengembangan usaha perikanan (Nyabakken, 1992). Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk

menguji

hasil

ginogenesis

dan

androgenesis(Anonymous.2006) Ikan merupakan makanan manusia yang paling utama sejak awal dari abad sejarah manusia. Daging ikan banyak mengandung protein dan lemak, seperti juga daging-daging hewan ternak. Daging ikan nudah dicerna dibandingkan tumbuhtumbuhan. Kadar protein dalam ikan dapat mencapai 13-20 %, sedangkan 60-80 % berupa air dan selebihnya lemak. Daging ikan banyak mengandung vitamin-vitamin terutama hatinya. Vitamin tersebut didapat dari plankton secara langsung ataupun tidak langsung, yang menjadi makanan ikan. Mengingat bahwa tiga perempat bagian dari permukaan bumi tertutup dengan lautan dan banyak perairan tawar yang dihuni oleh bermacam-macam ikan (Djuhanda, 1981). Ikan terdiri dari banyak sekali spesies di dunia yang memiliki kekhasan tersendiri dan yang telah berhasil diidentifikasi para ahli ikhtiologi di dunia ini ada sekitar 20.000 40.000 spesies. Bahkan ratusan spesies diantaranya telah memiliki varietas atau strain yang mencapai ratusan varietas. Studi mengenai jenis kelamin dari suatu spesies yang memiliki banyak strain merupakan suatu hal yang sangat menarik dan penting untuk dilakukan terutama bagi orang-orang yang menekuni bidang budidaya perikanan dan melakukan penelitian di bidang Biologi Perikanan. Hal ini karena setiap individu dari setiap spesies ikan memiliki ciri ciri khusus sebagai penentu apakah indi-vidu ikan itu berjenis kelamin jantan atau betina. Penampakan ciri ciri seksual ini pada beberapa spesies ikan baru nyata terlihat apabila individu ikan mengalami kematangan gonad (kelamin), akan tetapi pada beberapa spesies ikan lainnya ciri ciri seksual itu dapat terlihat dengan jelas walaupun individu ikan tersebut belum

matang gonad ataupun sudah selesai memijah karena dapat terlihat pada ciri ciri morfologi pada permukaan tubuhnya. Oleh karena itu sangat diperlukan

pengetahuan tentang tingkat kematangan gonad dari setiap individu ikan sehingga membantu mereka yang berkecimpung di bidang budidaya perikanan dan biologi perikanan untuk menghitung jumlah ikan dewasa yang siap bereproduksi dan memijah, kapan mereka akan memijah dan bertelur serta kapan dan berapa telur yang akan dibuahi dan menetas serta perbandingan antara ikan yang belum matang gonad dengan yang sudah matang, ikan yang belum dewasa dengan yang sudah dewasa dan ikan yang belum bereproduksi dengan yang sudah (Pulungan, 2006). Mahasiswa perikanan harus dapat mengenali tingkat kematangan gonad setiap jenis ikan yang populer di masyarakat sehingga dapat membantu jika ingin membudidayakannya. Karena itulah praktikum tentang tingkat kematangan gonad sangat diperlukan untuk memberikan latihan kepada mahasiswa.

1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan praktikum ini adalah untuk mengenal ikan yang dewasa, siap bereproduksi dan memijah serta tingkat kematangan gonad dan untuk mengenal secara jelas jenis kelamin ikan yang diamati, baik diamati dengan ciri seksual primer maupun cirri seksual sekunder. Sehingga pada praktikum ini para praktikan mampu untuk mengenali setiap jenis kelamin ikan baik itu jantan, betina ataupun hermaprodit. Manfaat dari praktikum yang diperoleh adalah untuk mengetahui bagaimana dan apa saja organ-organ yang digunakan dalam sistem reproduksi seperti testes,

ovari,mengetahui apakah ikan tersebut berkelamin jantan atau betina . Dan dapat memberikan informasi terhadap ilmu pengetahuan yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA Kottelat et. al, (1993), mengatakan bahwa ikan yang tergolong ordo cypriniformes di perairan barat Indonesia dan Sulawesi terdiri dari banyak famili. Melihat jenis ikan Cypriniformes cukup banyak dan perubahan ekosistem akibat dari kemungkinan terjadi perubahan jumlah spesies ikan Cypriniformes pada saat ini dan kemudian hari. Menurt Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan.

Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan ( Atmaja, 2005) Sitanggang (1987) mengemukakan bahwa ikan tambakan termasuk

golongan ikan labyrinthici yaitu sebangsa ikan yang memiliki alat pernafasan berupa insang dan insang tambahan (labyrinth). Labyrinth adalah alat pernafasan yang berupa selaput tambahan yang berbentuk tonjolan pada tepi-tepi atas lapisan insang pertama. Pada selaput terdapat pembuluh darah kapiler (zat asam) langsung dari udara dan pernafasannya. Seksualitas ikan dapat ditentukan dengan mengamati ciri-ciri seksual skunder dan seksual primer. Pengamatan seksual primer harus dengan pembelahan diperut ikan. Sedangkan seksual skunder dengan memperhatikan ciri-ciri morfologi yaitu bentuk tubuh. Organ pelengkap dan warna (andea,2005). Selanjutnya Effendie (1997) menyatakan bahwa sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Apabila suatu spesies ikan jantan mempunyai dan betina sifat morfologi spesies yang ikan dapat dipakai untuk seksual

membedakan

maka

mempunyai

dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna maka ikan itu mempunyai seksual dichromatisme dimana pada ikan jantan biasanya warnanya agak lebih cerah dan menarik daripada ikan betina. Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Testes dan salurannya pada ikan jantan

merupakan

ciri

seksual

primer.

Untuk

melihat

perbedaannya

diperlukan

pembedahan. Ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan jantan dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang positif (nyata). (Tim Ikhtiologi, 1989). Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan tersebut disebut testes yang berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang terdapat pada individu ikan betina disebut ovari berfungsi menghasilkan telur. (Pulungan et. al, 2006).

Selanjutnya dikatakan juga bahwa gonad yang terdapat didalam tubuh mengalami perkembangan dari bentuk sehelai benang yang berisi cairan bening kemudian berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang dimiliki individu ikan. Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan gamet yang diproduksi oleh gonad itu sendiri. Semakin matang gonad suatu individu ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta tubuh individu ikan. Berdasarkan tempat pemijahan. Ikan dapat dimasukkan kedalam beberapa golongan, yaitu golongan ikan phytopil yang memijah pada tanaman. Golongan psamopil memijah dipasir. Golongan ikan pelagopil memijah pada kolam air diperairan dan golongan ikan ostracopil pada cakang yang telah mati (Raharjo, 1980). Pengamatan terhadap aspek-aspek biologi spesies ikan dilakukan para pakar biologi perikanan melalui pendekatan secara kuantitatif. Dengan perlakuan yang diberikan terhadap banyak individu ikan dengan waktu pengamatan yang relatif lama (Effendi, 1997).

Pengamatan tentang tahap tahap kematang gonad ikan dapat dilakukan secara morphologi dan histologi. Pengamatan secara histologi dapat dilakukan di lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya dapat dilakukan di dalam laboratorium. Pengamat secara histologi sangat memerlukan peralatan canggih dan teliti dan memerlukan pendanaan yang cukup (Pulungan, 2006). Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Perkembangan gonad ikan betina lebih banyak diperhatikan dari pada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang terdapat di dalam testes (Effendie, 2002).

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2010 pada pukul 10.00 WIB sampai selesai di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.

3.2. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini ada 25 spesies ikan Tambakan (Helostoma temmincki). Kesemuanya itu diamati masing masing jenis kelaminnya, baik secara primer maupun secara sekunder. Sedangkan alat yang digunakan yaitu nampan untuk meletakkan ikan sampel, kain lap untuk membersihkan tangan, pensil dan pena untuk menulis, penghapus untuk menghapus, penggaris untuk mengukur ketelitiannya adalah 30 cm, jarum dan pingset untuk meneliti bagian yang kecil, timbangan Kartorius untuk menimbang berat gonad ikan, gunting/pisau untuk membedah ikan, timbangan untuk menimbang berat ikan, buku penuntun praktikum untuk mempermudah dalam melakukan praktikum dan buku data sementara untuk tempat menulis.

3.3. Metode Praktikum

Metode praktikum adalah metode survei dengan mengamati dan mengenali langsung objek praktikum dengan mengikuti petunjuk yang terdapat di dalam buku penuntun praktikum. Kemudian dilakukan pengukuran dan pencatatan ciri-ciri meristik dan morfometrik dari setiap objek.

3.4. Prosedur Praktikum - Prosedur praktikum seksualitas ikan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Mengukur panjang total (TL), panjang baku (SL), panjang fork (FL), BdH, dan HdL serta menggambarkan setiap individu ikan yang diamati. Identifikasi dan timbang setiap ikan objek yang dipraktekkan. 2) 3) Pisahkan menurut jenis kelamin berdasarkan ciri seksual sekunder. Bedah perut ikan dengan alat bedah secara abdominal, amati menurut ciri seksual primer. 4) 5) Amati organ reproduksi apakah berbentuk testes atau ovari. Hal yang perlu diamati untuk testes/ovari adalah bentuk testes/ovari, ukuran testes/ovari (panjang), perbandingan panjang testes/ovari dengan panjang rongga tubuh, dan warna testes/ovari. 6) Setelah dibedah kemudian tentukan tahap-tahap perkembangan gonad menurut Nikolski dan Kesteven. 7) Hitung IKG ikan.

- Adapun prosedur praktikum kematangan gonad ini adalah : 1. 2. 3. 4. Gambar dan tulis klasifikasi ikan. Timbang berat ikan. Ukur morfometrik ikan ( Hdl, Bdh, TL, FL, SL). Amati ciri-ciri seksualnya, kemudian tentukan jenis kelaminnya. Untuk memastikan jenis kelamin, bedah ikan dan keluarkan gonadnya. Kemudian tentukan jenis kelamin dari ikan tersebut serta gambarkan bentuk dari jenis kelamin tersebut (ovari dan testes).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil No Jenis Ikan Habitat Air tawar Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Klasifikasi Ikan : Cordhata : Pisces : Perciformes : Anabantidae : Helostoma : Helostoma temmincki

1. Ikan Tambakan

Tabel 1. Jenis Ikan, Lingkungan Hidupnya dan Klasifikasi

4.1.1. Kematangan Gonad Hasil praktikum terdiri dari klasifikasi dan pengukuran data morfometrik dari 20 ekor ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang berbeda jenis kelaminnya dengan tingkat kematangan gonad yang berbeda pula. (Lampiran 1) Dari data tersebut dilakukan penimbangan terhadap masing-masing gonad ikan dan penghitungan IKG (Indeks Kematangan Gonad) atau sering disebut Coeffisien Kematangan Gonad atau Gonado Somatic Index, yaitu suatu nilai dalam

persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikali dengan 100 %. Rumus IKG :

IKG =

x100%

Keterangan : IKG = Indeks Kematangan Gonad Bg = Berat Gonad dalam gram Bt = Berat tubuh dalam gram

Alat kelamin pada ikan disebut gonad. Gonad dalam rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan betina disebut ovari. Alat kelamin berupa gonad (kelenjar kelamin), terdapat sepasang dalam abdomen (rongga perut) dan terletak gelembung udara yang terdapat pada ikan betina dan ikan jantan. Organ seksual yang merupakan ciri-ciri seksual primer pada ikan tambakan terdiri dari testes pada ikan jantan dan ovari pada ikan betina. Testes ikan tambakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2. Testes Ikan Tambakan (Helostoma temmincki)


Testes pada ikan tambakan jantan yang terdapat didalam tubuh ikan bervariasi mulai dari berwarna bening transparan sampai putih susu yang menunjukkan tahap perkembangan gonadnya dan berjumlah dua buah atau sepasang. Bentuknya memanjang dan terletak menggantung pada mesenteries (mesovaria) dengan posisi persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung renang. Testes ikan tambakan ini terletak di dalam rongga perut ikan jantan. Ovari pada ikan tambakan betina terdapat di dalam tubuh ikan tepatnya di dalam rongga perut ikan tersebut. Bentuknya memanjang dan berjumlah sepasang dengan letak menggantung pada mesenteries (mesovaria). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung renang. Warna ovari pada ikan sampel bervariasi mulai dari bening transparan sampai kuning keemasan yang menunjukkan tahap kematangan gonadnya dan memiliki butiran telur. Untuk lebih jelasnya, gambar ovari pada ikan ini dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 3. Ovari Ikan Tambakan (Helostoma temmnincki) Butiran telur pada ovari ikan betina juga bervariasi baik warna maupun ukurannya yang menunjukkan perkembangan gamet ini. Warnanya mulai dari transparan sampai kuning keemasan dan berbentuk bundar. 4.1.2. Seksualitas Ikan Setelah melakukan serangkaian praktikum yang sangat panjang dan teliti maka saya sebagai praktikan yang tergabung di dalamnya mendapatkan hasil yang akan saya jabarkan sebagai berikut. (Lampiran 2) Biasanya ukuran testes lebih kecil daripada ukuran ovarynya, dimana testes berwarna transparan sampai putih susu dan ovary berwarna kuning emas dan terlihat jelas butiran-butiran telurnya. Organisme ikan akan melakukan reproduksi saat sudah mencapai matang gonad (Fauzi, M., 1999).

4.2 Pembahasan 4.2.1. Tingkat Kematangan Gonad Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (1997), yang mengatakan bahwa penentuan jenis kelamin setelah dilakukan pengukuran panjang berat, kemudian

ikan dibedah dan dikeluarkan gonadnya untuk mengetahui jenis kelamin ikan tersebut. Penentuan jenis kelamin ikan tambakan dengan memperlihatkan ciri seksual primer dengan membedah tubuh ikan tersebut. Setelah itu diamati ciri seksual sekunder dengan memperlihatkan bentuk tubuh pada organ pelengkap lainnya. Alat kelamin yang terdapat pada individu ikan disebut gonad. Akan tetapi jika gonad itu terdapat dalam rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan betina disebut ovary. Gonad memiliki pembuluh darah yang berfungsi sebagai supply (penyedia) nutrisi. Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh, bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries pada rongga atas bagian tubuh. Posisinya persis di bawah tulang punggung di samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai putih susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada rongga tubuh. Namun umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada mesenteries (mesovaria). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai kuning emas dan keabu-abuan. Kottelat et.al.,(1993) menyatakan bahwa ikan Tambakan memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pipih lebar, dimana tinggi badan lebih kali dari panjang tubuhnya, sirip punggung panjangnya terdiri 12-13 jari-jari keras dan tajam 11-13 jari-jari lemah, sirip dubur 9-11 jari-jari keras dan 9-21 jari-jari lemah, sirip perut 1 jari-jari keras dan 2 diantaranya jari-jari lemahnya memanjang seperti benang yang berfungsi sebagai alat peraba, sirip dada 2 jari-jari keras yang kecil dan 13-14 jari-

jari lemah. Gurat sisi sempurna mulai kepala hingga ekor yang terdiri dari 30-33 keping sisik. Pengamatan ciri seksual primer pada setiap individu ikan dilakukan melalui cara membedah tubuh bagian abdominal ikan dan mengamati gonad yang dimiliki yaitu testes jika jantan dan ovari jika betina. Namun jika ikan masih hidup, untuk melihat gonadnya dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan gamet dengan menstripping induk yang sudah matang gonad atau mengisap gonad dengan bantuan kateter canula (selang halus). Sedangkan menurut Pulungan (2006), perbedaan ikan jantan dan ikan betina dapat dilihat dari gonad yang dimiliki dengan cara membedah tubuh ikan (seksual primer) serta bentuk warna dan organ lengkap (seksual sekunder) untuk membedakan ikan jan-tan dan ikan betina dapat juga dilihat dari bentuk kepala, bentuk tengkorak, sirip punggung, sirip dada, sirip ekor, sirip anus serta ukuran lubang pada kelamin. Warna ovari pada ikan betina sampel adalah kuning emas yang menunjukkan bahwa ovari sudah matang dan siap dibuahi. Jumlah ovari ada sepasang dan memiliki saluran kecil yang disebut oviductus. Testes pada ikan jantan sampel berwarna putih susu. Jumlah testes sepasang dan memiliki saluran yang disebut ductus. Gonad baik testes maupun ovari mempunyai saluran agak pendek dan bersatu dengan vesica urinaria, membentuk sinus urogenitalis yang berlanjut sebagai saluran yang bermuara sebagai porus urogenitalis. Untuk membedakan antara ikan jantan dan ikan betina selain berdasarkan ciri seksual primer juga dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap ciri seksual sekunder ikan tersebut. Untuk membedakan ikan tambakan jantan dan betina

berdasarkan ciri seksual sekunder yaitu : 1) Halus kasarnya permukaan kepala, jika kasar adalah ikan jantan sedangkan ikan betina memiliki permukaan kepala yang halus, 2) Bentuk permukaan perut ikan, pada ikan jantan permukaan perutnya agak ramping sedangkan ikan betina memiliki permukaan perut agak gemuk karena mengandung telur dalam ovari. Ciri spesies ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri spesies ikan tambakan jantan adalah bentuk badan tidak terlalu melengkung, bentuk kepala lebih merata, ukuran kepala lancip, dasar sirip dada lebih keras, letak sirip perut lebih panjang, bentuk lubang genital bulat (tumpul). Sedangkan ciri spesies ikan tambakan betina adalah badan melengkung, perut membujur dan mendatar sampai ke anus, bentuk kepala lebih besar dan dasar sirip dada lunak, bentuk sirip perut lebih pendek dan bentuk lubang genital menonjol (agak lancip). Pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Tahap kematangan gonad yang umum digunakan oleh peneliti adalah pentahapan yang dilakukan oleh Kesteven yang membagi menjadi 9 tahap yaitu : I) dara, II) dara berkembang, III) perkembangan I, IV) perkembangan II, V) bunting, VI) mijah, VII) mijah/salin, VIII) salin/spent, IX) pulih salin. Sedangkan Nikolsky membagi menjadi 7 tahap yaitu: I) tidak masak, II) tahap istirahat, III) hampir masak, IV) masak, V) reproduksi, VI) kondisi salin, VII) tahap istirahat.

4.2.2. Seksualitas Ikan

Seperti yang telah dikemukakan, Saanin (1984) telah mengklasifikasikan ikan Tambakan ke dalam kelas Pisces, famili Anabantidae, genus Helostoma dan spesies Helostoma temmincki. Dari ke-25 ekor ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang

dipraktikumkan. Di dapatkan 6 ekor berjenis kelamin betina dan 19 ekor berjenis kelamin jantan. Data tersebut diperoleh dengan mengamati masing masing individu, baik melalui penampakan ciri seksual primer ataupun ciri seksual sekunder. Penampakan ciri ciri seksual sekunder dilakukan dengan dua cara, yaitu seksual dimorphisme dan seksual dichromatisme. Sifat seksual sekunder ialah tanda tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Apabila satu spesies ikan mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina, maka spesies itu memilki seksual dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna, maka ikan itu mempunyai sifat seksual dikromatisme. Pada ikan jantan mempunyai warna lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina (Effendi, 2002) Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder tadi menghilang, tetapi pada ikan betina tidak

menunjukkan sesuatu (Effendie, 2002) Demikian juga menurut Tim Iktiologi (1989), bahwa warna pada ikan sering merupakan cirri pengenalan seksual. Secara umum dapata dikatakan bahwa ikan jantan mempunyai warna yang cemerlang dari pada ikan betina.

Sedangkan untuk penampakan seksual primer kita melakukan pengamatan dengan melakukan striping dan membedah bagian abdominal tubuh ikan yang diamati.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah ilakukan didalam makalah tentang seksualitas ikan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. Seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma dan ikan betina ialah ikan mempunyai organ penghas telur 3. Sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testes dengan pembuluhnya pada ikan jantan. 4. Sifat seksual sekunder pada ikan ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina Dari hasil pengamatan selama praktikum tingkat kematangan gonad dan seksualitas ikan didapatkan bahwa ikan Tambakan (Helostoma temmincki). Ciri ikan tambakan jantan adalah bentuk badan tidak terlalu melengkung, bentuk kepala lebih meruncing, ukuran kepala lancip, dasar sirip dada lebih keras, letak sirip perut lebih panjang, bentuk lubang genital bulat (tumpul). Sedangkan ciri ikan tambakan betina adalah badan melengkung, perut membujur dan mendatar sampai ke anus, bentuk kepala lebih besar dan dasar sirip dada lunak, bentuk sirip perut lebih

pendek dan bentuk lubang genital menonjol (agak lancip). Data morfometrik antara ikan jantan dan betina cukup bervariasi sesuai jenis kelaminnya. Sedangkat dari hasil praktikum seksualitas ikan, kita dapat mengetahui jenis kelamin ikan ikan tersebut dengan menggunakan penampakan penampakan yang ada. Penampakan ciri seksual sekunder dinilai lebih baik karena kita tidak perlu melakukan pembedahan ataupun melakukan hal yang macam macam kepada individu ikan yang diamati. Tetapi bukan berarti ciri seksual primer tidak begitu baik, karena dengan cara inilah data yang diperoleh lebih akurat.

5.2. Saran Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sudah maju dan modren diharapkan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pratikum ini cukup memadai sehingga memudahkan dalam objek yang akan kita teliti. Kalau bisa asisten dan praktikan lebih proaktif dalam mengikuti praktikum karena iktiologi merupakan ilmu dasar untuk mendukung mata kuliah berikutnya. Sebagai salah satu praktikan saya menyadari bahwa melakukan pengamatan secara sekunder itu lebih sulit, karena ciri ciri yang ditampakan itu malah membingungkan untuk mengetahui jenis kelamin ikan itu sendiri. Tetapi sebagai seorang mahasiswa, kita harus mampu melakukannya. Cobalah diteliti baik baik dengan mengidentifikasi setiap inchi ikan tersebut. Walaupun pada akhirnya kita akan membedahnya untuk membuktikan pengamatan kita. Dan semoga

dikemudian hari praktikuma akan berjalan dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA Yudha, Indra Gumay.2009. Lampung. Bandar Lampuang. REPRODUKSI. Fakultas Pertanian. Universitas

Effendie Ichsan Moch, M.Sc, H, Dr, Prof, 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara: Yogyakarta

Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyology. Diktat Perkuliahan Fakultas Pertanian Bogor. Bogor. 113 hal

Alamsyah, Z. 1974. Ikhtiologi Sistematika (Ichtyologi I). PPM. PT. ITB. Bogor. 183 halaman.

Nyabakken. 1992. Biologi laut suatu pendekatan ekologi. P.T. Gramedia. Jakarta

Djuhanda, 1981. Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung. 130 halaman.

Effendi, M. I. 1997. Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 122 hal.

Fauzi, M., 1999. Struktur Ikan di Sungai Selatan Bengkulu Utara. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Unri. Pekanbaru.

F.D. Ommanney. 1989. Ikan. Tira Pustaka. Jakarta.187 hal

Kottelat, M., et al. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi (Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Munich. Germany. 293 hal.

Tang dan afandi 2005 dalm buku biologi perikanan

Pulungan et al, 2006. Penuntun Praktikum Ichthyologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru, 74 hal (tidak diterbitkan).

Putra, R. M., et al. 2004. Penuntun Praktikum Ichthyology. Laboratorium Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru. 74 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan sendiri).

Saanin, H., 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi. Bina Cipta, Bandung. 520 halaman Pulungan, C. P., et al. 2005. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru. 80 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan sendiri).

Diposkan oleh ahsanur rizqi di 09:35 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

1 komentar:

khakha rx mengatakan...

boleh copast????
17 Juli 2011 22:33

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut Arsip Blog

2011 (4) o Januari (4) Band Pekanbaru Facebook LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN BIODATA

Mengenai Saya

ahsanur rizqi Lihat profil lengkapku

Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger. http://pengingratis.blogspot.com/2011/01/laporan-praktikum-biologi-perikanan.html

Minggu, 16 Desember 2007


Pengenalan Hormon, Pengambilan dan Pengawetan Hipofisa
Laporan Praktikum M.K. Fisiologi Reproduksi Pengenalan Hormon, Pengambilan dan Pengawetan Hiofisa 5 Oktober 2007

Abstrak Dalam Dunia Budidaya Perikanan keterdediaan benih memegang peranan yang sangat penting. Hipofisasi adalah proses penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa kepada ikan untuk

merangsang kematangan gonad. Praktikum ini mengajarkan cara mengambil kelenjar hipofisa pada ikan Mas, Ikan Lele dan Ikan Patin. Kata Kunci : Hipofisa, Hormon reproduksi

Pendahuluan Dalam Dunia Budidaya Perikanan keterdediaan benih memegang peranan yang sangat penting. Di habitat aslinya ikan akan memijah jika mendapat rangsangan lingkungan yang tepat, sayangnya dalam lingkungan budidaya ransangat lingkungan itu sulit diwujudkan sehingga perlu diadakan rekayasa untuk memijahkan ikan. Hipofisasi adalah menyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang ikan memijah. Dalam praktikum ini diharapkan praktikan dapat mengambil kelenjar hipofisa yang terdapat dalam kepala ikan preparat. Metodologi Praktikum dilakukan pada hari kamis 27 September 2007 pukul 15.00-17.00 yang bertempat di laboratorium Genetik dan di halaman depan Teaching Farm, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Praktikum dilakukan dengan cara pembedahan langsung kepala ikan Mas, Ikan Lele, dan Ikan Patin. 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio) Kepala Ikan mas dipotong mulai dari lubang hidungnya menggunakan pisau. Pomotongan mengikuti lekukan dagu ikan sehingga hasil potongannya dangkal dan tidak merusak otak. Setelah tulang kepala terbuka otak dikeluarkan menggunakan tusuk gigi atau alat bantu lainnya. Kelenjar Hipofisa akan terlihat tepat dibawah otak. Kelenjar ini berbentuk bulat kecil dengan warna putih. Prosedur berikutnya adalah kelenjar ini dikeluarkan dari kepala ikan menggunakan tusuk gigi. 2. Ikan Lele (Clarias batrachus) Kepala Ikan Lele dipotong mulai dari mulutnya. Semua bagian mulut, insang dan aborensen organ dibuang hingga hanya menyisakan tulang tempurung kepalanya. Tulang yang melindungi rongga otak dikerok dari bagian dalam kepala hingga otaknya terlihat. Otak dikeluarkan dengan bantuan tusuk gigi. Prosedur terakhir adalah mengeluarkan kelenjar hipofisa dengan bantuan tusuk gigi. Kelenjar hipofisa memiliki bentuk bulat dan berwarna putih. 3. Ikan Patin (Pangasius pangasius) Langkah Pertama adalah membuat luka sedikit diatas lubang hidung supaya kepala patin tidak licin dan sayatan bisa lebih terarah. Pemotongan dilakukan dari luka yang telah dibuat kearah sirip dorsal sampai otak terlihat. Otak dikeluarkan dengan bantuan tusuk gigi. Prosedur berikutnya adalah mengeluarkan kelenjar hipofisa dengan bantuan tusuk gigi. Kelenjar hipofisa memiliki bentuk bulat dan berwarna putih. Hasil dan Pembahasan

1.

Hormon

hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel. sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol. hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas. hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan: hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri seksual hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah. beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh. misalnya, tsh dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh. (medicastore.com, 2007) 2. Enzim Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim -amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa. Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu, keasaman, kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat keasaman) optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah protein, yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. Di luar suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat

bekerja secara optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan. Hal ini akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali. Kerja enzim juga dipengaruhi oleh kofaktor dan inhibitor. (wikipedia.org, 2007) 3. Hipofisa Hipofisa adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam tulang sfenoid. Kelenjar hipofisa paling tidak menghasilkan tujuh hormon yaitu GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH, MSH. (budiyanto, 2002) Hipofisa terletak dibawah otak, jadi untuk mengambil kelenjar hipofisa langkah pertama yang harus diambil adalah mengeluarkan otak. Gambar otak dan hipofisa terlihat seperti gambar dibawah ini : Ikan Lele (Clarias batrachus) Otak Lele Hipofisa Lele 4. Syarat Donor Syarat indukan yang bisa diambil kelenjar hipofisanya adalah ikan jantan yang telah matang gonad. Perbandingan berat ikan jantan dengan ikan betina adalah 1,5 : 1 jadi ikan jantan seberat 1,5 Kg digunakan untuk hipofisasi induk betina yang memiliki berat 1 kg. Perbandingan diatas berguna jika donor dan penerima berasal dari satu spesies, jika menggunakan donor dari lain spesies maka dosisnya harus ditambah. Donor dari lain spesies disebut donor universal contohnya ikan mas, tetapi sebaiknya donor dan penerima tetap berasal dari satu famili. 5. Kelebihan dan Kekurangan Hipofisasi Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon hormon lain yang memiliki sifat sinergik. Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin. 6. Pengawetan Kelenjar Hipofisa Ada dua metode yang biasa dilakukan dalam mengawetkan kelenjar hipofisa yaitu metode kering dan metode basah. Metode kering dilakukan dengan menggunakan larutan aseton. Kelenjar hipofisa direndam dalam larutan aseton selama 8-12 Jam, kemudian larutan aseton dibuang dan kelenjar hipofisa dikeringkan lalau disimpan. (Susanto, 2001) Metode basah digunakan dengan larutan alkohol pekat. Kelenjar hipofisa dimasukan dalam larutan alkohol selama 24 jam. Dalam proses perendaman alkohol diganti selama 2-3 kali. Setelah 24 jam kelenjar hipofisa dibiarkan terendam larutan alkohol sampai akan digunakan. (susanto, 2001) 7. Hormon Reproduksi Ikan Patin (Pangasius pangasius) Otak Patin Hipofisa Patin

GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon): diekresikan oleh hipotalamus untuk merangsang hipofisa mengeskresikan kelenjar FSH (Folikel Simulating Hormon) pada betina untuk mematangkan ovarium dan LH (Luitenizing Hormon) pada Jantan Gametogenesis yaitu memacu kematangan telur dan sperma luteinizing hormone releasing hormone (LHRH) berfunsi untuk memunculkan sifat pariental care pada ikan. Hormon ini juga akan memacu kelenjar susu memproduksi air susu pada mamalia Prolaktin merupakan polipeptida yang mengandung gugus tirosil hormon ini berfungsi sebagai pemicu pariental care GTH adalah hormone gonadotropin fungsinya adalah merangsang ovulasi sel gamet. GIH (gonad Inhibitting Hormone) merupakan hormon penghambat pematangan gonad yang diskresikan oleh kelenjar yang terdapat di tangkai mata krustacea. GSH (Goanad Stimulating Hormone) akan bekerja jika kelenjar penghasil GIH diablasi. GSH berfungsi untuk merangsang vitelogenesis pada ovarium. kelebihan Daftar Pustaka Anonimous.2007. http://www.medicastore.com/cybermed/detail_pyk.php? idktg=11&iddtl=761. [29 September 2007] Anonimous. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim . [29 September 2007] Budiyanto. 2002. Pengaruh Penyuntikan Ekstraks Kelenjar Hipofisa Ikan Patin Terhadap Laju Pertumbuhan Harian Ikan Koi yang Dipelihara Dalam Sistem Resirkulasi. (Skripsi tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan IPB Susanto, H. 2001. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Jakarta : Penebar Swadaya

Diposkan oleh mas wira di 08:15 Label: Fishrep, Master Laporan http://maswira.blogspot.com/2007/12/pengenalan-hormon-pengambilan-dan.html