Anda di halaman 1dari 14

KOMPARASI PENERAPAN PLAT PRACETAK VS KONVENSIONAL PADA BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT (Tinjauan Aspek Ekonomis) Wulfram I.

Ervianto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik ,Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 487711 Fax 0274) 487748 ervianto@mail.uajy.ac.id ABSTRAK Perkembangan teknologi membangun bangunan mengalami kemajuan pesat, yang ditandai dengan hadirnya berbagai jenis material dan peralatan yang modern. Pada jaman dahulu dengan peralatan yang serba sederhana dapat dihadirkan bangunanbangunan monumental yang sampai saat ini masih tetap dikagumi. Para pengelola proyek selalu berusaha merealisasikan proyeknya tanpa mengesampingkan tercapainya efisiensi biaya dan waktu namun tetap memenuhi mutu. Salah satu usaha yang dilakukan oleh pengelola proyek adalah mengganti cara-cara konvensional menjadi lebih modern. Teknologi beton pracetak menjadi salah satu alternatif yang sedang dikembangkan untuk menggantikan cara konvensional. Tujuan penelitian ini adalah melakukan komparasi pada sebuah proyek dengan menggunakan kedua metoda tersebut diatas. Data dalam penelitian ini adalah proyek yang telah dilaksanakan dengan menggunakan metoda konvensional, dengan luas bangunan 2156,9 m2, empat lantai, struktur utamanya adalah beton bertulang. Perhitungan biaya didasarkan pada analisa BOW, sedangkan biaya penggunaan sistem pracetak didasarkan pada pengurangan biaya akibat tidak dibutuhkannya bekisting dan perancah, namun dibutuhkan alat bantu guna pemasangan komponen pracetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dilakukan penggantian plat lantai cor ditempat menjadi plat pracetak diperoleh reduksi biaya sebesar 24,49 %, besarnya reduksi biaya terhadap nilai kontrak proyek adalah 3,2670%. Dari aspek waktu, pelaksanaan proyek menjadi lebih singkat namun dalam penelitan ini tidak secara eksplisit diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem pracetak patut dipertimbangkan dalam membangun bangunan gedung. Kata kunci : Komparasi, Biaya, Konvensional, Pracetak, Proyek konstruksi. 1. PENDAHULUAN Cara membangun berbagai jenis bangunan mempunyai karakter sendiri dari waktu ke waktu, hal ini sebagai upaya untuk merealisasikan gambar rencana menjadi sebuah bangunan fisik. Salah satu penyebab terjadinya perbedaan cara membangun di setiap periode waktu adalah adanya perkembangan bentuk, jenis material dan metoda. Mengutip tulisan dari Widodo (1991) tentang perkembangan sejarah arsitektur, adalah

42

sebagai berikut : Industri Bangunan Generasi I (1945-1960) dikenal dengan Elemen Building. Pada jaman ini metoda membangun ditujukan untuk (a) meningkatkan produktivitas tenaga tidak terampil, (b) menurunkan harga bangunan, (c) meningkatkan kualitas bangunan. Pada jaman ini telah dilakukan pracetak untuk komponen dinding dalam, panel muka dan plat lantai. Industri Bangunan Generasi II (1955 1965) dikenal dengan RATRAD. Pada jaman ini terjadi rasionalisasi dari metoda membangun tradisional atau Rationalized Traditional Building disingkat RATRAD. Pada jaman ini pracetak dilakukan pada bagian bangunan yang berdimensi kecil dan lebih bersifat padat karya. Industri Bangunan Generasi III (1960 1970) dikenal dengan Building Site. Perkembangan terakhir (1970 sekarang). Penerapan sistem pracetak di Indonesia masih sebatas pada beberapa komponen bangunan, sampai dengan saat ini masih dilakukan evaluasi terhadap efisiensi dan efektifitasnya. Salah satu komponen pracetak yang umum digunakan adalah plat lantai pracetak dengan berbagai bentuk dan ukuran. Tanpa mengesampingkan tujuan utama adanya pelaksanaan pembangunan, penerapan sistem pracetak tetap harus fokus pada pencapaian target biaya, mutu dan waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji aspek ekonomis penerapan teknologi pracetak dengan teknologi konvensional tinjauan utama dalam penggunaan bekisting. Lingkup penelitian dibatasi pada komponen beton pracetak berupa plat pracetak (Hollow Core Slab). Hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh praktisi yang akan mengaplikasikan teknologi pracetak sedangkan untuk para akademisi dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan ilmu dan penelitian yang lebih mendalam. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bekisting Bekisting merupakan struktur sementara yang berfungsi sebagai alat bantu dalam membentuk beton dimana perkembangannya sejalan dengan perkembangan beton itu sendiri. Bekisting dibentuk sesuai dengan bentuk beton yang akan dihasilkan, sedangkan proses pembuatannya dilaksanakan di lokasi pekerjaan. Dengan adanya inovasi teknologi dalam bidang bekisting, saat ini produksi dilakukan oleh pabrik dengan disain sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar, dipasang serta memungkinkan dimanfaatkan lebih dari satu kali. Proses pengeringan beton saat ini relatif lebih cepat jika dibandingkan pada masa lalu, hal ini disebabkan karena telah ditemukannya zat tambah yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur kecepatan mengerasnya beton. Proses pembongkaran bekisting bergantung pada kecepatan mengerasnya beton dan baru dibongkar setelah dinyatakan aman. Dalam pembuatan bekisting perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut : (a) kualitas material bekisting yang digunakan harus dapat menghasilkan permukaan beton yang baik, ketepatan dimensi beton dapat dipenuhi, (b) keamanan bekisting harus diperhitungkan akibat beban tidak menentu dari pembebanan agregat beton, (c) memperhatikan faktor ekonomis dari bekisting agar mampu mereduksi biaya.

43

Bekisting merupakan unsur penting dalam mekanisme pencoran beton, pertimbangan utamanya adalah tentang akurasi dimensi guna menghasilkan beton yang tepat dimensi. Beberapa hal yang harus dipenuhi sebuah bekisting adalah (Tihamer Koncs, 1979) : (a) mempunyai volume stabil, sehingga dapat dihasilkan dimensi beton yang akurat, (b) dapat digunakan berulang kali, (c) mudah dibongkar pasang serta dipindahkan, (d) rapat air, sehingga tidak memungkinkan air agregat keluar cetakan, (e) mempunyai daya lekat rendah terhadap beton dan mudah membersihkannya. Pemilihan material bekisting harus dapat memenuhi aspek bisnis (biaya) dan aspek teknologi oleh karenanya harus dipenuhi beberapa hal sebagai berikut : ekonomis, kuat dan kokoh, tidak berubah bentuk, memenuhi persyaratan permukaan. Material yang dapat digunakan sebagai bahan bekisting adalah besi, kayu, plywood, aluminium, fibre glass. Dari berbagai jenis material tersebut, besi merupakan bahan yang hampir memenuhi seluruh persyaratan umum bekisting namun dari segi biaya relatif mahal. 2.2. Rekayasa Nilai value engineering diterapkan dengan tujuan untuk mereduksi biaya proyek tanpa mengesampingkan kualitas hasil akhir. Pelaksanan Value engineering mengikuti pola sebagai berikut (Zimmermann,1982) : information phase, creative phase, judgment phase, development phase, recomendation. Pembiayaan bangunan gedung dapat dirinci berdasarkan kegiatannya, dimana setiap kegiatan membutuhkan biaya yang berbeda. Berdasarkan rencana anggaran biaya dapat diketahui biaya yang dibutuhkan setiap komponen pekerjaan termasuk besarnya prosentase setiap item pekerjaan tersebut terhadap nilai total proyek. Dalam value engineering, posibilitas tertinggi yang mampu mereduksi biaya bangunan dimulai dari kegiatan dengan prosentase terbesar berangsur-angsur pada kegiatan dengan prosentase lebih kecil sampai dengan prosentase tertentu yang ditetapkan. Berkaitan dengan teknologi pelaksanaan saat ini dimana perkembangan material dan sistem yang semakin pesat, maka dikembangkannya berbagai teknik baru yang inovatif yang diyakini mampu mereduksi besarnya biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan pembangunan. Salah satunya adalah plat pracetak sebagai pengganti proses pengecoran plat konvensional. Berdasarkan cara pelaksanaannya kedua metoda tersebut sangat berbeda seperti diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 1 : Komparasi Metoda Pracetak Dan Konvensional DESKRIPSI Dibutuhkan scaffolding Dibutuhkan bekisting Kemungkinan dapat bekerja pada lantai sebelumnya Dibutuhkan alat pengangkut/pengangkat Dibutuhkan mallen dan concrete pump Kebutuhan pekerja PRACETAK tidak tidak Ya Ya tidak Lebih sedikit KONVENSIONAL Ya Ya Tidak Tidak Ya Lebih banyak

Pada tabel 1, nampak bahwa kedua metoda mempunyai kelebihan dan kekurangan, hanya yang perlu diperhatikan apakah selisih antara keduanya secara signifikan mampu

44

mengurangi biaya konstruksi ?. Beberapa catatan data memberikan informasi mengenai berbagai komparasi antara metoda pracetak dengan cara konvensional seperti pada gambar 1.

Comparative cost of industrialised system for high, medium and low rise building
Average cost/square metre of floor area (pounsterling) 60 50 40 30 20 10 0 insitu concrete system precast concrete system timber system steel system

51 41 32

47 39 31 39 29 30

high rise medium rise low rise

Gambar1: Comparative Cost Of Industrialised System For High, Medium And Low Rise Building. (Sumber : Seeley I.H.,1972)

3. DATA DAN ANALISIS DATA Data proyek penelitian adalah gedung empat lantai dengan struktur bangunan beton bertulang yang berlokasi di Yogyakarta dengan fungsi sebagai ruang kuliah. Denah dari setiap lantainya seperti pada gambar 2 sampai dengan gambar 6.

Gambar 2 : Plat Lantai 1

45

Gambar 3 : Plat Lantai 2

Gambar 4 : Plat Lantai 3

Gambar 5 : Plat Lantai 4

Gambar 6 : Plat Atap

46

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : mengitung biaya yang dibutuhkan pengadaan plat cara konvensional; menghitung besarnya biaya yang dibutuhkan pengadaan plat pracetak; melakukan komparasi dari kedua sistem ditinjau dari aspek biaya. 3.1. Tinjauan Aspek Biaya Perbedaan metoda pelaksanaan pekerjaan di lapangan akan menghasilkan kualitas, biaya yang diserap dan waktu penyelesaian yang berbeda. Hal ini lebih ditentukan oleh kelebihan dan kekurangan dari setiap metoda yang diaplikasikan, beberapa cara yang dikenal diantaranya adalah cara konvensional dan pracetak. Obyek dalam penelitian ini adalah beton plat lantai/plat atap pada bangunan gedung dimana pelaksanaannya dapat menggunakan metoda pracetak maupun cara konvensional. Konsekuensi dari adanya perbedaan metoda pelaksanaannya akan berakibat pada tingkat penyerapan biaya antar keduanya. Perbedaan utama dari kedua cara tersebut terletak pada kebutuhan bekisting dan perancah, pada sistem pracetak tidak dibutuhkan bekisting dan perancah, sedangkan cara konvensional masih dibutuhkan. 3.2. Metoda Konvensional Proses perhitungan besarnya anggaran biaya bangunan pada umumnya mengikuti tahaptahap sebagai berikut : mendapatkan informasi tentang jenis, harga serta kemampuan pasar menyediakan material konstruksi secara kontinu; mendapatkan informasi tentang upah pekerja yang berlaku di daerah lokasi proyek dan atau upah pada umumnya jika pekerja didatangkan dari luar daerah lokasi proyek; melakukan perhitungan analisa bahan dan upah dengan menggunakan analisa yang diyakini baik oleh si pembuat anggaran; melakukan perhitungan harga satuan pekerjaan dengan memanfaatkan hasil analisa satuan pekerjaan dan daftar kuantitas pekerjaan; membuat rekapitulasi. Perhitungan biaya pelaksanaan komponen difokuskan pada beton plat lantai dan plat atap, mengingat pada saat ini komponen tersebut mulai umum digunakan pada bangunan gedung bertingkat. Komponen biaya untuk membentuk plat adalah : bekisting plat; perancah; pembesian; beton readymix. Perhitungan kebutuhan biaya sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum diputuskan metoda konstruksi yang akan digunakan. Metoda konstruksi pembentukan beton plat lantai dan plat atap cara konvensional adalah sebagai berikut :

Gambar 7 : Tahap 1, Pengecoran Kolom

47

Tahap1, komponen bangunan yang lebih awal harus diselesaikan adalah kolom, yang nantinya berfungsi mendukung komponen balok. Tata cara pelaksanaannya seperti apa yang telah dijelaskan.

Gambar 8 : Tahap 2, Pemasangan Scaffolding

Tahap 2, setelah kolom terbentuk maka dilanjutkan dengan mulai memasang perancah. Macam dan jenis perancah sangat beraneka ragam salah satunya adalah scaffolding. Perancah ini disusun sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku.

Gambar 9 : Tahap 3, Pemasangan Bekisting Balok

Tahap 3, adalah memasang bekisting balok pada posisi dan elevasi sesuai rencana. Untuk balok yang langsung didukung oleh kolom pemasangan cetakannya akan berbeda dengan balok yang menggantung. Tepat pada pertemuan antara balok dengan kolom dibutuhkan ketelitian dalam pelaksanaanya agar supaya pertemuan keduanya terlihat rapi.

P a n e l c e ta k a n

P a n e l c e ta k a n

P a n e l c e ta k a n

Gambar 10 : Tahap 4, Pemasangan Bekisting Plat Lantai

Tahap 4, dilanjutkan dengan pemasangan bekisting plat. Pemilihan bahan dan jenis bekisting (konvensional atau pabrikasi) perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat pertimbangan efisiensi.

48

3.3. Pembiayaan Metoda Konvensional Anggaran biaya proyek merupakan representasi nilai dari seluruh kegiatan dalam proyek konstruksi, umumnya harus ada mengingat urgensinya bagi penyedia dan pengguna jasa. Tampilan dari rencana anggaran biaya ini sangat bervariasi tergantung dari kebutuhan organisasi dan level kepentingannya. Rencana anggaran biaya sebuah gedung kampus diperlihatkan dalam tabel 2.
Tabel 2 : Rencana Anggaran Biaya Gedung Kampus
No. I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV MACAM PEKERJAAN PEKERJAAN PERSIAPAN DAN TANAH PEKERJAAN BETON BERTULANG PEKERJAAN RANGKA DAN PENUTUP ATAP PEKERJAAN KOSEN & KAYU PEKERJAAN PLAFOND PEKERJAAN LANTAI & DINDING KERAMIK PEKERJAAN PAS. BATA, RAILING, PARTISI PEKERJAAN PENGECATAN PEKERJAAN SANITARY FIXTURES PEKERJAAN SUN SCREEN PEKERJAAN DRAINASI PEKERJAAN PLUMBING PEKERJAAN LISTRIK PEKERJAAN PENANGKAL PETIR PEKERJAAN LAIN-LAIN JUMLAH NOMINAL = JUMLAH HARGA Rp 75,479,751.17 Rp 1,874,814,496.34 Rp 113,947,076.80 Rp 385,142,600.00 Rp 89,722,716.50 Rp 146,184,024.85 Rp 180,737,676.50 Rp 195,951,447.58 Rp 23,920,000.00 Rp 58,250,000.00 Rp 98,660,078.14 Rp 15,510,875.00 Rp 62,438,900.00 Rp 10,000,000.00 Rp 39,750,000.00 Rp 3,370,509,642.87

Tabel 3 : Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Beton Bertulang


No. II A B C MACAM PEKERJAAN PEKERJAAN BETON BERTULANG PONDASI DAN SLOOF BASEMENT LANTAI I Balok dan kolom Plat lantai LANTAI II Balok dan kolom Plat lantai LANTAI III Balok dan kolom Plat lantai LANTAI IV Balok dan kolom Plat lantai ATAP Balok dan kolom Plat atap JUMLAH HARGA Rp 1,874,814,496.34 Rp 253,385,972.70 Rp 134,609,994.91 Rp 253,092,506.96 Rp 63,193,691.87 Rp 289,016,093.60 Rp 58,878,752.70 Rp 279,335,387.95 Rp 58,878,752.70 Rp 264,062,220.17 Rp 58,878,752.70 Rp 151,121,496.85 Rp 10,360,873.24

49

Prosentase Rencana Anggaran Biaya


34.98%

7.19% 4.73% 1.41% Pek. Persiapan/tanah Pek. Kusen dan kayu Pek. Beton bertulang Pek. Pondasi dan sloof 1.67% Pek. Plafon 2.73% 3.37% 3.66% Pek. Lantai dan keramik Pek. Pasangan bata, railing dan partisi Pek. Cat 1.84% 0.45% 1.09% 0.11% 0.18% 0.19% 0.74% Pek. Penangkal petir Pek. Drainasi Pek. Sun screen Pek. Instalasi air Pek. Septictank Pek. Sanitary Pek. Lain-lain

Gambar 11 : Prosentase Anggaran Biaya Tiap Item Pekerjaan

Prosentase Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Beton


15.42% 13.52% 13.50% 14.90%

14.08%

7.18% 3.37% 3.14% 3.14% 3.14%

8.06%

0.55% Balok dan kolom, lantai III Balok dan kolom, lantai II Balok dan kolom, lantai I Plat lantai III Balok dan kolom, lantai IV Plat lantai II Balok dan kolom, atap Plat lantai I Plat lantai IV Basement Pondasi dan sloof Plat atap

Gambar 12 : Prosentase Anggaran Biaya Tiap Item Pekerjaan Beton

Pada gambar 11 diperlihatkan besarnya prosentase penggunaan anggaran biaya untuk setiap item pekerjaan dalam pembangunan gedung. Pekerjaan beton bertulang menempati posisi teratas dengan prosentase sebesar 34,98%, kemudian disusul pekerjaan kusen dan kayu sebesar 7,19%. Apabila menggunakan alur pikir konsep Value Engineering maka pekerjaan beton patut dikaji secara detil untuk mendapatkan efisiensi biaya.

50

Pada gambar 12 diperlihatkan besarnya prosentase rencana anggaran biaya untuk setiap item pekerjaan beton. Item pekerjaan yang mengkonsumsi anggaran berturut-turut adalah pekerjaan balok dan kolom lantai II, lantai III, lantai IV dan lantai I, kemudian dilanjutkan pekerjaan plat. Total prosentase pekerjaan plat untuk bangunan ini seperti pada tabel 2. Berdasarkan tabel 4 dapat diperoleh nilai dari pekerjaan plat lantai dan plat atap yang mengkonsumsi kurang lebih sebesar 13,34% dari Rp. 3,370,509,642.87, yaitu sebesar Rp.449.625.986,20;. Nilai ini cukup besar sehingga sangat memungkinkan untuk dilakukan cara lain untuk menggantikan metoda pelaksanaannya.
Tabel 4 : Alokasi Anggaran Biaya Pekerjaan Plat Lantai Dan Atap LOKASI PLAT LANTAI I II III IV Atap TOTAL PROSENTASE 3.37% 3.14% 3.14% 3.14% 0.55% 13,34%

3.4. Metoda Pracetak Bekisting plat dan balok sistem konvensional dapat dikombinasi dengan penggunaan precast concrete half slab, dimana struktur plat dicetak lebih dahulu dengan ketebalan setengahnya kemudian setengahnya lagi diselesaikan dengan cara cor di tempat (cast inplace). Metoda ini digunakan karena menghemat bekisting dan menghemat penggunaan scafolding. Beberapa karakteristik dari beton pracetak adalah : diproduksi secara massal di pabrik; sistem transportasi komponen pracetak perlu dipikirkan untuk menghindari retak/pecah; dapat dipasang sesuai dengan perencanaan dengan rapi dan rapat, dengan beberapa pendukung yang diperlukan. Komponen plat pracetak mampu mereduksi waktu pemasangan dan mengurangi biaya konstruksi yang disebabkan oleh pengurangan berat bangunan keseluruhan. Pengurangan berat ini disebabkan oleh plat pracetak yang diproduksi bersifat Hollow core slab. Dengan adanya rongga pada plat pracetak maka berat menjadi lebih ringan. Rongga berfungsi sebagai isolasi suara dan meringankan beban terhadap struktur. Keuntungan lainnya adalah waktu yang dibutuhkan untuk pemasangannya menjadi lebih singkat dan tidak membutuhkan perancah. Keunggulan Pracetak adalah : proses produksi secara komputerisasi untuk menjamin mutu beton; plat lantai berongga lebih ringan 29-42% daripada plat lantai beton konvensional, sehingga beban rencana yang dapat dipikul meningkat; waktu pemasangan singkat, mudah dan bebas dari struktur penyangga; permukaan plat bagian bawah tidak memerlukan finishing dapat berfungsi sebagai beton expose;

51

precompression Effect beton prategang memberikan ketahanan terhadap suhu tinggi dari pada beton konvensional. Biaya yang dapat direduksi sistem pracetak adalah tidak diperlukannya bekisting dan perancah untuk membentuk komponen plat lantai maupun plat atap. Selain hal tersebut diatas secara tidak langsung sistem ini akan mereduksi biaya keseluruhan mengingat pemasangan plat sistem pracetak sangat cepat, sehingga proyek dapat diselesaikan lebih cepat dibandingkan menggunakan sistem konvensional. Berdasarkan pengamatan, waktu yang dibutuhkan untuk erection satu lembar plat pracetak dengan panjang 380 cm lebar 120 cm serta tebal 12 cm adalah 256,65 detik atau 4 menit 16 detik (Christianto,2000). Adapun urutan pelaksanaan metoda ini seperti gambar 13 s/d 19.

Gambar 13 : Tahap 1, Pengecoran Kolom

Gambar 14 : Tahap 2, Pemasangan Scaffolding

Gambar 15 : Tahap 3, Pemasangan Bekisting Balok

52

Gambar 16 : Tahap 4, Pemasangan Tulangan Balok

Gambar 17 : Tahap 5, Pengecoran Balok

Precast concrete half slab Toping slab

Gambar 18 : Tahap 6, Pemasangan Precast Concrete Half Slab

Gambar 19 : Tahap 7, Hasil akhir

53

3.5. Pembiayaan Metoda Pracetak Perhitungan rencana anggaran biaya untuk setiap item pekerjaan menggunakan konsep analisis BOW, dimana koefisien yang digunakan disesuaikan dengan produktivitas yang berlaku pada saat ini. Penyesuaian ini didasarkan pada kondisi lokasi proyek dan kemampuan pekerjanya, mengingat produktivitasnya sangat bergantung pada asal dari pekerja tersebut. Secara rinci perhitungan analisis biayanya adalah sebagai berikut :
Tabel 5 : Harga Satuan Pekerjaan
NO 1 2 3 4 5 6 JENIS PEKERJAAN 1m Beton Ready Mix f'c = 25 MPa 100 kg Pembesian 1m2 Bekistinguntuk Beton Plat Stutwerk untuk 1 m3 Beton (Scafolding) 1 m3 Beton plat Lantai 10 cm 1 m3 Beton plat Lantai 12 cm
3

HARGA SATUAN Rp. 451.750 Rp. 965.000 Rp. 124.957 Rp. 246.810 Rp. 1.601.658.25 Rp. 1.901.211,01

Tabel 6 : Volume Beton Dan Luas Bangunan


DESKRIPSI Lantai 1 Lantai 2 Lantai 3 Lantai 4 Atap TOTAL VOLUME BETON 55,01 m3 62,15 m3 62,15 m3 62,15 m3 14.48 m3 255.94 m3 LUASAN 458,4 m2 517,9 m2 517,9 m2 517,9 m2 144,8 m2 2156.9 m2

Tabel 7 : Reduksi Biaya Akibat Bekisting


Posisi Lantai 1 Lantai 2 Lantai 3 Lantai 4 Atap TOTAL Luas Plat 458.40 m 517.90 m 517.90 m 517.90 m 144.80 m 2156.9 m
2 2 2 2 2 2

Harga Satuan Bekisting Rp. 124,957.00/m Rp. 124,957.00/m Rp. 124,957.00/m Rp. 124,957.00/m Rp. 124,957.00/m
2 2 2 2 2

Total Harga Rp. 57,280,288.80 Rp. 64,715,230.30 Rp. 64,715,230.30 Rp. 64,715,230.30 Rp. 18,093,773.60 Rp. 269,519,753.30

Tabel 8 : Reduksi Biaya Akibat Perancah


Posisi Lantai 1 Lantai 2 Lantai 3 Volume Beton 55,01 m3 62,15 m 62,15 m3
3

Harga Satuan Perancah Rp. 246.810,00 /m3 Rp. 246.810,00 /m Rp. 246.810,00 /m
3 3

Total Harga Rp. 13.577.018,10 Rp. 15.339.241,50 Rp. 15.339.241,50

54

Posisi Lantai 4 Atap TOTAL

Volume Beton 62,15 m


3 3

Harga Satuan Perancah Rp. 246.810,00 /m Rp. 246.810,00 /m


3 3

Total Harga Rp. 15.339.241,50 Rp. 3.573.808,80 Rp. 63.168.551,40

14.48 m

255.94 m3

Berdasarkan analisis biaya untuk setiap item pekerjaan pembentuk beton maka item yang tereduksi adalah scaffolding dan bekisting sebesar Rp. 269.519.753,3 + Rp. 63.168.551,40 = Rp.322.688.304,70 Waktu yang dibutuhkan untuk erection setiap panel 380 cm x 120 cm adalah 256,65 detik, sehinga total waktu yang dibutuhkan untuk erection seluas 2156,9 m2 adalah 159.16 jam. Sewa alat untuk kegiatan erection adalah Rp.300.000/jam, maka biaya total untuk alat adalah Rp. 47.748.373,75
Tabel 9 : Reduksi Biaya Akibat Perancah
No 1 2 3 Deskripsi Harga bahan Sewa alat Biaya pekerja TOTAL Biaya Rp. 283.802.631,58 Rp. 47.748.373,75 Rp. 7.958.000,00

Rp. 339.509.005,33

Dari data dapat dihitung selisih dari penggunaan dua metoda tersebut diatas, yaitu : Rp.449.625.986,20; Rp.339,509,005.33 = Rp. 110.116.980,90; atau 24,49 % lebih hemat. Sedangkan besarnya prosentase reduksi biaya jika dibandingkan dengan nilai total proyek adalah 3,2670%. 4. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bebrapa hal sebagai berikut : 1. Penggunaan plat beton pracetak dapat menghemat biaya pada kisaran 24,49% dari biaya plat cara konvensional. 2. Penggunaan plat beton pracetak memungkinkan pekerja langsung bekerja pada lantai sebelumnya. 3. Plat beton pracetak menghasilkan permukaan yang halus sehingga tidak perlu dilakukan finishing lagi. 4. Waktu pemasangan jauh lebih cepat dibanding cara konvensional. DAFTAR PUSTAKA 1. Christianto, 2000, Time Study Pemasangan Plat Pracetak Pada Bangunan Gedung, Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2. Koncs T.,1979, Manual of Precast Concrete Construction, Berlin. 3. Seeley I.H.,1972, Building Economics, McMillan. 4. Zimmermann, 1982, Value Engineering, A Practical Approach for Owners, Designers, and Contractos, Van Nostrand Reinhold Company

55