Anda di halaman 1dari 33

MODUL II 3 ALAT UKUR INDUKSI (AUI)

I. Tujuan Percobaan Mengetahui prinsip kerja alat ukur Mengetahui tpe-tipe alat ukur induksi Mengetahui prinsip kerja Wattmeter dan KWh meter Membandingkan hasil pengukuran dari tipe alat ukur induksi Mengenal pengukuran daya dengan menggunakan alat ukur induksi Mengenal metode pengukuran daya dan membandingkan II. Teori Pendahuluan Alat ukur induksi merupakan alat ukur ynag momen geraknya ditimbulkan oleh suatu fluks magnit dan arus bolak-blik. Alat lazim untuk mengukur energi (KWh meter) walaupun ada juga untuk arus maupun tegangan. Arus energi mempunyai dua fluks magnet yang dihasilkan dari suatu arus mengalir pada kumparan. Kedua magnet fluks tersebut memotong piringan. Piringna dipotong oleh 2 fluks magnet 1 dan 2 pada titik P1 dan P2. Fluks ke-1 1 menyebabkan arus pusar 1 (I1). Arus pusar ini melalui titik P2. Interaksi yang terjadi antara I1 dan 1 menyebabkan momen gerak I (Mg1). Demikian juga 2 menyebabkan momen arus pusar 2 (I2) yang melalui P1 dan interaksi arus pusar 2 (I2) dan fluks 2 ( 2) menyebabkan momen gerak 2 (Mg2).

Gambar 1. Prinsip AUI Tegangan efektif yang terjadi : E1 = w .

Bila impedansi lintasan arus pusar sebesar Z maka harga efektif arus pusar : l1 = el / z = w / z . 1 ................................................................ (1)

Arus pusar ini berbeda sudut fasanya terhadap tegangan induksi sebesar . Demikian juga di 2 dimana tegangan E2 tertinggal 90 terhadap 2 dan I2 tertinggal terhadap E2 sudut fasanya antara I1 dan 2 adalah 90 - + . Mg1 = K. 1. 2 Cos (90 - + ) . (2)

Beda sudut fasa antara I2 dan 2 adalah 90 + + . Mg2 = K. 1. 2 Cos (90 + + ) (3)

Resultan kedua momen tersebut menyebabkan berputarnya piringan : Mg = Mg1 Mg2 Mg = K. 1. 2 Sin Cos . (4)

Untuk mendapatkan momen gerak yang besar diusahakan : 1. 2. Sin = 1 : maka beda fasa sudut antara 1 dan 2 adalah 90. Cos = 1 : maka ada beda sudut fasa antara I dan E.

Ada 2 macam yipe AUI, yaitu : 1. Tipe Feraris

Seperti dalam gambar terpasang 2 pasang kumparan. Pasangan kumparan pertama dihubungkan seri dengan induktor besar . Kedua pasang kumparan tersebut dihubungkan dengan tegangan yang sama. Arus yang mengalir pada kumparan pertama (IR) mempunyai beda sudut fasa sebesar terhadap arus kumparan kedua (IL), harga hampir mendekati 90. Fluksi yang timbul akan merupakan medan putar, medan putar ini akan menyebabkan arus pusar pada motor. Dan interaksi medan putar dengan arus pusar akan mengakibatkan, momen gerak yang memutar rotor-rotor tersebut akan berputar searah putaran medan putar seperti KWh meter. Tetapi bila rotor tersebut mendapat momen lawan berupa pegas maka rotor tersebut akan berhenti pada saat terjadi keseimbangan. Dimana : V : Tegangan sumber I : Arus yang melalui I seri dengan R IL : Arus yang melalui kumparan 2 seri dihasilkan L R : Fluksi magnetik yang menghasilkan IR L : Fluksi magnetik yang menghasilkan IL ER : Tegangan induksi karena R EL : Tegangan induksi karena L IER : Arus pusar karena ER IEL : Arus pusar karena EL Momen gerak yang ditimbulkan adalah : Mg = K. 1. 2 Sin Cos

Mg = K. IR. IL Sin Cos tegangan V. Untuk Amperemeter : Mg = K. I2. Sin Cos

...

(5)

Harga IR dan IL sebanding dengan arus I dan juga sebanding dengan

(6)

Momen lawan Me = S. = I2 Sin Cos . (7)

Untuk Voltmeter : Mg = = KV2 V2 Sin Cos .. (8) (9)

Sin Cos

...

2. Tipe Shaded Pole Pada tipe ini memakai piringan dan satu kumparan yang menimbulkan fluks magnet. Agar sistem ini terdapat 2 fluks yang mempunyai beda fasa tertentu, maka fluks utama tersebut dibagi dua dengan membagi pada intinya. Untuk membuat beda fasanya, di salah satu dari bagian inti yang terbagi dua tersebut ditambah cincin/ring tembaga. Keadaan ini disebut Shaded Pole.

(a)

Gambar 4. shaped P

Momen gerak yang ditimbulkan : Mg = K t s Sin Cos .......... (10)

t dan s sebanding dengan I untuk Amperemeter dan juga sebanding dengan V untuk Voltmeter. Untuk Amperemeter Mg = K. I2. = I2 Sin Cos Sin Cos .. .. (11) (12)

Untuk Voltmeter Mg = KV2 = V2 Sin Cos Sin Cos .. .. (13) (14)

Prinsip Wattmeter dan KWh meter induksi adalah sama, perbedaannya adalah letak ada tidaknya momen lawan. KWh meter tidak menggunakan pegas sebagai momen lawan sehingga piringan akan terus berputar. Jumlah putaran tersebut akan menunjukkan energi yang diukur. Untuk lebih jelas lagi lihat gambar konstruksi dasar KWh meter 1 fasa induksi.

Sistem penggerak terdiri dari dua kumparan. Kumparan pertama dihubungkan dengan tegangan yang disebut dengn kumparan tegangan dan kumparan yang kedua dihubungkan dengan arus disebut kumparan arus. Kumparan tegangan mempunyai jumlah lilitan yang banyak sehingga arus (Iv) yang dihasilkan akan mempunyai beda sudut hampir 90 terhadap tegangan. Untuk KWh meter momen pengereman yang besarnya sebanding dengan kecepatan putarnya. N = K V I Cos .
totalperpu taran energi

(15)

Total Putaran = K. energi Dengan :


Kons tan ta ( K ) =

Gambar 5. Diagram vektor Dari persamaan (11) Wattmeter 1 = v ; 2 dan = - (lihat diagram vector) Mg = K v 1 Sin ( - ). Cos

Karena v sebanding dengan V dan 1 dan sebanding dengan I serta f, z dan . Maka : Mg = K V I Cos (16)

Momen lawan karena pegas Me = S = V I Cos . .. (17) (!8)

= K V I Cos Daya beban : Dimana : V I F Z v i Ev Ei Ipv Ipi

P = V I Cos

: tegangan beban : arus beban : sudut fasa beban : sudutnya fasa antara Iv dengan V : frekuensi : impedansi arus pusar : fluksi akibat arus Iv : fluksi akibat arus Ii : tegangan induksi akibat v : tegangan induksi akibat i : arus pusar akibat v : arus pusar akibat i : sudut fasa antara v dan i

III. Kesalahan a. Pengaruh Frekuensi Alat ukur induksi sangat dipengaruhi oleh frekuensi, mengingat alat ukur ini hanya untuk arus/tegangan bolak-balik saja. Dari persamaan 4 :
f Sin Cos z

Mg = K. 1. 2

Faktor terpengaruh oleh frekuensi sebagai berikut : *Z =


R2 + X 2

X = 2 f.L Dengan naiknya frekuensi, impedansi Z juga akan naik. * Cos =


R , Z

dengan naiknya f, Z naik dan Cos turun.

Ditinjau dari factor tersebut terlihat bahwa dengan naiknya frekuensi harga momen akan mengecil. b. Faktor Temperatur Dengan naiknya temperatur, baik karena temperature luar maupun arus pusar akan membesar impedansi Z seperti pada (a) dimana Z ini sangat berpengaruh pada momen gerak dari alat ukur ini. Sebenarnya yang mempengaruhi kenaikkan harga Z tersebut adalah tahanan R-nya. Kompensasi dapat dilakukan dengan tahanan shunt yang mempunyai koefisien tahanan yang positif dan benar. B. Pengukuran Daya Dalam pengukuran daya dengan menggunakan alat ukur induksi sumber arus/tegangan harus bolak-balik. P = V I Cos Ada beberapa cara pengukuran daya dengan menggunakan alat ukur induksinya diantaranya : 1. Pengukuran Daya Satu Fasa Suatu Wattmeter satu fasa dapat langsung mengukur daya yang diserap beban, karena semua besaran arus dan Cos sydah tercakup di dalamnya. Rangkaian pengkuran dengan Wattmeter satu fasa dapat dilihat pada gambar dengan daya yang diukur adalah : P = E I Cos Dengan menggunakan Wattmeter

Gambar 7. Rangkaian pengukuran daya bolak-balik satu fasa dengan watt meter. Kesalahan pada Wattmeter satu fasa antara lain adalah disebabkan oleh sifat induktif kumparan tegangan. Hal ini menyebabkan arus yang mengalir pada kumparan tegangan tidak sefasa dengan tegangan yang diukur. Metoda 3 Voltmeter dan 3 Amperemeter Pengukuran satu fasa dapat dilakukan memakai 3 Voltmeter (lihat gambar 8) dari diagram vector didapat : V1 = V2 + V3 + 2V2 + V3 Cos Karena itu daya pada beban dapat dihitung dengan rumus :
V32 V22 V12 PL = 2R

Gambar 8. Pengukuran daya 1 fasa dengan 3 voltmeter dan diagram vektor metoda 3 amperemeter. Pengukuran daya satu fasa dapat juga dilakukan dengan menggunakan 3 Amperemeter.

Gambar 9. Pengukuran daya 1 fasa dengan 3 amperemeter dan diagram vektor. Dari diagram vector didapat : I1 = I2 +I3 + 2 I2 + I3 Cos Dan daya yang dapat dihitung dengan rumus :

10

PL = 2. Pengukuran Daya Tiga Fasa

R 2 2 ( I 3I 2 I 12 ) 2

Metoda ini lazim disebut metoda Aron, dimana tegangan diambil kedua Wattmeter adalah tegangan-tegangan fasa-fasa dengan menggunakan 2 Wattmeter dapat diukur daya tiga fasa pengukuran dari beban balik hubungan delta ( ) maupun hubungan bintang (Y). Pengukuran daya tiga fasa tersebut dengan menjumlahkan dua buah pengukuran yang ditunjukkan oleh Wattmeter P1 dan P2, maka

Gambar 10. pengukuran metoda aron hubung bintang

Gambar 11. pengukuran metoda aron hubung delta. IV. Prosedur Percobaan A. Alat Ukur Induksi 1. KWh meter

11

Percobaan 1 1. Rangkaikan alat ukur tersebut sesuai gambar! 2. Tegangan supply hanya boleh dipasang bila sudah disetujui oleh asisten. 3. Hubungkan rangkaian dengan tegangan supply sebesar 220 V! 4. Catat tegangan, arus, dan daya yang terukur oleh alat ukur tersebut! 5. Hitunglah waktu yang ditempuh untuk setiap perputaran piringan pada KWh meter dengan jumlah putaran yang telah ditentukan oleh asisten! 6. Ulangi langkah 4 dan 5 untuk setiap beban yang berbeda! 7. Catat hasil pengamatan pada table 1! B. Wattmeter

Percobaan 2 1. 2. 3. Rangkaikan alat ukur tersebut sesuai gambar! Tegangan supply hanya boleh dipasang bila sudah disetujui oleh asisten. Hubungkan rangkaian dengan tegangan supply sebesar 220 V!

12

4. 5. 6.

Catat tegangan, arus, dan daya yang terukur oleh alat ukur tersebut! Ulangi langkah 4 untuk setiap beban yang berbeda! Catat hasil pengamatan pada table 2!

Alat-Alat yang Digunakan 1. KWh meter 2. Wattmeter 3. Cos meter 4. Amperemeter 6. Voltmeter 7. Stopwatch ... .. .. .. .. .. 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah

5 Power Supply 0-30 Volt ..

8. Kawat Penghubung

V.

Data Pengamatan.

Percobaan 1 Tabel 1 Untuk beban seri Beban V

Cos

13

1 lampu 2 lampu 3 lampu 4 lampu

220 220 220 220

0,5 0,4 0,3 0,2 I 1 1,4 1,9

0,85 0,85 0,85 0,85 Cos 0,85 0,85 0,85

190 120 100 80 P 360 580 800

32 50 63 76 T 15 9 7

Untuk beban parallel Beban V 2 lampu 220 3 lampu 220 4 lampu 220 Percobaan 2 Tabel 2 Untuk beban seri Beban V 1 lampu 220 2 lampu 220 3 lampu 220 4 lampu 220 Untuk Beban Paralel Beban V 2 lampu 220 3 lampu 220 4 lampu 220

I 0,5 0,3 0,2 0,1 I 2 1,5 1

Cos 0,85 0,85 0,85 0,85 Cos 0,85 0,85 0,85

P 200 140 120 100 P 800 600 400

14

PENGOLAHAN DATA UNTUK TABEL I a. Untuk paralel - Dengan Kwh Meter i. * Untuk beban 2 lampu
N= 3600 3600 = = 240 / s t 15

* Untuk beban 3 lampu


N= 3600 3600 = = 400 / s t 9

* Untuk beban 4 lampu


3600 3600 = = 514 ,3 / s t 7

N =

ii. * Untuk beban 2 lampu


N 240 = = 0,67 / Ws Pwatmeter 360

* Untuk beban 3 lampu


N 400 = = 0,69 / Ws Pwatmeter 580

* Untuk beban 4 lampu


N 514 ,3 = = 0,64 / Ws Pwatmeter 800

iii.

15

* Untuk beban 2 lampu P = V.I cos = 220.1.0,85 = 187 Watt *) Untuk beban 3 lampu P = V.I cos = 220.1,4.0,85 = 261,8 Watt *) Untuk beban 4 lampu P = V.I cos = 220.1,9.0,85 = 355,3 Watt Iv * Untuk Beban 2 lampu
N 240 = = 1,28 / Ws P 187

* Untuk Beban 3 lampu


N 400 = =1,52 / W s P 261 ,8

* Untuk Beban 4 lampu


N 514 ,3 = =1,44 / Ws P 355 ,3

B. Untuk seri

16

- Dengan Kwh Meter i. * Untuk beban 1 lampu


N= 3600 3600 = = 112 .5 / s t 32

* Untuk beban 2 lampu


N= 3600 3600 = = 72 / s t 50

* Untuk beban 3 lampu


N = 3600 3600 = = 57 ,14 / s t 63

* Untuk beban 4 lampu


N= 3600 3600 = = 47 ,36 / s t 76

ii. * Untuk beban 1 lampu


N 112 ,59 = = 0,93 / Ws Pwatmeter 120

* Untuk beban 2 lampu


N 72 = = 0,6 / Ws Pwatmeter 120

* Untuk beban 3 lampu


N 57 ,14 = = 0,57 / Ws Pwatmeter 100

* Untuk beban 4 lampu


N 47 ,36 = = 0,59 / Ws Pwatmeter 80

iii * Untuk beban 1 lampu

17

P = V.I cos = 220.0.5.0,85 = 93,5 Watt *) Untuk beban 2 lampu P = V.I cos = 220.0,4.0,85 = 74.8 Watt

*) Untuk beban 3 lampu P = V.I cos = 220.0,3.0,85 = 56,1 Watt *) Untuk beban 4 lampu P = V.I cos = 220.0,2.0,85 = 37,4 Watt iv * Untuk Beban 1 lampu
N 112 ,59 = = 1,2 / Ws P 93 ,5

* Untuk Beban 2 lampu


N 72 = = 0,96 / Ws P 74 .8

* Untuk Beban 3 lampu

18

N 57 .14 = =1,01 / W s P 56 ,1

* Untuk Beban 4 lampu


N 47 ,36 = =1.27 / W s P 37 ,41

UNTUK TABEL 2 DENGAN WATTMETER a. Untuk beban Seri P = V.I cos = 220.0.5.0,85 = 93,5 Watt *) Untuk beban 2 lampu P = V.I cos = 220.0,3.0,85 = 56,1 Watt *) Untuk beban 3 lampu P = V.I cos = 220.0,2.0,85 = 37,4 Watt *) Untuk beban 4 lampu P = V.I cos = 220.0,1 .0,85 = 18,7Watt * Untuk beban 1 lampu

RUMUS UMUM

19

r (%) =

Pwattmeter P x100 % Pperhitung an

* Untuk beban 1 lampu


r (%) = 200 93,5 x100 % = 53,25 % 200

* Untuk beban 2 lampu


r (%) = 140 56 ,1 x100 % = 59 ,92 % 140

*Untuk beban 3 lampu


r (%) = 120 37 ,4 x100 % = 68 ,3% 120

* Untuk beban 4 lampu


r (%) = 100 37 ,4 x100 % = 62 ,6% 100

a.

Untuk beban parallel P = V.I cos = 220.2.0,85 = 374Watt

* Untuk beban 4 lampu

* Untuk beban 3 lampu P = V.I cos = 220.1,5.0,85 = 280,5 Watt *) Untuk beban 2 lampu P = V.I cos = 220.1.0,85 = 187 Watt

20

RUMUS UMUM
r (%) = Pwattmeter P x100 % Pperhitung an

* Untuk beban 4 lampu


r (%) = 800 374 x100 % = 53 % 800

* Untuk beban 3 lampu


r (%) = 600 280 ,5 x100 % = 53,25 % 600

* Untuk beban 2 lampu


r (%) = 400 187 x100 % = 53,25 % 400

21

VII.

Tugas Akhir dan Pertanyaan 1. Jelaskan prinsip kerja KWhmeter secara jelas dan singkat? Jawab: Mengukur energi dengan cara setiap kali arus melewati piringan didalam KWHMeter akan membuat piringan didalam KWHMeter bergerak dan mennjukkan energi pemakaian. 2. Jelaskan prinsip kerja Wattmeter secara jelas dan singkat? Jawab: Hampir sama dengan KWHMeter, hanya pada Wattmeter yang diukur adalah daya yang dipakai. 3. Sebutkan perbedaan KWhmeter dan Wattmeter (minimal 3 buah)? Jawab : Kwhmeter : - mengukur energi - tidak ada momen lawan - tidak memakai pegas Wattmeter : - mengukur daya - ada momen lawan - memakai pegas 4. Suatu ampermeter induksi tipe shaded pole mempunyai defleksi penuh 400 pada arus I = 10 ampere. Beda fasa antara fluks shaded dan tidak Shaded = 50. a. berapa sudut defleksi untuk I = 5 ampere b. Jawab: a.Dik : I1 = 10 A 1 = 400 I2 = 5 A bila antara sudut defleksi shaded dan tidak shaded = 40,berapa sudut defleksi untuk = 10 ampere?

22

Jawab: 1 / 2 = K.I1.(f/z).cos.sin / K.I2.(f/z).cos.sin 1 / 2 = I1 / I2 2 = (I1/I2). 1 = (5 / 10) . 400 = (25 / 100).400 = 100 b. Dik :1 = 50 2 = 40 Jawab : 1 / 2 = K.I1.(f/z).cos .sin / K.I2.(f/z).cos .sin 2 = (400.0,64) / 0,76 = 256 / 0,76 = 336,84 5. Gambarkan rangkaian pengukuran 1 fasa pada hubungan bintang dan Hubungan delta ?serta buktikan Ptotal = P1 + P2 + P3 400 / 2 = sin 50 / sin 40

Daya pada Sumber P1 = I1.V1.Cos P2 = I2.V2.Cos P3 = I3.V3.Cos Daya Pada Beban P1 = I1.V1.Cos P2 = I2.V2.Cos P3 = I3.V3.Cos

23

Jika Beban Seimbang : V1 = V2 = V3 = V Ptotal = (P1+P2+P3) (P1+P2+P3) = (P1+P2+P3) (I1.V.Cos + I2.V.Cos + I3.V.Cos ) = (P1+P2+P3) V.Cos (I1+ I2+ I3) = (P1+P2+P3) 0 = (P1+P2+P3)

Daya pada sumber P1 = I1.V1.Cos P2 = I2.V2.Cos P3 = I3.V3.Cos Daya pada beban Pa = (I1a-I2a)V12 cos Pb = (I1b-I3a)V23 cos Pc = (I2b-I3b)V13 cos Jika Beban Seimbang : V12 = V23 = V13 = V Ptotal = (P1+P2+P3) (P1+P2+P3) = (P1+P2+P3) ((I1a-I2a) cos + (I1b-I3a)V cos + (I2bI3b)V cos ) = (P1+P2+P3) V.Cos ((I1a-I2a) +(I1b-I3a)+ (I2b-I3b)) = (P1+P2+P3) 0 = (P1+P2+P3)

24

VIII. Analisa - Pada percobaan jika rangkaiannya diserikan maka lampunya akan lebih redup dibanding jika rangkaian diparalelkan.Hal ini disebabkan karena pada hubung seri tegangan terbagi sehingga tegangan pada setiap lampu lebih kecil. - Pada hubung seri jika diberi beban maka daya yang dibutuhkan akan lebih sedikit dan putaran piringan akan semakin lambat, sehingga energi yang dibutukan lebih sedikit. Berbeda dengan hubung paralel jika beban ditambah daya yang dibutuhkan akan semakin besar dan perputaran akan semakin cepat sehingga energi yang dibutuhkan semakin besar. Kesimpulannya untuk memperkecil pengeluaran energi hubung seri lebih tepat untuk dipakai. - Pada percobaan 1 (dengan KWHMeter) dengan percobaan 2 (dengan Wattmeter) hasil pengukuran daya tidak berbeda jauh hanya pada KWHMeter kita dapat mengetahui penggunaan Energi dengan melihat perioda piringan. - Kesalahan pengukuran dan perhitungan cukup besar hal ini disebabkan adanya pengaruh frekuensi dan adanya temperatur mempengaruhi impedansinya. IX. Kesimpulan - Prinsip kerja alat ukur induksi adalah memanfaatkan momen gerak untuk memutar piringan yang ditimbulkan oleh suatu fluks magnit dan arus bolak-balik. - Alat ukur induksi dibagi 2 yaitu tipe feraris dan shaded pole. Secara fisik tipe feraris memiliki 2 pasang kumparan dan tipe shaded pole memakai piringan dab satu kumparan yang memiliki fluks magnit. - Prinsip kerja Wattmeter dan KWHMeter induksi sama, perbedaannya adalah letak ada atau tidaknya momen lawan. KWHMeter tidak luar yang dapat

25

menggunakan pegas sebagai momen lawan sehingga piringan akan terus berputar. Jumlah putaran tersebut akan menunukkan energi yang diukur. - Ada beberapa cara pengukuran daya dengan menggunakan alat ukur induksi yaitu: 1. Untuk pengukuran daya dapat menggunakan wattmeter atau metoda 3 Voltmeter dan 3 Amperemeter. 2. Untuk Pengukuran daya tiga fasa dapat menggunakan metoda Aron Hubung bintang dan metoda Aron Hubung Delta.
X.

Daftar Pustaka Modul praktikum II-A, Laboratorium Teknik Energi Elektrik, Jurusan Teknik Elektro, ITENAS, 2007.

26

TUGAS TAMBAHAN

1. Kwh meter
Kwh meter adalah suatu instrumen untuk mengukur energi. Selama energi dihasilkan oleh daya dan waktu, Khw meter harus mempertimbangkan dengan seksama kedua faktor tersebut. Pada prinsipnya, Kwh meter adalah suatu motor kecil dimana kecepatan spontannya sebanding dengan DAYA yang melaluinya. Total putaran per waktu adalah sebanding dengan total ENERGI yang dikonsumsi selama jangka waktu tertentu. Petunjuk berikut harus diikuti ketika membaca lempeng jam pada suatu Kwh meter. Kwh meter pada gambar 3 mempunyai 4 lempeng jam. Jarum penunjuk pada lempeng jam sebelah kanan (gambar 3) menyatakan 1 kilowatt-jam atau 1,000 wattjam, untuk masing-masing divisi lempeng jam. Setelah lempeng jam paling sebelah kanan menempuh satu putaran penuh, maka lempeng jam yang kedua menunjukkan sebanyak berapa kali lempengan jam pertama melakukan putaran penuh, Jarum penunjuk pada lempeng jam kedua bergerak sebanyak 1 divisi dan menunjukkan 10 kilowattjam, atau 10,000 wattjam. Setelah lempeng jam kedua menempuh satu putaran penuh, maka lempeng jam ketiga akan bergerak sebanyak 1 divisi dan menunjukkan 100 kilowatt-jam atau 100,000 wattjam, dan seterusnya.

27

Gambar 3. Kwh meter

Jenis KWHMeter

1. Single phase watt hour meter (DD28) Description for DD28 Application DD28 single-phase watt-hour meter is a kind of induction meter, which is applicable to measure the rated frequency 50Hz and power loss in electrified wire netting. All technical targets are completely conformed to National Standard GB/T15283-94 and International Standard IEC521. Structure and features The meter has separable electromagnet and the bearing has four kinds; singlejewel, dual jewel, magnetic thrust and magnetic floating. The case has three kinds;

28

aluminum, plastic and glass. The die-casting frame is alloy aluminum with excellent mechanical strength.

Meter Box

Description: 1) Waterproof and dust-free product which gets through strict quality inspections 2) Proved quality in many related tests (IP 66) 3) Convenient to use for console-alternative rail and button box, mini terminal, signal box, gauge/meter console, and communication connection box 4) Temperature range: -40 ~ +80C 5) ABS: acrylonitrile butadiene styrene 6) PC: polycarbonate 7) 1/4 weight of metal box enables easy carry and efficient work 8) No corrosion and superior insulation

Single Phase Din Rail Kwh Meter (SY1018)

Product Description: Type SY1018 single phase DIN watt-hour meter is a kind of new style single phase electronic watt-hour meter, the meter completely accord with relevant technical requirements of class 1 and class 2 single phase energy meter stipulated in National standard GB/T17215-2002 and international standard IEC61036. It can accurately and directly measure active energy consumption from single phase AC electricity net. It can display total energy consumption by step type impulse register or LCD display. It has following features: Good reliability, small volume, light weight, specious nice appearance, convenient installation, etc. Product Feature: 1. 35mm standard DIN rail installation, complying with standard DIN EN5002.

29

2. May select 5+1 digits register by step type or 7 digits LCD display. 3. Impulse output when no power, complying with standard DIN43864. 4. May select normal or simple connection. Specification: Model: SY1018 Accuracy: Class 1, Class 2 Rated voltage: 220V Rated current: 2.5(10)A, 3(15)A, 5(30)A, 5(40)A, 10(50)A, 15(90)A, 20(100)A Starting Current: 0.4%Ib, 0.5%Ib Insulation Performance: AC voltage 2kV for 1 minute, Impulse voltage 6kV Description for Single phase electronic watt hour meter

APPLICATION DDS228 meter applies to the working conditions of power electricity metering of 50Hz or 60Hz frequencieys, the 10~+50 environmental temperature and the humidity not more than 85%. STRUCTUTAL FEATURES AND WORKING PRINCIPLE This electric meter adopts micro-electronic technology to meter the power.It gets the voltage sampling signals from the voltage divider and gets the current signals from the current divider,then gets the current & voltage signals from the multiplier and through frequency conversion produce a counting pulse in which the frequency is in direct ratio with the voltage current.Then the counter is driven by frequency dividing stepping motor to meter the power. SPECIFICATIONS & MODELS 220V 1.5(6)A,2.5(10)A,5(20)A,10(40)A,15(60)A,20(80)A 240V 300V 5(30)A,10(60)A

30

Three Phase DIN rail Energy Meter (SY1040)

Description: Type SY1040 three phase DIN rail watt-hour meter is a kind of new style three phase electronic watt-hour meter, the meter completely accord with relevant technical requirements of class 1 and class 2 single phase energy meter stipulated in National standard GB/T17215-2002 and international standard IEC61036. it can accurately and directly measure active energy consumption three phase AC electricity net, it can display total energy consumption by step type impulse register or LCD display. It has following features: Good reliability, small volume, light weight, specious nice appearance, convenient installation, etc. Feature: 1. May 35mm DIN rail installation and installation on the board. 2. May 5+1 digits register by step type or 7 digits LCD display. 3. Impulse output when no power, complying with standard DIN43864. Specification: Accuracy: Class 1, Class 2 Rate Voltage: 3X100V, 3X380V, 3X57.7/100V, 3X220/380V Rate Current: 1.5(6)A, 3(6)A, 5(30)A, 10(50)A, 15(90)A, 20(100)A Three phase multi rate watt hour meter

APPLICATION DTSF866 type electronic multi-rate electric energy meter is a new generation product that is developed by our company by adopting the suggestions of experts & vast users and bringing in overseas new technology.This meter has 4 kinds of fee calculation,10 time phases, palm computer infrared programme readmeter.RS485 communication joint exchangeable function, this product meets the standards of GB/T5284-2002 and DT/T645-1997,and is an ideal measuring meter for modern electric energy measurement and management in electric power departments.

31

MAIN CHARACTERISTICS 1.Select the connection design and element that meet the industrial standard,so may ensure the machine working long and stable. 2.High integration degree,simple peripheral circuit,reasonable layout,small volume,light weight, convenient installation 3.Adopts SMT process,strong anti-jamming,wide work scope FUNDAMENTAL FUNCTIONS 1.The measurement of 4-rate electric energy and total electric energy 2.May store 3 months max requirement of positive direction of total active power. 3.Cycle display,total,peak,apex,level,valley,electric voltage,time,date etc. 4.RS-485 communication 5.Palm computer infrared programme and read-meter

32

LAPORAN MODUL II - 3 ALAT UKUR INDUKSI (AUI)

KELOMPOK NAMA/NRP

: 10 : 1. FEBRIANTO D.A. (11-2005-040) 2. ARIEF P (11-2005-042) 3. RAYNALDI (11-2005-046)

TGL. PERCOBAAN ASISTEN

: 17 APRIL 2007 : AGUS HENDRA

LABORATORIUM DASAR TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL BANDUNG 2007

33