Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada perusahaan, yang berujung kepada produktivitas dan kualitas kerja. Pencapaian kinerja manajemen K3 sangat tergantung kepada sejauh mana faktor ergonomi telah terperhatikan di perusahaan tersebut. Kenyataannya, kecelakaan kerja masih terjadi di berbagai perusahaan yang secara administratif telah lulus (comply) audit sistem manajemen K3. Ada ungkapan bahwa without ergonomics, safety management is not enough. Keluhan yang berhubungan dengan penurunan kemampuan kerja (work capability) berupa kelainan pada sistem otot-rangka (musculoskeletal disorders) misalnya, seolah-olah luput dari mekanisme dan sistem audit K3 yang ada pada umumnya. Padahal data menunjukkan kompensasi biaya langsung akibat kelainan ini (overexertion) menempati rangking pertama (sekitar 30%) dibandingkan dengan bentuk kecelakaan-kecelakaan kerja yang lain. Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik:

Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan Pekerja sering melakukan kesalahan (human error) Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang

Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok

Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan Komitmen kerja yang rendah Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan Dengan ergonomi, sistem-sistem kerja dalam semua lini departemen

dirancang sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kemampuan dan keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio-teknis) dengan pendekatan humancentered design (HCD). Konsep evaluasi dan perancangan ergonomi adalah dengan memastikan bahwa tuntutan beban kerja haruslah dibawah kemampuan rata-rata pekerja (task demand < work capacity). Dengan inilah diperoleh

rancangan sistem kerja yang produktif, aman, sehat, dan juga nyaman bagi pekerja.

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Kesehatan Kerja

A.1.Definisi Menurut WHO tahun 1950 kesehatan kerja adalah kesehatan fisik maupun psikis pekerja sehubungan dengan pekerjaannya yang mencakup metode kerja, kondisi kerja, dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan , penyakit maupun perubahan kesehatan kerja. Sedangkan menurut komisi bersama WHO-ILO 1995, kesehatan kerja adalah cabang pelayanan kesehatan untuk memenuhi kesehatan pekerja semua tingkatan dengan mengutamakan upaya yang bertujuan: a) Pemeliharaan dan promosi kesehatan pekerja serta kapasitas kerja b) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang bermanfaat bagi keselamatan dan kesehatan c) Pengembangan organisasi kesehatan kerja dan budayakerja dalam suatu arah yang mendukung kesehatan dan keselamatan kerja serta

meningkatkan suasana sosial yang positif , kelancaran pekerjaan dan produktifitas perusahaan

A.2.Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/ metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk: 1) Memelihara dan meningkatrkan derajat Kesehatan kerja masyarakat pekerja dan semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. 2) Mencegah timbulnya gangguan Kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya 3) Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktorfaktor yang membahayakan Kesehatan\

A.3.Lingkungan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja yang ditimbulkan Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.Untuk mencapai kesehatan kerja yang maksimal dalam suatu perusahan diperlukan juga pengenalan terhadap bahaya kerja di lingkungan perusahaan tersebut. Penyakit akibat kerja yang berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja. Dewasa ini terdapat kesenjangan antara pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan dan usaha-usaha untuk mencegahnya.

Untuk mengantisipasi permasalahan ini maka langkah awal yang penting adalah pengenalan/ identifikasi bahaya yang bisa timbul dan di evaluasi, kemudian dilakukan pengendalian. Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya di lingkungan kerja ditempuh tiga langkah utama, yakni : 1. Pengenalan lingkungan kerja Pengenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal ( walk through inspection) dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan. Pengenalan akan potensi bahaya antara lain : Potensi bahaya fisik Potensi bahaya kimiawi Potensi bahaya biologis Potensi bahaya ergonomi Potensi bahaya mekanis

2. Evaluasi lingkungan kerja Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan 3. Pengendalian lingkungan kerja Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemajanaan terhadap zat/ bahan yang berbahaya di lingkungan kerja. Kedua

tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja - Engineering control 1. Eliminasi untuk menghilangkan bahaya dari tempat kerja 2. Substitusi untuk mengganti bahan atau alat yang memiliki resiko potensi bahaya besar dengan alat atau bahan yang memiliki potensi bahaya kecil 3. Ventilasi memasukkan udara segar ke dalam ruang kerja, atau penyaluran udara keluar - Pengendalian perorangan (Personal Control Measure) 1. Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan - Pengendalian administratif 1. Pengurangan waktu selama pekerja terpajan terhadap zat tertentu yang berbahaya dapat menurunkan risiko terkenanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja A.4.Upaya Kesehatan Kerja Program pelayanan kesehatan kerja terdiri dari :

Pelayanan Promotif diberikan pada tenaga kerja yang sehat dengan tujuan meningkatkan gairah produktivitas kerja kerja, mempertinggi efisiensi dan biaya

Pelayanan Preventif diberikan sebagai perlindungan pada tenaga kerja sebelum adanya proses gangguan akibat kerja

Pelayanan

Kuratif

diberikan

kepada

tenaga

kerja

yang

sudah

memperlihatkan

gangguan kesehatan gejala dini dengan mengobati

penyakitnya supaya cepat sembuh dan mencegah komplikasi atau penularan Pelayanan Rehabilitatif diberikan pada tenaga kerja yang karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan cacat permanen

A.5.Dasar Hukum Kesehatan Kerja Upaya Kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnta agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan tahun 1992 pasal 23) Adapun landasan hukum mengenai Kesehatan Kerja antara lain: UU No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan Pokok Tenaga Kerja UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial tenaga Kerja Beberapa keputusan bersama antara Departemen Kesehatan dengan Departemen lain yang berkaitan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

PP No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Keputusan Presiden No. 22 tahun 1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja.

Permenkes RI No 986/1992 dan Keputusan Dirjen P2M-PL No. HK 00.06.44 dan No.00.06.6.598 mengenai beberapa Aspek Persyaratan Lingkungan Rumah Sakit

SK Menkes No.43 tahun 1998 tentang cara pembuatan obat yang baik (CPOB)

Konvensi No. 155/1981, ILO menetapkan kewajiban setiap Negara untuk merumuskan melaksanakan dan mengevaluasi kebijaksanaan nasionalnya di bidang Kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungannya

A.6.Penyakit Umum dan Penyakit Akibat Kerja Definisi Penyakit Akibat Kerja : Setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja ( Permenaker No. Per.01/Men/1981) Penyakit Akibat Hubungan Kerja ( Work Related disease ) adalah penyakit yang berhubungan dengan faktor pekerjaan, lingkungan kerja, proses kerja, cara kerja maupun resiko lain yang terkait dimana sebelumnya pekerja yang bersangkutan tidak menderita penyakit tersebut ( ILO dan WHO 1989 )

Bentuk Pengendalian Penyakit Akibat Kerja : Monitoring kesehatan pekerja awal, berkala, dan khusus Pengujian lingkungan kerja secara berkala

B.Ergonomi
B.1.Definisi

Istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek - aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain perancangan. Ergonomi berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah dan tempat rekreasi. Di dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Definisi ergonomi secara lengkap adalah ilmu beserta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya. Ergonomi merupakan cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien).

Ergonomi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.

Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk fitting the job to the worker, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya.

B.2.Ruang Lingkup Ergonomi Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi : - Tehnik industri, mempelajari desain tempat kerja dan proses kerja - Pengalaman psikis, mempelajari bagaimana orang mengenali isyarat dan merespon nya - Anatomi, mempelajari struktur tubuh manusia, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian ( biomekanik ) - Anthropometri, mempelajari variasi ukuran tubuh manusia

- Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot. Ergonomi bisa dibagi menjadi beberapa bagian untuk lebih memudahkan pemahamannya. Ruang lingkup ergonomi adalah : ergonomi fisik : berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik fisiologi dan biomekanika yang berhubungan dengan aktifitas fisik ergonomic kognitif : berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya : persepsi, ingatan dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen system ergonomi organisasi : berkaitan dengan optimasi system sosiolenik, termasuk struktur organisasi, kebijakan dan proses ergonomi lingkungan : berkaitan dengan pencahayaan, temperature, kebisisngan dan getaran

B.3.Tujuan Ergonomi Tujuan Ergonomi adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja suatu organisasi. Hal ini dapat tercapai apabila terjadi kesesuaian antar pekerja dengan pekerjaannya. Maka tercipta suatu kombinasi yang paling serasi antara sub sistem peralatan kerja dengan manusia sebagai tenaga kerja. Tujuan utama ergonomi ada empat (Santoso, 2004; Notoatmodjo, 2003), yaitu : 1. Memaksimalkan efisiensi karyawan. 2. Memperbaiki kesehatan dan keselamatan kerja.

3. Menganjurkan agar bekerja dengan aman, nyaman dan bersemangat. 4. Memaksimalkan bentuk kerja Pendekatan ergonomi mencoba untuk mencapai kebaikan bagi pekerja dan pimpinan institusi, karena dengan penerapan Ergonomi di tempat kerja akan dapat: 1. Mengurangi kelelahan 2. Mencegah kesalahan 3. Mempertahankan Kesehatan 4. Meningkatkan kenyamanan 5. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi

B.4.Metode Ergonomi Beberapa metode dalam artikel ergonomic dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dalam menilai ergonomic atau tidaknya suatu lingkungan kerja, yaitu : 1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks. 2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak

pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja. 3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif

misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

B.5 Aplikasi/ Penerapan Ergonomi 1. Posisi Kerja Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki. 2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur. 3. Tata letak tempat kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada katakata. 4. Mengangkat beban

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan. a. Menjinjing beban Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb: - Laki-laki dewasa 40 kg - Wanita dewasa 15-20 kg - Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg - Wanita (16-18 th) 12-15 kg b. Organisasi kerja Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara : - Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun - Frekuensi pergerakan diminimalisasi - Jarak mengangkat beban dikurangi - Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi. - Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan. c. Metode mengangkat beban Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip : - Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung - Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan. Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :

o Posisi kaki yang benar o Punggung kuat dan kekar o Posisi lengan dekat dengan tubuh o Mengangkat dengan benar o Menggunakan berat badan d. Supervisi medis Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. - Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya - Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan - Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur.

B.6 Kelelahan/ Fatigue Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut : 1. Kelelahan fisik Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup. 2. Kelelahan yang patologis

Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya. 3. Psikologis dan emotional fatique Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis mekanisme melarikan diri dari kenyataan pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja. 4. Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;

- Pekerja remaja - Wanita hamil dan menyusui - Pekerja yang telah berumur - Pekerja shift - Migrant. Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat addiktif lainnya perlu diawasi. Pemeriksaan kelelahan : Tes kelelahan tidak sederhana, biasanya tes yang dilakukan seperti tes pada kelopak mata dan kecepatan reflek jari dan mata serta kecepatan mendeteksi sinyal, atau pemeriksaan pada serabut otot secara elektrik dan sebagainya. Persoalan yang terpenting adalah kelelahan yang terjadi apakah ada hubungannya dengan masalah ergonomi, karena mungkin saja masalah ergonomi akan mempercepat terjadinya kelelahan.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pemeriksaan Kesehatan 1. Pemeriksaan kesehatan awal : Pemeriksaan kesehatan awal dilakukan saat penerimaan karyawan baru, yaitu pemeriksaan rutin yang dilakukan dengan bekerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dengan perusahaan, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman, Yogyakarta. Pemeriksaan yang dilakukan berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah rutin yang digunakan sebagai pertimbangan bagi perusahaan dalam memilih karyawan baru. Pemeriksaan dilakukan di Rumah sakit terdekat karena ketiadaan dokter perusahaan dikarenakan sudah wafat 3 tahun yang lalu dan tanpa ad pengganti, sedangkan paramedis untuk perusahaan hanya ada satu orang, yang juga merangkap kerjanya sebagai pegawai di RSUD Sleman. Hal ini menjadikan perusahaan harus mengirimkan calon karyawannya ke luar karena di perusahaan tidak ada yang berkompetensi untuk menyatakan status kesehatan calon pegawai. 2. Pemeriksaan berkala : Pemeriksaan berkala bagi karyawan PC. GKBI tidak pernah dilakukan. Pemeriksaan hanya dilakukan bila dari dokter rumah sakit daerah terdekat yang bekerjasama dengan perusahaan menyatakan adanya indikasi untuk dilakukan

pemeriksaan,namun hal tersebut bukan mejadi hal yang rutin. Ketiadaan dokter di perusahaan menjadikan klinik tidak berfungsi dan beralih menjadi ruang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Namun, berdasarkan hasil wawancara dan observasi, ketiadaan alat, obat, dan fasilitas yang memaai, serta paramedis yang tidak selalu berhadir di ruang P3K perusahaan menjadikan P3K tidak berjalan. Untuk pelayanan kesehatan bagi karyawan yang memerlukan dilakukan di RSUD Sleman. Sistem yang digunakan adalah bila pasien hanya memerlukan rawat jalan, maka karyawan tersebut membayarkan terlebih dahulu kepada rumah sakit dan kwitansi pembayaran bisa digunakan untuk mengklaim uang tanggungan kesehatan bagi karyawan. Untuk pelayanan kesehatan yang memerlukan rawat inap, maka untuk pembayaran dilakukan langsung oleh perusahaan berdasarkan kwitansi yang diklaim oleh pihak karyawan. 3. Pemeriksaan purna kerja : Pemeriksaan purna kerja belum pernah dilakukan sejak awal berdiri tahun 1962 hingga sekarang karena tidak termasuk dalam tanggungan perusahaan untuk kesehatan.

B. 1.

Penyelenggaraan Kesehatan Kerja Poliklinik : Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, poliklinik

sudah berubah menjadi ruang P3K sejak tahun 2008, yaitu sejak dokter perusahaan meninggal dunia dan sejak saat itu usaha pelayanan kesehatan hanya

dijalankan oleh 1 orang perawat. Hal ini menjadi sangat tidak efektif terutama karena karena perawat merangkap sebagai staf bagian personalia di PC. GKBI dan juga berkerja di RSUD Sleman. Hal ini menjadikan karyawan tidak bisa melakukan kunjungan rutin kesehatan karena perawat yang tidak selalu ada. Pelayanan kesehatan rutin juga hanya dilakukan 2 kali seminggu, yaitu Senin dan Kamis di ruang P3K selama 1 jam saja dengan pelayanannya hanya berupa pemberian obat-obatan yang disediakan oleh perusahaan yang dikelola mandiri oleh perawat dengan jenis dan jumlah yang terbatas. Ketiadaan dokter juga menjadikan kerancuan dalam penentuan diagnosis penyakit karyawan. 2. Jumlah kunjungan perbulan terbanyak : Perubahan poliklinik menjadi ruang P3K saja menjadikan pencatatan rekam medis tidak dilakukan oleh pihak pelayanan kesehatan perusahaan. Hal ini juga dikarenakan kurangnya tenaga kerja untuk melakukan pencatatan. Pada saat dilakukan karena satu-satunya pemberi pelayanan kesehatan di perusahaan, yaitu perawat sedang bekerja di tempat lain, yaitu RSUD Sleman dan tidak dapat meninggalkan pekerjaannya untuk dilakukan wawancara.

4. Kemungkinan PAK di perusahaan No. Potensi Bahaya PAK 1. Fisik a. Bising Temporary Hearing Loss Permanent Hearing Loss

Keluhan Kurang pendengaran, telinga

(Masking Noise) berdengung. Gangguan Komunikasi

b. Getaran

Kerusakan Persendian, jaringan Nyeri lunak otot, saraf, jaringan ikat, persendian, serta sirkulasi darah. gangguan

pada otot,

c. Panas

Dehidrasi Fatique

sensorik, pusing. Haus, Lelah, pusing, kaku otot, kurang

Heat cramp Heat Stroke Heat exhaustion Milliaria

konsentrasi, hingga pingsan.

Bila ada kelainan pada kulit, gejala yang dirasakan

adalah gatal-gatal pada kulit hingga melepuh.

2.

Kimia a. Debu

ISPA Alergi

Batuk, pilek, sesak napas, kurangnya pasokan O2

Bila berat dan kronis, dapat menyebabkan berubah menjadi asfiksia pusing, kurang konsentrasi, hingga lemas. Bila terjadi kelainan lemas,

pada menyebabkan gatal-gatal, kemerahan dapat b. Zat pemutih neurotoksik,

kulit

yang

berlanjut

menjadi kronis. hepatotoksik, pusing, mual, muntah, gemetar, lemas, kurang

(H2O2 dan NaOH nefrotoksik, asfiksia, iritasi (Soda kaustik))

konsentrasi, nafsu c. H2SO4 makan berkurang. Iritasi kulit hingga melepuh, Bila terkena kulit iritasi saluran napas. dapat menyebabkan luka bakar 3. Ergonomi Low Back Pain, myalgia minimal

derajat 2A. nyeri punggung hingga tungkai

bawah, gangguan motorik mulai dari pergerakan ringan hingga berat sedangtergantung

derajatnya.

BAB IV KESIMPULAN & PENUTUP