Anda di halaman 1dari 8

PENGELOLAAN KRISIS HIPERTENSI

Dr. HM. Bambang Purwanto, SpPD-KGH

PENGELOLAAN KRISIS HIPERTENSI


Krisis Hipertensi adalah Hipertensi berat yang memerlukan pengobatan segera untuk menyelamatkan jiwa dan menghindari komplikasi pada target organ dengan harapan komplikasi yang timbul masih reversibel KLASIFIKASI
I. II. Krisis Hipertensi Gawat Darurat (Hypertensive Emergency). Harus diturunkan beberapa menit, paling lambat 2 jam Krisis Hipertensi Gawat (Hypertensive Urgency) Harus diturunkan 24 jam

PENGELOLAAN HIPERTENSI DALAM KEADAAN KHUSUS


PENGELOLAAN KRISIS HIPERTENSI: Krisis Hipertensi adalah keadaan klinik yang memerlukan penanganan segera untuk menyelamatkan penderita dari komplikasi yang mengancam jiwanya.
Krisis Hipertensi dibedakan menjadi :
1. Gawat Darurat (Emergency) : tekanan darah harus diturunkan dalam waktu 1 jam dan penderita perlu dirawat di Rumah Sakit. 2. Gawat (Urgency) : tekanan darah harus dikendalikan dalam waktu 24 jam dan cukup diberikan obat antihipertensi oral kuat dan bekerja cepat

1. Gawat Darurat Hipertensi (Hipertensive Emergency) Termasuk Gawat Darurat Hipertensi adalah :
a. Hipertensi Ensefalopati b. Hipertensi Maligna berat disertai komplikasi disfungsi target organ :
Payah Jantung kiri akut Infark jantung akut atau engina paktoris unstable Robeknya aneurisma aorta Stroke hemorhagik Gagal Ginjal Akut progresif Eklampsia dengan kejang atau adanya foetal distress Perdarahan hebat postoperasi Luka Bakar luas

2. Gawat Hipertensi (Hypertensive Urgency) Termasuk Gawat Hypertensi adalah :


a. Hipertensi berat atau accelerated hypertension (KW.III) tanpa disfungsi organ target b. Hipertensi perioperatif, termasuk tindakan operasi darurat c. Feokhromositom dan sindrom lepas obat

Komplikasi pada Ginjal


1. 2.
3.

Thiazide tidak dianjurkan (lebih baik Furosemid) Yang dosisnya perlu disesuaikan : ACEinh, Beta bloker, Prazosin Yang dosisnya tak perlu disesuaikan : Ca ant, Hidralazin

Komplikasi pada Otak


1. 2. Hipertensi Ensefalopati harus diturunkan dalam 1 jam Stroke : Penurunan bertahap Pencegahan Hipotensi Ortostatik : Ca ant, Beta bloker Faktor resiko yang lain harus dikoreksi

Classification of Hypertension in Pregnancy


Chronic Hypertension BP 140 mm Hg systolic or 90 mm Hg diastolic prior to pregnancy or before 20 weeks gestation Persists > 12 weeks postpartum

Preeclampsia

BP 140 mm Hg systolic or 90 mm Hg diastolic with Proteinuria (> 300 mg/24 h) after 20 weeks gestation Can progress to eclampsia (seizures) More Common in nuliparous women, multiple gestation, women with hypertension 4 years, family history of preeclampsia, hypertension in previous pregnancy, renal disease

Chronic Hypertension New onset proteinuria after 20 weeks in a woman with with Superimposed Hypertension Preeclampsia In a women with Hypertension and Proteinuria prior to 20 weeks gestation : Sudden 2- to 3- fold increase in proteinuria Sudden increase in BP Thrombocytopenia Elevated AST or ALT

Classification of Hypertension in Pregnancy


Gestational Hypertension Hypertention without proteinuria occurring after 20 weeks gestation tempory diagnosis May represent preproteinuric phase of preeclampsia or recurrence of chronic hypertension abated in midpregnancy May evolve to preecalmpsia If severse, may result in higher rates of prmature delivery and growth retardation than mild preeclamsia

Transient Hypertension

Retrospective diagnosis BP normal by 12 weeks postpartum May recur in subsequent pregnancies Predictive of future primary hypertension