Anda di halaman 1dari 61

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perkembangan rumah sakit di Indonesia yang terus meningkat seiring dengan peningkatan tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang berkualitas. Untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat, rumah sakit memerlukan peningkatan kualitas pelayanan, agar masyarakat tertarik untuk menggunakan jasa rumah sakit tersebut. Selain faktor eksternal,diperlukan juga perhatian khusus terhadap faktor internal rumah sakit. Faktor internal bertujuan memacu kemajuan rumah sakit. Faktor internal rumah sakit merupakan bagian dari manajemen rumah sakit. Untuk kepentingan manajemen, rumah sakit harus mendapatkan seluruh informasi yang tepat dan akurat mengenai seluruh data dan kejadian yang dilakukan dalam seluruh kegiatan di rumah sakit. Untuk mewujudkan informasi atas segala kegiatan rumah sakit diperlukan alat bantu berupa sistem informasi rumah sakit yang terpadu (tidak parsial atau per bagian) agar semua kegiatan dapat termonitor dengan baik (Medifirst,2000). Sistem informasi pada dasarnya merupakan sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu (Handoyo,2008). Komponen tersebut terintegrasi dan menghasilkan sebuah informasi yang akan dibutuhkan oleh pihak manajemen rumah sakit dalam peningkatan kualitas pelayanan. Menurut Tantos 2009, secara global, SIMRS yang ideal tentu dapat mengurangi beban kerja masing-masing unit pelayanan. Manfaat dari sebuah sistem informasi antara lain: 1). Dapat mengurangi beban kerja sub-bagian rekam medis dalam menangani berkas rekam medis. Sub-bagian rekam medis memang sub-bagian yang paling direpotkan dengan berkas rekam medis. Dari coding, indexing, assembling, filing dan ing-ing yang lain (maaf, sudah lupa) semua dihandle oleh sub-bagian ini. Dengan adanya sebuah sistem informasi, seharusnya paling tidak dapat menggantikan fungsi koding pada sub-bagian rekam medis.

Sebagian besar rumah sakit di indonesia, masih menggunakan petugas rekam medis ataupun kurir dalam mendistribusikan berkas ke masingmasing pelayanan. Beberapa rumah sakit sudah menggunakan teknologi lift sebagai sarana transportasi berkas ke pelayanan-pelayanan ataupun kembali ke tempat penyimpanan (filing). 2) Dapat mengurangi pemakaian kertas (paperless). Pemakaian kertas masih belum dapat dihilangkan di Indonesia saat ini, karena data medis sangat rentan dengan hukum dan budaya pemakaian kertas masih melekat pada masyarakat Indonesia. Dengan sistem yang terkomputerisasi, pemakaian kertas yang bisa dipangkas antara lain : Lembar-lembar rekam medis yang tidak berhubungan dengan masalah autentikasi atau aspek hukum. Laporan masing-masing unit pelayanan (karena semua laporan sudah terekap oleh sistem). Rekap Laporan (RL) 1 6 yang dikirim ke dinas kesehatan. 3) Dapat berkomunikasi dengan sistem lain pada pelayanan kesehatan lain Aplikasi SIMRS sangat berguna pada kasus rujukan, untuk seluruh pelayanan kesehatan di rumah sakit sendiri atau luar rumah sakit. Dalam sistem manual, prosedur rujukan adalah dengan mengirimkan kopian lembar resume medis pasien, dan membawa 1 atau 2 perawat yang mengantarkannya. Kesulitan dalam mengaplikasikan sistem ini adalah tidak adanya standard sistem informasi rumah sakit di Indonesia. Masingmasing rumah sakit dengan meluncurkan sistem mereka yang menurut mereka vendor paling bagus, namun hal ini mengakibatkan tidak adanya komunikasi antar vendor dan tidak adanya kesepakatan penanganan pelayanan kesehatan. Hal ini seharusnya menjadi pekerjaan bagi pemerintah untuk mengeluarkan prosedur standard sistem informasi rumah sakit sehingga antar rumah sakit memiliki prosedur yang sama. Manfaat manfaat diatas merupakan beberapa hal penting yang dapat dipertimbangkan rumah sakit untuk mengimplementasikan SIMRS. Pembangunan kesehatan Kabupaten Probolinggo diarahkan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat dan terwujudnya masyarakat Probolinggo yang sehat tahun 2010. RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo

merupakan unsur penunjang pemerintah kabupaten di bidang kesehatan yang bertugas mewujudkan hal tersebut. RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merupakan rumah sakit tipe C dengan luas tanah sebesar 3500 m2 dan kapasitas 161 tempat tidur serta 10 pelayanan poli rawat jalan. RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merintis pelaksanaan sistem informasi berbasis komputer sejak januari tahun 2002 yang bekerja sama dengan pihak Universitas Brawijaya. Dikarenakan pihak manajerial lebih membutuhkan data yang semakin akurat dan mudah diakses dimanapun dan kapanpun, maka pada tahun 2009 dilakukan pergantian vendor SIMRS. Aplikasi SIMRS dan perangkat yang baru, sudah dipasang serta disosialisasikan ke unit ruangan yaitu loket, RM (Rekam Medik), UGD (Unit Gawat Darurat), Radiologi, Elektromedik, Apotik, Laboratorium, Instalasi Rawat Inap, dan hanya poli mata untuk Intalasi Rawat Jalan, serta kasir, namun dalam pelaksanaan proses aplikasi SIMRS tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat dilihat dari petugas kesehatan yang masih menggunakan kwitansi pembayaran untuk melakukan tagihan kepada pasien, petugas yang masih belum mengentry data secara tepat waktu, petugas yang masih melakukan double entry, bahkan beberapa komputer tidak mengaplikasikan SIMRS hanya dipergunakan untuk membuat laporan. Sebagian besar masalah yang timbul banyak dikarenakan perilaku user SIMRS. TAM (Technology Acceptance Model) dapat mempelajari perilaku user dalam kesiapam menerima teknologi baru. TAM merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan oleh user yang terdiri dari lima konstruk utama yaitu kegunaan persepsian (perceived usefulness), kemudahan penggunaan persepsian (perceived easy of use), sikap terhadap perilaku (attitude towards) atau sikap menggunakan teknologi (attitude towards using technology), minat perilaku (behavioral intention) atau minat perilaku menggunakan teknologi (behavioral intention to use) dan perilaku (behavior) atau penggunaan teknologi sesungguhnya (actual system use)(Prof Jogiyanto HM,2007).

1.2 Ringkasan Identifikasi Masalah Berdasar survei pendahuluan yang saya lakukan, permasalahan utama RSUD Waluyo Jati Kraksaan secara global adalah SIMRS tidak berjalan, sumber daya manusia kurang dari segi kualitas maupun kuantitas, pelayanan lama, penurunan kunjungan rawat inap pada tahun 2009 sebesar 15,71% dan pihak manajemen sulit untuk mendapat informasi dalam hal pengambilan keputusan di rumah sakit. Dari permasalahan secara global tersebut dilakukan skoring masalah dan hasilnya prioritas masalah adalah SIMRS tidak berjalan. Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merintis pelaksanaan sistem informasi berbasis komputer sejak januari tahun semakin akurat 2002 yang bekerja sama dengan pihak Universitas dimanapun dan kapanpun untuk Brawijaya. Dikarenakan pihak manajerial rumah sakit membutuhkan data yang dan mudah diakses meningkatkan kualitas pelayanan sehingga menimbulkan kepuasan bagi konsumen, maka pada tahun 2009 dilakukan pergantian vendor SIMRS. Namun dalam implementasi SIMRS terdapat berbagai kendala yang ditemukan sehingga implementasi ini tidak berjalan dengan baik. Hal ini didukung pula oleh petugas pemelihara system /server SIMRS yang loyal meninggal 2 bulan lalu, sehingga aplikasi SIMRS sempat terhenti. Berdasar survei pendahuluan yang saya lakukan, untuk aplikasi SIMRS di bagian loket sudah berjalan dengan baik, namun terkadang harus melakukan double entry dikarenakan software yang rumit dan minat petugas dalam menggunakan komputer kurang. Aplikasi SIMRS di RM juga tidak berjalan sama sekali dikarenakan minat menggunakan komputer kurang dan masih terbiasa dengan kertas. Aplikasi SIMRS di UGD tidak dapat berjalan dengan baik karena petugas tidak dapat mengentrykan data secara tepat waktu. Hal ini terjadi akibat petugas UGD sendiri terkadang kewalahan dengan pelayanan yang harus diberikan kepada pasien gawat darurat, sementara dalam 1 shift hanya terdapat 4 orang perawat dan 1 orang dokter. Selain itu, budaya user untuk menggunakan komputer masih kurang. Aplikasi SIMRS di bagian apotik sudah dilakukan oleh petugas namun terdapat kendala yaitu user guide tidak sesuai dengan aplikasi program. Aplikasi SIMRS di laboratorium belum berjalan dengan baik karena user merasa penggunaan SIMRS rumit. Untuk aplikasi SIMRS di kasir masih belum menggunakan SIMRS yang baru, masih menggunakan SIMRS lama,

karena user merasa SIMRS baru rumit. Untuk aplikasi SIMRS di Instalasi Rawat Inap di ruang utama dan tengger sudah berjalan dengan baik. Namun pada ruang instalasi rawat inap selain ruang utama dan tengger belum berjalan dengan baik dikarenakan terlambatnya entry data akibat penumpukan pasien. Selain itu, user juga merasa .penggunaan SIMRS rumit serta budaya penggunaan komputer juga masih kurang Dari hasil tersebut dilakukan identifikasi penyebab masalah dari SIMRS tidak berjalan menggunakan fishbone yang ditiinjau dari 4 (empat) sudut pandang yaitu man (tenaga ahli kurang, pengetahuan tentang pentingnya penggunaan SIMRS, ketertiban entry dan mutasi data SIMRS), methode (SOP SIMRS tidak ada, buku manual SIMRS tidak sesuai, pelatihan SIMRS kurang intensif), material (kurangnya sarana prasarana, software tidak sesuai dengan pelayanan RS, sering terjadi gangguan jaringan, software kurang user friendly). dan environtment (jumlah pasien banyak, ruangan terlalu sempit). Rencana alternatif solusi untuk masalah tersebut yaitu penambahan tenaga ahli, pertemuan rutin mengingat pentingnya penggunaan SIMRS, sistem reward and punishment, analisa TAM, pembuatan SOP SIMRS, perbaikan buku manual SIMRS, pelatihan SIMRS secara intensif, penambahan sarana prasarana, perbaikan jaringan dan hardware dan perbaikan atau penggantian software. Analisa masalah tersebut dilakukan skoring sehingga solusi dititik beratkan pada analisa TAM, perbaikan/penggantian software, penambahan tenaga ahli, penambahan sarana prasarana, sistem reward and punishment, pelatihan SIMRS secara rutin, dan pertemuan rutin mengingat pentingnya penggunaan SIMRS. Dengan pelaksanaan beberapa alternatif solusi tersebut diharapkan rumah sakit menggunakan SIMRS secara lebih optimal dan mendapat data yang akurat serta membantu dalam pengambilan keputusan oleh tim eksekutif. Pelaksanaan proyek magang dilakukan untuk lebih menganalisa masalah, penyebab masalah dan solusi yang perlu diterapkan di RSUD Waluyo Jati dalam implementasi SIMRS serta lebih difokuskan pada kesiapan user dan pihak manajerial dalam mengatasi permasalahan permasalahan yang muncul.

1. 3 Tujuan Proyek Magang Tujuan dari proyek magang ini adalah untuk menganalisa kesiapan user SIMRS dalam implementasi SIMRS dengan penerapan TAM (Technology Acceptance Model) dan juga menganalisa solusi permasalahan dari sudut aspek sudut pandang manajerial yang lain. 1.4 Output Proyek Magang Output proyek magang berupa saran bagi user dan rumah sakit dalam kesiapan implementasi SIMRS dari berbagai sudut pandang manajerial agar SIMRS dapat berjalan dengan baik.

BAB 2 PELAKSANAAN MAGANG 2.1 Studi pendahuluan Sebelum diadakan proyek magang di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo saya melakukan survei pendahuluan terhadap rencana pelaksanaan magang yang akan dilakukan. Beberapa masalah ditemukan dalam survei pendahuluan ini saya mencoba menganalisa dengan mengidentifikasi penyebab masalah serta perkiraan alternatif solusi yang mungkin akan diterapkan. 2.1.1 Permasalahan Berikut daftar permasalahan yang ditemukan selama diadakan survei pendahuluan: Main Problem
SIMRS tidak berjalan

Potential Cause
SDM ahli kurang Software kurang user friendly Perilaku user Sarana prasarana kurang Pelatihan kurang intensif Minat menjadi pegawai rumah sakit kurang Tenaga ahli kurang Gaji tenaga kontrak rendah Tenaga ahli jarang ditempat Sistem administrasi masih manual SDM kurang Rumah sakit swasta pesaing Pelayanan lama SIMRS tidak berjalan Mutasi pegawai

Root Cause
Kesiapan user

SDM kurang

Gaji kurang

Pelayanan lama

Administrasi manual Pelayanan lama SIMRS tidak berjalan

Penurunan BOR Pihak eksekutif rumah sakit sulit mendapat informasi dalam pengambilan keputusan dan pembuatan laporan

Tabel 1. Daftar permasalahan global

2.1.2 Identifikasi Masalah Berikut tabel identifikasi masalah dengan metode skoring untuk mendapatkan prioritas masalah dari daftar permasalahan secara global di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo:
Main Problem Potential Cause Root Cause Dampak Negatif SIMRS tidak berjalan SDM ahli kurang Software kurang user friendly Ketertiban entry&mutasi data Sarana prasarana kurang Pelatihan kurang intensif Minat menjadi pegawai rumah sakit kurang Tenaga ahli kurang Gaji tenaga kontrak rendah Tenaga ahli jarang ditempat Sistem administrasi masih manual SDM kurang Rumah sakit swasta pesaing Pelayanan lama SIMRS tidak berjalan Mutasi pegawai Kesiapan user 4 3 5 5 4 3 5 2 4 3 4 2 3 4 1 Skoring Berat ringannya masalah 5 3 4 3 5 4 3 3 3 4 3 3 3 5 3 Severity Keuntungan jika masalah diselesaikan 4 3 4 3 4 3 4 2 3 5 3 1 4 5 1

SDM kurang

Gaji kurang

13 9 13 11 13 10 12 7 10 13 10 6 10 14 5

Pelayanan lama

Administrasi manual Pelayanan lama SIMRS tidak berjalan

Penurunan BOR Pihak eksekutif rumah sakit sulit mendapat informasi dalam pengambilan keputusan dan pembuatan laporan Tabel 2. Identifikasi masalah

Ket:

Dampak negatif Berat ringannya masalah Keuntungan jika masalah diselesaikan

: skor 1 - 5 (tidak terlalu buruk sampai sangat buruk) : skor 1 5 (sangat ringan sampai sangat berat) : skor 1- 5 (tidak menguntungkan sampai sangat menguntungkan)

Berdasar skor pemilihan masalah diatas, prioritas masalah dalam proyek magang ini adalah SIMRS tidak berjalan.

2.1.3 Identifikasi Penyebab Masalah

Tenaga ahli kurang Pengetahuan tentang pentingnya penggunaan SIMRS Ketertiban entry dan mutasi data SIMRS

Jumlah pasien banyak Software tidak sesuai dengan pelayanan RS

Gambar 1. Diagram fishbone identifikasi penyebab masalah

2.1.4 Alternatif Solusi

Pertemuan rutin mengingat pentingnya SIMRS

Gambar 2. Diagram fishbone alternatif solusi masalah

2.1.5 Solusi Terpilih


Solusi Dampak Positif Man - Penambahan tenaga ahli - Pertemuan rutin mengingat pentingnya penggunaan SIMRS - Sistem reward and punishment - Analisa TAM Methode - pembuatan SOP SIMRS - perbaikan buku manual user - pelatihan SIMRS secara intensif Material - penambahan sarana prasarana - perbaikan jaringan dan hardware - perbaikan / penggantian software Environment - perluasan ruangan
Tabel 3. Solusi terpilih berdasar skoring

Skoring Berat Ringannya Solusi 5 4 4 5 4 3 4 5 3 5 Finansial

Kelayakan Solusi

4 5 5 5 3 2 5 3 5 5

5 5 5 4 3 2 5 5 4 5

14 14 14 14 10 7 14 13 12 15

10

Dari penilaian kelayakan solusi diatas, maka deskripsi solusi terpilih dititik beratkan pada hal tersebut dibawah ini: -

Analisa TAM Perbaikan / penggantian software Penambahan tenaga ahli Penambahan sarana prasarana Sistem reward and punishment Pelatihan SIMRS secara intensif Pertemuan rutin mengingat pentingnya penggunaan SIMRS

2.1.6 Gambaran Solusi Terpilih

a. Analisa TAM Analisa TAM dipilih sebagai alternatif utama dikarenakan asumsi bahwa pemberlakuan sistem informasi membutuhkan kesiapan kognitif dan sikap dari user. Pada masa transisi manual dan pelaksanaan SIMRS terdapat perubahan sudut pandang dan juga hambatan yang terjadi pada internal user. TAM merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan oleh user yang terdiri dari lima konstruk utama yaitu kegunaan persepsian (perceived usefulness), kemudahan penggunaan persepsian (perceived easy of use), sikap terhadap perilaku (attitude towards) atau sikap menggunakan teknologi (attitude towards using technology), minat perilaku (behavioral intention) atau minat perilaku menggunakan teknologi (behavioral intention to use) dan perilaku (behavior) atau penggunaan teknologi sesungguhnya (actual system use) Analisa TAM diperlukan untuk mengetahui kesiapan rumah sakit terutama user dalam implementasi SIMRS, mencakup perilaku user. Analisa TAM ditujukan untuk seluruh user SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. b. Tenaga ahli Penambahan tenaga ahli di bidang teknologi informasi (TI) terutama dengan latar belakang pendidikan informatika sangat diperlukan dalam menjalankan SIMRS. Dengan adanya tenaga ahli, dapat bertugas membantu tim IT RS sehingga permasalahan yang timbul dalam implementasi SIMRS dapat segera diselesaikan dengan cepat. c. Pertemuan rutin mengingat pentingnya penggunaan SIMRS Pertemuan rutin dapat menjadi media pengingat bahwa SIMRS sangat penting kegunaannya baik bagi user maupun kecepatan pelayanan. Selain itu, dengan adanya pertemuan rutin, masalahmasalah yang timbul sehubungan dengan interaksi antar unit dapat terpecahkan.

d. Sistem reward and punishment

Sistem ini diperlukan guna mencapai kepuasan kerja karyawan dan dapat mendisiplinkan karyawan yang perilakunya menghambat implementasi SIMRS. e. Pelatihan SIMRS secara intensif Dalam proses belajar dan bukan dengan latar belakang TI, karyawan rumah sakit terutama user memerlukan pelatihan secara intensif guna mengetahui apa yang menghambat para karyawan dalam implementasi SIMRS. Selain user pelatihan juga diberikan kepada seluruh karyawan baik paramedis dan non paramedis, sehingga diharapkan meskipun user tidak berada ditempat, karyawan lain dapat mengentry data.

2.1.7 Jadwal dan Tahapan Rencana Pelaksanaan Proyek Magang Dari hasil survei pendahuluan yang saya lakukan, rencana tahapan pelaksanaan magang di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo adalah sebagai berikut:
Tahapan Mengumpulkan data sekunder Mengumpulkan data implementasi TAM Tujuan Memperoleh data sekunder (jumlah komputer dan user) Memperoleh data primer tentang model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan user (TAM) dalam menerima SIMRS Metode Menghitung jumlah komputer dan user tiap unit ruangan Pembagian kuesioner ke masingmasing ruangan Instrumen dan Sumber data Observasi Kuesioner, wawancara sumber data dari user SIMRS Output
1

Waktu (Minggu)
2 3 4

Analisa dan pengolahan data Implementasi TAM Menyusun laporan

Memperoleh kesimpulan dari penerapan TAM

Penghitungan data dengan statistik

Hasil kuesioner

Data jumlah komputer dan user tiap unit ruangan Data primer tentang model perilaku user (TAM) dalam 5 konstruk yaitu kegunaan persepsian, kemudahan penggunaan persepsian, sikap terhadap perilaku, minat perilaku, perilaku Kesimpulan penerapan TAM dan saran bagi rumah sakit dalam implementasi SIMRS

Tabel 4. Jadwal dan tahapan rencana pelaksanaan proyek magang

2.2 Pelaksanaan Proyek Magang Berikut pelaksanaan proyek magang yang saya lakukan, terdapat perbedaan dengan rencana proyek magang yang telah saya susun, sehubungan dengan berbagai kendala yang muncul. 2.2.1 Tahapan Pelaksanaan Proyek Magang
Tahapan Studi pendahuluan dan pembuatan proposal magang Persiapan presentasi awal Presentasi awal Tujuan Mengetahui menemukan permasalahan garis besar penyebab permasalahan dan secara serta Metode Observasi Wawancara dan Instrumen dan Sumber data Observasi dan wawancara Output
1

Waktu (Minggu)
2 3 4 5

Proposal magang

proyek

Perkenalan tentang acara proyek magang tentang SIMRS

Konsultasi dengan user, pihak manajemen, dosen pembimbing lapangan, dosen pembimbing akademik

Wawancara

Presentasi magang

awal

Mengumpulkan data sekunder Mengumpulkan data implementasi TAM

Memperoleh data sekunder (jumlah komputer dan user) Memperoleh data primer tentang model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan user (TAM) dalam menerima

Laporan Tahunan Rumah Sakit Pembagian kuesioner ke masingmasing ruangan Kuesioner, wawancara, dokumentasi sumber data dari user SIMRS

Data jumlah komputer dan user tiap unit ruangan Data primer tentang model perilaku user (TAM) dalam 5 konstruk yaitu kegunaan persepsian, kemudahan

SIMRS

Analisa dan pengolahan data Implementasi TAM Diskusi hasil

Memperoleh kesimpulan dari penerapan TAM Mengetahui respon pihak manajemen dan pihak terkait SIMRS tentang hasil penelitian

Penghitungan data dengan statistik Diskusi

Hasil kuesioner

penggunaan persepsian, sikap terhadap perilaku, minat perilaku, perilaku Kesimpulan hasil penelitian Kesimpulan dan saran tentang hasil penelitian penerapan TAM dan saran bagi rumah sakit dalam implementasi SIMRS Saran bagi rumah sakit dalam implementasi SIMRS

Hasil olah data

Menyusun laporan
Tabel 5. Tahapan pelaksanaan proyek magang

Format laporan akhir magang

2.2.2 Pengambilan Data Primer Dalam proyek magang ini dilakukan penelitian dalam rangka pengambilan data primer untuk kemudahan menganalisa kesiapan user SIMRS dalam implementasi SIMRS dengan penerapan TAM (Technology Acceptance Model) dan juga menganalisa solusi permasalahan dari sudut aspek sudut pandang manajerial yang lain. 2.2.2.1 Jenis Penelitian Proyek Magang Jenis penelitian yang dilakukan dalam proses magang ini adalah penelitian ekspalanatory survei. 2.2.2.2 Sampel dan Populasi Penelitian Proyek Magang Sampel penelitian adalah seluruh user di tiap unit di RSUD Waluyo Jati yang sudah terpasang perangkat software SIMRS. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan baik paramedis dan nonparamedis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 2.2.2.3 Cara pengambilan Data Cara pengambilan data penelitian proyek magang sebagai berikut: 1. Kuesioner Responden diminta mengemukakan pendapatnya dengan menjawab pertanyaan tentang variabel yang diteliti, baik berupa pertanyaan tertutup maupun pertanyaan terbuka. 2. Wawancara Wawancara dilakukan dengan mengemukakan beberapa pertanyaan pada sejumlah kecil responden, dimana tujuannya untuk melengkapi data. 3. Dokumentasi Hasil wawancara disimpan dalam bentuk tulisan dan rekaman. 2.2.2.4 Definisi Operasional dan Variabel Penelitian Proyek Magang 1. Kegunaan persepsian (perceived usefullness) Kegunaan persepsian (perceived usefullness) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerjanya.

Variabel yang digunakan adalah:


-

SIMRS bermanfaat untuk tugas user SIMRS memudahklan pekerjaan user SIMRS mempercepat pekerjaan user Kemudahan penggunaan persepsian (Perceived Easy of Use)

2. Kemudahan penggunaan persepsian (Percerived Easy of Use) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan teknologi akan bebas dari usaha. Variabel yang digunakan adalah: SIMRS mudah dipelajari SIMRS mudah dioperasikan SIMRS bisa membuat seseorang lebih mahir Sikap terhadap perilaku pengguna didefinisikan oleh Davis et al (1989) sebagai perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang ditentukan. Variabel yang digunakan adalah:
-

3. Sikap pengguna (Attitude Towards)

Sikap menerima implementasi SIMRS karena bermanfaat untuk user Sikap menerima implementasi SIMRS karena memperingan tugas user Sikap menerima implementasi SIMRS karena mudah dipelajari Sikap menolak implementasi SIMRS karena menambah beban pekerjaan Sikap menolak implementasi SIMRS karena sulit dioperasikan Sikap menolak implementasi SIMRS karena tidak bisa mengoperasikan komputer

4. Minat perilaku (Behavioral Intention to Use) Minat perilaku (Behavioral Intention to Use) adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Variabel yang digunakan adalah:
-

User merasa tidak mampu menguasai SIMRS User akan memakai dan mengembangkan pemakaian SIMRS User akan selalu menggunakan SIMRS di masa akan datang User menyarankan rekan kerjanya untuk mengimplementasikan SIMRS User menyampaikan hal-hal positif tentang penggunaan SIMRS ke rekan kerjanya

5. Kenyataan perilaku implementasi SIMRS (Actual system use) Kenyataan perilaku implementasi SIMRS (Actual system use) adalah tindakan yang dilakukan seseorang dalam penggunaan sesungguhnya sebuah teknologi. Variabel yang digunakan adalah:
-

User selalu menggunakan SIMRS saat bekerja User selalu mendalami, mengembangkan kemampuan teknis dan mempelajari SIMRS User merasa puas dapat menggunakan SIMRS User merasa puas menggunakan SIMRS User tidak menggunakan SIMRS karena unit lain tidak menggunakan

2.2.2.5 Metode Analisis Data Untuk menyimpulkan tujuan penelitian, data diolah secara deskriptif. Analisa deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran responden, meliputi jenis kelamin, umur, profesi, pendidikan, rata-rata penggunaan komputer, dan kebiasaan aplikasi komputer yang sering dipakai di rumah sakit. Selain itu, juga mengetahui gambaran dari konstruk TAM yaitu kegunaan persepsian (perceived usefullness), kemudahan penggunaan persepsian (Percerived of Use), sikap terhadap perilaku pengguna (Attitude Towards), minat perilaku (Behavioral Intention), dan kenyataan perilaku implementasi SIMRS (Actual system use) berdasarkan distribusi frekuensi pada masing-masing variabel. 2.3 Kendala dan Perubahan Rencana Proyek Magang Kendala yang dihadapi selama proses magang berlangsung adalah pada saat proses pembagian kuesioner, banyak user yang sedang tidak pada unitnya, misal ada Latihan Pra Jabatan (Prajab PNS), sehingga terdapat perubahan rencana proyek magang dimana semula pengumpulan data primer berupa kuesioner diperpanjang menjadi 2 minggu.

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Profil RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merupakan rumah sakit tipe C berdasarkan SK MENKES No. 105/MENKES/SK/II/1988 dan instruksi Gubernur No. 26 tahun 1983. RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo dengan luas tanah sebesar 3500 m2 dan kapasitas 161 TT (tempat tidur), 10 pelayanan poli rawat jalan., Instalasi Gawat Darurat (IGD), Instalasi Bedah Sentral (OK), dan Instalasi Perawatan Intensif (ICU). Instalasi rawat inap dengan rincian ruang paviliun tengger 8 TT, ruang utama 18 TT, ruang kebidanan 22 TT, ruang perinatologi 19 TT, ruang bedah 30 TT, ruang anak 23 TT, ruang dalam 32 TT, dan ruang ICU 9 TT. Instalasi rawat jalan meliputi poli kebidanan dan kandungan, poli kesehatan anak, poli penyakit THT, poli penyakit bedah, poli kesehatan umum, poli mata, poli gigi dan mulut, poli penyakit dalam, poli gizi, dan poli syaraf. Selain pelayanan medis juga terdapat pelayanan penunjang medis dan non medis antara lain; Instalasi Radiologi, Instalasi Farmasi, Instalasi Gizi, Instalasi laboratorium, Fisioterapi, Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS), Rekam Medis, Laundry, Cleaning Service, Satuan Pengamanan (Satpam), dan ambulance. 3.1.1 Visi RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Visi RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo yaitu mewujudkan rumah sakit yang bermutu dan profesional yang dipilih oleh masyarakat. 3.1.2 Misi RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Misi RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo yaitu melakukan pelayanan prima dan menjadikan RSUD Waluyo Jati Kraksaan menjadi Badan Layanan Umum (BLU). 3.1.3 Tujuan RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Tujuan RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo yaitu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara merata kepada masyarakat; terselenggaranya pelayanan medis, penunjang medis dan non medis; terselenggaranya pelayanan

keperawatan dan asuhan keperawatan secara profesional; terselenggaranya diklat litbang, terselenggaranya adminstrasi umum dan keuangan secara profesional; serta meningkatnya retribusi rumah sakit. 3.1.4 Sasaran RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Sasaran RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo yaitu; meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara merata kepada masyarakat; terselenggaranya pelayanan medis, penunjang medis dan non medis; terselenggaranya pelayanan keperawatan dan asuhan keperawatan secara profesional; terselenggaranya diklat dan litbang; terselenggaranya administrasi umum dan keuangan secara profesional; dan meningkatnya retribusi rumah sakit. 3.1.5 Rencana Strategis RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Rencana strategi RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo untuk menuju visi, misi dan tujuan rumah sakit yaitu: 1. Meningkatkan kualitas pelayanan medis, penunjang medis maupun non medis Yang dimaksud kualitas pelayanan medis (seperti diagnosa, pengobatan, dan lain-lain), penunjang medis (seperti radiologi, fisioterapi, laboratorium, apotik, dan lain-lain). Maupun kualitas pelayanan (seperti kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, diharapkan : a. Tingkat kepercayaan pelanggan makin meningkat b. Kunjungan ke rumah sakit meningkat c. Pendapatan rumah sakit makin meningkat Dengan tersedianya biaya operasional maka peningkatan kualitas makin dapat ditingkatkan. Dengan demikian akan terjadi lingkaran saling ketergantungan dan saling berpengaruh. Masyarakat akan memilih instansi pelayanan kesehatan dengan melihat kualitas pelayanan terlebih dahulu. Oleh karena itu, strategi peningkatan kualitas pelayanan harus diletakkan sebagai strategi yang pertama dan utama. 2. Meningkatkan penampilan fisik rumah sakit baik gedung maupun lingkungannya, baik kualitas maupun kuantitas Penampilan fisik yang kurang memadai akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan. Oleh karenanya strategi yang keramahan, senyum, kecepatan penanganan, dan lain-lain). Dengan meningkatkan

kedua ini harus dijalankan dalam rangka mendukung strategi yang pertama dan strategi yang ketiga. Tidak jarang penampilan fisik yang kurang memadai menyebabkan kualitas pelayanan menurun dan juga dapat menyebabkan menurunnya tingkat kepuasan pelanggan. Apabila hal ini terjadi secara otomatis jumlah kunjungan akan menurun yang pada akhirnya pendapatan rumah sakit akan menurun pula. 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia secara profesional Untuk memberikan pelayanan yang prima diperlukan tenaga kesehatan yang memenuhi standar atau kualifikasi tertentu dan yang selalu meningkatkan kemampuan keilmuan serta ketrampilannya. Disamping itu diperlukan juga jumlah tenaga yang cukup agar pelayanan terhadap pelanggan terlaksana dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia dapat ditengahi dengan cara penyediaan anggaran untuk peningkatan SDM, pelaksanaan pelatihan biaya diadakan sendiri oleh rumah sakit maupun mengirim ke instansi lain.

Tabel 6. Rencana strategis RSUDWaluyo Jati Kraksaan Probolinggo Rencana Strategis RSUDIndikator keluaran Waluyo Jati No. Program Kebijakan 1 2 3 4 1 Meningkatkan kualitas pelayanan medis, penunjang medis, dan non medis

Kraksaan Probolinggo Kerangka Anggaran Kerangka


Regulasi 5 Alkes Peningkatan mutu pelayanan

Indikasi kegiatan

Pagu Indikatif Tahun -1 Tahun -2 Tahun -3

Sumber Pendapatan APBN/DAU

Lokasi Kegiatan Kraksaan

1. Penambahan 1 a. Alkes sesuai standart sarana dan Rumah Sakit type C prasarana non b. RASK terpenuhi fisik Rumah Sakit 100% (alkes rumah tangga, dll)

4.000.000.000

5.000.000.000

6.000.000.000

- Alkes -Alat-alat kantor -Alat-alat rumah tangga -Komputer -Pengadaan AC -Gaji dan tunj. Peg -Honorarium & Upah -Bhn habis pakai ktr -Jasa kantor -Cetak&kep kantor -Makan& Minum pasien -Bhn kes.habis pakai -Bhn radiologi -Bhn laboratorium -Obat-obatan -Penguburan pasien TM -Perjalanan dinas -Pemeliharaan Instalasi -Pemeliharaan jaringan -Pemeliharaan angkutan -Pemeliharaan alat RT -Pemeliharaan Alkes Rumah Sakit wajib akreditasi

50.000.000 50.000.000 60.000.000 30.000.000 67.500.000 3.967.828.800 13.500.000 75.000.000 224.900.000 75.000.000 375.000.000 250.000.000 100.000.000 125.000.000 150.000.000 8.000.000 75.000.000 25.000.000 25.000.000 25.000.000 75.000.000 75.000.000 100.000.000

60.000.000 60.000.000 65.000.000 35.000.000 4.761.394.560 13.500.000 100.000.000 292.370.000 90.000.000 400.000.000 300.000.000 125.000.000 150.000.000 175.000.000 9.000.000 100.000.000 30.000.000 30.000.000 30.000.000 100.000.000 100.000.000

70.000.000 70.000.000 70.000.000 40.000.000 5.713.673.472 13.500.000 125.000.000 380.081.000 105.000.000 425.000.000 350.000.000 150.000.000 175.000.000 200.000.000 10.000.000 125.000.000 35.000.000 35.000.000 35.000.000 125.000.000 125.000.000

APBN/PAD APBN/PAD APBN/PAD APBN/PAD APBN/DAU APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD APBD/PAD

Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan Kraksaan

2. Pemeliharaan 2. Tidak ada kerusakan sarana & sarana prasarana non prasarana non fisik fisik (alkes, RT, dll) 3. Akreditasi 12 program 3. Terakreditasinya Rumah Sakit 12 program

4. Terwujudnya ISO2000 Rumah Sakit 4. Terwujudnya ISO-2000 Rumah Sakit 5. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat RS 5. PKMRS terlaksana 2minggu sekali Peningkatan peran masyarakat dalam kesehatan rujukan Standarisasi mutu kesehatan lingkungan Rumah Sakit Peningkatan peran serta masyarakat dalam kesehatan rujukan Adanya Ruang NICU Adanya ruang khusus Adanya ruang tindakan Peningkatan pelayanan kesehatan

75.000.000

APBD/PAD

Kraksaan

7.500.0000

APBD/PAD

Kraksaan

6. Pemantauan Kesehatan Lingkungan RS

6. Terlaksananya pemanatauan Kesehatan Lingkungan RS 7. Kerjasama/ penyuluhanlintas sektor 2 minggu sekali

7.500.000

APBD/PAD

Kraksaan

7. Kerjasama Lintas Sektor, LSM dan tokoh masayarakat setempat 8. Penambahan sarana& prasarana fisik Rumah Sakit

7.500.000

APBD/PAD

Kraksaan

Adanya Ruang NICU Adanya ruang khusus Adanya ruang tindakan

320.400.000 213.600.000 1.615.350.000

APBD/PAD APBD/PAD APBD&APBN

Kraksaan Kraksaan Kraksaan

3.1.6 Kinerja RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo Sumber daya manusia (SDM) di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo terdiri dari 24 tenaga medis (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi), 138 tenaga paramedis non perawatan (penata rawat, perawat kesehatan, bidan, perawat gigi, perawat pembantu), 44 tenaga paramedis non perawatan (analis, apoteker, sarjana kesehatan masyarakat, asisten apoteker, penata fisioterapi, penata anestesi, penata gizi, pekarya kesehatan, ATEM, sanitasi, penata lingkungan hidup, radiografi, refraksionis), 129 tenaga non medis (pegawai tamatan sarjana, SLTA, SMKK, SLTP, SD), dan 14 tenaga eselon (dokter, dokter gigi, sarjana, D3/sarmud, SLTA).
No.
1

Uraian

Satuan
orang orang orang

Jumlah
24 138 44

Tenaga Medis (dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis) 2 Paramedis perawatan ( penata rawat, perawat kesehatan, bidan, perawat gigi, perawat pembantu) 3 Paramedis non perawatan (analis, apoteker, SKM, ssisten apoteker, penata fisioterapi, penata anestesi, penata gizi, pekarya kesehatan, ATEM, sanitasi, penata lingkungan hidup, radiografi, refraksionis) 4 Non medis/paramedis (sarjana, SLTA, SMKK, SLTP, SD) 5 Tenaga eselon JUMLAH Tabel 7. Gambaran keadaan SDM

orang orang

129 14 348

Keadaan keuangan RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo mengalami peningkatan pendapatan dari tahun 2005 sampai 2009, dimana pada tahun 2005 dan 2006 realisasi anggaran APBD lebih besar dari anggaran APBD yang disediakan sehingga rumah sakit mengalami kerugian, namun pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 realisasi anggaran APBD lebih kecil daripada anggaran APBD yang disediakan pemerintah sehingga rumah sakit mendapat keuntungan. Realisasi retribusi pendapatan rumah sakit lebih besar daripada retribusi yang ditargetkan sehingga rumah sakit juga mendapatkan keuntungan dari retribusi. Kunjungan rawat jalan, kunjungan UGD, kegiatan operasi, kegiatan bedah, kunjungan pelayanan keluarga berencana, kunjungan fisioterapi, laboratorium dan radiologi mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai 2009. Kunjungan rawat inap RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo dapat dilihat dengan indikator Bed Ocupancy Rate (BOR). Bed Ocupancy Rate (BOR) RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo tahun 2005 sampai tahun 2006 meningkat yaitu dari 60,13 % menjadi 74,94%, namun pada tahun 2007

mengalami penurunan kembali menjadi 68,48% dan tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 80,71 % kemudian tahun 2009 menurun lagi menjadi 65 %. Meskipun mengalami penurunan, namun masih dalam standar ideal menurut depkes yaitu 60% sampai 85%.
No. Indikator Satuan 2005
60,13 4,31 47,46 3,00 8,779 18,675

2006
74,94 3,7 74,22 1 15,617 31,642

2007
68,48 4 70,92 2 16,605 30,983

2008
80,71 5 57 1 21 33

2009
65,00% 3,9 59 2 15 30

1 BOR (64 68 %) % 2 ALOS (3 12 hari) Hari 3 BTO (40 50 x) Kali 4 TOI (1-3 hari) Hari 5 NDR ( 25%o) %o 6 GDR ( 45%o) %o Tabel 8. Gambaran kunjungan rawat inap

Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merintis pelaksanaan sistem informasi berbasis komputer sejak januari tahun 2002 yang bekerja sama dengan pihak Universitas Brawijaya. Dikarenakan pihak manajerial lebih membutuhkan data yang semakin akurat dan mudah diakses dimanapun dan kapanpun, maka pada tahun 2009 dilakukan pergantian vendor SIMRS. Namun dalam implementasi SIMRS terdapat berbagai kendala yang ditemukan sehingga implementasi ini tidak berjalan dengan baik. Hal ini didukung pula oleh petugas SIMRS yang loyal meninggal 2 bulan lalu, sehingga aplikasi SIMRS sempat terhenti. Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo merintis pelaksanaan sistem informasi berbasis komputer sejak januari tahun 2002 yang bekerja sama dengan pihak Universitas Brawijaya. Dikarenakan pihak manajerial lebih membutuhkan data yang semakin akurat dan mudah diakses dimanapun dan kapanpun, maka pada tahun 2009 dilakukan pergantian vendor SIMRS. Namun dalam implementasi SIMRS terdapat berbagai kendala yang ditemukan sehingga implementasi ini tidak berjalan dengan baik. Hal ini didukung pula oleh petugas SIMRS yang loyal meninggal 2 bulan lalu, sehingga aplikasi SIMRS sempat terhenti. Aplikasi SIMRS terdapat di ruangan; loket, RM (Rekam Medik), UGD (Unit Gawat Darurat), Radiologi, Elektromedik, Apotik, Laboratorium, Instalasi Rawat Inap, dan hanya poli mata untuk Intalasi Rawat Jalan, serta kasir, namun dalam pelaksanaan proses aplikasi SIMRS tidak berjalan sebagaimana mestinya.

3.2 Data Sekunder dan Data Primer 3.2.1 Data Sekunder Data sekunder yang diperoleh dari proyek magang ini adalah data jumlah komputer dengan aplikasi software SIMRS dan data karyawan tiap unit ruang sebagai berikut:
No Unit terdapat Software SIMRS Rawat jalan Ruang Komputer dengan Perangkat SIMRS 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 3 23

4 5 6 6

Poli Umum Poli Gigi dan Mulut Poli Penyakit Dalam Poli Bedah Poli Obgyn Poli Syaraf Poli THT Poli Mata Poli Anak Fisioterapi IGD ICU Rawat Inap Tengger Utama Dalam Bedah Kebidanan Anak NICU Penunjang Laboratorium Medis Radiologi Farmasi EKG Kamar Operasi Recovery Room Kamar Mayat Loket Loket 1 & 3 Rekam Medik Rekam Medik Kasir Kasir Server Pusat Server Pusat JUMLAH

Tabel 9. Data jumlah komputer dengan perangkat SIMRS dalam ruangan

Dari tabel diatas, dapat diketahui hanya pada terdapat 23 komputer atau hanya 18 ruang dari 30 ruangan yang dipasang perangkat SIMRS.

No

Unit terdapat Software SIMRS Rawat jalan

Ruang

Rincian

Jumlah

Poli mata IGD

ICU 2 Rawat Inap Tengger

Utama Dalam Bedah

Kebidanan

Anak 3 Penunjang Medis Laboratoriu m

Radiologi

EKG Farmasi

Kamar Operasi 4 Loket Loket 8 Admin 5 Rekam Medik Rekam Medik 6 Kasir Kasir Tabel 10. Data jumlah karyawan dalam ruangan

1 Dokter Spesialis 3 perawat 2 Dokter Umum 12 Perawat D3 2 SPK 7 SMA 10 Perawat D3 2 S1 10 Perawat D3 4 Asisten Perawat 1 Adminstrasi (D1) 2 CS (SMP) 12 Perawat D3 5 Asisten Perawat 8 Perawat D3 1 SPK 1 S1 1 Perawat S1 9 Perawat D3 3 SMA 2 SMP 15 Bidan D3 2 D1 2 D4 1 S1 2 SMA 1 SMP 12 Perawat D3 5 Asisten Perawat (SMA) 1 Dokter Spesialis 1 S1 6 Analis D3 1 SMK Analis 2 Perawat D3 1 D3 Kesling 3 SMA 1 Dokter Spesialis 5 Radiografer D3 1 D4 1 SMA 2 D3 Perawat 2 Apoteker 4 Farmasi D3 1 S1 2 SMA 3 admin (SMA)

4 25

Karyawa n menguas ai SIMRS 1 6

12 17

1 2

17 10 14

1 2 3

23

17 15

2 1

2 12

1 5

1 8 8 6

1 4 1 4

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dalam satu ruangan tidak semua karyawan menguasai SIMRS.

3.2.2 Data Primer 3.2.2.1 Data Identitas Responden


Jenis kelamin Frequency 13 22 35 Percent 37.1 62.9 100.0 Valid Percent 37.1 62.9 100.0 Cumulative Percent 37.1 100.0

Valid

laki-laki perempuan Total

Tabel 11. Tabel frekuensi jenis kelamin responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa 62,9 % responden berjenis kelamin perempuan dan 37,1 % responden berjenis kelamin laki-laki.
Umur Frequency 3 16 8 2 4 tahun 2 35 Percent 8.6 45.7 22.9 5.7 11.4 5.7 100.0 Valid Percent 8.6 45.7 22.9 5.7 11.4 5.7 100.0 Cumulative Percent 8.6 54.3 77.1 82.9 94.3 100.0

Valid

18-24 tahun 25-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun 40-45 tahun lebih dari 45 Total

Tabel 12. Tabel frekuensi umur responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur antara 25 30 tahun.
Pendidikan Frequency SMA 10 DIPLOMA 19 SARJANA 6 Total 35 Percent 28.6 54.3 17.1 100.0 Valid Percent 28.6 54.3 17.1 100.0 Cumulative Percent 28.6 82.9 100.0

Valid

Tabel 13. Tabel frekuensi pendidikan responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa 54,3 % responden lulusan diploma, 28,6 % lulusan SMA dan 17,1 % lulusan sarjana.

Profesi di RS Frequency 20 15 35 Percent 57.1 42.9 100.0 Valid Percent 57.1 42.9 100.0 Cumulative Percent 57.1 100.0

Valid

paramedis non paramedis Total

Tabel 14. Tabel frekuensi frekuensi responden di RS

Tabel diatas menunjukkan bahwa profesi responden 57,1 % paramedis dan 42,9% adalah responden non paramedis.
Rata-rata menggunakan komputer dalam 1 hari di RS Frequency kurang dari = 30 menit 9 30-60 menit 9 1-4 jam 7 >4 jam 10 Total 35 Percent 25.7 25.7 20.0 28.6 100.0 Valid Percent 25.7 25.7 20.0 28.6 100.0 Cumulative Percent 25.7 51.4 71.4 100.0

Valid

Tabel 15. Tabel frekuensi responden rata-rata penggunaan komputer dalam 1 hari di RS

Tabel diatas menunjukkan bahwa 25,7 % menggunakan komputer kurang dari 30 menit sampai dengan 60 menit dalam 1 hari di RS; 20 % menggunakan komputer 1-4 jam dan 28,6 % lebih dari 4 jam.
Aplikasi komputer yang sering dipakai di RS Frequency microsoft office 3 SIMRS (billing) 31 game 1 Total 35 Percent 8.6 88.6 2.9 100.0 Valid Percent 8.6 88.6 2.9 100.0 Cumulative Percent 8.6 97.1 100.0

Valid

Tabel 16. Tabel frekuensi aplikasi komputer yang sering dipakai responden di RS

Tabel diatas menunjukkan bahwa aplikasi komputer yang banyak dipakai oleh responden di RS adalah SIMRS yaitu sebanyak 88,6 %; microsoft office 8,6 % dan 2,9 % menggunakan game.

3.2.2.2 Data dan Analisa TAM Analisa TAM untuk mengetahui kesiapan user dan rumah sakit dalam implementasi SIMRS diperoleh dengan metode kuesioner. Analisa dekriptif terhadap variabel tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kegunaan persepsian (perceived usefullness) Variabel yang digunakan adalah:
-

SIMRS bermanfaat untuk tugas user SIMRS memudahkan pekerjaan user SIMRS mempercepat pekerjaan user

Tabel 17. Tabel frekuensi penggunaan SIMRS bermanfaat untuk tugas responden

Tabel

diatas

menunjukkan

bahwa,

untuk

pertanyaan

SIMRS

bermanfaat (data valid) bagi responden, 3, 2 % tidak setuju, 19,4 % kurang setuju, 61,3 % setuju dan 19,4 % sangat setuju bahwa SIMRS bermanfaat untuk tugas user terutama dalam kevalidan data.

Tabel 18. Tabel frekuensi penggunaan SIMRS memudahkan pekerjaan responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk

pertanyaan SIMRS

memudahkan atau memperingan tugas user, 3,2 % tidak setuju, 25,8% kurang setuju, 49,4 % setuju dan 22,6 % sangat setuju bahwa SIMRS memudahkan pekerjaan user, pengolahan dan penyimpanan data menjadi lebih praktis.

Penggunaan SIMRS mempercepat pekerjaan saya Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent

tidak 1 3.2 3.2 3.2 setuju kurang 12 38.7 38.7 41.9 setuju setuju 12 38.7 38.7 80.6 sangat 6 19.4 19.4 100.0 setuju Total 31 100.0 100.0 Tabel 19. Tabel frekuensi penggunaan SIMRS mempercepat pekerjaan responden

Tabel

diatas

menunjukkan

bahwa,

untuk

pertanyaan

SIMRS

mempercepat pekerjaan user, 3,2 % tidak setuju, 38,7 % kurang setuju, 38,7 % setuju dan 19,4 % sangat setuju bahwa SIMRS mempercepat pekerjaan user, waktu yang dipergunakan lebih efisien.

Gambar 3. Grafik variabel konstruk TAM perceived usefulness (persepsi manfaat)

Berikut tabel tentang presentase user tentang persepsi manfaat SIMRS

Gambar 4. Grafik rata-rata persepsi manfaat SIMRS menurut responden

Dari grafik diatas menunjukkan frekuensi responden 2,87 atau 71,75% dari seluruh responden menyatakan bahwa SIMRS bermanfaat bagi responden. Secara global keadaan perceived usefulness adalah user merasakan manfaat dari penggunaan SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 2. Kemudahan penggunaan persepsian (Perceived Easy of Use) Variabel yang digunakan adalah: SIMRS mudah dipelajari SIMRS mudah dioperasikan SIMRS bisa membuat seseorang lebih mahir
SIMRS mudah dipelajari Frequency 6 24 1 31 Percent 19.4 77.4 3.2 100.0 Valid Percent 19.4 77.4 3.2 100.0 Cumulative Percent 19.4 96.8 100.0

Valid

kurang setuju setuju sangat setuju Total

Tabel 20. Tabel frekuensi SIMRS mudah dipelajari responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan SIMRS mudah dipelajari, 19,4 % kurang setuju, 77,4 % setuju dan 3,2 % sangat setuju bahwa SIMRS mudah dipelajari oleh user.
SIMRS mudah dioperasikan Frequency tidak setuju 1 kurang setuju 8 setuju 22 Total 31 Percent 3.2 25.8 71.0 100.0 Valid Percent 3.2 25.8 71.0 100.0 Cumulative Percent 3.2 29.0 100.0

Valid

Tabel 21. Tabel frekuensi SIMRS mudah dioperasikan responden

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan SIMRS mudah dioperasikan, 3,2% tidak setuju, 25,8% kurang setuju, dan 71% setuju bahwa SIMRS mudah dioperasikan user.
Mudah menjadi mahir mengoperasikan komputer Frequency tidak setuju 2 kurang setuju 10 setuju 19 Total 31 Percent 6.5 32.3 61.3 100.0 Valid Percent 6.5 32.3 61.3 100.0 Cumulative Percent 6.5 38.7 100.0

Valid

Tabel 22. Tabel frekuensi SIMRS membuat responden menjadi mahir dalam mengoperasikan komputer

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menjadi mudah mahir mengoperasikan SIMRS, mengoperasikan SIMRS. 6,5% tidak setuju, 32,3% kurang setuju, dan 61,3% setuju bahwa SIMRS membuat user lebih mahir dalam

Gambar 5. Grafik variabel konstruk TAM perceived easy of use (persepsi kemudahan penggunaan)

P rs p i k m d h n e es e uaa
2 0

1 0

Frequency

S . D v =.4 td e 5 M a =2 9 e n .6 0 1 0 .5 2 0 .0 2 0 .5 3 0 .0 N=3 .0 1 0

P rse si ke u a a e p mdhn

Gambar 6. Grafik rata-rata persepsi kemudahan SIMRS menurut responden

Dari grafik diatas menunjukkan frekuensi responden 2,69 atau 67,25% dari seluruh responden menyatakan bahwa SIMRS mudah dipelajari, dioperasikan, dan menambah mahir mengoperasikannya bagi responden. Secara global keadaan perceived easy to use adalah aplikasi SIMRS mudah digunakan oleh user di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo.

3. Sikap pengguna (Attitude Towards) Variabel yang digunakan adalah:


-

Sikap menerima implementasi SIMRS karena bermanfaat untuk user Sikap menerima implementasi SIMRS karena memperingan tugas user Sikap menerima implementasi SIMRS karena mudah dipelajari Sikap menolak implementasi SIMRS karena menambah beban pekerjaan Sikap menolak implementasi SIMRS karena sulit dioperasikan Sikap menolak implementasi SIMRS karena tidak bisa mengoperasikan komputer
Menerima pelaksanaan SIMRS karena bermanfaat Frequency tidak setuju 2 kurang setuju 2 setuju 20 sangat setuju 7 Total 31 Percent 6.5 6.5 64.5 22.6 100.0 Valid Percent 6.5 6.5 64.5 22.6 100.0 Cumulative Percent 6.5 12.9 77.4 100.0

Valid

Tabel 23. Tabel frekuensi responden menerima pelaksanaan SIMRS karena bermanfaat

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menerima pelaksanaan SIMRS karena bermanfaat, implementasi SIMRS karena bermanfaat.
Menerima pelaksanaan SIMRS karena memperingan tugas saya Frequency tidak setuju 3 kurang setuju 9 setuju 18 sangat setuju 1 Total 31 Percent 9.7 29.0 58.1 3.2 100.0 Valid Percent 9.7 29.0 58.1 3.2 100.0 Cumulative Percent 9.7 38.7 96.8 100.0

6,5% tidak setuju, 6,5% kurang

setuju, 64,5% setuju dan 22,6% sangat setuju bahwa responden menerima

Valid

Tabel 24. Tabel frekuensi responden menerima pelaksanaan SIMRS karena dapat memperingan tugas

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menerima pelaksanaan SIMRS karena memperingan tugas user, 9,7% tidak setuju, 29% kurang setuju, 58,1% setuju dan 3,2% sangat setuju bahwa responden menerima implementasi SIMRS karena dapat memperingan tugas responden.

M enerima pelaksanaan SIM RS karen a mudah dipelajari Frequency tidak setuju 1 kurang setuju 10 setuju 20 T otal 31 Percent 3.2 32.3 64.5 100.0 Valid Percent 3.2 32.3 64.5 100.0 Cum ulative Percent 3.2 35.5 100.0

Valid

Tabel 25. Tabel frekuensi responden menerima pelaksanaan SIMRS karena SIMRS mudah dipelajari

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menerima pelaksanaan SIMRS karena mudah dipelajari, 3,2% tidak setuju, 32,3% kurang setuju, dan 64,5% setuju bahwa responden menerima implementasi SIMRS karena SIMRS mudah dipelajari oleh responden.
Menolak penggunaan SIMRS karena menambah beban kerja Frequency sangat setuju 1 setuju 12 kurang setuju 13 tidak setuju 9 Total 35 Percent 2.9 34.3 37.1 25.7 100.0 Valid Percent 2.9 34.3 37.1 25.7 100.0 Cumulative Percent 2.9 37.1 74.3 100.0

Valid

Tabel 26. Tabel frekuensi responden menolak penggunaan SIMRS karena menambah beban kerja

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menolak pelaksanaan SIMRS karena menambah beban pekerjaan, 25,7% tidak setuju, 37,1% kurang setuju, 34,3% setuju dan 2,9 % sangat setuju bahwa responden menolak implementasi SIMRS karena SIMRS menambah beban kerja responden.
Menolak penggunaan SIMRS karena software rumit Frequency sangat setuju 2 setuju 4 kurang setuju 19 tidak setuju 10 Total 35 Percent 5.7 11.4 54.3 28.6 100.0 Valid Percent 5.7 11.4 54.3 28.6 100.0 Cumulative Percent 5.7 17.1 71.4 100.0

Valid

Tabel 27. Tabel frekuensi responden menolak penggunaan SIMRS karena software rumit

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menolak pelaksanaan SIMRS karena software rumit, 5,7% sangat setuju, 11,4% setuju, 54,3% kurang setuju dan 28,6 % tidak setuju bahwa responden

menolak implementasi SIMRS karena software SIMRS terlalu rumit menurut responden.
Menolak penggunaan SIMRS karena tidak bisa mengoperasikan komputer Frequency 2 2 18 13 35 Percent 5.7 5.7 51.4 37.1 100.0 Valid Percent 5.7 5.7 51.4 37.1 100.0 Cumulative Percent 5.7 11.4 62.9 100.0

Valid

sangat setuju setuju kurang setuju tidak setuju Total

Tabel 28. Tabel frekuensi responden menolak penggunaan SIMRS karena tidak bisa mengoperasikan komputer

Tabel diatas menunjukkan bahwa, untuk pertanyaan user menolak pelaksanaan SIMRS karena user tidak bisa mengoperasikan komputer, 5,7% sangat setuju, 11,4% setuju, 51,4% kurang setuju dan 37,1 % tidak setuju bahwa responden menolak implementasi SIMRS karena user tidak bisa mengoperasikan komputer.

Gambar 7. Grafik variabel konstruk TAM Attitude toward (Sikap Pengguna)


S pp n g n ika e g u a
1 4 1 2 1 0 8 6

Frequency

4 2 0 1 0 .5 2 0 .0 2 0 .5 3 0 .0 3 0 .5 4 0 .0 S . D v =.5 td e 3 M a =2 1 e n .9 N=3 .0 1 0

S pp n g n ika e g u a

Gambar 8. Grafik rata-rata sikap pengguna dalam implementasi SIMRS

Dari grafik diatas menunjukkan frekuensi responden 2,91 atau 72,75% dari seluruh responden menyatakan menerima implementasi SIMRS.

Secara global keadaan attitude towards adalah user menerima implementasi SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 4. Minat perilaku pengguna (Behavioral Intention to Use) Minat perilaku pengguna (Behavioral Intention to Use) adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Variabel yang digunakan adalah:
-

User merasa tidak mampu menguasai SIMRS User akan memakai dan mengembangkan pemakaian SIMRS User akan selalu menggunakan SIMRS di masa akan datang User menyarankan rekan kerjanya untuk mengimplementasikan SIMRS User menyampaikan hal-hal positif tentang penggunaan SIMRS ke rekan kerjanya

S aya m erasa tidak akan m pu m am enguasai penggunaan S R IM S Frequency V alid setuju kurang setuju tidak setuju Total 7 22 6 35 P ercent 20.0 62.9 17.1 100.0 V alid P ercent 20.0 62.9 17.1 100.0 C ulative um P ercent 20.0 82.9 100.0

Tabel 29. Tabel frekuensi responden merasa tidak akan mampu menguasai penggunaan SIMRS

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk pertanyaan user merasa tidak akan mampu menguasai penggunaan SIMRS, 80 % responden merasa akan mampu untuk menguasai penggunaan SIMRS dan 20% responden merasa tidak akan mampu menguasai penggunaan SIMRS.
S aya akan m akai dan m em engem bangkan pem akaian S R IM S Frequency V alid tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju Total 3 4 22 2 31 P ercent 9.7 12.9 71.0 6.5 100.0 V alid P ercent 9.7 12.9 71.0 6.5 100.0 C ulative um P ercent 9.7 22.6 93.5 100.0

Tabel 30. Tabel frekuensi responden akan memakai dan mengembangkan pemakaian SIMRS

Tabel

diatas

menunjukkan

untuk

pertanyaan

user

akan

mengembangkan pemakaian SIMRS, 9,7% tidak setuju, 12,9% kurang setuju,

71% setuju dan 6,5% sangat setuju bahwa responden akan mengembangkan implementasi SIMRS.
Saya akan selalu m enggunakan SIMRS untuk m asa akan datang Frequency Valid tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju Total 1 5 27 2 35 Percent 2.9 14.3 77.1 5.7 100.0 Valid Percent 2.9 14.3 77.1 5.7 100.0 Cumulative Percent 2.9 17.1 94.3 100.0

Tabel 31. Tabel frekuensi responden akan selalu menggunakan SIMRS untuk masa akan datang

Tabel diatas menunjukkan untuk pertanyaan user akan selalu menggunakan SIMRS di masa akan datang, 2,9% tidak setuju, 14,3% kurang setuju, 77,1% setuju dan 5,7% sangat setuju bahwa responden akan selalu menggunakan SIMRS di masa akan datang.
Saya akan m enyarankan rekan kerja saya untuk menggunakan SIMRS Frequency Valid tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju Total 2 8 16 5 31 Percent 6.5 25.8 51.6 16.1 100.0 Valid Percent 6.5 25.8 51.6 16.1 100.0 Cumulative Percent 6.5 32.3 83.9 100.0

Tabel 32. Tabel frekuensi responden akan menyarankan rekan kerjanya untuk menggunakan SIMRS

Tabel diatas menunjukkan, untuk pertanyaan user akan menyarankan rekan kerja saya untuk menggunakan SIMRS juga, 6,5% tidak setuju, 25,8% kurang setuju, 51,6% setuju dan 16,1% sangat setuju bahwa responden menyarankan rekan kerjanya untuk mengimplementasikan SIMRS
Saya menyampaikan hal positif tentang SIMRS ke rekan kerja saya Frequency 8 18 5 31 Percent 25.8 58.1 16.1 100.0 Valid Percent 25.8 58.1 16.1 100.0 Cumulative Percent 25.8 83.9 100.0

Valid

kurang setuju setuju sangat setuju Total

Tabel 33. Tabel frekuensi responden menyampaikan hal-hal positif tentang SIMRS ke rekan kerjanya

Tabel

diatas

menunjukkan

bahwa

untuk

pertanyaan

user

menyampaikan hal-hal positif tentang penggunaan SIMRS kepada rekan kerjanya, 25,8% kurang setuju, 58,1% setuju, dan 16,1% sangat setuju

bahwa responden

akan menyampaikan hal positif tentang implementasi

SIMRS pada rekan kerjanya.

Gambar 9. Grafik variabel konstruk TAM behavioral intention (Minat perilaku pengguna)

Minat perilaku pengguna


20

10

Frequency

Std. Dev = .52 Mean = 2.88 0 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 N = 31.00

Minat perilaku pengguna


Gambar 10. Grafik rata-rata minat pengguna dalam implementasi SIMRS

Dari grafik diatas menunjukkan frekuensi responden 2,88 atau 72% dari seluruh responden memiliki minat dalam penguasaan, penggunaan, pengembangan dan hal-hal poitif lain dalam implementasi SIMRS. Secara global keadaan behavioral intention to use adalah sebagian user memiliki minat terhadap implementasi SIMRS, termasuk penguasaan, penggunaan, pengembangan dan hal positif lain dalam implementasi SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 5. Kenyataan perilaku implementasi SIMRS (Actual system use) Variabel yang digunakan adalah:

User selalu menggunakan SIMRS saat bekerja User selalu mendalami, mengembangkan kemampuan teknis dan mempelajari SIMRS User merasa puas dapat menggunakan SIMRS User tidak menggunakan SIMRS karena unit lain tidak menggunakan
Saya selalu menggunakan SIMRS saat bekerja Frequency tidak setuju 5 kurang setuju 11 setuju 14 sangat setuju 1 Total 31 Percent 16.1 35.5 45.2 3.2 100.0 Valid Percent 16.1 35.5 45.2 3.2 100.0 Cumulative Percent 16.1 51.6 96.8 100.0

Valid

Tabel 34. Tabel frekuensi responden selalu menggunakan SIMRS saat bekerja

Tabel

diatas

menunjukkan

untuk

pertanyaan

user

selalu

menggunakan SIMRS saat bekerja, 16,1% tidak setuju, 35,5% kurang setuju, 45,2% setuju dan 3,2% sangat setuju bahwa responden selalu menggunakan SIMRS saat bekerja.
Saya selalu mendalami, mengembangkan dan mempelajari SIMRS Frequency tidak setuju 3 kurang setuju 10 setuju 15 sangat setuju 3 Total 31 Percent 9.7 32.3 48.4 9.7 100.0 Valid Percent 9.7 32.3 48.4 9.7 100.0 Cumulative Percent 9.7 41.9 90.3 100.0

Valid

Tabel 35. Tabel frekuensi responden selalu mendalami, mengembangkan dan mempelajari SIMRS

Tabel diatas menunjukkan untuk pertanyaan user selalu mendalami, mengembangkan kemampuan teknis dan mempelajari SIMRS, 9,7% tidak setuju, 32,3% responden kurang setuju, 48,4% setuju dan 3% sangat setuju bahwa selalu mendalami, menggunakan dan mempelajari SIMRS di

RSUD Waluyo Jati.


Saya merasa p u as d ap at men g g u n a kan SIM RS F req uency Percent Valid Percent tidak setuju 1 3.2 3.2 kurang setuju 9 29.0 29.0 setuju 19 61.3 61.3 sanga t setuju 2 6.5 6.5 T otal 31 100 .0 100 .0 Cum ulative Percent 3.2 32.3 93.5 100.0

Valid

Tabel 36. Tabel frekuensi responden merasa puas dapat menggunakan SIMRS

Untuk

pertanyaan

user

merasa

puas

menggunakan

SIMRS,

menunjukkan bahwa 3,2% tidak setuju, 29% kurang setuju, 61,3% setuju dan 6,5% sangat setuju bahwa responden sudah merasa puas menggunakan SIMRS.
Saya tidak menggunakan SIMRS karena unit lain tidak menggunakan Frequency 1 3 20 11 35 Percent 2.9 8.6 57.1 31.4 100.0 Valid Percent 2.9 8.6 57.1 31.4 100.0 Cumulative Percent 2.9 11.4 68.6 100.0

Valid

sangat setuju setuju kurang setuju tidak setuju Total

Tabel 37. Tabel frekuensi responden tidak menggunakan SIMRS karena unit lain tidak menggunakan

Tabel diatas menunjukkan untuk pertanyaan user tidak menggunakan SIMRS karena petugas di unit lain tidak menggunakan SIMRS, 2,9% sangat setuju, 8,6% SIMRS. setuju, 57,1% kurang setuju dan 31,4% tidak setuju bahwa responden tidak menggunakan SIMRS karena unit lain tidak menggunakan

Gambar 11. Grafik variabel konstruk TAM actual system use (kenyataan perilaku pengguna dalam implementasi SIMRS)
Kna a p n g n a e y ta n e g u a n
1 4 1 2 1 0 8 6

Frequency

4 2 0 1 0 .5 2 0 .0 2 0 .5 3 0 .0 3 0 .5 4 0 .0 S . D v =.5 td e 5 M a =2 2 e n .7 N=3 .0 1 0

K n ta np n g n a e ya a e g u a n

Gambar 12. Grafik rata-rata kenyataan perilaku pengguna

Dari grafik diatas menunjukkan frekuensi responden 2,72 atau 68% dari seluruh responden mengimplementasikan SIMRS saat bekerja, mendalami, mengembangkan kemampuan teknis, mempelajari SIMRS. Secara global keadaan actual system use adalah SIMRS benar diimplementasikan oleh user, di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 3.2.2.3 Data Kendala Implementasi SIMRS Dari hasil pengolahan data secara deskriptif, berikut data frekuensi kendala yang timbul selama implementasi SIMRS.
Pelaksan aan mu tasi d ata SIM RS F requency tidak lancar 5 kurang lancar 20 lancar 10 Total 35 Percent Valid Percent 14.3 14.3 57.1 57.1 28.6 28.6 100.0 100.0 Cum ulative Percent 14.3 71.4 100.0

Valid

Tabel 38. Tabel frekuensi pelaksanaan mutasi data SIMRS

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk pelaksanaan mutasi data di RSUD Waluyo Jati 14,%3 responden mengungkapkan tidak lancar, 57,1 % kurang lancar dan 28,6 % lancar.
Pelaksan aan SIM RS d id u ku n g server F requency Percent Valid Percent kurang setuju 5 14.3 14.3 setuju 28 80.0 80.0 sangat setuju 2 5.7 5.7 T otal 35 100.0 100.0 Cum ulative Percent 14.3 94.3 100.0

Valid

Tabel 39. Tabel frekuensi pelaksanaan SIMRS didukung server

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk pelaksanaan SIMRS sudah didukung server, 14,3% responden mengungkapkan kurang setuju, 80 % setuju dan 5,7 % sangat setuju.

Pelaksan aan SIM RS d id u ku n g man ajemen F requency Percent Valid Percent kurang setuju 4 11.4 11.4 setuju 28 80.0 80.0 sangat setuju 3 8.6 8.6 T otal 35 100.0 100.0 Cum ulative Percent 11.4 91.4 100.0

Valid

Tabel 40. Tabel frekuensi pelaksanaan SIMRS didukung pihak manajemen

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk pelaksanaan SIMRS sudah didukung pihak manajemen, 11,4% responden mengungkapkan kurang setuju, 80 % setuju dan 8,6 % sangat setuju.
Pelaksan aan SIM RS men g u ran g i p elayan an F requency Percent Valid Percent tidak setuju 10 28.6 28.6 kurang setuju 13 37.1 37.1 setuju 11 31.4 31.4 sangat setuju 1 2.9 2.9 T otal 35 100.0 100.0 Cum ulative Percent 28.6 65.7 97.1 100.0

Valid

Tabel 41. Tabel frekuensi pelaksanaan SIMRS mengurangi pelayanan

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk pelaksanaan SIMRS mengganggu pelayanan, 28,6 % responden mengungkapkan tidak setuju, 37,1 % kurang setuju, 31,4 % setuju dan 2,9 % sangat setuju. 3.2.3 Data Kualitatif Dari hasil wawancara dengan user SIMRS di RSUD Waluyo Jati, fungsi SIMRS menurut resonden adalah sebagai berikut:
1. Fungsi SIMRS menurut responden Memudahkan pembuatan rincian biaya yang akan dibayarkan oleh pasien Semua tindakan dan perawatan bisa diisi di ruang masing-masing Hanya untuk melengkapi fasilitas rumah sakit saja Untuk menyimpan data pasien Data yang disimpan lebih akurat Menyimpan semua data-data yang ada di rumah sakit sehingga untuk membuat laporan tidak usah menggunakan buku/tulisan-tulisan Meringankan pekerjaan Memberi informasi data pasien secara umum Memberi informasi tindakan sampai administrasi Kontroling suatu program Lebih transparan Memudahkan laporan keuangan tiap akhir bulan (tutup bulan) Mempercepat pekerjaan Mendata pasien yang berkunjung di RS sehingga memudahkan kita mencari datanya dan pasien yang keluar Mendapatkan data valid dengan cara praktis, sehingga dapat mengefisiensi

waktu - Dapat diakses lebih dari 1 tempat - Mempercepat pelayanan dan adminstrasi - Pencatatan data lengkap, tapi harus ada syaratnya saat entry data tidak ada gangguan - Komunikasi data antar kantor

2. Kendala penggunaan SIMRS

- tenaga operator diruangan kurang


- software/program yang ada kurang praktis - software sering terkena virus dan error sehingga tugas menumpuk - data loket lama masuk sehingga entry data di poli lambat - komputer rusak dan sering kena virus dan minta diganti berdering - banyaknya pasien, sehingga pengisian tertunda - SIMRS/komputer mudah error - pada saat tertentu, data yang dimasukkan tidak dapat disimpan - karena saya dinas di IGD, jika tidak terentry karena banyak pasien, petugas selanjutnya mencoba mengentry kadang bisa masuk, kadang tidak bisa masuk - untuk mengecek data pasien terkadang lama loadingnya - untuk memutasikan pasien keruangan kadang ada yang leiru tidak dimutasikan keruangan yang dituju namun ke ruang lain - data yang di SIMRS tidak sesuai dengan format kertas RS - pasien dari loket atau IGD belum dimutasikan (data pasien tidak bisa di MRS) - option yang harus diisi kadang-kadang tidak sesuai kebutuhan - sebaiknya ada petugas khusus billing - sering error sehingga nomer register tidak bisa diketik petugas loket pendaftaran - nomer register belum diketik oleh petugas loket pendaftaran - handling dan loading terlalu lama, program tidak praktis - buku reg tidak sesuai dengan petunjuk dirjen pelayanan medik 2005 - urutan pemeriksaan urine belum diubah - Faal hati dihasil masih terdapat tulisan LFT - Apabila petugas loket tidak mengentry kan data kunjungan pasien otomatis di unit lain nama pasien tidak muncul - hanya terdapat sebagian item obat saja - mudah dipelajari - jika ada masalah bisa menghubungi server pusat - Menolak karena SIMRS memakan waktu untuk dinas - Menolak karena adang-kadang komputernya macet - Menerima karena bisa membantu kita mengetahui tindakan yang sudah dilakukan di ruang perawatan - Menghambat pekerjaan dan menambah beban kerja - Menyita waktu untuk melakukan tugas keperawatan - menerima namun saat ini masih belum menggunakan SIMRS karena program yang ada harganya tidak sesuai dengan perda - bisa membantu pasien untuk mengetahui tindakan di ruang perawatan - karena mudah dipelajari - menyimpan data dengan valid - memudahkan akses data dari tiap-tiap unit - Tidak menggunakan karena pada pemilihan pemeriksaan ada harga yang tidak sesuai dan ada pemeriksaan yang tidak terdapat pada SIMRS - tidak menggunakan karena banyak pasien berobat, akhirnya tidak sempat mengoperasikan SIMRS, namun apabila tidak banyak pasien tetap menggunakan - pekerjaan yang ditulis banyak sehingga tidak sempat menggunakan - karena saya bukan petugas khusus adminstrasi - menggunakan SIMRS karena mempermudah pekerjaan saya dan mengetahui tindakan pasien di ruangan - menggunakan, namun hanya sebagian obat saja karena hanya terdapat beberapa item -menggunakan, karena memudahkan saya untuk mencari data pasien di kemudian hari - bisa membantu pasien untuk mengetahui tindakan di ruang perawatan - sudah menjadi tugas operator SIMRS

2.Pendukung SIMRS 3. Alasan menolak SIMRS

3. Alasan menerima SIMRS

4. Alasan tidak menggunakan SIMRS

4. Alasan SIMRS

menggunakan

Tabel 42. Fungsi SIMRS menurut wawancara dengan responden

Harapan yang muncul dalam implementasi SIMRS berdasar yang dilakukan adalah sebagai berikut: -

wawancara

Jika terdapat software yang praktis dan awal entry sampai dengan mengeluarkan data mungkin akan lebih baik Selalu memperhatikan kendala dan memberi solusi yang tepat Software di up grade sehingga tidak terlalu banyak option yang harus diisi Peningkatan pelatihan Penambahan tenaga khusus Jangan ada error lagi

3.2.4 Analisa Peringkat Aspek TAM Dari hasil analisa data, dapat ditarik kesimpulan bahwa peringkat aspek TAM dari presentase terbesar yaitu kesan yang terburuk sampai presentase kecil yaitu kesan yang paling baik tentang implementasi SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan adalah sebagai berikut:
1.

Perceived easy to use (persepsi kemudahan) sebesar 32,75% user merasa dalam penerimaan teknologi baru masih mengalami kesulitan dalam hal pembelajaran dan pengoperasian SIMRS.

2.

Actual sytem use (kenyataan penggunaan oleh user) sebesar 32 %, user pada kenyataannya masih belum menggunakan SIMRS secara maksimal, beberapa masih menggunakan microsoft excel. Beberapa user juga masih belum mendalami, mengembangkan kemampuan teknis dan mempelajari SIMRS serta belum merasakan kepuasan dalam menggunakan SIMRS.

3.

Perceived usefulness (persepsi manfaat) sebesar 28,25% user belum memanfaatkan SIMRS secara maksimal, dan beberapa user sehingga untuk menggunakan SIMRS juga tidak maksimal. belum memahami manfaat yang dihasilkan dengan implementasi SIMRS

4.

Behavioral intention to use (minat perilaku pengguna) 28% user belum memiliki minat dalam menggunakan SIMRS, dimana beberapa user merasa tidak akan mampu menguasai SIMRS, tidak berminat menyarankan rekan kerjanya untuk mengimplementasikan SIMRS, serta tidak memilki kesan positif dalam implementasi SIMRS.

5.

Attitude towards (sikap pengguna) 27,75% user menolak implementasi SIMRS karena menambah beban pekerjaan, sulit dioperasikan, dan beberapa tidak bisa mengoperasikan komputer. Berdasar analisa peringkat aspek TAM diatas, maka aspek yang perlu

diperhatikan yaitu perceived easy to use (persepsi kemudahan) karena menduduki peringkat teratas sebesar 32,75% dimana user merasa dalam penerimaan teknologi baru masih mengalami kesulitan dalam hal pembelajaran dan pengoperasian SIMRS. Hal tersebut merupakan masalah yang dipandang dalam aspek TAM. Alternatif solusinya adalah perbaikan atau penggantian software untuk menjadi mudah dan pelatihan SIMRS ke seluruh paramedis dan non paramedis secara intensif serta terjadwal, sehingga berbagai masalah teknis yang timbul dalam proses pembelajaran dan pengoperasian SIMRS segera terselesaikan. 3.2.5 Analisa Permasalahan dari Berbagai Sudut Pandang Berdasar analisa data primer, sekunder dan hasil wawancara yang dilakukan, dapat disimpulkan permasalahan-permasalahan yang timbul dalam implementasi SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo adalah sebagai berikut:

Pihak user: penundaan entry data, kurangnya pelatihan untuk paramedis dan non paramedis (user dan rekan kerja user), pertemuan kurang intensif untuk membahas masalah-masalah ,

Pihak vendor: pemeliharaan SIMRS dari pihak vendor tidak ada Pihak manajemen: pengawasan terhadap evaluasi implementasi SIMRS, usulan penambahan tenaga IT khusus software Pihak server / tim SIMRS : penambahan tenaga khusus software Peraturan: Kurangnya peraturan yang mengikat Keuangan: Dana APBD yang kurang disesuaikan dengan kebutuhan tenaga rumah sakit Hardware: Penambahan hardware untuk jaringan, agar kalau lampu mati data yang di loket tetap bisa dimutasikan ke ruang-ruang Software: Software rumit, Software tidak sesuai dengan pelayanan di RS,

3.3 Pembahasan Setelah terdeteksi masalah dari aspek TAM dan permasalahan dari berbagai sudut pandang, maka dilakukan prioritas masalah seperti dijabarkan pada poin 3.31 berikut. 3.3.1 Prioritas Pemecahan masalah Berbagai permasalahan yang muncul mengakibatkan seluruh pihak harus terlibat dalam mengatasi permasalahan tersebut. Berdasar FGD yang dilakukan bersama pihak manajemen dan tim SIMRS, maka disusun prioritas pemecahan masalah sebagai berikut:
1.

Perbaikan atau penggantian software untuk menjadi mudah.

2. Usulan penambahan tenaga IT khusus software 3. Usulan penambahan sarana prasarana


4. 5. 6.

Pelatihan SIMRS ke seluruh paramedis dan non paramedis secara intensif dan terjadwal Pertemuan rutin secara rutin Pengawasan dan sistem reward and punishment

3.3.2 Proses Pemecahan Masalah Menurut Jogiyanto 2007, proses pemecahan masalah (coping) untuk mengatasi gangguan gangguan dapat dilakukan lewat dua proses bagian yang terus menerus satu mempengaruhi yang lainnya. Kedua proses-proses bagian ini adalah:
1.

Pertama, individual melakukan proses penilaian (appraisal), yaitu proses mengevaluasi konsekuensi dari suatu kejadian. Individual ini akan menilai sifat dari kejadian tertentu dan pentingnya bagi individual dan relevansinya. Proses penilaian awal ini disebut juga dengan penilaian primer (primary appraisal). Dalam konteks manajemen, kejadian yang mengganggu (disruptive events) dapat dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu:
a.

Tantangan (challenges), yaitu kejadian kejadian yang dipersepsikan mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif Ancaman (threats), yaitu kejadian-kejadian yang dipersepsikan mempunyai konsekuensi konsekuensi negatif.

b.

Setelah menilai pentingnya suatu kejadian, individual-individual juga mengevaluasi opsi-opsi pemecahan yang tersedia untuk mereka. Proses mengevaluasi opsi-opsi ini disebut dengan penilaian sekunder (secondary appraisal. Proses ini digunakan untuk menentukan tingkat dari kontrol yang harus diterapkan terhadap situasi tertentu dan apa yang mereka rasakan dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia.
2.

Kedua, individual akan melakukan tindakan-tindakan yang berbeda untuk mengatasi situasi yang dihadapi, yang disebut dengan usaha penyelesaian masalah (coping efforts). Individual akan menggabungkan usaha-usaha kognitif (cognitive efforts) dan usaha-usaha perilaku (behavioral efforts), keduanya juga dikategorikan sebagai berfokus masalah (problem focused) atau berfokus emosi (emotion-focused). Setelah proses penilaian (appraisal) selesai, pemakai mulai melakukan adaptasi (adaptation).

Gambar 13. Model penyelesaian masalah adaptasi pemakai

Strategi adaptasi diperoleh dengan mengkombinasikan tipe penilaian awal (primary appraisal) yaitu kesempatan (opportunity) dan ancaman (threats) dengan hasil penilaian sekunder (secondary appraisal) yang berupa kontrol rendah dan kontrol tinggi. Dari kombinasi dua faktor ini, penilaian primer (kesempatan dan ancaman) dan penilaian sekunder (kontrol rendah dan kontrol tinggi) diperoleh empat macam strategi adaptasi. Keempat macam strategi adaptasi ini adalah pemaksimalan manfaat-manfaat (benefis maximizing), pemuasan manfaat-manfaat (benefits satisficing), penanganan gangguan (disturbance handling), dan preservasi sendiri (self preservation) seperti tampak apada gambar berikut:

Ancaman (Threat)

Gambar 14. Strategi adaptasi pemakai

Strategi pemaksimalan manfaat (benefits maximizing strategy)terjadi jika :


-

Penilaian primer (primary appraisal) dari konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dari kejadian teknologi informasi dinilai sebagai suatu kesempatan (opportunity)

Penilaian sekunder (secondary appraisal) dari pemakai-pemakai merasa mereka memilki kontrol terhadap situasinya (high control) Usaha-usaha adaptasi terutama berupa berfokus masalah (problem focused adaptation) Diarahkan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari kesempatankesempatan (opportunities) yang ditawarkan oleh peristiwa teknologi informasi dan juga untuk memaksimumkan manfaat-manfaat personal.

Strategi pemuasan manfaat manfaat (benefits satisficing) terjadi jika:


-

Penilaian primer (primary appraisal)di situasi dimana konsekuensikonsekuensi persepsian dari peristiwa teknologi informasi dinilai sebagai suatu kesempatan (opportunity)

Tetapi penilaian sekunder (secondary appraisal) dari pemakai-pemakai merasa bahwa mereka hanya mempunyai kontrol yang terbatas atau rendah terhadap situasinya

Usaha-usaha adaptasi tampaknya akan minimal dan terbatas Diarahkan untuk mendapatkan efisiensi dan efektivitas individual teknologi informasi. Strategi penanganan gangguan (distrurbance handling) terjadi dari kesempatan-kesemapatan (opportunities) yang ditawarkan oleh peristiwa

ketika:
-

Penilaian primer (primary appraisal) seseorang dalam menilai suatu peristiwa teknologi informasi di suatu situasi dianggap sebagai suatu ancaman (threat)

Penilaian

sekunder

(secondary

appraisal)menunjukkan bahwa dia

mempunyai beberapa kontrol terhadap situasinya (kontrol tinggi)


-

Akan cenderung mengandalkan pada adaptasi berfokus emosi (emotionfocused adaptation)untuk menangani situasinya Untuk meminimalkan konsekuensi-konsekuensi negatif dan

mengembalikan kestabilan emosi Usaha-usaha adaptasi cenderung mengarah ke diri sendiri, teknologi dan tugas Strategi preservasi diri (self-prservation strategy) terjadi jika:
-

Penilaian primer (primary appraisal) dari konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dari suatu peristiwa teknologi informasi di suatu situasi dipersepsikan sebagai suatu ancaman (threat)

Penilaian sekunder (secondary appraisal)dari pemakai-pemakai merasa bahwa mereka hanya mempunyai kontrol terbatas (kontrol rendah) di situasinya

Usaha-usaha adaptasi mereka terutama akan berfokus pada emosi (emotion focused)

Diarahkan pada mengembalikan stabilitas emosi dan mengurangi ketegangan-ketegangan yang disebabkan oleh peristiwa teknologi informasi. Berdasar strategi diatas, maka proses pemecahan masalah yang dilakukan

adalah sebagai berikut:

Ancaman (Threat)

Gambar 15. Strategi adaptasi pemecahan masalah di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo

Proses pemecahan masalah seperti gambar diatas diperlukan kerjasama antara pihak manajemen, pihak vendor, pihak server / tim SIMRS, serta seluruh user, agar mendapatkan pelaksanaan SIMRS berjalan dengan lancar dan diharapkan seluruh pihak dapat memanfaatkan SIMRS. Dari ke 4 kuadran diatas, strategi utama yang akan diterapkan rumah adalah pemaksimalan manfaat (Benefits maximizing). Rumah sakit menerapkan strategi adaptasi ini karena user menilai bahwa dengan adanya teknologi baru merupakan ancaman atau kesempatan. Kesempatan dapat diperoleh apabila dilakukan perbaikan software, penambahan tenaga IT, kebijakan entry data sepenuhnya dengan komputer oleh pihak manajemen. User akan merasa

memilki kontrol atas situasi tersebut. Usaha adaptasi tersebut lebih berfokus pada masalah. Strategi ini diarahkan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari kesempatan-kesempatan (opportunities) yang ditawarkan oleh peristiwa teknologi informasi dan juga untuk memaksimumkan manfaat-manfaat personal (Jogiyanto,2007, Hee-Ock Rho, IY ,2010). 3.4 Output Proyek Magang Output proyek magang di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo berupa saran bagi user dan rumah sakit dalam menghadapi kesiapan implementasi SIMRS dari berbagai sudut pandang manajerial agar SIMRS dapat berjalan dengan baik. Saran yang diberikan dalam proyek magang ini adalah sebuah prioritas pemecahan masalah serta rencana langkah nyata yang bisa diterapkan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo. 3.4.1 Rekomendasi dan rencana langkah nyata pemecahan masalah Berdasar prioritas pemecahan masalah sebagai berikut: 1. Perbaikan atau penggantian software untuk menjadi mudah. 2. Usulan penambahan tenaga IT khusus software 3. Usulan penambahan sarana prasarana
4.

Pelatihan SIMRS ke seluruh paramedis dan non paramedis secara intensif dan terjadwal Pertemuan rutin secara intensif Pengawasan implementasi dan sistem reward and punishment Maka disusun tahapan-tahapan rencana langkah nyata proses

5. 6.

pemecahan masalah implementasi SIMRS, sebagai berikut:


a.

Rencana langkah nyata perbaikan atau penggantian software untuk menjadi mudah dengan melibatkan tim SIMRS, pihak vendor dan user 1. Mendata masalah tiap ruang atau unit yang terdapat aplikasi SIMRS
2.

Perbaikan software untuk menjadi mudah dan perbaikan buku manual oleh pihak vendor

3. Evaluasi dan percobaan software selama proses perbaikan


4.

Selama perbaikan, diperlukan dukungan user tiap unit dalam ketertiban mengentry data tepat waktu agar terjadi evaluasi perbaikan software

5. Apabila hal diatas dijalankan, maka implementasi SIMRS dapat berjalan lancar.
b.

Rencana langkah nyata usulan penambahan tenaga IT melibatkan tim SIMRS, pihak manajemen dan keuangan
1.

Rapat koordinasi tentang kebutuhan tenaga baru khusus dengan latar belakang IT

2. Usulan penambahan tenaga IT oleh tim SIMRS ke pihak manajemen RS 3. Usulan pihak manajemen RS ke pemkab probolinggo perihal kebutuhan tenaga
c.

Rencana

langkah

nyata

usulan

penambahan

sarana

prasarana

melibatkan tim SIMRS, user, pihak manajemen dan keuangan 1. Pendataan kekurangan sarana prasarana tiap unit ruangan dan server pusat oleh tim SIMRS
2.

Rapat koordinasi tim SIMRS, user, pihak manajemen dan keuangan tentang kebutuhan sarana prasarana mulai kebutuhan tidak mendesak, mendesak dan sangat mendesak sehingga mengetahui mana yang diprioritaskan terlebih dahulu, disesuaikan dengan anggaran yang ada.

3. Pengajuan kebutuhan sarana prasarana ke bagian keuangan


d.

Rencana langkah nyata pelatihan SIMRS ke seluruh paramedis dan non paramedis secara rutin dan terjadwal
1.

Penjadwalan pelatihan SIMRS kepada seluruh paramedis dan non paramedis, jadwal diberikan secara rutin

2. Pelatihan kepada seluruh paramedis dan non paramedis secara bergantian sesuai jadwal agar pelayanan tidak terganggu dan tetap berjalan. 3. Dalam pelatihan juga diberikan buku panduan pengoperasian SIMRS untuk seluruh peserta untuk dipelajari dan dipraktekkan. 4. Evaluasi dan pemantauan hasil pelatihan oleh tim SIMRS sesuai jadwal yang ada.
e.

Rencana langkah nyata pertemuan rutin seluruh pihak yang berkaitan dengan SIMRS (tim SIMRS, dan user)

1.

Pertemuan user dan rekan kerja user dengan tim SIMRS secara intensif Sosialisasi manfaat dan pentingnya penggunaan SIMRS serta sharing masalah yang dihadapi selama penggunaan SIMRS

2.

3. Solusi masalah oleh tim SIMRS 4. Aplikasi solusi pemecahan masalah pengoperasian SIMRS ke tiap unit/ruang
f.

Rencana langkah nyata sistem reward and punishment melibatkan tim SIMRS, pihak manajemen dan bagian keuangan serta pengawasan evaluasi implementasi oleh pihak manajemen
1.

Rapat koordinasi tim SIMRS, pihak manajemen dan bagian keuangan tentang pemberlakuan sistem reward and punishment Pemantauan evaluasi implementasi SIMRS oleh pihak manajemen, sehingga punshment dari pengawasan dapat diberlakukan reward and

2.

3.

Sistem reward diberikan apabila user menerapkan hasil pelatihan dan tertib dalam entry dan mutasi data Sistem punishment diberlakukan apabila user tidak tertib entry data Pemberlakuan sistem reward and punishment melalui persetujuan pihak manajemen dan bagian keuangan rumah sakit

4. 5.

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Keadaan kesiapan user SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo berdasarkan analisis TAM adalah sebagai berikut:
1.

Kegunaan persepsian (Perceived Usefullness) 71,75 % responden menyatakan bahwa SIMRS bermanfaat dalam menyelesaikan tugas-tugas responden.

2.

Kemudahan penggunaan persepsian (Perceived Easy of Use) 67,25 % responden menyatakan bahwa SIMRS mudah dipelajari, dioperasikan dan menambah kemahiran responden dalam megoperasikan computer.

3.

Sikap pengguna (Attitude Towards) 72,25 % responden menyatakan bahwa responden menerima implementasi SIMRS.

4.

Minat perilaku (Behavioral Intention) 72 % responden memilki minat dalam penguasaan, penggunaan, pengembangan dan hal-hal positif lain dalam implementasi SIMRS.

5.

Kenyataan perilaku implementasi SIMRS (Actual system use) 68 % responden dalam kenyataan penggunaan SIMRS selalu menggunakan SIMRS saat bekerja, mendalami, mengembangkan kemampuan teknis dan mempelajari SIMRS. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa user SIMRS di RSUD Waluyo

Jati siap dalam menerima implementasi SIMRS. Namun memerlukan perhatian pada aspek perceived easy to use (persepsi kemudahan) karena menduduki peringkat teratas sebesar 32,75% dimana user merasa dalam penerimaan

teknologi baru masih mengalami kesulitan dalam hal pembelajaran dan pengoperasian SIMRS. Sehubungan aspek yang lain yaitu:
1.

dengan tidak berjalannya SIMRS di RSUD Waluyo Jati,

didapatkan kendala-kendala utama yang dipandang dari aspek analisis TAM dan Software yang rumit (tidak sesuai dengan pelayanan dan kurang user friendly)
2.

kurangnya tenaga ahli khusus IT

3. Kurangnya sarana prasarana meliputi hardware dan software 4. Kurangnya pelatihan SIMRS ke seluruh paramedis dan non paramedis secara intensif dan terjadwal
5.

Kurangya pertemuan rutin membahas manfaat, pentingnya menggunakan SIMRS dan sharing masalah pengoperasian SIMRS Peraturan yang mengikat mengenai ketertiban dalam entry dan mutasi data belum ada sehingga perlu diterapkan sistem reward and punishment untuk user

6.

4.2 Saran Untuk RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo, berikan adalah sebagai berikut:
1. Pihak user :

saran yang kami

Diharapkan tertib dalam entry dan mutasi data Apabila terdapat masalah sehubungan pengoperasian SIMRS dapat menghubungan pihak server atau tim SIMRS Selalu menerapkan hasil pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh tim SIMRS dan mempelajari SIMRS Selalu mengikuti pertemuan rutin sebagai media dalam membahas kendala-kendala yang muncul

2. Pihak manajemen RS -

Diperlukan penambahan tenaga khusus IT dalam implementasi SIMRS

membantu proses

Diperlukan penambahan sarana prasarana baik hardware dan software untuk menunjang pelaksanaan SIMRS dan maintenance SIMRS

Sebaiknya dilakukan pengawasan terhadap user SIMRS

dalam implementasi

Selain pengawasan, diperlukan peraturan yang mengikat yaitu sistem reward and punishment untuk memacu semangat user

3. Pihak server/Tim SIMRS :


-

Diharapkan maintenance rutin dan membantu menyelesaikan masalah yang timbul selama implementasi SIMRS(Prof Jogiyanto HM. 2007)

4. Peneliti selanjutnya
-

Untuk

peneliti

selanjutnya,

kami

sarankan

untuk

menganalisa

perkembangan implementasi SIMRS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo.

DAFTAR PUSTAKA Handoyo, E 2008, 'Aplikasi Sistem Informasi Rumah Sakit Berbasis Web pada Subsistem Farmasi menggunakan Framework Prado', in Teknologi Elektro, vol. 7. Hee-Ock Rho, IY, 'The impact of information technology threat avoidance factors on avoidance behaviour of user', 4 november 2010. Medifirst 2000, 'Proposal Pengembangan SIMRS Medifirst 2000'. Medifirst, Bandung. Prof Jogiyanto HM., A, MBA., Ph.D 2007, Sistem Informasi Keperilakuan, Andi, Yogyakarta.

LAMPIRAN